Follow Me on Twitter

    Rabu, 19 Juli 2017

    SK Badan Hukum Dicabut, HTI: Pemerintah Langgar Perppu Ormas



    Hidayatullah.com– Pencabutan Surat Keputusan (SK) Badan Hukum Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), dinilai oleh Juru Bicara HTI, Ismail Yusanto, sebagai bukti nyata kesewenang-wenangan pemerintah.

    Sebab, kata Ismail, dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No 2 Tahun 2017 (Perppu Ormas), pencabutan status hukum adalah sanksi administratif atas pelanggaran yang dilakukan sebuah ormas, setelah sebelumnya disampaikan surat peringatan.

    “Sampai ini hari HTI tidak pernah tahu kesalahan apa yang sudah dilakukan karena tidak pernah ada surat peringatan sebagaimana diatur dalam Perppu tersebut. Tiba-tiba dicabut begitu saja. Jadi pemerintah telah melanggar aturan yang dibuat sendiri,” ujarnya kepada hidayatullah.com, beberapa saat setelah pencabutan SK tersebut diumumkan di Jakarta, Rabu (19/07/2017) pagi.

    Ismail menyatakan, penerbitan Perppu Ormas saja sudah sebuah bentuk kesewenang-wenangan pemerintah, karena telah menghapus proses pengadilan dalam pembubaran ormas.

    “Dengan pencabutan status hukum HTI, maka pemerintah telah nyata-nyata melakukan dobel kesewenang-wenangan atau kedzaliman,” ujarnya.

    “HTI tidak akan tinggal diam. HTI akan melakukan perlawanan hukum,” tegasnya.

    Sebelumnya, Kemenkumham mencabut SK Badan Hukum HTI, menindaklanjuti Perppu Ormas yang baru-baru diterbitkan pemerintah.

    Dengan pencabutan ini, maka, kata Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum Kemenkumham, Freddy Haris, HTI dinyatakan bubar sesuai dengan Perppu No 2 Tahun 2017 pasal 80 A.* Andi

    Continue Reading

    Kenapa Kita Berbuat Maksiat? Apa Karena Nafsu? Syaithan? Atau Apa?



    Terkadang atau bahkan mungkin setiap hari kita ada melakukan dosa. Seperti misalnya berbohong, berbuat kasar ke orang lain, dan sebagainya.

    Kenapa bisa seperti itu?

    Apakah karena kita mengikuti hawa nafsu kita?

    Atau karena kita dibisikin oleh syaithan?

    Atau apa?

    Sebelum membahas itu, ada baiknya kita berangkat dari fakta manusia terlebih dahulu, sedikit mengulang pembahasan pada artikel “Hakikat Manusia” sebelumnya.

    Nah, jadi… Setiap manusia -siapapun dia, hidup di zaman kapan pun, di mana pun- normalnya memiliki 5 hal berikut ini:

    1.     Kebutuhan hajat
    2.     Naluri mempertahankan eksistensi diri
    3.     Naluri iba melestarikan manusia
    4.     Naluri mengkuduskan
    5.     Akal

    Maka, adapun setiap aktivitas-aktivitas harian manusia itu merupakan dalam rangka memenuhi kebutuhan hajat dan nalurinya. Mungkin istilah lainnya kebutuhan dan keinginan.

    Nah, kebutuhan dan keinginan itu termasuk nafsu.

    Menurut Ibn Manzhur dalam Lisân al-‘Arab, makna hawâ an-nafsi adalah keinginan jiwa.

    Jadi, sebenarnya nafsu itu bukanlah sesuatu yang buruk. Nafsu itu yah bagian dari potensi hidup manusia itu sendiri.

    Hanya saja, kebutuhan dan keinginan tersebut dapat dipenuhi dengan berbagai macam ‘cara’.

    Misalnya, seseorang merasa lapar. Nah, bagaimana ‘cara’ dia memenuhi dorongan kebutuhannya tersebut?

    •     Apakah dengan langsung mencuri makanan orang lalu memakannya?
    •     Atau bekerja dulu, lalu dapat uang, kemudian membeli makanan, lalu memakannya?
    •     Makanannya pun apakah daging ayam atau daging babi?
    •     Daging ayamnya pun apakah disembelih dengan basmallah atau tidak?
    •     Makannya dengan tangan kanan atau tangan kiri?

    Tentu ada beraneka ragam pilihan ‘cara’ yang bisa dipakai, untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

    Dan ‘cara-cara’ itu tentu tak lepas dari semacam suatu keyakinan, agama, dan ideologi. Kita sebut saja ‘cara’ itu adalah hukum.

    Nah, inilah yang menjadi persoalannya.. tatkala tiba-tiba muncul kebutuhan dan keinginan pada diri kita, hukum seperti apa yang kita gunakan untuk memenuhinya?

    Sebagai seorang muslim, tentu hukum itu tidak lain dan tidak bukan adalah syariat Islam. Yakni; kita harus menggunakan ‘cara-cara’ yang diwajibkan, dianjurkan, dan dibolehkan Allah tentunya. Tidak boleh menggunakan ‘cara-cara’ yang justru diharamkan.

    •     Apakah dengan langsung mencuri makanan orang lalu memakannya?
    •     Atau bekerja dulu, lalu dapat uang, kemudian membeli makanan, lalu memakannya?
    •     Makanannya pun apakah daging ayam atau daging babi?
    •     Daging ayamnya pun apakah disembelih dengan basmallah atau tidak?
    •     Makannya dengan tangan kanan atau tangan kiri?

    Tentu ada beraneka ragam pilihan ‘cara’ yang bisa dipakai, untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

    Dan ‘cara-cara’ itu tentu tak lepas dari semacam suatu keyakinan, agama, dan ideologi. Kita sebut saja ‘cara’ itu adalah hukum.

    Nah, inilah yang menjadi persoalannya.. tatkala tiba-tiba muncul kebutuhan dan keinginan pada diri kita, hukum seperti apa yang kita gunakan untuk memenuhinya?

    Sebagai seorang muslim, tentu hukum itu tidak lain dan tidak bukan adalah syariat Islam. Yakni; kita harus menggunakan ‘cara-cara’ yang diwajibkan, dianjurkan, dan dibolehkan Allah tentunya. Tidak boleh menggunakan ‘cara-cara’ yang justru diharamkan.

    Maka dari itu, Allah itu sungguh adil. Kelak di Akhirat, kita akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihan-pilihan yang kita pilih. Kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas khasiat tubuh kita, juga tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas bisikan-bisikan syaithan. Yang dimintai pertanggungjawaban hanyalah perbuatan kita sendiri saja.
    Kesimpulannya

    Jadi, jelaslah… kenapa kita berbuat maksiat itu adalah murni pilihan kita sendiri. Bila kita tak ingin bermaksiat, maka yah jangan kita pilih.

    Nafsu itu hanyalah bagian dari potensi hidup kita, yang tentu tak boleh dibiarkan liar. Melainkan harus diatur oleh wahyu.

    Sedangkan syaithan itu bisa berbentuk jin maupun manusia yang suka mengajak kita agar membiarkan nafsu menjadi liar, atau mengajak kita agar memenuhi tuntunan nafsu dengan ‘cara-cara’ selain Islam.

    وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ
    وَمَنْ فِيهِنَّ بَلْ أَتَيْنَاهُمْ بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُونَ

    ”Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (QS. Al-Mu’minun: 71)

    وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

    Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai akal, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al-A’raf: 179)

    لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ

    “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” (HR. al-Hakim, al-Khathib, Ibn Abi ‘Ashim, dan al-Hasan bin Sufyan)

    Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam mengatakan:

    “Jadi yang wajib bagi setiap Mukmin adalah mencintai apa yang dicintai Allah SWT dengan kecintaan yang mengantarkan dirinya melakukan apa yang diwajibkan. Jika kecintaan itu bertambah sehingga ia melakukan apa yang disunnahkan maka itu adalah keutamaan. Setiap Muslim juga hendaknya tidak menyukai apa yang tidak disukai oleh Allah SWT dengan ketidaksukaan yang mengantarkan dirinya menahan diri dari apa yang Allah haramkan atas dirinya. Jika ketidaksukaan itu bertambah sehingga mengantarkan dirinya menahan diri dari apa yang dimakruhkan Allah, maka itu merupakan keutamaan.”

    Sumber
    Continue Reading

    Ulama Empat Mazhab Mewajibkan Khilafah



    Pada umumnya, para ulama empat mazhab tidak pernah berselisih pendapat mengenai kewajiban mengangkat seorang imam/khalifah yang bertanggungjawab melakukan tugas ri’âyah suûn al-ummah (mengatur urusan umat).

    Imam al-Qurthubi, seorang ulama besar dari mazhab Maliki, ketika menjelaskan tafsir surah al-Baqarah ayat 30, menyatakan, “Ayat ini merupakan dalil paling asas mengenai kewajiban mengangkat seorang imam/khalifah yang wajib didengar dan ditaati iaitu untuk menyatukan pendapat serta melaksanakan hukum-hukum berkaitan khalifah. Tidak ada perselisihan pendapat tentang kewajiban tersebut di kalangan umat Islam mahupun di kalangan ulama, kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-A’sham (Imam al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, 1/264-265).

    Al-’Allamah Abu Zakaria an-Nawawi, dari kalangan ulama mazhab Syafii, mengatakan, “Para imam mazhab telah bersepakat, bahawa kaum Muslimin wajib mengangkat seorang khalifah.” (Imam an-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim, XII/205). .

    Ulama lain dari mazhab Syafii, Imam al-Mawardi, juga menyatakan, “Menegakkan Imamah (Khilafah) di tengah-tengah umat merupakan kewajiban berdasarkan pada Ijma’ Sahabat. (Imam al-Mawardi, Al-Ahkâm as-Sulthâniyyah, hlm. 5).

    Imam ‘Alauddin al-Kasani, ulama besar dari mazhab Hanafi pun menyatakan, “Sesungguhnya mengangkat imam (khalifah) adalah fardhu. Tidak ada perbezaan pendapat di antara ahlul haq mengenai masalah ini. Manakala penafian berhubung kewajiban ini oleh sebahagian kelompok Qadariah tidak membawa apa-apa makna kerana kewajiban ini adalah didasarkan kepada dalil yang lebih kuat, iaitu Ijma’ Sahabat dan untuk membolehkan perlaksanaan hukum Islam, iaitu ketaatan umat Islam kepada pemimpin lalu menghapuskan kezaliman serta membuang perselisihan yang menjadi sumber kerosakan akibat tiadanya seorang imam.(Imam al-Kassani, Badâ’i ash-Shanai’ fî Tartîb asy-Syarâi’, XIV/406).

    Imam Umar bin Ali bin Adil al-Hanbali, ulama mazhab Hanbali, juga menyatakan, “Ayat ini (QS al-Baqarah [2]: 30) adalah dalil atas kewajiban mengangkat imam/khalifah yang wajib didengar dan ditaati untuk menyatukan pendapat serta untuk melaksanakan hukum-hukum tentang khalifah. Tidak ada perbezaan tentang kewajiban tersebut di kalangan para imam kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-A’sham dan orang yang mengikutinya.” (Imam Umar bin Ali bin Adil, Tafsîr al-Lubâb fî ‘Ulûm al-Kitâb, 1/204).

    Imam Ahmad bin Hanbal dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh Muhammad bin ‘Auf bin Sufyan al-Hamashi, menyatakan, “Fitnah akan muncul jika tidak ada imam (khalifah) yang mengatur urusan manusia.” (Abu Ya’la al-Farra’i, Al-Ahkâm as-Sulthâniyah, hlm.19).

    Imam Abu Muhammad Ali bin Hazm al-Andalusi azh-Zhahiri dari mazhab Zhahiri menyatakan, “Para ulama sepakat bahwa Imamah (Khilafah) adalah fardhu dan dengan adanya seorang imam itu merupakan suatu kewajiban, kecuali an-Najdat. Pendapat mereka benar-benar telah tertolak kerana menyalahi Ijma’ Sahabat dan pembahasan mengenai mereka telah dijelaskan sebelumnya. Para ulama bersepakat bahwa tidak boleh ada dua imam (khalifah) bagi kaum Muslimin dalam satu masa di seluruh dunia baik mereka sepakat atau tidak, baik mereka berada di satu tempat atau di dua tempat.” (Imam Ibn Hazm, Marâtib al-Ijmâ’, 1/124).

    Imam Ibnu Hazm juga mengatakan, “Majoriti Ahlus-Sunnah, Murjiah, Syiah dan Khawarij bersepakat mengenai kewajiban menegakkan Imamah (Khilafah). Mereka juga bersepakat, bahawa umat Islam wajib mentaati Imam/Khalifah yang adil yang menegakkan hukum-hukum Allah di tengah-tengah mereka dan memimpin mereka dengan hukum syarak yang dibawa Rasulullah saw.” (Ibnu Hazm, Al-Fashl fî al-Milal wa al-Ahwâ’ wa an-Nihal, IV/87).

    Taqarrub kepada Allah yang Paling Esa

    Usaha menegakkan Khilafah Islamiyah termasuk dalam aktiviti taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah yang Paling Esa. Syeikul Islam Imam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Yang wajib adalah menjadikan kepemimpinan (imârah) sebagai sebahagian dari agama dan landasan untuk bertaqarrub kepada Allah. Taqarrub kepada Allah dalam hal imârah (kepemimpinan) yang dilakukan dengan cara mentaati Allah dan Rasul-Nya adalah sebahagian dari taqarrub yang paling utama.” (Imam Ibnu Taimiyah, As-Siyâsah asy-Syar’iyyah, hlm. 161).

    Al-’Allamah Ibnu Hajar al-Haitami juga menyatakan, “Ketahuilah juga bahwa para Sahabat ra. seluruhnya telah berijma’ bahawa mengangkat seorang imam (khalifah) setelah berakhirnya masa kenabian adalah wajib. Bahkan mereka telah menjadikan kewajiban ini sebagai urusan yang paling penting. Buktinya, para Sahabat lebih menyibukkan diri dengan perkara ini dibandingkan dengan menguruskan jenazah Rasulullah SAW. Perselisihan mereka dalam hal penentuan (siapa yang berhak menjadi imam) tidaklah merosak ijma’ yang telah disebutkan tadi.” (Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Ash-Shawâ’iq al-Muhriqah, 1/25).

    Malangnya, majoriti umat Islam sekarang lebih menyibukkan diri dengan amalan-amalan sunat, seperti zikir jama’i, aktiviti sedekah, shalat dhuha, puasa sunat dan lain-lain dibandingkan dengan melibatkan dirinya dalam perjuangan menegakkan Khilafah Islamiyah. Lebih menyedihkan lagi, sebahagian mereka  menganggap perjuangan menegakkan Khilafah Islamiyah tidak penting berbanding amalan-amalan sunat tersebut. Malahan mereka juga menganggap para pejuang Khilafah sebagai orang-orang yang tidak memiliki ketinggian ruhiyah dan akhlaq. Walhal menegakkan Khilafah Islamiyah dan terlibat dalam aktiviti ini termasuk dalam golongan  yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah yang paling Esa.

    Berdirinya Khilafah: Janji Allah

    Ulama empat mazhab juga telah menyatakan bahawa tegaknya Khilafah Islamiyah adalah janji Allah SWT kepada orang-orang Mukmin. Al-Quran telah menyebutkan janji ini (tegaknya kekhilafahan Islam) dengan jelas dan terang. Allah SWT berfirman;

    "Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa" .(QS an-Nur [24]: 55).

    Imam Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat di atas, menyatakan, “Inilah janji dari Allah SWT kepada Rasulullah SAW, bahawa Allah SWT akan menjadikan umat Nabi Muhammad SAW. sebagai khulafâ’ al-ardh; yakni pemimpin dan pelindung kepada umat manusia. Dengan merekalah (para khalifah) akan memelihara negeri dan seluruh hamba Allah akan tunduk kepada mereka.” (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr Ibn Katsîr, VI/77).

    Imam ath-Thabari juga menyatakan, “Sesungguhnya Allah akan mewariskan bumi kaum musyrik dari kalangan Arab dan bukan Arab kepada orang-orang yang beriman dan beramal soleh. Sesungguhnya, Allah akan menjadikan mereka sebagai penguasa dan pengaturnya.” (Imam ath-Thabari, Tafsîr ath-Thabari, XI/208).

    Janji besar ini tidak hanya berlaku bagi orang-orang yang beriman dan beramal soleh pada generasi para Sahabat sahaja, malahan berlaku juga sepanjang masa bagi orang-orang Mukmin yang beramal soleh. Imam asy-Syaukani berkata, “Inilah janji dari Allah SWT kepada orang yang beriman kepada-Nya dan melaksanakan amal soleh tentang Kekhilafahan bagi mereka di muka bumi, sebagaimana Allah pernah mengangkat sebagai penguasa kepada orang-orang sebelum mereka. Inilah janji yang berlaku umum bagi seluruh generasi umat. Ada yang menyatakan bahwa janji di dalam ayat tersebut hanya berlaku bagi Sahabat sahaja. Sesungguhnya, pendapat seperti ini tidak memiliki asas sama sekali. Alasannya adalah iman dan amal soleh tidak hanya dikhususkan  pada Sahabat sahaja, namun ia juga boleh diraih oleh setiap generasi umat Islam sesudah mereka.” (Imam asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, V/241).

    Berdasarkan huraian para ulama di atas, dapatlah disimpulkan bahawa tegaknya Khilafah Islamiyah adalah janji Allah SWT. Ini bererti bahwa Khilafah Islamiyah pasti akan ditegakkan dengan izin Allah SWT. Seorang Muslim wajib meyakini bahawa Khilafah Islamiyah pasti akan ditegakkan kembali. Seorang Muslim tidak dibenarkan sama sekali menyatakan bahawa perjuangan menegakkan kembali Khilafah Islamiyah adalah satu bentuk perjuangan uthopia, khayalan, mustahil, kenangan sejarah dan sebagainya. Kenyataan-kenyataan seumpama itu merupakan satu bentuk keraguan terhadap janji Allah SWT. Al-Quran telah menyatakan dengan jelas, bahawa janji Allah SWT pasti ditunaikan:

    "Langit pun menjadi pecah-belah pada hari itu karena Allah. Janji Allah pasti terlaksana" (QS al-Muzammil [73]: 18).

    "Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" (QS ar-Rum [30]: 6).

    Oleh itu, bersegeralah  melibatkan diri dalam perjuangan yang penuh kemulian dan keberkatan ini. Benar, perjuangan menegakkan kembali Khilafah Islamiyah merupakan perjuangan penuh kemulian dan keberkatan .Oleh itu, inilah perjuangan yang direstui, yang dinyatakan oleh para ulama mu’tabar, dan dinaungi oleh janji Allah SWT, yang mana ia akan membuahkan kejayaan lalu menjadi sebab tertegaknya hukum-hukum Allah SWT secara syâmil, kâmil dan mutakâmil.

    Wallâh al-Muwaffiq ilâ Aqwam ath-Thâriq.

    Sumber
    Continue Reading

    Sunnatullah Dalam Hal Giliran Kepemimpinan



    Sunnatullah atau Hukum Allah yang berlaku dalam kehidupan di dunia mengambil bentuk yang beraneka-ragam. Di antaranya adalah seperti benda yang dilempar ke atas mestilah jatuh ke bawah, atau manusia yang haus dan lapar berarti perlu minum dan makan untuk menghilangkannya, atau seseorang yang dibacok tangannya niscaya menjadi terluka dan berdarah, atau Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan: ada siang ada malam, ada panas ada dingin, ada sehat ada sakit, ada senang ada susah, ada lapang ada sempit, ada kaya ada miskin, ada menang ada kalah,  dan masih banyak lagi yang lainnya.

    Lalu ada pula sunnatullah yang berlaku dalam kaitan dengan sekumpulan manusia alias suatu kaum atau suatu umat. Seperti misalnya Allah tidak akan membinasakan suatu kaum sebelum dikirm terlebih dahulu seorang Nabi atau Rasul dariNya yang bertugas memberikan teguran dan peringatan kepada kaum tersebut.  Atau contoh lainnya ialah Allah tidak akan membiarkan adanya suatu kaum yang berlaku sewenang-wenang terhadap kaum-kaum lainnya kecuali Allah akan hadirkan sekelompok manusia lainnya yang bertugas menjadi penyeimbang atas kelompok yang berlaku zalim tersebut. Ini dikenal dalam istilah Islam sebagai Sunnatu At-Tadaafu’ (Sunnatullah dalam hal Konflik Antar-Umat).

    Kali ini kita akan coba mencermati satu lagi sunatullah yang bernama Sunnatu At-Tadaawul (Sunnatullah dalam hal Pergantian Giliran Kepemimpinan). Hal ini kita temukan dalam sebuah ayat yang berbunyi sebagai berikut:

    وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

    ”Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia…” (QS Ali Imran ayat 140)

    ”And so are the days (good and not so good) We give to men by turns.” (Terjemahan bahasa Inggris QS Ali Imran ayat 140)

    Ayat ini jika kita baca dengan lengkap ialah:

    إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ

     وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا

    وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

    ”Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS Ali Imran ayat 140)

    Agar ummat Islam benar-benar memahami dan menghayati Sunnatu At-Tadaawul, maka melalui ayat ini Allah mengkaitkannya dengan kejadian perang Uhud yang baru saja dialami kaum muslimin. Perang Uhud merupakan perang kedua setelah perang Badar. Di dalam perang Badar para sahabat meraih kemenangan padahal mereka hanya berjumlah 313 personel melawan kaum kafir musyrik Quraisy yang berjumlah 1000 personel. Sedangkan dalam perang berikutnya, yaitu perang Uhud kaum muslimin pada tahap awal perang sesungguhnya meraih kemenangan. Namun begitu pasukan pemanah meninggalkan pos pertahanan di bukit Uhud, maka segera situasinya berbalik. Allah malah akhirnya mengizinkan kemenangan berada di fihak  kaum kafir musyrik Quraisy sedangkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabat harus menderita kekalahan.

    Sehingga Allah berfirman: ”Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka (penderitaan kekalahan), maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka (penderitaan kekalahan) yang serupa.”

    Mengapa Allah perlu membiarkan kaum muslimin menderita kekalahan? Mengapa sebaliknya Allah mengizinkan kaum kuffar musyrik Quraisy mengalami kemenangan? Allah sendiri menjelaskannya:

    Pertama, karena Allah ingin menggilir kemenangan dan kekalahan di antara manusia. Kejayaan dan kehancuran ingin digilir di antara manusia. Itulah tabiat dunia. Di dunia yang fana ini tidak ada perkara yang bersifat langgeng dan abadi. Tidak ada fihak yang terus-menerus menang atau terus-menerus kalah. Semua akan mengalami giliran yang silih berganti. Tanpa kecuali, orang-orang berimanpun mengalami keadaan yang silih berganti di dunia. Bukan karena beriman lalu seseorang atau sekelompok orang harus menang terus. Tanpa pernah mengalami kekalahan bagaimana seseorang atau sekelompok orang akan menghargai dan mensyukuri kemenangan?

    Kedua, karena Allah hendak memisahkan dan membedakan orang beriman dengan orang kafir. Dengan adakalanya mengalami kemenangan dan kekalahan, maka akan terlihat siapa orang yang pandai bersyukur saat menang dan siapa yang pandai bersabar kala mengalami kekalahan. Sebaliknya akan terlihat pula siapa orang yang lupa diri kala menang dan siapa yang berputus-asa ketika kalah.

    Ketiga, karena melalui pengalaman silih bergantinya kemenangan dan kekalahan Allah hendak memberi peluang orang-orang beriman untuk meraih bentuk kematian yang paling mulia, yaitu mati syahid. Allah berkehendak mencabut nyawa orang-orang beriman sebagai para syuhada yang ketika berpisah ruh dari jasadnya, maka ruh mulia tersebut  akan langsung dijemput burung-burung surga.

    Berdasarkan hal di atas, maka perjalanan sejarah ummat Islam bisa dilihat sebagai sebuah perjalanan panjang yang diwarnai oleh silih bergantinya pengalaman kemenangan dan kekalahan ummat ini atas kaum kafir. Silih bergantinya kejayaan dan kehancuran umat.  Kadang ada masanya orang-orang beriman memimpin umat manusia, namun ada masanya orang-orang kafir yang memimpin umat manusia. Sudah barang tentu pada masa dimana orang beriman memimpin masyarakat, maka berbagai program dan aktifitas sepatutnya lebih bernuansa ”rasa syukur” akan nikmat kemenangan yang sedang dialami. Sebaliknya, ketika kaum kafir yang memimpin umat manusia, maka sudah sepantasnya orang-orang beriman mengisi perjalanan hidupnya dengan dominasi ”sikap sabar” atas kekalahan yang sedang dideritanya.

    Lalu bagaimanakah keadaan realitas kita dewasa ini? Coba kita kembali perhatikan hadits panjang dari Nabi shollallahu ’alaih wa sallam yang membicarakan persoalan ”Ringkasan Sejarah Ummat Islam di Akhir Zaman.”

    تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّا فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ

    خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ (أحمد)

    “Muncul babak Kenabian di tengah kalian selama masa yang Allah kehendaki, kemudian Allah mencabutnya ketika Allah menghendakinya. Kemudian muncul babak Kekhalifahan mengikuti manhaj (cara/metode/sistem) Kenabian selama masa yang Allah kehendaki, kemudian Allah mencabutnya ketika Allah menghendakinya. Kemudian muncul babak Raja-raja yang menggigit selama masa yang Allah kehendaki, kemudian Allah mencabutnya ketika Allah menghendakinya. Kemudian muncul babak Penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak  selama masa yang Allah kehendaki, kemudian Allah mencabutnya ketika Allah menghendakinya. Kemudian muncul babak Kekhalifahan mengikuti manhaj (cara/metode/sistem) Kenabian. Kemudian Nabi shollallahu ’alaih wa sallam diam.” (HR Ahmad)

    Jadi, berdasarkan hadits di atas, ”Ringkasan Sejarah Ummat Islam di Akhir Zaman” terdiri dari 5 babak atau periode:

    Babak I  => Kenabian  النُّبُوَّةُ

    Di babak ini ummat Islam mengalami perjuangan selama 13 tahun sewaktu di Mekkah sebelum hijrah ke Madinah di bawah kepemimpinan orang-orang  kafir dan  10 tahun berjuang di Madinah sesudah hijrah dari Mekkah di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam yang memimpin masyarakat langsung di bawah bimbingan Allah melalui Kitabullah Al-Qur’an.

    Jadi di babak pertama perjalanan sejarah ummat Islam terjadi dua kondisi yang sangat berbeda. Pada paruh pertama Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabat mengalami keadaan dimana yang memimpin ialah kaum kafir musyrik. Sehingga generasi awal ummat ini mengalami kekalahan yang menuntut kesabaran luar biasa untuk bisa bertahan menghadapi kejahiliyahan yang berlaku.

    Namun pada paruh kedua babak pertama ini, sesudah hijrah ke Madinah, kaum muslimin justru semakin hari semakin kokoh kedudukannya sehingga Allah taqdirkan mereka menikmati kejayaan di tengah masyarakat jazirah Arab. Sehingga kaum musyrik Arab pada masa itu akhirnya  harus tunduk kepada kepemimpinan orang-orang beriman.

    Babak II => Kekhalifahan mengikuti manhaj (cara/metode/sistem) Kenabian خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

    Di babak ini ummat Islam menikmati 30 tahun kepemimpinan para  Khulafa Ar-Rasyidin terdiri dari para sahabat utama yaitu  Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan dan  Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhum ajma’iin. Sepanjang babak ini bisa dikatakan ummat Islam mengalami masa kejayaan, walaupun sejarah mencatat pada masa kepemimpinan khalifah Ustman dan Ali sudah mulai muncul gejala pergolakan sosial-politik di tengah masyarakat yang mereka pimpin. Namun secara umum bisa dikatakan bahwa orang-orang berimanlah yang memimpin masyarakat. Orang-orang kafir dan musyrikin tidak diberi kesempatan untuk berjaya sedikitpun. Hukum Allah tegak dan hukum jahiliyah buatan manusia tidak berlaku.

    Babak III=> Raja-raja yang Menggigit مُلْكًا عَاضًّا

    Di babak ini ummat Islam menikmati selama 13 abad kepemimpinan org2 beriman. Para pemimpin pada masa ini dijuluki khalifah. Sistem sosial dan politik yang berlaku disebut Khilafah Islamiyah berdasarkan hukum Al-Qur’an dan As-Sunnah An-Nabawiyyah.  Namun mengapa Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyebutnya sebagai babak para raja-raja? Karena bila seorang khalifah wafat maka yang menggantinya mesti anak keturunannya. Demikian seterusnya. Ini berlaku baik pada masa kepemimpinan Daulat Bani Umayyah, Daulat Bani Abbasiyah maupun  Kesultanan Usmani Turki.

    Walaupun demikian, ummat Islam masih bisa dikatakan mengalami masa kejayaan, karena para Khalifah di babak ketiga merupakan Raja-raja yang Menggigit, artinya masih ”menggigit” Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tentunya tidak sama baiknya dengan kepemimpinan para Khulafa Ar-Rasyididn sebelumnya yang masih ”menggenggam” Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ibarat mendaki bukit, tentulah lebih aman dan pasti bila talinya digenggam daripada digigit. Tapi secara umum di babak ketiga ini Hukum Allah tegak dan hukum jahiliyah buatan manusia tidak berlaku.

    Babak IV=> Raja-raja yang Memaksakan kehendak (diktator) مُلْكًا جَبْرِيَّا

    Sesudah berlalunya babak ketiga di tahun 1924, mulailah ummat Islam menjalani babak dimana yang memimpin adalah Penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak. Inilah babak dimana kita hidup dewasa ini. Kita saksikan bahwa para penguasa di era modern memimpin dengan memaksakan kehendak mereka sambil mengesampingkan dan mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya. Entah disebut republik maupun kerajaan, suatu hal yang pasti ialah semuanya berkuasa tidak dengan mengembalikan urusan kehidupan sosial bermasyarakat dan bernegara kepada hukum Al-Qur’an dan As-Sunnah An-Nabawiyyah. Manusia dipaksa tunduk kepada sesama manusia dengan memberlakukan hukum buatan manusia yang penuh keterbatasan dan vested interest seraya mengabaikan hukum Allah Yang Maha Adil. Hukum jahiliyah buatan manusia diberlakukan dan tegak dimana-mana sedangkan  hukum Allah dikesampingkan sehingga tidak berlaku.

    Maka kita bisa simpulkan bahwa babak keempat merupakan babak kemenangan bagi kaum kafir dan kekalahan bagi orang-orang beriman. Inilah babak yang paling mirip dengan babak pertama paruh pertama di mana Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabat berjuang di Mekkah sementara kekuasaan jahiliyah kaum kafir musyrik mendominasi di tengah masyarakat. Ummat Islam sudah menjalani babak keempat ini selama 85 tahun sejak runtuhnya Khilafah Islamiyyah terakhir.  Ini merupakan era paling kelam dalam sejarah Islam di Akhir zaman. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

    Babak V => Kekhalifahan mengikuti manhaj (cara/metode/sistem) Kenabian خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

    Betapapun dewasa ini ummat Islam sedang mengalami kekalahan dan kaum kafir mengalami kejayaan, namun kita wajib optimis dan tidak berputus-asa. Karena dalam hadits ini Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengisyaratkan bahwa sesudah babak kekalahan ummat Islam akan datang babak kejayaan kembali yaitu babak kelima dimana bakal tegak kembali kepemimpinan oramg orang  beriman dalam bentuk Kekhalifahan mengikuti manhaj (cara/metode/sistem) Kenabian.

    Saudaraku, pastikan diri kita termasuk ke dalam barisan ummat Islam yang sibuk mengupayakan tegaknya babak kelima tersebut. Jangan hendaknya kita malah terlibat dalam berbagai program dan aktifitas yang justeru melestarikan babak keempat alias babak kepemimpinan kaum kuffar di era modern ini. Yakinlah bahwa ada Sunnatu At-Tadaawul (Sunnatullah dalam hal Pergantian Giliran Kepemimpinan). Bila kepemimpinan kaum kuffar dewasa ini terasa begitu hegemonik dan menyakitkan, ingatlah selalu bahwa di dunia ini tidak ada perkara yang lestari dan abadi. Semua bakal silih berganti. It’s only a matter of time, brother.



    رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

    “Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”. (QS Al-Baqarah ayat 250)

    Sumber
    Continue Reading

    Warna Api Menurut Sabda Nabi



    TENTU setiap manusia mengenal api. Salah satu hal yang sangat penting di dunia ini adalah keberadaan api. Ketika tidak ada api, mungkin kita tidak akan pernah mengenal masakan yang telah dimasak dengan matang. Maha Besar Allah dengan segala yang diciptakanNya.

    Ketika para ilmuwan mempelajari api dan hubungan antara temperatur dan mereka menemukan bahwa warna api adalah merah, kemudian jika ditinggikan suhunya maka warna api akan menjadi putih. Jika dinaikkan lagi suhunya maka warna api akan berubah menjadi hitam.

    Fenomena ini disebut oleh para ulama radiasi benda hitam, dan yang menakjubkan lagi adalah Nabi SAW telah menyebutkan fenomena ini, adanya perubahan warna api. Nabi Muhammad saw bersabda:

    أُوقِدَ عَلَى النَّارِ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى احْمَرَّتْ ثُمَّ أُوقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى ابْيَضَّتْ ثُمَّ أُوقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى اسْوَدَّتْ فَهِيَ سَوْدَاءُ مُظْلِمَةٌ

    “Api dinaikkan suhunya selama seribu tahun sampai berubah menjadi merah, lalu dinaikkan lagi selama seribu tahun hingga berubah menjadi putih, kemudian dinaikkan lagi selama seribu tahun sampai menghitam, dan itulah yang disebut dengan hitam legam,” (HR. At-Tirmidzi).

    Sungguh benar sabda Rasulullah saw. Hadits tersebut dikatakan oleh Nabi 14 abad yang lalu. Sungguh alasan apa lagi yang membuat kita masih ingkar? Islam merupakan agama yang sempurna. Segala hal telah Allah dan rasul-Nya atur dengan sempurna dan secara mendetail. Maha benar Allah dengan segala Firman-Nya. []

    Sumber: Kaheel7.com
    Continue Reading

    Kenapa Setan Takut dengan Umar bin Khattab?



    UMAR bin Khatab adalah salah satu dari empat khalifah yang dikenal karakternya yang tegas, bijaksana, kasar dan banyak ditakuti oleh kaum Quraisy pada saat itu.

    Umar bin Khattab adalah khalifah kedua, dan mungkin terbesar dari semua khalifah Islam. Dia sejaman namun lebih berusia muda ketimbang Nabi Muhammad. Dan seperti juga nabi Muhammad, dia kelahiran Mekkah. Tahun kelahirannya tidak diketahui, tetapi menurut taksiran tahun ke-586 M.

    Asal-muasalnya Umar bin Khattab merupakan musuh yang paling ganas dan beringas, menentang Muhammad dan Agama Islam habis-habisan. Tetapi, mendadak dia memeluk agama baru itu dan berbalik menjadi pendukung gigih. Umar bin Khattab selanjutnya menjadi penasihat terdekat Nabi Muhammad dan begitulah dilakukannya sepanjang umur Muhammad.

    Suatu ketika, pada saat itu terdapat sebuah kisah di mana syetan takut akan Umar bin Khattab.
    Berkata Hasan Nasrullah: “Kami tidak mau masuk Masjid Nabawi melewati pintu Umar bin Khaththab, kerana kami membencinya!”

    Maka Syaikh DR. Muhammad al-‘Arifi (Sunni) berkata:
    “Semoga Allah merahmatimu wahai Umar, Syaithon telah lari darimu baik ketika engkau hidup atau setelah engkau meninggal.”

    Diriwayatkan dari Muhammad bin Sa’ad bin Abi Waqqash dari ayahnya ia berkata,

    “Umar bin al-Khaththab memohon agar diizinkan masuk ke rumah Rasulullah SAW ketika itu ada beberapa orang wanita dari Quraisy sedang berbincang-bincang dengan Rasulullah dan mereka berbicara dengan nada suara yang keras melebihi suara Rasululullah SAW.”

    Ketika Umar masuk mereka segera berdiri dan menurunkan hijab. Setelah diberi izin Umar masuk ke rumah Rasulullah SAW sementara Rasulullah tertawa.

    Umar bertanya, “Apa yang membuat anda tertawa wahai Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab. “Aku heran terhadap wanita-wanita yang berada di sisiku ini, ketika mereka mendengar suaramu, segera mereka berdiri menarik hijab.”

    Umar berkata, “Sebenarnya engkau yang lebih layak mereka segani Wahai Rasulullah. Kemudian Umar berbicara kepada mereka, “Wahai para wanita yang menjadi musuh bagi nafsunya sendiri, bagaimana kalian segan terhadap diriku dan tidak segan terhadap Rasulullah?”

    Mereka menjawab, “Ya, sebab engkau lebih keras dan lebih kasar daripada Rasulullah SAW.”

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Wahai Ibnul al-Khaththab, demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman tanganNya, sesungguhnya tidaklah setan menemuimu sedang berjalan di suatu jalan kecuali dia akan mencari jalan lain yang tidak engkau lalui.”

    Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a bahwa Rasulullah pernah bersabda,

    ”Sesungguhnya setan lari ketakutan jika bertemu Umar”

    Begitulah, kisah yang diriwayatkan Aisyah, sehingga menjadi kekuasaan Allah SWT. kalau Umar tak hanya ditakuti oleh musuhnya bahkan musuh gaib pun ditakutinya. []

    Sumber: Asbabul Wurud 2 Karya: Suwarta Wijaya Penerbit: Kalam Mulia.
    Continue Reading

    Simbol Angka 13, Kenapa Dianggap Angka Sial?



    Eramuslim.com – Di seantero dunia terdapat bermacam-macam kepercayaan, mitos, dan legenda, yang tidak terhitung banyaknya. Bagi kaum rasionalis, kepercayaan-kepercayaan orang-orang tua ini seharusnya ikut mati sejalan dengan modernisasi yang merambah seluruh sisi kehidupan manusia. Namun demikiankah yang terjadi? Ternyata tidak.

    Di dalam tatanan masyarakat modern, kepercayaan-kepercayaan tahayul ini ternyata tetap eksis dan bahkan berkembang dan merasuk ke dalam banyak segi kehidupan masyarakatnya. Kepercayaan-kepercayaan ini bahkan ikut mewarnai arsitektural kota dan juga gedung-gedung pencakar langit.

    Sebagai contoh kecil, di berbagai gedung tinggi di China, tidak ada yang namanya lantai 4, 13, dan 14. Menurut kepercayaan mereka, kedua angka tersebut tidak membawa hoki. Di Barat, angka 13 juga dianggap angka sial. Demikian pula di berbagai belahan dunia lainnya. Kalau kita perhatikan nomor-nomor di dalam lift gedung-gedung tinggi dunia, Anda tidak akan jumpai lantai 13. Biasanya, setelah angka 12 maka langsung ‘loncat’ ke angka 14. Atau dari angka 12 maka 12a dulu baru 14. Fenomena ini terdapat di banyak negara dunia, termasuk Indonesia.

    Mengapa angka 13 dianggap angka yang membawa kekurang-beruntungan? Sebenarnya, kepecayaan tahayul dan aneka mitos yang ada berasal dari pengetahuan kuno bernama Kabbalah. Kabalah merupakan sebuah ajaran mistis kuno, yang telah dirapalkan oleh Dewan Penyihir tertinggi rezim Fir’aun yang kemudian diteruskan oleh para penyihir, pesulap, peramal, paranormal, dan sebagainya—terlebih oleh kaum Zionis-Yahudi yang kemudian mengangkatnya menjadi satu gerakan politis—dan sekarang ini, ajaran Kabbalah telah menjadi tren baru di kalangan selebritis dunia.

    Bangsa Yahudi sejak dahulu merupakan kaum yang secara ketat memelihara Kabbalah. Di Marseilles, Perancis Selatan, bangsa Yahudi ini membukukan ajaran Kabbalah yang sebelumnya hanya diturunkan lewat lisan dan secara sembunyi-sembunyi. Mereka juga dikenal sebagai kaum yang gemar mengutak-atik angka-angka (numerologi), sehingga mereka dikenal pula sebagai sebagai kaum Geometrian.

    Menurut mereka, angka 13 merupakan salah satu angka suci yang mengandung berbagai daya magis dan sisi religius, bersama-sama dengan angka 11 dan 666. Sebab itu, dalam berbagai simbol terkait Kabbalisme, mereka selalu menyusupkan unsur angka 13 ke dalamnya. Kartu Tarot misalnya, itu jumlahnya 13. Juga Kartu Remi, jumlahnya 13 (As, 2-9, Jack, Queen, King).






    Penyisipan simbol angka 13 terbesar sepanjang sejarah manusia dilakukan kaum ini ke dalam lambang negara Amerika Serikat. The Seal of United States of America yang terdiri dari dua sisi (Burung Elang dan Piramida Illuminati) sarat dengan angka 13. Inilah buktinya:
    -13 bintang di atas kepala Elang membentuk Bintang David.
    -13 garis di perisai atau tameng burung.
    -13 daun zaitun di kaki kanan burung.
    -13 butir zaitun yang tersembul di sela-sela daun zaitun.
    -13 anak panah.
    -13 bulu di ujung anak panah.
    -13 huruf yang membentuk kalimat ‘Annuit Coeptis’
    -13 huruf yang membentuk kalimat ‘E Pluribus Unum’
    -13 lapisan batu yang membentuk piramida.
    -13 X 9 titik yang mengitari Bintang David di atas kepala Elang.

    Selain menyisipkan angka 13 ke dalam lambang negara, logo-logo perusahaan besar Amerika Serikat juga demikian seperti logo McDonalds, Arbyss, Startrek. Com, Westel, dan sebagainya. Angka 13 bisa dilihat jika logo-logo ini diputar secara vertikal. Demikian pula, markas besar Micosoft disebut sebagai The Double Thirteen atau Double-13, sesuai dengan logo Microsoft yang dibuat menyerupai sebuah jendela (Windows), padahal sesungguhnya itu merupakan angka 1313.

    Uniknya, walau angka 13 bertebaran dalam berbagai rupa, bangsa Amerika rupa-rupanya juga menganggap angka 13 sebagai angka yang harus dihindari. Bangunan-bangunan tinggi di Amerika jarang yang menggunakan angka 13 sebagai angka lantainya. Bahkan dalam kandang-kandang kuda pacuan demikian pula adanya, dari kandang bernomor 12, lalu 12a, langsung ke nomor 14. Tidak ada angka 13.

    Kaum Kabbalis sangat mengagungkan angka 13, selain tentu saja angka-angka lainnya seperti angka 11 dan 666. Angka ini dipakai dalam berbagai ritual setan mereka. Bahkan simbol Baphomet atau Kepala Kambing Mendez (Mendez Goat) pun dihiasi simbol 13. Itulah sebabnya angka 13 dianggap sebagai angka sial karena menjadi bagian utama dari ritual setan.(Rizki Ridyasmara)
    Continue Reading
    Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
     

    Like Our Facebook

    Translate

    Followers

    D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template