Selasa, 30 Juli 2013

Industri Kimia dalam Perjalanan Sejarah Islam

JAKARTA--Kemajuan di bidang kimia tak terhenti pada konsep dan kajian. Namun, ilmuwan Muslim membuat tero bosan penting hingga lahirlah industri. Berbagai produk yang bermula dari inovasi dalam ranah ini bertebaran di kota-kota Islam. Tak hanya memberi manfaat fungsional, tetapi juga mendorong kemajuan ekonomi.

Sejak awal, ilmuwan Muslim berkomitmen mengembangkan kimia. Mereka melakukan kajian dan menuliskannya dalam serangkaian karya. Sejumlah risalah, misalnya yang ditulis oleh ahli kimia terkemuka, Jabir ibnu Hayyan, menggambarkan bagaimana menghasilkan zat kimia tertentu, yang menjadi bahan baku industri secara rinci.

Jabir, ungkap Ehsan Masood melalui karya Ilmuwan Muslim Pelopor Hebat di Bidang Sains Modern, berhasil menemukan proses kimiawi, seperti reduksi, sublimasi, dan penyulingan. Dia menciptakan bahan alembik, tabung penelitian sederhana untuk memanaskan cairan.

Alembik bisa mengubah anggur menjadi alkohol. Namun, di tangan ilmuwan Muslim, alkohol tidak dialihkan sebagai bahan minuman keras. Sebaliknya, pembuatan bahan alkohol menjadi proses kunci untuk sejumlah industri kimia yang berkembang di peradaban Islam.

Termasuk produksi parfum, tinta dan bahan celup, obat-obatan ataupun bahan kimia tertentu. Jabir juga menemukan jenis asam, antara lain asam sulfat, asam hidrokolat, dan asam nitrat, yang bisa melarutkan logam serta banyak dipakai di industri kerajinan logam dan lainnya.

Berbagai penguasaan teknik kimiawi dari sarjana Muslim menumbuhkan semangat para industriawan. Peradaban Islam lantas memunculkan sederet industri penting, seperti industri farmasi, tekstil, perminyakan, kesehatan, makanan dan minuman, perhiasan, hingga militer.

Selain itu, ada juga industri baja, pembuatan kertas, pembuatan keramik, kerajinan tanah liat, pembuatan gelas dan kaca, pertanian, ekstraksi mineral, industri logam, dan produk kimia lainnya. Umat Islam pun telah memiliki pabrik kaca skala besar di beberapa kota di Timur Tengah.

Sentra-sentra industri kaca bermunculan di banyak tempat dan masing-masing punya ciri khas dalam hal bentuk dan desain. Menurut Ahmad Y al-Hassan dan Donald R Hill dalam bukunya Islamic Technology: An Illustrated History, produk umat Islam mencerminkan karakter unik dari masing-masing pusat pembuatannya.

Sammara, Irak, pada abad ke-9 mejadi salah satu sentra industri produk tersebut. Selain itu, ada pula di Mosul, Najat, serta Baghdad. Sedangkan, di Suriah, Kota Damaskus merupakan sentra produksi yang terkenal meskipun di kota lainnya juga ada, seperti di Aleppo, Raqqa, Armanaz, Tyre, Sidon, Acre,dan Rasafa.

Al Hassan mengungkapkan, produk yang dibuat di Suriah sangat populer sepanjang peradaban Islam hingga berkembangnya industri yang sama di Venesia, Italia, pada abad ke13. Orang-orang Barat mengetahui teknik pembuatan produk tersebut pada abad ke-13 hingga ke-17, lalu mereka mengembangkan industri di Eropa.

Di Indishapur, penelitian kimia mengantarkan umat Muslim pada pencapaian teknologi pemurnian gula. Selanjutnya, inovasi teknik ini dipergunakan pada industri gula di Khuzistan. Lalu, menyebar ke seluruh negeri Islam hingga Spanyol. Penemuan penting lain pada era keemasan adalah sabun.

Sentra industri sabun berada di Kufah, Basrah, dan Nablus di Palestina. Kemajuan industri ini dicatat ahli geografi, al-Maqdisi. Dalam risalahnya Ahsan al-Taqasim fi Ma`rifat al-Aqalim, ia menyatakan bahwa Kota Nablus sudah terkenal sebagai sentra produksi sabun pada abad ke-10 dan sebagian hasilnya diekspor ke negara-negara Islam.

Hadirnya produk sabun turut men dorong berkembangnya gaya hidup sehat dan bersih di kalangan masyarakat Muslim sejak abad ke-7. Bahan utama pembuatan sabun, ungkap al-Hassan, adalah minyak sayuran, misalnya minyak zaitun serta minyak aroma.Tokoh penting di balik penemuan formula pembuatan sabun adalah al-Razi, kimiawan asal Persia.

Ketika itu, sabun yang diproduksi umat Muslim sudah berbentuk sabun cair dan padat serta menggunakan bahan pewangi dan pewarna. Dokter Muslim asal Andalusia, Abu al-Qasim al-Zahrawi (936-1013), juga menulis resep pembuatan sabun di dunia Islam. Selain itu, fondasi industri parfum ditopang oleh teknik dan rekayasa kimia.

Pembuatan parfum
 

Dua ahli kimia, yakni Jabir ibnu Hayyan dan al Kindi, melalui berbagai penemuan dalam proses kimia sanggup menghasilkan formula luar biasa yang bermanfaat bagi pembuatan parfum dengan aneka jenisnya. Sejumlah ahli lainnya juga menaruh perhatian besar terhadap teknik pembuatan parfum. Tak kurang dari sembilan risalah teknis bagi produksi parfum sudah dihasilkan, seperti disampaikan al Ishbilli, kimiawan Muslim berpengaruh pada abad ke-12.

Namun, harus diakui, pengembangan industri parfum di dunia Islam mencapai tahapan mengagumkan berkat kontribusi Ibnu Hayyan. Dia dijuluki Bapak Kimia Modern. Tak tanggung-tanggung, tokoh ini melahirkan beberapa metode penting, seperti penyulingan, penguapan, dan penyaringan, yang sangat efektif untuk mengambil aroma wewangian dari tumbuhan dan bunga dalam bentuk minyak.

Intinya, umat Islam menorehkan prestasi tinggi. Terutama, dengan dikembangkannya teknik dan proses ekstraksi wewangian melalui teknologi distilasi uap. Pencapaian ini sangat berpengaruh pada kemajuan industri parfum masa berikutnya. Bahan ramuan parfum temuan ahli kimia Muslim banyak diikuti oleh kalangan industri parfum di dunia Barat.

Demikian halnya industri mesiu mengalami pencapaian signifikan sejak abad ke-7. Seorang ahli kimia bernama Khalid bin Yazid memperkenalkan bahan potasium nitrat yang menjadi bahan utama pembuatan mesiu. Karya Ibnu Hayyan dan alRazi juga menyinggung soal potasium nitrat.


[Sumber]
Continue Reading

Ramadhan Dan Kesatuan Umat

Oleh: Najmah Saiidah
Sudah beberapa tahun ini, termasuk tahun ini, umat Islam memulai puasa tidak bersamaan, demikian pula mengakhirinya (Idul Fitri).  Dan kondisi ini pada saat sekarang sudah tidak menjadi masalah lagi, sepertinya masyarakat sudah terbiasa dengan perbedaan ini, masing-masing mencoba untuk memahami dan menghormati perbedaan antara yang satu dengan yang lain.    Padahal Jika kita berkaca kepada apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan shahabat, maka sebenarnya mengawali shaum Ramadhan dan mengakhirinya bersamaan.   Dari fenomena alam dan kondisi alam pun sesungguhnya menguatkan hal tersebut.  Dimana jarak terjauh tidak akan membedakan hari. rentang waktu terlama di belahan dunia ini adalah 12 jam. Tidak sampai melebihi satu hari 24 jam. Terlebih lagi, bulan itu cuma satu !  Tentu saja awal bulan dan akhir bulan pun seharusnya satu atau sama.
Sesungguhnya Allah dan Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada kita untuk mengawali Ramadhan dan mengakhirinya dengan rukyatul hilal atau melihat awal terbitnya bulan Ramadhan.   Dan saat ini pun sesungguhnya umat Islam di seluruh dunia bisa mengawali bulan ramadhan pada hari yang sama dan mengakhirinya pada hari yang sama.Tentu saja hal ini hanya  bisa terjadi ketika umat Islam disatukan dalam satu kepemimpinan dunia dan disatukan oleh satu  komando. Kepemimpinan dan komando yang satu itu tidak lain adalah kekhilafahan Islam yang telah disyariatkan Islam dan telah terbukti selama belasan abad mampu menyatukan umat Islam di seluruh dunia.
Kaidah syara menyatakan bahwa ‘Amrul Imaan yarfaul khilaf’, perintah  seorang imam/ pemimpin akan menghilangkan perbedaan/perselisihan.   Sehingga perbedaan dalam mengawali dan mengakhiri bulan Ramadhan bisa diatasi ketika umat Islam memiliki satu kepemimpinan.  Terlebih Allah memang telah menjadikan bulan Ramadhan, idul fitri dan idul Adha sebagai symbol kesatuan umat Islam. Dimana umat Islam di selueuh dunia dipersatukan dengan melaksanakan shaum Ramadhan, kemudian dipersatukan dengan menjalankan shalat Idul Fitri, kemudian di bulan Dzulhijjah, beberapa umat Islam dari seluruh dunia berkumpul di Mekkah dan sekitarnya untuk menjalankan haji dan sedangkan kaum muslim yang lain berpuasa Arafah di tanggal 9 Dzulhijjah dan menjalankan sholat Idul Adha pada keesokan harinya.  Demikian pula dilanjutkan di 3 hari tasyrik dengan menyembelih hewan qurban.  Seharusnya seluruh aktivitas ini dijalankan secara bersamaan oleh seluruh kaum muslimin di seluruh dunia, tanpa kecuali.
Banyak sekali hadits Rasul yang memerintahkan kita, kaum muslimin untuk memulai Ramadhan ataupun berbuka (idul fitri) secara serentak  di seluruh belahan dunia manapun.
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِين
“Shaumlah kalian dengan melihatnya (bulan) dan berbukalah kalian dengan melihatnya (bulan), maka bila tertutup mendung sempurnakanlah Sya’ban menjadi tiga puluh hari”. (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).
لاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْا الْهِلاَلَ وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ
Artinya: “Janganlah kalian shaum hingga melihat hilal dan janganlah berbuka (idul fitri) hingga melihatnya (hilal), (H.R.  Bukhari dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhu). 
Imam Ahmad mengatakan :
يَصُومُ مَعَ الْإِمَامِ وَجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِينَ فِي الصَّحْوِ وَالْغَيْمِ
Artinya : “Berpuasalah bersama Imaam bersama Jama’ah Muslimin, baik dalam keadaan cuaca cerah atau mendung.
Hadits-hadits ini memerintahkan  seluruh umat Islam (dhamirnya jamak) dalam memulai dan mengakhiri shaum Ramadhan, siapapun umat Islam dari seluruh dunia bisa melihatnya. Manusia tidak bisa memutlakkan bulan itu harus tampak di Indonesia atau di tempat tertentu setiap tahun, karena bulan, bumi dan benda-benda langit terus bergerak. Wewenang Allah dengan segala ke-Mahakuasaannya menampakkan bulan itu di ujung belantara Afrika, di padang Saudi Arabia, di Samudera Antartika, atau di sudut ufuk manapun di belahan dunia ini. Sesuai kehendak-Nya.  Dan jika ada seorang muslim yang menyaksikan hadirnya bulan baru, kemudian diambil sumpahnya dan orang tersebut menyanggupinya untuk bersumpah, maka kaum muslimin yang lain harus mengikutinya.  Di sinilah berlaku rukyat global, sebagaimana pendapat dari jumhur ulama.
Pada masa Rasulullah, pelaksanaannya secara terpimpin oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, lalu dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin Al-Mahdiyyin, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, hingga Ali bin Abi Thalib. Dan khalifah selanjutnya sentral pengambilan keputusan Ru’yatul Hilal oleh pimpinan umat Islam (khalifah)  tetap terjaga.Dan memang penentuan awal Ramadhan merupakan hak dan wewenang Imaam / Khalifah.  Nampak jelas di dini bagaimana akhirnya seorang Khalifah memiliki peran yang sangat penting untuk mempersatukan umat Islam dalam satu komando.
Selanjutnya, jika kita telusuri lebih dalam tentang Ramadhan ini, maka sesungguhnya pemeliharaan persatuan ini juga bisa diwujudkan di bulan Ramadhan ini.  Betapa tidak, sebelum Ra­madhan datang, salah satu ke­biasaan yang lazim dilakukan dan sangat dianjurkan adalah ber­maaf-maaf.  Dengan ber­maaf-maaf, seluruh per­soalan yang ada serta ko­munikasi yang selama ini tersendat menjadi terjalin kembali.  Bermaaf–maafan juga me­ngo­kohkan ikatan hati di antara se­s­ama kaum muslimin. Benih-be­­nih perpecahan dan per­be­daan pendapat menjadi pupus se­­telah semuanya saling m­e­maaf­kan. Ikatan per­saudaraan men­jadi tumbuh kian kuat.  Hal itu juga merupakan upaya membersihkan hati atas se­gala penyakit, sehingga saat me­masuki Ramadhan kita bera­da dalam kondisi yang suci.
Kemudian, ibadah puasa yang dijalani merupakan upaya me­­numbuhkan kepedulian ter­ha­dap sesama. Kepedulian bah­wa kita harus berbagi dan mera­sa­kan kondisi yang dialami sau­dara kita yang mengalami keter­ba­tasan hidup.Semangat keber­sa­maan menjadi menguat, kare­na puasa menumbuhkan empati dan semangat berbagi.  Selain itu dalam bulan Ra­madhan kita sangat dian­jur­kan untuk melaksanakan iba­dah sh­a­lat berjamaah. Ja­ngan­kan iba­dah wajib, yang sunat seperti Sha­lat Tarawih dan Witir juga di­kerjakan ber­ja­maah.  Hal itu akan meng­uatkan semangat keber­samaan yang sebelumnya telah ada me­lalui momen tersebut. Selu­ruh persoalan yang ada dapat ditun­tas­kan secara bersama-sama, ke­­tika semua pihak menge­de­pan­kan pentingnya semangat ke­sa­tuan. Tak hanya itu, di akhir Ramadhan salah satu ibadah yang wajib ditunaikan agar puasa sempurna adalah kewaji­ban membayar zakat fitrah.  Hal itu jug­a mengajarkan kepada kita tentang kepedulian sosial dan me­nguatkan rasa saling berbagi k­e­­pada yang lebih mem­bu­tuhkan.
Semua itu diperkuat oleh pe­laksanaan Shalat Idul Fitri yang dianjurkan untuk dilak­sanakan di tanah lapang. Ini merupakan sa­rana untuk menyempurnakan se­mangat kebersamaan yang telah dipupuk saat Ramadhan. Se­mua kalangan ikut serta me­nu­ju tanah lapang untuk melak­sanakan Shalat Idul Fitri. De­wasa, anak-anak, remaja bahkan wanita yang sedang berhalangan juga dianjurkan hadir men­dengarkan ceramah.
Dari semua paparan di atas, kita melihat bagaimana Allah telah men­d­esain Ramadhan dan Idul Fitri sebagai upa­ya sistematis untuk mewujudkan kesatuan sekaligus mem­per­kuat kesatuan umat dan ke­ber­samaan di kalangan kaum muslimin.  Salah satu hikmah ibadah puasa yang telah diciptakan Allah SWT agar umat Islam bersatu.  Hanya saja kesatuan umat ini secara hakiki hanya akan terwujud ketika umat Islam berada dalam komando seorang pemimpin, yaitu Khalifah yang menerapkan syariat Islam secara kaaffah kepada seluruh umat dan menjalankan dakwah secara nyata.  Dan ketika saat ini kepemimpinan yang satu tersebut belum terwujud, maka langkah kongkrit yang harus kita lakukan adalah berjuang maksimal untuk menegakkan khilafah di muka bumi ini dengan melakukan proses pencerdasan dan penyadaran ke tengah-tengah  umat akan  pentingnya institusi khilafah..  sehingga umat akhirnya akan rindu untuk diterapkan ayariat Islam di muka bumi ini.  Selanjutnya mereka pun akan berperan aktif berjuang untuk tegaknya syariah dan khilafah.  Wallahu a’lam []
[Sumber]
Continue Reading

Muktamar Khilafah Sia-sia?

 

Sekali lagi, kita sangat bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kekuatan, kesabaran dan pertolongan sedemikian rupa. Muktamar Khilafah (MK) baru lalu yang diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di 31 kota besar di seluruh Indonesia dengan total peserta lebih dari 400 ribu orang itu dapat berjalan dengan sukses dan mencapai hasil yang diharapkan.
Namun, di tengah membuncahkan semangat yang ditimbulkan oleh gelegar MK, tetap saja ada pihak-pihak yang memandang sinis perhelatan akbar itu. Intinya mereka mengatakan, bahwa kegiatan yang telah memakan energi yang cukup besar, dan dengan capaian yang juga cukup besar itu, sia-sia belaka karena pasti tidak akan mungkin mampu mengantarkan pada cita-cita tegaknya Khilafah.
Setidaknya ada dua kelompok yang memiliki pandangan seperti itu. Pertama: kelompok yang menyatakan bahwa Khilafah hanya bisa dicapai melalui jihad.Kata mereka, mengharap tegak Khilafah sekadar melalui kegiatan demo, seminar, diskusi, konferensi atau muktamar seperti Muktamar Khilafah—seberapa pun banyak pesertanya—hanyalah  mimpi. Ringkasnya, tidak mungkin Khilafah bisa ditegakkan tanpa darah dan pedang. Mereka lalu menunjuk Irak, Afganistan dan tentu saja Suriah sebagai bukti; hanya jihad sajalah yang bisa mengantarkan pada kemenangan.
Kedua: kelompok yang menyatakan bahwa MK memang luar biasa, namun tidak punya arti apa-apa bila tidak bisa dikonversi menjadi dukungan nyata dalam Pemilu 2014 mendatang. Karena itu, HT(I) harus ikut Pemilu, atau setidaknya mengarahkan para pendukungnya untuk mencoblos salah satu partai Islam. Bila bukan melalui Pemilu, dengan alat apa HT akan menegakkan Khilafah?
Memang, keadaan umat hidup tanpa pemimpin atau khalifah belum pernah terjadi pada masa lalu. Karena itu tidak pernah ada preseden tentang bagaimana situasi seperti ini harus dihadapi. Oleh karena itu, wajar bila ada perbedaan dalam jalan (thariqah) meraih kembali kejayaan Islam. Apalagi ditambah dengan pengaruh pemikiran politik selain Islam, utamanya demokrasi, yang merasuk ke tengah umat selepas payung Dunia Islam (Khilafah) runtuh pada tahun 1924.Sejak itu umat makin kehilangan arah dalam cara perjuangannya.
Tentang jalan demokrasi, bila tujuannya sekadar meraih kekuasaan, Pemilu memang adalah cara yang paling logis. Namun, bila  tujuannya adalah lahirnya perubahan mendasar pada sistem dan rezim,  fakta membuktikan bahwa cara-cara konvensional yang dilakukan selama ini telah gagal menghasilkan perubahan yang diinginkan. Lihatlah, tumbangnya rezim Orde Baru tidak terjadi melalui Pemilu meski telah diadakan secara berulang selama 30 tahun.Perubahan besar baru terjadi melalui gerakan reformasi yang berlangsung hanya beberapa bulan. Perubahan besar di negeri-negeri Muslim di Timur Tengah juga terjadi bukan melalui jalan demokrasi. Gelombang Revolusi Arab atau Arab Spring telah mengakhiri puluhan tahun kekuasaan para diktator di sana.
Memang, keyakinan pada demokrasi sempat makin menguat dengan naiknya tokoh Ikhwanul Mulismin, Muhammad Mursi, ke tampuk kekuasaan di Mesir setelah memenangi pemilihan presiden di sana. Namun, kudeta yang baru lalu membuktikan sekali lagi bahwa demokrasi adalah jalan palsu untuk perjuangan Islam. Barat dan para kroninya selalu menyerukan semua pihak untuk setia mengikuti demokrasi. Namun, seruan itu sesungguhnya hanya untuk kepentingan mereka, bukan untuk Islam. Pasalnya, bila melalui cara demokrasi partai Islam naik ke pusat kekuasaan, mereka tak segan menghentikannya.Lihatlah, bukan hanya Mursi, Erbakan di Turki dan FIS di Aljazair pun mengalami hal serupa; menang melalui demokrasi, tetapi dihentikan dengan cara yang anti-demokrasi.
Lalu bagaimana langkah HT(I) dalam meraih tujuan? Tentu saja Muktamar Khilafah yang diselenggarakan oleh HTI baru lalu, sebagaimana juga diskusi, seminar, tablig akbar, demo dan kegiatan lain sejenis, bukanlah jalan untuk tegaknya Khilafah.  Orang banyak salah mengerti, seolah HT(I) hanya mengandalkan langkah-langkah seperti itu dalam meraih cita-citanya. Padahal itu semua hanya bagian saja dari kegiatan pembinaan umat yang amat diperlukan guna membangun kesadaran Islam. Melalui MK,  ratusan ribu orang tersadarkan tentang betapa pentingnya syariah dan Khilafah. Jadi, bagaimana bisa MK disebut sia-sia?
Dalam pemahaman HTI(I), membangun opini publik yang tumbuh di atas kesadaran Islam adalah bagian sangat penting dalam  perjuangan, sebagaimana ditunjukkan dalam thariqah (metode) dakwah Rasulullah saw. Perjuangan Rasulullah Muhammad saw. dimulai dengan kegiatan pembinaan dan pengkaderan, lalu ke tahap interaksi dengan masyarakat guna membentuk opini di tengah masyarakat tentang Islam. Kemudian di atas kesadaran itulah masyarakat Madinah, juga akhirnya Makkah, mendukung Rasulullah saw.
Rasulullah saw. juga melakukan apa yang disebut usaha menggalang dukungan/bantuan (thalabun-nushrah) dari para pemilik kekuasaan. Itu terjadi pada tahun 8 kenabian di penghujung fase kedua dalam thariqah  dakwah Rasulullah, yaitu fase interaksi dengan masyarakat  (at-tafa’ul ma’a al-ummah).Thalabun-nushrah  ditempuh guna mendapatkan perlindungan bagi dakwah dan jalan meraih kekuasaan (akhdu al-hukmi). Dalam usahanya itu, Ibnu Saad dalam kitabnya, Ath-Thabaqat, sebagaimana ditulis Ahmad al-Mahmud dalam kitabAd-Da’wah ila al-Islam, menyebutkan Rasulullah saw. mendatangi tak kurang 15 kabilah; di antaranya Kabilah Kindah, Hanifah, Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah, Kalb, Bakar bin Wail, Hamdan, dan lain-lain. Kepada setiap kabilah, Rasulullah saw. meminta nushrah dari mereka, yang diawali dengan ajakan beliau kepada mereka untuk masuk Islam.
Meski berulang ditolak, Rasulullah saw. tetap saja terus menggalang dukungan/bantuan dari para pemilik kuasaan saat itu. Rasulullah saw. tidak berusaha mengganti dengan metode lain. Fakta ini merupakan qarinah(indikasi) yang jazim (tegas) bahwa thalabun-nushrah merupakan perintah Allah SWT, bukan inisiatif Rasulullah saw. sendiri atau sekadar tuntutan keadaan.
Setelah sekian lama berusaha, pada tahun ke-12 kenabian, akhirnya Rasulullah saw. berhasil mendapatkan nushrah dari kaum Anshar, yang menyerahkan kekuasaan mereka di Madinah kepada beliau. Jadi, thalabun-nushrah adalah metode sahih dalam usaha meraih kekuasaan karena dilakukan secara nyata oleh Baginda Rasulullah saw..
Namun, thalabun-nushrah adalah aktivitas politik, bukan aktivitas militer atau kudeta militer. Aktivitas militer hanyalah salah satu cara (uslub)—bukan satu-satunya cara—yang bisa dilakukan oleh ahlun-nushrah; bisa melalui jalan damai, sebagaimana dilakukan oleh kaum Anshar saat menyerahkan kekuasaannya di Madinah kepada Rasulullah saw.
Dalam konteks Suriah, juga Irak dan Afganistan,  jihad di sana terjadi tak lain adalah sebagai jalan untuk mempertahankan diri dari serangan orang kafir (jihad difa’i), bukan kegiatan yang sejak awal memang ditujukan untuk tegaknya Khilafah. Ini karena revolusi Suriah pada awalnya dilakukan dengan damai hingga Bashar Assad menggunakan senjata untuk menghentikan tuntutan rakyatnya.
Akhirnya, penting sekali bagi kita untuk berpikir sungguh-sungguh, mana jalan yang sebenarnya tepat guna mewujudkan kembali al Khilafah? Bagi HT(I), tidak ada jalan lain kecuali yang telah ditunjukkan oleh Baginda Rasulullah Muhammad saw. Itulah jalan dakwah melalui tiga tahapan:  tahap pembinaan dan pengkaderan; tahap interaksi dengan masyarakat; dan tahap penerimaan kekuasaan melalui ahlun-nusrah.
Sebelum itu, jelas semua kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran umat, termasuk kegiatan seperti MK, insya Allah tidaklah akan sia-sia. AlLahu a’lam bi ash-shawab[HM Ismail Yusanto]
[Sumber]
Continue Reading

Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar


Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, rabb semesta alam. Shalawat dan salam terlimpah dan tercurah kepada manusia pilihan, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Lailatul Qadar adalah malam yang agung. Malam penuh kemuliaan. Ibadah di dalamnya lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan. Siapa yang mendapatkan kemuliaannya sungguh ia manusia beruntung dan dirahmati. Sebaliknya, siapa yang luput dari kebaikan di dalamnya, sungguh ia termasuk manusia buntung dan merugi.

Kemuliaan Lailatul Qadar yang penuh keberkahan dapat dilihat dari pilihan Allah terhadapnya untuk menurunkan kitab terbaik-Nya dan syariat agama-Nya yang paling mulia. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ


"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (QS. Al-Qadar: 1-5)

Sesungguhnya Lailatul Qadar tidak seperti malam-malam selainnya. Pahala amal shalih di dalamnya sangat besar. Maka siapa yang diharamkan mendapatkan pahalanya, sungguh  ia tidak mendapatkan kebaikan malam itu. Oleh karenanya, sudah sewajarnya seorang muslim menghidupkan malam tersebut dengan bersungguh-sungguh melakukan ibadah dan ketaatan kepada Allah secara maksimal. Dan menghidupkannya harus didasarkan kepada iman dan berharap pahala kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Disebutkan dalam hadits shahih:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang menunaikan shalat malam di bulan Ramadan imanan wa ihtisaban (dengan keimanan dan mengharap pahala), diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam redaksi lain,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ


"Barangsiapa yang menunaikan shalat malam di Lailatul Qadar imanan wa ihtisaban (dengan keimanan dan mengharap pahala), diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah menjelaskan tentang waktu turunnya Lailatul Qadar tersebut. Beliau bersabda,
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَان

"Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan." (Muttafaq 'alaih)
Lalu beliau menjelaskan lebih rinci lagi tentang waktunya dalam sabdanya,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

"Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir dari Ramadhan." (HR. Al-Bukhari)

Yaitu malam-malam ganjil dari bulan Ramadhan secara hakiki. Yakni malam 21, 23, 25, 27, dan 29. Lalu sebagian ulama merajihkan (menguatkan), Lailatul Qadar berpiindah-pindah dari dari satu malam ke malam ganjil lainnya pada setiap tahunnya. Lailatul Qadar tidak melulu pada satu malam tertentu pada setiap tahunnya.

Imam al-Nawawi rahimahullah berkata: "Ini adalah yang zahir dan terpilih karena bertentangan di antara hadits-hadits shahih dalam masalah itu. tidak ada jalan untuk menjama' (mengompromikan) di antara dalil-dalil tersebut kecuali dengan intiqal (berpindah-pindah)-nya."

Syaikh Abu Malik Kamal dalam Shahih Fiqih Sunnah memberikan catatan terhadap pendapat-pendapat tentang Lailatul Qadar di atas, "Yang jelas, menurutku, Lailatul Qadar terdapat pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir dan berpindah-pindah di malam-malam tersebut. Ia tidak khusus hanya pada malam ke 27 saja. Adapun yang disebutkan oleh Ubay, Lailatul Qadar jatuh pada malam ke 27, ini terjadi dalam suatu tahun dan bukan berarti terjadi pada semua tahun. Buktinya, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah mendapatinya pada malam ke 21, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Abu Sa'id Radhiyallahu 'Anhu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam berkhutbah kepada mereka seraya mengatakan:

إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَإِنِّي نَسِيتُهَا أَوْ أُنْسِيتُهَا فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ كُلِّ وِتْرٍ وَإِنِّي أُرِيتُ أَنِّي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ
"Sungguh aku telah diperlihatkan Lailatul Qadar, kemudian terlupakan olehku. Oleh sebab itu, carilah Lailatul Qadar pada sepuluh hari terakhir pada setiap malam ganjilnya. Pada saat itu aku merasa bersujud di air dan lumpur."

Abu Sa'id berkata: "Hujan turun pada malam ke 21, hingga air mengalir menerpa tempat shalat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Seusai shalat aku melihat wajah beliau basah terkena lumpur. (HR. Al- Bukhari dan Muslim)

Demikian kumpulan hadits yang menyinggung tentang masalah Lailatul Qadar. Wallahu A'lam." (Selesai ulasan dari Shahih Fiqih Sunnah: III/202-203)

Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dalam Ithaf al-Kiram (Ta'liq atas Bulughul Maram) hal 197, mengatakan, "Pendapat yang paling rajih dan paling kuat dalilnya adalah ia berada pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir. Ia bisa berpindah-pindah, terkadang di malam ke 21, terkadang pada malam ke 23, terkadang pada malam ke 25, terkadang pada malam ke 27, dan terkadang pada malam ke 29. Adapun penetapan terhadap beberapa malam secara pasti, sebagaimana yang terdapat dalam hadits ini (hadits Mu'awiyah bin Abi Sufyan), ia di malam ke 27, dan sebagaimana dalam beberapa hadits lain, ia berada di malam 21 dan 23, maka itu pada tahun tertentu, tidak pada setiap tahun. Tetapi perkiraan orang yang meyakininya itu berlaku selamanya, maka itu pendapat mereka sesuai dengan perkiraan mereka. Dan terjadi perbedaan pendapat yang banyak dalam penetapannya."

Tanda-tanda Lailatul Qadar

Disebutkan juga oleh Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah bahwa Lailatul Qadar memiliki beberapa tanda-tanda yang mengiringinya dan tanda-tanda yang datang kemudian.
Tanda-tanda yang megiringi Lailatul Qadar:
  1. Kuatnya cahaya dan sinar pada malam itu, tanda ini ketika hadir tidak dirasakan kecuali oleh orang yang berada di daratan dan jauh dari cahaya.
  2. Thama'ninah (tenang), maksudnya ketenangan hati dan lapangnya dada seorang mukmin. Dia mendapatkan ketenanangan dan ketentraman serta lega dada pada malam itu lebih banyak dari yang didapatkannya pada malam-malam selainnya.
  3. Angin bertiup tenang, maksudnya tidak bertiup kencang dan gemuruh, bahkan udara pada malam itu terasa sejuk.
  4. Terkadang manusia bisa bermimpi melihat Allah pada malam itu sebagaimana yang dialami sebagian sahabat radliyallah 'anhum.
  5. Orang yang shalat mendapatkan kenikmatan yang lebih dalam shalatnya dibandingkan malam-malam selainnya.
Tanda-tanda yang mengikutinya:

Matahari akan terbit pada pagi harinya tidak membuat silau, sinarnya bersih tidak seperti hari-hari biasa. Hal itu ditunjukkan oleh hadits Ubai bin Ka'b radliyallah 'anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengabarkan kepada kami: "Matahari terbit pada hari itu tidak membuat silau." (HR. Muslim)          

Penutup

Siapa yang merindukan Lailatul Qadar hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam sisa hari Ramadhan ini, khususnya di sepuluh hari terakhirnya. Semoga satu dari sepuluh malam terakhir yang kita hidupkan tersebut adalah Lailatul Qadar. Sehingga kita mendapatkan pahala dan ganjaran yang besar. Selain itu, esungguhan ini adalah bentuk iqtida' (mengikuti dan mencontoh) Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam. kita juga memperbanyak doa dan pengharapan kepada-Nya untuk kebaikan diri kita, keluarga, dan kaum muslimin secara keseluruhan. Amiin! [PurWD/voa-islam.com]
Continue Reading

FPI vs Preman Kendal

Klarifikasi Front Pembela Islam (FPI) atas berita di media nasional cetak maupun online yang menyudutkan FPI atas peristiwa kendal pada Hari Kamis tanggal 18 Juli 2013 yang dimuat disitus resmi fpi.or.id. Berikut release nya:


Sudah menjadi hal biasa, FPI selalu menjadi korban ketidak-adilan media. Media nasional selalu menantikan momentum dimana ada hal negatif yang bisa dikait-kaitkan dengan FPI. Jika terjadi sedikit saja peristiwa negatif yang melibatkan ormas Front Pembela Islam (FPI), media nasional cetak maupun online gegap gempita memberitakan bahkan MENDRAMATISIR kabar tersebut untuk menyudutkan FPI.


Namun lain halnya jika diberbagai tempat FPI melakukan kegiatan sosial atau kegiatan positif, tak satu pun media nasional memberitakan hal tersebut. Akibat dari pembentukan opini negatif oleh media, jelas saja jika banyak pihak yang tidak tahu duduk permasalahan, akan langsung menghujat FPI akibat terpengaruh ‘kemasan’ kabar negatif dari media.

Front Pembela Islam (FPI), khususnya dalam menyambut Bulan suci Ramadhan, selalu melakukan pengawasan yang merupakan kegiatan rutin setiap tahunnya. Hal ini dilakukan untuk menghormati umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa sekaligus menjaga kesucian bulan Ramadhan. Kegiatan monitoring ini biasanya berawal dari laporan masyarakat, kemudian dirindak lanjuti dengan koordinasi bersama aparat. Bila dalam kegiatan ini kerap terjadi bentrokan yang mengganggu ketenangan suasana Ramadhan, Hal itu dikarenakan tidak adanya KETEGASAN dari aparatur negara serta pihak terkait dalam pengawasan maupun kontrol sosial. Jika APARAT sebagai pihak yang berwenang mengatur ketertiban tidak bisa mengendalikan situasi, maka jangan salahkan ormas-ormas Islam jika beraksi untuk menjaga kemuliaan bulan Ramadhan.

Terkait insiden di Kendal, hal ini tidak semata-mata terjadi begitu saja karena sebenarnya pada awalnya FPI, pada hari Rabu 17 Juli 2013 (8 Ramadhan), hanya berkonvoi untuk melakukan acara buka bersama di Masjid Besar Sukorejo, sekaligus memonitor tempat-tempat judi dan prostitusi yang berdasarkan laporan warga, masih ‘bandel’ buka di bulan Ramadhan. Ternyata benar, sarang PELACURAN SARIM (nama pemilik tempat pelacuran) ALASKA (alas karet) Sukorejo - Kendal tetap beroperasi selama 24 jam sejak awal Ramadhan.

Informasi itu diketahui berkat laporan dari masyarakat. Atas permintaan warga Kendal, FPI Jateng terus mendesak Polres Kendal untuk menutup tempat pelacuran tersebut, setidaknya selama Ramadhan. Bahkan FPI sudah berulang kali mengingatkan aparat kepolisian. Namun dalam perjalanan, barisan anggota FPI dihadang ratusan preman yang menjadi BECKING tempat PELACURAN. Mereka menyerang 20 laskar FPI dan merusak mobil mereka.

Polres Kendal mau pun Polda Jateng mengetahui peristiwa ini namun terkesan membiarkan. Padahal arahan Kapolri kepada seluruh jajaran kepolisian agar ikut secara pro aktif menjaga kemuliaan bulan Ramadhan dari segala maksiat atau PEKAT (penyakit masyarakat).

Pada Kamis 18 Juli 2013 (9 Ramadhan), FPI kembali mendatangi tempat maksiat pelacuran tersebut dan menuntut Polres Kendal untuk menutupnya. Akhirnya, Polres menutup juga, namun saat keluar dari lokasi, 26 anggota FPI tanpa sajam dihadang ratusan preman dengan berbagai sajam. Karena suasana mencekam, salah satu sopir mobil rental yang mengemudikan rombongan  FPI panik dan menancap gas, sehingga menabrak 7 orang yang salah satunya meninggal dunia di RS.

Akhirnya 26 anggota FPI yang sebagian besar terluka diamankan dan diperiksa Polres. Lalu 1 ditahan karena menabrak dan 2 ditahan dengan alasan kedapatan membawa sajam, sedang yang 23 dipulangkan. Yang ditahan adalah Bayu dan Satrio Yuwono serta Agung Wicaksono.

Kepala Kepolisian Resor Kendal AKBP Asep Jenal menyatakan, Soni Haryanto, sopir Avanza tersangka penabrak warga hingga meninggal dalam kasus bentrokan FPI di Sukorejo, Kendal, Jawa Tengah, bukan anggota FPI. Soni, menurut Asep, hanya sopir mobil rental yang disuruh oleh pemilik mobil untuk mengantarkan rombongan FPI. Hal itu ditegaskan AKBP Asep Jenal, seperti dirilis kompas.com Jumat 19 Juli 2013.

Peristiwa kecelakaan itu dimanfaatkan para preman untuk memprovokasi warga agar ikut menyerang FPI dengan dalih ada warga dibunuh FPI, sehingga warga marah dan ikut menyerang serta merusak dan membakar mobil FPI. Padahal sebagian warga itu  semula mendukung dan meminta bantuan FPI untuk menutup sarang pelacuran tersebut.

Terkait desakan pembubaran FPI, Ketua DPP FPI bidang Da'wah sekaligus jubir FPI, Habib Muhsin Alattas memaparkan bahwa bagi pihak-pihak yang berharap FPI dibubarkan tak perlu risau, FPI AKAN BUBAR SENDIRI JIKA HUKUM DITEGAKKAN DENGAN BAIK OLEH APARAT DAN PEJABAT NEGARA.

Habib Muhsin juga menyesali sikap media terhadap FPI. Beliau mengatakan FPI tidak perlu pembelaan dari media, yang dibutuhkan FPI hanya pemberitaan yang berimbang apa adanya. Jangan hanya menyudutkan FPI dan menyuarakan berita sepihak tanpa mendengar paparan dari pihak FPI.

Bila kita cermati, terlihat jelas cara media memaparkan berita yang begitu tendensius terhadap FPI hingga bagi banyak kalangan yang terlihat hanyalah kesalahan FPI semata. Padahal DPD FPI Jateng sudah melakukan klarifikasi melalui selebaran dan SMS KRONOLOGIS yang sudah disebar ke berbagai media, tapi kebanyakan media tidak  memuatnya, karena media punya kepentingan memojokkan FPI. Bayangkan saja, tidak ada satu pun media memberitakan tentang puluhan PREMAN yang menyerang sejumlah anggota FPI hingga terluka parah bahkan sampai kritis. Media begitu sibuk menyoroti dan menyudutkan FPI, menutup mata untuk membuat berita sebenarnya, bahwa yang terjadi adalah bentrok antara FPI dan PREMAN bayaran cukong PROSTITUSI dan BANDAR JUDI bukan dengan warga. FPI selalu didudukkan dalam posisi pihak yang bersalah serta menjadi sasaran empuk untuk menjadi bahan berita negatif media.

Perlu diketahui, dalam setiap aktivitas lapangan, FPI selalu bertindak secara prosedural. Segala tindakan yang diambil adalah bagian dari proses yang berjalan sebelumnya. FPI tidak akan sampai melakukan sweeping, jika saja aparat tanggap dan sigap dalam menjaga ketentraman di bulan Ramadhan termasuk penertiban tempat maksiat. Amar Ma'ruf Nahi Munkar adalah tugas FPI yang tetap wajib dijalankan, tetapi prosedur tetap wajib ditegakkan.

FPI tidak ingin membela diri atau pun merasa tidak bersalah. Jika FPI bersalah, silahkan di proses secara hukum. Hanya saja letakkan sesuatu pada tempatnya, dengan kata lain pihak PREMAN serta pihak yang merekrut mereka dan PROVOKATOR pemanas suasana juga harus ikut diproses secara hukum. Bentrokan ini tentu terjadi karena ada dua pihak yang berseteru, namun mengapa tuntutan di proses secara hukum hanya DIALAMATKAN kepada FPI??..

“BILA BENTUKNYA PENYERANGAN, TENTU WAJAR HANYA FPI YANG DIPROSES SECARA HUKUM. NAMUN PERISTIWA KENDAL ADALAH BENTROK, HINGGA SEHARUSNYA YANG DIPANGGIL ATAU DIPROSES SECARA HUKUM TENTU TIDAK HANYA FPI, MELAINKAN JUGA PIHAK LAIN YANG IKUT ANDIL DALAM KEJADIAN INI”

Semua tuduhan anarkis terhadap FPI adalah istilah media dalam pembentukan opini masyarakat terhadap FPI, bahwa semua tindakan FPI negatif. Maka apakah kita akan berdiam diri melihat begitu maraknya peredaran MIRAS, NARKOBA, PROSTITUSI dan PERJUDIAN? Apakah kita rela melihat bangsa ini  semakin hancur? FPI juga bagian elemen masyarakat yang seharusnya didukung dalam proses pengawasan, karena aparat tidak akan mampu bekerja sendiri tanpa dukungan berbagai pihak yang punya harapan sama.

Pada akhirnya semua pihak harus melihat eksistensi dan tindakan FPI dengan mata melek dan pikiran yang lebih terbuka. Tujuan utama FPI melakukan kegiatan nahi munkar tidak lebih untuk membersihkan penyakit masyarakat yang sudah sangat jauh merusak moral bangsa ini, agar paling tidak kerusakan moral tidak semakin parah. Apakah demi mengedepankan ego dengan wacana PEMBUBARAN FPI bisa membuat KEADAAN LEBIH BAIK? Apakah tindakan FPI dalam pengawasan penyakit masyarakat begitu menakutkan dibandingkan dengan maraknya kegiatan pengrusakan moral bangsa? Hendaknya media juga lebih cerdas dalam mengungkap berita hingga tidak memutar balikkan pola pikir masyarakat. Jangan mengedepankan kebebasan dan hak azazi kemudian membiarkan penyakit masyarakat yang justru daya rusaknya lebih menakutkan dibanding ‘stempel anarkis’ yang selalu digemakan media terhadap FPI dan menanamkan opini buruk tentang FPI. [slm/fpi][Sumber]
Continue Reading

Ustadz Felix Siauw " Larangan Pacaran dalam Al-Qur'an Hadist "

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan sesuatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra [17] : 32).
 
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS. An Nur : 30)
Katakanlah kepada wanita yang beriman: 
“Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nur : 31)
 
Dari Ibnu Abbas r.a. dikatakan: Tidak ada yang kuperhitungkan lebih menjelaskan tentang dosa-dosa kecil daripada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Allah telah menentukan bagi anak Adam bagiannya dari zina yang pasti dia lakukan. Zinanya mata adalah melihat [dengan syahwat], zinanya lidah adalah mengucapkan [dengan syahwat], zinanya hati adalah mengharap dan menginginkan [pemenuhan nafsu syahwat], maka farji (kemaluan) yang membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Bukhari & Muslim)
 
“Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita kecuali bersama mahramnya.”(HR. Bukhori dan Muslim)
 
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah seorang laki-laki sendirian dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaitan.” (HR. Ahmad).
 
“Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HASAN, Thabrani dalam Mu'jam Kabir 20/174/386)
 
“Demi Allah, tangan Rasulullah shallallahu‘alaihi wassallam tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun dalam keadaan membai’at. Beliau tidak memba’iat mereka kecuali dengan mangatakan: “Saya ba’iat kalian.” (HR. Bukhori)
 
“Sesungguhnya saya tidak berjabat tangan dengan wanita.” (HR. Malik , Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)
 
Telah berkata Aisyah ra, “Demi Allah, sekali-kali dia (Rasul) tidak pernah menyentuh tangan wanita (bukan mahram) melainkan dia hanya membai’atnya (mengambil janji) dengan perkataaan.” (HR. Bukhari dan Ibnu Majah)
 
“Wahai Ali, janganlah engkau meneruskan pandangan haram (yang tidak sengaja) dengan pandangan yang lain. Karena pandangan yang pertama mubah untukmu. Namun yang kedua adalah haram” (HR. Abu Dawud , At-Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani)
 
“Pandangan itu adalah panah beracun dari panah-panah iblis. Maka barangsiapa yang memalingkan pandangannya dari kecantikan seorang wanita, ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberikan di hatinya kelezatan sampai pada hari? Kiamat.” (HR. Ahmad)
 
Dari Jarir bin Abdullah r.a. dikatakan: “Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang memandang [lawan-jenis] yang [membangkitkan syahwat] tanpa disengaja. Lalu beliau memerintahkan aku mengalihkan pandanganku.” (HR. Muslim)
 
Begitu banyak kan larangan tentang Pacaran? Jadi masih berani Pacaran? [globalmuslim/Sumber]
Continue Reading
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template