Senin, 15 Juli 2013

Debat Di TV, Ajang Adu Domba dan Penyulut Emosi

AKI PAGIUnderground Tauhid–Media, bisa secara langsung mempengaruhi perilaku dan opini audiens. Tapi celakanya, setiap tayangan yang dibuat oleh media tidak dilandasi oleh pertimbangan utama dampak negatifnya terhadap masyarakat. Karena bagi media massa, khususnya televisi, yang paling utama menjadi pertimbangan mereka adalah seberapa banyak tayangan itu dapat menyerap banyak penonton alias tingginya rating, dan seberapa besar kemungkinan meraup keuntungan lewat iklan.

Jika ada televisi yang mengaku terdepan dalam mengangkat isu-isu kontroversial di masyarakat, maka bisa dipastikan bahwa isu itu sebenarnya bukan isu yang besar, namun sengaja dibesar-besarkan oleh media agar rancangan agenda setting yang sudah dibuat oleh media benar-benar terlaksana.

Jika isu itu kurang panas dibicarakan, pihak televisi akan membuat acara-acara semacam dialog yang mendatangkan dua pembicara atau lebih yang dari berbagai kubu yang berlawanan. Lalu dalam tayangan itu, tugas presenter biasanya suka mengadu-domba kedua pembicara dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan. Sering penjelasan dari narasumber tidak diberikan waktu yang cukup untuk menyelesaikan argumentasinya. Terkadang juga dipotong dengan pertanyaan-pertanyaan yang bertubi-tubi. Belum lagi harus diadu dengan narasumber lain yang memiliki argumentasi yang bertolak-belakang.

Semakin acara talkshow yang memanel dua pembicara yang saling bertolak-belakang itu panas, maka semakin berhasil televisi itu menaikkan rating acara. Bagi televisi yang berorientasi pada rating dan profit, solusi pemecahan untuk permasalahan yang diangkat dalam diskusi itu tidak penting! Karena dimanapun diskusi panel tidak bertujuan untuk mencari solusi! Tidak ada satupun pembicara yang mau dikalahkan argumentasinya. Dan akhirnya solusinya dikembalikan kepada para pemirsa. Lalu apa gunanya program dialog itu diadakan?

Salah satu contoh saja yang baru-baru ini menjadi bahan perbincangan diseluruh media, kasus penyiraman yang dilakukan Juru Bicara FPI, Munarman kepada seorang sosiolog UI, Tamrin Tomagola di acara Apa Kabar Indonesia (AKI Pagi) TVOne.  

Pertama, bukan kebetulan pihak TVOne mengundang kedua pembicara untuk dipertemukan dalam acara tersebut, namun sudah pasti disengaja untuk mencari tipe narasumber yang sangat bertolak belakang satu sama lain. Disatu sisi, Munarman yang dianggap mewakili Front Pembela Islam (FPI) yang sering menjadi bulan-bulanan media karena dicitrakan sebagai ormas yang reaksioner dan sering melakukan kekerasan. Disisi lain, Tamrin dihadirkan sebagai narasumber yang mewakili liberalisme yang kritis terhadap isu-isu syariat Islam.  

Kedua, jika kita perhatikan baik-baik rekaman dialog tersebut, kita akan jelas menemui bahwa pemicu yang memanaskan suasana hingga Munarman menjadi emosi dan akhirnya terjadi penyiraman teh ke wajah Tamrin, selain memang disebabkan argumentasi Tamrin yang menyalahkan umat Islam, tapi juga dari presenter acara tersebut yang bertubi-tubi bertanya dengan nada memojokkan. TVOne punya andil atas insiden itu!

Di depan audiens memang berlagak meminta maaf atas tragedi itu. Tapi dibalik itu, jelas bahwa TVOne sukses meningkatkan rating acara tersebut dikemudian hari! Tanpa harus beriklan, tanpa harus repot-repot mencari sponsor, rating AKI Pagi pasti akan melonjak. Bagaimana tidak, jika anda mengamati media sosial, ada berapa juta manusia yang menyebarkan berita tentang TVOne sampai beberapa hari setelah kejadian? Sampai hari ini, jika anda buka Google dan anda ketikkan kata kunci tentang kejadian itu, anda akan menemui ratusan ribu hasil pencarian! Pertanyaannya: Siapa yang sukses?

Menurut analisa saya secara pribadi, umat Islam tidak terlalu diuntungkan dalam kejadian ini. Keberanian Munarman memang bisa mewakili kepuasan kita mempermalukan tokoh liberal yang menyudutkan Islam di berbagai kesempatan. Ribuan diantara kita memberikan apresiasi yang positif kepada Munarman. Namun kita juga harus melihat dampak negatif yang muncul dari kejadian tersebut.

Pertama, jika kita melihat bagaimana pencitraan tokoh-tokoh liberalisme yang cenderung menjadi ‘good guy’ di media-media, maka jelas Tamrin sebagai pihak yang dipermalukan akan semakin menuai banyak pembelaan dari mayoritas musuh-musuh Islam, bahkan dari pihak umat Islam yang masih awam melihat permasalahan ini.

Kedua, jika kita melihat sebaliknya, Front Pembela Islam yang sebelumnya sudah dicitrakan sebagai ormas Islam yang reaksioner dan tidak mau kompromi akan semakin mendapat pembenaran sebagai ormas yang emosional, keras, dan sulit diajak untuk berdialog dengan baik-baik. Permasalahannya, jika pencitraan itu hanya berhenti pada satu ormas saja tidak terlalu menjadi masalah besar, tapi bagaimana jika citra itu justru ikut menempel pada Islam secara keseluruhan? Dalam kasus ini, menurut saya FPI hanyalah korban dari jebakan sulutan emosi dari media. Media ‘butuh’ orang-orang yang mudah tersulut perdebatan dengan nada tinggi untuk dijebak dan dijadikan bulan-bulanan.

Ketiga, video yang banyak beredar di youtube hanya menampilkan dua menit dari berlangsungnya kejadian tersebut. Banyak tampilan yang tidak ditayangkan dalam video itu, khususnya bagaimana Tamrin bicara menyebalkan tentang Islam. Entah ini bagian dari skenario pihak-pihak yang ‘bermain dibelakang’ kejadian ini atau tidak, tapi yang pasti video tidak lengkap itu bisa menambah buruknya citra Munarman (FPI).

Mungkin ini menjadi pelajaran bagi kita. Berkali-kali saya membahas tentang busuknya program-program televisi semuanya bertujuan agar kita semua waspada pada apapun yang mereka tawarkan kepada kita. Kita jangan bangga bisa nongol di televisi mainstream dengan bicara tentang Islam, selama kontrol konsep acara masih ditangan mereka. Mereka tidak patut diberi prasangka baik jika membahas segala sesuatu terkait dengan isu-isu Islam. Sebelum mereka bisa membuktikan support mereka untuk mengembalikan citra Islam yang sudah mereka fitnah selama ini![]

Oleh : Aditya Abdurrahman Abu Hafizh
[Curhat Mingguan Ke-85, 15-07-2013, 10:25]

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template