Selasa, 20 Agustus 2013

Tiga Faktor Kudeta Atas Murs



Oleh: Ghazi Taubah

Ketika Kamal Ataturk menganulir Khilafah Utsmaniah di Istambul tahun 1926, dunia islam bersedih dan sekaligus murka. Para ulama, da’I, lembaga-lembaga dan kelompok Islam menghadapi peristiwa besar ini dengan reaksi kuat yang kuat. Rasyid Ridlo menulis dalam buku Al-Imamah Al-Udzma (Kepemimpinan Terbesar Umat Jatuh). Sebagian dai membentuk organisasi Pemuda Muslim tahun 1927 di Kairo. Hasan Al-Banna kemudian membentuk Ikhwanul Muslimin tahun 1928.

Upaya mengembalikan khilafah dan menerapkan Islam di penjuru dunia menjadi salah satu tujuan utama didirikannya Jamaah Ikhwanul Muslimin. Mereka di Mesir akhirnya mampu mengantarkan Muhammad Mursi menjadi presiden setelah proses pemilu yang dibantu oleh kelompok-kelompok Islam di Mesir. Muhammad Mursi menerima jabatan presiden pada 31 Juni 2012. Akan tetapi pada 3 juli 2013 Mursi digulingkan dan dijatuhkan. Kenapa terjadi peristiwa rumit ini? Kenapa Mursi digulingkan dari jabatan ? Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan ia digulingkan.

Sebenarnya ada sejumlah faktor yang menyebabkan Muhammad Mursi di jatuhkan dari jabatan presidennya. Namun faktor terpenting adalah sebagai berikut:
 
Usaha Sekularisasi di masyarakat Mesir.

Masyarakat Mesir menghadapi dan mengalami proses sekularisme sejak abad 19 sejak Ismael Pasha mengumumkan di Mesir di pertengahan abad 19 bahwa Mesir adalah bagian dari Eropa. Ini berarti Mesir harus berjalan dan mengikuti cara yang dianut oleh barat. Kemudian pada awal abad 20 Toha Husaen mengumumkan bahwa Mesir harus mengadopsi peradaban barat jika menginginkan menjadi negara yang maju dan berperadaban.

Seruan yang sama juga disampaikan oleh sejumlah pemikir dan cendikiawan di Mesir seperti Ahmad Lutfi, Ismail Muhammad Husein Haykal, Abbas Mahmud Al-Aqqad yang sangat terbuka dan sangat terpengaruh dengan cara dan metode Inggris. Diantara sejumlah fakta seruan kelompok cendekiawan yang terpengaruh dengan peradaban barat adalah fenomena pemisahan agama dari negara dan mengkooptasi agama di masjid dan gereja serta mentransformasi eksperimen barat di dalam membangun kehidupan sosial budaya dan pemikiran yang jauh dari hukum hukum agama ke masyarakat Mesir.

Kemudian terjadi revolusi tahun 1952 dan Jamal Abdun Nasir menerapkan secara pakasa pada pada tahun 1960-an prinsip-prinsip sosialisme komunisme yang bukan hanya membentuk masyarakat sekuler yang didasarkan kepada pemisahan agama dan negara, akan tetapi juga mencabut negara dari kehidupan masyarakat dan kehidupan mereka serta memberikan keragu- raguan terhadap nilai nilai peran dan prinsip-prinsip agama.

Upaya sekularisme yang panjang tersebut yang kita sudah jelaskan sekilas tentang fenomenanya di atas menyebabkan menyebabkan sebagian masyarakat Mesir memiliki sikap sekulerisme yang ingin memisahkan agama, memisahkan islam dengan hukum undang-undang serta hukum negara. Di kalangan masyarakat Mesir juga ada yang beranggapan agama adalah khurafat dan ilusi yang tidak memiliki hakekat rel di kehidupan nyata.

Akan tetapi sebenarnya sebagian besar bangsa Mesir masih berpegang teguh dengan nilai nilai agama dan mengimani pentingnya syariat agama tersebut di dalam membangun kehidupan masyarakat Mesir. Hal itu dibuktikan dalam pemilu yang digelar di Mesir setelah revolusi 25 Januari tahun 2011, baik pemilu legislatif, pemilu Dewan Syuro dan Pemilu Presiden serta sejumlah referendum terhadap undang-undang Mesir.

Semua membuktikan sebagian besar masyarakat Mesir masih berpegang teguh dengan nilai-nilai agama. Usaha sekularisme memang memberikan pengaruh akan tetapi hanya sebagian kecil saja sebagian kecil masyarakat Mesir yang terpengaruh. Sebagian besar masyarakat Mesir masih melawan dan menantang usaha-usaha sekularisme masyarakat disana masyarakat Mesir masih menyakini Islam harus menjadi supremasi di dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Inilah yang ditegaskan oleh kotak suara pemilu yang akhirnya mengantarkan Mursi ke pucuk pimpinan presiden. Akan tetapi kelompok minoritas sekuler selama dua bulan terakhir berusaha mencari perhatian dan pengaruh serta dukungan dari masyarakat dunia dan barat dalam menjatuhkan Mursi sebagai presiden.

Usaha Dini Ubah Identitas Mesir

Faktor kedua adalah usaha dini yang dilakukan oleh sebagian pihak di Mesir untuk menghilangkan afiliasi Mesir kepada bangsa Arab dan Islam. Mereka menyerukan bahwa Mesir adalah entitas yang terpisah akarnya dari bangsa Arab dan terikat kuat kepada dinasti Firaun ke masa lalu. Menurut mereka, Mesir harus menyadari akan fakta ini. Seruan inilah terjadi di Mesir setelah perang dunia pertama. Sebagian tokoh Mesir seperti Saad Ahmad Lutfi, Salamah Musa Leuwis dan lain lain. Kemudian Abdul Nasir tahun 1952 datang menyerukan tentang kebangsaan Arab dan ingin mengembalikan Mesir kepada pangkuan bangsa Arab.

Akan tetapi boikot yang dilakukan oleh bangsa Arab terhadap Anwar Sadat setelah menandatangani kesepakatan Cam David tahun 1978 memperngaruhi peran Mesir. Seruan kembali kepada Dinasti Firaun kembali memuncak setelah itu. Namun setelah datang Husni Mubarak yang mengikuti jejak Anwar Sadat Mesir kembali berkutat dengan urusan dalam negeri dan perannya hanya terbatas di dalam dunia Arab saja.

Usaha diatas menjadikan sebagian sebagian masyarakat Mesir meyakini bahwasanya Mesir adalah bangsa dengan latar belakang identitas Dinasti Fir’aun dan tidak memiliki kaitannya dengan dunia Arab apalagi Islam.

Namun statemen ini tidak sesuai dengan realitas sebab Islam telah merasuk kuat di dalam segala bidang kehidupan masyarakat Mesir baik itu bidang sosial, budaya, pemikiran, pendidikan, seni, moral dan norma, fenomena kemanusiaan yang ada di masyarakat, tradisi, pakaian, makanan, cita rasa dan cita-cita, dan harapan. Semuanya mencerminkan bahwa masyarakat Mesir sebagian besarnya berpegang teguh dengan nilai-nilai, ajaran dan norma Islam usaha untuk melepaskan bangsa Mesir dari afiliasinya terhadap bangsa Arab dan Islam tidak berhasil karena ini tidak sesuai dengan realitas dan fakta yang ada. Karena itu ajakan untuk kembali kepada Dinasti Firaun mengalami kemunduran di tahun 1950.

Kemudian Muhammad Husein Haikal menulis dalam bukunya tentang Abu Bakar dan Umar dan menulis tentang Kedudukan Wahyu. Ia juga menulis tentang identitas Mesir yang diwarnai dengan keislaman. Kemudian Abbas Mahmud Al-Aqqad menulis tentang Kejeniusan Umar. Sehingga semenjak saat itu afiliasi bangsa Mesir kepada Islam semakin kuat. Meskipun demikian usaha untuk melepaskan Mesir dari identitas Arab dan Islam berhasil secara parsial di dalam membentuk pemikiran sebagian masyarakat Mesir. Kelompok inilah yang kemudian melawan Muhammad Mursi dan tidak menerima misi Islam yang dibawanya.

Militer Mesir

Militer Mesir memiliki peran yang begitu kuat di dalam memimpin bangsa Mesir setelah kudeta yang terjadi pada tahun 1952. Di era Jamal Abdun Nasir pemerintahan langsung dikuasai oleh militer dan itu berlanjut sampai era Anwar Sadat dan Husni Mubarok para pemimpin Mesir ini memberikan perhatian yang begitu kuat terhadap militer Mesir karena dia dianggap sebagai institusi yang paling penting di dalam sebuah negara dan sebagai tiang dan penjaga bagi negara tersebut.

Karena pemimpin-pemimpin Mesir ini memiliki haluan sekular maka mereka menjadikan militer ini memiliki haluan sekuler seperti mereka. Mereka menghalangi segala macam intervensi dan pengaruh lainnya dalam militer Mesir termasuk dari kelompok Islam dan lainnya. Militer Mesir memiliki hubungan yang kuat dengan militer amerika setelah Anwar Sadat yang menandatangani kesepakatan Cam David tahun 1978 bersama Israel.

Pada saat itu Amerika menjadi jaminan dari kesepakatan tersebut. Amerika komitmen mensuplai militer Mesir dengan senjata. Bahkan Amerika juga telah memberikan bantuan lebih dari 1 miliar dolar setiap tahun untuk kepentingan militer Mesir. Kesepakatan ini telah membuka akses hubungan antara pemimpin militer Amerika dan militer Mesir. Dipastikan akan membuka komunikasi yang akan mendukung kecenderungan dan haluan sekularisme di kalangan militer Mesir karena hal itu akan membantu politik Amerika dan misinya.

Kerjasama militer amerika dan militer Mesir ini juga mencakup tukar menukar pengalaman koordinasi dan kerjasama lainnya ketika oposisi Mesir melawan Mursi dan politiknya. Militer melakukan mobilisasi massa pada 30 Juni untuk menyerukan agar Mursi mengundurkan diri militer Mesir.

Mereka mengklaim bahwa sanya jumlah pengunjuk rasa pada saat itu mencapai 4 juta. Kemudian militer memberikan tenggang waktu 48 jam kepada Mursi untuk menyelesaikan masalah dengan oposisi dan apabila tidak mampu maka militer akan melakukan intervensi. Benar saja Abdul Fattah Al-Sisi pada 3 Juli 2013 mengumumkan tentang Peta Jalan yang berisi penjatuhan mursi dari jabatannya sebagai presiden.

Militer Mesir memiliki haluan sekularisme bertemu dan sepakat dengan kelompok oposisi yang sama sama memiliki haluan sekuler. Sehingga militer Mesir memiliki peran sebagai penjaga dan pelindung dari paham sekularisme dan kelompok-kelompok pembelanya di Mesir. Hal inilah yang juga pernah dilakukan oleh militer Turki.

Kesimpulannya ada tiga faktor yang menjatukan Mursi dari kursi kepresidenan; kelompok sekularisme, kelompok pembela Dinasti Fir’aun dan militer Mesir. [Aljazeera/Islampos]

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template