Selasa, 24 September 2013

Laporan IHS Jane’s: Kelompok Perlawanan Suriah Menginginkan Khilafah




Studi baru oleh IHS Jane’s, sebuah konsultan pertahanan, menyatakan  kelompok perlawanan yang didominasi kelompok-kelompok Islam yang menginginkan Khilafah. Inilah yang membuat Barat tidak sungguh-sungguh melangserkan rezim Basyar Assad.

Kelompok perlawanan yang didominasi oleh pejuang Islam, membuat menimbulkan ketakutan Barat akan jatuhnya senjata-senjata strategis ke tangan mereka.

Dalam laporan Lembaga konsultan pertahanan itu seperti yang dilansir www.telegraph.do.uk (15/9), disebutkan ketakutan bahwa perlawanan  terhadap rezim Assad akan semakin didominasi oleh kelompok Islam yang mereka tuding ekstrimis.

Hal ini memicu keprihatinan di Barat atas pasokan persenjataan yang akan jatuh ke kelompok Islam yang mereka sebut musuh. Ketakutan ini memberikan kontribusi atas kegelisahan AS dan di negara-negara lain atas intervensi militer di Suriah.

Laporan itu juga mengungkap hampir dari setengah dari kelompok pejuang Suriah saat ini bersekutu dengan kelompok-kelompok Islam  yang oleh Barat disebut garis keras atau kelompok jihadis.
Charles Lister, penulis analisa itu, mengatakan: “pemberontakan ini sekarang didominasi oleh kelompok-kelompok yang memiliki setidaknya sudut pandang Islam atas konflik ini. Gagasan bahwa sebagian besar kelompok-kelompok pemberontak adalah kelompok-kelompok sekuler oposisi utama adalah tidak terbukti.”

Penelitian ini didasarkan pada perkiraan intelijen dan wawancara dengan para aktivis dan pejuang. ” Karena kelompok Islam membentuk sebagian besar kelompok oposisi, ketakutan yang ada adalah bahwa jika Barat tidak memainkan kartunya dengan benar, hal ini akan berakhir dengan mendorong orang-orang itu untuk menjauh dari orang-orang yang kita dukung, ” katanya.

Lister menambahkan tujuan dari para pejuang moderat itu adalah untuk menggulingkan diktator otoriter, namun kelompok-kelompok jihad itu ingin merubah Suriah menjadi negara Islam yang ada di dalam “Khilafah Islam”. (rz)

Sumber
Continue Reading

73 Manfaat Dzikir Menurut Ibnu Qoyyim



DZIKIR atau mengucapkan kata-kata pujian yang mengingat kebesaran Allah SWT, adalah amalan istimewa Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Dzikir merupakan media yang membuat kehidupan Nabi dan para sahabat benar-benar hidup.
Ibnu al-Qoyyim Rahimahullah mengatakan bahwa dzikir memiliki tujuh puluh tiga manfaat yaitu:
  1. Mengusir setan dan menjadikannya kecewa.
  2. Membuat Allah ridah.
  3. Menghilangkan rasa sedih,dan gelisah dari hati manusia.
  4. Membahagiakan dan melapangkan hati.
  5. Menguatkan hati dan badan.
  6. Menyinari wajah dan hati.
  7. Membuka lahan rezeki.
  8. Menghiasi orang yang berdzikir dengan pakaian kewibawaan, disenangi dan dicintai manusia.
  9. Melahirkan kecintaan.
  10. Mengangkat manusia ke maqam ihsan.
  11. Melahirkan inabah, ingin kembali kepada Allah.
  12. Orang yang berdzikir dekat dengan Allah.
  13. Pembuka semua pintu ilmu.
  14. Membantu seseorang merasakan kebesaran Allah.
  15. Menjadikan seorang hamba disebut disisi Allah.
  16. Menghidupkan hati.
  17. Menjadi makanan hati dan ruh.
  18. Membersihkan hati dari kotoran.
  19. Membersihkan dosa.
  20. Membuat jiwa dekat dengan Allah.
  21. Menolong hamba saat kesepian.
  22. Suara orang yang berdzikir dikenal di langit tertinggi.
  23. Penyelamat dari azab Allah.
  24. Menghadirkan ketenangan.
  25. Menjaga lidah dari perkataan yang dilarang.
  26. Majlis dzikir adalah majlis malaikat.
  27. Mendapatkan berkah Allah dimana saja.
  28. Tidak akan merugi dan menyesal di hari kiamat.
  29. Berada dibawah naungan Allah dihari kiamat.
  30. Mendapat pemberian yang paling berharga.
  31. Dzikir adalah ibadah yang paling afdhal.
  32. Dzikir adalah bunga dan pohon surga.
  33. Mendapat kebaikan dan anugerah yang tak terhingga.
  34. Tidak akan lalai terhadap diri dan Allah pun tidak melalaikannya.
  35. Dalam dzikir tersimpan kenikmatan surga dunia.
  36. Mendahului seorang hamba dalam segala situasi dan kondisi.
  37. Dzikir adalah cahaya di dunia dan ahirat.
  38. Dzikir sebagai pintu menuju Allah.
  39. Dzikir merupakan sumber kekuatan qalbu dan kemuliaan jiwa.
  40. Dzikir merupakan penyatu hati orang beriman dan pemecah hati musuh Allah.
  41. Mendekatkan kepada ahirat dan menjauhkan dari dunia.
  42. Menjadikan hati selalu terjaga.
  43. Dzikir adalah pohon ma’rifat dan pola hidup orang shalih.
  44. Pahala berdzikir sama dengan berinfak dan berjihad dijalan Allah.
  45. Dzikir adalah pangkal kesyukuran.
  46. Mendekatkan jiwa seorang hamba kepada Allah.
  47. Melembutkan hati.
  48. Menjadi obat hati.
  49. Dzikir sebagai modal dasar untuk mencintai Allah.
  50. Mendatangkan nikmat dan menolak bala.
  51. Allah dan Malaikatnya mengucapkan shalawat kepada pedzikir.
  52. Majlis dzikir adalah taman surga.
  53. Allah membanggakan para pedzikir kepada para malaikat.
  54. Orang yang berdzikir masuk surga dalam keadaan tersenyum.
  55. Dzikir adalah tujuan prioritas dari kewajiban beribadah.
  56. Semua kebaikan ada dalam dzikir.
  57. Melanggengkan dzikir dapat mengganti ibadah tathawwu’.
  58. Dzikir menolong untuk berbuat amal ketaatan.
  59. Menghilangkan rasa berat dan mempermudah yang susah.
  60. Menghilangkan rasa takut dan menimbulkan ketenangan jiwa.
  61. Memberikan kekuatan jasad.
  62. Menolak kefakiran.
  63. Pedzikir merupakan orang yang pertama bertemu dengan Allah.
  64. Pedzikir tidak akan dibangkitkan bersama para pendusta.
  65. Dengan dzikir rumah-rumah surga dibangun, dan kebun-kebun surga ditanami tumbuhan dzikir.
  66. Penghalang antara hamba dan jahannam.
  67. Malaikat memintakan ampun bagi orang yang berdzikir.
  68. Pegunungan dan hamparan bumi bergembira dengan adanya orang yang berdzikir.
  69. Membersihkan sifat munafik.
  70. Memberikan kenikmatan tak tertandingi.
  71. Wajah pedzikir paling cerah didunia dan bersinar di ahirat.
  72. Dzikir menambah saksi bagi seorang hamba di ahirat.
  73. Memalingkan seseorang dari membincangkan kebathilan. [agis sugiana]
Sumber
Continue Reading

Islamisasi Nusantara: Syiah Tidak Berperan

de bry houtman 1601 Islamisasi Nusantara: Syiah Tidak Berperan

Oleh: Ilham Kadir

Pengurus LPPI Makassar

Sejarah merupakan salah satu disiplin ilmu yang unik lagi menarik untuk terus digali, dipahami, dan disiarkan pada khalayak ramai. Tak terkecuali sejarah masuknya Islam di kepulauan Nusantara yang  di dalamnya termasuk negara Indonesia. Oleh karena itulah para peneliti seakan berkompetisi untuk mengkaji sejarah islamisasi Nusantara dari masa ke masa yang tak jarang melahirkan polemik yang tidak berkesudahan disebabkan perbedaan pendapat mengenai siapa, kapan, bagaimana, serta apa saja faktor-faktor pendoronga terjadinya islamisasi secara massal. Dari perbedaan pendapat itulah melahirkan –dalam istilah Azyumardi Azra—sebagai ‘teori’.

Sejarah sebagai catatan, laporan, prasasti, berita, khabar atau hadits adalah medan tempur kepentingan-kepentingan, ideologi-ideologi, worldview-worldview, dan misi para penulisnya. Dan pastinya, tidak semua penulis sejarah itu jujur dan teguh berpegang pada kebenaran. Sebagian mungkin tidak mengerti atau tidak mau tahu dan sengaja mengabaikannya, sebagian lainnya bahkan ‘menggunting’ kebenaran tersebut dan menyulamnya dengan kebatilan sehingga kaburlah pandangan orang dan rancu serta kelirulah antara fakta dan fiksi, antara hakikat dan khayalan, antara sejarah dan mitos antara kenyataan dan ‘isapan jempol’ belaka. (Dr. Syamsuddin Arif, Jurnal Islamia, Volume. VII. No. 2, 2012). Yang jelas, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Hidup memang bergerak ke depan namun hanya bisa dipahami jika kita menoleh ke belakang.

Jalaluddin Rakhmat, intelektual Syiah Indonesia, penebar kesesatan dan penabur caci dan makian terhadap sahabat Nabi, dalam salah satu wawancara yang dilangsir oleh media online www.viva.co.id  (02/09/2012), ia menuturkan dengan yakinnya bahwa sebenarnya Syiah telah masuk ke Indonesia sejak awal kedatangan Islam. Pendiri Ijabi yang mengaku-ngaku telah menyelesaikan program doktoralnya di Australian National University, Australia dan telah dikukuhkan sebagai guru besar di Universitas Padjadjaran, Bandung ini, (Rosyidi,Dakwah Sufistik Kang Jalal, 2004), memperkuat argumennya dengan menyebut salah satu contoh ritual tahunan Syiah, seperti ‘tabuk’ yang rutin dilakukan oleh masyarakat Sumatra. Tabuk adalah sejenis peti yang dibuat dari anyaman bambu atau burung-burungan burak yang terbuat dari kayu lalu dibawa berarak pada peringatan terbunuhnya Hasan-Husein setiap tanggal 10 Muharam, (Kamus Besar Basaha Indonesia, 2001).

Perayaan tahunan ‘tabuk’ atau ‘tabuik’ mirip dengan ‘ta’ziyeh’ di Iran. Selain itu, Kang Jalal, sapaan akrabnya, secara jujur mengatakan bahwa para penganut Syiah yang telah lebih dulu masuk ke Indonesia ber-taqiyah, sehingga mereka tidak menampakkan ke-Syiah-annya. Secara sederhana taqiyah adalah kondisi luar yang berbeda dengan yang ada dalam hati atau yang sebenarnya alias mengatakan perkataan bukan sesungguhnya (idza hadatsa kazdaba).

Pendapat Jalaluddin Rakhmat di atas harus disanggah dengan hujah yang ilmiah, karena akan membawa dampak psikologis bagi penganut Ahlussunnah secara umum, dan pergolakan Sunni-Syiah secara khusus di Indonesia. Percaya apa yang diucapkan oleh Mahasiswa program doktoral by research UIN Alauddin itu, konsekwensinya, Ahlussunnah di Indonesia harus menerima keberadaan aliran dan ajaran sesat dan menyimpang (heretical and heterodox) Syiah dengan legowo. Alasannya sederhana saja, Syiah sudah lama bertapak di Indonesia.

Pengalaman pribadi penulis turut menjadi pendorong untuk melahirkan artikel ini. Beberapa waktu lalu, salah seorang rekan mengirim pesan singkat (SMS) yang isinya menekankan bahwa pada dasarnya Islam yang pertama kali ke Indonesia adalah Islam-Syiah minus imamah. Benarkah demikian?

Bagaimana Islamisasi bermula?
 
Adalah Christiaan Snouck Hurgronje (w.1936), orientalis kesohor sekaligus penasehat kolonial Belanda berpendapat bahwa Islam tiba di Nusantara pada abad ke-13 Masehi, yakni setelah runtuhnya Dinasti Abbasiyah akibat serbuan tentara Mongol secara sporadis dan biadab pada tahun 1258 M. Pendapat klasik dan jamak diamini oleh bangsa Indonesia ini didasarkan pada catatan yang terdapat pada batu nisan kubur Sultan Malik As-Shalih bertahun 696 H atau 1297 M, dalilnya ditambah dengan warta perjalanan Marco Polo yang sempat singgah di Sumatra pada  tahun 1292 M dan mencatat ramainya rakyat kerajaan Perlak telah memeluk Islam, (Marco Polo, Chathay and the Way Thither, 1866). Logika yang dibangun Hurgronje sederhana saja: kalau Islam memang sudah bertapak sebelum abad ke-13 Masehi, kenapa tidak ada bukti tertulis kongkrit atau empiris? Ketiadaan bukti adalah bukti ketiadaan, menurut orientalis yang pernah nyantri di Masjidil-Haram Mekkah ini.

Namun tesis Hurgronje di atas telah terpatahakan karena belakangan dijumpai di daerah Leran, Gresik Jawa Timur sebuah batu nisan seorang yang bernama Fatimah binti Maimun bin Hibatillah dengan tulisan Kufi bertahun 495 H/1102 M, bacaan lain menyatakan 475 H/1082 M. Dengan sendirinya pendapat Hurgronje gugur, dan dapat dipastikan jika Islam masuk Indonesia sebelum tahun 1082 M.  (S.M. Al-Attas, Historical Fact and Fiction, 2011).

Pendapat yang kini disepakati secara umum oleh para sejarawan mutakhir, yang dalam istilah Syamsuddin Arif sebagai “revisionis”, manyatakan bahwa Islam telah masuk ke wilayah Nusantara sejak awal abad ke-7 Masehi, tepatnya sejak zaman Khulafa ar-Rasyidin kurun pertama Hijriah. Pendapat yang kini diyakini mayoritas sarjana muslim ini didukung oleh data-data sejarah yang banyak, di antaranya, warta dari Cina zaman Dinasti T’ang (618-907 M) yang menyebut orang-orang Ta-Shih (Arab) mengurungkan niat mereka menyerang kerajaan Ho Ling yang diperintah Ratu Sima (674 M), maka beberapa ahli menyimpulkan bahwa orang-orang Islam dari tanah Arab sudah berada di Nusantara –diperkirakan Sumatra- pada abad ke-7 Masehi, (Uka Tjandrasasmita, Pertumbuhan dan Perkembangan Kota-kota Muslim di Indonesia dari Abad XIII sampai XVIII Masehi, 2000).
Bukti lain juga diungkapkan oleh Ibrahim Bushori, merujuk angka tahun yang terdapat pada batu nisan seorang ulama bernama Syaikh Rukhnuddin di Baros, Tapanuli, Sumatra Utara, dimana tertulis tahun 48 H/670 M. Ada kemungkinan bahwa “kapur Barus” telah dikenal dan diekspor sampai ke Mesir untuk menghilangkan bau busuk mayat.

Beberapa sejarawan seperti Hamka dan Al-Attas percaya bahwa lafaz “kaafuur” yang disebut Alquran (86:5) adalah kapur dari Baros. Maka tak salah jika disimpulkan bahwa Islam masuk ke Nusantara sejak abad pertama Hijriah, atau abad kedatangannya di jazirah Arabia. Dan bukan mustahil pula jika Rasulullah SAW sebagai manusia bertindak sesuai anjuran wahyu telah mengutus para sahabatnya untuk berangkat berdakwah ke Nusantara, (Al-Attas, Historical Fact and Fiction, 2011).

Bahkan di kemudian hari, telah dijumpai bukti-bukti historis hubungan diplomatik internasional kerajaan Sriwijaya dengan penguasa di era Bani Umayyah, antara lain adalah dua pucuk surat.

Surat pertama, sebagaimana ditulis oleh seorang ilmuan Arab bernama Al-Jahiz (163-255 H/783-869 M) yang di antara karyanya adalah Kitab Al-Hayawan, bahwa sepucuk surat ditujukan kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan (41 H/661 M). “Dari Raja Al-Hind [Kepulauan India] yang kandang binatangnya berisikan seribu gajah, dan istananya terbuat dari emas dan perak, yang dilayani seribu putri raja-raja, dan memiliki dua sungai besar [Musi dan Batanghari] yang mengairi pohon gaharu, kepada Mu’awiyah…” Surat kedua jauh lebih jelas, dialamatkan kepada Umar bin Abdul Aziz (99-102 H/717-20 M), surat menunjukkan betapa hebatnya Maharaja Sriwijaya dan kerajaannya, “Dari Raja di Raja [Malik Al-Amlak=Maharaja]; yang adalah keturunan seribu raja; yang istrinya juga adalah anak cucu seribu raja; yang dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah; yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala, dan kapur barus, yang semerbak wewangiannya sampai menjangkau jarak 12 mil; kepada Raja Arab [Umar bin Abdul Aziz], yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan; dan saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan tentang hukum-hukumnya”. (Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, 1994).

Pendapat revisionis ini juga didukung oleh Syaikh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad ibn Talib Ad-Diamsyqi (w.1327 M) alias Syaikh Ar-Rabwah dalam kitabnya, Nukhbat ad-Dahr fi ‘Aja’ib al-Barr wal-Bahr, yang menulis bahwa Islam telah masuk ke Nusantara melalui Champa (Kamboja dan Vietnam) sejak zaman Khalifah Usmn bin Affan, atau sekitar tahun 30 H/651 M alias abad ke-7 Masehi.

Teori Islamisasi

Selain tahun, jalur atau rute islamisasi Nusantara juga menjadi bagian penelitian yang melahirkan perdebatan, penulis mencoba memaparkan teori islamisasi yang dimunculkan oleh para peneliti. Teori Gujarat: Islam dibawa masuk ke Nusantara oleh saudagar-saudagar dari Gujarat, India. Jadi orang-orang Islam yang menyebarkan agamanya di Indonesia tidak langsung datang dari negeri Arab, sebab unsur-unsur keislaman di Indonesia yang mirip dengan India, seperti cerita-cerita rakyat dalam bahasa-bahasa yang ada di Nusantara tidak ada di Arab namun berasal dari India.

Dikatakan pula bahwa kebiasaan muslim di Indonesia menunjukkan beberapa kesamaan dengan kebiasan penganut Syiah di Pantai Malabar dan Karomandel. Selain itu, berdasarkan kisah perjalanan seorang pelaut bernama Sulayman tahun 851 M serta catatan Marco Polo dan Ibnu Batutah yang transit di Sumatra pada abad ke-14 Masehi. Maka disimpulkanlah jika kedatangan Islam pasti melalui jalur perdagangan dari Teluk Persia ke Pantai Barat India, lalu dari Gujarat dan Malabar masuk ke Nusantara. Pendapat ini dipegang oleh Hurgronje, dan diterima luas oleh sejarawan seperti R.A. Kern, Stapel, H.J.Van den Bergh, H. Kroeskamp, hingga Rosihan Anwar, (Rosihan Anwar, Sejarah Kecil ‘petite histoire’ Indonesia, 2009).

Pendapat di atas seakan telah menjadi kesepakatan umum hingga akhirnya seorang orientalis bernama G.E. Morrison menunjukkan kekeliruan dan beberapa kejanggalan faktual. Menurut Morrison, tidak mungkin Islam di Nusantara berasal dari propinsi Gujarat, sebab Marco Polo menceritakan Cambay pada tahun 1293 sebagai kota Hindu, sementara Gujarat baru jatuh ke tangan Islam pada tahun 1297 M. Selain itu di Gujarat mazhab syafi’i tidak dominan dan cerita-cerita rakyat Aceh lebih diwarnai rasa Tamil daripada Hindi, (Armando Cortesao [Ed.], The Suma Oriental of Tome Pires, 1990).

Teori Persia. Bahwa Islam di Nusantara dibawa masuk oleh para pendatang dari Persia dengan dalih dan dalil banyaknya data-data sejarah yang kuat mengenai pelayaran orang-orang Persia ke India via Nusantara ke Cina bahkan sejak zaman pra-Islam, (Hadi Hasan, A History of Persian Navigation, 1928).

Pemberita Cina, Yuan-Tchao, dalam Tcheng-yuan-sin-ting-che-kiao-mou-lou yang ditulisnya pada awal bada ke-9 mencatat bahwa pada tahun 99 H/717 M ada sekitar 35 kapal dari Persia tiba di Palembang. Selain itu, data linguistik juga menguatkan dugaan bahwa penyebaran Islam datang dari rute Persia, tidak sedikit kata dalam bahasa Melayu-Indonesia yang berasal dari bahasa Persia, seperti, ‘bandar’, ‘syah’, ‘pasar’, ‘penjara’, ‘gandum’, dst., (Ahmad Kazem Mossavi, Kehadiran Tasawuf-Persia dalam Literatur Nusantara [Malaysia-Indonesia], Jurnal Islamia, Vol. II. No. 3/Desember 2005). Bahkan istilah “Zibrad” dalam bahasa Persia bermakna “Negeri di Bawah Angin” alias “Toddang Anging” dalam bahasa Bugis, merupakan frasa navigasi yang dipakai pelaut dari teluk Persia menuju Benggala, dan kepulauan Nusantara.  Hasil penelitian ini di kemukakan oleh G.E. Morrison.

Namun masih kabur, apakah Islam yang datang ke Nusantara melalui Persia itu versi Syiah atau Sunni. Dijawab oleh Al-Attas bahwa ajaran Syiah di Persia baru mulai berkembang  abad ke-17 M ketika Syah Ismail Safawi memerintah Iran  bukan sebelumnya, ( Wan Daud, Budaya Ilmu, Satu Penjelasan, 2007). Tegasnya: jika memang Islam melewati rute Persia, maka dipastikan kalau penganut Ahlussunnah yang menjadi penyebarnya, bukan Syiah. Tesis Al-attas sekaligus membuyarkan dugaan spekulatif Jalaluddin Rakhmat bahwa Syiah sedari awal telah berada di Nusantara, dan mereduksi dongeng orang awam bahwa Islam Indonesia pada awalnya adalah Syiah minus imamah.

Teori Benggala. Islam masuk ke Nusantara melalui rute Benggala, pendapat ini dimunculkan oleh S. Qadarullah Fatimi yang berdasar pada laporan Tome Pires (1512-1515), berita-berita Cina, serta unsur tasawuf yang terdapat di Indonesia dan Malaysia. Menurut Fatimi, pendiri kerajaan Islam pertama di Aceh adalah Merah Silau yang berasal dari Benggala. Kesimpulan ini diambilnya dari catatan perjalanan Tome Pires yang mengabarkan bahwa raja-raja di Sumatra pada waktu itu telah beragama Islam. Petunjuk lainnya adalah, kebiasaan orang Nusantara memakai kain “sarung” yang dikatakan sama dengan kebiasaan orang Benggala. (S.Qadarullah Fatimi, Islam Comes to Malaysia, 1963).

Teori Mesir. Karena Islam yang diamalkan di Nusantara bercorak Sunni-Syafi’i, maka ada kemungkinan asalnya dari negeri Mesir, karena negeri inilah yang terbanyak pengikut Syafi’i-nya, dan di sana pula Imam Syafi’i (w.204 H) tutup usia. Pendapat ini dilontarkan oleh S. Keyzer, profesor hukum ketimuran dari Belanda. Tapi Keyser langsung dibantah oleh G.W.J Drewes yang menuding bahwa Keyser tidak tahu jika orang Arab yang datang ke Nusantara mayoritas dari Hadramaut, Yamman, dimana mazhab mereka adalah Syafi’i, andai dia tahu, niscaya akan berpendapat bahwa Islam datang ke Nusantara via Yamman, (G.W.J Drewes,New Light on the Coming of Islam to Indonesia, 1985).

Teori Cina. Islam datang ke Nusantara melalui muslim dari Cina. Sesuai dengan penuturan I-Tsing, seorang agamawan dan pengembara terkenal Cina yang pada tahun 51 H/671 M, dengan menumpang sebuah kapal milik orang Islam dari Kanton, singgah di pelabuhan muara sungai Bhoga atau Sriboga alias Sribuza, nama lain dari sungai Musi di Palembang yang menjadi pusat kerajaan Sriwijaya ketika itu. Pendapat ini dilontarkan oleh Slamet Muljana seorang pakar sejarah dan ahli filologi dari Universitas Indonesia, menurutnya Islam di Nusantara datang, bukan hanya menopoli dari wliayah India dan Timur Tengah tapi juga dari negeri Cina, tepatnya propinsi Yunan.

Kedatangan Cheng Ho alias Zheng He alias H. Mahmud Syamsuddin (w.1433) dari Dinasti Ming dengan maksud mengamankan jalur lalu lintas laut dari Cina ke India, Arabia dan Afrika di samping mengadakan hubungan diplomatik pada kerajaan-kerajaan Nusantara sebagai bukti yang absah, (Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, 2005).

Tapi pendapat Muljana di atas dipertanyakan oleh Syamsuddin Arif karena sumber pendapatnya diambil dari  buku sejarah yang tidak resmi seperti Babad Tanah Jawa dan Serat Kenda yang ditulis pada zaman kerajaan Mataram abad ke-17 yang perlu dipertanyakan keotentikannya karena kitab tersebut bercampur baur antara fiksi dan fakta serta tidak ditopang dengan bukti-bukti keras semacan prasasti. Hal ini juga dibantah oleh Ahmad Mansur Suryanegara, ahli sejarah dari Universitas Padjadjaran Bandung, menurutnya, kesimpulan Muljana sukar diterima, (Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, 2009).
 
Teori Arabia. Diyakini bahwa tersebarnya agama Islam di Nusantara berkat usaha para mubalig dari jazirah Arabia secara sistematis dan kontinuitas. Meski tidak dapat dipastikan waktunya, kapan pertama kali mereka datang berdakwah. Namun banyaknya informasi tentang hubungan sudah berjalin selama berabad-abad antara jazirah Arabia dan Nusantara semenjak pra-Islam menjadikan pendapat ini lebih valid. Dokumen-dokumen kerajaan Cina Dinasti T’ang (618-907)  menyebut tentang kunjungan orang Arab pada zaman Khalifah Utsman bin Affan. Dan tak kala muncul kerajaan Sriwijaya di Sumatra, perairan Nusantara semakin kerap dilalui oleh kapal-kapal dagang dari Arabia dan Persia dalam pelayarannya via India ke Cina.

Teori ini diamini oleh Sir John Crawfurd, Thomas Arnold, dan Al-Attas. Alasannya, karena orang Arab yang pertama kali mengajarkan Islam ke Nusantara pastilah bermaszhab Syafi’i yang berada pada kawasan pesisir Arabia tempat mereka mengangkat sauh. Dan memang iya, buktinya penganut Islam yang ada di Nusantara adalah umumnya bermazhab Syafi’i. Teori Arabia ini mengantarkan kita pada kesimpulan di bawah.

Kesimpulan

Seminar Historiografi Islam Indonesia yang diselenggarakan oleh Puslitbang Kementrian Agama RI pada 10-12 Desember 2007 di Cisarua Bogor dan dihadiri oleh para ahli disiplin ilmu terkait, termasuk Azyumardi Azra, Badri Yatim, Maidir Harun, Ahmad Mansur Suryanegara, dan para wakil dari sejumlah perguruan tinggi dan ormas Islam, serta para peneliti. Ditegaskan bahwa agama Islam masuk ke Nusantara sejak abad ke-7 Masehi atau pertama Hijriah, langsung dibawa oleh para ahli agama dari Arabia (Yaman) yang datang ke gugusan pulau-pulau di semenanjung Melayu, seperti Sumatra. Agama Islam sendiri secara resmi masuk ke Yaman melalui seorang sahabat yang diutus langsung oleh Nabi, Mu’az bin Jabal yang sekaligus menjadi gubenur di sana pada tahun 630 M.

Bersama para saudagar dari sana pula ulama muablig itu berlayar ke Cina menelusuri kawasan Asia Selatan (India, Benggala) sampai ke Sumatra. Pelayaran mereka sangat bergantung pada angin Barat Laut yang bertiup pada bulan September dan akhir Desember, sehingga mereka harus menunggu dan singgah terlebih dahulu di kawasan Sumatra dan Malaya selama beberapa bulan, sebelum meneruskan pelayaran ke tempat tujuan. Sebagian mereka sengaja datang dan menetap hanya untuk berdakwah. Inilah fakta islamisasi Nusantara sesungguhnya yang ingin dikaburkan oleh para orientalis dan penganut ajaran sesat Syiah. Wallahu A’lam!

(Sumber)
Continue Reading

Pelarangan Ikhwan dan Politik Bumi Hangus ala Aljazair



Oleh: Farid Wadjdi

Kantor Maktab I’lami Hizbut Tahrir Indonesia

Rezim kudeta militer Mesir akhirnya melarang semua kegiatan Ikhwanul Muslimin. Berdasarkan keputusan pemerintah pengadilan rezim kudeta, Senin (23/9)  seluruh aset al Ikhwan disita dan semua lembaga cabang dari atau milik ikhwan juga dilarang, termasuk sayap politik Partai Kebebasan dan keadilan. Rezim kudeta militer menuding Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi terorisme.

Pasca pembantaian yang dilakukan militer Mesir, jenderal as Sisi semakin gelap mata. Tidak hanya membunuh dan menangkapi aktifis Ikhwan, rezim militer Mesir melakukan pemecatan sekitar 50 ribu  khotib diikuti pelarangan shalat Jum’at dengan menutup ribuan masjid.

Seperti yang dikatakan oleh Front Ulama Melawan Kudeta semua ini adalah perang sistematis terhadap Islam, simbol-simbol dan syiar-syiarnya, yaitu ulama, masjid dan shalat Jum’at. Rezim Militer Mesir tahu persis ulama dan masjid selama ini merupakan garda terdepan yang menjaga keimanan umat dan menjaga pemikiran umat agar tetap terikat dengan Islam.

Rezim militer Mesir sepertinya mengikuti pola militer Aljazair saat memberangus pengikut-pengikut FIS di Aljazair yang juga menang secara demokratis. Saat itu militer Aljazair melakukan politik bumi hangus. Menangkap, menyiksa, dan menghukum penjara hingga mati, pemimpin dan pengikut FIS. Lebih dari 900 masjid ditutup. Militer Aljazair juga Melarang FIS. Kriminalisasi sistematis dilakukan terhadap aktifis FIS dengan mencapnya sebagai teroris.

Untuk memperkuat tudingan teroris, militer Aljazair yang didukung Barat, melakukan berbagai rekayasa, seperti pemboman, pembunuhan terhadap petugas keamanan, penyerbuan markas militer. Ujung-ujungnya, menuduh FIS dan pengikut-pengikutnya sebagai teroris. Dengan klaim perang melawan teroris inilah militer Aljazair seakan mendapat legitimasi dan pembiaran dari negara-negara Barat.

Pola yang sama sedang dipraktikkan oleh rezim militer dengan mulai merekayasa berbagai pemboman dan pembunuhan kemudian dituduhkan kepada pengikut atau pendukung al Ikhwan. Militer Mesir pun berulang kali mengatakan mereka sedang membersihkan Mesir dari para teroris.

Politik bumi hangus ini pada prinsipnya bukan hanya untuk memberangus al ikhwan dan pengikutinya,tapi merupakan perang terhadap Islam. Islam sebagai sebuah agama yang mewajibkan penerapan seluruh syariah Islam oleh negara, Islam yang tidak bisa dipisahkan dari politik.

Politik bumi hangus ini ditegaskan oleh jenderal Mesir Dalam dalam sebuah wawancara dengan surat kabar harian Prancis Le Monde, Jenderal Mesir Amr mengatakan dengan terus terang bahwa dia siap untuk mengawasi kampanye yang ditujukan untuk “membersihkan” Mesir dari Islam politik. “Ada 90 juta penduduk Mesir dan hanya ada tiga juta [anggota] Ikhwanul Muslimin. Kami butuh enam bulan untuk membubarkan atau memenjarakan mereka semua, ” katanya dalam wawancara yang diterbitkan pada hari Senin(19/8).

Hal senada pernah diungkap Smail Lamari, Kepala Dinas Intelijen Aljazair yang dikenal sebagai Departemen Counter-Spionase dan Keamanan Dalam Negeri yang terkenal kejam. Dalam komentarnya 21 tahun tahun yang lalu, Lamari mengatakan : “Saya siap dan memutuskan untuk menghilangkan nyawa tiga juta warga Aljazair jika perlu untuk menjaga ketertiban dari ancaman kelompok Islam”

Menurut Mohamed Samraoui, mantan wakil Lamari yang membelot pada pertengahan 1990-an  dalam laporannya yang berjudul “Catatan Kejadian Tahun-tahun Berdarah “,  Lamari membuat komentar ini pada pertemuan di Chateauneuf bulan Mei 1992, sebelum Aljazair jatuh ke dalam siklus kekerasan yang berlangsung selama sepuluh tahun dan diperkirakan memakan korban 200.000 jiwa.

Namun sekali lagi kita tegaskan, semua yang dilakukan oleh rezim militer ini pastilah atas restu Barat, paling tidak mereka mendapat kepastian bahwa Barat akan melakukan pembiaran atau pengecaman yang tidak sungguh-sungguh. Sebab semua rezim militer ini tunduk kepada Barat karena hidup mereka didanai dan didukung oleh Barat.

Rezim militer ini  sekedar boneka-boneka Barat yang khawatir dengan tegaknya Khilafah Islam yang akan menerapkan seluruh syariah Islam. Mereka sekedar penjaga-penjaga kepentingan penjajahan Barat di negeri-negeri Islam.

Namun Insya Allah, nasib para boneka ini akan berakhir tragis. Tuan-tuan negara penjajah mereka akan mencampakkan mereka, kalau tidak bisa lagi menjamin kepentingan penjajahan Barat. Seperti nasib boneka tua atau rusak, akan dicampakkan ke tong sampah. Umat Islam yang marah akan menyeret mereka, atau mereka akan diasingkan. Seperti nasib diktaktor Khadafi, Husni Mubarak, Ben Ali, Suharto,dan Insya Allah sebentar lagi rezim Assad di Suriah.

Namun umat Islam, tidak boleh berhenti sebatas menggantikan rezim atau orang. Pengalaman dari Mesir, Tunisia, Libya, termasuk Indonesia, sekedar menggantikan rezim atau orang tidak akan membawa perubahan nyata dan menyelesaikan berbagai persoalan-persoalan umat. Sebab, selama sistem negara, pemerintahan, ekonomi, dan politiknya tidak berubah, maka pangkal kerusakan akan tetap ada. Sementara rezim baru sekedar mengganti topeng dengan tetap menjalankan kepentingan penjajahan Barat. Sebab, sistem kapitalis itu lah yang menyebabkan berbagai persoalan di dunia Islam yang dijaga oleh rezim-rezim boneka.

Karena itu, umat Islam harus secara tegas tanpa kompromi menolak dan mencampakkan sistem ideologi kapitalis dalam segala aspek. Menolak sistem ekonomi liberal-kapitalis, mencampakkan sistem politik demokrasi, dan menolak kerjasama apapun dengan negara-negara penjajah Barat berikut sistem internasional pendukungnya seperti PBB, IMF, World Bank, dan lain-lain.

Umat Islam tidak boleh diam melihat penguasa boneka ini, umat Islam harus bersama-sama berjuang menurunkan mereka dengan mengganti sistemnya dengan Khilafah.

Untuk itu seruan Hizbut Tahrir dalam nasyrohnya (4 Dzulqa’dah 1434 H/10 September 2013 M) yang mengecam penguasa ruwaibidhoh Suriah- rezim bengis Assad-  perlu kita perhatikan, antara lain berbunyi : Sungguh menyedihkan, senjata kita dihancurkan dengan persetujuan para penguasa diktator… Sungguh menyedihkan, umat tidak menekan militernya untuk menumbangkan para diktator pengkhianat yang berbuat kerusakan di buka bumi, membinasakan pertanian dan binatang ternak… Sungguh menyedihkan, melihat darah-darah kita ditumpahkan, tetapi kita tidak menghentikannya. Kita melihat senjata kita dihancurkan, tetapi kita tidak mempertahankannya. Kita melihat kekayaan kita dirampok, tetapi kita tidak memotong tangan orang yang menjarahnya. Kita melihat negeri kita dikerat-kerat dari segala sisinya, tetapi kita tidak menyatukannya… Kita melihat kehormatan kita dilanggar, tetapi darah di urat nadi kita tidak mendidih…

Allah Allah dalam agama Anda, Allah Allah dalam umat Anda, Allah Allah dalam Khilafah Anda, Allah Allah dalam persenjataan Anda… Peganglah erat-erat semua itu. Bersiaplah untuk menolong agama Anda dan mengalahkan musuh dengan kepemimpinan Khalifah Anda yang menjadi laksana perisai. Anda berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya. Jika Anda melakukannya berarti Anda telah menyiapkan kemuliaan Anda dan kesuksesan Anda di dunia dan akhirat.

Sebaliknya, jika Anda tidak melakukannya maka musuh Anda tidak akan cukup dengan menghancurkan persenjataan Anda dengan tangan-tangan Anda sendiri, akan tetapi musuh Anda akan meminta Anda mengizinkannya masuk ke rumah Anda… dan pada saat itu, tidak ada jalan keluar untuk Anda!” Allahu Akbar. (Sumber)
Continue Reading

Lobi Toilet dan Penguasa Ruwaibidhoh



Oleh: Farid Wadjdi

Kembali DPR terkena kasus tidak sedap. Kali ini tentang dugaan praktik suap dalam fit and proper test calon hakim agung di komisi III DPR. Meski masih dalam penyelidikan, geger ‘lobi toilet’ ini kembali mencoreng lembaga tertinggi dalam sistem demokrasi di Indonesia.

Praktik suap menyuap atau pencaloan ini terungkap ketika calon hakim agung Sudrajat Dimyati terlihat oleh wartawan menyerahkan sesuatu yang mirip amplop kepada Bahrudin di toilet DPR.
Meskipun keduanya membantah, namun dugaan praktik penyuapan ini bukanlah yang pertama kali.

KPK pernah menyeret sejumlah anggota DPR dalam kasus cek pelawat pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Gultom ke penjara. Sang sosialita , Miranda sendiri juga dijebloskan dalam penjara.

Berdasarkan pengakuan Imam Ansyori Saleh, Wakil Ketua Komisi Yudisial, saat fit and profer test calon hakim agung pada tahun 2012, terjadi upaya menyuap tujuh anggota komisioner Komite Yudisial. Tidak tanggung-tanggung tiap orang disuap 200 juta. Tujuannya, apalagi kalau bukan untuk menggolkan calon tertentu.

Waduh, bisa kita bayangkan apa yang terjadi kalau hakim agung ternyata terpilih dari proses ‘haram’ suap menyuap. Padahal namanya saja hakim agung, yang posisinya tentu paling tinggi dan diharapkan memberikan keadilan yang paling tinggi pula kepada rakyat.

Siapapun yang biasa menyuap, tentu gampang pula disuap, atau paling tidak menganggap menerima suap adalah hal biasa. Bisa hampir dipastikan hakim agung seperti ini akan melacurkan dirinya untuk para pemilik modal yang berani menyuap. Tidak peduli kebijakan itu bertentangan dengan agama atau menyengsarkan rakyat

‘Lobi Toilet’ yang mencoreng wajah DPR ini kembali melengkapi gelar-gelar buruk lembaga demokrasi ini. Sebelumny dari beberapa hasil survey , DPR dianggap merupakan lembaga yang terkorup.   KPK sendiri mendaulat DPR termasuk lembaga terkorup. Hasil survei terbaru Indonesia Network Election Survey (Ines) mempublis masyarakat anggap 89,3 persen anggota DPR RI tukang bohong dan tidak jujur.

Pertanyaannya kepada kita, masihkah kita percaya lembaga tempat maraknya percaloan dan suap menyuap ini, bahkan mendapat gelar lembaga dengan gelar terkorup dan tukang bohong ditambah tidak jujur, akan melahirkan hukum atau kebijakan untuk kebaikan rakyat ?
Berulang-ulang kita menegaskan pangkal dari korupsi ini adalah sistem demokrasi itu sendiri.

Demokrasi yang memberikan hak membuat hukum kepada manusia yang diwakili oleh mereka yang mengklaim wakil rakyat.

Sementara yang paling berpengaruh pada manusia adalah uang . Apalagi dalam zaman dimana uang atau materi dianggap sebagai panglima kehidupan bahkan dewa yang disembah.

Ditambah lagi dengan demokrasi mahal, para pelaku demokrasi, harus mengembalikan modal politiknya atau untuk mempertahankan kedudukan politiknya. Saat itulah praktik suap menyuap, percalaon, menjadi tumbuh subur.

Berbeda dengan sistem politik Islam dimana kedaulatan  ada ditangan Allah SWT. Hukum pun menjadi jelas hanya bersumber dari Al  Quran dan As Sunnah. Tidak perlu biaya yang mahal untuk membuat hukum, lewat lobi-lobi yang bertele-tele di hotel mewah pula. Hal ini akan mempersempit ruang untuk praktik suap menyuap.

Tidak pernah henti, kita kembali menyerukan umat untuk meninggalkan sistem demokrasi ini. Sistem yang yang menjadi habitat bahkan melahirkan penguasa-penguasa ruwaibidhoh. Penguasa bodoh yang bicara tentang urusan umat.  Penguasa seperti inilah yang diingatkan Rosulullah SAW kepada kita.

“Akan datang kepada kalian masa yang penuh dengan tipudaya; ketika orang-orang akan mempercayai kebohongan dan mendustakan kebenaran. Mereka mempercayai para pengkhianat dan tidak mempercayai para pembawa kebenaran. Pada masa itu, ruwaibidhah akan berbicara.” Mereka bertanya, “Apakah itu ruwaibidhah?” Rasulullah berkata, “Ruwaibidhah adalah orang-orang bodoh (yang berbicara) tentang urusan umat.” (HR Ibnu Majalah dari Abu Hurairah ra.).

Mereka penguasa bodoh karena lebih memilih mengabdi kepada penjajah dibanding untuk melayani rakyat.  Mereka penguasa bodoh, karena membiarkan penjajah merampok dan merampas kekayaan alam negeri ini, tanpa perduli rakyat harus hidup menderita dan dijerat kemiskinan.

Mereka penguasa bodoh, karena tidak mau menerapkan syariah Islam yang merupakan sistem yang sempurna. Mereka justru lebih memilih sistem kufur kapitalisme yang membawa derita. Mereka penguasa bodoh, karena lebih takut kepada tuan-tuan mereka dari negara imperialis, dibanding takut kepada Allah SWT

(Sumber)
Continue Reading

Mengenang Pertempuran Waterloo



Banyak cara untuk meraih keuntungan dan kekayaan, salah satunya lewat isu dan peperangan. Kita saksikan sekarang betapa seringnya acara-acara infotaiment hadir di layar kaca kita, yang melulu isinya “artis/aktor anu diisukan begini/begitu”. Di sisi lain kita lihat perang dengan kebiadaban yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan masih marak di dunia yang katanya “modern” ini.

Dari dua point ini, bisa kita lihat berapa banyak manusia tidak bermoral ambil aksi cari untung. Mulai iklan dari berbagai macam produk di sela-sela acara infotaiment tadi, atau para broker tentara bayaran dan para pedagang senjata yang dagangannya laris saat perang. Tapi apa jadinya jika dua hal ini dijadikan satu untuk mendapat untung yang jauh lebih tinggi lagi?.

Mari kita beralih ke Belgium 198 tahun yang lalu tepatnya di Waterloo tanggal 18 Juni 1815, saat pasukan koalisi Inggris-Prussia yang dipimpin oleh Duke of Wellington menghadapi tentara Napoleon dari Prancis.

Pendanaan memainkan peran yang sangat vital dalam peperangan, baik Inggris maupun Prancis melakukan berbagai macam cara untuk menggalang dana demi mendukung kekuatan tempur mereka masing-masing. Selain mengumpulkan dana dengan cara menjual hutang kepada masyarakat (bonds), dua negara ini juga melakukan pinjaman besar terhadap bankir-bankir kaya di Eropa. Menariknya, kedua belah pihak ini dibiayai oleh jaringan bankir Rothschild bersaudara yang tersebar di hampir seluruh daratan Eropa.

Perang Waterloo yang berlangsung kurang dari sehari ini bukan hanya akan mempengaruhi dua negara yang bertikai, tapi juga seluruh daratan Eropa. Sementara itu, pasar modal (stock exchange) di London, Inggris, tengah mengalamai kekhawatiran. Ini dikarenakan para pemegang hutang negara (bonds) khawatir jika Inggris sampai kalah perang, maka siapa yang akan membayar piutang mereka?
Ketidakpastian ini sewaktu-waktu dapat memecah kepanikan, para investor terjebak dalam dua titik psikologi ekstrem, rugi besar (jika Inggris kalah), atau untung besar (jika Inggris menang). Informasi atau bahkan isu sekalipun dapat memancing reaksi langsung dari para investor yang tengah gelisah.

Sebab mereka (investor) harus bertindak cepat, entah dengan menjual kembali bonds tersebut (demi menghindari kerugian lebih besar, saat bonds tersebut tidak ada harganya lagi karena tidak ada yang bisa dimintai pertanggung jawaban jika Inggris kalah), atau membeli lebih banyak (demi mendapat keuntungan lebih besar dari kemengan Inggris).

Nathan Rothschild, bankir dari jaringan Rothschild Families, dengan jaringan informasinya yang kuat, berhasil mendapatkan berita tentang kemenangan Inggris di medan Waterloo lebih cepat sehari dibandingkan berita resmi yang beredar. Sadar akan kesempatan yang ia miliki, alih-alih memborong bonds Inggris, ia terlihat menjual bonds Inggris yang ia miliki secara perlahan-lahan dengan muka lesu. Melihat sikap Nathan yang demikian, investor-investor yang sedang gelisah itu menjadi panic, mereka mengira bahwa Inggris kalah perang dan mereka berada dalam ancaman kerugian. Dalam waktu singkat harga bonds Inggris melorot jatuh karena semua orang menjual dan tidak ada yang mau membeli.

Di tengah kepanikan pasar, Nathan memerintahkan agen-agen nya untuk membeli kembali bonds Inggris yang harganya jauh lebih murah dari harga wajarnya. Sampai dengan seluruh bonds Inggris ia beli, muncullah berita resmi kemenangan Inggris. Mendulang untung yang luar biasa dari bonds Inggris dan hutang langsung yang ia berikan untuk mendanai Inggris di perang Waterloo, Nathan sukses membelenggu Inggris dalam jerat hutang. Oh, dan jangan lupa bunganya.

Walau sebagian orang menyangkal kebenaran dari cerita tentang bagaimana Nathan Rothschild mendapatkan kekayaan dari perang Waterloo, karena berita ini dianggap memiliki tendensi Anti-semit. Kita mendapat pelajaran berharga mengenai betapa krusialnya persoalan perang dan isu. Jika perang mampu membunuh kita secara fisik, isu dapat membunuh karakter kita di tengah masyarakat, plus kedua-duanya dapat dimanfaatkan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab untuk memperoleh keuntungan.

Tentu saja akan lebih mengerikan lagi jika peperangan dan isu dicampur jadi satu dan dimanfaatkan untuk mengontrol situasi, baik secara politik, ekonomi dan sosial, seperti yang dicontohkan oleh kisah pertempuran Waterloo. Ini penting untuk membangun kesadaran Ummat Islam ditengah maraknya revolusi yang tengah diperjuangkan oleh saudar-saudara kita di timur tengah.

Hikmah lainnya dapat kita lihat adalah jawaban dari mengapa islam mengharamkan transaksi ekonomi yang mengandung unsur gharar (ketidakpastian/ketidakjelasan), riba (bunga/interest), dan manipulasi. Memang benar bahwa dengan unsur-unsur diatas kita dapat meningkatkan keuntungan berlipat ganda, tapi lapangkah hati kita jika kita menerima keuntungan dengan cara merugikan dan mendzalimi orang lain atau partner bisnis kita?

Statement “bisnis adalah bisnis” tidak layak diucapkan dari lisan seorang muslim, sebab dalam setiap bentuk usaha, baik mu’amalah dan ‘ubudiyyah, akhlaq menjadi patokan dan tolak ukur. Bahkan ketika menghadapi kaum yang tidak seiman dengan kita, pantang bagi seorang muslim untuk melepas akhlaqnya dan lantas bertindak menuruti hawa nafsunya.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang sholih”
(HR: Bukhari dalam shahih Bukhari kitab adab)

Wallahu ‘alamubisshowwab. [eza/Islampos]
Continue Reading

Pacaran?? Emang Harus Ya??

 

Oleh: Asya Nabilla

Siapa yang hari gini ngga punya pacar terus dibilang katro, ketinggalan jaman, atau kuper/kudet? Terus malu dan minder karena sering diperolok teman seperti itu? Emang apa sih pacaran itu? Apa sih manfaatnya? Emang harus ya pacaran?

Guys, pacaran itu kan katanya suatu proses perkenalan antara dua insan untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Lah? Yang masih SMP emang udah mau nikah lulus SMP? Terus juga yang SMA, emang mau langsung nikah lulus SMA? Berani pacaran-pacaran? Belum lagi anak SD yang juga udah mulai kenal kata ‘Pacaran’. Emang mau langsung nikah?

Tahu ngga sih, kalau pacaran itu dosa? Pacaran itu mendekati zina. Tahu kenapa mendekati zina? Karena kegiatan pacaran yang suka pegang-pegangan tangan, jalan berduaan, peluk-pelukan, ketawa ketiwi ngga jelas bareng pacar, bahkan ada yang sampai melakukan hubungan badan, itu jelas sekali perbuatan yang sangat diharamkan dalam Islam. Nih buktinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” QS. Al – Isra’: 32

Berzina bisa membuat kurang imanmu, menghilangkan kehati-hatian terhadap hal yang haram, merusak wibawa, melemahkan semangat beragama, terbiasa berdusta, mudah galau dan resah, serta merasa takut kehilangan nikmat hidup di dunia.

Tahukah kamu bahwa ada yang cemburu saat kamu bermesra-mesraan dengan pacarmu? Ya, Allah Maha Pencemburu. Dan tahukah kamu apa yang bisa Allah lakukan jika DIA sudah cemburu? Bisa saja Allah kurangi rahmat-Nya atas dirimu, Allah cabut rasa malu dalam dirimu. Naudzubillah.

Begitulah, mengapa pacaran merupakan pintu mendekati zina karena aktivitas pacaran zaman sekarang lebih mengarah kepada hal-hal yang dilarang dan kelewat batas. Jika zaman Rasulullah dahulu pelaku zina mendapatkan hukuman rajam, mungkinkah zaman sekarang diberlakukan? Sanggupkah kamu menanggung hukuman rajam hingga meninggal itu?

Jaga dirimu wahai muslimah. Cantikmu bukan untuk dipertontonkan dan diumbar. Jaga kehormatanmu, Muslimah untuk seorang yang halal untukmu kelak. Ulurkan hijabmu hingga menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tanganmu. Jauhi khalwat dan ikhtilat, jaga suara lembutmu muslimah pertegaslah.

“Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya; dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya dengan tudung kepala mereka; ... ” QS. An-Nur: 31

Jaga pandanganmu wahai ikhwan. Jangan gunakan untuk memandang sesuatu yang bisa menimbulkan syahwat. Jaga ucapan dan tingkahmu karena kelak kamu akan jadi seorang imam yang membimbing istri dan anak-anakmu kelak.

“Katakanlah (wahai Muhammad) kepada orang-orang lelaki yang beriman supaya mereka menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka; sesungguhnya Allah Amat Mendalam Pengetahuan-Nya tentang apa yang mereka kerjakan.” QS. An-Nur: 30

Jadi, kalau memang ingin pacaran, maka pacaranlah setelah pernikahan. Untuk perkenalan sebelum pernikahan gunakanlah cara syar’i dan aman yaitu Ta’aruf. Kalau belum siap menikah, jangan coba-coba dekati zina karena itu sangatlah hina. Jomblo Sampai Sah lebih mulia daripada pacaran penuh maksiat dan dosa. Wallahuta’ala ‘alam. [PurWD/voa-islam.com]
Continue Reading

Zikir Ini Memperbanyak Tanaman Untuk Kita di Surga



Oleh: Badrul Tamam

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

Subhaanallaah Walhamdulillaah Walaa Ilaaha Illallaah Wallaahu Akbar
“Maha suci Allah, segala puji milik-Nya, Tiada Tuhan (yang hak) kecuali Allah, dan Allah Maha besar.”

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah melewatinya saat sedang menanam pohon. Kemudian beliau bersabda, wahai Abu Hurairah, apa yang kamu tanam? Aku menjawab: "Tanaman milikku." Beliau bersabda:

أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى غِرَاسٍ خَيْرٍ لَكَ مِنْ هَذَا قَالَ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ قُلْ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ يُغْرَسْ لَكَ بِكُلِّ وَاحِدَةٍ شَجَرَةٌ فِي الْجَنَّةِ

"Apakah kamu mau kuberitahukan tentang tanaman yang bagimu akan lebih baik dari tanaman ini?"
Abu Hurairah menjawab; "Tentu wahai Rasulullah!." Beliau bersabda: "Ucapkanlah olehmu Subhaanallaah Walhamdulillaah Walaa Ilaaha Illallaah Wallaahu Akbar. Maka setiap bacaan tersebut akan menumbuhkan satu pohon di surga bagimu." (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan Syaikh Al-Albani)

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu 'Anhu, berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

لَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَقْرِئْ أُمَّتَكَ مِنِّي السَّلَامَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ عَذْبَةُ الْمَاءِ وَأَنَّهَا قِيعَانٌ وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

“Aku berjumpa dengan Ibrahim pada malam Isra’, dia berkata kepadaku: Wahai Muhammad sampaikan salamku kepada umatmu dan beritakan kepada mereka bahwa surga itu memiliki tanah yang terbaik dan air yang paling segar. Surga itu dataran kosong (Qai’aan) dan tumbuhannya adalah (dzikir) Subhanallahi Walaa Ilaaha Illallaah Wallaahu Akbar.” (HR. Al-Tirmidzi dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah no. 105 Shahih al-Jami’, no. 3460)

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

من قال : سبحان الله ، والحمد لله ، ولا إله إلا الله ، والله أكبر غرس الله له بكل واحدة منهن شجرة في الجنة

“Siapa membaca : Subhaanallaah Walhamdulillaah Walaa Ilaaha Illallaah Wallaahu Akbar maka Allah akan menanamkan untuknya satu pohon di surga dari setiap kalimat tadi.” (HR. al-Thabrani dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah no. 2880)

Dari Jabir Radhiyallahu 'Anhu, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الْجَنَّةِ

“Siapa yang membaca: Subhanallahi al-'Adziimi wa Bihamdihi, niscaya ditanamkan untuknya satu pohon kurma di surga.” (HR. al-Tirmidzi dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 6429)

Amal-amal yang ringan tapi memiliki keutamaan dan balasan yang besar. Siapa yang beriman terhadap akhirat dan kenikmatan surga di sana pastinya ia akan bersemangat untuk mendapatkan tambahan-tambahan kenikmatannya dengan zikir-zikir ini. Semoga kita tercatat min Adz-Dzakirinalaaha Katsira wal Dzakiraat (laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]
Continue Reading

Minggu, 22 September 2013

Dosa di Balik Jilbab



Oleh : Annisa Asysyifa Hayfa

Bissmillahhirrahmannirrahiim Walhamdulillah, kesadaran memakai jilbab sudah semakin meningkat di kalangan remaja muslim negeri ini. Satu sisi, bahagia kita melihatnya. Di sisi lain kita juga miris. Sebab, jilbab di salah artikan. Yang semula tujuan awalnya untuk menutup aurat, namun sekarang memakai jilbab lebih karena mengikuti tren, atau agar terlihat lebih anggun dan cantik, atau hanya ikut-ikutan saja. Coba kita tengok lagi Q.S Al-Ahzab : 59, masih ingatkah isi dari ayat tersebut ??  Yuk,kita simak !!

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمً

Wahai nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak di ganggu, dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”  (Q.S Al-Ahzab :59)

Bagaimana pendapat kalian mengenai firman Allah di atas??

Ya,berjilbab itu suatu keharusan bagi seluruh muslimah. Jika  kita cermati, jilbab yang dipakai oleh wanita muslimah itu bermacam-macam. Bisa kita bagi secara umum menjadi tiga macam jilbab; yaitu jilbab besar, jilbab biasa, dan jilbab gaul atau jilbab “funky bin jilbab nyekek leher” saja. Hehe. . .

Jika yang dianjurkan dalam surat Al-Ahzab:59 tadi ialah “mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka” pasti yang ada di fikiran kalian mengenai jilbab lebar yang kaya gorden itu kan?? Hehe. . eits,tunggu dulu, boleh dikatakan sebagai gorden, namun itu adalah yang benar sesuai perintah Allah, bukan Jilbab yang transparan.

Pakaian wanita yang tipis akan menjadi fitnah bagi dirinya dan menfitnah laki-laki sehingga muncul pikiran kotornya. Keberadaanya menjadi sebab terjadinya perbuatan-perbuatan jelek lagi nista. Maka pantaslah jika Nabi kita Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam menyebutkan ancaman yang keras atas wanita demikian.

“Dua golongan dari ahli Neraka yang tidak pernah aku lihat: seorang yang membawa cemeti seperti ekor sapi yang dia memukul orang-orang, dan perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepalanya bagai punuk unta yang bergoyang. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapat baunya, padahal bau surga didapatkan sejak perjalanan sekian dan sekian.” (Riwayat Muslim)

Pakaian wanita dan jilbabnya yang menutupi dada dan tidak membentuk tubuhnya akan mendatangnya keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Karenanya, salah besar yang ngetain kalau jilbab lebar itu ga keren. Ya kalau patokannya mata manusia bisa jadi tidak, tapi kalau menurut pandangan sang pencipta yang menghidupkan dan mematikan kita, pasti itu keren banget…  Hayoo?? Pilih keren di mata siapa???

Ga perlu bingung ko girls, kan sudah di perintahkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an tadi. Buat para akhwat,yang masih berjilbab tipis dan tdk menutupi dada atau yang belum tergerak hatinya untuk berjilbab, atau bahkan yang masi ingin menghijabkan hatinya dulu. 

Yuk,coba sejenak kita cermati perintah Allah di atas. Saya hanya sedikit khawatir, jika kita memakai jilbab, tapi pakaian kita masih ketat, lekuk tubuh masih terpampang jelas, masih berpakaian menyerupai pakaian lelaki dan masih memakai wewangian ketika keluar rumah atau bahkan yang masih mempertontonkan auratnya. masyaAllah. . saya khawatir ini justru menjadi melanggar syari’at.

Bukankah di antara tujuan jilbab adalah melindungi diri dari godaan lelaki dan menghindari fitnah, namun jilbab gaul justru malah menarik perhatian kaum lelaki??? Wallahu a’lam. [PurWD/voa-islam.com]
Continue Reading

Anjuran Shalat Witir Sebelum Tidur



Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Shalat witir sebelum tidur termasuk sunnah. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah mewasiatkannya kepada sebagian sahabatnya, seperti Abu Hurairah, Abu Darda’ dan selainnya. Keberadaannya sebagai wasiat beliau tersebut juga berlaku untuk seluruh umatnya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata:

أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَبِالْوِتْرِ قَبْلَ النَّوْمِ وَبِصَلَاةِ الضُّحَى فَإِنَّهَا صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ

“Kekasihku Shallallahu 'Alaihi Wasallam mewasiatkan kepadaku untuk berpuasa tiga hari dari setiap bulan, shalat witir sebelum tidur, dan dari shalat Dhuha, maka sungguh itu adalah shalatnya awwabin (shalatnya orang-orang yang banyak taat kepada Allah).” (HR. Ahmad dan Ibnu Huzaimah. Syaikh al-Albani menshahihkannya dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib)

Anjuran mengawalkan witir sebelum tidur ini ditekankan kepada siapa yang tidak yakin akan terbangun di akhir malam. Ini lebih utama untuk dirinya. Dan ini tentunya akan lebih memberikan jaminan tidak meninggalkan shalat witir.

Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ خَافَ مِنْكُمْ أَنْ لَا يَسْتَيْقِظَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ ثُمَّ لِيَرْقُدْ وَمَنْ طَمِعَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَيْقِظَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَإِنَّ قِرَاءَةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَحْضُورَةٌ وَذَلِكَ أَفْضَلُ

Siapa di antara kalian yang khawatir tidak bangun di akhir malam hendaknya ia witir di awal malam, lalu ia tidur. Dan siapa  di antara kalian yang yakin benar bisa bangun di akhir malam maka hendaknya ia berwitir di akhir malam. Sebab, bacaan di akhir malam dihadiri Malaikat dan lebih utama.” (HR. Muslim, Al-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Sedangkan bagi orang yang yakin atau menurut perkiraannya -lebih kuat- akan bangun di akhir malam –tidak diragukan lagi- bahwa mengakhirkan witir adalah lebih utama. Yakni di sepertiga malam terakhir sebagai waktu turunnya Allah ke langit dunia.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam  bersabda:

اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا

Jadikan witir sebagai akhir shalat malammu,” (Muttafaq ‘Alaih dari hadits Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhuma)

Pendapat Membatalkan Witir Pertama

Ada pendapat sebagian ulama yang menyebutkan, jika seseorang tidak yakin akan bangun di akhir malam hendaknya mengawalkan witir sebelum tidur. Lalu jika ia  bangun di pertengahan atau akhir malam hendaknya ia shalat satu rakaat untuk membatalkan witirnya. Setelah itu ia menutup shalat malamnya tersebut dengan witir kembali.

Pendapat di atas tidak benar. Banyak ulama telah memberikan bantahannya. Di antara hujjahnya adalah adanya hadits yang melarang mengerjakan dua witir di satu malam, “Tidak ada dua witir dalam satu malam.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Al-Tirmidzi, dan Al-Nasai)

Membatalkan witir dengan cara ini menyebabkan ia mengerjakan witir tiga kali dalam satu malam. Larangan mengerjakan witir dua kali dalam semalam menuntut larangan pula tiga kali, empat kali dan seterusnya.

Sengaja membatalkan witir sebelum tidur bertentangan dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

Wahai orang-orang beriman, taatlah kalian kepada Allah dan taat pula kepada Rasul-Nya, serta jangan batalkan amal-amal kalian.” (QS. Muhammad: 33)

Maka siapa yang sudah mengerjakan shalat witir awal malam (sebelum tidur) lalu ia bangun di sepertiga malam terakhir hendaknya ia mengerjakan shalat dua rakaat, dua rakaat, sehingga masuk Shubuh. Cukup baginya mendapatkan keutamaan witir dengan witir di awal malam tadi. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]
Continue Reading

Lewat Media, Kita Membesarkan Iblis



DARI sekian kritik terhadap pengaruh budaya popular (pop) yang mengglobal saat ini, kita seolah selalu dituntun untuk menyalahkan faktor-faktor luar, sebut saja kuasa kapitalis, dominasi media, pengalihan isu, atau konspirasi pemerintah. Yang walapun memberi pengaruh besar, tapi sesungguhnya bukanlah akar dari permasalahan itu sendiri. Kegagalan melihat akar permasalahan dalam budaya pop berawal dari kegagalan memahami media massa dan media sosial.

Apa itu Media Massa dan Media Sosial?

Buku, sebagaimana dipopulerkan oleh mesin cetak Gutenberg adalah media massa pertama yang kemudian sukses mendukung gerakan Kristen Protestan dengan mencetak Bible Secara Massif, pamphlet dan proto-surat kabar juga telah berhasil menyukseskan revolusi Prancis dengan slogan liberty, egality, fraternity yang disebar secara massif ke seluruh Negeri. Radio dan televisi yang muncul kemudian juga telah menuai suksesnya masing-masing, entah sebagai alat propaganda di masa perang, atau penjaring pemilih di masa pemilu.

Kesalahan paling umum yang terjadi di masyarakat adalah anggapan bahwa media mass itu sifatnya netral. Selamanya, media tidak akan bisa netral, pertama karena kerancuan konsep netral itu sendiri, kedua karena media maknanya adalah alat yang tidak bisa berdiri sendiri tanpa konsep atau ideology yang menjadi tulang punggungnya.

Kesalahan berikutnya adalah anggapan bahwa media massa adalah cermin dari masyarakat itu sendiri. Adalah tidak masuk akal jika mengatakan masyarakat yang begitu majemuk ini dapat “direfleksikan” lewat cermin bernama media massa yang memiliki afiliasi terbatas.

Contoh, apakah stand up comedy di Metro TV mencerminkan humor Indonesia? Apakah film-film bioskop kita mencerminkan nilai-nilai Indonesia? Apakah acara Indonesia Lawyers Club di  TVOne itu betul-betul cermin aspirasi masyarakat Indonesia? Kalau “iya” adalah jawabannya, maka apa gunanya media-media itu punya redaktur dan editor? Media massa tidak pernah menjadi cermin masyarakat, tapi masyarakat bisa menjadi bayangan yang dibuat oleh media.

Selanjutnya yang tidak kalah penting adalah memahami kata “massa” dalam term “media massa”. Herbert Blumer (1939) mendefinisikan massa sebagai kumpulan khalayak besar  yang kosong “identitas” karena komposisinya yang heterogen dan mudah berubah, dan yang terpenting khalayak “massa” ini tidak bergerak sendiri melainkan bertindak reaktif. Cocok sebagai objek manipulasi.

Soal media sosial, seringkali kita terjebak dalam ide-ide bahwa media sosial adalah counter terhadap hegemoni media massa mainstream, citizen journalism, kebebasan berbicara dan berpendapat dan lain lain.

Kenyataanya jauh panggang dari api. Bisa kita lihat bahwa media sosial justru hanya menjadi penampung “gema” media-media mainstream tanpa mampu melakukan counter yang efektif. Media sosial kemudian hanya dipenuhi oleh wacana-wacana dari bibir mereka yang telah di”manipulasi” oleh media massa.

Contoh paling nyata adalah sosok Arya Wiguna, Vicky Prasetyo, dan bagi penggemar siaran luar Miley Cyrus. Statement yang kasar dan vulgar dari Arya Wiguna sudah banyak kita nikmati lewat label “parody”, bahasa yang ngawur dan ngelantur Vicky kita amini karena alasan tidak logis, lucu. Sementara perubahan image Miley direview dimana-mana. Apakah ini yang disebut counter media mainstream? Sadar tidak sadar, kadang kita sendiri yang membuat iblis itu besar.

Real Counter

Dengan pemahaman yang cukup sejatinya kita bisa melihat bahwa persebaran budaya pop ini lemah karena bersandar pada opini, persepsi dan stigma. Kita bisa mulai bertindak dengan tidak reaktif ketika dihadapkan dengan sebuah isu atau pemberitaan, sikap kritis juga perlu terus dibangun dalam koridor ilmu yang benar. Disini peran berkesinambungan dari para pendidik, baik orang tua, guru, tokoh Agama dan masyarakat diperlukan untuk secara bertahap membangun literasi terhadap media secara umum.

Kaum muda dan mereka yang tidak memliki cukup pemahaman terhadap pengaruh media adalah agen sekaligus korban dari budaya pop. Pendekatan  yang bijaksana diperlukan untuk merangkul mereka karena bisa jadi bukan cuma pemahamannya yang rusak tapi juga sisi psikologisnya. [eza]

Sumber
Continue Reading

Anak, Si Peniru



DI sebuah sekolah diadakan pementasan drama. Pentas drama meriah itu dimainkan oleh siswa-siswi. Setiap anak mendapat peran dan memakai kostum sesuai dengan tokoh yang diperankannya. Semuanya tampak serius, sebab Pak Guru akan memberikan hadiah kepada anak yang tampil terbaik dalam pentas. Sementara di depan panggung semua orang tua murid hadir menyemarakkan acara itu.

Lakon drama berjalan sempurna. Semua anak tampil maksimal. Ada yang berperan sebagai petani lengkap dengan cangkul dan topinya, ada juga yang menjadi nelayan dengan jala disampirkan di bahu. Di sudut sana tampak pula seorang anak dengan raut muka ketus, sebab kebagian peran pak tua yang pemarah. Sementara di sudut lain terlihat anak dengan wajah sedih layaknya si pemurung yang selalu menangis. Tepuk tangan para orangtua dan guru kerap terdengar.

 Tibalah kini akhir pementasan. Saatnya Pak Guru mengumumkan siapa yang berhak mendapat hadiah. Setiap anak berdebar-debar. Berharap terpilih menjadi pemain drama terbaik. Mereka komat-kamit berdoa supaya Pak Guru menyebutkan nama mereka dan mengundang ke atas panggung untuk menerima hadiah. Para orangtua pun ikut berdoa, berharap anak mereka menjadi yang terbaik.

Pak Guru naik panggung. Ia menyebutkan sebuah nama. Ahha… ternyata anak yang menjadi pak tua pemarah lah yang menjadi juara. Dengan wajah berbinar, sang anak bersorak gembira. “Aku menang…,” begitu teriaknya. Ia pun bergegas naik panggung diiringi kedua orang tuanya yang tampak bangga. Tepuk tangan terdengar lagi. Orang tua anak itu menatap sekeliling, menatap ke seluruh hadirin.

Mereka bangga. Pak Guru menyambut mereka. Sebelum menyerahkan hadiah, ia bertanya, “Nak, kamu memang hebat. Kamu pantas mendapatkannya. Peranmu sebagai seorang pemarah terlihat bagus sekali. Apa rahasianya sehingga kamu bisa tampil sebaik itu? Kamu pasti rajin mengikuti latihan. Coba kamu ceritakan kepada kami semua, apa yang bisa membuat kamu seperti ini.”

Sang anak menjawab, “Terima kasih atas hadiahnya, Pak. Dan sebenarnya saya harus berterima kasih kepada ayah saya. Karena, dari Ayah lah saya belajar berteriak dan menjadi pemarah. Kepada Ayah lah saya meniru perilaku ini. Ayah sering berteriak kepada saya, maka bukan hal yang sulit untuk menjadi pemarah seperti ayah.” Tampak sang Ayah yang mulai tercenung. Sang anak melanjutkan, “Ayah membesarkan saya dengan cara seperti itu. Jadi, peran ini adalah sangat mudah buat saya.”

Senyap. Usai bibir anak itu terkatup keadaan tambah senyap. Begitupun kedua orang tua anak itu. Mereka tertunduk. Jika sebelumnnya mereka merasa bangga, kini keadaannya berubah. Mereka berdiri bagai terdakwa di muka pengadilan. Mereka belajar sesuatu hari ini. Ada yang perlu diluruskan dalam perilaku mereka.

Teman, anak adalah duplikat orang di sekitarnya. Setiap anak peniru. Mereka belajar sesuatu dengan menjadikan kita sebagai contoh. Karena itu, mereka juga cermin bagi kita. Tempat kita berkaca semua hal yang kita lakukan. Mereka laksana air telaga yang merefleksikan bayangan saat kita menatap dalam hamparan perilaku yang mereka perbuat.

Dan, cermin itu meniru pada semua hal, baik-buruk, terpuji-tercela. Jadi, cermin itu pancaran sejati setiap benda di depannya. Kita tentu tak bisa memecahkan cermin atau mengoyak ketenangan telaga itu saat melihat gambaran buruk. Sebab, bukankah itu sama artinya dengan menuding diri sendiri?
Teman, peran apakah yang sedang kita ajarkan kepada anak-anak kita saat ini? Si pemarah atau si welas asih?

Semoga kita bisa menjadi orang yang sabar saat melihat seorang anak memecahkan piring yang mereka pegang. Sebab, mereka baru “belajar” memegang piring itu 5 tahun, sedang kita 20 tahun. Tentu mereka butuh waktu seperti juga kita ketika masih kecil seperti mereka.[Sumber]
Continue Reading

Perjuangan Islam Kapitan Ahmad `Pattimura’ Lussy



Nunu oli
Nunu seli
Nunu karipatu
Patue karinunu
(Saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah beringin besar
dan setiap beringin besar akan tumbang tapi beringin lain akan menggantinya
(demikian pula) saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah batu besar
dan setiap batu besar akan terguling tapi batu lain akan menggantinya).

UCAPAN-ucapan puitis yang penuh tamsil itu diucapkan oleh Kapitan Ahmad Lussy atau dikenal dengan sebutan Pattimura, pahlawan dari Maluku. Saat itu, 16 Desember 1817, tali hukuman gantung telah terlilit di lehernya. Dari ucapan-ucapannya, tampak bahwa Ahmad Lussy seorang patriot yang berjiwa besar. Dia tidak takut ancaman maut. Wataknya teguh, memiliki kepribadian dan harga diri di hadapan musuh. Ahmad Lussy juga tampak optimis.

Namun keberanian dan patriotisme Pattimura itu terdistorsi oleh penulisan sejarah versi pemerintah. M Sapija, sejarawan yang pertama kali menulis buku tentang Pattimura, mengartikan ucapan di ujung maut itu dengan “Pattimura-Pattimura tua boleh dihancurkan, tetapi kelak Pattimura-Pattimura muda akan bangkit”. Namun menurut M Nour Tawainella, juga seorang sejarawan, penafsiran Sapija itu tidak pas karena warna tata bahasa Indonesianya terlalu modern dan berbeda dengan konteks budaya zaman itu.

Di bagian lain, Sapija menafsirkan, “Selamat tinggal saudara-saudara”, atau “Selamat tinggal tuang-tuang”. Inipun disanggah Tawainella. Sebab, ucapan seperti itu bukanlah tipikal Pattimura yang patriotik dan optimis.

Puncak kontroversi tentang siapa Pattimura adalah penyebutan Ahmad Lussy dengan nama Thomas Mattulessy, dari nama seorang Muslim menjadi seorang Kristen. Hebatnya, masyarakat lebih percaya kepada predikat Kristen itu, karena Maluku sering diidentikkan dengan Kristen.

Muslim Taat

Ahmad Lussy atau dalam bahasa Maluku disebut Mat Lussy, lahir di Hualoy, Seram Selatan (bukan Saparua seperti yang dikenal dalam sejarah versi pemerintah). Ia bangsawan dari kerajaan Islam Sahulau, yang saat itu diperintah Sultan Abdurrahman. Raja ini dikenal pula dengan sebutan Sultan Kasimillah (Kazim Allah/Asisten Allah). Dalam bahasa Maluku disebut Kasimiliali.

Menurut sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara, Pattimura adalah seorang Muslim yang taat. Selain keturunan bangsawan, ia juga seorang ulama. Data sejarah menyebutkan bahwa pada masa itu semua pemimpin perang di kawasan Maluku adalah bangsawan atau ulama, atau keduanya.

Bandingkan dengan buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit. M Sapija menulis, “Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau bukan nama orang tetapi nama sebuah negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan”.

Ada kejanggalan dalam keterangan di atas. Sapija tidak menyebut Sahulau itu adalah kesultanan. Kemudian ada penipuan dengan menambahkan marga Pattimura Mattulessy. Padahal di negeri Sahulau tidak ada marga Pattimura atau Mattulessy. Di sana hanya ada marga Kasimiliali yang leluhur mereka adalah Sultan Abdurrahman.

Jadi asal nama Pattimura dalam buku sejarah nasional adalah karangan dari Sapija. Sedangkan Mattulessy bukanlah marga melainkan nama, yaitu Ahmad Lussy. Dan Thomas Mattulessy sebenarnya tidak pernah ada di dalam sejarah perjuangan rakyat Maluku.

Berbeda dengan Sapija, Mansyur Suryanegara berpendapat bahwa Pattimura itu marga yang masih ada sampai sekarang. Dan semua orang yang bermarga Pattimura sekarang ini beragama Islam. Orang-orang tersebut mengaku ikut agama nenek moyang mereka yaitu Pattimura.

Masih menurut Mansyur, mayoritas kerajaan-kerajaan di Maluku adalah kerajaan Islam. Di antaranya adalah kerajaan Ambon, Herat, dan Jailolo. Begitu banyaknya kerajaan sehingga orang Arab menyebut kawasan ini dengan Jaziratul Muluk (Negeri Raja-raja). Sebutan ini kelak dikenal dengan Maluku.

Mansyur pun tidak sependapat dengan Maluku dan Ambon yang sampai kini diidentikkan dengan Kristen. Penulis buku Menemukan Sejarah (yang menjadi best seller) ini mengatakan, “Kalau dibilang Ambon itu lebih banyak Kristen, lihat saja dari udara (dari pesawat), banyak masjid atau banyak gereja. Kenyataannya, lebih banyak menara masjid daripada gereja.”

Sejarah tentang Pattimura yang ditulis M Sapija, dari sudut pandang antropologi juga kurang meyakinkan. Misalnya dalam melukiskan proses terjadi atau timbulnya seorang kapitan. Menurut Sapija, gelar kapitan adalah pemberian Belanda. Padahal tidak.

Leluhur bangsa ini, dari sudut sejarah dan antropologi, adalah homo religiosa (makhluk agamis). Keyakinan mereka terhadap sesuatu kekuatan di luar jangkauan akal pikiran mereka, menimbulkan tafsiran yang sulit dicerna rasio modern. Oleh sebab itu, tingkah laku sosialnya dikendalikan kekuatan-kekuatan alam yang mereka takuti.

Jiwa mereka bersatu dengan kekuatan-kekuatan alam, kesaktian-kesaktian khusus yang dimiliki seseorang. Kesaktian itu kemudian diterima sebagai sesuatu peristiwa yang mulia dan suci. Bila ia melekat pada seseorang, maka orang itu adalah lambang dari kekuatan mereka. Dia adalah pemimpin yang dianggap memiliki kharisma. Sifat-sifat itu melekat dan berproses turun-temurun. Walaupun kemudian mereka sudah memeluk agama, namun secara genealogis/silsilah/keturunan adalah turunan pemimpin atau kapitan. Dari sinilah sebenarnya sebutan “kapitan” yang melekat pada diri Pattimura itu bermula.

Perjuangan Kapitan Ahmad Lussy

Perlawanan rakyat Maluku terhadap pemerintahan kolonial Hindia Belanda disebabkan beberapa hal. Pertama, adanya kekhawatiran dan kecemasan rakyat akan timbulnya kembali kekejaman pemerintah seperti yang pernah dilakukan pada masa pemerintahan VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie). Kedua, Belanda menjalankan praktik-praktik lama yang dijalankan VOC, yaitu monopoli perdagangan dan pelayaran Hongi. Pelayaran Hongi adalah polisi laut yang membabat pertanian hasil bumi yang tidak mau menjual kepada Belanda. Ketiga, rakyat dibebani berbagai kewajiban berat, seperti kewajiban kerja, penyerahan ikan asin, dendeng, dan kopi.

Akibat penderitaan itu maka rakyat Maluku bangkit mengangkat senjata. Pada tahun 1817, perlawanan itu dikomandani oleh Kapitan Ahmad Lussy. Rakyat berhasil merebut Benteng Duurstede di Saparua. Bahkan residennya yang bernama Van den Bergh terbunuh. Perlawanan meluas ke Ambon, Seram, dan tempat-tempat lainnya.

Perlawanan rakyat di bawah komando Kapitan Ahmad Lussy itu terekam dalam tradisi lisan Maluku yang dikenal dengan petatah-petitih. Tradisi lisan ini justru lebih bisa dipertanggung jawabkan daripada data tertulis dari Belanda yang cenderung menyudutkan pahlawan Indonesia. Di antara petatah-petitih itu adalah sebagai berikut:

Yami Patasiwa
Yami Patalima
Yami Yama’a Kapitan Mat Lussy
Matulu lalau hato Sapambuine
Ma Parang kua Kompania
Yami yama’a Kapitan Mat Lussy
Isa Nusa messe
Hario,
Hario,
Manu rusi’a yare uleu uleu `o
Manu yasamma yare uleu-uleu `o
Talano utala yare uleu-uleu `o
Melano lette tuttua murine
Yami malawan sua mena miyo
Yami malawan sua muri neyo

(Kami Patasiwa
Kami Patalima
Kami semua dipimpin Kapitan Ahmad Lussy
Semua turun ke kota Saparua
Berperang dengan Kompeni Belanda
Kami semua dipimpin Kapitan Ahmad Lussy
Menjaga dan mempertahankan
Semua pulau-pulau ini
Tapi pemimpin sudah dibawa ditangkap
Mari pulang semua
Ke kampung halaman masing-masing
Burung-burung garuda (laskar-laskar Hualoy)
Sudah pulang-sudah pulang
Burung-burung talang (laskar-laskar sekutu pulau-pulau)
Sudah pulang-sudah pulang
Ke kampung halaman mereka
Di balik Nunusaku
Kami sudah perang dengan Belanda
Mengepung mereka dari depan
Mengepung mereka dari belakang
Kami sudah perang dengan Belanda
Memukul mereka dari depan
Memukul mereka dari belakang)

Berulangkali Belanda mengerahkan pasukan untuk menumpas perlawanan rakyat Maluku, tetapi berulangkali pula Belanda mendapat pukulan berat. Karena itu Belanda meminta bantuan dari pasukan yang ada di Jakarta. Keadaan jadi berbalik, Belanda semakin kuat dan perlawanan rakyat Maluku terdesak. Akhirnya Ahmad Lussy dan kawan-kawan tertangkap Belanda. Pada tanggal 16 Desember 1817 Ahmad Lussy beserta kawan-kawannya menjalani hukuman mati di tiang gantungan.

Nama Pattimura sampai saat ini tetap harum. Namun nama Thomas Mattulessy lebih dikenal daripada Ahmad Lussy atau Mat Lussy. Menurut Mansyur Suryanegara, memang ada upaya-upaya deislamisasi dalam penulisan sejarah. Ini mirip dengan apa yang terjadi terhadap Wong Fei Hung di Cina. Pemerintah nasionalis-komunis Cina berusaha menutupi keislaman Wong Fei Hung, seorang Muslim yang penuh izzah (harga diri) sehingga tidak menerima hinaan dari orang Barat.
Dalam sejarah Indonesia, Sisingamangaraja yang orang Batak, sebenarnya juga seorang Muslim karena selalu mengibarkan bendera merah putih. Begitu pula Pattimura.

Ada apa dengan bendera merah putih? Mansyur merujuk pada hadits Imam Muslim dalam Kitab Al-Fitan Jilid X, halaman 340 dari Hamisy Qastalani. Di situ tertulis, Imam Muslim berkata: Zuhair bin Harb bercerita kepadaku, demikian juga Ishaq bin Ibrahim, Muhammad bin Mutsanna dan Ibnu Basyyar. Ishaq bercerita kepada kami. Orang-orang lain berkata: Mu’adz bin Hisyam bercerita kepada kami, ayah saya bercerita kepadaku, dari Qatadah dari Abu Qalabah, dari Abu Asma’ Ar-Rahabiy, dari Tsauban, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah memperlihatkan kepadaku bumi, timur dan baratnya. Dan Allah melimpahkan dua perbendaharaan kepadaku, yaitu merah dan putih”.

Demikianlah pelurusan sejarah Pattimura yang sebenarnya bernama Kapitan Ahmad Lussy atau Mat Lussy. Wallahu A’lam Bish Shawab. [khalifah 28/swara mustika]


Sumber
Continue Reading

Umat Islam Melawan Thaghut Internasional di Akhir Zaman



KITA saat ini hidup di zaman yang penuh dengan kesyirikan, kekufuran, kemunafikan, kemungkaran, dan kemaksiatan. Kita saat ini hidup di zaman dominasi sistem thaghut dalam semua lini kehidupan. Di bidang akidah, sistem thaghut paganisme, pluralisme, liberalisme, sekulerisme, materialisme, humanisme dan lainnya menancapkan kuku-kukunya dan menyemburkan racun-racunnya untuk merusak akidah kaum muslimin.

Di bidang politik, sistem thaghut sekulerisme, demokrasi, dan zionisme menjajah negeri-negeri kaum muslimin, merusak akidah, akhlak, politik dan tatanan kehidupan kaum muslimin. Di bidang ekonomi, sistem thaghut kapitalisme dan sosialisme mencekik leher kaum muslimin, merampok kekayaan alam negeri-negeri kaum muslimin, dan memperbudak kaum muslimin dengan belenggu hutang, investasi asing, dan pasar bebas.

Di bidang sosial dan budaya, sistem thaghut liberalisme merusak kaum muslimin melalui musik, film, seks bebas, dan gaya hidup hedonis. Di bidang militer, aliansi zionis-salibis-paganis-komunis dan sekuleris internasional bersatu padu memerangi para pejuang Islam lewat skenario perang global melawan ‘terorisme’.

Kita saat ini hidup di zaman yang penuh dengan tantangan dan gangguan terhadap kelurusan akidah, ibadah, akhlak, dan mu’amalah Islam. Beragam bentuk syubhat dan syahwat datang silih berganti, mendera, mencoba untuk melemahkan komitmen kita terhadap dien Allah. Bahkan mencoba untuk memurtadkan kita!

Sebuah zaman yang diumpamakan dengan potongan-potongan malam yang kelam dan gelap gulita. Sebuah zaman yang bisa merubah keislaman dan keimanan seorang muslim dengan begitu cepat.


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ المُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا»

Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Bersegeralah untuk melakukan amal-amal kebaikan sebelum datang fitnah-fitnah (ujian-ujian) bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita. Pada waktu pagi seseorang masih beriman, namun pada waktu sore ia sudah menjadi orang kafir. Dan pada waktu sore seseorang masih beriman, namun pada waktu pagi ia sudah menjadi orang kafir. Ia menjual agamanya demi mendapatkan sedikit kenikmatan dunia.”


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ سِتًّا: الدَّجَّالَ، وَالدُّخَانَ، وَدَابَّةَ الْأَرْضِ، وَطُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَأَمْرَ الْعَامَّةِ، وَخُوَيْصَّةَ أَحَدِكُمْ “

Dari Abu Hurairah RA dari Nabi SAW bersabda, “Bersegeralah mengerjakan amal-amal kebaikan sebelum datang enam perkara: Dajjal, Dukhan (asap tebal yang menyelimuti seluruh bumi), Daabbah (binatang yang keluar dari perut bumi dan bisa berbicara kepada manusia), matahari terbit dari tempat tenggelamnya, urusan umum (kesibukan memimpin rakyat), dan urusan pribadi (kematian) salah seorang di antara kalian.”

Dalam situasi zaman seperti ini, setiap muslim dituntut untuk meneguhkan iman dan menguatkan pegangan kepada petunjuk hidup yang Allah SWT turunkan kepada Rasulullah SAW. Setiap muslim harus memperbarui ilmu, amal, dan niatnya dalam setiap waktu dan keadaan. Setiap muslim harus memahami dengan baik ajaran dien Islam sebagai pedoman hidup yang lurus, dan menjauhi semua ajaran dan jalan yang menyimpang dari Islam. Baik ajaran dan jalan orang-orang yang mengetahui kebenaran namun enggan mengamalkannya maupun ajaran dan jalan orang-orang yang beramal tanpa landasan ilmu kebenaran.

Wallahu’alam bi showab. [granada media tama]

Sumber
Continue Reading

Sulitnya Keluar dari Jebakan Lubang Biawak

teriak lelaki 490x326 Sulitnya Keluar dari Jebakan Lubang Biawak

Oleh: Ust. Ihsan Tanjung

KETIKA umat Islam telah mengekor kepada kebiasaan kaum yahudi dan nasrani (baca: the western civilization) maka perlahan tetapi pasti mereka bakal terjerumus ke dalam jebakan “lubang biawak” alias kebinasaan sebagaimana kaum yahudi dan nasrani terlebih dahulu telah terjebak ke dalamnya.


لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun kalian pasti akan mengikuti mereka.” Kami bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum yahudi dan nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR Musim – Shahih)

Tidak sedikit orang yang mengaku beriman dewasa ini berpendapat bahwa untuk meraih kejayaan kita mesti menerima bahkan meyakini serta menerapkan segala cara hidup yang ditawarkan oleh peradaban “maju” dunia barat. Sedemikian yakinnya mereka sehingga apa-apa yang datang dari barat seolah merupakan petunjuk hidup yang pasti benarnya. Mereka lupa bahwa sumber petunjuk hidup yang sebenarnya ialah apa-apa yang datang dari Allah subhaanahu wa ta’aala melalui Rasul-Nya yang terakhir yaitu Nabi Muhammad shollallahu ‘alahi wa sallam.

Allah subhaanahu wa ta’aala melalui Kitab-Nya menyingkap karakter asli kaum yahudi dan nasrani.

Bahwa mereka merupakan kumpulan manusia yang tidak akan rela, tidak akan senang, kepada umat Islam sebelum umat Islam dengan sukarela mengikuti “millah” mereka. Di dalam berbagai terjemahan Al-Qur’an kata “millah” sering diartikan sebagai “agama”. Namun Imam Asy-Syaukani di dalam kitab beliau Fathul Qadiir menulis sebagai berikut:


والملة : اسم لما شرعه الله لعباده في كتبه على ألسن أنبيائه ، وهكذا الشريعة


Millah: nama untuk apa-apa yang disyari’atkan/diundangkan oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya di dalam kitab-kitab-Nya melalui lisan para Nabi-Nya, dan itulah Asy-Syari’ah (cara hidup / perundang-undangan).

Kaum yahudi dan nasrani tidak terlalu mempersoalkan bila umat Islam rajin solat lima waktu, puasa di bulan ramadhan, bolak-balik melaksanakan haji atau umroh ke Mekkah misalnya. Tetapi mereka sangat gusar bila mendapati umat Islam bersikeras hendak menerapkan sistem ekonomi berdasarkan petunjuk / wahyu Allah subhaanahu wa ta’aala yang meharamkan riba dan menumbuh-suburkan tijaroh (jual-beli/perdagangan) yang adil. Mereka sangat kesal bila umat Islam berpolitik dengan berpandukan Al-Qur’an serta As-Sunnah An-Nabawiyyah dimana Kedaulatan Allah ditinggikan sedangkan kedaulatan manusia/rakyat direndahkan.

Mereka murka bila umat Islam menerapkan hukum Allah subhaanahu wa ta’aala dan mengabaikan berbagai “man-made laws” (perangkat hukum produk manusia). Mereka kesal bila sistem budaya umat Islam menyebabkan manusia menjadi rajin dzikrullah (mengingat Allah) bukan melampiaskan kebebasan mempertuhan syahwat. Mereka benci bilamana umat Islam memiliki ideologi Tauhid Laa ilaaha illa Allah dan meninggalkan ideologi sekularisme, pluralisme dan liberalisme.

Sebab intinya mereka ingin menikmati kepatuhan umat Islam kepada millah mereka kaum yahudi-nasrani (baca: the western civilization) dan tidak rela melihat kepatuhan umat Islam kepada Allah subhaanahu wa ta’aala Rabb langit dan bumi yang sebenarnya.


وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah (cara hidup / syari’ah) mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS Al-Baqarah 120)

Senanglah kaum yahudi-nasrani bila umat Islam mengikuti millah mereka. Padahal Allah tegaskan bahwa petunjuk Allah subhaanahu wa ta’aala itulah petunjuk yang benar yang semestinya diikuti umat Islam, bukan petunjuk kaum yahudi-nasrani. Menegakkan cara hidup atau syari’ah Allah itulah yang benar, bukan mengikuti / mengekor kepada syari’ah kaum yahudi-nasrani. Membangun sistem berekonomi, berpolitik, berbudaya, berhukum, berideologi berlandaskan petunjuk / wahyu Allah itulah yang benar, bukan berlandaskan taqlid buta kepada petunjuk kaum yahudi-nasrani.

Dan Allah subhaanahu wa ta’aala dengan tegas mengancam bahwa bila umat Islam tetap mengikuti kemauan mereka kaum yahudi-nasrani sesudah ilmu dan pengetahuan datang kepada umat Islam, maka Allah subhaanahu wa ta’aala tidak lagi berperan sebagai Pelindung dan Penolong bagi umat Islam.

Masih perlukah kita heran mengapa kebanyakan negeri-negeri Islam dewasa ini sepertinya tidak memperoleh pertolongan dan perlindungan dari Allah subhaanahu wa ta’aala…? Jawabannya terletak pada seberapa jauh umat Islam menyadari bahwa mereka sudah masuk jebakan lubang biawak kemudian memiliki tekad untuk keluar dari jebakan tersebut. [bjksd]

(Sumber)
Continue Reading

Fenomena Jokowi, Mengapa “Kejeblos” Dua Kali ?



HM Aru Syeif Assadullah
Pemimpin Redaksi Tabloid Suara Islam

Hari-hari ini –Agustus 2013– masyarakat bahkan bangsa Indonesia seluruhnya, digambarkan media massa bagai tak sabar segera mendudukkan Gubernur Jakarta, Joko Widodo sebagai presiden RI. Mengapa? Jokowi digambarkan diselimuti oleh kesempurnaan dalam segala hal dan siap mengubah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Jokowi  setiap hari dipuja-puja tak henti-henti, dalam segala hal. Setelah menjabat Gubernur DKI setahun terakhir ini, kini Jakarta berhasil dibenahi secara total oleh Jokowi. Puja-puji ini niscaya  “gombal-kumal”, alias omong kosong tak berdasar. Sejatinya ibukota Jakarta tidak berubah sedikit pun di tangan Jokowi. Jakarta tetap macet total, Jakarta malah lebih banjir, dibanding lima tahun sebelumnya, sehingga 17 Januari 2013 lalu, banjir menerjang Bunderan HI, Jalan, Thamrin dan Jalan Soedirman, bahkan banjir masuk ke Istana Negara sampai ke ruang rapat. Di tangan Jokowi Jakarta sebenarnya kondisinya lebih parah.

Tak ada yang bisa memungkiri popularitas bekas Wali Kota Solo ini karena media massa menempatkan Jokowi sebagai “media darling”. Segala apa saja kegiatan Jokowi di-blowup berlebihan, sehingga pers pun kehilangan obyektifitas yang seharusnya ia jaga. Muncullah pemberitaan berlebihan mengenai apa saja menyangkut Jokowi. Semua yang berasal dari Jokowi niscaya dipujinya bahkan secara berlebihan. Sebaliknya segala yang jelek dan kegagalan Jokowi malah ditutup-tutupi dengan sengaja untuk mempertahankan citra cemerlang seorang Jokowi.

Pers Indonesia, dipastikan melakukan kesalahan yang cukup fatal, dalam usahanya mengangkat nama Jokowi, dengan cara-cara yang jauh dari fair, dan  obyektif. Barangkali pers tidak menyadari sikapnya ini, karena pers tertentu terseret pula oleh opini pers yang lain. Ada pula pers yang justru merancang skenario “keblinger” ini dengan tujuan ingin menguasai negeri ini dan mengubah dengan pola yang dikehendakinya.

Di balik fenomena pendukungan Jokowi menjadi presiden 2014, niscaya merupakan pertarungan politik yang amat serius. Harian terbesar di Indonesia Kompas, pun bagai menutup gong fenomena Jokowi ini dengan menggelar survey dan dimuat argumentasi kesimpulan tiga hari berturut-turut pada, 26,27 dan 28 Agustus 2013. Kompas menyimpulkan Jokowi niscaya presiden 2014 berpasangan dengan siapapun dia menjadi presiden.

Belakangan Jokowi dipuji karena melakukan penertiban PKL (Pedagang Kaki Lima) di Pasar Tanah Abang Jakarta Pusat. Golongan elit yang kini melintas di Tanah Abang dengan mengendarai mobilnya pun bisa tertawa lepas. Pujian kepada Jokowi pun dihamburkan kembali.

Namun bekas Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengkritik, apa yang telah ditertibkan Jokowi, sudah pula ia lakukan bahkan berulangkali, namun PKL kembali seperti semula, dan pers saat itu tidak mewartakan apa yang dibuat gubernur Fauzi Bowo. Bahkan bekas gubernur DKI ini mengkritik penggunaan anggaran Pemda ala Jokowi bisa membuat Pemda bangkrut seperti terjadi pada pemerintah kota Detroit di Amerika Serikat.

Jokowi tentu saja membantah Pemda DKI bisa mengalami kebangkrutan. Namun belum ada yang mengkritik dan pers memuatnya tentang penertiban Jokowi terhadap PKL di kota Solo, sewaktu ia menjabat sebagai walikota Solo. PKL di Solo yang berdagang di sekitar Pasar Banjarsari, oleh Jokowi dipindahkan ke kios-kios baru di Pasar Ngarsopuro Semanggi. Apa yang terjadi sekarang ? 

Para PKL ternyata berangsur-angsur kembali ke tempat semula. Kios yang diberikan gratis dulu dijual kepada orang lain. PKL atau sektor informal kini pun dihardik dan diusir Jokowi di ibu kota, padahal ketika ekonomi nasional bangkrut pada 1997-1998, sektor informal inilah yang telah menyelamatkan negeri ini dari kebangkrutan. Sektor informal inilah yang pelan-pelan telah menggerakkan mesin ekonomi yang lumpuh total pada 1998 lalu. Kehancuran ekonomi di akhir pemerintahan SBY saat ini seharusnya juga bisa malah memanfaatkan peranan sektor informal, bukan malah menghardik dan mengusirnya.

Ada lagi prakarsa Jokowi yang sangat menghebohkan–dan karena kehebohan ini–yang membuat Jokowi mulai dikenal di seluruh Indonesia. Kehebohan itu ketika Jokowi tiba-tiba memamerkan mobil rakyat buatan murid-murid SMK di Solo. Digembar-gemborkan seolah-olah akan diproduksi mobil rakyat itu dengan harga sangat murah, namun mobilnya sangat berkualitas bahkan mewah. 

Publikasi pun meluas dan melambungkan nama Jokowi. Apalagi ketika Jokowi meluncurkan ujicoba mobilnya dari Solo ke Jakarta. Seluruh pers nasional jenis apapun mengelu-elukan. Tapi yang terjadi kemudian  adalah peristiwa yang memalukan, kartena mobil SMK yang dibangga-banggakan Jokowi ini tidak lulus alias dianggap tidak layak untuk diproduksi. Lalu dilakukan uji coba yang kedua setelah dilakukan perbaikan sesuai rekomendasi, namun hasilnya sama saja, tidak layak diproduksi.

 Akhir Agustus 2013 ini LIPI di Taman Mini malah memamerkan mobil-mobil karya anak-anak Indonesia yang jauh lebih bagus, namun tidak ada yang meliput dan mem-blowupnya. Apakah semua orang yang kini mengelu-elukan Jokowi khususnya pers nasional mengingat kembali peristiwa ujicoba mobil SMK Solo kebanggaan Jokowi yang gagal total itu? Bagaimana kabarnya mobil SMK itu? Peristiwa blow up mobil SMK Jokowi Solo ini, hakikatnya proyek pencitraan Jokowi untuk mendongkraknya menjadi tokoh nasional.

Mengapa Terus Tertipu Proyek Pencitraan?

Proyek pencitraan Jokowi  ternyata dibeli rakyat Indonesia, bahkan secara berebut membelinya, takut tidak kebagian, takut kehabisan.  Beberapa tahun terakhir ini tuduhan tokoh yang lahir dengan rekayasa pencitraan diarahkan kepada presiden SBY. Berpuluh-puluh prakarsa pencitraan yang dilakukan SBY dengan kelompok politiknya, selalu dibongkar masyarakat, namun prakarsa pencitraan berikutnya dibuat kembali oleh SBY, dan rakyat–anehnya dan gilanya– “membeli” pencitraan seperti itu, yang hakikatnya hanyalah  kosong melompong isi dan nilai, bahkan cenderung sebagai tipu-daya yang merugikan bangsa dan negara.

Citra yang dibangun SBY pertama kali adalah meminta simpati rakyat Indonesia sebagai tokoh yang ditindas dan dizalimi oleh penguasa Megawati. Citra sebagai tokoh yang diperlakukan tidak adil bahkan ditindas ini telah melambungkan popularitas nama SBY hingga terpilih menjadi presiden, menggusur Megawati.  Sejak saat itu SBY selalu mengedepankan pencitraan dirinya dan rakyat Indonesia selalu “membeli” citra yang hakikatnya omong-kosong itu. SBY mencitrakan diri sebagai presiden yang secara kongkrit memperhatikan nasib rakyat kecil sampai ke urusan dapur. Maka program, semacam BLSM, dan penaikan gaji guru serta PNS (Pegawai Negeri Sipil) pun menjadi prioritas, dan gaji PNS pun setiap tahun selalu dinaikkan bahkan dengan program remunerasi dengan kenaikan berlipat-lipat kali.

Tapi pakar ekonomi independen mengkritik kebijakan penaikan gaji sekadar menaikan citra diri presiden SBY ini. Akibat kenaikan ini–misalnya remunerasi di Kementerian Keuangan, menyebabkan hutang negara bertambah Rp 70 Trilyun–hanya menyebabkan inflasi, dan seterusnya. 

Yang aneh dan “gila” ketika citra gombal pun sudah terbongkar kebohongannya, misalnya  gembar-gembor hendak memberantas korupsi, tapi belakangan justru anak buah presiden sendiri yang  mempelopori korupsi dalam berbagai megaskandal yang sangat mengerikan, tapi ketika proyek pencitraan lain digelar, rakyat tetap membelinya.

Adalah tokoh antagonis Partai Demokrat, Ruhut Sitompul berkomentar mengenai fenomena Jokowi yang gencar diusung ramai-ramai dan dianggap layak naik menjadi presiden 2014, Ruhut pun berkomentar yang jujur dan berkata : “Bahwa tokoh yang lahir dari pencitraan seperti itu-Jokowi- pasti  akan menghasilkan presiden yang buruk dan tidak menguntungkan rakyat Indonesia.”

Yang dikatakan Ruhut, itulah yang telah terjadi pada Presiden SBY. Di akhir kekuasaannya saat ini ekonomi mengalami ‘gonjang-ganjing’ yang disebut-sebut oleh ekonom independen indikasinya jauh lebih berbahaya dibandingkan menjelang terjadinya krisis moneter 1997-1998. 

Cadangan devisa Negara merosot dari 123 milyar dolar AS kini tinggal 90 milyar dolar, hutang jatuh tempo tahun ini bernilai puluhan milyar dollar AS, hutang negara mencapai Rp 2.300 Trilyun. Nilai rupiah terus merosot melewati Rp 11.000/dollar AS. Dan fatalnya pemerintahan SBY ini, tak mampu menjaga hajat rakyat yang paling dasar saja. Sudah setengah tahun terakhir ini harga bawang merah dan cabe rawit tidak mampu dinormalisir. Harga bawang merah dan cabe rawit melonjak naik berkisar antara Rp 50.000-60.000/kg. Harga normal tujuh bulan sebelumnya hanya Rp 12.000/kg. Bagai NKRI ini sebuah negeri gurun atau berlokasi di Benua Alaska dan Kutub yang tak bisa ditanami cabe dan bawang. 

Karena kejengkelan yang memuncak terhadap kasus bawang dan cabe ini yang tak mampu diturunkan harganya oleh pemerintah SBY, maka muncul komentar sarkastis, ”Rakyat Indonesia ke depan mutlak membutuhkan seorang presiden yang mampu menjaga harga, cabe, bawang, kedelai, dan daging sapi. Kemampuan yang lain, hanya syarat menjadi presiden nomor 27,” katanya sinis
Jokowi idem ditto belaka dengan SBY, hanya bermodalkan dan diberi modal pencitraan semu dirinya. Dengan modal pencitraan ini rakyat Indonesia hanya dinina-bobokkan oleh mimpi-mimpi. Dua periode pemerintahan SBY hakikatnya pemerintah berjalan di tempat, stagnan.

Rakyat ibukota saja yang mutlak penduduk Muslim kini agak terkaget-kaget, walau belum “nyadar” sepenuhnya ketika tiba-tiba Jokowi seenaknya saja mengangkat Lurah Lenteng Agung Susan Yasmine Zulkifli yang beragama Nasrani. Rakyat Lenteng Agung pun protes, namun dijelaskan Susan layak naik menjadi lurah karena sudah lolos dari lelang jabatan sebelumnya. Bagai orang linglung, ustadz dan guru ngaji di Lenteng berucap, “Oo itu gunanya lelang jabatan lurah, untuk menaikkan seorang Nasrani memimpin orang Islam di Lenteng Agung yang jumlahnya mayoritas mutlak!”.

Baru sadar rupanya, penduduk ibukota saat Pilkada DKI yang lalu hanya terseret arus fenomena Jokowi dan rame-rame memilih Jokowi. Mereka baru sadar pula terpilihnya Wakil Gubernur DKI, Ahok yang Kristen itu membawa konsekuensi, dia kini bebas menggelar Misa di Balaikota yang tak pernah ada sejak walikota pertama Jakarta Syamsurizal, hingga gubernur Bang Ali dan seterusnya. Bahkan kini sudah terbayang jika Jokowi tak terbendung lagi terpilih sebagai presiden pada 2014, niscaya Ahok akan naik menjadi gubernur DKI Jakarta.

Mampukah Jokowi menjawab pertanyaan mengapa di daerah-daerah Kristen seperti di NTT jangankan lurah, bupati dan gubernur saja tidak mungkin ada yang beragama Islam. Mengapa orang Islam tidak boleh menjadi lurah di NTT juga di Bali? Kenapa Jokowi menjelang Lebaran yang lalu melarang umat Islam takbir keliling di ibukota, dan menghapuskan event tahunan Takbir Akbar di Monas? Sebaliknya dalam kerangka Natal dan Tahun Baru yang lalu Jokowi menggelar pesta  besar-besaran di sepanjang Jalan Soedirman, Jalan Thamrin hingga Monas. Dan tak lebih 20 hari kemudian di lokasi pesta besar-besaran itu “dihajar” banjir besar, yang ikut merendam mobil super mewah dan membawa korban jiwa karena ikut terendam basemen gedung bertingkat.

Setelah “kejeblos” lubang pencitraan SBY yang telah membawa rakyat Indonesia hampir sepuluh tahun ini dalam kesia-siaan dan kemandegan, apakah rakyat Indonesia ingin masuk kembali ke lubang pencitraan Jokowi dan kembali sepuluh tahun ke depan menekuni kesia-siaan baru yang pasti kali ini akan menghancurkan daya tahan rakyat Indonesia menjadi lumat dibuatnya. Mengapa “kejeblos” dua kali ? Naudzubillah min dzalik!

Continue Reading
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template