Minggu, 22 September 2013

Lewat Media, Kita Membesarkan Iblis



DARI sekian kritik terhadap pengaruh budaya popular (pop) yang mengglobal saat ini, kita seolah selalu dituntun untuk menyalahkan faktor-faktor luar, sebut saja kuasa kapitalis, dominasi media, pengalihan isu, atau konspirasi pemerintah. Yang walapun memberi pengaruh besar, tapi sesungguhnya bukanlah akar dari permasalahan itu sendiri. Kegagalan melihat akar permasalahan dalam budaya pop berawal dari kegagalan memahami media massa dan media sosial.

Apa itu Media Massa dan Media Sosial?

Buku, sebagaimana dipopulerkan oleh mesin cetak Gutenberg adalah media massa pertama yang kemudian sukses mendukung gerakan Kristen Protestan dengan mencetak Bible Secara Massif, pamphlet dan proto-surat kabar juga telah berhasil menyukseskan revolusi Prancis dengan slogan liberty, egality, fraternity yang disebar secara massif ke seluruh Negeri. Radio dan televisi yang muncul kemudian juga telah menuai suksesnya masing-masing, entah sebagai alat propaganda di masa perang, atau penjaring pemilih di masa pemilu.

Kesalahan paling umum yang terjadi di masyarakat adalah anggapan bahwa media mass itu sifatnya netral. Selamanya, media tidak akan bisa netral, pertama karena kerancuan konsep netral itu sendiri, kedua karena media maknanya adalah alat yang tidak bisa berdiri sendiri tanpa konsep atau ideology yang menjadi tulang punggungnya.

Kesalahan berikutnya adalah anggapan bahwa media massa adalah cermin dari masyarakat itu sendiri. Adalah tidak masuk akal jika mengatakan masyarakat yang begitu majemuk ini dapat “direfleksikan” lewat cermin bernama media massa yang memiliki afiliasi terbatas.

Contoh, apakah stand up comedy di Metro TV mencerminkan humor Indonesia? Apakah film-film bioskop kita mencerminkan nilai-nilai Indonesia? Apakah acara Indonesia Lawyers Club di  TVOne itu betul-betul cermin aspirasi masyarakat Indonesia? Kalau “iya” adalah jawabannya, maka apa gunanya media-media itu punya redaktur dan editor? Media massa tidak pernah menjadi cermin masyarakat, tapi masyarakat bisa menjadi bayangan yang dibuat oleh media.

Selanjutnya yang tidak kalah penting adalah memahami kata “massa” dalam term “media massa”. Herbert Blumer (1939) mendefinisikan massa sebagai kumpulan khalayak besar  yang kosong “identitas” karena komposisinya yang heterogen dan mudah berubah, dan yang terpenting khalayak “massa” ini tidak bergerak sendiri melainkan bertindak reaktif. Cocok sebagai objek manipulasi.

Soal media sosial, seringkali kita terjebak dalam ide-ide bahwa media sosial adalah counter terhadap hegemoni media massa mainstream, citizen journalism, kebebasan berbicara dan berpendapat dan lain lain.

Kenyataanya jauh panggang dari api. Bisa kita lihat bahwa media sosial justru hanya menjadi penampung “gema” media-media mainstream tanpa mampu melakukan counter yang efektif. Media sosial kemudian hanya dipenuhi oleh wacana-wacana dari bibir mereka yang telah di”manipulasi” oleh media massa.

Contoh paling nyata adalah sosok Arya Wiguna, Vicky Prasetyo, dan bagi penggemar siaran luar Miley Cyrus. Statement yang kasar dan vulgar dari Arya Wiguna sudah banyak kita nikmati lewat label “parody”, bahasa yang ngawur dan ngelantur Vicky kita amini karena alasan tidak logis, lucu. Sementara perubahan image Miley direview dimana-mana. Apakah ini yang disebut counter media mainstream? Sadar tidak sadar, kadang kita sendiri yang membuat iblis itu besar.

Real Counter

Dengan pemahaman yang cukup sejatinya kita bisa melihat bahwa persebaran budaya pop ini lemah karena bersandar pada opini, persepsi dan stigma. Kita bisa mulai bertindak dengan tidak reaktif ketika dihadapkan dengan sebuah isu atau pemberitaan, sikap kritis juga perlu terus dibangun dalam koridor ilmu yang benar. Disini peran berkesinambungan dari para pendidik, baik orang tua, guru, tokoh Agama dan masyarakat diperlukan untuk secara bertahap membangun literasi terhadap media secara umum.

Kaum muda dan mereka yang tidak memliki cukup pemahaman terhadap pengaruh media adalah agen sekaligus korban dari budaya pop. Pendekatan  yang bijaksana diperlukan untuk merangkul mereka karena bisa jadi bukan cuma pemahamannya yang rusak tapi juga sisi psikologisnya. [eza]

Sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template