Minggu, 03 November 2013

Di Balik Kejatuhan Konstantinopel



Oleh: Ady C. Effendy

DI sepanjang sejarah Islam, mungkin satu-satunya peristiwa besar yang sebanding dengan atau lebih besar dari kemegahan peristiwa jatuhnya Konstantinopel (sekarang Istanbul) adalah Perang Salib yang dilancarkan oleh Pasukan Kristen untuk tujuan agama. Begitu megahnya peristiwa penaklukan itu sehingga mampu menyalakan api permusuhan dan sentimen-sentimen keagamaan antara kedua agama, Kristen dan Muslim, setelah berabad-abad kemudian.

Jikalau Yerusalem dipandang sebagai asal dan tempat suci bagi seluruh agama Kristen, maka Konstantinopel benar-benar dianggap sebagai representasi politik Kristen di dunia Timur, sebagaimana kota Roma yang membanggakan diri sebagai representasi politik dari agama Kristen di Barat. Dengan demikian, jatuhnya kota Konstantinopel sebagai simbol agung representasi politik agama Kristen telah menciptakan kebencian yang mendalam serta kecemasan dalam memori para pemimpin Kristen.

Peristiwa ini juga digunakan oleh Gereja untuk merekayasa citra/ imej barbarisme Muslim di hati orang-orang Kristen Eropa di abad-abad mendatang sesudahnya. Mengingat betapa pentingnya peristiwa kejatuhan Konstantinopel tersebut, tidak ada keraguan bahwa peristiwa jatuhnya

Konstantinopel sangat menarik untuk dibahas di era kontemporer saat ini. Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana berbagai faktor yang berbeda telah membuat penaklukan Konstantinopel, sebuah kota dengan pertahanan alami yang kuat, telah terwujudkan di tangan Sultan Muhammad II atau yang terkenal dengan Sultan Muhammad Al Fatih.

Beberapa faktor tersebut adalah konflik berkepanjangan dalam masyarakat Kristen sendiri, antusiasme keagamaan dan keimanan yang kuat di dalam diri kaum Muslim untuk mengambil alih kota penting yang merupakan lokasi sentral bagi para pemimpin Bizantium dalam merencanakan dan mengirimkan kampanye militer terhadap sesuatu yang dipandang sebagai ancaman baru yang muncul pada saat itu , yakni agama Islam, dan terakhir adalah peran teknologi dan disiplin militer yang secara efektif digunakan oleh Sultan Muhammad Al Fatih untuk mewujudkan cita-cita militernya.



Tulisan ini disusun dalam rangkaian sebagai berikut: sejarah ringkas kota Konstantinopel dan letak geografis yang disediakan untuk menjelaskan posisi geografis dan memahami latar belakang sejarah serta konflik tersebut; narasi tentang wacana keagamaan kaum Muslimin mengenai Konstantinopel dan bagaimana hadits Nabi Muhammad saw. Telah sangat mempengaruhi dan memotivasi semua khalifah Muslim sejak awal pemerintahan Islam untuk mengambil alih kota Konstantinopel, terakhir rangkaian sejarah mengenai saat-saat jatuhnya Konstantinopel dan penjelasan tentang faktor militer dan teknologi yang memberikan kontribusi bagi keberhasilan penaklukan, dan kesimpulan penutup.

A. Kota Konstantinopel: Sebuah Tinjauan Sejarah dan Geografis

Didirikan sekitar 650 SM oleh koloni Yunani dari sebuah kota dekat Athena yang dipimpin oleh Byzas dan untuk menghormati dia, kota ini akhirnya disebut sebagai Byzantion (nama lampau dari Konstantinopel), sebuah kota di semenanjung berbukit itu dianggap sebagai tempat yang sangat menguntungkan untuk menetap. Pada tanggal 11 Mei 330 SM, kota Byzantion jatuh di bawah pemerintahan Kristen, Kaisar Konstantinus Yang Agung telah memilih kota ini sebagai ibukota Kekaisaran Romawi Timur dan menamakannya kemudian sebagai kota Konstantinopel. Konstantinopel selama berabad-abad dianggap sebagai tempat yang paling tepat dan strategis di Bumi dan benar-benar menjadi penghubung banyak rute darat dan laut. Kota ini terletak di tanjung berbukit dengan pelabuhan alamiah di Tanduk Emas yang melindungi kapal dari angin kencang dan arus berbahaya dari Selat Bosporus, sebuah teluk sempit yang memisahkan Eropa dari Asia dan menghubungkan Laut Marmara selatan semenanjung dengan Laut Hitam ke utara. Laut Hitam itu sendiri adalah pusat transportasi utama untuk masuk ke Eropa dan Asia.



KONSTANTINOPEL, menurut Turnbull, selalu dibesar-besarkan terkait dengan kondisi strategis dan topografis sementara poin negatif dari kota ini selalu terabaikan dalam rangka untuk menggambarkan kota ini sebagai kota yang sempurna dengan pertahanan strategis alami. Beberapa sejarawan, seperti Polybius yang hidup pada abad ke-2 SM, menganggap lokasi kota Konstantinopel itu memang disukai untuk keamanan dan kemakmuran dalam kaitannya dengan wilayah lautnya tetapi terkait dengan lokasi daratannya kota ini dianggap sangat tidak menguntungkan dari sisi keamanan.
Hal ini menjelaskan mengapa Kaisar Konstantin membangun tembok perkasa atau benteng yang mengelilingi kota untuk melindungi kota dan mengurangi kerentanan atau ancaman yang tinggi dari sisi darat.

Menambah kerentanan geografis ini adalah sengketa doktrinal agama yang berkepanjangan antara Gereja Katolik Roma di bawah otoritas Kepausan di Roma dan Gereja Ortodoks Yunani Timur dibawah kewenangan Uskup Konstantinopel. Konflik terkait doktrin Kristen juga melibatkan para kaisar penguasa Konstantinopel dalam pertikaian agama semenjak dari Constantine I sampai para penerusnya.

Salah satu isu yang memecah belah pengikut agama Kristen Roma dan Ortodoks adalah terkait dengan larangan Alkitab terhadap penyembahan berhala. Selain itu, para uskup dan paus juga memperdebatkan tentang siapa yang harus mengontrol gereja di wilayah Balkan yang terletak di antara wilayah otoritas keduanya.

Konflik atas doktrin Kristen mencapai titik kulminasi pada tahun 1054 ketika kepala dari Gereja Ortodoks di Konstantinopel, Uskup Michael I Cerularius menulis surat kepada Paus Leo IX untuk mengutuk praktek Gereja Roma dalam apa yang disebut sebagai “daftar kesalahan dari orang Latin.” Paus Leo IX mengirim tiga delegasi untuk menyampaikan tanggapannya terhadap surat sebelumnya. Sebelum memberikan surat itu, berita datang bahwa Paus telah meninggal dan para delegasi dan Uskup memperdebatkan doktrin tanpa hasil apapun.


Para delegasi masuk ke dalam Gereja Hagia Sophia dan mengumumkan secara resmi pengkafiran Uskup Konstantinopel dari lingkungan Gereja Kristen. Pada gilirannya, Uskup turut mengkafirkan para delegasi. Hal ini menyebabkan apa yang dikenal sebagai Skisma Besar (Perpecahan) yang akan mempengaruhi situasi politik di Byzantium dan Timur Tengah di abad-abad mendatang.

Pada 1199, Perang Salib Ke-Empat diserukan oleh Paus Innocent III sebagai perang suci untuk mengambil alih kendali Yerusalem dari orang-orang kafir Muslim. Tidak sebatas itu, paus juga menyatakan perang melawan kaum pembuat bidah dan lawan-lawan politiknya yang termasuk kaum Muslim, kaum Slavia, kaum Mongol, para kaisar Hohenstaufen atau kaum Cathar pembuat bidah.

Pada 1202, meskipun diumumkan atas dasar slogan agama pada awalnya, tentara salib dalam perjalanan ke Yerusalem pada kenyataannya terlibat dalam penyerangan yang buruk dan tidak bermoral terhadap kota-kota Kristen Zara dan Konstantinopel serta terlibat juga dalam intrik-intrik politik antara para penguasa Bizantium. Penyerangan itu berakhir dengan tentara salib menyerang dinding Konstantinopel pada tanggal 8 April 1204.

Jumlah para pelindung kota Konstantinopel pada awalnya melampaui jumlah para penyerang dari tentara salib. Namun pada tanggal 12 April, beberapa tentara salib berkuda berhasil memasuki kota melalui gerbang kecil di dinding yang telah disegel. Para pelindung kota tiba-tiba melarikan diri setelah diserang oleh para tentara salib. Semakin banyak tentara salib memasuki kota. Orang Yunani mengenakan pakaian terbaik mereka dan berbaris di jalan-jalan untuk menyambut para pemimpin Latin baru.

Namun yang terjadi para tentara salib itu bertindak dalam cara yang sangat biadab sampai-sampai mereka tidak melepaskan seorang manusia pun atau sesuatu apapun, bahkan tidak pula Gereja Hagia Sophia. Tentara salib ini tidak menaruh rasa hormat sama sekali terhadap gambar atau relik suci, mereka juga tidak ada belas kasihan terhadap pelayan yang tidak bersalah atau para perawan yang mengabdikan diri kepada Tuhan.



 
PERISTIWA pembantaian ini telah membuat rekonsiliasi antara Gereja Katolik Ortodoks dan Romawi menjadi sesuatu yang mustahil. Penduduk keturunan Yunani di kota itu bahkan berpikir bahwa akan jauh lebih baik bagi kelangsungan hidup agama Kristen Ortodoks Yunani di kota itu apabila mereka diperintah oleh Sultan Muslim daripada menyerahkan diri di bawah kekuasaan Paus di Roma.
Perang saudara berkepanjangan dan konflik kepentingan di antara orang Kristen telah benar-benar melelahkan jiwa penduduk kota tersebut sehingga ketika Muslim Usmani akhirnya datang untuk mengambil alih kota, tidak banyak yang dilakukan oleh orang-orang Kristen Yunani untuk melawan melainkan mereka dengan sukarela menerima ini penguasa asing yang baru ini.

B. Penaklukan Konstantinopel: Motivasi dari Keimanan

Pengepungan dan penaklukan kota Konstantinopel Bizantium bukanlah rencana yang datang secara tiba-tiba pada masa Kekhilafahan Usmani sebagai ambisi militer untuk ekspansi. Sesungguhnya inspirasi dan upaya untuk menaklukkan Konstantinopel sudah diungkapkan selama masa Nabi Muhammad saw.



Dalam situasi terburuk Perang al Ahzab, Nabi Muhammad saw. telah menubuatkan penaklukan ini oleh para pengikutnya yang diriwayatkan dalam hadits masyhur: “Sesungguhnya engkau akan menaklukkan kota Konstantinopel, maka pemimpinnya adalah sebaik-baik pemimpin, dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara.” Hadits ini telah menginspirasi dan memotivasi para khalifah berikutnya dan tentara Islam setelah Nabi Muhammad saw. untuk memenangkan kehormatan dengan mewujudkan kabar gembira kenabian.

Sejarah mencatat beberapa upaya keras yang diupayakan oleh tentara Muslim awal untuk berbaris menuju kota Konstantinopel. Bani Umayyah memulai misi menuju ke kota Konstantinopel di awal-awal era Islam. Pada tanggal 1 September 653 M, Busr b. Abi Artat memimpin armada lengkap di Tripolis menuju kota Konstantinopel dan berhasil mengalahkan pasukan Yunani di Phoenix (Finika) di pantai Lisia, tetapi armadanya tidak benar-benar berhasil tiba di Konstantinopel, sementara pada waktu yang sama, Muawiyah memulai invasi wilayah Bizantium melalui operasi militer darat.

Upaya kedua diluncurkan oleh Abd al-rahman b. Khalid yang memimpin kampanye militer di tahun 44H/644M yang mencapai kota Pergamon, sedangkan Busr b. Abi Artat laksamana armada Umayyah berhasil mencapai Konstantinopel. Tahun setelah itu, pada 1 September 666M, Fadala b. Ubayd mencapai Chalcedon dan kemudian diikuti oleh Yazid bin Muawiyah, yang dikirim setelahnya. Pada 672M, armada Arab yang kuat di bawah kepemimpinan Busr b. Abi Artat berhasil melemparkan jangkar dari sisi pesisir Eropa Laut Marmara di bawah dinding kota dan menyerang dari bulan April sampai September. Setelah tujuh tahun pertempuran, armada tersebut pensiun dan kembali dengan banyak bagian yang terbakar oleh api Yunani.

Tentara darat dilaporkan telah berbaris didepan Konstantinopel pada 47H/667 M dan memulai pengepungan kota. Selama perang tersebut, seorang sahabat Nabi saw. yang terkenal, Abu Ayyub al Anshari Khalid b. Ziyad dilaporkan telah meninggal selama pengepungan dan dikuburkan disamping dinding Konstantinopel. Tahun pasti kematian tidak diketahui. Upaya penaklukan akhirnya berakhir dengan gencatan senjata selama 40 tahun antara Bizantium dan Bani Umayyah.

Pada 97H/715-16M, Khalifah Sulaiman b. Abd al-Malik naik takhta dan melanjutkan ekspedisi. Dia mengirim saudaranya Maslama untuk memimpin tentara melalui Asia Kecil, menyeberangi Dardanella di Abydos dan memulai pengepungan atas kota Konstantinopel. Armada Arab Muslim juga sebagian berlabuh di dekat dinding di pantai Laut Marmara dan sebagian lagi di Bosporus, sedangkan tanduk emas dilindungi oleh rantai raksasa. Pengepungan dimulai 25 Agustus 716 M dan berlangsung sepanjang tahun, tetapi akhirnya berakhir karena persediaan yang terbatas dan adanya serangan lainnya oleh bangsa Bulgaria.

Sebelum mengakhiri pengepungan dan membuat perjanjian damai, Maslama dilaporkan telah membangun masjid pertama di dalam kota Konstantinopel dan membuat bangunan rumah dekat Istana Kekaisaran Byzantium untuk tahanan perang dari pihak Muslim Arab. Hal ini telah disetujui sebagai syarat dari perjanjian damai.



Pada 165H/782M, di masa pemerintahan Abbasiyah, Harun, putra Khalifah al-Mahdi, dilaporkan telah bergerak melalui Asia Kecil dan kemudian mendirikan kemah-kemah mereka di Chrysopolis. Kekaisaran Bizantium di bawah Ratu Irene dengan cepat menawarkan kesepakatan damai dan setuju untuk membayar upeti. Al-Mahdi dan Harun telah meluncurkan tidak kurang dari empat pengepungan secara berkala terhadap Konstantinopel dan berhasil dalam upaya kedua untuk mendapatkan seperempat wilayah di kota tersebut.

Setelah catatan sejarah upaya Arab Muslim untuk menangkap Konstantinopel ini, tidak ada lagi upaya-upaya militer signifikan yang dilakukan untuk menyerang kota itu sekali lagi. Salah satu alasan yang mungkin menjelaskan kevakuman dari kampanye militer terhadap kota ini adalah dikarenakan dinasti Abbasiyah mulai disibukkan oleh masalah-masalah dalam negeri mereka dan perebutan kekuasaan di dalam istana.

Ini praktis membuat dinasti kekhliafahan tidak mampu mempertahankan beberapa wilayahnya yang diambil alih oleh pemberontak. Dengan demikian, tampaknya mustahil bagi Abbasiyah untuk memulai serangan baru.






SETELAH runtuhnya Abbasiyah, Kekhilafahan Islam yang kuat Turki Usmani, yang dinamai sesuai pendirinya, Usman, menjadi semakin kuat. Memulai kerajaannya dari sepetak kecil tanah di barat Konya, dekat perbatasan dengan Byzantium, Osman dan rakyatnya bertambah kuat dan mulai menjelajah ke arah barat menuju tanah Byzantium Kristen. Sultan-sultan baru dari kerajaan ini sejak dini telah memulai kampanye mereka untuk mengambil alih kota Bizantium.

Kampanye militer yang nyata terhadap dinding Konstantinopel, dimulai oleh Sultan Usmani bernama Bayezid I pada 1390, juga disebut sebagai Yildirim (sang petir). Ia berencana untuk menghancurkan dinding besar Konstantinopel atau membuat kelaparan penduduk kota itu sampai mereka menyerah.

Kaisar Byzantium Manuel II Palaeologus meminta bantuan dari penguasa Kristen. Dua Paus Romawi di Roma dan Avignon, Prancis yang berseteru sama-sama menyerukan perang salib melawan Kerajaan Usmani. Sekitar seratus ribu orang di bawah kepemimpinan raja Hungaria meluncurkan perang salib. Ketika mereka sampai di Nikopolis, salah satu kota Bulgaria, tahun 1396M, Bayezid berbaris dengan pasukannya di sana dan mengalahkan tentara salib.

Pada 1397M, upaya Bayezid untuk menaklukkan Konstantinopel ditandai dengan pembangunan sebuah kastil yang disebut Anadolu Hisar (berarti “benteng Anatolia “) di sisi pantai Asia dari Selat Bosporus. Pengepungan berlangsung sampai September 1402M, namun akhirnya ditarik oleh Bayezid untuk mengkonsentrasikan pasukannya untuk mempertahankan Anatolia dan wilayah kekuasaannya lainnya dari invasi Tatar.

Dia akhirnya ditangkap oleh Tatar dan meninggal di penjara. Pengepungan Konstantinopel untuk sementara terhenti karena kelemahan pemerintahan Usmani setelah kekalahan yang telah menguras wilayah mereka dan meninggalkan bagi mereka hanya sebagian kecil dari tanah di barat laut Anatolia, wilayah asli mereka. Setelah Raja Mongolia Timur meninggal tahun 1405, Usmani berjuang untuk mendapatkan kekuatannya kembali dan mereka berhasil dalam upaya ini.

Musa, putra Bayezid itu, kembali menguasai Thrace dan Serbia, dan memulai pengepungan Konstantinopel tahun 1410M, namun ia dibunuh tahun 1413M. Saudaranya Muhammad menggantikannya. Pada 1421M, Muhammad meninggal dan putranya Murad II naik takhta. Kenaikan tahta Sultan Murad II membuat khawatir kaisar Bizantium Manuel II yang berjuang untuk mendapatkan bantuan guna melindungi kota.

Meski demikian, Kaisar Manuel II menolak untuk menciptakan persatuan antara Gereja Roma dan Gereja Ortodoks karena khawatir bahwa tindakan tersebut akan mengakibatkan timbulnya dampak politik yang membuat Turki Usmani untuk melihatnya sebagai kerja sama militer bersama untuk menyerang wilayah Muslim. Putranya, John VIII Palaeologus datang sebagai kaisar berikutnya, melakukan hal yang berlawanan. Dia bernegosiasi dengan Paus Eugenius IV, yang memintanya untuk mengirim delegasi Uskup Ortodoks ke sinode (dewan) dari pemimpin agama Romawi. Delegasi setuju dengan persekutuan agama yang diusulkan dengan Roma, meskipun adanya penolakan dari para uskup gereja timur.

Paus menyerukan perang salib melawan Turki Usmani Muslim. Orang-orang Turki Muslim, pada waktu itu, sedang memperluas wilayah mereka dan berhasil mengambil kota Tesalonika pada tahun 1430M serta menaklukkan benteng di Sungai Danube yang mengancam bangsa Hungaria. Namun, mereka mampu memukul mundur pasukan Turki Usmani. Pada bulan Juni 1444M, kedua belah pihak menyepakati gencatan senjata selama sepuluh tahun yang melarang kedua belah pihak untuk menyeberangi Sungai Danube.


C. Kejatuhan Konstantinopel: Faktor di balik Keberhasilan Penaklukan

SETELAH gencatan senjata, Sultan Murad II secara mengejutkan menyerahkan tahta kepada putranya Muhammad II, yang pada saat itu baru berusia dua belas tahun. Pada Rabi II 848 H/ Juli 1444M, Muhammad II diangkat sebagai sultan oleh ayahnya. Dia ingin mempersiapkan anaknya untuk sesegera mungkin mengambil alih kekuasaan yang telah menyibukkan dirinya seumur hidupnya.

Alasan lain yang disebutkan untuk suksesi yang sangat cepat ini adalah bahwa Sultan Murad II ingin memastikan legitimasi pemerintahan putranya melawan seorang pangeran palsu keturunan Turki Usmani yang mengklaim kekuasaan dan tinggal di dalam kota Konstantinopel, yaitu pangeran Orkhan.

Pemerintahan pertama Sultan Muhammad II yang tercatat dari Rabi II 848H / Juli 1444M hingga Djumada II 850H/August 1448M, menemui kegagalan. Krisis internal pemberontakan Hurufi di Edirne pada 8 Djumada II 848/22 September 1444. Krisis eksternal yang ditimbulkan oleh fakta bahwa sepuluh tahun gencatan senjata rupanya dilanggar oleh raja Hungaria yang menyeberangi sungai ke Bulgaria. Paus mengampuni raja Hungaria atas sumpah yang telah diucapkannya dengan alasan bahwa hal itu tidak berlaku karena ia bersumpah untuk seorang kafir. Dalam 4-8 Djumada II 848 H/ 18-22 September 1444M, raja dan tentara salib siap untuk pertempuran.

Pada bulan November 1444, dengan bantuan pelaut Genoa, tentara Usmani di bawah Murad II menyeberang ke Eropa dan melawan tentara salib di dekat pelabuhan Laut Hitam Varna, utara dari Konstantinopel. Dinasti Utsmani menang secara telak, raja Hungaria tewas, dan hanya sedikit yang lolos.

Murad II mengupayakan untuk memastikan suksesi Sultan Muhammad II setelah mengajaknya untuk turut dalam kampanye militer yang besar di kawasan Balkan – melawan Hungaria di Kossova di 852H/1448M, dan melawan Albania pada musim panas 854H/1450M. Murad II memerintahkan anaknya untuk menikahi Sitti Khatun putri Dzul Kadirid penguasa, yang secara tradisional merupakan sekutu Turki Usmani melawan Karamanids, dan kemudian tinggal di istana ayahnya di Manisa, Anatolia. Tak lama setelah menerima kabar kematian ayahnya, Sultan Muhammad Al Fatih sekali lagi kembali ke tahta Usmani pada 16 Muharram 855H/18 Februari 1451M.

Ancaman eksternal terus menempatkan kepemimpinan Sultan Muhammad II dalam ancaman. Kaisar Bizantium, dalam upaya untuk mendapatkan konsesi dari Sultan Muhammad II, mengancam untuk melepaskan pangeran Orkhan. Pada saat yang sama, Karamanid Ibrahim menginvasi wilayah sengketa di Hamid-ili. Wazir Candarli berhasil menahan Byzantium dan Serbia dengan konsesi teritorial, sedangkan sultan muda memulai kampanye militer pertamanya melawan pasukan Karamanid tersebut.

Ancaman Kaisar Bizantium tidak selesai dengan pemberian konsesi sebelumnya. Bahkan, karena mengejar kekayaan, kaisar Kristen itu kembali mengancam untuk melepaskan pangeran Orkhan. Sultan Muhammad II, setelah mencapai kesepakatan dengan Karamanid, bertekad untuk kembali ke Edirne dan memecahkan masalah Bizantium secara tuntas. Dengan dukungan Panglima militer Zaghanos, ia mulai merencanakan pukulan militer yang akan mematikan kerajaan tua itu, pertama dengan membangun kastil Boghaz-Kesen di Bosphorus.

Dia juga telah mengamankan perjanjian dengan Venesia (13 Sha’ban 855/10 September 1451) dan Hungaria (25 Syawal 855/20 November 1451) serta menyewa seorang ilmuwan Hungaria bernama Urban untuk menciptakan meriam paling kuat yang pernah dikenal untuk menghancurkan dinding tua Konstantinopel. Panglima Zaghanos dan Syekh Shihabuddin mendukung perang tersebut seraya menegaskan ancaman bahaya yang ditimbulkan dari Bizantium untuk kekhilafahan Islam dan dapat memecah kesatuannya. Keberhasilan penaklukan akan sangat tergantung pada efisiensi waktu dan efektivitas pengepungan.
 

PADA bulan Maret 1453M, tentara Usmani meluncurkan long-march menuju kota. Pada tanggal 2 April, orang di kota melihat tentara besar sejumlah lebih dari seratus ribu tentara mendekati kota. Kaisar Constantine XI benar-benar cemas dengan situasi tersebut. Seorang berkebangsaan Venesia bernama Nicolo Barbaro telah tiba pada musim semi di kota itu.

Kaisar sangat menghargai dukungan ini pada situasi yang sangat mengkhawatirkan sehingga ia memberikan empat gerbang kota dan semua kunci yang ada pada mereka kepadanya. Para penjaga Konstantinopel juga memblokade Golden Horn dengan rantai besi untuk mencegah berlalunya setiap armada laut Turki Usmani. Populasi kota selama pengepungan itu diperkirakan berjumlah sekitar dua ribu orang asing dan 4,773 orang Yunani untuk melindungi dinding kota yang panjangnya 23 km.

Di sisi lain, Tentara Turki Usmani berkemah di luar tembok kota. Para tentara elit Janissary menjaga tenda merah dan emas tempat Sultan Muhammad Al Fatih berdiam, sedangkan tentara reguler menduduki dua daerah: “barat kota sepanjang daerah dataran rendah di sekitar Sungai Lycus, yang mengalir melalui tengah Konstantinopel, dan di dekat Barbaro Galata / Pera di pantai utara Golden Horn.” Diperkirakan terdapat sekitar 145 kapal Turki Usmani rendah berlabuh di Kolom Ganda, sebuah pelabuhan di Bosporus yakni 3 km sebelah utara kota. Mempertahankan kota Konstantinopel dari laut adalah Alvise Diedo, seorang kapten kapal dan pedagang Venesia, yang menguasai sekitar dua puluh enam kapal tinggi dan perahu-perahu kecil, dan bertugas mempertahankan pelabuhan Golden Horn

Sebelum pengepungan dimulai, Sultan, mengikuti tradisi Islam, menawarkan warga Konstantinopel kesempatan untuk menyerah, pilihan yang akan menyelamatkan hidup dan harta mereka. Tetapi kaisar yang sombong terlalu mustahil untuk mengambil penghinaan seperti itu.

Pada tanggal 6 April pengepungan bersejarah dimulai dengan membuka tembakan meriam yang merusak parah dinding dekat gerbang Charisian sekitar setengah mil (0.8 km) utara Sungai Lycus. Para pembela kota berusaha untuk memperbaiki dinding. Beberapa hari kemudian, meriam membombardir dinding lagi dan benar-benar menghancurkan tembok luar sehingga memaksa para pelindung kota untuk membangun sebuah benteng tanah dan kayu di atasnya.

Dampak meriam sangat besar sehingga meninggalkan lubang di dinding yang tidak dapat diperbaiki. Namun, meriam itu hanya bisa ditembakkan tujuh kali sehari dan membutuhkan persiapan lama sebelum penembakan.

Pada tanggal 15 April, selama pengepungan, empat kapal penuh persediaan berlayar menuju kota, didanai oleh Paus dan duta besar Konstantinopel, melalui Laut Marmara. Suleiman Baltoghlu, laksamana armada Turki Usmani, mengerahkan puluhan kapal untuk mencegat dan menghancurkan empat kapal itu. Sayangnya, angin yang bertiup melawan arus membuat kapal-kapal Turki Usmani tidak mampu bermanuver.

Kapal Italia yang lebih tinggi dan bersenjata lengkap secara mengherankan lolos dan masuk ke Pelabuhan Tanduk Emas setelah para pelaut itu berhasil memukul kembali pelaut Turki  Usmani dengan tombak, kapak, batu dan panah. Di darat, tentara Usmani cukup berhasil. Giovanni Giustiniani memimpin para pembela kota dengan berani dan memukul kembali upaya musuh untuk membakar benteng dan membunuh para pembelanya. Setelah empat jam, pasukan Usmani mundur.

Para pembela kota mengambil kesempatan untuk memperbaiki lubang di dinding dengan balok kayu, tanaman merambat, cabang, bumi dan puing-puing. Sementara itu, Sultan telah merencanakan untuk memasuki pelabuhan Golden Horn dengan membangun jalan yang tidak lazim melintasi lereng bukit dekat Galata / Pera ke pelabuhan.

Keesokan harinya, sekitar tujuh puluh kapal Turki Usmani berlayar menuju rantai besi. Satu per satu, kapal diangkat dan ditarik ke darat. Pasukan Lembu dan roda menyeret kapal-kapal itu ke gelondongan kayu yang diminyaki dengan lemak hewan … dan dalam hitungan jam kapal-kapal itu telah tiba dengan aman di dalam Golden Horn. “Keberhasilan pelaut Turki Usmani dalam memasuki pelabuhan telah membuat populasi kota lebih menderita karena kehabisan persediaan dan terhalang dari memancing ikan.

Di dalam kota Konstantinopel, orang-orang Kristen dari semua sekte berkumpul ke Gereja Hagia Sophia untuk mengadakan Misa bersama-sama. Mereka bersatu setidaknya untuk sesaat setelah sengketa selama berabad-abad antara gereja Yunani dan Latin. Giustiniani dan tentaranya mengambil posisi antara dinding bagian dalam di Lycus Valley dan benteng luar di mana tentara Turki Usmani pasti akan menyerang. Gerbang pada dinding bagian dalam di belakang mereka ditutup. Tidak ada jalan bagi mereka untuk mundur.



PADA pagi hari Selasa, tanggal 29 Mei 1453M, serangan berkekuatan penuh dimulai. Teriakan disela pertempuran, suara drum, alat musik, dan terompet dibunyikan oleh tentara Usmani seluruh lembah, dan diikuti oleh lonceng gereja yang memperingatkan penduduk kota dari ancaman yang datang. Pertempuran dimulai dengan serangan oleh tentara non reguler yang sebagian besar berasal dari Balkan.

Mereka berupaya untuk mendaki berbagai daerah sepanjang dinding menggunakan tangga untuk menyibukkan dan mengalihkan perhatian para pembela kota dari pertempuran utama di bagian Lycus Valley. Setelah dua jam pertempuran, tentara non regular diperintahkan untuk mundur.

Sekarang, tentara reguler, yang bersenjata lengkap, sangat disiplin dan sebagian besar dari Anatolia menyerbu Lycus Valley. Sementara itu, meriam raksasa Urban terus menghancurkan dinding tanpa menyisakan waktu yang memadai untuk perbaikan oleh pembela.

Setelah dua jam, para pasukan Janissary (pasukan elit khusus) menyerbu ke lapangan pertempuran, sementara Muhammad Al Fatih memimpin sejauh parit. Para pembela yang kelelahan berjuang tanpa rasa takut selama satu jam.

Salah satu kelemahan, bagaimanapun, mulai terungkap oleh tentara Turki Usmani, sebuah gerbang kecil – Kerkopotra – di sudut barat laut kota itu dibiarkan terbuka. Itu digunakan untuk memungkinkan pembela kota untuk menyelinap dan meluncurkan serangan rahasia pada musuh, tapi terbuka karena seorang tentara pembela kota tampaknya lalai ketika ia masuk kembali ke kota.

Orang-orang Turki Usmani bergegas memasuki pintu gerbang, beberapa dari mereka dipukul mundur, tetapi beberapa puluh tentara berhasil masuk ke dalam kota. Saat matahari terbit, pemimpin militer kota, Giustiniani, tertembak di jarak dekat, yang merusak baju pelindungnya.

Setelah menerima cedera parah ini, semangat pertempuran telah benar-benar hilang darinya dan ia bergegas menaiki kapal untuk meninggalkan medan perang. Ketika gerbang dibuka oleh pasukan Turki Usmani, kepanikan telah mengalahkan semangat para pembela kota sehingga beberapa meninggalkan posisi mereka.

Dalam pukulan terakhir terhadap pasukan pelindung kota, Muhammad Al Fatih memerintahkan pasukan elit khusus (tentara Janissari) untuk memperbaharui serangan mereka dan para pembela benar-benar melarikan diri saat ini. Bendera kekaisaran Bizantium akhirnya dirobek dan digantikan dengan bendera Kekhilafahan Islam Turki Usmani. Konstantinopel telah jatuh dan sejarah Bizantium benar-benar berakhir sepenuhnya tanpa kemampuan lebih lanjut untuk bangkit kembali.

Setelah menerima sinyal kemenangan, sisa tentara Usmani bergegas ke kota. Para pelaut di kapal perang Turki Usmani di Golden Horn menyerang dinding pelabuhan dan keluarga nelayan membuka gerbang dan mendapatkan janji bahwa mereka tidak akan dibunuh. Kaisar Byzantium, Konstantinus XI, telah menghilang dari tempat kejadian, tanpa catatan sejarah kemana perginya.

Sultan Usmani kembali ke tendanya dan memenuhi janjinya kepada orang-orang dari kota Konstantinopel dan Galata / Pera bahwa keluarga dan harta mereka akan dibiarkan utuh, sementara tentaranya mengambil ghanimah dari sebagian besar harta yang tersisa didalam kota.



CATATAN sejarah tentang konflik sektarian berkepanjangan yang melanda tanah Kristen terutama di Konstantinopel dan upaya tanpa henti oleh para pemimpin Muslim sepanjang era keemasan Islam untuk merebut Konstantinopel telah menunjukkan kepada kita bagaimana wacana agama selama abad pertengahan memainkan peran yang sangat penting dalam rangkaian peristiwa di masa lalu.

Para tentara Perang Salib yang dikirim setelah seruan dari Paus di Roma untuk mengambil alih tanah suci Yerusalem dari orang-orang kafir telah membawa dampak negatif bagi tanah Kristen. Alih-alih berhasil dalam upaya mereka untuk merebut kembali tanah suci, Pasukan Salib malahan menghancurkan kehidupan Kristen di kota Konstantinopel Bizantium dan kota Kristen di dekatnya.

Hal ini telah menyebabkan ketidakpuasan yang sangat mendalam pada sisi Kristen Ortodoks Yunani terhadap Gereja Katolik Roma. Hal ini akhirnya membuka jalan bagi Kekhilafahan Usmani Muslim sehingga berhasil merebut kota bersejarah itu dan menyebabkan pukulan telak bagi kekaisaran Kristen Bizantium yang telah berdiri selama berabad-abad tanpa ada kemampuan untuk menghidupkan kembali dinasti yang punah itu.

Alasan yang mungkin dikemukakan untuk ketidakmampuan ini adalah fakta bahwa para pemimpin dan penduduk di kota Kristen telah benar-benar lelah dengan konflik berkepanjangan dengan Gereja Roma. Hal ini menyebabkan mereka lebih memilih hidup damai di bawah pemerintahan Usmani Muslim yang menjamin kebebasan mereka dan memperlakukan mereka dengan adil daripada hidup di bawah Gereja Roma yang sangat menindas. Aturan Usmani selama abad pertengahan itu terbukti sangat adil dan damai terhadap orang Kristen dan Yahudi yang bahkan cenderung dianiaya di tanah Eropa pada abad pertengahan.

Faktor lain yang mendukung kemenangan Utsmani dalam menaklukkan ibukota Bizantium adalah faktor teknologi militer canggih. Keputusan untuk menyewa Urban, seorang ilmuwan Hungaria, untuk menciptakan meriam terkuat yang pernah ada di zaman pertengahan telah menjadi factor penting bagi keberhasilan pengepungan.

Faktor terakhir yang berkontribusi terhadap kemenangan yang menentukan terhadap kekaisaran Bizantium selama berabad-abad adalah semangat keimanan yang membakar tanpa kenal lelah kekuatan militer Muslim Usmani pada umumnya, dan terutama Sultan Muhammad Al Fatih.

Akhirnya, jatuhnya Konstantinopel tidak akan mungkin terjadi tanpa faktor-faktor tersebut. Keruntuhan dari Kekaisaran Bizantium juga tidak mungkin untuk dipertahankan jika masih ada percikan semangat pada hati orang-orang Kristen Yunani untuk menghidupkan kembali kekaisaran mereka.

Adalah rasa jijik selama berabad-abad dan kelelahan yang luar biasa akan konflik sektarian Kristen dan persepsi umum mereka akan keadilan kekhilafahan Muslim yang baru telah membantu dalam menjaga stabilitas pemerintahan Kekhilafahan Utsmani yang panjang atas penduduk Kristen Yunani di wilayah tersebut. [Sumber]

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template