Senin, 25 November 2013

Menegakkan Khilafah, Seberapa Pentingkah?



Atifa Rahmi
Mahasiswa Pendidikan Kimia, UPI

Islam merupakan sebuah agama yang sempurna, mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, meliputi hubungan manusia dengan Penciptanya, manusia dengan dirinya sendiri dan manusia dengan manusia lainnya.  Hal ini berarti Islam mengatur masalah ibadah, tata cara berpakaian, berakhlak, berekonomi, berpendidikan, berinteraksi dengan lawan jenis, bahkan berpemerintahan sekalipun. Kesempurnaan Islam meniscayakan penerapannya secara sempurna pula. Hal ini dapat diwujudkan dalam bingkai sebuah negara. 

Penerapan Islam secara sempurna  telah pernah dilakukan selama 13 abad lebih dimulai dari masa Rasulullah saw, dilanjutkan oleh khulafaur rasyidin dan para khalifah sesudahnya, hingga berakhir pada tanggal 3 Maret 1924, tatkala kekhilafahan Ustmani diruntuhkan oleh Musthafa Kemal la’natullah dengan bantuan Inggris. Keruntuhan khilafah ini memberikan dampak yang besar terhadap kaum muslimin, diantaranya:

1. Kaum muslimin terpecah-belah menjadi  negara- negara kecil nan tak berdaya.


Kaum muslimin yang awalnya bersatu  padu dalam sebuah negara yang menerapkan aturan Islam, terpecah menjadi menjadi lebih 56 negara kecil. Ikatan nasionalisme telah menggeser kedudukan ikatan akidah di tengah- tengah kaum muslimin. Saat ini, kaum muslimin umumnya bangga dengan bangsanya, namun mereka tidak bangga dengan keislamannya.  Terbukti, hanya gara – gara masalah sepak bola, penduduk Indonesia dan Malaysia yang notabene mayoritas muslim malah saling baku hantam. 

Nasionalisme jugalah yang bertanggung jawab atas terjajahnya kaum muslim di Palestina oleh Israel. Milyaran kaum muslimin tak berdaya melawan Yahudi la’natullah yang jumlahnya hanya jutaan orang, itu semua hanya karena kita beda negara. Dalam konsesus internasional saat ini, dilarang untuk mengintervensi urusan negara lain, walau sebenarnya kita sama- sama muslim.  Di saat yang sama, kekayaan negeri- negeri kaum muslimin dijarah oleh orang-orang kafir. Sehingga, kaum muslimin tetap miskin lagi terbelakang walau tanah yang mereka tempati memiliki kekayaan yang melimpah ruah. Sungguh, keadaan kaum muslimin saat ini telah membuktikan kebenaran yang disampaikan oleh lisan Rasullah saw berikut:

“Dapat diperkirakan bahwa kamu akan diperebutkan oleh bangsa- bangsa lain sebagaimana orang- orang berebut melahap isi mangkok. Para sahabat bertanya, “Apakah saat itu jumlah kami sedikit, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak, bahkan saat itu jumlah kalian banyak seklai tetapi seperti buih air bah (tidak berguna)” (HR. Abu Daud)

2. Dicampakkannya aturan Allah Swt.

Saat kaum muslimin telah terpecah menjadi negara- negara kecil, kaum kafir barat pun memasukkan sistem kehidupannya di tengah kaum muslimin sebagai upaya untuk menjauhkan Islam dari kaum muslimin. Sehingga, diterapkanlah sistem demokrasi terhadap negeri- negeri Islam. Dalam usaha penerapan ini, kaum kafir menggunakan prinsip ‘stick and carrot’. Stick (kekerasan) bagi siapa saja yang menolak demokrasi dan carrot (barat bersikap lunak) bagi siapa saja yang mau menerima demokrasi. Lalu, bahaya apa yang dapat ditimbulkan oleh penerapan demokrasi?

 Sistem demokrasi memiliki dua asas, yaitu kedaulatan di tangan rakyat dan kekuasaan di tangan rakyat. Kedaulatan di tangan rakyat berarti hak membuat hukum/ aturan ada di tangan rakyat,  dalam hal ini diwakilkan oleh para anggota legislatif. Sebagaimana yang kita ketahui, anggota legislatif adalah manusia. Sedangkan  manusia bersifat lemah dan terbatas, tak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini. Akibatnya, aturan yang dihasilkan oleh para anggota legislatif pun adalah aturan yang lemah dan terbatas juga, cenderung hanya memihak pada golongan tertentu saja. Sedangkan aturan Allah swt dianaktirikan hanya sebagai aturan dalam beribadah ritual saja. Akibatnya, kerusakan pun terjadi di mana-mana, kemeralatan melanda, krisis moral tak terbendung, kriminalitas menjadi hal yang lumrah, bencana yang terjadi pun tak terhitung lagi. Allah swt berfirman:

Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (TQS. Al-Maaidah:50)

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
(TQS. Ar-Ruum:41)

3. Islamophobia


Keruntuhan daulah Islam tidak membuat orang- orang kafir puas. Mereka masih terus melancarkan makar- makar jahat untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin, sebagaimana firman Allah swt:

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.
(QS. Al-Baqarah:120)

Salah satu upaya orang kafir untuk menghancurkan Islam adalah dengan mengidentikkan Islam dengan stigma- stigma negatif seperti, teroris, miskin, radikal, ekstrim, agama yang tidak toleran dan lain sebagainya. Walhasil, pandangan ini tidak cuma tertanam di benak kaum kafir saja, tapi bahkan telah tertancap kuat dalam benak kaum muslimin sendiri. Penerapan sekulerisme, pemisahan agama dari kehidupan, di negeri- negeri kaum muslimin telah mengerdilkan Islam sebatas ibadah ritual saja. Sehingga, ketika ada yang mengatakan Islam mengatur masalah pemerintahan, ekonomi, sanksi serta yang berusaha menerapkan Islam secara keseluruhan dalam kehidupan biasanya selalu diangap sebagai radikalis, ekstrimis, teroris, separatis dan berbagai julukan negatif lainya.

Padahal, sebagai seorang muslim, penerapan Islam secara sempurna adalah konsekuensi dari dua kalimat syahadat yang telah diucapkan. Allah Swt berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.
(QS. Al-Baqarah: 208)

Oleh karena itu, marilah kita bersama- sama memperjuangkan penerapan Islam secara sempurna dalam kehidupan kembali, mendobrak batas- batas negara yang telah memisahkan kita yang sebenarnya hanyalah sebatas garis ilusi di dalam peta, serta menyatukan kaum muslimin di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyyyah. Allah swt berfirman:

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (TQS. An-Nur:55)

Khilafah adalah janji Allah swt. dan Rasul-Nya. Allah swt dan Rasulnya tidak pernah berbohong. Ikut atau tidaknya kita dalam perjuangan ini tidak akan  mengubah ketetapan Allah Swt. Berjuang atau tidaknya kita, ajal akan tetap menghampiri. Lalu, tidakkah kita tergiur dengan tawaran Allah swt terhadap orang- orang yang memperjuangkan agamanya? 

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (TQS. At-Taubah:111)

Sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template