Minggu, 16 Maret 2014

Konspirasi Lampu Bohlam



KONSPIRASI memang bukan barang baru, bahkan melebihi kelas lampu bohlam dalam soal umur. Bagi penggemar fanatik dan pembenci fanatik teori-toeri konspirasi, judul diatas biasanya akan langsung digambarkan sebagai sebuah rencana global untuk menaklukan dunia dengan lampu bohlam. Atau yang lebih moderat akan langsung mengambil kesimpulan bahwa “lampu bohlam” adalah sebuah sandi rahasia dari perkumpulan rahasia tertentu untuk menguasai dunia.

Sayangnya, sama seperti konspirasi-konspirasi sejati, konspirasi lampu bohlam ini tidak terjadi dan terlaksana secara sembunyi sembunyi. Tapi justru terjadi secara terang-terangan dan terbuka, bahkan bis digambarkan persis berada di depan mata kita. Dan sebagaimana sebuah kata-kata dari band U2, more you see the less you know.

Masyarakat modern ini hampir pasti tidak pernah lepas dari alat-alat elektronik yang membantu meringankan pekerjaan sehari-hari, mulai dari komputer, televisi, printer, smartphone, lemari es, pendingin ruangan, mesin cuci elektrik dan masih banyak lagi. Alat-alat ini begitu tampak mengesankan hati kita sampai tiba saatnya ia rusak.

Ambil contoh ketika anda sedang tergesa-gesa hendak mencetak dokumen untuk keperluan kantor tiba-tiba printer yang biasanya bekerja mulus tanpa gangguan mendadak ngadat. Padahal masa garansinya baru habis sehari yang lalu, rasa kesal mungkin menghantui anda, tapi biasanya rasa kesal itu akan terus berlanjut sampai anda berinteraksi dengan teknisi perbaikan atau costumer service.

Dari tiga gerai service yang anda kunjungi, tiga-tiganya menyarankan agar anda sebaiknya membeli printer baru. Karena, walau berbeda tempat, mereka bersepakat bahwa biaya perbaikan printer anda akan sama mahalnya dengan membeli printer baru. Padahal bisa jadi anda baru menggunakan printer itu hanya untuk mencetak sekitar 20 lembar tulisan selama dua atau satu tahun terakhir (tergantung masa garansi).

Contoh kejadian diatas dapat berlaku pada produk apa saja, siapa saja dan kapan saja. Dan dengan kesadaran sendiri kita akan membeli produk baru dan kemungkinan besar akan mengulang kasus yang sama.

Planned Obsolescence (Keusangan yang Terencana)

Tahukah anda bahwa di dunia ini ada lampu bohlam yang terus menyala selama lebih dari seratus tahun? Google biasa menjadi kawan karib dalam mencari jawaban, tapi tanpa perlu membuka browser internet, jawabannya juga dapat ditemukan di sini.

Ada, dan lampu bohlam ini dapat ditemukan di kantor pemadam kebakaran Livermore California Utara, AS. Bohlam lima watt produksi Shelby Electronic Company ini sudah menyala sejak tahun 1901 sampai dengan sekarang. Lalu bagaimana keawetan lampu pijar yang kita pakai saat ini?
Lampu bohlam yang ditemukan oleh Humpry Davy pada tahun 1809 berhasil dibuat menjadi produk dengan produksi missal oleh Thomas Edison. Pada tanggal 23 Desember 1924 para produsen lampu bohlam besar seperti Osram, Philips, Tungsram, dan General Elektrik menggagas Phoebus cartel dengan tujuan membentuk sebuah standart bersama terkait produk lampu bohlam.

Uniknya selama kurang lebih 15 tahun Phoebus cartel  ini berjalan (1924 s/d 1939), umur pemakaian dari bohlam produksi perusahaan-perusahaan yang berkongsi di Phoebus cartel  ini makin lama makin pendek. Hal ini memancing pertanyaan banyak kalangan, belakangan diduga bahwa Phoebus cartel telah dengan sengaja memangkas umur lampu bohlam mereka agar penjualan lampu bohlam dapat terus meningkat.

Jika pada zaman itu memperpendek umur serta mengurangi kualitas suatu produk agar cepat rusak dan konsumen segera mengkonsumsi barang baru adalah cara yang paling efisien untuk meningkatkan penjualan. Maka di era informasi dimana media massa memiliki pengaruh kuat, iklan menjadi kekuatan baru dalam gerakan planned obsolescence ini.

Lewat tampilan memikat dari iklan berbagai macam produk, konsumen dirayu sedemikian rupa agar mengkonsumsi barang yang sedikit lebih baru, sedikit lebih baik dan sedikit lebih cepat dari kebutuhan dasar. Dan kemudian terbukti, bahwa cara seperti ini mampu menuai sukses yang lebih baik dibandingkan planned obsolescence a la Phoebus cartel.

Ekonomi menjadi berkembang, produksi tumbuh dan konsumsi naik pesat. Tapi sayangnya banyak orang terlena dengan pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan dari planned obsolescence. Mereka lupa bahwa kondisi ekonomi yang sedemikian memiliki konsekuensi negative yang sangat besar.

Konsumerisme, Ekploitasi, dan Sampah

Planned obsolescence muncul sebagai sebuah gagasan akibatkan krisis ekonomi yang menghantam Amerika Serikat pada tahun 1929. Krisis ekonomi yang dikenal dengan The Great Depression ini sebenarnya diakibatkan oleh kegagalan sistem pasar bebas dalam menyokong kegiatan ekonomi.
Planned obsolescence digadang-gadang sebagai solusi untuk menaikkan gairah pasar yang lesu dengan memicu konsumsi yang berefek pada naiknya produksi. Strategi menggunakan planned obsolescence akhirnya sukses membangkitkan ekonomi Amerika yang sempat terpuruk. Tapi, karena tumpuan utama dari planned obsolescence ini terletak hanya pada konsumsi dan produksi, segera saja sistem ini menjelma menjadi pemangsa buas yang tidak kenal berhenti dan menyisakan ampas buangan yang tiada lagi bisa dikelola.

Tingginya tingkat konsumsi akibat planned obsolescence ini pada akhirnya tidak diimbangi dengan ketersediaan bahan baku yang mencukupi. Akibatnya eksploitasi besar-besaran menjadi hal yang tidak bisa dihindarkan. Contoh paling sederhana adalah persoalan energy, Amerika demi mengamankan pasokan energy nya rela melakukan eksploitasi besar-besaran di negara-negara yang memiliki daya tawar politik yang lemah. Contoh korban paling nyata adalah Indonesia.

Selain persoalan eksploitasi sumber daya alam, ekonomi bentukan planned obsolescence sukses memproduksi barang limbah dengan jumlah yang luar biasa banyak. Jika limbah ini sudah tidak bisa lagi dikontrol, maka biasanya negara pemilik limbah akan membuang limbahnya ke negara-negara dengan daya tawar internasional yang lemah. Pembuangan limbah ke negara lain ini biasanya ditutupi dengan bahasa halus bernama “ekspor/impor barang bekas”.

Republic Ghana, salah satu negara di barat Afrika adalah korban nyata dari “ekspor/impor barang bekas” yang tiada lain adalah limbah dari negara-negara maju. Wujud dari limbah ini biasanya adalah barang-barang elektronik seperti komputer, kulkas, telepon seluler, dan televisi yang sudah tidak dapat digunakan lagi.

Barat, Peradaban Memikat yang Mematikan

Jika kita melihat Barat sebagai sebuah peradaban dengan sistem ekonomi yang mapan, maka dari pemaparan diatas bisa kita lihat dengan jelas bahwa kekuatan ekonomi Barat adalah hasil dari menjarah dan merusak peradaban lainnya. Lantas kemudian banyak yang bertanya, “Apakah Barat tidak melihat ancaman keruntuhan diri sendiri dengan tetap mempertahankan sistem ekonomi yang sedemikian?”

Jawabannya sederhana, “They are too big to fail”. Jika Barat mengambil keputusan untuk merubah haluan perekonomiannya menjadi sistem ekonomi yang lebih ramah lingkungan dan recyclable, maka itu sama saja dengan menggadaikan hegemoni Barat di seluruh dunia yang sudah dibangun selama bertahun-tahun. Barat hanya punya satu pilihan yang tersisa, yaitu mati bunuh diri bersama sistem ekonomi yang mereka bangun.

Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa jika kita masih terkagum-kagum dengan betapa hebatnya Barat, maka sungguh kekaguman itu adalah pertanda rendah diri yang paling tidak bermartabat. Sebab bagaimana bisa kita merasa rendah diri kepada peradaban yang sebenarnya jauh lebih rendah dari diri kita sendiri. [eza/islampos]

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template