Minggu, 16 Maret 2014

Netral dan Relatif



Oleh: Andi Ryansyah, Mahasiswa FMIPA Universitas Negeri Jakarta

SEORANG dosen pernah bilang kepada saya bahwa belajar suatu ilmu itu bukan untuk menentukan benar atau salah. Dengan kata lain ia menganggap ilmu itu netral. Lalu saya ditantang dan ditanya olehnya. Coba berikan saya satu saja contoh ilmu yang di akhirnya menentukan kebenaran?! Saya menganggap pertanyaan ini lebih untuk menguatkan ucapannya ketimbang mengharapkan jawaban saya. Kemudian saya jadi bertanya-tanya, untuk apa ia sekolah tinggi-tinggi kalau bukan untuk mendapatkan kebenaran?

Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, ilmu pada hakikatnya tidaklah netral nilai, tapi dibentuk oleh pandangan hidup dari masyarakat tempat ilmu itu ditumbuhkembangkan. Sebagai cabang ilmu, sains sering dianggap netral nilai. Hamid Fahmy Zarkasy membantahnya. Ia menganggap pengertian netral yang selama ini ditempelkan pada sains, sebenarnya lebih kepada netral terhadap nilai-nilai agama.

Sains Barat tidak memberikan tempat bagi wahyu,agama, bahkan Tuhan. Karena sains Barat yang paling dominan saat ini, maka pandangan sains yang netral terhadap agama dianggap sebagai sesuatu yang berlaku universal. . Kemudian lebih tajam Douglas Allchin mengatakan bahwa pandangan yang menyebutkan sains sebagai sesuatu yang netral nilai adalah pandangan yang menyesatkan karena pada kenyataannya pada sains melekat berbagai nilai. Nilai-nilai itu dapat berupa nilai yang berasal dari dalam sains itu sendiri atau dari luar sains yang kemudian melekat ke dalam ilmu.

Dari perkataannya, saya menduga kuat dosen tadi percaya dengan ungkapan bahwa kebenaran dari manusia itu relatif, yang mutlak hanya dari Allah. Sekilas ungkapan ini Islami, namun sebenarnya menjebak. Pertama, kalau kebenaran dari manusia itu relatif, maka ucapan dosen kepada mahasiswanya, ucapan kyai ke santrinya, dan ucapan guru ke siswanya belum tentu benar.

Bagaimana mungkin orangtua mau anaknya belajar kepada orang yang ucapannya belum tentu benar? Mau jadi apa anaknya nanti? Kedua, karena ungkapan ini keluar dari mulut manusia maka kebenaran ungkapan ini juga relatif. Jadi tidak logis ungkapan ini. Allah mengingatkan kita tentang ungkapan yang manis tapi menipu dalam surat Al-An’am ayat 112: Setiap nabi Kami hadapkan dengan musuh-musuh yang jahat, dari golongan manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain  perkataan-perkataan manis yang penuh tipuan.

Berbeda dengan ungkapan Allah yang begitu logis dalam surat al-Baqarah ayat 147: Wahai Muhammad, kebenaran(Al-Qur’an) ini datang dari Allah. Wahai kalian mukmin, janganlah sekali-kali kalian termasuk golongan orang yang meragukan kebenaran itu.

Memang benar kebenaran yang mutlak dari Allah, namun Allah melarang manusia meragukan kebenaran itu. Artinya kebenaran dari Allah telah turun kepada manusia dan  manusia  bisa menyampaikan kebenaran yang mutlak itu kepada sesamanya. Dengan kata lain kebenaran dari manusia itu bersifat mutlak apabila mengikuti kebenaran dari Allah.

Sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template