Kamis, 03 April 2014

Cosmos, Antara Islam dan Konflik Sains di Barat



Oleh: Azeza Ibrahim Rizki, Pengamat Budaya Komunikasi

Selasa, 4 Februari 2014 lalu, bertempat di The Creation Museum, Petersburg, Kentucky Amerika Serikat, debat antara evolutionist versus creationist digelar. Pihak evolutionist diwakili oleh William Sanford Nye (Bill Nye) dan pihak creationist diwakili oleh Kenneth Alfred Ham (Ken Ham).

Disiarkan lewat berbagai media, debat ini mengundang perhatian banyak pihak. Debat ini seolah membuka luka lama peradaban Barat. Luka akibat benturan keras antara sains dan agama. Segera saja, di berbagai media sosial, dukungan dan cacian dilimpahkan kepada kedua belah pihak. Ken Ham yang Evangelist didukung oleh Kirsten garis keras, sementara kalangan atheis dan Kirsten moderat mendukung Bill Nye “The Science Guy”.

Tak sedikit warga Amerika yang berpendapat bahwa debat tesebut adalah debat yang tidak perlu. Mereka beranggapan bahwa evolutionist adalah sains dan creationist adalah kepercayaan, dalam paradigma Barat, dua komposisi ini tidak berkedudukan setara dan berlaku seperti minyak dan air. Tidak pernah bisa bercampur.

Debat ini sendiri sudah disetting sedemikian rupa untuk menguatkan posisi creationist Amerika yang pendukung mayoritasnya adalah Kristen Evangelist radikal. Kesimpulan ini tidak berlebihan mengingat tempat berlangsungnya debat adalah markas Ken Ham (The Creation Museum) dengan Evangelist radikal sebagai mayoritas audience.

Dalam Debat ini, Ken Ham dianggap sukses melegitimasi creationist sebagai sains. Dan ini memberi angin segar kepada Kristen Evangelist radikal yang sering mendapat stigma dogmatik, kaku dan bodoh.

Bill Nye “The Science Guy” kalah setting. Apalagi paparannya yang terlalu “saintifik” tidak banyak dipahami olah masyarakat awam. Walau demikian, Bill Nye tetap mendapat dukungan luas dari para masyarakat luas dan kritikus politik, mengingat agenda creationist dari kaum Evangelist radikal seringkali lebih bersifat politik dibanding murni keagamaan.

Cosmos: A Spacetime Odyssey

Walau serial dokumenter ini sudah dipersiapkan sejak lama, “Cosmos: A Spacetime Odyssey” seolah muncul untuk membalas “kekalahan” Bill Nye. Perdana ditayangkan pada 9 maret 2014 lewat Fox Channel dan National Geographic Channel (Nat Geo), serial documenter ini secara gamblang menunjukkan superioritas sains diatas agama. National Geographic sendiri, baik media cetak atau elektroniknya, dikenal secara luas sebagai salah satu media yang pro terhadap evolusi.

Untuk menguatkan legitimasi acara ini, seorang astrophysicist masyhur bernama Neil deGrasse Tyson didaulat sebagai host. Sebagai seorang science communicator berpengalaman, Neil membawakan acara “Cosmos: A Spacetime Odyssey” dengan pesan-pesan berat namun mudah dicerna.

Selain host yang mumpuni, “Cosmos: A Spacetime Odyssey” juga menampilkan visualisasi yang menawan. Sistem antariksa ditampilkan detail dengan sinema tiga dimensi, sementara penemuan dan tokoh bersejarah ditampilkan dengan animasi dua dimensi yang memudahkan pemirsa untuk memahami konteks sejarah.

Dengan segala kelebihannya, serial documenter ini memiliki potensi untuk memikat milyaran manusia. Sayangnya, daya pikat ini juga berpotensi besar untuk membuat masyarakat kita mempertanyakan imannya sendiri.

Contoh pada episode ketiga serial ini (dengan judul “When Knowledge Conquer Fear”) kepercayaan manusia akan sebuah pertanda dari langit (episode ini membahas tentang komet) dianggap sebagai sebuah belenggu pemahaman. Sains pun ditampilkan sebagai pembuka belenggu ini. Kepercayaan diadu dengan fakta sains. Sedangkan kita faham, bahwa jika Barat bicara “kepercayaan”, sebenarnya itu adalah sebutan halus pengganti kata agama.

Import Problem dari Barat, Agama versus Sains

Dari sejak era renaissance sampai postmodern saat ini, agama dan sains masih terus berseteru di Barat. Sebagai poros dominan saat ini, Barat memiliki kepentingan untuk “menularkan” konflik agama vs sains untuk mempertahankan hegemoninya.

Perang ideology adalah strategi paling efisien untuk menegakkan hegemoni idelaisme sekular liberal Barat, walau dalam beberapa kesempatan, aksi militer tetap menjadi pilihan tersendiri.

“Cosmos: A Spacetime Odyssey” yang disiarkan secara global tentunya bukan hanya menyasar kaum Kristen Evangelis radikal di Amerika saja. Islam sebagai agama besar dunia sudah pasti juga turut masuk dalam sasaran tembak.

Di Indonesia, sudah banyak muncul golongan yang menyatakan bahwa Islam itu agama tidak berkembang, bodoh, penuh kekerasan, tidak adil, tidak maju sainsnya, dan lain-lain. Bisa jadi, ketika polarisasi makin tajam dan umat makin kehilangan sosok ulama dan ilmuan yang bermartabat, akan muncul pihak ekstreme lainnya yang terang-terangan mengatakan bahwa ilmu biologi itu syirik, atau belajar fisika itu bid’ah.

Kemungkinan kejadian diatas adalah prasyarat agar hegemoni Barat dapat tercapai. Sebab sebagai penganut “dikotomi”, prinsip hegemoni adalah “kuatkan diri sendiri dan perlemah lawan”. Untuk mencapai kemajuan seperti Barat, kita ditawarkan untuk tertular penyakit yang sama dengannya. Untuk jadi modern, agama dan sains harus diadu.

Padahal, jika kita membuka mata akan fakta lapangan. Perceraian antara agama dan sains telah mencetak kerusakan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Karena, sebagai hasil dari sebuah kebetulan, manusia tidak perlu bertanggung jawab atas perbuatannya. Begitupun alam, sebagai hasil dari proses kebetulan yang sama, maka ia bebas dieksploitasi.

Tanggung jawab, moral, dan etika menjadi bias. Meraih keuntungan sebesar-besarnya lewat modal sekecil-kecilnya adalah etika dasar bisnis, jadi wajar jika perusahaan pembakar hutan di Riau tidak peduli terhadap asap yang menyiksa jutaan orang. Sebab sebagai lembaga bisnis mereka sudah memenuhi etikanya sendiri.

Satu titik ekstrim akan melahirkan titik ekstrim lainnya. Ketika perceraian antara agama dan sains menghasilkan disenchantment of nature (desakralisasi alam, alam bukan milik tuhan) yang berakibat rusaknya ekosistem akibat eksploitasi, maka pemecah masalah yang digagas pun sama ekstrimnya dengan kondisi yang ada. Musnahkan manusia.

Jika anda ingin tahu argumen-argumen yang biasa dipakai kelompok pro depopulasi manusia. Silakan googling “The Voluntary Human Extinction Movement” dengan web, vhemt.org. Dengan alasan menipisnya sumber daya alam, novelis sekelas Dan Brown pun turut mempromosikan depopulasi manusia lewat “Inferno”. Mereka seolah lupa, bahwa sumber daya alam yang hampir habis terkeruk itu justru tidak pernah dinikmati oleh warga bumi kebanyakan.

Islamisasi Ilmu dengan Konsep Tauhid Sebagi Jalan Keluar

Islamisasi ilmu jangan dipahami sebagai “mensyahadatkan sains” atau menempelkan embel-embel Islam dalam sebuah bidang ilmu. Islamisasi ilmu juga tidak akan berjalan jika tidak dibingkai dengan konsep tauhid. Sebab tanpa konsep tauhid, dikotomi ilmu (ilmu agama vs ilmu umum) yang juga merupakan penyakit Barat, akan terus merusak pemahaman kita.

Syed Naquib Al Attas dalam buku “Islam and Secularism” menggagas bahwa Islamisasi ilmu dengan konsep tauhid berangkat dari kesadaran, bahwa kemampuan manusia untuk memproses ilmu dengan akalnya adalah anugerah Allah SWT. Maka apapun output dari hasil pemikiran tersebut tidak boleh melenceng dari rambu-rambu yang sudah ditetapkan Allah SWT lewat wahyunya.

Artinya, jika dihadapkan dengan kondisi kekinian, Islamisasi Ilmu dengan konsep tauhid tidak bekerja dengan cara menolak sains produk Barat mentah-mentah dan juga tidak menerimanya begitu saja tanpa daya kritis. Perbaikan dimulai bukan dengan mengubah materi pembelajaran sains, melainkan dengan lebih dahulu memperbaiki pola dan cara pandang terhadap sains itu sendiri.

Sebab, tanpa perbaikan cara dan pola pandang, Matahari akan tetap dianggap sebagai produk hasil kebetulan dari alam semesta, bukan ciptaan Allah. Pelacuran dalam tinjauan sosiologi hanya akan dianggap fakta, bukan sebuah bentuk kedzaliman.

Iman, ilmu dan adab adalah bingkai utama dari proses islamisasi. Dan sebelum proses islamisasi itu sendiri, ketiga bingkai konsep (iman, ilmu dan adab) harus terlebih dahulu dimengerti dengan benar.
Walau kerja besar ini terlihat berat, bukan lantas mustahil untuk sukses diaplikasikan. Sejarah Islam sudah banyak diwarnai oleh saintis yang juga berperan sebagai ulama. Maka sudah barang tentu, menggiatkan kajian terhadap karya-karya ulama dalam khazanah Islam menjadi syarat yang tidak bisa ditawar.

Islamisasi ilmu bukan hanya menawarkan solusi atas eksploitasi alam akibat sains sekular. Tapi juga memberi makna dan jalan untuk membangun peradaban yang sejati.

Patutlah kita belajar dari para pendahulu kita. Mungkin sulit untuk membayangkan bagaimana Imam Syafi’ie dapat terus terjaga sepanjang malam tanpa batal wudlu karena sibuk menulis dan menelaah ilmu. Namun demikianlah perjuangan dan pencapaian mereka dimasa lampau. Sungguh mereka telah menerima pahala yang setimpal. Patutlah kita bertanya, apa yang telah kita perbuat?

Sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template