Rabu, 21 Mei 2014

Khilafah Islamiyyah Versus The New World Order





Setiap muslim yang cukup rajin belajar agama, atau yang terlibat dengan pergerakan Islam, umumnya mengenal istilah Khilafah Islamiyyah. Khilafah Islamiyyah merupakan lembaga politik kenegaraan milik ummat Islam yang telah eksis belasan abad sejak Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم memimpinnya pertama kali berbasis di kota Madinah Al-Munawwarah hingga runtuhnya secara resmi khilafah terakhir berupa Kesultanan Utsmani Turki yang bubar pada tahun 1924 atau 1342 hijriyyah.

Dewasa ini dunia Islam terpecah-belah menjadi aneka nation-states (negara berdasarkan kebangsaan) tidak seperti Khilafah Islamiyyah yang menyatukan kaum muslimin dari berbagai bangsa dan wilayah berdasarkan ikatan aqidah kalimat Tauhid لا اله الا الله dan sunnah Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم . Sebenarnya realitas ummat Islam selama belasan abad di bawah naungan Khilafah tidaklah sepenuhnya konstan dalam kebaikan. Ada gradasi yang -perlahan tapi pasti- memperlihatkan suatu dekadensi hingga senanglah kaum kuffar menyaksikan runtuhnya Khilafah dan tercerai-berainya kaum muslimin seperti dewasa ini. Hal ini telah diprediksikan oleh rasulullah صلى الله عليه و سلم lima belas abad yang lalu:

لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً
فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي
تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ

Dari Abu Umamah Al Bahili dari Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: “Sungguh ikatan Islam akan terurai simpul demi simpul. Setiap satu simpul terurai maka manusia akan bergantungan pada simpul berikutnya. Yang pertama kali terurai adalah simpul hukum dan yang paling akhir adalah simpul sholat.” (AHMAD – 21139)

Penegakkan hukum Allah سبحانه و تعالى telah mengalami dekadensi dari masa ke masa. Pada babak paling awal penegakkan hukum berlangsung prima karena baik person pemimpin maupun konstitusi Daulah Islamiyyah langsung di tangani oleh Rasulullah Muhammad صلى الله عليه و سلم , teladan utama orang-orang beriman. Kemudian pada babak berikutnya ummat Islam menyaksikan penegakkan hukum yang masih tetap baik –walau tentunya tidak se-prima di masa Nabi صلى الله عليه و سلم – di bawah person pemimpin yang dijuluki al-Khulafa ar-Rasyidun dan konstitusi Khilafah Islamiyyah, terdiri dari para sahabat utama Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum.

Lalu pada babak selanjutnya penegakkan hukum mulai mengalami masalah karena antara person pemimpin dan konstitusi Khilafah Islamiyyah tidak selalu sinkron. Person pemimpin terdiri dari para khalifah yang dijuluki Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم sebagai para Mulkan ‘Aadhdhon (para penguasa yang menggigit). Namun konstitusi Khilafah Islamiyyah masih baik karena secara formal tetap berlandaskan Islam di mana berbagai urusan dirujuk kepada Allah (Al-Qur’an) dan RasulNya (As-Sunnah). Dalam sejarah dikenal sebagai era berbagai kerajaan Islam, terutama tiga di antaranya yang sangat menonjol yaitu Dinasti Bani Ummayyah, Dinasti Bani Abbasiyyah dan Kesultanan Turki Utsmani. Pada masa yang berlangsung hampir 13 abad itu person pemimpinnya bermasalah, namun konstitusi Khilafah Islamiyyah masih relatif cukup Islami.

Namun sesudah itu masuklah ummat Islam ke dalam babak yang paling kelam dalam sejarahnya di mana baik person pemimpin maupun konstitusi lembaga kenegaraan sungguh bermasalah. Inilah era yang oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم disebut era kepemimpinan Mulkan Jabbriyyan (para penguasa yang memaksakan kehendak). Dan inilah era di mana dunia modern ini berada. Dunia Islam tercabik-cabik ke dalam berbagai nation-states. Tidak ada satu wilayah tunggal ummat Islam yang memberlakukan hukum Allah سبحانه و تعالى . Tidak ada satu blok tunggal kekuatan ummat Islam yang memelihara izzul Islam wal muslimin (kemuliaan Islam dan kaum muslimin). Sedangkan kepemimpin dunia justeru berpindah gilirannya ke tangan kaum kuffar yakni the western civilization, dengan kekuatan kaum yahudi-nasrani sebagai komandannya. Oleh karenanya seringkali disebut juga sebagai the judeo-christian civilization.

Pada babak yang kelam ini dunia berjalan menuju kegelapan karena komandannya tidak memiliki cahaya penerang apapun untuk menunjuki jalan manusia ke arah tujuan semestinya. Malah para pemimpinnya justeru mengajak ummat manusia –termasuk ummat Islam- memasuki lubang biawak kebinasaan di dunia apalagi di akhirat. Persis sebagaimana diprediksikan oleh Rasulullah صلى الله عليه و سلم :

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ
شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ
حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ
لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ
الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

“Kamu akan mengikuti perilaku/tradisi/sistem hidup orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu ikut memasukinya.” Para sahabat lantas bertanya, “Apakah yang anda maksud orang-orang Yahudi dan Nasrani, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (HR Bukhary 3197)


Tetapi ada suatu pertanyaan mendasar yang perlu diajukan. Mengapa ummat Islam
mengikuti perilaku/tradisi/sistem hidup kaum yahudi dan nasrani? Sesungguhnya dekadensi di bidang penegakkan hukum Allah سبحانه و تعالى bukanlah suatu fenomena yang berdiri sendiri. Ia tidak hanya berkenaan dengan hadir-tidaknya person pemimpin yang bermasalah serta berlaku tidaknya konstitusi Khilafah Islamiyyah di dalam tubuh kaum muslimin. Tetapi ia sangat dipengaruhi oleh kondisi kejiwaan dan mental kaum muslimin secara keseluruhannya yang telah dijangkiti suatu penyakit kronis yang telah disinyalir oleh Rasulullah صلى الله عليه و سلم . Penyakit itu bernama al-wahan. Artinya cinta dunia dan takut menghadapi kematian. Dan penyakit ini bukan hanya muncul di tengah kaum muslimin sesudah runtuhnya secara resmi Khilafah Islamiyyah pada tahun 1924. Tetapi bibit-bibit penyakit ini telah hadir sejak lama sebelum hal itu terjadi. Runtuhnya khilafah hanyalah merupakan faktor pemicu yang menyebabkan kian ganasnya virus penyakit al-wahan berkembang di dalam tubuh kaum muslimin seperti yang dapat kita saksikan dewasa ini.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ
أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى
الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ
وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ
بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ
غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ
مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ
وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ
فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ
قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Bersabda Rasulullahصلى الله عليه و سلم“Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi صلى الله عليه و سلمbersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745)

Fihak kaum kuffar pada hakekatnya tidak akan pernah sanggup melakukan apapun terhadap ‘izzul Islam wal muslimin (kemuliaan Islam dan kaum muslimin) andaikan ummat ini benar-benar beriman dan yakin akan janji Allah سبحانه و تعالى berupa ihdal-husnayain (meraih salah satu dari dua kebaikan) yakni ‘isy kariiman au mut syahiidan (hidup mulia di bawah naungan syariat Allah atau menggapai mati syahid).
قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلا مَا كَتَبَ اللَّهُ
لَنَا هُوَ مَوْلانَا وَعَلَى اللَّهِ
فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
قُلْ هَلْ تَرَبَّصُونَ بِنَا
إِلا إِحْدَى الْحُسْنَيَيْنِ

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” Katakanlah: “tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali ihdal-husnayain (salah satu dari dua kebaikan).” (QS At-Taubah 51-52)
Dalam kitab tafsir Fathul Qadir dikatakan bahwa makna salah satu dari dua kebaikan ialah:

إما النصرة أو الشهادة

“Atau kemenangan atau mati syahid”.


Sepanjang sejarah Islam fihak musuh senantiasa berusaha menghilangkan gairah kaum
muslimin untuk meraih salah satu dari dua kebaikan di atas. Mereka melakukan segala upaya untuk memadamkan semangat perjuangan kaum muslimin. Bayangkan, mereka sampai perlu melansir perang Salib selama dua abad (dua ratus tahun)! Namun ummat Islam semakin diperangi semakin menjadi-jadi semangat berperangnya (baca: hubbul-jihad wa asy-syahadah/ cinta jihad dan mati syahid). Kalimat legendaris yang diucapkan Panglima Khalid bin Walid ra ketika memimpin pasukan Islam yang jauh lebih sedikit jumlahnya daripada pasukan Romawi telah menginspirasi pasukan Islam sepanjang zaman:
جئت بأناس يحبون
الموت كما تحبون الحياة
“Aku datang dengan sejumlah manusia yang mencintai kematian melebihi kalian (hai kaum Romawi) dalam mencintai kehidupan…!”

Akhirnya kaum yahudi-nasrani merubah strategi mereka menghadapi kaum muslimin. Mulailah era al-ghazwu al-fikri (perang ideologis) diterapkan menghadapi kaum muslimin. Mulailah mereka meracuni hati dan fikiran kaum muslimin melalui harta, wanita dan perebutan tahta antara sesama muslimin. Mulailah politik belah bambu alias devide et empera diterapkan.

Mulailah berbagai ideologi asing buatan kaum kuffar diperkenalkan dan dipromosikan oleh para orientalis yang belajar Islam untuk dijadikan pembungkus kebusukan berbagai ideologi menyesatkan tersebut. Mulailah mereka memperkenalkan makna-makna baru lagi sesat terhadap berbagai istilah Islam yang sudah lama disepakati pemahamannya oleh kaum muslimin sejak dahulu kala. Akhirnya tersebarlah di tengah ummat Islam makna-makna asing lagi menyesatkan terhadap kata-kata seperti al-jihad fi sabilillah, rahmatan lil ‘aalamiin, dien, ‘ibadah, rabb dan ilah.

Alhasil dekadensi di dalam tubuh ummat Islam tidak hanya terjadi pada bab penegakkan hukum semata. Tetapi dekadensi di berbagai bidang lainnya turut menyempurnakan keruntuhan ‘izzul Islam wal muslimin (kemuliaan Islam dan kaum muslimin). Sehingga kaum kuffarpun akhirnya menikmati buah ketidak-loyalan kaum muslimin terhadap agama Allah سبحانه و تعالى dan sunnah Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم . Maka mulailah babak paling kelam dalam sejarah Islam berlangsung.



Di babak ini kaum yahudi dan kaum nasrani (yang telah ter-yahudi-kan) sangat ingin memastikan bahwa ummat manusia –apalagi ummat Islam- tidak pernah lagi boleh menengok ke belakang. Ummat Islam harus diharamkan berfikir menghidupkan kembali ide Khilafah Islamiyyah. Sebab ia telah menjadi sejarah dan harus tetap tersimpan dalam lembaran sejarah semata. Sementara itu kaum kuffar selanjutnya leluasa mempersiapkan dunia dengan sebuah grand-design yang sudah lama mereka rencanakan berupa ide pembentukan sebuah sistem global tunggal bernama Novus Ordo Seclorum alias the New World Order (tatanan dunia baru). Bahkan secara lebih spesifik namun tersamar kaum yahudi telah mencanangkan bahwa NOS sesungguhnya dibangun dalam rangka menyambut kehadiran sang pemimpin yang mereka nanti-nantikan sejak lama yaitu si mata tunggal alias Ad-Dajjal. Oleh karenanya kita temukan beberapa statement dari para pemimpin mereka seperti misalnya:

Henry Kissinger: “…apa yang dinamakan terorisme di Amerika, tapi sebenarnya adalah kebangkitan Islam radikal terhadap dunia secular, dan terhadap dunia yang demokratis, atas nama pendirian kembali semacam Kekhalifahan.”

Pada tanggal 5 Oktober 2005, Menteri Dalam Negeri Inggris, Charles Clarke menyampaikan pidato tentang Perang Melawan Terorisme di The Heritage Foundation (sebuah pusat kajian neo konservatif di Washington DC ). Dimana dia menyatakan:

“Apa yang mendorong orang-orang itu adalah ide-ide. Dan berbeda dengan gerakan kebebasan di era pasca Perang Dunia II di banyak belahan dunia, ide-ide itu bukanlah untuk menggapai ide-ide politik seperti kemerdekaan nasional dari penjajahan, atau persamaan bagi semua penduduk tanpa membedakan suku dan keyakinan, atau kebebasan berekspresi tanpa tekanan totaliter. Ambisi-ambisi itu adalah, paling tidak secara prinsip, bisa dirundingkan dan dalam banyak hal telah dimusyawarahkan. Namun, tidak ada perundingan bagi pendirian kembali Khilafah; tidak ada perundingan bagi penerapan Hukum Syariah; dan tidak ada perundingan tentang penindasan atas persamaan antara laki-laki dan perempuan; tidak ada perundingan untuk mengakhiri kebebasan berbicara. Nilai-nilai itu adalah sangat fundamental bagi peradaban kami dan tidak dimungkinkan adanya perundingan.”

Dalam pidatonya di awal bulan November 2005 George Bush Jr menyatakan bahwa kaum militant sedang berusaha untuk mendirikan sebuah “kekaisaran Islam radikal”:

“Ide membunuh dari kaum Islam radikal adalah tantangan yang besar di abad baru kita. Sama seperti ideology komunisme, musuh kita yang baru ini mengajarkan bahwa individu yang tidak berdosa bisa dikorbankan untuk bisa menjalankan visi politik. Kaum militan percaya bahwa mereka dapat menyatukan kaum muslimin dengan cara menguasai Negara, sehingga dengan cara itu mereka menumbangkan semua pemerintahan moderat di wilayah dan mendirikan sebuah kekaisaran Islam yang membentang dari Spanyol hingga Indonesia.”

Sedangkan berkenaan dengan NOS, kita temukan suatu pernyataan dari Bush Senior di tahun 1991 yang ternyata dibuktikan sebaliknya pada dekade berikutnya. Pernyataannya di antaranya sebagai berikut:

“Until now, the world we’ve known has been a world divided – a world of barbed wire and concrete block, conflict and cold war.

Now, we can see a new world coming into view. A world in which there is the very real prospect of a new world order. In the words of Winston Churchill, a “world order” in which “the principles of justice and fair play … protect the weak against the strong …” A world where the United Nations, freed from cold war stalemate, is poised to fulfil the historic vision of its founders. A world in which freedom and respect for human rights find a home among all nations.

The Gulf war put this new world to its first test, and, my fellow Americans, we passed that test.”

Jelaslah bahwa para pendukung the New World Order memiliki agenda yang sangat berbeda –bertentangan lebih tepatnya- dengan kaum muslimin yang faham dan bangga akan sejarahnya. Tidak ada muslim-mukmin yang bisa melupakan masa lalunya. Sebab kendati Khilafah Islamiyyah sudah tiada, namun karena ia telah berlangsung belasan abad sulit untuk begitu saja dilupakan. 

Sedangkan hegemoni Novus Ordo Seclorum alias Sistem Dajjal belum ada seabad. Dan para pengusung sistem batil ini masih berjuang keras memastikan dan memuluskan eksistensinya. Mereka sangat khawatir jika sebelum pemimpin mereka datang, yakni Ad-Dajjal, ummat Islam keburu bangun kembali dari tidur mereka dan bergerak bangkit mewujudkan kembali Khilafah Islamiyyah yang diyakini berlandaskan Kitabullah Al-Qur’anul Karim dan As-Sunnah An-Nabawiyyah.

Bagi muslim-mukmin yang sadar, maka urusan tegaknya kembali Khilafah Islamiyyah bukanlah sekedar mengenang kembali nostalgia masa lalu. Urusan ini berkaitan erat dengan iman dan keyakinan akan janji Allah سبحانه و تعالى yang tidak pernah berdusta serta prediksi Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم mengenai skenario Akhir Zaman yang tidak pernah meleset. Betapapun tampak digdayanya kekuatan kaum kuffar barat, kaum yahudi-nasrani serta para antek kaki-tangan mereka dari sebagian kaum musyrikin dan munafikin yang telah berhasil mereka rekrut dengan kebijakan stick and carrot.

Urusan siapa yang Allah سبحانه و تعالى izinkan memimpin dunia adalah urusan giliran. Ada kalanya Allah سبحانه و تعالى percayakan kepada kaum beriman dan ada kalanya dipercayakan kepada kaum kuffar. Dewasa ini giliran sedang Allah سبحانه و تعالى serahkan kepada kaum kuffar. Ummat Islam wajib bersabar dan melipat-gandakan kesabaran. Kesabaran untuk terus menyempurnakan persiapan diri, keluarga dan ummat di berbagai bidang, sejak dari bina al-iman wa at-tauhid hingga bina ad-da’wah wa al-jihad. Kesabaran untuk tidak mudah tergoda oleh rayuan pengusung NOS yang membujuk ummat Islam untuk memandang baik berkompromi dan kerja-sama dengan NOS guna memelihara nilai-nilai Sistem Dajjal. Kesabaran untuk tidak terjerembab ke dalam berbagai fitnah zaman yang telah meliputi segenap aspek kehidupan manusia. Fitnah yang telah meliputi aspek ideologi, politik, sosial, budaya, ekonomi, militer, pendidikan, hukum, kesehatan, informasi dan lain-lainnya.

Babak ini boleh jadi merupakan babak di mana ummat Islam sedang babak belur, tetapi ia bukan alasan untuk membiarkan diri mengembangkan defeated mentality (mental pecundang) sehingga kemenangan kaum kuffar sedemikian menyilaukan sehingga seorang muslim menggunakan kaedah if you can’t beat them, then you join them (jika kamu tidak dapat mengalahkan mereka, maka bergabung sajalah dengan mereka). Sehingga kita mendengar mereka yang sedemikian rupa tersilaukan melihat kedigdayaan kaum kuffar tega secara terang-terangan mengungkapkan hilangnya kepercayaan diri terhadap perlunya institusi Khilafah Islamiyyah. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji”uun. Padahal Rasulullah صلى الله عليه و سلم dengan jelas menyatakan bahwa sesudah babak yang penuh fitnah ini, niscaya Allah سبحانه و تعالى akan izinkan tegaknya kembali Khilafah Islamiyyah berdasarkan manhaj Kenabian.

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ
مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ
ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا
ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ
أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا
إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا
ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا
فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ
أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا
إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا
ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً
فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ
أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا
إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا
ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

”Akan berlangsung nubuwwah (kenabian) di tengah-tengah kalian selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya (berakhir) bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya. Kemudian berlangsung khilafah menurut manhaj kenabian selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya Kemudian berlangsung para Mulkan ‘Aadhdhon (para penguasa yang menggigit) selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya Kemudian berlangsung kepemimpinan Mulkan Jabbriyyan (para penguasa yang memaksakan kehendak) selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya Kemudian akan berelangsung kembali khilafah menurut manhaj kenabian. Kemudian beliau berhenti”. (AHMAD – 17680)

Boleh jadi Allah سبحانه و تعالى tidak izinkan kita mengalami hidup di bawah naungan Khilafah Islamiyyah. Yang paling penting ialah memastikan diri dan keluarga kita menjadi bagian dari ummat islam yang dipercaya Allah سبحانه و تعالى untuk turut serta mempersiapkan dan memperjuangkannya di atas jalan yang lurus dan benar. Bukan malah menjadi bagian dari mereka yang justeru turut melestarikan dan memandang final The New World Order yang sejatinya merupakan Sistem Dajjal dalam rangka menyambut kedatangan si puncak fitnah, yakni Ad-Dajjal. Wa na’udzu billaahi min dzaalika…!

Sumber
Continue Reading

Selasa, 20 Mei 2014

Merayakan Harkitnas 20 Mei, Mewarisi Kebodohan Sejarah



Rasulullah Saw sebagai tauladan terbaik umat manusia sepanjang zaman mengatakan jika dalam melakukan sesuatu itu, manusia harus memahami terlebih dahulu apa yang akan dilakukan atau diperbuatnya. Istlahnya: “Fahmu qabla ‘amal” atau “Paham terlebih dahulu baru melakukan”.
Ini merupakan prinsip yang harus diikuti oleh manusia yang oleh Allah Swt diberi akal, sehingga manusia bisa bepikir, memilah yang baik atau buruk, dan tidak melakukan sesuatu hanya karena latah atau berdalih “sudah tradisi”.

Akal-lah yang membedakan manusia dengan hewan. Dengan akal, manusia bisa berpikir. Beda dengan hewan yang hanya mengandalkan insting, sehingga semua yang dilakukan hewan sesungguhnya hanya merupakan pengulangan dari apa yang telah dilakukan hewan-hewan lainnya.
Sebab itu, sangatlah tidak layak seorang manusia di dalam melakukan sesuatu hanya menyatakan “Sudah tradisi”. Karena yang namanya tradisi tentu ada yang bagus dan ada pula yang jelek.

Salah satu peringatan yang terus dipelihara sepanjang tahun oleh penguasa di negeri ini adalah Peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Tidak dahulu tidak sekarang, pemerintah selalu saja mendengungkan jika tanggal 20 Mei, tanggal berdirinya organisasi priyayi Jawa Boedhi Oetomo tahun 1908, merupakan tonggak kebangkitan nasional. Padahal Boedhi Oetomo sama sekali tidak berhak mendapat tempat terhormat seperti itu. Mengapa?

Budi Utomo Tidak Punya Andil Dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Adalah KH. Firdaus AN, mantan Ketua Majelis Syuro Syarikat Islam dalam bukunya “Syarikat Islam Bukan Budi Utomo: Meluruskan Sejarah Pergerakan Bangsa“, dengan tegas menulis jika Budi Utomo (BO) tidak punya andil dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. BO terdiri dari para pegawai negeri (ambtenaar) yang hidupnya tergantung pada uang penjajah Belanda.

BO juga tidak turut mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemerdekaan, karena telah bubar pada tahun 1935. BO adalah organisasi sempit, lokal dan etnis sentris. Hanya bangsawan Jawa Tengah dan Madura yang boleh menjadi anggotanya, orang Sunda, Betawi, dan sebagainya dilarang masuk BO.

BO didirikan di Jakarta tanggal 20 Mei 1908 atas prakarsa para mahasiswa kedokteran STOVIA, Soetomo dan kawan-kawan. Di dalam rapat-rapat perkumpulan dan bahkan dalam penyusunan Anggaran Dasar Organisasi-pun BO tidak menggunakan bahasa Indonesia, melainkan bahasa Belanda.

Dalam rapat-rapat, BO tidak pernah membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka hanya membahas bagaimana memperbaiki tarap hidup orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda.

Di dalam Pasal 2 Anggaran Dasar BO tertulis tentang tujuan organisasi yakni untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis. Tujuan BO tersebut jelas bersifat Jawa-Madura sentris, sama sekali bukan kebangsaan.

BO juga memandang Islam sebagai batu sandungan bagi upaya mereka. Noto Soeroto, salah seorang tokoh BO, di dalam salah satu pidatonya tentang Gedachten van Kartini Alsrichtnoer voor de Indische Vereniging berkata: “ Agama Islam merupakan batu karang yang sangat berbahaya…. sebab itu soal agama harus disingkirkan, agar perahu kita tidak karam dalam gelombang kesulitan “.

Sebuah artikel di ”Suara Umum“, sebuah media massa milik BO di bawah asuhan Dr. Soetomo terbitan Surabaya, yang dikutip oleh Al-Ustadz A. Hassan dalam majalah “Al-Lisan “ terdapat tulisan berbunyi: “Digul lebih utama dari pada Mekkah, Buanglah Ka’bah dan jadikanlah Demak itu kamu punya kiblat.“ ( M.S. Al-Lisan Nomer 24, 1938)

Oleh karena sangat loyal pada penjajah Belanda, tidak ada seorang pun anggota BO yang ditangkap Belanda. Arah perjuangan BO yang tidak nasionalis, telah mengecewakan dua pendiri BO sendiri, yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya keluar dari BO.

Bukan itu saja, di belakang BO pun terdapat fakta yang mencengangkan. Ketua pertama BO yakni Raden Adipati Tirtokusumo, ternyata tokoh Freemasonry. Dia aktif di Loge Mataram sejak 1895. Sekretaris BO (1916) , Boediardjo, juga seorang mason yang mendirikan cabang sendiri dengan nama Mason Boediardjo. Buku “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962”, karya Dr. Th. Stevens memuat fakta ini.

Peneliti Robert van Niels juga mengatakan, “Tanggal berdirinya Budi Utomo, sering disebut sebagai Hari Pergerakan Nasional atau Kebangkitan Nasional. Keduanya keliru, karena Budi Utomo hanya memajukan satu kelompok saja.

Sedangkan kebangkitan Indonesia sudah dari dulu terjadi…Orang-orang Budi Utomo sangat erat dengan cara berpikir barat. Bagi dunia luar, organisasi Budi Utomo menunjukkan wajah barat. ” (Robert van Niels, Munculnya Elit Modern Indonesia, hal. 82-83).

Budi Utomo merupakan organisasi binaan Freemasonry yang menginduk kepada Yahudi Belanda. Pengkultusan terhadap Budi Utomo, dengan menisbatkannya sebagai organisasi pelopor kebangkitan Indonesia, merupakan hasil kerja Freemasonry dan Yahudi Belanda.

Jadi, siapa pun yang dengan sadar memelihara pengkultusan ini—dengan salah satunya ikut-ikutan merayakan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei dengan sadar, padahal mereka tahu tentang sejarah yang sesungguhnya dari Budi Utomo ini—berarti telah ikut bergabung dengan barisan kaum Freemasonry dalam menyesatkan bangsa ini.

Berdirinya Syarikat Islam Jadikan Sebagai Harkitnas

Seharusnyalah peringatan Hari Kebangkitan Nasional bukan tanggal 20 Mei, namun tanggal 16 Oktober. Sejarah telah mencatat jika tiga tahun sebelum Budi Utomo berdiri, Syarikat Dagang Islam (yang kemudian berubah menjadi Syarikat Islam) didirikan, tepatnya pada 16 Oktober 1905.

Sangat beda dengan Budi Utomo, SI lebih nasionalis dan berterus terang ingin mencapai Indonesia yang merdeka. Keanggotaan SI terbuka bagi semua rakyat Indonesia yang mayoritas muslim. Sebab itu para pengurusnyapun terdiri dari berbagai macam suku dari seluruh Nusantara.

SI bertujuan Islam Raya dan Indonesia Raya, bersifat nasional, Anggaran Dasarnya ditulis dalam Bahasa Indonesia, bersikap non-kooperatif dengan Belanda, dan ikut mengantarkan bangsa ini melewati pintu gerbang kemerdekaan.

Sejarawan Fred R. von der Mehden (1957: 34) dengan tegas mengatakan bahwa SI-lah organisasi politik nasional pertama di Indonesia. Der Mehden tidak sendirian, ada banyak sejarawan asing dan juga Indonesia yang dengan tegas menyatakan jika SI-lah organisasi nasionalis pertama. Sedangkan Budi Utomo bukanlah organisasi yang nasionalis.

Usaha untuk menjadikan SI (atau SDI) sebagai tonggak Harkitnas menggantikan kesalah-kaprahan sejarah selama ini, pernah diusulkan umat Islam kepada pemerintah. Pada Kongres Mubaligh Islam Indonesia di Medan (1956), umat Islam mengusulkan kepada pemerintah untuk menjadikan tanggal berdirinya SDI sebagai Harkitnas berdasarkan karakter dan arah perjuangan SDI. Namun sangat disayangkan, seruan ini tidak didengar pemerintah, bahkan sampai saat ini.

Akhir tahun 1980-an Indonesia katanya dilanda fenomena kebangkitan Islam dan saat ini sudah ada banyak orang yang mengaku sebagai tokoh Islam yang masuk ke lingkaran pusat pemerintahan, bahkan duduk dalam pos-pos strategis. Namun bukannya mewarnai pemerintahan, mereka malah terwarnai pemerintahan yang sampai hari ini masih saja mewarisi tradisi Yahudi Belanda.

Bukannya meluruskan sejarah negeri Muslim terbesar di dunia ini, mereka malah ikut-ikutan latah memelihara warisannya Freemasonry Belanda ini.

Jika untuk meluruskan sejarah yang kecil saja mereka tidak punya keberanian sebesar biji dzarrah sekali pun, maka apa lagi yang bisa kita harapkan dari mereka? [rz]

Sumber
Continue Reading

Senin, 19 Mei 2014

20 Mei Bukan Hari Kebangkitan Nasional



Kelahiran organisasi Boedhi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 sesungguhnya amat tidak patut dan tidak pantas diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, karena organisasi ini mendukung penjajahan Belanda, sama sekali tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka, a-nasionalis, anti agama, dan bahkan sejumlah tokohnya merupakan anggota Freemasonry Belanda (Vritmejselareen).

Dipilihnya tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, sesungguhnya merupakan suatu penghinaan terhadap esensi perjuangan merebut kemerdekaan yang diawali oleh tokoh-tokoh Islam yang dilakukan oleh para penguasa sekular. Karena organisasi Syarikat Islam (SI) yang lahir terlebih dahulu dari Boedhi Oetomo (BO), yakni pada tahun 1905, yang jelas-jelas bersifat nasionalis, menentang penjajah Belanda, dan mencita-citakan Indonesia merdeka, tidak dijadikan tonggak kebangkitan nasional.

Mengapa BO yang terang-terangan antek penjajah Belanda, mendukung penjajahan Belanda atas Indonesia, a-nasionalis, tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka, dan anti-agama malah dianggap sebagai tonggak kebangkitan bangsa? Ini jelas kesalahan yang teramat nyata.

Anehnya, hal ini sama sekali tidak dikritisi oleh tokoh-tokoh Islam kita. Bahkan secara menyedihkan ada sejumlah tokoh Islam dan para Ustadz selebritis yang ikut-ikutan merayakan peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei di berbagai event. Mereka ini sebenarnya telah melakukan sesuatu tanpa memahami esensi di balik hal yang dilakukannya. Rasulullah SAW telah mewajibkan umatnya untuk bersikap: “Ilmu qabla amal” (Ilmu sebelum mengamalkan), yang berarti umat Islam wajib mengetahui duduk-perkara sesuatu hal secara benar sebelum mengerjakannya.

Bahkan Sayyid Quthb di dalam karyanya “Tafsir Baru Atas Realitas” (1996) menyatakan orang-orang yang mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan yang cukup adalah sama dengan orang-orang jahiliyah, walau orang itu mungkin seorang ustadz bahkan profesor. Jangan sampai kita “Fa Innahu Minhum” (kita menjadi golongan mereka) terhadap kejahiliyahan.

Agar kita tidak terperosok berkali-kali ke dalam lubang yang sama, sesuatu yang bahkan tidak pernah dilakukan seekor keledai sekali pun, ada baiknya kita memahami siapa sebenarnya Boedhi Oetomo itu.

Pendukung Penjajahan Belanda

Akhir Februari 2003, sebuah amplop besar pagi-pagi telah tergeletak di atas meja kerja penulis. Pengirimnya KH. Firdaus AN, mantan Ketua Majelis Syuro Syarikat Islam kelahiran Maninjau tahun 1924. Di dalam amplop coklat itu, tersembul sebuah buku berjudul “Syarikat Islam Bukan Budi Utomo: Meluruskan Sejarah Pergerakan Bangsa” karya si pengirim. Di halaman pertama, KH. Firdaus AN menulis: “Hadiah kenang-kenangan untuk Ananda Rizki Ridyasmara dari Penulis, Semoga Bermanfaat!” Di bawah tanda tangan beliau tercantum tanggal 20. 2. 2003.

KH. Firdaus AN telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Namun pertemuan-pertemuan dengan beliau, berbagai diskusi dan obrolan ringan antara penulis dengan beliau, masih terbayang jelas seolah baru kemarin terjadi. Selain topik pengkhianatan the founding-fathers bangsa ini yang berakibat dihilangkannya tujuh buah kata dalam Mukadimmah UUD 1945, topik diskusi lainnya yang sangat konsern beliau bahas adalah tentang Boedhi Oetomo.

“BO tidak memiliki andil sedikit pun untuk perjuangan kemerdekan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Dan BO tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935. BO adalah organisasi sempit, lokal dan etnis, di mana hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. Orang Betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya, ” tegas KH. Firdaus AN.

BO didirikan di Jakarta tanggal 20 Mei 1908 atas prakarsa para mahasiswa kedokteran STOVIA, Soetomo dan kawan-kawan. Perkumpulan ini dipimpin oleh para ambtenaar, yakni para pegawai negeri yang setia terhadap pemerintah kolonial Belanda. BO pertama kali diketuai oleh Raden T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar kepercayaan Belanda, yang memimpin hingga tahun 1911. Kemudian dia diganti oleh Pangeran Aryo Notodirodjo dari Keraton Paku Alam Yogyakarta yang digaji oleh Belanda dan sangat setia dan patuh pada induk semangnya.

Di dalam rapat-rapat perkumpulan dan bahkan di dalam penyusunan anggaran dasar organisasi, BO menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia. “Tidak pernah sekali pun rapat BO membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka ini hanya membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, memperbaiki nasib golongannya sendiri, dan menjelek-jelekkan Islam yang dianggapnya sebagai batu sandungan bagi upaya mereka, ” papar KH. Firdaus AN.

Di dalam Pasal 2 Anggaran Dasar BO tertulis “Tujuan organisasi untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis. ” Inilah tujuan BO, bersifat Jawa-Madura sentris, sama sekali bukan kebangsaan.

Noto Soeroto, salah seorang tokoh BO, di dalam satu pidatonya tentang Gedachten van Kartini alsrichtsnoer voor de Indische Vereniging berkata: “Agama Islam merupakan batu karang yang sangat berbahaya… Sebab itu soal agama harus disingkirkan, agar perahu kita tidak karam dalam gelombang kesulitan. ”

Sebuah artikel di “Suara Umum”, sebuah media massa milik BO di bawah asuhan Dr. Soetomo terbitan Surabaya, dikutip oleh A. Hassan di dalam Majalah “Al-Lisan” terdapat tulisan yang antara lain berbunyi, “Digul lebih utama daripada Makkah”, “Buanglah Ka’bah dan jadikanlah Demak itu Kamu Punya Kiblat!” (M. S) Al-Lisan nomor 24, 1938.

Karena sifatnya yang tunduk pada pemerintahan kolonial Belanda, maka tidak ada satu pun anggota BO yang ditangkap dan dipenjarakan oleh Belanda. Arah perjuangan BO yang sama sekali tidak berasas kebangsaan, melainkan chauvinisme sempit sebatas memperjuangkan Jawa dan Madura saja telah mengecewakan dua tokoh besar BO sendiri, yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya hengkang dari BO.

Bukan itu saja, di belakang BO pun terdapat fakta yang mencengangkan. Ketua pertama BO yakni Raden Adipati Tirtokusumo, Bupati Karanganyar, ternyata adalah seorang anggota Freemasonry. Dia aktif di Loge Mataram sejak tahun 1895.

Sekretaris BO (1916), Boediardjo, juga seorang Mason yang mendirikan cabangnya sendiri yang dinamakan Mason Boediardjo. Hal ini dikemukakan dalam buku “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962” (Dr. Th. Stevens), sebuah buku yang dicetak terbatas dan hanya diperuntukan bagi anggota Mason Indonesia. Dalam tulisan kedua akan dibahas mengenai organisasi kebangsaan pertama di Indonesia, Syarikat Islam, yang telah berdiri tiga tahun sebelum BO, dan perbandinganya dengan BO, sehingga kita dengan akal yang jernih bisa menilai bahwa Hari Kebangkitan Nasional seharusnya mengacu pada kelahiran SI pada tanggal 16 Oktober 1905, sama sekali bukan 20 Mei 1908.

Dalam tulisan bagian pertama, telah dipaparkan betapa organisasi Boedhi Oetomo (BO) sama sekali tidak pantas dijadikan tonggak kebangkitan nasional. Karena BO tidak pernah membahas kebangsaan dan nasionalisme, mendukung penjajahan Belanda atas Indonesia, anti agama, dan bahkan sejumlah tokohnya ternyata anggota Freemasonry. Ini semua mengecewakan dua pendiri BO sendiri yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya akhirnya hengkang dari BO.
Tiga tahun sebelum BO dibentuk, Haji Samanhudi dan kawan-kawan mendirikan Syarikat Islam (SI, awalnya Syarikat Dagang Islam, SDI) di Solo pada tanggal 16 Oktober 1905. “Ini merupakan organisasi Islam yang terpanjang dan tertua umurnya dari semua organisasi massa di tanah air Indonesia, ” tulis KH. Firdaus AN.



Berbeda dengan BO yang hanya memperjuangkan nasib orang Jawa dan Madura—juga hanya menerima keanggotaan orang Jawa dan Madura, sehingga para pengurusnya pun hanya terdiri dari orang-orang Jawa dan Madura—sifat SI lebih nasionalis. Keanggotaan SI terbuka bagi semua rakyat Indonesia yang mayoritas Islam. Sebab itu, susunan para pengurusnya pun terdiri dari berbagai macam suku seperti: Haji Samanhudi dan HOS. Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan Timur, Agus Salim dan Abdoel Moeis dari Sumatera Barat, dan AM. Sangaji dari Maluku.

Guna mengetahui perbandingan antara kedua organisasi tersebut—SI dan BO—maka di bawah ini dipaparkan perbandingan antara keduanya:

Tujuan:

- SI bertujuan Islam Raya dan Indonesia Raya,

- BO bertujuan menggalang kerjasama guna memajukan Jawa-Madura (Anggaran Dasar BO Pasal 2).

Sifat:

- SI bersifat nasional untuk seluruh bangsa Indonesia,

- BO besifat kesukuan yang sempit, terbatas hanya Jawa-Madura,

Bahasa:

- SI berbahasa Indonesia, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Indonesia,

- BO berbahasa Belanda, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Belanda

Sikap Terhadap Belanda:

- SI bersikap non-koperatif dan anti terhadap penjajahan kolonial Belanda,

- BO bersikap menggalang kerjasama dengan penjajah Belanda karena sebagian besar tokoh-tokohnya terdiri dari kaum priyayi pegawai pemerintah kolonial Belanda,

Sikap Terhadap Agama:

- SI membela Islam dan memperjuangkan kebenarannya,

- BO bersikap anti Islam dan anti Arab (dibenarkna oleh sejarawan Hamid Algadrie dan Dr. Radjiman)

Perjuangan Kemerdekaan:

- SI memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mengantar bangsa ini melewati pintu gerbang kemerdekaan,

- BO tidak pernah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan telah membubarkan diri tahun 1935, sebab itu tidak mengantarkan bangsa ini melewati pintu gerbang kemerdekaan,

Korban Perjuangan:

- Anggota SI berdesak-desakan masuk penjara, ditembak mati oleh Belanda, dan banyak anggotanya yang dibuang ke Digul, Irian Barat,

- Anggota BO tidak ada satu pun yang masuk penjara, apalagi ditembak dan dibuang ke Digul,

Kerakyatan:

- SI bersifat kerakyatan dan kebangsaan,

- BO bersifat feodal dan keningratan,

Melawan Arus:

- SI berjuang melawan arus penjajahan,

- BO menurutkan kemauan arus penjajahan,

Kelahiran:

- SI (SDI) lahir 3 tahun sebelum BO yakni 16 Oktober 1905,

- BO baru lahir pada 20 Mei 1908,

Seharusnya 16 Oktober

Hari Kebangkitan Nasional yang sejak tahun 1948 kadung diperingati setiap tanggal 20 Mei sepanjang tahun, seharusnya dihapus dan digantikan dengan tanggal 16 Oktober, hari berdirinya Syarikat Islam. Hari Kebangkitan Nasional Indonesia seharusnya diperingati tiap tanggal 16 Oktober, bukan 20 Mei. Tidak ada alasan apa pun yang masuk akal dan logis untuk menolak hal ini.
Jika kesalahan tersebut masih saja dilakukan, bahkan dilestarikan, maka saya khawatir bahwa jangan-jangan kesalahan tersebut disengaja. Saya juga khawatir, jangan-jangan kesengajaan tersebut dilakukan oleh para pejabat bangsa ini yang sesungguhnya anti Islam dan a-historis.

Jika keledai saja tidak terperosok ke lubang yang sama hingga dua kali, maka sebagai bangsa yang besar, bangsa Indonesia seharusnya mulai hari ini juga menghapus tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, dan melingkari besar-besar tanggal 16 Oktober dengan spidol merah dengan catatan “Hari Kebangkitan Nasional”. (Tamat/Rizki Ridyasmara)

 Sumber
Continue Reading

Minggu, 18 Mei 2014

Musyrik Dan Ciri-ciri Orang Musyrik


Assalamualaikum,

tolong jelaskan definisi musyrik dan ciri-ciri orang musyrik.
Saya sering mendengarkan kata2 tersebut dalam ceramah agama, tapi
sampai sekarang yang saya dengar, saya belum mengetahui definisinya.
terimakasih akan jawabannya

Wa’alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh,

Bung Roy yang semoga senantiasa mendapat rahmat hidayah dan lindungan dari-Nya, kita tentu sedikit banyak sudah tahu sebenarnya apa itu musyrik dan bagaimana itu kelakuan orang-orang musyrik. Sejak kecil kita tentu pernah mengaji dan atau tiap Muhamaram di sekolah dasar atau sekolah lanjutan, kita tentu pernah mendengar kisah perjuangan Rasulullah Saw dalam menegakkan kalimat tauhid dan menghadapi ancaman serta perlawanan keras dari kaum kafir Quraiys. Kaum Quraiys ini juga sering disebut sebagai Musyrikin Quraiys.

Definisi “Musyrik” sangatlah simpel, yakni menyekutukan Allah Swt dengan apa pun. Musyrik secara literer merupakan antitesa dari “Tauhid” yang memiliki arti: Mengesakan Allah Swt. Dan “Orang-Orang Musyrik” adalah mereka yang menyekutukan Allah Swt. Banyak sekali ayat Al-Qur’an Nur Kaiem yang menyatakan hal itu. Saya yakin, Anda pun sesungguhnya telah mengetahuinya.

Namun, berhubung Anda bertanya di dalam rubrik ini, maka saya berhuznudhon jika yang Anda maksud adalah “Definisi Musyrik di Dalam Dunia Kontemporer”, di mana seringkali orang menyatakan jika di dunia kita sekarang ini, antara kebenaran dengan kejahatan, antara al-haq dengan al-bathil, bahkan antara ketauhidan dengan kemusyrikan, banyak wilayah abu-abu. Saya tidak sepandapat dengan pandangan seperti itu. Islam adalah agama yang sederhana, jelas, dan tegas. 

Sebagai agama yang dijamin Allah Swt sebagai agama yang paripurna, yang paling sempurna, dan terjaga hingga akhir  zaman maka Islam sangat terang benderang. Tidak ada wilayah abu-abu sedikit pun dalam Islam. Dan seharusnyalah, sebagai orang yang bersyahadat, kita juga tidak pernah ragu-ragu dalam menjalankan agama Allah Swt ini.

Kehidupan dunia adalah medan peperangan antara Pasukan Allah Swt melawan pasukan Iblis dan Dajjal. Sebuah peperangan antara para penyeru ketauhidan melawan penyeru kemusyrikan. Dan kian berkembangnya usia dunia, maka berkembang pula siasat, taktik, dan strategi kaum pengikut Iblis dan Dajjal untuk menyesatkan umat manusia dari jalan lurus ketauhidan. Taktik dan srategi mereka, manipulasi mereka, seakan kian maju dan kian canggih. Padahal sebenarnya, bagi seorang Muslim yang selalu awas, hal itu bukan halangan yang berarti.

Sejak dahulu hingga sekarang, kitab suci al-Qur’an pun telah berkali-kali memperingatkan, jika Yahudi merupakan musuh terbesar umat manusia. Allah Swt telah memberi mereka berbagai label yang mencirikan sifat-sifat dasar mereka, dari panggilan sebagai Kaum Kera dan Babi, hingga kaum yang fasik, suka berdusta, gemar memutar-mutar lidah mempermainkan ayat-ayat Allah, sering memberi kesaksian palsu, dan sebagainya.

Adalah kenyataan sejarah, jika kemudian orang-orang Yahudi ini tumbuh menjadi satu bangsa yang sangat kuat dan berpengaruh di dunia sekarang. Mereka menguasai jaringan media massa dunia, perbankan, militer, dan sebagainya. Mereka juga menciptakan berbagai ideologi yang memecah-belah umat manusia dari ketauhidan, antara lain Nasionalisme, Kapitalisme, Komunisme, dan lain-lain. Demokrasi pun dibuat oleh mereka.

Ada kesadaran yang salah selama ini tentang demokrasi. Banyak kalangan menyebut bahwa sistem pemerintahan buatan manusia ini berasal dari ajaran Plato, seorang filsuf Yunani, yang tertuang dalam bukunya “La Republica”. Mereka juga menganggap jika sistem pemerintahan Amerika Serikat sekarang, yang disebut sebagai Panglima Demokrasi Dunia, mengadopsi demokrasi-nya Plato. 

Ini salah besar! Sistem demokrasi sesungguhnya berasal dari Bani Israel, tatkala mereka, 12 suku, mendiami wilayah Palestina setelah keluar dari Mesir. Bani Israel telah menjalankan praktek ini berabad-abad sebelum Plato lahir. Sejarahnya sangat panjang, antara lain bisa kita baca dalam penelitian Max I. Dimont yang berjudul “Sejarah Yahudi”. Sistem demokrasi di Indonesia sekaran pun, yang mengadopsi sistem demokrasi Amerika, juga berasal dari “Sunnah Yahudi”.

Islam tidak mengenal demokrasi. Islam mengenal Syuro. Ini sangat berbeda secara prinsipil. Dalam Demokrasi, “Suara seorang pelacur dianggap sama dengan suara seorang Ustadz, masing-masing hanya dihitung satu suara”. Sedangkan dalam Syuro, hal ini tentu tidak akan ditemui. Inilah yang dikerjakan bangsa Indonesia sekarang, sehingga negara ini sampai 64 tahun setelah proklamasi kemerdekaan, bukan malah membaik malah kian hancur tak keruan.

Demokrasi merupakan salah satu tools kaum musyrik untuk memalingkan umat manusia dari petunjuk Allah Swt. Demokrasi inilah yang kemudian berhasil menjadikan orang-orang yang tadinya shaleh, orang-orang yang tadinya sepenuh hati memperjuangkan agama Allah Swt, orang-orang yang tadinya begitu berani menyuarakan al-haq dan menentang al-bathil dihadapan penguasa sekali pun, berubah menjadi orang-orang yang kelu lidahnya menyuarakan al-haq, menjadi orang-orang yang malu dengan perjuangan Islam, menjadi orang-orang yang membela kebathilan dan menyimpan al-haq rapat-rapat di dalam hatinya.

Demokrasi inilah yang telah mengubah orang yang tadinya kita kenal dengan sangat baik, menjadi orang yang asing dan ‘aneh’. Demokrasi inilah yang bisa mengubah seorang yang sebenarnya faqih dalam ilmu ilmu agama, namun bisa-bisanya menyepelekan perintah wajib menutup aurat para perempuan dengan menyebut hal itu hanya sebagai “persoalan selembar kain” saja. Banyak yang seperti ini sekarang. Bahkan ada yang tanpa malu menyatakan orang yang memilih tidak ikut proses sunnah-Yahudi ini sebagai orang-orang yang mubazir dan saudaranya setan.

Ini mengingatkan saya pada firman-firman Alah Swt, yang antara lain:

“Dan janganlah kamu campuradukan kebenaran dengan kebathilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran sedangkan kamu mengetahuinya” Al Baqoroh : 42.

“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman mereka berkata ‘kami telah beriman’ tetapi apabila mereka kembali kepada setan – setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata 

“sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok – olok” Al Baqoroh : 14

“Dan apabila dikatakan kepada mereka jangan berbuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab ‘sesungguhnya kami justru orang – orang yang berbuat kebaikan’. Ingatlah sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan tetapi mereka tidak menyadari” Al Baqoroh : 11 -12

“Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka perdagangan mereka itu tidak beruntung dan mereka tidak mendapat petunjuk” Al Baqoroh : 16

 Padahal, ancaman Allah Swt terhadap orang-orang fasik sungguh tidak main-main:

“Katakanlah (Muhammad) “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang yang lebih buruk pembalasannya  dari orang fasik di sisi Allah? Yaitu orang- orang yang di laknat dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thagut. Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus” Al Maidah : 60

“Dan bacakanlah (Muhammad) kepada mereka, berita orang yang telah Kami berikan ayat – ayat Kami kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari ayat – ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan, maka jadilah dia termasuk orang – orang yang tersesat. Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya kami tinggikan derajatnya dengan (ayat – ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya yang rendah, maka perumpamaan mereka seperti anjing. Jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya ia tetap menjulurkan lidahnya juga. Demikianlah perumpamaan orang – orang yang mendustakan ayat – ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah – kisah itu agar mereka berpikir” Al A’raf : 175 – 176.

Seorang Muslim seharusnya hanya tunduk pada Allah Swt dan Rasul-Nya. Sedangkan terhadap manusia lainnya, apakah dia menyandang gelar doktor, atau apa pun, selama dia menyeru pada ketauhidan maka ikutilah, namun jika dia sudah mulai “aneh-aneh”, maka ingatkanlah. Jika sudah diingatkan ternyata masih “Aneh”, maka tinggalkanlah. Inilah sebenar-benarnya tauhid.

Dalam zaman seperti sekarang, bertahan pada jalan ketauhidan memang jauh dari hingar-bingar duniawi. Tauhid adalah jalan para Nabi Allah yang sunyi dan banyak cobaan. Sebab itu, tidak banyak yang bisa bertahan meniti jalan ini dan akhirnya tergoda pada kelezatan duniawi, salah satunya yang bernama “Kekuasaan”. Semoga kita bukan termasuk orang-orang seperti ini. Amien Ya Rabb al amien. Wallahu’alam bishawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Continue Reading

Sabtu, 17 Mei 2014

Kisah Ulama Yang Bergelut di Parlemen Demokrasi


Aku tidak pernah menyangka bahwa apa yang telah ditetapkan Allah di dalam kitab Nya dan melalui lidah Rasul Nya memerlukan persetujuan dari hamba hamba Allah. Akan tetapi aku terkejut ketika firman Allah SWT Rabb yang maha tinggi itu akan tetap berada dalam mushaf- yang mempunyai kesucian di dalam hati kita – sampai ia mendapat persetujuan dari hamba hamba Allah di parlemen untuk menjadi sebuah undang undang. Dan apabila keputusan hamba hamba Allah di parlemen itu berbeda dengan hukum Allah di dalam Al Quran, maka keputusan hamba hamba Allah lah yang dijadikan undang undang yang berlaku, meskipun undang undang tersebut bertentangan dengan Al Quran dan As Sunnah…

Kata kata tersebut adalah kesimpulan dari salah seorang ulama Islam setelah menjadi wakil rakyat di parlemen. Ulama tersebut sebelumnya memandang perlu untuk berbicara di mimbar mimbar dan menulis di berbagai surat kabar. Setelah lama ia bergelut dengan cara seperti itu, dia semakin bertambah yakin dengan manfaatnya, akan tetapi dia merasa dengan begitu saja tidak cukup untuk mengadakan perubahan di dalam masyarakat dan pemerintahan. Maka, dia pun mendaftarkan diri untuk menjadi anggota parlemen dalam rangka mencari cara baru untuk menegakkan kalimatullah dengan melaksanakan syariat Islam, untuk menyelamatkan manusia dari kesesatan, untuk membebaskan mereka dari kebatilan, dan untuk mengembalikan mereka ke dalam pangkuan Islam.

Maka, ulama tersebut sukses menjadi anggota parlemen dengan motto,” Berikan suaramu kepadaku supaya aku perbaiki dunia dengan din.” Manusia pun memberikan suara mereka kepadanya karena percaya kepadanya, meskipun terjadi berbagai penyimpangan, dia terus menjadi anggota wakil rakyat selama dua periode berturut turut…

Apa yang dia simpulkan setelah lamanya bergelut di parlemen ? “Islam tidak dipandang perlu dalam sistem demokrasi parlemen ini !!!

Maka hati ulama ini menjadi membara , dan ulama yang menjadi wakil rakyat itu mempersiapkan kata kata yang membekas dan  berdiri di podium dan mengatakan kepada seluruh anggota parlemen :
“Wahai para wakil rakyat yang ku hormati, aku bukanlah penyembah jabatan dan aku bukan orang yang tamak dengan kursi semata. Dahulu motto yang aku gunakan untuk orang orang di daerah pemilihanku adalah : Berikan suaramu kepadaku supaya kami memperbaiki dunia dengan Din.
Dahulu aku mengira bahwa cukup untuk merealisasikan tujuan tersebut dengan cara mengajukan berbagai rancangan undang undang Islam, namun ternyata majelis ini menunjukkan kepadaku bahwa majelis ini tidak memberikan hak hukum kepada Allah, kecuali harus melalui hawa nafsu partai kalian , dan partai partai kalian tidak mungkin untuk membiarkan KalimatuLLah tinggi…

Sungguh aku telah mendapatkan jalanku berjuang bersama kalian telah buntu, oleh karena itu , aku nyatakan pengunduran diriku dari parlemen, tanpa sedikitpun menyayangkan sedikitpun status keanggotaanku hilang dalam parlemen.

Ulama yang pernah menjadi wakil rakyat itu pun pulang ke rumahnya, dia meninggalkan parlemen, kemudia ia meninggalkan seluruh dunia ini beberapa tahun kemudian ia pergi dipanggil  Allah SWT….sedangkan parlemen? hingga saat ini tetap menetapkan, membuat, dan menjalankan hukum selain hukum yang diturunkan Allah…

Jadikanlah sebagai pelajaran, wahai orang orang yang mempunyai akal….
Makalah Dr Ahmad Ibrahim Khidhir – Al Bayan – Al Muntada Al Islami London

Sumber

Continue Reading

Barus dan Sejarah Peradaban Islam yang Terlupakan



Mungkin, sebagian di antara kita masih ada yang merasa asing dengan nama “Barus”-sebuah kota tertua di Indonesia yang terletak di pinggir pantai Barat Sumatera. Tapi, tahukah kita bahwa Barus merupakan perkampungan Arab Muslim pertama di Indonesia? Dan sadarkah kita bahwa karena ketidaktahuan kita, kita melupakannya?

Sekilas tentang Barus

Sebelum menjadi sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Barus merupakan kota Emporium dan pusat peradaban pada abad 1 – 17 M, Barus disebut juga dengan nama lain, yaitu Fansur (1). Kampung kecil ini merupakan sebuah kampung kuno yang berada di antara kota Singkil dan Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan Medan. Pada zaman Sriwijaya, kota Barus masuk dalam wilayahnya. Namun, saat Sriwijaya mengalami kemunduran dan digantikan oleh kerajaan Aceh Darussalam, Barus pun masuk dalam wilayah Kerajaan Aceh.

Lalu kenapa Barus di sebut sebagai kota tertua? Karena mengingat dari seluruh kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syria, Armenia, China dan sebagainya.

Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Alexandria, Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang di kenal menghasilkan wewangian dari kapur barus. Bahkan, dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Fir’aun sejak Ramses II atau sekitar 5.000 tahun sebelum Masehi (2).

Berdasarkan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis bahwa Syaikh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi dan terdapat pula makam Syaikh Ushuluddin yang panjangnya kira-kira 7 meter. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era itu. (3)

Sebuah tim Arkeolog yang berasal dari Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO) Perancis yang berkerjasama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua-Barus, telah menemukan bahwa pada sekitar abad ke 9-12 M, Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi-etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, India, China, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu dan sebagainya.

Tim tersebut menemukan banyak benda-benda berkualitas tinggi yang usianya sudah ratusan tahun, dan ini menandakan dahulu kala kehidupan di Barus itu sangatlah makmur. (4) hal ini dapat dibuktikan dari banyaknya pedagang Islam yang terdiri dari orang Arab, Aceh dan sebagainya, hidup dengan berkecukupan di kota Barus dan sekitarnya. (5)

Kapan Islam masuk ke Barus?

Masuknya cahaya Islam ke kota Barus juga tak terlepas dari peran Banda Aceh yang rute pelayaran perniagaannya telah dikenal sejak zaman dahulu oleh para pedagang Arab, India dan China.

Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara – terutama Sumatera dan Jawa – dengan Cina diakui oleh sejarawan G.R Tibbetts. Tibbetts meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dan jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan nusantara saat itu. “Keadaan ini terjadi karena kepulauan Nusantara telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima Masehi”. (6)

Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M – hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah saw. menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah secara terang-terangan kepada bangsa Arab – di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Buddha Sriwijaya.

Disebutkan pula bahwa di perkampungan-perkampungan ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan menikahi perempuan-perempuan lokal secara damai. Mereka sudah beranak-pinak di sana. Dari perkampungan-perkampungan ini mulai didirikan tempat-tempat pengajian al-Qur’an dan pengajaran tentang Islam sebagai cikal bakal madrasah dan pesantren, umumnya juga merupakan tempat beribadah (masjid).

Selain itu, mereka juga memiliki kedudukan yang baik dan mempunyai pengaruh cukup besar di dalam masyarakat maupun pemerintah (Kerajaan Buddha Sriwijaya). Bahkan, kemudian ada juga yang ikut berkuasa di sejumlah bandar. Semakin lama, semakin banyak pula penduduk setempat yang memeluk Islam. Bahkan, ada pula raja, adipati, atau penguasa setempat yang akhirnya masuk Islam. Tentunya dengan jalan damai. (7)

Bahkan, Buzurg bin Shahriyar al-Ramhurmuzi pada tahun 1000 M menulis sebuah kitab yang menggambarkan betapa di zaman keemasan Kerajaan Sriwijaya sudah berdiri beberapa perkampungan Muslim. Perkampungan itu berdiri di dalam wilayah kekuasaan Sriwijaya. Hanya karena hubungan yang teramat baik dengan dunia Islam, Sriwijaya memperbolehkan orang-orang Islam yang sudah ada di wilayahnya sejak lama hidup dalam damai dan memiliki perkampungannya sendiri, dimana di dalamnya berlaku syari’at Islam. (8)

Temuan lain mengenai Barus juga diperkuat oleh Prof. Dr. HAMKA, yang menyebutkan bahwa, seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya, Hamka menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Nusantara. Hamka juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika. (9)

Perjalanan dari Sumatera sampai ke Mekkah sendiri pada abad itu (dengan mempergunakan kapal laut dan transit lebih dulu di Tanjung Comorin, India) konon memakan waktu 2,5-hampir 3 tahun. Jika tahun 625 dikurangi 2,5 tahun, maka yang didapat adalah tahun 622 M lebih enam bulan. Untuk melengkapi semua syarat mendirikan sebuah perkampungan Islam, setidaknya memerlukan waktu 5-10 tahun. Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya para pedagang Arab yang mula-mula membawa Islam masuk ke Nusantara adalah orang-orang Arab Islam generasi pertama para sahabat Rasulullah saw., segenerasi dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu.

Dalam literatur kuno asal Tiongkok tersebut, orang-orang Arab disebut sebagai orang-orang Ta Shib, sedangkan Amirul Mukminin disebut sebagai Tan mi mo ni’. Disebutkan bahwa duta Tan mi mo ni’, utusan Khalifah, telah hadir di Nusantara pada tahun 651 M atau 31 H dan menceritakan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dengan tiga kali berganti kepimimpinan. Maka dengan demikian, duta Muslim itu datang ke Nusantara di perkampungan Islam di pesisir pantai Sumatera pada saat kepimimpinan Khalifah Utsman bin Affan (644 -656 M). hanya berselang 20 tahun setelah Rasulullah saw. wafat (632 M). (10)

Dari bukti-bukti di atas, dapatlah dipastikan bahwa Islam telah masuk ke Nusantara pada masa Rasulullah masih hidup. Secara ringkas dapat dipaparkan sebagai berikut:

• Rasulullah menerima wahyu pertama di tahun 610 M, 2,5 tahun kemudian menerima wahyu kedua (kuartal pertama tahun 613 M).

• Lalu selama 3 tahun lamanya berdakwah secara diam-diam – periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar kuartal pertama tahun 616 M) dan setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka dari Mekkah ke seluruh Jazirah Arab.

• Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (yang disebut Barus).

Jadi, hanya 9 tahun sejak Rasulullah saw. memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera sudah terdapat sebuah perkampungan Islam. (11)

Inilah, yang oleh banyak sejarawan dikenal dengan Teori Mekkah. Sehingga Teori Gujarat yang berasal dari Orientalis Snouck Hurgronje terbantah dengan sendirinya. Dan Barus akan tetap menjadi sejarah peradaban Islam yang tak akan terlupakan bagi siapa saja yang mengetahuinya. (Penulis, Sarah Larasati Mantovani)

Footnote:

(1) http://id.wikipedia.org/wiki/Barus,_Tapanuli_Tengah, data-data ada yang di ambil dari buku Rizki Ridyasmara, Gerilya Salib di Serambi Mekkah: Dari Zaman Portugis hingga Paska Tsunami, Pustaka al-Kautsar, 2006, Jakarta.

(2) Ibid, hlm. 4-5. Lihat Akhir Perjalanan Sejarah Barus, KOMPAS, 1 April 2005.

(3) Lihat Naskah Jawi yang dialihtuliskan dan dipetik dari kumpulan naskah Barus dan dijilidkan lalu disimpan di Bagian Naskah Museum Nasional Jakarta dengan no. ML 16. Dalam Katalogus van Ronkel naskah ini yang disebut Bat. Gen. 162, dikatakan berjudul “Asal Toeroenan Radja Barus”. Seksi Jawi pertama berjudul “Sarakatah Surat Catera Asal Keturunan Raja Dalam Negeri Barus”, lihat juga Sejarah Raja-Raja Barus, Ecole Franéaise d’Extréme-Orient, 1988 dan A Kingdom of Words: Language and Power in Sumatra, Oxford University Press, 1999.

(4) Ibid, hlm. 5.

(5) Ibid, hlm. 6. Lihat Sagimun M.D., Peninggalan Sejarah, Masa Perkembangan Agama-Agama di Indonesia, CV. Haji Masagung, cet. 1, 1998, hlm. 58.

(6) Ibid, hlm. 3. Lihat G.R Tibbetts, Pre Islamic Arabia and South East Asia, JMBRAS, 19 pt.3, 1956, hlm. 207. Penulis Malaysia – Dr. Ismail Hamid dalam Kesusastraan Indonesia Lama Bercorak Islam, terbitan Pustaka al-Husna, Jakarta, cet.1, 1989, hlm. 11 juga mengutip Tibbetts.

(7) Ibid, hlm. 3-4. Lihat Kitab Chiu Thang Shu, tanpa tahun.

(8) Ibid, hlm. 12. Lihat Buzurg bin Shahriyar al Ramhurmuzi, Aja’ib al Hind.

(9) Ibid, hlm. 4. Lihat HAMKA, Dari Perbendaharaan Lama, Pustaka Panjimas, cet. 3, Jakarta, 1996, hlm. 4-5.

(10) Ibid, hlm. 9.

(11) Ibid, hlm. 7. Lihat Joesoef Sou’yb, Sejarah Khulafaur Rasyidin, Bulan Bintang, cet. 1, 1979, hlm. 390-391.
Foto: Masyarakat Barus Tempo Dulu

Sumber
Continue Reading

Rahasia Simbol dalam Bangunan Publik


Tokoh tertinggi Freemasonry dari Lodge of London sebelum menandatangani dekrasi kemerdekaan Amerika pada tahun 1776, George Washington, pernah berkata, “Cara terbaik menyembunyikan rahasia adalah dengan meletakkannya di tempat umum…” Apa yang dikatakan Bapak Kemerdekaan Amerika ini memang benar. Mungkin juga dia terinspirasi dari pandangan ahli strategi perang asal Cina, Sun Tzu, yang berucap, “Persembunyian yang paling aman adalah di tempat yang paling terang.”

Ya, sesuatu yang paling tak terduga pihak lawan adalah cara yang paling lazim dilakukan orang untuk mencari aman dan akhirnya menang. Itu pula yang mengilhami Hitler yang kemudian menyusun konsep Blitzkrieg atau serangan dadakan yang nyaris menaklukkan seluruh Eropa. Atau yang dilakukan pesilat dengan jurus-jurus kembangannya.

Memahami hal ini dan menghubungkannya dengan fenomena tersembunyi yang banyak terdapat di berbagai gedung dan area publik, setidaknya menarik untuk dikaji. Apalagi hal ini terkait dengan penggunaan simbol-simbol. Profesor Robert Langdon, karakter utama Dan Brown dalam “The Da Vinci Code” berkata, “Simbol adalah bahasa universal, dan simbol adalah bahasa rahasia yang sudah berumur sangat tua…”

Nah, lantas mengapa Markas Besar Uni Eropa dibuat mirip dengan simbol Menara Babel? Mengapa markas besar angkatan bersenjata Amerika dibuat mengikut simbol Pentagon? Dan mengapa pula Pusat Pemerintahan Kabupaten Bekasi di Cikarang pun ikut-ikutan berbentuk Pentagon? Ini adalah sedikit dari apa yang akan kita bahas.

Pentagram dan Tabung Erlenmeyer di Cikarang

Ada langkah sederhana. Bukalah Google Earth. Lalu ketikkan “Cikarang, Bekasi, Indonesia”. Jika bola dunia yang ada di layar telah memperlihatkan lanskap Cikarang, dekatkan sampai dengan jarak elev.214 ft. Perhatikan baik-baik, dari arah pintu keluar Tol Cikarang Pusat, terus ke selatan melewati kompleks perumahan Delta Mas, dan Anda akan menemukan sebuah struktur kompleks bangunan berbentuk Pentagram dilihat dari atas, sama sebangun dengan bentuk Pentagon, Markas Besar Angkatan Bersenjata Amerika Serikat.


Anda heran? Saya pun heran. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Jangan berhenti, teruslah bergerak. Sekarang menyusur ke sebelah tenggaranya. Tetap pertahankan ketinggian di elev 214 ft. Atau agar tidak sulit “ambil” penggaris yang disediakan di atas Google Earth dan rentangkan sejauh 7,11 kilometer dari ‘Pentagon from Cikarang’ tersebut.


Kalau Anda jeli, Anda akan melihat struktur bangunan yang sangat mirip dengan Tabung atau Labu Erlenmeyer. Sebuah tabung yang lazim terdapat di laboratorium, yang berfungsi untuk menampung larutan, bahan, atau cairan. Labu Erlenmeyer dapat digunakan untuk meracik dan menghomogenkan bahan-bahan komposisi media, menampung akuades, kultivasi mikroba dalam kultur cair, dan lain-lainnya.

Mengapa ada simbol dunia medis di dalam struktur bangunan di tenggara ‘Pentagram from Cikarang’ tersebut? Saya juga belum bisa memastikannya.


Setelah melihat fakta di atas, mari kita kaji bersama-sama simbol tersebut. Yang pertama adalah Pentagon atau dalam bentuk yang lain juga Pentagram. Wikipedia menulis, “Pentagram digunakan secara simbolis pada masa Yunani kuno dan Babilonia. Pentagram dihubungkan dengan dunia sihir, dan banyak orang yang mempunyai kepercayaan paganisme mengenakan kalung berbentuk pentagram. Agama Kristen pernah menggunakan pentagram dengan umum untuk melambangkan lima luka Yesus, namun umat Kristen saat ini mengaitkan bentuk tersebut dengan Setan…”

Lalu ditambahkan oleh WIkipedia, “…Para pemercaya Setan menggunakan pentagram Pythagoras (satu ujung mengarah ke bawah) yang digambarkan menyentuh sebuah lingkaran ganda, dengan kepala Baphomet dalam pentagram tersebut. Mereka menggunakannya seperti Pythagoras, namun huruf-huruf Yunani yang digunakan Pythagoras biasanya digantikan huruf-huruf Ibrani לויתן yang membentuk nama Leviathan.”


Jadi jelas, Pentagon atau Pentagram merupakan simbol yang berhubungan dengan simbol Kepala Baphomet atau The Satanic Goat atau Lucifer itu sendiri. Mengapa struktur bangunan Pemerintahan Pusat Kabupaten Bekasi di Cikarang itu berbentuk The Satanic Goat? Mungkin Sa’adudin, orang nomor satu di wilayah itu punya jawabannya. [bersambung/rz]


Bentuk Pentagon (a.k.a Pentagram Baphomet) yang diadopsi oleh struktur bangunan markas besar angkatan bersenjata Amerika Serikat dan juga oleh bangunan kantor Pusat Pemerintahan Kabupaten Bekasi di Cikarang, merupakan contoh kecil adanya rekayasa penyusupan The Satanic Symbol di dalam gedung-gedung modern.

Istilah “penyusupan” sesungguhnya tidak tepat karena upaya tersebut dilakukan dengan sadar, direncanakan, dan terang-terangan. Adalah mustahil jika ada yang mengatakan hal itu hanya kebetulan belaka.

Hal-hal yang serupa juga terjadi pada banyak bangunan lain di seluruh dunia, juga pada struktur atau desain sebuah kota, jalan raya, persimpangan, dan sebagainya. Tidak saja desain Washington DC yang sudah diketahui banyak orang memiliki banyak struktur Kabbalis, namun juga Jakarta.

Dua struktur Kabbalis di dalam arsitektur kota Jakarta yang sampai hari ini bisa kita lihat ada di pusat wilayah elit Menteng, di seputaran Taman Suropati, dan yang kedua adalah Bundaran Hotel Indonesia yang juga merupakan salah satu gerbang wilayah Menteng.

Kepala Baphomet di Pusat Menteng

Ada cara mudah untuk melihat bukti adanya struktur simbol Kepala Kambing Iblis Baphomet di seputaran Taman Suropati. Ambil saja atlas Kota Jakarta, lalu tandai lokasi Taman Suropati. Putar atlas tersebut seratus delapan puluh derajat. Arah Utara yang biasanya berada di atas, menjadi di bawah. Nah, sekarang lihat baik-baik seputaran Taman Suropati tersebut.

Perhatikan: Jalan Untung Suropati (bagian bawah), Jalan Sunda Kelapa (bagian atas), Jalan Madiun dan Banyumas (tanduk kanan), serta Jalan Subang dan Cimahi (tanduk kiri). Letak jalan ini tidak pernah berubah sejak awal dibangunnya “Kota Menteng” oleh VOC hingga sekarang.


Dan yang menariknya lagi, tepat dibagian “otak kepala kambing” tersebut berdiri Gedung Bappenas. Gedung kuno bekas Loji Bintang Timur, markas besar gerakan Freemasonry Hindia Belanda. Gedung ini sampai sekarang menyimpan misteri sejarah, demikian pengakuan jujur Romo Adolf Heuken, SJ, di dalam bukunya “Menteng, ‘Kota Taman’ Pertama di Indonesia” (bersama Grace Pamungkas ST, 2001, hal.72-73).

Sejarah Wilayah Menteng

Menteng merupakan sentrum dari Batavia setelah diperluas. Kota Batavia awalnya berada di pesisir utara dengan bentuk sebuah kota benteng, lalu melebar ke wilayah yang sekarang kita kenal sebagai Stadhuis (Sekarang populer disebut Museum Fatahillah).

Kian lama pendatang dari Belanda dan juga Eropa kian banyak datang ke Batavia, lalu ada serangan wabah penyakit di Batavia lama, maka pemerintah Hindia Belanda pun memperluas kota ini ke selatan, menjauhi Batavia Lama dengan membangun wilayah yang sekarang berada di sekitar Monas, yang dulu bernama Koningsplein.

Memasuki abad ke-20 Masehi, Koningsplein sudah dianggap padat, sehingga dibangunlah wilayah di selatannya lagi, yakni di Menteng. Menteng modern pertama kali dibangun di awal abad ke-20 Masehi oleh Pemerintah Kota Praja Hindia Belanda.

Awalnya Kota Praja menyetujui rancangan PAJ. Moojen, seorang arsitek Belanda didikan Belgia yang merancang suatu bentuk radial pada kawasan tersebut, dengan pusatnya berada di sebuah tanah lapang yang sekarang disebut Taman Suropati.

Bentuknya seperti sebuah lingkaran, lengkap dengan sulur-sulur jalan dan pertemuan-pertemuannya yang seluruhnya berporos pada tanah lapang itu yang kemudian oleh Kota Praja dinamakan sebagai Burgemeester Bisschopplein, sebagai bentuk penghormatan pada Walikota Batavia pertama tahun 1916-1920, General Governor Meneer Bisschop, yang juga salah seorang petinggi Masonry.

Dalam rancangan Moojen, belum ada niatan untuk mendirikan Adhucstat Logegebouw di selatan Taman Suropati. Pola rancang Menteng dari Moojen yang dibuat pada tahun 1910 baru disetujui Kota Praja dua tahun setelahnya.

Rancangan Moojen ini di kemudian hari ternyata dianggap banyak membawa masalah, terutama dalam hal pengaturan lalu lintas. Banyak pertemuan jalan dengan sudut yang tajam, seperti di per’enam’an (!) jalan-jalan Cokroaminoto—Sam Ratulangi—Gereja Theresia—Yusuf Adiwinata.
Sebab itu, Kota Praja berencana untuk ‘memoles’ Menteng lebih indah lagi dan tentu saja mengurangi kesulitan yang ditimbulkan oleh rancangan yang pertama. Maka di tahun 1918 Kota Praja memanggil Ir. F.J. Kubatz untuk ditugasi hal tersebut yang dibantu oleh Ir. J.F. Van Hoytema, Ir. F.J.L. Ghijsels, dan H. Von Essen.

Oleh Kubatz dan kawan-kawan, gaya radial Moojen tidak sepenuhnya dipapas, namun diperlembut di sana-sini. Sentrum Menteng tetap di Burgemeester Bisschopplein. Hanya saja, jika Moojen merancang sentrum tersebut benar-benar bulat, maka oleh Kubatz diubah sedikit. Di bagian selatan Burgemeester Bisschopplein dibuat menjadi lebih datar. Jadi, dilihat dari udara, seputar taman ini seperti sebuah kubah dengan bagian utara sebagai kubah dan bagian selatan sebagai dasarnya.

Salah satu rekan Kubatz, Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels, pada 1916 mendirikan biro arsitek dan kontraktor AIA (Algemen Ingenieurs en Architecten Bureau) yang kemudian menjadi terkenal. Sembilan tahun kemudian, AIA ikutan proyek pembangunan Adhucstat Logegebouw dan juga Gereja Paulus di sebelah Baratnya.

Pembangunan Adhucstat Logegebouw atau yang kini kita kenal sebagai Gedung Bappenas, menimbulkan banyak kontroversi. Catatan resmi menyebutkan jika gedung tersebut mulai dibangun pada tahun 1925 dengan bentuk yang sungguh-sungguh berbeda dengan vegetasi sekitar. Bentuk bangunannya mirip dengan benteng dengan sisi kanan dan sisi kirinya berbentuk kaku-persegi serta menjorok ke depan sedikit.

Namun sebuah foto yang diambil di awal 1920-an menggambarkan jika gedung tersebut awalnya menunjukkan pengaruh klasisisme yang kuat dengan empat pilar utama yang tinggi di beranda depan, lengkap dengan atap berbentuk piramida seperti jenis bangunan klasisisme lainnya, serta bentuk kiri dan kanan bangunan yang persegi namun sepertinya tidak terlalu dominan.

Salah satu contoh bangunan bergaya klasisme adalah Gedung Pancasila yang dekat Lapangan Banteng atau pun Gedung Museum Gajah di Medan Merdeka Barat. Perubahan bentuk dari awal tahun 1920-an hingga dianggap “dibangun kembali” pada 1925, sampai sekarang masih menjadi bahan penyelidikan para pengamat arsitektur gedung-gedung bersejarah. Misterius, memang. Belum lagi kegiatan persaudaraan rahasia di dalamnya. [bersambung/rizki]



Adolf Heuken, SJ, merupakan seorang peneliti Jerman yang sangat intens meneliti manuskrip-manuskrip kuno tentang Batavia. Sejumlah hasil penelitiannya sudah dibukukan. Salah satunya tentang Menteng. Dalam buku “Menteng, ‘Kota Taman’ Pertama di Indonesia” (bersama Grace Pamungkas ST, 2001, hal.72-73), Heuken menyatakan jika Gedung Vrijmetselarij (Freemasonry) di pusat Menteng masih menyimpan misteri hingga saat ini.

Pernah Dikenal Sebagai Rumah Setan

Di masa Batavia, Loji Bintang Timur yang sekarang dikenal sebagai Gedung Bappenas dinamakan Adhucstat. Gedung ini dirancang Ir. N.E. Burkoven Jaspers. Adhucstat memiliki arti sebagai “Kami Masih Berdiri di Sini”. Setelah selesai dibangun pada 1934, gedung ini langsung difungsikan sesuai dengan perencanaan semula, yakni sebagai Loji atau markas persaudaraan Mason Bebas Hindia Belanda.

Sebelumnya, para Mason ini mengunakan Loji De Ster in het Oosten atau Loji Bintang Timur yang berdiri di Vrijmetselaarsweg atau Jalan Freemasonry—nama jalan itu sekarang menjadi Jalan Budi Utomo, sebuah perkumpulan priyayi Jawa-Madura yang dekat hubungannya dengan Tarekat Mason Bebas. Setelah Adhucstat rampung, tokoh-tokoh Mason ini pindah ke gedung yang baru di pusat wilayah Menteng tersebut.

Sebab itu, Adhucstat Logegebouw ini juga dikenal dengan nama Loji Bintang Timur yang baru (The Nieuw De Ster in het Oosten Loge). Ritual pemanggilan arwah sebagai ritual utama para Mason mulai saat itu dilakukan di lantai bawah Adhucstat. Tentunya secara diam-diam. 

Namun lama-kelamaan hal yang ganjil tersebut akhirnya terendus orang luar dan menyebar dengan cepat bagaikan wabah penyakit. Orang pribumi menyebut Adhucstat sebagai “Rumah Setan”, sebutan yang sama yang dipakai para pribumi untuk loji-loji Mason lainnya di seluruh Hindia Belanda ketika itu.

Pada zaman pendudukan Jepang di Jakarta, aktivitas persaudaraan Mason Hindia Belanda sempat berhenti. Oleh Jepang, nama-nama Belanda untuk kota, gedung, dan sebagainya dihapus dan digantikan dengan nama Indonesia, seperti: Batavia diubah menjadi Jakarta, Buitenzorg jadi Bogor, Cherebon jadi Cirebon, Meester Cornelis jadi Jatinegara, dan Burgemeester Bisschopplein menjadi Taman Suropati. Namun ketika Jepang kalah dan Belanda kembali menancapkan kukunya di Indonesia, aktivitas Freemasonry kembali hidup, bahkan hingga ketika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 1949. Ini bisa terjadi karena anggota dan tokoh Vrijmetselaren bukan saja orang Belanda dan Eropa, namun juga tokoh-tokoh Indonesia sendiri.

Namun yang namanya bangkai tetap saja tercium bau busuknya walau ditutup rapat. Ritual Freemasonry yang sering melakukan pemanggilan arwah orang mati terdengar warga Jakarta dan menyebar dengan cepat menjadi desas-desus. Warga Jakarta yang religius merasa terganggu dan mendesak Soekarno agar menyelidiki hal itu.

Akhirnya pada awal Maret 1950, Soekarno memanggil Suhu Agung Freemasonry Indonesia ke Istana Merdeka untuk dimintakan klarifikasi. Grandmaster Mason Indonesia itu tentu membantah semua tuduhan. Namun sepuluh tahun kemudian, pada 27 Februari 1961, Soekarno melarang dan membubarkan Vrijmetselaren-Loge (Loge Agung Indonesia), Moral Re-Armament Movement, dan Ancient Mystical Organization of Rucen-Cruisers (Amorc) secara resmi lewat Lembaran Negara RI Nomor 18/1961. Setahun kemudian, keputusan ini dipertegas dengan Keppres nomor 264/1962 yang melarang organisasi-organisasi tersebut, juga pelarangan terhadap Baha’iyyah. Semua aset berupa gedung dan sebagainya disita negara.

                Di masa Soeharto berkuasa, ‘Rumah Setan’ itu sempat dipakai buat mengadili tokoh-tokoh sipil dan militer yang dituding tersangkut kasus pembunuhan para jenderal tahun 1965. Setelah itu bekas Adhucstat Logegebouw ini oleh Orde Baru (The New Order) difungsikan sebagai kantor Bappenas, sebuah badan pemerintah yang bertugas merencanakan dan menentukan arah pembangunan di negeri ini. Sebuah tugas yang persis sama dengan akar para Mason itu sendiri.





Mata Horus, Tema Illuminaty, dan Bundaran Hotel Indonesia


Di zaman VOC, pintu gerbang Menteng ada di seputaran Gondangdia, dekat Masjid Cut Meutiah sekarang. Namun di zaman Orde Baru, pintu gerbangnya ‘dipindahkan’, bukan lagi di utara tapi di sebelah baratnya, yaitu Bundaran Hotel Indonesia.

Bundaran Hotel Indonesia atau yang biasa disingkat menjadi Bundaran HI, lengkap dengan air mancur dan Tugu Selamat Datang-nya, merupakan salah satu proyek Soekarno yang dibangun pada tahun 1960-an untuk menyambut kedatangan atlet Asian Games yang akan berlaga di Jakarta. Di zaman Gubernur Ali Sadikin, Bundaran HI dijadikan lokasi dilangsungkannya malam muda-mudi pada setiap malam pergantian tahun, di mana sejumlah panggung hiburan rakyat didirikan dan warga Jakarta dan sekitarnya tumpah ruah di sana.

Paska zaman Suharto, bundaran Hotel Indonesia malah kerap dijadikan panggung demonstrasi oleh berbagai elemen massa dan berbagai kepentingan. Selain itu, sejumlah bangunan dan situs bersejarah yang ada di Jakarta juga rusak ketika gelombang unjuk rasa besar-besaran terjadi sepanjang Mei 1998. Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, mencanangkan gerakan rehabilitasi Jakarta agar kembali menjadi kota yang rapi dan besar, seperti ibukota negara lainnya.

Salah satu proyeknya, di tahun 2001, adalah merehabilitasi Bundaran Hotel Indonesia, lengkap dengan air mancur dan patung Tugu Selamat Datangnya, agar kembali menjadi salah satu ikon Jakarta yang cantik selain Monas. Namun anehnya, program rehabilitasi air mancur itu bernuansa Luciferistik “CAHAYA”, yakni, “Membangun Kebanggaan Nasional Melalui Pencahayaan”. Entah kebetulan atau tidak, kontraktor yang ditunjuk pun General Electric (GE). GE merupakan perusahaan yang juga bertanggungjawab atas tata cahaya Patung Liberty di Washington DC dan Chain Bridge di Hongaria. Di Jawa Tengah, GE menangani tata cahaya Candi Prambanan.

Profesor Nick Turse dalam “The Complex” (2009) menulis, “GE adalah salah satu perusahaan Amerika yang dekat dengan industri perang Pentagon. Sejak tahun 1957 hingga 1961, GE bahkan termasuk dalam lima besar kontraktor militer Pentagon di samping General Dynamics, Boeing, Lockheed, dan North American Aviation. Sejak 2006, GE telah meluncur turun ke urutan empatbelas terbesar. Walau demikian, nila laba yang diperoleh GE di tahun itu masih sangat besar, tidak kurang dari $ 2,3 miliar dari Departemen Pertahanan AS, dengan mengerjakan sistem persenjataan untuk Helikopter tempur Hawk UH-60 dan pesawat multiguna F/A-18 Hornet. Keduanya digunakan di Irak.”

Tema “CAHAYA” dalam proyek rehab Bundaran HI, dalam bahasa latin disebut dengan nama “Lucifer”. [bersambung/rz]


Ini sama sekali tidak terkait dengan apa yang dinamakan Triskadekaiphobia atau “Ketakutan yang tak beralasan terhadap angka 13”. Dalam kepercayaan Talmudian, yang bersumber pada ajaran Kabbalah yang merupakan campuran antara ilmu perbintangan, ilmu sihir zaman Firaun dan Raja Nimrodz, dan paganisme lainnya, angka 13 menempati kedudukan yang terhormat, dianggap sebagai angka mulia dan suci. Kaum Yahudi sebagai kaum Talmudian mempercayai ini sejak lama dan terus dipelihara dari generasi ke generasi sampai sekarang.

Kaum Kabbalis selalu menyisipkan angka suci mereka ini ke dalam berbagai karyanya. Antara lain bisa dilihat pada jumlah kartu remi (As, angka 2 sampai 10, Jack, Queen, dan King), jumlah kartu tarot, Yesus dengan ke-12 muridnya, Puteri Salju dengan 12 Kurcaci, Matahari yang dikelilingi 12 Zodiak atau rasi bintang, jumlah susunan batu di dalam piramida Illuminati seperti yang tertera di dalam lembaran uang kertas One Dollar, berbagai bagian dari burung elang simbol negara Amerika, simbol berbagai perusahaan yang berafiliasi dengan mereka (salah satunya simbol perusahaan makan cepat saji paling tersohor dunia), dan lain sebagainya.

Dalam arsitektur bangunan yang mereka buat, kaum Kabbalis ini menyisipkan angka 13 ke dalam bagian demi bagiannya, bisa berupa ukiran, pahatan, jumlah anak tangga, luas tanah, tinggi pintu utama atau tinggi pilar bangunan, jumlah batu pada dinding atau pintu utama, dan lain sebagainya.

 Kenyataan ini bisa dengan sangat mudah kita jumpai di dalam arsitektur Stadhuis atau yang sekarang lebih populer dengan sebutan Gedung Museum Fatahillah yang terletak di Kawasan Jakarta Kota. Gedung pusat pemerintahan Batavia yang dibangun para Mason ini mengandung banyak angka 13 yang diselipkan ke dalam susunan “batu Istana Dam” yang ditanam di pelataran depan bagian kanan tangga utama dan diberi bingkai alumunium (ada 13 susunan dari atas ke bawah), lalu ada 13 batu yang disusun melengkung di atas gerbang utama gedung ini di mana sebuah batu kunci (Key Stone) menjadi pusatnya, kemudian di tengah Key Stone tersebut ada sebuah pahatan bunga mawar (Rosicrusian, sebuah persaudaraan Kabbalis juga) di mana kelopak dan bagian tengah bunga juga berjumlah 13, lalu jumlah batangan kayu yang menyangga bagian atas pintu gerbang utama juga ada 13 buah, dan yang menarik adalah luas keseluruhan areal Stadhuis yang ternyata juga 13.000 meter persegi. Terlalu naif bila hal ini dianggap sebagai sebuah kebetulan belaka.

 

Gedung Legislatif Manitoba Kanada

Janganlah kita membahas Washington DC beserta berbagai monumen dan gedungnya yang sudah dikenal seantero dunia sebagai kota dan gedung-gedung Masonik. Ada yang menarik selain Washington DC, yakni Gedung Legislatif di Manitoba, Kanada.

Manitoba adalah nama salah satu provinsi Kanada. Lokasinya membentang di tengah-tengah negara tersebut. Manitoba adalah provinsi ke-6 terbesar dengan luas wilayah 647.797 km², yang menurut sensus kependudukan tahun 2001 dihuni oleh 1.150.000 jiwa. Ini adalah kota terpadat ke-5 di Kanada. Pusat pemerintahannya terletak di Winnipeg. Pemimpin pemerintahannya dikenal dengan panggilan Premier. Ada juga Gubernur Letnan yang mewakili Ratu. Manitoba menjadi bagian Kanada pada 12 Mei 1870.

Kota yang nyaris seluas metropolitan Jakarta ini memiliki sebuah gedung megah tempat para wakil penduduk kota berkumpul dan merancang undang-undang. Sebut saja gedung itu sebagai Gedung Legislatif Manitoba (GLM). GLM merupakan sebuah gedung besar, megah, dan jika malam bermandikan cahaya lampu yang keseluruhan arsitekturnya berpedoman pada prinsip-prinsip arsitektur Masonik.

Awalnya banyak yang tidak menyadari hal ini, namun sejak tahun 2006, berita ini menjadi topik hangat di berbagai media massa lokal di sana, antara lain Winnipeg Free Press. Mereka menulis jika hal tersebut, kesempurnaan arsitektural Masonik yang disusupkan ke dalam GLM, merupakan sebuah temuan besar dan mengejutkan.

Apa aspek yang paling menarik dari GLM? Profesor Frank Albo dari Universitas of Winnipeg menemukan jika seluruh bangunan GLM secara proporsional sama sebangun dengan Solomon Temple (Haikal Solomon) yang asli yang pernah berdiri di Yerusalem. Haikal Solomon dibangun pada sekitar abad ke-10 SM, dan akhirnya diruntuhkan Nebukadnezar dari Babylonia pada tahun 586 SM. Lalu Kuil Kedua dibangun empat ratus tahun kemudian di lokasi yang sama persis seperti yang pertama. Kuil yang kedua ini pun dihancurkan oleh Titus, Kaisar Romawi yang menyerbu Yerusalem.

Profesor Frank Albo memaparkan, begitu Anda masuk GLM dari depan, Anda akan memasuki sebuah ruang besar yang merupakan persegi yang sempurna, yang masing-masing luasnya 66,6 meter. Ini adalah simbolisasi angka okultis 666 yang disebut oleh Cornelius Agrippa sebagai “De occulta philosophia” atau Filosofi Okultis. Dalam kitab suci Kristen (Injil Wahyu 13), angka 666 diidentikkan dengan tanda Dajjal (The Beast) yang turun di akhir zaman.



Selain itu ada simbolisasi angka 13 juga di sini. Begitu kita memasuki GLM, kita juga akan disambut dua patung banteng besar berwarna hitam yang mengapit sebuah tangga lebar dan panjang, yang dibagi menjadi tiga buah bagian. Hitunglah undakan tangga itu, maka akan kita dapati ada 13 undakan di tiap-tiap bagiannya. Di ujung tangga kita akan sampai pada pilar kembar Masonik, sebagaimana simbolisasi Menara Kembar WTC.

Patung banteng itu sendiri dikatakan sebagai simbolisasi penangkal pengaruh jahat dari luar. Namun sebagian kalangan yakin jika banteng tersebut erat kaitannya dengan patung yang dibuat Samiri ketika kaum Yahudi ditinggalkan Musa di Bukit Thursina. Inilah sesembahan kaum Talmudian.


Lalu di puncak kubah GLM, terdapat patung Hermes. Sosok patung yang sama seperti yang sekarang ada di tengah halaman belakang Museum Fatahilah Jakarta. Hermes menempati posisi yang sangat dihormati kaum Kabbalis karena dia dipercaya sebagai penulis inisiasi ritual Masonik pertama di dunia. [bersambung/rizki]


European Union (EU) atau Uni Eropa merupakan serikat antar-pemerintahan yang beranggotakan negara-negara Eropa yang berdiri di atas landasan Perjanjian Eropa (Maastrich Agreement) di tahun 1992, dan baru diresmikan tepat pada 1 Januari 2007. EU kini telah memiliki 27 negara anggota yang bisa saja di masa depan bertambah. Beberapa institusi penting mereka adalah  Komisi Eropa, Dewan Uni Eropa, Dewan Eropa, Mahkamah Eropa, dan Bank Sentral Eropa. Bahkan terdapat pula Parlemen Eropa yang anggota-anggotanya dipilih langsung oleh warga negara anggota.

EU merupakan lembaga yang mirip dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa, namun membatasi diri dalam ruang lingkup kepentingan Eropa saja walau untuk itu dampaknya juga bersifat global.
Tak dipungkiri, Uni Eropa merupakan salah satu pencapaian dari apa yang disebut sebagai Pemerintahan Satu Dunia (The New World Order), di mana batas-batas geografis negara hanya menjadi semacam formalitas, dan yang berkuasa menghegemoni dunia hanya satu pihak. Bukankah sekarang kita mengenal istilah Adi Daya? Negara Super Power Tunggal? Ini adalah The New World Order. Fukuyama menyebutnya The Borderless World. Dunia tanpa batas. Dan kita sering mengatakannya “Globalisasi”.

Ada yang menarik dari lembaga supra-nasional ini dilihat dari bentuk arsitektural Markas Besarnya yang terletak di Brussels, Belgia. Bentuknya secara tegas mengambil rupa Menara Babel yang kisahnya lekat dengan keangkuhan Raja Nimrod, raja dari kerajaan pertama setelah terjadinya tragedi besar air bah di zaman Nuh a.s.

Raja Nimrod dan Menara Babel

Kisah tentang Raja Nimrod dan Menara Babel telah dimuat di dalam naskah-naskah berbagai agama dan budaya kuno, dalam kisah kaum Ibrani, Yunani, dan juga Islam. Nimrod adalah seorang tiran yang menguasai wilayah Babel (Babylonia), Uruk, Akkad, dan Calneh, dan dia bernafsu untuk menghilangkan semua agama dan menjadikan dirinya sebagai tuhan.


 Menurut Alkitab, Babel adalah kota yang menyatukan umat manusia, semua berbicara satu bahasa dan bermigrasi dari Timur. Raja Nimrod tinggal di kota ini dan bernafsu sekali menjadikan kotanya sebagai pusat dunia. Untuk itu Nimrod memutuskan untuk membangun satu menara yang besar dan tingginya menyentuh langit. Menara ini bukan untuk mengagungkan tuhan, melainkan untuk memuliakan Nimrod sendiri sebagai tuhan yang patut disembah. Versi Midrash dari cerita ini bahkan menambahkan bahwa para pembangun Menara mengatakan,

“Tuhan tidak mempunyai hak memilih langit untuk diri-Nya, dan menyerahkan dunia yang lebih rendah (daratan) untuk kita, sehingga kita akan membangun menara yang tingginya menyentuh langit.. sehingga muncul gambaran jika seolah-olah manusia menantang perang terhadap Allah “.
Lambert Dolphin dalam The Tower of Babel dan The Confusion of Languages berusaha mencari jawaban mengapa dan untuk apa mereka membangun menara seperti itu. Dan Lambert Dolphin mendapat jawabannya: demi keangkuhan dan kepuasan diri.

Di dalam kitab suci Al-Qur’an disinggung tentang kaum ini: “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad? (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain , dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab,” (QS. 89:6-13)”

Apa yang dikatakan Qur’an ternyata juga ada di dalam Kitab Genesis 10:31-32, 11:1-9:
10:31 Itulah keturunan Sem, menurut kaum mereka, menurut bahasa mereka, menurut tanah mereka, menurut bangsa mereka.
10:32 Itulah segala kaum anak-anak Nuh menurut keturunan mereka, menurut bangsa mereka. Dan dari mereka itulah berpencar bangsa-bangsa di bumi setelah air bah itu.
11:1. Semula, bangsa-bangsa di seluruh dunia hanya mempunyai satu bahasa dan mereka memakai kata-kata yang sama.
11:2 Ketika mereka mengembara ke sebelah timur, sampailah mereka di sebuah dataran di Babilonia, lalu menetap di sana.
11:3 Mereka berkata seorang kepada yang lain, “Ayo kita membuat batu bata dan membakarnya sampai keras.” Demikianlah mereka mempunyai batu bata untuk batu rumah dan ter untuk bahan perekatnya.
11:4 Kata mereka, “Mari kita mendirikan kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, supaya kita termasyhur dan tidak tercerai berai di seluruh bumi.”
11:5. Maka turunlah TUHAN untuk melihat kota dan menara yang didirikan oleh manusia. 11:6 Lalu Ia berkata, “Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa, dan ini baru permulaan dari rencana-rencana mereka. Tak lama lagi mereka akan sanggup melakukan apa saja yang mereka kehendaki. 11:7 Sebaiknya Kita turun dan mengacaukan bahasa mereka supaya mereka tidak mengerti lagi satu sama lain.”
11:8 Demikianlah TUHAN menceraiberaikan mereka ke seluruh bumi. Lalu berhentilah mereka mendirikan kota itu.
11:9 Sebab itu kota itu diberi nama Babel, karena di situ TUHAN mengacaukan bahasa semua bangsa, dan dari situ mereka diceraiberaikan oleh TUHAN ke seluruh bumi.

Markas EU dan Simbolisasi Babel Tower

Pembangunan Gedung Parlemen Uni Eropa yang bentuknya mencontek keseluruhan arsitekrural Menara Babel secara tegas menyampaikan pesan kepada dunia jika apa yang telah dibangun Nimrod adalah sangat bagus dan patut diteruskan. Pesan Nimrod yang sekarang diwariskan oleh Uni Eropa adalah: “Manusia merupakan sentral di dalam kehidupan dunia, bukan tuhan. Bahkan manusialah yang berhak mengatur tuhan. Dan semua manusia harus berbahasa yang satu, harus berpikiran satu, dan berkeyakinan yang satu.” Bukankah ini senada dan sejalan dengan apa yang dinamakan sebagai The World Order? Tata Dunia Baru yang mengharuskan semua manusia tunduk pada satu kekuasaan elit dunia? [bersambung/rz]

Apa yang disebut sebagai Freemasonry memiliki akar sejarah yang panjang. Pada awal mula, kaum Mason adalah sebutan bagi para tukang batu, para pekerja keras, yang hidup di Skotlandia sebelum abad ke-14 Masehi. Mereka terdiri dari para ahli bangunan, tukang ukur, dan sebagainya. Kaum Mason mengalami perubahan besar setelah dimasuki dan kemudian dikuasai para pelarian Ksatria Templar yang kemudian mengubah namanya menjadi Freemason.

Kisahnya bermula dari kekalahan Ksatria Templar dalam Palahan Hattin melawan pasukan kaum Muslimin yang dipimpin Shalahudin Al-Ayyubi. Ordo militer elit pasukan salib ini berhasil ditaklukkan dan Yerusalem pun akhirnya berhasil dibebaskan Shalahudin. Ini terjadi pada akhir abad ke-12 Masehi. Dari Yerusalem, Templar berkumpul di Perancis. Karena sikapnya yang tidak disukai banyak bangsawan Eropa dan juga Gereja, Templar akhirnya dibasmi dari seluruh Eropa lewat penyerangan gabungan pasukan Perancis yang dipimpin King Philip Le Bel dan pasukan Gereja pimpinan Paus Clement V. Serangan ini diawali tepat pada tanggal 13 Oktober 1307.

Menghadapi pasukan gabungan Eropa yang sedemikian besar, tidak ada alasan lagi bagi Templar yang sudah lama tidak berperang selain berlari menyelamatkan diri. Satu-satunya wilayah kerajaan di Eropa yang sedang tidak berada di bawah kekuasaan Gereja adalah Skotlandia. Sebab itu, wilayah yang saat itu dipimpin oleh King Robert de Bruce menjadi alternatif utama sebagai tempat persembunyian pelarian Templar.

Selain Skotlandia, beberapa wilayah lainnya juga diketahui menjadi tempat persembunyian mereka. Tentu saja, hal ini bisa dilakukan dengan menanggalkan jubah lama mereka dan memakai jubah yang baru. Mereka yang bersembunyi ke Malta mengubah diri menjadi Knight Of Rhodes atau Ksatria Malta; sedangkan yang ke Bavaria menjadi Knights of Teutonic; yang ke Italia, Portugis, serta Spanyol, menjadi Knights of Christ.

Di Skotlandia, konsentrasi pelarian Templar ini awalnya bersembunyi di gilda-gilda atau rumah-rumah besar tempat berkumpulnya para tukang batu (Mason) Skotlandia. Namun dalam waktu cepat mereka bisa menguasai para tukang batu ini dan menjadi pemimpin yang kemudian mengubah secara drastis perserikatan tersebut. Yang tadinya hanya perserikatan tukang batu, pekerja, insinyur, dan para arsitek, oleh mereka diubah menjadi persaudaraan rahasia yang memelihara keyakinan okultis yang berkeyakinan jika mereka merupakan orang-orang terpilih yang menyandang gelas The Architect of Universe.

Sebagai alat komunikasi, mereka antara lain menyisipkan berbagai simbolnya ke dalam berbagai rancangan gedung, monumen, menara, kota, dan sebagainya. Mereka sangat percaya jika semua simbolisme itu memiliki kekuatan supranatural bagi mereka sendiri.

Selain itu, persaudaraan Mason Bebas ini juga menjalin kembali komunikasi dengan saudara-saudara mereka seperti Illuminaty, Rosicrusian, dan sebagainya, di mana keluarga-keluarga Yahudi dunia seperti Rothschild dan Rockefeller berkuasa.

Mereka bukan Kristen, bukan Islam, dan bukan pemeluk agama-agama lainnya seperti yang lazim di kenal dunia. Mereka adalah pemeluk dari keyakinan esoteris, yang bersumber pada pemujaan paganisme Dewa Matahari yang dinamakan mereka sebagai Lucifer, Sang Pembawa Cahaya. Mereka terus bekerja selama berabad-abad, dari generasi ke generasi dengan sangat rapi, demi menciptakan dunia yang sepenuhnya dikuasai mereka.

Walau sangat terasa, namun eksistensi mereka sangat sulit untuk bisa diidentifikasi keseluruhannya. Dari simbol-simbol yang ada diberbagai bangunan dan kota dunialah, kita bisa mengetahui jika mereka masih ada, masih bekerja, dan masih menghegemoni. Banyak yang tidak percaya dan menganggap jika semua ini hanyalah masa lalu, orang yang kurang kerjaan, dan sama sekali tidak membawa manfaat ke depan. Namun ketahuilah, salah satu kekuatan utama mereka sesungguhnya terletak pada kesungguhan mereka memelihara tradisi dan sejarah mereka sendiri.

Struktur bangunan Pemerintahan Kabupaten Cikarang yang berbentuk Pentagon, Bundaran Air Mancur Hotel Indonesia yang berbentuk Mata Horus, pusat wilayah elit Menteng di Jakarta yang menyerupai kepala Baphomet, simbol-simbol angka 13 yang disusupkan ke berbagai struktur bangunan Museum Fatahillah alias Stadhuis, dan juga struktur bangunan dunia seperti Gedung Uni Eropa di Brussels yang secara jelas mengambil bentuk Menara Babel, semuanya dibangun oleh mereka.



Suatu waktu, terbit sebuah poster resmi dari Gedung Uni Eropa yang entah dengan maksud apa menyandingkan gambar gedung Uni Eropa ini dengan Menara Babel dengan slogan-slogan yang sangat kental dengan suasana di era Nimrodz.

Beberapa poin yang perlu diperhatikan antara lain: Pertama, kita telah dikonfirm jika bangunan Louise Weiss (Gedung Uni Eropa) benar-benar terinspirasi oleh Menara Babel. Poster diciptakan kembali tepat seperti lukisan Pieter Bruegel tentang Menara Babel. Kedua, slogan: “Eropa: Banyak Lidah Satu Suara” merujuk kepada Allah yang membingungkan masyarakat dengan banyak bahasa. Parlemen efektif akan membalikkan hukuman Tuhan untuk mengajarkan pelajaran tentang penyembahan berhala dan arogansi. Ketiga, lihatlah lebih dekat bintang-bintang di bagian atas. Apakah mereka terlihat aneh? Mereka berbentuk simbol pentagram terbalik alias merujuk pada simbol kepala Baphomet, si kambing setan. Ini mengartikan jika Uni Eropa berjalan di bawah hukum-hukum kegelapan.



Uni Eropa sekarang “menyatukan” 27 negara. Jumlah ini bisa saja akan bertambah. Amerika Serikat dan Kanada pun akan bersatu. Perserikatan-perserikatan regional pun telah terbentuk. Dan dari kesemuanya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (League of Nation) berada di puncak paling atas dimana segelintir negara besar menjadi pimpinan dari organisasi super state ini. Semuanya berjalan dengan pasti menuju satu titik tujuan akhir: Tatanan Satu Dunia yang populer disebut sebagai “The New World Order”. Kita berada di dalam proses akhir pembentukan ini. [Tamat/rz]

Sumber
Continue Reading
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template