Rabu, 14 Mei 2014

Empat Kriteria Masyarakat Jahiliyah



Muhammad Quthb, adik kandung asy-Syahid Sayyid Quthb rahimahullah, menyebut dunia modern sebagai jahiliyah abad 20 atau jahiliyah modern. Menurutnya “jahiliyah” bukan hanya keadaan di jazirah Arab pada masa awal Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam diutus. Jahiliyah merupakan sifat yang mungkin berlaku bagi masyarakat manapun di zaman kapanpun bila memenuhi setidaknya empat kriteria.

Pertama, tidak adanya iman yang sesungguhnya kepada Allah ta’aala. Yaitu, sikap yang membuktikan kesatuan antara akidah dan syariat tanpa pemisahan.

Kedua, tidak adanya pelaksanaan hukum menurut apa yang telah diturunkan Allah ta’aala, yang berarti menuruti “hawa nafsu” manusia.

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

”…dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al-Maidah ayat 49-50)

Ketiga, hadirnya berbagai thaghut di muka bumi yang membujuk manusia supaya tidak beribadah dan tidak taat kepada Allah ta’aala serta menolak syariat-Nya. Lalu, mengalihkan peribadatannya kepada thaghut dan hukum-hukum yang dibuat menurut nafsunya.

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ
 أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

”Allah ta’aala Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS Al-Baqarah 257)

Keempat, hadirnya sikap menjauh dari agama Allah ta’aala, sehingga penyelewengan menjurus kepada nafsu syahwat. Masyarakat itu tidak melarang dan tidak merasa berkepentingan untuk melawan perbuatan asusila.

Itulah beberapa ciri menonjol setiap kejahiliyahan yang ada di muka bumi sepanjang sejarah. Semuanya muncul dari cirinya yang paling pokok, yaitu penyelewengan dari kewajiban berbakti dan menyembah Allah ta’aala sebagaimana mestinya.

Ciri pertama suatu masyarakat jahiliyah adalah tidak adanya iman yang sesungguhnya kepada Allah ta’aala. Sebagian masyarakat bisa jadi mengaku beriman, mengaku muslim. Namun dalam hal mengimani Allah ta’aala, mereka mengimani Allah ta’aala menurut selera, bukan sebagaimana Allah ta’aala memperkenalkan dirinya di dalam Kitab-Nya. Mereka tidak tunduk kepada Allah ta’aala, malah mereka yang mendefinisikan Allah ta’aala sesuai hawa nafsu.

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ

”Dan mereka tidak menghormati Allah ta’aala dengan penghormatan yang semestinya.” (QS Al-An’aam ayat 91)

Dalam suatu masyarakat jahiliyah mereka senang mengakui Allah ta’aala sebagai Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Maha Pengampun. Tapi mereka tidak suka mendengar Allah ta’aala sebagai Yang Maha Keras siksaNya, atau Maha Memaksa, Maha Perkasa serta Maha Sombong. Padahal semua ini merupakan atribut dari Allah ta’aala yang jelas tercantum di dalam Kitab-Nya.

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

”Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah ta’aala amat keras siksaan-Nya.” (QS A-Anfaal 25)

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ
الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dia-lah Allah ta’aala Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia-lah Allah ta’aala Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah ta’aala dari apa yang mereka persekutukan.” (QS Al-Hasyr ayat 22-23)



Mengapa sebuah masyarakat jahiliyah bersikap pilih-kasih terhadap berbagai atribut Allah ta’aala? Karena mereka banyak tenggelam dalam perbuatan dosa dan maksiat, sehingga mereka sangat perlu dengan tuhan yang menyayangi dan mengampuni. Mereka suka dengan tuhan yang menjanjikan surga yang penuh kenikmatan. Namun mereka berusaha untuk tutup mata akan tuhan yang maha kuasa, maha perkasa dan maha keras siksaannya. Mereka menutup mata akan hadirnya neraka dengan segenap siksaannya yang mengerikan.

Sebab mereka ingin tetap bermaksiat namun tidak ingin menerima konsekuensi atau hukuman akibat maksiat tersebut. Maka mereka mengimani sebagian saja dari ketuhanan Allah ta’aala. Artinya, mereka tidak mau mengembangkan iman yang sesungguhnya kepada Allah ta’aala sebab mereka tidak siap menanggung resikonya. Mereka beriman dengan cara berangan-angan. Mereka beriman dalam mimpi belaka. Mereka sangat lemah dalam beriman. Sungguh benarlah Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam dengan sabda beliau sebagai berikut:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ
 
“Orang yang paling cerdas ialah barangsiapa yang menghitung-hitung/evaluasi/introspeksi (‘amal-perbuatan) dirinya dan ber’amal untuk kehidupan setelah kematian. Dan orang yang paling lemah ialah barangsiapa yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan (diampuni) Allah ta’aala.” (At-Tirmidzi 8/499)

Pada tulisan terdahulu kita telah membahas kriteria pertama yaitu tidak adanya iman yang sesungguhnya kepada Allah ta’aala. Yaitu, sikap yang membuktikan kesatuan antara akidah dan syariat tanpa pemisahan.

Ciri kedua suatu masyarakat jahiliyah adalah tidak adanya pelaksanaan hukum menurut apa yang telah diturunkan Allah ta’aala, yang berarti menuruti “hawa nafsu” manusia. Padahal jelas di dalam Al-Qur’an Allah ta’aala perintahkan manusia untuk menegakkan hukum berdasarkan apa yang telah diwahyukanNya. Bila hal ini dilanggar berarti masyarakat tersebut telah menegakkan hukum berdasarkan hawa nafsu manusia bukan mengikuti arahan petunjuk ilahi. Dan sikap seperti itu menjadi indikasi bahwa mereka cenderung memilih hukum jahiliyah daripada hukum Allah ta’aala. Maka masyarakat semacam itu pantas dijuluki sebagai masyarakat jahiliyah.

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

”…dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah ta’aala, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al-Maidah ayat 49-50)

Berdasarkan ayat di atas berarti berbagai negeri kaum muslimin di berbagai penjuru dunia dewasa ini sebagian besar termasuk ke dalam masyarakat jahiliyah. Sebab mereka tidak menjadikan wahyu Allah ta’aala semata sebagai sumber dari segenap sumber hukum. Mereka rela mengekor kepada logika berhukum masyarakat Barat non-Islam alias kafir.

Bahkan negeri seperti Kerajaan Arab Saudi sekalipun masih patut dipertanyakan konsistensinya dalam menjadikan Allah ta’aala sebagai fihak yang berdaulat penuh. Sebab andaikan mereka sejujurnya menegakkan hukum Allah ta’aala, niscaya mereka tidak akan membiarkan berlarut-larutnya penindasan dan penjajahan berlangsung atas saudara-saudara muslim di bumi suci Palestina yang merupakan salah satu jiran Kerajaan Arab Saudi.

Al-Qur’an bahkan memberi label yang sangat mengerikan kepada fihak-fihak pemegang otoritas hukum dalam suatu masyarakat bilamana mereka tidak mau berhukum dengan hukum Allah ta’aala. Allah ta’aala menyebut para pemimpin –baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif- masyarakat tersebut sebagai orang-orang kafir, zalim dan fasik..!

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

”Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS Al-Maidah ayat 44)

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

”Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (QS Al-Maidah ayat 45)

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

”Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS Al-Maidah ayat 47)



Maka saudaraku, sungguh perjuangan menegakkan Islam masih memerlukan pengerahan energi dan kesungguhan yang luar biasa. Masih banyak ummat Islam yang menyebut hukum jahiliyah sebagai hukum positif, padahal jelas negatif-nya di mata Allah ta’aala. Yang kita sayangkan bahwa sebagian orang yang mengaku sebagai aktivis pergerakan Islam merasa yakin benar bahwa jika mereka terpilih menjadi pemimpin dalam sebuah masyarakat jahiliyah berarti kemenangan sudah di depan mata…!

Padahal ancaman Allah ta’aala begitu nyata. Allah ta’aala memandang mereka yang memiliki otoritas hukum dalam sistem yang tidak berhukum berdasarkan wahyu Allah ta’aala adalah manusia-manusia kafir, zalim dan fasik. Na’udzubillahi min dzaalika…!

Pada tulisan terdahulu kita telah membahas kriteria pertama yaitu tidak adanya iman yang sesungguhnya kepada Allah ta’aala, yakni sikap semestinya yang membuktikan kesatuan antara akidah dan syariat tanpa pemisahan.

Ciri kedua ialah tidak adanya pelaksanaan hukum menurut apa yang telah diturunkan Allah ta’aala, yang berarti menuruti “hawa nafsu” manusia. Padahal jelas di dalam Al-Qur’an Allah ta’aala perintahkan manusia untuk menegakkan hukum berdasarkan apa yang telah diwahyukanNya. Bila hal ini dilanggar berarti masyarakat tersebut telah menegakkan hukum berdasarkan hawa nafsu manusia bukan mengikuti arahan petunjuk ilahi. Dan sikap seperti itu menjadi indikasi bahwa mereka cenderung memilih hukum jahiliyah daripada hukum Allah ta’aala. Maka masyarakat semacam itu pantas dijuluki sebagai masyarakat jahiliyah.

Ciri ketiga ialah bilamana hadir di dalamnya berbagai thaghut yang membujuk manusia supaya tidak beribadah dan tidak taat kepada Allah ta’aala serta menolak syariat-Nya. Lalu, mengalihkan peribadatannya kepada thaghut dan hukum-hukum yang dibuat menurut nafsunya. Perkara ini sudah kita singgung dalam tulisan terdahulu berjudul ”Wali Allah Versus Wali Thaghut”.



Adapun ciri keempat suatu masyarakat jahiliyah ialah hadirnya sikap menjauh dari agama Allah ta’aala, sehingga penyelewengan menjurus kepada nafsu syahwat. Masyarakat itu tidak melarang dan tidak merasa berkepentingan untuk melawan perbuatan asusila. Sehingga dalam masyarakat seperti itu segenap upaya untuk menjunjung tinggi akhlak mulia menjadi sia-sia bahkan memperoleh penentangan hebat dari kebanyakan manusia.

Sikap menjauh dari agama Allah ta’aala menyebabkan manusia selalu menjadikan pertimbangan syar’i sebagai pertimbangan terakhir bukan pertimbangan pertama dan utama. Hampir semua kebijakan mempertimbangkan hal-hal selain agama Allah ta’aala. Misalnya, yang lebih diutamakan adalah pertimbangan ekonomi atau stabilitas nasional atau penilaian dunia internasional.

Inilah yang terjadi pada kasus kaum wanita yang berprofesi sebagai pelacur. Pemerintah dan masyarakat membiarkan bahkan mendukung eksistensi profesi tersebut dengan alasan hak berpenghasilan. Soal bahwa menurut pandangan agama Allah ta’aala hal itu haram tidak menjadi persoalan. Sampai-sampai nama profesi tersebut “diperhalus” menjadi Pekerja Seks Komersial untuk mendongkrak kehormatan para pelakunya.

Contoh lainnya ialah dibiarkannya pabrik rokok dan bisnis rokok karena cukai menjadi penambah pendapatan negara yang begitu fantastis. Soal bahwa ia merupakan perbuatan haram dari perspektif agama Allah ta’aala, maka hal itu tidak dipersoalkan. Apalagi survey membuktikan bahwa sebagian kalangan para pemuka agama Islam (baca: para kyai) masih banyak yang merokok dan berfatwa bahwa rokok hukumnya “cuma” makruh, bukan haram.

Ini pula yang menjadi argumentasi mengapa aliran-aliran sesat tetap dibiarkan beraktifitas menyebarluaskan kesesatannya di tengah masyarakat. Ahmadiyah, misalnya, tidak kunjung diberangus karena berlindung di balik alasan hak asasi manusia atau menjaga stabilitas nasional atau menjaga image di mata dunia internasional. Bahwa dari sudut pandang agama Allah ta’aala ajarannya sudah jelas-jelas menentang Allah ta’aala dan RasulNya, maka hal itu tidak pernah menjadi pertimbangan yang patut diperhatikan.

Berbagai tayangan televisi yang masuk kategori pornografi atau pornoaksi tidak kunjung berkurang apalagi berakhir karena –kata mereka- memiliki rating yang tinggi, mendatangkan banyak iklan dan profit bagi para pemiliki stasiun TV. Soal bahwa dari segi agama Allah ta’aala tayangan-tayangan seperti itu termasuk haram, maka hal ini tidak pernah menjadi perhatian para pengusaha TV. Prinsip mereka “Anjing menggonggong, kafilah berlalu.” Dengan liciknya mereka bilang: “Kami hanya melayani aspirasi masyarakat luas. Kebanyakan pemirsa TV memang menghendaki hadirnya tayangan-tayangan seperti itu.”

Saudaraku, memang perbedaan pokok masyarakat jahiliyah dengan masyarakat Islam atau masyarakat orang-orang beriman ialah pada landasan berdirinya masyarakat tersebut. Masyarakat jahiliyah bertolak dari hawa nafsu dan selera masyarakat dalam mengembangkan kehidupan dan peradaban. Sedangkan masyarakat orang-orang beriman bertolak dari ketundukan dan penghambaan diri kepada Allah ta’aala.

Kedua-duanya sama-sama mengaku ingin menegakkan kebebasan. Yang satu kebebasan dalam pengertian bebas untuk bermaksiat kapan saja dan bagaimana saja sesuka hati. Sedangkan yang satu lagi kebebasan untuk taat dan patuh hanya kepada Allah ta’aala, pemilik otoritas tertinggi di alam raya. Jahiliyah tidak pernah menyebut perbuatan manusia sebagai maksiat, melainkan kreatifitas. Sedangkan Islam tidak membenarkan adanya kebebasan untuk bermaksiat, yang dibenarkan hanyalah kebebasan untuk taat. Apapun boleh dikerjakan dan dikembangkan di dalam Islam asalkan masih dalam koridor taat kepada Allah ta’aala.

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ
وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ
وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

”Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS Al-Jatsiyah ayat 23-24)

Masyarakat jahiliyah menjadikan segala pertimbangan hidupnya berdasarkan kepentingan yang dibatasi oleh kehidupan dunia belaka. Mereka tidak pernah dan tidak tertarik menjadikan pertimbangan agama Allah ta’aala sebagai pertimbangan pertama dan utama karena mereka tidak memiliki visi akhirat. Mereka hanya mengerti perkara dunia semata. Mereka meragukan bahkan mengingkari kehidupan akhirat. Mereka telah tertipu oleh dunia.

Sedangkan masyarakat Islam sangat peduli dengan agama Allah ta’aala. Segala sesuatu dinilai berdasarkan agama Allah ta’aala. Mengapa demikian? Karena mereka sangat bersyukur akan ni’mat Iman dan Islam yang Allah ta’aala limpahkan kepada mereka. Sebagai wujud rasa syukur itu mereka mengembangkan rasa cinta kepada keimanan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan keimanan. Sambil sebaliknya, mereka kembangkan rasa benci terhadap kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan.

وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ
وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

”…tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS Al-Hujurat ayat 7)

Benarlah Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam dengan sabdanya sebagai berikut:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
حُجِبَتْ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحُجِبَتْ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ

“Neraka dilapisi oleh hal-hal yang menyenangkan (syahwat) manusia, sedangkan surga dilapisi hal-hal yang tidak disukai manusia.” (HR Bukhary 6006)

 Sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template