Senin, 23 Juni 2014

Indonesia, Illuminati , dan Masa Depan Kita


  
Hari-hari ini kita disibukkan dengan kasak-kusuk koalisi dan capres ini dan itu. Namun tahukah Anda jika semua itu, sesungguhnya sudah ditentukan jauh hari di atas meja para pimpinan imperialis dunia di mana Rotschild dan Rockefeller menjadi anggotanya. Mau bukti?

Apa kabar Indonesia? Hari-hari ini kasak-kusuk partai politik menjelang pemilihan presiden menjadi headline berbagai media massa di negeri ini. Ada yang menjagokan si A, ada pula yang menjagokan si B.  Semuanya beralasan jika jagoannya masing-masing mampu membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik. Seolah-olah negeri bernama Indonesia ini masih sebagai sehelai kertas putih yang belum ditulisi. Seolah-olah negeri bernama Indonesia ini sekarang masih berwujud jabang bayi yang sama sekali belum menangggung beban dan dosa.

Sayangnya, Indonesia di hari ini tidaklah seperti itu. Indonesia di hari ini merupakan suatu negeri paling korup di dunia dengan utang luar negeri mencapai lebih dari 3.000 triliun rupiah(!). Angka ini bertambah setiap harinya.

Indonesia di hari ini bukan lagi negeri yang kaya raya, karena semua kekayaan negeri ini yang sangat luar biasa telah dikuasai oleh korporatokrasi asing, dimana para elit dunia seperti klan Rotschild dan Rockefeller berada di belakangnya.

Indonesia di hari ini miskin. Hanya para pemimpin dan pejabatnya yang kaya raya, sedangkan rakyatnya melarat.

Indonesia di hari ini adalah seorang gadis yang dahulunya sangat cantik rupawan, namun telah diperkosa dengan buas selama puluhan tahun tanpa henti.

Indonesia di hari ini adalah suatu negeri paria, dimana bangsanya menjadi kuli dan orang-orang asing menjadi tuannya.

Tidak ada satu pun manusia di Indonesia yang sanggup dan mampu mengeluarkan negeri ini dari lubang kutukan yang sangat parah seperti ini. Tidak Jokowi, tidak Prabowo, tidak Aburizal Bakrie. Tidak siapa pun.

Banyak kalangan yakin seyakin-yakinnya, hanya perang yang mampu mengubah negeri ini. Entah menjadi lebih baik atau sekalian hancur binasa.

Mengapa Indonesia yang dahulu sangat menggiurkan, bahkan dijuluki sebagai zamrud khatulistiwa, sekeping tanah surga yang dititipkan Tuhan di bumi, dan sebutan membanggakan lainnya, sekarang telah berubah menjadi suatu negeri yang teramat sangat menyedihkan?

Sejarah telah mencatatnya dengan tinta suram. Di tanah ini, iblis dan setan telah memenangkan pertempurannya melawan tentara kebajikan. Walau mungkin untuk sementara.

Indonesia, dulu dan kini

                  “Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari tujuhbelas ribu pulau yang tersebar mulai dari Asia Tenggara hingga Australia. Tigaratus etnis di sana menggunakan lebih dari duaratus limapuluh bahasa. Populasi Muslimnya terbesar jika dibandingkan negara lainnya…”

Kalimat di atas bukan keluar dari seorang Indonesia atau Indonesianis. Bukan pula hapalan anak sekolah dasar yang dicekoki gurunya di dalam kelas. Tapi berasal dari kesaksian seorang bandit ekonomi bernama John Perkins di dalam buku keduanya “The Secret History of The American Empire: Economic Hit Men, Jakals, and The Truth About Global Corruption” (2007) .

Jika kita mencari pandangan orang tentang Indonesia, maka ada ribuan bahkan jutaan pendapat tentang negeri ini. Semuanya mengatakan jika Indonesia negeri yang memiliki segalanya. Alamnya indah dan kaya raya, iklimnya sangat bersahabat, tanahnya sangat subur, penduduknya ramah tamah, dan berbagai keunggulan lainnya. Bahkan Arysio Santos Dos Nunes, profesor fisika nuklir asal Brasil, setelah meneliti tentang legenda Benua Atlantis selama hampir tigapuluh tahun menulis di dalam bukunya jika Indonesia ribuan tahun silam adalah pusat dari benua Atlantis.

Nusantara, nama lain dari Indonesia, sejak ribuan tahun sebelum masehi telah dikenal dunia. Dalam kitab Perjanjian Lama (Surat Raja-Raja I, 9: 26-8 dan 10: 10-3) dikisahkan jika Raja (Nabi) Sulaiman membangun banyak kapal di Ezion-Jeber, dekat Elot di tepi pantai Laut Kolzom, di negeri Edom. Sulaiman mengirim sebuah ekspedisi ke Ofir bersama dengan awak kapal Abu Hiram, kepala arsitek pembangunan Haikal Sulaiman. Ekspedisi itu pulang dari Ofir membawa membawa 420 talenta emas (1 talenta Attica setara dengan 26 pon, talenta attica besar sama dengan 28⅟₄ pon, dan 1 talenta Mesir/Corinthian setara 43⅟₂ pon ). Emas itu langsung diserahkan kepada Sulaiman. Bukan hanya emas, dari Ofir, Abu Hiram—dalam literatur Kabbalah sering disebut Hiram Abif—juga membawa banyak batu mulia dan kayu cendana. Di tahun 945 SM, Raja Sulaiman kembali mengirim ekspedisi untuk mencari emas di Ofir.

Dimanakah Ofir? Ofir merupakan nama sebuah pegunungan yang terletak di selatan Tapanuli dekat dengan Pasaman. Puncak pegunungannya dinamakan Talaman dengan ketinggian sekira 2.190 m, dan puncak lainnya bernama Nilam. Di timur Ophir terdapat Gunung Amas yang sampai sekarang dikenal sarat dengan timbal (Pb), besi (Fe), Belerang (S), dan nikel (Ni).

Selain Ofir, tahun 2.500 Sebelum Masehi, Barus—sebuah perkampungan kecil di pesisir barat Sumatera Tengah—juga telah dikenal hingga ke Mesir. Kerajaan Mesir Kuno melakukan kontak dagang dengan Barus untuk membeli Kapur Wangi (Kapur Barus) sebagai bahan dasar proses pembalseman mumi para raja (Firaun).

Masyarakat dunia sejak ribuan tahun silam telah mengenal Sumatera sebagai Tanah Emas. Sebab itu, pulau ini menyandang nama Swarnadwipa, atau Pulau emas. Banyak sebutan-sebutan lain, semisal dari Yunani, Cina, dan sebagainya yang artinya juga sebagai ‘Tanah Emas’. Itu baru dari Sumatera, belum lagi Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Bali, dan lainnya yang masing-masing menyandang nama yang hebat-hebat karena kekayaannya.  (bersambung/Rizki Ridyasmara)

Hari-hari ini kita disibukkan dengan kasak-kusuk koalisi dan capres ini dan itu. Namun tahukah Anda jika semua itu, sesungguhnya sudah ditentukan jauh hari di atas meja para pimpinan imperialis dunia di mana Rotschild dan Rockefeller menjadi anggotanya. Mau bukti?
*
Kemashyuran kekayaan Nusantara telah dikenal dunia sejak ribuan tahun sebelum masehi. Bangsa-bangsa Eropa pun berdatangan, seperti Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris, dan lainnya. Niat bangsa-bangsa ini ke Nusantara tidak hanya berdagang namun juga untuk menguasainya sekaligus menyebarkan ajaran salib di tanah yang dianggap kafir ini. Kita mengenalnya dengan slogan Tiga G: Gold, Glory, dan Gospel.

Dimulailah masa-masa penuh kegelapan di Nusantara di mana Belanda dianggap sebagai bangsa yang paling lama mampu menjajah tanah yang kaya ini. Sejarah telah mencatat bagaimana akhirnya secara politis bangsa Indonesia mampu memproklamirkan kemerdekaannya pada tahun 1945. Secara aklamasi Soekarno diangkat menjadi presiden. Dan seorang Soekarno yang lebih dari 25 tahun masa hidupnya dijalani di belakang terali besi kaum penjajah sungguh-sungguh mengetahui jahatnya sistem kolonialisme dan imperialisme.

Soekarno menggariskan arah politik anti neo-kolonialisme dan anti neo-imperialisme, dengan bekerja keras agar Indonesia bisa mandiri. Budiarto Shambazy, Wartawan Senior Kompas, dalam kata pengantar buku John Perkins  menuliskan, “Sejak 1951 Soekarno membekukan konsesi bagi MNC—Multi National Corporate—melalui UU No. 44/1960 yang berbunyi, “Seluruh pengelolaan minyak dan gas alam dilakukan negara atau perusahaan negara.” …Pembekuan konsesi membuat MNC kelabakan karena laba menurun. Tiga besar (Stanvac, Caltex, dan Shell) meminta negosiasi ulang, namun Soekarno mengancam akan menjual seluruh konsesi ke negara-negara lain jika mereka menolak UU N0.44/1960 tersebut. Pada Maret 1963 Soekarno mengatakan, “Aku berikan Anda waktu beberapa hari untuk berpikir dan aku akan batalkan semua konsesi jika Anda tidak mau memenuhi tuntutanku.”

Soekarno pada prinsipnya memang menentang korporatokrasi, sangat berbeda dengan Suharto yang malah menjadi pelayannya yang teramat sangat baik. Tak heran jika utang luar negeri di masa Soekarno hanya 2,5 miliar dollar AS, sedangkan di masa Suharto mencapai 100 miliar dollar AS (!). 

Sayangnya, sampai detik ini tak ada satu pun pemimpin Indonesia yang seperti Soekarno, menolak hegemoni korporatokrasi asing terhadap bangsa dan negara ini. Bahkan ketika anak biologis Soekarno, Megawati Soekarnoputeri menjadi presiden pun, dia dalam fakta politik-ekonominya lebih condong ke kiblatnya Suharto ketimbang Soekarno. Kasus penjualan gas alam Tangguh yang irasional ke Cina merupakan bukti paling jelas tentang hal ini.

Disebabkan Soekarno tidak mau tunduk pada kepentingan Nekolim inilah, akhirnya CIA menjatuhkannya dan menaikkan Jenderal Suharto menjadi presiden menggantikan Soekarno. Kejatuhan Soekarno dirayakan secara besar-besaran di Washington. Presiden Richard Nixon menyebutnya sebagai, “Upeti besar dari Asia Tenggara…”

“Bos Perkins, Charlie Illingworth mengingatkan bahwa Presiden AS Richard Nixon menginginkan kekayaan alam Indonesia diperas sampai kering. Di mata Nixon, Indonesia ibarat real-estate terbesar di dunia yang tak boleh jatuh ke tangan Uni Soviet atau Cina…,” demikian tulis Budiarto Shambazy.
Bagi yang ingin mengetahui sedikit tentang perbedaan arah politik-ekonomi Soekarno dengan Suharto, dan intervensi CIA serta korporatokrasi AS di Indonesia, silakan melihat film dokumenter “New Rulers of the World” dari John Pilger di Youtube yang terdiri dari enam episode. Film yang aslinya berbahasa Inggris itu sudah tersedia dengan terjemahan bahasa Indonesianya.

Begitu Soekarno jatuh, pada bulan November 1967, Jenderal Suharto mengirim satu tim ekonomi yang disebut banyak kalangan sebagai Mafia Berkeley, menghadap para CEO MNC seperti Rockefeller di Swiss, dan mengggadaikan hampir seluruh kekayaan alam Indonesia.

Pertemuan Mafia Berkeley-Rockefeller di Swiss

Di Swiss, sebagaimana bisa dilihat dari film dokumenter karya John Pilger berjudul “New Rulers of the World”, Mafia Berkeley ini atas restu Suharto menggadaikan seluruh kekayaan alam negeri ini ke hadapan Rockefeller cs. Mereka mengkavling-kavling bumi Nusantara dan memberikannya kepada pengusaha-pengusaha Yahudi tersebut. Gunung emas di Papua diserahkan kepada Freeport, ladang minyak di Aceh kepada Exxon, dan sebagainya. Undang-Undang Penanaman Modal Asing (UU PMA) tahun 1967 pun dirancang di Swiss, menuruti kehendak para pengusaha Yahudi tersebut.

Disertasi Doktoral Brad Sampson (Northwestern University-AS) menelusuri fakta sejarah Indonesia di awal Orde Baru. Prof. Jeffrey Winters diangkat sebagai promotornya. Indonesianis asal Australia, John Pilger dalam New Rulers of The World, mengutip Sampson dan menulis: “Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ‘hadiah terbesar’ (istilah pemerintah AS untuk Indonesia setelah Bung Karno jatuh dan digantikan oleh Soeharto), maka hasil tangkapannya itu dibagi-bagi.

The Time Life Corporation mensponsori konferensi istimewa di Jenewa, Swiss, yang dalam waktu tiga hari membahas strategi pengambil-alihan Indonesia. Para pesertanya terdiri dari seluruh kapitalis yang paling berpengaruh di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel, ICI, Leman Brothers, Asian Development Bank, Chase Manhattan, dan sebagainya. 

Di seberang meja, duduk orang-orang Suharto yang oleh Rockefeller dan pengusaha-pengusaha Yahudi lainnya disebut sebagai ‘ekonom-ekonom Indonesia yang korup’.”
“Di Jenewa, Tim Indonesia terkenal dengan sebutan ‘The Berkeley Mafia’ karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikannya yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya. Tim Ekonomi Indonesia menawarkan: tenaga buruh yang banyak dan murah, cadangan dan sumber daya alam yang melimpah, dan pasar yang besar.”

Masih dalam kutipan John Pilger, “Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi sektor demi sektor.” Prof. Jeffrey Winters menyebutnya, “Ini dilakukan dengan cara yang amat spektakuler.”
 “Mereka membaginya dalam lima seksi: pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar satunya, perbankan dan keuangan di kamar yang lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. 

Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja lainnya, mengatakan, ‘Ini yang kami inginkan, itu yang kami inginkan, ini, ini, dan ini.’ Dan mereka pada dasarnya merancang infrastruktur hukum untuk berinvestasi. Tentunya produk hukum yang sangat menguntungkan mereka (dan sangat merugikan bangsa Indonesia). Saya tidak pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di mana modal global duduk dengan wakil dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam negaranya sendiri.”

(Bersambung / Rizki Ridyasmara)



Pertemuan antara Mafia Berkeley-nya Suharto dengan para CEO Yahudi di Jenewa, Swiss, Nopember 1967, menghasilkan keputusan yang di luar akal sehat. Freeport mendapatkan gunung tembaga di Papua Barat (Henry Kissinger, pengusaha Yahudi AS, duduk dalam Dewan Komisaris), dengan pembagian laba untuk asing 99% dan Indonesia cuma 1%. Sebuah konsorsium Eropa mendapatkan Nikel di Papua Barat. Sang raksasa Alcoa mendapatkan bagian terbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan Amerika, Jepang, dan Perancis mendapatkan hutan-hutan tropis di Kalimantan, Sumatera, dan Papua Barat.

Pada 12 Maret 1967, Jenderal Soeharto dilantik sebagai Presiden RI ke-2. Tiga bulan kemudian, dia membentuk Tim Ahli Ekonomi Kepresidenan yang terdiri dari Prof Dr. Widjojo Nitisastro, Prof. Dr. Ali Wardhana, Prof Dr. Moh. Sadli, Prof Dr. Soemitro Djojohadikusumo, Prof Dr. Subroto, Dr. Emil Salim, Drs. Frans Seda, dan Drs. Radius Prawiro, yang seluruhnya berorientasi kapitalistis.

Orde Baru, Ciptaan Elit Yahudi

“Indonesia Baru” yang pro-kapitalisme telah dirancang elit dunia sejak era 1950-an. David Ransom dalam artikelnya yang populer berjudul “Mafia Berkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia: Kuda Troya Baru dari Universitas-Universitas AS Masuk ke Indonesia” (Ramparts,1970) memaparkan, AS menggunakan dua strategi untuk menaklukkan Indonesia setelah menyingkirkan Bung Karno. Pertama, membangun satu kelompok intelektual yang berpikiran Barat.

Dan kedua, membangun satu sel dalam tubuh ketentaraan yang siap melayani kepentingan AS. Yang pertama didalangi berbagai yayasan beasiswa seperti Ford Foundation dan Rockeffeler Foundation, juga berbagai universitas ternama AS seperti Berkeley, Harvard, Cornell, dan juga MIT. Sedang tugas kedua dilimpahkan kepada CIA. Salah satu agennya bernama Guy Pauker yang bergabung dengan RAND Corporation mendekati sejumlah perwira tinggi lewat salah seorang yang dikatakan berhasil direkrut CIA, yakni Deputi Dan Seskoad Kol. Soewarto. Dan Intel Achmad Soekendro juga dikenal dekat dengan CIA. Lewat orang inilah, demikian Ransom, komplotan AS, mendekati militer. Suharto adalah murid dari Soewarto di Seskoad.

Di Seskoad inilah para intelektuil binaan AS diberi kesempatan mengajar para perwira. Terbentuklah jalinan kerjasama antara sipil-militer yang pro-AS. Paska tragedi 1965 , kelompok ini mulai membangun ‘Indonesia Baru’. Para doktor ekonomi yang mendapat binaan dari Ford kembali ke Indonesia dan segera bergabung dengan kelompok ini.

Jenderal Suharto membentuk Trium-Virat (pemerintahan bersama tiga kaki) dengan Adam Malik dan Sultan Hamengkubuwono IX. Ransom menulis, “Pada 12 April 1967, Sultan mengumumkan satu pernyataan politik yang amat penting yakni garis besar program ekonomi rejim baru itu yang menegaskan mereka akan membawa Indonesia kembali ke pangkuan Imperialis. Kebijakan tersebut ditulis oleh Widjojo dan Sadli.”

Ransom melanjutkan, “Dalam merinci lebih lanjut program ekonomi yang baru saja di gariskan Sultan, para teknokrat dibimbing oleh AS. Saat Widjojo kebingungan menyusun program stabilisasi ekonomi, AID mendatangkan David Cole—ekonom Harvard yang baru saja membuat regulasi perbankan di Korea Selatan—untuk membantu Widjojo. Sadli juga sama, meski sudah doktor, tapi masih memerlukan “bimbingan”. Menurut seorang pegawai Kedubes AS, “Sadli benar-benar tidak tahu bagaimana seharusnya membuat suatu regulasi Penanaman Modal Asing. Dia harus mendapatkan banyak “Bimbingan” dari Kedutaan Besar Amerika Serikat.

Ini merupakan tahap awal dari program Rancangan Pembangunan Lima Tahunan (Repelita) Suharto, yang disusun oleh para ekonom Indonesia didikan AS, yang masih secara langsung dibimbing oleh para ekonom AS sendiri dengan kerjasama dari berbagai yayasan yang ada.

Mantan Economic Hitmen, John Perkins, menyatakan jika Repelita sesungguhnya hanyalah rencana AS untuk bisa merampok, menjarah secara besar-besaran, dan menguasai Indonesia. Rencana ini disusun dalam tempo duapuluhlima tahun yang dibagi-bagi menjadi lima tahunan. “Keberadaan kita (Bandit Ekonomi, penulis) di sini tak lain untuk menyelamatkan negara ini dari cengkeraman komunisme (dalih, penulis). ….Kita tahu Amerika sangat tergantung pada minyak Indonesia. Indonesia bisa menjadi sekutu yang andal dalam hal ini (bekerjasama dengan rezim Jenderal Suharto, penulis). Jadi, sembari mengembangkan rencana pokok, lakukan apa saja semampu kalian untuk memastikan industri minyak dan segala industri lain pendukungnya—pelabuhan, jalur pipa, perusahaan konstruksi—tetap memperoleh aliran listrik sebanyak yang kita butuhkan selama rencana duapuluh lima tahun ini berjalan, ” demikian tulis John Perkins mengutip pernyataan bos-nya, Charlie Illingworth.

Sosok Jenderal Suharto di mata AS, disamakan dengan sosok Shah Iran, Boneka AS. “Kami berharap Suharto melayani Washington seperti halnya Shah Iran. Kedua orang itu serupa: Tamak, angkuh, dan bengis…” (John Perkins)

Tim ekonomi “Indonesia Baru” ini bekerja dengan arahan langsung dari Tim Studi Pembangunan Harvard (Development Advisory Service, DAS) yang dibiayai Ford Foundation. “Kita bekerja di belakang layar, tidak secara terang-terangan,” aku Wakil Direktur DAS Lister Gordon. AS memback-up penguasa baru ini dengan segenap daya sehingga stabilitas ekonomi Indonesia yang sengaja dirusak oleh AS pada masa sebelum 1965, bisa sedikit demi sedikit dipulihkan. 

Mereka inilah yang berada di belakang Repelita yang mulai dijalankan pada awal 1969, dengan mengutamakan penanaman modal asing dan ‘swasembada’ hasil pertanian. Dalam banyak kasus, pejabat birokrasi pusat mengandalkan pejabat militer di daerah-daerah untuk mengawasi kelancaran program Ford ini. Mereka bekerjasama dengan para tokoh daerah yang terdiri dari para tuan tanah dan pejabat administratif. Terbentuklah kelompok baru di daerah-daerah yang bekerja untuk memperkaya diri dan keluarganya. Mereka, kelompok pusat, dan kelompok daerah, bersimbiosis-mutualisme. Mereka juga menindas para petani yang bekerja di lapangan. Rakyat kecil tetap dalam penderitaannya dan tumbuh satu kelas baru di negeri ini yaitu kelas elit yang kaya raya berkat melayani Washington.

Pada April 1966 Suharto kembali membawa Indonesia bergabung dengan PBB. Setelah itu, Mei 1966, Adam Malik mengumumkan jika Indonesia kembali menggandeng IMF. Padahal Bung Karno pernah mengusir mereka dengan kalimatnya yang terkenal: ”Go to hell with your aid!”

Untuk menjaga stabilitas penjarahan kekayaan negeri ini, maka Barat merancang Repelita. Tiga perempat anggaran Repelita I (1969-1974) berasal dari utang luar negeri. “Jumlahnya membengkak hingga US$ 877 juta pada akhir periode. Pada 1972, utang asing baru yang diperoleh sejak tahun 1966 sudah melebihi pengeluaran saat Soekarno berkuasa.” (M.C. Ricklefs; Sejarah Indonesia Modern, 1200-2004; Sept 2007).

Dalam hitungan bulan setelah berkuasa, kecenderungan pemerintahan baru ini untuk memperkaya diri dan keluarganya kian menggila. Rakyat yang miskin bertambah miskin, sedang para pejabat walau sering menyuruh rakyat agar hidup sederhana, namun kehidupan mereka sendiri kian hari kian mewah. Bulan madu antara Suharto dengan para mahasiswa yang dulu mendukungnya dengan cepat pudar.

Francis Raillon menulis, “Sepanjang 1972-1973 di sekitar Suharto terjadi rebutan pengaruh antara ‘kelompok Amerika’ melawan ‘kelompok Jepang’. Yang pertama terdiri dari para menteri teknokrat dan sejumlah Jenderal, Pangkopkamtib Jend. Soemitro salah satunya. Kelompok kedua, dipimpin Aspri Presiden, Jend. Ali Moertopo, dan Jend. Soedjono Hoemardhani.” (Francois Raillon; Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia 1966-1974; Des 1985). (Rizki Ridyasmara, bersambung)

Suharto tipe pemimpin yang sangat lihai. Banyak yang mengatakan sosoknya licin bagai belut yang berenang di dalam genangan oli. Dia memanfaatkan semua yang berada di sekelilingnya guna memperkuat posisinya sendiri. Ketika menumbangkan Bung Karno, Suharto menggalang kekuatan militer, teknokrat kapitalistis, dan ormas keagamaan—dalam hal ini kebanyakan sayap Islam, dengan alibi untuk menghancurkan komunisme. Namun setelah berkuasa, umat Islam ditinggalkan. Suharto malah merangkul kekuatan salibis faksi Pater Beek SJ dan juga CSIS di mana Ali Moertopo menjadi sesepuhnya, dan di era 1980-an muncul tokoh sentral Islamophobia, murid Ali Moertopo, bernama Jenderal Leonardus Benny Moerdhani.

Nations and Character Building yang diperjuangkan para pendiri republik ini dalam sekejap dihancurkan Suharto, dan digantikan dengan Exploitation de L’homee par L’homee, eksploitasi yang dilakukan elit negara terhadap rakyat kecil. Dan ironisnya, eksploitasi ini terus dilakukan oleh para elit pemerintah dan juga elit parpol sampai hari ini.

Dalam penegakan Hak Asasi manusia (HAM), rezim Orde Baru di tahun 1980-an sangat dikenal di luar negeri sebagai rezim fasis-militeristis. M.C.Ricklefs, sejarawan Australia yang banyak meneliti tentang sejarah politik di Indonesia, menyatakan jika penegakan HAM-nya rezim Suharto jauh lebih buruk ketimbang penguasa jajahan Belanda.

“Orde Baru lebih banyak melakukan hukuman itu ketimbang pemerintah jajahan Belanda. Orde Baru mengizinkan penyiksaan terhadap narapidana politiknya. Sentralisasi kekuasaan ekonomi, politik, administrasi, dan militer di tangan segelintir elit dalam pemerintahan Suharto juga lebih besar ketimbang dalam masa pemerintahan Belanda,” demikian Ricklefs.

Selain tiranik, Suharto juga telah menyuburkan sifat korup di dalam elit pemerintahan. Tidak main-main, salah satu tonggak “kegilaan” korupsinya sampai membangkrutkan salah satu firma konstruksi dan konsultan paling terhormat dan terbesar di AS, yakni Stone and Webster Engineering Company (SWEC). Salah seorang anggota keluarga Suharto meminta suap dengan terang-terangan kepada SWEC sebesar 150 juta dollar AS. Kasus ini ditulis oleh Steve Bailey di dalam Boston Globe edisi 15 Maret 2006 berjudul “The Bribe Memo dan Collapse of Stone and Webster” (hal.E1).

Kasus-kasus korup di era Orde Baru, dan kolusinya dengan dunia usaha, secara apik dipaparkan Yoshihara Kunio dalam “Kapitalisme Semu Asia Tenggara” (LP3ES, 1990). Jika dianalogikan, Indonesia di era kekuasaan Orde Baru merupakan sebuah peti harta karun, yang dikuasai sepenuhnya oleh elit global (Washington), dan hanya sebagian kecil dari isi harta karun itu yang dibagikan kepada para penjaganya sebagai upah, yakni Suharto dan kelompoknya. Sedangkan pemilik aslinya yakni rakyat Indonesia, hanya disuruh menjadi penonton pameran kekayaan dan ‘kemajuan pembangunan’ yang terjadi di sekitarnya. Inilah Indonesia di era Orde Baru.

Bila kita melihat apa yang terjadi di belakang kudeta terhadap Presiden Soekarno, naiknya Jenderal Suharto, dan apa yang dilakukannya setelah berkuasa, maka akan terlihat sekali jika ada tangan-tangan yang sangat berpengaruh, didukung modal yang besar, jaringan global yang sangat kuat, yang bermain di sana.

Secara garis besar bisa dirinci sebagai berikut :

Pertama. Indonesia yang dahulu dikenal sebagai Nusantara, namanya sudah termasyhur sejak lama sebagai suatu kawasan yang sangat kaya raya. Nusantara sejak zaman purba sudah dikenal sebagai tanah yang menyimpan cadangan emas permata dalam jumlah yang teramat sangat banyak. Bukan hanya emas permata, namun belakangan juga diketahui menyimpan minyak bumi, timah, bauksit, gas alam, dan sebagainya. Tentu saja, hal ini membuat bangsa-bangsa lain ingin menguasai kawasan yang dianggap sebagai “Sekeping Tanah Surga yang ada di Bumi”.

Kedua. Dalam sejarahnya, elit kerajaan Mesir Kuno sudah mengetahui keberadaan Nusantara dan bahkan telah mengadakan kontak dagang dengan Barus. Tidak menutup kemungkinan jika mereka juga melakukan perdagangan emas permata. Kontak dagang ini terus berlanjut hingga kerajaan Mesir Kuno runtuh berganti dengan kerajaan-kerajaan lain. Di zaman Raja Sulaiman, raja yang juga Nabiyullah ini, tatkala membangun istananya yang teramat sangat megah, memerintahkan kepala arsiteknya bernama Abu Hiram pergi ke Nusantara untuk mengambil emas permata yang akan digunakan untuk mempercantik istananya.

Kita mengetahui jika pada kedua tonggak kerajaan ini—Mesir Kuno dan sisa Kerajaan paska Sulaiman—bercokol satu kekuatan gelap di mana setan dan iblis menjadi pemimpinnya, serta sihir menjadi ilmunya. Kita menamakannya sekarang dengan sebutan Kabbalah.

Di zaman mesir Kuno, para tukang sihir yang berada di belakang kekuasaan para Fir’aun merupakan para pendeta tertinggi Kabbalah. Mereka inilah yang bertarung melawan Nabi Musa a.s. Penyihir Kabbalis merupakan salah satu tonggak dari tiga tonggak penopang Fir’aun.

Di zaman kerajaan Nabi Sulaiman a.s., para setan dan jin di depan Sulaiman a.s. menunjukkan sikap tunduk, namun di dalam hati mereka selalu penuh dengan iri, dengki, dan dendam. Sudah menjadi sifat mereka untuk selalu demikian. Abu Hiram atau Hiram Abiff merupakan pemimpin gerakan persaudaraan rahasia Kabbalis, sekaligus kepala arsitek Haikal Sulaiman. Orang inilah yang menjejakkan kakinya ke Swarnadwipa—seperti yang diperintahkan Sulaiman—untuk mengambil emas permata.

Sebab itulah, kaum Kabbalis sudah mengetahui sejak zaman purba jika tanah Nusantara menyimpan kekayaan emas permata dalam jumlah yang sangat berlimpah. Nusantara telah dijadikan target kaum Kabbalis sejak lama. Dan sejarah telah memperlihatkan kepada kita jika Nusantara sejak dulu hingga kini memang menjadi target mereka.

Sejarah Kaum Kabbalis dan Nusantara

Kitab suci Al-Qur’an dan kitab-kitab suci langit lainnya, semuanya telah mengisahkan fragmen penciptaan manusia dan mengapa Allah swt memerintahkan agar manusia turun dari surga ke bumi. Turunnya manusia ke bumi diikuti oleh iblis yang mendapatkan izin dari Allah untuk menggoda manusia dari jalan ketauhidan sampai dengan akhir zaman.

Sejarah juga telah memperlihatkan kepada kita bagaimana kebaikan dan kejahatan bertarung sepanjang kisah dunia. Para Nabi dan Rasul yang diutus Allah swt untuk menuntun manusia agar bisa hidup di jalan tauhid, selalu saja mendapat tentangan dan perlawanan dari barisannya Iblis yang sangat bernafsu agar manusia keluar dari jalan yang lurus itu.

Tipikal barisan iblis sepanjang sejarah selalu saja mengambil posisi berdekatan dengan lingkaran dalam kekuasaan. Iblis selalu berada di lingkaran elit penguasa. Tidak pernah sekali pun barisan iblis mengambil posisi di luar kekuasaan. Ini fakta dari zaman purba hingga sekarang. Dan kebalikannya, para Nabi dan Rasul nyaris selalu berada di sisi umat kebanyakan melawan penguasa lalim.

Dalam aksinya, kelompok iblis senantiasa menggunakan sihir sebagai senjatanya. Dan berbagai kumpulan sihir yang ada, disatukan ke dalam apa yang disebut sebagai Kabbalah, dengan sihir Babylonia sebagai induknya. Sebab itulah, barisan iblis dikemudian hari juga dikenal sebagai kaum Kabbalah.

Bagi yang ingin mengetahui sejarah mengenai asal muasal Kaum Kabbalah dan kaitannya dengan dunia kekinian, silakan membaca Eramuslim Digest edisi “Genesis of Zionism”. Di dalamnya, kita akan mendapatkan gambaran yang sangat jelas tentang hal ini. (Rizki Ridyasmara/bersambung)

Nusantara telah lama dikenal oleh dunia sebagai wilayah yang teramat kaya. Dan bukan kebetulan jika kaum Kabbalis sudah mengadakan kontak dengan wilayah ini, baik di zaman Fir’aun maupun Raja Sulaiman. Wilayah yang oleh Profesor Arysio Santos des Nunes dianggap sebagai pewaris peradaban Atlantis ini menjadi primadona bangsa-bangsa imperalis seperti Spanyol, Portugis, Inggris, Belanda, dan tentu saja kemudian Amerika Serikat.

Sejarah sudah memaparkan dengan gamblang betapa Nusantara yang kemudian namanya diubah menjadi Indonesia mengalami berbagai gejolak ekonomi maupun politis. Bung Karno yang sangat anti terhadap kaum imperialis ditumbangkan pada tahun 1965 dan diganti oleh ‘boneka globalis’ bernama Jenderal Suharto. Kekayaan Indonesia pun dihisap habis-habisan oleh asing, sedangkan Jenderal Suharto dan kroninya mendapat ‘recehan’nya sehingga mereka, keluarga, dan golongannya pun tumbuh menjadi elit baru di Indonesia.

Dan seperti nasib ‘boneka-boneka’ globalis lainnya, ketika sudah tidak lagi berguna maka dicampakkan, demikian yang dialami Suharto. Tahun 1997-1998 kaum Globalis melalui kaki tangannya mengguncang pasar moneter Asia Tenggara. Indonesia bergejolak. Dan akhirnya Suharto dipaksa menyerahkan kekuasaannya. Habibie naik, berkuasa sebentar kemudian diganti oleh Abdurahman Wahid, lalu Megawati, lalu Susilo Bambang Yudhoyono.

Yang tidak dipaparkan dengan jujur oleh sejarah adalah apa yang terjadi di belakang setiap pergantian kekuasaan. Tumbangnya Soekarno dan naiknya Jenderal Suharto, lalu jatuhnya Suharto  setelah berkuasa selama tigapuluh tahun lebih, bisa dijadikan cermin yang baik apa yang sesungguhnya terjadi. Rakyat selama ini dibohongi atas nama demokrasi dan isme-isme lainnya.

Naiknya Suharto dan Sistem  yang Korup

Tahapan kudeta kaum globalis terhadap Presiden Soekarno sekarang sudah menjadi rahasia umum. Amerika sebagai kendaraan besar kaum globalis sudah berkali-kali mencoba membunuh sosok Bung Karno namun tidak berhasil, bahkan salah seorang agen CIA bernama Allan Pope berhasil ditangkap hidup-hidup.

Akhirnya kaum globalis merancang suatu kudeta sistematis yang telah dimulai pada tahun 1950-an dan puncaknya terjadi pada dini hari, 1 Oktober 1965, yang ujung-ujungnya berhasil menumbangkan Soekarno dari kursi kekuasaannya.

Presiden AS Richard Nixon meluapkan kegembiraan atas jatuhnya Soekarno dengan menyebutnya sebagai “Terbukanya peti harta karun terbesar dari Asia”.

Jatuhnya Soekarno juga dirayakan besar-besaran dalam pertemuan tahunan (rahasia) kelompok Bilderberger tahun 1968, tanggal 26-28 April di Mont Tremblant-Canada. Dalam pertemuan tersebut, Rockefeller menyebutnya sebagai “Hadiah terbesar bagi The New World Order”.

Setiap ada ‘boneka’ baru yang naik menjadi presiden, Amerika selalu mengutus orangnya untuk memberi petunjuk apa saja yang harus dilakukan boneka tersebut, sekaligus memperingatkannya jika boneka tersebut tidak mau patuh. John Perkins, mantan Bandit-Ekonomi, menulis hal ini dalam bukunya:

“Aku memasuki kantor presiden dua hari setelah dia terpilih dan memberinya ucapan selamat. Ia duduk di belakang meja besarnya sambil tersenyum lebar padaku seperti kucing Cheshire…
Aku merogoh saku dengan tangan kiri dan berkata: “Tuan Presiden, ada beberapa ratus juta dollar dalam sakuku untuk Anda dan keluarga jika Anda mengikuti permainan.., Anda tahu, berbaik-baiklah dengan teman-temanku yang menjalankan perusahaan minyak, perlakukan Paman Sam dengan baik.”
Lalu aku melangkah lebih dekat, merogoh tangan kananku ke saku yang lain, membungkuk di depan wajahnya, dan berbisik, “Di sini, ada pistol dan peluru dengan nama Anda—buat berjaga-jaga siapa tahu Anda ingin memenuhi janji kampanye Anda…”

Aku melangkah mundur, duduk, dan membacakan secarik daftar kecil untuknya, isinya nama presiden-presiden yang dibunuh atau digulingkan karena menentang Paman Sam: Dari Diem hingga Noriega—Anda pasti tahu, tindakan rutin.

Dia memahami pesanku dengan sangat baik!”

Patut digaris-bawahi: Setiap ada presiden dari ‘negara jajahan’ atau ‘client’ dari Washington, maka setiap itu pula Washington akan mengirim langsung utusannya kepada penguasa baru dan mengatakan hal-hal tersebut di atas. Tidak terkecuali di Indonesia, dimana sekarang ini pemerintahnya sudah terjerat batang lehernya dengan utang luar negeri kepada kaum globalis sebesar 3.000 triliun lebih! Angka ini terus melambung setiap harinya.

Jenderal Suharto merupakan pelayan yang sangat baik bagi kekuatan globalis yang hendak menjajah kembali Indonesia. Ini dikatakan dengan tegas oleh John Perkins. Selama tigapuluh tahun lebih masa kekuasaannya, Indonesia dirampok habis-habisan kekayaannya. Negeri yang sangat kaya ini dililit utang dengan jumlah luar biasa besarnya. Dan celakanya, utang-utang tersebut tidak sungguh-sungguh digunakan untuk membangun negeri, namun sebagiannya masuk ke dalam pundi-pundi Suharto, keluarga, dan kelompoknya.

Ketika Suharto sudah dianggap tidak berguna lagi. Ini terjadi pada akhir tahun 1980-an, Washington segera melancarkan operasi penggulingannya lewat krisis moneter. Suharto terguling, namun sayangnya sistem korup yang diciptakannya ternyata masih eksis.

Sejumlah tokoh Indonesia yang naik menggantikannya tidak mampu membasmi sistem korup yang sudah mengurat-akar sepanjang tigapuluh tahun pemerintahan Orde Baru. Bahkan korupsi makin menjadi-jadi. Ibarat kata, jika di masa Suharto korupsi dilakukan di bawah meja, maka sekarang ini mejanya ikut-ikutan dikorupsi!

Kisah Cakil, Ilusi Demokrasi

Turunnya Suharto disambut dengan penuh sukacita oleh hampir seluruh anak bangsa ini. Era keterbukaan dimulai. Demokrasi menjadi istilah ajaib yang mampu menyihir banyak kalangan. Partai politik pun bermunculan bagai jamur di musim penghujan. Bangsa Indonesia pun disibukkan setiap tahun dengan berbagai macam pemilihan umum, dari pemilihan tingkat kepala daerah (Pilkada) hingga pemilihan legislatif dan presiden. Bahkan di banyak tempat, pemilihan Ketua RT/RW juga dilakukan mengikut cara kampanye pemilihan umum.

Tampak dari luar, cara seperti ini dianggap sangat demokratis. Namun mereka lupa jika cara pemilihan seperti ini terlalu banyak menguras energi dari rakyat secara keseluruhan. Energi bangsa tersedot hanya untuk mengurusi pemilihan ini dan itu, jalan-jalan kota hingga kampung dipenuhi sampah visual berupa spanduk dan poster calon-calon kepala desa, legislatif, hingga presiden dan wakilnya. Kota metropolitan seperti Jakarta pun tak ubahnya kota pemulung yang dipenuhi pamflet dan spanduk yang bertebaran di sekujur tubuhnya.

Di era demokrasi seperti sekarang ini, partai politik merupakan gerbong utama menuju perubahan. Di atas kertas, yang dikatakan para aktivis parpol adalah perubahan bangsa Indonesia ke arah yang jauh lebih baik. Namun pada kenyataannya, faktanya, yang terjadi hanyalah perubahan pada tingkat elit parpol. Yang tadinya hanya menghuni rumah kontrakkan, sekarang sudah punya belasan apartemen, kendaraan mewah, tanah berhektar-hektar, dan sebagainya. Yang seperti ini banyak.

Di sisi lain, aktivis parpol kelas bawah, hidupnya tidak pernah berubah. Mereka terus setia menjadi aktivis parpol dengan harapan hidupnya bisa ikutan berubah seperti para elit parpolnya. Mereka mengharapkan kenaikan tingkat dalam strata parpol. Selama mereka belum ‘naik kelas’, mereka memamah remah-remah, makanan sisa, dari uang yang bersliweran di sekitar elitnya. Ini faktanya.
Ada kisah seorang aktivis parpol yang sekarang sudah menjadi elit parpol, sebut saja namanya Cakil. Dalam tulisan berikut akan dipaparkan kisahnya. (bersambung/Rizki Ridyasmara)

Sebut saja pemuda yang sudah memiliki isteri dan satu anak itu Cakil. Saat gelombang mahasiswa turun ke jalan menuntut Suharto mundur di tahun 1998, dia hanyalah seorang guru les privat di sebuah lembaga bimbingan belajar di pingggiran Jakarta. Penghasilannya pas-pasan. Walau demikian, dia masih bersyukur bisa kemana-mana menggunakan motor Honda CB100 butut peninggalan almarhum ayahnya. Isteri Cakil seorang perempuan yang baik, dia setia dan tidak banyak menuntut. Untuk membantu mencari nafkah, tiap habis sholat subuh, isterinya sudah membawa beberapa keranjang kue donat bikinannya untuk dititipkan ke sejumlah warung di sekitar rumah kontrakkannya. Selain itu, setiap bada asyar, sang isteri juga mengajar anak-anak kecil mengaji di mushola dekat rumah.

Cakil dan keluarga menempati sebuah rumah petak kontrakkan yang kondisi atapnya sudah bocor di sana-sini di sebuah gang sempit di kampung. Namun walau demikian dia tetap berusaha bersyukur karena setidaknya sudah memiliki tempat naungan, walau belum milik sendiri.

Ketika Suharto jatuh, rakyat Indonesia dilanda euforia demokrasi. Teman-teman Cakil mengontaknya dan mengatakan jika mereka akan mendirikan sebuah partai politik. Cakil menyambut baik hal itu. Rapat demi rapat pun digelar di berbagai tempat, bahkan sampai pagi. Cakil sangat giat mengikuti semua rapat yang ada, walau dia hanya duduk bersila di barisan belakang yang lainnya.

Sebuah partai politik terbentuk. Cakil diamanahkan jabatan sebagai koordinator wilayah. Tentu saja Cakil menerimanya dengan sepenuh hati, walau dari jabatannya ini dia sama sekali tidak diiming-imingi gaji.

Hari berganti bulan, pemilihan umum pun digelar. Parpol tempat Cakil bernaung disahkan sebagai partai peserta pemilu. Cakil sangat bersemangat berkampanye. Dari kampanye model tradisional sampai ke dunia maya. Untunglah, partainya mengusung jargon-jargon anti korupsi dan hidup bersih. 

Masyarakat Indonesia saat itu sangat muak terhadap kasus-kasus KKN era Suharto. Hasil pemilu menempatkan parpolnya ke dalam posisi yang tidak mengecewakan. Beberapa teman-temannya yang
dijagokan sebagai caleg berhasil mendulang suara yang tidak sedikit. Cakil ikut bersyukur.

Setelah hasil pemilu legislatif diumumkan KPU, partainya masuk ke dalam posisi atas. Kini parpol-
parpol sibuk membahas calon presiden yang akan diusung. Orang-orang yang berada di atas Cakil sangat sibuk rapat ini-itu dan pertemuan ini-itu, tidak saja dengan anggota satu partai, tapi lintas partai.

Tiba-tiba petinggi partai tempat Cakil bernaung sepakat mendukung salah satu calon presiden dan wakil presiden yang diusung partai lain. Hati kecil Cakil bertanya-tanya karena calon yang didukung itu sebenarnya memiliki track record yang kurang baik. Tapi elit partai mengatakan bahwa calon itu sudah berubah dan sudah menjadi manusia yang baik dan amanah. Cakil tunduk dan menuruti semuanya.

Tak lama kemudian kehidupan para petinggi partai sudah mulai berubah dengan baik, demikian juga Cakil. Yang semula mereka hanya menempati rumah kontrakkan atau masih menumpang di PIM (Pondok Mertua Indah), kini beberapa petinggi partai sudah mampu membeli sebuah rumah. Tidak tanggung-tanggung, dari rumah kontrakkan yang biasa saja, mereka sanggup membeli rumah yang termasuk mewah. Bukan itu saja, mereka juga mampu membeli kendaraan roda empat dan juga seluruh isi rumah dengan uang yang dimilikinya.

Karena kesetiaannya, jabatan Cakil di dalam struktur partai naik. Dia kini menjabat posisi yang cukup bagus di tingkat pusat. Cakil juga kecipratan ‘rezeki’ yang lumayan. Setiap bulan kini dia menerima gaji tetap. Bahkan sering kali dia kini diberi uang dalam amplop atau dalam bentuk cek yang dia tidak pernah bertanya dari mana dan untuk apa. Petinggi partai hanya bilang jika itu merupakan berkah demokrasi. Cakil pun menerimanya dengan penuh rasa syukur, walau dia masih tinggal di rumah petakkannya itu. Cakil yang semula lugu dan menjalani hidup dengan lurus, sekarang telah berubah menjadi seorang pemuda yang sibuk kesana-kemari mencari ‘proyek’ dan ‘sikutan’. Itu dilakukannya bersama-sama dengan petinggi partainya. Modal mereka adalah perolehan suara yang lumayan banyak dari pemilihnya.

Bagi mereka, suara itu bukan hanya sekadar amanah, tapi juga modal utama untuk meraih berbagai jabatan politis seperti anggota legislatif, menteri, dirjen, dan sebagainya . Jabatan-jabatan politis seperti itu merupakan ‘lahan basah’ untuk mendapatkan apa yang mereka namakan berkah demokrasi. Demokrasi hanyalah alat, itu kata mereka. Ya, alat untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya.

Walau tidak duduk di bangku legislatif atau menjadi menteri, tetapi Cakil ‘dititipkan’partai menjadi salah satu staf ahli menteri. Walau keahliannya hanyalah mengajar sejumlah mata pelajaran di tingkat sekolah dasar, namun dia sekarang menjadi staf ahli seorang menteri yang bidangnya sangat jauh dari keahliannya.

“Tidak apa-apa, nanti kamu bisa belajar di sana,” demikian ujar  atasannya di partai.

Kehidupan Cakil pun mulai berubah walau masih sedikit demi sedikit. Dia kini bisa menempati rumah sewa yang lebih baik, pakaian yang lebih rapi dan necis, serta mencicil sebuah motor baru.
Datanglah musim Pilkada atau Pemilihan Kepala Daerah. Kali ini pemilihan seorang bupati. Karena kesetiaannya kepada partai, Cakil ditawari untuk maju dalam pilkada ini. Awalnya Cakil menolak secara halus karena dia merasa tidak punya dana yang cukup untuk kampanye dan segala hal yang berkaitan dengan pilkada yang jumlahnya miliaran rupiah. Dia kemudian dipanggil secara pribadi oleh petinggi partai.

“Cakil, kamu maju saja sebagai jagoan dari partai kita. Soal dana, kita yang menyiapkan. Jika kamu menang, kamu harus melunasinya…,” ujar  mereka. Cakil akhirnya setuju.

Cakil akhirnya terpilih menjadi seorang bupati. Isterinya sangat bersyukur. Dari rumah petak kontrakkan mereka pindah ke rumah dinas yang luas dan mewah. Dalam waktu singkat mereka bahkan mampu membeli sebuah rumah mewah di kompleks perumahan bergengsi lengkap dengan kendaraan roda empat jenis terbaru. Bukan itu saja, Cakil pun mulai mengambil kursus privat bermain golf.

Banyak teman-teman Cakil yang tidak aktif berpartai memujinya, namun tak sedikit yang mencurigainya. “Darimana uang untuk membeli semua itu? Bukankah gaji sebagai bupati sedikit dan tidak akan bisa membeli semua kemewahan itu?”

Cakil hanya tersenyum dingin. Mereka tidak tahu jika seorang pejabat di zaman itu sama sekali tidak mengandalkan gajinya. Seorang pejabat, apalagi kepala daerah walau itu hanya setingkat kabupaten, memiliki anggaran belanja yang jumlahnya sangat banyak. Itu bisa dipakai sesuka hatinya, dengan memalsukan sejumlah dokumen pembelian dan juga pembukuan. Soal auditor? Tenang saja. Asal uang itu dibagi-bagi ke sejumlah orang yang bersangkutan, maka amanlah segalanya.

Dan untuk ‘melunasi’ hutang-hutang biaya kampanyenya, maka Cakil memberikan jabatan-jabatan ‘basah’ kepada sejumlah rekan-rekannya agar mereka bisa juga ‘menikmati demokrasi’. Demi keluarga dan partai, demikian semboyan mereka.

Cakil sudah sangat lihai dalam hal ini. Namun Cakil hanyalah manusia biasa yang juga memiliki hati nurani. Jauh di dalam hatinya dia gelisah dengan apa yang selama ini dia lakukan. Ada perasaan bersalah. Dan untuk menentramkan perasaannya ini, hampir setiap tahun Cakil memboyong keluarganya untuk umroh ke Tanah Suci. Di depan Ka’bah, Cakil menangis tersedu-sedu memohon ampunan hingga ratusan bahkan ribuan kali. Selain rajin sholat wajib, dia juga mengerjakan sholat-sholat sunnah yang banyak di Tanah Suci ini. Hatinya tenang dan tentram.

Sepulang dari umroh, Cakil kembali kepada kesehariannya. Dia kembali kasak-kusuk dengan segala kekotoran dan nikmat duniawi yang sesungguhnya bukan haknya. Ketika hatinya sudah tak tahan lagi, dia kembali umroh ke Tanah Suci dan menggelar aneka pengajian di rumah mewahnya. Itu 
terjadi berulang-ulang.

Kisah tentang Cakil adalah kisah tentang para pejabat negeri ini. Bukan semuanya, namun kebanyakan ya seperti itu. Demokrasi di Indonesia adalah ilusi. Yang berlaku di negeri ini bukanlah demokrasi, melainkan Oligarki, dimana kelompok-kelompok orang kaya bisa dengan semaunya mengatur dan memerintah negeri dengan kekayaannya.

Dalam tulisan selanjutnya akan dipaparkan kondisi negeri ini sekarang dalam perangkap demokrasi, serta hari-hari ini dimana terjadi pengulangan sejarah tahun 1997-1998. (Rizki Ridyasmara/bersambung)

Pertarungan antar dua kandidat capres saat ini adalah pengulangan dari pertarungan antar elit di tahun prahara 1998. Banyak komponen Umat Islam akhirnya lagi-lagi harus bersikap “Mendingan-Daripada”. Apa pun yang terjadi, akhirnya oligarki elit tetap akan berkuasa.
*

Pertarungan antar dua kandidat capres-cawapres, Prabowo-Hatta versus Jokowi-JK, yang mengisi hari-hari kita sekarang sesungguhnya merupakan pengulangan dari pertarungan elit negeri di tahun 1998.

Pada tahun 1998, Presiden Suharto menjadi tokoh sentral, sang raja yang sudah tua dan pikun. Sebab itu, dua kekuatan di dekatnya yang secara ideologis kebetulan berseberangan berusaha mati-matian untuk mendapatkan warisan kekuasaan setelah Suharto lengser-keprabon. Mereka adalah pasukan gerombolan Jenderal Leonardus Benny Moerdhani versus Militer Hijau yang didalamnya termasuk pula Prabowo di kelompok ini.

Kelompok pertama mewakili faksi tentara Katholik-Liberal dimana sekarang, masih tetap bercokol walaupun minus Benny yang sudah mangkat, sebagian besar mereka kini berada di belakang kubu Jokowi-JK.

Jika kita cermat menelaah siapa saja di belakang kubu Jokowi-JK maka akan kita lihat para Islamofobi berkumpul semua di sini, dari aktivis JIL, kelompok Syiah, aktivis Kristen, aktivis Katholik, kaum oportunis, dan sebagainya. Bahkan bukan rahasia umum lagi jika sikap Gereja, walau di permukaan menyatakan netral, namun ‘gembala dan domba-dombanya’ berada di belakang kubu Jokowi-JK.

Agenda mereka jelas, ingin mengembalikan situasi politik negeri ini seperti masa kejayaan mereka dahulu ketika CSIS-Jesuit-Sekuler berada dalam lingkaran elit kekuasaan dan menjadikan umat Islam pesakitan dengan peristiwa-peristiwa Tanjung Priok, Warsidi-Lampung.

Dan lawan mereka, dalam militer adalah Prabowo Subianto , yang pada era tahun 1990-an dikenal sebagai putera mahkota pimpinan militer di negeri ini.

Sejarah sudah menorehkan tintanya jika akhirnya pada pertarungan 1998, dalam masa masa krisis , Prabowo tersingkirkan dengan tuduhan HAM dan keterlibatan aksi penculikan aktivis dan sebagainya, sehingga karirnya  dimatikan di  militer.

Dan kini, Indonesia hari ini adalah Indonesia sebagai negeri dengan utang ratusan ribu triliun rupiah. Banyak kekayaan alamnya dikuasai pihak asing. Belum lagi tingkat korupsi para pejabatnya yang sangat parah, dari level paling bawah hingga ke atas, dari kubu militer sampai kubu sipil.

Siapa pun presidennya nanti, dia akan menghadapi hal ini. Jika presidennya kuat, tegas, cerdas, dan berintegritas, maka dia harus menyikat semua kerusakan ini dan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Namun jika presidennya lembek, kurang cerdas, tidak tegas, apalagi disetir oleh partai politik atau elit-elit yang ada di samping atau belakangnya, maka siap-siaplah bangsa ini mengalami kehancuran yang lebih dahsyat. Indonesia yang sudah compang-camping, akan menjadi jauh lebih rusak dari  sebelumnya.

Perangkap Demokrasi

Hari-hari ini kita bisa melihat umat Islam—apakah itu yang ada di partai politik, ormas, maupun pribadi-pribadi— sebagian besarnya berkumpul di kubu Prabowo-Hatta. Ada juga sedikit dari umat Islam yang masih mau berada di kubu Jokowi-JK, mereka inilah yang dari dahulu selalu berada di sisi lain , atau mungkin belum sadar jika kubu yang mereka bela jika berkuasa akan sangat berbahaya bagi akidah tauhid di negeri ini.

Apakah itu dengan berbasis dukungan sebagian besar Partai dan ormas  Islam berarti kubu Prabowo-Hatta akan memperjuangan syariat Islam di Indonesia? Wallahu’alam, karena belum ada janji dan kepastiannya hingga saat ini, dan belum pernah terucap hal itu dari pasangan ini. Namun banyaknya umat Islam yang bergabung di sini hanya karena mereka  mempertimbangkan perhitungan mudharat dan manfaat. Istilahnya “Daripada-mendingan”. Walaupun demikian bagi umat Islam. kedua kandidat Presiden RI tersebut tetaplah masih dalam kondisi membeli kucing dalam karung..
Dengan jawaban politik “Daripada Mendingan” lagi-lagi umat Islam terperangkap dalam sistem demokrasi. Tidak ada jaminan jika—siapapun nanti yang terpilih— apakah lagi-lagi umat Islam akan hanya  berperan sebagai pendorong mobil yang mogok, dan akhirnya menjadi penonton yang didekati bilamana  diperlukan dan setelah tidak diperlukan maka dicampakkan.
Ini skenario terburuk tentunya, mudah-mudahan tidak terjadi.

Namun yang pasti, semua keadaan ini sudah diskenariokan di atas meja oleh para elit dunia, oleh para pemimpin global, yang duduk di bawah The One Eye, Mata Satu Illuminaty. Merekalah yang merancang, setelah Indonesia lepas dari sistem totaliter Suharto, maka bangsa ini harus masuk ke dalam sistem demokrasi yang sesungguhnya ‘demo-crazy’ yang berkedok istilah keren bernama Reformasi.

Dalam kenyataannya, bangsa ini setiap waktu disibukkan oleh berbagai aktivitas politik seperti pemilihan umum dari tingkat bawah sampai atas, pemilihan kepala desa, pemilihan walikota, pemilihan gubernur, legislatif, hingga presiden dan wakilnya. Sepanjang tahun energi bangsa ini dikuras habis dan ‘tradisi baru’ ini memunculkan koruptor-koruptor baru di mana-mana.
Sekali lagi…kembali umat Islam  teperangkap oleh kondisi “Daripada-Mendingan”. Namun inilah tantangan ril yang ada di depan mata kita semua. Seharusnya, di sisi lain, ada ulama-ulama dan tokoh-tokoh Islam yang mulai memikirkan kembali agar umat Islam Indonesia tidak lagi-lagi menjadi komoditas politik, namun bisa menjadi pimpinan politik di negeri ini agar bisa menjadikan Indonesia sebagai satu negeri yang bertauhid  .

Inilah pekerjaan rumah yang teramat besar bagi tokoh-tokoh Islam
Indonesia. (Tamat/ Rizki Ridyasmara)

Sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template