Kamis, 14 Agustus 2014

Mengapa Harus Diam Ketika Adzan Berkumandang?



ADZAN adalah seruan dari Allah SWT agar kita beribadah kepada-Nya. Namun mengapa saat adzan dikumandangkan, banyak orang yang menghiraukannya bahkan dia sibuk dengan aktivitasnya? Wahai saudaraku, betapa sangat pedihnya azab Allah bagi orang yang tidak mau mendengarkan adzan.

Mengapa banyak orang kelu lidahnya di saat sakaratul maut? Kebanyakan orang yang nazak, saat hampir tiba ajalnya, tidak dapat berkata apa-apa. Lidahnya kelu, keras dan hanya mimik mukanya yang menahan kesakitan ‘sakaratul maut’. Ini sebabnya adalah kebiasaan remeh kita yang sering tidak mendiamkan diri saat adzan berkumandang.

Diriwayatkan sebuah hadist: “Hendaklah kamu mendiamkan diri ketika azan, jika tidak Allah akan kelukan lidahnya ketika maut menghampirinya.”

Ini jelas menunjukkan, kita disarankan agar mendiamkan diri dan jangan berkata apa-apapun semasa azan berkumandang. Sebagai seorang Muslim, kita wajib menghormati azan. Azan itu Banyak fadhilahnya (keuntungan).

Sebuah hadist shahih berbunyi, “Seandainya mereka mengetahui apa yang terkandung dalam adzan dan barisan pertama (dalam shalat berjamaah), kemudian mereka tidak mendapatinya kecuali dengan cara mengundinya, pasti mereka mengundinya,” (Bukhari dan Muslim).

Jika terhadap lagu kebangsaan saja kita diajari agar berdiri tegak dan berdiam diri, mengapa ketika azan yang merupakan panggilan Allah, kita tidak mendiamkan diri?

Itulah makanya, Allah mengelukan lidahnya saat sakaratul maut datang. Kita takut dengan kelunya lidah ketika ajal hampir tiba dengan tidak sanggup mengucap kalimah “Lailahaillallah”.

Padahal barangsiapa yang dapat mengucapkan kalimah ini ketika nyawanya akan dicabut Allah, dengan izin Allah, Allah menjanjikan masuk surga. [rki/dm]

Sumber
Continue Reading

Minggu, 10 Agustus 2014

Klaim Historis Israel Atas Palestina



Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh,

Langsung saja Pak, benar apa tidak sih bahwa Tanah Palestina itu tanah yang dijanjikan tuhan bagi bangsa Israel? Padahal setahu saya, Tanah Palestina adalah tanah wakaf bagi umat Islam sampai akhir zaman. Bagaimana sih sebenarnya sejarah dari kedua bangsa tersebut di Palestina? Mohon jawabannya Pak.

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh
 Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

Ummu Salamah yang dirahmati Alah SWT, konflik dan peperangan yang terjadi di Tanah Palestina merupakan hal yang sudah terjadi selama berabad-abad. Bukan hanya antara bangsa Arab melawan Yahudi, namun juga antara kaum Yahudi melawan Yahudi lainnya, dan juga serbuan dari kerajaan Babylonia dan juga Romawi.

Dr. Yusuf Qaradhawy di dalam bukunya “Palestina, Masalah Kita Bersama” (Alkautsar, 1998), dengan tegas menyatakan jika klaim Yahudi atas hak historis Tanah Palestina merupakan satu klaim yang didasari bertumpuk-tumpuk kedustaan besar. “Sejarah mencatat, yang pertama kali membangun kota Al-Quds (Yerusalem) adalah suku bangsa Yabus, salah satu kabilah Arab kuno yang meninggalkan semenanjung Jazirah Arab bersama suku Kan’an. Hal tersebut terjadi sejak 30 abad sebelum masehi. Ketika itu Al-Quds bernama ‘Urussyaleem’ atau ‘Kota Syaliim’, Tuhan bangsa Yabus. Sebagaimana namanya yang pertama, dipakai juga kata ‘Yabus’ yang dinisbatkan kepada nama kabilah. Penyebutan nama itu terdapat di dalam Taurat,” demikian Dr. Yusuf Qaradhawy.

“Setelah itu bangsa Kan’an dan yang lainnya mulai mendiami Al-Quds dan Palestina secara umum selama berabad-abad, sampai kedatangan Ibrahim a.s. yang hijrah dari tanah airnya Iraq, sebagai orang asing. Ibrahim memasuki Palestina bersama isterinya, Sarah, pada usia 75 tahun sebagaimana yang disebutkan dalam pasal-pasal Perjanjian Lama. Ketika ia mencapai usia 100 tahun, lahirlah Ishaq (Kejadian: 12). Ibrahim a.s. wafat pada usianya yang ke-175 tahun dan tidak pernah memiliki Tanah Palestina walau hanya sejengkal. Sehingga saat isterinya, Sarah, meninggal, dia harus meminta kepada bangsa Palestina tempat untuk menguburkannya.” (Kejadian: 23)

“Ketika Ishaq berusia 60 tahun, lahirlah Ya’qub. Ishaq meninggal di usia 180 tahun dan tidak memiliki sejengkal pun Tanah Palestina. Setelah kematian ayahnya, Ya’qub pindah ke Mesir dan wafat di sana di usia yang ke 147 tahun. Ia berusia 130 tahun ketika memasuki Mesir dan anak cucunya ketika itu berjumlah 70 jiwa (Kejadian: 46). Ini berarti masa di mana Ibrahim, Ishaq puteranya dan Ya’qub cucunya hidup di Palestina adalah 230 tahun. Mereka di sana sebagai orang asing, pendatang, yang tidak memiliki sejengkal pun Tanah Palestina,” tegas Dr. Qaradhawy.

Taurat menyebutkan bahwa masa di mana Bani Israil hidup di Mesir hingga keluar oleh Musa a.s. adalah 430 tahun. Mereka juga orang asing yang tidak memiliki apa-apa. Disebutkan juga dalam Taurat bahwa masa di mana Musa a.s. dan Bani Israil hidup di padang Sinai adalah 40 tahun. Artinya janji Tuhan untuk mereka sudah lewat ketika itu selama 700 tahun dan mereka tidak memiliki apa-apa di Palestina. Maka kenapa Tuhan tidak memenuhi janjinya terhadap mereka?

Musa meninggal dan tidak pernah memiliki tanah sedikit pun di Palestina. Ia hanya memasuki wilayah Selatan Yordan dan meninggal di sana. Sepeninggalnya, yang memasuki Palestina adalah Joshua dan meninggal setelah membantai penduduk aslinya. Kemudian Tanah Palestina dibagi-bagikan kepada anak cucu Bani Israel dan mereka idak pernah memiliki raja maupun kerajaan kecuali para hakim yang memerintah selama 200 tahun. 

Setelah era hakim datanglah masa raja-raja: Saul, Daud, dan Sulaiman. Mereka memerinah selama 100 tahun bahkan kurang. Inilah periode berdirinya kerajaan dan masa kejayaan mereka. Setelah Sulaiman kerajaannya dibagi-bagi antara anak-anaknya: Yahudza di ‘Urussyaliim dan Israel di Syakeem (Nablus). Peperangan antara mereka berdua sangat dahsyat dan tiada henti, hingga datangnya tentara Babylonia di bawah pimpinan Nebukadnezar yang menghancurkan mereka berdua, menghancurkan Haikal Sulaiman dan ‘Urussyaliim, membakar Taurat, dan menawan tiap orang yang masih hidup.

Qaradhawy mengutip Syaikh Abdul Mu’iz Abdus Sattar yang memberikan komentar dalam bukunya ‘Telah Tiba Janji Kebenaran, wahai Yahudi’ dengan mengatakan, “Andai dijumlahkan seluruh tahun di mana Bani Israel hidup berperang dan menghancurkan di Palestina, tidak akan bisa menyamai masa yang dilalui Inggris di India, atau pun Belanda di Indonesia. Maka jika masa seperti itu memliki hak sejarah, sudah pasti Inggris dan Belanda akan menuntut hal serupa, seperti Israel!”

Seandainya kepemilikan tanah bisa disebabkan lamanya waktu tinggal di pengasingan, maka lebih tepat bagi mereka untuk menuntut kepemilkan atas Mesir yang mereka diami selama 430 tahun sebagai pengganti Palestina yang didiami Ibrahim dan anak-anaknya selama 200 tahun atau lebih sedikit dan mulanya hanya dua orang yang memasuki tanah Palestina dan ditinggalkan oleh 70 orang!

Inilah bukti kebohongan klaim kaum Yahudi atas Tanah Palestina. Bahkan sejarawan Barat bernama Joseph Reinach di dalam jurnal ilmiah Perancis “Journal des Debats” (1919)  mengatakan jika sebenarnya tidak ada yang namanya etnis atau ras Yahudi.

“Bangsa Yahudi ketika masa awal di Filistine tidak mengacu pada etnis namun religiusitas. Etnis Yahudi tidak ada yang murni karena berasal dari suku bangsa yang berbeda pada awalnya, yakni dari orang-orang Romawi, Yunani, Semit (Aran dan Suriah), Mesir, serta Kanaan sendiri. …Karena sebenarnya memang tidak ada apa yang dinamakan suku bangsa Yahudi, atau pun juga Negara Yahudi tersebut, tetapi sesungguhnya yang ada itu hanyalah agama Yahudi, maka zionisme itu sebenarnya adalah buah pikiran yang tolol dan tidak berguna karena mengandung kesalahan rangkap tiga: historis, arkeologis, dan etnis,” tandas Reinach.

Setelah hancur oleh serbuan tentara Babylonia di bawah Raja Nebukadnezar, Palestina kembali diserbu oleh tentara Romawi yan dipimpin Kaisar Titus pada tahun 70 M. Inilah kali kedua Haikal Sulaiman dihancurkan. Dan penguasa Romawi ini melarang orang Yahudi menginjakkan kakinya di Palestina. Menyebarlah kaum Yahudi ke selruh bumi (Diaspora). Hal ini disebabkan orang-orang Romawi mengetahui jika watak dan karakter asli kaum Yahudi adalah selalu merusak, berkhianat, dan sebab itu sama sekali tidak bisa dipercaya.

Ketika Uskup Copernicus, Uskup kota Al-Quds, hendak menyerahkan kunci kota kepada Amirul Mukminin Khalif Umar bin Khattab saat futuh Yerusalem, Uskup tersebut meminta satu syarat kepada Umar agar tidak pernah mengizinkan kaum Yahudi memasuki Aelia. Aelia merupakan nama lain Yerusalem. Bangsa Arab memasuki Al-Quds dalam keadaan tidak ada bangsa Yahudi di dalamnya yang telah diusir bangsa Romawi berabad silam. 

Tinggallah bangsa Arab di Palestina selama lebih dari 1400 tahun. Ini jauh lebih lama ketimbang saat bangsa Yahudi berdiam di Palestina yang hanya selama 200 tahunan. Fakta sejarah ini menunjukkan bahwa klaim historis terhadap Tanah Palestina adalah suatu kepalsuan yang besar. Israel sama sekali tidak memiliki hak apa pun atas Tanah Palestina. Dan keberadaan negara Israel di atas Tanah Palestina merupakan ilegal. Sebab itu, eksistensi negara Israel yang berdiri di atas tanah milik kaum Muslimin tersebut harus dihapuskan dari muka bumi. Tanah Palestina merupakan milik bangsa Palestina. Tidak yang lain. Wallahu’alam bishawab.
Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh    

Continue Reading

Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Ma’al Hadīts Asy-Syarīf: Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Imam Abu Dawud rahimahullāh (semoga Allah senantiasa merahmatinya) meriwayatkan dalam Sunan-nya dari Abi Ayyub sahabat Nabi saw yang mengatakan bahwa Nabi saw bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ فَكَأَنَّمَا صَامَ الدَّهْرَ

Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa satu tahun.

Dalam ‘Aunul Ma’būd terdapat penjelasan (syarah) terkait hadits ini, yaitu: bahwa sabda Rasulullah saw: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal.” Hadits ini dan hadits-hadits lainnya yang sejenis adalah dalil disunnahkannya berpuasa enam hari di bulan Syawal. Ini adalah pendapat Imam Syafi’i, Ahmad, Abu Dawud dan lainnya.
Imam Nawawi dalam Syarah Muslim berkata bahwa para sahabat kami dalam madzhab Syafi’i mengatakan: “Dan yang lebih utama bahwa puasa enam hari itu dilakukan langsung setelah hari raya Idhul Fitri.” Imam Nawawi berkata: “Jika ia melakukan secara terpisah, atau menundanya dari awal Syawal ke akhir Syawal, maka ia masih mendapatkan fadhīlah (keutamaan) sunnahnya mengikuti (al-mutāba’ah), sebab hal itu termasuk dalam hadits “kemudian diikuti dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal.”

Imam Nawawi juga berkata: Para ulama mengatakan sesungguhnya puasa enam hari bulan Syawal itu sama dengan puasa satu tahun, karena satu kebaikan sama dengan sepuluh kebaikan yang sama. Dimana puasa Ramadhan sama dengan sepuluh bulan, sedang puasa enam hari bulan Syawal sama dengan dua bulan. Hadits dalam hal ini telah diriwayatkan secara marfū’ (sampai ke Nabi) dalam kitab Imam an-Nasa’i.

Al-Mundziri berkata: Imam Muslim, at-Tirmidzi, an Nasa’i dan Ibnu Majah telah meriwayatkannya.
Sungguh Allah SWT telah menetapkan melalu sabda Rasulullah saw bahwa mengikuti puasa

Ramadhan dengan puasa enam hari di bulan Syawal akan mendapatkan pahala yang besar, yaitu sama dengan puasa satu tahun. Apakah Anda termasuk orang yang mengikuti sunnah ini, dengan melakukan puasa enam hari di bulan Syawal, sehingga layak memperoleh pahala yang besar ini?!
Kami memohon kepada Allah, semoga Allah menerima puasa Anda dan amal-amal kebaikan lainnya.

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 2/8/2014.
Continue Reading

Majelis Mujahidin Tegaskan Khilafah Versi Al Baghdadi (ISIS) Sesat Menyesatkan



Majelis Mujahidin dalam siaran persnya yang dibacakan pada Konferensi pers di Markaz MM di Pamulang Tangerang Selatan Sabtu pagi ini menegaskan deklarasi Daulah Khilafah Al-Baghdadi, jelas sesat dan menyesatkan.

Setidaknya ada dua alasan yang dikemukakan oleh Ketua Lajnah Tanfidziyah MM Ustadz Irfan S. Awwas, usai dirinya beserta delegasi MM berkunjung ke Bumi Jihad Suriah selama dua pekan.
Pertama, iftiraa-un ‘alal khilafah (berdusta atas nama khilafah). Mengangkat dirinya sendiri, hanya dibai’at oleh sekelompok orang, sedangkan bagian terbesar kaum Muslimin menolak. Hal ini berpotensi memicu perang saudara di antara kaum Muslimin yang setuju dan yang menentang. Mengangkat khalifah wajib berdasarkan musyawarah kaum Muslimin secara keseluruhan, bila tidak maka yang bersangkutan halal dibunuh.

Lebih jauh dikemukakan, dalam rilis berjudul Pernyataan Majelis Mujahidin Daulah Al baghdadi ( ISIS ) Rekayasa Syi’ah Menggunakan Doktrin Khawarij, ketika terjadi perselisihan antara Anshar dan Muhajirin dalam pemilihan khalifah, kedua belah pihak melakukan musyawarah untuk mencapai kesepakatan bersama.

Hal ini membuktikan bahwa pengangkatan khalifah oleh satu kelompok saja tidak bisa dibenarkan, sebagaimana dikatakan Khalifah Umar bin Khatthab ra:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ … قَالَ عُمَرُ : وَإِنَّا وَاللهِ مَا وَجَدْنَا فِيمَا حَضَرْنَا مِنْ أَمْرٍ أَقْوَى مِنْ مُبَايَعَةِ أَبِي بَكْرٍ . خَشِينَا إِنْ فَارَقْنَا الْقَوْمَ وَلَمْ تَكُنْ بَيْعَةٌ أَنْ يُبَايِعُوا رَجُلًا مِنْهُمْ بَعْدَنَا ، فَإِمَّا بَايَعْنَاهُمْ عَلَى مَا لَا نَرْضَى وَإِمَّا نُخَالِفُهُمْ فَيَكُونُ فَسَادٌ . فَمَنْ بَايَعَ رَجُلًا عَلَى غَيْرِ مَشُورَةٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَلَا يُتَابَعُ هُوَ وَلَا الَّذِي بَايَعَهُ تَغِرَّةً أَنْ يُقْتَلَا .

“Dari Ibnu ‘Abbas, … Umar berkata, “Demi Allah, tidaklah kami temui urusan kami yang jauh lebih sulit daripada pembai’atan Abu Bakar. Karena ketika itu kami khawatir, sekiranya ada suatu kaum yang kami tinggalkan dalam pembai’atan Abu Bakar, kemudian mereka membai’at orang lain yang tidak kami ridhai atau kami yang menyalahi keinginan mereka, sehingga terjadi bentrokan. Oleh karena itu, siapa saja yang membai’at seseorang tanpa musyawarah kaum muslimin, maka orang yang membai’at dan yang dibai’at tidak boleh diikuti. Sebab dikhawatirkan kedua orang itu akan dibunuh orang lain.”(HR. Bukhari, no. 6328)

Jika di masa khalifah rasyidah saja, pengangkatan khalifah berdasarkan musyawarah dan kesepakatan kaum Muslimin, lalu apa otoritas kelompok ISIS mendeklarasikan khilafah secara sepihak? Apakah Abu Bakar Al-Baghdadi yang hidup di masa penuh fitnah ini merasa lebih utama (afdhal) dari Umar bin Khatthab? Na’udzubillahi min dzalik!

Pesan Khalifah Umar bin Khatthab ra kepada kaum Muslimin, siapa pun yang menyeru umat Islam untuk memilih dirinya menjadi khalifah atau orang lain tanpa musyawarah kaum Muslimin maka orang itu boleh dibunuh.

عَنِ الْمَعْرُورِ بْنِ سُوَيْدٍ ، عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ ، قَالَ : مَنْ دَعَا إِلَى إِمَارَةِ نَفْسِهِ ، أَوْ غَيْرِهِ مِنْ غَيْرِ مَشُورَةٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ فَلا يَحِلُّ لَكُمْ إِلا أَنْ تَقْتُلُوهُ .

“Dari Ma’rur bin Suwaid dari Umar bin Khatthab, ujarnya:”Siapa saja yang mengajak umat untuk mengangkat dirinya atau orang lain menjadi imam tanpa musyawarah kaum muslimin, maka dihalalkan bagi kalian membunuh orang itu.” (HR. Abdul Razzaq, juz 5 hal. 445 no. 9759)

Kedua, doktrin takfir. Doktrin takfir muncul dari ideologi kaum khawarij, dan eksistensi kaum khawarij lahir dari sekte Syi’ah. Kaum Syiah ‘Alawiyyin sebagai cikal bakal kaum khawarij semula adalah pendukung setia Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib ra. Ketika terjadi perselisihan antara Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib dengan Gubernur Syam ketika itu, Mua’wiyah yang berakhir dengan kesepakatan dengan menunjuk dua orang hakim, yaitu Abu Musa Al-Asy’ari dari pihak Ali ra dan ‘Amru bin Ash dari pihak Mu’awiyah, yang terkenal dengan peristiwa tahkim.

Maka kelompok pendukung Ali, Syi’ah Alawiyyin berbalik memusuhi dan mengafirkan Ali sekaligus mengafirkan Mu’awiyah karena dianggap telah berhakim kepada manusia dan meninggalkan hukum Allah. Mereka menggunakan alasan yang benar untuk tujuan kebathilan, dengan memanipulasi ayat Qs. Al-An’aam, 6:57

… إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلهِ …

“…Semua keputusan hukum adalah milik Allah…”

Kini, alasan yang sama juga digunakan oleh kelompok Al-Baghdadi alias ISIS untuk mengafirkan kaum muslimin yang menolak kekhalifahan yang dideklarasikan secara sepihak. Dan mengafirkan kaum muslimin yang berada dalam pemerintahan yang didominasi oleh hukum-hukum selain syariat Islam. Sikap ini sesat, karena menolak berbai’at dan belum tegaknya syariat Islam bukan syarat keimanan, dan bertentangan dengan fakta sejarah yang syar’iy, antara lain:

1) Ketika Abu Bakar ra dibai’at sebagai khalifah pertama oleh kaum Muslimin, seorang sahabat dan tokoh Anshar bernama Sa’ad bin Ubadah tidak mau membai’at Abu Bakar hingga beliau wafat. Tapi khalifah Abu Bakar ra tidak memeranginya, dia tetap hidup aman. Dan tidak ada satupun sahabat yang mengafirkannya. Artinya, orang Islam yang tidak mau berbai’at kepada khalifah yang tidak mereka setujui bukan dosa.

Lalu atas dasar apa Al-Baghdadi mengafirkan, memvonis murtad, bahkan membunuh serta memerangi kaum yang menolak membai’atnya, seperti terlihat dalam video yang mereka sebar luaskan? Jika kelompok Al-Baghdadi mengafirkan kaum Muslim hanya karena tidak berbai’at kepadanya, lalu pantaskah mereka disebut Muslim sementara mereka menyembelih kaum Muslim yang dikafirkan secara sepihak?

2) Ketika Ali bin Abi Thalib dibai’at menjadi khalifah; sahabat Nabi seperti Mu’awiyah, Aisyah dan Zubair bin Awwam menolak pembai’atannya. Ali bin Abi Thalib tidak memvonis mereka kafir. Dibandingkan Ali bin Abi Thalib, siapakah Abu Bakar Al-Baghdadi?

3) Pada saat perjanjian Hudaibiyah, Umar bin Khatthab menentang kebijakan Rasulullah Saw. Tetapi Rasulullah Saw. tidak mengafirkan Umar walaupun dia bersikap menolak (oposisi) atas keputusan Rasul, yang membuatnya menyesali sikapnya itu seumur hidup.

4) Menjelang futuh Makkah, salah seorang sahabat Nabi bernama Khatib bin Abi Balta’ah membocorkan hal ini pada orang musyrik Makkah, bahwa Rasulullah Saw. akan menaklukan Makkah. Khatib bin Abi Balta’ah adalah veteran perang Badar, ketika surat yang dikirimkan tertangkap, Rasulullah tidak mengafirkan dan menghukum dia atas kesalahan yang dilakukan itu. Begitu pun seorang wanita kurir Khatib tidak divonis kafir, dan tidak dibunuh.

“Berdasarkan dalil naqliyah dan aqliyah yang telah disebutkan di atas, maka Majelis Mujahidin menyerukan kepada kaum Mukmin hendaknya menghadapi orang kafir yang memerangi Islam secara massif dan berkelanjutan dengan berpedoman Al-Qur’an dan tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar.” seru Ustadz Irfan

Sumber
Continue Reading

Polemik “Khilafah” ISIS dan Keagungan Khilafah Islam



Oleh: Rizqi Awal, Ketua BE BKLDK Nasional, Penulis dan Islamic Inspirator. Picteam.training@gmail.com
 
BANYAK SMS, Inbox, pesan BBM serta ada sanak keluarga yang menghubungi saya apakah saya terkait dengan ISIS atau tidak. Maklum, isu sensitif yang dibawa oleh ISIS adalah Khilafah yang selama ini senantiasa saya bicarakan, sampaikan dan informasikan.

Khilafah, sebuah sistem pemerintahan dalam islam, dimana Khalifah sebagai pimpinannya, dan keberadaannya adalah sebagai perisai bagi ummat islam. Khilafah merupakan negeri yang berdaulat, yang memiliki wilayah, memiliki kekuatan militer dan masyarakatnya tunduk pada aturan islam yang sempurna di bawahnya. Ia bukan sekedar “wilayah” yang diduduki, kemudian dideklarasikan.

Khilafah bukan pula dibentuk dari sebuah tandzhim/organisasi/faksi jihad tertentu. Tetapi deklarasi Khilafah merupakan kemauan masyarakat, kesatuan ummat islam, dan persetujuan berbagai kelompok/organisasi dan faksi jihad dikalangan ummat islam.

Kewajiban menegakkan aturan islam secara kaffah bukanlah pilihan, tetapi sebuah keharusan. Sebagaimana firman Allah SWT,

فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ

Putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. (QS. al-Maidah [5]: 48)

Maka perlu konstitusi pelaksananya. Konstitusi itulah yang disebut sebagai Khilafah. Sehingga membaiat seorang Khalifah yang memiliki kekuasaan yang jelas dan menjadi pimpinan Khilafah yang agung itu adalah kemuliaan.

“Abdullah bin Umar telah berkata kepadaku : “aku mendengar Rasulullah saw pernah bersabda :

مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةً لَهُ وَ مَنْ مَاتَ وَ لَيْسَ فِيْ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

“Siapa saja yang melepaskan tangan dari ketaatan, ia akan menjumpai Allah pada hari kiamat kelak tanpa memiliki hujah, dan siapa saja yang mati sedang di pundaknya tidak terdapat baiat, maka ia mati seperti kematian jahiliyah,” (HR. Muslim).

Imam Muslim telah meriwayatkan bahwa Rasul saw pernah bersabda :

وَ مَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَ ثَمْرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ إِنْ اِسْتَطَاعَ فَإِنْ جَاءَ آخَرٌ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوْا عُنُقَ اْلآخَرِ

“Dan siapa saja yang telah membaiat seorang imam lalu ia telah memberikan genggaman tangannya dan buah hatinya, maka hendaklah ia mentaatinya sesuai dengan kemampuannya, dan jika datang orang lain yang hendak merebut kekuasaannya maka penggallah orang lain itu,” (HR. Muslim).

Khilafah yang dideklarasikan oleh ISIS bisa saja berdiri dan sesuai harapan. Sayangnya, kekuatan yang mereka punya untuk melakukan berdirinya Khilafah, adalah kekuatan yang tak memiliki hakikat kekuasaan secara penuh. Sebagaimana para fuqoha/ulama baik dari kalangan ulama yang konsisten di jalur dakwah tanpa kekerasan maupun ulama yang memperjuangkan jalan kekuasaan melalui jihad telah memberikan tiga hal utama yaitu,

1. Mendominasi di negeri yang memiliki pilar-pilar negara sesuai wilayah sekitarnya. Sehingga ia memiliki kekuasaan yang stabil di negeri itu dan ia bisa menjaga keamanan negeri tersebut baik dalam dan luar negeri terhadap wilayah sekitarnya.

2. Menerapkan Islam dengan adil dan baik di negeri tersebut. Berjalan secara baik diantara masyarakat, sehingga masyarakat mencintai mereka dan ridha terhadap mereka.

3. Masyarakat di negeri itu membaiatnya dalam bentuk baiat in’iqad dengan ridha dan ikhtiyar, bukan dengan paksaan dan keterpaksaan, dengan syarat-syarat baiat yang diantaranya bahwa baiat itu pada dasarnya berasal dari penduduk negeri itu, bukan dari sejumlah sulthân mutaghallib. Sebab baiat yang syar’iy adalah seperti itu dengan meneladani Rasul saw. Rasul saw pada asasnya memberi perhatian atas mengambil baiat orang-orang Anshar penduduk Madinah Munawarah dengan ridha dan ikhtiyar, bukan mengambil baiat dari para sahabat beliau kaum Muhajirin. Baiat ‘aqabah kedua memenuhi hal itu.

Ketiga syarat itulah yang harus terpenuhi, oleh kelompok ISIS dan kelompok manapun yang mendirikan kekuasaan islam dengan kekuatan. Sangat aneh, bila deklarasi Khilafah hanyalah sekedar ucapan dan proklamasi tanpa kekuasaan yang hakiki. Sebab tak selamanya kekuatan itu menjadi kekuasaan, tetapi kekuasaan itulah yang kelak akan menjadi kekuatan.

Khilafah Sebuah Keagungan Islam

Maka, Khilafah sesungguhnya adalah sebuah momentum keagungan islam. Berdirinya Khilafah bukanlah celaan bahkan menjadi pertikaian dikalangan ummat islam itu sendiri. Sekali lagi, Khilafah, bukanlah sebuah kelompok, organisasi atau tandzhim serta sejenisnya. Khilafah adalah sistem pemerintahan di dalam islam, kedudukan dan hak-haknya terpenuhi dan sungguh kedatangannya dinantikan oleh ummat islam yang taqwa kepada Allah SWT.

Memang Allah SWT tengah menguji kesabaran para pembela dan pejuang tegaknya syariah islam. Ujian datang dengan berbagai klaim Khilafah yang telah berdiri. Karena memang upaya pengkaburan terhadap kemuliaan islam melalui Khilafah itu adalah bentuk tipu daya setan dan usaha Kapitalisme untuk melakukan pembunuhan “idealisme” terhadap kemuliaan islam.

﴿وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ *بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ﴾

“Dan di hari (kemenangan) itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Maha Perkasa lagi Penyayang.” (TQS ar-Rum [30]: 4-5)

Sungguh di suatu hari kelak, Khilafah yang dinantikan itu akan segera berdiri. Dan berdirinya Khilafah adalah ancaman besar bagi Israel, Amerika Serikat dan mereka yang telah menodai dan menciderai kaum muslimin. Berdirinya Khilafah, akan menjadi perisai, penolong dan penyatu ummat islam dengan metode dakwah dan jihadnya yang penuh kebaikan dan kehormatan. Dan hari itu kelak, kaum muslimin akan bergembira atas kembalinya sistem kenabian yang penuh dengan anjuran penerapan syariah islam secara sempurna. [Sumber]
Continue Reading

Misteri di Balik Holocaust Yahudi



EROPA Anti-Semit, atau sikap anti-Yahudi tengah menimpa bangsa Yahudi. Secara serentak, masyarakat dunia menyatakan penolakan terhadap bangsa yang satu ini.

Krisis ekonomi global turut pula mepengaruhi, bahkan Yahudi dituding sebagai penyebab semua kekacauan yang ada sekarang ini.

Dari segala hujatan dan penolakan itu, Yahudi kembali menggunakan lagu lama untuk membela dirinya; Holocaust. Apa itu Holocaust?

Holocaust adalah peristiwa pemusnahan hampir seluruh Yahudi Eropa oleh Nazi Jerman dan kelompoknya selama Perang Dunia II. Orang Yahudi sering menyebut peristiwa ini sebagai Shoah, istilah Ibrani yang berarti malapetaka atau bencana hebat. Holocaust sendiri berasal dari bahasa Yunani, holo yang artinya seluruh, dan caustos yang berarti terbakar.

Secara asal, holocaust artinya adalah persembahan api atau pengorbanan religius dengan pembakaran. Konon, Nazi Jerman dipercaya telah memusnahkan sekitar 5,6 sampai 5,9 juta orang Yahudi, setidaknya angka inilah yang selalu didengung-dengungkan dan dikampanyekan oleh Yahudi.

Holocaust tidak lepas dari kebencian Jerman kepada Yahudi. Perang Dunia I (PD I) menyisakan Jerman sebagai pecundang, dan Jerman tanpa tedeng aling-aling menyebut Yahudi sebagai pengkhianat yang membuat negara Bavarian itu hancur. Hal itu diperkuat dengan kejadian pada akhir PD I, sekelompok Yahudi mengobarkan revolusi ala Bolshevik Soviet di negara bagian Jerman, Bavaria.

Kontan, Yahudi dianggap sebagai bangsa yang berbahaya. Ketika Nazi naik panggung politik, kebijakan yang menekan Yahudi pun diterapkan. Hak-hak Yahudi dicabut, harta benda mereka disita, rencana untuk mengusir mereka keluar Jerman dirancang, sampai, konon, pemusnahan fisik yang berarti pembantaian.

Musim semi 1941, Nazi mulai membantai Yahudi di Uni Soviet yang dianggap sebagai sumber hidup Bolshevisme.

Orang Yahudi disuruh menggali lubang kubur mereka sendiri, kemudian ditembak mati. Musim gugur tahun yang sama, Nazi meluaskan pembantaian ke Polandia dan Serbia.

Kamp pembantaian untuk Yahudi mulai dibangun di Auschwitz, Dachau, Bergen-Belsen. Kamp itu dilengkapi kamar gas dan tungku besar. Mereka menggunakan kamar gas untuk membunuh orang Yahudi. Beberapa orang Yahudi dimasukkan ke dalam kamar gas, kemudian gas Zyklon-B, sebuah gas pestisida berbahan dasar asam hidrosianik, dialirkan.

Tapi apa memang seperti itu? Pada 1964, Paul Rassinier, korban holocaust yang selamat, menerbitkan The Drama of European Jews yang mempertanyakan apa yang diyakini dari Holocaust selama ini. Dalam bukunya, ia mengklaim bahwa sebenarnya tak ada kebijakan pemusnahan massal oleh Nazi terhadap Yahudi, tak ada kamar gas, dan jumlah korban tidak sebesar itu.

Arthur Butz menulis The Hoax of the 20th Century: The case against the presumed extermination of European Jewry pada 1976. Ia mengklaim bahwa gas Zyklon-B tidak digunakan untuk membunuh orang tapi untuk proses penghilangan bakteri pada pakaian.

Winston Churchill menulis 6 jilid karya monumentalnya, The Second World War, tanpa menyebut tentang program Nazi untuk membantai orang Yahudi. Eisenhower menulir memoarnya, Crusade in Europe, juga tak menyebut tentang kamar gas.

Mengenai kematian massal di Auschwitz, Robert Faurisson, profesor literatur di University of Lyons 2 mengklaim tipus-lah yang membunuh para tawanan itu, sama sekali bukan kamar gas. Seorang ahli konstruksi dan instalasi alat eksekusi dari AS, Fred Leuchter, pergi ke Auschwitz dan mengadakan penyelidikan serta tes di tempat itu.

Kesimpulannya adalah kamar gas di Auschwitz tidak mungkin digunakan untuk membunuh orang. Setelah orang-orang ini mempertanyakan kebenaran holocaust, gelombang kritisasi dan penyangkalan terhadap apa yang terjadi di holocaust mulai bangkit. Mereka yang meragukan kebenaran holocaust ini menyebut dirinya sebagai revisionis.

Memang betul, Nazi memperlakukan Yahudi demikian buruk, kejam, dan bengis. Nazi pernah memberlakukan pencabutan hak-hak Yahudi, penawanan di ghetto, kerja paksa, penyitaan harta benda dan deportasi dari Jerman.

Namun, sampai saat ini, tak pernah ditemukan satupun dokumen atau masterplan tentang pemusnahan Yahudi di Eropa. Satu lagi, Jerman juga dengan secara tegas menyatakan bahwa jumlah 5,9 atau 6 juta korban merupakan kebohongan.

Kamar gas memang ditemukan di Auschwitz. Namun, para revisionis mengklaim bahwa kamar gas beserta Zyklon-B tidak mungkin digunakan untuk eksekusi manusia, melainkan untuk pengasapan pakaian agar bakteri-bakteri di pakaian mati. Dari prosedur kesehatan inilah, mitos pembunuhan dengan kamar gas muncul.

Museum Auschwitz, museum tentang holocaust, selama 50 tahun mengklaim bahwa 4 juta manusia dibunuh di sana. Sekarang mereka malah mengklaim mungkin hanya 1 juta korban. Revisi klaim ini pun tidak didukung oleh dokumentasi 1 juta orang tersebut. Hal yang penting lagi adalah jika memang ada pembunuhan massal di Polandia terhadap Yahudi tentu Palang Merah, Paus, pemerintah sekutu, negara netral, pemimpin terkemuka waktu itu akan tahu dan menyebutnya dan mengecamnya.

Yahudi tentu saja mengambil keuntungan dari kebohongan besar mereka ini. Mereka yang merasa menjadi korban kemudian menuntut tanah Palestina, terus meminta ganti rugi kepada Jerman, dan meminta dana pembangunan dari negara lain, dan senantiasa memelihara isu Holocaust. Tak pelak lagi, Israel selalu bersembunyi di balik Holocaust atas semua aksi keji dan biadabnya.

[Berbagai Sumber]
Continue Reading

Mengapa Yahudi datang ke Palestina?



ISRAEL adalah negara yang didirikan untuk kaum Yahudi. Kaum Yahudi adalah kaum yang tidak memiliki tanah air dan tersebar di seluruh penjuru dunia. Karena kasus Holocoust yang dialami kaum Yahudi oleh Nazi Jerman, diputuskan memberikan tempat bagi kaum Yahudi untuk bertempat tinggal.
Setelah melalui proses yang amat panjang akhirnya pada 1948, kaum Yahudi memproklamirkan berdirinya negara Israel.

Dengan kemerdekaan ini, cita-cita orang orang Yahudi yang tersebar di berbagai belahan dunia untuk mendirikan negara sendiri tercapai. Oleh Inggris mereka ditawarkan untuk memilih kawasan Argentina, Uganda, atau Palestina untuk ditempati, tapi mereka lebih memilih Palestina.

Sejak awal Israel sudah tidak diterima kehadirannya di Palestina, bahkan di daerah mana pun mereka berada. Karena merasa memiliki keterikatan historis dengan Palestina, akhirnya mereka berbondong-bondong datang ke Palestina.

Mengapa Palestina? sebenarnya konflik ini sangat berkaitan dengan unsur Agama, para Yahudi sangat ingin mengambil atao menempati Bukit Zion dan sekitarnya (daerah Palestina, termasuk Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Yerussalem timur) yang dikeramatkan dan di percaya oleh mereka bahwa tempat itu tempat suci tuhan mereka.

Dengan datangannya bangsa Yahudi ke Palestina secara besar-besaran, Mulailah terjadi perampasan tanah milik penduduk Palestina oleh pendatang Yahudi. Pada masa inilah, perlawanan sporadis bangsa Palestina mulai merebak.

Berdasarkan perjanjian Sykes Picot tahun 1915 yang secara rahasia dan sepihak telah menempatkan Palestina berada di bawah kekuasaan Inggris. Dengan berlakunya sistem mandat atas Palestina, Inggris membuka pintu lebar-lebar untuk para imigran Yahudi dan hal ini memancing protes keras bangsa Palestina.

Aksi Inggris selanjutnya memberikan persetujuannya melalui Deklarasi Balfour pada tahun 1917 agar Yahudi mempunyai tempat tinggal di Palestina.

Pada tahun 1947 mandat Inggris atas Palestina berakhir dan PBB mengambil alih kekuasaan.

Resolusi DK PBB No. 181 (II) tanggal 29 November 1947 membagi Palestina menjadi tiga bagian. Hal ini mendapat protes keras dari penduduk Palestina. Mereka menggelar demonstrasi besar-besaran menentang kebijakan PBB ini. Lain halnya yang dilakukan dengan bangsa Yahudi. Dengan suka cita mereka mengadakan perayaan atas kemenangan besar ini. Bantuan dari beberapa negara Arab dalam bentuk persenjataan perang mengalir ke Palestina.

Apa yang dilakukan Yahudi dalam merebut Palestina tidaklah terlepas dari dukungan Inggris dan Amerika. Berkat dua negara besar inilah akhirnya Yahudi dapat menduduki Palestina secara paksa walaupun proses yang harus dilalui begitu panjang dan sulit.

Sejak 1918 hingga 1948, sekitar 600.000 orang Yahudi diperbolehkan menempati wilayah Palestina.
Tahun 1956, Gurun Sinai dan Jalur Gaza dikuasai Israel, setelah gerakan Islam di kawasan Arab dipukul dan Abdul Qadir Audah, Muhammad Firgholi, dan Yusuf Thol’at yang terlibat langsung dalam peperangan dengan Yahudi di Palestina dihukum mati oleh rezim Mesir. Dan pada tahun 1967, semua kawasan Palestina jatuh ke tangan Israel. Peristiwa itu terjadi setelah penggempuran terhadap Gerakan Islam dan hukuman gantung terhadap Sayyid Qutb yang amat ditakutikaum Yahudi. Tahun 1977, terjadi serangan terhadap Libanon dan perjanjian Camp David yang disponsori oleh mendiang Anwar Sadat dari Mesir.

Akhirnya, terbentuklah HAMAS sebagai bentuk organisasi dari rakyat Palestina yang ingin melepaskan wilayahnya dari kependudukan Israel dengan garis keras (mata dibalas mata).

Jadi, pendek kata, Israel menyerang Palestina untuk memperluas wilayahnya dan mendapatkan wilayah-wilayah yang diinginkannya, termasuk Jalur Gaza. Dengan alasan rohani (mengambil kembali daerah-daerah suci mereka) mereka menghalalkan segala cara biarpun harus membunuh orang-orang tidak bersalah.

Padahal, Yerussalem adalah kota suci bagi 3 agama, yakni Islam, Kristen dan Yahudi. oleh para elite Yahudi israel, kota suci ini d jadikan bagian dari negaranya. Padahal menurut PBB kota ini adalah Kota International karena memiliki kepentingan thdp beberapa agama.Saat ini, bila kita ingin mengunjungi Yerusalem, sangat sulit karena dijaga ketat oleh Israel yang merasa memilikinya. [berbagai sumber]
Continue Reading

Sabtu, 09 Agustus 2014

Muslimah Hizbut Tahrir Tolak Istilah Jilboobs dan Jilbab Gaul karena Melecehkan



Muslimah Hizbut Tahrir meminta agar istilah jilboobs dan jilbab gaul tak lagi dipakai. Istilah itu dianggap melecehkan jilbab yang merupakan bagian dari syariat Islam.

"Jilbab adalah istilah syariat Islam terhadap pakaian muslimah ketika keluar rumah yang merupakan kewajiban bagi perempuan yang telah dewasa. Jilbab adalah sebutan Al Quran untuk baju kurung atau jubah yang menutup seluruh aurat sampai mata kaki," terang Juru Bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Iffah Ainur Rochmah dalam keterangannya dengan mengutip surat dalam Al Quran, Jumat (8/8/2014).

Menurut dia, adapun kerudung, Al-Quran menyebutnya khimar adalah penutup kepala sampai dengan batas dadanya dan tidak berbentuk punuk unta untuk kepalanya.

"Hendaklah kita tinggalkan penggunaan istilah dan penggandengan jilbab dengan kata-kata lain semisal 'jilbab-gaul' apalagi dengan kata-kata seronok semacam 'jilb**bs' karena hal tersebut bisa mengaburkan bahkan melecehkan jilbab sebagai bagian dari syariat yang telah memiliki penjelasan rinci tentang gambaran praktisnya, berbeda dengan model pakaian lainnya," urai dia.

Pada mereka yang memakai pakaian seperti itu, hendaknya diberi nasihat. "Budaya saling menasihati dan mengarahkan telah diajarkan oleh Islam, harus kita lakukan terhadap para muslimah agar benar dan kokoh motivasi serta implementasi syariat berjilbabnya," tegasnya.

Menurut Iffah juga, tanggung jawab utama negara untuk edukasi melalui kurikulum pendidikan, penyuluhan, lembaga penyiaran dan berbagai media agar masyarakat bisa melaksanakan syariat berjilbab dengan landasan takwa, sesuai kaidah dan jauh dari motivasi menarik perhatian lawan jenis. Negara juga berkewajiban mengarahkan tren mode agar tidak bertentangan dengan syariat.

"Hendaklah kita sadari dan kita tolak kampanye faham kebebasan atas nama HAM yang menempatkan kecantikan perempuan sebagai komoditas yang layak dieksploitasi. Kampanye ini mengarahkan masyarakat melihat syariat berpakaian muslimah sebagai hambatan, pengekangan kebebasan dan karenanya perlu dikompromikan dengan tren mode agar tidak kehilangan daya tarik keperempuanannya," urai dia.

"Syariat berjilbab adalah kewajiban masing-masing individu muslimah. Namun demikian, pelaksanaannya secara sempurna dan mudah bisa terwujud bila negara memiliki visi sejalan untuk pelaksanaan syariat secara kaffah. Di sinilah pentingnya penegakan khilafah untuk mewujudkan pelaksanaan syariat secara kaffah," tambahnya lagi.

Sumber
Continue Reading
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template