Selasa, 16 September 2014

Download Kumpulan Ceramah Dr Zakir Naik(President of Islam Research Foundation, Mumbai, India)


Zakir Abdul Karim Naik (Hindi: ज़ाकिर अब्दुल करीम नायक; lahir 18 Oktober, 1965) adalah seorang pembicara umum Muslim India, dan penulis hal-hal tentang Islam dan perbandingan agama. Secara profesi, ia adalah seorang dokter medis, memperoleh gelar Bachelor of Medicine and Surgery (MBBS) dari Maharashtra, tapi sejak 1991 ia telah menjadi seorang ulama yang terlibat dalam dakwah Islam dan perbandingan agama. Ia menyatakan bahwa tujuannya ialah membangkitkan kembali dasar-dasar penting Islam yang kebanyakan remaja Muslim tidak menyadarinya atau sedikit memahaminya dalam konteks modernitas.
Zakir Naik adalah pendiri dan presiden Islamic Research Foundation (IRF)[1] — sebuah organisasi nirlaba yang memiliki dan menyiarkan jaringan saluran TV gratis Peace TV dari Mumbai, India.


Sumber
Continue Reading

Senin, 15 September 2014

Perhatian Islam Terhadap Hak-hak Lingkungan



Salah seorang filsuf Barat, Nietzsche, mengatakan,”Orang-orang lemah dan tidak mampu, wajib mengetahui hak-hak mereka. Sebab, hak merupakan dasar pertama dari dasar kecintaan kita kepada kemanusiaan. Wajib pula bagi kita untuk membantu mereka dalam hal ini (dinukil dari Al Ghazali, Rakaiz Iman Baina Al Aqli wa Al Qalbi, hal. 318).”

Namun ahli filsafat Islam tak membatasi nilai akhlak yang menjadi ketetapan masyarakat berupa hak yang meliputi setiap sisi manusia. Semua itu tanpa perbedaan warna atau jenis dan bahasa. Ia juga meliputi pedoman yang digunakan masyarakat, memelihara Islam dengan kekuatan syariat. Lalu menjamin aplikasinya, menjalankan hukuman kepada orang yang melanggar nilai akhlak tersebut. Diantara hal itu adalah penjelasan tentang Hak-Hak Lingkungan.

Allah menciptakan lingkungan semesta alam yang indah, damai, manfaat, yang diatur manusia. Merupakan kewajiban penting bagi manusia untuk memelihara habitat atau lingkungan semesta alam. Sebagaimana pentingnya menyeru manusia supaya berpikir tentang ayat-ayat Allah Ta’ala akan kejadian alam semesta, yang diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Allah Ta’ala berfirman, 

Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun. Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata.(Qaaf: 6-7)249

Karena itu, tumbuh dan terjalinlah hubungan cinta dan kasih sayang antara Muslim dengan lingkungan sekitarnya berupa benda mati dan benda hidup. Memelihara lingkungan alam itu untuk manfaat di dunia. Sebab, dengan memelihara lingkungan alam sekitar, maka akan menimbulkan kehidupan yang indah dan memesona. Sedangkan di akhirat terdapat pahala yang besar di sisi Allah Ta’ala.

Dalam pendangan Nabi, lingkungan sebagai penguat pada sudut pandang Al-Qur’an yang universal tentang alam semesta, yang menegaskan bahwa di sana terdapat hubungan erat dan timbal balik antara manusia dan unsur-unsur alam semesta. Sedangkan titik temunya adalah terpancarnya keyakinan bahwa jika manusia berbuat buruk atau menggunakan unsur-unsur habitat alam secara membabi buta, maka alam pun akan meledak mengakibatkan kerusakan secara langsung.

Karena itu, syariat Islam dating membawa aturan pada setiap manusia yang hidup di atas muka bumi, agar jangan sampai membawa kerusakan dalam bentuk apapun pada semesta ini. Rasulullah berkata, “Tidak ada kerusakaan tidak pula bahaya…”250 Kemudian syariat Islam mengiringinya dengan kewaspadaan dari pencemaran lingkungan atau kerusakan. Rasulullah dalam masalah ini bersabda, “Bertakwalah kalian dari tiga laknat: bertempur di sumber air, melubangi jalan, dan merusak tempat berteduh.”251

Rasulullah menyatakan, memelihara diri dari tindak gangguan merupakan hak-hak di jalan umum. Diriwayatkan Abu Said Al-Khudri bahwasanya Nabi bersabda, “Hindarilah oleh kalian duduk-duduk di tempat duduk tepi jalan.” Para sahabat bertanya, “Kami tidak bisa menghindarinya, karena itu merupakan tempat mangkal dan tempat kami bercakap-cakap.” Lalu Nabi bersabda, “Jika kamu terpaksa duduk-duduk di sana, hendaklah kalian berikan hak bagi orang yang berjalan.” Para sahabat bertanya, “Lantas apakah hak jalan itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Memelihara diri dari menyakitinya…”252 (Memelihara diri untuk tidak mengganggu) ini merupakan kalimat yang menyeluruh pada setiap gangguan dari manusia yang menggunakan jalan umum atau jalan raya.

Secara umum Rasulullah mengikat antara pahala dan pemeliharaan lingkungan, sebagaimana sabdanya, “Telah ditampakkan amalan umatku, baik dan buruknya. Lalu aku mendapati salah satu amalan baiknya adalah menyingkirkan gangguan yang berada di tengah jalan. Aku mendapati salah satu amalan yang buruk di antaranya adalah berdahak di masjid dan tidak dipendam.”253

Beliau secara tegas memerintahkan untuk membersihkan tempat tinggal, sebagaimana sabdanya, “Sesungguhnya Allah itu baik dan menyukai yang baik-baik. Allah itu bersih menyukai yang bersih-bersih. Karena itu, sucikan perabot-perabot kalian. Jangan menyerupai orang-orang Yahudi.”254

Sungguh alangkah dalam pengajaran dan syariat yang mneganjurkan kehidupan baik terbebas dari segala macam kotoran. Demikian itu dapat menimbulkan ketenangan jiwa manusia dan sehat sentosa.

Dalam bentuk yang jelas dan gamblang, Islam menetapkan anjuran untuk memelihara lingkungan serta keindahannya, sebagaimana yang tampak dalam sabda Rasul saat seorang sahabat bertanya kepadanya, “Apakah termasuk di antara sikap sombong itu adalah memakai pakaian dan sandal yang bagus? Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong itu mengingkari kebenaran dan meremehkan manusia.”255 Tidak diragukan lagi bahwa keindahan adalah anjuran untuk menampakkan lingkungan yang telah diciptakan oleh Allah dengan indah dan menawan.

Sebagaimana kita dapati dalam petunjuk Rasul pada kecintaan beliau terhadap wewangian yang harum semerbak di antara manusia, memberinya petunjuk, memperindah lingkungan, menentang lingkungan yang jorok. Karena itu, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang menampilkan bau wangi, hendaklah dia tidak menolaknya. Sesungguhnya itu merupakan tempat yang membawa keringanan dengan bau yang wangi.”256

Termasuk di antara keagungan islam sebagaimana disunnahkan dalam syariat, khususnya soal lingkungan, dalam sebuah hadits terdapat anjuran untuk menyuburkan bumi dan menanaminya, sebagaimana sabdanya, “Tidaklah seorang Muslim menanam biji kecuali apa yang dimakan darinya itu merupakan sedekah. Apa yang dicuri merupakan sedekah. Apa yang dimakan oleh binatang buas baginya sedekah. Apa yang dimakan burung baginya sedekah. Tak seorang pun yang menanamnya257 kecuali baginya itu sedekah.”258

Termasuk keagungan Islam adalah bahwa pahala menanam membawa manfaat baik bagi lingkungan yang tinggal di sekitarnya terus-menerus mengalir selagi tanaman itu bias dipetik manfaatnya, meski tanaman itu berpindah menjadi milik orang lain yang menguasainya, atau sebab meninggalnya orang yang menanam.

Syariat Islam telah memberikan upah (hak untuknya) yang dianugerahkan kepada manusia yang menyuburkan bumi yang kerontang. Sebab, menanam pohon, atau menanam biji-bijian, mengairi bumi yang kering dan gersang, termasuk perbuatan baik dan amal kebajikan. Dalam masalah ini Rasul bersabda, “Barangsiapa yang menghidupkan tanah yang telah mati, tanah itu menjadi haknya – yaitu pahalan – dan apa saja yang dimakan oleh Al-Awaafi (Burung dan binatang buas)259 bagi orang tersebut merupakan sedekah.”260

Karena air termasuk salah satu penggerak sumber kehidupan bagi lingkungan semesta alam, maka kita tidak boleh boros menggunakan air. Menjaga kesuciannya merupakan aturan pokok dalam Islam. Rasulullah dalam masalah air ini memberi nasihat supaya tidak berlebih-lebihan. Sebagaimana hal itu diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bahwa Nabi bertemu Saad261 sedang dia dalam keadaan wudhu. Beliau bersabda, “Mengapa terjadi pemborosan air ini, hai Saad?” Saad menjawab, “Apakah dalam berwudhu juga termasuk pemborosan?” Beliau bersabda, “Benar, meski kamu berada dalam sungai yang mengalir.”262 Nabi juga melarang mencemari air, dengan larangan kencing di air yang tidak mengalir.263

Inilah pandangan Islam serta peradaban Islam bagi lingkungan semesta alam. Pandangan yang memberikan keyakinan bahwa lingkungan dan berbagai macam ruang lingkupnya itu saling berinteraksi, timbal balik dan saling menyempurnakan, saling mendukung sesuai dengan sunatullah yang berlaku di alam semesta yang telah diciptakannya dalam sebaik-baik bentuk. Karena itu, setiap Muslim wajib menjaga dan memelihara keindahan tersebut. []

Footnote
249 Al-Bahij: Sesuatu yang cantik meiputi keindahan, bahagia, dan sedap jika di pandang. Lihat: Ibnu Manzhur, Lisan Al-Arab, Madah Bahaja (2/216).
250 HR. Ahmad dari Ibnu Abbas (2719), Syuaib Al-Arnauth mengatakan, “Hadits ini hasan.” Hakim (2345) dan berkata, “Sanadnya shahih dnegan syarat Muslim dan dia tidak mengeluarkannya.”
251 Lihat: Al-Adzim Abadi, Aunul Ma’bud (1/13).
252 HR. Al-Bukhari dari Abu Said Al-Khudri, Kitab Al-Mazhalim, Bab Afniyatut Daur wa Al-Julus fiiha wa al-Juluus ala Sha’adaa’ (2333). Dan riwayat Muslim, Kitab Al-libaas wa Az-Ziinah, Bab Nahyu anil Juluus fi Thuruqaat wa I’thaa’u thariq haqqahu (2112).
253 HR. Muslim dari Abu Dzar, Kitab Al-Masaajid wa Mawaadhi’us Shalat, Bab An-Nahyu ‘anil Bishaaq fii masjid fii Shalat wa Ghairuha (553), dan Ahmad (21589), Ibnu Majah (3683).
254 HR. At-Tirmidzi dari Saad bin Abi Waqqash, Kitab Al-Adab, Bab Maa Jaa’a fii An-Nazhafah (2799), Abu Ya’la (790), Al-albani mengatakan, “Hadits ini shahih.” Lihat: Misykat Al-Mashaabiih (4455).
255 HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud, Kitab Al-Iman, Bab Tahrim Al-kibr wa Bayaanuhu (91), Ahmad (3789), dan Ibnu Hibban (5466).
256 HR. Muslim dari Abu Hurairah: Kitab Al-faadz min Al-Adab wa Ghairuha, Bab Istikmal Al-Misk (2253), Tirmidzi (2791).
257 Yazra’ahu ahad artinya jangan sampai mengurangi dan mengambilnya. Lihat; Ibnu Manzhur, Lisan Al-Arab, Madah Raza’a 1/85.
258 HR. Muslim dari Jabir bin Abdullah, Kitab Al-Masaaqat, Bab Fadhlul Gharsyu wa Zar’u (1552), Ahmad (27401).
259 Ibnu Manzhur, Lisan Al-Arab, Madah Afaa (15/72).
260 HR. An-Nasa’i dari Jabir bin Abdullah, Kitab Ihya’ Al-Mawaat, Bab Hatsu alaa Ihyaa’ Al-Mawaat (5756), Ibnu Majah (5205), Syuaib Al-Arnauth mengatakan, “Hadits Shahih.”
261 Saad bin Abi Waqqash bin Wahib Az-Zuhri adalah salah seorang sahabat Nabi yang di jamin masuk surge dan sahabat yang kematiannya paling akhir. Lihat: Ibnu Atsir, Asadul Ghabah (2/433), Ibnu Hajar Al-Asqalani, Al-Ishaabah (3/73 (3196).
262 Ibnu Majah, Kitab Thaharah wa Sunanuha, Bab Maa Ja’a fi Al-Qashar wa Karahiyatu Ta’addaa fihi (425), Al-Albani menghasankan hadits ini. Lihat: Silsilah Ash-Shahihah (3292).
263 HR. Muslim dari Jabir bin Abdullah, Kitab Thaharah, Bab An-Nahyu Anil Bauli fii Al-maa’I (281), Abu Dawud (69), Tirmidzi (68).

Disusun ulang oleh Tim Redaksi MuslimDaily.net dari buku Raghib As Sirjani, Prof. Dr., Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia, Pustaka Al Kautsar, 2011. (Terjemahan dari buku Madza Qaddamal Muslimuna lil ‘Alam Ishamaatu al Muslimin fi al Hadharah al Insaniyah, Mu’asasah Iqra’. 2009.)
Continue Reading

Islam dan Kebebasan Jiwa



Hak kebebasan ditetapkan sebagai asas dari langit seiring turunnya Islam, untuk meninggikan manusia di muka bumi ini dan mengokohkan sisi kemanusiaan. Tak ada satu hari pun dari bentuk kelahiran kecuali selalu berinteraksi dengan kumpulan masyarakat, atau memberikan nilai pergerakan yang dituntut oleh mereka yang merasa terhalangi kebebasannya, sebagaimana realitas yang banyak terjadi pada manusia di zaman sekarang.

Islam datang untuk meagembalikan manusia di atas perbedaan jenis dan warna kulit menuju kemuliaan. Dengan demikian, seluruh manusia menjadi sama atau sederajat, dan menjadikan asas takwa sebagai dasar dari kemulian di antara mereka. Sesudah penaklukan Makkah, Rasulullah melebur semua jenis perbedaan warna dan kulit. Beliau memutuskan semua unsur keistimewaan kabilah dan bangsa secara sempurna, ketika Bilal bin Rabah mengumandangkan pekik suaranya di atas Ka’bah dengan kalimat tauhid. Sebelumnya, beliau mempersaudarakan pamannya Hamzah dan Zaid.

Rasulullah mengumumkan dalam haji Wada’ asas-asas persamaan ini dengan sabdanya, “Kalian semua anak keturunan Adam, sedangkan Adam dari tanah. Tidak ada keistimewaan atas bangsa Arab dari bangsa ‘ajam (non Arab), tidak yang berkulit hitam atas kulit merah, tidak pula kulit merah atas kulit hitam kecuali dengan dasar takwa.” Maka seruan ini adalah seruan akan kebebasan jiwa, dan semua itu melebur di atas ubudiyah (penyembahan terhadap Allah).


Dalam pandangan Islam, pada dasarnya seluruh manusia itu bebas merdeka dan bukan hamba sahaya, karena berasal dari nenek moyang yang satu. Karakter fitrah mereka bebas merdeka. Islam datang untuk menetapkan asas fundamental ini di saat manusia ketika itu berada dalam zaman perbudakan. Mereka harus merasakan berbagai bentuk kehinaan dan perbudakan lantaran warna kulit mereka.

Sebelum kedatangan Islam, manusia hidup dalam naungan masyarakat dan peradaban yang menyerupai aturan kebangsaan yang zhalim, bersandar pada pandangan kesukuan yang sempit mencekik, pemisahan kasta-kasta yang membagi kelompok manusia menjadi derajat-derajat berlainan. Perbedaan derajat itu berdasarkan pada nilai kebebasannya yang dinikmati oleh sekelompok hak-hak para tuan dan penguasa, sedangkan hak bagi budak terpasung kebebasan dan kehidupannya yang mulia, tanpa sedikitpun rasa sayang dan belas kasih.

Kemudian Islam datang mengkhususkan orang-orang Mukmin untuk membebaskan para budak, menganjurkan untuk memerdekakan mereka, menyebutnya dengan pemberian dan kemaafan, menetapkan bahwa membebaskan budak merupakan amal paling mulia. Islam juga menyeru kaum Muslimin untuk membebaskan budak dengan harta, menjadikan kafarat kezhaliman orang yang mempunyai budak atau menjadikan tebusan sanksinya dengan memerdekakannya, menganjurkan untuk memerdekakan orang yang dimiliki (budak), menjadikan kemerdekaan budak sebagai kafarat bagi kejahatan pembunuhan yang tidak disengaja, zihar, membatalkan sumpah, dan membatalkan puasa Ramadhan. Islam juga memerintahkan untuk membantu mukatabah fbudak yang di bebaskan dengan syarat membayar sesuai yang di kehendaki tuannya), memberikan perlindungan dan pemeliharaan dari uang zakat, memerdekakkan ummu walad (ibu dari seorang anak) sesudah kematian tuannya.

Mungkin dapat diringkas dalam catatan sejarah Islam yang penuh hikmah ini, dalam memberikan solusi problematika kemanusiaan dibagi menjadi tiga. Pertama, Islam menggariskan sumber kasih sayang dan kehormatan selain perbudakan dari hasil perang. Kedua, Islam meluaskan peluang untuk memerdekakan budak. Ketiga, Islam memelihara hak-hak budak selepas dimerdekakan.

Syariat Islam datang dengan menganjurkan kaum Muslimin secara menyeluruh untuk memerdekakan budak. Sebagai balasannya, mereka dijanjikan pahala besar di akhirat. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang membebaskan budak, niscaya Allah akan membebaskan setiap anggota tubuhnya dari neraka sampai celah yang paling sempit dari celah anggota tubuhnya”.279

Nabi juga menganjurkan untuk membebaskan budak perempuan dan menikahinya. Abu Musa Al-Asy’ari berkata, bahwasanya Rasulullah bersabda, “Siapa di antara kalian yang mempunyai seorang budak wanita, kemudian mengajarinya dan baik pengajarannya, mengajari adab dan baik adabnya, kemudian membebaskan lalu menikahinya, maka baginya dua pahala.”280 Rasulullah telah membebaskan Shafiyah binti Huyay bin Ahktab, dan menjadikan kebebasannya itu sebagai mahar perkawinannya.281

Di antara wasiat Rasul terhadap para budak adalah membuka pintu-pintu jalan yang bisa mengarahkan segenap komponen masyarakat untuk memerdekakan mereka. Rasulullah mengkhususkan interaksi yang baik untuk mereka. meski hal itu berupa lafazh dan keputusan, sebagaimana sabdanya, “Jangan kalian semua mengatakan, ‘Hamba-hambaku, sebab kalian semua adalah hamba Allah. Semua wanita dari kalian adalah hamba Allah, tapi katakan kepada mereka, Ghulami dan Jariyati , Fataya dan Fatayati282

Islam juga mewajibkan memberi makan dan sandang kepada mereka sebagaimana makan dan pakaian keluarganya. Jangan memberinya beban yang tidak disanggupi. Jabir bin Abdullah menceritakan, Nabi memberi wasiat supaya berbuat baik kepada para budak, dengan sabdanya, “Berilah makan mereka dari apa yang kamu makan, beri pakaian mereka seperti apa yang kalian pakai. Jangan sekali-kali menyiksa makhluk Allah.”283Hak-hak lainnya adalah dengan menjadikan budak sebagai manusia mulia yang tidak boleh dimusuhi.

Pada sisi penting lain, Islam memberikan sanksi kepada umatnya jika menyiksa budak dan memukulnya. Sanksinya adalah dengan memerdekakannya, supaya mereka berpindah pada komunitas masyarakat yang merdeka secara nyata. Abdullah bin Umar suatu ketika memukul budaknya. Lalu dia memanggilnya dan melihat bekas pukulan itu di punggungnya. Dia berkata kepada budaknya, “Apakah kamu merasa sakit?” Dia menjawab, “Tidak.” Lalu dia berkata, “Kamu merdeka!” Kemudian dia mengambil sesuatu dari tanah, dan berkata, “Tak ada bagiku dalam memerdekakanmu dari pahala selain seukuran tanah ini. Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang memukul budaknya pada batasan yang tidak dia lakukan atau menggoresnya, maka kafaratnya (sanksinya) dengan cara memerdekakannya.”284

Islam juga menjadikan lafazh untuk memerdekakan budak berupa kalimat yang tidak membawa kemungkinan lain selain melaksanakannya dengan segera, sebagaimana Rasulullah bersabda, “Tiga perkara yang jika bersungguh-sungguh benar-benar terjadi dan senda gurauannya merupakan kesungguhan (hukumnya); talak, nikah, dan membebaskan budak.”285

Islam juga memerdekakan budak sebagai wasilah atau medan berpikir dari kesalahan dan dosa. Demikian itu sebagai praktik atas kemerdekaan yang lebih besar jumlahnya sedapat mungkin. Sebab, dosa itu tidak akan pernah terputus. Setiap Bani Adam pasti punya dosa dan kesalahan. Karena itu, Rasulullah bersabda, “Siapa saja dari seorang Muslim yang memerdekakan budak Muslim, maka dia terbebas dari neraka. Pahalanya setiap anggota tubuh dari anggota tubuh budak itu. Siapa saja seorang Muslim yang memerdekakan dua orang budak Muslim, dia terbebas dari neraka. Pahalanya setiap anggota tubuh keduanya dari anggota tubuhnya. Siapa saja seorang Muslimah yang memerdekakan budak Muslimah, dia terbebas dari neraka. Pahalanya setiap anggota tubuhnya dari anggota tubuhnya (budak itu).”286

Islam juga menempatkan budak dengan persiapan kemerdekaan dalam mukatabah, yaitu seorang budak hendaklah membayar kemerdekaannya tersebut sesuai kesepakatan dengan tuannya. Di samping itu juga diwajibkan menolongnya, karena pada asalnya dia seorang yang merdeka, sedang penghambaan itu suatu kemalangan yang tidak terduga. Rasulullah merupakan contoh teladan dalam hal ini. Beliau melunasi Juwairiyah binti Harits atas apa yang dituliskan (tebusan bagi kemerdekaannya) dan menikahinya. Begitu kaum Muslimin mendengar pernikahannya, mereka pun berbondong-bondong memerdekakan budak-budak tawanan lainnya. Dikatakan, Rasulullah menjadikannya sebagai kerabat. Sehingga dimerdekakan dengan sebab itu seratus ahli keluarga dari Bani Mushthaliq.287

Di atas semua realitas ini, syariat Islam menjadikan memerdekakan budak termasuk di antara objek zakat, sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekaan) budak.” (At-Taubah:60)

Rasulullah sendiri pernah memerdekakan 63 budak. Aisyah juga memerdekakan 69 budak. Abu Bakar juga banyak membebaskan budak. Begitu pula Abbas yang membebaskan 70 budak, Ustman sebanyak 20 budak, Hakim bin Hazam 100 budak, Abdullah bin Umar sebanyak 1000 budak. Sedangkan Abdurrahman bin Auf memerdekakan sebanyak 30 ribu budak!288

Syariat Islam sukses dalam kiprahnya meminimalkan perdagangan budak yang sangat besar, sampai akhirnya perbudakan itu tidak ada lagi. Bahkan, pada masa-masa akhir dari kekuasaannya, Islam telah nenumbuhkan kebebasannya dari perbudakan sampai menuju nilai kekuasaan politik dan ketentaraan. Kebaikan ini merupakan sisi positif dari kekuasaan Islam untuk memutuskan sebagian besar umat pada kurun waktu tiga ratus tahun dari perbudakan. Tak diragukan lagi bahwa semua itu merupakan contoh sejarah bagi peradaban dunia yang tak pernah ada duanya.

Footnote: 
278 Ahmad (23526) Syuaib Al Arnauth mengatakan, “Sanadnya shahih.” Thabarani, Mu’jam Al-Kabir (14444), Al-Baihaqi, Syu’ab Al-Iman (4921), Al-Albani mengatakan, “Shahih.” Lihat: Silsilah Ash-Shahihah (2700).
279 HR. Al-Bukhari, Kitab Kafarat Al-Aiman, Bab Firman Allah Ta’ala: AI-Maidah:89, Wa ai Riqabu Azka (6337). Muslim, Kitab Al-Itqi, Bab Fadhlul Itqi (1509).
280 HR. Al-Bukhari, Kitab Nikah, Bab Mengambil Tawanan (4795).
281 HR. Al-Bukhari, Kitab Peperangan, Bab Perang Khaibar (3965), Muslim, Kitab Nikah, Bab Keutamaan Membebaskan Budak dan Menikahinya (1365).
282 HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah, Kitab Memerdekakan Budak, Bab DibencinyaMenunda-nunda Pembebasannya. Juga sabdanya, “Abdi wa Amati” (hambaku dan budakku) (2414), Muslim, Kitab Lafazh-Lafazh dari Adab dan Selainnya, Bab Hukum Mengucapkan Lafazh Memerdekakan Kepada Budak (2249).
283 HR. Muslim, Kitab Aiman, Bab Memberi Makan Budak dengan Apa yang Kita Makan (1661), Ahmad (21521), Bukhari, Adabul Mufrad (1/76) dan lafazh itu menurutnya.
284 Muslim, Kitab Aiman, Bab Shahbatul Mamaalik, Wa Kafaratu min Lathami Abdihi (1657), Abu Dawud (5168), Ahmad (5051).
285Musnad Al-Harist (503), diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Umar bin Khattab secara mauquf (7/341).
286 Muslim: Kitabul Itq (1509), Tirmidzi dari Abu Umamah (91547) lafazh itu menurutnya, Ibnu Majah (2522).
287 Shalihi Syaami, Subulus Huda wa Ar-Rasyaad (11/210). Suhaili, Raudhul Anfi (4/l8). Ibnu Katsir, Sirah Nabawiyah (3/303).
288 Disebutkan oleh Al-Katani dalam kitabnya, At-Taratib Al-Idariyah, hlm. 94, 95.

Continue Reading

Jaminan Hak Kaum Minoritas Dalam Negara Islam

 
Salah seorang filsuf Barat, Nietzsche, mengatakan,”Orang-orang lemah dan tidak mampu, wajib mengetahui hak-hak mereka. Sebab, hak merupakan dasar pertama dari dasar kecintaan kita kepada kemanusiaan. Wajib pula bagi kita untuk membantu mereka dalam hal ini (dinukil dari Al Ghazali, Rakaiz Iman Baina Al Aqli wa Al Qalbi, hal. 318).”

Namun ahli filsafat Islam tak membatasi nilai akhlak yang menjadi ketetapan masyarakat berupa hak yang meliputi setiap sisi manusia. Semua itu tanpa perbedaan warna atau jenis dan bahasa. Ia juga meliputi pedoman yang digunakan masyarakat, memelihara Islam dengan kekuatan syariat. Lalu menjamin aplikasinya, menjalankan hukuman kepada orang yang melanggar nilai akhlak tersebut.

Diantara hal itu adalah penjelasan tentang Hak-Hak Kaum Minoritas.

Dalam naungan perundangan Islam, terdapat jaminan terhadap hak-hak kaum minoritas (non Minoritas) yang hidup dalam komunitas Muslim, yang tidak didapatkan kaum minoritas dalam undang-undang di negara manapun, yaitu berupa hak-hak dan keistimewaan. Ini disebabkan hubungan yang terjalin antara komunitas kaum Muslimin dengan kaum minoritas non Muslim.

Kaidah hukumnya berasal dari hukum Rabbani, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adik terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.(Mumtahanah: 8)

Ayat di atas memberikan batasan pokok tentang akhlak yang menjunjung kemanusiaan serta hukum yang wajib dilaksanakan oleh kaum Muslimin terhadap selain mereka, berupa perlakuan baik dan adil meliputi seluruh elemen dan lapisan masyarakat non Muslim selagi mereka tidak melibatkan diri dalam permusuhan atau makar. Hukum dasar ini belum dikenal sebelum Islam datang. Begitulah asas hukum ini hidup dan dilaksanakan oleh generasi sesudahnya. Sampai hari ini, dalam masyarakat modern pun hampir dikatakan tidak sanggup memenuhi hak-hak tersebut, disebabkan mereka lebih memperturutkan hawa nafsu, jiwa fanatisme, dan kebangsaan.

Karena itu, hukum perundangan Islam menjamin hak-hak kaum minoritas non Muslim dan memberikan mereka hak istimewa. Di antara yang penting adalah jaminan kebebasan beragama dan berkeyakinan. Hal ini bersumber dari firman Allah Ta’ala, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam).” (Al-Baqarah: 256)

Hal ini juga tergambar dari risalah Rasul kepada Ahli Kitab Yaman yang diseru masuk Islam, dimana beliau bersabda, “Sesungguhnya barangsiapa yang masuk Islam dari kalangan Yahudi atau Nasrani, mereka orang-orang mukmin. Bagi mereka, harta dan apa saja yang ada pada mereka. Barangsiapa yang tetap dalam agama Yahudi atau Nasrani, janganlah diberi fitnah kepadanya.”217

Syariat Islam mempersilakan kaum non Muslim supaya bersenang-senang dengan kebebasan akidah, sebagai penghormatan bahwa mereka juga manusia yang punya hak untuk hidup dan eksis. Karena itu, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang membunuh orang yang sudah melakukan perjanjian,218 maka dia tidak dibenarkan mencium bau surga.”219

Rasulullah telah memberikan satu ultimatum bagi siapa yang menzhalimi dan mengurangi hak-hak orang kafir yang terlibat dalam perjanjian, dan menjadikan dirinya yang mulia sebagai musuh bagi siapa saja yang menyakiti mereka dengan sabdanya, “Siapa yang berbuat zhalim kepada orang yang terdapat perjanjian (kafir mu’ahad), mengurangi hak-hak mereka, memberikan beban di luar batas, merampas sesuatu darinya dengan paksaan, maka kelak aku pada Hari Kiamat akan menjadi penghalang baginya.”220

Di antara landasan Rasulullah yang mengagumkan dalam masalah ini adalah sebagaimana telah terjadi pada kaum Anshar dalam Perang Khaibar. Saat itu, Abdullah bin Sahal Al-Anshari terbunuh. Pembunuhan terjadi di daerah Yahudi. Ada kemungkinan besar yang membunuhnya Yahudi, namun, di sisi lain tidak ada yang menunjukkan adanya bukti atas dugaan tersebut. Karena itu, Rasulullah tidak memberikan sanksi apapun kepada pihak Yahudi. Bahkan beliau hanya memberikan satu tuntutan supaya mereka bersumpah bahwa mereka tidakmelakukan pembunuhan tersebut.

Diriwayatkan oleh Sahal bin Abi Hatsmah bahwa sekelompok dari kaumnya berangkat menuju Khaibar. Lalu mereka berpisah dan didapai salah seorang di antara mereka terbunuh. Mereka yang ada di tempat kejadian berkata, “Kalian telah membunuh sahabat kami.” Mereka (Yahudi) menjawab, “Kami tidak membunuhnya dan kami tidak mengetahui siapa pembunuhnya.” Mereka pergi mengajukan perkara ini kepada Nabi lalu mereka berkata, “Ya Rasulullah, kami berangkat menuju Khaibar. Lalu kami mendapati salah seorang sahabat kami terbunuh.”

Beliau menjawab, “Al-Kubra, Al-Kubra (tunjukkanlah orang-orang dewasa untuk berbicara).”221 Dikatakanlah kepada mereka, “Berikan bukti siapa yang membunuhnya?” Mereka menjawab, “Kami tidak mempunyai saksi.” Beliau bersabda, “Hendaklah mereka bersumpah.” Mereka menjawab, “Kami tidak ridha dengan sumpah orang-orang Yahudi.” Rasulullah enggan menghalalkan darahnya, membayarkan diyat untuknya222 berupa seratur unta sebagai sedekah.223

Dari sini, Rasulullah memberikan suatu asas tentang hal yang belum pernah terlintas dalam benak manusia mana pun. Beliau menjadikan dirinya wali untuk membayar diyat dari harta kaum Muslimin demi menenangkan hati kaum Anshar, tanpa harus menzhalimi kaum Yahudi, sehingga membawa celah daulah Islamiyah pada satu aib atau cacat dengan tidak mengindahkan hukum yang di dalamnya masih terdapat keraguan tentang orang-orang Yahudi yang dituduh melakukan pembunuhan.

Syariat Islam juga menjamin hak-hak pemeliharaan harta non Muslim, dimana terdapat larangan untuk mengambilnya atau merampas tanpa hak. Seperti mencuri, merampas, menghilangkan, atau sebagainya yang berhubungan dengan tindak kezhaliman. Hal ini terjadi di masa Rasulullah terhadap penduduk Najran, dengan sabdanya, “Bagi penduduk Najran, bentangan (kekuasaan) mereka di sisiAllah serta menjadi tanggung jawab Muhammad Rasulullah atas harta, agama, dan perdagangan mereka, juga semua yang berada di tangan mereka baik sedikit maupun banyak.”224

Yang lebih hebat dari semua itu, adalah hak kaum minoritas non Muslim dalam daulah Islamiyah berupa jaminan˗˗baitul maal˗˗saat mereka lemah atau tua dan tertima kefakiran. Hal itu tersermin dari sabda Rasul “Setiap dari kalian adalah pemimpin. Setiap pemimpin bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.”225 Dengan ketetapan tersebut, mereka memiliki hak sebagai rakyat seperti halnya kaum Muslimin. Para pemimpin adalah penanggung jawab mereka semua di sisi Allah.

Diriwayatkan oleh Abu Ubaid dalam Kitab Al-Amwaal226 dari Said bin Musayyib227 bahwasanya dia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah memberi sedekah kepada ahli bait (keluarga) dari kalangan Yahudi dimana beliau memberi langsung kepada mereka kepada mereka.”228

Apa yang diungkap oleh sejarah akan keagungan Islam dari sisi kemanusiaan peradaban Islam tidak terbatas, sebagaimana hal itu banyak dinukil dan diriwayatkan dalam kitab-kitab Sunnah Nabawiyah. Dikisahkan juga, ketika terdapat iringan orang-orang mengantar jenazah berlalu di depan Rasul, beliau berdiri sebagai tanda penghormatan. Dikatakan kepada beliau, “Dia orangYahudi.” Beliau juga bersabda, “Bukankah dia juga seorang manusia.”229

Demikianlah hak-hak kaum minoritas non Muslim dalam Islam dan peradaban Islam. Berdasarkan kaidah: “Memuliakan setiap jiwa manusia secara penuh tidak boleh terdapat kezhaliman dan permusuhan padanya.”4 

Footnote: 
1217 Abu Ubaid, Al-Amwaal, hal. 24. Ibnu Zanjawiyah, Al-Amwal (1/109). Ibnu Hisyam, Sirah An-Nabawiyah (2/588). Ibnu Katsir, Sirah Nabawiyah (5/146). Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan, “Diriwayatkan oleh Ibnu Zanjawiyah dalam (Al-Amwaal) dari Nadzar bin Sumail, dari Auf, dari Hasan dia berkata: Rasulullah menulis surat …sebagaimana di sebutkan di atas. Kedua riwayat ini adalah mursal yang saling menguatkan kedudukannya antara satu dengan lainnya.” Lihat: Ibnu Hajar Al-Asqalani, At-Talkhis Al-Habir (4/315).
218 Al-Mu’ahad adalah orang-orang kafir yang terlibat dalam perjanjian, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Atsir, :Lebih banyak di gunakan kepada para ahli dzimmah, juga di tetapkan kepada orang-orang kafir lain jika berjanji untuk berdamai dan meninggalkan peperangan.” Lihat Ibnu Atsir, An-Nihayah fii Gharib Al-Hadits wa Al-Atsar (3/613).
219 HR. Al-Bukhari dari Abdullah bin Amr, Bab Berdosa Bagi Siapa yang Membunuh Kafir Mua’ahad Tanpa Kesalahan (2995). Abu Dawud (2760), Nasa’I (4747).
220 HR. Abu Dawud, Kitab Al-Khiraaj, Bab fii Ta’syiri Ahli Dzimmah Idzaa Ikhtalafuu bi Al-Tijaarat (3052), Al-Baihaqi (18511), Al-Albani mengatakan, “Hadits ini shahih.” Lihat Silsilah Ash-Shahiihah (445)..
2221 Lihat: Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Baari (1/177).
222 Wadaahu: Membayar diyatnya. Diyat itu adalah hak orang yang terbunuh. Lihat: Ibnu Manzhur, Lisan Al-Arab, madah wadii (15/383).
223 HR. AL-Bukhari: Kitab Diyat, Bab Al-Qasamah (6502) dan Muslim dalam Kitab Al-Qasamah dan Muharibina dan Al-Qishash, Diyat, Bab Qasamah (1669)..
3224 HR. Al-Baihaqi, Dalaail An-Nubuwah, Bab Wafdu Najran (Utusan Kaum Najran) (5/485). Abu Yusuf, Al-Khiraj, hal. 72. Ibnu Saad, Ath-Thabaqaat Al-Kubra (1/288).
225 HR. Al-Bukhari dari Abdullah binUmar, Kitab Al-Itq, Bab Karahiyatut Tathaawul alaa Ar-Raqiiq (2416), Muslim, Fii Al-Imaraat, Fadhilatul Imam Adil wa Uqubatul Jair (1829).
226 Nama lengkapnya Abu Abdul Qasim bin Salam Al-Harawi (157 – 224 H / 744 – 838 M). Salah seorang ulama besar dalam bidang hadits, adab, dan fikih. Seorang ulama dengan kemuliaan akhlaknya yang lahir di kota Hirrah, belajar di sana, pergi ke Baghdad dan Mesir, dan wafat di Makkah Al-Mukaramah. Lihat: Adz-Dzahabi, Siyar ‘Alam an-Nubalaa’ (10/490 – 492).
227 Said bin Musayyab: Abu Muhammad bin Said bin Musayyab bin Hazan al-Qursyi (13 – 94 H / 634 – 713 M) salah seorang tuan generasi tabiin, salah satu ahli fikih tujuh di Madinah, terkumpul padanya hadits, fikihm zuhud dan wara. Lihat: Ibnu Saad: Thabaqaathul Kubra 5/ 119 – 143.
228 Abu Ubaid, Al-Amwaal, hal. 63. Al-Albani, mengatakan, “Sanadnya shahih sampai Said bin Musayyab.” Lihat: Tamaamul Minnah, hal. 389.
4229 HR. Muslim dari Qais bin Saad dan Sahl bin Hanif, Kitab Al-Janaaiz, Bab Al-Qiyaam lil Janazah (961. Ahmad (23893).

Disusun ulang oleh Tim Redaksi MuslimDaily.net dari buku Raghib As Sirjani, Prof. Dr., Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia, Pustaka Al Kautsar, 2011. (Terjemahan dari buku Madza Qaddamal Muslimuna lil ‘Alam Ishamaatu al Muslimin fi al Hadharah al Insaniyah, Mu’asasah Iqra’. 2009.)
Continue Reading

Anda Harus Tahu, Islam Juga Menjamin Hak Asasi Binatang, Apa Saja?



Salah seorang filsuf Barat, Nietzsche, mengatakan,”Orang-orang lemah dan tidak mampu, wajib mengetahui hak-hak mereka. Sebab, hak merupakan dasar pertama dari dasar kecintaan kita kepada kemanusiaan. Wajib pula bagi kita untuk membantu mereka dalam hal ini (dinukil dari Al Ghazali, Rakaiz Iman Baina Al Aqli wa Al Qalbi, hal. 318).”

Namun ahli filsafat Islam tak membatasi nilai akhlak yang menjadi ketetapan masyarakat berupa hak yang meliputi setiap sisi manusia. Semua itu tanpa perbedaan warna atau jenis dan bahasa. Ia juga meliputi pedoman yang digunakan masyarakat, memelihara Islam dengan kekuatan syariat. Lalu menjamin aplikasinya, menjalankan hukuman kepada orang yang melanggar nilai akhlak tersebut. Diantara hal itu adalah penjelasan tentang Hak-Hak Asasi Binatang.

Islam juga memandang hewan sebagai penopang kepentingan dan manfaat untuk kehidupan manusia. Hewan dapat membantu manusia memakmurkan bumi dan keberlangsungan hidup. Karena itu, tidak mengherankan jika dalam beberapa surat Al Quran, Allah meletakkan nama-nama binatang seperti surat Al Baqarah, Al An’am, An Nahl, dan sebagainya.

Dalam nash Al Quran, dijelaskan mengenai kemuliaan hewan, penjelasan kedudukannya, serta batasan keadaannya di sisi manusia. “Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan. Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,” (An Nahl: 5-7).

Alkisah, seorang pelacur –sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari– bisa masuk surga hanya karena ia menolong seekor anjing yang hampir mati kehausan. Ia lepaskan sepatunya lalu diikatkan dengan kerudungnya, dan diambilnya air dari sumur, lalu diminumkannya kepada anjing tersebut. Dengan begitu dosanya diampuni dan akhirnya masuk surga.

Sebaliknya ada orang beriman yang masuk neraka hanya gara-gara lalai dalam memberikan makanan kepada hewan piaraannya. Suatu ketika orang tersebut pergi meninggalkan rumah dalam jangka waktu yang lama. Ia kunci seluruh pintu rumahnya sehingga kucing yang dipeliharanya tidak bisa keluar. Orang tersebut lupa menyiapkan makanan yang cukup buat hewan piaraannya. Akhirnya hewan tersebut mati karena kelaparan.

Dalam satu kesempatan Rasulullah bersabda, “Seorang wanita masuk neraka karena mengikat seekor kucing tanpa memberinya makanan atau melepaskannya mencari makan dari serangga tanah” (HR. Bukhari).

Dan di antara hak-hak binatang adalah:

Hak Penjagaan dan Perlindungan

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Kitab Shahih-nya:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال صلى الله عليه وسلم: نزل نبي من الأنبياء تحت شجرة فلدغته نملة فأخرج متاعه من تحتها ثم أمر ببيتها فأحرق بالنار فأوحى الله إليه فهلا نملة واحدة.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Salah seorang Nabi berteduh di bawah pohon, lalu digigit semut, maka dia mengeluarkan barang bawaannya dari bawah pohon. Kemudian diperintahkan untuk membakar sarang semutnya. Maka Allah mewahyukan kepada Nabi tersebut: ”Kenapa tidak satu semut saja (yang engkau bunuh)?”

Dalam hadits di atas ada penjagaan dan perlindungan terhadap sarang semut dari kerusakan, seandainya Nabi tersebut membunuh satu semut yang menggigitnya saja, Allah tidak akan mencelanya. Termasuk penjagaan terhadap binatang adalah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang untuk menjadikan bintang sebagai sasaran dalam melempar (lempar lembing, memanah, menembak dll).

Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma pernah melewati beberapa pemuda dari kalangan suku Quraisy yang menjadikan seekor burung atau ayam sebagai sasaran tembak dan mereka membayar untuk setiap kali panahan yang meleset dari sasaran kepada pemilik burung tersebut. Maka ketika mereka melihat Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, mereka bercerai-berai meninggalkannya, lalu Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma berkata:

لعن الله من فعل هذا أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لعن من اتخذ شيئاً فيه الروح غرضا 

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat siapa saja yang menjadikan makluk yang bernyawa sebagai sasaran. (memanah, menembak dan lain-lain).”

Dan dalam hadits ini dan hadits-hadits yang lainnya ada penjealasan tentang hak binatang dalam penjagaannya.

Hak Pemeliharaan 

Seorang wanita masuk ke dalam neraka karena dia mengurung seekor kucing sampai mati, karena dia tidak memberi makan dan juga tidak memberinya meminum. Dan juga dia tidak melepaskannya supaya dia memakan serangga (HR. al-Bukhari).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati seekor onta yang punggungnya menempel dengan perutnya (menunjukkan kurusnya), maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اتقوا الله في هذه البهائم المعجمة, فاركبوها صالحة, وكلوها صالحة ) رواه أبو داوود وابن خزيمه في صحيحة, وقال: قد لحق ظهره ببطنه. 

“Bertaqwalah (takutlah) kepada Allah terhadap binatang yang kurus ini, kemudian naikilah secara baik dan makanlah dagingnya secara baik.”(HR. Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah dalam Kitab Shahihnya, dia berkata:”Punggungnya telah jauh dari perutnya (gemuk)).

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamdahulu menjulurkan tempat minuman untuk kucing, maka kucing itupun meminumnya. Hadits-hadits seperti ini dan yang semisalnya menunjukkan tentang pemeliharaan Islam terhadap binatang. Berangkat dari perhatian terhadap hak binatang dalam masalah pemeliharaan, sebagian kaum Muslimin telah mewakafkan sebuah tempat yang dinamakan ”Wakaf Kucing” yang mana mereka mempersiapkan makanan untuk kucing-kucing tersebut, setiap pagi, dan sore.

Hak Kasih Sayang 

Islam telah menyayangi binatang, di dalam hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma, bahwa ada seorang laki-laki membaringkan seekor kambing untuk disembelih, dan dia mengasah/menajamkan pisaunya di dekatnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

:” أتريد أن تميتها موتتين ؟ هلا أحددت شفرتك قبل أن تضيعها ” رواه الطبري واللفظ له.

“Apakah engkau ingin membunuhnya dua kali? Kenapa tidak engkau tajamkan pisaumu menyembelihnya (Riwayat Imam ath-Thabari)

وعن ابن مسعود رضي الله عنه قال: كنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في سفر فانطلق لحاجته فرأينا حمرة (طائر) معها فرخان فأخذنا فرخيها فجاءت الحمرة فجعلت تعرش فجاء النبي صلى الله عليه وسلم فقال: من فجع هذه بولديها ردوا ولديها إليها. 

Dan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dia berkata:”Kami dahulu bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah safar (perjalanan), lalu beliau pergi untuk menunaikan hajatnya. Kemudian kami melihat Hamroh (burung) bersama dengan kedua anaknya yang masih kecil, lalu kami mengambil kedua anaknya. Maka datanglah burung itu dan dia kebingungan mencari anaknya.

Lalu datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau bersabda:”Siapakah yang membuat bingung burung ini terhadap anak-anaknya? Kembalikanlah kedua anaknya kepadanya.”

Hak Makan dan Minum 

Setiap binatang memiliki hak dalam masalah makan dan minum. Dan kita telah mengetahui bahwa ada seorang wanita yang disiksa di Neraka karena seekor kucing yang dikurungnya dan tidak diberi makan. Dan dari Abu Huraiorah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

(بينما رجل يمشي فأشتد عليه العطش فنزل بئراً فشرب منها ثم خرج فإذا هو بكلب يلهث، يأكل الثرى من شدة العطش قال: لقد بلغ هذا الكلب مثل الذي بلغ بي، فملأ خفه ثم أمسكه بفيه ثم رقى فسقى الكلب فشكر الله له فغفر له قالوا: يا رسول الله، وإن لنا في البهائم أجراً، قال: في كل كبد رطبة أجرا.

“Suatu ketika ada seorang laki-laki berjalan yang merasa sangat kehausan, lalu dia turun ke dalam sumur dan meminum air dari sumur itu. Kemudian dia keluar, tiba-tiba dia melihat anjing yang sedang menjulurkan lidahnya dan menjilati tanah yang basah, karena sangat kehausan. Dia berkata:”Anjing ini telah kehausan sebagaimana kehausan yang aku rasakan” Maka dia memenuhi khuff nya (sepatu kulit), lalu mengigitnya dengan mulutnya dan dia naik keluar dari sumur, lalu memberi minum anjing tersebut. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji laki-laki itu dan mengampuninya. Mereka (para Sahabat radhiyallahu’anhum) berkata:”Wahai Rasulullah, (apakah) kami mendapatkan pahala ketika berbuat baik terhadap binatang? Beliau menjawab: ”Pada setiap jiwa yang bernyawa ada pahalanya”.

 Hak untuk Tidak Dizalimi

Termasuk hak binatang adalah untuk tidak menzaliminya. Imam Malik berkata:”Sesungguhnya Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah melewati seekor keledai yang membawa batu bata mentah (tanah liat yang belum dibakar) di atas pungungnya punggungnya, maka beliau radhiyallahu ‘anhu mengangkat dua batu bata tersebut dari punggung keledai itu. Lalu datanglah kepadanya perempuan pemilik keledai, dan berkata: ”Wahai Umar apa urusanmu dengan keledaiku? Apakah engkau memiliki wawanang terhadapnya? Umar menjawab: ”Tidak ada yang menghalangiku untuk ikut campur dalam masalah ini” Dan beliau juga berkata: ”Sungguh, seandainya ada seekor keledai yang terpeleset di Iraq, pasti Umar akan ditanya tentangnya: ”Kenapa tidak engkau baguskan (ratakan) jalan untuknya wahai Umar?

Dan Umar radhiyallahu ‘anhu pernah melihat seorang laki-laki membebankan kepada ontanya dengan beban yang tidak mampu untuk dibawanya, maka beliau radhiyallahu ‘anhu memukulnya dan berkata: ”Kenapa engkau membebani ontamu dengan beban yang dia tidak mampu membawanya?

Hak Penjagaan dari Sakit

Islam telah menetapkan bagi binatang hak penjagaan dari terjangkiti penyakit-penyakit yang menular. Yang termasuk petunjuk Islami dalam hal ini adalah sabda Nabishallallahu ‘alaihi wasallam :

(لا يوردن ممرض مصح)

“Jangan dicampurkan mumridh dengan yang sehat.”

Mumridh adalah onta sakit yang menularkan penyakitnya kepada onta yang lain. Maka petunjuk Nabi untuk tidak mencampurkan onta yang sakit dengan onta-onta yang sehat adalah supaya penyakit tersebut tidak menular ke onta yang sehat –dengan Izin Allah-. Dan ini adalah hak binatang untuk dijaga dari penularan penyakit.

Hak Mendapatkan Lingkungan Bersih 

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan berbuat kerusakan di muka Bumi, Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

(ولا تفسدوا في الأرض بعد إصلاحها) 

“Janganlah kalian berbuat kerusakan di muka Bumi setelah Allah memperbaikinya.”(al-A’raaf:56)

Merupakan bentuk perusakan di muka Bumi adalah pencemaran air, tumbuhan, udara dan tanah. Ketika Islam melarang perbuatan tersebut, maka itu adalah untuk menjaga binatang dari pencemaran air, udara dan tumbuhan. Ini adalah hak setiap makhluk.

Hak untuk Tidak Diubah Fisiknya 

Islam telah mengharamkan memberi tanda binatang (dengan ditato) di wajahnya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang memukul atau mentato wajah binatangnya. Para ahli fikih telah menyebutkan bahwa memotong ekor bianatang (yang masih hidup) adalah salah satu sebab yang membolehkan adanya Ta’zir (hukuman). Sebagaimana tidak diperbolehkan memutus urat nadi, memotong atau kay (pengobatan dengan menempelkan besi panas) terhadap binatang tanpa alasan, karena perbuatan tersebut memperburuk fisik binatang, dan barang siapa yang berbuat demikian maka wajib membayar jaminan.

Itulah perhatian Islam dalam memberikan hak kepada setiap pemiliknya masing-masing. Jangankan manusia, binatang pun Islam memerintahkan kepada pemeluknya untuk memberikan hak kepada binatang. Kalau terhadap binatang saja Islam memperhatikan hak-hak mereka, maka bagaimana kiranya dengan manusia? Tentunya Islam sangat memperhatikan hak-hak mereka. Adapun sikap dan tingkah laku sebagian kaum Muslimin yang tidak memberikan hak-hak kepada para pemiliknya, bukanlah alasan untuk menuduh Islam sebagai agama kekerasan dan ketidakadilan, karena kesalahan sebagian kaum Muslimin tidak menunjukkan kesalahan ajarannya, akan tetapi kesalahan terletak pada jauhnya kaum Muslimin dari ajaran agamnya yang benar. Dan ini sekaligus bukti dan bantahan kepada orang-orang yang menuduh Islam sebagai agama kekerasan dan mengajarkan terorisme. Wallahu A’lam. []

Disusun ulang oleh Tim Redaksi MuslimDaily.net dari buku karya tulis Raghib As Sirjani, Prof. Dr., Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia, Pustaka Al Kautsar, 2011. (Terjemahan dari buku Madza Qaddamal Muslimuna lil ‘Alam Ishamaatu al Muslimin fi al Hadharah al Insaniyah, Mu’asasah Iqra’. 2009.)
Continue Reading

Sabtu, 13 September 2014

Bagaimana Penanganan Malpraktek Menurut Syariat Islam?




Berobat merupakan salah satu kebutuhan vital umat manusia. Banyak orang rela mengorbankan apa saja untuk mempertahankan kesehatannya atau untuk mendapatkan kesembuhan. Di sisi lain, para dokter adalah manusia biasa yang tidak terlepas dari kesalahan. Demikian juga paramedis yang bekerja di bidang pelayanan kesehatan. Kemajuan teknologi tidak serta merta menjamin menutup pintu kesalahan. Meski pada dasarnya memberikan pelayanann sebagai pengabdian, mereka juga bisa jadi tergoda oleh keuntungan duniawi, sehingga mengabaikan kemaslahatan pasien. 

Karenanya, diperlukan aturan yang adil yang menjamin ketenangan bagi pasien dan pada saat yang sama memberikan kenyamanan bagi para profesional bidang kesehatan dalam bekerja. Tentu Islam sebagai syariat akhir zaman yang sempurna ini telah mengatur semuanya. Tulisan sederhana ini mencoba menggali khazanah literatur para ulama Islam dalam hal persoalan yang akhir-akhir ini mencuat kembali, yakni malpraktek. 

Pengertian Malpraktek 

Malpraktek berasal dari kata ‘malpractice‘ dalam bahasa Inggris . Secara harfiah, ‘mal’ berarti ‘salah’, dan ‘practice‘ berarti ‘pelaksanaan’ atau ‘tindakan’, sehingga malpraktek berarti ‘pelaksanaan atau tindakan yang salah’ [1]. Jadi, malpraktek adalah tindakan yang salah dalam pelaksanaan suatu profesi. Istilah ini bisa dipakai dalam berbagai bidang, namun lebih sering dipakai dalam dunia kedokteran dan kesehatan. Artikel ini juga hanya akan menyoroti malpraktek di seputar dunia kedokteran saja. 

Perlu diketahui bahwa kesalahan dokter –atau profesional lain di dunia kedokteran dan kesehatan- kadang berhubungan dengan etika/akhlak. Misalnya, mengatakan bahwa pasien harus dioperasi, padahal tidak demikian. Atau memanipulasi data foto rontgen agar bisa mengambil keuntungan dari operasi yang dilakukan. Jika kesalahan ini terbukti dan membahayakan pasien, dokter harus mempertanggungjawabkannya secara etika. Hukumannya bisa berupa ta’zîr [2], ganti rugi, diyat, hingga qishash [3]. 

Malpraktek juga kadang berhubungan dengan disiplin ilmu kedokteran. Jenis kesalahan ini yang akan mendapat porsi lebih dalam tulisan ini. 

Bentuk-Bentuk Malpraktek 

Malpraktek yang menjadi penyebab dokter bertanggung-jawab secara profesi bisa digolongkan sebagai berikut:

1. Tidak Punya Keahlian (Jahil)
 
Yang dimaksudkan di sini adalah melakukan praktek pelayanan kesehatan tanpa memiliki keahlian, baik tidak memiliki keahlian sama sekali dalam bidang kedokteran, atau memiliki sebagian keahlian tapi bertindak di luar keahliannya. Orang yang tidak memiliki keahlian di bidang kedokteran kemudian nekat membuka praktek, telah disinggung oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau: 

مَنْ تَطَبَّبَ وَلَمْ يُعْلَمْ مِنْهُ طِبٌّ قَبْلَ ذَلِكَ، فَهُوَ ضَامِنٌ

“Barang siapa yang praktek menjadi dokter dan sebelumnya tidak diketahui memiliki keahlian, maka ia bertanggung-jawab” [4] 

Kesalahan ini sangat berat, karena menganggap remeh kesehatan dan nyawa banyak orang, sehingga para Ulama sepakat bahwa mutathabbib (pelakunya) harus bertanggung-jawab, jika timbul masalah dan harus dihukum agar jera dan menjadi pelajaran bagi orang lain. 

2. Menyalahi Prinsip-Prinsip Ilmiah (Mukhâlafatul Ushûl Al-’Ilmiyyah)
 
Yang dimaksud dengan pinsip ilmiah adalah dasar-dasar dan kaidah-kaidah yang telah baku dan biasa dipakai oleh para dokter, baik secara teori maupun praktek, dan harus dikuasai oleh dokter saat menjalani profesi kedokteran [5].

Para ulama telah menjelaskan kewajiban para dokter untuk mengikuti prinsip-prinsip ini dan tidak boleh menyalahinya. Imam Syâfi’i rahimahullah –misalnya- mengatakan: “Jika menyuruh seseorang untuk membekam, mengkhitan anak, atau mengobati hewan piaraan, kemudian semua meninggal karena praktek itu, jika orang tersebut telah melakukan apa yang seharusnya dan biasa dilakukan untuk maslahat pasien menurut para pakar dalam profesi tersebut, maka ia tidak bertanggung-jawab. Sebaliknya, jika ia tahu dan menyalahinya, maka ia bertanggung-jawab.”[6] Bahkan hal ini adalah kesepakatan seluruh Ulama, sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah [7].

Hanya saja, hakim harus lebih jeli dalam menentukan apakah benar-benar terjadi pelanggaran prinsip-prinsip ilmiah dalam kasus yang diangkat, karena ini termasuk permasalahan yang pelik. 

3. Ketidaksengajaan (Khatha’)
 
Ketidaksengajaan adalah suatu kejadian (tindakan) yang orang tidak memiliki maksud di dalamnya. Misalnya, tangan dokter bedah terpeleset sehingga ada anggota tubuh pasien yang terluka. Bentuk malpraktek ini tidak membuat pelakunya berdosa, tapi ia harus bertanggungjawab terhadap akibat yang ditimbulkan sesuai dengan yang telah digariskan Islam dalam bab jinayat, karena ini termasuk jinayat khatha’ (tidak sengaja).

4. Sengaja Menimbulkan Bahaya (I’tidâ’)
 
Maksudnya adalah membahayakan pasien dengan sengaja. Ini adalah bentuk malpraktek yang paling buruk. Tentu saja sulit diterima bila ada dokter atau paramedis yang melakukan hal ini, sementara mereka telah menghabiskan umur mereka untuk mengabdi dengan profesi ini. Kasus seperti ini terhitung jarang dan sulit dibuktikan karena berhubungan dengan isi hati orang. Biasanya pembuktiannya dilakukan dengan pengakuan pelaku, meskipun mungkin juga faktor kesengajaan ini dapat diketahui melalui indikasi-indikasi kuat yang menyertai terjadinya malpraktek yang sangat jelas. Misalnya, adanya perselisihan antara pelaku malpraktek dengan pasien atau keluarganya. 

Pembuktian Malpraktek

Agama Islam mengajarkan bahwa tuduhan harus dibuktikan. Demikian pula, tuduhan malparaktek harus diiringi dengan bukti, dan jika terbukti harus ada pertanggungjawaban dari pelakunya. Ini adalah salah satu wujud keadilan dan kemuliaan ajaran Islam. Jika tuduhan langsung diterima tanpa bukti, dokter dan paramedis terzhalimi, dan itu bisa membuat mereka meninggalkan profesi mereka, sehingga akhirnya membahayakan kehidupan umat manusia. Sebaliknya, jika tidak ada pertanggungjawaban atas tindakan malpraktek yang terbukti, pasien terzalimi, dan para dokter bisa jadi berbuat seenak mereka. 

Dalam dugaan malpraktek, seorang hakim bisa memakai bukti-bukti yang diakui oleh syariat sebagai berikut: 

1. Pengakuan Pelaku Malpraktek (Iqrâr). 
Iqrar adalah bukti yang paling kuat, karena merupakan persaksian atas diri sendiri, dan ia lebih mengetahuinya. Apalagi dalam hal yang membahayakan diri sendiri, biasanya pengakuan ini menunjukkan kejujuran. 

2. Kesaksian (Syahâdah).
Untuk pertanggungjawaban berupa qishash dan ta’zîr, dibutuhkan kesaksian dua pria yang adil. Jika kesaksian akan mengakibatkan tanggung jawab materiil, seperti ganti rugi, dibolehkan kesaksian satu pria ditambah dua wanita. Adapun kesaksian dalam hal-hal yang tidak bisa disaksikan selain oleh wanita, seperti persalinan, dibolehkan persaksian empat wanita tanpa pria. Di samping memperhatikan jumlah dan kelayakan saksi, hendaknya hakim juga memperhatikan tidak memiliki tuhmah (kemungkinan mengalihkan tuduhan malpraktek dari dirinya) [8]. 

3. Catatan Medis. 
Yaitu catatan yang dibuat oleh dokter dan paramedis, karena catatan tersebut dibuat agar bisa menjadi referensi saat dibutuhkan. Jika catatan ini valid, ia bisa menjadi bukti yang sah. 

Bentuk Tanggung Jawab Malpraktek

Jika tuduhan malpraktek telah dibuktikan, ada beberapa bentuk tanggung jawab yang dipikul pelakunya. Bentuk-bentuk tanggung-jawab tersebut adalah sebagai berikut:

1. Qishash
 
Qishash ditegakkan jika terbukti bahwa dokter melakukan tindak malpraktek sengaja untuk menimbulkan bahaya (i’tida’), dengan membunuh pasien atau merusak anggota tubuhnya, dan memanfaatkan profesinya sebagai pembungkus tindak kriminal yang dilakukannya. Ketika memberi contoh tindak kriminal yang mengakibatkan qishash, Khalil bin Ishaq al-Maliki mengatakan: “Misalnya dokter yang menambah (luas area bedah) dengan sengaja. [9]“ 

2. Dhamân (Tanggung Jawab Materiil Berupa Ganti Rugi Atau Diyat)
 
Bentuk tanggung-jawab ini berlaku untuk bentuk malpraktek berikut: 
a. Pelaku malpraktek tidak memiliki keahlian, tapi pasien tidak mengetahuinya, dan tidak ada kesengajaan dalam menimbulkan bahaya. 
b. Pelaku memiliki keahlian, tapi menyalahi prinsip-prinsip ilmiah. 
c. Pelaku memiliki keahlian, mengikuti prinsip-prinsip ilmiah, tapi terjadi kesalahan tidak disengaja. 
d. Pelaku memiliki keahlian, mengikuti prinsip-prinsip ilmiah, tapi tidak mendapat ijin dari pasien, wali pasien atau pemerintah, kecuali dalam keadaan darurat. 

3. Ta’zîr berupa hukuman penjara, cambuk, atau yang lain. 
 
Ta’zîr berlaku untuk dua bentuk malpraktek:
a. Pelaku malpraktek tidak memiliki keahlian, tapi pasien tidak mengetahuinya, dan tidak ada kesengajaan dalam menimbulkan bahaya. 
b. Pelaku memiliki keahlian, tapi menyalahi prinsip-prinsip ilmiah [10]. 

Pihak Yang Bertanggungjawab 

Tanggung-jawab dalam malpraktek bisa timbul karena seorang dokter melakukan kesalahan langsung, dan bisa juga karena menjadi penyebab terjadinya malpraktek secara tidak langsung. Misalnya, seorang dokter yang bertugas melakukan pemeriksaan awal sengaja merekomendasikan pasien untuk merujuk kepada dokter bedah yang tidak ahli, kemudian terjadi malpraktek. Dalam kasus ini, dokter bedah adalah adalah pelaku langsung malpraktek, sedangkan dokter pemeriksa ikut menyebabkan malpraktek secara tidak langsung. 

Jadi, dalam satu kasus malpraktek kadang hanya ada satu pihak yang bertanggung-jawab. Kadang juga ada pihak lain lain yang ikut bertanggung-jawab bersamanya. Karenanya, rumah sakit atau klinik juga bisa ikut bertanggung-jawab jika terbukti teledor dalam tanggung-jawab yang diemban, sehingga secara tidak langsung menyebabkan terjadinya malpraktek, misalnya mengetahui dokter yang dipekerjakan tidak ahli. 

Penutup

Demikianlah penjelasan secara singkat tentang aturan Islam mengenai malpraktek dalam bidang pelayanan kesehatan. Para dokter dan paramedis hendaknya takut kepada Allâh Azza wa Jalla dan menjalankan amanat dengan baik, sehingga terhindar dari berbagai tanggung-jawab yang memberatkan diri di dunia sebelum akhirat. Hendaknya mereka bertawakal kepada Allâh Azza wa Jalla dalam menjalankan tugas, karena hanya Allâh Azza wa Jalla yang bisa menghindarkan mereka dari kesalahan. Semoga Allâh melindungi umat Islam dari marabahaya dan berbagai keburukan.

Referensi
1. Ahkâmul Jirâhah ath-Thibbiyyah, Dr. Muhammad asy-Syinqîthi, Maktabah ash-Shahabah.
2. Al-Khatha’ ath-Thibbi Mafhûmuhu wa Aatsâruhu, Dr. Wasim Fathullah. 
3. ‘Aunul Ma’bûd, al-’Azhim Abâdi, Dar Ihya’ at-Turats.
4. Sunan an-Nasâ’i, Darul Ma’rifah.
5. Sunan Ibnu Mâjah, tahqîq Muhammad Fuâd ‘Abdul Bâqi, Darul Fikr. 
6. Al-Umm, Imam asy-Syafi’I, Dar Qutaibah.
7. Tuhfatul Maudûd bi Ahkâmil Maulûd, tahqîq Salim al-Hilâli, Dar Ibnul Qayyim. 
8. Al-Mishbâhul Munîr, Muassasah ar-Risalah.
9. Kamus Inggris Indonesia, John M. Echols dan Hassan Shadily, PT Gramedia. 
10. Al-Mas`ûliyyah al-Jinâiyyah lil Athibbâ’, Dr. Usamah Qayid, Darun Nahdhah al-’Arabiyyah. 
[Penulis Anas Burhanuddin, MA - disalin ulang dari majalah As-Sunnah Edisi 04-05/Tahun XIV/1431/2010M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta]
________
Footnote
[1]. Kamus Inggris – Indonesia hlm. 371
[2]. Ta’zîr: hukuman di luar hudud yang tidak ditentukan syari’ah. Lihat al-Mishbâhul Munîr hlm. 332
[3]. Ahkâmul Jirâhah ath-Thibbiyyah hlm. 301
[4]. HR. Abu Dâwud no. 4575, an-Nasâi’ no. 4845 dan Ibnu Mâjah no. 3466. Hadits hasan. Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah no. 635
[5]. Al-Mas`ûliyyah al-Jinâiyyah lil Athibbâ’hlm. 160
[6]. Al-Umm 7/65. 
[7]. Lihat: Tuhfatul Maudûd bi Ahkâmil Maulûd hal. 325.
[8]. Lihat: al-Majmû’ 20/256, Taisîrul Karîm ar-Rahmân hlm. 118, Ahkâmul Jirâhah ath-Thibbiyyah hlm. 331. 
[9]. Mukhtashar Khalîl hlm. 317
[10]. Ahkâmul Jirâhah ath-Thibbiyyah hlm. 351
Ahkâmul Jirâhah ath-Thibbiyyah hlm. 334

Sumber
Continue Reading
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template