Senin, 15 September 2014

Islam dan Kebebasan Jiwa



Hak kebebasan ditetapkan sebagai asas dari langit seiring turunnya Islam, untuk meninggikan manusia di muka bumi ini dan mengokohkan sisi kemanusiaan. Tak ada satu hari pun dari bentuk kelahiran kecuali selalu berinteraksi dengan kumpulan masyarakat, atau memberikan nilai pergerakan yang dituntut oleh mereka yang merasa terhalangi kebebasannya, sebagaimana realitas yang banyak terjadi pada manusia di zaman sekarang.

Islam datang untuk meagembalikan manusia di atas perbedaan jenis dan warna kulit menuju kemuliaan. Dengan demikian, seluruh manusia menjadi sama atau sederajat, dan menjadikan asas takwa sebagai dasar dari kemulian di antara mereka. Sesudah penaklukan Makkah, Rasulullah melebur semua jenis perbedaan warna dan kulit. Beliau memutuskan semua unsur keistimewaan kabilah dan bangsa secara sempurna, ketika Bilal bin Rabah mengumandangkan pekik suaranya di atas Ka’bah dengan kalimat tauhid. Sebelumnya, beliau mempersaudarakan pamannya Hamzah dan Zaid.

Rasulullah mengumumkan dalam haji Wada’ asas-asas persamaan ini dengan sabdanya, “Kalian semua anak keturunan Adam, sedangkan Adam dari tanah. Tidak ada keistimewaan atas bangsa Arab dari bangsa ‘ajam (non Arab), tidak yang berkulit hitam atas kulit merah, tidak pula kulit merah atas kulit hitam kecuali dengan dasar takwa.” Maka seruan ini adalah seruan akan kebebasan jiwa, dan semua itu melebur di atas ubudiyah (penyembahan terhadap Allah).


Dalam pandangan Islam, pada dasarnya seluruh manusia itu bebas merdeka dan bukan hamba sahaya, karena berasal dari nenek moyang yang satu. Karakter fitrah mereka bebas merdeka. Islam datang untuk menetapkan asas fundamental ini di saat manusia ketika itu berada dalam zaman perbudakan. Mereka harus merasakan berbagai bentuk kehinaan dan perbudakan lantaran warna kulit mereka.

Sebelum kedatangan Islam, manusia hidup dalam naungan masyarakat dan peradaban yang menyerupai aturan kebangsaan yang zhalim, bersandar pada pandangan kesukuan yang sempit mencekik, pemisahan kasta-kasta yang membagi kelompok manusia menjadi derajat-derajat berlainan. Perbedaan derajat itu berdasarkan pada nilai kebebasannya yang dinikmati oleh sekelompok hak-hak para tuan dan penguasa, sedangkan hak bagi budak terpasung kebebasan dan kehidupannya yang mulia, tanpa sedikitpun rasa sayang dan belas kasih.

Kemudian Islam datang mengkhususkan orang-orang Mukmin untuk membebaskan para budak, menganjurkan untuk memerdekakan mereka, menyebutnya dengan pemberian dan kemaafan, menetapkan bahwa membebaskan budak merupakan amal paling mulia. Islam juga menyeru kaum Muslimin untuk membebaskan budak dengan harta, menjadikan kafarat kezhaliman orang yang mempunyai budak atau menjadikan tebusan sanksinya dengan memerdekakannya, menganjurkan untuk memerdekakan orang yang dimiliki (budak), menjadikan kemerdekaan budak sebagai kafarat bagi kejahatan pembunuhan yang tidak disengaja, zihar, membatalkan sumpah, dan membatalkan puasa Ramadhan. Islam juga memerintahkan untuk membantu mukatabah fbudak yang di bebaskan dengan syarat membayar sesuai yang di kehendaki tuannya), memberikan perlindungan dan pemeliharaan dari uang zakat, memerdekakkan ummu walad (ibu dari seorang anak) sesudah kematian tuannya.

Mungkin dapat diringkas dalam catatan sejarah Islam yang penuh hikmah ini, dalam memberikan solusi problematika kemanusiaan dibagi menjadi tiga. Pertama, Islam menggariskan sumber kasih sayang dan kehormatan selain perbudakan dari hasil perang. Kedua, Islam meluaskan peluang untuk memerdekakan budak. Ketiga, Islam memelihara hak-hak budak selepas dimerdekakan.

Syariat Islam datang dengan menganjurkan kaum Muslimin secara menyeluruh untuk memerdekakan budak. Sebagai balasannya, mereka dijanjikan pahala besar di akhirat. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang membebaskan budak, niscaya Allah akan membebaskan setiap anggota tubuhnya dari neraka sampai celah yang paling sempit dari celah anggota tubuhnya”.279

Nabi juga menganjurkan untuk membebaskan budak perempuan dan menikahinya. Abu Musa Al-Asy’ari berkata, bahwasanya Rasulullah bersabda, “Siapa di antara kalian yang mempunyai seorang budak wanita, kemudian mengajarinya dan baik pengajarannya, mengajari adab dan baik adabnya, kemudian membebaskan lalu menikahinya, maka baginya dua pahala.”280 Rasulullah telah membebaskan Shafiyah binti Huyay bin Ahktab, dan menjadikan kebebasannya itu sebagai mahar perkawinannya.281

Di antara wasiat Rasul terhadap para budak adalah membuka pintu-pintu jalan yang bisa mengarahkan segenap komponen masyarakat untuk memerdekakan mereka. Rasulullah mengkhususkan interaksi yang baik untuk mereka. meski hal itu berupa lafazh dan keputusan, sebagaimana sabdanya, “Jangan kalian semua mengatakan, ‘Hamba-hambaku, sebab kalian semua adalah hamba Allah. Semua wanita dari kalian adalah hamba Allah, tapi katakan kepada mereka, Ghulami dan Jariyati , Fataya dan Fatayati282

Islam juga mewajibkan memberi makan dan sandang kepada mereka sebagaimana makan dan pakaian keluarganya. Jangan memberinya beban yang tidak disanggupi. Jabir bin Abdullah menceritakan, Nabi memberi wasiat supaya berbuat baik kepada para budak, dengan sabdanya, “Berilah makan mereka dari apa yang kamu makan, beri pakaian mereka seperti apa yang kalian pakai. Jangan sekali-kali menyiksa makhluk Allah.”283Hak-hak lainnya adalah dengan menjadikan budak sebagai manusia mulia yang tidak boleh dimusuhi.

Pada sisi penting lain, Islam memberikan sanksi kepada umatnya jika menyiksa budak dan memukulnya. Sanksinya adalah dengan memerdekakannya, supaya mereka berpindah pada komunitas masyarakat yang merdeka secara nyata. Abdullah bin Umar suatu ketika memukul budaknya. Lalu dia memanggilnya dan melihat bekas pukulan itu di punggungnya. Dia berkata kepada budaknya, “Apakah kamu merasa sakit?” Dia menjawab, “Tidak.” Lalu dia berkata, “Kamu merdeka!” Kemudian dia mengambil sesuatu dari tanah, dan berkata, “Tak ada bagiku dalam memerdekakanmu dari pahala selain seukuran tanah ini. Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang memukul budaknya pada batasan yang tidak dia lakukan atau menggoresnya, maka kafaratnya (sanksinya) dengan cara memerdekakannya.”284

Islam juga menjadikan lafazh untuk memerdekakan budak berupa kalimat yang tidak membawa kemungkinan lain selain melaksanakannya dengan segera, sebagaimana Rasulullah bersabda, “Tiga perkara yang jika bersungguh-sungguh benar-benar terjadi dan senda gurauannya merupakan kesungguhan (hukumnya); talak, nikah, dan membebaskan budak.”285

Islam juga memerdekakan budak sebagai wasilah atau medan berpikir dari kesalahan dan dosa. Demikian itu sebagai praktik atas kemerdekaan yang lebih besar jumlahnya sedapat mungkin. Sebab, dosa itu tidak akan pernah terputus. Setiap Bani Adam pasti punya dosa dan kesalahan. Karena itu, Rasulullah bersabda, “Siapa saja dari seorang Muslim yang memerdekakan budak Muslim, maka dia terbebas dari neraka. Pahalanya setiap anggota tubuh dari anggota tubuh budak itu. Siapa saja seorang Muslim yang memerdekakan dua orang budak Muslim, dia terbebas dari neraka. Pahalanya setiap anggota tubuh keduanya dari anggota tubuhnya. Siapa saja seorang Muslimah yang memerdekakan budak Muslimah, dia terbebas dari neraka. Pahalanya setiap anggota tubuhnya dari anggota tubuhnya (budak itu).”286

Islam juga menempatkan budak dengan persiapan kemerdekaan dalam mukatabah, yaitu seorang budak hendaklah membayar kemerdekaannya tersebut sesuai kesepakatan dengan tuannya. Di samping itu juga diwajibkan menolongnya, karena pada asalnya dia seorang yang merdeka, sedang penghambaan itu suatu kemalangan yang tidak terduga. Rasulullah merupakan contoh teladan dalam hal ini. Beliau melunasi Juwairiyah binti Harits atas apa yang dituliskan (tebusan bagi kemerdekaannya) dan menikahinya. Begitu kaum Muslimin mendengar pernikahannya, mereka pun berbondong-bondong memerdekakan budak-budak tawanan lainnya. Dikatakan, Rasulullah menjadikannya sebagai kerabat. Sehingga dimerdekakan dengan sebab itu seratus ahli keluarga dari Bani Mushthaliq.287

Di atas semua realitas ini, syariat Islam menjadikan memerdekakan budak termasuk di antara objek zakat, sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekaan) budak.” (At-Taubah:60)

Rasulullah sendiri pernah memerdekakan 63 budak. Aisyah juga memerdekakan 69 budak. Abu Bakar juga banyak membebaskan budak. Begitu pula Abbas yang membebaskan 70 budak, Ustman sebanyak 20 budak, Hakim bin Hazam 100 budak, Abdullah bin Umar sebanyak 1000 budak. Sedangkan Abdurrahman bin Auf memerdekakan sebanyak 30 ribu budak!288

Syariat Islam sukses dalam kiprahnya meminimalkan perdagangan budak yang sangat besar, sampai akhirnya perbudakan itu tidak ada lagi. Bahkan, pada masa-masa akhir dari kekuasaannya, Islam telah nenumbuhkan kebebasannya dari perbudakan sampai menuju nilai kekuasaan politik dan ketentaraan. Kebaikan ini merupakan sisi positif dari kekuasaan Islam untuk memutuskan sebagian besar umat pada kurun waktu tiga ratus tahun dari perbudakan. Tak diragukan lagi bahwa semua itu merupakan contoh sejarah bagi peradaban dunia yang tak pernah ada duanya.

Footnote: 
278 Ahmad (23526) Syuaib Al Arnauth mengatakan, “Sanadnya shahih.” Thabarani, Mu’jam Al-Kabir (14444), Al-Baihaqi, Syu’ab Al-Iman (4921), Al-Albani mengatakan, “Shahih.” Lihat: Silsilah Ash-Shahihah (2700).
279 HR. Al-Bukhari, Kitab Kafarat Al-Aiman, Bab Firman Allah Ta’ala: AI-Maidah:89, Wa ai Riqabu Azka (6337). Muslim, Kitab Al-Itqi, Bab Fadhlul Itqi (1509).
280 HR. Al-Bukhari, Kitab Nikah, Bab Mengambil Tawanan (4795).
281 HR. Al-Bukhari, Kitab Peperangan, Bab Perang Khaibar (3965), Muslim, Kitab Nikah, Bab Keutamaan Membebaskan Budak dan Menikahinya (1365).
282 HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah, Kitab Memerdekakan Budak, Bab DibencinyaMenunda-nunda Pembebasannya. Juga sabdanya, “Abdi wa Amati” (hambaku dan budakku) (2414), Muslim, Kitab Lafazh-Lafazh dari Adab dan Selainnya, Bab Hukum Mengucapkan Lafazh Memerdekakan Kepada Budak (2249).
283 HR. Muslim, Kitab Aiman, Bab Memberi Makan Budak dengan Apa yang Kita Makan (1661), Ahmad (21521), Bukhari, Adabul Mufrad (1/76) dan lafazh itu menurutnya.
284 Muslim, Kitab Aiman, Bab Shahbatul Mamaalik, Wa Kafaratu min Lathami Abdihi (1657), Abu Dawud (5168), Ahmad (5051).
285Musnad Al-Harist (503), diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Umar bin Khattab secara mauquf (7/341).
286 Muslim: Kitabul Itq (1509), Tirmidzi dari Abu Umamah (91547) lafazh itu menurutnya, Ibnu Majah (2522).
287 Shalihi Syaami, Subulus Huda wa Ar-Rasyaad (11/210). Suhaili, Raudhul Anfi (4/l8). Ibnu Katsir, Sirah Nabawiyah (3/303).
288 Disebutkan oleh Al-Katani dalam kitabnya, At-Taratib Al-Idariyah, hlm. 94, 95.

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template