Senin, 15 September 2014

Jaminan Hak Kaum Minoritas Dalam Negara Islam

 
Salah seorang filsuf Barat, Nietzsche, mengatakan,”Orang-orang lemah dan tidak mampu, wajib mengetahui hak-hak mereka. Sebab, hak merupakan dasar pertama dari dasar kecintaan kita kepada kemanusiaan. Wajib pula bagi kita untuk membantu mereka dalam hal ini (dinukil dari Al Ghazali, Rakaiz Iman Baina Al Aqli wa Al Qalbi, hal. 318).”

Namun ahli filsafat Islam tak membatasi nilai akhlak yang menjadi ketetapan masyarakat berupa hak yang meliputi setiap sisi manusia. Semua itu tanpa perbedaan warna atau jenis dan bahasa. Ia juga meliputi pedoman yang digunakan masyarakat, memelihara Islam dengan kekuatan syariat. Lalu menjamin aplikasinya, menjalankan hukuman kepada orang yang melanggar nilai akhlak tersebut.

Diantara hal itu adalah penjelasan tentang Hak-Hak Kaum Minoritas.

Dalam naungan perundangan Islam, terdapat jaminan terhadap hak-hak kaum minoritas (non Minoritas) yang hidup dalam komunitas Muslim, yang tidak didapatkan kaum minoritas dalam undang-undang di negara manapun, yaitu berupa hak-hak dan keistimewaan. Ini disebabkan hubungan yang terjalin antara komunitas kaum Muslimin dengan kaum minoritas non Muslim.

Kaidah hukumnya berasal dari hukum Rabbani, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adik terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.(Mumtahanah: 8)

Ayat di atas memberikan batasan pokok tentang akhlak yang menjunjung kemanusiaan serta hukum yang wajib dilaksanakan oleh kaum Muslimin terhadap selain mereka, berupa perlakuan baik dan adil meliputi seluruh elemen dan lapisan masyarakat non Muslim selagi mereka tidak melibatkan diri dalam permusuhan atau makar. Hukum dasar ini belum dikenal sebelum Islam datang. Begitulah asas hukum ini hidup dan dilaksanakan oleh generasi sesudahnya. Sampai hari ini, dalam masyarakat modern pun hampir dikatakan tidak sanggup memenuhi hak-hak tersebut, disebabkan mereka lebih memperturutkan hawa nafsu, jiwa fanatisme, dan kebangsaan.

Karena itu, hukum perundangan Islam menjamin hak-hak kaum minoritas non Muslim dan memberikan mereka hak istimewa. Di antara yang penting adalah jaminan kebebasan beragama dan berkeyakinan. Hal ini bersumber dari firman Allah Ta’ala, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam).” (Al-Baqarah: 256)

Hal ini juga tergambar dari risalah Rasul kepada Ahli Kitab Yaman yang diseru masuk Islam, dimana beliau bersabda, “Sesungguhnya barangsiapa yang masuk Islam dari kalangan Yahudi atau Nasrani, mereka orang-orang mukmin. Bagi mereka, harta dan apa saja yang ada pada mereka. Barangsiapa yang tetap dalam agama Yahudi atau Nasrani, janganlah diberi fitnah kepadanya.”217

Syariat Islam mempersilakan kaum non Muslim supaya bersenang-senang dengan kebebasan akidah, sebagai penghormatan bahwa mereka juga manusia yang punya hak untuk hidup dan eksis. Karena itu, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang membunuh orang yang sudah melakukan perjanjian,218 maka dia tidak dibenarkan mencium bau surga.”219

Rasulullah telah memberikan satu ultimatum bagi siapa yang menzhalimi dan mengurangi hak-hak orang kafir yang terlibat dalam perjanjian, dan menjadikan dirinya yang mulia sebagai musuh bagi siapa saja yang menyakiti mereka dengan sabdanya, “Siapa yang berbuat zhalim kepada orang yang terdapat perjanjian (kafir mu’ahad), mengurangi hak-hak mereka, memberikan beban di luar batas, merampas sesuatu darinya dengan paksaan, maka kelak aku pada Hari Kiamat akan menjadi penghalang baginya.”220

Di antara landasan Rasulullah yang mengagumkan dalam masalah ini adalah sebagaimana telah terjadi pada kaum Anshar dalam Perang Khaibar. Saat itu, Abdullah bin Sahal Al-Anshari terbunuh. Pembunuhan terjadi di daerah Yahudi. Ada kemungkinan besar yang membunuhnya Yahudi, namun, di sisi lain tidak ada yang menunjukkan adanya bukti atas dugaan tersebut. Karena itu, Rasulullah tidak memberikan sanksi apapun kepada pihak Yahudi. Bahkan beliau hanya memberikan satu tuntutan supaya mereka bersumpah bahwa mereka tidakmelakukan pembunuhan tersebut.

Diriwayatkan oleh Sahal bin Abi Hatsmah bahwa sekelompok dari kaumnya berangkat menuju Khaibar. Lalu mereka berpisah dan didapai salah seorang di antara mereka terbunuh. Mereka yang ada di tempat kejadian berkata, “Kalian telah membunuh sahabat kami.” Mereka (Yahudi) menjawab, “Kami tidak membunuhnya dan kami tidak mengetahui siapa pembunuhnya.” Mereka pergi mengajukan perkara ini kepada Nabi lalu mereka berkata, “Ya Rasulullah, kami berangkat menuju Khaibar. Lalu kami mendapati salah seorang sahabat kami terbunuh.”

Beliau menjawab, “Al-Kubra, Al-Kubra (tunjukkanlah orang-orang dewasa untuk berbicara).”221 Dikatakanlah kepada mereka, “Berikan bukti siapa yang membunuhnya?” Mereka menjawab, “Kami tidak mempunyai saksi.” Beliau bersabda, “Hendaklah mereka bersumpah.” Mereka menjawab, “Kami tidak ridha dengan sumpah orang-orang Yahudi.” Rasulullah enggan menghalalkan darahnya, membayarkan diyat untuknya222 berupa seratur unta sebagai sedekah.223

Dari sini, Rasulullah memberikan suatu asas tentang hal yang belum pernah terlintas dalam benak manusia mana pun. Beliau menjadikan dirinya wali untuk membayar diyat dari harta kaum Muslimin demi menenangkan hati kaum Anshar, tanpa harus menzhalimi kaum Yahudi, sehingga membawa celah daulah Islamiyah pada satu aib atau cacat dengan tidak mengindahkan hukum yang di dalamnya masih terdapat keraguan tentang orang-orang Yahudi yang dituduh melakukan pembunuhan.

Syariat Islam juga menjamin hak-hak pemeliharaan harta non Muslim, dimana terdapat larangan untuk mengambilnya atau merampas tanpa hak. Seperti mencuri, merampas, menghilangkan, atau sebagainya yang berhubungan dengan tindak kezhaliman. Hal ini terjadi di masa Rasulullah terhadap penduduk Najran, dengan sabdanya, “Bagi penduduk Najran, bentangan (kekuasaan) mereka di sisiAllah serta menjadi tanggung jawab Muhammad Rasulullah atas harta, agama, dan perdagangan mereka, juga semua yang berada di tangan mereka baik sedikit maupun banyak.”224

Yang lebih hebat dari semua itu, adalah hak kaum minoritas non Muslim dalam daulah Islamiyah berupa jaminan˗˗baitul maal˗˗saat mereka lemah atau tua dan tertima kefakiran. Hal itu tersermin dari sabda Rasul “Setiap dari kalian adalah pemimpin. Setiap pemimpin bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.”225 Dengan ketetapan tersebut, mereka memiliki hak sebagai rakyat seperti halnya kaum Muslimin. Para pemimpin adalah penanggung jawab mereka semua di sisi Allah.

Diriwayatkan oleh Abu Ubaid dalam Kitab Al-Amwaal226 dari Said bin Musayyib227 bahwasanya dia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah memberi sedekah kepada ahli bait (keluarga) dari kalangan Yahudi dimana beliau memberi langsung kepada mereka kepada mereka.”228

Apa yang diungkap oleh sejarah akan keagungan Islam dari sisi kemanusiaan peradaban Islam tidak terbatas, sebagaimana hal itu banyak dinukil dan diriwayatkan dalam kitab-kitab Sunnah Nabawiyah. Dikisahkan juga, ketika terdapat iringan orang-orang mengantar jenazah berlalu di depan Rasul, beliau berdiri sebagai tanda penghormatan. Dikatakan kepada beliau, “Dia orangYahudi.” Beliau juga bersabda, “Bukankah dia juga seorang manusia.”229

Demikianlah hak-hak kaum minoritas non Muslim dalam Islam dan peradaban Islam. Berdasarkan kaidah: “Memuliakan setiap jiwa manusia secara penuh tidak boleh terdapat kezhaliman dan permusuhan padanya.”4 

Footnote: 
1217 Abu Ubaid, Al-Amwaal, hal. 24. Ibnu Zanjawiyah, Al-Amwal (1/109). Ibnu Hisyam, Sirah An-Nabawiyah (2/588). Ibnu Katsir, Sirah Nabawiyah (5/146). Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan, “Diriwayatkan oleh Ibnu Zanjawiyah dalam (Al-Amwaal) dari Nadzar bin Sumail, dari Auf, dari Hasan dia berkata: Rasulullah menulis surat …sebagaimana di sebutkan di atas. Kedua riwayat ini adalah mursal yang saling menguatkan kedudukannya antara satu dengan lainnya.” Lihat: Ibnu Hajar Al-Asqalani, At-Talkhis Al-Habir (4/315).
218 Al-Mu’ahad adalah orang-orang kafir yang terlibat dalam perjanjian, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Atsir, :Lebih banyak di gunakan kepada para ahli dzimmah, juga di tetapkan kepada orang-orang kafir lain jika berjanji untuk berdamai dan meninggalkan peperangan.” Lihat Ibnu Atsir, An-Nihayah fii Gharib Al-Hadits wa Al-Atsar (3/613).
219 HR. Al-Bukhari dari Abdullah bin Amr, Bab Berdosa Bagi Siapa yang Membunuh Kafir Mua’ahad Tanpa Kesalahan (2995). Abu Dawud (2760), Nasa’I (4747).
220 HR. Abu Dawud, Kitab Al-Khiraaj, Bab fii Ta’syiri Ahli Dzimmah Idzaa Ikhtalafuu bi Al-Tijaarat (3052), Al-Baihaqi (18511), Al-Albani mengatakan, “Hadits ini shahih.” Lihat Silsilah Ash-Shahiihah (445)..
2221 Lihat: Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Baari (1/177).
222 Wadaahu: Membayar diyatnya. Diyat itu adalah hak orang yang terbunuh. Lihat: Ibnu Manzhur, Lisan Al-Arab, madah wadii (15/383).
223 HR. AL-Bukhari: Kitab Diyat, Bab Al-Qasamah (6502) dan Muslim dalam Kitab Al-Qasamah dan Muharibina dan Al-Qishash, Diyat, Bab Qasamah (1669)..
3224 HR. Al-Baihaqi, Dalaail An-Nubuwah, Bab Wafdu Najran (Utusan Kaum Najran) (5/485). Abu Yusuf, Al-Khiraj, hal. 72. Ibnu Saad, Ath-Thabaqaat Al-Kubra (1/288).
225 HR. Al-Bukhari dari Abdullah binUmar, Kitab Al-Itq, Bab Karahiyatut Tathaawul alaa Ar-Raqiiq (2416), Muslim, Fii Al-Imaraat, Fadhilatul Imam Adil wa Uqubatul Jair (1829).
226 Nama lengkapnya Abu Abdul Qasim bin Salam Al-Harawi (157 – 224 H / 744 – 838 M). Salah seorang ulama besar dalam bidang hadits, adab, dan fikih. Seorang ulama dengan kemuliaan akhlaknya yang lahir di kota Hirrah, belajar di sana, pergi ke Baghdad dan Mesir, dan wafat di Makkah Al-Mukaramah. Lihat: Adz-Dzahabi, Siyar ‘Alam an-Nubalaa’ (10/490 – 492).
227 Said bin Musayyab: Abu Muhammad bin Said bin Musayyab bin Hazan al-Qursyi (13 – 94 H / 634 – 713 M) salah seorang tuan generasi tabiin, salah satu ahli fikih tujuh di Madinah, terkumpul padanya hadits, fikihm zuhud dan wara. Lihat: Ibnu Saad: Thabaqaathul Kubra 5/ 119 – 143.
228 Abu Ubaid, Al-Amwaal, hal. 63. Al-Albani, mengatakan, “Sanadnya shahih sampai Said bin Musayyab.” Lihat: Tamaamul Minnah, hal. 389.
4229 HR. Muslim dari Qais bin Saad dan Sahl bin Hanif, Kitab Al-Janaaiz, Bab Al-Qiyaam lil Janazah (961. Ahmad (23893).

Disusun ulang oleh Tim Redaksi MuslimDaily.net dari buku Raghib As Sirjani, Prof. Dr., Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia, Pustaka Al Kautsar, 2011. (Terjemahan dari buku Madza Qaddamal Muslimuna lil ‘Alam Ishamaatu al Muslimin fi al Hadharah al Insaniyah, Mu’asasah Iqra’. 2009.)

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template