Minggu, 30 November 2014

Dari Atheis, Kristen, Budha, Hindu, Yahudi, Ruben Pun Memilih Islam



RUBEN Abu Bakr adalah pria asal Australia yang sangat humoris. Semula, ia adalah seorang atheis. Ia kemudian mempelajari seluruh agama, mulai dari Kristen, Katolik, Budha, Hindu hingga Yahudi. Terakhir, ia malah masuk Islam. Mengapa?

Kisah Ruben bermula ketika ia duduk di bangku kuliah. Kala itu, ia harus menghadapi beragam peristiwa berat. Sahabatnya tewas karena narkoba.

Tidak lama kemudian, orang tuanya bercerai. Ia pun dilanda kemiskinan.
“Bahkan, anjing peliharaan saya saja mati,” tutur Ruben

Frustrasi atas musibah kematian kerabat yang terus dihadapinya, ia pun bertanya-tanya tentang tujuan hidup. Tentu, hidup tak sekadar untuk mati. Berangkat dari pemikiran itu, ia pun mencari keberadaan Tuhan dengan meneliti setiap agama yang ada.

Nasrani menjadi agama pertama yang mendapat perhatian Ruben untuk diselidiki. Ini karena hampir semua temannya menganut agama ini. Ruben pun menuju gereja dan mendapati orang-orang yang bernyanyi memuji Tuhan dan mengatakan Tuhan Maha Pengasih. Pengalaman pertamanya ke gereja tak serta-merta membuat Ruben puas. Ia terus mempelajari Kristen, termasuk tentang Katolik, Anglikan, Baptisme, imam, pendeta, dan lain sebagainya. Ia pun memiliki banyak pertanyaan mengenai Kristen. Kesimpulannya, ia merasa tak cocok dengan agama ini.

Pencarian pun berlanjut. Ia beralih kepada Buddha. Kebetulan, Ruben yang bekerja paruh waktu di pom bensin berteman dengan seorang beragama Buddha. Ia tercengang ketika tahu Tuhan Buddha berkepala gajah.

“Mengapa Tuhan memiliki kepala gajah? Dapatkah kita memilih kepala singa? Atau sesuatu yang lebih perkasa?” tanya Ruben kepada temannya.

Ruben menganggapnya tidak logis. Ia juga sempat mempelajari agama Mormon. Awalnya, dia menilai, ajaran agama ini sangat baik karena tidak memperbolehkan penganutnya meminum alkohol, kafein, dan cola. Namun, Ruben tidak menemukan kebaikan iman di agama ini. Ia kemudian menyelidiki agama Yahudi. Namun lagi-lagi, Ruben tidak menemukan apa yang ia cari.

Merasa upayanya sia-sia, Ruben pun menemui seorang temannya untuk berkonsultasi. Si teman yang beragama Kristen pun bertanya, “Bagaimana dengan Islam?”

Ruben pun sontak menolak. ”Apa? Islam? Untuk apa aku menyelidiki agama terorisme? Gila!”
Bagai menelan air ludah. Terbukti, lidah Ruben tak sesuai dengan tubuhnya. Ia kemudian melangkah memasuki masjid ketika suatu kali melewatinya.

“Saya tidak tahu apa yang menggerakkan saya, yang jelas saya menanggalkan sepatu dan langsung masuk begitu saja. Saya pikir, saya akan mati di masjid karena ketika itu saya satu-satunya orang kulit putih,” kata Ruben.

Ruben pun bertemu dengan seorang pria berperawakan besar asal Timur Tengah, berjanggut dan mengenakan gamis. Ruben menggambarkannya persis mirip para tersangka teroris. Yang mengagetkan, sosok tersebut menyapa sangat ramah, bahkan menyuguhkan sajian layaknya menerima tamu.

”Namanya Abu Hamzah,” ujar Ruben. Ia masih ingat, ia sangat kaget mendapat perlakuan seperti itu.
Ruben pun serta-merta menanyakan banyak hal tentang Islam. Misalnya, mengapa Abu Hamzah berjanggut dan mengapa Muslimah berhijab. Ia menanyakan pula mengenai praktik poligami dan lain sebagainya. Saat itu, Ruben dengan sombong menyangka pertanyaan itu sangat berat dan akan menyulitkan Abu Hamzah. Namun, lagi-lagi Ruben tercengang. Abu Hamzah mengambil Al-Quran dan menjelaskannya sesuai firman Allah SWT.

“Mereka selalu membuka Al-Quran untuk menjawab dan sama sekali tidak beropini sendiri. Mereka mengatakan tak boleh beropini tentang firman Tuhan,” tutur Ruben.

Ia pun membawa pulang sebuah kitab Al-Qur’an dari masjid tersebut. Ruben membaca terjemahannya dan sangat terkagum-kagum. Ia terpesona bagaimana Al-Qur’an menjelaskan proses penciptaan manusia. Butuh enam bulan bagi Ruben untuk menelaah Al-Qur’an, hingga ia menyimpulkan,  “Inilah yang aku cari dan perlukan.”

Dari tahap awal tersebut, Ruben pun berpikir untuk menantang Allah SWT sebelum benar-benar bersyahadat dan memeluk Islam. Ia menyalakan lilin, duduk di dekat jendela, seraya berkata, “Allah, ini adalah saat bagi saya untuk terjun ke Islam. Yang saya butuhkan hanya sebuah tanda. Hanya tanda kecil, mungkin sedikit petir, atau mungkin rumah yang runtuh.”

Lama ia menunggu, tidak ada tanda apa pun. Lilin yang ia harapkan padam sebagaimana yang sering ia lihat di film, tidak terjadi. “Ayolah Allah, satu saja,” Ruben memaksa.

Namun, tetap tidak ada apa pun yang terjadi. Ruben merasa kecewa kepada Allah. Dengan perasaan kecewa, Ruben kembali membuka Al-Qur’an, kemudian membaca ayat, “Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari, dan bulan untukmu. Dan, bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah SWT.) bagi kaum yang memahami-(nya).”

Membaca ayat tersebut, bulu roma Ruben berdiri. Ia segera lari ke tempat tidur dan sembunyi di balik selimut. Berkeringat dingin, ia tidak mampu melakukan apa pun saking takutnya.

“Betapa arogannya saya ketika itu menantangNya, padahal matahari dan semua yang diciptakan-Nya merupakan tanda-tanda.”

Ruben pun kembali ke masjid dan bermaksud mengucapkan syahadat. Jamaah di masjid pun menyaksikan perubahan hidup Ruben menuju kebaikan.

Namun, Ruben mengaku kesulitan saat harus mengucapkan syahadat dengan bahasa Arab.
“Bisakah saya mengucapkannya dengan bahasa Inggris?” tawarnya kepada Abu Hamzah.

Tentu saja, permintaan Ruben tidak diizinkan. Meski harus berkali-kali keseleo lidah, akhirnya Ruben mampu bersyahadat. Usai mengucapkan syahadat, seluruh jamaah pria di masjid pun menciumnya. Saat itu, masjid dipenuhi jamaah karena bertepatan dengan hari pertama Ramadhan. Menurut Ruben, baru kali itu ia dicium begitu banyak pria. Namun, ia sangat senang. Ini peristiwa sangat berharga dan tak mungkin ia lupakan.

Sementara itu, keluarganya merasa cemas dengan keislaman Ruben. Mereka menyangka putra mereka telah masuk ke dalam kelompok teror.

“Mereka takut jika nanti saya memegang senapan AK 47 dan granat,” kata Ruben sembari tersenyum. Namun, hari demi hari, orang tua Ruben justru mendapati anaknya menjadi pribadi yang patuh dan baik. Mereka pun menyukai perubahan Ruben.

Bahkan, sang ayah ikut tertarik membaca Al-Quran. Dan berkata “Kini, kamu menjadi orang yang lebih bisa diandalkan, dipercaya, dan dapat dimintai tolong.” [islampos/onislam]
Continue Reading

Sabtu, 15 November 2014

Agenda Satanis dalam Film Kartun






Dibalik kekonyolan dan tingkah lucu karakter-karakter kartun produksi Walt Disney tersimpan suatu agenda jahat untuk menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan dengan memasukkan unsur-unsur sihir / okultisme, kekerasan, seksualitas dan sejenisnya yang semestinya bukanlah merupakan konsumsi hiburan bagi anak-anak.Oleh karena itu, hendaknya kaum Muslimin peka terhadap permasalahan ini. Betapa banyak orangtua-orangtua Muslim membiarkan anak-anaknya menonton acara-acara kartun Walt Disney tanpa mengetahui bahaya yang tersembunyi dibaliknya.
Lalu bagaimana sebagai orangtua-orangtua Muslim, kita membiarkan anak-anak kita diajari sihir sedari kecil? Bukankah hal itu sangat bertentangan dengan ‘aqiiah Islam?Bila dilihat dari logo Walt Disney sendiri terselubung pesan “666” yang merupakan angka perlambang okultisme (penyembahan syaithoon), Dimana angka “666” tersebut bila diperhatikan juga seringkali digunakan dalam setiap Barcode yang ada. Bahkan istana Walt Disney pun diistilahkan sebagai “The Magic Kingdom” (Kerajaan Sihir).


Angka “666” dalam tulisan “Walt Disney” dan Angka “666” yang tersembunyi dalam Barcode. Perhatikan 3 garis merah pada bagian awal, tengah dan akhir Barcode. 
Sekarang, bandingkan bahwa pola yang sama (“garis-spasi-garis” atau kode “101”) yang ditandai dengan warna biru itu sebenarnya menunjukkan angka 6.  Dengan demikian 3 garis merah di awal, tengah dan akhir Barcode adalah angka “666” [1] [2]

Hal ini juga senada dengan apa yang dikatakan oleh orang Barat sendiri, yaitu Wes Penre, yang merupakan mantan dari kelompok pemuja syaithoon, yang kemudian bertaubat dan menjadi peneliti dunia hiburan di Amerika Serikat. Dalam situs Illuminati News (4 Juli 2004), ia menulis sebuah artikel singkat berjudul “The Walt Disney Agenda”.

Penre menulis sebagai berikut, “I watched a movie yesterday, called ‘The Haunted Mansion’, starring Eddie Murphy. It was a Disney Production. Not only was it a horrible movie with lousy acting, but it also filled a certain purpose. The first question you may ask yourself after  you’ve watched it is: whom is it made for? Adults, children or both? Well, it is too silly to be an adult movie, and too scary to be a children’s movie. So, whom was it made for?

To answer that question, we need to know who Walt Disney really was, what his corporation stands for, and what purpose it has. I strongly advise you to read Fritz Springmeier’s excellent research on the Disney bloodline. You can read about it online: http://www.theforbiddenknowledge.com/hardtruth/the_disney_bloodlinept1.htm

Walt Disney was a 33° Freemason and an illuminist. Behind all those cartoons, magazines, movies etc., is a hidden agenda to mess up our children’s minds. Disney’s production over the years is filled with Masonic symbolism, occult over- and undertones, mind control and indoctrination. He is preparing our younger generations for the New World Order, and introduce them to sorcery (black magic) as being a ‘cool thing’. Read more about it in the above Springmeier article, it is amazing reading…

Artinya : Penre menulis sebagai berikut, “Kemarin saya menonton sebuah film berjudul ‘The Haunted Mansion’, dibintangi oleh Eddie Murphy. Film ini adalah produksi Disney. Bukan saja sekedar film yang buruk dengan akting yang payah, namun ada sesuatu di baliknya. Pertanyaan pertama yang muncul di benak kita setelah menontonnya, adalah: Untuk siapa sebenarnya film ini dibuat? Untuk orang-orang dewasa, ataukah anak-anak, ataukah keduanya? Jika untuk orang dewasa, film ini sangatlah naïf, terlalu enteng, dan tidak lucu. Namun jika untuk anak-anak, film ini amat sangat menakutkan. Jadi, untuk siapa sebenarnya Disney membuat film tersebut?

Untuk menjawab semua pertanyaan itu maka kita perlu mengetahui siapa sesungguhnya Walt Disney, apa misi utama perusahaan Walt Disney, untuk apa ia didirikan, dan akan digunakan sebagai apa? Saya sangat menyarankan agar anda membaca tulisan Fritz Springmeier yang merupakan hasil risetnya yang sangat bagus terhadap garis keturunan Disney. Silakan anda baca: “The Skill of Lying, The Art of Deceit. The Disney Bloodline” (“Keterampilan Menipu dan Seni Berbohong. Garis Keturunan Disney”), [3]

Walt Disney merupakan anggota Freemasonry derajat 33° (suatu derajat tertinggi yang hanya bisa dicapai oleh tokoh-tokoh Yahudi, dan juga anggota Illuminati). Di balik seluruh karakter kartun yang diciptakannyayang tersebar di aneka film, buku cerita, dongeng, dan sebagainya; ada agenda tersembunyi Illuminati untuk mempengaruhi (memprogram) pemikiran anak-anak kita. Seluruh produksi Disney mengandung simbol-simbol Masonik, okultisme, dan juga indoktrinasi maupun pengendalian alam pikiran (mind control)Disney sedang mempersiapkan suatu generasi manusia yang sedari kecil telah diracuni pemikirannya agar suatu saat kelak bisa menerima ‘The New World Order’ (Tatanan Dunia Baru). Mereka juga memperkenalkan sejak dini kepada anak-anak di seluruh dunia bahwa sihir/ ilmu tenung itu sebagai sesuatu yang mengasyikkan. Bacalah tulisan Springmeier, sungguh suatu artikel yang sangat menarik…” [4]

Freemasonry Logo on Walt Disney Postcard (*)
*Catatan: untuk keperluan pembuktian fakta dokumentasi, maka bagian wajah pada foto ini tidak disamarkan. [5]

Sekarang lihat betapa dalam film kartun Tom & Jerry berjudul “Fast & Furry”, diperlihatkan ritual penyembahan syaithoon. Juga dalam berbagai adegan diselipkan simbol-simbol Freemasonry antara lain: Piramida dengan Mata Satu (Mata Horus)-nya. Lalu juga ada simbol Masonik seperti Tongkat Caduceus (sebatang tongkat bersayap dililit dua ekor ular).

Kemudian dalam film Donald Bebek (Duck Tales), seri “Yuppy Ducks Season 2”, disalah satu adegannya terdapat secarik kertas di dinding yang apabila dibaca sebenarnya adalah sebuah pesan yang bermakna: “Ask About Illuminati” (Bertanyalah/Carilah Info tentang Illuminati).

Satanic Ritual and Freemasonry Symbols in “Tom & Jerry” and “Ducktales” Cartoon Movies

Perhatikan film kartun “Spongebob” berikut ini yang lagi-lagi menampilkan simbol-simbol Freemasonry, seperti: Mata Satu (Mata Horus), Piramid dan Checkered Board (lantai kotak-kotak) didalamnya?

Lalu  perhatikan pesan yang disampaikan dalam salah satu filmnya yakni: “I will Rule the World” (“Aku akan menguasai Dunia”), beserta ditampilkannya si tokoh bermata satu dengan dua buah tanduk di kepalanya yang jelas-jelas merupakan personifikasi dari Iblis /Syaithoon (Big Evil).
Freemasonry Symbols in “Spongebob” Cartoon Movie
Berikutnya, perhatikan film kartun “Mickey Mouse & Goofy” dibawah ini yang memperlihatkan simbol Mata Satu (Mata Horus) pada skateboard Goofy; sementara baut yang dipegang oleh Mickey Mouse berbentuk Piramid dengan lubang bautnya berbentuk bulat yang merupakan simbol sebuah mata juga.
Freemasonry Symbols in “Mickey Mouse” Cartoon Movie [6]
Nah, sekarang lihat film kartun “The Simpsons Family” berikut. Dalam episode pertama musim tayang ke-9 nya, yang berjudul “The City of New York vs Homer Simpson”, secara perdana ditayangkan di stasiun TV Amerika Fox pada 21 September 1997.

Perhatikan bahwa terdapat pesan tersembunyi (subliminal message) didalamnya. Pada menit ke 3:18 tayangan film, Bart Simpson menggenggam setumpuk uang dengan simbol Freemasonry Piramid Mata Satu, sementara dilatar belakangnya, adik Bart Simpson (Lisa) menunjukkan sebuah majalah bertuliskan “New York” dengan illustrasi uang dollar $9 dan dua buah gedung tinggi yang membentuk angka “11”. Itu menunjukkan angka 9-11, di kota New York. Suatu peringatan, yang secara jelas menunjukkan rencana Freemasonry dalam upaya mereka untuk memerangi Islam.

Acara The Simpsons ini secara perdana diudarakan pada 21 September 1997, berarti 4 tahun sebelum terjadinya peristiwa runtuhnya gedung World Trade Center pada 11 September 2001 (9/11). Kemudian disebarkanlah oleh mereka berita bahwa: “World Trade Center diserang oleh kelompok Teroris Islam”.
Dengan demikian, sempurnalah mereka dalam upaya memunculkan sikap Islamophobia, yang merupakan suatu fitnah untuk memojokkan kaum Muslimin diberbagai penjuru dunia dengan memberinya cap negatif  “Teroris”.

Dalam salah satu adegan pada serial film kartun The Simpsons Family ini, diperlihatkan pula bahwa terjadi suatu ledakan bola api, dimana bola api itu digambarkan berbentuk Pentagram (Bintang lima — simbol okultisme yang juga kerap digunakan oleh Freemasonry). Akibat ledakan tersebut, sebuah jam dinding mendarat jatuh disamping Homer Simpson, sehingga Homer pun dengan terkejut menoleh kearah jam yang menunjukkan pukul 6 kurang lima menit tersebut. Apabila dibaca secara terbalik, maka jarum jam menunjuk angka “9-11”. Suatu kebetulankah? Sepertinya tidak.
Ingat, jauh-jauh hari sejak tahun 1859 -1871Jendral Albert Pike (seorang tokoh terkenal dikalangan Freemasonry Yahudi) telah merencanakan dan membentuk Panitia Perang Dunia I, II dan III; dimana Perang Dunia III mereka rencanakan sebagai peperangan antara Zionisme dan Islam (baca kembali artikel “Simbol & Program Internasional Freemasonry”). Bisa jadi, ini semua adalah implementasi dari rencana mereka.

Bahkan dalam suatu situs Barat, diungkapkan bahwa tidak hanya film kartun “The Simpsons Family” ini saja yang mengutarakan pesan tersembunyi tentang rencana Freemasonry untuk memunculkan peristiwa “9-11” World Trade Center; namun ternyata di banyak film-film Hollywood lainnya pun pesan “9-11” itu telah disampaikan oleh mereka. Antara lain :
  • Pada film “The Matrix” (1999), pada menit ke 3:15 tayangan film, tanggal yang tercantum pada passpor secara jelas menunjukkan tangga “11 Sept 01” (– maksudnya:11 September 2001). 
  • Pada film “Terminator 2 – Judgement Day” (1981), pada menit ke 2:01 tayangan film, terlihat secara jelas tulisan “Caution 9-11” (Hati-hati dengan 9-11) pada jembatan. 
  • Pada film “Super Mario Bros” (1993), pada menit ke 2:08 tayangan film, terlihat adegan dimana gedung The World Trade Center dihancurkan dengan cara yang secara menakutkan adalah amat sangat mirip, dll.

Freemasonry Symbols in “The Simpsons Family” Cartoon Movie [7] [8] [9]
Kembali ke film kartun “The Simpsons Family”, perhatikan simbol-simbol Freemasonry lainnya seperti Jangka & Kompas serta Checkered Board

Gravity Falls

Sebuah film kartun produksi baru dari Walt Disney yang bernama “Gravity Falls” adalah sangat sarat dengan simbol-simbol Freemasonry & Illuminati-nya. Film kartun ini bercerita tentang sepasang anak kembar berusia 12 tahun yang menghabiskan musim libur mereka bersama sang paman, yakni Uncle Stan di kota Gravity Falls di Oregon, Amerika Serikat.

Sang paman, Uncle Stan, dalam salah satu adegan kartun itu digambarkan menyembunyikan salah satu matanya serta memakai sebuah topi berbentuk seperti kopiah ala kelompok “the Shriners” (kelompok level tinggi Freemasonry, dimana hanya level 32 keatas yang boleh bergabung kedalam group ini). Dengan demikian dari awal cerita, seakan-akan telah digambarkan bahwa sang paman adalah seorang petinggi Freemasonry.

Kemudian dalam salah satu adegan yang lain terlihat simbol Piramida dengan Mata Satu (Mata Horus) beserta berbagai simbol sihir dan alkimia. Lalu tampak pesan sebagai berikut : “Floating Eyeballs – are they watching me?” (Bola-bola mata yang bergentayangan – apakah mereka mengawasi diriku?). Seakan suatu pesan tersembunyi bahwa Freemasonry Yahudi itu memiliki agen-agen yang begitu banyak untuk mengawasi, memantau, mengontrol orang-orang dan mereka itulah yang berada dibalik berbagai kejadian penting di dunia.

Perhatikan karpet dengan simbol Piramida dan Mata Satu pada salah satu adegannya. Lihat pula jam dinding milik Uncle Stan yang berbentuk Burung Hantu. Burung Hantu adalah simbol okultisme, merepresentasikan kelompok-kelompok penyembah syaithoon seperti Freemasonry, Illuminati dan Bohemian Groove yang bekerja dalam kegelapan.

Dan juga perhatikan huruf  “A” pada tulisan “Shack” yang berbentuk jangka kompas dengan Mata Satu khas Freemasonry-nya. Semua itu sekedar illustrasi tanpa makna? Tampaknya tidak demikian.

A new Disney TV show “Gravity Falls” loaded with Freemasonry Illuminati symbols 

Demikianlah yang bisa kami sampaikan, semoga apa yang MSS info kan ini bisa bermanfaat. (mss/a7)
 

Referensi : 
[1] http://www.bibleetnombres.online.fr/salut_cornu_2.htm
[2] foto 
http://justinlessard.files.wordpress.com/2008/10/hidden-666-in-a-barcode.jpg
[10] http://vigilantcitizen.com/moviesandtv/gravity-falls-a-new-disney-tv-show-loaded-with-illuminati-symbolism/
Continue Reading

Propaganda Film Kartun di Rumah Kita

 
 
"Film kartun yang disiarkan stasiun televisi swasta di Indonesia itu harus diwaspadai. Sebab dapat membahayakan perkembangan mental dan interaksi sosial anak," kata Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulsel Aswar Hasan, di Makassar, Jumat (21/11). [1]

Kartun produk luar negeri tersebut”, lanjutnya, “lebih banyak menampilkan kekerasan, bahasa yang kasar, dan lebih bersifat merendahkan orang lain.”

Misalnya kartun Spongebob, Tom & Jerry dan Shinchan. Pengaruh dari menonton televisi itu menyebabkan banyak anak-anak tidak tahu lagi sopan-santun terhadap orang tua,” ujar Aswar.
 
Itulah media massa mereka (Yahudi). Apakah akan kita biarkan saja? Kalau kita biarkan, maka akan terjadi proses Yahudisasi di rumah-rumah kita.
Berdasarkan hasil survei KPI, sambung dia, diketahui 70 persen tayangan televisi swasta lebih banyak menampilkan unsur hiburan daripada unsur pendidikan. Padahal fungsi dan peran media massa setidaknya harus menyeimbangkan fungsi hiburan, pendidikan, informasi, dan kontrol sosial.

Hal senada dikemukakan aktivis LBH-Apik Sulsel Lusi Palulungan, yang memfokuskan diri pada upaya perlindungan anak dan perempuan.

Menurutnya, saat ini para orang tua harus mewaspadai film-film kartun asal Jepang yang materinya lebih banyak memaparkan kekerasan fisik, kekuatan mistik atau gaib, serta menggambarkan nilai moral yang tidak masuk akal.

"Secara umum tayangan televisi tanpa disadari dapat mempengaruhi perkembangan mental, kecerdasan dan kemampuan berpikir anak. Hal itu disebabkan karena adanya rangsangan imajinasi melalui stimulus bunyi dan gambar secara terus-menerus. Kondisi itu menyebabkan kemampuan konsentrasi anak menjadi pendek," katanya.

Selain itu, lanjut dia, dampak negatif tayangan televisi juga menyebabkan berkurangnya aktivitas dan sosialisasi anak. Akibatnya, anak cenderung hanya duduk pasif menonton televisi daripada bermain dengan sesamanya. Keterampilan emosi dan sosial anak pun menjadi tidak terasah dengan baik.

Itulah pengamatan, yang merupakan bagian dari hasil penelitian para pemerhati / peneliti media massa yang disampaikan kepada kita. Artinya, mereka yang menguasai bidangnya saja telah merasakan bahayanya. Karena itu, kita sebagai generasi muda terlebih lagi pada orang tua yang bilamana anak-anaknya menonton tayangan yang dinilai membahayakan perkembangan anak harus selalu didampinginya dan Orang tua pun harus bersikap tegas memberikan batasan waktu menonton, paling lama dua jam sehari. (mss/a7)

Ref [1] dan sumber : www.inilah.com
Continue Reading
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template