Kamis, 04 Desember 2014

Panca Indera dan Persepsi Kita



Oleh: Suryandi Temala Sip, Lc.MA.

PERNAHKAH Anda merasakan bahwa parfum favorit yang Anda gunakan terasa cepat sekali berkurang keharumannya setelah disemprotkan ke badan?

Aroma parfum yang tajam sekali pun cepat sekali berkurang keharuman nya meski tak terhitung berapa kali parfum tersebut Anda semprotkan ke badan. Dan biasanya Anda semakin merasa tidak puas lalu menyemprotkan lagi parfum itu ke tubuh Anda.

Sebenarnya wangi parfum kesukaan Anda tidak berkurang sedikit pun keharumannya, hanya saja sensor pembau di hidung Andalah yang mulai bereaksi menurunkan sensitivitasnya.

Contoh lain yang mirip dengan parfum adalah ketika Anda memasuki toilet umum yang mulanya terasa sangat bau, namun lama-kelamaan bau itu berkurang hingga akhirnya tidak lagi terasa bau. Padahal bau tersebut tidak lah berkurang, hanya sensitifitas saraf pembau di hidung Anda yang menyesuaikan dengan kondisi yang ada.

Penurunan dan penyesuaian sensitifitas saraf indera tersebut tidak hanya berlaku pada hidung, tetapi seluruh panca indera kita yang lain. Ketika kita berjalan di terik panas matahati dengan intensitas cahaya yang tinggi lalu masuk ke sebuah ruangan maka seolah-olah ruangan tersebut sangatlah gelap. Padahal ruangan tersebut tidak segelap yang kita lihat, kita baru menyadari bahwa ruangan tersebut tidak begitu gelap setelah beberapa saat mata kita beradaptasi dengan kondisi cahaya di ruangan tersebut.

Ketika Anda mandi di pagi hari, air yang Anda gunakan pertama kali terasa amat dingin, lalu siraman berikutnya seolah air tersebut tidak lagi terasa dingin seperti siraman yang pertama, padahal suhu air tersebut tidak berubah sama sekali, hanya sensitifitas kulit yang menyesuaikan dengan kondisi.

Suatu saat Anda menikmati santapan lezat, kemudian untuk menu selanjutnya Anda memesan makanan yang sama, Anda akan merasakan hambar, seolah tidak senikmat pertama sekali memakannya. Karena indera pengecap di lidah Anda sudah terbiasa dengan perpaduan rasa tersebut. Sehingga Anda ingin menikmati masakan lain, perpaduan rasa yang lain karena yang makanan yang sudah Anda rasakan sebelumnya terasa tidak lagi dapat memuaskan selera Anda.

Sampai disini kita dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa persepsi kita tentang aroma dan bau, gelap dan terang, atau panas dan dingin amat tergantung dari seberapa sensitifnya indera kita. Semakin sering kita berada pada suatu kondisi, semakin berkurang sensitifitas kita akan kondisi tersebut. Rasa yang sudah kita rasakan seolah tidak lagi menjadi sebuah rasa yang istimewa dan tidak dapat memuaskan selera. Semakin kita terbiasa di suatu kondisi membuat kita merasa tidak cukup dan tidak puas karena sudah “biasa”. Dan sifat dasar manusia yang tidak pernah puas akan memecutnya mencari kepuasan yang lebih dari yang biasa.
 
SELANJUTNYA, saya ingin menjembatani kesimpulan di atas dengan persepsi ibadah dan maksiat kita.

Ketika seorang hamba yang taat, menjalani ritual ibadah wajib dengan konsisten, seperti shalat lima waktu, maka seharusnya ia merasakan bahwa ibadah tersebut terasa tidak lah “cukup”, karena sudah sangat terbiasa dengan hal tersebut. Kemudian ia meningkatkan amal ibadah nya lagi dengan amalan-amalan sunnah muakkad. Lalu kemudian ia terbiasa lagi dengan ibadah muakkad dan merasakan bahwa hal itu tidak “cukup” ia pun menambah lagi dengan amalan ghairu muakkad. Dan seterusnya sehingga ia terus-menerus memperbanyak ibadah lainnya.

Sebaliknya, seseorang yang konsisten bermaksiat, seperti zina mata, akan merasa bahwa hal itu tidak lah cukup memuaskan, sehingga ia akan meningkatkan maksiatnya menjadi zina tangan, sampai akhirnya zina yang sebenar-benar zina. Bahkan ketika telah berzina pun ia tidak akan puas, ia akan mencari beragam model wanita yang ingin dizinai, mulai dari ragam suku, ragam bangsa hingga akhirnya ia mencari ragam umur, ada yang terobsesi dengan wanita tua, banyak pula yang mencari anak-anak di bawah umur. Terus-menerus ragam maksiat akan dilakukan nya mencari sesuatu yang lebih memuaskan nya karena kondisi yang ia alami sudah biasa bagi dirinya.

Oleh karena itu, marilah menyadari bahwa perubahan baik dan buruk diri kita tidak lah terjadi dengan tiba-tiba. Tidak ada manusia yang tiba-tiba menjadi taat atau tiba-tiba menjadi penjahat ahli maksiat. Semua ada tahapan nya dan pada umumnya peningkatan tahapan tersebut muncul dari rasa tidak puas.

Menyadari alur perubahan ini, saya mengajak kita semua untuk memilih jalan kebaikan, meski pun kecil, mudah, sederhana asalkan konsisten. Menjaga shalat 5 waktu dengan konsisten pada awal waktu di mesjid akan menambah semangat kita melaksanakan shalat sunat muakkad. Istiqomah bersedekah meskipun 500 rupiah akan melecut niat kita bersedekah 5000 bahkan berjuta-juta rupiah di jalan Allah. Konsisten membaca satu ayat tiap hari akan melecut niat kita membaca satu lembar sehari, bahkan meningkat satu juz setiap hari.

Tidak ada kata terlambat apalagi tidak mampu apabila kita mulai dari hal kecil, dari hal yang paling pokok, dari yang wajib. Kita berharap dengan istiqomah mengerjakan amalan yang wajib, kita terlecut melakukan amalan yang sunat. Lalu amal ibadah yang sunat tersebut menjadi penyempurna kekurangan amal ibadah wajib kita.

Di dalam sebuah hadis disebutkan : “Sesungguhnya amalan seorang hamba yang pertama kali akan diperhitungkan pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik maka sungguh ia telah beruntung dan sukses. Namun apabila shalatnya rusak maka sungguh ia telah gagal dan merugi. Apabila amalan wajibnya ada yang kurang maka Rabb azza wa jalla berfirman: Perhatikanlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah, untuk menyempurnakan amalan wajib yang kurang, kemudian seluruh amalannya diperhitungkan seperti itu,” (HR. Tirmidzi dengan derajat shohih). []

Sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template