Rabu, 14 Januari 2015

NWO Untold, Sejarah Rahasia dan Tersembunyi Freemasonry dan Illuminati (1)


NWO adalah New World Order. Tatanan Dunia Baru. Dalam bahasa latin yang tercetak di mata uang US Dollar dinamakan “Novus Ordo Seclorum”. Bahasa Inggrisnya: New Order of the Ages. Dan banyak pula yang menyebutnya dengan “Novus Ordo Mundi”.

Di sini kita tidak bermain di tataran etimologis. Kita akan menyebutnya dengan satu frasa singkat yang sudah populer di dunia yaitu “NWO”, yang memiliki arti sebagai: “Satu Tatanan Dunia Baru yang dipimpin oleh satu kekuatan super power yang berada di atas negara-negara lainnya.” Dan para futurolog lebih menyukai istilah: Globalisasi. Dunia kita sekarang, kondisinya nyaris sudah seperti ini.

Terciptanya NWO tidak serta merta terjadi. Ada proses konspiratif yang panjang yang melibatkan kekuatan-kekuatan di balik layar yang memiliki banyak nama namun punya satu tujuan. Secara populer kita mengenal istilah Freemasonry, Illuminati, Kabbalah, Zionisme, Bilderberger, Rockefeller Citizen, Trilateral Comission, Club of Rome, Bohemian Grove, dan lain sebagainya.

Nah, masalahnya banyak di antara kita yang kurang memahami istilah-istilah ini dengan baik. Bahkan banyak orang yang mengaku sebagai sejarawan, dan juga penulis, yang secara ngawur menuding bahwa sesuatu itu adalah Illuminati atau sesuatu yang lain adalah Freemasonry. Terlebih jika sudah berbicara mengenai bahasa simbol.

Agar kita semua memiliki wawasan yang benar tentang NWO, dan juga kaitannya dengan sejarah Freemasonry dan Illuminaty serta yang lainnya, ada baiknya kita menelusuri sejarahnya yang memang tidak akan pernah diberikan oleh lembaga-lembaga pendidikan formal, namun diberikan oleh kitab-kitab suci seluruh agama langit.

Eramuslim akan menuliskan serial terbarunya ini untuk Anda semua. Salah satu buku yang nantinya banyak dikutip adalah”Knights Templar Knights of Christ” (Rizki Ridyasmara, 2006) yang sekarang sudah tidak lagi dipasaran. Semoga dengan mengetahui sejarah panjang tentang konspirasi penguasaan dunia ini, kita bisa lebih cermat dan cerdas dalam menyikapi dunia dengan segala isinya.

Tugas manusia hanya satu yakni tetap berada dalam ketauhidan selama jantung masih berdetak. Dan tugas iblis juga cuma satu yaitu mengeluarkan manusia dari jalan ketauhidan. Selamat menyimak.
*

Kisah Bermula

Semua agama langit di dalam kitab-kitab sucinya selalu memuat fragmen Adam dan Hawa (atau Eva) yang terusir dari Surga (Eden) sebagai awal muasal keberadaan manusia di bumi. Di dalam kitab suci Al-Qur’an surah Al-Baqarah dan beberapa surah lainnya, kisah tentang Adam dan Siti Hawa ini dimuat. Bahkan Ibnu Abbas meriwayatkan jika terusirnya Adam dan Hawa dari Surga diikuti oleh Iblis dan Ular.

Literatur Barat yang berpegangan pada Injil kitab Genesis (Kejadian), menyebutkan jika Adam dan Hawa memakan buah Apel atas bujukan iblis sehingga diusir dari Eden. Kelak di kemudian hari, simbol buah Apel yang tergigit akan menjadi salah satu simbol terpopuler di dunia. Salah satunya dipopulerkan oleh Macintosh, di mana komputer keluaran pertamanya dihargai sejumlah 666 dollar! Tentang sejarah simbol Apel dan kisah Apple-Macintosh dengan harga 666 dollarnya akan dibahas kemudian dalam rubrik baru eramuslim tentang Simbologi.

Di bumi, Adam dan Hawa beranak pinak, dan seiring jalannya waktu, akhirnya anak cucunya menyebar ke berbagai permukaan bumi. Sebagai manusia beriman, Adam dan Hawa berupaya agar anak cucunya menjalani hidup dengan lurus, mengikuti jalan ketauhidan, dan hanya menyembah kepada Allah Swt. Namun di sisi lain, iblis juga tidak tinggal diam. Sepanjang waktu iblis selalu mencari celah agar anak-cucu Adam bisa menjauhi ketauhidan dan menjadi bagian dari kelompok pengikutnya.

Waktu terus bergulir, bumi terus berputar dan siang serta malam silih berganti. Dari bulan, tahun, hingga bilangan abad. Akhirnya anak cucu Adam telah menyebar ke berbagai belahan bumi. Dan selaras dengan sunnatullah, ada yang tetap dalam keimanannya dan ada pula yang ingkar. Ada segolongan manusia yang tetap memelihara ketauhidan di dalam hatinya, dan ada pula yang mencari tuhan-tuhan lain selain Allah azza wa jalla. Yang terakhir ini adalah mereka yang tertipu oleh bujuk rayu iblis sebagaimana Adam dan Hawa pernah tertipu di Surga.

Entah pada tahun keberapa sebelum masehi, dari berbagai peninggalan purba yang diketemukan oleh para arkeolog di masa sekarang, diketemukan fakta jika pada suatu massa manusia-manusia di bumi ini telah memiliki sistem kepercayaan yang nyaris serupa yaitu melakukan penyembahan terhadap Ular dan Matahari. Ritual penyembahan terhadap Ular bisa ditemui di Mesir Kuno seperti yang terdapat di bagian depan mahkota para Firaun dan juga kisah di dalam Al-Quran tatkala Musa a.s. ketika melawan pasukan penyihir Firaun.

Selain di Mesir Kuno, ritual penyembahan Ular juga ditemukan di Pompeii Italia, Suku Aztec di Amerika tengah, di Yunani, dan juga Persia. Coba bayangkan, di zaman purba ketika bumi masih gelap gulita, listrik belum diketemukan, alat transportasi massal belum ada dan alat komunikasi yang bisa menghubungkan antar benua juga belum ada, manusia-manusia di berbagai belahan dunia yang letak geografisnya saling berjauhan bisa memiliki sistem kepercayaan yang sama terhadap Ular. Mereka menuhankan Ular, binatang yang sampai sekarang dianggap sebagai personifikasi Iblis atau Setan.

High Priestess Maxine Dietrich di dalam artikel berjudul “Teaching of Ancient Egypt: The Brotherhood of the Snake” (2002) menulis, “Setan membentuk kelompok persaudaraan ular bagi para manusia pengikutnya agar mereka bisa merasakan kondisi kejiwaan dan spiritual tingkat tertinggi”.

Oleh para ahli, Persaudaraan Ular atau Brotherhood of Snake ini diyakini berada di balik rezim-rezim thagut seperti Para Pendeta Amon yang berada di belakang Firaun, yang membunuhi para Nabi Allah Swt, yang menghasut King Harodes agar memburu Isa a.s., dan di dalam sejarah modern mereka pula yang diyakini menghasut Paus Urbanus II agar mengibarkan bendera Salib untuk merebut Yerusalem.

Selain penuhanan terhadap Ular, Iblis juga menciptakan sistem penuhanan terhadap Matahari. Sistem kepercayaan ini juga didapati di berbagai belahan dunia pada zaman purba. Antara lain di Irak, Persia, Yunani Kuno, Roma Pagan, Mesir Kuno, Amerika Selatan, Jepang, dan Syiria.

(bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber

Selain penyembahan terhadap ular yang merupakan simbolisme iblis, mereka ini juga memiliki sistem kepercayaan penyembahan terhadap Dewa Matahari. Salah satu yang terkenal di dalam sejarah yang memiliki kepercayaan terhadap Dewa Matahari adalah Raja Nimrod. Raja inilah yang membangun Menara Babel dan juga mengawini ibunya sendiri yang bernama Semiramis. Kelahiran Nimrod yang terjadi pada 25 Desember inilah yang sekarang dirayakan sebagai Hari Natal.

Selain Nimrod yang menguasai Babilonia dan menjadi induk dari sihir Kabbalah di kemudian hari, orang-orang Majusi di Persia (Iran) juga menuhankan Ahumarazda, Tuhan Matahari. Lalu ada pula Helios, sang Dewa Matahari bangsa Yunani kuno (Greek), yang secara khusus membangun sebuah kota khusus untuk menyembah Helios yaitu Heliopolis atau kota Cahaya.

Di Roma Kuno, dikenal Dewa Mithra, Dewa Matahari yang dipengaruhi sistem kepercayaan Persia. Pengikutnya disebut Mithraism. Kemudian yang tak kalah tekenalnya adalah Firaun di Mesir Kuno yang menyembah Ra, Dewa Matahari. Firaun sendiri salah satu sebutannya adalah Raja Cahaya.

Jauh di pedalaman benua Amerika, di sebelah selatannya, Suka Inca, Maya, dan Aztec, juga menyembah Dewa Matahari di mana didirikan kuil Matahari berbentuk pramida terpancung. Suku Inca menyebut Tuhan Mataharinya dengan nama Inti; Aztec menyebutnya Virachocha, dan Suku Maya menamakannya Dewa Kukulchan (Film “Apocalypto” karya Mel Gibson sedikit banyak memuat ritual pemujaan suku Maya terhadap Dewa Mataharinya ini di piramida terpenggal).

Bangsa Jepang juga punya sistem kepercayaan serupa dengan Shintoisme-nya di mana Tuhan Matahari Feminim disebut sebagai Amaterasu. Di Syiria, Tuhan Matahari disebut sebagai Adonis dan Atis. India juga punya Btara Surya, Sang Dewa Matahari.

Tuhan Ular dan Tuhan Matahari merupakan dua tonggak penting dalam memetakan sistem kepercayaan iblis dalam masa pra sejarah umat manusia di dunia ini. Walau para arkeolog sudah berusaha dengan sekuat tenaga membuat batu dan fosil “bisa berbicara”, namun tetap saja asal dan usul kelompok ini sangatlah gelap. Kita hanya dapat membuat rekaan dan menduga-duga. Dan disinilah peran kitab suci agama-agama langit untuk menerangkannya.

Lebih dari kitab suci agama langit apa pun juga, kitab suci al-Qur’an merupakan satu-satunya kitab suci yang sejak ditulis hingga sekarang tetap dalam keasliannya. Tidak ada satu titik pun yang berubah, ditambah atau dihilangkan. Ini berbeda sekali dengan kitab suci lainnya semisal Alkitab.

Di dalam Al-Qur’an terdapat banyak sekali kisah, yang di antaranya menyebut kaum Yahudi sebagai kaum yang telah berkali-kali mengingkari ketauhidan. Bahkan kaum ini dengan terang-terangan memusuhi Taurat yang diturunkan Allah Swt kepada Musa a.s. dengan membuat sebuah ‘kitab suci‘ yang ditulisnya sendiri bernama Talmud. Kitab hitam inilah yang kelak melahirkan paham zionisme yang sangat rasis dan semuanya sesuai dengan ajaran iblis.

Sejak kaum Yahudi mengingkari Musa a.s. dan lebih mematuhi Samiri dengan patung anak sapinya yang bisa mengeluarkan suara, maka sejak itu Kaum Yahudi menjadi kaum satanik. Walau demikian Allah swt masih menyayangi mereka dan berkali-kali diutus Nabi dari golongan mereka sendiri dengan tugas mengembalikan kaum Yahudi dari kesesatan kepada ketauhidan, namun sejarah telah menorehkan tinta hitamnya tentang kaum yang satu ini hingga dunia merasa muak dan memusuhi mereka sepanjang sejarahnya.

Kabbalah dan Lahirnya Biarawan Sion

Tentang Biarawan Sion, atau Zion, kita akan mengutip buku Knights Templar Knight s of Christ (2006) dalam bab yang juga berjudul “Biarawan Sion”. Berikut salinannya:

Di halaman pertama novel The Da Vinci Code (Dan Brown), tertulis: “FAKTA… Biarawan Sion adalah organisasi nyata—sebuah masyarakat rahasia Eropa yang didirikan pada tahun 1099. Pada tahun 1975, Perpustakaan Nasional di Paris menemukan sebuah perkamen yang dikenal sebagai Les Dossiers Secrets , yang mengidentifikasi sejumlah anggota Biarawan Sion, yang mencakup nama-nama seperti Sir Isaac Newton, Botticelli, Victor Hugo, dan Leonardo Da Vinci.”

Nama-nama seperti The Knights Templar, Freemasonry, dan Iluminati mungkin bagi banyak orang sudah tidak asing lagi, seperti halnya ketika kita mendengar istilah Zionisme. Namun untuk Biarawan Sion atau The Priory of Sion, istilah tersebut kuranglah popular. Sebutan Biarawan Sion baru terdengar pada abad ke-20. Wajar saja, karena yang satu ini memang gelap dan misterius. Bagai menyusur terowongan yang gelap, banyak cabang, dan tanpa ujung, makin kita masuk ke dalam, makin gelap, makin sulit memastikan, dan makin banyak yang tidak diketahui. Di antara berbagai rahasia dan misteri dunia, bisa jadi, Biarawan Sion merupakan salah satu rahasia dan misteri yang paling gelap dan paling menggelitik keingintahuan para peneliti sejarah dunia.

Segala upaya untuk menyibak kemisteriusan Biara Sion telah dilakukan. Tidak ada seorang pun yang berani memastikan apa dan bagaimana sesungguhnya organisasi purba itu bekerja dan berasal. Ada yang yang menyatakan organisasi ini didirikan sembilan tahun sebelum pasukan Salib di bawah komando Godfroi de Bouillon merebut Yerusalem dari tangan umat Islam. Ada pula yang menyatakan didirikan bertepatan dengan hari takluknya Yerusalem ke tangan pasukan salib yang pedang dan kaki-kaki kudanya masih berlumuran darah kaum Muslim dan Yahudi. Namun ada pula yang merunut jauh berabad-abad sebelumnya tatkala para Pharaoh masih berkuasa di Mesir kuno, sebelum datangnya Nabi Musa a.s.

Menurut peneliti kebanyakan, bisa jadi, Godfroi de Bouillon memang yang mendirikan ordo ini sebelum atau saat takluknya Yerusalem ke tangan pasukan salib. Namun darimana dan siapa sesungguhnya anggota ordo ini berasal? Mengapa mereka tiba-tiba muncul dan langsung tampil di pentas sejarah dunia dan sangat berkuasa, padahal tanpa latar belakang yang jelas. Siapa mereka sesungguhnya?

Kemisteriusan Biara Sion ini bertambah-tambah ketika banyak kalangan mencari tahu tentang organisasi yang satu ini, namun tidak bisa menemukan sesuatu keterangan yang bisa dianggap akurat. Sebab itu, ada pula orang yang menduga bahwa organisasi ini sebenarnya palsu dan tidak pernah ada dalam sejarah.

Terhadap tuduhan seperti ini, Dan Brown sebagai penulis The Da Vinci Code berujar filosofis, “Kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di masa lampau. Hal ini sama seperti sejarah. Seperti yang dinyatakan oleh Napoleon Bonaparte, sejarah merupakan sebuah kejadian di masa lalu yang kisahnya disetujui oleh beberapa pihak. Dan pihak yang menang atau berkuasalah yang menentukan sejarah ini. Lagi-lagi saya tekankan, seberapa akuratnya sejarah itu sendiri? Seberapa benar adalah benar?

Selain itu, kode P.S yang dipahat pada nisan Marie de Blanchefort diyakini sebagai singkatan dari Priory of Sion. Beberapa perkamen yang ditemukan pendeta Bérenger Sauniére dari pilar Gereja di Rennes-le-Château, selatan Perancis, juga mengisyaratkan hal ini. Lalu ada pula Puri Gisors dengan menara penjagaan berbentuk segi delapan. Puri Gisors ini merupakan sebuah pusat Biara Sion setelah tahun 1188. Tidak banyak memang. Tapi hal yang sedikit tentu tidak bisa menjadikan kita mengenyahkan sama sekali ‘keberadaan’ dari organisasi misterius ini. Apalagi bagi beberapa peneliti, seperti yang ditulis The Holy Blood and the Holy Grail, mereka meyakini terdapat benang merah yang cukup kuat antara Ordo Sion atau yang kemudian dikenal sebagai Biara Sion dengan Ksatria Kuil (Knights Templar), dan kemudian mereka berubah menjadi Freemasonry dan segala bentuk organisasi sejenis lainnya.

Diyakini, hal tersebut tidak berhenti sampai di sini. Mereka terus menggunakan berbagai ‘topeng’ dengan berbagai ‘nama’ dalam bekerja. Adakah Masonic Bible, Scofield Bible , Bilderberger, Judeo-Christian (atau yang juga populer dengan sebutan Kristen Zionis) , kelompok Neo-Con  yang kini berkuasa di Amerika Serikat, dan bahkan kampanye gerakan liberal dunia serta feminisme merupakan buah karya mereka pada abad ke-21? Agaknya sulit memastikan hal ini, tapi mengapa secara instinktif terasa sekali pertautannya.

[bersambung/Rizki Ridyasmara] Sumber


Sebelumnya, kita akan mencoba terlebih dahulu untuk mencari tahu, minimal bisa mereka-reka dengan pengetahuan yang cukup, tentang keberadaan Biarawan Sion (Priory Sion) dan hubungannya dengan Ksatria Templar, sebuah ordo militer legendaris yang namanya mencuat dalam Perang Salib.
Banyak yang percaya jika organisasi ketentaraan modern dan juga organisasi pasukan elit dunia, sesungguhnya berasal dari ordo militer ini. Bahkan sejarah meyakini sistem perbankan konvensional yang ada sekarang ini berasal dari salah satu kegiatan ordo. Siapa yang sesungguhnya berada di belakang para Ksatria Templar?

Henry Lincoln dan kawan-kawan, ketika menyusuri berbagai perkamen dan dokumen untuk menyusun buku The Holy Blood and the Holy Grail juga masih berspekulasi tentang siapa yang sebenarnya berada di belakang ordo militer ini. Namun agar pencarian tidak berhenti, akhirnya mereka bertiga dengan berani mengambil hipotesis bahwa di belakang Ksatria Templar ada sebuah organisasi yang tak kalah misteriusnya bernama Biarawan Sion.

“Kami tak berhenti pada kesimpulan ini, sebaliknya kami menggunakan ini sebagai pijakan untuk penelitian selanjutnya,” tulis mereka.

Salah satu dokumen yang dijadikan ‘sandaran’ Henry Lincoln cs, bernama Dossiers Secrets (Dokumen Rahasia). Dokumen Rahasia ini tersimpan di Perpustakaan Nasional Perancis di Paris dengan Referensi Bibliografi nomor 4-Lml 249. Menurut dokumen ini, Ordo Sion didirikan oleh Godfroy de Bouillon pada tahun 1090, sembilan tahun sebelum dirinya memimpin penaklukan Yerusalem dari tangan kaum Muslimin yang berakhir dengan tragedi berdarah di kota suci tersebut.

Dokumen lainnya, yang diistilahkan oleh Henry Lincoln cs disebut sebagai ‘Dokumen Biara’ (The Priory Document) malah menyatakan Ordo Sion didirikan tahun 1099, bertepatan dengan jatuhnya Yerusalem ke tangan pasukan Salib. Dan menurut dokumen ini, King Baldwin I yang juga kakak lelaki dari Godfroy ‘menghutangkan tahtanya’ pada ordo tersebut. Naskah itu juga memberitahu kedudukan resmi ordo (markas induk) ada di sebuah gereja khusus bernama Abbey of Notre Dame du Mont de Sion (Gereja Biara Notre Dame  di Gunung Sion) di Yerusalem, atau juga di luar Yerusalem, sebuah bukit tinggi yang terkenal di selatan kota. .

Di selatan kota Yerusalem inilah, daerah di mana berdiri ‘bukit tinggi’ Gunung Sion, pada tahun 1099, saat pasukan salib membantai seluruh penduduk Yerusalem—baik kaum Muslimin dan Yahudi—dalam penaklukkannya, mereka menemukan sebuah reruntuhan di bukit tersebut. Reruntuhan ini mengindikasikan secara kuat bahwa  dahulu kala di daerah tersebut telah berdiri sebuah basilika atau Gereja Byzantium kuno yang diperkirakan sudah berdiri pada abad ke-4 dan sebab itu disebut sebagai Induk Seluruh Gereja (The Mother of All Church).

Di atas reruntuhan gereja induk tersebut, Godfroi memerintahkan dibangun kembali sebuah gereja yang ternyata dipergunakan oleh golongannya sendiri. Gereja itu lebih mirip dengan menara dan benteng, yang kemudian diberi nama Abbey of Notre Dame du Mont de Sion (Gereja Biara Notre Dame di Gunung Sion). Karena kelaziman penamaan ordo disamakan dengan nama gerejanya—misal Ordo Holy Sepulchure ternyata menempati Gereja Holy Sepulchure, maka banyak sejarahwan meyakini kelompok Godfroi yang menempati Gereja Abbey of Notre Dame du Mont de Sion ini dikemudian hari disebut dengan istilah Ordo Sion dan para pendetanya dipanggil dengan sebutan Biarawan Sion (Priory of Sion).

Walau demikian, banyak pula sejarahwan yang menolak premis ini. Ada yang memaparkan bahwa gereja tersebut dihuni oleh persaudaraan anggota Ordo Agustinian yang memiliki nama ganda seperti ‘Saint-Marie du Mont Syon et du Saint-Esprit’  (Santa Maria dari Gunung Sion dan dari Santa Esprit) . Ada pula yang menyatakan bahwa gereja tersebut selama Perang Salib di Yerusalem dihuni oleh para ksatria dengan nama ‘Chevaliers do Odre de Notre Dame de Sion’ (Kavaleri Ordo Notre Dame di Sion).

Petunjuk yang mungkin lebih jelas akhirnya datang dari Gérard de Sède. Menurutnya, para biarawan Calabria yang dipimpin oleh seorang tokoh bernama ‘Ursus’ yang dikaitkan dengan garis keturunan Dinasti Merovingian sebelum berangkat dari Orval, mereka memasukkan seorang lelaki yang dikenal sebagai Peter the Hermit (Peter si Pertapa). Dikatakan pula bahwa Peter si Pertapa itu diyakini sebagai pembimbing pribadi Godfroi de Bouillon.

Pada tahun 1095, bersama Paus Urban II, Peter membuat dirinya dikenal di seluruh umat Kristen karena khotbahnya yang mengobarkan Perang Salib untuk merebut kembali Tanah Suci Yerusalem dari tangan kaum Muslim. Peter adalah salah seorang penyebab diakhirinya perdamaian antara dunia Kristen dengan Islam, dengan menyerukan Perang Salib.

Setelah Yerusalem jatuh ke tangan pasukan salib di tahun 1099, sekelompok tokoh bersidang dalam konklaf rahasia yang diduga berasal dari Gereja Yohanit. Dari Guillaume de Tyre didapat keterangan bahwa seorang uskup dari Calabria mendominasi sidang itu dan sangat dihormati seluruh peserta. Pertemuan itu digelar untuk menobatkan seorang Raja Yerusalem.

Konon, saat itu secara aklamasi peserta menunjuk Godfroi de Bouillon sebagai Raja Yerusalem, namun dengan sikap merendahkan hati yang dibuat-buat, Godfroi menolaknya dan memilih untuk memakai gelar “Pembela Holy Sepulchure” yang sesungguhnya lebih berkuasa dalam segala hal, walau tidak menyandang istilah Raja. Baldwin I akhirnya dinobatkan sebagai Raja Yerusalem. Ketika Godfroi meninggal dunia di tahun 1100, King Baldwin I menerima gelar tersebut dan menjadi tokoh dengan dua gelar di Kota Suci itu: King of Yerusalem dan Pembela Holy Sepulchure.

Menurut Lynn Picknett dan Olivia Prince dalam karyanya The Templar Revelation, Godfroi de Bouillon sebenarnya telah bertemu dengan para wali ‘Gereja Yohanes’ atau Kaum Yohanit yang misterius dan juga sering disebut ‘Ormus’. Hasil pertemuan rahasia tersebut, mereka sepakat untuk membentuk suatu ‘kelompok atau pemerintahan rahasia’. Biarawan Sion dan Ksatria Templar diciptakan sebagai bagian dari rencana besar Gereja Yohanes ini.

Dari berbagai temuan, The Holy Blood and the Holy Grail membuat hipotesa sementara bahwa Ordo Biara Sion merupakan ordo yang sangat berpengaruh di Yerusalem ketika itu dan bahkan memiliki kewenangan besar untuk mengangkat seorang raja. Untuk memastikannya memang sangat sulit. Yang kemudian banyak diyakini para peneliti berdasar temuan-temuan mereka adalah bahwa di kemudian hari untuk mengamankan dan mengefektifkan misinya, para Biarawan Sion ini kemudian membentuk Ordo Ksatria Kuil (Knights Templar), sebuah ordo khusus militer. Yang didirikan secara resmi 20 tahun setelah penaklukan Yerusalem. Berdasarkan informasi ini, jelas, temuan Picknett dan Prince lebih maju selangkah.



Awalnya, dari literatur yang bisa dijumpai, seluruh anggota Ordo Sion ini hanya ada di Tanah Suci Palestina, di gereja luar Yerusalem. Ini setidaknya berlangsung sampai dengan saat King Louis VII (1137-1180) kembali ke Perancis dari Perang Salib di Yerusalem yang membawa serta sembilan puluh lima anggota Ordo Templar. Ordo Templar merupakan ordo militer Ordo Sion. Enampuluh dua orang dari mereka ditempatkan di sebuah biara besar Saint-Samson di Orleans.

Saat itu Ordo Sion maupun Templar telah menjadi satu ordo yang sangat kaya raya dengan menguasai banyak rumah, gedung, dan lahan-lahan yang sangat luas di Perancis, Spanyol, Itali, dan juga di Palestina.

Pada Perang Salib ketiga di tahun 1187 di mana pasukan Islam berhasil merebut Tanah Suci Yerusalem yang saat itu diperintah oleh Guy de Lusignan, Raja Yerusalem setelah King Baldwin IV wafat, dengan sendirinya seluruh anggota dan tokoh Ordo Sion juga meninggalkan Palestina. Guy Lussignan sendiri adalah salah seorang tokoh Templar. Rekannya, Reynald de Cathillon tewas ditebas batang lehernya oleh Salahuddin al-Ayyubi, pemimpin pasukan Islam, karena Reynald dikenal suka menghujat Rasulullah SAW dan pernah menghimpun pasukan Salib untuk menyerang Mekkah.

(Bersambung/ Rizki Ridyasmara) Sumber



Kejatuhan Yerusalem tersebut ke tangan pasukan kaum Muslimin pimpinan Salahuddin al-Ayyubi oleh pihak Kristen dikatakan sebagai akibat dari kecerobohan—bahkan ada yang mengatakan pengkhianatan—Grand Master Ordo Templar bernama Gerard de Ridefort.

Kejatuhan Yerusalem ini membawa implikasi yang tidak mudah dalam dunia Kristen. Ribuan orang-orang Perancis dan sekitarnya yang bermaksud pergi ke Yerusalem untuk ‘melamar’ menjadi anggota Ordo Sion akhirnya berbalik arah dan kembali ke kampung halamannya. Para tokoh Ordo Sion, dan Templar, juga meninggalkan Palestina dan menemukan sebuah basis baru di Perancis. Basis yang baru ini bisa saja di Orleans atau juga di daerah pegunungan Bezu di Selatan Perancis, dekat Rennes-le-Château.


Akibat kejadian di tahun 1187 tersebut, hubungan antara Ordo Sion dengan Ordo Ksatria Templar rusak. Setahun kemudian, ‘ayah dan anak’ ini secara resmi berpisah. Perpecahan ini diperingati dengan sebuah ritual yang disebut ‘The Cutting of the Elm’ (Penebangan Pohon Elm). Banyak kisah manipulatif tentang penebangan pohon elm ini yang dibuat secara harfiah. Padahal diyakini, istilah tersebut tidak bisa diartikan secara harfiah melainkan sebuah simbolisasi. Namun hingga sekarang, para penelti masih menyusuri apa sebenarnya yang tersimpan di dalam simbolisasi penebangan pohon Elm tersebut?

Setelah peristiwa 1188, Ordo Biara Sion memilih Grand Masternya sendiri, lepas dari Grand Master Knights Templar, dan memilih Jean de Gisors yang dilahirkan pada tahun 1133 dan meninggal dunia pada 1220. Orang ini juga diliputi kemisteriusan sejarah dan jejak kehidupannya begitu kacau. Nama Ordo Sion pun kemudian diubah menjadi Prieuré de Sion (Biara Sion). Dalam dokumen yang lain disebutkan juga bahwa mereka memiliki sebuah nama lain: Ormus. Yang dipakai setahun sebelum penangkapan dan pengejaran Ordo Templar di Perancis.

Tentang keberadaan Biarawan Sion, Lynn Picknett dan Clive Prince yang juga melakukan penelitian langsung ke berbagai jantung heresy Eropa hingga menghasilkan buku “The Templar Revelation: Secret Guardians of the True Identity of Christ” (1997), juga sependapat dengan Michael Baigent dan kawan-kawan.

Mereka adalah kelompok kuasi-Masonik atau Ordo Ksatria yang memiliki ambisi-ambisi politis tertentu dan, kelihatannya, juga kekuasaan “belakang layar” yang sangat besar. Meski demikian, teramat sulit untuk memetakan posisi Biarawan Sion. Kesulitan ini mungkin disebabkan oleh adanya sesuatu yang bersifat simeris (nyaris utopis) di seputar aktivitasnya.  Bahkan dalam penelitiannya, Picnett dan Prince mengaku telah bertemu dan banyak dibantu seorang informan rahasia—yang dinamakan ‘Giovanni’(versi bahasa Italia untuk John atau Yohanes, sebuah nama yang banyak dipilih oleh para petinggi Biarawan Sion karena mengacu pada sosok Yohanes Sang Pembaptis yang sangat dihormati mereka ketimbang Yesus)—yang merupakan anggota dari Biarawan Sion sendiri yang berasal dari Perancis.

Awalnya, kedua peneliti yang memiliki latar belakang sebagai pengajar di bidang paranormal, okultisme, serta misteri sejarah dan agama di London ini merasa ragu dengan Giovani. Namun setelah menjalani hubungan yang dekat dan intens, mereka berdua akhirnya meyakini bahwa apa yang diakui Giovanni memiliki kebenaran.

“Perjumpaan dan hubungan kami dengan Giovanni meyakinkan kami bahwa ia, setidak-tidaknya, bukanlah pembual dan bahkan informasinya dapat dipercaya. Ia tidak hanya menyampaikan kepada kami berbagai fakta yang tidak ternilai harganya mengenai kain kafan Turin, tetapi juga menyebutkan secara rinci orang-orang dari masa sekarang yang menjadi anggota kelompok Biarawan Sion atau berbagai organisasi esoteris dan rahasia lain, di Inggris maupun di Eropa daratan. Misalnya, ia menyebut seorang konsultan penerbitan, yang pernah bekerjasama dengan kami pada 1970-an, sebagai anggota kelompoknya. Sekilas, pernyataan Giovanni mengenai orang ini  tampak sebagai rekaan imajinasinya, tetapi beberapa bulan kemudian sesuatu yang sangat aneh terjadi,” tulis Picknett.

Kisahnya terjadi saat sebuah pesta yang diselenggarakan seorang kenalan pada November 1991 di sebuah restoran mewah yang letaknya berdekatan dengtan distrik mereka. Konsultan itu hadir walau dia tinggal sangat jauh. Konsultan itu mengundang Picknett dan Prince ke kediamannya. Setelah memenuhi undangan tersebut, peneliti ini sampai pada kesimpulan bahwa konsultan tersebut memang anggota Biarawan Sion. Apalagi konsultan itu yang taat menjalankan ritual okultisme, kemudian juga mengadakan sebuah pesta amat mewah di rumahnya yang terletak di sebuah desa. Namun tamu-tamunya bukanlah orang sembarangan, …semua yang hadir di sana adalah pejabat perbankan internasional yang ternama.

Disebabkan pengalaman dan penelitian yang panjang itulah, mereka sampai pada keyakinan bahwa Biarawan Sion modern—seperti yang dikatakaln Plantard kepada Michael Baigent dan kawan-kawan—bukan sekadar ciptaan atau temuan segelintir orang Perancis yang punya fantasi monarkis sebagaimana dituduhkan oleh sebagian kritikus. “Berdasarkan pengalaman dan temuan kami, tidak ada keraguan sedikit pun di benak kami untuk memercayai bahwa Biarawan Sion sungguh-sungguh ada pada masa kini,” demikian tulis mereka.

DOSSIERS SECRETS DAN PIERRE PLANTARD

Sebelum kita menelusuri lebih jauh, ada baiknya kita berhenti sejenak untuk mencermati kisah tentang Pierre Plantard yang dikatakan sebagai orang yang berada di belakang penulisan Les Dossiers Secrets—dokumen rahasia—yang memuat nama sejumlah tokoh Barat sebagai Grand Master Biara Sion.


                                                                         
Henry Lincoln dan dua penulis The Holy Blood and the Holy Grail lainnya menyatakan kesulitan untuk menentukan sejak kapan awal mula Biara Sion diketahui berdiri.

Ada pula yang meyakini bahwa cikal bakal Biara Sion bermula pada tahun 43 Masehi, ketika Raja Herod (King Herod Agrippa) bersama-sama dengan delapan pendeta Yahudi merencanakan sebuah gerakan untuk memenangkan dunia. Namun catatan ini pun sulit untuk menemukan pembuktian atau dokumen-dokumen pendukung yang lebih kuat.

Namun ketika mereka menemukan Les Dossiers Secrets, mereka akhirnya mengambil sebuah pijakan  sementara yang akan diuji kemudian. Salah satu temuan mereka mengatakan bahwa di Annemasse, Perancis, pada tahun 1956 telah berdiri satu organisasi resmi bernama Priory of Sion yang telah mendaftarkan diri—sesuai hukum Perancis—di Sous-Prefecture of Saint Julien-en Genevois, pada 7 Mei 1956. Pendaftarannya sendiri dicatat pada tanggal 20 Juli 1956 di ‘Journal Officiel de la République Française dengan dewan pendiri empat orang: Pierre Plantard, André Bonhomme, Jean Delaval, dan Armand Defago.

Priory the Sion juga memiliki nama lain yakni “Chevalerie d’Institutions et Régles Catholiques d’Union Independence et Traditionaliste” (C.I.R.C.U.I.T) atau dalam bahasa Inggris berbunyi: Chivalry of Catholic Rule and Institution and of Independent Traditionalist Union. Organisasi dikabarkan bubar pada bulan Oktober 1956, lalu muncul kembali tahun 1962 dan 1993. Semuanya oleh Pierre Plantard .

Ada yang menyatakan bahwa Plantard pernah terlibat dalam tindakan kriminal, yaitu perbuatan menipu, seperti yang dikatakan oleh sebuah dokumen di Sous-Prefecture of Saint-Julien en Genevois. Di belakang hari, hal ini dijadikan salah satu landasan utama oleh kalangan yang menganggap Priory of Sion tidak ada dan sekadar dusta dari Plantard. Benarkah demikian? Kita simak dulu perjalanan keterangan ini.

Menurut pengakuan Plantard, Priory of Sion semula dimaksudkan sebagai sebuah perkumpulan yang mampu mendudukan kembali pewaris Dinasti Merovingian, sebagai keluarga besar yang memiliki darah suci keturunan Yesus, sebagai raja di Eropa. Untuk itu, ini menurut kalangan yang menganggap Priory of Sion tidak ada, dengan dibantu oleh rekannya bernama Philipe de Cherisey, Plantard membuat sebuah naskah dan perkamen palsu yang dikatakannya ditemukan oleh Pendeta Saunière saat merenovasi gereja Magdala di Rennes-le-Château. Dokumen-dokumen dan naskah ini selain berisi daftar nama Grand Master Biara Sion, juga menyinggung tentang garis keturunan Merovingian yang masih hidup.

Ada banyak yang dikerjakan Plantard untuk mengungkap keberadaan The Priory of Sion di tahun 1961-1984. Ini dianggap mereka sebagai upaya manipulasi sejarah. The Dossiers Secrets oleh Plantard disimpan di Bibliothèque nationale de France (BN) di Paris, yang kemudian ditemukan oleh Henry Lincoln, dan mengantarkan Henry Lincoln ini kepada Plantard. Menurut Dossiers Secrets, Suku Sicambrian-Frank, yaitu suku yang asal dari Dinasti Merovingian, asli Yahudi. Mereka berasal dari Suku Benyamin, suku ke-13 bangsa Yahudi yang hilang dan bermigrasi ke Yunani dan kemudian ke Jerman, satu wilayah yang kemudian membuat mereka dikenal sebagai suku atau orang Sicambrian.

Dalam upayanya menelisik keabsahan dokumen rahasia tersebut, Henry Lincoln dan kawan-kawan menemukan kejadian-kejadian aneh yang menimpa para penulis yang telah menuliskan hal-hal terkait hal ini. Sekurangnya ada empat penulis yang diketemukan mati secara misterius secara bersamaan, sama sekali bukan bunuh diri. Seolah ada pihak atau kelompok yang tidak ingin sesuatu yang selama ini tertutup rapat, diketahui publik. Beberapa kejadian juga dialami Lincoln sehingga membuat dirinya akhirnya harus merasa yakin dengan kebenaran dokumen rahasia tersebut.

Dalam  The Holy Blood and the Holy Grail, Henry Lincoln dan kawan-kawan untuk Biara Sion sampai pada beberapa kesimpulan:
  • Biara Sion berdiri di belakang Ksatria Templar dan dialah yang membentuknya secara rahasia. Biara Sion dipimpin oleh para Grand Master yang terdiri dari tokoh-tokoh Barat.
  • Walau Ksatria Templar telah dihancurkan antara tahun 1307-1314, Biara Sion tetap tidak terjamah dan terus berjalan selama berabad-abad dalam bayangan gelap dan di balik layar, dan secara misterius berada di belakang sejumlah peristiwa penting dalam sejarah Barat.
  • Ordo Biara Sion masih ada hingga kini dan masih menjalankan kegiatannya
(Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber


Dari sejumlah dokumen yang dirahasiakan, banyak peneliti yakin jika Ordo Biarawan Sion ini masih eksis hingga sekarang, sebagai Persaudaraan Rahasia tentunya. Henry Linclon, penulis The Holy Blood Holy Grail berhasil bertemu dengan Gino Sandri, sekretaris pribadi Pierre Plantard yang diduga kuat merupakan Sekretaris Jenderal Biara Sion.

KESAKSIAN GINO SANDRI



Keterangan dari Gino Sandri, yang mengaku sebagai Sekretaris Jenderal Priory of Sion dan sekaligus sekretaris pribadi dari Pierre Plantard, agaknya harus dipaparkan juga di sini. Terlepas apakah Gino yang eksentrik dan ‘nakal’ ini—sesuatu yang oleh banyak peneliti dianggap gaya khas dari Biarawan Sion—bisa dipercaya atau tidak. Tidak ada yang mengetahui apakah Gino Sandri yang menghuni rumah yang jauh dari keramaian ini berbohong, memanipulasi informasi, atau berterus-terang soal Biarawan Sion. Atau mungkin semua keterangannya ini ada yang bohong dan ada pula yang benar.

Beberapa peneliti kelompok esoteris seperti Lynn Picknett nyatanya telah bertemu dan mewawancarainya. Gino, menurut Picknett, memang ‘nakal’ dan ‘misterius’. Tim pembuat film dokumenter “The Sauniere Da Vinci (2006) juga menemui Sandri dan melakukan wawancara ekslusif dengannya. Keterangan Gino Sandri di bawah ini dikutip dari film dokumenter tersebut yang berisi wawancara cukup panjang dengannya:

“…ketika menginvestigasi cerita tentang Rennes le Château di tahun 1970-an, suatu waktu saya bertemu dengan Perre Plantard.  Dalam waktu yang tidak terlalu lama akhirnya berkawan akrab, dan suatu hari saya diajak untuk bergabung dengan kelompoknya, Biarawan Sion. Dari tahun 1950 hingga 1955, Biarawan Sion tidak menjadi pembahasan umum, walau hal ini tidak berarti keberadaannya tidak dibahas dalam kelompok-kelompok tertentu. Saya ingin menekankan bahwa organisasi Biarawan Sion sama sekali tidak ada kaitannya dengan masalah politik, finansial, atau juga tidak ada kaitannya dengan keinginan mengembalikan Dinasti Merovingian, tidak juga dengan Eropa Barat. 

…dalam masanya, Godfroi de Bouillon memang merupakan bagian dari kami walau dia adalah orang yang bermain di layar (maksudnya, Godfroi adalah anggota Biarawan Sion yang sengaja bermain di permukaan, bukan bagian dari yang tertutup atau anggota rahasia, penulis).

…masyarakat baru membahas keberadaan Biarawan Sion setelah tahun 1956, dan juga dikeluarkannya sebuah dokumen yang berisi nama-nama Grand Master-nya. Daftar Grand Master itu benar adanya tapi menurut saya terlalu di besar-besarkan. Kami sekali lagi menyatakan tidak terkiat dengan politik, kami hanya ingin menciptakan perdamaian di dunia yang terdiri dari beragam kelompok dan orang. Setelah kemunculan dokumen itu (The Dossiers Secrets) kami memang menjadi satu organisasi yang terbuka. Tapi sekali lagi ini sekadar organisasi layar yang diketahui orang banyak. 

Sesungguhnya cerita tentang ini berawal dari tahun 1901, dari sebuah asosiasi di Annemase yang dipimpin tiga orang. Presiden Asosiasi adalah Andre Bonhomme dan Plantard menjadi sekretaris umumnya. Satu hari, Bonhomme memerintahkan kepada Plantard untuk membuat satu struktur organisasi layar (struktur organisasi yang sengaja ditampilkan ke khalayak luas, penulis) untuk mengetahui reaksi dari masyarakat. Ini seperti umpan. Plantard memang sengaja diumpankan. Sama seperti Rennes le Château dan Sauniére, yang memang kami buat seperti itu. 

Rennes le Château memang istimewa dan memenuhi segala syarat yang dimiliki sebuah tempat yang penuh misteri. Ini semacam perangkap. Kita mempunyai semua bumbu penyedap. Gerard de Sede pun, oleh Plantard sendiri, sebelum menulis dua bukunya yang terkenal itu, telah diberi banyak data dan informasi yang antara lain terdiri dari 900 halaman dokumen bertuliskan tangan. 

Buku de Sede yang pertama tentang Ksatria Templar dan yang kedua tentang harta karun di Rennes le Château. Bahkan dalam pembagian royalty buku tersebut, Gerard de Sede dan Plantard pun mendapat bagian. De Sede mendapat 35% sedangkan Plantard mendapat 65%-nya. Buku yang kedua, Le Tressoe Maudit, agaknya disengaja dibuat tipis agar murah harganya dan bisa dijangkau banyak orang. Banyak peneliti dan pencari harta karun yang akhirnya berdatangan ke desa ini.
Saya juga katakan bahwa Renes le Château merupakan bagian luar dari Priory of Sion. Kami sendiri sebenarnya tidak tertarik dengan misteri kuburan Yesus, juga tidak ikut-ikutan pada upaya menaikkan kembali monarki Perancis dengan Dinasti merovingiannya. Priory of Sion, dalam bagian lain, juga mutlak tidak berhubungan sama sekali dengan The Da Vinci Code. Itu hanyalah novel biasa. Kode-kode dan sandi-sandi yang ada di dalamnya juga sangat mudah untuk dibaca.Dan novel itu, The Da Vinci Code, juga telah mengatakan bahwa Opus Dei telah melakukan serangkaian pembunuhan (Gino tertawa). Priory of Sion sama sekali tidak berhubungan dengan semua ini…”

AKAR BERNAMA KABBALAH



Jika ordo Sion didirikan oleh Godfroi de Bouillon pada tahun 1090, sembilan tahun sebelum dirinya memimpin penaklukan Yerusalem dari tangan kaum Muslimin. Lalu ada dokumen lainnya, yang diistilahkan oleh Henry Lincoln cs sebagai ‘Dokumen Biara’ yang malah menyatakan Ordo Sion didirikan tahun 1099, bertepatan dengan jatuhnya Yerusalem ke tangan pasukan salib pimpinan Godfroi de Bouillon. Maka sebelum ordo ini ‘didirikan’, adakah orang-orang dan tokoh-tokoh yang berada dalam kelompok tersebut bersatu dalam ikatan persaudaraan, ritual bersama, atau ikatan-ikatan lain yang benar-benar kuat? Apa yang sesungguhnya melatarbelakangi keberadaan mereka?
Harun Yahya merupakan peneliti Muslim asal Turki yang sangat serius mengkaji masalah ini.

Tak banyak peneliti yang berhasil menemukan dan merangkai kepingan fakta sejarah seperti dirinya sehingga menghasilkan mosaik peristiwa masa lalu yang sangat menarik. Salah satu hipotesis Harun Yahya yang bernama asli Adnan Oktar ini tentang apa yang berada di balik Biarawan Sion (juga Templar, Freemason, dan sebagainya) adalah Kabbalah.

Harun Yahya mengutip sebuah buku yang ditulis oleh dua orang Mason bernama Christopher Knight dan Robert Lomas, yang berjudul The Hiram Key. Buku itu mengungkapkan beberapa fakta penting tentang akar Freemasonry. Menurut para penulis ini, jelas sekali bahwa Masonry adalah kesinambungan dari para Templar. Namun, selain itu para penulis juga mengkaji asal usul para Templar.

Menurut tesis kedua penulis tersebut, para Templar ini mengalami perubahan besar secara keyakinan saat mereka berada di Yerusalem. Di tempat asal agama Kristen ini, mereka justru mengadopsi doktrin-doktrin lain yang lebih menjurus pada ajaran paganisme yang melenceng dari iman Kristen yang benar. Para Templar dikatakan menemukan sebuah rahasia yang terpendam dan tersembunyi di dalam Kuil Sulaiman di Yerusalem. Kebetulan, King Baldwin I yang juga menjadi Raja Terusalem memberi mereka sebuah markas di sayap kiri istananya yang dahulunya merupakan wilayah tempat berdirinya Kuil Sulaiman. Para Templar itu juga diketahui telah melakukan upaya penggalian tanah di dalam markas mereka untuk melakukan pencarian tersebut.

Christopher Knight dan Robert Lomas berpendapat bahwa para Templar sesungguhnya telah berbohong kepada Raja Yerusalem bahwa kedatangan mereka ke kota suci itu adalah untuk mengamankan rute para peziarah dari Jaffa ke Yerusalem dari segala gangguan yang mungkin timbul. Namun maksud kedatangan mereka yang sesungguhnya adalah untuk melakukan pencarian terhadap ‘harta karun’ Nabi Sulaiman yang dipercaya berada di bawah reruntuhan Kuil Sulaiman.

Tidak ada bukti bahwa para Templar sendiri ini pernah memberi perlindungan kepada peziarah, tetapi sementara itu kita segera menemukan bahwa terdapat bukti yang meyakinkan bahwa mereka memang melakukan penggalian yang intensif di bawah reruntuhan Kuil Herod…

The Hiram Key bukan satu-satunya yang berpendapat demikian. Peneliti Perancis, Gaethan Delaforge dalam karyanya juga membuat kesimpulan yang sama: Tugas sebenarnya dari sembilan ksatria itu adalah melakukan penyelidikan di daerah tersebut untuk mendapatkan berbagai barang peninggalan dan naskah yang berisi intisari dari tradisi-tradisi rahasia Yahudi dan Mesir kuno.

Pandangan ini bersandar pada temuan seorang peneliti, Charles Wilson, yang melakukan riset arkeologis di lokasi bekas reruntuhan Haikal Sulaiman pada akhir abad ke-19. Setelah mempelajari lokasi bekas markas para Templar, Wilson menemukan seperangkat alat eskavasi dan jejak-jejak upaya penggalian yang pernah dilakukan para Templar di lantai kamar-kamar tidurnya. Perangkat eskavasi ini berasal dari tahun yang sama ketika para Templar masih tinggal di tempat tersebut. Beberapa simbol yang biasa terdapat dalam ordo ini juga dijumpai.

Sekarang, perangkat alat-alat tersebut masih bisa dijumpai di dalam koleksi Robert Brydon yang secara khusus mengumpulkan arsip dan segala sesuatu yang sangat luas tentang keberadaan para Templar. (Bersambung/ Rizki Ridyasmara) Sumber


Berpegang pada pendapat dan temuan para peneliti di ataslah, penulis The Hiram Key meyakini para Templar telah menemukan sesuatu yang telah mengubah pandangan mereka terhadap dunia dan kehidupan. Ada pula yang secara kritis memandang bahwa kedatangan para Templar ke Yerusalem tentulah ada yang membawanya. Para Templar itu, asalnya adalah penganut Kristen dan datang dari Dunia Kristen, namun setelah di Yerusalem dan menemukan sesuatu, mereka kemudian dengan cepat mengalami perubahan fundamental dan diketahui mulai mempraktekkan ritual-ritual yang tak ada hubungannya sama sekali dengan kekristenan, upacara sihir, dan berbagai bid’ah lainnya. Sesuatu itu diyakini sebagai Kabbalah.

Menurut Encarta Encyclopedia (2005), istilah Kabbalah berasal dari bahasa Ibrani yang memiliki pengertian luas sebagai ilmu kebatinan Yahudi atau Judaism dalam bentuk dan rupa yang amat beragam dan hanya dimengerti oleh sedikit orang. Pada abad ke-13 petilasan Kabbalah ditemukan di Spanyol dan Provence (Perancis). Sedang secara harfiah, Kabbalah memiliki arti sebagai ‘tradisi lisan’. Kabbalah ini mempelajari arti tersembunyi dari Taurat dan naskah-naskah kuno Judaisme. Walau demikian, diyakini bahwa Kabbalah sesungguhnya memiliki akar yang lebih panjang dan merujuk pada ilmu-ilmu sihir kuno di zaman Fir’aun yang biasa dikerjakan dan menjadi alat kekuasaan para pendeta tinggi di sekitar Fir’aun.

Kabbalah yang juga secara harfiah memiliki arti sebagai ‘Tradisi lisan’ ini di dalamnya sarat dengan berbagai filsafat esoteris dan ritual penyembahan serta pemujaan berhala, bahkan penyembahan iblis, yang telah ada jauh sebelum Taurat dan telah menyebar luas bersama Judaisme, yang seluruhnya berurat dan berakar pada praktek-praktek kebatinan serta penyembahan dewa-dewi yang sudah ada pada zaman Mesir Kuno. Hal tersebut diutarakan oleh pakar sejarah Yahudi Fabre d’Olivet. “Kabbalah merupakan suatu tradisi yang dipelajari oleh sebagian pemimpin Bani Israil di Mesir Kuno, dan diteruskan sebagai tradisi dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi,” demikian d’Olivet. Banyak kalangan percaya, Kabbalah adalah induk dari segala induk ilmu sihir yang ada di dunia hingga hari ini.

Dianutnya Kabbalah oleh orang-orang Yahudi mengundang tanda tanya besar pada diri seorang Harun Yahya. “Ini sungguh aneh. Jika kita memandang Yahudi sebagai sebuah agama Monoteistik, yang diawali dengan turunnya Taurat kepada Nabi Musa a.s. Tapi kenyataannya, di dalam agama ini ada sebentuk sistem yang disebut Kabbalah, yang mengadopsi praktik-praktik dasar sihir yang sebenarnya dilarang dan bertentangan dengan Taurat. Hal ini memperkuat apa yang telah disebutkan sebelumnya, dan menunjukkan bahwa Kabbalah sebenarnya merupakan elemen yang menyusup ke dalam agama Yahudi dari luar.”

Pelacakan terhadap Kabbalah, intisari pijakan ideologis Biara Sion yang kemudian ditularkan ke Ordo Ksatria Templar, lalu diturunkan kepada Freemason, dan sebagainya yang kemudian mengejawantah dalam bentuk konspirasi kelompok Neo-Con di Amerika, Judeo-Christian atau Zionis-Kristen yang berasal dari The Holy Scofield Bible, dan termasuk di alam bawah sadar para pemimpin Eropa yang tergabung dalam Uni Eropa—Oikumene negeri-negeri Kristen Eropa dan sebagainya, membawa kita pergi jauh ke masa silam, saat Fir’aun masih disembah sebagai Tuhan, saat Nabi Musa a.s. berjuang mendakwahkan ketauhidan pada bangsa Israil yang keras kepala di Mesir kuno.


Sihir Dan Militer

Salah satu peradaban tertua dunia yang hingga kini masih bisa kita saksikan sisa-sisa peninggalannya dengan baik, bahkan walau sudah banyak yang ditemukan, namun rahasia dan misteri yang tersimpan di dalamnya masih saja belum terhampar dengan jelas, adalah sisa peradaban Mesir Kuno di bawah kekuasaan para Fir’aun. Mesir kuno merupakan sebuah sejarah purba yang sarat dengan misteri dan tradisi paganisme, okultisme, di mana ilmu-ilmu sihir dipraktikkan dengan bebas bahkan menjadi salah satu tiang penyangga kekuasaan Fir’aun, selain tentu saja para tentaranya.

Ada begitu banyak catatan para peneliti yang mengupas asal-muasal dan legenda tentang zaman Mesir Kuno ini. Kitab-kita suci dari berbagai agama juga memaparkan secara panjang lebar keberadaan Fir’aun dan kerajaannya. Al-Qur’an memuat secara detil tentang hal ini melalui kisah pertemuan Nabi Musa a.s. dengan Fir’aun.

Bahkan di dalam ayat-ayat Al-Qur’an itu, demikian Harun Yahya, kita akan bisa dengan jelas melihat adanya dua titik fokus kekuatan yang ada di Mesir yang menjadi dua tonggak penyangga rezim penguasa yakni sosok Fir’aun dan para pembesar istana yang sering menjadi penasehatnya.

Para pembesar istana ini berkumpul di satu dewan yang sering memberi nasehat atau pandangan kepada Fir’aun. Mereka tertdiri dari Dewan Militer dan Dewan Penyihir Tertinggi. Fir’aun pun sering berkonsultasi dan meminta pandangan-pandangan mereka. Bahkan tidak jarang, nasehat dan masukkan dari para penasehatnya—terutama dewan penyihir tertingginya—mengalahkan pendapat pribadinya sendiri. Fir’aun sangat menghormati Dewan Penyihir Tertingginya ini.

Dalam Al-Qur’an dikisahkan tentang pertemuan antara Nabi Musa a.s. dengan Fir’aun: “Dan Musa berkata: “Hai Fir’aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam, wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku”.

Mendengar permintaan Musa yang begitu berani, Fir’aun menjawab, “Jika benar kamu membawa sesuatu bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar.” Maka Musa lalu menjatuhkan tongkatnya. Seketika itu juga, tongkat kayu yang dipegang Musa berubah menjadi ular yang besar. Musa kemudian mengeluarkan tangannya dari balik jubahnya dan terlihatlah tangan itu menjadi putih berkilauan dan terlihat oleh orang-orang di sekitarnya.

Menyaksikan hal ini para pemuka kaum Fir’aun dengan sinis berkata kepada Fir’aun, “Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai yang bermaksud hendak mengeluarkan kamu dari negerimu.” Mendengar hal tersebut, Fir’aun lalu bertanya,”Maka apakah yang kamu anjurkan?.”

Para penasehat Fir’aun itu menjawab, “Beri tangguhlah dia dan saudaranya, serta kirimlah ke kota-kota beberapa orang yang akan mengumpulkan (ahli-ahli sihir), supaya mereka membawa kepadamu semua ahli sihir yang pandai.” Ini semua bisa disimak di dalam Al-Qur’an surat Al A’raaf ayat 104-112. Fir’aun lalu menerima masukan dari para penasehatnya tersebut.

Dalam kisah ini jelas terlihat peran penting para penasehat Fir’aun. Para penasehat itu sering berkumpul di sisi Fir’aun dan disebut sebagai Dewan Penasehat. Mereka inilah yang berperan besar dalam menasihati Fir’aun, yang menghasutnya untuk terus melawan melawan Musa, dan merekomendasikan kepadanya metode-metode tertentu dalam menghadapi Nabi Musa a.s. Jika diamati dengan seksama, maka kita  akan mendapati bahwa rezim Fir’aun itu ditopang oleh dua kekuatan besar yang solid berada di belakangnya yaitu para tentaranya dan para pendetanya.

Yang pertama, tentara, agaknya tidak perlu dibahas lebih panjang karena peranannya sudah amat jelas dan terang. Sedang yang kedua, peranannya sangat penting namun terkesan diabaikan dan tidak dianggap penting. Padahal, dasar pijakan ideologis Fir’aun dan ‘agamanya’ berasal dari golongan ini. Para pendeta Mesir Kuno merupakan golongan yang disebutkan di dalam Al Quran sebagai ahli-ahli sihir. Mereka merepresentasikan sekte yang mendukung rezim dan memiliki kekuatan khusus serta menguasai pengetahuan rahasia. Dengan otoritas ini mereka mempengaruhi rakyat Mesir, dan mengukuhkan posisi mereka di dalam pemerintahan Fir’aun.

Golongan ini oleh sejarah disebut sebagai “Para Pendeta Amon” dan memusatkan perhatiannya untuk mempraktikkan ilmu sihir dan memimpin sekte pagan mereka. Cabang ilmu yang dipelajari para Pendeta Amon ini meliputi beragam ilmu pengetahuan seperti astronomi, matematika, dan geometri, namun kesemuanya itu ditujukan untuk menggali ilmu-ilmu sihir mereka. Mereka sangat tertutup, mengadakan ritual-ritual sihir dengan sesama mereka, membanggakan diri dan kelompoknya bahwa merekalah yang terhebat dan memiliki pengetahuan khusus tentang sihir, dan menyebut kelompoknya sebagai ordo.

Seiring perjalanan waktu dan perkembangan pemikiran manusia, ilmu pengetahuan pun mengalami kemajuan. Bersamaan itu, jumlah rahasia pun meningkat di dalam pengetahuan pada sistem esoterik. Dalam perkembangannya, ritual-ritual yang bermula dari Mesir ini kemudian menyebar ke wilayah lain dan kemudian diketahui muncul di Cina dan Tibet, kemudian India, Mesopotamia, dan daerah lainnya. Mesir tetap menjadi basis kegiatan ritual esoterik hingga pada abad-abad modern.

Lantas bagaimana sesungguhnya hubungan antara filsafat esoterik para pendeta Mesir Kuno dan Biarawan Sion dan segala derivatnya? Untuk menemukan jawabannya, demikian Harun Yahya, kita harus mencermati berbagai kepercayaan para pendeta Mesir Kuno yang berhubungan dengan asal usul alam semesta dan kehidupan. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber


Ilmu sihir yang ada sekarang ini diyakini berasal dari tradisi dan kepercayaan Babilonia kuno dan Mesir Kuno. Biarawan Sion diyakini telah mewarisi atau setidaknya mempelajari dengan kesungguhan yang luar biasa ilmu yang jelas-jelas berada di luar ajaran Tuhan ini. Semuanya bisa ditelusuri dalam kisaj antara Nabi Musa dan Bani Israil.

Nabi Musa dan Bani Israil

Dalam Taurat kitab “Keluaran” (Exodus) ada kisah tentang Nabi Musa a.s. dan Bani Israil. Namun sayangnya, keotentikan kitab Taurat ternyata sudah tercemar dengan berbagai penambahan yang dilakukan pihak-pihak tertentu. Dalam Kitab Ulangan ditemukan kisah kematian dan penguburan Nabi Musa a.s. Padahal kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa a.s. Tidak bisa tidak, inilah bukti bahwa Taurat sudah tidak lagi asli.

Hal yang sama terjadi pula pada kitab-kitab suci lainnya, terkecuali Al-Qur’an. Di dalam Al-Qur’an-lah kita bisa menemukan kisah yang paling akurat tentang eksodusnya Nabi Musa a.s. dan Bani Israil dari Mesir. Pada pengisahan tentang keluarnya Bani Israil dari Mesir, sebagaimana juga pada semua kisah lain yang berhubungan dengannya, tidak ada sedikit pun pertentangan. Kisah tersebut diceritakan kembali dengan jelas.

Lewat Al-Qur’an kita menjadi tahu betapa sikap kelakuan Bani Israil tidak bisa berubah walau mereka telah diselamatkan Allah SWT dengan diseberangkannya mereka melewati Laut Merah yang terbelah. Bani Israil tidak mampu memahami ajaran tauhid yang disampaikan Musa kepada mereka, dan terus cenderung kepada penyembahan berhala. Al-Qur’an memaparkan sikap mereka yang aneh ini pada ayat berikut:

“Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai pada suatu kaum yang tetap meyembah berhala mereka, Bani Israil berkata: ‘Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)’. Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)”.

Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al A’raaf: 138-139)

Walau telah diperingatkan oleh Nabi Musa a.s., Bani Israil tetap dalam pendirian dan penentangannya. Dan ketika Musa meninggalkan mereka, mendaki Bukit Thursina seorang diri untuk menerima “Firman yang Sepuluh” (The Ten Commandment), penentangan itu tampak sepenuhnya. Dengan memanfaatkan ketiadaan Musa, tampillah seorang bernama Samiri. Dia meniup-niupkan kecenderungan Bani Israil terhadap keberhalaan, dan membujuk mereka untuk membuat patung seekor anak sapi dan menyembahnya. Samiri[1] merupakan salah satu tokoh tinggi Kabbalah.

“Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Berkata Musa: “Hai kaumku, bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Tuhanmu menimpamu, lalu kamu melanggar perjanjianmu dengan aku?”.

Mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami disuruh membawa beban-beban dari perhiasan kaum itu, maka kami telah melemparkannya, dan demikian pula Samiri melemparkannya”, kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lobang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata: “Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa.” (QS. Thahaa, 20: 86-88)



Mengapa ada kecenderungan yang gigih di kalangan Bani Israil untuk membangun berhala dan menyembahnya? Dari mana kecenderungan ini bersumber? Harun Yahya, yang meneliti dan memaparkan kisah ini sampai pada satu hipotesis: “Sudah tentu, suatu masyarakat yang sebelumnya tidak pernah menyembah berhala, tidak akan secara tiba-tiba berkelakuan bodoh seperti membangun patung dan menyembahnya. Hanya mereka yang memiliki kecenderungan alami terhadap berhala yang akan mempercayai omong kosong semacam itu.”

Namun walau demikian, dahulu kala sebelumnya Bani Israil adalah kaum yang bertauhid. Nama ‘Bani Israil’ pertama kali diberikan kepada putra-putra Ya’kub, cucu Ibrahim, dan setelahnya semua bangsa Yahudi merupakan keturunannya. Bani Israil telah menjaga iman tauhid yang mereka warisi dari leluhur mereka Ibrahim, Ishak, dan Ya’kub a.s. Bersama Yusuf a.s., mereka pergi ke Mesir dan memelihara ketauhidan itu dalam waktu yang panjang. Walau mereka hidup di tengah masyarakat Mesir yang masih menganut paganisme, banyak dewa. Jadi, ketika Musa datang kepada mereka, Bani Israil masih merupakan satu kaum yang bertauhid.

Satu-satunya penjelasan untuk ini adalah bahwa Bani Israil secara perlahan terpengaruh oleh kaum pagan yang hidup bersama mereka, dan mulai meniru mereka. Satu bukti penting yang mendukung kesimpulan ini adalah bahwa anak sapi emas yang disembah Bani Israil saat Musa berada di Gunung Sinai. Anak sapi emas ini merupakan tiruan dari berhala Mesir Kuno bernama Hathor dan Aphis. Penulis Kristen Richard Rives dalam bukunya Too Long in the Sun menulis:

Hathor dan Aphis, dewa-dewa sapi betina dan jantan bangsa Mesir, merupakan perlambang dari penyembahan matahari. Penyembahan mereka hanyalah satu tahapan di dalam sejarah pemujaan matahari oleh bangsa Mesir. Anak sapi emas di Gunung Sinai adalah bukti yang lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa pesta yang dilakukan berhubungan dengan penyembahan matahari….

Pengaruh agama pagan bangsa Mesir terhadap Bani Israil terjadi dalam banyak tahapan yang berbeda. Begitu mereka bertemu dengan kaum pagan, kecenderungan ke arah kepercayaan bidah ini muncul dan sebagaimana disebutkan dalam ayat, mereka berkata: “Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka memunyai beberapa tuhan (berhala).” (QS. Al A’raaf, 7: 138) Apa yang mereka ucapkan kepada Nabi mereka, “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang.” (QS. Al Baqarah, 2: 55) menunjukkan bahwa mereka memiliki kecenderungan untuk menyembah benda nyata yang dapat mereka lihat, sebagaimana yang terdapat pada agama pagan bangsa Mesir.

Kecenderungan Bani Israil terhadap paganisme Mesir Kuno penting untuk dipahami dan hal itu kelak memberi kita wawasan tentang perubahan dari teks Taurat dan asal usul dari Kabbalah. Jika kita pikirkan kedua topik ini dengan hati-hati, kita akan mencermati bahwa, pada sumbernya, ditemukan paganisme Mesir Kuno dan filsafat materialis sebagai asal-muasal Kabbalah.

Dari Al-Qur’an dan keterangan pendukung lainnya diketahui bahwa semasa Nabi Musa a.s. masih hidup, Bani Israil telah mulai membuat tiruan dari berhala-berhala yang mereka lihat di Mesir dan menyembahnya. Setelah Musa wafat, makin besarlah pengikut keyakinan sesat ini. Tentu saja, ini tidak terjadi pada semua orang Yahudi. Masih ada orang-orang Yahudi yang tetap dalam ketauhidan mereka. Namun jumlah yang berjalan dengan lurus ini sangatlah sedikit dibanding yang menyeleweng.

Namun bagaimana pun juga, hati kecil orang-orang ini sebenarnya mengetahui bahwa hal tersebut tidaklah benar. Sebab itu, mereka kemudian mulai menyusupkan ajaran paganisme ini sedikit demi sedikit ke dalam Taurat mereka, sehingga di kemudian hari terciptalah Taurat—yang sesungguhnya kitab yang mendukung ketauhidan—menjadi sebuah kitab yang membenarkan Kabbalah, suatu keyakinan esoterik bangsa Mesir purba. Taurat yang telah banyak dicampuri dengan tangan manusia itu kemudian menjadi tidak beda dengan Kitab Talmud, sebuah kitab kuno yang merangkum tradisi dan ritual bangsa Yahudi awal.

Dengan mengadopsi doktrin-doktrin dari Kabbalah yang berlandaskan ilmu sihir ini, Bani Israil telah mengubah Taurat dan  memasukkan Kabbalah sebagai doktrin mistis di dalam agama Yahudi, walau ini sesungguhnya bertentangan dengan Taurat yang asli. Penulis Inggris Nesta H. Webster dalam Secret Societies and Subversive Movements, menulis:

Ilmu sihir telah dipraktikkan oleh bangsa Kanaan sebelum pendudukan Tanah Filistin oleh Bani Israil; Mesir, India, dan Yunani juga memiliki tukang tenung dan peramal. Walau di dalam Hukum-Hukum Musa terkandung pelarangan atas ilmu sihir, bangsa Yahudi, dengan mengesampingkan peringatan ini, tertular dan mencampurkan tradisi suci yang mereka warisi dengan pemikiran-pemikiran yang sebagian dipinjam dari bangsa lain dan sebagian karangan mereka sendiri. Secara bersamaan, sisi spekulatif dari Kabbalah Yahudi meminjam dari filsafat Persia Magi, Neo-Platonis, dan Neo-Phytagorean. Maka, terdapat justifikasi bagi pendapat kelompok anti-Kabbalah bahwa apa yang kita kenal sebagai Kabbalah saat ini tidaklah murni asli dari Yahudi.

Tentang hal ini Al-Qur’an telah menyinggungnya dan menyatakan bahwa Bani Israil mempelajari ritual persihiran setan dari sumber-sumber di luar agama mereka sendiri.

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”.

Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 102)  [Bersambung/rizki ridyasmara] Sumber

[1] Ada yang mempercayai bahwa istilah “Uncle Sam’ berasal pula dari nama Samiri ini atau yang dalam bahasa Ibrani disebut Shamir. Istilah Semit pun diduga berasal dari Nama Samiri. Walau demikian, ada pula yang berpandangan bahwa ‘Uncel Sam’ sesungguhnya merujuk pada Sain-Germain, yang juga tidak jelas latar belakangnya. Hanya saja bangsa Amerika percaya, Saint Germain merupakan reinkarnasi dari orang-orang besar yang pernah hidup di dunia dan disetarakan dengan ‘Dewa Kebebasan’.


Sejak segolongan dari Bani Israil membuat patung-patung untuk disembah mengikuti kaum pagan Mesir kuno, menyisipkan ayat-ayat bikinan sendiri yang mendukung Kabbalah ke dalam Taurat, sejak itulah banyak di antara golongan bangsa Yahudi yang kemudian jatuh terperosok ke dalam kepercayaan yang salah dan sesat. Walau demikian, tetap ada hingga kini orang-orang Yahudi yang tetap berjalan lurus mengikuti ajaran Taurat Musa a.s. Bisa jadi, sekarang ini mereka diwakili oleh kelompok orang Yahudi yang anti kepada Zionisme-Israel. Hal tersebut sesuatu yang lumrah dan biasa.

Kaum Yahudi penganut Kabbalah, yang karena beberapa ajaran mistismenya menjadi kelompok-kelompok rahasia dan tertutup terhadap ‘orang luar’, meneruskan tradisi ini turun-temurun secara lisan. Beberapa tradisi ajaran pagan ini diyakini ditulis dalam perkamen-perkamen dan naskah-naskah kuno, namun yang tertulis ini dibuat dengan sandi-sandi dan kode tertentu, dan juga disimpan di suatu tempat yang dianggap aman. Tradisi lisan inilah yang kemudian disebut sebagai Kabbalah. Jadi, ketika Bani Israil berjumpa dengan ajaran pagan ini, namanya belumlah Kabbalah, namun yang lain dan tidak diketahui secara pasti mana nama yang dahulu dipakai.

ASAL MUASAL BIARAWAN SION 



Jika Harun Yahya dan penulis lainnya menganggap Bani Israil terkontaminasi dengan ajaran paganisme yang dilakukan oleh para pendeta penyihir yang berada di sekeliling Fir’aun, sehingga mencampakkan ketauhidan dengan memegang erat ajaran Kabbalah yang berasal dari kata Ibrani ‘Qibil’ yang bermakna: menerima. Maka seorang Z.A. Maulani dengan berdasarkan penelitian literaturnya merujuk akar Kabbalah dan asal-muasal Biarawan Sion lebih jauh lagi, ke masa-masa di mana Nabi Ibrahim a.s., Bapak Para Nabi, masih hidup.

Menurut Maulani, sejak Bani Israil terlahir dari anak keturunan Ishaq, telah ada sebagian yang cenderung pada kesesatan. Apakah kesesatan itu sesuatu yang sudah inheren berada dalam diri mereka atau karena faktor eksternal, hal ini tidak diketahui secara pasti.

Yang jelas, bagian dari Bani Israil awal yang telah condong pada kesesatan ini membentuk satu kelompok tersendiri, bersifat tertutup dan penuh dengan kerahasiaan, dan memelihara ajaran Kabbalah. Shamir atau Samiri yang diabadikan namanya dalam Al-Qur’an merupakan salah satu pendeta tinggi Kabbalah.

Beberapa waktu setelah berakhirnya pendudukan Romawi atas Palestina, para pendeta tinggi Kabbalah merekam secara tertulis ajaran Kabbalah ini ke atas papyrus berupa gulungan (Scroll) sebagai usaha agar ajaran itu dapat diwarisi kepada generasi Yahudi berikutnya. Tugas menyalin ajaran Kabbalah itu dibebankan kepada dua orang petingginya yakni Rabi Akiva ben Josef yang menjadi The Grand Master Pendeta Sanhedrin, dan wakilnya, Rabi Simon ben Joachai. Saat itu Kabbalah tersusun dalam dua kitab: Sefer Yetzerah (Kitab Genesis yang menguraikan proses penciptaan alam semesta menurut Kabbalah), dan Sefer Zohar (Kitab Keagungan).[1]

Kitab Zohar penuh dengan ayat-ayat yang hanya bisa dipahami dengan memecahkan kode-kode dan sandi-sandinya. Amsal dan ayat-ayat dalam Kitab Zorah hanya bisa dipahami dengan bantuan Kitab Yetzerah yang berfungsi sebagai kitab tarjamah. Beberapa abad sesudah Masehi, di Eropa muncul lagi sebuah kitab Kabbalah yang diberi nama Sefer Bahir atau Kitab Cahaya. Walau pada awalnya hanya ditulis dalam bahasa Ibrani, atas pertimbangan pragmatisme kemudian juga disalin dalam bahasa latin. Ketiga kitab itu samapi saat ini menjadi pegangan suci para penganut okultisme (Gereja Setan dan Kabbalah).



Di Palestina, kelompok persaudaraan Kabbalah dipimpin oleh Herodus II (Herodes), Gubernur Romawi untuk Yerusalem, yang dibantu dua orang: Ahiram Abiyud dan Moav Levi. Herodus II memimpin kaum Kabbalis melawan penyebaran ajaran Yesus dan berupaya membangun kembali Haikal Sulaiman di Yerusalem sebagai basis gerakan mereka.

Majelis Tertinggi Kabbalah yang terdiri dari sembilan pendeta tertinggi menggelar sidang pada tanggal 10 Agustus 43 Masehi. Sidang itu dipimpin langsung oleh Herodus II dan menyepakati akan mengakhiri kegiatan Yesus serta para muridnya. Sebelumnya, Herodus II inilah yang telah memerintahkan penyembelihan terhadap Nabi Zakaria a.s. dengan memakai gergaji pemotong kayu.

Ia juga yang bertanggungjawab dalam kasus pembunuhan Nabi Yahya a.s. dan memerintahkan agar mempersembahkan kepala Nabi Yahya yang telah dipenggal di atas sebuah nampan ke hadapannya.
Dengan kekuasaannya, Herodus memerintahkan Majelis Tinggi Pendeta Sanhedrin, badan tertinggi pada hirarki kependetaan Yahudi, agar mengeluarkan dekrit hukuman mati berdasarkan hukum Romawi di atas kayu salib terhadap Yesus dengan tuduhan telah menghujat Tuhan. Dengan waktu singkat berdiri pula empatpuluhan gereja Kabbalis di Palestina dan kemudian menyebar ke seluruh kekaisaran Romawi dan membangun akarnya di Eropa.

Apakah dengan ini berarti Tahta Suci Vatikan merupakan hasil kerja dari Herodus II? Jika benar, mengapa Kaum Kabbalis yang mengejawantah dalam organisasi Templar dan Freemason kemudian hendak menghancurkan Tahta Suci Vatikan dan membangun Tahta Suci di Yerusalem bagi The Second Coming Yesus Kristus, seolah kaum Kabbalis ini adalah kaum pembela Yesus?

Bukankah kaum ini merupakan satu kaum pembunuh para nabi? Atau mungkin ini terkait dengan kelaziman mereka dalam menjaga situasi konflik agar mereka bisa terus bekerja dengan rapi? Dan jika mereka membunuh Yesus, mengapa Yesus malah diselamatkan kaum Esenes dengan para Zealotnya yang juga merupakan kaum Yahudi? Apakah dengan ini menjadi satu pembuktian bahwa sesungguhnya Bani Israil atau kaum Yahudi itu tidaklah satu, bukan satu kaum yang bersatu, melainkan terpecah-belah ke dalam berbagai kepentingan?

Sekte Esenes dengan Zealotnya serta kaum Gnostik lainnya yang meyakini Yesus hanyalah seorang Nabi, bukan Tuhan, yang hidup penuh dengan kesederhanaan dan lurus di satu sisi, berhadapan dengan para Yahudi Talmudian yang cenderung menyembah setan dan hidup berkomplot dalam kejahatan demi menguasai dunia bagi diri mereka sendiri. Di masa modern, pemilahan ini bisa jadi tergambar dalam friksi tajam di antara kaum Yahudi sendiri antara yang pro-Zionis-Israel, berhadapan dengan kaum Yahudi yang anti Zionis-Israel. Di Amerika Serikat, berdiri organisasi Yahudi bernama Neturei-Karta yang merupakan kelompok Yahudi yang anti terhadap Zionisme dan Israel.

Kelompok persaudaraan Kabbalah diyakini telah berusia lebih dari 4.000 tahun. Jauh lebih tua dari agama Kristen itu sendiri. Tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan ordo ini lahir.  Namun sejumlah peneliti mencatat, pada era Dinasti Ur ke III (antara 2112-2004 SM), saat masa-masa pembuangan suku-suku Bani Israil ke Babylonia, di saat itulah Ordo Kabbalah terbentuk. Sejak awal berdiri hingga kini ada tiga jenis Ordo Kabbalah yakni Ordo Hijau, Ordo Kuning, dan Ordo Putih.

Maulani menyatakan, dari ketiga ordo tersebut, yang paling menarik karena kemisteriusannya adalah Ordo Putih. Ordo ini jarang teridentifikasi oleh para peneliti. Jika ordo yang lain lebih menekankan pada aspek-aspek ritual, ajaran penyembahan Lucifer, maka Ordo Putih ini lebih menekankan misi politik dan kekuasaan. Merekalah yang merumuskan bahwa tujuan akhir Kabbalis adalah untuk membentuk “Satu Pemerintahan Dunia” (Unity of the World atau meminjam seloka mereka “E Pluribus Unum”) dan “Tata Dunia Baru” (Novus Ordo Seclorum atau The New World Order). Merekalah peletak dasar-dasar peradaban Barat sekarang.

Tidak semua orang yang berdarah Yahudi bisa masuk dalam Ordo Putih. Hanya orang Yahudi murni yang terpilihlah yang bisa mencapainya. Itu pun harus melewati sejumlah seleksi yang ketat. Salah satunya, hanya orang Yahudi murni yang telah mencapai gelar magister pada semua disiplin ilmu yang terkait Kabbalah yang bisa memasuki ordo ini. Disiplin ilmu ini berada di luar berbagai disiplin ilmu yang kita kenal di perguruan-perguruan tinggi terkemuka dunia. Ini berarti, seorang Yahudi yang murni, yang berasal dari garis keturunan yang sungguh-sungguh lurus, setelah 40 tahun menjalani ‘seleksi’ baru bisa diterima menjadi anggota ordo tersebut. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber

[1] Z.A. Maulani; Zionisme, Gerakan Menaklukan Dunia; Daseta; cet.1; April 2002; Jakarta; hal. 38.


Sepeninggal Nabi Musa a.s., Bani Israil yang mayoritas sudah menyeleweng dari ajaran tauhid ini kemudian menjadi semakin menjadi-jadi dalam penyelewengannya. Mereka kian serius dalam mendalami sihir dan ajaran-ajaran esoteris. Hal ini membawa mereka kepada keangkuhan intelektual di mana mereka sangat yakin bahwa mereka sungguh-sungguh merupakan bangsa pilihan Tuhan yang diciptakan untuk menguasai dunia dan manusia lainnya. Mereka adalah bangsa yang paling mulia, sedangkan orang lain di luar mereka adalah ghoyim, manusia kelas dua.

Dalam lingkaran elit suku bangsa ini yang sebenarnya telah dikutuk Allah SWT karena kesesatan dan kekeras-kepalaan dalam penentangannya terhadap ketauhidan, tumbuh satu lapisan tersendiri yang secara intens melakukan pengkajian-pengkajian ilmu-ilmu sihir, esoteris, yang dikaji dengan memakai ilmu geometri, astronomi, dan sebagainya. Merekalah para pendeta (rabi) yang kemudian menulis-ulang Taurat, menulis Talmud sebagai kitab Yahudi yang sarat dengan kesesatan, dan yang kemudian merusak isi dari Alkitab yang asli dengan penyisipan ayat dan penambahan di sana-sini serta penghapusan sejumlah ayat yang dianggap tidak sesuai dengan keyakinan mereka.

Perjalanan mereka nyaris tanpa meninggalkan jejak. Namun walau demikian, hasil karya mereka sangat mudah dirasakan. Banyak peneliti yakin, mereka berada di belakang timbulnya Perang Salib, Revolusi Inggris dan Perancis, Revolusi Bolsyewik di Rusia, Jatuhnya Kekhalifahan Turki Utsmaniyah, Perang Dunia I dan II, tersanderanya Bangsa Amerika oleh The Federal Reserve, dijajahnya Bangsa Amerika oleh Neo-Con yang membawa bangsa itu ke dalam situasi yang sama sekali tidak menyenangkan: WTC 9.11, Perang Afghanistan, Perang Irak, dan entah apa lagi, di mana ratusan ribu pemuda Amerika dikirim ke berbagai front pertempuran guna mensukseskan the hidden agenda mereka. Dan banyak yang mati sia-sia.

Melihat ritual dan kepercayaan mereka yang sarat dengan ritual pemanggilan setan, lalu setelah setan itu masuk ke jasad seseorang, maka lewat medium itu setan akan memerintahkan ini dan itu, maka sebenarnya mereka adalah orang-orang yang menjadi pelayan setan atau iblis. Agenda mereka adalah agenda iblis, yang senantiasa menghalangi manusia dari kebenaran, al-haq. Dan pelayan-pelayan setan ini telah masuk ke dalam berbagai organisasi, kumpulan misterius, dan bahkan rumah-rumah suci. Mereka juga berperang dengan sesamanya sehingga menimbulkan kebingungan orang banyak. Inilah misteri yang terjadi sepanjang abad.

Asal-muasal kelompok Biarawan Sion, atau Ordo Putih dalam Majelis Tinggi Kabbalah, bisa jadi merunut jauh ke masa manusia pertama di bumi ini yaitu Adam. Dalam mitologi Barat, Adam dan Eva (Islam menyebutnya: Siti Hawa) awalnya tinggal di surga (Taman Eden bagi Barat dan al-Jannah bagi umat Islam). Ketika Allah SWT memerintahkan semua mahluk untuk bersujud kepada Adam a.s., seluruh mahluk ciptaan Allah SWT ini tunduk dan segera bersujud, kecuali satu: Iblis[1]. Kepada Allah, Iblis mengutarakan pendapatnya, “Engkau menciptakan Adam dari tanah, sedangkan kami diciptakan dari Api, mengapa kami harus tunduk padanya?”

Pembangkangan Iblis ini kemudian menjadikan allah SWT murka dan memerintahkan agar Iblis segera meninggalkan surga. Sebelum pergi, Iblis berkata kepada Allah SWT agar membiarkan kaumnya untuk selalu mengganggu dan menghalangi manusia dari jalan kebenaran. Dan permintaan Iblis ini pun mendapat persetujuan.

Upaya pertama Iblis mengganggu manusia yakni dengan mengeluarkan Adam dan Eva dari surga. Caranya, ini menurut mitologi Barat, Iblis mengubah bentuknya menjadi ular dan mendekati Eva seraya membujuknya agar menyuruh Adam memakan buah Apel yang dikatakannya sebagai buah keabadian. Eva pun termakan bujuk rayu Iblis yang berbentuk ular. Eva segera menemui Adam dan membujuk Adam hingga suaminya itu memakan buah Apel tersebut. Akibatnya, Adam dan Eva diusir Tuhan keluar dari Taman Eden untuk menghabiskan sisa hidupnya di bumi. Diam-diam, Iblis pun mengikuti Adam dan Eva ‘turun’ ke bumi. Dan terus mengganggu semua keturunan Adam dan Eva ini.

Dari pasangan Adam dan Eva, manusia beranak-pinak menyebar ke seluruh bumi. Menjelajah berbagai wilayah dan menyeberangi lautan untuk mencari penghidupan. Iblis terus melancarkan misinya. Pada suatu ketika, Iblis berhasil mendekati Raja pertama di bumi ini, Raja Namrudz (atau Nimrod) yang masih keturunan dari Noah (Nabi Nuh a.s.) dari Kusy, sang anak. Raja Namrudz menjadi Raja di Babylonia dan mengangkat dirinya sebagai Tuhan yang paling perkasa, setelah melihat dan memikirkan bahwa patung-patung kayu dan batu yang disembah rakyatnya selama ini sama sekali tidak memiliki kekuatan apa-apa.

Selain menjadi raja pertama di bumi, Namrudz juga tercatat sebagai manusia pertama yang melakukan incest, mengawini ibunya sendiri, Semiramis, yang kemudian diangkatnya menjadi Ratu Langit. Namrudz sendiri mengaku sebagai orang suci dari Eden. Dalam zaman Namrudz, penyembahan terhadap matahari merupakan salah satu ritual penting. Inilah yang kemudian diadopsi berabad kemudian menjadi penyembahan Dewa Matahari yang dilakukan setiap 25 Desember dan hari Dewa Matahari menjadi hari untuk melakukan kebaktian. Hari Matahari yaitu Sun-Day (Minggu).



Lewat usaha-usaha dari Iblis inilah kemudian tumbuh satu kelompok manusia yang mempertuhankan Dewa-Dewi, bukan Allah SWT. Mereka mempertuhankan Lucifer dan menyebut diri sebagai The Brotherhood of the Snake (Ordo atau Persaudaraan Ular). Kelompok inilah yang kemudian menyebarkan pahamnya, mempertuhankan Lucifer, Dewa Matahari, dan Dewa-Dewi lainnya, ke seluruh dunia, sehingga sejarah manusia mengenal berbagai suku bangsa purba maupun modern yang memiliki ritual penyembahan terhjadap Lucifer dan Dewa Matahari (atau penyembahan terhadap Cahaya atau pun Api).

Di Mesir kita menjumpai rezim Fir’aun yang mirip sekali dengan Raja Namrudz dan memiliki banyak ritual penyembahan terhadap Dewa-Dewi dan juga Matahari. Fir’aun sendiri menyebut dirinya sebagai Raja Cahaya. Di Amerika Latin, Suku Inca dan Suku Maya, terdapat Kuil Matahari. Di Persia (Iran) terdapat ajaran Zoroaster[2] yang menyembah api.

Di Jepang ada ‘agama Shinto’ yang menyembah Dewa Matahari (Amaterasu). Di Yunani (Greek) terdapat Helios (Dewa Matahari) dengan Heliopolis sebagai ‘Kota Cahaya’. Di Timur Tengah ada Baal yang juga sebagai ‘Dewa Matahari’. Dewa Mithra sebagai Dewa Mataharinya bangsa Romawi. Dewa Surya di India. Dan hampir di setiap sudut bumi ini ada kepercayaan-kepercayaan serupa yang menuhankan Matahari atau yang sejenis yakni api atau cahaya. Inilah kerja Iblis.

Namun kesyirikan yang terjadi di Dunia Arab memang sungguh-sungguh besar dan kuat. Sebab, di sinilah awal pertama kali manusia berperadaban dan membangun peradabannya. Sebab itu, para nabi diutus untuk meluruskan keimanan manusia di wilayah ini. Nabi Ibrahim a.s. diutus untuk meluruskan umatnya yang ditipu mentah-mentah oleh Raja Namrudz. Nabi Musa a.s. berupaya meluruskan Bani Israil dan membela mereka dari Fir’aun, namun Bani Israil lebih condong kepada kesesatan dan kufur nikmat sehingga menjadi kaum yang dikutuk Allah SWT dan diharamkan Allah menginjakkan kakinya lagi di Palestina, dan sebagainya. Dan The Brotherhood of the Snake pun memiliki basis yang sangat kuat di Timur Tengah ini, antara lain di Mesir (Egypt).

Kelompok Persaudaraan Ular inilah yang diyakini berada di sekeliling Fir’aun dalam bentuk pendeta-pendeta tinggi yang menjadi Master dalam doktrin Kabbalah. Kelompok ini pula yang mengepalai Majelis Tertinggi Kabbalah yang membawahi tiga ordo: Ordo Putih, Ordo Hijau, dan Ordo Kuning. Dari Ordo Putih Kabbalah inilah, yang menekankan perjuangan politik dan kekuasaan, Ordo Sion berasal. Godfrei de Bouillon sendiri oleh sebagian peneliti diyakini merupakan seorang Kabbalis. Jika ini memang benar adanya, berarti seluruh konspirasi mereka sejak masih bernama Templar hingga kini yang bernama IMF, World Bank, Neo-Con, Judeo-Christian, dan Zionisme, seluruhnya merupakan usaha-usaha dari Iblis untuk menciptakan kerajaannya di dunia. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)
[1] Iblis memiliki arti sebagai pembangkang atau yang mengingkari.
[2] Zoroaster dipimpin oleh para pendetanya yang disebut ‘Magi’. Ritual atau upacara keagamaannya disebut ‘Magus’,  dan dari istilah inilah asal kata ‘Magis’. Al-Hadits menyebut kaum Zoroaster ini dengan sebutan Majusi atau kaum penyembah api. Kaum Majusi masih ada hingga kini di Iran.






Di depan telah disinggung tentang Dossiers Secrets yang didapat Henry Lincoln dan kawan-kawan, menurutnya, secara resmi Ordo Sion didirikan oleh Godfroi de Bouillon pada tahun 1090, sembilan tahun sebelum dirinya memimpin penaklukan Yerusalem dari tangan kaum Muslimin yang berakhir dengan tragedi berdarah di kota suci tersebut.


Dokumen lainnya, Dokumen Biara, menyatakan Ordo Sion didirikan tahun 1099, bertepatan dengan jatuhnya Yerusalem ke tangan pasukan salib pimpinan Godfroi de Bouillon. Kedudukan resmi ordo (markas induk) ada di sebuah gereja khusus bernama Abbey of Notre Dame du Mont de Sion (Gereja Biara Notre Dame  di Gunung Sion) di Yerusalem, atau juga di luar Yerusalem, sebuah bukit tinggi yang terkenal di selatan kota.

Biara Sion, Pendiri Ordo Knights Templar

Di selatan kota Yerusalem berdiri ‘bukit tinggi’ bernama Gunung Sion. Pada tahun 1099, saat pasukan salib membantai seluruh penduduk Yerusalem—baik kaum Muslimin dan Yahudi—mereka menemukan sebuah reruntuhan di bukit tersebut yang diindikasikan reruntuhan sebuah basilika atau gereja Byzantium kuno yang diperkirakan sudah berdiri pada abad ke empat dan sebab itu disebut sebagai Induk Seluruh Gereja (The Mother of All Church).

Di atas reruntuhan itu Godfroi de Bouillon memerintahkan dibangun kembali sebuah gereja yang ternyata dipergunakan oleh golongannya sendiri. Gereja itu juga lebih mirip dengan menara dan benteng, yang kemudian diberi nama Abbey of Notre Dame du Mont de Sion (Gereja Biara Notre Dame di Gunung Sion). Dari sinilah berasal penamaan Ordo Sion bagi anggota ordo yang menempatinya.

Para peneliti meyakini ordo ini sangat berkuasa hingga berperan besar dalam pengangkatan seorang raja di Yerusalem. Dari Gerard de Sede kita mengetahui bahwa ordo inilah—walau belum bernama Ordo Sion, atau mungkin saja masih bernama “Ordo Kabbalah”—yang telah mendorong Paus Urban II untuk mengakhiri masa damai antara Dunia Kristen dengan Dunia Islam dan kemudian mencetuskan Perang Salib.

Ketika ordo ini berhasil mengangkat Baldwin I, adik kandung dari Godfroi de Bouillon, sebagai Raja Yerusalem pertama setelah berhasil menaklukkan kota suci tersebut dari tangan umat Islam, dua puluh tahun kemudian tiba-tiba Sang Raja Yerusalem kedatangan sembilan orang ksatria Salib yang tanpa ditanya mengatakan bahwa kedatangan mereka ke Yerusalem adalah untuk mengamankan jalur peziarah orang-orang Kristen yang hendak menuju Yerusalem dari Jaffa, kota pelabuhan di sebelah Barat daya Yerusalem.

The Holy Blood and the Holy Grail mencatat bahwa catatan sejarah pertama tentang kelompok yang sarat diselimuti kabut misteri ini ditulis oleh seorang sejarawan bangsa Jerman bernama Guillaume de Tyre yang menulis antara tahun 1175 dan 1185. Menurut de Tyre, Order of the Poor Knights of Christ and of the Temple of Solomon (Ordo Ksatria Miskin Pembela Kristus dan Kuil Sulaiman) atau dalam bahasa latin disebut sebagai paupers commilitones Christi Templique Solomonici didirikan pada tahun 1118. Hughes de Payen, bangsawan dari Champagne dan pengikut seorang Count dari Champagne beserta Godfrey de St. Omer disebut-sebut sebagai pendirinya.



Entah karena kekuatan apa, Raja Yerusalem begitu yakin dan tunduk ketika kesembilan ksatria berbicara, sehingga kesembilan ksatria itu diberi ‘markas’ yang berada di sayap istana sebelah kiri. Kamar-kamar para Ksatria Templar yang diberikan oleh King Baldwin ternyata didirikan di atas Kuil Sulaiman, yang pernah dihancurkan di zaman Nebukadnezar dari Babylonia dan kemudian dibangun kembali di masa Kekaisaran Herod. Di sini timbul pertanyaan, apakah memang King Baldwin yang memberikan wilayah itu kepada mereka tanpa sengaja atau sekadar kebetulan, atau para Ksatria Kuil itu yang meminta wilayah tersebut dengan berbagai dalih. Dari ‘markas’ mereka yang dibangun di atas Kuil Sulaiman itulah nama The Knights Templar muncul. Dari kamar-kamar itulah secara diam-diam para Templar melakukan penggalian ke bawahnya guna mencari harta karun yang diyakininya.

Sejarah memastikan, keberadaan Ordo Sion dan yang kemudian membentuk ordo militer (sayap militer) bernama Ksatria Templar merupakan upaya ordo ini untuk bisa terus menjaga sebuah rahasia yang selama berabad-abad terus dijaganya. Bukan hanya alasan ideologis, alasan duniawi pun membuat Ksatria Templar ini melakukan penggalian di bawah kamar-kamarnya untuk bisa menemukan harta karun kuil Sulaiman yang diyakini mereka selain berisi harta karun dalam arti sesungguhnya juga menyimpan satu misteri yang nilainya melebihi harta karun itu sendiri. The Holy Grail-kah itu?

Jika Ordo Sion dipercaya menempati markas di luar kota Yerusalem, maka Knights Templar bermarkas di jantung Yerusalem, tepat di sayap kiri istana King of Yerusalem. Dengan adanya pembagian seperti ini maka efektivitas tugas bisa disusun dengan lebih rapi.

Tahun 1099 Yerusalem dikuasai pasukan salib, tahun 1118 datang sembilan ksatria yang kemudian dikenal sebagai Ksatria Templar, dan selama itu hingga Yerusalem akhirnya bisa kembali dikuasai pasukan Muslim pimpinan Salahuddin Al-Ayyubi di tahun 1187, Ordo Sion dan Ordo Ksatria Templar atau Ksatria Kuil ini bergerak dalam dua strategi.

Di permukaan mereka bergerak layaknya ksatria salib lainnya yang keberadaannya di Yerusalem adalah untuk mempertahankan kota suci ini dan sekaligus menjaganya. Sedang di bawah permukaan, dengan diam-diam dan penuh kerhasiaan, mereka terus melakukan penelitian dan pencarian harta karun Sulaiman sampai melakukan penggalian tanah di bawah kamar-kamar tidur mereka. ‘Ayah’ dan ‘anak’ ini selalu saling menutupi dan melengkapi.

Hal tertsebut berjalan selama lebih kurang 69 tahun, hingga King Baldwin IV wafat dan seorang tokoh Ksatria Templar dari Perancis, Guy de Lusignan, suami dari Sybilla—adik King Baldwin IV, diangkat menjadi Raja Yerusalem yang baru.

Sebelum dan setelah menjadi raja, Guy de Lusignan bersahabat dengan amat kental dengan seorang tokoh Templar lain bernama Reynald de Cathillon. Reynald dikenal sebagai tokoh Templar yang bertemperamen sangat buruk dan haus darah. Dialah yang bertanggungjawab atas penyerangan sebuah suku Badui di mana seorang adik perempuan Salahuddin Al-Ayyubi ditangkap dan ditawan. Kejadian ini menimbulkan kemurkaan Salahuddin dan merobek-robek gencatan senjata yang telah dilakukan Salahuddin sebagai panglima pasukan Saracen (Islam) dengan King Baldwin IV.

King Baldwin IV akhirnya menghukum dan memenjarakan Reynald de Cathillon dan perang pun terhindarkan. Namun setelah King Baldwin IV yang memang sudah lama menderita lepra meninggal dunia dan digantikan oleh Guy de Lusignan, Reynald dibebaskan. Kepada Reynald, Guy berkata, “Give me a war!” Akhirnya pecahlah perang besar antara pasukan salib di bawah komando Ksatria Templar melawan pasukan Muslim pimpinan Salahuddin Al-Ayyubi. Peperangan ini berhasil dimenangkan oleh Salahuddin dan Yerusalem pun kembali berada di pangkuan umat Islam. Film Kingdom of Heaven yang disutradarai Ridley Scott (2004) dan dibintangi aktor Orlando Bloom dengan sangat apik menggambarkan episode bersejarah dalam Perang Salib ini.

Dengan jatuhnya Yerusalem, banyak ksatria salib dan keluarganya yang meninggalkan Yerusalem, kembali ke kampung halamannya masing-masing. Demikian pula dengan Ordo Sion dan para Ksatria Templar.

Ordo Sion sebagai ‘bapak’ menilai kekalahan perang ini lebih disebabkan sikap para ksatria Templar yang ceroboh, bahkan ada yang menuduh pimpinan Templar saat itu, Ridefort, berkhianat. Kemarahan ‘sang bapak’ ini tidak bisa lagi tertahankan. Begitu banyak rencana-rencana mereka menjadi berantakan. Akhirnya Ordo Sion mengambil sikap yang sangat berani. “Sang bapak’ akhirnya menceraikan ordo Ksatria Templar, ‘sang anak’. Pemisahan ini dilakukan dengan sebuah ritual dan dikenal dengan peristiwa ‘Penebangan Pohom Elm’ yang terjadi di tahun 1187. Sejak itu, Ordo Sion berganti nama menjadi Biarawan Sion dan memiliki Grand Masternya sendiri. Mereka secara resmi berpisah jalan. Namun siapa tahu dalam gerakan di bawah mereka sesungguhnya masih menyimpan agenda yang sama, dan bahkan tetap berjalan beriringan? Hal tersebut bukan hal yang mustahil. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template