Rabu, 14 Januari 2015

NWO Untold, Sejarah Rahasia dan Tersembunyi Freemasonry dan Illuminati (2)



Biarawan Sion awalnya—sebelum peristiwa Penebangan Pohon Elm di tahun 1187—bernama Ordo Sion yang dipercaya menempati sebuah Gereja di atas Gunung Bukit Sion di selatan kota Yerusalem. Seperti juga organisasi maupun ordo lainnya, maka ordo ini pun memiliki Sang Guru dari waktu ke waktu. Dalam periodesasi yang ketat maupun tidak.

Setelah Ordo Sion berubah menjadi Biarawan Sion, maka pejabat Grand Master organisasi ini menurut Dossiers Secrets adalah:

  1. Jean de Gisors                           1188 – 1220
  2. Marie de Saint-Clair                1220 – 1266
  3. Guillaume de Gisors                1266 – 1307
  4. Edouard de Bar                        1307 – 1336
  5. Jeanne de Bar                           1336 – 1351
  6. Jean de Saint-Clair                 1351 – 1366
  7. Blanche d’Evreux                    1366 – 1398
  8. Nicolas Flamel                         1398 – 1418
  9. René de Anjou                         1418 – 1480
  10. Ioland de Bar                           1480 – 1483
  11. Sandro Filipepi                       1483 – 1510
  12. Léonardo Da Vinci                 1510 – 1519
  13. Connétable de Bourbon        1519 – 1527
  14. Ferdinand de Gonzague       1527 – 1575
  15. Louis de Nevers                      1575 – 1595
  16. Robert Fludd                          1595 – 1637
  17. Johann Valentin Andrea      1637 – 1654
  18. Robert Boyle                           1654 – 1691
  19. Isaac Newton                          1691 – 1727
  20. Charles Radclyffe                   1727 – 1746
  21. Charles de Lorraine               1746 – 1780
  22. Maximilian de Lorraine       1780 – 1801
  23. Charles Nodier                       1801 – 1844
  24. Victor Hugo                            1844 – 1885
  25. Claude Debussy                     1885 – 1918
  26. Jean Cocteau                          1918 –   1963
  27. Francois Ducaud-Bourget   1963 – 1981
  28. Pierre Plantard                      1981 – 1984
Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln, trio penulis Holy Blood, Holy Grail berani memastikan bahwa apa yang terdapat dalam The Dossiers Secrets di atas adalah benar. “Kami telah menyimpulkan bahwa daftar Grand Master dalam Dossiers Secrets itu sangat akurat,” demikian ujar mereka. Namun selain itu, ada pula daftar para Grand Master Biarawan Sion versi Vaincare No.3, September 1989 (hal.22) yang dieditori oleh Thomas Plantard de Saint-Clair, orang yang diduga sama dengan Pierre Plantard. Inilah versi keduanya yang dinilai lebih lemah dibanding versi yang pertama:
  1. Jean- Tim Negri d’Albes                        1681
  2. Francois d’Hautpoul                               1703
  3. André Hercule de Rosset                       1726
  4. Prince Charles Alexander of Lorranie 1766
  5. Archduke Maximilian Franz of Austria 1780
  6. Charles Nodier                                         1801
  7. Victor Hugo                                              1844
  8. Claude Debussy                                       1885 – 1918
  9. Jean Cocteau                                            1918 – 1963
  10. Francois Balphangon                             1963
  11. John Drick                                                1969
  12. Pierre Plantard de Saint Clair               1981
  13. Philippe de Cherisey                               1984
  14. Patrice Pelat                                             1985
  15. Pierre Plantard de Saint-Clair              1989
  16. Thomas Plantard de Saint-Clair           1989


Grand Master atau Maha Guru Biarawan Sion biasanya disebut sebagai “Nautonnier” yang memiliki makna “Navigator” atau Nakhoda. Amat mungkin, penggunaan istilah ini merujuk pada fungsi Maha Guru Biarawan Sion yang memiliki kewenangan terhadap arah kebijakan ordo ini dalam menghadapi tantangan dan mengemban misi rahasia yang sudah berumur sangat tua.

Dalam memilih Grand Masternya, Biarawan Sion bisa dianggap lebih maju ketimbang Gereja Katolik karena mereka membolehkan perempuan menempati posisi tertinggi di dalam ordo ini. Empat Maha Gurunya adalah perempuan. Bahkan dewasa ini di salah satu cabang di Perancis, ordo ini dipimpin oleh Grand Master perempuan.[1] Jika Grand Master Biarawan Sion yang laki-laki sering memiliki nama John, Jean, atau Yohanes (semuanya sama dengan istilah ‘John’), maka yang perempuan biasanya sering memiliki nama Jeanne, Joanna, atau Joan. Leonardo Da Vinci sendiri yang oleh para peneliti disepakati merupakan salah satu Grand Master Biarawan Sion dalam kurun waktu hidupnya, memiliki nama gelar Jean IX.

Menurut struktur organisasinya, di bawah Grand Master Biarawan Sion atau Sang Nautonnier terdapat satu tingkatan yang diduduki tiga orang yang disebut “Pangeran Noachite de Notre Dame”. Di bawahnya lagi ada tingkatan yang tersusun atas sembilan orang yang disebut “Croisé de Saint Jean”, atau “Ksatria Saint Yohannes” (Dalam versi anggaran dasar terbaru diistilahkan dengan nama “Constable”). Di bawahnya masih ada enam tingkatan lagi dengan struktur yang berubah dan tidak bisa ditentukan kepastiannya. Tiga lapisan puncak diisi oleh  tigabelas anggota paling berpengaruh.

Mereka menjadi semacam dewan pengatur yang disebut sebagai Arch Kyria. Sebutan ini sebenarnya mengacu pada penghormatan atas feminitas, sepadan dengan istilah ‘Lady’ dalam bahasa Inggris. Di awal abad pertama masehi, di Yunani istilah ini merujuk pada Dewi Isis.

Grand Master pertamanya bernama Jean de Gisors. Namun yang menjadi pertanyaan adalah mengapa sebagai Grand Master pertama ia memiliki gelar ‘Jean II’? Siapakah yang menjadi ‘Jean I”nya? Menurut para peneliti, di antaranya tiga serangkai penulis The Holy Blood and the Holy Grail—Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln—juga Lynn Picknett dan Clive Prince yang menulis buku “The Templar Revelation”, gelar ‘Jean I’ merupakan gelar yang ditujukan bagi Yohannes Sang Pembaptis yang memiliki kedudukan sangat istimewa bagi ordo tersebut.

Bahkan dalam buku Rennes-Le-Château: capitale secrete de l’histoire de France karya Jean-Pierre Deloux dan Jacques Brétigny yang terbit tahun 1982, bersamaan tahun dengan The Holy Blood and the Holy Grail, dengan tegas menyatakan bahwa salah satu pemimpin Perang Salib pertama bernama Godfroi de Bouillon merupakan pemimpin suatu ‘pemerintahan rahasia’ yang memiliki misi khusus dalam mengobarkan Perang Salib.

Di Palestina, Godfroi sempat mengadakan pertemuan dengan sebuah kelompok misterius bernama Gereja Yohanes dan kemudian membangun sebuah rencana besar bagi ordo dan gereja tersebut yang didasarkan atas kekuasaan roh. Guna memuluskan pencapaian rencana besar itu maka dibentuklah sebuah ordo militer khusus bernama Knight Templar. Deloux dan kawannya itu mengutip pernyataan Pierre Plantard yang mengatakan,

“Pada awal abad ke-12 Masehi, tersatukanlah berbagai sarana, spiritual maupun temporal, yang memungkinkan terwujudnya impian Godfroi de Bouillon yang amat mulia; Ordo Templar akan menjadi penjaga Gereja Yohanes dan pengusung panji-panji dinasti yang agung, bala tentara yang penuh pada semangat Sion.”[2]

Jadi, tidak seperti perkiraan banyak orang, bahwa Biarawan Sion maupun Ksatria Templar—dan nantinya juga para penerusnya seperti Freemason, Rosicrusian, dan sebagainya—sama sekali bukan pengawal sejati Yesus, melainkan ‘mengaku’ sebagai pengawal Yohanes Sang Pembaptis. Pengakuan ini pun patut dicurigai, karena mereka sesungguhnya punya motif-motif satanismenya sendiri yang berakar pada masa purba, jauh sebelum Yohanes Sang Pembatis dilahirkan. Bisa jadi, pengakuan bahwa mereka pengawal Yohanes Sang Pembaptis hanya merupakan upaya cari selamat, atau bahkan upaya pengaburan, yang membuat kehadiran mereka disamakan dengan orang-orang Kristen pada umumnya. Padahal mereka sama sekali bukan Kristen.(Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber
[1] Michael Baigent cs; The Messianic Legacy; hal.345.
[2] Deloux dan Brétigny, Rennes-Le-Château: capitale secrete de l’histoire de France; hal. 45. Dalam “The Templar Revelation” hal. 83-84.

Seperti film Origins The Da Vinci Code[1] yang secara detil memuat proses kelahiran buku The Holy Blood and the Holy Grail, kita juga akan menengok terlebih dahulu sebuah desa di sebelah timur kaki gunung Pyrenees, di selatan Perancis, bernama Rennes-le-Château. Sebuah desa yang asri dan penuh aroma mistis, yang kemudian menjadi begitu terkenal setelah The Holy Blood and the Holy Grail terbit. Sampai sekarang, tak kurang dari 500 judul buku tentang Rennes-le-Château yang telah terbit. Angka ini terus bertambah.

MISTERI DI SELATAN PERANCIS

Tidaklah terlalu sulit jika Anda ingin ke Desa Rennes-le-Château. Dari Paris, tataplah matahari yang bersinar pada siang hari bolong, lalu berjalanlah lurus ke selatan, mengikuti garis bujur, melewati Burgundy, Saint Philibert de Tournus, Sungai Rheine, Vienne dan katedralnya di mana pada tahun 1312 di tempat itu berawal gerakan penumpasan terhadap Ksatria Templar, lewat Carcassonne, terus berjalan ke selatan hingga Limoux dan Lembah aude, melewati Kastil Kathari yang terkenal dalam peristiwa Perang Salib Albigensian, menyusuri jalan yang diapit pegunungan Pyrennes, dan tibalah di sebuah dataran tinggi, Rennes Le Château.

Perjalanan dari Paris ke desa ini bagaikan sebuah perjalanan sejarah, napak tilas, dari sejarah Eropa di abad pertengahan. Semua kisah dan misteri berawal dari desa ini, namun entah mengapa, Dan Brown sama sekali tidak menyinggung nama desa ini secuil pun dalam novel The Da Vinci Code.

Di Rennes-le-Château yang masuk dalam wilayah Languedoc, sudah sejak lama berdiri sebuah gereja kecil dan sederhana yang dipersembahkan kepada Maria Magdalena. Konon, gereja ini sudah ada sejak zaman Visigoth pada abad ke-6 Masehi. Beberapa mil di tenggara Rennes-le-Château, berdiri sebuah puncak gunung yang oleh masyarakat sekitar dikenal sebagai Bézu. Di puncak gunung tersebut, berserakan puing-puing benteng abad pertengahan.

Menurut sejarah, lokasi tersebut pernah dijadikan salah satu kuil Ksatria Templar yang menyelamatkan diri dari kejaran pasukannya Phillipe le Bel dan Paus Clement V. Dan konon, tiap tahun pada tanggal-tanggal menjelang 13 Oktober, hantu-hantu para Templar berkeliaran di sekitar perbentengan tersebut. Puncak Bézu memang menyeramkan dilihat dari kejauhan, bagai panic raksasa  terbalik di tengah bukit. Ini cerita warga sekitar yang menyebar dari mulut ke mulut. Kebenarannya tidak ada yang tahu.

Satu mil ke timur laut Rennes-le-Château, pada puncak lainnya, berdiri sisa-sisa puri Blanchefort, sebuah rumah leluhur Bertrand de Blanchefort, seorang Grand Master ke-4 Ksatria Templar. Sejak berabad-abad silam, daerah itu sudah menjadi rute perjalanan para peziarah yang terbentang dari Eropa Timur hingga Santiago de Compastela di Spanyol. Sebuah wilayah yang dipenuhi aroma mistis, legenda, mitos, dan juga bau darah.

Para peziarah Eropa Utara dan Timur sejak dulu selalu melalui wilayah ini sebelum mereka berlayar menuju Jaffa, kota pelabuhan di tanah Palestina, setelah melintasi Laut Tengah melewati perairan utara Tunisia, Pulau Sardinia dan Sisilia di selatan Itali, dan Malta, menuju Kota Suci Yerusalem.

Kisah tentang desa kecil namun aneh ini selalu berawal dari kedatangan Pastur Francois Bérenger Sauniére[2] (1852-1917), seorang Pastur muda berusia 33 tahun[3] yang berasal dari Desa Montazels, sekitar tiga kilometer dari Rennes le Château. Bérenger Sauniére menjejakkan kakinya pertama kali di desa ini pada hari Senin, 1 Juni 1889. Holy Blood, Holy Grail tidak menjelaskan secara detil latar belakang kehidupan Pastur Bérenger Sauniére. Namun sebuah film dokumenter yang diproduksi oleh Katana Production (Perancis, 2002) berjudul Rennes-Le-Château du trésor au vertige (Keajaiban Harta Karun Rennes le Chateau)[4] menyibak lebih dalam awal kehidupan Pastur muda tersebut.



Pada tahun 1850, di Desa Montazels yang berada di depan Desa Rennes le Château, di satu persimpangan tinggallah keluarga Sauniére. Sang ayah bekerja sebagai pengurus Marques de Castel majou, sebuah kastil besar di ujung desa. Sedang ibunya berasal dari keluarga terpandang. Oleh kedua orangtuanya, dua bersaudara Afred dan Berenger, yang pintar dan ambisius, disekolahkan ke Seminari Carcassonne agar kelak menjadi pastur dan meneruskan tradisi kehormatan bagi keluarganya.

Setelah lulus, Berenger ditunjuk menjadi pastur di Desa Le Clat, yang berada agak jauh dari Montazels, namun masih berada di sekitar Rennes le Château. Tanah Desa Le Clat dimiliki oleh keluarga Hautpoul-Fellines. Setelah tiga tahun mengabdi di Le Clat, Berenger dipindahkan oleh atasannya, Uskup Carcassonne, ke Rennes le Château.

Di awal Juni 1885, Pastur Bérenger Sauniére datang Rennes le Château. Di daerah penggembalaan barunya ini, Sauniére awalnya tinggal di rumah milik keluarga Denarnaud. Sang puteri, Marie Denarnaud bekerja menjadi pelayan dari Sang Pastur. Kehidupan pastur itu terbilang cukup sederhana. Pendapatannya hanya enam poundsterling tiap tahun ditambah dengan kolekte sukarela dari jemaat gerejanya. Pastur Berenger Sauniére bersahabat dengan Pastur Henri Boudet dari desa tetangga, Rennes-le-Bains.

Beberapa bulan tinggal di desa itu, Sauniére mendapat masalah besar ketika dalam salah satu misa yang dipimpinnya, Pastur muda itu mengkhotbahkan suatu ajaran yang sangat anti-Republikan, padahal pada waktu itu pemilihan umum tengah berlangsung. Untuk sementara waktu Sauniére dibebastugaskan dari jabatannya. Ketika akhirnya dia dikembalikan kepada posisinya pada musim panas 1886, dia menerima hadiah sebesar 3.000 franc dari Countess de Chambord, janda seseorang yang mengklaim sebagai raja Perancis, King Henry de Bourbon yang mengaku bergelar Henry V, yang merasa berhutang budi karena Sauniére membela kaum monarkis. Pastur itu kemudian menggunakan uang tersebut untuk merenovasi gereja kecilnya yang sudah rusak di sana-sini.

Pada saat inilah pastur itu menemukan sejumlah perkamen yang memuat kode rahasia. Ini menurut Picknet dan Prince. Namun menurut Baigent, Leigh, dan Lincoln, dana untuk merenovasi gerejanya diperoleh Sauniére dengan meminjam dari kas desa.

Ketika membetulkan bagian atas sebuah pilar dekat mimbar, ia menemukan sebuah laci rahasia yang menyimpan sebuah dokumen. Dokumen itu menuntunnya untuk mencongkel sebuah batu setapak yang terletak di tengah gereja. Di bawah batu terdapat sebuah pot yang tertanam dan berat. Ketika dibuka, pot itu penuh berisi koin emas. Kepada para pekerja yang melihatnya,  Sauniére mengatakan bahwa itu merupakan medali dari Lourdes. Tapi banyak orang tidak percaya. Konon, koin emas itu sangat cukup untuk membangun desa tersebut menjadi desa yang makmur.

Setelah penemuan itu, Sauniére kembali menemukan empat lembar perkamen dari sebuah pilar bergaya Visigoth di dekat altar yang rencananya hendak dipindahkan. Pilar itu ternyata berongga. Empat lembar perkamen itu tersimpan di dalam sebuah tabung dari kayu. Perkamen-perkamen tersebut amat sulit dibaca karena susunan huruf-hurufnya tidak beraturan dan sekilas tidak ada arti. Tapi pendeta muda tersebut seorang yang cukup kritis. Ia meyakini, apa pun itu, temuannya itu pasti barang yang sangat berharga, sehingga membuat orang-orang menyimpannya rapat di sebuah tempat yang dirahasiakan. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber

[1] ‘Origins The Da Vinci Code’ (Kelahiran The Da Vinci Code) merupakan sebuah film dokumenter yang mengisahkan perjalanan liburan seorang Henry Lincoln di sebuah desa terpencil di kaki gunung Pyrennes, Selatan Perancis, bernama Rennes-le-Château. Desa itu sejak berabad lalu memang dikenal karena kemisteriusan, legenda-legenda, dan aroma mistisnya. Suatu hari, saat berkunjung ke sebuah kedai buku kecil di desa itu, Lincoln tertarik pada sebuah buku sederhana berjudul ‘Le Tressor Maudit’. Buku kecil itu memuat teka-teki pencarian harta karun lengkap dengan legenda dan misterinya. Lincoln merasa ada sesuatu yang harus ditelusurinya. Upaya kecil ini kemudian menjadi besar dan serius hingga melahirkan sebuah buku tebal hasil penyusuran intelektual Henry Lincoln—yang dibantu oleh Michael Baigent dan Richard Leigh—berjudul “Holy Blod, Holy Grail” yang sangat controversial, terutama terhjadap keyakinan Gereja Katolik Roma (1982). Buku inilah yang kemudian dijadikan pegangan utama Dan Brown, untuk menulis novel ‘The Da Vinci Code’.

[2] Nama belakang pendeta ini oleh Dan Brown dipakai menjadi Jacques Sauniére, pelakon Grand Master Biarawan Sion sekaligus kakek dari Sophie Neveu—gadis salah satu keturunan Yesus—dan sahabat Robert Langdon, profesor simbologi Universitas Harvard, yang di awal novel The Da Vinci Code ditemukan oleh Robert Langdon mati terbunuh dengan posisi jasadnya membentuk The Vitruvian Man, salah satu karya Leonardo Da Vinci.
[3] Holy Blood, Holy Grail mencatat usia 30 tahun.
[4] Di Indonesia beredar dengan judul “The Sauniere’s Da Vinci, Where It All Began” (Awal Terungkapnya “Da Vinci Code”) dan didistribusikan pada bulan April 2006 oleh Emperor Edutainment.


Sejak awal, Sauniére curiga, naskah yang berisi tulisan yang kacau itu sebenarnya merupakan sebuah sandi atau kode, yang harus dipecahkan dengan mempergunakan kunci atau teknik tertentu, sebelum arti sesungguhnya diketahui. Jelas, batin Sauniére, ada sesuatu yang sangat berharga di balik kode-kode yang begitu rumit ini.

Setelah meneliti naskah tersebut, pastur muda itu berhasil merangkaikan kalimat demi kalimat dalam naskah perkamen yang pertama. Kalimat itu awalnya adalah:

BERGERE PAS DE TENTATION QUE POUSSIN TENIERS GARDENT
LA CLEF PAX DCLXXXI PAR LA CROIX ET
CE CHEVAL DE DIEU J’ACHEVE CE DAEMON DE GARDIEN
A MIDI POMMES BLEUES

Kalimat yang tidak beraturan itu oleh Sauniére berhasil diurutkan menjadi kalimat di bawah ini, namun ini pun ternyata masih membuatnya bingung:

(GEMBALA-GEMBALA, TIDAK TERGODA, KARENA
POUSSIN, TENNIERS, MEMEGANG KUNCI;
PERDAMAIAN 681. DENGAN SALIB DAN KUDA TUHAN,
AKU SEMPURNAKAN—ATAU HANCURKAN—IBLIS
PENJAGA PADA SIANG HARI-APEL BIRU)

Di perkamen lainnya, juga terdapat kalimat bersandi yang berbunyi:

E DAGOBERT II ROI ET A SION EST CE TERSOR ET IL
EST LA MORT
(HARTA KARUN INI MILIK DAGOBERT II, RAJA, DAN MILIK SION DAN DIA MATI DI SANA)

Walau telah berhasil ‘membaca’ sandi-sandi tersebut, Sauniére tetap tidak mampu memahami apa yang sesungguhnya dimaksud oleh naskah-naskah itu. Apakah ini terkait dengan misteri harta karun? Apakah tentang organisasi rahasia? Atau tentang yang lainnya yang bersifat rahasia? Tidak mampu memecahkan persoalan yang begitu rumit, akhirnya pastur itu mengunjungi beberapa kenalannya, salah satunya Uskup Carcassonne, Felix-Arsène Billard, untuk dimintai pendapatnya. Oleh Billard, Sauniére dinasehati agar menemui seorang ahli pemecah kode bernama Émile Hoffet, yang ketika itu merupakan seorang pemuda yang tengah belajar untuk menjadi imam, namun memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai okultisme dan dunia kelompok-kelompok rahasia.

Sekembalinya dari perjalanan mengunjungi beberapa kenalannya, kehidupan Sauniére yang semula pas-pasan berubah total. Dalam waktu yang tidak lama pendeta itu diketahui sering bertindak aneh dan tidak ada manfaatnya. Terkadang menyusuri jalanan desa bersama pembantunya, terkadang mengurung diri di rumahnya, atau berjalan kesana-kemari tiada arah tujuan. Selain merenovasi gereja, dia juga mampu membangun menara Magdala (Magdalena) yang mewah dan bahkan sebuah bangunan vila yang dinamakannya Vila Bethania lengkap dengan taman yang indah serta rumah kaca.

Entah terinspirasi oleh apa, gereja yang direnovasinya ternyata diubah dengan gaya bangunan dan arsitektur yang amat tidak lazim dan bahkan kelihatannya mengerikan. Sebuah patung menyeramkan, Raja Iblis Asmodeus—sang penjaga rahasia, penjaga harta karun Kuil Sulaiman yang tersembunyi dalam kepercayaan pagan Yahudi—didirikan di jalan masuk ke dalam gereja. Di bagian pintu masuk gereja ditulis sebuah kalimat:
TERRIBILIS EST LOCUS ISTE
(TEMPAT INI MENGERIKAN)

Adakah penempatan patung Asmodeus ini oleh Sauniére dimaksudkan bahwa di dalam gereja tersebut terdapat sesuatu rahasia yang sungguh-sungguh penting dan berharga? Selain itu, Sauniére juga sering mengadakan perjamuan mewah kepada penduduk desa. Seluruh warga desa tersebut, besar kecil, seluruhnya sering dijamu oleh sang pendeta dalam acara jamuan yang mewah. Bahkan sejumlah tamu penting dari berbagai desa dan negeri juga sering berdatangan mengunjungi pendeta itu. Sauniére telah hidup dalam gaya para raja.



Pernah dalam beberapa malam, penduduk memergoki pastur muda itu bersama pelayannya tengah membongkar makam Marquise d’Hautpoul de Blanchefort. Dan ketika ditanya, maka jawaban yang diperoleh pun terkesan menutupi sesuatu.

Anehnya, terhadap perubahan yang sangat menyolok tersebut, walau Gereja dipastikan mengetahuinya—antara lain lewat laporan Uskup Carcassonne, atasan langsung Sauniére—namun Vatikan tidak mau ambil pusing dan sama sekali tidak ingin turut-campur. Entah mengapa Gereja seolah menutup mata bahkan terkesan enggan untuk sekadar bertanya tentang penyebab perubahan itu. Takutkah Gereja pada Sauniére? Gerangan apa yang diketemukan Sauniére di dalam rongga salah satu pilar Gereja Magdalena? Apa yang sebenarnya dikatakan oleh perkamen-perkamen tersebut, sehingga mengubah seratus delapan puluh derajat seorang pendeta muda bernama Sauniére?

Yang jelas, sesuatu itu telah menjadikannya kaya raya dan berkuasa. Pertanyaan-pertanyaan ini terus terkunci dan menjadi salah satu rahasia sejarah Gereja Vatikan yang paling gelap hingga kini.
Ketika Sauniére terus hidup dalam segala kekayaan dan pengaruhnya, tiba-tiba Uskup Carcassonne meninggal dunia. Dengan cepat Gereja kemudian mengangkat seorang uskup yang baru untuk menggantikan yang lama. Tidak berapa lama menjabat, uskup baru ini merasa ada sesuatu yang janggal dengan kehidupan Sauniére. Dari mana pendeta bawahannya itu bisa bergaya hidup mewah dan mendapatkan harta kekayaan serta uang yang berlimpah, padahal wilayah gembalaannya hanya di sebuah kampung kecil bernama Rennes-le-Château yang terletak di atas perbukitan yang sepi?

Uskup baru itu rupanya tidak mendapat pengarahan terlebih dahulu dari Gereja, sehingga ia dengan sangat biasa dan tanpa perasaan apa pun menulis surat kepada Sauniére agar bisa secepatnya menghadap dirinya untuk menjelaskan segala asal-muasal harta kekayaan yang diperolehnya.

Tindakan Uskup Carcassonne yang baru itu amat menyinggung perasaan Sauniére. Dengan berani, Sauniére menolak untuk datang dan secara tegas menentangnya. Uskup Carcassonne sungguh terkejut dengan keberanian bawahannya itu. Sesuatu yang sama sekali di luar perkiraannya. Sang uskup pun tidak mau kehilangan kewibawaannya. Ia dengan kasar menuduh Sauniére telah melakukan jual-beli hal-hal yang bersifat rohani, mengkomersialkan misa, sesuatu yang dilarang oleh Gereja. Uskup pun mengadukannya ke pengadilan daerah untuk mengusut bawahannya itu.

(Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber


Atas desakan uskup, pengadilan daerah kemudian mengambil keputusan untuk menahan Sauniére. Dengan menahan amarah, Sauniére mengadukan kejadian ini ke Vatikan. Setelah menerima surat pengaduan Sauniére, dengan cepat Vatikan segera membuat surat perintah yang ditujukan pada Uskup Carcassonne yang baru dan juga pengadilan daerah. Perintahnya satu: Bebaskan Sauniére secepatnya dan bebaskan dia dari segala tuduhan serta pulihkan nama baiknya.

Dengan masih dilanda rasa heran, Uskup Carcassonne kemudian segera membebaskan Sauniére dan tidak pernah lagi mengusiknya. Sejak itu Sauniére bisa hidup tenang dan meneruskan gaya hidup para rajanya yang mewah. Entah mengapa, setelah peristiwa itu Sauniére mengundurkan diri sebagai pastur desa. Gereja kemudian mengangkat Pastur Marty sebagai pastur baru di desa tersebut.

Kedatangan pastur baru ini ternyata mendapat sambutan dingin dari warga desa. Misa yang diadakan gerejanya kosong. Warga desa lebih suka mengikuti misa yang diselenggarakan Sauniére di kapel pribadinya yang kecil yang terletak di bawah Vila Bethania. Jelas, tuduhan bahwa kekayan Sauniére berasal dari komersialisasi misa yang berarti melakukan pemerasan terhadap warga desa tidak terbukti.

Bersama warga desa dan Marie Denarnaud, Sauniére terus hidup dalam kemewahan. Selain Sauniére, Marie Denarnaud sering terlihat mengenakan model pakaian paling anyar dan mahal dari Paris. Sebab itulah Marie juga sering disebut sebagai “La Madonne”. Selama hidupnya, dari tahun 1896 hingga 1917, pastur muda tersebut diketahui telah membelanjakan uangnya tidak kurang dari 23 juta franc. Tiap bulan ia sekurangnya mengeluarkan 160.000 franc. Sauniére juga memiliki rekening bank di Paris, Perpgnan, Toulousse, dan Budapest. Belum cukup dengan itu, pastur ini juga berinvestasi dalam jumlah yang besar di bursa, saham perusahaan, dan sekuritas, suatu tindakan yang tidak lazim dilakukan oleh seorang imam Katolik.

Pada hari Rabu, 17 Januari 1917, Sauniére yang telah berusia 65 tahun tiba-tiba terserang penyakit yang mirip dengan stroke. Anehnya, lima hari sebelumnya, para jemaat desa mengatakan bahwa Sauniére tampak sangat sehat dan prima untuk lelaki seusianya.

Dan yang juga aneh, di tanggal 12 Januari itu, pembantu Sauniére, Marie Denarnaud, diketahui telah memesan sebuah peti mati bagi majikannya. Apakah Marie Denarnaud memiliki insting keenam yang mengatakan bahwa majikannya itu akan segera meninggal dunia? Ataukah Marie terlibat dalam suatu persekongkolan jahat yang entah siapa yang melancarkannya untuk menghabisi Sauniére, disebabkan majikannya itu memegang sebuah rahasia yang membuat Vatikan gentar?



Marie Dernaraud

Di pihak mana Marie Denarnaud, apakah di pihak majikannya yang dengan sangat baik mau berbagi rahasia tersebut dengannya dan mewariskan semua kekayaannya atau di pihak suatu kelompok atau organisasi rahasia yang bernafsu untuk menghabisinya karena ingin menutup rapat-rapat sebuah rahasia penting yang terlanjur diketemukan Sauniére?

Bukan itu saja, tanggal 17 Januari ini sebenarnya juga bukan tanggal yang biasa. Nisan makam Marquise d’Hautpoul de Blanchefort yang dibuat Sauniére ternyata juga bertanggal 17 Januari. Selain itu, hari perayaan pembangunan Gereja Saint Sulpice yang terkait dengan rahasia Da Vinci juga dilakukan tiap tanggal 17 Januari. Ini terlalu naïf jika dianggap hanya suatu kebetulan.

Setelah terserang stroke yang misterius, kondisi kesehatan Sauniére turun drastis. Ia terus berbaring dan sekarat. Seorang pastur desa tetangga, Imam dari Espéraza, dipanggil untuk mendengarkan pengakuan terakhirnya dan melaksanakan ritual peminyakan terakhir. Imam itu segera datang. Ia sendirian masuk ke kamar di mana Sauniére terbaring lemah. Tak lama kemudian, Espéraza tersebut keluar dari kamar. Badannya gemetaran. Mukanya pucat-pasi. Kedua matanya kosong seakan habis melihat hantu.

Menurut René Descadeillas, “…sejak hari itu, imam tua tersebut tidak lagi menjadi orang yang sama; ia jelas-jelas telah mengalami suatu kejutan. Dan sampai akhir hayatnya ia tidak pernah terlihat tertawa lagi.” Imam itu juga menolak memberikan upacara terakhir menurut tradisi Katolik Roma untuk Sauniére.

Senin, 22 Januari 1917, Sauniére meninggal dunia. Pendeta kaya raya itu tidak meninggalkan apa-apa. Seluruh kekayaannya telah diberikan kepada Marie Denarnaud, sang pembantunya. Sauniére juga telah memberitahukan rahasia besar itu padanya. Di saat meninggal, Sauniére sesungguhnya tengah mengerjakan beberapa proyek besar yang menghabiskan biaya tak kurang dari delapan juta franc. Proyek-proyek itu antara lain dipakai untuk membangun jaringan jalan yang bagus ke desanya untuk mobil yang akan dibelinya, menyediakan saluran air ke semua rumah di desa, membangun kolam pembaptisan, dan juga mendirikan sebuah menara yang tingginya mencapai 70 meter yang rencananya dibuat untuk menyeru jemaatnya untuk berdoa.

Sepeninggal Sauniére, Marie Denarnaud tinggal di vila Bethania hingga akhir Perang Dunia di tahun 1946. Usai Perang Dunia II, Marie menjual vila tersebut kepada Monsieur Noel Corbu. Kepada Corbu, Marie diam-diam menjanjikan akan membuka rahasia besar itu sebelum dirinya meninggal. Rahasia itu, demikian Marie, siapa pun yang memegangnya akan bisa membuatnya kaya-raya dan berkuasa.

Entah mengapa, pada hari Kamis, 29 Januari 1953, seperti majikannya dulu, tiba-tiba Marie terserang penyakit stroke yang membuatnya tidak bisa bicara. Marie pun sekarat dan kemudian meninggal tanpa sempat mewarisi sebuah rahasia yang dipegangnya sampai ke liang lahat. Corbu[1] pun gagal mengetahui apa rahasia yang akan diberikan oleh Marie.

Banyak kalangan percaya, rahasia yang ikut terkubur bersama jasad Sauniére dan Marie lebih dari sekadar harta karun berupa emas, perak, atau pun batu permata. Jika demikian, apakah ini tentang suatu pengetahuan yang selama ini dikubur dalam-dalam? Oleh siapa? Mengapa Vatikan sepertinya sangat takut dan tidak berani terhadap Sauniére? apakah pengetahuan itu bisa menjadi uang? Bahkan peneliti bernama Richard Andrews dan Paul Schellenberger dalam karya mereka The Tomb of God (1996) mengeluarkan spekulasi bahwa harta karun yang dimaksud sesungguhnya adalah makam Yesus Kristus.

Pertanyaan-pertanyaan ini mengemuka dan akhirnya mengerucut menjadi satu dugaan bahwa sesungguhnya rahasia itu memang lebih dari sekadar harta-benda, namun juga meliputi suatu pengetahuan rahasia yang selama ini ditutup rapat oleh Vatikan. Sebab itu, Vatikan terkesan sangat permisif dan segan pada Sauniére. Dan tidak cukup dengan itu, bisa jadi Vatikan malah secara kontinyu mengucurkan uang kepada Sauniére, sekadar sebagai tutup mulut. Dan yang terakhir mungkin saja menghabisinya.

“Kami yakin bahwa ia telah menerima uang dari Johann von Habsburg. Pada saat bersamaan, ‘rahasia’ pendeta itu, apa pun itu, tampak lebih bersifat religius daripada politik,” demikian The Holy Blood and the Holy Grail.

Dugaan Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln, ternyata dibenarkan oleh seorang mantan pendeta Gereja Anglikan Inggris. Usai penayangan film “The Lost Treasure of Jerusalem” pada Februari 1972 garapan mereka bertiga, mantan pendeta itu mengirim surat yang antara lain berbunyi, “’Harta karun’ itu tidak terkait dengan emas atau batu-batu mulia yang berharga. Sebaliknya, harta tersebut berupa ‘bukti yang tidak dapat dibantah’ bahwa Penyaliban adalah peristiwa tipuan dan bahwa Yesus masih hidup hingga akhir tahun 45 Masehi.” Keyakinan bahwa Yesus tidak mati di tiang salib sebenarnya juga banyak dianut oleh sekte-sekte kekristenan awal yang lazim disebut sebagai kelompok Unitarian. Mereka ini menganggap Yesus hanyalah utusan Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri.

Jika Yesus memang tidak mati di tiang salib, mungkinkah Yesus telah diselamatkan oleh Yusuf Arimathea, seorang murid rahasianya yang kaya dan berpengaruh, seperti yang selama ini diyakini sebagian umat Kristen awal seperti Sekte Essenes dan gulungan Nag Hammadi? Al-Qur’an juga menyatakan bahwa Yesus tidaklah mati di tiang salib. Yang mati ditiang salib adalah orang yang ditampakkan Allah SWT menyerupai Yesus.

Sebuah buku kecil yang secara misterius tidak ada nama pengarangnya berjudul “The Crucifixion by an Eye Witness[2] yang terbit di Chicago tahun 1907 menjadi salah satu pegangan para peneliti yang meyakini Yesus tidaklah mati di tiang salib. Buku kecil yang berasal dari sebuah surat panjang—naskah kuno—yang ditulis oleh seorang saksi mata, namanya tidak pernah diketahui, yang diduga kuat berasal dari Suku Esenes yang terkenal karena kejujuran dan kezuhudannya di Yerusalem kepada saudara seimannya di Alexandria. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber

[1] Manurut Picknett dan Prince, Noel Corbu sesungguhnya merupakan orang suruhan dari Gereja untuk menguasai tanah milik Marie. Gereja memang tidak pernah secara terus terang menyatakan niatnya yang menggebu untuk memiliki tanah itu. Melalui perantaraan seorang imam bernama Abbé Gau, Gereja berhasil membujuk Corbu untuk bertindak atas namanya, dengan kesepakatan jika Marie menyerahkan tanahnya maka Corbu akan menyerahkannya kepada Gereja. Namun Corbu rupanya mengingkari kesepakatan itu. Namun yang sungguh aneh, setelah itu Corbu malah mdatang ke Vatikan untuk meminta bantuan dana. Saat itu permintaan Corbu tidak ditanggapi karena Vatikan sendiri sebelumnya telah mengutus seorang duta ke Keuskupan Carcassonne untuk menyelidiki hal tersebut. Duta Vatikan itu ternyata bernama Kardinal Angelo Roncalli—yang kelak menjadi Paus Yohannes XXIII atau Paus John XXIII yang menurut The Holy Blodd and The Holy Grail diyakini merupakan anggota Biarawan Sion karena Paus John XXIII memiliki dua gelar: Pasteur et Nautonnier.  Nautonnier merupakan gelar bagi Grand Master Biarawan Sion. Hal tersebut akan dibahas dalam bagian lain buku ini.

[2] Edisi Indonesia berjudul “Kisah Penyaliban oleh Seorang Saksi Mata” diterbitkan oleh Yayasan Radja Pena Jakarta, Agustus 1994, dan kini seolah lenyap dari pasar.


Surat panjang ini ditemukan di Perancis dan nyaris dihilangkan oleh seorang misionaris konservatif, namun berhasil diselamatkan oleh anggota Masonic Fraternity. Beberapa salinannya lenyap secara misterius dan dalam edisi Indonesia juga beredar sangat terbatas di kalangan tertentu. Untung saya memiliki salinannya.

Diduga kuat, inilah salah satu dokumen kuno yang paling dicari oleh Vatikan untuk dimusnahkan sampai hari ini, selain tentunya naskah-naskah Injil terlarang yang tidak sesuai dengan hasil Konsili Nicea 325 M. Atas kemurahan hari seorang kawan, saya diberi kesempatan untuk mengkopi buku tersebut.

Di dalam buku kecil tersebut secara jelas dipaparkan bagaimana proses penyaliban dan penyelamatan Yesus. Atas bantuan kelompok Esenes, Yesus berhasil diselamatkan dan diselundupkan ke sebuah tempat di dekat Laut Mati. Di daerah inilah, Yesus meningal dunia enam bulan setelah peristiwa penyalibannya.  Dua orang pembantunya, Yusuf Arimathea dan Nicodemus, menemani Yesus hingga akhir.

Daerah Laut Mati dan Selatan Perancis memang menjadi dua tempat tersendiri bagi peneliti tentang sejarah awal kekristenan. Jika Yesus dikabarkan meninggal dunia di dekat Laut Mati yang dipenuhi dengan gua-gua batu dan juga lokasi tempat tinggal kelompok Esenes, maka Maria Magdalena dipercaya meninggal di Marseilles, Selatan Perancis.

Di Provence yang juga berada di selatan, daerah ini dikenal sebagai pusat Magdalenaisme dan di sini pula tradisi lisan Kabbalah dibukukan. Selain Magdalenaisme, di sini juga merupakan pusat pemujaan terhadap Yohanes Pembaptis. Banyak gereja yang didedikasikan kepada Maria Magdalena dan Yohaes Pembaptis bertebaran di daerah ini.

Lynn Picknett dan Clive Prince, penulis The Templar Revelation, saat mengunjungi daerah ini menulis: “Di Marseilles, selain sebuah gereja yang didedikasikan kepadanya, terdapat Ordo Ksatria Dermawan Santo Yohanes[1], yang hinga kini masih menjadi penjaga pintu masuk pelabuhan. Di Aix-en-Provence, kami mengunjungi gereja Santo Yohanes dari Malta yang sangat besar; dan di sebuah dinding rumah yang terletak di jalan menuju gereja tersebut, terdapat relief yang mengisahkan peristiwa pemenggalan Yohanes Pembaptis.”[2]

Daerah Selatan Perancis yang umum disebut sebagai daerah Languedoc-Roussillon, para penduduknya memang tidak begitu patuh pada Vatikan[3]. Setiap tahun, pada tanggal 22 Juli, di wilayah ini para penduduk menggelar hari pesta Maria Magdalena secara besar-besaran dan meriah. Oleh Lynn Picknett dan Olive Prince, wilayah ini disebut sebagai jantung heresy Eropa.

Selain pemujaan terhadap Maria Magdalena dan Yohanes Pembaptis, di daerah ini juga terkenal dengan ajaran paganisme (penyembahan kepada Alam) dan okultisme dengan segala legenda dan mitosnya.

Salah satu kegenda yang masih hidup di masyarakat sekitar adalah tentang legenda “Ratu dari Selatan” (Reine du midi) yang sebenarnya merupakan gelar dari para countess dari Toulouse. Di selatan pulau Jawa, juga ada legenda serupa, “Ratu dari Selatan” yang memuja Nyi Loro Kidul, seorang Dewi. Adakah ini berhubungan? Tidak ada penelitian mengenai hal ini. “Dan, fakta tunggal inilah yang menyebabkan pemiskinan sistematis atas wilayah selatan Perancis tersebut.”[4]



Dan, Languedoc inilah ‘rumah besar’ para Templar di Eropa hingga mereka diburu oleh Phillipe le Bel. Lebih dari 30 persen benteng dan markas Templar yang tersebar di Eropa, terletak di sini. Bukan itu saja, di selatan Perancis ini pula, banyak kalangan meyakini, para Templar telah menguburkan dan menyembunyikan harta karunnya yang dibawa lari dari Yerusalem.

Misteri tentang harta karun dan Desa Rennes-le-Château memang selalu menarik. Prof. Mariano Bizari menyatakan bahwa desa ini dengan segala riwayatnya memiliki jejak sejarah yang amat panjang.

“Kisah mengenai Rennes-le-Château dimulai pada tahun 1200 SM dengan campur tangan orang Beaker, juga Celts, jadi ini merupakan kisah yang panjang! Di sana terdapat jaringan saluran bawah tanah, juga goa, goa di mana beberapa ritual dilakukan, goa yang membuka jalan ke tempat lain, misalnya tempat yang memungkinkan pelaksanaan upacara tertentu, dan Pendeta Boudet, teman sekaligus penasehat Sauniére, menulis buku berkode untuk mengidentifikasi jalan masuk ke rute-rute ini.”[5]

The Da Vinci Project: Seeking the Truth” juga membuat daftar pertanyaan yang mengusik keingintahuan orang tentang pendeta dan desa yang penuh misteri ini:
  • Mengapa Sauniére menulis “ini tempat yang buruk (sebenarnya “Menyeramkan” atau “mengerikan”, pen) di atas pintu masuk gereja itu?
  • Mengapa Sauniére menghabiskan hari-harinya di Museum Louvre , di depan lukisan Poussin tahun 1640 yang berjudul  “Arcadian Shepreds”, yang nampaknya menggambarkan daerah sekeliling Rennes-le-Château dan sebuah nisan bertuliskan “Et In Arcadia Ego”?
  • Mengapa penjaga rumah Sauniére, Marié Denarnaud, selalu mengatakan, “Di sini orang berjalan di atas emas, namun mereka tak mengetahuinya!”
  • Mengapa kota ini memiliki peraturan khusus yang melarang penggalian tanah, walau hanya untuk menanam bunga?
  • Mengapa mangkuk air suci di gereja Rennes diangkat oleh mahluk bernama “Asmodeus”, yang menurut mitologi Ibrani merupakan penjaga harta karun Salomo?
  • Mengapa gambar mosaik di atas altar menggambarkan Perjamuan Terakhir dengan seorang wanita mengangkat sebuah cawan di kaki Kristus?
  • Apakah ini petunjuk adanya kaitan antara Perjamuan Terakhir dengan Maria Magdalena?
  • Mengapa patung-patung santo dalam gereja sedemikian diatur sehingga huruf awal nama mereka membentuk kata GRAAL bila dihubungkan membentuk huruf M dari kata Maria Magdalena?
  • Mengapa tempat-tempat salib diletakkan dengan urutan terbalik?
  • Mengapa kaca jendela yang menggambarkan Kristus selalu memiliki bulan[6] di latar belakangnya?
  • Mengapa Sauniére membangun patung Magdalena yang besar dan menurut buku hariannya menyembunyikan sebuah peti di dasarnya?[7]
Posisi Patung:
  1. Santo Germaine
  2. Santo Rocco
  3. Santo Antoine Ermite
  4. Santo Antoine de Padoue
  5. Santo Lucca
Profesor Roberto Giacobbo, penulis buku “’Il Segreto Di Leonardo’ juga mengamini kemisteriusan Rennes-le-Château. “Wilayah ini adalah tempat yang aneh—begitu Anda memasuki kota, ada tanda bertuliskan “Dilarang menggali di sini”. Mengapa? Siapa yang meletakkan tanda ini? Rennes-le-Château banyak mengangkat pertanyaan spontan, seperti mengenai sebuah legenda yang terulang…atau mungkin juga tidak.”[8]

Amat mungkin, karena kemisteriusan desa inilah yang membuat seorang Francois Mitterand, beberapa pekan sebelum terpilih presiden Perancis di tahun 1981, mengunjungi Rennes-le-Château dan berfoto di Menara Magdala dan di samping patung Asmodeus, Raja Iblis Penjaga Harta Karun Sulaiman. Adakah Mitterand yang dikenal sebagai pemerhati okultisme juga merupakan bagian dari kemisteriusan wilayah ini?

Rennes-le-Château dengan Pastur Berenger Sauniére memang menjadi misteri tersendiri. Para peneliti menyatakan bahwa tidaklah mungkin Pastur Sauniére sendirian dalam menjalankan pekerjaannya yang begitu misterius. Apalagi dalam radius tiga mil sekitar Rennes-le-Château terdapat sekurangnya dua daerah dan dua pastur yang juga aneh.

Yang pertama, Pastur Antoine Gelis yang menjadi Gembala Sidang di daerah Coustaussa yang terletak persis di bawah Rennes-le-Château. Pastur Gelis tinggal sendirian di sebuah rumah kecil yang berjarak hanya beberapa langkah dari gerejanya. Selain sebagai pastur, Gelis terkenal sebagai lintah darat. Ia dikenal memiliki banyak uang yang sumbernya juga tak jelas dari mana. Kabarnya Gelis juga telah menemukan koin emas dalam jumlah banyak di gerejanya, sama seperti rekannya, Sauniére. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber

[1] Ordo Ksatria Dermawan Santo Yohanes juga dikenal sebagai Ksatria Malta, yang berasal dari para pelarian Templar dari Perancis yang menyelamatkan diri dari upaya penumpasan yang dilancarkan Phillipe le Bel dan Paus Clement V. Kini, Ksatria Malta dikenal sebagai sebuah ordo yang memusatkan aktivitasnya dengan membangun berbagai instalasi kesehatan dan rumah sakit di seluruh dunia. Film dokumenter berjudul Sovereign Order of The Knights of Malta (Ksatria-Ksatria Malta) produksi Emperor Edutainment (2003) bisa dijadikan referensi awal bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang keberadaan salah satu ordo  pewaris para Templar ini.
[2] Lynn Picknett dan Olive Prince; The Templar Revelation; hal.131.
[3] Ketidakpatuhan, bahkan kebencian, warga selatan Perancis ini kepada Vatikan sangat beralasan karena nenek moyang mereka telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Paus memerintahkan pembantaian massal lebih dari 10.000 orang Kathari atas nama kesucian gereja dalam peristiwa Perang Salib Albigensian. Kota Albi merupakan salah satu kubu terkuat kaum Kathari di abad ke-13 (22 Juli 1209, Hari Raya Maria Magdalena!). Sejarah mencatat, inilah kali pertama terjadi pembasmian etnis di Eropa yang secara ironi malah dilakukan oleh Paus yang banyak mengklaim sebagai Bapak kasih dan cinta damai.
[4] Ibid, hal. 138.
[5] The Da Vinci Project “Seeking the Truth”; hal. 50.
[6] Lukisan-lukisan gereja yang dibuat dari kaca maupun kanvas yang menggambarkan adanya latar belakang bulan merupakan sebuah gambaran yang mendukung keyakinan Injil Gnostik yang mengatakan bahwa Yesus sebenarnya mewariskan gerejanya kepada perempuan, Maria Magdalena, bukan Saint Peter yang kini berada di Vatikan.
[7] The Da Vinci Project: Seeking the Truth; hal. 50-51.
[8] Ibid; hal. 52.


Minggu sore, 31 Oktober 1897, pintu rumah Pastur Gelis diketuk seseorang. Gelis segera membukakan pintu bagi tamu yang tidak dikenalnya ini. Tiba-tiba sang tamu memukulkan sebuah benda keras ke kepala dan tubuh Gelis. Pastur berusia 70 tahun ini jatuh tersungkur bersimbah darah.

Sang pembunuh segera pergi. Awalnya polisi menyangka telah terjadi perampokan karena Gelis memang dikenal memiliki banyak uang. Tapi barang-barang milik Gelis tidak ada yang hilang.

Bukan itu saja, di dekat jenazah Gelis yang telentang dengan kedua tangan bersedekap, seolah pembunuhnya ingin menunjukkan sesuatu pola, ditemukan dua kertas rokok dengan tulisan tangan bertuliskan “Viva Angelina!”, yang memiliki arti kejayaan bagi malaikat perempuan atau kejayaan

bagi Sang Dewi. Maria Magdalenakah yang dimaksud?

Sampai kini polisi tidak berhasil mengungkap siapa pembunuhnya. Banyak penafsiran tentang motif di balik peristiwa pembunuhan terhadap Gelis. Tapi para peneliti meyakini, dibunuhnya Gelis erat kaitannya dengan harta karun yang ada di sekitar daerah itu. Adakah Gelis dianggap terlalu banyak tahu tentang harta karun Rennes-le-Château?

Batu nisannya, yang terletak di pemakaman gereja di Coustassa, diposisikan lain dengan nisan-nisan lainnya. Nisan Pastur Gelis dibuat menghadap ke Rennes-le-Château dan terlihat amat jelas di lereng bukit di seberangnya. Anehnya, batu nisan itu juga memiliki tanda Salib-Mawar (Rose-Croix). Gerard de Sede ketika ingin menginvestigasi peristiwa ini pada tahun 1960-an, tidak berhasil menemukan catatn apa pun mengenainya di arsip Keuskupan Carcassonne. Sepertinya Gereja memang menyembunyikan hal ini dan menguburnya rapat-rapat.

Yang kedua, Pastur Henri Boudet (1837-1915) yang menjadi gembala sidang di daerah Rennes Le Bains, yang terletak di sisi lain bukit yang juga ditempati Rennes-le-Château. Pastur ini juga tidak kalah misteriusnya. Walau bukan ahli bahasa, tapi Boudet diketahui telah mengarang sebuah buku mengenai bahasa yang salah satu premisnya sungguh aneh yakni bahasa Celtic adalah bahasa asal dari semua bahasa dunia. Buku tersebut ternyata berisi kode-kode tertentu yang setelah Boudet meninggal di makamnya terdapat kaitan erat dengan kode-kode dari bukunya tersebut. Judulnya: Le vraie langue cetique et le cromleck de Rennes-les-Bains (The True Celtic Language and the Cromlech of Rennes-les-Bains).

Pastur Berenger Sauniére, Pastur Antoine Gelis, dan Pastur Henri Boudet, ketiganya memimpin gereja dalam wilayah yang bertetangga, ketiganya menyimpan misteri, dan tentu ketiganya memiliki ikatan khusus atau suatu kerjasama yang tidak diketahui secara jelas apa dan bagaimana bentuknya.

Hanya saja, di belakang hari diketemukan catatan bahwa Pastur Sauniére ternyata pernah dua kali diundang dan menghadiri acara resmi kelompok Freemason yang diadakan di Martinist Lodge di Lyons, Perancis. Sejak zaman Renaissance, kota Lyons juga dikenal sebagai kota yang penuh misteri. Selain itu ada pula catatan pengiriman barang dari Paris berupa sebuah teropong yang berdaya kuat dan kamera kepada Sauniére. Sebuah organisasi atau kelompok di Paris mengirim peralatan penyelidikan kepada Sauniére yang tinggal di desa penuh misteri. Apa yang sesungguhnya diselidikinya?

Menurut sejarah, setelah kerajaan Barat menyerbu Roma dan kemudian meninggalkan Italia, harta karun dari Yerusalem yang dijarah oleh Titus kemudian dibawa ke Toullose, lalu dibawa lagi ke Carcassonne, setelah itu tidak ada satu pun orang yang pernah mendengar tentang keberadaan harta karun tersebut.

Ada pula yang mencatat bahwa sesungguhnya Ksatria Templar pernah membawa jenazah Yesus ke suatu tempat di Rennes-le-Château untuk dikuburkan di sana. Salah satu wilayah yang dekat dengan Rennes-le-Château bernama Opoul Perillos. Wilayah ini memiliki kode pos: 666-00. Triple Six, sebuah angka setan!




Dari misteri ‘harta karun’ Rennes-le-Château itulah alur utama novel The Da Vinci Code mengalir. Jika ini sungguh benar, dan banyak yang percaya, maka Vatikan sebenarnya sudah mengetahui sejak lama bahwasanya Yesus tidak disalib. Kitab Apokripa dalam tradisi Katolik Roma sendiri kian memperkuat dugaan ini. Kitab Apokripa adalah kitab-kitab Injil yang terlarang dibaca oleh jemaat biasa dan hanya pendeta-pendeta tertinggi yang boleh melihatnya. Di antara kitab-kitab apokripa itu adalah Injil Maria, Injil Hermes, Injil Barnabas, Injil Thomas, dan sebagainya.

Semua kitab apokripa tersebut membenarkan bahwa Yesus hanyalah seorang Rasul dan mengajarkan ketauhidan, bukan trinitas. Arius dan kaum Unitarian yang diburu dan dihabisi dalam Konsili Nicea pada 325 Masehi merupakan satu kaum yang meyakini ketauhidan itu. Demikian pula dengan Sekte Essenes dari gua Qumran, Yordania, yang terkenal dengan kehidupan zuhudnya dan Dead Sea Scroll yang termasyhur.

Salah satu prelatur Vatikan bernama Opus Dei[1]—seperti yang telah dipaparkan dengan amat baik dalam The Da Vinci Code—memiliki tugas khusus untuk mencari dan membunuh seluruh keturunan Yesus dan para pelindungnya, yakni Dinasti Merovingian dan para Biarawan Sion dengan Ksatria Templarnya. Misi ini tentu tidak pernah dibuka pada umum.

Sejarah juga mencatat, salah satu ordo paling militan dalam Gereja Katolik Roma adalah Serikat Yesuit. Pertarungan antara Serikat Yesuit melawan The Knight Templar sudah terjadi sejak masa Santo Ignatius Loyola, sang pendiri Ordo ini, dan berjalan dengan amat sengit. Apakah rahasia ini yang sesungguhnya menjadi ujung pangkal segala kekisruhan tersebut?

Organisasi misterius yang menjaga rahasia tersebut sejak berabad-abad lalu dikenal sebagai Biarawan Sion (The Priory of Sion). Buku The Holy Blood and the Holy Grail dan The Da Vinci Code dengan tegas menyatakan bahwa Biarawan Sion inilah yang secara turun-temurun telah menjaga rahasia yang mereka yakini lebih besar ketimbang agama Kristen itu sendiri dengan sangat rapat, bahkan jika perlu dengan mengorbankan jiwa raganya, seperti yang telah dilakukan para sénéchaux seperti halnya “Jacques Sauniére” dalam prolog novel The Da Vinci Code.

Dari organisasi Biarawan Sion inilah lahir sebuah ordo militer legendaris yang bernama The Knights Templar. Perang Salib telah memperkenalkan ordo militer ini ke seluruh dunia. Dalam Perang Salib, dari seluruh ordo dan ksatria salib yang ada, Ksatria Kuil ini dikenal sebagai orang-orang yang begitu haus darah dan selalu ingin berperang.

Dalam salah satu episode Perang Salib ke empat, tiga orang tokoh Templar—Reynald de Chatillon, Guy de Lusignan, dan Gerard de Ridefort—berhadapan langsung dengan Salahudin Al-Ayyubi (orang Barat menyebutnya Saladin), Panglima Islam yang berasal dari Tikrit, Irak. Satu kampung dengan Saddam Hussein.

Usai Palagan Hattin, kedua tokoh Ksatria Templar itu tertangkap. Guy de Lusignan yang saat itu menjabat sebagai Raja Yerusalem (menggantikan kakak iparnya, King Baldwin IV yang telah mangkat) ditawan oleh Salahuddin. Demikian pula Reynald dan Gerard de Ridefort.

Kehadiran Ksatria Templar memang tidak bisa dilepaskan dalam konteks Perang Salib. Walau banyak ahli sejarah menyatakan bahwa Ksatria Templar merupakan para ksatria yang paling berani dan tentara garda terdepan dalam membela Kristus, namun banyak pula sejarahwan yang curiga dan memandang keberadaan Ksatria Templar secara lebih kritis.

Motivasi Ksatria Templar menerjunkan dirinya dalam Perang Salib sesungguhnya bukanlah untuk membela Kristus dan agamanya, namun untuk menyelidiki ‘harta rahasia’ yang mereka yakini terpendam di bawah Haikal Sulaiman. Hal yang belakangan ini sudah terbukti dengan adanya penelitian yang dilakukan sejumlah arkeolog yang menemukan bekas-bekas eskavasi yang dilakukan di bawah kamar-kamar markas Ksatria Templar di Yerusalem dan berbagai peralatan penggalian milik Templar juga ditemukan di dalamnya. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber

[1] Opus Dei, nama salah satu sekte Gereja Katolik ini menjadi begitu populer setelah novel The Da Vinci Code mengguncangkan dunia. Opus Dei adalah bahasa latin yang berarti “Bekerja Melayani Tuhan” atau “Pelayan Tuhan”, sebuah organisasi controversial di bawah Gereja Katolik Roma yang didirikan tahun 1928 oleh Pastor Josemaría Escrivá. Sekarang, seluruh anggota Opus Dei di dunia diperkirakan melebihi jumlah 85 ribu orang.


Bani Israil yang kini lebih dikenal dengan sebutan bangsa Yahudi sesungguhnya bersaudara dengan Bangsa Arab. Kedua bangsa besar ini berasal dari satu ‘Bapak’ yakni Nabi Ibrahim as. Bani Israil berasal dari anak Nabi Ibrahim yang bernama Ishaq dari isteri yang bernama Siti Sarah. Sedangkan Bani Hasyim yang juga disebut sebagai Suku Quraisy berasal dari anak Nabi Ibrahim yang bernama Ismail dari isterinya yang bernama Siti Hajar.

Dalam perjalanannya yang sudah banyak ditulis oleh sejarah, kedua suku bangsa ini pecah dan saling berperang satu sama lain. Goresan pena sejarah juga telah mencatat betapa semua pertentangan dan permusuhan ini senantiasa terjadi akibat ulah dari Bani Israil yang licik, keras kepala, dan mau menang sendiri.

Di masa Nabi Musa a.s. yang ditugaskan Allah SWT untuk meluruskan Bani Israil, walau telah berkali-kali Nabi Musa a.s. memperlihatkan kebesaran Allah SWT, namun tetap saja Bani Israil lebih condong kepada kesesatan. Mereka lebih gemar mendalami ilmu-ilmu sihir yang dipraktekkan para pendeta tinggi yang mengelilingi Fir’aun dan condong kepada penyembahan paganisme.

Kisah Samiri yang dimuat di dalam Al-Qur’an menggambarkan hal ini. Patung sapi betina yang dibuat oleh Samiri sesungguhnya berasal dari Hathor dan Aphis, patung dewa Mesir kuno yang berbentuk sapi betina yang telah lama disembah mereka dan terkait dengan penyembahan kepada dewa matahari (The Sun God).

Walau demikian, pertolongan Allah SWT yang telah menyelamatkan mereka dari kejaran Fir’aun dan tentaranya dengan membelah lautan, tetap tidak membuat Bani Israel sadar. Sebab itu, Allah SWT kemudian mengutuk mereka karena kesesatannya dan melarang Bani Israil untuk memasuki Tanah Suci Palestina untuk beberapa tahun.

Ilmu-ilmu sihir yang dikuasai para pendeta tinggi Fir’aun, berikut segala ritual dan kepercayaan ideologis di belakangnya, akhirnya menjadi sebentuk kepercayaan Bani Israil yang diturunkan dari generasi ke generasi lewat cara lisan yang disebut Kabbalah. Dari cara inilah kemudian orang menamai kepercayaan kuno Bani Israil ini dengan sebutan Kabbalah.

Kepercayaan satanisme ini terus dipelihara dengan baik oleh mereka hingga pada abad ke-21. Terbukti, Madonna, penyanyi pop terkenal Amerika kelahiran Italia, mengaku dengan terus terang bahwa ia telah menanggalkan kekristenannya dan menggantinya dengan Kabbalah. Madonna adalah seorang pengikut Kabbalah. Madonna merupakan sedikit orang yang secara jujur mengakui dirinya seorang Kabbalis.

 


Hubungan antara kisah-kisah Bani Israil dengan harta karun Sulaiman sangatlah erat. Namun sebelum masuk dalam pembahasan misteri harta karun ini, kita agaknya harus menelusuri tentang kisah dan keberadaan Haikal Sulaiman dahulu, sebuah istana yang sangat megah dan indah pada zamannya, yang diyakini banyak orang di muka bumi menyimpan harta karun yang amat sangat banyak dan tak ternilai. Film National Treasure (Walt Disney Picture; 2004) mengatakan bahwa harta karun tersebut dikatakan amat sangat banyak sehingga tidak akan mampu untuk seorang raja pun memilikinya.

Alkisah, setelah dikutuk Allah SWT dan dilarang memasuki tanah suci Palestina untuk beberapa lama, Bani Israil tetap tidak mampu masuk Palestina setelah Musa wafat. Barulah pada masa Nabi Daud a.s.—ayah dari Nabi Sulaiman a.s.—mereka bisa memasuki Palestina dari Sinai dan menguasai Yerusalem. Ini terjadi sekitar tahun 2000 SM. Walau demikian, tidak semua wilayah Palestina bisa dikuasai mereka. Ketika Nabi Sulaiman a.s. berkuasa, kelompok-kelompok Bani Israil ini tersebar di berbagai daerah dan mengelompokkan diri menjadi kerajaan-kerajaan kecil.

Merupakan satu kebiasaan di kalangan Bani Israil untuk memanggil pemimpin mereka dengan sebutan ‘Raja’. Yang disebut kerajaan itu di masa Sulaiman hanyalah sebuah kota kecil yang dikelilingi desa-desa sekitarnya. Sama sekali bukan sebuah kerajaan yang meliputi seluruh tanah Palestina. Di antara kerajaan tersebut, kerajaan Samaria dan kerajaan Yahuda adalah yang terkenal. King of Greece, Sargeus, pernah menyerbu Samaria pada tahun 576 SM.

Kerajaan yang agak besar dan istananya sangat megah pada zamannya itu adalah kerajaan yang dipimpin King Solomon atau Nabi Sulaiman a.s. yang berada di Yerusalem. Bagaimana sesungguhnya bentuk dan rupa Istana Nabi Sulamian a.s. yang membuat Ratu Balqis begitu terpesona hingga melunturkan kesombongan dan meraih hidayah Allah SWT?

Al-Qur’an menginformasikan dalam surat-suratnya tentang Haikal Sulaiman tersebut. Diceritakan bahwa Sulaiman memiliki kerajaan serta istana yang amat mengagumkan dan dengan arsitektur yang paling maju pada zamannya. Berdasarkan kenyataan ini, para peneliti meyakini bahwa para ahli tukang bangunan yang ada di dalam kerajaan Sulaiman adalah tukang-tukang terbaik di seluruh negeri.

Di istananya terdapat berbagai karya seni yang menakjubkan dan benda-benda berharga, yang amat mempesona bagi siapa pun yang menyaksikannya. Jalan masuk istananya saja  terbuat dari kaca. Hal ini dimuat di dalam Al-Qur’an dalam Surat An-Naml ayat 44 di mana Ratu Balqis merasa sangat takjub bercampur heran ketika pertama kali ingin memasuki istana Sulaiman,

“Dikatakanlah kepadanya: “Masuklah ke dalam istana.” Maka tatkala dia (Ratu Balqis) melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”. Berkatalah Bilqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.”

Sulaiman dianugerahi oleh Allah SWT kebisaan untuk berbicara dengan hewan. Allah SWT juga menundukkan para mahluk gaib sebangsa jin dan yang lainnya agar bisa diperintah oleh Sulaiman. Mereka inilah yang banyak membawa harta karun dari dasar lautan dan lainnya untuk Sulaiman. Tidak aneh, jika Haikal Sulaiman yang amat megah tersebut dipenuhi dengan harta karun dalam berbagai bentuk dan rupa. Qur’an surat An-Naml dengan rinci memaparkan tentang kisah Sulaiman a.s.

Tahun 960 SM istana atau kuil Sulaiman berdiri di Yerusalem. Setelah mengalami pasang-surut, masa kejayaan dan juga kemundurannya, 370 tahun kemudian bangsa Babylonia yang dipimpin Raja Nebukadnezar II menduduki Yerusalem dan menghancurkan kuil tersebut. Menyusul kejatuhan Yerusalem, para tentara Babylonia menangkap dan menawan orang-orang Yahudi dan membawa mereka ke Babylonia, keluar dari Yerusalem.

Dalam pengasingan di Babylonia inilah, pemuka-pemuka Yahudi membesarkan hati kaumnya dengan membuat konsep “The Promise Land” atau “Tanah Yang Dijanjikan”. Para pemuka Yahudi ini berusaha keras agar kaumnya benar-benar meyakini bahwa Yerusalem dan Palestina merupakan tanah yang telah dijanjikan Tuhan kepada mereka. Konsep yang mengatakan bahwa Bani Israil adalah bangsa pilihan Tuhan dan bangsa di luar Yahudi adalah manusia kelas dua, Ghoyim atau Gentiles, yang diciptakan Tuhan untuk melayani seluruh kepentingan bangsa Yahudi diduga kuat juga disusun di Babylonia ini.[1]

Sejak itu, dalam perjalanannya mereka selalu berupaya untuk bisa kembali ke Palestina dan menguasai Yerusalem. Namun mereka sellau menemui kegagalan. Bahkan akibatnya perbuatan mereka ini justru membuat mereka kian diawasi para penguasa. Orang-orang Yahudi makin berpencar ke seluruh bumi, diaspora, untuk menyelamatkan diri dari penindasan dan pengawasan para penguasa. Untuk menyelamatkan diri, cita-cita, dan kepentingannya inilah, bangsa Yahudi akhirnya terbiasa untuk bergerak di dalam lingkaran-lingkaran rahasia dan penuh konspirasi.

Setelah berjalan beberapa tahun, kekuasaan Babylonia ini pun kemudian tumbang setelah bangsa Persia di bawah komando Cyrus menyerangnya dan berhasil merebut Yerusalem. Di bawah kekuasaan Persia, Kuil Sulaiman kembali dibangun. Kekuasaan Persia pun tidak bertahan lama dan digantikan dengan kekuasaan bangsa Romawi pada tahun 160 SM. Oleh Raja Herod (40-4 SM), Kuil Sulaiman dibangun kembali dan memberikan keleluasaan bagi orang-orang Yahudi untuk tinggal di Yerusalem. Namun dasar orang-orang Yahudi ini memang tidak bisa berterima kasih dan tidak pernah bersyukur, pada tahun 70 M, mereka mengadakan pemberontakan terhadap Raja Romawi.

Pemberontakan ini berhasil dipatahkan oleh Raja Titus yang kemudian segera melakukan pembersihan terhadap seluruh orang-orang Yahudi di Palestina dan seluruh kekuasaan Romawi waktu itu. Kaum Yahudi dilarang kembali masuk ke Palestina. Kuil Sulaiman pun dihancurkan oleh Titus.
Konon, dalam pemberontakan ini, sekelompok orang Yahudi menjarah Kuil Sulaiman dan membawa kabur harta karun yang ada di sana dan melarikannya ke sebuah tempat di Perancis Selatan dengan menaiki kapal-kapal layar yang membuang sauh di Jaffa, melayari Lautan Tengah dan berlabuh di Perancis Selatan.

Menurut salah satu narasumber utama Holy Blood, Holy Grail, bernama Pierre Plantard yang juga diyakini seorang Grand Master Biara Sion di abad ke-21, harta karun itu telah ditemukan di daerah pegunungan Pyrennes dan terlindung aman di tangan Biara Sion. Di duga kuat, harta karun ini disembunyikan di daerah sekitar kuil Templar di daerah Bezu. Juga ada pendapat, sebelum harta karun itu di bawa ke Perancis, sebagiannya lagi sudah dibawa dan disimpan di Roma. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber

[1] William G. Carr; Yahudi Menggenggam Dunia; Pustaka Al-Kautsar; Pengantar Penterjemah; Cet.7; 2005; hal.19


Film National Treasure menyatakan bahwa harta jarahan dari Kuil Sulaiman tersebut sesungguhnya telah dibawa lari ke Amerika dan disimpan rapat di bawah sebuah gereja kuno di daerah Wallstreet, AS, dan berada dalam lindungan para Freemason. Walau ada beberapa petunjuk, namun kepastian di mana harta itu disembunyikan hingga kini masih menjadi salah satu misteri yang paling banyak diminati peneliti.

Walau demikian, Bani Israil yang lazim disebut kaum Yahudi sekarang ini telah lama meyakini masih adanya harta karun Sulaiman dalam jumlah yang teramat besar yang masih tersimpan dengan rapi di suatu tempat di dalam lokasi bekas kuil tersebut. Mereka terus melakukan pencarian sepanjang masa dari generasi ke generasi. Terlebih setelah ‘sejarah yang gelap’ seputar peristiwa penyaliban ‘Yesus’ yang penuh dengan teka-teki dan kekontroversialannya seperti yang telah diungkap dalam berbagai catatan sejarah dan buku-buku termasuk Holy Blood, Holy Grail dan The Da Vinci Code.

Amat mungkin kekeras-kepalaan kaum Yahudi itu ada pembenarannya, karena berdasar temuan Gulungan Laut Mati (The Dead Sea Scroll) di gua Qumran, Yordania, terdapat ‘Copper Scroll’ (Gulungan Copper) yang terkenal. Gulungan Copper itu telah dipecahkan sandinya di Universitas Manchester pada tahun 1955-1956 dan ternyata berisi petunjuk-petunjuk yang jelas bahwa sejumlah emas-perak, bejana-bejana keramat, barang-barang yang tidak jelas kegunaannya, dan harta karun lainnya yang juga misterius, yang berjumlah tidak kurang dari duapuluh empat timbunan, terkubur di bawah Kuil Sulaiman.[1]

Al-Qur’an menyebutkan bahwa Nabi Isa a.s. tidak pernah disalib, dan yang disalib oleh tentara Romawi saat itu adalah seseorang yang wajahnya diserupai dengan Nabi Isa. Nabi Isa a.s. sendiri diangkat oleh Allah SWT dan akan turun kembali ke bumi pada akhir zaman untuk membela ketauhidan dan membenarkan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Yang digambarkan oleh Al-Qur’an ini sebenarnya juga diyakini oleh orang-orang Kristen awal yang kini disebut sebagai Kristen Unitarian, dengan tokohnya yang termashyur bernama Arius. Sebab itu, mereka juga sering disebut sebagai kaum Arian. Selain kaum Arian, sejumlah sekte dan kelompok Kristen maupun Yahudi juga membenarkan apa yang telah dideskripsikan Al-Qur’an. Mereka inilah yang terus memelihara keyakinan tersebut dengan penuh kerahasiaan dan diam-diam hingga kini.

Namun yang tengah menjadi sorotan adalah adanya kelompok sempalan Yahudi yang tidak mengakui Yesus disalib namun mereka percaya bahwa Yesus ini diselamatkan oleh Yusuf Arimatea, dan hidup puluhan tahun setelah peristiwa penyaliban di suatu tempat. Menurut mereka pula, sebelum peristiwa itu terjadi, isteri Yesus yang bernama Maria Magdalena dengan membawa The Holy Grail (cawan suci yang berisi ‘darah’ Yesus) telah dilarikan ke suatu tempat yang jauh.



Mereka ini yakin bahwa dalam pelariannya itu Maria Magdalena tengah membawa The Holy Blood yang berasal dari darah daging Yesus sendiri di dalam kandungannya (The Holy Grail).  Maria Magdalena tengah hamil ketika melarikan diri dari Yerusalem menuju Selatan Perancis. Grail di sini menurut mereka bukanlah sebentuk bejana anggur atau piala, tetapi rahim dari Maria Magdalena itu sendiri.

Sebab itulah, banyak berdiri kuil-kuil pemujaan The Black Madonna (Sang Perawan Hitam) pada permulaan era kekristenan. Kuil-kuil tersebut dibangun bukan diperuntukan bagi Bunda Maria (The Holy Virgin, Perawan Suci) tetapi kepada Maria Magdalena, yang digambarkan dalam bentuk patung atau lukisan seorang ibu dan seorang anak kecil.

Para ahli juga banyak memperdebatkan bahwa berbagai katedral Gothik yang menyerupai tiruan bentuk rahim yang besar dan terbuat dari batu tersebut sebenarnya dipersembahkan kepada isteri Yesus, bukan Ibundanya. Buku yang paling terkenal yang mengisahkan kehidupan Maria Magdalena di Perancis Selatan adalah karya Jacobus de Voragine berjudul Golden Legend (1250).

Di dalam bukunya, Voragine yang merupakan Uskup Agung Dominikan dari Genoa menyebut Maria Magdalena dengan sebutan Illmunata sekaligus Illuminatrix yang memiliki arti ‘Yang Tercerahkan’ atau ‘Sang Pencerah’. Di kemudian hari, sebutan atau gelar Maria Magdalena ini dipakai sebagai nama bagi satu kelompok rahasia—salah satu pewaris Templar: Illuminati.

Menurut The Da Vinci Code dan juga The Holy Blood and the Holy Grail, organisasi Biarawan Sion memiliki tugas utama menjaga dan melindungi garis darah keturunan Yesus Kristus dan Maria Magdalena. Anak-anak Yesus ini konon berwujud dalam satu dinasti bernama Dinasti Merovingian yang berdiam di Perancis Selatan. Dinasti ini kemudian, untuk menyelamatkan dirinya, melakukan kawin campur dengan dinasti-dinasti berpengaruh di Eropa lainnya.

The Da Vinci Code memaparkan pertarungan antara Biara Sion melawan Opus Dei, organisasi resmi yang berada di bawah Vatikan yang dikatakan memiliki tugas khusus untuk mengejar dan menghabisi seluruh garis darah keturunan Yesus—ini digambarkan Brown dengan upaya pengejaran Silas dan Uskup Manuela Aringarosa terhadap keluarga Sophie Neveu dan membunuhnya, sehingga Sophie kecil harus dipelihara oleh kakeknya, Jacques Sauniere yang kemudian juga dibunuh Silas dan berlanjut pada pengejaran terhadap Sophie sendiri—sehingga kekuasaan Gereja Katolik di Tahta Suci Vatikan tetap terpelihara.

Menurut Opus Dei, juga seluruh sekte kekristenan yang kini bersatu di bawah Vatikan dan juga kaum modernis, berpendapat bahwa Yesus mewariskan gerejanya kepada Saint Peter. Kemudian Saint Peter membangun Tahta Suci Vatikan yang berpusat di Roma, bekas ibukota kekaisaran Romawi. Padahal Biarawan Sion berpendapat bahwa Yesus tidak mewariskan gerejanya kepada Saint Peter melainkan kepada Maria Magdalena, sang isteri. Inilah pangkal sebab pertentangan mereka.

Godfroi de Bouillon dipercaya oleh para petinggi Yahudi sebagai salah seorang yang memiliki darah keturunan Yesus. Hal ini nampaknya—menurut Baigent—tidak disadari oleh Godfroi sendiri atau pun dirinya memang tidak diberi tahu hal tersebut semata-mata demi keamanan dirinya dan keluarganya secara lebih luas.

Untuk menemukan bukti-bukti yang lebih kuat, mungkin ini motivasi utama kedatangan para Templar ke Yerusalem, dilakukan penelitian dan penggalian pada tanah yang dipercaya sebagai tempat berdirinya Kuil Sulaiman yang dilakukan secara rahasia oleh para Templar. Harta karun itu diyakini lebih bernilai ketimbang emas permata. Sekarang ini, Kuil Sulaiman hanya tersisa pada lokasi “Tembok Barat” atau Tembok Ratapan.

AWAL KNIGHTS TEMPLAR

Cerita yang paling popular mengenai Ksatria Templar sampai saat ini mungkin adalah kisah ‘Ivanhoe’ karya Sir Walter Scott yang ditulis pada tahun 1819. Dalam kisah anak-anak itu, sosok Ksatria Templar digambarkan sebagai sekumpulan preman yang angkuh, lalim, munafik, dan menghalalkan segala cara. Ini adalah gambaran umum para pengkaji masalah Templar dan Perang Salib.

Michael Baigent dan kawan-kawan mendeskripsikan Ksatria Templar sebagai:  sosok biarawan pejuang yang sangat menakutkan, ksatria mistik berjubah putih, dan bersalib merah. Tapi, satu hal yang pasti, Ksatria Templar adalah sosok pejuang yang memegang peranan terpenting dalam Perang Salib. Pola dasar Perang Salib adalah pengerahan ribuan pasukan perang untuk merebut Tanah Suci Palestina, yang bertempur dan rela mati demi Kristus.[2]

Tentang awal keberadaan Ksatria Kuil, The Holy Blood and the Holy Grail mencatat bahwa catatan sejarah pertama tentang kelompok yang sarat diselimuti kabut misteri ini ditulis oleh seorang sejarawan bangsa Jerman bernama Guillaume de Tyre yang menulis antara tahun 1175 dan 1185. Saat itu merupakan puncak dari Perang Salib, ketika tentara Salib berkuasa Tanah Suci Palestina setelah merebutnya dari bangsa Saracen (kaum Muslimin) dan mendirikan Kerajaan Yerusalem, atau oleh kelompok Templar sendiri disebut sebagai “Outremer”, atau tanah yang jauh dari lautan.

Menurut de Tyre, Order of the Poor Knights of Christ and of the Temple of Solomon (Ordo Ksatria Miskin Pembela Kristus dan Kuil Sulaiman) atau dalam bahasa latin disebut sebagai paupers commilitones Christi Templique Solomonici didirikan pada tahun 1118[3].

Hughues de Payens, bangsawan dari Champagne dan pengikut seorang Count dari Champagne beserta Godfroy de St. Omer disebut-sebut sebagai pendirinya. Suatu hari, tanpa diminta, Hughues de Payens ini bersama delapan rekan ksatrianya memperkenalkan diri di istana King Baldwin—Raja Yerusalem—yang saudara lelakinya, Godfroi de Bouillon, telah mengalahkan Kota Suci tersebut sembilan tahun yang lalu.(Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber
[1] Allegro; Treasure of the Copper Scroll; tanpa tahun ; hal.107.

[2] Michael Baigent, Richard Leigh, Henry Lincoln; Holy Blood, Holy Grail; hal.55

[3] Beberapa literatur menyanggah tahun 1118, dan memastikan tahun berdirinya Ksatria Templar adalah empat tahun sebelumnya, yakni tahun 1114. Pendapat ini berlandaskan pada sepucuk surat yang ditulis Uskup Chartres kepada Count Campagne, sebelum keberangkatan Count tersebut ke Yerusalem di tahun 1114. Dalam suratnya Uskup tersebut antara lain menulis, “Kami telah mendengar bahwa… sebelum meninggalkan Yerusalem, Anda telah bersumpah untuk bergabung dengan ‘la milice du Christ’, Anda berharap mendaftarkan diri untuk menjadi tentara gereja.” Istilah ‘La malice du Christ’ merupakan sebuah nama yang dipakai Ksatria Templar di masa-masa awal. Uskup Chartres sendiri meningal tahun 1115. Jadi pendapat ini yang agaknya lebih meyakinkan tentang kapan tahun berdirinya Knights Templar.





Dihadapan King Baldwin dan para pembesar lainnya, kesembilan ksatria[1] itu menyatakan siap menjaga keamanan jalan-jalan kecil dan jalan raya yang biasa dilalui para peziarah dari kota pelabuhan Jaffa menuju Kota Suci Yerusalem, jalur peziarah sepanjang 38 mil. Raja Baldwin begitu terpesona dengan kesungguhan dan janji mereka sehingga mempercayai kesembilan ksatria ini serta menyerahkan sayap istana sebelah kirinya sebagai tempat tinggal para ksatria itu.

Kamar-kamar para Ksatria Templar yang diberikan oleh King Baldwin ternyata berdiri di atas Kuil Sulaiman.


Di sini timbul pertanyaan, apakah memang King Baldwin  yang memberikan wilayah itu kepada mereka tanpa sengaja atau sekadar kebetulan, atau para Ksatria Kuil itu yang meminta wilayah tersebut dengan berbagai dalih. Dari ‘markas’ mereka yang dibangun di atas Kuil Sulaiman itulah nama The Knights Templar muncul. Dari kamar-kamar itulah secara diam-diam para Templar melakukan penggalian ke bawahnya guna mencari harta karun yang diyakininya.

Menurut penelitian Lynn Picknett dan Olivia Prince, Hughues de Payens dan kedelapan ksatria Templar lainnya sesungguhnya merupakan anggota dari Gereja Yohanit (gereja yang mengakui Yohanes Pembaptis sebagai Kristus, bukan Yesus).[2]

Ksatria Templar ini memiliki banyak segel resmi, namun yang paling popular adalah segel yang menggambarkan dua orang ksatria tengah menunggang seekor kuda dari Bertrand de Blanchefort. Ada pendapat yang menyatakan bahwa gambaran ini mewakili kondisi Ksatria Templar itu sendiri yang berjanji akan selalu hidup dalam kemiskinan.

Namun pendapat ini segera dibantah oleh yang lainnya, karena berdasarkan banyak catatan sejarah Perang Salib, Ksatria Templar ini ternyata hidup bergelimang harta dan bahkan organisasi inilah yang mendirikan lembaga simpan-pinjam uang dan harta pertama di dunia yang di kemudian hari dikenal sebagai sistem perbankan konvensional yang ada sekarang.

Oleh Paus, Ksatria Templar ini memang diberi kebebasan—dibanding ordo lainnya—untuk bisa memungut pajak dari wilayah yang dikuasainya. Bagi sejarahwan yang mengamini pandangan kedua, simbol dua orang ksatria menunggang seekor kuda dinilai lebih sebagai simbol kekikiran Ksatria Kuil tersebut, bukan kemiskinan.

Selain segel resmi, Ksatria Templar juga mempunyai motto organisasi yang kalimatnya mencerminkan kebuasan mereka terhadap musuh-musuhnya dalam Perang Salib, yakni kaum Muslim. Motto itu berbunyi: “Rubet en sii sanguinis araborum” (Merahkan pedang agungmu dengan darah orang Arab).

Alasan para Ksatria Templar untuk menjaga rute peziarah dari Jaffa ke Yerusalem di hadapan King Baldwin oleh sejumlah sejarahwan dianggap sangat mengada-ada. Bagaimana mungkin dengan hanya mengandalkan sembilan orang—Templar mengaku tidak menambah personilnya selama sembilan tahun sejak menempati sayap kiri Istana King Baldwin—akan mampu menjaga keseluruhan rute ziarah tersebut yang sangat panjang (38 mil), luas, dan terdiri dari bukit-bukit serta lembah.



Dan sesungguhnya, alasan utama para Templar pergi ke Yerusalem adalah untuk melakukan penelitian dan penggalian harta karun yang diyakininya begitu berharga yang tersimpan di bawah Kuil Sulaiman Kuno.[3]

Sejarawan Prancis bernama Ghaetan de Laforge juga mempunyai kesamaan pandangan. De Laforge menyatakan, “Tugas sebenarnya dari sembilan ksatria itu adalah melakukan penyelidikan di daerah tersebut untuk mendapatkan berbagai barang peninggalan dan naskah yang berisi intisari dari tradisi-tradisi rahasia Yahudi dan Mesir kuno.[4]

Apalagi setelah para peneliti, di antaranya Charles Wilson pada abad ke-19, menemukan bukti-bukti arkeologis ketika melakukan riset arkeologis di Yerusalem berupa jejak-jejak penggalian dan eskavasi di bawah pondasi kuil tersebut. Menilik jenis dan bentuk alat-alat pengalian tersebut dan beberapa peninggalan arkeologis lainnya, Wilson sampai pada kesimpulan bahwa alat-alat tersebut merupakan peninggalan dari Ksatria Templar. Peninggalan-peninggalan ini kemudian dijadikan salah satu koleksi dari Robert Byrdon yang memang memiliki koleksi cukup banyak tentang Templar.[5]

Para peneliti menyatakan bahwa riset dan penggalian yang dilakukan para Templar ini menemukan hasil. Hal tersebut berangkat dari catatan bahwa sejak sejak di Yerusalem inilah, Ksatria Templar yang semula berasal dari para ksatria Kristen ternyata di kemudian hari mengadopsi suatu ajaran, filsafat, dan keyakinan yang sama sekali berbeda dengan Gereja.

Sangat mungkin, selain harta benda yang diketemukan oleh para Templar, ada sesuatu yang mengubah cara pandang Templar terhadap kehidupan dan keyakinannya. Menurut sejumlah kalangan, ‘sesuatu’ itu diyakini sebagai Kabbalah, sebuah ajaran mistik kuno yang berurat-akar pada sejarah para Fir’aun di zaman Mesir kuno.

Pencarian terhadap harta karun ini sekilas bisa dilihat dalam film “National Treasure’ (2004), di mana para Ksatria Templar telah menemukan gudang harta karun yang amat sangat besar dan berharga, di mana dikatakan bahwa karena saking banyaknya maka harta karun ini bukanlah milik seseorang bahkan untuk seorang raja pun.

Selain “National Treasure”, film lain yang juga menggambarkan keyakinan masyarakat umum di Barat tentang ‘harta karun’ ini bisa dilihat di dalam “Indiana Jones and The Last Crusade” yang mengisahkan perburuan The Holy Grail sebagai harta karun tersebut. Menurut Indiana yang diperankan Harrison Ford, “The Holy Grail telah diamankan oleh Yusuf Arimatea dan setelah itu kisahnya tidak terdengar lagi hingga seribu tahun kemudian, ketika tiga orang Ksatria Templar menemukan The Holy Grail itu di Kuil Sulaiman dan mereka mengamankannya hingga kini.”

Pandangan bahwa para Templar ini mengalami perubahan orientasi selama di Yerusalem tentu saja bisa diterima, walau juga harus dipertanyakan kembali bahwa bukankah Ksatria Templar tersebut pergi ke Yerusalem, menghadap King Baldwin dengan suatu dalih, lalu diperbolehkan tinggal di atas kuil Sulaiman kuno, itu semua dimotivasi oleh semangat pencarian harta harun atau sesuatu yang dianggap sangat berharga?

Jika demikian, sebenarnya para Templar itu sebelum pergi ke Yerusalem, mereka sudah memiliki pengetahuan yang cukup tentang hal ini. Jadi, pandangan yang menyatakan para Templar ini mengalami ‘perubahan keyakinan dan filsafat hidup’ sejak berada di Yerusalem dan menemukan ‘sesuatu’ agaknya patut ditinjau kembali.

Bukankah para Ksatria Templar itu pergi ke Yerusalem sudah dalam kondisi in-mission? Apalagi jika kita menengok ke belakang Templar di mana berdiri Ordo Biara Sion yang juga tidak kalah misteriusnya. Walau sulit untuk mencari pembuktiannya, namun banyak catatan dan literatur meyakini bahwa keberadaan Biara Sion dan Ksatria Templar di Yerusalem sesungguhnya adalah dalam rangka menjaga ‘sesuatu yang paling berharga’ dan juga mencari ‘sesuatu yang belum ditemukan’ yang diyakini mereka berada di bawah reruntuhan Kuil Sulaiman (Solomon’s Temple). Mereka diduga kuat tengah menjalankan misi suci yang diperintahkan Majelis Tertinggi Ordo Kabbalah yang keberadaannya lebih rahasia dan misterius, yang berada di atas para Sanhedrin—pendeta tertinggi Yahudi—sekali pun.

Apakah ‘sesuatu’ itu Cawan Suci (The Holy Grail) yang berisi darah Yesus Kristus di mana menurut kepercayaan pagan Yahudi siapa pun yang mendapatkannya akan menjadi panjang usia, kaya raya, berpengaruh, dan memiliki kekuasaan atas semua bangsa di dunia? Inikah motivasi sesungguhnya? Lalu bagaimana dengan kabar yang menyatakan bahwa The Holy Grail itu sendiri adalah Maria Magdalena, perempuan bangsawan yang dinikahi Yesus dan melahirkan keturunannya? Adakah di bawah Kuil Sulaiman itu tertanam jasad seorang Maria Magdalena?

Pertanyaan demi pertanyaan akan mengemuka tiada habisnya. Dan untuk mencari jawabannya juga sangat sulit mengingat tidak ada literatur yang mengetahui pasti atau mencatatnya. Yang bisa dilakukan paling-paling adalah menarik hipotesis dari mosaik yang didapatkan. Dan susahnya lagi, siapa pun tidak mengetahui secara pasti seberapa besar gambar yang harus disusun dari mosaik-mosaik yang terus bermunculan dan diketemukan.  (Bersambung/Rizki Ridyasmara)Sumber

[1] Nama-nama kesembilan Ksatria Templar itu adalah: Hughues de Payens, Geoffrey de Saint Olmer, Rossal, Gondamer, Geoffrey Bisol, Payen de Montdidier, Archambaud de Saint Agnat, Andre de Montbard, dan Hugh Conte de Champagne (Harun Yahya; The Knights Templars;2002).
[2] Lynn Picknett dan Olive Prince; The Templar Revelation; hal. 258.
[3] Christopher Knight and Robert Lomas: The Hiram Key; Arrow Books; 1997; hal.37
[4] Delaforge; The Templar Tradition in the Age of Aquarius; The Hiram Key; hal.37
[5] Charles Wilson; The Excavation of Jerusalem; The Hiram Key; hal.38

Guna mendapatkan gambaran yang relatif lebih baik tentang Ksatria Templar, kita mau tidak mau harus menelusuri peristiwa Perang Salib, sebuah peristiwa yang berjalan dalam rentang waktu yang cukup lama dan memiliki arti yang sangat besar dalam hubungan antara Islam dengan Kristen, bahkan hingga hari ini.

Dalam Perang Saliblah nama Ksatria Templar muncul pertama kali dan menjadi begitu terkenal, baik karena misterinya maupun karena sikapnya yang sungguh-sungguh haus darah. Perang Salib yang diawali dengan pidato berapi-api Paus Urban II tidak bisa terpisah dari peristiwa penyerahan kunci kota suci Yerusalem dari Uskup Sophronius kepada Khalifah Umar bin Khattab yang berjalan dengan sangat damai. Walau demikian, penyerahan ini menimbulkan dendam kesumat Barat terhadap umat Islam, yang kian bertambah ketika mereka terpojok dan tidak mampu memenangkan pertempuran melawan kaum Muslimin di akhir episode Perang Salib.

Dendam ini terbawa ke dalam alam bawah sadar Barat dan mengendap hingga kini.

PEMBEBASAN YERUSALEM

Sekitar empat abad sebelum Perang Salib pertama meletus, setelah terjadinya perang Yarmuk, pasukan kaum Muslimin meneruskan ekspedisi pembebasan wilayah-wilayah ke seluruh negeri. Pasukan induk kaum Muslimin yang berada di bawah komando Abu Ubaidah dan Khalid bin Walid meneruskan gerakan mereka ke bagian utara negeri Syam,[1] sementara itu beberapa kontingen pasukan Islam di bawah komando Amru bin Ash dan Shurabbil tetap bertahan di wilayah selatan negeri Syam, yang meliputi Yordania dan Palestina.

Mengetahui induk pasukan Islam bergerak  meninggalkan Yarmuk, Artabunus, Gubernur Imperium Romawi Timur, Bizantium, yang kala itu merupakan salah satu negara super power dunia di samping Imperium Persia, menghimpun pasukannya kembali di Ajnadin untuk mengadakan serangan balasan guna mengusir pasukan Muslim yang masih ada di Suriah. Pertarungan Palagan Ajnadin yang berlangsung sampai di penghujung tahun 636 M berlangsung dengan sangat ganas dan akhirnya dimenangkan oleh pasukan Muslim. Artabunus dan sisa pasukannya kabur ke Yerusalem.

Dari Ajnadin, pasukan Muslim bergerak ke seluruh penjuru Yordania dan Palestina. Kota-kota Sabtah, Gaza, Nablus, Bait-Jibril, dan lainnya berhasil dibebaskan oleh pasukan Muslim. Pembebasan Yerusalem tinggal menunggu waktu. Kota suci bagi tiga agama itu dipertahankan dengan sangat kuat. Kota Yerusalem dikelilingi tembok tinggi yang kokoh dan di bagian luarnya digali parit-parit yang dalam dan terjal. Jika musuh menyerang, maka parit-parit iu akan segera diisi dengan minyak panas atau sulfur yang membara. Siapa pun yang menyerang Yerusalem, maka ia pasti akan mendapatkan kerugian yang amat banyak.

Saat pasukan Muslim mendekati Yerusalem di awal tahun 637 M, musim dingin masih menusuk tulang. Walau demikian, pengepungan terhadap kota ini terus dilakukan dengan sangat ketat. Amru bin Ash, panglima Muslim di wilayah selatan, tidak tega membiarkan pasukannya berlama-lama mengepung Yerusalem dalam kondisi kedinginan seperti itu. Ia ingin operasi pembebasan Yerusalem cepat dituntaskan. Amru bin Ash lalu menulis sepucuk surat minta bala-bantuan kepada panglima Abu Ubaidah di Suriah. Saat itu, seluruh utara Suriah sudah dibebaskan pasukan Muslim hingga Abu Ubaidah dengan cepat bisa mengirimkan pasukan bantuan guna mendukung gerak pasukan Islam di wilayah Selatan.

Berita kedatangan bala bantuan kepada pasukan Muslim yang tengah mengepung kota membuat pasukan dan warga Kristen dan Yahudi yang berdiam di dalam kota menjadi ciut. Mengingat kedudukan Yerusalem sebagai kota suci, sebenarnya pasukan Muslim enggan menumpahkan darah di kota itu. Sementara kaum Kristen yang mempertahankan kota itu juga sadar mereka tidak akan mampu menahan kekuatan pasukan Muslim. Menyadari memperpanjang perlawanan hanya akan menambah penderitaan yang sia-sia bagi penduduk Yerusalem, maka Patriarch Yerusalem, Uskup Agung Sophronius mengajukan perjanjian damai. Permintaan itu disambut baik Panglima Amru bin Ash, sehingga Yerusalem direbut dengan damai tanpa pertumpahan darah setetespun.

Walau demikian, Uskup Agung Sophronius menyatakan kota suci itu hanya akan diserahkan ke tangan seorang tokoh yang terbaik di antara kaum Muslimin, yakni Khalifah Umar bin Khattab r.a. Sophronius menghenaki agar Amirul Mukminin tersebut datang ke Yerusalem secara pribadi untuk menerima penyerahan kunci kota suci tersebut. Biasanya, hal ini akan segera ditolak oleh pasukan yang menang. Namun tidak demikian yang dilakukan oleh pasukan kaum Muslimin. Bisa jadi, warga Kristen masih trauma dengan peristiwa direbutnya kota Yerusalem oleh tentara Persia dua dasawarsa sebelumnya di mana pasukan Persia itu melakukan perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, dan juga penajisan tempat-tempat suci.



Walau orang-orang Kristen telah mendengar bahwa perilaku pasukan kaum Muslimin ini sungguh-sungguh berbeda, namun kecemasan akan kejadian dua dasawarsa dahulu masih membekas dengan kuat. Sebab itu mereka ingin jaminan yang lebih kuat dari Amirul Mukminin sendiri.

Panglima Abu Ubaidah memahami psikologis penduduk Yerusalem tersebut. Ia segera meneruskan permintaan tersebut kepada Khalifah Umar r.a yang berada di Madinah. Khalif Umar segera menggelar rapat Majelis Syuro untuk mendapatkan nasehatnya. Usaman bin Affan menyatakan bahwa Khalifah tidak perlu memenuhi permintaan itu karena pasukan Romawi Timur yang sudah kalah itu tentu akhirnya juga akan menyerahkan diri.

Namun Ali bin Abi Thalib berpandangan lain. Menurut Ali, Yerusalem adalah kota yang sama sucinya bagi umat Islam, Kristen, dan Yahudi, dan sehubungan dengan itu, maka akan sangat baik bila penyerahan kota itu diterima sendiri oleh Amirul Mukminin. Kota suci itu adalah kiblat pertama kaum Muslimin, tempat persinggahan perjalanan Rasulullah SAW pada malam hari ketika beliau berisra’ dan  dari kota itu pula Rasulullah bermi’raj. Kota itu menyaksikan hadirnya para anbiya, seperti Nabi Daud, Nabi Sulaiman, dan Nabi Isa a.s. Umar akhirnya menerima pandangan Ali dan segera berangkat ke Yerusalem.

Sebelum berangkat, Umar menugaskan Ali untuk menjalankan fungsi dan tugasnya Madinah selama dirinya tidak ada.

Kepergian Khalifah Umar hanya ditemani seorang pelayan dan seekor unta yang ditungganginya bergantian. Ketika mendekati Desa Jabiah di mana  panglima dan para komandan pasukan Muslim telah menantikannya, kebetulan tiba giliran pelayan untuk menunggang unta tersebut. Pelayan itu menolak dan memohon agar khalifah mau menunggang hewan tersebut. Tapi Umar menolak dan mengatakan bahwa saat itu adalah giliran Umar yang harus berjalan kaki.

Begitu sampai di Jabiah, masyarakat menyaksikan suatu pemandangan yang amat ganjil yang belum pernah terjadi, ada pelayan duduk di atas unta sedangkan tuannya berjalan kaki menuntun hewan tunggangannya itu dengan mengenakan pakaian dari bahan kasar yang sangat sederhana. Lusuh dan berdebu, karena telah menempuh perjalanan yang amat jauh.

Di Jabiah, Abu Ubaidah menemui Khalif Umar. Abu Ubaidah sangat bersahaya, mengenakan pakaian dari bahan yang kasar. Khalif Umar amat suka bertemu dengannya. Namun ketika bertemu dengan Yazid bin Abu Sofyan, Khalid bin Walid, dan para panglima lainnya yang berpakaian dari bahan yang halus dan bagus, Umar tampak kurang senang karena kemewahan amat mudah menggelincirkan orang ke dalam kecintaan pada dunia.

Kepada Umar, Abu Ubaidah melaporkan kondisi Suriah yang telah dibebaskannya itu dari tangan Romawi Timur. Setelah itu, Umar menerima seorang utusan kaum Kristen dari Yerusalem. Di tempat itulah Perjanjian Aelia (istilah lain Yerusalem) dirumuskan dan akhirnya setelah mencapai kata sepakat ditandatangani. Berdasarkan perjanjian Aelia itulah Khalifah Umar r.a menjamin keamanan nyawa dan harta benda segenap penduduk Yerusalem, juga keselamatan gereja, dan tempat-tempat suci lainnya. Penduduk Yerusalem juga diwajibkan membayar jizyah bagi yang non-Muslim.

Barangsiapa yang tidak setuju, dipersilakan meninggalkan kota dengan membawa harta-benda mereka dengan damai. Dalam perjanjian itu ada butir yang merupakan pesanan khusus dari pemimpin Kristen yang berisi dilarangnya kaum Yahudi berada di Yerusalem. Ketentuan khusus ini berangsur-angsur dihapuskan begitu Yerusalem berubah dari kota Kristen jadi Kota Muslim.

Perjanjian Aelia secara garis besar berbunyi: “Inilah perdamaian yang diberikan oleh hamba Allah ‘Umar, Amirul Mukminin, kepada rakyat Aelia: dia menjamin keamanan diri, harta benda, gereja-gereja, salib-salib mereka, yang sakit maupun yang sehat, dan semua aliran agama mereka. Tidak boleh mengganggu gereja mereka baik membongkarnya, mengurangi, maupun menghilangkannya sama sekali, demikian pula tidak boleh memaksa mereka meninggalkan agama mereka, dan tidak boleh mengganggu mereka. Dan tidak boleh bagi penduduk Aelia untuk memberi tempat tinggal kepada orang Yahudi.” (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber

[1] Pada abad ke-7 hingga kehadiran kolonialisme Inggris di Timur Tengah pada abad ke-19 meliputi wilayah Palestina, Yordania, dan Suriah.

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template