Rabu, 14 Januari 2015

NWO Untold, Sejarah Rahasia dan Tersembunyi Freemasonry dan Illuminati (3)

Setelah itu, Umar melanjutkan perjalanannya ke Yerusalem. Lagi-lagi ia berjalan seperti layaknya seorang musafir biasa. Tidak ada pengawal. Ia menunggang seekor kuda yang biasa, dan menolak menukarnya dengan tunggangan yang lebih pantas.

Di pintu gerbang kota Yerusalem, Khalifah Umar disambut Partiarch Yerusalem, Uskup Agung Sophronius, yang didampingi oleh pembesar gereja, pemuka kota, dan para komandan pasukan Muslim. Para penyambut tamu agung itu berpakaian berkilau-kilauan, sedang Umar hanya mengenakan pakaian dari bahan yang kasar dan murah. Sebelumnya, seorang sahabat telah menyarankannya untuk mengganti dengan pakaian yang pantas, namun Umar berkata bahwa dirinya mendapatkan kekuatan dan statusnya berkat iman Islam, bukan dari pakaian yang dikenakannya. Saat Sophronius melihat kesederhanaan Umar, dia menjadi malu dan mengatakan, “Sesungguhnya Islam mengungguli agama-agama mana pun.”

Di depan The Holy Sepulchure (Gereja Makam Suci Yesus), Uskup Sophronius menyerahkan kunci kota Yerusalem kepada Khalifah Umar r.a. Setelah itu Umar menyatakan ingin diantar ke suatu tempat untuk menunaikan shalat tasyakur. Oleh Sophronius, Umar diantar ke dalam gereja tersebut. Umar menolak kehormatan itu sembari mengatakan bahwa dirinya takut hal itu akan menjadi preseden bagi kaum Muslimin generasi berikutnya untuk mengubah gereja-gereja menjadi masjid. Umar lalu dibawa ke tempat di mana nabi Daud a.s konon dipercaya sholat dan Umar pun sholat di sana dan diikuti oleh umat Muslim.

Ketika orang-orang Romawi Bizantium menyaksikan hal tersebut, mereka dengan kagum berkata, kaum yang begitu taat kepada Tuhan memang sudah sepantasnya ditakdirkan untuk berkuasa. “Saya tidak pernah menyesali menyerahkan kota suci ini, karena saya telah menyerahkannya kepada ummat yang lebih baik…,” ujar Sophronius.

Umar tinggal beberapa hari di Yerusalem. Ia berkesempatan memberi petunjuk dalam menyusun administrasi pemerintahan dan yang lainnya. Umar juga mendirikan sebuah masjid pada suatu bukit di kota suci itu. Masjid ini sekarang disebut sebagai Masjid Umar. Pada upacara pembangunan masjid itu, Bilal r.a.—bekas budak berkulit hitam yang sangat dihormat Khalifah Umar melebihi dirinya—diminta mengumandangkan adzan pertama di bakal tempat masjid yang akan didirikan, sebagimana adzan yang biasa dilakukannya ketika Rasulullah masih hidup. Setelah Rasulullah SAW wafat, Bilal memang tidak mau lagi mengumandangkan adzan. Atas permintaan Umar, Bilal pun melantunkan adzan untuk menandai dimulainya pembangunan Masjid Umar.

Saat Bilal mengumandangkan adzan dengan suara yang mendayu-dayu, Umar dan kaum Muslimin meneteskan airmata, teringat saat-saat di mana Rasulullah masih bersama mereka. Ketika suara adzan menyapu bukit dan lembah Yerusalem, penduduk terpana dan menyadari bahwa suatu era baru telah menyingsing di kota suci tersebut.

PERANG SALIB

Walau demikian, penyerahan kota suci Yerusalem oleh Uskup Agung Sophronius yang mewakili Gereja Katolik Romawi Bizantium (Timur), diam-diam telah menimbulkan dendam di dada Gereja Katolik Romawi Barat. Perjanjian Aelia yang menancapkan perdamaian antara umat Islam dengan umat Kristen ternyata tidak langgeng. Paus Urbanus II-lah bersama Peter si Pertapa (Peter the Hermit) yang mengakhiri perdamaian itu dan menggali kapak peperangan dengan mengirimkan ekspedisi tentara Salib pertama ke Yerusalem untuk merebut kota suci itu dari tangan kaum Muslimin.

Nama Paus Urban II begitu dikenal dalam sejarah Gereja maupun dunia. Pidatonya yang begitu berapi-api pada tahun 1095 di Clermont, Tenggara Perancis, sangat fenomenal karena mengakhiri masa perdamaian panjang antara Dunia Kristen dengan Dunia Islam dengan menyerukan Perang Salib. Paus Urban II berteriak, “Deus Vult!” Inilah kehendak Tuhan! Maka ratusan ribu orang-orang Kristen Eropa tumpah-ruah menjadi tentara salib dan berbondong-bondong mengalir menuju ke Yerusalem yang hanya dihalangi Lautan Tengah.



Mengapa tiba-tiba Paus Urban II mengobarkan Perang Salib? Mengapa seruan yang sebenarnya mengerikan ini begitu disambut dengan gemuruh oleh orang-orang Kristen di Eropa? Benarkah motivasi orang-orang Kristen—dan Paus Urban II sendiri—adalah murni ingin merebut Kota Suci Yerusalem dari kekuasaan orang-orang Islam? Benarkah Perang Salib semata didasari iman Kristiani? Lantas siapa sebenarnya Peter si Pertapa yang mendampingi Paus Urban II dan memprovokasinya? Adakah Peter si Pertapa merupakan salah seorang anggota cikal bakal Ordo Sion? Adakah Peter merupakan seseorang suruhan dari Majelis Tertinggi Ordo Kabbalah? Pertanyaan ini akan membawa kita menelusuri sebuah kisah yang terjadi di tahun 1070, duapuluh sembilan tahun sebelum Perang Salib I dikobarkan.

Suatu hari, ketenangan dan kesunyian yang ada di sekitar Hutan Ardennes, Belgia, terusik dengan bunyi gemuruh derap puluhan ekor kuda yang berlari kencang. Debu-debu beterbangan ke udara. Burung-burung mengepakkan sayap keluar dari sarang. Hewan-hewan kecil berlarian menghindari jalan tanah yang penuh dilalui kuda-kuda yang berlari dengan cepat. Satu kesatuan biarawan khusus dari Calabria, Italia selatan, pimpinan Ursus tiba di dekat hutan. Hutan Ardennes merupakan bagian dari kekuasaan Godfroi de Bouillon. Setibanya di tempat itu, biarawan-biarawan dari Calabria yang dipimpin seorang tokoh keturunan Dinasti Merovingian langsung mendapat sambutan hangat dari Duchess of Lorraine. Bahkan oleh penguasa daerah itu, para biarawan dari Calabria tersebut diangkat menjadi pemimpin.  Duchess of Lorraine adalah ibu angkat dari Godfroi de Bouillon yang bernama Mathilde de Toscane (Mathilda dari Tuscany).[1]

Masih menurut The Holy Blood and the Holy Grail, para biarawan tersebut diberi sebidang tanah dari Mathilde yang terletak di Orval, tidak jauh dari Stenay, sebuah tempat di mana Dagobert II dibunuh lima abad silam. Di atas tanah tersebut didirikan sebuah gereja yang dipergunakan sebagai tempat tinggal mereka. Tigapuluh delapan tahun kemudian, 1108, para biarawan dari Calabria tersebut meninggalkan gereja dan Ardennes secara misterius. Menurut penduduk setempat, konon mereka kembali ke Calabria. Pada tahun 1131, Orval menjadi salah satu tanah milik Saint Bernard.

Kedatangan para ksatria misterius ini disambut layaknya saudara dekat yang sudah lama tidak bertemu oleh tuan rumah, Mathilde de Toscane. Para Biarawan dari Calabria ini sangatlah mungkin kelompok dari Ordo Putih Kabbalah, seperti halnya Godfroi de Bouillon.

Sebelum meninggalkan Orval, para biarawan Callabria ini sempat memasukkan salah satu anggotanya, Peter si Pertapa, ke dalam kehidupan keluarga Mathilde de Toscane. Peter menjadi pembimbing ruhani sekaligus penasehat Godfroi de Bouillon. Dengan cepat Peter diterima oleh petingggi Gereja. Pada tahun 1095, bersama Paus Urbanus II, Peter memberikan khotbahnya yang berapi-api yang menekankan pentingnya Dunia Kristen mengakhiri perjanjian damai dengan Kaum Muslimin dan mengobarkan Perang Salib guna merebut kembali Kota Suci Yerusalem. Sejarah telah mencatat, salah satu pencetus Perang Salib selain Paus Urbanus II adalah Peter si Pertapa.

Latar belakang peristiwa yang terjadi dalam Dunia Kristen sebelum Paus Urbanus II dan Peter mengeluarkan pidato yang menghendaki Perang Salib digelorakan, patut dilihat. Pada tahun 1054, lebih kurang 40 tahun sebelum Perang Salib diserukan, Gereja Katolik dilanda perpecahan besar (Schisma) yang mengancam otoritas gereja ini menjadi dua bagian: Gereja Katolik Barat yang berkedudukan di Vatikan, dan Gereja Katolik Timur yang berkedudukan di Konstantinopel. Yang pertama dikemudian hari sering disebut sebagai Gereja Katolik Roma, dan yang kedua dikenal sebagai Gereja Katolik Ortodoks.

Para petinggi Vatikan termasuk Paus Urbanus II terlibat sangat aktif dalam polemik hak penobatan (Controversi Investiture). Selain itu, Gereja Katolik Ortodoks yang berada di wilayah kekuasaan kekaisaran Romawi Bizantium dianggap sebagai batu ganjalan bagi Katolik Roma dan Eropa Barat untuk melakukan perdagangan secara langsung dengan kawasan timur yakni Dunia Islam.

Faktor lain yang juga menjadi latar belakang Perang Salib adalah anggapan bahwa Palestina merupakan hak milik Dunia Kristen, bagian dari negeri-negeri Kristen (The Christendom). Palestina saat itu tengah berada dalam kekuasaan umat Islam di bawah Dinasti Seljuk. Terlebih setelah kemenangan Dinasti Seljuk atas Romawi Bizantium dalam Perang Manzikert pada tahun 1071, Kaisar Romawi Timur Alexei Comnenus merasa posisinya kian terjepit.

Kepentingan Eropa ini, merebut Yerusalem, ternyata sama dengan kepentingan dari Ordo Kabbalah yang hendak kembali menguasai Palestina guna mendirikan kembali Haikal Sulaiman sebagai Tahta Suci kepercayaan paganis mereka. Mereka percaya, Sulaiman adalah sahabat para Iblis termasuk Lucifer, sebab dalam kitab-kitab Ilahiah pun disebutkan bahwa setan termasuk bagian dari tentaranya Nabi Sulaiman a.s., selain bangsa jin. Penjaga harta karun Haikal Sulaiman saja disebut sebagai Asmodeus, setan penjaga harta karun. Sebab itu, lewat perantaraan Peter Sang Pertapa, Ordo Kabbalah memprovokasi Paus Urbanus II agar mengakhiri perjanjian damai Aelia dan mengobarkan Perang Salib. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber
[1] Michael Baigent, Richard Leigh, Henry Lincoln; Holy Blood, Holy Grail; hal. 124.


Sangat kebetulan, saat itu Kaisar Alexius Comnenus sangat memerlukan pertolongan. Ia lalu teringat kejadian beberapa tahun sebelumnya, saat itu serombongan ksatria dari Barat pimpinan Pangeran Robert de Flanders kembali dari Palestina dan melewati Bizantium. Kaisar Comnenus merasa sangat takjub melihat para ksatria ini yang diyakininya telah memiliki pengalaman tempur yang memadai. Sebab itu, Kaisar Alexei Comnenus segera melayangkan surat permintaan bala bantuan kepada Paus Urbanus II. Ia memerlukan setidaknya 1200 orang pasukan.

Ketika surat permohonan bantuan dari Kaisar Alexei Comnenus sampai di tangannya, Paus Urbanus II sangat bergembira. Paus memang sejak lama memikirkan bagaimana upaya menyingkirkan ‘Paus’ saingannya dalam Controversi Investitur. Dengan adanya surat ini, maka terbukalah kesempatan Paus Urbanus II untuk mengirimkan pasukan perang ke timur. Didampingi Peter si Pertapa, Paus Urbanus II segera menggelar satu pertemuan di Aurillac, Perancis, dan dengan berapi-api Paus Urbanus II menyatakan bahwa sekaranglah saatnya bagi Dunia Kristen untuk mengangkat senjata memerangi Kesultanan Turki Seljuk.

Dalam pidatonya itu, Paus Urbanus II menggunakan kata-kata yang menggugah orang-orang Kristen Barat agar merebut kembali Yerusalem dari apa yang dikatakannya sebagai pendudukan oleh umat Islam yang dianggapnya kaum penyembah berhala, yang menyembelih orang-orang Kristen, dan menghancurkan gereja-gereja di Yerusalem. Semuanya ini sebenarnya dusta belaka. Iman Kristiani ditekankan.

Paus juga menjanjikan kepada siapa pun yang ikut dalam penyerangan angkatan salib akan menerima ampunan atas segala dosa mereka dan ‘mahkota’ yang besar dan agung di surga kelak jika terbunuh. Paus Urbanus II berkali-kali menegaskan hal itu di dan mengatakan jika itu semua ada di dalam tangannya sebagai pewaris Tahta Suci Santo Petrus.

Pidato Paus Urbanus II yang penuh hasutan itu segera disambut gegap-gempita oleh khalayak. Paus Urbanus II menyembunyikan maksud sebenarnya dari pidatonya tersebut yang sesungguhnya ingin menyingkirkan saingannya di Timur dan memasukkan Gereja Katolik Timur ke dalam kekuasaan Gereja Katolik Barat.

Selain itu, Paus Urban II juga menyadari bahwa orang-orang Eropa yang berada di wilayah Perancis, Inggris, Spanyol, Italia, dan sebagainya sesungguhnya telah jemu dengan konflik antar sesama, dengan para tuan tanah, dengan masyarakat feodal, dengan para perampok, dan lainnya. Orang Eropa sudah jemu dengan segalanya ini. Roda perekonomian pun berjalan statis karena jalur perdagangan ke kawasan Timur tersendat oleh keberadaan Gereja Katolik Bizantium.

“Mereka memerlukan musuh bersama,” demikian pikir Paus Urbanus II. Maka dengan ‘kata-kata berapi sedikit’ sudah cukup untuk membuat orang-orang Eropa ini bersatu untuk bersama-sama menyusuri selatan Eropa dan menyeberangi Lautan Tengah menuju Yerusalem.

Donald Queller, seorang professor sejarah dari Universitas Illinois-AS, menyatakan, “Ksatria-ksatria Perancis menginginkan lebih banyak tanah. Pedagang-pedagang Italia berharap untuk mengembangkan perdagangan di pelabuhan-pelabuhan Timur Tengah… Sejumlah besar orang-orang miskin bergabung dengan ekspedisi sekadar untuk melarikan diri dari kerasnya kehidupan sehari-hari mereka.”[1]

Sepanjang jalan menuju Yerusalem, gerombolan yang serakah, buas, dan sama sekali tidak terorganisir dengan baik, ini melakukan perampokan dan pembunuhan terhadap orang-orang Yahudi dan Islam. Betapa serakahnya mereka kepada harta, mereka bahkan membelah perut-perut korbannya dengan pedang untuk menemukan emas dan permata yang menurut mereka mungkin sekali telah ditelan sebelum pergi berperang.

Bahkan karena keserakahannya ini, satu ironis dalam sejarah Perang Salib terjadi. Pasukan Salib ini tanpa sesal telah melakukan perampokan sebuah kota Kristen di Konstantinopel pada Perang Salib IV. Mereka masuk ke dalam gereja dan melucuti daun-daun emas dari lukisan-lukisan dinding Kristiani di Gereja Hagia Sophia, sebuah Gereja Kristen Byzantium. Beberapa benda berharga yang biasa dipakai saat kebaktian pun diambil mereka. Gereja pun ditinggalkan dalam keadaan hancur porak-poranda.




Pada tahun 1097, sekitar 150.000 orang, sebagian dari Jerman dan Normandia, dikerahkan dalam tiga angkatan di bawah pimpinan Godfroi de Bouillon, Raja Bohemond, dan Raja Raymond. Mereka bertemu di Konstantinopel. Ketika Godfroi de Bouillon berangkat ke Yerusalem, dirinya ditemani sekelompok orang tak dikenal yang bukan sekadar tentara tetapi juga berperan sebagai penasihat dan administrator.

Untuk menggalang lebih banyak pasukan perang, Paus Urbanus II menyerukan kepada kaum sekular Eropa untuk bergabung dengan mereka. Selain janji-janji surga, Paus juga menjamin Gereja akan melindungi kekayaan para bangsawan selama kepergian mereka ke Yerusalem. Namun barangsiapa ada yang tidak mau menunaikan tugas ini, maka Gereja akan menghukum mereka.

Angkatan Perang Salib I ini terdiri dari tiga kelompok: Kelompok pertama dipimpin Godfroi of Bouillon dari Lorraine dan saudaranya, Baldwin. Godfroi ini berdarah Yahudi dan ada yang menyebutkan bahwa Godfroi memeluk agama Kristen hanya sebagai upaya menyelamatkan diri agar tidak dikejar-kejar oleh Gereja. Kelompok kedua dipimpin Bohemond dari Normandia.

Malah ada pula keterangan bahwa Godfroi ini sesungguhnya merupakan seseorang yang diutus Majelis Tinggi Ordo Kabbalah untuk menguasai Yerusalem. Pasukan yang ketiga dipimpin Raymond IV dari Province, Perancis yang didampingi utusan pribadi Paus, Uskup Adheman. Raymond juga mengingatkan Paus akan pentingnya bantuan angkatan laut dari Genoa. Paus Urbanus II kemudian mengirim surat kepada Genoa dan segera mengirimkan sekitar duabelas kapal perang untuk mendukung pergerakan angkatan Salib ini.

John J. Robinson[2] sependapat dengan Donald E. Queller yang menyatakan tidak sepenuhnya motivasi orang Kristen pergi berperang adalah semata didasari iman Kristiani. Namun lebih didasari oleh tuntutan ekonomi dan mencari penghidupan yang lebih baik. Robinson malah menyinggung tentang Pangeran Emich von Leiningen, seorang Kristen yang taat karena di tubuhnya terdapat tanda lahir yang menyerupai tanda salib.

“Daging tubuh ini berasal dari ilahiah,” demikian Emich. Dalam perjalanannya menuju Yerusalem, pada bulan Mei 1096 Emich dan pasukannya melewati kota kecil Worms yang banyak dihuni orang Yahudi. Mereka melakukan perampokan terhadap rumah-rumah itu dan terhadap orang Yahudi yang tidak mau masuk Kristen maka mereka langsung membunuhinya. Sebelumnya, Emich juga telah melakukan hal yang sama di kota Speyer. “Merekalah kaum yang bertangungjawab atas kematian dan penyaliban Yesus, karena itu mereka pantas untuk mati atau bertaubat menjadi Kristen,” demikian Robinson mengutip pernyataan Emich.

Konstantinopel merupakan kota tempat bertemunya ketiga pasukan salib ini. Kaisar Alexius Comnenus menyatakan semuanya harus tunduk padanya. Awalnya Godfroi dan Raymond menentangnya, namun akhirnya menyepakati hal itu.

Pada permulaan 1097 tentara Salib mulai menyeberangi Selat Bosphorus bagai air bah. Mereka berkemah di Asia Kecil yang saat itu dikuasai Dinasti Seljuk, Asley Arsalan. Mula-mula mereka mengepung pelabuhan Nicea selama sebulan sampai jatuh ke tangan tentara Salib pada 18 Juni 1097.
Ini berarti Bizantium telah merebut kembali apa yang telah dikuasai dari Antiokia selama enam tahun. Tentara Bizantium di bawah pimpinan Kaisar Comnenus mengadakan perundingan dengan penguasa kaum Muslimin seputar penyerahan kota itu kepadanya, dengan jaminan muslim Turki akan diselamatkan. Ini mengejutkan tentara Salib karena didahului oleh kelihaian Kaisar Bizantium ini.

Tentara Salib terus maju. Pertempuran di Darylaeum meluas ke tenggara Nicea sampai akhir 1097. Tentara Salib meraih kemenangan karena Seljuk dalam kondisi lemah. Mereka berhasil memasuki selatan Anatolia dan Provinsi Torres. Di bawah pimpinan King Baldwin I, mereka mengepung Ruha yang penduduk Armenianya beragama Kristen. Rajanya, Turus, telah melantik Baldwin untuk menggantikannya setelah ia mati, sehingga Baldwin dapat menaklukan Ruha pada tahun 1098.

Bohemond menaklukan Antiokia, ibu kota lama Bizantium, pada tanggal 3 Juni 1098 setelah susah payah mengepungnya selama sembilan bulan. Antiokia termasuk benteng yang sangat kuat karena secara geografis sangat strategis dengan gunung-gunungnya yang mengelilingi sebelah utara dan timur, dan sungai yang membatasinya. Jatuhnya Antiokia dari kekuasaan Dinasti Seljuk disebabkan oleh berpecah-belah dan lambatnya bantuan dari Persia, serta terjadinya pengkhianatan di dalam Antiokia sendiri di mana orang Armenia yang Kristen ternyata memihak angkatan Salib. Bantuan logistik dan perlengkapan dari Inggris dan armada laut Genoa yang tiba di pelabuhan Suwaida semakin memperkuat tentara Salib. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber

[1] World Book Encyclopedia; Crusade; Donald E. Queller, Ph.D, Contributor; World Book; 1998.
[2] John J. Robinson; Born in Blood: The Lost Secrets of the Freemasonry; M. Evans & Co; NY; 1989.






Setelah penaklukan Antiokia, Bohemond menguasai daerah-daerah sekitarnya. Raymond menguasai barat daya Antiokia dan tidak mau menyerahkannya kepada Bohemond, karena sebenarnya ia pun berambisi menguasai seluruh Antiokia. Krisis ini baru bisa diselesaikan setelah Raymond diserahi pimpinan untuk penyerangan ke Yerusalem, karena ia mempunyai peluang untuk menguasai daerah yang lebih luas di tanah suci itu. Antiokia dikuasai tentara Salib selama kurang lebih seperempat abad.


Setahun setelah menaklukkan Antiokia, tentara Salib yang pertama telah sampai di depan tembok kota suci Yerusalem pada hari Selasa, 7 bulan Juni 1099. Kaum Muslimin yang berada di Yerusalem sama sekali tidak menyangka bahwa tentara Salib di hari itu akan mengepung Yerusalem. Menyadari bahaya yang tengah mengancam, Gubernur Mesir yang bertanggungjawab atas Yerusalem dengan cepat memerintahkan agar merusak dan meracuni sumber-sumber air yang ada di sekitar kota serta menggiring seluruh ternak untuk masuk ke dalam kota.

Segenap orang Kristen yang tadinya tinggal di dalam kota, diperintahkan untuk keluar dari kota. Ini dilakukan untuk menghindari pengkhianatan mereka seperti halnya ketika pasukan Salib menggempur Antiokia di mana orang-orang Kristen Armenia melakukan pengkhianatan dan membelot ke pihak pasukan Salib. Selain itu, siasat ini dilakukan juga untuk menambah kalut pasukan Salib dalam hal pemenuhan kebutuhan air dan minuman. Seorang Kristen yang tadinya tinggal di dalam kota Yerusalem bernama Gerard, kepala sebuah pondok bernama Amalfi, menghubungi pimpinan pasukan Salib dan memberikan informasi yang diketahuinya soal sistem pertahanan kota Yerusalem.

Di Palestina, memasuki bulan Juli adalah musim panas yang menyengat. Ini yang tidak diperhitungkan oleh pasukan Salib. Apalagi di sekitar kota Yerusalem sama sekali tidak ada pepohonan tinggi selain gurun pasir. Jelas, banyak pasukan Salib yang mengenakan baju zirah (baju perang yang terbuat dari besi) merasa tersengat panas dan kepayahan. Apalagi sumber air yang aman paling dekat letaknya sejauh delapanbelas kilometer dari lokasi perkemahan. Demikian pula dengan batang-batang pohon yang berasal dari hutan, hanya bisa diperoleh dari kawasan hutan dekat pantai Samaria yang berjarak belasan kilometer. Ini semua membuat pasukan Salib kalut. Apalagi di tengah keadaan yang kacau tersebut, tersiar berita bahwa Mesir akan mendatangkan bala bantuan pasukan Islam dalam jumlah besar ke Yerusalem.

Para petinggi pasukan Salib yang dipimpin Godfroi de Bouillon akhirnya menganggap pengepungan terhadap Yerusalem dalam waktu lama tidak akan menguntungkan dan malah akan bisa mendatangkan kekalahan telak bagi pasukannya. Sebab itu, satu-satunya jalan adalah dengan melancarkan serangan kilat, secara cepat dan besar-besaran, ke kota Yerusalem. Sekali pukul Yerusalem harus jatuh. Inilah Blitzkrieg gaya Godfroi de Bouillon.

Dengan kekuatan yang masih tersisa, tiga buah menara kayu didirikan dan didorong untuk merapat ke tembok kota Yerusalem yang menjulang tinggi. Sebelumnya, parit-parit yang mengelilingi kota diurug dengan pasir, batu, dan tanah. Mereka melakukan ini di bawah hujan panah dan gelontoran sulfur yang menyala yang ditumpahkan ke dalam parit-parit tersebut. Pasukan Salib yang selain berasal dari tentara regular juga banyak yang terdiri dari para kriminal Eropa ini mati-matian bahu-membahu berupaya mendorong tiga menara kayu agar sejajar dengan tembok kota.

Menjelang tengah malam, 13 Juli 1099, pasukan Raymond de Toulouse berhasil merapatkan menara ke tembok kota namun tidak berhasil memasangkan titian yang menghubungkan antara menaranya dengan tembok kota. Barulah menjelang matahari terbit di cakrawala pada 14 Juli 1099, pasukan Godfroi de Bouillon berhasil mendekatkan menara kayu dan memasang titian yang menghubungkannya ke tembok kota. Dari titian itu mengalirlah satu demi satu pasukan Salib yang segera disambut ayunan pedang dan tusukan tombak pasukan Islam. Perkelahian satu lawan satu pun tak terhindarkan. Darah tertumpah di sana-sini. Teriakan perang menggema di mana-mana bersahut-sahutan. Panji-panji dua pasukan berkibaran dan bertumbangan.

Peperangan berlangsung berjam-jam. Saat tengah hari, barulah pasukan Godfroi berhasil menduduki gigir tembok. Dengan cepat mereka menurunkan tangga-tangga panjang yang segera dipanjat ratusan pasukan Salib lainnya yang masih ada di bawah. Setelah cukup banyak pasukan Salib yang menguasai gigir tembok dan turun ke bawah, maka Godfroi memerintahkan mereka untuk membuka pintu gerbang. Ketika pintu gerbang berhasil dibuka, maka bagai air bah ribuan pasukan Salib menghambur ke dalam kota dan mencincang siapa saja yang ditemuinya.

Saat itu, kekuatan pasukan Islam yang berasal dari Dinasti Fathimiyah yang menguasai Yerusalem memang kalah banyak di banding pasukan penyerbu yang terdiri dari 20.000 tentara Salib terlatih dan 20.000 tentara Salib lainnya yang terdiri dari para penjahat dan kiminal Eropa, yang sengaja mencari peruntungan dan kebebasan dengan bergabung dengan pasukan Salib pertama ini.

Dengan menyanyikan lagu-lagu pujian, dengan buas pasukan Salib membanjiri jalan-jalan Yerusalem, membongkar kedai-kedai, mendobrak pintu-pintu rumah, membakar masjid, dan membantai semua manusia yang ditemuinya, besar kecil, tua muda, seluruhnya dibabat habis.
Masjid Al-Aqsha menjadi penuh sesak oleh para pengungsi dengan harapan di dalamnya mereka akan aman. Bahkan banyak yang sudah meluber ke atapnya. Namun upaya ini pun sia-sia. Pasukan Salib yang telah tersiksa selama berminggu-minggu ini segera mengejar dan menerabas masuk ke masjid suci itu dan membunuhi semua yang ada dan bergerak.

Tempat ketiga paling suci bagi umat Islam ini telah penuh dengan genangan darah dan tumpukan mayat. Salah satu laporan dari pemimpin pasukan kepada Paus Urban II dengan bangga menulis, “Jika Paduka ingin mendengar bagaimana kami memperlakukan musuh-musuh kita di Yerusalem, ketahulah, di Portico dan Haikal Sulaiman, kami berkuda di atas darah najis kaum Saracen (Muslim), yang tinggi genangannya itu mencapai lutut kuda-kuda kami.”  

Orang-orang Yahudi yang tinggal di Yerusalem juga tak luput dari pembantaian pasukan Salib. Padahal mereka telah berkumpul dan memenuhi sinagog-sinagog mereka agar aman dari pembantaian dan menyatakan kepada pasukan Salib bahwa mereka bukan Muslim, tapi ini pun sia-sia. Sinagog-sinagog itu tetap dibakar dan dihancurkan. Seluruh Yahudi yang berlindung di dalamnya pun dicincang.



Gubernur Iftikhar Daulah dan para pengawalnya yang terjepit di Menara Daud berteriak bahwa mereka akan menghentikan perlawanan bila mereka dibiarkan keluar dengan selamat. Mereka inilah satu-satunya kelompok yang selamat dari pembantaian gila-gilaan ini.

Raymond de Aguilers dengan penuh syukur dan kebanggaan mengutip Mazmur 118: “Inilah hari yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Bersuka-citalah dan bergembiralah di dalamnya.”

Para pasukan Salib dan pendeta dengan masih belepotan darah menyusuri jalan-jalan kota suci Yerusalem yang dipenuhi gundukan kepala dan tubuh manusia yang bermandikan darah. Dengan pedang yang masih basah oleh darah, pasukan Salib ni memasuki Gereja Makam Suci dan melakukan prosesi dengan khidmat dan menyanyikan lagu-lagu pujian. Lonceng di seluruh Eropa, tatkala mendengar kejatuhan Yerusalem, berdentang berjam-jam. Christendom mabuk kemenangan.  Yerusalem kembali jatuh ke dalam kekuasaan Salib.

Seperti yang telah disinggung di muka. Jatuhnya Yerusalem disusul dengan “diresmikannya” Ordo Biarawan Sion dan duapuluh tahun kemudian menciptakan ordo khusus militer bernama Knights Templar guna mengefektifkan tugas-tugas dan misinya.

PELOPOR SISTEM PERBANKAN RIBAWI

Duapuluh tahun setelah jatuhnya Yerusalem, Ksatria Templar secara resmi bermarkas di sayap kiri istana King Baldwin. Sebuah wilayah bekas reruntuhan Kuil Sulaiman yang dihancurkan oleh Nebukadnezar dari Babylonia dan juga oleh Kaisar Titus dari Romawi. Sejarah mencatat, para Templar ini melakukan penggalian diam-diam di bawah markasnya untuk mencari harta karun Sulaiman.

Keberadaan Templar ini di Yerusalem, seperti yang telah mereka kemukakan di hadapan Raja, adalah mengamankan jalur peziarah Eropa dari kota pelabuhan Jaffa ke Yerusalem. Walau Templar mengaku mereka tidak menambah anggota hingga sembilan tahun setelah berdiri—seperti yang dikemukakan  Guillaume de Tyre—namun banyak kalangan tidak mempercayai hal tersebut karena area yang menjadi tugas dan wewenang para Templar untuk mengamankannya terlalu luas dan panjang jika hanya ditangani oleh sembilan orang. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber


Masa-masa setelah kedatangan para Templar di Istana King Baldwin hingga munculnya Guy Lusignan dalam episode Perang Hattin melawan Shalahuddin al-Ayyubi merupakan rentang waktu yang sangat jarang ditulis sejarawan. Para pengkaji masalah ini hanya bisa menduga-duga, menghubung-hubungkan antara satu fakta dengan fakta lainnya dan menarik hipotesis sementara darinya.

Catatan sejarah yang ada kemudian mengungkap soal betapa berkuasa dan kaya rayanya pada Templar di Yerusalem, dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa hingga begitu mencemaskan raja-raja dan bahkan Paus sendiri. Kekayaan dan kebesaran organisasi Templar dengan sendirinya akan membuat mereka begitu berpengaruh dan hal ini dinilai mampu menggerogoti kewibawaan dan pengaruh raja-raja Eropa serta Paus. Apa yang membuat mereka kaya raya?

Meski pada awalnya mereka mengaku sebagai ksatria yang akan tetap hidup dalam kemiskinan, The Poor Knights, bahkan ada keterangan yang menyebutkan bahwa mereka menyengaja berpuasa dalam beberapa waktu tertentu, namun pada kenyataannya mereka dengan cepat bisa berubah menjadi kaya raya dan besar. Amat mungkin, kewenangan yang diberikan King Baldwin yang juga merangkap sebagai King of Yerusalem kepada mereka untuk mengamankan dan mengontrol para peziarah Eropa dari Jaffa ke Yerusalem inilah yang membuat mereka mampu mengumpulkan berpundit-pundi uang dalam jumlah yang tidak sedikit. Selain itu ada pula pendapat bahwa mereka telah mengadakan pelatihan-pelatihan kemiliteran khusus kepada para ksatria Salib lainnya dan memungut upah dari jasanya tersebut.

Para peziarah Eropa yang sanggup datang ke Yerusalem kebanyakan bukanlah terdiri dari rakyat jelata. Mereka kebanyakan terdiri dari putera-putera para bangsawan, raja-raja, pangeran-pengeran, dan para pedagang yang memiliki harta sedemikian banyak di kampung halamannya. Sebagai pihak yang diberi otonomi khusus dari Raja Baldwin, mereka berhak sepenuhnya mengetahui dan mendata seluruh peziarah yang berlabuh di Jaffa. Dari kewenangan inilah, para Templar dengan cerdik membangun jaringan dan memanfaatkan segalanya untuk memperbesar organisasinya sendiri. Salah satu yang dilakukan mereka adalah dengan merekrut para pengeran, anak-anak bangsawan, dan kaum pedagang terpilih yang tentu saja membawa perbekalan yang amat banyak.

Apalagi banyak di antara para peziarah itu yang mungkin karena didorong iman Kristennya yang demikian tinggi, atau karena sebab-sebab lain, ingin pindah dari Eropa dan menetap di Yerusalem dan sekitarnya. Maka para peziarah yang seperti ini membawa serta dalam kapal-kapalnya seluruh harta kekayaan yang dimiliki, baik yang berupa uang maupun segala macam benda berharga dan permata. Baik peziarah yang hanya ingin berkunjung ke Yerusalem dalam waktu terbatas, maupun mereka yang ingin menetap di kota suci itu, seluruhnya membawa perbekalan dan harta yang tidak sedikit.

Sepanjang rute perjalanan dari kota pelabuhan Jaffa hingga sampai ke Yerusalem, mereka harus melewati jarak yang cukup panjang dan situasi yang tidak menentu. Banyak tentara-tentara Salib yang tidak terkoordinir rapi dan terkenal rakus terhadap harta melakukan perampokan terhadap para peziarah. Ini tidaklah mengherankan. Jika pengalaman di Konstantinopel saja bisa terjadi, Gereja Hagia Sophia, dirampok dan dijarah isinya oleh tentara Salib, maka apakah lagi harta seorang peziarah.

Sebab itu, jasa pengamanan yang dilakukan oleh Ksatria Templar memang diperlukan oleh para peziarah ini. Tentunya bukan hanya dikerjakan oleh sembilan orang, tapi yang paling mungkin adalah para ksatria Templar ini memperkerjakan sejumlah orang upahan yang melaksanakan fungsi pengamannya ini. Kesembilan ksatria tersebut hanya sebagai koordinator lapangan. Atau sangat mungkin anggota Ordo Sion turut membantu mereka.

Dalam waktu singkat, ordo Ksatria Templar berkembang dengan pesat. Mereka tidak saja kuat di Yerusalem, namun juga memiliki jaringan yang banyak di Eropa. Setelah Gereja mengakui Ksatria Templar ini dan mengukuhkannya sebagai ordo khusus militer, Hughues de Payens melakukan perjalanan mengelilingi Eropa untuk ‘memohon derma’ (bagi sebagian peneliti dikatakan sebagai ‘memeras’) berupa tanah dan uang dari para bangsawan dan keluarga kerajaan.

De Payens mengunjungi Inggris pada tahun 1129 dan mendirikan situs Ksatria Templar yang pertama di wilayah itu. Situs Templar itu kini menjadi Stasiun Kereta Api Bawah Tanah Holborn di London. Dalam perjalanan mengelilingi Eropa ini, Hughues de Payens juga ‘mempromosikan’ Kota Suci Yerusalem, sehingga banyak keluarga bangsawan dan raja berminat melakukan ziarah ke tanah yang dipercayai sebagai tempat kelahiran Yesus.

Setelah mempelajari kenyataan di lapangan, di mana banyak orang-orang kaya yang hendak berziarah ke Yerusalem namun direpotkan oleh harta benda mereka, maka celah ini dimanfaatkan oleh Ksatria Templar untuk mendirikan sebuah badan yang sangat mirip dengan cara kerja perbankan modern. Mereka membuka diri untuk menampung dan menjaga harta benda orang-orang kaya Eropa yang hendak pergi berziarah ke Yerusalem. Jadi, para peziarah itu tidak perlu repot-repot dan menempuh segala resikonya untuk membawa banyak barang berharga saat pergi ke Yerusalem.

Selama bepergian, seluruh harta benda miliknya bisa disimpan di lembaga yang didirikan para Ksatria Templar yang bernama Usury (berarti riba, atau juga sangat mungkin Usury ini dikemudian hari diadopsi oleh bank-bank modern menjadi Treasury atau tempat penyimpanan benda-benda berharga). Selain itu, selama bepergian, para peziarah tersebut juga diberi selembar kertas promis yang bertuliskan kode-kode yang begitu rumit, hingga hanya pihak-pihak tertentu saja yang dapat membacanya. Kertas promis ini berisi nilai nominal tertentu dari harta yang disimpan di lembaga keuangan Ksatria Templar di Eropa, dan setibanya mereka di Yerusalem kertas promis ini bisa diuangkan di lembaga keuangan Templar setempat. Kertas promis tersebut merupakan cikal bakal sistem cek tunai yang kita kenal sekarang.

Selain itu, ‘bank’ Templar juga membuka diri dengan menyelenggarakan pengaturan pengiriman uang (transfer) yang aman bagi para pedagang Eropa. Harta yang dimiliki lembaganya kemudian diputar kembali dengan membuka jasa simpan pinjam. Para pedagang dan bangsawan, termasuk para raja, bisa meminjam kepada Templar sejumlah besar uang dan mengembalikan dengan mencicil atau tunai pada saat yang disepakati. Ini tentu saja dengan suku bunga yang rendah.

Dengan sendirinya Ksatria Templar tidak saja dikenal sebagai ordo militer yang tangguh dalam Perang Salib, tapi juga dikenal sebagai pelopor sistem perbankan modern yang masih dipakai hingga sekarang.  Dan yang jelas, Ksatria Templar menjadi organisasi yang sangat besar, profesional, dan berpengaruh.

Markas Templar di selatan Perancis menjadi rumah penghimpunan harta terbesar di Eropa dan Timur Tengah. Salah satu raja yang berhubungan erat dengan para Templar adalah King Henry II dari Inggris. Tiap tahun, Henry II menyumbang uang untuk menanggung kebutuhan hidup hidup sekitar limabelas ribu ksatria dan tentara Salib yang berada di Yerusalem. Dari keseluruhan lembaga yang didirikan Templar di Eropa dan juga Timur Tengah, setidaknya mereka memperkerjakan enam sampai delapan ribu pegawai yang ditugasi untuk mengurus ‘sistem perbankan’ mereka.

Templar juga memiliki harta yang tersebar di seluruh Eropa dan Timur Tengah, mereka antara lain memiliki sembilan ratusan istana, kastil, kuil, rumah-rumah para bangsawan, dan sebagainya.



Selain berperang dan mendirikan institusi perbankan modern pertama di dunia, para Templar juga dengan cerdik memanfaatkan pergaulan internasional dan membuka diri terhadap peradaban Islam dan Yahudi. Mereka menyerap dengan baik hal-hal baru yang lebih tinggi sifatnya ketimbang peradaban Eropa kala itu. Hal ini kemudian menjadikan ordo ini lebih maju dan lebih berkembang dalam banyak segi di dalam masyarakat Eropa. Banyak para Templar yang kemudian tidak hanya pintar berperang, namun juga menjadi pedagang, pandai besi, ahli batu, arsitek, ahli militer, insinyur, hingga dokter dan pelaut. Bahkan para Templar ini memiliki pelabuhan-pelabuhan sendiri dengan kapal-kapal layar yang modern. Penggunaan kompas bermagnet pertama kalinya juga diperkenalkan para Templar ini ke Eropa.

Kemajuan yang sangat pesat yang terjadi pada ordo ini menimbulkan kesombongan dan kecongkakan yang tidak disukai oleh masyarakat Eropa, terlebih-lebih para raja, kaum bangsawan, dan juga pemuka gereja yang merasa kewibawaannya digerogoti pengaruh Templar yang terus menunjukkan perkembangan yang cepat. Di Eropa kala itu, nama Knights Templar sungguh-sungguh unik. Ia dipuja sekaligus dibenci, dihormati sekaligus dicaci-maki. Yang jelas, banyak kawan namun banyak pula musuh.

Di saat Templar kian terkenal di Eropa, kondisi Yerusalem ternyata menunjukkan perkembangan yang kurang bagus. Ini ternyata disebabkan ulah Templar sendiri yang dikomandani Gerard de Ridefort, dengan dua tokohnya: Guy Lusignan dan Reynald de Cathillon. Gerard adalah Grand Master Templar, sedangkan Guy merupakan tokoh Templar dari Perancis sekaligus ipar dari King Baldwin IV yang menjadi Raja Yerusalem. Guy mengawini adik Baldwin bernama Sybilla.

Sedangkan Reynald adalah seorang pangeran Antiokia yang mengabdi King Louis dari Perancis dalam Perang Salib kedua. Setelah tentara Salib pulang ke Eropa, Reynald tetap tinggal di Yerusalem dan berkawan akrab dengan para Templar dan kemudian menjadi anggota ordo tersebut. Di Palestina, Reynald mengepalai sebuah kuil di Kerak dan dengan Yerusalem dibatasi oleh Laut Mati.

Sebenarnya antara King Baldwin IV dan panglima pasukan Islam (Saracen) Shalahudin al-Ayyubi saat itu telah meyepakati perjanjian damai dalam jangka waktu yang lama. Kedua belah pihak bersepakat tidak akan mengganggu satu sama lain, saling menghargai, dan membolehkan orang-orang Islam berada di Yerusalem dan sebaliknya orang-orang Kristen berada di daerah kekuasaan Shalahuddin.

Secara pribadi, Shalahuddin dikenal sebagai panglima Islam yang sangat toleran dan mentaati janji. Perjanjian damai ini ternyata dirusak oleh sepasukan Templar yang dipimpin Gerard de Ridefort dan Reynald de Cathillon, yang tanpa sebab apa pun menyerang dan membantai serombongan umat Islam yang tengah melintas di dekat Yerusalem, di mana mereka telah membayar upeti kepada penguasa Yerusalem. Penyerangan ini terjadi di tahun 1184.(Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber







Shalahuddin jelas marah besar mengetahui pihak Kristen merobek-robek perjanjian damai tersebut. Ia segera menyiagakan dan memimpin sendiri 200.000 pasukannya berangkat dari Damaskus melintasi gurun untuk menyerang Kuil Kerak tempat Reynald de Cathillon tinggal.


Di Yerusalem, King Baldwin IV marah besar mendengar ulah Reynald dan Ridefort dengan pasukan Templarnya. Ia langsung mengadakan pertemuan besar di istananya. Di depan para Ksatria Templar yang berhadap-hadapan dengan Ksatria Hospitaler, dengan menahan kegeraman, dari balik topeng peraknya yang menyembunyikan wajahnya yang terus digerogoti lepra, King Baldwin IV menyatakan bahwa Shalahuddin beserta ribuan pasukannya dengan formasi siap tempur tengah bergerak menuju Kuil Kerak untuk menuntut balas atas kejadian yang dianggapnya sama sekali tidak bisa dibenarkan.

Para Ksatria Hospitaller yang memang tidak menyukai Ksatria Templar karena kesombongan ordo militer itu menyatakan Raja Yerusalem harus menyerahkan Reynald de Cathilon kepada Shalahudin untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Namun Guy de Lusignan yang menjadi juru bicara Ksatria Templar menolak dan bahkan dengan sengit mengatakan pihaknya sama sekali tidak takut dengan ancaman Shalahuddin dan siap berperang kapan pun jika  diperlukan.

Setelah berpikir sebentar, King Baldwin IV yang tengah sakit akhirnya menyatakan akan menemui Shalahuddin dan pasukannya sebelum mereka sampai di gerbang Kerak. Tiberias, sang penasehat Raja dari Ordo Ksatria Hospitaller (Ordo Saint John) mengatakan kepada Raja bahwa kesehatannya akan semakin memburuk jika Raja bersikeras memimpin sendiri. Setengah berbisik, King Baldwin IV berkata pada Tiberias, “Saya akan mengusahakan tidak terjadinya perang. Saya akan mencegat Shalahuddin sebelum ia tiba di Kerak.”

Akhirnya dengan ribuan pasukan yang membawa relik kayu Salib Suci, King Baldwin memimpin pasukan mencegat Shalahuddin. Tidak jauh dari gerbang Kuil Kerak, kedua pasukan itu bertemu dalam formasi saling berhadapan. Keadaan menjadi tegang. Panji-panji kedua belah pihak berkibaran di angkasa. Menampar-nampar udara diterpa angin gurun yang keras.

Kedua pasukan menghentikan gerak majunya. Mereka hanya dibatasi lautan pasir tidak lebih dari setengah kilometer. Diam tak bergerak. Dalam kesenyapan, Shalahuddin maju mengendarai kuda ke tengah dan diikuti oleh King Baldwin IV yang tidak bisa memacu kudanya karena tengah sakit. Mereka bertemu di tengah, diapit dua pasukan besar yang telah siap menghunus pedang dan tombak. Regu pemanah pun telah bersiaga di belakang pasukan pendobrak.

Setelah mengucapkan salam dan permintaan maaf, King Baldwin IV segera menyatakan kepada Shalahuddin bahwa pihaknya sama sekali tidak ingin merobek-robek perjanjian damai yang telah disepakati bersama, apalagi mengobarkan peperangan. Baldwin juga mengatakan kepada Shalahuddin bahwa Reynald de Cathillon akan segera menerima hukuman yang adil atas perbuatannya itu.



Sebagai panglima yang penuh harga diri, Shalahuddin akhirnya menerima permintaan maaf tersebut dan meminta jaminan kepada King Baldwin IV bahwa Reynald akan benar-benar dijatuhi hukuman yang setimpal. King Baldwin mengangguk lemah. Setelah mengucapkan salam, kedua pemimpin tersebut kembali ke pasukannya masing-masing. Perang besar hari itu bisa dihindarkan.

Shalahuddin dan pasukannya kembali ke Damaskus. Sedangkan Raja Yerusalem memasuki Kuil Kerak yang segera disambut dengan muka teramat manis dari Reynald de Cathillon. Dihadapan Ksatria Templar yang ada di Kuil Kerak, juga disaksikan Gerard de Ridefort, Raja Yerusalem mengadili Reynald dan akhirnya membawanya untuk dipenjara di Yerusalem. Guy tidak bisa berbuat apa-apa atas kejadian ini.

Setibanya di Istana, King Baldwin IV bahkan hendak menangkap iparnya sendiri, Guy de Lusignan, dan menceraikannya dengan Sybilla. Menurut rencana yang disusun bersama Tiberias, setelah lepas dari Guy, maka Sybilla akan dinikahkan dengan Bylian of Ibelin, anak dari dari Godfrey of Ibelin. Namun dengan alasannya sendiri, Bylian menolak secara halus sehingga Guy tidak jadi ditangkap.
Bulan berbilang bulan, kesehatan King Baldwin IV semakin memburuk. Pada tahun 1186 akhirnya King Baldwin IV meninggal dunia. Guy akhirnya dilantik menjadi Raja Yerusalem. Pelantikannya ini diboikot oleh Ksatria Hospitaller. Usai dilantik, Guy membebaskan Reynald seraya menitip pesan agar Reynald mencari cara supaya Shalahuddin mau berperang dengannya.

“Give me a war!” pesan Guy. Reynald sangat senang mendengar pesan ini dan segera menghimpun pasukannya sendiri untuk menyerang satu pemukiman orang-orang Arab, di mana adik kandung perempuan Shalahuddin tinggal di sana. Serangan dilakukan secepat kilat. Mayat-mayat orang Arab bergelimpangan di mana-mana. Reynald lalu menghampiri adik perempuan Shalahuddin dan mencampakkan jilbabnya. Perempuan itu lalu ditangkap dan dibawa ke Yerusalem.

Guy sangat puas atas hasil kerja Reynald dengan pasukan Templarnya itu. Tidak lama kemudian, datanglah utusan Shalahuddin ke Yerusalem dan menghadapnya. Di depan Raja Yerusalem yang baru, utusan Shalahuddin dengan tegas meminta agar Guy membebaskan adik perempuan Shalahuddin. Namun jawaban Guy sungguh di luar dugaan. Secepat kilat Guy mencabut pedangnya dan menebas leher utusan tersebut.

“Bawa kepalanya kepada Shalahuddin di Damaskus!” perintahnya pada utusan Shalahuddin yang segera memacu kudanya untuk kembali ke Damaskus. Guy lalu memerintahkan semua pasukan Salib untuk bersiap menyerang Shalahuddin, sebelum mereka mendekati Yerusalem.

PERTEMPURAN HATTIN

Saat cakrawala baru menghiasi langit timur Yerusalem, Guy de Lusignan bersama Ksatria Templarnya dan ribuan ksatria Salib lainnya berbaris menuju utara untuk menghadang pasukan Shalahuddin. Hari itu tanggal 3 Juli 1187. Selain membawa perlengkapan perang dan baju besi, Ksatria Templar juga membawa relik pusaka Salib Suci (yang diyakini sebagai tiang kayu untuk menyalib Yesus) dengan harapan agar Tuhan bersama pasukan itu.

Bylian of Ibelin yang tidak sepaham dengan Guy menolak bergabung dengan pasukan besar dan memilih untuk tetap tinggal di Yerusalem mempertahankan kota suci itu bersama sisa pasukan dari Ibelin yang berada di bawah komandonya dan warga sipil. Patriarch Yerusalem sebagai wakil Paus juga bersama Bylian. Demikian pula Sybilla dan Tiberius.

Yang terakhir ini, saat Guy dan pasukannya berangkat, memilih untuk meninggalkan Yerusalem dan kembali ke Cyprus. “Awalnya kami merasa perang ini untuk mengharumkan nama Tuhan, tapi sekarang kami sadar, perang ini hanyalah untuk mencari kekayaan dan popularitas,” tegas Tiberias.

“Shalahuddin senantiasa membawa pasukannya dari sumber mata air yang satu ke sumber mata air lainnya,” ujar Baylian ketika menolak ikut rombongan Guy de Lusignan.  Tapi Guy sudah kemaruk keangkuhan sehingga tidak lagi memperhitungkan sisi teknis kemiliteran yang dipelajarinya. Parahnya lagi, Grand Master Templar, Gerard de Ridefort juga tidak mengingatkan Guy, bahkan ia ikut serta dalam pasukannya.

Jadilah pasukan Salib berjalan di bawah teriknya sinar matahari gurun. Setelah berjalan bermil-mil di bawah sengatan panas, pasukan Salib pun mulai kepayahan. Apalagi sepanjang perjalanan tidak satu pun sumber air yang ditemukan. Satu persatu dari mereka akhirnya terjatuh dari kuda dan bergelimpangan di gurun pasir. Penderitaan yang amat sangat dirasakan pasukan Salib yang mengenakan baju besi. Seharian penuh mereka berjalan tanpa menemukan air. Akhirnya ketika matahari telah condong ke barat, mereka tiba di sebuah dataran tinggi di bawah tanduk Hattin.

Panas memang telah hilang, namun dahaga tetap tidak tertahankan. Di tempat persiapan ini pun pasukan Salib sama sekali tidak menemui sumber mata air. Mereka mulai dihinggapi frustasi dan ketakutan. Bayang-bayang kekalahan pun mulai menghinggapi perasaan mereka. Di bawah dataran tinggi, ribuan pasukan Shalahuddin sudah membuat kemah. Mereka tampak segar karena menguasai sumber mata air.

Malam itu pasukan Salib tidak bisa tidur. Setelah seharian berjalan di atas gurun yang terik, tanpa menemukan sumber mata air, kerongkongan mereka terasa begitu kering dan terbakar. Beberapa dari mereka menjadi gila. Berteriak-teriak histeris menuruni dataran tinggi, meluncur menuju dataran rendah tempat pasukan Muslim berkemah dan segera disambut kibasan pedang hingga ajal menjemput sebelum bertempur.

Untuk menambah penderitaan pasukan Salib, pasukan Shalahuddin membakar rerumputan belukar yang ada di sekitar perkemahan. Seluruh kawasan perbukitan itu menyala dan menambah panas dataran diatasnya yang dihuni pasukan Salib. Malam itu berubah menjadi neraka bagi Guy Lusignan dan pasukannya.

Usai shalat Subuh, 4 Juli 1187, pasukan Shalahuddin mengepung rapat posisi pasukan Salib. Pengepungan dilakukan dalam arti sesungguhnya. Seluruh pasukan Shalahuddin melingkari perbukitan itu dengan badannya. Tangan mereka telah siap menghunus pedang dan tombak. Bukan saja satu lapis, tapi berlapis-lapis dengan pasukan panah berada di barisan belakang.

Ketika fajar menyingsing menyinari Tanduk Hattin, serunai dari pihak pasukan Muslim pun ditiup tanda serangan dimulai. Bunyinya membuat pasukan Salib bergidik bagai terompet kematian. Pasukan Salib yang terkepung melawan dengan membabi-buta dan balas menyerang dengan sisa tenaga yang masih ada. Melihat hal tersebut, pasukan Muslim malah membuka barisan depan dan membentuk fomasi huruf ‘U’. Mereka membiarkan pasukan Salib lewat dan setelah pasukan Salib sampai ke tengah, bukaan itu ditutup kembali, mirip dengan strategi capit kepiting. Satu demi satu pasukan Salib rubuh ke tanah. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber


Tanduk Hattin dipenuhi mayat-mayat ksatria Salib. Di angkasa, burung-burung pemakan bangkai beterbangan dalam jumlah ribuan berputar-putar di atas tumpukan ribuan mayat yang bersimpah darah. Raja Yerusalem Guy de Lusignan, Grand Master Templar Gerard de Ridefort, dan Reynald de Cathillon menjadi tawanan. Mereka semua digiring dan dibawa masuk ke dalam kemah khusus. Para pangeran yang masih hidup dibebaskan dengan tebusan yang sangat tinggi.

Di dalam kemah khusus, Shalahuddin menghampiri Guy dengan membawa semangkok air minum. Shalahuddin mempersilakan Guy meminum air dari mangkoknya sendiri.  Dengan gemetar ketakutan Guy meraih mangkok itu. Setelah rasa dahaganya sedikit terpuaskan, Guy memberikan mangkok air itu kepada Reynald yang memberi isyarat kehausan. Melihat hal itu Shalahuddin bangkit dari duduknya dan menendang mangkok itu hingga airnya tumpah. Dengan sangat cepat Shalahuddin menghunus pedangnya. Sekali tebas terpisahlah kepala Reynald dari lehernya, menggelinding keluar kemah.

Dalam tradisi perang, musuh yang diberi minum dari mangkok sang pemenang akan selamat. Namun Shalahuddin tidak bisa memberi ampunan pada Reynald yang terkenal karena suka menghujat Rasululah SAW dan telah mencederai beberapa perjanjian damai antara Shalahuddin dengan mendiang King Baldwin IV. Melihat Reynald tersungkur jatuh tanpa kepala membuat Guy tambah gemetaran. Shalahuddin mendekati Raja Yerusalem itu dan mengatakan kalimat yang sangat terkenal,

“Jangan takut, tidak ada kebiasaan seorang raja membunuh raja lainnya.” Guy lalu di tahan di penjara Nablus dan dibebaskan pada tahun 1188 sebagai seorang yang sudah tidak lagi memiliki harapan hidup.



Menyusul kekalahan Guy dan pasukannya, dengan sendirinya Yerusalem pun futuh. Amat berbeda ketika Yerusalem ditaklukkan pasukan Salib di tahun 1099 di mana diwarnai dengan perampokan, penjarahan, pemerkosaan, dan pembantaian besar-besaran terhadap seluruh warga sipilnya. Saat Shalahuddin masuk ke Kota Suci Yerusalem, tidak ada setetespun darah tertumpah di dalam kota tersebut. Orang-orang Kristen dan Yahudi yang tinggal di dalamnya bebas menentukan pilihan: tetap tinggal di dalam kota dengan membayar jizyah, atau meninggalkan Yerusalem menuju kampung halamannya di Eropa dengan damai dan diperbolehkan membawa serta harta bendanya.

Kejatuhan Yerusalem dengan cepat disusul oleh kejatuhan daerah-daerah kekuasaan Salib di sekitar Palestina. Pada Mei 1291, benteng Acre, benteng terakhir kekuasaan Salib di Palestina pun tumbang. Dalam mempertahankan benteng besar dan kuat yang berada di tepi pantai yang terjal ini, para Ksatria Templar mempertahankannya sampai titik darah penghabisan. Bahkan Grand Masternya sendiri, Guillaume de Beaujeu, tewas dalam pertempuran ini.

Jatuhnya benteng Acre mirip dengan sebuah benteng yang digoyang gempa berkekuatan besar. Benteng yang tinggi tersebut runtuh ke bawah mengubur penyerang dan yang diserang. Asap bercampur debu mengepul ke udara menandai berakhirnya masa kekuasaan Kristen di Palestina. Air laut di sekitarnya pun berubah mejadi merah darah.

Yerusalem dan seluruh daerah kekuasaan Salib di Palestina telah lepas dari kekuasaan Salib. Lantas, bagaimana dengan keberadaan Ksatria Templar dan Ordo Sion? Kejatuhan Yerusalem inilah yang menjadi sebab terjadinya peristiwa “Penebangan Pohon Elms”, sebuah perpisahan dan perceraian antara Ordo Sion dengan Ksatria Templar. Tindakan gegabah Ksatria Templar dalam menghadapi Shalahuddin sama sekali tidak bisa dimaafkan para pemuka Ordo Sion. Cerai adalah jalan terbaik. Bisa jadi ini hanya terjadi di permukaan, suatu strategi yang dibuat oleh Ordo Kabbalah.

PECAHNYA ORDO SION DENGAN KSATRIA TEMPLAR

Dalam The Dossiers Secrets disebutkan salah satu sebab kejatuhan Yerusalem adalah karena pengkhianatan yang dilakukan oleh Grand Master Templarnya sendiri, Gerard de Ridefort. Walau sebab-sebab lain juga tidak dikesampingkan seperti begitu gegabahnya Guy de Lusignan dan sebagainya. Namun dokumen tersebut sama sekali tidak menjelaskan bentuk pengkhianatan seperti apa yang telah dilakukan Gerard hingga tuduhan yang teramat serius itu dialamatkan kepadanya.

Tidak main-main, yang menuduhkan hal tersebut adalah Ordo Sion sendiri, “Sang Bapak” dari Ksatria Templar.

Jatuhnya Yerusalem berarti juga jatuhnya Gereja Abbey of Notre Dame du Mont de Sion yang terketak di selatan Yerusalem. Secara simbolis ini berarti penyerahan Yerusalem kepada kekuasaan Saracen, namun secara hakikat kejatuhan ini sungguh-sungguh memporak-porandakan rencana besar Ordo Sion untuk menemukan “sesuatu” yang diyakini masih berada di bawah markas para Templar yang dulunya merupakan bekas tempat berdirinya Haikal Sulaiman.

Selain itu, ribuan ‘calon anggota Sion’ yang tengah berada dalam perjalanan dari Perancis menuju Yerusalem juga akhirnya berbalik dan kembali ke Perancis. Sebab inilah, Ordo Sion tidak bisa memaafkan kegagalan Ksatria Templar dalam mempertahankan Yerusalem, apalagi kejatuhan ini bukan disebabkan oleh rencana Shalahuddin sendiri melainkan pihak Saliblah yang melakukan provokasi untuk memulai peperangan.

Satu tahun setelah kejatuhan Yerusalem, tahun 1188, secara resmi Ordo Sion melepaskan segala tanggungjawab dan memutuskan hubungan dalam bentuk apa pun terhadap Ksatria Templar. Perpecahan ini dikabarkan diperingati dengan sebuah upacara ritual yang dinamakan “The Cutting of the Elm” (Penebangan Pohon Elm). Tidak jelas apa maksudnya.

Sejak itu, secara resmi Ordo Sion menyatakan Ksatria Templar sudah tidak ada lagi ikatan apa pun dengannya. Ksatria Templar merupakan organisasi mandiri yang tidak ada lagi sangkut-pautnya dengan Ordo Sion. Untuk mempertegas hal tersebut, Ordo Sion pun mengubah namanya menjadi Biarawan Sion (The Priory of Sion). Jika sebelum tahun 1188, Ordo Sion dan Ksatria Templar memiliki satu Grand Master yang sama, maka sejak tahun itu mereka memiliki Grand Masternya sendiri-sendiri. Menurut Dokumen Biara, Grand Master Ksatria Templar pertama di tahun 1188 adalah Jean de Gisors.

Walau secara resmi mengumumkan pisah, namun dalam gerakan bawah tanahnya mereka sepertinya tetap melakukan kerjasama dan saling berhubungan. Di tahun 1307, Guillaume de Gisors, Grand Master Biarawan Sion, dihadiahi kepala emas, Caput LVIIIm dari Ordo Kuil. Caput LVIIIm atau Caput 58M, menurut Tracy R. Twyman harus dibaca sebagai 5 dan 8 dan jika dijumlahkan maka didapat angka 13. Afabet ke-13 adalah M. Jika demikian Caput 58M adalah Caput MM. Ini adalah kode untuk Maria Magdalena (MM).[1]

Hubungan ini oleh Henry Lincoln yang memulai penelitian panjang tentang Ordo Sion dan Templar di Perancis selatan dianggap suatu petunjuk bahwa antara Ordo Sion dengan Ksatria Templar memang tidak ada pemutusan hubungan yang total. Guillaume de Gisors diketahui memiliki hubungan yang baik dengan para Templar, namun diam-diam ia ternyata juga memiliki hubungan dengan Guillame Pidoye, salah seorang kaki tangan King Philippe IV—Philippe Le Bel—dari Perancis yang telah memburu dan membubarkan ordo Templar di tahun 1307. Ada anggapan sementara pihak bahwa Guillame de Gisors ini melakukan kegiatan double agent, yang mengambil keuntungan dari pertentangan antara Templar dengan raja-raja Eropa dan gereja.

Guillame de Gisors inilah yang diyakini telah membocorkan rencana operasi kilat yang akan dilakukan King Philippe le Bel terhadap Templar pada tahun 1307 sehingga pasukan Raja Philippe ini tidak mampu menyita dokumen-dokumen atau keterangan-keterangan penting yang dimiliki Templar, walau berhasil menangkap Grand Master Templarnya dan menghukum mati, DeMolay.

Setelah peristiwa Penebangan Pohon Elm, praktis tidak banyak keterangan yang mengupas tentang keberadaan dan kegiatan Ksatria Templar. Yang mengemuka dalam banyak catatan tentang Templar adalah tudingan bahwa ordo Kristus ini kian hari kian meresahkan para penguasa, raja-raja, para bangsawan, dan termasuk Gereja, yang salah satu sebabnya disebutkan bahwa Ksatria Templar diketahui telah melakukan ritual-ritual keagamaan khusus yang berbeda sekali dengan ritual kekristenan dan bahkan menjurus pada bid’ah dan penyebaran ajaran sesat.

Amat mungkin, perkembangan ordo militer yang sangat pesat, termasuk jumlah kekayaannya, inilah yang berakibat pada semakin luas dan besar pengaruhnya di dalam masyarakat Eropa, telah membuat cemas para penguasa, raja-raja, para bangsawan, dan Gereja. Mereka jelas cemas dengan saingan baru yang bernama Ksatria Templar yang suatu saat dipastikan bisa mengalahkan pengaruh mereka dan menggantikan kedudukan mereka sebagai penguasa Eropa. Kenyataan inilah yang pada akhirnya membuat ordo militer ini dihabisi. Hal tersebut akan dibahas kemudian. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber
——————–
[1] Michael Baigent cs; Holy Blood, Holy Grail; Ufuk Pres; 2006; hal. 642.


Sebagai ordo yang mengkhususkan diri dalam bidang kemiliteran, maka hierarki atau struktur organisasinya pun disesuaikan dengan fungsinya. Sebab itu dari catatan yang ada, kelompok ini memiliki empat buah divisi persaudaraan yang memiliki tugas khusus, bekerja sendiri-sendiri, namun satu sama lain saling mendukung. Keempat divisi itu adalah:
  • Pejuang (Ksatria)
  • Bankers
  • Petani
  • Chaplain
PEJUANG:

Grand Master.

Disebut sebagai Maha Guru, pemimpin tunggal yang paling berkuasa, dan berdasarkan The Papal Bull (Pernyataan resmi dari Paus) yang dikeluarkan tahun 1139, Paus Innocent II—seorang mantan Ordo Cistercian di Clairvaux dan anak perlindungan dari Saint Bernard—Ksatria Templar tidak perlu setia kepada siapa pun termasuk gereja, kecuali kepada Paus itu sendiri. Ksatria Templar tidak terikat kepada raja, pangeran, dan bangsawan mana pun dalam hal apa pun kecuali terhadap Paus. Paus adalah ‘user’ dari Ksatria Templar.

Senechal.

Adalah wakil dari Grand Master yang memiliki tugas antara lain sebagai penasihat Grand Master.
Commander of the Kingdom of Jerusalem.

Seorang penguasa setara ‘Grand Master’ namun hanya untuk wilayah kota Yerusalem dan daerah sekitarnya saja. Dalam urusan domestik ia berkuasa penuh, jika ingin berhubungan dengan jaringan di luar Yerusalem, maka kewenangannya terbatas dan harus diketahui oleh The Grand Master atau Maha Guru.

Commander of the City of Jerusalem.

Serupa dengan Commander of the Kingdom Yerusalem namun wilayah kewenangannya hanya di dalam kota Yerusalem, tidak sampai melebihi daerah di luar dinding kota. Untuk kota-kota besar dan daerah lainnya juga terdapat Commander-Commander sejenis seperti yang ada di Antiokia, Tripoli, dan sebagainya.

Drapier.

Berkuasa untuk Templar Garments.

Commander of Houses.

Setingkat dengan Letnan bagi otoritas yang lebih tinggi di dalam ordo namun tidak memiliki kewenangan yang lebih besar.

Commander of Knight.

Mirip dengan Commander of Houses.

Knight Brother.

Para ksatria perang, bermantel putih dengan salib merah di dada. Seorang Ksatria diberi fasilitas tiga ekor kuda dan peralatan perang yang lengkap.

Turcoplier.

Pemimpin para Sergeant Brother dalam pertempuran. Di dalam pertempuran, mereka senantiasa berada dalam pengawalan para ksatria.

Under Marshall.

Pemimpin para pejuang yang tidak dilengkapi kuda dan memiliki peralatan perang yang terbatas.



Standard Bearer.

Pembawa panji-panji ordo (Beauséan) dalam pertempuran dan memiliki pangkat Sersan. Bertanggungjawab atas keutuhan panji-panji dan berusaha dengan keras agar panji-panji Templar tetap berkibar di dalam medan pertempuran. Selain berupa bendera, panji Templar lainnya adalah relik pusaka Kayu Salib Suci (The Holy Cross) yang dipercaya merupakan tiang salib yang dipakai untuk menyalib Yesus. Dalam pertempuran Hattin melawan pasukan Shalahuddin, para Standard Bearer inilah yang bertugas membawa The Holy Cross yang besar dan berat ini dari Yerusalem ke Hattin, dekat Tiberius.

Sergeant Brother.

Para prajurit biasa, tidak harus dari bangsawan, dan diberi satu ekor kuda dengan peralatan perang yang sama dengan yang dimiliki para Ksatria. Hanya saja, mereka ini tidak dilengkapi dengan pengawal.

Turcopoles.

Pasukan lokal yang ikut berperang bersama Templar, sering mengenakan jubah Templar dan diberi fsilitas yang sama dengan Sergeant Brother, namun yang ini bersifat insidentil.

Sick and Elderly Brothers.

Para anggota ordo yang sudah tidak aktif lagi namun masih tetap dalam keanggotaannya. Mereka biasanya berkecimpung dalam kegiatan penyamaran, pengumpulan data awal, dan kegiatan spionase lainnya. Mereka tetap sebagai kombatan.

BANKERS :

Awalnya berasal dari para pejuang, kombatan. Namun ketika bisnis jasa keuangan para Templar ini sudah melewati batas-batas geografis Yerusalem hingga merambah Eropa dan Timur Tengah, maka untuk urusan bisnis tersebut dibentuk satu kelompok khusus yang ditugasi untuk berkonsentrasi mengurus bidang ini. Sebagian Bruder dari Kuil-Kuil Templar diserahi tanggungjawab dan wewenang, namun tetap dalam pengawasan dan garis komando The Grand Master. Para pangeran dan anak-anak bangsawan yang enggan untuk ikut berperang juga ditugasi untuk membantu para Bruder.

Dalam menyokong pergerakan pasukan kombatan atau pertempuran, fungsi dari para Bankers ini lebih mirip dengan ‘pasukan pendukung’ yang bertanggungjawab atas suplai berupa makanan, keuangan, dan logistik lainnya. Di medan pertempuran, yang menjadi penghubung atau kurir antara Bankers dengan Kombatan biasanya terdiri dari para petani atau orang-orang bukan bangsawan yang telah mendapat pelatihan dan indoktrinasi tertentu.

PETANI  

Inilah divisi yang bertanggungjawab atas suplai logistik kepada para Templar—baik yang berada di kuil-kuil atau pun di medan pertempuran—yang lebih banyak berhubungan dengan para Bankers sebagai pihak yang memegang kewenangan dalam hal pengelolaan keuangan ordo.

CHAPLAIN.

Chaplain merupakan divisi tersendiri, bersifat khusus, yang merupakan Penjaga Ideologi para Templar. Mereka inilah para Tentara-Pendeta, yang sering menyertai para Kombatan dalam ekspedisi-ekspedisi militernya. Sebagian besar ritual keagamaan para Templar biasanya dipimpin oleh para Chaplain. Sebelum berangkat ke medan pertempuran, para Ksatria selalu menggelar sebuah ritual keruhanian khusus dan mendengar doa-doa serta petuah-petuah para Chaplain yang berisi pembenaran serta penyemangat jiwa.

Divisi Chaplain para Ksatria Templar inilah yang sekarang diadopsi bulat-bulat oleh banyak negara dalam organisasi ketentaraan modernnya. Di dunia Barat, istilah Chaplain masih dipakai hingga sekarang dan memiliki fungsi yang mirip dengan Divisi Chaplain Ksatria Templar. Para Chaplain di berbagai negara Eropa diketahui memiliki agenda rutin untuk menggelar suatu oikumene (persekutuan) setahun sekali di suatu negara yang telah ditentukan untuk menyamakan persepsi dan agenda mereka, para tentara Salib modern, ke depan.

Organisasi Knights Templar, sebuah ordo khusus militer, merupakan sebuah organisasi yang paling rapi dan maju pada zamannya di Eropa. Sebab itu, banyak kalangan meyakini organisasi dan struktur Templar ini banyak mengilhami bagi pembentukan organisasi dan struktur ketentaraan modern di banyak negara Eropa (The Christendom).

Sebagai bagian dari ordo monastik, Ksatria Templar juga memiliki berbagai ketentuan dan peraturan yang khusus. Beberapa ketentuan atau peraturan Ksatria Templar adalah:

HUKUMAN

Ada dua jenis hukuman bagi setiap pelanggaran yang dilakukan anggota Ordo Templar yakni hukuman ringan dan hukuman berat. Hukuman ringan ini bervariasi bentuknya. Ada yang berbentuk pencopotan fasilitas ordo yang telah diberikan organisasi seperti kuda, peralatan perang, dan mantel putih khusus Templar, ada pula yang bersifat mempermalukan dengan tuuan memberikan efek jera seperti makan dari lantai, melakukan tugas-tugas berat dan kasar, dan pemisahan dengan anggota ordo lainnya. Hukuman ringan dijatuhkan kepada anggota ordo yang telah menjalani pengadilan khusus yang dipimpin oleh atasannya langsung, dihadiri saksi, korban, dan para penasihat. Setelah pelaku mengakui kesalahannya, pelaku dan korban kemudian digiring keluar dalam pengawalan anggota lain. Komandan menggelar rapat dengan para penasihat dan memutuskan apakah pelaku itu dianggap melanggar dan jika dianggap melanggar maka apakah pelanggaran itu termasuk pelanggaran ringan atau berat. Jenis hukuman seperti apa yang akan dijatuhkan kepada pelaku juga diputuskan lewat forum ini. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber
——————–





Yang masuk dalam kategori pelanggaran ringan adalah perbuatan perkelahian atau pertengkaran dengan sesama anggota, membunuh seorang budak tanpa sebab yang bisa diterima, membunuh atau menghilangkan kuda sebagai asset ordo, menceritakan hal-hal yang tidak sesuai dengan keadaan mereka sendiri, melukai orang Kristen (bukan Muslim) tanpa sebab yang bisa diterima, berhubungan badan dengan perempuan, mengancam akan bergabung dengan pihak musuh (Saracen), meninggalkan posnya di malam hari, melempar atau mencampakkan mantel Templar atau panji-panji Templar ke tanah, meminjam asset ordo tanpa seizing pihak yang diberi wewenang, dan sebagainya.


Jenis pelanggaran ringan ini bisa dimaafkan jika terdapat sebab yang dianggap kuat oleh komandan maupun penasihatnya. Jika pelaku sungguh-sungguh menyesali ulahnya, dan para juri menyetujuinya dan bisa menerima permintaan maaf dan penyesalannya, maka ia bisa bebas dan mendapatkan kembali mantel dan jubahnya.

Jenis pelanggaran berat juga bervariasi antara lain: membunuh orang Kristen atau sesama anggota ordo, membocorkan rahasia pertemuan maupun rapat ordo, sodomi, mengingkari iman Kristiani, berkata tidak benar atau memfitnah terhadap sesama anggota ordo atau sesama orang Kristen, meninggalkan kuil tanpa kabar dalam waktu dua hari, melarikan diri dari pertempuran saat panji-panji Templar masih berkibar atau tanpa izin pimpinan. Hukuman terberat yang dijatuhkan adalah hukuman mati. Atau bisa juga ia diusir dan dipecat dari keanggotaan ordo.

MAKNA JUBAH PUTIH SALIB MERAH

Januari 1128, dalam sebuah sidang dewan gereja di Troyes, disusunlah pedoman tingkah laku ordo Ksatria Templar yang secara resmi di masukkan menjadi ordo khusus militer. Beberapa ketentuan yang diputuskan yaitu: seluruh anggota ordo harus memotong rambut mereka hingga habis dan membiarkan janggut mereka tumbuh panjang, sehingga berbeda dengan ksatria Salib lainnya yang saat itu suka mencukur janggut mereka hingga bersih.

Pemberian makanan, minuman, pakaian, dan segala kebutuhan hidup mereka diatur dalam ketentuan yang amat ketat. Untuk pakaian, seluruh anggota ordo tersebut harus mengenakan pakaian atau jubah putih khas Templar dengan salib merah darah di dada mereka. Pakaian atau jubah putih ini memiliki arti bahwasanya para Templar adalah para Ksatria Kristus yang sebenar-benarnya, yang meninggalkan hidup yang penuh kegelapan, dan sepenuhnya menyerahkan diri dan kehidupannya bagi kejayaan Yesus Kristus dengan menjalani kehidupan yang putih dan bersih.

Di medan pertempuran atau di mana pun, para anggota Templar dilarang keras melarikan diri atau mundur jika jumlah musuh mereka kurang dari tiga kali lipat jumlahnya. Jika tertangkap musuh, para Templar juga dilarang memohon belas kasihan atau menebus diri mereka dengan uang.

Segala pedoman tingkah laku dan ketentuan di atas terlihat sangat jantan, bersih, dan berwibawa. Namun dalam kenyataannya, sejarah juga telah mencatat betapa para anggota ordo ini dalam kehidupan sehari-hari sangat bertolak-belakang dengan ketentuan tersebut bahkan gereja dan Paus sendiri tidak berkuasa menegur atau bahkan menghukum mereka.




Pertengkaran yang dalam antara Ksatria Templar dengan Ksatria Hospitaller (Knight St. John) saat kekuasaan King Baldwin IV di Yerusalem merupakan fakta yang tidak bisa ditutup-tutupi. Banyak penulis Barat juga mendeskripsikan para Ksatria Templar ini sebagai sosok ksatria yang sombong, mau menang sendiri, licik, sekaligus pemberani dan cerdik.

GRAND MASTER KNIGHTS TEMPLAR

Daftar Grand Master Knights Templar sebenarnya ada banyak versi. Walau demikian, yang paling banyak dirujuk oleh para peneliti adalah versi yang dimulai dari Hughues de Payens (1118-1136) sampai pada Jacques de Molay (1292-1314). Inilah daftar Grand Master Knights Templar tersebut :
  1. Hughes de Payens                           (1118-1136)
  2. Robert de Craon                              (1136-1146)
  3. Everard des Barres                         (1146-1149)
  4. Bernard de Tremelay                     (1149-1153)
  5. André de Montbard                        (1153-1156)
  6. Bertrand de Blanchefort                (1156-1169)
  7. Philippe de Milly                              (1169-1171)
  8. Odo de St Amand                             (1171-1179)
  9. Arnaud de Toroge                            (1179-1184)
  10. Gérard de Ridefort                          (1185-1189)
  11. Robert de Sablé                                (1191-1193)
  12. Gilbert Horal                                    (1193-1200)
  13. Phillipe de Plessis                            (1201-1208)
  14. Guillaume de Chartres                    (1209-1219)
  15. Pedro de Montaigu                          (1219-1230)
  16. Armand de Périgord                       (1232-1244)
  17. Richard de Bures                             (1245-1247)
  18. Guillaume de Sonnac                      (1247-1250)
  19. Renaud de Vichiers                         (1250-1256)
  20. Thomas Bérard                                 (1256-1273)
  21. Guillaume de Beaujeu                     (1273-1291)
  22. Thibaud Gaudin                                (1291-1292)
  23. Jacques de Molay                             (1292-1314)
Selain yang di atas, ada pula daftar ‘Grand Master’ versi lain yang juga beredar namun belum mendapat konfirmasi dan jarang dipergunakan oleh peneliti. Di dalam daftar ini ada juga mencantumkan para tokoh yang ada di dalam daftar pertama, namun banyak nama-nama baru. Inilah daftarnya :
  1. Hugues d’ARGENTElN
  2. Hoston de SAINT-OMER                 (1153 – 1155)
  3. Richard de HASTINGS                     (1155 – 1185)
  4. Geoffroy FITZSTEPHEN                  (1185 – 1195)
  5. Robert de NEUHAM                          (1195 – 1200)
  6. Thomas BERARD                               (1200)
  7. Fr. Alain                                                (1205)
  8. Guillaume CADEIL                            (1214)
  9. Aimery de SAINTE-MAURE            (1215 – 1219)
  10. Guillaume de la GRAVELLE            (1220)
  11. Alain MARTEL                                    (1220 – 1228)
  12. Fr. Aimery                                            (1228)
  13. Robert de MONTFORT                    (1234)
  14. Robert de SANDFORD                     (1235 – 1241)
  15. Fr. Amblard                                        (1250)
  16. Roncelin de FOS                                (1252 – 1259)
  17. Robert de SANDFORD                     (1259)
  18. Humbert de PAIRAUD                    (1270)
  19. Gui de FORESTA                              (1275)
  20. Robert de TORTEVILLE                 (1276)
  21. Henri de FAVERHAM                      (1277 – 1278)
  22. Robert de TORTEVILLE                  (1280)
  23. Gui de FORESTA                               (1288)
  24. Guillaume de TOURVII LE             (1292)
  25. Gui de FORESTA                               (1293 – 1296)
  26. Brian le JAY                                         (1296 – 1298)
  27. Guillaume de la MORE                    (1298 – 1307)
  28. Jacques de Molay                              (1307 – 1314)
Selain itu, Ksatria Templar juga memiliki ‘Grand Masternya’ sendiri untuk wilayah-wilayah yang lebih khusus yang disebut sebagai Commander of Kingdom atau Commander of City. Inilah daftarnya:

Commander of Kingdom of England[1] (Grand Master of England) :
  1. Richard Mallebeench
  2. Geoffrey son of Stephen             (1180/1185)
  3. Gilbert of Hogestan                     (1188)
  4. William de Newenham
  5. Thomas Berard                             (1200)
  6. Aymeric de St. Maur                    (1200, 1205,1216).
  7. Alan Marcell                                   (1220 dan 1228)
  8. Amberaldus                                    (1229)
  9. Robert Mounford                          (1234)
  10. Robert Saunforde                         (1231, 1232,1234,1239–40,1247)
  11. Rocelin de Fosse                            (1250, 1253)
  12. Paul Raymond de Pinson            (1254)
  13. Amadeus de Morestello
  14. Imbert Peraut                                (1267, 1269)
  15. William de Beaulieu                     (1274)
  16. Robert Turvile                               (1277,1281)
  17. Guy de Foresta                              (1290, 1293, dan 1294)
  18. James de Molay                            (1297)
  19. Brian le Jay                                    (1298)
  20. William de la More                      (1298)
Commander of City of Palestine :
  1. Guillaume                               1130
  2. André de Montbard              1148, 1151, 1152, 1154
  3. Guillaume de Guirehia         1163
  4. Gautier                                     1170
  5. Béranger                                  1174, 1176
  6. Seiher de Mamedunc            1174
  7. Godechaux de Turout           1174
  8. Walter du Mesnil                   1174
  9. Gérard de Ridefort                1183
  10. Hurson                                     1187
  11. Aimon de Ais                          1190
  12. Reric de Cortina                     1191
  13. Bryony Bonds                         1192
Grand-Commandeur  of Palestine :
  1. Odon                                    1156
  2. Gilbert Erail                       1183
  3. Jean de Terric (n’a jamais été Grand-Maître) 1188
  4. Gerbert                                1190
  5. William Payne                    1194
  6. Irmengaud                          1198
  7. Barthélemy de Moret        1240
  8. Pierre de Saint-Romain    1241
  9. Gilles                                     1250 (février)
  10. Étienne d’Outricourt         1250 (mai)
  11. Amaury de la Roche          1262 (mai)
  12. Guillaume de Montignane 1262 (decémbre)
  13. Simon de la Tour
  14. G. de Salvaing                     1273
  15. Arnaud de Châteauneuf 1             277-1280
  16. Thibaud Gaudin
(Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber
——————————————
[1] www.british-history.ac.uk/report.asp?compid=35360#s3



King Philip Le Bel, bersama Gereja menumpas Templar

Ada begitu banyak nama-nama yang dikenal dalam sejarah Eropa yang menjabat sebagai petinggi Templar. Di dalam artikel ini sengaja nama-nama tersebut tidak ditampilkan semuanya karena memuat ratusan nama. Kita akan kembali kepada sejarah Tmeplar itu sendiri di Eropa yang tidak disukai oleh Otoritas Gereja dan juga Raja serta para bangsawannya.

“BLITZKRIEG” KING PHILLIPE IV

“Perpisahan” dengan Ordo Sion tidak membuat ordo Templar bangkrut. Harta kekayaan yang telah begitu banyak terkumpul, baik berupa lahan yang luas di berbagai negara di Eropa, sejumlah kastil dan kuil, maupun dalam bentuk logam mulia, perhiasan batu permata, dan uang, yang dihasilkan dari berbagai usaha kaum Templar membuat ordo ini menjadi begitu besar dan disegani di seluruh Eropa. Banyak para bangsawan dan raja-raja Eropa meminjam uang pada unit usaha ordo ini. Mereka juga begitu percaya dengan jasa penyimpanan benda-benda berharga (treasury box) yang dikelola para Templar. Belum lagi jasa pengawalan atau pengamanan saat para bangsawan atau raja melakukan bepergian atau pun di dalam istananya sendiri.

Konflik, intrik, dan peperangan yang terjadi di antara raja-raja maupun tuan tanah di Eropa membuat bisnis jasa pengamanan para Templar menjadi begitu maju dan berkembang. Sebab itu, selain dipercaya sebagai pelopor sistem perbankan modern di dunia, para Templar juga dianggap sebagai pelopor dalam sistem bisnis jasa keamanan dan militer yang kini banyak diadopsi oleh organisasi ketentaraan resmi suatu negara, maupun institusi jasa pengamanan swasta (PMA, Private Military Agency), atau yang lebih tersohor dengan sebutan organisasi tentara bayaran (Mercenaries), seperti DynCorp, Halliburton, Blackwater, Executive Outcome, Aegis Defence Services, MPRI, dan sebagainya.

Dan seperti juga PMA zaman sekarang, para Ksatria Templar juga diyakini berada di belakang setiap konflik, intrik, atau peperangan yang timbul di antara para tuan tanah, bangsawan, dan raja, agar usaha jasa pengamanan dan industri alat-alat peperangan yang dimilikinya bisa terus berputar. Dengan sendirinya uang pun terus mengalir ke dalam kocek para Templar tanpa disadari oleh pihak lain. Ini mirip sekali dengan industri persenjataan yang ada di Amerika dan negara maju lain yang sering berepran ganda dalam menciptakan konflik dan perang. Skandal Iran Contra yang terjadi di abad ke-21 merupakan salah satu contoh yang bagus.

Yang tidak boleh dilupakan, sejarah juga mencatat bahwa antar Knights Templar dengan kaum Hashsashin (Assassin) pimpinan Hasan bin Sabbah, seorang Syiah musuh dari Dinasti Abbasiyyah, yang memiliki benteng kuat di Alamut dekat Laut Kaspia, terjalin suatu hubungan yang baik dan saling menghormati. Kaum Assassin begitu hormat dengan Templar dan sebaliknya, ini disebabkan antara keduanya memiliki banyak persamaan di bidang terror dan kebuasan serta keterampilan dalam berperang.

Bahkan tak jarang, kaum Assassin ini disewa Tentara Salib untuk pihak eksekutor dalam kasus-kasus tertentu seperti yang terjadi dalam Perang Salib III di masa King Richard “The Lion Heart” dari Inggris di abad ke-12M. Panglima pasukan Islam sendiri, Shalahuddin al-Ayyubi pernah terkejut tatkala bangun dari pembaringan di dalam tendanya, mendapati sepotong kue yang telah diberi racun dengan selembar surat yang berisi kalimat teror, “Anda berada dalam kekuasaan kami.” Ini salah satu hasil operasi kaum Asassin.

Sebenarnya, para Templar ini setelah kegagalannya mempertahankan Yerusalem dan Palestina dari tangan Saracen, ingin mengadakan serangan balik kembali. Mereka menemui raja-raja Eropa dan kaum bangsawannya dan membujuk mereka agar mendanai serangan balik ini. Namun  para raja dan bangsawan Eropa sudah tidak bergairah lagi untuk mengadakan peperangan. Mereka lelah dan jemu.

Dana pun sudah tidak ada lagi. Maka jadilah Ksatria templar menjadi pasukan yang menganggur, tak punya pekerjaan. Kondisi mereka yang kaya raya, namun tidak punya pekerjaan, akhirnya membuat mereka bersikap arogan, senang mabuk-mabukkan, dan menjadi The Trouble Maker di wilayahnya.
Jelas, hal ini tidak disukai siapa pun yang berkuasa. Dengan kekayaan, kebesaran, dan kemampuan lintas negaranya karena memiliki jaringan yang luas, rapi, dan kuat, lama-lama keberadaan kaum Templar menjadi semacam duri yang dirasakan oleh para bangsawan, raja-raja Eropa, dan bahkan oleh Paus sendiri. Apalagi para Templar ini karena kekuatannya menjadi sangat angkuh dan selalu mau menang sendiri. Para raja dan bangsawan sering tidak dianggap atau bahkan diancam jika tidak menuruti permintaan mereka. Pengaruh Templar yang sedemikian dahsyat dianggap mulai menggerogoti kewibawaan dan pengaruh mereka.

Pada tahun 1306, Raja Perancis, Phillipe le Bel atau Phillipe IV, benar-benar sudah merasa muak dengan para Templar. Apalagi Perancis menjadi pusat kegiatan mereka di Eropa dan kesetiaan mereka terhadap Paus juga semata-mata disebabkan oleh uang.

Tidak yang lain. Walau menjadi Raja Perancis, namun Phillipe sama sekali tidak memiliki pengaruh pada para Templar. Phillipe pun terlibat hutang dengan ordo ini akibat pembiayaan Perang Salib yang membengkak. Apalagi saat seorang pemberontak melarikan diri dari penjara istananya, Phillipe yang dikawal para ksatria kerajaannya mengejar hingga ke daerah para Templar di Perancis Selatan. Di sebuah Kuil Templar, Phillipe begitu terkesan dengan kemakmuran dan kekayaan mereka. Sebab itu, dengan mempertaruhkan nama dan seluruh kewibawaannya, Phillipe dengan berterus terang mengutarakan niatnya untuk bisa bergabung dengan menjadi anggota ordo tersebut.




Namun jawaban Templar sungguh di luar dugaan. Dengan tegas dan angkuh, mereka menolak permintaan Phillipe sembari mengusir Raja Perancis tersebut keluar dari kuil. Rasa malu, dendam, dan amarah meluap-luap di dada Phillipe le Bel. Dalam hatinya ia bertekad akan menghabisi para Templar dalam waktu singkat. Tekad Phillipe le Bel sudah bulat.

Phillipe IV segera mendata seluruh kabar miring tentang Templar. Ini akan dijadikan alasan utama untuk menghabisi ordo tersebut dan juga untuk menghimpun sekutu utamanya yaitu Paus Clement V. Phillipe IV sangat yakin Uskup dari Bordeaux yang telah ditolongnya sehingga berhasil terpilih menjadi Paus dengan nama Clement V akan menjadi sekutu yang loyal. Apalagi dengan kabar yang santer terdengar bahwa kaum Templar diam-diam telah jauh menyeleweng dari ajaran Yesus dan berpaling kepada bid’ah, menyelenggarakan upacara-upacara yang memuja Baphomet, iblis berkepala kambing dalam mitologi Yahudi dan menjadi lambang okultisme, sembari meludahi salib.

Bahkan ada pula ritual-ritual tertentu yang diakhiri dengan hubungan seks antara anggota dengan pemimpinnya. Kala itu juga berkembang kabar bahwa para Templar juga mempraktekkan perilaku homoseks atau hubungan sejenis. Ini merupakan tuduhan-tuduhan yang dikemudian hari ada yang diakui oleh mereka, namun ada pula yang tidak mengakui hal ini dan menyatakan bahwa tudingan itu semua adalah fitnah yang sengaja disebar Gereja untuk menjelek-jelekkan Templar.

Yang pasti, di awal masa-masa Perang Salib di tahun 1208, Paus Innocent III pernah menegur Ksatria Templar karena sikap dan perilaku mereka yang dinilai tidak mencerminkan seorang Kristiani dan malah condong kepada praktek Necromancy yang lazim meminta sesuatu dari orang-orang yang sudah mati.

Dengan penuh kerahasiaan, utusan Philipe yang konon seorang Kanselir Perancis bernama Von Nugari, menemui Paus Clement V dan menyampaikan maksud dari tuannya. Merasa berutang budi yang sangat besar membuat Clement V mau tak mau harus membantu Phillipe le Bel, walau secara pribadi ia merasa segan pula kepada Templar. Segannya Paus Clement V kepada Templar bisa karena memang takut, atau juga konon karena menyadari adanya pertalian darah antara ibunya yang bernama Ida de Blanchefort dengan Dinasti Blanchefort yang banyak menjadi anggota Templar.

Walau demikian, sebuah operasi intelijen pun disiapkan guna memberangus dan menghabisi para Templar langsung di jantungnya, Perancis. Daftar tuduhan terhadap ordo Templar telah selesai dibuat. Seluruh mata-mata yang paling handal dari pihak Paus maupun Phillipe telah disebar menyusup ke dalam ordo. Bahkan Phillipe mendapat bantuan dari seorang anggota Templar yang kesetiaannya bisa dibeli dengan uang.

Bagi sebagian peneliti, motivasi Phillipe le Bel untuk menumpas Templar diyakini disebabkan masalah utang piutang yang terjadi sebelum tahun 1305. Mereka menyatakan bahwa saat itu Phillipe IV terdesak dan sangat membutuhkan uang tunai untuk membiayai peperangannya. Phillipe, sebagaimana kelaziman raja-raja dan kaum bangsawan Eropa lainnya pada masa itu, akhirnya  mendatangi Templar dan meminta bantuan uang dari kaum Templar. Tapi dengan angkuh permintaan Phillipe ini ditolak mentah-mentah.

King Phillipe sungguh geram dan sakit hati. Dia lalu mendesak Paus Bonifacius VIII yang berkuasa saat itu untuk mengucilkan kaum Templar. Tapi lagi-lagi Phillipe mendapat penolakan. Paus tidak berani memenuhi permintaannya. Phillipe lalu mengirim penasihatnya, Guillaume de Nogaret, untuk menculik Paus. Bonifasius VIII meninggal hanya sebulan setelah mendengar rencana itu karena keterkejutan dan ketakutannya. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber






Paus berikutnya, Benedictus XI juga menolak dan tidak lama kemudian juga meninggal tiba-tiba. Menurut kabar yang santer terdengar, Paus Benedictus XI itu meninggal karena diracun oleh orang suruhan Le Bel. Kemudian pada pencalonan Paus berikutnya, Phillipe le Bel bersikap pro-aktif dan mencalonkan seorang Uskup dari Bordeaux. Dengan segenap upayanya, Uskup dari Bordeaux itu akhirnya terpilih menjabat Paus yang baru dengan nama Paus Clement V. Karena merasa berutang budi inilah, akhirnya Clemens V memenuhi tuntutan Phillipe untuk menumpas kaum Templar.


Paus yang baru ini juga memindahkan takhta kepausan ke Avignon. Mereka berdua dengan seluruh pasukannya kemudian menumpas habis Templar. Bahkan Paus Clement V mengeluarkan keputusan kepausan dengan nama Vox in Excelso (suara dari langit) yang melarang keberadaan Templar dengan tuduhan telah menyebarkan paham sesat dan menyimpang dari Gereja. Saat itu, hal ini merupakan sebuah tuduhan sangat serius yang berimplikasi satu: kematian, lewat siksaan yang teramat pedih.

Dalam interogasi, para Templar sembari disiksa dipaksa mengakui bahwa ordonya melakukan hal-hal yang bertentangan dengan Gereja dan mengajarkan bid’ah. Namun kabarnya Gereja tidak mendapatkan bukti yang kuat sehingga pada akhirnya hanya tiga tokoh Templar yang dituduh sesat langsung oleh Komisi Kepausan yaitu Jacques de Molay dan dua bawahan langsungnya. Mereka diharuskan menolak ajaran sesat mereka secara terbuka di muka umum.

De Molay menyatakan bahwa Ordo dan dirinya bersama kedua rekannya sama sekali tidak bersalah. Walau demikian mereka dibakar pada kayu salib di tahun 1314. Komisi Kepausan dikabarkan juga menemukan bahwa Ordo itu secara keseluruhan tidak sesat, meski ada bukti-bukti terisolasi tentang penyebaran ajaran sesat. Malah Komisi ini mendukung dipertahankannya ordo tersebut. Namun Paus Clement V, karena menghadapi opini umum yang kian menentang Ordo itu, akhirnya mengalah dan menekan Ordo tersebut.

Operasi penumpasan terhadap para Templar dilakukan dengan sangat cepat. Sehari sebelum Jum’at, 13 Oktober 1307, seluruh ksatria Phillipe yang mendapat bantuan dari Paus telah menyebar di lokasi-lokasi tempat Templar berkumpul. Seluruh persenjataan telah disiapkan. Masing-masing regu telah mengantongi sepucuk surat rahasia, bersegel, yang hanya boleh dibuka pada hari Jum’at dini hari, 13 Oktober 1307.  Saat fajar menyingsing, selutruh pasukan raja dan Paus bergerak cepat. Ini mirip dengan operasi Blitzkrieg ala Gestapo Hitler. Seluruh Templar diserang dan ditangkap. Kuil dan barang-barang mereka disita. Penangkapan terhadap Templar ini diikuti dengan penyiksaan brutal yang berakhir pada kematian.

Pada tahun 1312, secara resmi Paus Clement V mengeluarkan maklumat gereja yang memutuskan pembubaran Ordo Ksatria Templar. Pengejaran dan penangkapan terus dilakukan. Pada tahun 1314, Grand Master Ksatria Templar, Jacques de Molay berhasil ditangkap bersama Geoffroy de Charney yang menjadi pembimbingnya. Keduanya di tahan bersama anggota Templar lainnya di penjara bawah tanah di benteng Chinon.

Tidak lama kemudian, pada Maret 1314, Jacques de Molay segera dibakar hidup-hidup di tiang salib di depan umum hingga mati. Eksekusi ini dilakukan di Ille de la Cité, yang terketak di belakang Gereja Notre Dame, Paris. Saat api berkobar membakar tiang salib dan menyentuh kulit De Molay, dengan suara keras De Molay meneriakkan kutukannya kepada Phillipe le Bel dan Paus Clement V:

“Setahun setelah kematianku, kalian berdua, Phillipe le Bel dan Paus Clement, akan segera menyusulku menghadap Tuhan!.”

Entah karena sihir atau kebetulan belaka, sebulan setelah kematian De Molay, Paus Clement V menemui ajal akibat disentri yang parah. Sedang Phillipe le Bel mati tujuh bulan setelah De Molay tanpa pernah diketahui apa penyebabnya. Yang patut diingat, para Templar merupakan orang-orang yang sangat piawai dalam meracik racun.

Kesimpangsiuran opini para peneliti Barat tentang motivasi Phillipe le Bel dan Clement V menghabisi para Templar, juga proses hukuman terhadap ordo ini, menarik minat Harun Yahya yang meneliti informasi-informasi yang ada. Dalam karyanya yang berjudul “Ancaman Global Freemasonry”, Harun Yahya menulis, “Segolongan ahli sejarah cenderung melukiskan sidang pengadilan para Templar sebagai hasil konspirasi dari Raja Prancis, dan menggambarkan para ksatria itu tak bersalah atas segala dakwaan. Tetapi, cara interpretasi ini keliru dalam beberapa segi. Nesta H. Webster, ahli sejarah Inggris terkenal dengan begitu banyak mengetahui sejarah okultisme, menganalisis berbagai aspek ini dalam bukunya, ‘Secret Societies And Subversive Movements’. Menurut Webster, kecenderungan untuk melepaskan para Templar dari bid’ah yang mereka akui dalam masa pengadilan tidak tepat. Pertama, selama interogasi, walau secara umum terjadi, tidak semua Templar disiksa.”

Lagipula, tanya Harun Yahya, apakah pengakuan mereka tampak seperti hasil imajinasi murni orang-orang yang disiksa? Tentunya sukar dipercaya bahwa cerita tentang upacara pembaiatan — yang disampaikan dengan rinci oleh orang-orang di berbagai negara, dituturkan dalam kalimat yang berbeda, namun semuanya saling menyerupai — merupakan karangan semata-mata. Jika para korban dipaksa untuk mengarang-ngarang, cerita mereka tentu akan saling bertentangan; segala macam ritus liar dan fantastis diteriakkan dengan penuh kesakitan untuk memenuhi tuntutan interogator mereka. Tetapi sebaliknya, masing-masing tampak seperti mendeskripsikan upacara yang sama, baik lengkap maupun tidak, dengan sentuhan personal si pembicara, dan pada dasarnya semua cerita tersebut cocok.



Bagaimanapun juga, sidang pengadilan para Templar berakhir dengan tumpasnya ordo tersebut. Tetapi, walaupun sudah dibubarkan “secara resmi”, ia tidak benar-benar musnah. Selama penangkapan tiba-tiba pada tahun 1307, beberapa Templar lolos, dan berhasil menutupi jejak mereka. Mereka melarikan diri keluar dari Perancis atau bersembunyi di wilayah yang dianggap aman.
Para Templar yang melarikan diri keluar dari Perancis memilih bersembunyi di Skotlandia.

Skotlandia pada saat itu merupakan satu-satunya kerajaan di Eropa yang tidak mengakui kekuasaan Gereja Katolik. Raja Skotlandia, King Robert The Bruce, dengan tangan terbuka menyambut mereka dan menyembunyikannya ke dalam organisasi-organisasi buruh atau serikat pekerja terpenting di Kepulauan Inggris abad pertengahan ini dan menyusupkan mereka ke dalam pemondokan-pemondokan para tukang batu yang disebut Mason. Inilah cikal bakal berubahnya nama Ksatria Templar menjadi Mason, yang lebih popular disebut Freemasonry.

Selain Skotlandia, beberapa negara Eropa lainnya juga menjadi tujuan pelarian para Templar itu. Para Templar yang melarikan diri ke Portugal bersembunyi di wilayah itu dan mengubah nama ordo mereka menjadi Knights of Christ Order (Ordo Ksatria Kristus). Di kemudian hari, pelarian Templar yang berada di Portugal ini, dan juga Spanyol, mengganti kuda-kuda mereka dengan kapal-kapal layar besar yang dilengkapi dengan meriam. Penjelajah Portugis, Vasco da Gama, merupakan anggota dari Ordo Ksatria Kristus ini.

Mereka yang lari ke Malta, sebuah pulau kecil di ujung selatan Italia, sempat menutup diri dan mengubah semua bentuk keksatriaan mereka. Beberapa tahun kemudian, pelarian Templar ini dikenal sebagai Knights of Rhodes atau yang lebih dikenal dengan sebutan Knights of Malta. Ksatria Malta ini sekarang dikenal sebagai ordo dalam kekristenan yang banyak mendirikan rumah-rumah sakit di berbagai negara dan wilayah di seluruh dunia. Mereka memiliki Grand Masternya sendiri yang masih ada hingga sekarang.

Di Inggris, King Edward II tidak begitu percaya bahwa Ordo Templar bersalah seperti yang telah dituduhkan Gereja. Bahkan King Edward II sampai berdebat sengit dengan Paus mengenai hal itu. Ia kemudian menolak mentah-mentah ketika Paus memerintahkan dirinya untuk melakukan pengejaran dan pembasmian para Templar.

Di Jerman, sebuah peristiwa dramatis terjadi. Grand Master Ordo Templar Jerman, Hudo von Gumbach, tiba-tiba masuk ke ruang sidang konsili yang diselenggarakan oleh Uskup Agung Metz. Hugo von Gumbach mengenakan pakaian tempur dan bersenjata lengkap. Ia dikawan 20 Ksatria Tempar terpilih yang juga mengenakan baju perang dan bersenjata lengkap.

Di depan peserta konsili, Hugo dengan lantang berteriak bahwa Paus adalah setan yang harus ditumbangkan dan Ordo Templar sama sekali tidak mempunyai salah atau pun dosa. Kepada semua peserta konsili, Hugo bahkan menantang bahwa mereka siap berkelahi sampai titik darah penghabisan untuk membela keyakinannya. Kesunyian begitu mencekam. Dalam kesunyian itu, Uskup agung Metz kemudian berjanji akan mengeluarkan keputusan yang baik bagi Templar keesokan harinya. Hugo dan pasukannya pun keluar ruangan. Keesokan harinya, para ksatria Templar Jerman dinyatakan tidak bersalah.

Di Aragon dan Castile, para Uskup menggelar sidang bohong-bohongan yang kemudian juga mengeluarkan pernyataan bahwa para Templar tidak bersalah. Walau demikian, untuk juga menghargai para Uskup local, maka para Templar pun bertindak kooperatif dengan berpura-pura menanggalkan keyakinan mereka, masuk Kristen, atau pun melakukan perjalanan untuk hidup di tempat yang baru.  (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber




0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template