Rabu, 14 Januari 2015

NWO Untold, Sejarah Rahasia dan Tersembunyi Freemasonry dan Illuminati (4)



Skotlandia, Inggris, Portugal, dan Spanyol, juga Malta, memang menjadi lokasi pelarian Templar. Di kerajaan-kerajaan tersebut para Templar berbaur dengan penduduk setempat yang mayoritas memeluk agama Katolik Roma. Mereka juga banyak yang mengganti nama. Beberapa dari mereka juga meminta suaka kepada para bangsawan dan tuan tanah (Landlord) yang memiliki wilayah kekuasaannya sendiri, otonom. Banyak permintaan suaka ini diterima dengan tidak gratis, dengan artian para bangsawan yang sangat memahami bahwa para Templar itu kaya raya, meminta sejumlah uang sebagai jaminan keamanan atas dirinya. Bahkan ada pula yang kemudian bermitra dan meneruskan bisnis usaha ‘perbankan’ yang dulu telah dirintis para Templar.

Pada awal abad ke 16, Gereja Katolik tengah didera gerakan reformasi, yang dipelopori oleh Martin Luther (1483-1546), pemimpin Gerakan “Protest” (sebab itu gerejanya kemudian disebut sebagai Gereja Protestan), dan John Calvin (1509-1564) yang kemudian melahirkan Gereja Calvinis. Banyak kalangan memandang gerakan reformasi gereja sebenarnya juga didorong oleh mereka yang tidak puas atau menyimpan dendam terhadap hegemoni Gereja Katolik, seperti halnya kaum Templar. Dan hal ini ternyata mendapat pembenaran dengan bergabungnya sejumlah fraksi dari penerus Templar ke dalam gerakan reformasi gereja tersebut antara tahun 1517-1521.

Satu-satunya motivasi para mantan anggota Templar ini bergabung dalam gerakan tersebut adalah untuk membalaskan dendam atas kejadian dua abad lalu terhadap Gereja Katolik dengan menunggangi gerakan pembaharuan gereja ini. Upaya penyusupan oleh penerus Templar ini semula tidak diketahui Martin Luther, namun beberapa tahun kemudian barulah ia menyadari akan hal tersebut dan dengan tegas Martin Luther menghujat dan mengecam kaum Yahudi ini dan menyerukan agar semua pengikutnya tidak terpengaruh oleh kaum ini.

Setelah penumpasan para Templar memang bagaikan hilang di telan bumi. Mereka membenamkan diri dalam-dalam ke perut bumi sembari terus memelihara harapan, cita-cita, dan tujuan mereka yang masih teramat panjang. Pengejaran dan penumpasan terhadap Templar ternyata tidak bisa tuntas. Rahasia harta karun Templar yang menjadi pusat misteri tentang keberadaan ordo ini tetap menjadi misteri.

Banyak catatan yang menyatakan, sebelum pasukan Phillipe le Bel dan Clement V bergerak di pagi hari itu, beberapa hari sebelumnya Grand Master Templar Jacques de Molay telah memerintahkan kepada beberapa bawahannya untuk memindahkan berkas-berkas dan dokumen rahasia yang sangat penting di suatu tempat yang dinilai aman, membakar banyak buku dan catatan ordo, termasuk membawa berpeti-peti harta karun keluar dari Perancis melewati jalan laut.

Upaya yang dilakukan De Molay ini mengindikasikan satu hal yang pasti: Tempar telah mengetahui, setidaknya mencium rencana Phillipe le Bel dan Paus Clement V, atau kalau pun Templar tidak tahu siapa yang akan menghabisinya secara pasti, yang jelas Templar telah yakin akan ada sesuatu yang besar yang akan menimpa ordo persaudaraan ini sehingga seluruh dokumen rahasia, segala catatan dan buku, serta harta karun dan properti yang dimilikinya harus diamankan.

Dan ini terbukti. Pasukan Phillipe le Bel dan Clement V sama sekali tidak memperoleh sepotong koin emas pun dari harta karun Templar yang sangat banyak itu. Lalu dari mana De Molay mengetahui rencana rahasia terhadap Templar itu? Guillaume de Gisors, Grand Master Biara Sion, disebut-sebut sebagai pihak yang memberi tahu De Molay.

Walau antara Biara Sion dengan Ksatria Templar telah tidak ada lagi hubungan sejak peristiwa Penebangan Pohon Elm, walau amat mungkin hal ini hanyalah formalitas belaka, namun dalam kenyataanya kedua ordo itu, mungkin secara pribadi-pribadi, tetap berhubungan dengan erat. Bukankah Grand Master Biara Sion, Guillaume de Gisors, telah dihadiahi sebuah kepala emas Caput LVIIIm atau Caput 58M, oleh Templar di tahun 1307?

Sebab itu, antara Sion dengan Templar terbukti tetap memelihara jaringan mereka. Dan yang juga menarik, Guillaume de Gisors ternyata juga berkawan akrab dengan Guillaume Pidoye, salah satu kaki tangan Phillipe de Bel yang berpengaruh. Bisa jadi, Pidoye yang menganggap Sion tidak memiliki hubungan lagi dengan Templar, bahkan menduga Sion masih menyimpan dendam terhadap Templar akibat lepasnya Yerusalem, membocorkan rencana Phillipe untuk menumpas Templar dengan harapan mendapatkan dukungannya atau setidaknya berupa persetujuan moril. Kabar ini kemudian oleh de Gisors diteruskan kepada De Molay yang mengambil beberapa langkah preventif untuk menjaga ‘harta terbesar’ para Templar.




DIVISI PEREMPUAN KSATRIA TEMPLAR

Yang sangat jarang diamati peneliti lainnya adalah sebuah pertanyaan mendasar bahwa jika Templar memang ‘menuhankan’ perempuan seperti halnya terhadap Maria Magdalena dan juga Dewi-Dewi Masir kuno lainnya, begitu ‘terpesona’ oleh konsep femininitas, maka adakah dalam ordo ini kesempatan bagi perempuan untuk bergabung? Adakah Divisi Perempuan dalam Ordo Militer Khusus Knights of Templar?

Pertanyaan ini mendapat jawaban yang memuaskan ketika dua orang peneliti, Charles dan Nicole, menyatakan bahwa Ordo Ksatria Templar memang memiliki anggota perempuan.[1]  Di tahun-tahun awal pendirian ordo ini, ada banyak perempuan yang ikut mengucapkan ikrar Templar walau kemudian mereka hanya menjadi anggota biasa. Mereka, Nicole dan Charles, menyatakan,

“Jika mengamati kembali berbagai dokumen dari abad ke-12, Anda akan mendapatkan banyak perempuan yang bergabung dengan Ordo Templar, terutama pada abad pertama keberadaannya. Setiap orang yang bergabung harus mengucap ikrar untuk menyerahkan ‘rumahku, tanahku, tubuhku, dan jiwaku kepada Ordo Templar’. Anda akan mendapati nama-nama perempuan di akhir berbagai dokumen ini selain nama-nama lelaki. Anda pun akan menemukan banyak pasangan (laki-laki dan perempuan) yang sama-sama bergabung. Jadi, kaum perempuan pun harus mengucapkan ikrar. Dokumen-dokumen itu terutama membahas wilayah ini (Languedoc), dan ada cukup banyak petunjuk mengenai banyaknya kaum perempuan yang pada suatu kali terlibat dalam Ordo Templar. Dan beberapa wkatu kemudian, ordo ini memang mengubah peraturannya dan melarang keanggotaan perempuan”. 

Peneliti lainnya seperti Michael Baigent dan Richard menyatakan dalam buku “The Temple and the Lodge” (1989): …sebuah dokumen dari akhir abad ke-12 di Inggris melaporkan tentang seorang perempuan yang diterima Ordo Templar sebagai Suster. Fenomena ini tampaknya menyiratkan keberadaan sayap atau kelompok feminin dalam Ordo. Tetapi, (sejauh ini) belum ditemukan penjelasan mengenai masalah ini. Bahkan, informasi tentangnya yang mungkin terdapat dalam dokumen-dokumen resmi Inkuisisi telah lama hilang atau disembunyikan.

Catatan-catatan tentang keberadaan Divisi Feminin dalam Ordo Templar ini memang sangat terbatas. Yang mencuat dalam sejarah memang sisi maskulinitasnya. Walau demikian, hal tersebut sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa ordo ini memang terlihat lebih maju dari zamannya.

Akhir keberadaan ordo ini memang mengenaskan. Grand Master terakhirnya, Jacques de Molay, memang telah mati. Demikian pula Phillipe le Bel dan Paus Clement V. Namun Templar kini malah menemukan pusat operasi mereka yang baru, di suatu wilayah yang merdeka dari Gereja Katolik Roma, lepas dari pengaruh Paus, dan mendapat dukungan penuh dari penguasa wilayah tersebut, King Robert The Bruce, yang kebetulan tengah berperang melawan Inggris dan memerlukan tenaga kombatan yang handal. Agar tidak menyulitkan The Bruce, Templar akhirnya menanggalkan jubah putih dan panji-panji perangnya, dan kemudian mengganti pakaian dengan pakaian yang biasa dikenakan para pekerja, para tukang batu, bergabung dengan para Mason dan menguasai gilda-gilda mereka, lodge-lodge mereka. Tidak ada lagi Knights of Templar. Yang ada sekarang adalah Mason. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber
—————————————————
[1] Lynn Picknett dan Olivia prince; The Templar Revelation; hal. 181.


Akibat operasi penumpasan para Templar yang dimulai oleh Raja Perancis Phillipe IV dan Paus Clement, ordo tersebut akhirnya dikejar-kejar di seluruh kerajaan di Eropa yang berada di bawah pengaruh Paus. Banyak yang tertangkap dan menemui ajal, namun ada pula pengecualian-pengecualian yang tidak tercatat dalam sejarah berupa pemanfaatan-pemanfaatan yang dilakukan raja-raja lainnya.

Di Lorraine, yang pada abad ke-14 masuk dalam wilayah kerajaan Jerman, bukan Perancis, para anggota Templar yang diburu mendapat pengarahan dari pada Commander setempat untuk mencukur jenggot mereka dan menanggalkan jubah putihnya serta kemudian mengenakan pakaian orang biasa. Mereka berbaur dengan penduduk setempat dengan aneka pekerjaan dan profesi. Walau demikian, mereka tetap mengorganisasikan diri secara rahasia dan berhubungan dengan pelarian Templar yang telah memakai nama ‘Mason’ di Eropa lainnya.

Di Portugis, nama ordo Templar dibersihkan oleh sebuah penyelidikan dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, nama ordo ini kemudian diubah menjadi Knights of Christ (Ksatria Kristus). Ordo lama namun baru ini berkembang dengan pesat di Portugal bahkan bisa merangkul pusat kerajaan. Bidang maritim adalah salah satu pusat perhatian ordo ini.

Para pelaut ulung seperti Vasco da Gama dan Colombus merupakan anggota dari Ksatria Kristus. Dalam pelayarannya mengarungi lautan, kapal-kapal layar mereka yang besar menggunakan lambang salib merah ala Templar. Di Prusia, para Templar bergabung dengan Ksatria Teutonik, ordo militer yang juga dibentuk Knights Templar beberapa tahun lalu.

Walau demikian, Skotlandia memang menjadi tujuan utama pelarian para Templar dari Perancis. Skotlandia merupakan satu-satunya kerajaan di Eropa yang tidak berada di bawah pengaruh Paus karena telah di-ekskomunikasikan (diputus dari Vatikan). Apalagi Skotlandia tengah berada dalam situasi yang tidak bersahabat dengan Kerajaan Inggris. Raja Skotlandia, Robert The Bruce pasti memerlukan tenaga-tenaga tempur yang handal seperti halnya para Ksatria Templar. Perhitungan para Templar ini ternyata tepat.

Di Skotlandia, Papal Bull (surat perintah Paus) untuk membasmi ordo Templar sama sekali tidak dilaksanakan. Robert The Bruce dengan hangat menyambut datangnya para Templar yang telah menyamar sebagai tukang batu yang dipimpin oleh seseorang yang menyebut dirinya bernama Mac Benach. Di kemudian hari, para Mason menyebut nama Mac Benach dengan segala kehormatan.
Di Skotlandia inilah para Templar menemukan sebuah tempat yang dianggap pas sebagai tempat penyamaran mereka untuk meneruskan cita-cita gerakan rahasianya. Tempat itu adalah sebuah gilda (serikat pekerja) terpenting di Kepulauan Inggris abad pertengahan yang disebut loge atau pemondokan tukang batu (loge masonik), dan dengan cepat segera menguasai loge-loge tersebut.

Mason awalnya hanyalah sebuah sebutan untuk tukang batu. Ada yang menyatakan bahwa sebutan ini berawal dari para tukang batu yang telah membangun Haikal Sulaiman. Dan Lodge merupakan tempat pemondokan para Mason, para tukang batu, semacam asrama. Di kemudian hari, istilah ini lebih bersifat politis merujuk pada organisasi rahasia yang menjalankan ritual Kabbalah dan dipenuhi dengan intrik maupun konspirasi.

Setelah menguasai Loge Mason, nama ini kemudian dipakai sebagai nama gerakan rahasia. Inilah loge tertua dalam sejarah Freemason dengan Scotish-rite atau ritus Skotlandia yang melegenda meliputi pedoman tingkah laku, pedoman keanggotaan, tata upacara, dan bentuk-bentuk ritual lainnya yang sarat dengan ajaran esoteris yang tidak berbeda dengan apa yang telah dilakukan para Templar, Biara Sion, dan leluhur mereka, para ahli sihir tertinggi Fir’aun berabad-abad lalu di Mesir. Ritus Skot ini merupakan sebutan bagi segala ajaran Mason yang berasal dari Skotlandia yang kembali lagi ke Perancis dan mengembangkan kegiatan Freemason di sana.

Secara sederhana, Freemason sesungguhnya bisa dianggap sebagai pewaris dari Ksatria Templar. Jika diurutkan, mungkin bisa dibuat sebuah garis lurus dengan Ordo Kabbalah di hulu, lalu di titik pertama ada Ordo Sion yang kemudian menjadi Biarawan Sion yang kemudian membentuk Ksatria Templar, lalu di ujung garis yang belum selesai ada Freemasonry, garis itu terus berlanjut, berjalan, dan hingga kini belumlah selesai.

Beberapa peneliti yang meyakini bahwasanya Freemason adalah pewaris Templar antara lain John J. Robinson dengan buku Born in Blood dan Michael Baigent, dan Richard Leigh dengan The Temple and the Lodge. Robinson, sejarawan asal Amerika Serikat, memulai penelitiannya dari ritual Freemason modern dan merunutnya ke belakang, ke asal-usulnya. Sedangkan Michael Baigent dan Richard Leigh melacak keberadaan Freemason di Skotlandia. Keduanya sampai pada kesimpulan yang sama: Freemasonry merupakan penerus dari Ordo Templar.

Hanya saja, di antara Baigent-Leigh dan Robinson ada satu perbedaan besar. Jika Baigent-Leigh memahami keberadaan Freemason sebagai perkembangan Ordo Templar yang terisolasi di Skotlandia, lalu menyebar ke Inggris pada 1603 bersamaan dengan bertahtanya Raja Skotlandia, King James VI ke tahta Inggris dan masuknya para bangsawan Skotlandia ke dalam lingkaran aristokrasi Inggris, maka Robinson meyakini bahwa perkembangan Ordo Templar menjadi Freemasonry berlangsung sepenuhnya di Inggris.

Menurut Robinson, Revolusi Kaum Petani di Inggris pada tahun 1381 sesungguhnya merupakan upaya Templar untuk menyerang hak milik Gereja dan Ksatria Hospitaller, sebuah ordo yang banyak menangguk keuntungan dari penumpasan Templar. Walau demikian, ketiga peneliti tersebut sama-sama meyakini bahwa Ordo Templar tidaklah habis dan bahkan menemukan pijakan dan ‘markas’ yang lebih kuat lagi untuk berkembang di bawah nama Freemasonry.



Kembali ke Skotlandia, kehadiran Templar di negeri ini sungguh-sungguh menguntungkan posisi Robert de Bruce. Dalam Perang Bannockburn melawan Inggris pada tanggal 24 Juni 1314 (Hari Raya Santo Yohanes Pembaptis), kesatuan-kesatuan tentara Skotlandia yang terdiri dari mantan Ksatria Templar berhasil mengalahkan lawannya tepat jam sebelas malam.

Hubungan yang teramat baik dengan penguasa kerajaan Skotlandia berlanjut hingga empat abad ke depan, yang berarti sampai dengan tahun 1700-an. Walau pun di tahun 1329, Gereja mencabut status ekskomunikasi dengan King Robert de Bruce yang berarti Gereja kembali membangun komunikasi dengan Skotlandia, dan ini mengkhawatirkan Templar, namun ternyata hal tersebut tidak membawa banyak dampak pada keberadaan Templar atau Mason di Skotlandia.

Walau demikian, anggota mereka tetap bergerak di dua dunia: terang dan gelap, terbuka dan rahasia. Salah satu hasil kedekatan antara para Mason dengan penguasa Skotlandia adalah berdirinya Rossylin Chapel yang terletak 10 kilometer di selatan kota Edinburgh, yang didirikan pada tahun 1446 dan berhasil diselesaikan pada tahun 1450. Setiap tahun, kemenangan dalam pertempuran Bannockburn ini dirayakan di Kapel Rosslyn.

Pada tahun 1737, seorang ksatria Ordo Lazarus dari Skotlandia bernama Andrew Michael Ramsay menyampaikan pidato di hadapan kaum Freemason di Paris yang di kemudian hari dikenal sebagai ‘Orasi Ramsay’. Dalam pidatonya, Ramsay yang juga guru ruhani dari Bonnie Prince Charlie, dengan tegas mengatakan jika kelompoknya—Ordo Lazarus—merupakan keturunan para Ksatria Perang Salib, sebutan yang secara tidak langsung mengacu kepada Ksatria Templar.

Selain itu, Ramsay juga menyatakan bahwa kaum Mason sesungguhnya berasal dari kelompok yang meyakini misteri Dewi Diana, Minerva, dan Isis, bunda para dewi.[1] Orasi Ramsay menuai polemik dan ini merupakan pernyataan public pertama yang menyatakan bahwa Freemason berasal dari Ordo Templar. Bisa jadi, karena inilah setahun kemudian Paus melarang Freemasonry.

Setelah Ramsay menyatakan keterusterangannya, enam tahun kemudian Karl Gotthelf yang menyandang gelar Baron Von Hund und Alten-Grotkau menyatakan bahwa dirinya merupakan anggota Ordo Templar-Masonik di Paris. Baron Von Hund menegaskan bahwa akar dari Freemasonry memang mengacu pada Ordo Templar. Hund kemudian mendirikan sebuah kelompok yang dinamakannya Strict Templar Observance (Penghayat Templar yang ketat) di Jerman. Kelompok ini kemudian lebih popular dengan sebutan nama Persaudaraan Yohanes Pembaptis.

Hund juga mengakui memiliki daftar nama Grand Master rahasia Templar sepeninggal Jacques de Molay. Terhadap klaim Hund ini, ada peneliti yang yakin namun banyak pula yang menyebutnya pembual.[2] Bahkan Mason aras utama menolak klaim Hund yang menyebutkan mereka berasal dari Templar. Bisa jadi ini hanyalah penolakan yang dibuat-buat. Namun apa pun pendapat para pakar, yang jelas organisasi Mason-Templaris ini berkembang luas di kedua sisi Atlantik. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber
———————————-
[1] Lynn Picknett dan Olivia Prince: The Templar Revelation; hal. 222.
[2] Lihat Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln; The Messianic Legacy; bab.6



Gerakan Freemason-Templaris ini juga mempengaruhi banyak kelompok lain, misalnya Scottish Rites Freemasonry, khususnya keleompok yang disebut Rectified Scottish Rite, yang berakar kuat di Perancis. Kaum Mason di Perancis memiliki legenda “Maître Jacques’, seorang tokoh mistis pelindung serikat-serikat tukang batu Perancis abad pertengahan.

Konon, ia adalah seorang kepala tukang batu (Mason Master) yang ikut membangun Kuil Sulaiman. Setelah kematian Hiram Abiff, ia meninggalkan Palestina dan bersama tigabelas(!) orang tukang batu lainnya berlayar ke Marseilles (kota yang sama di mana Maria Magdalena melarikan diri). Di Marseilles, dia menyembunyikan diri dari kejaran para pengikut kepala tukang Pater Soubise yang sangat ingin membunuhnya. Dia kemudian berlindung di gua di wilayah Sainte  Baume, lagi-lagi gua yang sama dengan tempat bersembunyinya Maria Magdalena. Upayanya ternyata tidak berhasil. Ia diketahui dan dibunuh. Kaum Mason masih menziarahi gua ini setiap tanggal 22 Juli.

Pernyataan Ramsay yang kemudian diikuti dengan pengakuan Baron Von Hund ini akhirnya dianggap berbahaya oleh Mason aras utama. Situasi di Eropa sendiri kala itu memang masih alergi dengan istilah Templar. Apalagi sejumlah penguasa di Eropa masih menyimpan kecurigaan bahwa Templar suatu waktu akan membalas dendam kepada mereka akibat peristiwa di abad ke-14. Akhirnya pada tahun 1778 diselenggarakan pertemuan besar Freemasonry di Lyons yang kemudian melahirkan Rectified Scottish Rite, dengan sebuah ordo kamuflase dengan nama Chevalier Bienfaisant de la Cité Sainte, yang sesungguhnya hanya nama lain dari Templar.[1]

Salah satu tokoh penting dalam pertemuan Lyons ini adalah filsuf okultisme bernama Louis Claude de Saint Martin (1743-1804). Martinisme merupakan ajaran okultisme yang paling berpengaruh di Lyons dan juga Perancis Selatan. Ia kemudian juga mendirikan Lodge Martinist di kota yang sama. Dan pastor kita yang terkenal dari Rennes-le-Château, Bérenger Sauniére, merupakan anggota dari Lodge Martinist di Lyons pada masanya.[2]

Selain Ritus Skotlandia, juga bermunculan di sejumlah negara ritus-ritus lainnya seperti Freemason ritus Mesir (Memphis Rite) yang sangat mengagungkan feminitas dari Dewi Isis. Ada pula Ordo Kuno dan Militer Bait Yerusalem yang didirikan pada tahun 1804 oleh seorang dokter, Bernard Raymond Fabré-Palaprat. Ia diyakini telah memperoleh otoritasnya dari The Charter of Transmission of Larmenius (Piagam Penyampaian Pesan kepada Larmenius) atau yang biasa disingkat jadi ‘Piagam Larmenius’.

Jika ini benar, berarti Palaprat adalah penerus sejati Ordo Templar, sebab Piagam itu dikisahkan telah ditulis pada tahun 1324 oleh Johannes Marcus Larmenius, seorang tokoh yang diangkat sebagai Grand Master Ordo Biarawan Sion oleh Jacques de Molay sendiri, Grand Master Templar yang dibakar hingga menemui ajal. Gulungan piagam itu diperkirakan bertorehkan tanda tangan semua Grand Master Ordo Templar berikutnya setelah Jacques de Molay hingga beberapa generasi selanjutnya.

Sejumlah peneliti, di antaranya Leigh dan Baigent sendiri, menyatakan Palaprat berdusta. Namun Lynn Picknett dan Prince meyakini Palaprat benar karena menyatakan telah melihat sendiri Piagam Larmenius itu, sedang yang lainnya hanya melihat terjemahan Inggrisnya.[3]

ROSSLYN CHAPEL

Kota Edinburgh berada di Teluk Fort yang berhadapan langsung dengan Laut Utara. Ia berada di Barat Skotlandia yang berbatasan dengan kota Berwick on Tweed di Utara Great Britain. Sebelah timur Edinburgh berdiri kota Glasgow yang juga berada di dataran rendah. Saat Templar ditumpas, berbeda dengan kerajaan-kerajaan Eropa lainnya yang berada di bawah pengaruh Paus dari Vatikan, Skotlandia bisa dianggap sudah lepas dari pengaruh Vatikan (ekskomunikasi). Sebab itu, wilayah ini menjadi tujuan utama pelarian para Templar yang dikejar-kejar Phillipe IV dan Paus Clement. Robert the Bruce, sang raja, menyambut mereka dengan tangan terbuka.



Setibanya di Skotlandia, para Templar menanggalkan jubah dan mantel putihnya dan mengganti dengan pakaian para pekerja, tukang batu. Para Templar menyusup ke dalam serikat pekerja dan akhirnya menguasainya. Sebutan Mason untuk tukang batu akhirnya dipakai sebagai nama gerakan rahasia mereka. Berkat kepiawaian dan jaringan mereka yang kuat, di antaranya dengan keluarga bangsawan berpengaruh di Skotlandia, William Saint Clair (Guillaume St Clair), yang juga seorang Templar bahkan ikut serta dalam Perang Salib pertama, para Mason dengan cepat membaur dengan kalangan istana dan pembesar Skotlandia. Banyak anggota keluarga William St Clair juga anggota Templar.

Bahkan pada tahun 1101, Catherine St Clair dikabarkan menikahi salah seorang seorang pendiri Templar. Jasa-jasa para Templar dalam peperangan Banockburn demikian besar sehingga raja dan kalangan istana merasa berhutang budi padanya. Hubunganpun terjalin dengan sangat erat. Pertemanan yang sangat akrab ini berjalan hingga empat abad lamanya, dari abad ke-14 hingga ke-18 M.

Di dekat Edinburgh dan hanya berjarak 15 kilometer dari pusat Templar kuno di Balantrodoch, para Templar mendirikan sebuah kapel yang awalnya diakui sebagai kapel keluarga, walau setelah pembangunannya selesai, kapel yang ada sama sekali tidak bisa disebut sebagai kapel keluarga karena terlalu mewah, besar, dan bernilai jika hanya dipakai oleh keluarga. Namun kalau yang dimaksud dengan istilah ‘keluarga’ adalah “Keluarga Besar Templar” atau “Persaudaraan para Templar” maka ini bisa saja. Pembangunan kapel ini dipimpin langsung oleh William St Clair.

Para Mason dan Rosicrusian terpilih didatangkan dari sejumlah negara Eropa untuk membangun kapel yang dinamakan Rosslyn Chapel. Selain didedikasikan kepada para Templar dan para leluhurnya, juga sebagai bentuk penghormatan pada para dewa-dewi, Kapel Rosslyn dipercaya didirikan sebagai bentuk tantangan kepada Gereja Katolik dan Paus. “Kami masih ada dan berdiri tegak setelah 150 tahun engkau menumpas kami!” mungkin seperti ini pesan para Templar terhadap Gereja katolik.

Tidak seperti gereja pada umumnya, pembangunan dan arsitektur Kapel Rosslyn yang diselesaikan pada tahun 1450 sungguh-sungguh kental dengan segala ornamen dan simbol-simbol yang merepresentasikan keyakinan para Mason. Selain gereja, di sekeliling daerah itu juga dibuka sebuah perkampungan guna dijadikan tempat penampungan para Mason dan Rosicrusian yang bekerja membangun gereja ini.

Arsitektural kapel tersebut sungguh unik dan tiada duanya di seluruh daratan Eropa, bahkan dunia. Mungkin hanya Kuil Herod (Haikal Sulaiman) yang mampu menyamai kerumitan dan keindahan, sekaligus keseraman, arsitektural Rosslyn. Kapel ini dengan sangat tepat menangkap atmosfir Kuil Herod. Nyaris seluruh bagian dari kapel ini dihiasi dengan simbol-simbol Masonik. Di antara simbol itu adalah relief di dinding-dinding dan lengkungan-lengkungan yang menggambarkan kepala Hiram Abiff dan pembunuhnya, sebuah relief dari suatu upacara pembaiatan, dasar-dasar dari lengkungan, dan kompas-kompas.

Kapel ini diwarnai oleh warna paganisme dan okultisme yang kental, di mana di dalamnya bercampur elemen arsitektural gaya Mesir, Yahudi, Gothik, Norman, Celtik, Skandinavia, Templar, dan Masonik. Inilah puncak dan maha karya dari para tukang batu (Mason) saat itu. Salah satu aspek yang paling unik adalah puncak-puncak tiangnya yang didekor dengan motif bunga lili, kaktus, dan jagung, di samping bermacam-macam bentuk tanaman lainnya.

Dikarenakan banyaknya elemen dekoratif pagan di dalam kapel ini, sehingga seorang pendeta, yang menuliskan kisah tentang pembaptisan yang dilakukan oleh Baron Rosslyn di tahun 1589 mengeluh, “Karena kapel dipenuhi oleh patung-patung pagan, tidak ada tempat yang sesuai untuk menyelenggarakan Sakramen”. Ini artinya tiada tempat yang bersih dari simbol-simbol paganisme.

Namun pada tanggal 31 Agustus 1592, berkat tekanan yang dilakukan terhadap Baron Oliver St. Claire dari Rosslyn, altar kapel yang bergaya pagan dihancurkan. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber
——————————————-
[1] Lyn Picknett dan Olivia Prince; The Templar Revelation; hal. 241.
[2] The Sauniere Da Vinci, Awal Terungkapnya The Da Vinci Code; Documentary Movies, 2006.
[3] Lynn Picknett dan Olivia Prince; The Templar Revelation; hal. 244.
==========================
Artikel ini bekerjasama dengan Eramuslim Digest :
Resensi Buku : Jejak Berdarah Yahudi Sepanjang Sejarah , Eramuslim Digest


Rosslyn sendiri dalam bahasa Gaelik memiliki arti sebagai “Pengetahuan kuno yang diwariskan dari generasi ke generasi”, secara kebetulan atau tidak memiliki arti yang nyaris mirip dengan Kabbalah yakni ‘Pengetahuan Rahasia kuno yang diturunkan secara turun-temurun lewat lisan’.

Dan Brown, penulis The Da Vinci Code, mencoba untuk menilai istilah ini dari sudut pandang berbeda, sudut pandang simbology yang jika diartikan dalam bahasa Inggris, maka ‘ROSSLYN’ bisa dipisahkan menjadi dua kata yaitu ‘ROSS’ (yang bila diucapkan tiada berbeda dengan kata ‘Rose’ atau Bunga Mawar) dan ‘LYN’ (yang diucapkan juga tidak banyak berbeda dengan ‘Line’ atau Garis). Jadi, menurut Dan Brown, ‘ROSSLYN’ bisa pula diartikan sebagai GARIS MAWAR.

ROSS LYN = ROSE + LINE
(GARIS MAWAR = GARIS MAGDALENA)

Siapa MAWAR? Tiada lain adalah Marie Magdalena. Dalam keyakinan paganisme kuno, bunga mawar memiliki arti istimewa yang sering dinisbahkan sebagai sosok perempuan. Dan tampaknya bukan suatu kebetulan belaka jika langit-langit Kapel Rosslyn dipenuhi ornamen bunga mawar. Jika Brown benar, maka ROSSLYN berarti GARIS MAWAR, atau GARIS KETURUNAN MARIA MAGDALENA. Apakah dengan demikian Kapel Rosslyn menyimpan sesuatu yang dipercaya sebagai rahasia dari Marie Magdalena atau The Holy Grail sendiri? Bisa jadi.

The Da Vinci Project : Seeking The Truth menulis, “…sulit dipercaya kalau Rosslyn hanyalah sebuah kapel keluarga sederhana. Bagi beberapa orang, ini adalah tempat peritirahatan Cawan Suci (The Holy Grail). Bahkan dalam edisi film dokumenternya, The Da Vinci Code: Seeking The Truth yang sesungguhnya condong berpihak ke Vatikan membuat satu gambar bahwa di salah satu tiang di dalam Rosslyn Chapel ini menyimpan sebuah peti kecil yang di dalamnya terdapat The Holy Grail.

Ukiran yang terdapat pada batu-batu yang menyusun kapel ini juga dipenuhi dengan bentuk lidah buaya dan jagung. Pilihan ornamen ini saja sudah akan dianggap aneh jika kapel ini diperuntukkan bagi keluarga. Lalu yang juga menarik, pada tahun 1446 saat pembangunan kapel ini dilakukan, kedua jenis tumbuhan tersebut—lidah buaya dan jagung—belum ada di daratan Eropa.

Apakah dengan ini memiliki arti bahwa arsitek dan para pekerja yang membangun kapel tersebut telah atau pernah berkelana keluar dari Eropa, menjelajah Amerika misalnya sebelum Colombus ‘menemukannya’? Apakah saat dikejar-kejar Phillipe dan Paus Clement, para Templar tidak saja menuju Skotlandia namun ada pula yang berlayar mengarungi Samudera Atlantik dan mendarat di Amerika?

Apakah mereka, para Templar ini mendarat di sebuah wilayah di daratan Amerika yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya kota Washington DC yang saat didirikan memang didedikasikan sebagai kota yang dipenuhi dengan simbol-simbol Mason. Hal ini akan kita bahas dalam bagian lain. Lalu apakah para Templar ini membawa serta harta-harta karun mereka berlayar ke Amerika dan menyimpannya di suatu tempat di sana seperti yang terlihat dalam film National Treasure?

Salah satu misteri Rosslyn Chapel yang paling kontroversial hingga saat ini adalah “Tiang Murid”. Kisah pembangunannya merujuk kepada Kuil Sulaiman dengan legenda Hiram Abiff, seorang arsitek dan tukang batu yang telah membunuh muridnya sendiri karena lebih pandai melebihi dia.

Pada tiang tersebut, ada gambaran tentang Pohon Kehidupan alkitabiah yang begitu anggun. Namun entah mengapa pohon itu terkontaminasi dengan keberadaan pagan berbentuk naga. Mulut naga itu digambarkan mengeluarkan akar merambat yang mengitari sepanjang tubuh mereka. Beberapa pihak menganggap gambaran ini ada kaitannya dengan mitologi bangsa Nordic, di mana seekor naga menggerogoti akar Yggdrasil, pohon kosmis raksasa yang menopang alam semesta. Namun peneliti lainnya menduga bahwa lambang ini sesungguhnya suatu petunjuk bahwa di dalam tiang itu ada disembunyikan sebuah peti yang berisi The Holy Grail, Cawan Suci, yang digunakan Yesus dalam perjamuan terakhir dan kemudian digunakan untuk menampung darahnya.[1]

Keseluruhan ornamen dan arsitektur Kapel Rosslynn sama sekali tidak ada hubungannya dengan kekristenan. Kapel ini malah sangat mirip dengan kuil-kuil kuno di Babylonia yang dipersembahkan  kepada Dewi Isthar dan puteranya yang telah dibangkitkan, Tammuz.

Di Skotlandia, para Mason ini telah berkembang sedemikian rupa hingga telah masuk jauh ke dalam istana. Kapel Rosslyn telah dislesaikan pembangunannya pada tahun 1450, dan 400 tahun kemudian para Mason bisa hidup dengan relatuf tenang dan tetap bergerak melanjutkan cita-cita para leluhurnya, dan tentu saja, menjaga rahasia yang telah dipegangnya berabad-abad lamanya.

Sejarah dunia tidak mencatat secara rinci apa saja yang telah diperbuat para Mason di Skotlandia usai mendirikan Kapel Rosslyn. Apakah mereka tetap tinggal dan mengkonsolidasikan gerakannya di Skotlandia? Ataukah mereka kembali membangunkan sel-selnya di seluruh Eropa yang sempat tiarap dan berpura-pura mati akibat pengejaran yang dilakukan Phillipe le Bel dan Paus Clement V? Apakah mereka tetap aktif berhubungan secara penuh kerahasiaan walau gereja terus mencari mereka? Ini semua merupakan masa-masa yang penuh kabut.

Tahun 1522, para Templar dan anak-anak penerusnya, yakni Ksatria Teutonik, dengan tegas dan berani menyatakan sikapnya yang tidak lagi mendukung Tahta Suci Vatikan dan berpihak pada pemberontakan umat Kristen yang saat itu dituduh pelaku bid’ah bernama Martin Luther.

SURAT DARI KONSTANTINOPEL

Awalnya adalah di Yerusalem, sebuah wilayah tempat turunnya para nabi, lalu berkumpul di Perancis, dan setelah ditumpas oleh Phillipe dan Paus Clement V, mereka menyebar di Eropa dengan dua wilayah yang dijadikan basis: Skotlandia yang kemudian bersatu dengan Kerajaan Inggris dan satunya lagi masih bergerak di Perancis.




Dalam persembunyiannya di Skotlandia, para Mason berhasil diterima oleh kalangan istana. Sedangkan di Perancis, penerus Templar ini membangun komunitas merdeka di daerah Selatan, di daerah Pyrennes yang sunyi. Di daerah Provence, Perancis, para Mason diduga kuat menjadikan daerah ini sebagai pusat kegiatan Kabbalisme yang paling terkemuka di Eropa. Jika di daerah-daerah lain tradisi Kabbalah hanya diturunkan secara lisan, maka di Provence, tradisi Kabbalah dibukukan dan dijadikan pegangan para Kabbalis.

Penumpasan Templar di Perancis menyebabkan orang-orang Katolik Perancis membenci komunitas Yahudi yang tinggal di sana. Mereka bergerak secara sendiri-sendiri maupun diorganisir dari Gereja dan juga kerajaan menyerang orang-orang Yahudi Perancis. Banyak ancaman atau surat kaleng yang menyatakan bahwa sinagog kaum Yahudi akan diserang atau dibakar. Orang-orang Yahudi tersebut juga mendapat tekanan untuk meninggalkan keyakinan mereka dan dibaptis menjadi seorang Kristen yang taat sebagai bentuk penghapusan dosa-dosa mereka. Akibatnya banyak keluarga Yahudi Perancis yang meninggalkan rumah mereka untuk mencari tempat tinggal dan lingkungan yang relatif lebih aman.

Suasana yang mencekam ini membuat Rabi Shamur yang tinggal di kota Arles, Perancis, menulis surat kepada Pemimpin Tertinggi Kaum Yahudi di Istambul. Dalam suratnya, Rabi Shamur meminta nasehat dan masukkan berkenaan dengan situasi dan kondisi yang dialami komunitas Yahudi di Perancis yang terus-menerus ditindas Gereja dan Kerajaan.

Shamur memaparkan bagaimana orang-orang Kristen Perancis yang tinggal di Arles, Aix, dan Marseilles mengancam sinagog-sinagog mereka. Surat dari Rabi Shamur dalam waktu yang tidak terlalu lama akhirnya dijawab oleh Pemimpin Tertinggi Yahudi Konstantinopel pada tanggal 24 Juli 1489. Sebuah surat jawaban yang kalimat per kalimatnya menjadi begitu terkenal karena dengan lugas mencerminkan strategi kaum Yahudi menundukkan Gereja dan juga Dunia.

“Saudara-saudara, dengan rasa sedih pengaduan kalian kami pelajari. Derita nasib buruk yang kalian alami membuat kami ikut bersedih. Kalian mengadukan, bahwa Raja Perancis telah memaksa kalian memeluk agama Nasrani. Kalian sulit menentang perintah paksaan itu. Maka masuklah agama Nasrani. Tetapi harus diingat, bahwa ajaran Musa harus tetap kalian pegang erat-erat dalam hati sanubari. Umat Kristen memerintahkan supaya kalian menyerahkan harta benda kalian. Laksanakanlah. Selanjutnya didiklah putera-puteri kalian menjadi pedagang dan pengusaha yang tangguh, agar pelan-pelan bisa merebut kembali harta benda itu dari tangan mereka.

Kalian juga melaporkan, bahwa mereka mengancam keselamatan hidup kalian. Maka binalah putera-puteri kalian menjadi dokter, agar bisa membunuh orang-orang Kristen secara rahasia. Mereka menghancurkan tempat peribadatan kalian. Maka, didiklah putera dan puteri kalian untuk menjadi pendeta, agar bisa menghancurkan gereja mereka dari dalam. Mereka menindas dengan melanggar hak dan nilai kemanusiaan. Maka didiklah putera-puteri kalian sebagai agen-agen propaganda dan penulis, agar bisa menyelusup ke berbagai jajaran pemerintahan. Dengan demikian, kalian akan bisa menundukkan orang Kristen dengan cengkeraman kuku-kuku kekuasaan internasional yang kalian kendalikan dari balik layar. Ini berarti pelampiasan dendam kesumat kalian terhadap mereka.”[2] (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber
——————————
[1] The Da Vinci Project: Seeking the Truth; hal. 55-56.
[2] William G. Car; Yahudi Menggenggam Dunia; Pustaka Alkautsar; cet.7; 2005; hal. 30-31.
=================
Artikel ini bekerjasama dengan Eramuslim Digest: Resensi Buku : Jejak Berdarah Yahudi Sepanjang Sejarah , Eramuslim Digest


Setelah menerima surat itu, maka Rabi Shamur diam-diam melakukan sosialisasi ‘perintah Rabi Tertinggi Konstantinopel’ tersebut dan setelah itu banyak orang-orang Yahudi yang bersedia dibaptis dan memeluk agama Kristen. Mereka juga memasuki gereja dan bahkan beberapa tahun kemudian menjadi gembala sidang dari sejumlah gereja di Perancis. Kaum Yahudi, dan dengan sendirinya para Freemason, akhirnya memiliki ‘agama resmi’ atau ‘agama legal’ mereka yakni Kristen Katolik.

Abad itu, siapa pun yang ingin bebas bergerak, ingin aman dalam hidupnya, tentunya di Eropa, maka ia haruslah menjadi seorang pengikut Gereja Katolik Roma. Maka, dengan alasan-alasan strategis demi mencapai tujuannya yang disembunyikan rapat-rapat, mereka kini mengenakan baju Gereja dan larut dalam komune masyarakat Eropa abad pertengahan yang dipenuh histeria pergolakan dan keimanan.

Di dasar permukaan bumi yang paling dalam, sebuah keyakinan abadi tetap terpelihara. Dan mereka sangat yakin, suatu waktu keyakinan abadi ini akan muncul di permukaan dan meremukkan segala macam baju yang dikenakannya. Itulah masa di mana mereka merasa sudah sedemikian kuat, semua musuhnya sudah dilumpuhkan dan ditaklukkan.

Suatu masa di mana segala kerahasiaan akan mereka singkap dan mereka akan tunjukkan pada dunia siapa diri mereka sebenarnya. Suatu hari yang pasti terjadi.

GRAND LODGE OF ENGLAND

Sekitar 70 tahun setelah penumpasan para Templar, di tahun 1381 meletus pemberontakan Petani di Inggris yang digerakkan oleh sebuah organisasi rahasia yang oleh para peneliti diduga kuat dilakukan para Mason  (pelarian Templar) sebagai bagian dari upaya Mason menyerang institusi Gereja Katolik.

Setengah abad kemudian, seorang Pastor Bohemia bernama John Huss menggerakkan kembali pemberontakan melawan Gereja Katolik. Lagi-lagi, di balik pemberontakan ini berdiri para Mason yang dipenuhi amarah dan dendam kesumat. Seorang Rabi bernama Avigdor Ben Isaac Kara menyebarkan doktrin Kabbalah di Praha.

Penyebaran doktrin Kabbalah di Inggris dan juga Eropa pada umumnya, menyebabkan tumbuhnya kelompok-kelompok “pemikir bebas” yang tidak lagi menerima begitu saja segala penafsiran Injil dari Tahta Suci Kepausan di Vatikan. Mereka merasa bebas menafsirkan Injil sekehendak hati mereka dan menjadikan ayat-ayat dalam Injil sebagai alat untuk melegalkan tindakan-tindakan mereka yang seringkali malah bertentangan dengan ajaran Yesus sendiri.

Kelompok-kelompok ini berpusat pada organisasi Freemason. Timbullah berbagai isme-isme di Eropa yang hingga hari ini masih saja hidup dalam berbagai lapisan masyarakat. Di antaranya adalah Humanisme, Darwinisme, dan Materialisme, yang kemudian mengkristal menjadi Kapitalisme, Komunisme, dan dengan segala variannya. Semua isme-isme tersebut sesungguhnya berasal dari satu sumber, satu ajaran, dan satu doktrin: Kabbalah.

Banyak tokoh-tokoh intelektual dan cendekiawan di Eropa pada masa ini yang berasal dari kelompok Freemason. Mereka secara rapi, sistematis, dan giat berupaya menghancurkan Gereja dan berupaya merekonstruksi Gereja sesuai dengan kehendak mereka. Salah satu peninggalan para Templar atau Mason di Inggris ini adalah lambang bendera nasional Inggris yang diadopsi dari Salib Merah para Templar.

Sejarah mencatat, pada tahun 1640 hingga 1660 terjadi apa yang dinamakan sebagai Revolusi Inggris. Hanya saja sejarah dunia tidak pernah secara terbuka menyebutkan bahwa revolusi ini sesungguhnya merupakan hasil karya dari para Freemason yang bekerja di belakang layar. Konspirasi para Mason di dalam menggelorakan Revolusi Inggris dan memperdaya Oliver Cromwell akan dibahas kemudian.





Ketika asap revolusi belum sirna, pada tahun 1662, mereka mendirikan The Royal Society yang bergerak di bidang pengumpulan dan penyebaran ilmu pengetahuan. The Royal Society merupakan nama resmi dari Invisible College-nya (Kampus Rahasia) kaum Freemasonry yang telah dibentuk pada tahun 1645. Setahun kemudian, 1646, seorang tokoh alkemi Yahudi bernama Elias Ashmole masuk ke dalam lingkaran ini dan menjadi pemimpinnya.  Ashmole yang juga dikenal sebagai anggota Rosikrusian ini kemudian mendirikan Ashmolean Museum di Oxford, Inggris.

Di masa-masa itu, kelompok Mason secara rahasia juga memprovokasi King Willaim III agar melibatkan Inggris ke dalam peperangan melawan Perancis yang mayoritas rakyatnya memeluk Katolik. Perang pun berlangsung dan Inggris menderita banyak kerugian. Dana perang yang terpakai begitu besar dan menyebabkan utang yang menggunung.

Untuk menyehatkan posisi keuangan kerajaan, King William III akhirnya mengajukan pinjaman uang kepada para bankir Yahudi yang sebelumnya memang memiliki hubungan baik dengannya, antara lain mendukung dirinya untuk berkuasa di tahta kerajaan Inggris.

Peperangan, kerugian, dan pinjaman uang dalam jumlah besar sebenarnya memang telah direncanakan secara matang oleh kelompok Mason ini. Mereka memberikan utang kepada King William III sebesar £1.250.000 dengan sejumlah syarat yang amat mengikat kerajaan. Salah satu syarat adalah merahasiakan nama-nama bankir Yahudi yang telah ‘bermurah hati’ memberikan utang.
Selain itu, mereka juga mengajukan syarat bahwa mereka diperbolehkan mendirikan Bank Sentral Inggris. King William III tidak bisa berbuat banyak selain tunduk pada syarat-syarat yang diajukan mereka. Akhirnya pada 27 Juli 1694 mereka mendirikan ‘Bank of England’ yang merupakan bank sentral swasta pertama di dunia.

Belum cukup dengan itu, para bankir Yahudi yang diberi kewenangan untuk mengendalikan bank sentral ini juga merasa berwenang untuk menetapkan standar emas terhadap nilai uang kertas, hak untuk meminjam £10 uang kertas atas setiap pon emas yang disimpan di bank sentral tersebut sebagai modal bagi bisnis perbankan mereka, dan sebagainya. Bisnis ribawi (usury) yang berasal dari bisnis kaum Templar tersebut akhirnya membuat mereka menjadi berkuasa dan mempunyai pengaruh politis dan ekonomis yang sangat kuat terhadap kerajaan.

Apakah kerajaan Inggris tertolong dengan mengizinkan mereka mendirikan bank sentral swasta? Ternyata tidak. Pada tahun 1694, saat didirikan bank sentral Inggris, utang kerajaan Inggris tercatat sebesar £1.250.000, dan dalam kurun waktu empat tahun—karena pembebanan bunga—membengkak menjadi £16.000.000 atau lebih dari 13 kali lipat!

“Inilah catatan sejarah pertama kali tentang penjarahan besar-besaran uang rakyat sebuah negara melalui skema perbankan yang sama sekali tidak disadari oleh para petinggi negara yang bersangkutan,” demikian Indra Adil, seorang peneliti sejarah Zionisme.[1]

Secara resmi, Freemasonry sebenarnya ‘diproklamirkan’ di Inggris pada 24 Juni 1717, dengan diresmikannya Grand Lodge of England sebagai basis utama kegiatannya. Walau kegiatan para Mason di Inggris itu sudah berlangsung sebelumnya. Ini adalah tanggal Hari Raya Yohanes Pembaptis. Kala itu, Skotlandia sudah menjadi bagian dari The Great Britain (tahun 1707). Disebabkan organisasi ini menjadi tempat pertemuan para pemikir bebas (Freethinkers) dalam penentangannya terhadap Gereja Katolik, agama mayoritas saat itu, sangat mungkin dari istilah Freethinkers inilah anggota Mason lalu disebut Freemason.

Pertemuan-pertemuan ini tidak hanya diisi oleh diskusi, tukar pikiran, dan makan-makan dengan jamuan mewah, tetapi sudah masuk ke dalam rencana aksi dan konspirasi untuk menggoyahkan institusi Gereja Katolik. Mereka juga mulai menyusun kekuatan ril dan mempengaruhi institusi-institusi dan tokoh-tokoh Eropa lainnya yang dianggap bisa diajak bekerjasama.

Paruh kedua abad ke-19, Masonry sudah mulai menyebar ke luar batas-batas Eropa dan menyebarkan paham anti agamanya. Paus sendiri pada tahun 1738 dan 1751 menyatakan Freemasonry merupakan organisasi yang tidak bertuhan dan para anggotanya dinyatakan sebagai atheis atau minimal agnostik, orang yang tidak perduli dengan agama.

Salah satu gambaran yang paling banyak diambil para penulis mengenai kegiatan para Mason di Inggris pada pertengahan abad ke-18 adalah ritual sebuah kelompok Mason yang disebut Klub Api Neraka (The Hell-Fire Club). Daniel Willens yang meneliti organisasi-organisasi Mason di Inggris pada abad pertengahan ini menggambarkan secara cermat sebuah ritual yang dilakukan kelompok ini.[2] (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber
———————————
[1] Indra Adil; Konspirasi Di Balik Tragedi Diana; Barani Press; cet.1; 2002; hal. 42.
[2] Daniel Willens; Hell-Fire Club: Sex, Politics, and Religion in Eighteen-Century in England (article).
===================
Artikel ini bekerjasama dengan Eramuslim Digest:Resensi Buku : Jejak Berdarah Yahudi Sepanjang Sejarah , Eramuslim Digest


Pada malam-malam gelap yang hanya diterangi cahaya bulan purnama, selama masa pemerintahan King George III dari Inggris, anggota-anggota Pemerintahan yang berpengaruh, para intelektual penting, dan artis-artis terkenal, sering terlihat melintasi Sungai Thames dengan gondola yang berjalan pelan menuju sebuah reruntuhan biara kuno di dekat West-Wycombe. Di sana, para tokoh masyarakat ini mengenakan jubah biarawan dan membunyikan lonceng biara yang bersuara berat. Acara ritualnya sungguh aneh.

Setelah bersenang-senang tanpa batas dan sama sekali tidak memperdulikan moral, mereka berdiri membuat sebuah lingkaran dan sebuah Misa Hitam pun dilaksanakan, yakni persetubuhan yang diawali oleh seorang perempuan ningrat dengan pemimpinnya, Sir Francis Dashwood.

Kebaktian setan ini pun berakhir pagi hari dan mereka akan mengadakan ritual yang sama pada waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Mirip dengan yang telah dilihat Sophie Neveu dalam novel The Da Vinci Code. Nama lain dari kelompok ini, seperti yang mereka akui sendiri, adalah, “Rahib-rahib St. Francis dari Medmenham.”

The Hell-Fire Club ini didirikan sekitar tahun 1719 di London oleh Philip, Duke of Wharton (1698-1731). Saat itu usia Philip baru 21 tahun! Philip adalah seorang Mason dan kemudian menjadi Grand Master Mason dari The Great Lodge of London pada tahun 1722.  Perkembangan Freemasonry di Inggris begitu cepat dan tetap dalam kerahasiaan. Walau demikian, organisasi itu sudah berhasil merekrut para tokoh masyarakat tersohor dan perlahan namun pasti menyeret masyarakat menjauhi agamanya.

Selain Inggris, para Mason juga banyak yang kembali ke Perancis untuk menyusun kekuatannya kembali. Dari konspirasi mereka inilah, setelah meletus Revolusi Inggris, disusul pula dengan meletusnya Revolusi Perancis dengan semboyan “Liberte, Egalite, en Fraternite” (Kemerdekaan, Persamaan, dan Persaudaraan) yang sesungguhnya memiliki arti ganda yang amat sangat menguntungkan para Mason dan Yahudi sebagai kelompok yang di saat itu telah menguasai sisi finansial.

Kedua revolusi besar di Eropa dalam waktu yang tidak terkait jauh sengaja dikobarkan oleh mereka untuk menghancurkan Gereja Katolik dan bentuk negara monarki, dan mempromosikan nasionalisme. Di masa itu, kedua negara tersebut merupakan dua negara terkuat di Eropa dan juga dunia. Negara Amerika sendiri belum berdiri dan baru diproklamasikan pada tahun 1776.

Dengan ‘dihantam serta direkonstruksinya’ Inggris dan Perancis, maka konstelasi kekuatan di Eropa, dan juga dunia, akan berubah dan menciptakan peluang-peluang yang kian besar untuk disusupi dan bahkan dikuasai para Mason yang merupakan gabungan dari para petualang, pengusaha, dan tokoh-tokoh Yahudi. Hal ini merupakan bagian dari konspirasi besar para Freemason untuk menguasai dunia. Terhadap Gereja, jika tidak bisa disusupi, maka tiada jalan lain harus dihancur-leburkan.

HIERARKI FREEMASONRY

Istilah Freemason awalnya hanya ‘Mason’ yakni sebutan untuk tukang batu yang konon berasal dari istilah para tukang batu yang ikut membangun Haikal Sulaiman di Yerusalem. Para Mason ini biasa berkumpul, melepas lelah, atau menggelar pertemuan di sebuah pemondokan yang disebut Lodge. Di kemudian hari, istilah Mason dan Lodge telah menjelma menjadi lebih politis. Lodge menjadi tempat berkumpul orang-orang yang tidak puas dengan kekangan indoktrinasi Gereja Katolik di abad pertengahan di Eropa. Lodge menjadi tempat aman untuk bertukar pikiran dengan bebas, menjadi tempat yang bebas untuk mengutarakan pendapat, dan sebagainya.





Singkatnya, Lodge telah menjelma menjadi tempat di mana para Free-Thinkers berkumpul. Jadilah Mason kemudian menjadi Free-Mason. Para Mason yang bebas.

Ada yang berpandangan bahwa istilah Freemasonry awalnya adalah Bluemasonry. Istilah Bluemasonry berubah menjadi Freemasonry setelah disusupi oleh gerakan Illuminati pada abad ke-18. Menurut mereka, Freemason awal merupakan organisasinya kaum Esenes yang berasal dari Qumran. Kaum Esenes ini terkenal sebagai kelompok yang zuhud, cinta damai, setia, dan sebab itu tidak aneh jika salah satu tuhan mereka adalah Venus, Sang Dewi Cinta, yang merujuk pada istilah ‘Blue’. Itu sebabnya, mereka bernama Bluemason.

Sebenarnya, pandangan ini berasal dari The Hiram Keys yang ditulis oleh Knight dan Lomas, yang menyatakan bahwa Freemasonry  berasal dari suku Esenes. Peneliti lainnya, Picknett dan Prince yang menulis The Templar Revelation menolak anggapan tersebut. Bahkan dengan tegas mereka menyatakan masih ragu bahwa suku yang menemukan gulungan Laut Mati adalah Esenes.

“Belum ada bukti tertulis yang memperkuat dugaan ini. Hal tersebut masih berupa asumsi karena kebetulan ditemukan di wilayah di mana mereka tinggal, yakni di tepi Laut Mati, suatu daerah yang banyak bukit-bukit batu dan gua,” jelas Picknett dan Prince.

Sebenarnya, sampai sekarang belum ada yang berani memastikan apakah Freemason dahulu sungguh-sungguh bernama Bluemason? Atau apakah sejak awal memang bernama Freemason? Atau Bluemason merupakan salah satu faksi dari Freemason? Atau Bluemason sesungguhnya bukanlah nama organisasinya, melainkan nama tingkatan dalam Freemasonry, karena di dalam organisasi ini dikenal satu tingkatan yang disebut Blue Lodge, lantas apakah dengan demikian sebutan bagi para Mason yang masih berada di tingkat Blue-Lodge ini disebut Bluemason?

Perbedaan istilah ini pada dasarnya tidak memiliki pengaruh banyak pada pengkajian tentang para Mason karena esensi dari organisasi rahasia ini tidaklah berubah.

Kesimpang-siuran nama ini, antara BlueMasonry dengan Freemasonry, agaknya mendapat jawaban yang agak jelas dari penuturan William G. Carr, seorang peneliti Zionisme. Menurutnya, dalam satu pertemuan yang diadakan oleh Mayer Amshell Rothschild atau yang bergelar Rothschild I (ayah dari kelima Rothschild yang menguasai lembaga perbankan dunia) dengan para tokoh pemilik modal Yahudi di Frankfurt tahun 1773—tiga tahun sebelum Amerika Serikat mengumumkan kemerdekaannya dari jajahan Inggris dan duabelas tahun sebelum para tokoh Yahudi itu meletupkan Revolusi Perancis—Rothschild I setelah mengevaluasi hasil-hasil dari Revolusi Inggris, mengeluarkan sebuah dokumen yang berisi 25 butir pandangannya tentang gejolak Eropa paska Revolusi Inggris dan dalam menghadapi Revolusi Perancis yang akan dibuatnya.

Dalam butir ke-16 dari dokumen itu, Rothschild menyatakan bahwa kelompoknya, yang disebut sebagai kelompok Konspirasi, harus melakukan penyusupan ke jantung Freemason di Eropa untuk memantau sejauhmana efektivitas organisasi itu dalam perannya mengabdi Konspirasi.

Jelas, di sini kita ketahui bahwa posisi Konspirasi lebih tinggi dan berpengaruh dibanding Freemasonry. Dalam butir itu, Rothschild memerintahkan agar Konspirasi mendirikan organisasi sejenis Freemasonry lain, The Grand Eastern Lodge, yang dikelola langsung oleh Konspirasi, yang kemudian diberi nama Bluemasonry. Rothschild juga mengatakan bahwa semua anggota yang tergabung dalam The Bluemasonry akan ditatar dan dididik secara khusus, agar mereka bisa berperan sebagai propagandis yang sempurna di tengah masyarakat Gentiles (Ghoyim).[1]

Inilah asal muasal nama Bluemasonry, yakni sebagai ‘Freemasonry’ yang lebih efektif dalam menjalankan order dari Konspirasi Yahudi Internasional. Jadi, menurut pendapat Carr, Bluemason merupakan sebuah organisasi yang sengaja dibuat kelompok Illuminati, untuk mengefektifkan kelompok Freemasonry yang sudah ada, menjelang pecahnya Revolusi Perancis.

Nama Freemasonry sebagai organisasi modern, walau tetap dalam kerahasiaannya, diduga secara resmi mulai dipakai pada tahun 1673 dengan jumlah anggota rahasianya 27 orang di Inggris. Namun sebuah dokumen rahasia yang ditemukan mengungkap bahwa sesungguhnya organisasi modern dari gerakan ini berdiri di Inggris pada tanggal 24 Juni 1717. Gerakannya kian berkembang setelah Duke of Sussex menjadi Grand Masternya sekaligus melepaskan segala atribut keterkaitannya dengan Gereja.

Sebagai sebuah organisasi, Freemasonry juga memiliki tingkatan-tingkatan atau istilahnya derajat keanggotaan. Dalam Kongres Freemasonry di London tahun 1717 diputuskan sebuah struktur organisasi yang tingkatan-tingkatannya menyerupai sebuah piramida yang tersusun dari 33 lapisan (Scottish Rite atau Sekte Skotlandia) dan 13 tingkatan (York Rite atau Sekte York). (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber
——————–
[1] William G. Carr, Yahudi Menggenggam Dunia; Pustaka Alkautsar, cet.7; 2005, hal. 99.
============
Artikel ini bekerjasama dengan Eramuslim Digest: Resensi Buku : Jejak Berdarah Yahudi Sepanjang Sejarah , Eramuslim Digest


Coba perhatikan, angka 33 dan 13, ini merupakan angka-angka yang paling disukai oleh mereka. Walau memiliki perbedaan, namun status keanggotaan yang paling rendah sama-sama berada di bawah dan kian ke atas kian elite hingga di posisi paling puncak adalah posisi seorang Grand Master atau Guru Besar. Tiga tingkatan terendah, baik Scottish Rite maupun York Rite memiliki kesamaan nama, sedangkan ke atasnya berbeda. Inilah tingkatannya dari yang terendah hingga yang tertinggi :

SCOTTISH RITE:
Derajat Nama
1 Entered Apprentice
2 Fellowcraft
3 Master Mason
4 Secret Master
5 Perfect Master
6 Intimate Secretary
7 Provost and Judge
8 Intendant of the Building
9 Master Elect of Nine (Elu of the Nine)
10 Master of Fifteen (Elu of the Fifteen)
11 Sublime Master Elect (Elu of the Ticelve)
12 Grand Master Architect (Master Architect)
13 Master of the Ninth Arc (Royal Arch of Solomon)
14 Grand Elect Mason (Perfect Elu)
15 Knight of the East or Sword (Knight of the East)
16 Prince of Jerusalem
17 Knight of the East and West
18 Knight of the Rose-Croix of H.R.D.M (Knight of the Rosse-Croix)
19 Grand Pontiff (Pontiff)
20 Master Ad Vitam (Master of the Symbolic Lodge)
21 Patriarch Noachite (Noachite or Prussian Knight)
22 Prince of Libanus (Knight of the Royal Axe)
23 Chief of the Tabernacle
24 Prince of the Tabernacle
25 Knight of the Brazen Serpent
26 Prince of Mercy
27 Commander of the Temple (Knight Commander of te Temple)
28 Knight of the Sun (Knight of the Sun or Prince Adept)
29 Knight of St. Andrew (Scottish Knight of St. Andrew)
30 Grand Elect Knight K-H (Knight Kadosh)
31 Grand Inspector Inquisitor (Commander Inspector Inquisitor)
32 Sublime Prince of the Royal Master (Master of the Royal Secret)
33 Sovereign Grand Inspector General

YORK RITE :

Derajat Nama
1 Entered Apprentice
2 Fellowcraft
3 Master Mason
4 Mark Master
5 Past Master (Virtual)
6 Most Excellent Master
7 Royal Arch Mason
8 Royal Master
9 Select Master
10 Super Excellent Master
11 Order of the Red Cross
12 Order of Knight of Malta[1]
13 Order of Knight Templar
Selain itu, dalam struktur resmi organisasi ini juga mencantumkan 8 organisasi sekutu mereka (Allied Organization of Freemasonry) yaitu :
  • Tall Cedars of Lebanon
  • Orders of Eastern Star
  • Grotto
  • Job’s Daughter
  • Rainbow Girls
  • Orders of De Molay
  • Shrine
  • Daughter of the Nile


Untuk bisa masuk ke dalam ‘Shrine’, hanya Mason tingkat 32 yang bisa. Suaminya disebut ‘Shrine’ sedangkan isterinya ‘Daughter of the Nile’. Strutktur organisasi Freemasonry dan segala peraturan di dalamnya memiliki kemiripan dengan Illuminati.

Setiap tingkatan harus mengikuti berbagai syarat yang meliputi indoktrinasi, sumpah keanggotaan, dan ritus tertentu yang biasanya memakan waktu paling sedikitnya dua tahun untuk tiap tingkatan. Keanggotaannya sangat selektif, hanya memilih tokoh-tokoh masyarakat maupun ekonomi, politik, maupun militer yang sungguh-sungguh menonjol.

Ini yang tersebar ke tengah masyarakat. Namun kepastiannya lagi-lagi masih menjadi misteri, sebab Freemasonry menggunakan sistem sel tertutup dan terpisah, di mana anggota satu lapisan sama sekali tidak mengenal anggota lain yang berada di lapisan lain, di bawahnya maupun di atasnya. Hanya orang-orang khusus, sangat terpilih, yang mengetahui anggota lain di tingkatan yang berbeda. Itu pun dipercaya sangat terbatas.

Pada saat ini, perkembangan Freemason sudah merambah ke seluruh pelosok dunia. Pusat kegiatannya senantiasa mengikuti negara yang dianggap terkuat di dunia. Jika di abad pertengahan mereka memilih basis di Perancis dan Inggris, maka di abad millennium mereka lebih merasa nyaman bermarkas pusat di Amerika Serikat.

Tahun 1968, cendekiawan dan pengusaha dari Italia, Dr. Aurelio Peccei (1908-1984), dan Alexander King mendirikan The Club of Rome (Perkumpulan Roma) yang merupakan salah satu organisasi terkemuka dan bergengsi dari konspirasi pemikiran Iluminati, sebagaimana dikatakan oleh William Coper, “Kelompok Roma merupakan barisan terdepan Iluminati. Para anggotanya terdiri dari kelompok ilmuwan, pakar ekonomi, pengusaha, tokoh pemerintahan yang masih aktif, maupun pensiunan yang mewakili lima benua yang benar-benar mempunyai perhatian terhadap masa depan dunia global.”

Pada 28 Februari 1997, Presiden Soka Gakkai International telah diangkat sebagai anggota kehormatan (Honorary Member) Perkumpulan Roma, yang saat itu diketuai DR Diez Hochleitner. Soka Gakkai sendiri merupakan yayasan agama Budha yang mempunyai paham yang sama dengan Iluminati, yaitu menciptakan nilai-nilai kemanusiaan yang baru, bersifat universal dan berlandaskan kasih sayang. Tentunya menurut definisi mereka. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber
———————-
[1] Order Knights of Malta sekarang ini memiliki lebih dari 10.000 ksatria yang tersebar di seluruh dunia dan 10.000 kedutaan di seluruh dunia dengan Grand Masternya dijabat oleh seorang tokoh Perancis.
Artikel ini bekerjasama dengan Eramuslim Digest:Resensi Buku : Jejak Berdarah Yahudi Sepanjang Sejarah , Eramuslim Digest





Setelah berdiri Club of Rome, maka pada tahun 1973, dibentuk pula poros kegiatan desentralisasi di “Tiga Kutub Koordinasi” bernama Threelateral Commission yang terdiri dari Amerika Utara (Kanada dan Amerika Serikat), Uni Eropa, dan Jepang dengan anggotanya berjumlah 330 yang terdiri atas negarawan, politisi, ilmuwan, dan para tokoh internasional. Bentuk organisasi ini mengingatkan kita akan bentuk piramida yang merupakan simbol dari sistem mereka.


Pada tahun 1995, mereka menggelar pertemuan pleno di Copenhagen, Denmark. Setahun kemudian di Vancouver, Kanada, dan tahun 1997 di Tokyo, Jepang. Setiap pertemuan digelar berbagai makalah dan mengambil tema aktual, misalnya pada tahun 1994 membahas reformasi di Rusia. Kemudian pada tahun 1995, membahas masalah pengamanan energi dalam kaitannya dengan globalisasi serta pasar angkatan kerja dan implikasinya. Tahun 1997, konferensi besar diselenggarakan di Tokyo dengan fokus pembahasan pada masa depan Asia Pasifik.

Threelateral Commission memiliki tiga kantor regional permanen, yakni di New York, Tokyo, dan Paris. Wakil Jepang adalah Yotaro Kabayoshi (CEO Fuji Xerox Co. Ltd.) dan Amerika Utara (Kanada) dipimpin Paul A. Volcker (CEO J.D. Wolfenshon Inc. yang bermarkas di New York). Sebagai sebuah Pyramid System, maka di atas puncak piramida ini sebuah mata yang mengawasi mereka yaitu organisasi rahasia yang bernama illuminati. Siapa sebenarnya Illuminati itu? Bagaimana hubungannya dengan Freemason?

ILLUMINATI

Secara harfiah, istilah ‘Illuminati’ memiliki arti sebagai ‘Yang Tercerahkan’ atau ‘Pencerahan’, yang tentunya lebih bersifat spiritual. Maria Magdalena sendiri dalam karya Uskup Agung Dominikan dari Genoa, Jacobus de Voragine, yang berjudul “Golden Legend” (1250) disebut sebagai ‘Illuminata’ sekaligus ‘Illuminatrix’ yang memiliki arti ‘Yang Tercerahkan’ dan ‘Sang Pencerah’.

Apakah Illuminati yang kita kenal sekarang istilahnya berasal dari de Voragine tersebut? Bisa ya bisa pula tidak. Karena, tidak seperti Ksatria Templar atau pun Freemasonry yang walau banyak kesimpang-siuran informasi mengenai awal berdirinya, namun beberapa peneliti dengan cermat bisa membuat satu garis demarkasi yang agak jelas tentang asal-muasal kedua organisasi rahasia ini, namun untuk Illuminati, agaknya lebih sulit untuk bisa menentukan kapan, di mana, dan bagaimana organisasi—ini pun jika berbentuk satu organisasi baku—tersebut berdiri.

Maulani dalam karyanya “Zionisme: Gerakan Menaklukkan Dunia” (2002) menyatakan bahwa sebutan Illuminati telah dipakai oleh sebuah sekte gereja Katolik pada awal abad ke-16, yang disusupi oleh kelompok Kabbalis yang tengah dikejar-kejar oleh Dewan Inkuisisi Spanyol pimpinan Uskup Thomas de Torqeumada di bawah kekuasaan King Ferdinand dan Ratu Isabella.

Sekte Katolik ini kemudian muncul di Perancis dengan nama “Guerinets” antara periode 1623-1635. Di Spanyol dan Italia pada abad ke-15 dan 16, sekte ini juga muncul dengan nama “Alumbrado”, yang memiliki arti bahwa ‘seseorang telah mampu melakukan komuni langsung dengan Roh Kudus tanpa harus melalui perantaraan Gereja’ sehingga mereka merasa tidak perlu lagi dengan Gereja dan akhirnya mencampakkan ajaran Gereja.

Paus tentu menganggap ini bid’ah dan menjadi sasaran pengejaran Dewan Inkuisisi. Selama satu abad, nama ini tidak lagi terdengar dan pada tanggal 1 Mei 1771 nama Illuminati muncul kembali dalam sebuah organisasi yang didirikan oleh Adam Weishaupt di Ingolstadt, Bavaria.

Encarta Multimedia Encyclopedia memuat ‘Illuminati’ dalam bahasan yang sangat ringkas. Encarta sendiri menuliskannya dengan nama: Illuminato. Inilah Illuminati dalam versi Encarta,

“Illuminato, adalah nama dari satu kelompok di mana para anggotanya mengakui bahwa mereka telah tercerahkan. Ini merupakan satu perkumpulan rahasia, sebuah sekte religius yang telah melewati waktu yang panjang dan juga menamakan dirinya dengan sebutan Illuminati. Dan kelompok ini, bagaikan mitos, dituding banyak kalangan sebagai dalang dari berbagai peristiwa dunia.

Perkumpulan Illuminati Spanyol (Illuminado) berasal dari satu kepercayaan Gnostik. Pada abad ke-16 mereka mengalami penindasan dari Dewan Inkuisisi karena dituduh telah meyakini dan melakukan bid’ah (heresy) terhadap Gereja Katolik. Illluminati selain berdiri di Picardy, juga ada di Perancis selama abad ke-17 dan terus bertahan hingga akhir abad ke-18.

Sebuah kelompok persaudaraan Masonik yang beranggotakan kaum pendukung Partai Republik telah didirikan pada tahun 1776 oleh Adam Weishaupt, seorang Profesor Canon-Law di Ingolstad, Jerman. Kelompok ini juga dinamakan Illuminati karena mereka mengklaim sebagai pihak yang tercerahkan oleh Yesus. Mereka kemudian diperangi karena dianggap sebagai kaum Anti Kristus pada tahun 1785.

Anggota Ordo Rosicrusian, AMORC (Ancient Mystical Order Rosae-Crucis), sebuah ordo persaudaraan yang bermarkas di California juga dikenal sebagai Illuminati.”

Para peneliti tentang Illuminati memang tidak bisa lepas dari sosok Adam Weishaupt. Siapakah orang ini dan apa peranannya sehingga banyak dibahas dalam kaitannya dengan Illuminati, sebuah perkumpulan rahasia yang agendanya nyaris sama persis dengan Freemasonry?

Kebanyakan peneliti sepakat, Adam Weishaupt merupakan seorang profesor dalam bidang Canon-Law (Hukum Gereja), seorang Guru Besar di Universitas Ingolstadt, Jerman. Namun ada juga yang menambahkan bahwa sesungguhnya Adam Weishaupt ini juga seorang Pastur Katolik dari Ordo Jesuit, sebuah ordo yang sangat anti pada Freemason dan militansinya menyerupai Opus Dei dalam pembelaannya terhadap Gereja. Ini tentu dalam ranah teoritis, di lapangan segala hal bisa terjadi.



Salah satu peristiwa yang terjadi di tahun 1773 bisa dijadikan awal untuk menelusuri Adam Weishaupt dengan Illuminatinya. Di tahun itu, pengusaha kaya raya Yahudi bernama Mayer Amshell (Rothschild I) mengundang duabelas rekannya sesama tokoh Yahudi Masonik dan dalam pertemuan itu Rothschild memaparkan cara-cara untuk menguasai dunia. Pertemuan itu terjadi di kediaman Mayer di Frankfurt, Jerman.

Di hadapan seluruh undangan, Rothschild menyampaikan berita bahwa dirinya telah memiliki satu orang yang dinilainya sangat cocok dalam menjalankan dan memimpin suatu organisasi yang akan dibentuk untuk memuluskan rencana besarnya ini. Nama orang itu: Adam Weishaupt, seorang Yahudi kelahiran Ingolstadt, Jerman, pada 6 Februari 1748.

Weishaupt dilahirkan dari keluarga Yahudi Ortodoks yang kemudian beralih memeluk Katolik Roma. Weshaupt kemudian bersekolah di sekjolah dasar Katolik dan meneruskan ke hochschule atau sekolah menegah umum yang dikelola oleh Ordo Jesuit. Weishaupt tergolong pemuda yang cerdas. Ia menguasai setidaknya diketahui mahir berbahasa Inggris, Czech, Itali, dan tentu saja Ibrani sebagai bahasa ibu.

Sejak dididik di hochschule, para guru yang terdiri dari Ordo Jesuit menaruh perhatian khusus padanya karena Weishaupt tergolong anak yang pintar. Weishaupt sempat menjadi seorang Jesuit, tetapi kemudian ia tidak puas dan memberontak terhadap segala peraturan ordo yang dianggap terlalu mengekangnya. Ia kemudian memilih menjadi professor di bidang hukum gereja di Universitas Ingolstadt.

Pada 1768, Weishaupt mulai membangun secara serius perpustakaan pribadinya yang besar dan memiliki koleksi buku-buku langka yang banyak. Dari segala koleksi buku yang dimiliki, Weishaupt sangat tergoda untuk memusatkan konsentrasinya pada pengkajian buku-buku tentang Kabbalah dan ilmu-ilmu esoteris lainnya. Weishaupt dengan cepat merasa jatuh cinta dengan ajaran ini  Salah satu lambang favoritnya adalah piramida dengan satu mata terbuka di atasnya, sebuah lambang Kabbalah. Obsesinya pun, entah dengan sendirinya atau ada yang mendorongnya, mulai merambah ke ranah yang lebih luas dan bercita-cita untuk membangun peradab dunia yang sesuai dengan apa yang diinginkannya.

Melalui pendekatan yang tidak disebutkan bagaimana prosesnya, kelompok Mason akhirnya berhasil merekrut Weishaupt menjadi anggotanya. Pada tahun 1770 Weishaupt mulai menyusun rancangan strategi penguasaan dunia melalui jalan penghancuran agama-agama besar dunia, pemerintahan monarki, dan juga pemerintahan-pemerintahan di muka bumi. Semua penghalang ini harus dihancurkan agar nantinya bumi hanya diperintah oleh satu kekuatan utama yang dominant. Ini disebut sebagai “Pemerintahan Satu Bumi” (E Pluribus Unum).

Dalam upayanya ini, Weishaupt yang memiliki nama sandi ‘Spartacus’, melakukan pengkajian dan penelusuran ke seluruh daratan Eropa. Saat itu, Eropa memang menjadi sentral peradaban, teknologi, dan juga pemerintahan dunia. Untuk memperlancar upayanya, Weishaupt membangun satu ordo rahasia dan tertutup bernama Perfectibilisen (kelompok yang sempurna), sebuah nama dari Kaum Kathari yang musnah akibat serangan tentara Paus Innocentius III dalam Perang Salib Albigensian. Ordo Perfectibilisen memiliki hierarkhi berbentuk piramida, sama dengan organisasi-organisasi Kabbalah lainnya.(Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber
——————————-
Artikel ini bekerjasama dengan Eramuslim Digest: :Resensi Buku : Jejak Berdarah Yahudi Sepanjang Sejarah , Eramuslim Digest




Maulani memaparkan hierarkhi ordo Weishaupt tersebut, “Para anggotanya harus berbaiat kepada para atasan, yang dibagi ke dalam tiga klas utama: pertama, adalah para novis minerval, dan illuminati junior. Pada klas kedua, terdiri dari para ksatria, sedang klas yang ketiga atau klas rahasia terdiri dari dua tingkat, pendeta dan regent, serta ‘magus’ dan raja, atau Illuminatus-Rex.

Kaum Illuminati diharuskan senantiasa menjaga rahasia dengan ketat. Setiap anggota diharuskan menyerahkan janji baiat tidak akan pernah mengungkapkan apa pun tentang organisasinya kepada siapa pun, bersumpah tidak mengenal siapa atasannya dan asal-usul organisasinya, namun harus meyakini bahwa ordo rahasia ini berakar jauh ke masa silam.”[1]

Salah satu peraturan ordo ini yang kemudian disebut sebagai Illuminati mengenai konsep dosa yang amat pragmatis: “Dosa hanyalah bila hal itu menimbulkan penderitaan, tetapi bila keuntungan yang diperoleh lebih besar daripada kerugiannya, maka hal itu menjadi suatu kebajikan.”

Pada tanggal 1 Mei 1776 Weishaupt juga telah merampungkan tugasnya dan sejarah mencatat bahwa pada tanggal 1 Mei 1776 itulah hari lahirnya Illuminati. Anehnya, tanggal yang sama sampai sekarang juga diperingati sebagai Hari Buruh Internasional.

Strategi yang disusun Weishaupt tersebut secara garis besarnya adalah:
  1. Penghapusan dan penguasaan seluruh penguasa pemerintahan negara-negara dunia yang berpengaruh,
  2. Penghapusan dan penguasaan seluruh lahan pribadi,
  3. Penghapusan dan penguasaan kekayaan keturunan,
  4. Penghapusan dan penguasaan terhadap jiwa pejuang,
  5. Penghapusan dan penguasaan terhadap ikatan keluarga,
  6. Penghapusan dan penguasaan terhadap agama-agama dunia,
  7. Dan kemudian barulah menciptakan satu pemerintahan dunia.
Jika dilihat secara sepintas hal di atas sepertinya mustahil dilakukan. Namun jika dipaparkan maka akan terlihat betapa hal tersebut bukanlah tidak mungkin. Yang dimaksudkan dengan penghapusan dan penguasaan seluruh penguasa pemerintahan negara-negara dunia yang berpengaruh adalah dengan menjadikan para penguasa di negara-negara besar di seluruh dunia sebagai kaki tangan mereka. Dewasa ini hal tersebut sudah menjadi kenyataan. Amerika Serikat sudah menjadi kuda tunggangan mereka yang paling nyaman.

Sedangkan yang dimaksudkan dengan penghapusan dan penguasaan terhadap seluruh lahan pribadi, adalah dengan cara menyusupkan ide-ide dasar mereka ke tiap-tiap orang di dunia ini melalui segala perangkat yang bisa dipergunakan seperti media massa, budaya, lembaga pendidikan, ekonomi, dan sebagainya.

Yang ketiga, penghapusan dan penguasaan terhadap kekayaan keturunan. Yang dimaksudkan dengan kekayaan turunan adalah sumber daya alam yang dikandung di dalam perut bumi, dalam laut, dan juga udara yang dimiliki berbagai bangsa. Kelompok pewaris Ordo Kabbalah ini berupaya dengan sekuat tenaga agar semua kekayaan yang bisa dinikmati dari generasi ke generasi ini—kekayaan turunan—bisa dikuasai mereka sehingga seluruh umat manusia di luar kelompok mereka menjadi sangat tergantung hidupnya.

Keempat, penghapusan dan penguasaan terhadap jiwa pejuang. Yang dimaksudkan dengan hal itu adalah dengan melemahkan spirit para pemuda dan pemudi, para generasi muda, agar tidak lagi mau bersusah-payah bekerja keras, tidak lagi mau bersusah-payah belajar, tidak mau lagi bersusah-payah menemukan hal-hal yang baru yang berguna bagi kemanusiaan, dan menjadikan para generasi muda itu sebagai manusia-manusia yang hanya memikirkan kesenangan hidup, hedonisme, foya-foya, hiburan, mengejar kenikmatan dunia baik berupa pangkat, harta, maupun seksual.

Dengan demikian akan hilanglah ‘jiwa pejuang’ yang sesungguhnya ada di dalam tiap diri manusia, dan jika sudah hilang maka mereka akan menjadi manusia-manusia robot, manusia-manusia sampah yang hidup hanya untuk makan, rekreasi atau hiburan, berfoya-foya, dan sama sekali tidak ada kontribusinya bagi membangun peradaban dunia. Manusia-manusia inilah yang dikehendaki oleh mereka, manusia sampah.




Samuel Zweimer, Ketua Asosiasi Agen Yahudi saat Konferensi Yerusalem di tahun 1935 kembali mengulangi pokok-pokok rencana Weishaupt, kala itu Dunia Kristen sudah ‘jatuh’ dalam genggaman mereka dan lawan yang harus ditundukkan berikutnya adalah umat Islam.

Dalam pidatonya, Zweimer antara lain berkata, “…tugasmu adalah mengeluarkan mereka dari Islam, dan tidak berpikir mempertahankan agama Allah atau berdialog denganNya. Di samping itu saudara harus berusaha agar mereka tidak lagi memiliki budi yang luhur. 

Tugas saudara adalah membuka jalan agar kekuatan kolonial mampu menerobos benteng pertahanan Islam. Cara ini telah anda lakukan dengan baik seratus tahun yang lalu. Kita dan seluruh orang non-Islam merasa sangat gembira atas perjuangan yang saudara lakukan. Selama tiga abad lampau, kita telah mampu menguasai sector pendidikan di negara-negara Islam yang independent dan yang telah dikuasai kita. 

Di wilayah-wilayah tersebut banyak perlindungan misionaris, gereja, organisasi, dan sekolah yang mengikuti petunjuk negara Eropa dan Amerika. Banyak agen-agen kita yang bekerja di bawah tanah yang tidak boleh ditunjukkan sekali pun hanya dengan isyarat. Sarana yang telah saudara bawa saat ini mampu mengubah pikiran dan opini dunia. 

…Saudara telah mengeluarkan kaum Muslimin dari agama mereka, meski pun mereka tetap enggan memakai baju Yahudi atau Kristen. Gaya hidup seperti itulah sasaran kaum kolonialis, yaitu pemuda yang enggan bekerja keras, malas dan senang berfoya-foya, hanya mencari hal-hal sensual, mencari harta kekayaan hanya untuk memuaskan nafsu dan juga memburu jabatan demi hawa nafsu. Saudara telah mengerjakan tugas dengan amat baik. Saudara telah mengagungkan agama Yahudi. Lanjutkanlah perjuanganmu hingga kita mampu menjadi penguasa dunia.”[2]

Kelima, penghapusan dan penguasaan terhadap ikatan keluarga. Kelompok yang dipimpin Weishaupt sangat menyadari ikatan keluarga mampu untuk menjadi benteng yang teramat kuat bagi ancaman dan serangan pihak luar, baik yang bersifat psikologis maupun yang nyata.

Untuk menghapus ikatan keluarga, bisa dengan banyak cara. Misal dengan menekan sisi ekonomi suatu negara hingga keluarga-keluarga hilang rasa solidaritasnya karena terlalu sibuk untuk sekadar bisa bertahan hidup. Selain itu, juga dengan promosi besar-besaran lewat budaya dan juga lembaga pendidikan yang membuat anak tercerai dari ibu atau bapaknya, atau suami tercerai dengan isterinya. Semuanya ini saling terkait berkelindan. Ikatan keluarag di sini juga dimaksudkan dalam artian luas, ikatan bangsa, suku, dan negara.

Keenam, penghapusan dan penguasaan terhadap agama-agama dunia. Tiada jalan lain adalah dengan merusak esensi ajaran asli agama-agama yang ada. Sejak abad-abad pertama mereka telah menyusupkan Paulus untuk merusak dan menghancurkan agama Kristen dari dalam, Paulus-lah—seorang agen Yahudi—yang telah bertanggungjawab merusak Injil yang asli dengan penambahan-penambahan ayat-ayatnya yang sama sekali tidak memiliki dasar dan bahkan bertentangan dengan isi dari Injil Perjanjian Lama.

Ke dalam umat Islam, mereka menyusupkan Abdullah bin Saba’ untuk merusak agama Islam, dan sebagainya. Promosi gaya hidup serba permisif juga salah satu bagian dari skenario ini.

Jika semua ini telah berjalan dan menuai hasil yang nyata, maka sebuah skenario terakhir adalah dengan menciptakan satu pemerintahan dunia yang mendominasi percaturan perpolitikan dunia, satu-satunya negara adi kuasa di dunia yang tiada tandingannya lagi.

Sekarang, Amerika Serikat tengah diskenariokan sebagai penguasa tunggal dunia. Melihat hal ini semua, konspirasi yang sebelumnya mungkin tidak kita yakini, ternyata di permukaan, pada kenyataannya memang benar-benar terjadi. Apa pun namanya, fakta-fakta yang ada di hadapan kita membenarkan hal tersebut. Hal ini ternyata telah dirancang sejak lama. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber
—————
Artikel ini bekerjasama dengan Eramuslim Digest: Resensi Buku : Jejak Berdarah Yahudi Sepanjang Sejarah , Eramuslim Digest
[1] ZA. Maulani; Zionisme, Gerakan Menaklukkan Dunia; Daseta, Jakarta, cet.1, 2002; hal. 51-52
[2] Dr. Darouza; Mengungkap Tentang Yahudi; Pustaka Progresif; Surabaya; Cet.1, 1992; hal.131-132.



Tahun 1782, berkat lobi Weishaupt dengan kenalan-kenalannya dari Ordo Masonik antara lain Baron Xavier von Zwack, William Petty of Shelburne II, dan Baron Adolf von Knigge,  Illuminati menyelenggarakan ‘Oikumene’ atau pertemuan bersama dengan Freemasonry pada sebuah kongres di Wilhelmsbad. Comte de Virieu, salah satu bangsawan yang diduga kuat anggota rendah Mason, turut hadir. Comte de Virieu tidak bertahan lama mengikuti jalannya pertemuan tersebut. Ia keluar dengan tubuh menggigil gemetaran. Sejumlah orang yang mengetahui sikap anehnya itu menanyakan apa gerangan yang telah menyebabkan dirinya begitu ketakutan.

Comte de Virieu dengan terbata-bata berkata, “Saya tidak mungkin membuka tabir mereka pada kalian. Saya hanya bisa menyampaikan bahwa semua ini merupakan sesuatu yang sangat serius dan jauh di luar jangkauan perkiraan kalian semua.” Sejak saat itu, Comte de Virieu menyatakan diri keluar dari Freemasonry dan mengatakan bahwa kelompok persaudaraan itu tidak ada bedanya dengan horror.[1]

Di tahun 1782 tersebut, organisasi Illuminati-Freemasonry meluas hingga ke tanah Amerika yang baru saja merdeka (1776) dan mendirikan Lodge Columbia di New York. Hal yang sama terjadi di Brasilia, Portugal, dan Spanyol.

Dua tahun setelah pertemuan Illuminati-Freemasonry, dan kabarnya mereka sepakat untuk menjalankan strategi bersama, di tahun 1784 Adam Weishaupt memerintahkan seorang Jerman kenalannya, Baron Xavier von Zwack menyusun rancangan penciptaan Revolusi Perancis, yang kemudian dikirimkan kepada salah seorang tokoh Illuminati Perancis bernama Robespierre.

Para peneliti meyakini, berbagai peperangan dan revolusi, termasuk Perang Dunia I dan II, dan kemungkinan nanti juga Perang Dunia III, yang meletus di dunia ini tak lepas dari cetak biru kaum Illuminati. Semua ini dilakukan untuk memuluskan cita-cita Ordo Kabbalah yang telah ditancapkan berabad-abad lalu, yakni penguasaan dunia dan seluruh umat manusia di bawah ‘Cahaya Lucifer’.

Tidak lama setelah itu, Weishaupt memerintahkan seorang kurir kepercayaannya untuk mengirimkan sebuah dokumen berkode yang disembunyikan di dalam jahitan bajunya ke suatu tempat di luar Bavaria (Jerman). Di tengah perjalanan, masih di dalam wilayah Bavaria, kurir yang tengah berkuda itu tewas tersambar petir.

Ketika polisi Bavaria memeriksa mayat kurir tersebut yang sudah hangus, polisi menemukan sebuah dokumen tersembunyi di baju sang mayat. Dokumen itu segera diamankan dan diberikan kepada seorang pemecah sandi yang kemudian kaget bukan kepalang karena sama sekali tidak pernah memperkirakan ada dokumen yang segila dan sejahat ini.

Dokumen itulah yang kini dikenal dengan nama: Protocols of the Elders of Zion atau yang biasa disebut sebagai Protocolat Zionis saja.

Raja Bavaria sangat murka mengetahu isi dokumen tersebut dan segera saja ia memerintahkan untuk menumpas seluruh pengikut Weishaupt pada bulan Agustus 1785. Adam Weishaupt sendiri selain dipecat dari jabatannya di Universitas Ingolstadt juga dikenakan berbagai tuduhan dari tudingan ia melakukan praktek homoseksual sampai dengan kudeta. Sebelum penangkapan dilakukan, Weishaupt buru-buru melarikan diri ke Regensburg, dan terus ke Gotha. Seorang kawan Weishaupt, Dr. Schwartz, mengamankan seluruh buku koleksi Weishaupt ke Moskow.

Selamat dari pengejaran yang dilakukan polisi Bavaria dan bersembunyi di Gotha atad perlindungan yang diberikan oleh Duke Ernst II, Weishaupt menghabiskan sisa hidupnya di kota kecil itu. Mantan Jesuit yang beralih menjadi Kabbalis itu meninggal dunia pada tanggal 18 November 1830 dalam usia ke 82 tahun. Weishaupt memang tokoh kontroversial. Bahkan setelah kematiannya pun, ia meninggalkan polemik. Encyclopedia Catholica Roma (1910) menulis bahwa Weishaupt telah bertaubat ketika menjelang kematiannya dan mengakui kekuasaan Gereja serta Yesus.

Tapi hal ini dibantah oleh penulis biografinya, Gary Allen, yang menyatakan bahwa proses kematian Weishaupt sungguh tidak menunjukkan ia sudah bertobat. Saat tengah bekerja menulis sebuah esei tentang seni sihir berjudul Two Fragments on a Ritual, Weishaupt tiba-tiba menjadi lunglai, terjatuh, dan meninggal.[2]

Salah satu ‘warisan’ Weishaupt yang melegenda hingga sekarang adalah dokumen Protocolat Zionis yang menjadi acuan bagi gerakan Zionis dalam menguasai dunia. Sebab itulah, kita bisa mengurutkan ke belakang siapa yang sesungguhnya berada di balik Zionisme, yakni Illuminati-Freemason, yang jika dilacak ke belakang lagi kita akan menemukan Ordo Kabbalah dan Iblis sebagai biang keladinya. Zionisme memang ideologi satanisme.

Lalu, bagaimana dengan ‘klaim’ sebagian peneliti bahwa Ordo Kabbalah—Biarawan Sion—Ksatria Templar—Freemasonry/Illuminati—dan kemudian mengejawantah dalam berbagai organisasi Zionisme, baik tertutup maupun terbuka, baik yang legal maupun yang underground, merupakan pengawal sejati Yesus Kristus dan—mungkin—garis keturunannya dari Maria Magdalena dan akan menghantarkan mereka untuk berkuasa kembali sebagai Raja di Bumi, atau yang menurut penganut kekristenan disebut sebagai Maranatha? Agaknya hal ini hanyalah sekadar klaim mereka.

Bukankah mereka awalnya berasal dari Gereja Yohanes Pembaptis, yang menuhankan Yohanes dan menyingkirkan Yesus. Mereka menyebut Yohanes Kristus, bukan Yesus Kristus. Ini baru asumsi sebagian peneliti, sedang peneliti yang lain seperti Baigent, Leigh, dan Lincoln, lebih bersifat terbuka terhadap mereka dengan mengatakan bahwa di abad 21 inilah saat yang tepat bagi mereka untuk menunjukkan jatidirinya yang hakiki, setelah berabad-abad lamanya menyelubungi keberadaannya dengan selimut yang teramat tebal.

Semuanya memang rumit dan kompleks. Proses panjang sejarah, seluruhnya, akan mengarah kepada satu peristiwa yang oleh semua agama dipercaya akan terjadi: Peperangan di akhir zaman atau Armageddon. Hanya saja, bagaimana peristiwa ini terjadi, kapan, dan bagaimana menurut versi masing-masing agama? Semuanya akan coba ditelusuri hingga kita setidaknya memiliki pemahaman yang memang tidaklah sederhana.

SIMBOL-SIMBOL FREEMASON

Sebagai organisasi esoteris yang bergerak secara tertutup dan rahasia, Freemasonry mempergunakan banyak simbol, kode, maupun tata-cara pergaulan tersendiri, unik dan khas, yang dijadikan alat komunikasi atau tanda pengenal antar sesama anggota. Beberapa tanda yang paling popular adalah simbol piramida dengan mata satu di puncaknya, simbol mata itu sendiri (Mata Horus), lambang jangkar dan penggaris siku saling menumpuk, Obelisk, Bintang Segi Enam (Heksagram atau Bintang David), Pentagram atau Bintang Segilima yang menyimbolkan kepala Baphomet, Bulatan dengan satu titik di tengahnya (Circle With a Dot), Pilar ganda, lalu ada pula jabat tangan khas Mason, dan sebagainya.

Semua simbol, kode,  dan tata-cara pergaulan itu memiliki makna tersendiri. Tidak semua orang mengetahui apa yang hendak dikatakan oleh simbol, kode, dan tata-cara pergaulan ala Mason. Untuk mengetahui sedikit banyak tentang hal tersebut, maka di bawah ini akan dipaparkan sejumlah symbol dan lambang Masonik yang sebenarnya sudah kita lihat di mana-mana:

ALL SEING EYE


Simbol piramida yang belum selesai dengan sebuah mata di puncaknya bisa jadi merupakan simbol Masonik yang paling terkenal di dunia. Simbol yang sebenarnya bernama “All Seing Eye” ini tertera di lembaran satu dollar AS.  Simbol Mata di dalam segitiga adalah simbol yang selalu ditemukan di loge-loge atau kuil-kuil Masonik, atau juga di semua terbitan Masonik.

Robert Hieronimus, seorang peneliti berkebangsaan Amerika Serikat, menulis tesis doktoral tentang Seal of United States of America, di mana ia memberikan sejumlah informasi yang sangat penting. Judul tesis Hieronimus adalah “Analisis Historis tentang Pemeliharaan Cap Agung Amerika dan Hubungannya dengan Ideologi Psikologi Humanis”. Tesisnya menunjukkan bukti bahwa para para pendiri negara Amerika Serikat, yang semula mengadopsi cap tersebut, adalah kaum Mason, dan karenanya mereka mendukung filosofi humanis. Hubungan filosofi ini dengan Mesir Kuno disimbolkan dengan piramid yang ditempatkan di pusat cap tersebut. Piramid ini adalah representasi dari Piramid Cheops, kuburan Fir’aun yang terbesar. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)

———————-
Artikel ini bekerjasama dengan Eramuslim Digest:Resensi Buku : Jejak Berdarah Yahudi Sepanjang Sejarah , Eramuslim Digest
[1] http:/www.geocities.com/CapitolHill/Lobby/1887/secondessay.html
[2] ZA. Maulani; Zionisme, Gerakan Manklukkan Dunia, hal. 56.

Sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template