Senin, 16 Maret 2015

NWO Untold, Sejarah Rahasia dan Tersembunyi Freemasonry dan Illuminati, (5)

Simbol Mata itu berasal dari kepercayaan paganisme Mesir Kuno yang pada awalnya dipercaya oleh mereka sebagai ‘Mata Tuhan’ (Lucifer) yang mengawasi Musa setiap waktu ketika dia memimpin Bani Israil keluar dari tanah Mesir dan menyelamatkan mereka dengan kekuatan tangannya. Ini merupakan Mata Dewa Horus—Dewa Matahari.

Secara harfiah, simbol mata ini diyakini oleh orang-orang Mesir penyembah dewa-dewa sebagai mata yang maha kuasa, yang memancarkan cahayanya yang kuat dan hebat, untuk menerangi jalan mereka menuju kebesarannya. Agama bangsa Mesir kuno sarat dengan kepercayaan pada cahaya Tuhan.
Beberapa pendapat para ahli mengenai simbol mata antara lain, “Siapa pun yang membaca Kitab Injil akan mendapati bahwa mata dan cahaya juga banyak diadopsi oleh Kristen. Simbol itu sesungguhnya merupakan simbol para Mason yang memiliki banyak makna bagi mereka. Ini adalah Horus dan sesungguhnya wajib dikutuk, sebab Horus adalah ajarannya Lucifer, Sang iblis. (Former Satanist, William Schnoebelen, “Masonry: Beyond The Light”, hal. 197).

Pendapat lainnya, “Bukti bahwa Lucifer merupakan Tuhan dari para Mason bisa dilihat dari tulisan yang berasal dari mereka sendiri. Albert Pike yang menulis “Moral dan Dogma” menyatakan bahwa Lucifer adalah Sang Cahaya Pembimbing (hal.321, teachings of the 19th Degree), dan Malaikat Cahaya (hal. 567, teachings of the 26th Degree). Penulis Mason lainnya, Manly P. Hall, berkata bahwa para Mason juga mempelajari berbagai keterampilan tangan dan meyakini bahwa hal tersebut sepenuhnya dibimbing oleh tangan Lucifer” (The Lost Keys to Freemasonry, Macoy Publishing and Masonic Supply Co, 1979, hal. 48)

Freemasonry menempatkan Mata Horus ini di atas piramida. Piramida ini juga sebuah simbol dari Satanisme yang memiliki arti Trinitas yang terdiri dari: Iblis, Anti-Christ, dan Nabi Palsu. Mereka menggunakan bentuk segi tiga sama sisi secara konstan. Simbol ini sesungguhnya bentuk dari pemanggilan Euclid. Simbol piramida dengan Mata Horus di atasnya memiliki arti sebagai pengawasan dari Mata Horus meliputi seluruh aktivitas dan pemikiran para Mason.

Dalam sejarah, simbol All-Seeing Eye dengan piramida ini di tahun 1776 diambil oleh gerakan Iluminati (Robert Hieronimus, Ph.D, America’s Secret Destiny, White Magic Book, p.59). Di tahun 1789, sebuah pertemuan rahasia digelar para anggota Kongres Konstitusi Amerika yang juga anggota Freemason dan menyetujui dipakainya simbol tersebut sebagai salah satu simbol kenegaraan Amerika (Seal of States).

Yang juga harus diperhatikan, simbol ‘All Seing Eye’ yang tertera di lembaran satu dollar AS, jika kita tarik garis yang membentuk Bintang David (Hexagram), maka ujung-ujung garis tersebut akan menuju ke huruf-huruf tertentu yang jika dirangkaikan akan membentuk satu kata “MASON”. Dalam simbol-simbol Masonik dan Yahudi lainnya, kita akan banyak menemui anagram-anagram atau kode-kode tersembunyi di dalamnya, bagai Robert Langdon dan Sophie Neveu di dalam ‘The Da Vinci Code’ yang harus beraksi memecahkan hal-hal seperti ini.

STAR OF DAVID
 
Star of David atau Bintang David ini juga merupakan simbol Mason dan Yahudi yang amat popular. Di Indonesia, simbol ini juga dipakai dalam produk minuman suplemen M150, Debindo, Permen Goliath, dan lain-lain. Lencana sheriff yang lazim dipakai di Amerika dan kini menyebar ke seluruh dunia, termasuk yang dalam bentuk mainan anak-anak, juga berbentuk Bintang David. Bendera Israel pun berbentuk ini.
Simbol ini sebenarnya berasal dari dua buah segitiga sama sisi yang diletakkan terbalik dan saling berhimpitan. Ini juga simbol tradisional Yahudi. Simbol ini berasal dari Nabi Sulaiman yang pertama kali menggunakannya sebagai cap kenabian. Awalnya ini adalah cap seorang nabi, symbol suci, namun oleh bangsa Yahudi, konsepnya menjadi beda.

Mereka tidak lagi menganggap Bintang David ini sebagai simbol Nabi Sulaiman, namun sebagai simbol paganisme bangsa Mesir Kuno. Sebuah artikel pada Mimar Sinan yang bertajuk “Alegori dan Simbol-Simbol di Dalam Ritual Kita” menceritakan sejumlah fakta menarik tentang hal ini:

Sebuah segitiga sama sisi dengan tiga ujung yang sama jaraknya satu sama lain menunjukkan bahwa nilai-nilai ini sama. Simbol yang diadopsi oleh kaum Mason ini dikenal sebagai Bintang David. Simbol ini merupakan sebuah segi enam yang terbentuk dari peletakan sebuah segitiga sama sisi terbalik di atas segitiga sama sisi lain. Sebenarnya, asal usul simbol ini adalah dari Mesir Kuno.
Emblem ini pertama kali diciptakan oleh para Templar yang mulai digunakan sebagai simbolisme pada dekorasi dinding di gereja-gereja mereka (Gereja Yohanes Pembaptis atau Gereja Magdalena, atau mungkin juga di Gereja Yesus sebagai kamuflase). Ini karena merekalah yang pertama kali menemukannya di Yerusalem,  beberapa fakta penting tentang agama Kristen.

Setelah para Templar disingkirkan, simbol ini mulai digunakan di sinagog-sinagog. Namun di dalam Masonry, pengertian simbol ini bersifat universal sebagaimana pada masa Mesir Kuno. Jika Anda hapus dasar dari kedua segitiga sama sisi, Anda akan menemukan simbol aneh yang sangat Anda kenal, yakni symbol Freemasonry: Dua jangka berhimpitan bertolak belakang.

Harun Yahya yang juga meneliti aneka simbol Masonik menyatakan bahwa sebenarnya kita harus menafsirkan semua simbol Masonik yang berhubungan dengan Kuil Sulaiman dengan cara ini. Sebagaimana disebutkan di dalam Al Quran, Sulaiman adalah seorang nabi yang hendak difitnah oleh sebagian orang dan ditampakkan seakan-akan tidak bertuhan.

Di dalam ayat Al Quran, Allah berfirman: “Mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir)….” (QS. Al Baqarah, 2:102).

Kaum Mason mengambil gagasan yang secara keliru dinisbahkan kepada Nabi Sulaiman ini, dengan menganggapnya sebagai wakil dari kepercayaan pagan Mesir Kuno. Oleh karena itu, mereka memberinya tempat penting di dalam doktrin mereka.

Di dalam buku The Occult Conspiracy, sejarawan Amerika Michael Howard menyebutkan, semenjak Abad Pertengahan, Sulaiman telah dianggap sebagai ahli sihir dan seorang yang memperkenalkan sejumlah gagasan pagan ke dalam Yahudiisme. Howard menjelaskan bahwa kaum Mason menganggap Kuil Sulaiman sebagai “kuil pagan”, dan karenanya menjadi amat penting. “Gambaran palsu yang dibuat-buat atas Nabi Sulaiman, seorang abdi Allah yang saleh dan taat, menunjukkan asal usul sejati Masonry,” demikian Harun Yahya.

Dalam sejarah, lambang Bintang David ini selalu dipergunakan dalam acara ritual-ritual pemanggilan setan dan sihir. Bintang David atau Heksagram (Hexagram) ini dipercya mengandung pengaruh magis karena menyimbolkan angka 666 ganda. Istilah ‘tohex’ dalam bahasa Inggris yang berarti mengguna-guna atau mengutuk datang dari praktek ini.

JANGKA DAN SIKU-SIKU
 
Di antara simbol Masonry yang paling dikenal adalah sebuah jangka yang menangkupi siku-siku. Simbol ini mewakili konsep sains, keteraturan geometric, pemikiran rasional, dan juga dialektika kehidupan yakni konsep maskulinitas-Feminitas atau Yin-Yang. Di antara makna tersebut, simbol ini bagi kaum Mason lebih khusus diartikan sebagai symbol hemaproditik. Di dalam bukunya, Morals and Dogmas, salah seorang tokoh Mason bernama Albert Pike menulis tentang jangka dan siku-siku: “Siku-siku… adalah suatu simbol yang alamiah dan tepat dari bumi ini…. Figur hemaproditik adalah simbol dari alam ganda yang sejak dahulu diberikan kepada Dewa, sebagaimana Pembangkit dan Penghasil, sebagaimana Brahma dan Maya bagi bangsa Arya, Osiris dan Isis bagi bangsa Mesir. Sebagaimana Matahari adalah pria, maka Bulan adalah wanita.”

Ini berarti, simbol dari paganisme Arya dan berawal sejak zaman Mesir Kuno atau sebelum kedatangan agama Kristen. Bulan dan matahari pada bagian yang dikutip dari Pike, juga merupakan simbol-simbol penting pada loge Masonik, sebuah refleksi keyakinan yang salah dari masyarakat pagan kuno yang menyembah bulan dan matahari.

Simbol jangka dan siku-siku ini merupakan sebuah simbol yang kini paling baku bagi organisasi Freemasonry. Sering para Mason memakai cincin atau medallion yang bertatahkan simbol jangka dan siku-siku, sebuah alat-alat tukang batu yang berguna untuk merancang sesuatu bangunan.
(Bersambung/Rizki Ridyasmara)
—————————–
Artikel ini bekerjasama dengan Eramuslim Digest: Resensi Buku : Jejak Berdarah Yahudi Sepanjang Sejarah , Eramuslim Digest

Sumber 

Bagi sebagian peneliti, pemilihan bentuk ini sebenarnya bukan hal aneh mengingat Freemasonry memang berasal dari para tukang batu, para buruh, yang berkumpul di serikat-serikat pekerja di lodge-lodge mereka. Lagi pula, simbol ini pun akan mendekati simbol Yahudi tertua yakni Bintang David, dengan hanya menambahkan garis horizontal di yang menghubungkan kaki jangka yang terbuka dan garis siku yang terbuka.
PILAR KEMBAR

Dalam bangunan kuil atau gedung Masonik, juga di dalam gambar-gambar penerbitannya, salah satu simbol yang sering ditampilkan adalah Pilar atau Tiang Kembar di pintu masuk.Biasanya, di atas kedua pilar itu dipahatkan kata “Jachin” dan “Boaz”, yang dimaksudkan sebagai tiruan dari dua tiang pada pintu masuk Haikal Sulaiman. Walau demikian, penggunaan simbol ini oleh Mason sama sekali bukan sebagai bentuk penghormatan kepada Sulaiman atau yang mereka sebut Solomon, melainkan sebaliknya, ini merupakan ungkapan dari tuduhan jahat mereka terhadapnya.

Asal usul tiang-tiang ini lagi-lagi berasal dari Mesir Kuno. Di dalam sebuah artikel bertajuk “Alegori dan Simbol-Simbol dalam Ritual Kita”, majalah Mimar Sinan menyebutkan:

“Di Mesir, Horus dan Set merupakan arsitek kembar dan dianggap sebagai penopang langit. Bahkan begitu juga Bacchus di Thebes. Kedua tiang di dalam lodge kita berasal usul dari Mesir Kuno. Salah satu tiang ini berada di selatan Mesir, di kota Thebes; yang lainnya berada di utara Heliopolis. Di pintu masuk kuil Amenta yang dipersembahkan untuk Ptah, dewa kepala Mesir, disebutkan dua tiang, dinamai kecerdasan dan kekuatan, yang didirikan di depan gerbang masuk keabadian.” Jadi, simbol ini lebih ditujukan sebagai bentuk penghormatan kepada para dewa, dan sama sekali bukan kepada Nabi Sulaiman.
 
OBELISK





Simbol penting Masonry lainnya adalah wujud yang pernah menjadi unsur penting dalam arsitektur Mesir, obelisk. Obelisk adalah sebuah menara tinggi, tegak lurus dengan piramid sebagai puncaknya. Namun dalam arsitekturis Mason, puncaknya tidak selalu berbentuk piramida secara tegas, namun selalu dalam bentuk mengerucut, tajam ke atas. Obelisk awal dipahat dengan hieroglif (huruf) Mesir Kuno, dan telah terkubur selama berabad-abad di bawah tanah sampai ditemukan di abad kesembilan belas.


Obelisk dari Mesir ini kemudian dibawa mengarungi lautan dan didirikan di kota-kota di Barat, seperti New York, London, dan Paris. Obelisk yang terbesar terbesar dikirimkan ke AS. Pengiriman ini diatur oleh kaum Mason Amerika maupun Mesir. Ini karena obelisk, sebagaimana huruf-huruf Mesir Kuno yang terpahat di permukaannya, diklaim oleh kaum Mason sebagai benar-benar sebagai simbol-simbol mereka sendiri. Mimar Sinan, seperti yang dikutip Harun Yahya, menegaskan tentang obelisk setinggi 21 meter yang berdiri di New York sebagai berikut:

“Contoh yang paling mengejutkan tentang penggunaan simbolik arsitektur adalah monumen yang disebut Jarum Cleopatra, diberikan kepada AS sebagai hadiah di tahun 1878 oleh Gubernur Mesir, Ismail. Monumen ini sekarang berada di Central Park. Permukaannya penuh dengan lambang-lambang Masonik. Monumen ini aslinya didirikan pada abad ke-16 SM di pintu masuk ke kuil dewa Matahari, sebuah pusat inisiasi di Heliopolis.”

Di berbagai kota besar negara-negara dunia, nyaris seluruhnya memiliki obelisk, tentunya dengan beragam bentuk, dan juga kamuflase. Dan yang juga lazim ditemukan, obelisk tersebut selalu didirikan menghadap gedung atau pusat kekuasaan sebagai pencerminan dari ‘kejantanan’ atau ‘kekuatan’. Di Indonesia, Tugu Monumen Nasional (Monas) adalah obelisk yang juga menghadap ke Istana Negara.

Anehnya, simbol pagan ini ternyata terdapat juga di tengah Saint Peter Square, pusat Tahta Suci Vatikan. Padahal, secara ideologis antara ajaran Katolik dengan apa yang terkandung di dalam Obelisk merupakan suatu pertentangan, sama sekali tidak ada kesuaian antara keduanya. Tentang obelisk yang kini masih berdiri gagah tepat di tengah-tengah lapangan Katedral Saint Peter tersebut, kisahnya berawal dari sebuah Pylon Temple Matahari (Kuil Matahari Pylon) di Heliopolis (Kota Dewa Matahari).

Pada pusat podium kuil tersebut berdirilah sebuah Squat Obelisk yang tidak lain merupakan sebuah simbol kesucian Dewa Matahari (Sun of God, Helios atau Ra), ritus penyembahan, kekuatan, dan lambang dari konsep keperkasaan (maskulinitas). Obelisk yang sama kemudian pernah dibawa oleh Caligula ke Roma di abad pertama masehi. Kemudian konon Pope Sixtus V menghidupkan kembali simbol ini sekitar abad ke -16M.

CIRCLE WITH A DOT



Lambang atau simbol lingkaran dengan sebuah titik di tengahnya merupakan bagian dari kepercayaan satanisme (okultisme) yang terkait dengan simbol organ kewanitaan. Jika obelisk lebih menggambarkan sisi maskulinitas, maka Circle With a Dot lebih melambangkan sisi kewanitaan. Dalam jurnal Masonik sendiri disebutkan bahwa lambang lingkaran dengan titik di tengahnya ini merupakan bagian dari ritus suci di mana hubungan seksual menjadi salah satu menunya (“Point Within Circle”, Masonic Short Talk Bulletin, Agustus 1931, Vol.9, No.8).

Albert Mackey, seorang Mason yang telah menduduki derajat 33, menegaskan bahwa lambang ini memang merupakan bagian dari kepercayaan terhadap Lucifer. “Sebuah titik yang berada di tengah lingkaran merupakan lambang yang sangat penting dan suci bagi Freemasonry …Bagi yang mengerti dan meyakininya, simbol ini sungguh-sungguh indah dan menakjubkan. Karena menggambarkan suatu bentuk upacara penyembahan terhadap Dewa Matahari. Lambang ini sendiri disebut sebagai Phallus (organ kelamin laki-laki).” (Short Talk Bulletin, Febr. 1936, Vol. 14/2).

Dalam Masonic Short Talk Bulletin, “Point Within A Circle” (August, 1931, Vol. 9, No 8) disebutkan bahwa, “Penafsiran bangsa India terhadap lambang ini, titik mewakili simbol laki-laki dan lingkaran sebagai simbol perempuan. Namun lambang titik dan lingkaran juga dipahami sebagai sistem peredaran matahari di alam raya yang dipercaya sebagai pusat dari segala kehidupan.”. Dan seperti lambang-lambang Masonik lainnya, lambang Circle With a Dot juga banyak versinya.

Lambang dan simbol-simbol Kabbalah sebenarnya sangat banyak. Bahkan konon, lambang bulan sabit yang sekarang kadung dianggap sebagai simbol Islam termasuk lambang yang pernah dipergunakan oleh kelompok ini. Beberapa partai politik yang ada di Indonesia, termasuk partai politik Islam, juga menggunakan lambang ini.

Sebagai rekomendasi, bagi yang ingin mengetahui lebih banyak soal lambang dan symbol Kabbalah, silakan membaca buku Masonic and Occults Symbols Illustrated (Dr. Cathy Burns), Symbols Encyclopedia, dan Symbols, Signs, and Sgnets.

KESIMPULAN BAGIAN SATU

Setelah berhasil mengeluarkan Adam dan Hawa dari Taman Eden, Iblis yang tadinya menjelma dalam bentuk seekor ular mengikuti langkah manusia untuk selalu memalingkannya dari jalan Allah SWT. Di bumi, iblis menemukan wadah yang tepat dengan dalam Ordo Persaudaraan Ular (The Broterhood of Snake) sebagai kendaraan untuk misinya itu.

Ordo Persaudaraan Ular diyakini merupakan cikal bakal Ordo Kabbalah yang membesar dan berpusat dalam masa kekuasaan rezim Fir’aun di Mesir, dan seiring perjalanan waktu kemudian membentuk Ordo Biarawan Sion, lalu membentuk lagi Ordo Ksatria Templar, membentuk lagi Freemasonry, Illuminati, dan organisasi-organisasi esoteris rahasia lainnya yang masih eksis hingga sekarang.

Banyak peneliti menemukan benang merah yang teramat kuat antara Biarawan Sion, Ksatria Templar, Freemasonry, Rosicrusian, Illuminati, dan sebagainya. Benang merah itu adalah ideologi esoteris yang bernama Kabbalah. Perkumpulan-perkumpulan rahasia dan sangat tertutup ini diyakini sebagai pihak yang bermain di belakang layar dalam berbagai peristiwa penting dunia.

Perang Salib misalnya, adalah Peter si Pertapa yang merupakan anggota Ordo Kabbalah yang berada dalam Gereja Yohanit yang mula-mula memprovokasi Paus Urbanus II agar mengakhiri Perjanjian Aelia yang berisi perjanjian damai antara Kristen dengan kaum Muslim yang telah ditandatangani Khalifah Umar bin Khattab dan Uskup Agung Yerusalem Sophronius bersamaan dengan diserahterimakan kota suci Yerusalem dari kekuasaan pihak Kristen ke tangan kaum Muslimin.

Salah satu tokoh Perang Salib pertama, Godfroi de Bouillon, yang juga tokoh Biarawan Sion dan Templar, juga diyakini merupakan anggota dari Ordo Kabbalah Gereja Yohanit, sama seperti Peter. Hughues de Payens—Grand Master Ksatria Templar pertama—dan kedelapan Ksatria Templar lainnya juga merupakan anggota Ordo Kabbalah Gereja Yohanit. Mereka sama sekali bukan pengawal sejati Yesus atau Nabi Isa a.s (Bersambung/Rizki Ridyasmara)

Sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template