Senin, 16 Maret 2015

NWO Untold, Sejarah Rahasia Iluminati: Revolusi dan Peperangan hingga Konspirasi Rothschild Kuasai Bursa Saham London (6)

Untuk membangun satu tatanan dunia yang sama sekali baru, Illuminati menyusun skenario yang tidak tanggung-tanggung: penghancuran total segala macam infrastruktur yang dianggap bisa menghalangi rencana besar ini, dan kemudian membangunnya kembali sesuai dengan cetak biru mereka. Ini tentu bukan pekerjaan yang mudah dan bisa diselesaikan dalam waktu singkat, namun hal tersebut—kepercayaan diri mereka—juga menunjukkan kepada kita betapa mereka sebenarnya didukung oleh sumber daya manusia, kekuasaan, dan juga dana yang amat besar.
Dalam masa ini, antara abad ke-17 hingga abad ke-19M, inilah masa-masa pergolakan di Eropa, tumbuh kembangnya peradaban dan juga kemajuan teknologi, serta juga keyakinan. Para pewaris Biarawan Sion yang kini telah menjadi para Mason—dan tentunya berbagai kelompok esoteris lainnya seperti Illuminati—bergerak secara licin di pusat-pusat kekuasaan Eropa untuk menaklukkan benua tersebut bagi kelompok mereka.

Ordo Kabbalah sudah menyebar di Eropa sejak Perang Salib pertama. Bahkan kelompok inilah yang sesungguhnya telah menghasut Paus Urbanus II untuk mengibarkan bendera Perang Salib untuk menduduki kembali Kota Suci Yerusalem dari tangan kaum Muslimin. Keberadaan mereka bertambah banyak ketika pasukan Salahuddin al-Ayyubi, beberapa tahun kemudian, bisa kembali membebaskan Yerusalem dan seluruh Palestina dari tangan Salib. Saat itu para Templar, Biarawan Sion, dan ksatria-ksatria lainnya kembali ke Eropa setelah kalah perang di Palestina.

Ketika ini, Skotlandia dan Inggris, selain Perancis tentu saja, menjadi tempat utama ‘konsolidasi’ para Templar dan yang lainnya. Untuk membangkitkan Perang Salib kembali mereka gagal membujuk para raja dan bangsawan Eropa, maka mereka bertekad akan memusatkan kegiatannya di Eropa, dengan jalan menundukkan seluruh Eropa sehingga bisa dijadikan ‘rumah yang nyaman’ bagi keberadaan mereka, bebas dari gangguan Gereja.

Di abad pertengahan, Eropa memang menjadi pusat perdagangan dunia dengan Perancis dan Inggris sebagai negara-negara besarnya yang kuat. Untuk menguasai Eropa, maka tiada jalan lain, Inggris dan Perancis harus dikuasai. Kekuasaan Monarki harus diakhiri dan digantikan dengan bentuk Nasionalisme, yang nantinya akan bisa dengan mudah dibenturkan kembali hingga mereka sibuk dengan urusannya sendiri dan sama sekali tidak perduli dengan konspirasi purba yang telah dicanangkan berabad silam. Inggris menjadi target pertama.

MENUNGGANGI REFORMASI GEREJA

Sebelum tahun 1517, Gereja Katolik bisa dianggap menguasai masyarakat Eropa. Walau di sana-sini terdapat perbedaan pandangan dan juga bertumbuhan sekte serta kelompok esoteris, namun kerajaan di Eropa kebanyakan mengaku tunduk pada Vatikan.

Namun ketika seorang Martin Luther pada 31 Oktober 1517 mengeluarkan 95 pernyataannya yang pada zamannya dianggap begitu berani menentang otoritas Kepausan, sebuah pernyataan protes—karena itu dikemudian hari pengikut maupun gerakannya disebut Protestan—dipaparkan di muka umum dan dalam waktu yang tidak lama, surat protesnya itu melahirkan satu kelompok orang-orang Kristen yang mengaku memiliki kesamaan pandangan dengan Luther, tidak puas dengan institusi Gereja dan Kepausan.

Selain Gerakan Protestan, muncul pula John Calvin yang menyuarakan Calvinisme. Inilah dua gerakan reformasi dan gugatan terhadap otoritas Gereja Katolik Roma. Awalnya sedikit, hanya dalam waktu singkat, jumlah pengikut Luther maupun Calvin membengkak. Rakyat Inggris di mana gerakan itu di mulai sudah banyak yang jenuh dengan otoritas Gereja Roma yang telah berlangsung berabad lamanya.

Tanpa disadari banyak kalangan, mantan Templar yang sudah tersebar dalam berbagai perkumpulan esoteris banyak yang menyusup dan bergabung dengan gerakan reformasi gereja ini. Motivasinya jelas, mereka hendak membalaskan dendam orangtua mereka yang telah dikejar-kejar dan dibasmi oleh Paus, dan institusi pendukungnya. Gerakan reformasi gereja ini dianggap sangat baik untuk dipakai sebagai ‘kuda tunggangan’. Maka berbondong-bondonglah para mantan dan keturunan Templar bergabung ke dalam kelompok gereja reformis.

Martin Luther terang terharu melihat betapa banyak orang yang mendukung gerakannya. Ia semakin yakin bahwa apa yang disampaikannya, 95 nota protes kepada Gereja, merupakan suatu kebenaran. Belakangan barulah dia tersadar bahwa di antara pengikutnya, ternyata banyak dari kalangan pewaris Templar yang memiliki motivasi berbeda dengan dirinya, dengan gerakan protesnya yang suci.

Para pewaris Templar ini bergabung ke dalam gerakan protes semata-mata ingin membalaskan dendam para orangtua mereka terhadap institusi Gereja Katolik. Martin Luther yang menyadari hal ini kemudian bertindak tegas. Dia menghujat kaum Yahudi ini dan memerintahkan kepada pengikutnya yang sejati agar tidak berhubungan dalam bentuk apa pun dengan mereka, agar tidak termakan tipu daya orang-orang Yahudi tersebut.

MENUNDUKKAN INGGRIS

Di suatu tempat di Belanda, sejumlah petinggi Ordo Kabbalah menggelar pertemuan dan sepakat untuk menguasai Tahta Kerajan Inggris sepenuhnya dengan cara menurunkan Dinasti Stuart dan menggantikannya dengan seseorang yang mereka bina dari Dinasti Hanover dari Istana Nassau, Bavaria. Kala itu, Tahta Kerajaan Inggris tengah diduduki King Charles II (1660-1685). Raja Inggris ini masih kerabat dekat Duke of York. Mary adalah anak sulung dari Duke of York.

Diam-diam, kelompok Kabbalah ini mengatur strategi agar Mary yang masih lajang itu bertemu dengan ‘Sang Pangeran’ bernama William II, salah seorang pangeran kerajaan Belanda dan pemimpin pasukan kerajaan. Mary dan William II pun bertemu dan saling tertarik. Pada tahun 1674 mereka menikah. Tahun 1685 King Charles II meninggal dan digantikan oleh James II yang memerintah sampai tahun 1688.
 


Dari hasil perkawinan antara William II dan Mary, lahir seorang putera yang kemudian dikenal sebagai William III, yang kemudian menikah dengan seorang puteri dari King James II bernama Mary II. William III yang berdarah campuran antara Dinasti Stuart dengan Dinasti Hanover ternyata menurut kelaziman tidak bisa menjadi Raja Inggris disebabkan ia bukan berasal dari garis keturunan laki-laki Inggris, melainkan dari garis perempuan. Mary II, isterinyalah, yang lebih berhak menyandang gelar Queen.

Di sinilah para petinggi Yahudi melancarkan konspirasi dengan mengobarkan ‘Glorious Revolution’ dan akhirnya berkat Partai Whig yang melakukan kerjasama diam-diam dengan tokoh-tokoh Yahudi dan Partai Tory yang bersikap pragmatis, revolusi tanpa darah ini berhasil menaikkan William III sebagai Raja Inggris.

Beberapa tahun sebelumnya, lewat tangan Oliver Cromwell, kekuatan Yahudi juga telah ‘menyikat’ King Charles I dan menguasai lembaga-lembaga keuangan di kerajaan itu. Dengan berkuasanya William III maka Inilah awal hegemoni Dinasti Hanover bertahta di Kerajaan Inggris sampai sekarang. Apalagi Dinasti Windsor yang berkuasa di Kerajaan Inggris sekarang merupakan keturunan langsung dari King Edward III (Prince of Wales) yang merupakan keturunan Hanover.

Pada tahun 1689, King William III mendirikan Loyal Orange Order yang begitu fanatik mendukung gerakan pembaruan Gereja yang dipimpin Martin Luther. Ordo ini menyatakan dengan tegas akan menjadikan Inggris sebagai basis bagi gerakan Protestan. Pernyataan ini memiliki pesan yang jelas terhadap Gereja Katolik: “Kami akan melawanmu!” Loyal Orange Order sampai hari ini masih bertahan di Irlandia Utara dengan jumlah anggota tak kurang dari angka 100 ribuan.

Kelompok inilah yang senantiasa mengobarkan api permusuhan terhadap kaum Katolik sehingga sampai sekarang kehidupan masyarakat di sana tidak pernah sepi dari konflik Protestan-Katolik. King William III sendiri menceburkan diri dalam peperangan melawan Perancis yang dihuni banyak warga Katolik. Inggris menderita kerugian yang banyak. Utang pun menumpuk. Inilah awal berdirinya Bank of England sebagai bank sentral swasta pertama di dunia, seperti yang telah disinggung di muka. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber






William G. Carr dalam bukunya “Yahudi Menggenggam Dunia” (Pustaka Alkautsar, 1991) mencatat kronologi perjalanan petualangan Oliver Cromwell menjadi kaki tangan kaum Yahudi Inggris setelah kematian King Charles I pada tanggal 30 Januari 1649. Inilah kronologinya yang telah dipersingkat:

  • 1649, Cromwell menyerbu Irlandia dengan dukungan dana dari lobi Yahudi internasional sehingga terjadi peperangan antara Inggris Protestan melawan Irlandia Katolik.
  • 1651, Charles II, putera King Charles I, memerangi Cromwell tapi gagal. Ia dibuang ke Perancis.
  • 1652, Inggris melibatkan diri berperang melawan Belanda.
  • 1653, Cromwell mengangkat dirinya sebagai The Lord Defender of Great Britain.
  • 1654, Inggris terlibat perang Eropa lagi.
  • 1656, Amerika yang masih menjadi jajahan Inggris bergolak dan akhirnya menjadi negara merdeka.
  • 1657, Cromwell meninggal dunia. Puteranya, Richard, menjadi penguasa Inggris.
  • 1659, Richard mengakhiri persekongkolan dengan Yahudi Internasional, ia mengundurkan diri dari kekuasaan.
  • 1660, Jenderal monk dari angkatan bersenjata Inggris menduduki London. Charles II diangkat menjadi raja Inggris.
  • 1661, Skandal persekongkolan antara Cromwell dengan kubu Yahudi Internasional terungkap. Warga London geger dan marah. Makam Cromwell dibongkar paksa.
  • 1662, Gereja resmi Inggris, Anglikan, menindas umat Protestan.
  • 1664, Inggris kembali berperang melawan Belanda.
  • 1665, Krisis ekonomi melanda Ingris. Pengangguran dan kelaparan merebak. Di tahun itu juga terjadi kebakaran besar yang menghanguskan sebagian kota London, disusul wabah penyakit lepra.
  • 1666, Inggris terlibat perang dengan Belanda dan Perancis.
  • 1667, Ordo Kabbalah yang secara rahasia masih eksis di Inggris melancarkan gerakan sabotase ke kalangan elit pemerintahan. Sejarah Inggris mengenalnya sebagai gerakan Kabal. Akibatnya muncul gelombang baru penindasan agama dan politik di Inggris.
  • 1674, Setelah menggelar pertemuan internal di Belanda, Kelompok Yahudi Internasional sepakat menguasai Kerajaan Inggris sepenuhnya dengan melengserkan King Charles II dan menaikkan seseorang yang bisa dikendalikan. Pada tulisan di muka hal ini telah disinggung, yakni penobatan King William III yang masih berdarah Dinasti Hanover.
  • 1683, Konspirasi berupaya membunuh King Charles II dan Duke of York tapi gagal.
  • 1685, King Charles II meninggal dunia. Duke of York yang beragama Katolik naik tahta dengan gelar King James II. Konspirasi menyebarkan desas-desus untuk menentang raja baru itu. Rakyat banyak yang termakan isu ini. Akibatnya banyak rakyat yang ditangkap pihak kerajaan. Nama King James II menjadi tidak popular di mata rakyat.
  • 1688, setelah King James II sudah tidak lagi mendapat dukungan rakyatnya, Konspirasi Yahudi Internasional memprovokasi pangeran William of Orange dari Belanda untuk menyerbu Inggris, dengan dukungan kapal-kapal perangnya menuju pantai Inggris. King James II akhirnya turun tahta dan kabur ke Perancis.
  • 1689, William of Orange atau William III dan Queen of Mary –keduanya Protestan—mengukuhkan diri sebagai Raja dan Ratu Inggris. Sementara itu James II kabur lagi ke Irlandia, sebuah wilayah Katolik. Pasukan Inggris sendiri terpecah antara yang Protestan dengan yang Katolik. Yang Protestan mendukung William III sedang yang Katolik berupaya mengembalikan James II ke tahtanya. Perang saudara pun tak terelakkan pada 12 Juli 1689.
Sampai sekarang, rakyat Inggris masih mengenang peristiwa tersebut tanpa banyak yang menyadari bahwa perang saudara itu sesungguhnya sengaja dibuat oleh Konspirasi Yahudi Internasional, untuk menguasai perekonomian negara besar Eropa itu. Hasilnya, berdirilah Bank of England, bank sentral swasta pertama di dunia, yang dimiliki Konspirasi Yahudi tersebut. Inggris terus dibuat untuk berperang, sehingga kas kerajaan terkuras dan hutang bertambah banyak. Jerat yang dipasang para pemilik modal Yahudi kini telah mengikat mangsanya. Kian lama kian kuat, mencekik. Inggris pun jatuh ke dalam kekuasaan mereka hanya dengan modal awal £1.250.000!

DOKUMEN KONSPIRASI ROTHSCHILD I




Setelah Kerajaan Inggris berhasil ditaklukkan, Konspirasi Yahudi Internasional mengarahkan wajahnya ke sebuah benua baru yang masih menjadi koloni Inggris di seberang Samudera Atlantik: Amerika. Ordo Kabbalah yang kini berkumpul di dalam Freemasonry jauh-jauh hari sudah mempersiapkan hal ini di Amerika.

Bukankah Christoper Colombus yang ‘menemukan’ daratan Amerika juga anggota dari persaudaraan Kabbalah juga? Demikianlah, Amerika Serikat memang dipersiapkan jauh-jauh hari sebagai The Second Promise Land, selain Yerusalem, bagi bangsa Yahudi. Nama lain kota New York saja adalah The New Jerusalem.

Pada 4 Juli 1776, tokoh-tokoh Mason Amerika menandatangani Declaration of Independence. Berdirilah satu negara Masonik yang dipersiapkan sebagai The Headquarter, markas besar, gerakan Ordo Kabbalah dalam menaklukkan dunia kelak. Hal ini akan dibahas secara lebih mendetail dalam bab lain buku ini.

Di Eropa kala itu merupakan sebuah benua yang terdiri dari banyak kerajaan besar kecil dan sejumlah wilayah kecil yang disebut principalis, semacam kabupaten yang merdeka dan otonom seperti misalnya Monaco dan Lechtenstein. Inggris dan Perancis merupakan dua negara kerajaan besar dan paling berpengaruh.

Setelah Inggris berhasil dikuasai dan para tokoh Mason Amerika berhasil memproklamirkan kemerdekaan negara itu, maka Konspirasi Yahudi Internasional berusaha untuk menaklukkan Perancis. Salah satu tokoh sentral dalam Konspirasi Yahudi Internasional atas Perancis adalah Rothschild, seorang bankir-politikus yang berdarah dingin.

Sejarah mencatat bahwa keluarga Rothschild sejak awal memang keluarga jutawan. Pendiri keluarga ini bernama Moses Amshell Bauer, seorang pemilik modal Yahudi berpengaruh, si lintah darat. Sepeninggal Moses, putera bungsunya yang bernama Mayer Amshell Bauer meneruskan usaha ayahnya.

Dalam tempo tidak terlalu lama, usaha warisan ayahnya ini berkembang pesat. Simbol Tameng Merah (Rothcshild) pun kian terkenal. Dan Mayer pun menggunakan gelar Rothschild I. Mayer mendidik kelima anaknya dengan disiplin Yahudi yang tinggi guna dipersiapkan menjadi pengusaha atau bankir yang tangguh. Anak paling bungsu, Nathan, dianggap paling berbakat. Sebab itu, walau usia Nathan masih remaja, Mayer dengan berani mengirimnya ke Inggris untuk mempelajari seluk-beluk perbankan dan diharapkan suatu hari kelak menjadi tokoh penting dalam Bank Inggris.

Di benak sang ayah, Mayer Amshell, kelima anaknya harus menjadi bankir atau pengusaha hebat dan tangguh agar nantinya bisa bersama-sama mendirikan lembaga keuangan raksasa di seluruh Eropa yang mampu mengendalikan Eropa dan juga dunia. Suatu harapan yang akhirnya menjadi kenyataan.

Pada tahun 1773, Mayer mengundang sekitar duabelas tokoh berpengaruh Yahudi ke kediamannya di Frankfurt guna membahas berbagai perkembangan Eropa terakhir, termasuk mengevaluasi hasil-hasil upaya Konspirasi di Inggris. Dalam pertemuan inilah, nama Adam Weishaupt disebut oleh Rothschild sebagai seseorang yang bisa dipercaya untuk menjalankan tugas dari Konspirasi. Beberapa point penting yang dikemukakan Mayer atau Rothschild I ini mengenai Revolusi Inggris, antara lain:

Konspirasi dianggap terlalu lamban dalam melakukan program yang direncanakan, akibatnya penguasaan Inggris secara total terhambat oleh hal-hal kecil. Namun hal-hal kecil ini bisa dianggap tidak berpengaruh besar bagi upaya penguasaan oleh Konspirasi. Walau demikian, hal-hal kecil ini dianggap tidak boleh dibiarkan. Beberapa kelompok berpengaruh di Inggris ada yang masih mampu bertahan menghadapi Konspirasi. Rothschild segera memerintahkan agar pelaksanaan program dipercepat dan menyingkirkan oposisi secepatnya dengan segala cara yang bisa diambil. Jika perlu, segenap lapisan masyarakat Inggris harus dikuasai dengan jalan teror atau kekerasan.”

Dalam pertemuan itu, Rothschild juga menekankan kepada para undangan bahwa apa-apa yang telah dihasilkan di Inggris sesungguhnya bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan apa yang akan mereka perbuat atas Perancis. Skema besar untuk meletupkan Revolusi Perancis pun di bahas dengan serius. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber

Sejarah Rahasia Iluminati: Revolusi Perancis, Revolusi Kaum Borjuis






Ini merupakan satu mata rantai dari sejumlah pertemuan para Konspiran untuk menggodok Revolusi Perancis. Dalam pertemuan di Frankfurt ini, agenda yang telah dirancang dipermatang dan upaya penggalangan dana pun di mulai dari ‘markas’ Rothschild tersebut.


Menurut penilaian sosiologis dan psikologi massa yang dilakukan Konspirasi, situasi yang tengah dihadapi Perancis saat itu memang menggambarkan dengan baik apa yang sebenarnya tengah terjadi di Eropa: perekonomian tengah lesu, utang menumpuk, pengangguran di mana-mana, lapangan pekerjaan nyaris tidak bergerak, sektor industri macet, dan bencana kelaparan di ambang pintu.

Jurang kesenjangan ekonomi yang terjadi antara buruh dan rakyat biasa dengan para bangsawan, pemilik modal, dan raja-raja demikian besar dan dalam. Menurut teori revolusi, dalam kondisi demikian buruk, massa rakyat telah siap untuk menyambut siapa pun yang tampil secara meyakinkan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Massa rakyat telah menjadi semacam tumpukan jerami kering yang hanya dengan percikan api sedikit saja akan bisa terbakar dan meluas dengan sangat cepat. Kondisi di Perancis merupakan yang terparah.

Di tengah kondisi demikian, lewat corong media yang dikuasainya, Konspirasi akan meniupkan aneka slogan yang muluk-muluk dan melemparkan semua kesalahan kepada penguasa dan orang-orang kaya, sehingga rakyat Perancis semakin membenci mereka. Kehancuran dan kerusuhan tinggal menunggu hitungan hari. Sebuah rencana besar siap digelindingkan oleh Konspirasi.
Salah satu rumus baku dalam gerakan massa adalah: menjelek-jelekkan masa sekarang, di saat bersamaan mengingatkan massa rakyat akan kegemilangan masa lampau dan meyakinkan massa rakyat bahwa massa depan akan bisa menjadi lebih gemilang, mengulangi masa-masa keemasan di zaman silam, jika massa rakyat mau dan siap bergerak menumbangkan status-quo. Ini berlaku di mana saja.

Untuk menyatukan langkah gerakan massa, Konspirasi segera menciptakan tiga slogan gerakan: Liberté, Egalité, dan Fraternité (Kemerdekaan, Persamaan, dan Persaudaraan). Sebuah slogan yang mampu membius massa rakyat Perancis sehingga rela mengorbankan apa saja demi memenuhinya. Slogan ini secara terus-menerus diperdengarkan ke telinga rakyat Perancis sehingga setiap orang Perancis saat itu sangat hapal dengan tiga istilah di atas saat itu.

Walau terdengar sangat indah, namun tiga istilah di atas bagi Konspirasi Yahudi Internasional memiliki arti yang sama sekali beda.
  • Bagi kelompok ini, Liberté sesungguhnya berarti Kemerdekaan bagi mereka, kebebasan bagi mereka, bagi para pemilik modal, untuk berbuat apa saja terhadap Perancis.
  • Egalité yang sesungguhnya bermakna Persamaan, bagi Konspirasi diartikan sebagai persamaan di kalangan mereka untuk bisa bersama-sama, gotong royong, di dalam usahanya menguasai perekonomian Perancis.
  • Sedangkan Fraternité memiliki arti sebagai Persaudaraan antara kelompok mereka sendiri, di mana di dalam setiap usahanya, mereka harus saling tolong-menolong, bantu-membantu, agar kepentingan kelompok mereka bisa dicapai. Inilah hakikat tiga slogan Revolusi Perancis. Jadi Persaudaraan hanya terbatas pada kelompoknya saja.
Setelah memaparkan panjang lebar evaluasi Revolusi Inggris dan rencana ke depan terhadap Perancis, Rothschild membuka satu dokumen dan meletakkannya di atas meja. Di hadapan keduabelas rekannya itu, Rothschild mulai memaparkan ke-25 butir bahasan dari dokumen tersebut secara komperehensif. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber

Sejarah Rahasia Iluminati: Dokumen Rothschild Mirip Protocolat Zionis







Secara ringkas, isi dokumen tersebut adalah:

  1. Manusia itu lebih banyak cenderung pada kejahatan ketimbang kebaikan. Sebab itu, Konspirasi harus mewujudkan ‘hasrat alami’ manusia ini. Hal ini akan diterapkan pada sistem pemerintahan dan kekuasaan. Bukankah pada masa dahulu manusia tunduk kepada penguasa tanpa pernah mengeluarkan kritik atau pembangkangan? Undang-undang hanyalah alat untuk membatasi rakyat, bukan untuk penguasa.
  2. Kebebasan politik sesungguhnya utopis. Walau begitu, Konspirasi harus mempropagandakan ini ke tengah rakyat. Jika hal itu sudah dimakan rakyat, maka rakyat akan mudah membuang segala hak dan fasilitas yang telah didapatinya dari penguasa guna memperjuangkan idealisme yang utopis itu. Saat itulah, Konspirasi bisa merebut hak dan fasilitas mereka.
  3. Kekuatan uang selalu bisa mengalahkan segalanya. Agama yang bisa menguasai rakyat pada masa dahulu, kini mulai digulung dengan kampanye kebebasan. Namun rakyat banyak tidak tahu harus mengapa dengan kebebasan itu. Inilah tugas Konspirasi untuk mengisinya demi kekuasaan, dengan kekuatan uang.
  4. Demi tujuan, segala cara boleh dilakukan. Siapa pun yang ingin berkuasa, dia mestilah meraihnya dengan licik, pemerasan, dan pembalikkan opini. Keluhuran budi, etika, moral, dan sebagainya adalah keburukan dalam dunia politik.
  5. Kebenaran adalah Kekuatan Konspirasi.[1] Dengan kekuatan, segala yang diinginkan akan terlaksana.
  6. Bagi kita yang hendak menaklukkan dunia secara finansial, kita harus tetap menjaga kerahasiaan. Suatu saat, kekuatan Konspirasi akan mencapai tingkat di mana tidak ada kekuatan lain yang berani untuk menghalangi atau menghancurkannya. Setiap kecerobohan dari dalam, akan merusak program besar yang telah ditulis berabad-abad oleh para pendeta Yahudi.
  7. Simpati rakyat harus diambil agar mereka bisa dimanfaatkan untuk kepentingan Konspirasi. Massa rakyat adalah buta dan mudah dipengaruhi. Penguasa tidak akan bisa menggiring rakyat kecuali ia berlaku sebagai diktatur. Inilah satu-satunya jalan.
  8. Beberapa sarana untuk mencapai tujuan adalah: Minuman keras, narkotika, pengrusakan moral, seks, suap, dan sebagainya. Hal ini sangat penting untuk menghancurkan norma-norma kesusilaan masyarakat. Untuk itu, Konspirasi harus merekrut dan mendidik tenaga-tenaga muda untuk dijadikan sarana pencapaian tujuan tersebut.
  9. Konspirasi akan menyalakan api peperangan secara terselubung. Bermain di kedua belah pihak. Sehingga Konspirasi akan memperoleh manfaat besar tetapi tetap aman dan efisien.[2] Rakyat akan dilanda kecemasan yang mempermudah bagi Konspirasi untuk menguasainya.
  10. Konspirasi sengaja memproduksi slogan agar menjadi ‘tuhan’ bagi rakyat. Dengan slogan itu, pemerintahan aristokrasi keturunan yang tengah berkuasa di Perancis akan diruntuhkan. Setelah itu, Konspirasi akan membangun sebuah pemerintahan yang sesuai dengan Konspirasi.
  11. Perang yang dikobarkan Konspirasi secara diam-diam harus menyeret negara tetangga agar mereka terjebak utang. Konspirasi akan memetik keuntungan dari kondisi ini.
  12. Pemerintahan bentukan Konspirasi harus diisi dengan orang-orang yang tunduk pada keinginan Konspirasi. Tidak bisa lain.
  13. Dengan emas, Konspirasi akan menguasai opini dunia.[3] Satu orang Yahudi yang menjadi korban sama dengan 1000 orang non-Yahudi (Gentiles/Ghoyim) sebagai balasannya.[4]
  14. Setelah Konspirasi berhasil merebut kekuasaan, maka pemerintahan baru yang dibentuk harus membasmi rezim lama yang dianggap bertanggungjawab atas terjadinya semua kekacauan ini. Hal tersebut akan menjadikan rakyat begitu percaya kepada Konspirasi bahwa pemerintahan yang baru adalah pelindung dan pahlawan dimata mereka.
  15. Krisis ekonomi yang dibuat akan memberikan hak baru kepada Konspirasi, yaitu hak pemilik modal dalam penentuan arah kekuasaan. Ini akan menjadi kekuasaan turunan.
  16. Penyusupan ke dalam jantung Freemason Eropa agar bisa mengefektifkan dan mengefisienkannya. Pembentukan Bluemasonry akan bisa dijadikan alat bagi Konspirasi untuk memuluskan tujuannya.
  17. Konspirasi akan membakar semangat rakyat hingga ke tingkat histeria. Saat itu rakyat akan menghancurkan apa saja yang kita mau, termasuk hukum dan agama. Kita akan mudah menghapus nama Tuhan dan susila dari kehidupan.
  18. Perang jalanan harus ditimbulkan untuk membuat massa Konspirasi akan mengambil keuntungan dari situasi itu.
  19. Konspirasi akan menciptakan diplomat-diplomatnya untuk berfungsi setelah perang usai. Mereka akan menjadi penasehat politik, ekonomi, dan keuangan bagi rezim baru dan juga di tingkat internasional. Dengan demikian, Konspirasi bisa semakin menancapkan kukunya dari balik layar.
  20. Monopoli kegiatan perekonomian raksasa dengan dukungan modal yang dimiliki Konspirasi adalah syarat utama untuk menundukkan dunia, hingga tidak ada satu kekutan non-Yahudi pun yang bisa menandinginya. Dengan demikian, kita bisa bebas memainkan krisis suatu negeri.
  21. Penguasaan kekayaan alam negeri-negeri non-Yahudi mutlak dilakukan.
  22. Meletuskan perang dan memberinya—menjual—senjata yang paling mematikan akan mempercepat penguasaan suatu negeri, yang tinggal dihuni oleh fakir miskin.
  23. Satu rezim terselubung akan muncul setelah Konspirasi berhasil melaksanakan programnya.
  24. Pemuda harus dikuasai dan menjadikan mereka sebagai budak-budak Konspirasi dengan jalan penyebarluasan dekadensi moral dan paham yang menyesatkan.
  25. Konspirasi akan menyalahgunakan undang-undang yang ada pada suatu negara hingga negara tersebut hancur karenanya.
Rothschild mengakhiri pesan-pesannya dengan sebuah peringatan bahwa segala yang telah dibahas di dalam ruangan tersebut tidak boleh keluar dari dinding-dinding ruangan. Sukses tidaknya rencana Konspirasi Yahudi Internasional tergantung pada kerahasiaan yang ada.

William G. Carr[5] mengatakan bahwa apa yang diungkapkan oleh Rothschild nyaris serupa dengan dokumen rahasia Yahudi, Protocol of Zions. Hanya saja, dalam Protocolat tersebut ada tambahan tentang penyusupan Konspirasi melalui Darwinisme dan Marxisme.

Protocol Zionis ini selalu berubah—entah penafsirannya atau pun pokok-pokok isinya—disesuaikan dengan perkembangan zaman. Carr tidaklah berlebihan, karena uraian Rothschild tersebut memang merupakan asal dari Protocolat Zionis yang sekarang begitu popular itu.

DINASTI ‘TAMENG MERAH’

Membahas sepak terjang Konspirasi Yahudi Internasional dalam mendekonstruksi dan membangun kembali Eropa—dan kemudian juga dunia—sesuai dengan cetak-biru kaum Kabbalah-nya tidak bisa lepas dari keberadaan Dinasti Rothschild atau Dinasti ‘Tameng Merah’. Rothschild dalam bahasa Jerman memang memiliki arti sebagai Tameng Merah. Dinasti Rothschild yang melegenda dan sangat berkuasa ini berawal dari sejarah Eropa di abad ke-18 dengan kelahiran seorang bayi Yahudi Jerman yang kemudian diberi nama Mayer Amshell Bauer. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)
———————————–
[1] Right is Mighty. Semboyan ini berabad-abad kemudian dipakai oleh pemerintahan AS di bawah George W Bush dan juga Zionis-Israel.

[2] Taktik ini sekarang dipakai oleh industri perang yang banyak bertebaran di Amerika dan Eropa, yang dikuasai Zionis. Mereka sengaja meletupkan perang di antara negara-negara yang dianggap penghalang, dan kepada kedua belah pihak yang bertikai, mereka menjual senjata-senjatanya. Keuntungan yang mereka dapat, selain finansil, juga tanpa harus bersusah-payah, musuh dan penghalang mereka akan habis dengan sendirinya. Belum ditambah lagi dengan ‘bantuan’ keuangan untuk membiayai perang. Hal ini merupakan alat yang amat ampuh hingga hari ini.

[3] Dewasa ini, nyaris seluruh kantor berita dunia, media massa cetak dan elektronik dunia, termasuk internet, sudah dikuasai Zionis.

[4] Sudah menjadi kelaziman Zionis-Israel, jika satu tentara atau warganya terbunuh atau menjadi sandera, maka tentara Zionis akan segera menyerang atau membombardir musuh-musuhnya. Kasus agresi militer Zionis Israel di Palestina dan Lebanon pada Juli 2006, dengan alasan untuk membebaskan salah seorang kopralnya yang disandera Mujahidin Palestina, merupakan salah satu contoh yang tidak bisa dibantah.

[5] Dalam bukunya, Yahudi Menggenggam Dunia (Pustaka Alkautsar, 2005), William G. Carr juga memuat 25 butir pernyataan Rothschild seperti di atas, pada halaman 92-101.

Sumber

Sejarah Rahasia Iluminati: Dinasti Tameng Merah (46)



Mayer Amshell Bauer lahir pada tahun 1743 di sebuah perkampungan Yahudi di Frankfurt, Bavaria (sekarang Jerman). Ayah dari Mayer bernama Moses Amschell Bauer yang bekerja sebagai lintah darat (rentenir) dan tukang emas yang berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain, dari kota yang satu ke kota lainnya. Bakat Moses sebagai rentenir kelak akan diteruskan dan dikembangkan oleh anak-cucunya.

Kelahiran Mayer membuat Moses menghentikan bisnis ‘nomaden’nya dan menetap di sebuah rumah agak besar dipersimpangan Judenstrasse (Jalan Yahudi) kota Frankfurt. Di rumah itu, Moses membuka usaha simpan-pinjam uangnya. Di pintu masuk kedai renten-nya, Moses menggantungkan sebuah Tameng Merah sebagai merk dagangnya: Rothschild.

Anak pertamanya ini, Mayer Amshell, menunjukkan kecerdasan yang tinggi. Dengan tekun Moses mengajari Mayer segala pengetahuan tentang bisnis pinjam-meminjam uang. Moses juga sering menceritakan pengalaman dan pengetahuan yang diperolehnya dari berbagai sumber. Moses sebenarnya ingin menjadikan Mayer sebagai pendeta Yahudi. Namun ajal keburu menjemputnya sebelum sang anak tumbuh dewasa. Sepeninggal ayahnya, Mayer sempat meneruskan usaha ayahnya di rumah. Namun tidak lama kemudian Mayer ingin belajar lebih mendalam tentang bisnis uang. Akhirnya ia bekerja di sebuah bank milik keluarga Oppenheimer di Hanover.

Di bank ini, Mayer dengan cepat menyerap semua aspek bisnis perbankan modern. Kariernya pun melesat, bahkan sang pemilik bank yang terkesan dengan Mayer menjadikannya sebagai mitra muda dalam kepemilikian bank tersebut.

Setelah merasa cukup banyak menimba ilmu tentang bisnis perbankan, Mayer kembali ke Frankfurt untuk meneruskan usaha ayahnya yang sempat dilepaskannya untuk beberapa waktu. Mayer telah berketetapan hati, bisnis uang akan dijadikan sebagai bisnis inti keluarga ini. Ia akan mendidik anak-anaknya kelak dengan segala pengetahuan tentang bisnis penting tersebut dan menjadikannya keluarga besar penguasa bisnis perbankan Eropa dan juga dunia.

Salah satu langkah yang diambil Mayer adalah dengan mengganti nama keluarga ‘Bauer’ yang dalam bahasa Jerman berarti ‘Petani’ dengan merk dagang usahanya, yakni ‘Tameng Merah’ (Rothschild). Mayer sendiri memakai gelar Rothschild I.

Berkat kepiawaiannya, usaha rumahan ini berkembang pesat. Rotshchild I mulai melobi kalangan istana. Orang yang pertama ia dekati adalah Jenderal von Estorff, bekas salah satu pimpinannya ketika masih bekerja di Oppenheimer Bank di Hanover. Rothschild I mengetahui benar, sang jenderal memiliki hobi mengumpulkan koin-koin kuno dan langka.
 




Dengan jeli Rothschild memanfaatkan celah ini untuk bisa dekat dengan sang jenderal.  Untuk menambah perbendaharaan koin-koin kuno dan langka, Rotshchild menghubungi sesama rekannya orang Yahudi yang dalam waktu singkat berhasil mengumpulkan benda-benda tersebut. Sambil membawa barang yang sangat diminati Jenderal von Estorff, Rothschild I menemui sang jenderal di rumahnya dan menawarkan semua koin itu dengan harga sangat murah. Jelas, kedatangan Rotshchild disambut gembira sang jenderal. Bukan itu saja, rekan-rekan dan teman bisnis sang jenderal pun tertarik dengan Rothschild dan kemudian jadilah Rotshchild diterima sepenuh hati dalam lingkaran pertemanan dengan Jenderal von Estorff.


Suatu hari, tanpa disangka-sangka, Rothschild I dipertemukan oleh Jenderal von Estorff kepada Pangeran Wilhelm secara pribadi. Pangeran ternyata memiliki hobi yang sama dengan jenderal. Wilhelm membeli banyak medali dan koin langka dari Rotshchild dengan harag yang juga dibuat miring. Inilah kali pertamanya seorang Rotshchild bertransaksi dengan seorang kepala negara.

Dari perkenalannya dengan Wilhelm, terbukalah akses Rothschild untuk membuat jaringan dengan para pangeran lainnya. Untuk membuat pertemanan bisnis menjadi pertemanan pribadi, Rotshchild menulis banyak surat kepada para pangeran yang berisi puji-pujian dan penghormatan yang begitu tinggi atas kebangsawanan mereka. Rothschild juga memohon agar mereka memberi perlindungan kepadanya.

Pada tanggal 21 September 1769, upayanya membuahkan hasil. Pangeran Wilhelm dengan senang hati memberikan restu atas kedainya. Rothschild pun memasang lambang principalitas Hess-Hanau di depan kedainya sebagai lambang restu dan perlindungan Sang Pangeran. Lambang itu bertuliskan huruf emas dengan kalimat, “M.A.Rothschild. Dengan limpahan karunia ditunjuk sebagai abdi istana dari Yang Mulia Pangeran Wilhelm von Hanau.”

Tahun 1770, saat berusia 27 tahun, Rothschild menikahi Guetele Schnaper yang masih berusia tujuhbelas tahun. Dari perkawinannya, mereka dikarunia sepuluh orang anak. Putera-puteranya bernama Amshell III, Salomon, Nathan, Karlmann (Karl) dan Jacob (James). Kepada anak-anaknya, selain mendidik mereka dengan keras soal pengetahuan bisnis perbankan dan aneka pengalamannya, Rothschild I juga menanamkan kepada mereka keyakinan-keyakinan Talmudian (bukan Taurat) dengan intensif.

Frederich Morton, penulis biografi Dinasti Rothschild menulis, “Setiap Sabtu malam, usai kebaktian di sinagoga, Amshell mengundang seorang rabi ke rumahnya. Sambil duduk membungkuk di kursi hijau, mencicipi anggur, mereka berbincang-bincang sampai larut malam. Bahkan pada hari kerja pun Amshell sering terlihat mendaras Talmud …dan seluruh keluarga harus duduk dan mendengarkan dengan tertib.

Wilhelm von Hanau merupakan seorang kepala negara yang kaya raya dan berpengaruh. Bisa jadi, bisnis utama Wilhelm yang memiliki sepasukan tentara sewaan (bisnis ini juga berasal dari bisnis para Templar!) membuatnya disegani tidak saja di Jerman tetapi juga di wilayah-wilayah sekitarnya. Wilhelm juga memiliki kekerabatan dengan sejumlah keluarga kerajaan Eropa lainnya.

Inggris merupakan salah satu langganan setia dalam bisnis tentara sewaannya. Harap maklum, daerah koloni Inggris di seberang lautan sangat luas dan banyak. Dalam bisnis ini, Rothschild bertindak sebagai dealernya.

Karena kerja Rothschild begitu memuaskan, maka Wilhelm pernah memberinya hibah uang sebanyak 600.000 pound atau senilai tiga juta dollar AS dalam bentuk deposito. Dari usahanya ini, Wilhelm memiliki banyak uang. Ketika meninggal, Wilhelm meninggalkan warisan terbesar dalam rekor warisan raja Eropa yakni setara dengan 200 juta dollar AS!.[1]

Sumber lainnya mengatakan bahwa uang sebesar tiga juta dollar AS itu sebenarnya berasal dari pembayaran sewa tentara kerajaan Inggris kepada Wilhelm, namun digelapkan oleh Rothschild.[2] Dengan bermodalkan uang haram inilah Rothschild membangun kerajaan bisnis perbankannya yang pertama dan menjadi bankir internasional yang pertama. Sebenarnya, Rothschild I ini tidak membangun kerajaannya sendiri.

Beberapa tahun sebelumnya ia telah mengirim anak bungsunya, Nathan Rothschild yang dianggap paling berbakat ke Inggris untuk memimpin bisnis keluarga di wilayah tersebut. Di London Nathan mendirikan sebuah bank dagang dan modalnya diberikan oleh Rothschild I sebesar tiga juta dollar AS yang berasal dari uang haram itu.

Di London, Nathan Rothschild menginventasikan uang itu ke dalam emas-emas batangan dari East India Company. Berasal dari uang haram, diputar dengan cara yang penuh dengan tipu daya, memakai sistem ribawi yang juga haram, kian berkembanglah bisnis keuangan keluarga Rothschild ke seluruh Eropa. Berdirilah cabang-cabang perusahaan Rothschild di Berlin, Paris, Napoli, dan Vienna. Rothschild I menempatkan setiap anaknya menjadi pemimpin usaha di cabang-cabangnya itu. Karl di Napoli, Jacob di Paris, Salomon di Vienna, dan Amshell III di Berlin. Kantor pusatnya tetap di London. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)  Sumber

————————-
[1] Z.A.Maulani; Zionisme, Gerakan Menaklukkan Dunia; Daseta; 202; hal. 227.

[2] The Jewish Encyclopedia, Volume 10,  hal.494.



Sejarah Rahasia Iluminati: Dinasti Tameng Merah Bakar Perancis







Rothschild I meninggal dunia pada 19 September 1812. Beberapa hari sebelum mangkat, ia menulis sebuah surat wasiat yang antara lain berbunyi:

  • Hanya keturunan laki-laki yang diperbolehkan berbisnis. Semua posisi kunci harus dipegang oleh keluarga.
  • Anggota keluarga hanya boleh mengawini saudara sepupu sekali (satu kakek) atau paling jauh sepupu dua kali (satu paman). Dengan demikian harta kekayaan  keluarga tidak jatuh ke tangan orang lain. Awalnya aturan ini dipegang ketat, tapi ketika banyak pengusaha Yahudi lainnya bermunculan sebagai pengusaha dunia, aturan ini dikendurkan, walau demikian hanya boleh mengawini anggota-anggota terpilih.[1]
Dinasti Rothschild tidak punya sahabat atau sekutu sejati. Baginya, sahabat adalah mereka yang menguntungkan kantongnya. Jika tidak lagi menguntungkan maka ia sudah menjadi bagian masa lalu dan dimasukkan ke dalam tong sampah.

Pangeran Wilhelm sendiri akhirnya dilupakan oleh Rothschild setelah ia berhasil menilep uangnya. Ketika Inggris dan Perancis berperang dengan memblokade pantai lawan masing-masing, hanya armada Rothschild yang bebas keluar masuk pelabuhan karena Rothschild telah membiayai kedua pihak yang berperang tersebut.

INTELIJEN BISNIS ROTHSCHILD

Bisnis adalah perang dalam medan pertempuran yang berbeda. Hal ini telah begitu diresapi oleh setiap pengusaha sejak dahulu hingga sekarang. Demikian pula dengan Dinasti Rothschild. Bahkan sistem intelijen bisnis bisa dibilang berasal dari bisnis  keluarga ini.

Awalnya adalah surat-menyurat antara anak-anak Rothschild yang masing-masing mengepalai kantor cabang di beberapa kota besar Eropa. Mula-mula, mereka memakai jasa kurir khusus yang bertugas menyampaikan segala surat-surat dan dokumen lainnya. Namun lama-kelamaan, jaringan kurir ini berkembang menjadi lebih efisien, efektif, dan aman. Frederich Morton menggambarkan jaringan kurir Rothschild ini,

“Kereta-kereta Rothschild meluncur di jalan-jalan darat; perahu-perahu layar Rothschild bolak-balik di Selat Channel; agen-agen Rothschild bergerak cepat dalam bayangan di jalan-jalan. Mereka membawa uang tunai, surat-surat berharga, laporan, dan berita. Di atas segala-galanya—ialah berita-berita ekslusif mutakhir yang diproses dengan kecepatan tinggi di pasar saham dan bursa komoditas. Dan tidak ada berita yang lebih berharga daripada hasil akhir Waterloo…”[2]

Seluruh surat-surat yang dibuat oleh keluarga Rothschild niscaya tidak akan bisa dibaca oleh orang yang tidak berhak karena surat-surat mereka ditulis dengan cara khusus, ditulis dengan bahasa Ibrani namun dengan structure Jerman, ditambah dengan penggunaan kode-kode tertentu yang hanya bisa dipecahkan jika kita memiliki kuncinya.

Jangankan pihak musuh, agen-agen Rothschild saja tidak semuanya yang memiliki keahlian membaca surat berkode tersebut. Kuat dugaan, penulisan surat berkode seperti ini yang dilakukan Dinasti Rothschild mengikuti sistem surat-menyurat yang biasa dilakukan para Ksatria Templar untuk komunikasi antar jaringan mereka di Eropa.

Dalam bisnis keuangannya, seperti yang sudah kita singgung di muka, para Templar membuat surat berharga untuk para nasabahnya yang berbentuk sebuah dokumen yang berisi sandi-sandi dan kode-kode rahasia yang begitu rumit, yang hanya bisa dipecahkan oleh angggota Templar sendiri yang memang memiliki keahlian untuk itu.

Pada Palagan Waterloo, jaringan intelijen bisnis Rothschild menuai hasil yang luar biasa. Ini membuktikan bahwa informasi merupakan senjata yang sangat vital bagi suatu pengambilan keputusan. Bisa jadi, itu sebabnya ada kalimat yang mengatakan, “Informasi itu mahal.”

GELOMBANG REVOLUSI PERANCIS
 
 
 Mirabueau

Perancis secara perlahan namun pasti mulai ‘terbakar’. Konspirasi mulai menanamkan rasa kebencian rakyat Perancis kepada penguasa kerajaannya. Lewat berbagai media massa dan mesin cetak yang dimiliki, Konspirasi meniup-niupkan keburukan-keburukan yang dilakukan pihak kerajaan dan juga Gereja Katolik. Mesin-mesin cetak mereka terus bekerja siang malam mencetak selebaran-selebaran yang membakar Perancis. Apalagi pihak penguasa Perancis kala itu memang banyak kelemahan.
Menurut para sejarahwan yang meneliti sebab-sebab timbulnya Revolusi Perancis, sejumlah faktor dianggap menjadi penyebab dari peristiwa besar ini. Antara lain: The Ancient Regime, orde lama, dianggap terlalu konservatif dan kaku dalam menghadapi perkembangan dunia yang cepat berubah, selain itu kelompok Borjuis yang baru tumbuh di Perancis juga tengah berambisi untuk naik ke pentas kekuasaan, belum lagi keputus-asaan yang melanda rakyat kecil Perancis yang tengah  menghadapi situasi yang sangat tidak menentu, hal ini dirasakan oleh kaum petani, para buruh, dan individu dari semua kelas yang merasa disakiti.

Massa rakyat yang jumlahnya jauh lebih banyak ini telah merasa sangat jemu dan siap kapan pun untuk bergerak bersama, melepaskan segala atribut, untuk bersatu-padu dalam sebuah gerakan massa untuk menghancurkan orde lama dan menggantinya dengan orang-orang baru yang dianggap mampu untuk membawa Perancis ke kehidupan yang lebih baik. Mereka sudah siap untuk menyambut datangnya cakrawala baru di Perancis.

Selain itu, posisi keuangan kerajaan juga sudah bangkrut karena utang yang menggunung kepada para pemilik modal Yahudi yang tak lain dan tak bukan adalah para Konspirasi. Salah satu sebab dari utang yang menggunung ini, selain sektor perekonomian Eropa yang tak bagus juga akibat Perancis ikut membantu Revolusi Amerika, sebuah negara di seberang samudera yang baru lahir di bulan Juli 1776.

Persediaan makanan juga sangat tipis menyebabkan kelangkaan pangan terjadi di mana-mana. Kelaparan merebak, sedang institusi Gereja Katolik sama sekali tidak membantu apa pun untuk meringankan penderitaan rakyat. Rakyat Perancis menjadi amat kesal dan kebencian terhadap keluarga raja melebar menjadi kebencian terhadap Gereja Katolik. King Louis XVI sama sekali tidak mampu untuk berbuat apa-apa.

Inilah masa yang sangat ditunggu-tunggu pihak Konspirasi Yahudi Internasional. Semangat pembangkangan di kalangan massa rakyat sudah menyebar luas dan merata. Slogan-slogan Kebebasan, Persamaan, dan Persaudaraam menggema di seluruh udara Perancis. Perasaan yang sama juga dirasakan oleh kaum pedagang (borjuis) dan beberapa tokoh dari kalangan istana sendiri.
Perancis bagaikan sebuah bom waktu yang jarumnya terus bergerak cepat mendekati titik picu, detik demi detik, dan menghancurkan segala tatanan yang telah berusia tua. Apalagi jumlah anggota Freemasonry Perancis di tahun 1788, satu tahun sebelum rakyat Perancis menyerbu benteng penjara Bastille sebagai awal dari Revolusi Perancis, sudah mencapai seratus ribuan orang. Ini menjadi salah satu modal yang baik bagi Konspirasi.

Konspirasi pun sudah memilih orang untuk dijadikan pemimpin revolusi, yakni Comte de Mirabeau, seorang tokoh Perancis berdarah bangsawan  yang sangat besar pengaruhnya di istana, berdarah dingin dan seseorang yang selalu mempertimbangkan segala sesuatunya sebelum bergerak atau berkata-kata, tidak perduli dengan nilai-nilai kesusilaan, dan satu lagi, Mirabeau merupakan seorang orator ulung yang dalam waktu singkat pidatonya mampu menyihir pendengarnya untuk terpaku diam di tempat, menangis, atau pun marah. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber

[1] Frederich Morton; The Rothschilds’, Fawcett Crest, New York, 1961.

[2] Frederich Morton; ibid; hal. 94.

Sejarah Rahasia Iluminati: Konspirasi Dibalik Revolusi Perancis







Pihak Konspirasi sudah lama mendekatkan Duke of Durlian, tokoh Masonik pemimpin The Grand Eastern Lodge di Perancis, dengan Mirabeau sehingga mereka menjadi kawan dekat. Diam-diam, Mirabeau juga terlibat utang pribadi yang amat besar disebabkan gaya hidupnya yang teramat mewah dan gemar berpetualang dengan perempuan-perempuan rupawan. Di saat kesulitan keuangan yang begitu hebat, seorang Yahudi bernama Moshe Mondelhen sengaja menemui Mirabeau dan langsung menawarkan pinjaman dalam jumlah sangat besar.


Dalam posisi sangat memerlukan uang kas, Mirabeau tidak berpikir panjang dan segera menerima bantuan itu. Bukan itu saja, Konspirasi juga telah menyiapkan seorang perempuan cantik Yahudi yang dipanggil Madame Horse karena sikapnya yang memang liar dan gemar berpetualang dalam kehidupan kaum jetset kota Paris, kepada Mirabeau. Kloplah mereka dan menjadi sepasang manusia yang jatuh ke dalam kehidupan iblis yang sebenar-benarnya, baik iblis yang berbentuk Yahudi maupun yang asli.

Mirabeau telah sepenuhnya jatuh ke dalam perangkap Konspirasi. Ketika direkrut untuk menjadi agen Konspirasi dengan nyawa sebagai taruhannya, Mirabeau tidak bisa berbuat apa-apa selain menurutinya. Sejak direkrut, Mirabeau semakin jarang berkumpul dalam pertemuan elite Perancis. Akibatnya timbul desas-desus bahwa Mirabeau telah menjadi oposisi terhadap status-quo. Kabar ini membuat kalangan istana menjadi benci kepada Mirabeau.

Kepalang basah, akhirnya Mirabeau benar-benar bergabung dengan kaum revolusioner Perancis. Ia lalu menghubungi kawan dekatnya, Duke of Durlian, seorang tokoh Mason yang juga masih terhitung kerabat istana, agar memberi perlindungan terhadap kaum revolusioner. Baik Mirabeau maupun Duke of Durlian hanya tahu bahwa tugas mereka adalah menggulingkan King Louis XVI dan kemudian Durlian akan menjadi Raja Perancis. Itu yang dikatakan oleh Konspirasi.

Mereka berdua tidak mengetahui tujuan yang sebenarnya dari Konspirasi dalam meletuskan revolusi yakni menghabisi raja dan kaum bangsawan bagian dari The Ancient Regime, dan menggantinya dengan kaum bangsawan Perancis lain yang tunduk kepada keinginan Konspirasi.

Pada 14 Juli 1789, massa rakyat berbondong-bondong menuju penjara Bastille, perancis. Penjara yang bagaikan benteng itu dibakar. Para narapidana melarikan diri dan menimbulkan kerusuhan dan perampokan di mana-mana.

Penyerbuan ke penjara benteng Bastille ini menandai di mulainya Revolusi Perancis. Hari demi hari berjalan dengan perkmebangan yang tidak bisa diduga. King Louis XVI dan Marie Antoinette ditangkap dan dijebloskan kepadalm penjara. Tidak lama kemudian keduanya dihukum mati, di pancung di atas Guilotin. Namun tidak seperti yang dijanjikan, Duke or Durlian malah menjadi sasaran kampanye gelap dari Konspirasi dan akhirnya Duke of Durlian sendiripun menemui ajal di bawah pisau Guilotin, menyusul King Louis XVI dan Marie Antoinette.
 

Mirabeau

Mirabeau yang pada dasarnya seseorang yang cerdas menjadi curiga dan dengan cepat ia menyadari akan bahaya yang mengancam dirinya. Sebuah bahaya dari bayangan yang tidak terlihat. Namun Mirabeau terlambat, mesin propaganda Konspirasi telah bekerja begitu cepat dan efektif melancarkan fitnah terhadapnya.

Gagal menyeret Mirabeau ke pengadilan, akhirnya pihak Konspirasi meracuni Mirabeau hingga tokoh ini menemui ajal. Jenazah Mirabeau diatur sedemikian rupa untuk mengesankan dia bunuh diri. Sejumlah selebaran dan berita-berita yang mendukung ‘bunuh diri’ Mirabeau ini dicetak dan disebarluaskan ke Eropa.

Kematian Mirabeau kemudian diikuti dengan berkuasanya pemerintahan teror di Perancis. Pada masa ini, tiap hari rakyat Perancis menyaksikan ribuan orang tiap hari digiring menuju pisau Guilotin. Roberspierre dan Danton ditugaskan Konspirasi untuk menjadi algojonya. Setelah dianggap menyelesaikan tugasnya, kedua orang ini, Roberspierre dan Danton pun dibunuh dengan keji. Pemerintahan teror mencapai puncaknya antara tanggal 27 April hingga 27 Juli 1794.

Satu hari sebelum Roberspierre diseret ke tempat hukuman mati, di depan Majelis Nasional, Roberspierre sempat menyampaikan orasi yang menyerang Konspirasi dan membuka tirai mereka dengan mengatakan ada sebuah organisasi rahasia yang bekerja dan menjadi dalang Revolusi Perancis.

Roberspierre dengan tegas mengatakan, “Aku tidak berani menyebut nama mereka di tempat ini dan disaat ini pula. Aku juga tidak bisa membuka tirai yang menutupi kelompok ini sejak awal terjadinya peristiwa revolusi. Akan tetapi, aku bisa meyakinkan anda sekalian, dan aku percaya sepenuhnya, bahwa di antara penggerak revolusi ini ada kaki tangan yang diperalat dan melakukan kegiatan amoral dan penyuapan besar-besaran. Kedua sarana itu merupakan taktik yang paling efektif untuk menghancurkan negeri kita yang kita cintai ini…”

Roberspierre, seorang Mason yang diberi kesempatan lebih untuk mengetahui lebih banyak dari yang seharusnya, ternyata telah dinilai 13 petinggi Konspirasi Yahudi Internasional sebagai bertindak melampaui batas. Tak bisa ditawar, orang itu harus dilenyapkan. Maka satu hari kemudian, Roberspierre pun diseret ke tempat hukuman mati dengan tuduhan yang dibuat-buat.

Episode Pemerintahan Teror dengan pembunuhan ribuan warganya di bawah pisau Guilotin juga menimpa Gereja Katolik Perancis. Salah satu kisah yang terkenal di dalam sejarah Gereja adalah apa yang dialami oleh tigapuluh dua biarawati Perancis yang disebut sebagai ‘Para Martir dari Oranye’.

Selama Revolusi Perancis berkecamuk, para biarawati yang berasal dari beberapa ordo religius yang berbeda ini dipenjarakan di Orange, Perancis. Mereka adalah enam belas biarawati Ursulin, tiga belas biarawati Adorasi Sakramen Mahakudus, dua biarawati Bernardin, dan seorang biarawati Benediktin.
Syahdan, ketika pecah Revolusi Perancis, para biarawati ini diperintahkan untuk menyatakan sumpah setia kepada kaum Revolusioner. Para biarawati menolak karena percaya bahwa sumpah itu menentang Tuhan dan Gereja. Mereka semua menolak menandatangani sumpah dan akibatnya digiring ke penjara Orange. Beberapa dari para biarawati tinggal dalam biara yang sama sebelum mereka dijebloskan ke dalam penjara. Sedangkan sebagian lainnya tidak saling mengenal hingga mereka bertemu di penjara.

Di dalam penjara, para biarawati ini membentuk suatu komunitas dalam ruang penjara yang gelap serta pengap. Mereka berdoa bersama pada waktu-waktu tertentu setiap hari, saling menghibur dan menguatkan.

Tanggal 6 Juli 1794, ketika tiap hari pisau Guilotin bekerja keras memisahkan badan dan kepala para kelompok penentang kaum Revolusioner, biarawati pertama diajukan ke pengadilan dan dijatuhi hukuman mati dengan Guilotin. Tiap hari ada saja biarawati yang dieksekusi di bawah Guilotin. Tak seorang pun tahu giliran siapa berikutnya. Komunitas biarawati semakin berkurang dalam jumlah, tetapi biarawati yang tinggal terus-menerus berdoa, terutama bagi mereka yang akan dihukum mati pada hari itu.

Akhir bulan Juli 1794, ketigapuluhdua orang biarawati semuanya telah dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan rakyat Orange, Perancis. Mereka dianggap sebagai martir. Ketika Revolusi Perancis berakhir, para hakim Orange dinyatakan bersalah atas apa yang telah mereka lakukan dan dijatuhi hukuman. Para biarawati itu mendapat penghormatan “beata” oleh Paus Pius XI pada tahun 1925.

Sejarah mencatat bahwa di tengah kondisi Perancis yang porak-poranda dan berkecamuknya kerusuhan serta situasi yang tidak menentu, muncullah Napoleon Bonaparte yang penuh kharismatik lewat sebuah kudeta. Sebagai seorang pemimpin militer, Napoleon meyakini kerusuhan di dalam negeri harus diakhiri. Caranya adalah dengan menciptakan satu musuh dari luar yang mampu menjadi musuh bersama bagi rakyat Perancis (The Common Enemy). Ide besar Napoleon ini didukung oleh Konspirasi.

DI BALIK KEKALAHAN NAPOLEON

Memang sudah merupakan kelaziman bagi Konspirasi untuk melenyapkan orang-orang, kaki tangannya yang bukan anggota inti atau orang Yahudi murni, setelah mereka bekerja dengan baik untuk Konspirasi. Ketika masih diperlukan, orang-orang atau agen-agen Konspirasi ini disuplai dengan dana yang besar dan kehidupan yang mewah, namun ketika tugas sudah diselesaikan dan mereka tidak lagi dibutuhkan, maka Konspirasi akan segera ‘menghapus’ agen tersebut dengan berbagai cara, kebanyakan adalah dengan membunuhnya.

Setelah itu Konspirasi melanjutkan dengan program yang lebih baru, meindaklanjuti hasil-hasil awal yang telah dicapainya. Agen-agen mereka, Duke of Durlian, Mirabeau, Roberspierre, Danton, dan sebagainya telah dilenyapkan. Konspirasi terus bergerak dalam kegelapan dan segala kerahasiaannya.(Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber

Sejarah Rahasia Iluminati: Tragedi Seorang Napoleon Bonaparte





 Kali ini Konspirasi memusatkan perhatian pada sosok Napoleon Bonaparte, jenderal perang yang bertubuh mungil namun memiliki ambisi seorang raksasa untuk menguasai seluruh Eropa.
Dukungan Konspirasi kepada Napoleon disebabkan Napoleon memiliki kesaman agenda dengan mereka yakni menghancurkan sistem monarki di seluruh Eropa. Dengan dukungan dana dari Konspirasi, Napoleon segera mengerahkan tentaranya secara besar-besaran ke berbagai negara Eropa.
Puncaknya terjadi pada tahun 1804 ketika Napoleon mengangkat dirinya sebagai Kaisar Perancis, dia juga mengangkat saudara-saudaranya menjadi raja di negara-negara Eropa yang telah ditaklukkannya. William G. Carr mencatat, Joseph ditempatkan sebagai Raja Napoli, Louis di Belanda, dan Jerome di Losvalia, salah satu wilayah di Bavaria.

Jika saudara-saudara Napoleon diangkat sebagai raja politik di wilayah-wilayah itu, maka Nathan Rothschild dengan diam-diam juga mengangkat keempat saudaranya menjadi ‘raja finansial’ di keempat kerajaan Eropa tersebut. Dengan demikian, saudara-saudara Napoleon yang telah menjadi raja berperan sebagai ‘raja di depan layar’ sedangkan raja sesungguhnya adalah Rothschild bersaudara yang mengendalikannya dengan emas dan uang.

Dalam masa inilah Konspirasi menjadikan Swiss sebagai ‘gudang uang yang aman’ di seluruh Eropa, bahkan dunia. Mereka memusatkan penimbunan harta kekayaannya di negara kecil di daerah pegunungan ini. Walau Eropa tengah dilanda gejolak perang dan kerusuhan, Konspirasi akan berusaha sekuat tenaga untuk mengamankan Swiss dan menghindarinya dari segala kekacauan Eropa.
Dan ini terbukti, Swiss sama sekali tidak tersentuh asap dan api kekacauan Eropa. Bahkan hingga kini Swiss merupakan sebuah negara yang paling damai, paling stabil, paling aman, dan selalu terhindar dari segala kekacauan.

Dari hasil bisnis kotornya, harta kekayaan yang dikuasai Konspirasi semakin menggunung. Mereka menyadari, jika harta itu dibiarkan menumpuk saja, maka harta itu malah menjadi beban. Maka harus ada sebuah jalan agar harta itu bisa berputar dan menghasilkan harta kekayaan yang jauh lebih besar lagi. Dari hasil evaluasi terhadap Revolusi Inggris dan Perancis, Konspirasi menganggap orang-orang Gentiles sangat mudah dipengaruhi dan diadu-domba antar sesamanya.

Sebab itu, Konspirasi dengan cepat memutuskan bahwa mereka harus segera menceburkan diri lebih serius untuk menggarap ‘Bisnis Perang’, sesuatu yang telah dilakukan mereka sejak zaman Ksatria Templar, dan sekarang akan dilakukan dengan lebih serius, dana yang lebih besar, dan tentunya akan menghasilkan keuntungan yang juga sangat besar.

Yang dimaksudkan dengan bisnis perang adalah dengan mendirikan pabrik-pabrik persenjataan yang memproduksi aneka senjata dan amunisi, juga uniform tentara dengan segala atributnya. Di sisi lain, dengan mesin propaganda yang dikuasainya, juga para agen-agen diplomasi, penasehat raja, dan bahkan para jenderal yang tersebar di seantero Eropa, Konspirasi mengatur mereka agar menggiring negara-negara Gentiles ini ke dalam pertikaian, konflik, dan peperangan. Dengan semakin banyaknya konflik dan peperangan, maka dengan sendirinya perputaran bisnis perang yang mereka miliki pun semakin kencang. Uang yang masuk ke dalam kantong mereka pun semakin deras mengalir.

Terhadap Napoleon, Konspirasi terus mengalirkan dana dalam jumlah besar. Sebaliknya, Napoleon juga memanfaatkan hal ini sebaik-baiknya. Bahkan ketika ia merebut dan menduduki Mesir, untuk memperoleh bantuan keuangan dari pemodal Yahudi, Napoleon pada tanggal 20 April 1799 dalam salah satu pidatonya mengatakan, “Wahai kaum Yahudi saudaraku, mari kita membangun kembali kota Yerusalem lama!”

Napoleon tahu, saat itu kaum Yahudi tengah berada dalam euphoria ‘sosialisasi kembali ke Yerusalem’ setelah pada tahun 1776 Nathan Bernbaum dan tokoh-tokoh Yahudi lainnya mencetuskan ide-ide “ZIonis Internasional”, “Negara Israel” dan sebagainya lewat buku-buku mereka yang provokatif.

Napoleon pun bukanlah seorang jenderal yang bodoh. Di saat awal pergerakannya, Napoleon menerima segala kucuran dana dan bantuan dari Konspirasi dengan tangan terbuka, namun lama-kelamaan, Napoleon mulai curiga kepada pihak yang memberi bantuan tersebut. Napoleon sadar, di balik segala bantuan, tersimpan maksud-maksud tertentu yang adakalanya tidak menguntungkan di pihak yang diberi bantuan. Sebab itu, Napoleon mulai menjaga jarak dan menyelidiki siapa saja dan untuk apa Konspirasi memberi bantuan kepada pihaknya.
Namun niat Napoleon ternyata tercium juga oleh Konspirasi yang telah menanam agen-agennya di sekeliling Kaisar Perancis ini. Dan seperti biasanya, Konspirasi akan memberi pelajaran yang tidak akan terlupakan kepada siapa saja yang berani menentang kehendaknya, tidak terkecuali seorang Napoleon Bonaparte.








Di saat Napoleon dan pasukannya berperang melawan tentara Rusia di medan salju yang sangat dingin, Konspirasi melihat bahwa inilah kesempatan untuk memukul balik Napoleon. ‘Pukulan’ Konspirasi menyebabkan Napoleon dan pasukannya mengalami kekalahan memalukan di medan pertempuran Rusia.

Umumnya orang mengetahui bahwa kekalahan pasukan Napoleon di Palagan Rusia disebabkan buruknya cuaca dan sulitnya medan bersalju. Beberapa penulis juga melukiskan betapa pasukan Napoleon kepayahan menembus medan salju Rusia yang amat dingin menghadapi pertempuran melawan pihak Rusia dari suku Cozack. Namun tak banyak yang mengetahui, bahwa kekalahan Napoleon ini sebenarnya akibat sabotase pihak Konspirasi yang memotong jalur logistik pasukan Napoleon lewat agen-agen mereka di Serbia, sehingga Napoleon bertempur sendirian.

Di saat pasukan Rusia terus mendapat bantuan logistik—pasokan senjata, amunisi, dan makanan—maka tidak demikian bagi Napoleon dan pasukannya. Mereka dengan sisa-sisa senjata dan tenaganya harus menghadapi dua musuh yang amat berat sekaligus: pasukan Rusia dengan senjata dan amunisi yang terus berdatangan, dan udara dingin yang amat menusuk tulang disertai dengan angin kencang.

Akibat kekalahan di Palagan Rusia, Napoleon akhirnya dipaksa turun tahta dan dibuang ke Pulau Elba. Ketika Napoleon berusaha melarikan diri dari penjara pulau itu untuk merebut kembali tahtanya, Konspirasi segera menangkapnya kembali. Tamatlah riwayat Napoleon, namun tidak bagi Dinasti Rothschild yang telah membangun imperium lembaga keuangannya di Eropa.

Di Perancis sendiri, Rothschild telah membangun sebuah istana pribadi yang letaknya berhadapan dengan istana Raja Louis XVIII, pewaris tahta kerajaan Perancis. Dari istana pribadi ini, Nathan bisa dengan leluasa memantau seluruh aktivitas yang ada di areal istana Kerajaan Perancis. Beberapa agen Konspirasi yang ditanam di kalangan istana Perancis pun bisa dengan mudah berkomunikasi dengan ‘Sang Pemimpin’ lewat kode atau isyarat tertentu, atau bertemu langsung di suatu tempat, dan biasanya malam hari.

ARTI PALAGAN WATERLOO BAGI ROTHSCHILD

Palagan Waterloo terjadi pada tanggal 18 Juni 1815 di sebuah wilayah yang kini berada di Belgia, antar pasukan Napoleon Bonaparte melawan pasukan Eropa yang dipimpin oleh Panglima Perang Kerajaan Inggris, Wellington. Hasil dari pertempuran besar ini akan sangat berpengaruh pada Eropa di masa depan. Jika Napoleon keluar sebagai pemenang, maka Perancis akan menjadi tuan atas seluruh daratan Eropa. Namun jika Napoleon bisa dikalahkan maka Inggris akan menjadi penguasa keuangan Eropa yang tak kan tergoyahkan. Ketika dua kekuatan saling berhadapan di medan perang, pasar bursa saham di London benar-benar seperti orang yang sedang demam, panas dingin dengan keringat yang terus keluar, menantikan hasil akhirnya.

Betapa tidak, jika Grande Armee de France Napoleon Bonaparte keluar sebagai pemenang, maka bisa dipastikan perekonomian Inggris akan jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam yang tak terperikan. Namun jika Napoleon kalah, perekonomian negara itu akan melonjak drastis, meroket ke puncak kejayaan. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber


Sejarah Rahasia Iluminati: Konspirasi Rothschild Kuasai Bursa Saham London



Nathan Rothschild yang begitu tajam penciuman bisnisnya ini segera memanggil agen-agen terbaiknya dan mengirim mereka ke Waterloo. Mereka harus mengumpulkan berbagai informasi kelas satu dari kedua belah pihak yang tengah berhadap-hadapan. Semuanya harus akurat. Agen-agen tambahan ditempatkan di beberapa pos komando yang mampu bergerak kapan saja untuk memberi bantuan, dukungan, maupun segi-segi teknis lainnya.

Pada tanggal 15 Juni 1815, tiga hari sebelum D-Day, seorang agen kepercayaan Rothschild dengan langkah tergesa menaiki sebuah perahu yang paling gesit dan berlayar melalui Selat Channel menuju Pantai Dover di Inggris. Orang itu membawa laporan intelijen dari agen-agen Rothschild di lapangan terkait perkembangan terakhir yang terjadi di lapangan.

Agen khusus itu tiba di Folkstone dini hari dan dijemput oleh Rothschild pribadi. Dengan cepat dan seksama Rothschild membaca seluruh isi laporan tersebut dan langsung bergegas ke pasar bursa London. Di pasar bursa itu Rothschild sudah menaruh banyak agennya yang telah siap diperintah kapan pun.

Dengan wajah dingin dan kaku seperti biasanya, Nathan Rothschild memasuki gerbang pasar bursa. Seperti biasa, ia berdiri di dekat ‘Pilar Rothschild’ kesukaannya, sebuah tempat favorit. Agen-agen Rothschild yang sudah berada di pasar bursa sejak beberapa hari lalu, dengan wajah yang juga biasa menunggu isyarat dari bosnya. Entah isyarat apa yang diberikan Rothschild, tiba-tiba saja orang-orang Rothschild ini mulai menumpahkan surat-surat berharga senilai ratusan ribu dollar ke pasar. Begitu kertas-kertas berharga ini dilempar ke pasar dalam jumlah besar, nilainya dengan cepat merosot tajam.

Nathan tetap diam di pilarnya. Ia terus menjual, dan menjual. Nilai kertas-kertas berharga ambruk tidak tertolong. Pialang-pialang lain mulai gelisah melihat sikap Rothschild yang begitu berani melepas saham-sahamnya tanpa ampun bagaikan membuang kertas-kertas yang tidak ada harganya sama sekali. Mereka mulai berspekulasi, bisik-bisik mulai menyebar di antara mereka. Pasar bursa London berdengung bagai suara lebah, “Rothschild sudah tahu! Rothschild sudah tahu! Wellington kalah di Waterloo! Napoleon menang!”

Kepanikan seketika melanda bursa. Semua orang mulai mengikuti ulah Rothschild, menumpahkan kertas-kertas berharganya ke pasar tanpa peduli menjadi berapa pun harganya. Tak hanya uang, logam mulia seperti emas dan perak pun dilepas dengan nominal yang melorot drastis. Hanya satu harapan mereka: berupaya sekuat tenaga mempertahankan kekayaan yang masih tersisa di tangannya. Semuanya terus menukik tajam. Kertas-kertas berharga berserakan di lantai bursa bagaikan gunungan sampah.

Namun dengan wajah tetap dingin, tak berekspresi, Nathan memberi isyarat lain kepada para agennya. Hanya agen-agen yang terlatih yang mengetahui isyarat tersembunyi dari Rothschild. Hasilnya sungguh fantastis. Para agen Rothschild yang tadinya melepas sahamnya, sekarang mereka melesat ke tiap meja yang ada dan memborong seluruh kertas berharga yang teronggok di atas meja dan bertebaran di lantai.

Kepanikan telah menyebabkan banyak pialang dan pengusaha tidak lagi bisa berpikir jernih. Mereka tidak lagi melihat perubahan sikap dari Rothschild. Dalam hitungan menit, semua saham, kertas berharga, emas, perak, dan sebagainya kini telah jatuh ke tangan satu orang: Rothschild. Dia menjadi penguasa tunggal dengan modal yang tidak seberapa.



Beberapa hari kemudian berita yang sesungguhnya tentang Palagan Waterloo tiba di London. Wellington menang! Wellington menang! Harga saham, kertas berharga, dan sebagainya yang tadinya begitu murah, dengan cepat meninggi, harganya melesat ke angkasa.

Kekayaan Rothschild dalam waktu semalam berlipat-lipat jumlahnya. Jumlah kekayaan Rothschild bertambah tak kurang dari duapuluh kali lipat! Rakyat kebanyakan meloncat-loncat kegirangan di jalanan. Sedang para pengusaha banyak yang merasakan mati sebelum waktunya. Mereka kini telah menjadi budak dari Tuan Rothschild, sang penguasa Inggris dan Eropa yang sesungguhnya.

Perekonomian Inggris jatuh ke bawah sepatu Nathan Rothschild pada tahun 1815.
Tiga tahun kemudian Perancis menyusul Inggris dan jatuh ke bawah sepatu yang sama.
Frederich Morton menulis, jika dahulu Dinasti Rothschild sangat terbuka dalam berbisnis, hidup dalam gemerlap kemewahan, dan menjadi pusat pemberitaan selebritis dunia, maka kini hal itu tidak lagi menjadi kebiasaan keluarga kaya raya tersebut.

“Kini keluarga itu menyelimuti kehadiran mereka dengan kesenyapan, tak terdengar dan tak terlihat…” Menurut Morton, hal ini dilakukan sebagai strategi baru keluarga ini untuk tetap eksis dalam tujuan utamanya memonopoli dunia.

MENGAKU SEBAGAI DALANG

Tidak selamanya Freemasonry bersikap tertutup. Terkadang mereka juga bisa terbuka, sekali pun sebenarnya menyangkut hal-hal yang sensitif. Namun tentu saja, hal ini dilakukan bukan pada tataran persiapan atau perencanaan suatu aksi, bukan pula strategi dan cetak biru pelaksanaan, tetapi hanya menyangkut ‘sejarah’.

Dalam sebuah diskusi yang terjadi di Majelis Nasional Perancis, seorang wakil anggota Majelis, De Rosanbe, mengungkapkan, “Kita telah meyakini dengan sungguh-sungguh tentang masalah ini, yaitu bahwa Freemasonry adalah satu-satunya pihak yang merancang timbulnya Revolusi Perancis. Dari sambutan serta tanggapan yang kita peroleh dalam Majelis ini menunjukkan bahwa sebagian kita sudah mengetahui apa yang saya ketahui.”

Seorang anggota lain bernama Gommel, yang diketahui juga merupakan anggota dari The Grand Eastern Lodge Perancis yang sering diistilahkan dengan Bluemasonry, mengatakan, “Kita bukan hanya mengetahui hal tersebut, tetapi kita juga akan mengumumkannya kepada dunia.” Hal yang sama ternyata juga dibuka dengan penuh kejujuran, bahkan dengan nada angkuh seperti para Templar dahulu, yang terjadi di saat acara makan malam besar-besaran di Paris pada tahun 1923.

Acara ini dihadiri oleh para politisi dan wakil-wakil dari Liga Bangsa-Bangsa yang kelak beberapa tahun kemudian mengubah namanya menjadi Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations). Seorang tokoh dari The Grand Eastern Lodge, sambil berdiri, berkata dengan lantang, “Perancang Pemerintahan Perancis adalah putera Freemasonry Nasional Perancis. Dan perancang Republik Dunia besok adalah puteri Masonry Internasional.”

DI BELAKANG REVOLUSI OKTOBER RUSIA

Salah satu kantung komunitas Yahudi di Eropa dalam jumlah yang amat besar berada di Rusia. Ketika Konspirasi meletuskan revolusi di Inggris dan Perancis, berita tersebut juga sampai ke telinga komunitas Yahudi di Rusia yang tinggal secara ekslusif di dalam kantung-kantung Yahudi sendiri dan tidak berbaur dengan orang-orang Rusia lainnya. Berabad-abad mereka menempuh cara hidup yang sangat tertutup, jauh dari hiruk pikuk keramaian, dan tentu saja mendidik anak-anak mereka menjadi seorang Yahudi sejati dengan tidak menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah umum yang ada tetapi menyelenggarakan sistem pendidikannya sendiri di dalam perkampungan mereka.
Kaum Yahudi di Rusia telah tumbuh menjadi satu etnis besar namun sangat tertutup.

Sebab itu, mereka sering menjadi bulan-bulanan kebijakan penguasa Rusia (Tsar atau Kaisar) yang menganggap mereka sebagai ‘kelinci percobaan’. Keterasingan mereka sesungguhnya bukan inisiatif sendiri, melainkan suatu bentuk hukuman dari penguasa Rusia yang mengenakan hukuman pembuangan terhadap mereka ke sebuah wilayah tertentu dan dengan demikian mereka tidak bisa berinteraksi dengan orang-orang Rusia lainnya.

Invasi pasukan Napoleon ke Rusia (1812), walau pun akhirnya Napoleon berhasil dipukul mundur, telah menimbulkan kerugian yang cukup besar bagi Kekaisaran Rusia. Tsar Rusia, Alexander I, segera membenahi negaranya. Salah satu yang diperbuatnya adalah dengan mengeluarkan sebuah undang-undang baru yang tujuannya untuk mempersatukan seluruh rakyatnya yang porak-poranda akibat perang itu.

Salah satu peraturan baru adalah penghapusan hukuman pembuangan yang sebelumnya dikenakan terhadap orang-orang Yahudi sejak 1772.  Peraturan baru ini akan mendorong agar orang-orang Yahudi mau bekerja di ladang-ladang dan berbaur dengan penduduk asli Rusia.(Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template