Senin, 16 Maret 2015

NWO Untold, Sejarah Rahasia Iluminati: Konspirasi Kuasai Rusia hingga P2, MAFIA, dan MOSSAD



Hasil dari kebijakan yang dikeluarkan Tsar Alexander I ini sungguh berbeda dengan tujuan sebenarnya. Setelah peraturan baru itu disahkan, orang-orang Yahudi memang keluar dari kampung-kampung mereka untuk bekerja di ladang-ladang. Namun orang-orang Yahudi ini ternyata tidak hanya ‘menyerbu’ ladang-ladang, tetapi juga menyerbu sektor-sektor industri lainnya dan dengan cepat menjadi pekerja-pekerja tangguh dan menempati posisi yang berpengaruh.

Perekonomian kekaisaran Rusia sedikit demi sedikit, jika ini dibiarkan, akan jatuh ke dalam kekuasaan orang-orang Yahudi. Apalagi ternyata dalam kehidupan sosialnya, kaum Yahudi ini tetap saja ekslusif, tidak mau berbaur dengan orang-orang asli Rusia, seperti yang hendak dicapai oleh peraturan baru yang dikeluarkan Tsar Alexander I tersebut.

Pada tahun 1825 Alexander I digantikan oleh Nicholas I. Seperti pendahulunya, Tsar Nicholas juga menginginkan agar seluruh lapisan rakyat Rusia—yang asli maupun pendatang—bisa hidup bersama dan bersatu memajukan Rusia. Nicholas belajar pada pengalaman Alexander I dan kemudian dengan tujuan yang sama, dia mengeluarkan sebuah peraturan baru yang memaksa orang-orang Yahudi itu untuk menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah umum seperti halnya orang-orang Rusia lainnya.

Dan seperti pengalaman Alexander I, peraturan ini ternyata juga semakin mengokohkan komunitas Yahudi di Rusia. Anak-anak Yahudi yang bersekolah di sekolah-sekolah umum ternyata menimba ilmu dengan sebaik-baiknya, menjadi anak-anak yang cerdas, namun di rumah-rumah mereka, mereka tetap dididik dengan keras sebagai seorang anak Yahudi.

Jadilah kini mereka anak-anak Yahudi yang pintar dan militan. Terbukti kelak, dalam masa kekuasaan Tsar Alexander II, anak-anak Yahudi ini akan menempati posisi-posisi strategis dalam sektor perekonomian dan pemerintahan Rusia.

Tahun 1855, Alexander II menjadi Tsar Rusia. Inilah masa keemasan bagi komunitas Yahudi Rusia untuk bisa masuk ke dalam lembaga-lembaga pemerintahan. Bagi komunitas Yahudi rusia, Alexander II merupakan sosok penguasa yang sangat toleran dan menjadi pelindung semua warga Rusia tanpa pilih kasih. Kerukunan hidup ini ternyata membuat Konspirasi Yahudi Internasional tidak senang. Mereka menilai langkah-langkah yang diambil oleh Alexander II bisa membahayakan program mereka.

Jika komunitas Yahudi Rusia telah berbaur dengan orang Rusia lainnyamaka lama-kelamaan mereka akan kehilangan kebanggaan terhadap ras keyahudiannya. Dengan begitu, mereka akan sulit untuk bisa diajak bekerjasama untuk memuluskan ambisi besar Konspirasi untuk menguasai dunia. Selain itu, pembauran ini juga akan menyulitkan Konspirasi dalam memunculkan friksi-friksi di dalam masyarakat Rusia yang diharapkan akan berkembang menjadi konflik dan kerusuhan yang meluas. Maka satu-satunya jalan adalah dengan menyingkirkan Tsar Alexander II.

Usaha pembunuhan terhadap Alexander II di tahun 1866 menemui kegagalan. Usaha pembunuhan kedua tidak boleh gagal. Dengan mempergunakan perempuan Yahudi kaya bernama Hessia Helgman, Alexander II terbujuk untuk bertandang ke rumahnya. Tidak lama kemudian, Alexander II ditemukan meninggal dunia. Ini terjadi pada tahun 1881.

Setelah Alexander II meninggal, Rusia dibenturkan dengan Inggris untuk menguras keuangan kekaisaran dan juga meraup keuntungan dari penjualan alat-alat perang dari kedua belah pihak. Lagi-lagi lembaga keuangan Konspirasi pun mengulurkan pinjaman, berbunga tinggi. Tsar yang baru Alexander III mengadakan penyelidikan terhadap meninggalnya Alexander II dan komunitas Yahudi Rusia.

Hasilnya sungguh mengejutkan, orang-orang Yahudi di Rusia ternyata telah menguasai hampir seluruhnya sektor perdagangan, penyewaan rumah dan apartemen, kepemilikan tanah, dan sebagainya. Di saat bersamaan, datang seorang utusan Rothschild bernama Baron Gainsburg ke Rusia menemui Tar Alexander III. Misinya gagal karena Alexander III mendapat peringatan akan bahaya utusan tersebut dari sejumlah penasehatnya.

Baron Gainsburg sepulangnya dari Rusia menyampaikan kegagalan misinya kepada Rothschild. Konspirasi benar-benar murka mendapat tantangan dari Tsar Alexander III dan para penasehat Rusianya. Sebuah pertemuan pun digelar untuk membahas penghancuran Rusia. Konspirasi kemudian menyepakati akan memakai senjata yang tidak pernah gagal: uang dan emas.

Di seluruh Eropa dan wilayah yang dikuasai Rothschild, usaha-usaha dagang setempat melakukan blokade terhadap pemasaran hasil-hasil industri dan barang dagangan Rusia dengan berbagai dalih. Akibatnya, dalam waktu singkat Rusia pun meluncur ke dalam krisis ekonomi yang parah dan mencapai puncaknya pada tahun 1905. Selain melakukan blokade ekonomi, di dalam Rusia sendiri Konspirasi melalui agen-agennya melakukan kekacauan dan kerusuhan.

Melalui kelompok revolusioner yang merupakan cikal bakal partai komunis Rusia, massa rakyat dikomando untuk tidak lagi percaya pada kaum bangsawan dan agama.

Di saat krisis memuncak, Konspirasi membenturkan Rusia untuk berperang melawan Jepang. Lewat sebuah perusahaan Yahudi AS bernama Kuhn, Loeb & co, Konspirasi mengucurkan dana besar-besaran kepada Jepang dan dalam tempo bersamaan memutus jalur distribusi militer dan logistik pasukan Rusia menuju Timur Jauh. Hasilnya sudah bisa diduga, Rusia menemui kekalahan telak.
Kekaisaran Rusia pun jatuh dan tidak mampu untuk bangkit kembali. Bagi sebagian sejarah, kemenangan Jepang yang kecil melawan Rusia yang merupakan negara besar dan mumpuni dalam bidang militer, masih dianggap sebagai bagian dari keajaiban perang.

Dalam kerusuhan besar yang terjadi di Rusia, Konspirasi juga melancarkan upaya pembunuhan terhadap tokoh-tokoh Rusia yang selama ini tidak mau diajak bekerjasama. Bekas Menteri Dalam Negeri Despiagin yang pernah mengisolasi komunitas Rusia di dalam ghetto-ghetto[1], lalu mantan Menteri Pendidikan Bogoliev yang pernah membatasi jumlah anak Yahudi yang bisa diterima di sekolah umum Rusia, dibunuh.

Tsar Alexander III


Hal yang sama menimpa mantan Gubernur Uka, Yogdanovich (1903), Perdana Menteri Rusia (1904), dan paman Czar, Prince Sergey. Czar Alexander III sangat marah melihat ini semua dan tanpa sungkan-sungkan menyatakan bahwa Konspirasi Yahudi-lah yang menjadi dalang segala kerusuhan, pembunuhan, dan krisis ekonomi di Rusia.

Bisa jadi, intelijen kekaisaran telah mengetahui bahwa seorang Yahudi Amerika bernama Yacob Sheiff lah yang bertanggungjawab atas segala kekacauan ini. Yacob Sheiff sendiri adalah konglomerat Yahudi yang mewakili perusahaan Cohen-Lobe. Harian Perancis, Le Figaro, memuat kasus ini dalam edisi 20 Februari 1932.

Tsar Alexander III bukannya tidak tahu konsekuensi yang bakal dihadapinya dengan menunjuk pihak Konspirasi, tetapi dirinya sudah tidak bisa lagi menyimpan amarah yang teramat sangat terhadap Yahudi. Alexander III pun membentuk pasukan intelijen untuk melindungi dirinya dari upaya-upaya pembunuhan yang diyakini bakal dilancarkan oleh pihak Konspirasi karena penentangannya.

Dan benar saja, golongan komunis Rusia yang dipakai sebagai kendaraan Konspirasi Yahudi ini diketahui telah membentuk sebuah kelompok pembunuh yang dipimpin oleh seorang teroris Yahudi bernama Gishuin, Iveno Aziev, dan Alexander Ilyanov. Berkat penciuman yang tajam yang dimiliki agen-agen intelijen Tsar Rusia, maka sebelum kelompok ini beraksi lebih jauh, Tsar berhasil menggulung komplotan ini dan menjatuhkan hukuman mati terhadap semua yang terlibat.

Adik dari Alexander Ilyanov bernama Vladimir Ilyanov menyimpan dendam yang dalam atas kematian kakaknya. Ia kemudian menjadi tokoh Partai Komunis Rusia yang lebih dikenal dengan nama Lenin.

Suhu politik di Rusia tetap memanas. Alexander III pun digantikan oleh Tsar Nicholas II. Perkembangan demi perkembangan berjalan dengan amat cepat. Demonstrasi secara bergelombang menjadi pemandangan biasa di kota-kota besar di Rusia.

Pada 22 Januari 1905, terjadi demonstrasi besar menuju Istana Kekaisaran Rusia yang berakhir dengan penembakan pasukan pengawal istana terhadap para demonstran. Peristiwa ini dikenal sebagai “Pembantaian Minggu Berdarah”. Seorang kepala regu pengawal istana memerintahkan penembakan ini. Di kemudian hari terbukti, kepala regu tersebut merupakan seorang agen Konspirasi yang memang ditugaskan untuk menimbulkan martir di kalangan rakyat agar keadaan kian memanas. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber
—————

[1] Ghetto merupakan istilah bagi perkampungan khusus yang dihuni oleh orang Yahudi, terasing dari kehidupan sekitarnya dan menerapakan nilai-nilainya sendiri.


Sejarah Rahasia Iluminati: Komunisme Lahir Dari Rahim Zionisme






Dalam menaklukkan Rusia, Konspirasi agaknya harus bekerja lebih keras ketimbang menaklukkan Inggris dan Perancis. Kota-kota seperti New York, Swiss, dan St.Pertersburg dijadikan titik-titik sentral gerakan. Para tokoh seperti Lenin, Trotsky, Rasputin, dan sebagainya akhirnya berhasil mengakhiri kekiasaran di Rusia dalam Revolusi Oktober 1917 di saat Perang Dunia I (Agustus 1914-November 1918, yang juga dibuat oleh Konspirasi) masih berlangsung.


Partai Komunis Rusia kemudian menjadi Partai Penguasa dan tidak membolehkan adanya partai oposisi. Rusia kemudian menjadi Uni Sovyet dan memimpin blok Komunis, yang secara ideologis berhadap-hadapan dengan Amerika dan Eropa Barat yang menganut sistem Kapitalis. Dualisme sistem ini telah menjadikan dunia terbagi menjadi dua blok besar.

Dan jika sudah demikian, maka akan semakin mudahlah bagi Konspirasi untuk bermain di dalam konflik yang akan terjadi, mengambil keuntungan di kedua belah kubu yang bertarung.
Ada informasi yang sangat menarik dari Indra Adil, seorang peneliti Zionisme Internasional mengenai Lenin dan Revolusi Oktober 1917 tersebut. Menurut Indra—seperti yang tertulis dalam bukunya “Konspirasi Di Balik Tragedi Diana” (saat penulis mengutip, buku itu masih berbentuk naskah jadi namun sudah selesai ditulis sejak Mei 2002)—Kongres Sosialis I (1903) memunculkan tokoh Vladimir Illich Lenin sebagai Ketua Sosialis Internasional.

Sebelumnya, pada tahun 1897 diselenggarakan Kongres Zionis Internasional I di Bassel, Swiss, dengan tokohnya Theodore Hertzl. Menjelang meletusnya Revolusi Bolsyewik, satu tahun sebelum Lenin diselundupkan oleh Jerman ke Moskow—Lenin mengadakan pertemuan bersejarah dengan tokoh Yahudi, Chaim Weizman, di Zurich pada bulan Mei 1916. Pertemuan digelar di rumah seorang pengusaha Yahudi bernama Jacques Levi.

Dari catatan Levi diketahui bahwa telah diputuskan kepastian rencana revolusi komunis Rusia yang didasarkan pada Marxisme dan dilakukan oleh kaum Yahudi dengan jalan menggerakan rakyat Rusia untuk menentang Tsar Nicholas II.

Catatan penting dalam pertemuan tersebut berbunyi, “Pembebasan kaum Yahudi dari penindasan Raja-Raja Eropa untuk memiliki negara yang mempunyai posisi penting, tergantung pada sukses atau tidaknya Revolusi Rusia. Revolusi yang akan memekarkan revolusi kaum Yahudi yang lebih dahsyat untuk menguasai dunia, dalam hal apa Revolusi Perancis gagal untuk mencapainya.

…Freemasonry menyediakan dana US$ 31 juta dan dukungan personel tidak kurang dari satu juta orang keturunan Yahudi Rusia dan juga didatangkan dari berbagai wilayah termasuk dari New York yang dimobilisasi dalam pergolakan berdarah tersebut. Dana yang pengumpulannya dikoordinasikan oleh Paul Warburg, Direktur The Federal Reserve (Bank Sentral Amerika), disetorkan langsung kepada Trotsky dan Lenin.

Dana tersebut berasal dari Max Warburg sebanyak US$ 6 juta, dari Alfred Milner Rothschild sebanyak US$ 5 juta, dan Jacob Schiff sebanyak US$ 20 juta. Revolusi Bolsyewik ini menelan korban tak kurang dari lima juta umat Katolik Ortodoks Rusia. Tsar Nicholas II dan seluruh keluarganya pun dieksekusi habis pada tahun 1918.

KONGRES ZIONIS INTERNASIONAL DI SWISS   

Salah satu peristiwa yang tidak boleh dilewatkan dalam pembahasan mengenai Konspirasi Yahudi Internasional adalah apa yang disebut sebagai Kongres Yahudi Internasional I yang diadakan di Kota Bassel, Swiss, selama tiga hari sejak tanggal 29-31 Agustus 1897. Kongres ini dihadiri 204 orang tokoh Yahudi dari sekitar 15 negara.[1] Para peserta kongres terdiri dari berbagai profesi dan kelompok, yang seluruhnya terdiri dari tokoh Yahudi terkemuka dunia. Ada yang berasal dari latar belakang militer, pengusaha, politikus, medis, budaya, ahli hukum, dan sebagainya, yang mewakili sekitar 50 asosiasi Yahudi dunia baik yang terbuka maupun tertutup.[2]
 





Kota Basell di Swiss sengaja dipilih sebagai tempat penyelenggaraan kongres maha penting bagi kaum Yahudi ini karena tingkat keamanannya yang begitu prima. Seperti telah disinggung di muka, sejak Napoleon Bonaparte diangkat menjadi Kaisar Perancis, Rothschild dan Konspirasi Yahudi Internasional telah menjadikan Swiss sebagai pusat penyimpanan harta kekayaan mereka baik yang berupa surat-surat berharga, emas dan batu mulia, maupun uang kontan.

Sebab itu, Konspirasi Yahudi Internasional sangat serius menjaga dan melindungi Swiss agar terhindar dari segala macam kerusuhan dan konflik. Sampai saat ini para pengusaha dunia, konglomerat internasional, dan juga para diktatur dan koruptor kelas kakap, bahkan raja dan presiden sekali pun, banyak yang menjadikan Swiss sebagai tempat utama untuk penyimpanan uang haramnya tanpa perlu cemas uang itu akan diganggu.

Sebelum lebih jauh membahas Kongres Zionis Internasional I di atas, apa yang dibicarakan dan juga apa yang diputuskannya, agar kita memiliki gambaran yang lebih utuh dan komperehensif, maka kita akan meninjau terlebih dahulu latar belakang diselenggarakannya kongres tersebut. Mengapa tokoh-tokoh Yahudi dunia merasa perlu bertemu di satu tempat selama tiga hari secara marathon. Apa yang menyebabkan ini semua?

Sebuah bukit karang di sebelah barat daya kota suci Yerusalem selama berabad-abad lalu telah dikenal dengan sebutan Zion. Ada yang mengistilahkannya Gunung Zion, ada pula yang menyebut Bukit Zion. Semuanya sama, merujuk pada lokasi tersebut yang diyakini oleh kaum Yahudi sebagai lokasi di mana King Solomon (Nabi Sulaiman a.s.) pernah membangun istananya (kuilnya) yang selain penuh berisi harta kekayaan, juga benda-benda mistis dan begitu penting bari kepercayaan Yahudi.

Sebab itu, Mejelis Tertinggi Ordo Kabbalah telah mengutus salah seorang anggotanya yang juga merupakan anggota dari Gereja Yohanit bernama Godfroi de Bouillon pada Perang Salib pertama untuk membangun sebuah gereja-benteng sebagai markas utama Ordo Sion yang dibentuknya.

Markas Ksatria Templar yang berlainan dengan markas Ordo Sion juga diyakini masih berada di atas lokasi Haikal Sulaiman. Namun sejalan dengan perkembangan waktu, istilah ‘Zion’ kemudian tidak hanya sebagai sebuah nama tempat, melainkan juga memiliki arti sebagai suatu ideologi dan gerakan orang-orang Yahudi untuk ‘kembali’ mendiami seluruh wilayah Palestina dengan beribukotakan Yerusalem.

Seorang tokoh Yahudi bernama Nathan Bernbaum-lah yang pertama kali ‘menyeret’ istilah yang pada awalnya netral ini menjadi begitu politis. Pada tanggal 1 Mei 1776, hanya dua bulan sebelum Amerika Serikat mendeklarasikan kemerdekaannya (4 Juli 1776), Nathan mencetuskan Zionisme sebagai gerakan politik bangsa Yahudi untuk mendiami kembali tanah Palestina.

Gayung pun bersambut. Beberapa pentolan Yahudi mensosialisasikan istilah politis ini untuk mempersatukan perasaan dan persepsi bangsa Yahudi agar bersedia mencurahkan perhatiannya ke Palestina. Yahuda al-Kalaj tercatat sebagai tokoh Yahudi yang pertama kalinya melemparkan gagasan mendirikan ‘negara Israel’ di tanah Palestina.

Izvi Hirsch Kalischer menulis buku berbahasa Ibrani ‘Derishat Zion’ (1826) yang mendukung ide dari Yahuda al-Kalaj dan memaparkan kemungkinan-kemungkinannya.[3] Saat itu para tokoh Yahudi bukannya tidak paham bahwa tanah Palestina sebenarnya bukan merupakan hak milik mereka. Namun karena Talmud, kitab bikinan pendeta-pendeta tertinggi Yahudi, menyatakan tanah Palestina sebagai Tanah Yang Dijanjikan (The Promise Land) bagi bangsa Yahudi, maka tanpa reserve mereka pun mengikutinya.

Moses Hess, seorang Yahudi Jerman, melemparkan gagasan pertamanya bahwa untuk menguasai Palestina, maka Yahudi harus menggandeng orang-orang Barat yang memiliki kepentingan yang sama untuk kembali ke Palestina setelah kekalahan yang memalukan atas kaum Saracen yang dipimpin Salahuddin Al-Ayyubi beberapa abad lalu. Maulani menulis bahwa ide ini mendapat dukungan dari beberapa tokoh kolonialis Barat yang memiliki sejumlah pertimbangan, antara lain: adanya konfrontasi antara Eropa dengan Turki Utsmaniyah di Dunia Arab, lalu Eropa juga menyadari diperlukannya satu benteng di Timur Tengah yang bisa digunakan untuk kepentingan Eropa dan Yahudi bersedia melakukan itu, dan dendam Perang Salib pun belum terbayarkan dan menemukan momentumnya saat ini. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber
———————–

[1] Howard M. Sachar; A History of Israel: From the Rise of Zionisme to Our Time; Tel Aviv; Steimatzky’s Agency, 1976, hal. 44-46.
[2] Suleiman; Ayat-Ayat Setan Yahudi, Dokumen Rahasia Yahudi Menaklukkan Dunia dan Menghancurkan Agama; Grafikatama Jaya, Mei 1992; hal.8.

[3] Z.A. Maulani, Zionisme, Gerakan Menaklukkan Dunia; hal. 2.

Sejarah Rahasia Iluminati: Zionisme Runtuhkan Kekhalifahan Turki Utsmani





Sejak itu, dengan bantuan dana dari para pemodal Yahudi utamanya Dinasti Rothschild, mengalirlah imigrasi orang-orang Yahudi ke Timur Tengah, utamanya Palestina dan daerah-daerah sekitarnya.
Gerakan orang-orang Yahudi ini bukannya tidak diketahui oleh orang-orang Arab, pada tahun 1891 beberapa pengusaha Palestina dengan nada prihatin mengirim telegram ke Istambul. Dalam telegram itu, dengan penuh kecemasan, para pengusaha Palestina menyatakan imigrasi orang-orang Yahudi ke wilayahnya akan benar-benar menjadi ancaman jika tidak dihentikan.

Lima tahun kemudian, Theodore Hertzl menulis sebuah buku yang secara detil mengajukan konsep tentang upaya pendirian ‘negara Israel’ di Palestina. Buku itu berjudul ‘Der Judenstaat’ atau Negara Yahudi (1896). Bukunya ini segera mendapat sambutan yang hangat dan sebab itu, Hertzl dinobatkan sebagai ‘Bapak Zionisme Modern’.

Strategi perjuangan Yahudi, oleh Hertzl, secara singkat bisa diungkapkan dalam sebuah kalimat yang singkat namun penuh arti: “Bila kita tenggelam, kita akan menjadi suatu kelas proletariat revolusioner, pemanggul ide dari suatu partai revolusioner; bila kita bangkit, dipastikan akan bangkit juga kekuasaan keuangan kita yang dahsyat.”

Untuk bisa mendirikan negara Yahudi di atas tanah milik bangsa Palestina, maka kaum Yahudi—demikian Hetrzl—harus melaluinya dengan jalan di luar jalan demokratis. Beberapa hal yang harus dilakukan antara lain: memenuhi tanah Palestina dengan orang Yahudi sehingga Yahudi menjadi mayoritas, seiring dengan itu menjadikan warga Palestina sebagai warga minoritas dengan berbagai cara yang bisa dilakukan seperti pembersihan etnis, perang, penyebaran penyakit, pembukaan lahan kerja di negara tetangga, dan sebagainya.

Rekayasa demografis ini terus berlangsung hingga hari ini. Selain itu, garda terdepan bangsa Yahudi juga harus memaksakan dunia internasional untuk membuatkan undang-undang yang melegitimasi keberadaan Yahudi di Palestina. Inilah pokok-pokok strategi pendudukan Palestina.

Hertzl mengatakan, “Kami akan mengeluarkan kaum tidak berduit (maksudnya bangsa Palestina) dari perbatasan dengan cara membuka lahan-lahan pekerjaan di negara-negara tetangga, dan bersamaan dengan itu mencegah mereka memperoleh pekerjaan di negeri kami. Kedua proses itu harus dilakukan secara senyap.

Sembari mempropagandakan hak sejarah orang-orang Yahudi atas tanah Palestina dan mendelegitimasi keberadaan orang Palestian di tanahnya sendiri, Hertzl kemudian berangkat menemui Sultan Abdul Hamid II yang tengah berada di tampuk kekuasaan Turki Utsmaniyah. Saat itu, Palestina merupakan salah satu wilayah yang berada di bawah kekuasaan kekhalifahan Turki.

Hertzl datang menghadap Sultan dengan satu maksud, untuk mempengaruhinya agar bersedia bekerjasama dengan kaum Yahudi dalam hal penyerahan tanah Palestina. Ini dilakukan Hertzl di tahun 1896, setahun sebelum dirinya menggelar Kongres Zionis Internasional I di Bassel, Swiss. Kala itu kongres tersebut belumlah terpikirkan.

Sebenarnya, Hertzl sudah mengerti apa sikap Sultan menghadapi permintaannya ini. Namun Hertzl tidak mau mengira-ngira dan ingin mendengar langsung dari bibir Sultan tentang sikapnya itu. Apalagi Hertzl membawa satu janji menggiurkan dari para pemilik modal Yahudi internasional yang berkenan memulihkan kas keuangan Turki Utsmani yang sedang kosong jika permintaannya dituruti.

Namun di luar perkiraan Hertzl, Sultan Mahmud II ternyata memang seorang pemimpin yang sangat tegas, seorang pemimpin yang begitu kuat memegang prinsip, bahkan dengan berani menolak tawaran yang sangat menggiurkan sekali pun.

Mendengar permintaan Hertzl yang menginginkan Sultan menghibahkan Palestina kepada kaum Yahudi dengan imbalan bantuan keuangan dalam jumlah sangat besar, Sultan Abdul Hamid II dengan tegas berkata,

“Jangan lagi engkau membicarakan soal ini. Saya tidak akan menyisihkan sejengkal pun tanah Palestina karena tanah itu bukan milik saya, tetapi milik rakyat. Rakyat saya berjuang untuk mendapatkan tanah itu dan menyuburkannya dengan darah mereka… Biarkanlah orang Yahudi menyimpan uang mereka yang berjuta-juta banyaknya di peti mereka.[1]



Theodore Hertzl

Hertzl sangat tersinggung. ‘Bapak Zionisme Modern’ ini pun meninggalkan Turki dengan tangan hampa. Kegagalan ini kelak membuatnya berpikir untuk sesegera mungkin mengumpulkan para tokoh Yahudi dari seluruh dunia, untuk membahas rencana dan strategi yang lebih khusus, action plan, dalam mencapai tujuan akhir yaitu menjadikan bangsa Israel memiliki sebuah tanah airnya sendiri.

Hertzl kemudian teringat rencana yang telah dilontarkan oleh Albert Pike, seorang tokoh Illuminati, sebelum kematiannya di tahun 1893.  Albert Pike merupakan seorang jenderal Amerika Serikat yang direkrut oleh pemimpin revolusi Italia yang juga seorang Freemason bernama Giuseppe Mazzini, yang kemudian menjadi salah satu tokoh sentral dalam Illuminati.

Di kemudian hari, Albert Pike ini juga membentuk Order of Knights of the Ku Klux Klan (KKK) yang melandasi gerakannya pada semangat rasialis untuk menghancurkan semua manusia berkulit hitam (negro) atau selain kulit putih. KKK didirikan di Nashvilee pada tahun 1867 dengan mengunakan lambang Salib Ksatria Malta.

Beberapa tahun lalu, Albert Pike menyarankan agar Hertzl menggelar sebuah pertemuan besar, yang dihadiri semua tokoh berpengaruh Yahudi dari berbagai negara, untuk menyusun rencana aksi guna mendirikan sebuah negara bagi kaum Yahudi. Hertzl merasa yakin, inilah momentum yang tepat untuk menabuh genderang persatuan kaum Zionis Internasional bagi sebuah rencana aksi yang besar. Inilah latar belakang diselenggarakannya Kongres Zionis Internasional I.

Sesungguhnya, ketika Hertzl tengah menggodok rencana penyelenggaraan Kongres Zionisme Internasional I, Konspirasi Yahudi Internasional mengirim kembali delegasinya yang kini berjumlah tiga orang untuk menghadap Sultan Abdul Hamid II. Mereka adalah Mezrahi Krazu, Jack, dan Lion. Namun Sultan yang mengetahui hal ini menolak menemui mereka dan hanya mengutus salah seorang pejabat istana bernama Takhsin Pasha.

Ketiga utusan Yahudi itu dihadapan Takhsin Pasha tidak lagi meminta hibah tanah Palestian seperti halnya yang dilakukan Theodore Hertzl, namun hanya meminta izin agar orang Yahudi diperkenankan memasuki Palestina untuk keperluan ziarah ke tempat-tempat suci mereka dan mendirikan sebuah perkampungan kecil mereka di dekat Yerusalem.

Jika permintaan ini disetujui Sultan, maka delegasi itu akan menyerahkan imbalan sebagai tanda terima kasih kepada Sultan berupa janji akan melunasi seluruh hutang pemerintah, akan membiayai berdirinya armada laut yang lengkap dengan kapal-kapal perangnya demi menjaga kedaulatan Turki Utsmani, dan akan memberikan kredit sebesar 35 juta lire uang emas tanpa bunga guna memperkuat keuangan negara dan menghidupkan perekonomiannya.

Segera saja Takshin menyampaikan hal ini kepada Sultan. Sikap Sultan tak bergeser sedikit pun. Kepada Takhsin, Sultan Abdul Hamid II berkata,

“Takhsin, katakan kepada orang-orang Yahudi itu sebagai berikut: Pertama, hutang pemerintah bukanlah suatu kejahatan. Negara lain seperti Perancis juga tersangkut hutang, dan semua itu tidak mempengaruhinya.

Kedua, Baitul Maqdis telah ditaklukkan oleh kaum Muslimin atas pimpinan Umar bin Khattab r.a. Aku tidak bersedia menanggung nama buruk dalam sejarah, bahwa aku telah menjual tanah suci itu kepada Yahudi. Aku tidak mau mengkhianati amanah kaum Muslimin yang telah dipikulkan di atas pundakku.

Ketiga, katakan kepada orang-orang Yahudi itu untuk menyimpan saja hartanya sendiri. Pemerintah negara tidak dibenarkan membina aparatur negaranya dengan uang musuh Islam. Dan keempat, ini yang paling penting, suruh mereka segera angkat kaki dari sini, dan jangan boleh lagi mencoba menemui aku atau memasuki tempat ini!”[2]

Demikianlah, Yahudi tidak pernah bosan untuk terus mendesakkan kemauan mereka kepada Sultan Abdul Hamid II. Namun lagi-lagi jawaban yang diterima tetap sama. Sebab itu, Konspirasi kemudian memandang harus dicari strategi yang jitu agar kaum Yahudi bisa berkumpul di Palestina dan mendirikan sebuah negara di atasnya. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber

——————–
[1] Neville Barbour; A Survey of the Palestine Controversy; Institute of Palestine Studies, Beirut, 1969. hal.45. [2] Syaikh Muhammad Namer al-Khatib, Fakta Kejahatan Yahudi, dalam buku “Dendam Barat Dan Yahudi Terhadap Islam”; Pustaka Mantiq; 1993; hal.102-103.


Sejarah Rahasia Iluminati: Mustafa Kemal, Budak Zionis dari Turki



Maka dalam waktu hanya setahun setelah kegagalan Hertzl membujuk Sultan Abdul Hamid II, di Bassel, Swiss, diselenggarakanlah Kongres Zionis Internasional untuk yang pertama kalinya. Selama tiga hari di akhir bulan Agustus 1897 itu seluruh tokoh Yahudi dunia menuangkan semua pikirannya. Di akhir kongres, salah satu hasil yang disepakati adalah tujuan dari gerakan Zionis, yakni:

“Zionisme bertujuan untuk membangun sebuah Tanah Air bagi kaum Yahudi di Palestina yang dilindungi oleh undang-undang.” Ini jelas sudah merupakan agresi politik dan makar. Sama saja dengan, misalkan, kaum Indian di Amerika mengadakan kongres dan pada akhir kongres mereka sepakat untuk “…mendirikan sebuah Tanah Air bagi kaum Indian di Indonesia yang dilindungi undang-undang.” (!).

Di akhir kongres, Theodore Hertzl menuliskan di dalam buku hariannya, “Kalau saya harus menyimpulan apa hasil dari kongres Bassel itu dalam satu kalimat pendek, yang sungguh tidak berani saya ungkapkan kepada masyarakat, saya akan berkata: ‘Di Bassel saya menciptakan negara Yahudi!’”[1]

Setelah kongres di Bassel tersebut, pergerakan kaum Yahudi dunia bekerja menuju dua arah. Pertama, secara diam-diam melancarkan upaya untuk menghancurkan dan menguasai negara-negara non-Yahudi di seluruh dunia, terlebih-lebih yang menunjukkan sikap permusuhannya seperti kekhalifahan Turki Utsmaniyyah. Kedua, mempersiapkan segala hal yang diperlukan bagi berdirinya sebuah negara Yahudi di Palestina.

Jika proyek yang pertama dilakukan secara rahasia, maka untuk proyek yang kedua, kaum Yahudi Internasional memerlukan perhatian dan pelibatan dunai internasional, tentunya lewat jaringan tokoh-tokoh Yahudi yang telah menguasai banyak negara besar di Eropa dan juga Amerika Serikat.

Dalam perjalanannya, kedua rencana aksi itu terbukti berhasil. Lewat upaya-upaya penyusupan, pembunuhan, dan cara-cara keji lainnya, akhirnya Kekhalifahan Turki Utsmaniyah berhasil dihancurkan pada tanggal 3 Maret 1924, hanya 27 tahun setelah Kongres Zionis Internasional pertama.

Mustafa Kemal Attaturk, seorang Yahudi Turki dari Kota Salonika, naik menjadi penguasa dan menghancurkan seluruh kehidupan beragama di Turki dan menggantinya dengan paham sekuler. Mustafa Kamal Ataturk merupakan seorang Mason dari Lodge Nidana.[2] Selama berkuasa, Mustafa Kamal memperlihatkan watak seorang Yahudi asli yang sangat membenci agama. Pernah suatu hari saat berkuasa, setelah melarang adzan menggunakan bahasa Arab dan hanya diperbolehkan berbahasa Turki, Mustafa Kamal melewati suatu masjid yang masih mempergunakan adzan dengan bahasa Arab, seketika itu juga dirinya merubuhkan masjid itu.

Cerita yang laing mengatakan, ketika Mustafa mewajibkan setiap orang Turki memakai topi Barat yang kala itu di Turki lazim dianggap sebagai simbol kekafiran, maka barangsiapa yang tidak mau menuruti perintahnya memakai topi, orang itu akan dihukum gantung. Hasilnya, banyak lelaki Turki yang digantung di tiang-tiang gantungan yang sengaja dibuat di lapangan-lapangan kantor pemerintahannya.

Deislamisasi dan juga terhadap agama lainnya di Turki selama kekuasaan Mustafa Kamal ini benar-benar keterlaluan. Barangsiapa yang ingin mengetahui lebih jauh tentang kejahatan-kejahatan orang yang oleh Barat disebut sebagai ‘Bapak Turki Modern’ ini, ada dua buku karya Dr. Abdullah ‘Azzam yang saya rekomendasikan yakni ‘Al Manaratul Mafqudah’ (Majalah al Jihad, Pakistan, 1987) dan ‘Hidmul Khilafah wa bina-uha’ (Markaz Asy-Syahid Azzam Al-I’laamii, Pakistan).

Dalam buku pertama yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Abdullah ‘Azam memaparkan kejadian sakitnya Mustafa Kamal menjelang sakaratul mautnya yang sungguh-sungguh mengerikan. Abdullah ‘Azzam menulis, “…Mustafa Kamal terserang penyakit dalam (sirrosis hepatitis) disebabkan alkohol yang terkandung dalam khamr. Cairan berkumpul di perutnya secara kronis. Ingatannya melemah, darah mulai mengalir dari hidungnya tanpa henti. Dia juga terserang penyakit kelamin (GO), akibat amat sering berbuat maksiat. Untuk mengeluarkan cairan yang berkumpul pada bagian dalam perutnya (Ascites), dokter mencoblos perutnya dengan jarum. Perutnya membusung dan kedua kakinya bengkak. Mukanya mengecil. Darahnya berkurang sehingga Mustafa pucat seputih tulang.

Selama sakit Mustafa berteriak-teriak sedemikian keras sehingga teriakannya menerobos sampai ke teras istana yang ditempatinya. Tubuhnya tinggal tulang berbalut kulit. Beratnya hanya 48 kilogram. Giginya banyak yang tanggal hingga mulutnya hampir bertemu dengan kedua alis matanya. Badannya menderita demam yang sangat sehingga ia tidak bisa tidur. Tubuhnya juga mengeluarkan bau bagaikan bau bangkai.

Walau demikian, Mustafa masih saja berwasiat, jika dia meninggal maka jenazahnya tidak perlu dishalati. “Pada hari Kamis, 10 November 1938 jam sembilan lebih lima menit pagi, pergilah Mustafa Kamal dari alam dunia dalam keadaan dilaknat di langit dan di bumi…,” tulis Abdullah ‘Azzam.

Majalah Al Mujtama’ Kuwait pada tanggal 25 Desember 1978 edisi 425-426 memuat sebuah dokumen rahasia tentang peranan dan konspirasi kaum Yahudi di dalam menumbangkan kekhalifahan Turki Utsmaniyyah. Dokumen ini sebenarnya berasal dari sebuah surat yang ditulis Dutabesar Inggris di Konstantinopel, Sir Gebrar Lother, kepada Menteri Luar Negeri Inggris Sir C Harving pada tanggal 29 Mei 1910.

Dalam dokumen tersebut dipaparkan secara rinci bagaimana kaum Masonik melakukan penyusupan ke berbagai sektor vital pemerintahan Turki untuk mengakhiri kekuasaan Sultan Abdul Hamid II dan mengangkat Mustafa Kamal Ataturk, untuk menghapuskan kekhalifahan Islam di Turki. Bahkan kaum Mason Turki ini berhasil masuk dalam lingkaran pertama Sultan Abdul Hamid II sehingga banyak kebijakan-kebijakannya yang disabot atau disalahgunakan.

Selain menghancurkan penghalang utama, kekhalifahan Turki Utsmani, Konspirasi Yahudi Internasional juga menyusun cetak biru rencana aksi—yang berasal dari Jenderal Albert Pike—untuk meletuskan Perang Dunia I dan II. Bahkan Pike juga telah merancang Perang Dunia III yang direncanakan meletus pada awal millenium ketiga.

Selain menghancurkan dan menguasai negara-negara non-Yahudi, Konspirasi juga secara intens mempersiapkan ‘perebutan’ tanah Palestina bagi negara Yahudi. Selain menerbitkan beragam artikel dan buku yang mempropagandakan bahwa Tanah Palestina merupakan hak sejarah bangsa Yahudi—sesuatu yang tentunya tidak ada dasar sejarahnya, Konspirasi secara serius juga menggarap gelombang imigrasi orang-orang Yahudi yang tersebar di seluruh dunia untuk memenuhi tanah Palestina.

Perlawanan terhadap aksi ini dari orang-orang Arab bukannya tidak ada, seperti yang telah diperlihatkan Mufti Palestina Sayyid Husseini, namun Pan Arab tidaklah sekuat dan sefanatik Pan-Yahudi yang didukung oleh kekautan kolonialis Barat.

Kegigihan Konspirasi Yahudi Internasional dalam mendirikan sebuah tanah air bagi bangsa Yahudi akhirnya terlaksana juga pada tanggal 2 November 1917. Pada saat itu, Menteri Luar Negeri Inggris, Lord Arthur James Balfour mengirim sebuah surat yang ditujukan kepada Pemimpin Komunitas Yahudi Inggris, Walther Rothschild (Lord Rothschild), untuk diteruskan kepada Federasi Zionis, yang berisi pemberitahuan tentang persetujuan pemerintahan Inggris yang telah menggelar rapat Kabinet tanggal 31 Oktober 1917, atas permintaan bangsa Yahudi untuk bisa mendapatkan tanah airnya di Palestina. Saat itu, sebagian terbesar wilayah Palestina masih berada di bawah kekuasaan Khilafah Turki Utsmani. Batas-batas yang akan menjadi wilayah Palestina telah dibuat sebagai bagian dari Persetujuan Sykes-Picot tertanggal 16 Mei 1916 antara Inggris dan Prancis. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber

———————

[1] Howard M. Sachar; idem; hal. 46.
[2] Dr. Abdullah ‘Azzam; Pelita Yang Hilang’ Pustaka Al-Alaq; 1993; hal. 54.


Sejarah Rahasia Iluminati: Upaya Zionis Menciptakan “Negara”






Kata-kata Deklarasi ini kemudian digabungkan ke dalam perjanjian damai Sèvres dengan Turki Utsmani dan Mandat untuk Palestina. Deklarasi asli (surat ketikan yang ditandatangani dengan tinta oleh Balfour) ialah sebagai berikut,



Foreign Office
November 2nd, 1917 
Dear Lord Rothschild, 

        I have much pleasure in conveying to you, on behalf of His Majesty’s Government, the following declaration of sympathy with Jewish Zionist aspirations which has been submitted to, and approved by, the Cabinet. 
        “His Majesty’s Government view with favour the establishment in Palestine of a national home for the Jewish people, and will use their best endeavours to facilitate the achievement of this object, it being clearly understood that nothing shall be done which may prejudice the civil and religious rights of existing non-Jewish communities in Palestine, or the rights and political status enjoyed by Jews in any other country.” 
        I should be grateful if you would bring this declaration to the knowledge of the Zionist Federation. 
Yours sincerely,
Arthur James Balfour
Dalam bahasa Indonesia, terjemahannya adalah sebagai berikut:
Departemen Luar Negeri
2 November 1917 
Lord Rothschild yang terhormat, 

        Saya sangat senang dalam menyampaikan kepada Anda, atas nama Pemerintahan Sri Baginda, pernyataan simpati terhadap aspirasi Zionis Yahudi yang telah diajukan kepada dan disetujui oleh Kabinet. 

        “Pemerintahan Sri Baginda memandang positif pendirian di Palestina tanah air untuk orang Yahudi, dan akan menggunakan usaha keras terbaik mereka untuk memudahkan tercapainya tujuan ini, karena jelas dipahami bahwa tidak ada suatupun yang boleh dilakukan yang dapat merugikan hak-hak penduduk dan keagamaan dari komunitas-komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina, ataupun hak-hak dan status politis yang dimiliki orang Yahudi di negara-negara lainnya .”

        Saya sangat berterima kasih jika Anda dapat menyampaikan deklarasi ini untuk diketahui oleh Federasi Zionis. 
Salam,

Arthur James Balfour




Dr. Chaim Weizmann, jurubicara terkemuka organisasi Zionisme di Inggris dan pendukung utama gagasan ini merupakan seorang pakar kimia yang berhasil mensintesiskan aseton melalui fermentasi. Aseton diperlukan dalam menghasilkan cordite, bahan pembakar yang diperlukan untuk mendorong peluru-peluru. Jerman memonopoli ramuan aseton kunci, kalsium asetat.

Tanpa kalsium asetat, Inggris tak bisa menciptakan aseton dan tanpa aseton takkan ada cordite. Jadi, tanpa cordite, Inggris saat itu mungkin akan kalah dalam Perang Besar. Saat ditanya bayaran apa yang diinginkan, Weizmann menjawab dengan lugas, “Hanya ada satu hal yang saya inginkan: Tanah air buat orang-orang saya.” Ia menerima pembayaran untuk penemuan ini dari pemerintah Inggris: sebuah ‘negara’ Israel di Tanah Palestina.

PROTOCOLAT PETINGGI ZIONIS

Salah satu ‘hasil’ Kongres Zionis Internasional I adalah apa yang sekarang kita kenal sebagai Dokumen Protocol of Zions. Sebuah dokumen rahasia yang berisi 24 butir program penghancuran agama-agama, penghancuran musuh-musuh Zionis, dan taktik-strategi kaum Zionis untuk menguasai dunia. Kongres tersebut menurut beberapa literatur, salah satu keputusannya adalah menobatkan seorang perempuan Perancis menjadi pemimpin Zionis-Masonik di tempat organisasi rahasia itu.

Dari sosok perempuan inilah kemudian Protocol of Zions ini bocor keluar. Ada beberapa versi yang mengisahkan kebocoran ini. Ada yang bilang perempuan itu mengatakan kepada temannya dan temannya lalu menceritakan apa yang dia dengar ke luar, ada pula yang mengatakan bahwa dokumen tersebut telah dicuri oleh seseorang dari perempuan tersebut, dan kemudian disebarluaskan.

Yang jelas, setelah terjadinya kebocoran itu, para pendeta tertinggi Yahudi mengeluarkan sebuah larangan seorang perempuan menjadi Ketua Freemasonry.

Pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam Protocol of Zions, seperti yang ‘diresmikan’ dalam Kongres Zionis Internasional I (1897) ini sebenarnya berasal dari sebuah pertemuan rahasia yang digagas Mayer Amshell Rothschild bersama duabelas tokoh Yahudi berpengaruh di kediamannya di Frankfurt, Jerman, tahun 1773.

Dalam pertemuan ini Rothschild juga menyebut nama Adam Weishaupt sebagai orang yang ditunjuk mengepalai Illuminati. Oleh Rothschild, dokumen Protocol of Zions awal ini diberikan kepada Weishaupt yang diberi tugas untuk menjaganya dan menyempurnakannya sesuai dengan perkembangan dunia. Weishaupt pun menyempurnakan dokumen ini.

Pada tahun 1782, Weishaupt menggelar sebuah pertemuan rahasia antara Illuminati dan Freemasonry di Wilhelmsbad, Jerman. Dua tahun setelah pertemuan tersebut, mereka sepakat untuk menjalankan strategi bersama.

Pada tahun 1784 Adam Weishaupt memerintahkan seorang Jerman kenalannya, Baron Xavier von Zwack, untuk menyusun rancangan penciptaan Revolusi Perancis. Setahun kemudian dokumen itu dikirimkan kepada salah seorang tokoh Illuminati Perancis bernama Robespierre, lewat seorang kurir khusus. Weishaupt menyembunyikan dokumen rahasia  tersebut di dalam jahitan baju sang kurir.

Di tengah perjalanan, masih di dalam wilayah Bavaria, kurir yang tengah berkuda itu tewas tersambar petir. Ketika polisi Bavaria memeriksa mayat kurir yang sudah hangus tersebut, polisi menemukan sebuah dokumen berjudul Einige Originalschriften des Illuminaten Ordens tersembunyi di baju sang mayat. Dokumen itu segera diamankan dan diberikan kepada seorang pemecah sandi yang kemudian kaget bukan kepalang karena sama sekali tidak pernah memperkirakan ada dokumen yang segila dan sejahat ini.

Raja Bavaria sangat murka mengetahui isi dokumen tersebut dan segera saja ia memerintahkan untuk menumpas seluruh pengikut Weishaupt pada bulan Agustus 1785. Markas Illuminati pun digeledah. Adam Weishaupt sendiri dipecat dari jabatannya di Universitas Ingolstadt. Weishaupt kabur ke Gotha. Kawan Weishaupt, Dr. Schwartz, mengamankan seluruh buku koleksi Weishaupt ke Moskow. Di Gotha inilah Weishaupt meninggal dunia pada tanggal 18 November 1830 dalam usia ke 82 tahun.

Pada 1897, Profesor Sergey A. Nylus mendapatkan dokumen ini dari seseorang, konon orang itu bernama Alex Nicola Nivieh, Kepala Dinas Rahasia Kekaisaran Rusia. Nylus yang merupakan seorang Pendeta Gereja Ortodoks di Rusia, kemudian menerjemahkan dokumen itu ke dalam bahasa Rusia dan menerbitkannya dalam bentuk selebaran yang segera saja mengundang reaksi dan perhatian yang amat dahsyat di Rusia. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber

Sejarah Rahasia Iluminati: Protocolat Zionis dan Jenderal Albert Pike






Tak sampai empat tahun kemudian, 1901, Nylus menerbitkannya menjadi sebuah buku. Dalam waktu sangat singkat, buku ini telah hilang dipasaran. Walau demikian, beberapa cendekiawan Rusia telah membacanya. Orang-orang asli Rusia yang memang tidak menyukai orang-orang Yahudi menuding kaum ini akan mengadakan kudeta terhadap pemerintahannya.


Merasa terpojok, para petinggi Yahudi yang berada di Rusia pun menyatakan bahwa dokumen tersebut adalah dokumen palsu yang sengaja dibuat untuk menjelek-jelekkan kaum Yahudi. Namun masyarakat Rusia tidak begitu saja mudah percaya. Apalagi isi dokumen tersebut banyak sekali yang benar-benar terjadi dengan peristiwa-peristiwa dunia. Akibatnya, kemarahan orang-orang Rusia ini menimbulkan pengejaran dan pembunuhan terhadap orang-orang Yahudi di Rusia dan Eropa Timur.

Mengetahui bukunya lenyap dengan cepat, diborong habis dari toko-toko buku, Nylus segera mencetaknya kembali di tahun 1905 dengan tambahan berupa prakata dan aneka komentar darinya. Tetapi buku tersebut lagi-lagi dengan cepat hilang di pasaran.

Tahun 1911 kembali dicetak dan mengalami nasib yang sama. Saat naskah tersebut kembali dicetak pada tahun 1917, Rusia yang tengah dilanda bayang-bayang kejatuhan Tsar akibat keberhasilan Revolusi Bolsyewik, para tokoh komunis memerintahkan agar buku tersebut disita dan dilarang beredar di seluruh Rusia. Krensky yang menjatuhkan Kekaisaran Rusia menyatakan, “Barangsiapa yang memiliki buku tersebut, partai komunis akan menjatuhkan hukuman yang berat kepadanya, membuangnya ke kamp kerja paksa di Siberia atau dieksekusi mati.”

Jelas, kaum Komunis dalam hal ini membuktikan bahwa dirinya merupakan bagian dari Konspirasi Yahudi Internasional. Sergey A. Nylus sendiri ditangkap oleh polisi rahasia partai Komunis dan setelah mendapat siksaan yang berat kemudian di buang ke sebuah kamp. Nylus kemudian meninggal dunia di Vladimir, pada 13 Januari 1929.

Namun, sebelum komunis berkuasa, sebuah buku Nylus telah dibawa oleh seorang rekannya bernama G. Butmi yang kemudian membawa buku tersebut ke Inggris dan menyimpannya di British Museum pada tanggal 10 Agustus 1906.

Seorang jurnalis, koresponden surat kabar Inggris The Morning Post, bernama Profesor Victor E. Marsden, pada tahun 1917 menemukan buku tersebut di sebuah perpustakaan di London. Marsden meyakini buku kecil berbahasa Rusia itu sangat penting. Sebab itu dia kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dengan judul “Protocol of the Learned Elder of Zion”.

Seperti halnya buku sejenis yang diterbitkan oleh Sergey A. Nylus, buku terjemahan dari Marsden pun selalu habis dipasaran dalam waktu yang singkat. Hingga tahun 1921, buku edisi Inggris ini telah mengalami cetak ulang hingga sedikitnya lima kali. Ada yang mengatakan bahwa buku-buku tersebut sebenarnya diborong oleh kaum Yahudi dan kemudian dibakarnya.

Dari buku Marsden inilah, Protocolat Zionis tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.[1]

CETAK BIRU PERANG DUNIA

Cetak biru Perang Dunia I, II, dan III, juga Revolusi Inggris dan Perancis, telah dirancang oleh Konspirasi Yahudi Internasional lewat tangan Jenderal Amerika Serikat, Albert Pike. Bisa jadi, Albert Pike hanyalah ‘pemain layar’ alias yang disorongkan kepada masyarakat, sedang ‘pemain di belakang layar’ merupakan satu tim yang terdiri dari sejumlah pakar Yahudi yang memang disembunyikan jauh dari keramaian.

 
 
Jenderal Albert Pike

Saat ini, Perang Dunia I dan II telah terjadi. Demikian pula Revolusi Inggris, Revolusi Perancis, dan perang-perang lokal lainnya. Semua dilakukan sebagai ‘tahapan dekonstruksi dunia’ yang setelah hancur akan dibangun kembali berdasarkan ‘konstruksi Ordo Kabbalah’. Dunia akan dibentuk menjadi satu arsitektur, arsitektur Kabbalah.

Mengenai Perang Dunia III, memang belum terjadi, namun masyarakat dunia, oleh Konspirasi ini, tengah digiring menuju ke sana agar nantinya dunia benar-benar menjadi tunggangan mereka yang teramat jinak. Semuanya itu, Albert Pike-lah, orang yang dianggap bertanggungjawab. Siapakah jenderal berjenggot lebat tersebut?

Albert Pike dilahirkan di Boston, AS, pada tanggal 29 Desember 1809 dari pasangan suami isteri Yahudi, Benjamin dan Sarah Andrews. Pike merupakan anak tertua dari enam bersaudara. Setelah menjalani pendidikan di Harvard, Pike masuk dinas militer. Saat Perang Sipil (1861-1865), Brigadir Jenderal Albert Pike menjadi salah satu pimpinan dari Tentara Konfederasi yang berhadapan dengan Tentara Union. Usai perang, Pike diketahui telah melakukan pengkhianatan dan dipenjara. Namun belum sempat berlanjut, pada 22 April 1866 Presiden Andrew Johnson menyelamatkan dirinya dari penjara. Johnson adalah seorang anggota Freemasonry Amerika saat itu, sama seperti Pike. Keesokan harinya, keduanya bertemu di Gedung Putih.

Pada tanggal 20 Juni 1867, Petugas Lodge Freemasonry Scottish Rite menelpon Johnson dan mengundangnya untuk menghadiri penganugerahan ‘kenaikan tingkat yang istimewa’ bagi presiden itu dari derajat keanggotaan yang hanya 4th melompat ke tingkat keanggotaan ke 32nd, dan Johnson kemudian pergi ke Boston untuk meresmikan Kuil Masonik di sana.

Sosok Albert Pike sendiri penuh kontroversial. Ada yang menyatakan bahwa dia seorang yang jenius dan mempu berbicara atau menulis dalam 16 bahasa berbeda. Namun ada pula yang menuding bahwa Pike biasa saja, tidak terlalu pintar, dan sering menjiplak karya orang lain dengan mengakui sebagai karyanya sendiri. Walau demikian, Pike memang dikenal sebagai penyair, filsuf, tentara, sukarelawan, humanis, dan lain-lain.

Pike juga dianugerahi derajat keanggotaan Freemason AS hingga ke derajat 33rd. Dia adalah salah seorang pendiri dari Ancient Accepted Scottish Rite of Freemasonry, dan menjabat sebagai Grand Commander of North American Freemasonry dari tahun 1859 hingga meninggal dunia pada tahun 1891. Di tahun 1869, Albert Pike diketahui juga membentuk organisasi rasialis kulit putih yang bernama Order of the Knights of the Ku Klux Klan (KKK) yang bertahan hingga sekarang.

Kehidupan pribadi Albert Pike sangatlah menjijikan. Dia mengakui jika dirinya seorang pemuja setan yang juga melakukan upacara-upacara okultisme dengan segala ritual iblisnya. Selain aktif di Freemasonry dan juga KKK, Pike juga menjabat sebagai Grand Master sebuah kelompok pemuja Lucifer yang dikenal dengan nama  The Order of the Palladium yang didirikan di Paris pada tahun 1737.

Palladisme awalnya dibawa ke Yunani dari tanah Mesir oleh Pythagoras di abad ke-5 Masehi dan kemudian menjadi bagian inti dari ritual satanisme yang biasa dilakukan di lodge-lodge Masonik dan juga Templar.

Tahun 1801, seorang Yahudi bernama Issac Long membawa patung Baphomet ke sebuah Lodge Masonik di Charleston, Carolina Selatan. Lokasi ini dipilih karena Charleston berada tepat di 33rd garis lintang selatan seperti halnya kota Bagdad. Lodge ini kemudian menjadi induk dari semua lodge Masonik di seluruh dunia. Issac Long sendiri terpilih menjadi Grand Masternya. Albert Pike kemudian menggantikan Issac Long dan mengubah nama organisasinya dengan nama Order to the New and Reformed Palladian Rite (Reformed Palladium) yang hanya mengenal dua tingkatan:  Adelph (or Brother), dan Companion of Ulysses (or Companion of Penelope).(Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber

—————-
[1] Buku ‘Protocol of Zions’ edisi Indonesia setahu penulis terbit pertama kalinya pada bulan Juni 1990 dengan judul “Ayat-Ayat Setan Yahudi, Dokumen Rahasia Yahudi Menaklukkan Dunia dan menghancurkan Agama” (PT. Grafikatana Jaya) yang diterjemahkan oleh Drs. Suleiman. Buku ini berasal dari sebuah buku sejenis berbahasa Inggris berjudul “The Protocol of the Learned Elders of Zion, Social Reform Society Edition, Kuwait) yang ditemukan Drs. Suleiman di Perpustakaan Umum Sydney, Australia, pada tahun 1979.



Sejarah Rahasia Iluminati: Keistimewaan Nama John, Joan, dan Giovani 

Anti Pope Angelo Roncalli

Eramuslim.com – Jaringan Albert Pike sungguh luas. Pike juga diketahui sebagai tangan kanannya Phileas Walder, seorang tokoh Gereja Lutheran yang juga tokoh Freemason berpengaruh, kelompok pemuja setan, dan sekaligus tukang sihir dari Swiss. Pike juga bekerja secara rahasia dengan Giusseppe Mazzini dari Italy (1805-1872) yang juga memiliki tingkat keanggotaan Freemasonry pada level 33rd, yang menjadi pimpinan Illuminati di tahun 1834, dan juga pendiri dari organisasi Mafia Italia di tahun 1860.

Tokoh lain di sekeliling Mazzini adalah Lord Henry Palmerston dari Inggris (1784-1865, Mason derajat 33rd) dan Jenderal Otto von Bismarck dari Jerman (1815-1898, Mason 33rd). Bersama mereka, Albert Pike  dengan Palladian Ritenya dijadikan kelompok payung (satu kelompok yang memayungi) seluruh kelompok Masonik dunia.

Sosok Albert Pike kemudian dinobatkan sebagai Grand Master Illuminati yang diserahi tugas untuk menyusun sebuah rancangan yang sistematis untuk menaklukkan dunia dan menghancurkan agama-agama. Dari tangan Albert Pike inilah lahir satu rencana besar yang akan meletuskan Perang Dunia I, II, dan III. Protocolat Zionis dipercaya juga melewati tangannya untuk disempurnakan setelah dipaparkan Rothschild kepada teman-temannya di tahun 1782.

Rencana besar penaklukan dunia dan penghancuran agama-agama kemudian kita kenal dengan istilah pembentukan The New World Order. Konsep ini pada abad ke-21 digaungkan kembali oleh Wakil Presiden AS Dick Cheney yang bersama-sama dengan Donald Rumsfeld dan bersama beberapa rekannya mencanangkan proyek masa depan bernama Project for the New American Century (1997) yang isi maupun esensinya sama sebangun dengan The New World Order.

Cheney yang dilahirkan di Nebraska, AS, pada tahun 1941, ini juga seorang pemilik perusahaan tentara bayaran dan bisnis perang bernama Halliburton. Perusahaan ini pada tahun 2003 mendapat kontrak raksasa dari pemerintahan Bush senilai lebih dari US$ 8 miliar untuk ‘membangun’ kembali Irak.

Pada tahun 1871, Pike menulis sebuah buku pegangan Freemasonry berjudul ‘Morals and Dogma of the Ancient and Accepted Scottish Rite of Freemasonry’. Ketika Mazzini meninggal dunia pada tanggal 11 Maret 1872, Pike memerintahkan seorang bankir Italia bernama Adriano Lemmi (1822-1896, seorang Mason derajat 33rd) untuk melancarkan kegiatan subversif di Eropa.

Lemmi mendukung gerakan revolusioner Giuseppe Garibaldi, juga Lenin dan Trotsky, dan juga Stalin. Seluruh kegiatan revolusioner yang terjadi di Inggris, Perancis, Jerman, dan sebagainya semuanya didanai oleh uangnya Rothschild.

Sepanjang tahun 1859 hingga 1871, Pike merancang sebuah rencana aksi untuk mengobarkan Perang Dunia I hingga III, juga sejumlah revolusi, hingga mencapai final, ini menurut rencana Pike, pada abad ke-20. Skenario Perang Dunia I, II, dan III untuk membentuk The New World Order tulisan Albert Pike ini sungguh luas dan panjang.

Bagi yang ingin mengetahui tentang cetak biru rencana Albert Pike dalam mengobarkan Perang Dunia I, II, dan III lebih dalam dan detil, bisa merujuk ke buku: “Yahudi Menggenggam Dunia” karya Admiral Inggris, William Guy Carr, yang terlibat langsung dalam Perang Dunia I, yang edisi Indonesianya diterbitkan oleh Pustaka Alkautsar (saat tulisan ini dibuat sudah mengalami cetakan ketujuh, Februari 2005), “Occult Theocracy” karya Lady Queensborough, dan “Quoted in Satan: Prince of This World” juga karya Admiral William Guy Carr.

Albert Pike sendiri meninggal pada tanggal 2 April 1891 dan dikuburkan di Pemakaman Umum di Oak Hill, AS.

ANGELO RONCALLI, POPE JOHN XXIII

Nama John memiliki tempat istimewa dalam Ordo Biarawan Sion. Para Grand Master ordo ini lazim memiliki gelar John (Inggris) yang sama artinya dengan Giovanni (Itali), Joan (Perancis, laki-laki) dan Jeanne (Perancis, perempuan). Nama ini sebetulnya berasal dari nama Yohannes Sang Pembaptis, yang sosoknya begitu dihormati setara dengan Maria Magdalena bagi kelompok Kabbalah.

Bahkan penghormatan kepada Yohannes Sang Pembaptis bagi mereka melebihi penghormatan kepada Yesus Kristus. Sebab itu, bagi mereka, Yohannes Sang Pembaptis adalah Yohannes Kristus, Yohannes Sang Raja. Bukannya Yesus. Tidak heran jika gereja mereka pun disebut Gereja Yohannes, dan jemaatnya disebut Jemaat Yohanit.

Lynn Picknett dan Olivia Prince dalam The Templar Revelation meringkas beberapa simpul tentang Tradisi Yohanit, antara lain:
  • Tradisi ini mengistimewakan Injil Yohannes yang menurut mereka mengandung berbagai ajaran rahasia ‘Kristus’ kepada Yohanes Penginjil (‘Sang Murid Terkasih’),
  • Ada kesamaran tentang hubungan Yohanes Penginjil (yang diyakini sebagai penulis Injil Keempat) dan Yohanes Pembaptis. Kesamaran ini terasa cukup jelas dalam gerakan Freemasonry aras utama (Scottish Rite),
  • ‘Tradisi-tradisi rahasia’ yang telah diungkap di atas sangat bersifat gnostik,
  • Meski mengaku sebagai representasi suatu bentuk kekristenan esoteris, yakni kelompok yang bertugas menjaga dan memelihara ‘ajaran-ajaran rahasia’ Yesus, tradisi-tradisi itu tidak begitu menghargai Yesus. Mereka menganggapnya sebagai manusia biasa, anak haram, dan bahkan mungkin orang yang menyedihkan karena terseret oleh impian kebesarannya sendiri. Bagi kaum Yohanit, istilah ‘Kristus’ tidak menandakan keilahian, tetapi dimengerti semata-mata sebagai panggilan penghormatan—bahkan, para pemimpin mereka pun disebut ‘Kristus’. Karenannya, ketika anggota kelompok semacam ini menyebut dirinya seorang ‘Kristen’, bisa jadi hal itu mengandung makna yang sama sekali lain.
  • Tradisi itu pun menganggap Yesus sebagai seorang ahli dalam aliran misteri Osiris dari Mesir, dan rahasia-rahasia yang diwariskannya berasal dari kelompok inti Osirian tersebut.
Para tokoh Kabbalah berasal dari Jemaat Yohanit. Sebut saja misalnya para Ksatria dari Calabria yang menyusupkan Peter The Hermit (Peter si Pertapa, juga anggota Jemaat Gereja Yohanit) ke dalam lingkaran kekuasaan Paus Urbanus dan akhirnya memprovokasi Sang Paus untuk mengobarkan Perang Salib I. Godfroi de Bouillon diyakni juga merupakan anggota jemaat ini, demikian pula Hughues de Payens dan delapan Ksatria Templar lainnya yang menghadap King Baldwin I di istana Yerusalem.

“Sembilan Ksatria Templar yang pertama berasal dari budaya Languedoc, pusat kultus Maria Magdalena—dan tradisi okultis itu sendiri menyebutkan bahwa mereka mepelajari rahasia mereka dari ‘Kaum Yohanit di Timur’.  …Hughues de Payens dan delapan Ksatria Templar lainnya pergi ke Tanah Suci Yerusalem dengan satu tujuan yang pasti: mencari pengetahuan yang akan memberi mereka kekuasaan sembari mencari beberapa artefak yang bernilai tinggi, tidak hanya dalam pengertian ekonomis. Sebelum pergi mencari, Ksatria Templar tampaknya telah mengetahui keberadaan tradisi Yohanit. Lalu, dari mana mereka mengetahuinya, tidak seorang pun tahu dengan pasti,” demikian Picknett dan Prince.[1]

Michael Baigent, Leigh, dan Lincoln di dalam “The Holy Blood and The Holy Grail” (1982) menulis, “Menurut Dokumen Biara (The Priory Document), setiap Grand Master Biarawan Sion ketika menduduki jabatannya, dia mengambil nama Jean (John) – atau mereka lakukan itu karena ada empat orang perempuan bernama Jeanne (Joan). Karena itu para Grand Master Sion diduga terdiri dari orang-orang yang bernama Jean dan Jeanne, sejak tahun 1188 (Pisahnya Ordo Biara Sion dengan Ordo Templar) hingga kini. Penerusan kepemimpinan tersebut jelas ditujukan untuk menyiratkan sebuah kepausan yang bersifat esoteris dan hermetis yang berdasarkan pada John, bertentangan dengan yang eksoteris yang berdasar pada Peter.”[2]     (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber
—————-
[1] Lynn Picknett dan Olivia Prince; The Templar Revelation; hal. 638.
[2] Baigent, Leigh, dan Lincoln; The Holy Blood and The Holy Grail; hal.184.


Sejarah Rahasia Iluminati: Jean Cocteau dan Kardinal Angelo Roncalli




Jean Cocteau muda

Eramuslim.com – Kita tahu, ‘John’ bermakna pada kecenderungan Jemaat Gereja Yohanit yang menuhankan Yohanes Kristus, sedangkan ‘Peter’ bermakna pada Jemaat Vatikan. Grand Master Biarawan Sion pertama saja, Jean de Gisors, pada tahun 1188 menggunakan gelar Jean II. Jean I diduga kuat dinisbahkan kepada Yohanes Kristus itu sendiri.

Nama Jean Cocteau yang muncul dalam daftar orang-orang yang diduga sebagai Grand Master Sion memakai gelar “Jean XXIII”. Leonardo Da Vinci sendiri memakai gelar “Jean IX”. Pada tahun 1959, ketika Cocteau masih memegang jabatan sebagai Grand Master, Paus Pius XII meninggal dunia dan digantikan dengan seorang paus baru, Kardinal Angelo Roncalli dari Venesia.

Seperti yang sudah-sudah, setiap paus baru yang dilantik bebas memilih gelar mereka sendiri. Entah mengapa, Kardinal Roncalli memilih nama ‘John XXIII’ dan hal ini membuat banyak tokoh Katolik cemas. Mereka menjadi bertanya-tanya mengapa gelar itu yang dipilih oleh Roncalli?

Bukankah nama John merupakan nama yang terkutuk karena nama tersebut telah digunakan pada awal abad ke-15 oleh seorang anti-paus. John XXIII, seseorang anti-paus itu telah diturunkan dari jabatannya pada tahun 1415. Ia adalah seorang uskup di Alet. Ketika Roncalli memakai gelar yang sama, tanda tanya besar kalangan Gereja menyertainya.

Di tahun 1976, sebuah buku misterius terbit di Italia dan diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis. Judulnya “The Prophecies of Pope John XXIII” (Ramalan Paus John XXIII) yang berisi kumpulan prosa liris yang mengandung ramalan aneh yang diduga telah ditulis oleh Paus John XXIII (Angelo Roncalli) yang telah meninggal di tahun 1963. Anehnya lagi, Jean Cocteau sendiri juga meninggal di tahun 1963.

Menurut Baigent, “Isi buku itu tidak jelas dan dan melukiskan segala tafsiran yang luas.” Apakah buku itu memang karya Paus John XXIII? ‘Pendahuluan’ pada buku tersebut menyatakan bahwa buku itu adalah benar tulisan Paus John XXIII. Menariknya, buku tersebut juga mengatakan jika Paus John XXIII merupakan anggota dari Ordo Salib Mawar (Rose-Croix), yang selalu berhubungan dengan ordo tersebut saat menjabat Papal Nuncio bagi Turki di tahun 1935.

Pada peristiwa ‘Penebangan Pohon Elms’ yang memisahkan Ordo Sion dengan Ordo Templar, Biara Sion yang kemudian mengubah namanya menjadi Biarawan Sion telah menggunakan gelar tambahan ‘Kejujuran Salib Mawar’ (Rose-Croix Veritas). Sebab itu, Ordo Salib Mawar dicurigai sebagai nama lain dari “Biarawan Sion”. “Implikasinya sungguh menggoda! Ketika akan menjadi paus, Kardinal Roncalli memilih nama Grand Masternya sendiri, sehingga, demi alasan simbolis, akan ada dua John XXIII yang memimpin Sion dan Vatikan secara bersamaan,” ujar Baigent.

Jean Cocteu ‘John XXIII’ sebagai Grand Master Biarawan Sion dan Angelo Roncalli ‘John XXIII’ yang mengepalai Tahta Suci Vatikan. Keduanya pun meninggal dunia pada tahun yang sama: 1963. (!)

Kesamaan aneh ini juga bisa kita lihat pada sumbernya. Sekurangnya ada tiga sumber yang sama menunjukkan bahwa Jean Cocteau mengakhiri jabatan Grand Master Sion pada tahun 1963 yakni The Dossiers Secrets, The Priory Document, dan daftar para Grand Master Biarawan Sion versi Majalah Vaincare No.3, September 1989 (hal.22) yang dieditori oleh Thomas Plantard de Saint-Clair, orang yang diduga sama dengan Pierre Plantard. Ketiga versi ini menyebutkan nama-nama berbeda para Grand Master dalam setiap periodesasinya, namun untuk akhir periodesasi Grand Master Jean Cocteau, ketiganya sepakat: 1963.

Ada sebuah kejutan lagi tentang John XXIII. Pada abad ke-12, seorang biarawan Irlandia bernama Malachi mengumpulkan serangkaian ramalan yang sejenis dengan ramalan Nostrodamus. Dalam ramalan-ramalan tersebut, dikabarkan tanggapan penting dari Vatikan, termasuk paus ketika itu John-Paul II—Malachi menyebutkan para paus yang akan menggantikan tahta Saint Peter pada abad-abad mendatang. Untuk setiap paus, ia menawarkan sejenis motto deskriptif. Lalu, bagi John XXIII, motto tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis, yaitu ‘Pasteur et Nautonnier’ (Gembala dan Navigator).

Gelar resmi bagi orang-orang yang diduga Grand Master Sion juga ‘Nautonnier’. Suatu kebenaran yang menggaris-bawahi kebetulan yang aneh ini adalah ketika berkuasa, Paus John XXIII telah memperbaiki kedudukan Gereja terhadap Freemasonry dan mengeluarkan izin bagi seorang Katolik untuk menjadi anggota Freemasonry.[1] John XXIII ini juga bertanggungjawab atas reorientasi Gereja Katolik antara lain dengan mendirikan Dewan Vatikan yang para anggotanya berasal dari tokoh-tokoh Gereja Katolik seluruh dunia. Siapakah Paus John XXIII dan apakah ia benar seorang Freemason atau pun Biarawan Sion?

Sebuah film dokumenter yang diproduksi Vatikan memuat satu kisah khusus mengenai Paus John XXIII ini. Di Indonesia, Emperor Edutaintmen yang banyak mengedarkan film-film dokumenter tentang Kekristenan, mengedarkan film tersebut dalam format empat keeping VCD berjudul “The Bible: Pope John XXIII part 1 dan 2” (2004).

Dalam film tersebut dikisahkan bahwa Angelo Roncalli berasal dari Desa Sotto il Monto. Ia anak dari pasangan petani miskin Italia. Atas kebaikan pamannya, Angelo kecil bisa menempuh pendidikan di seminari untuk menjadi seorang pastur.

Tahun 1909 ia dikirim ke Bergamo, Italia, menjadi Sekretaris Pribadi Uskup Bergamo, Radini Tedeschi yang sering dipandang sinis oleh para kardinal Vatikan sebagai ‘Uskup Merah’ karena tindakannya yang sering memihak kaum sosialis Italia walau pun itu berarti penentangan secara tidak langsung pada Vatikan. Bagi Angelo Roncalli, Uskup Radini lebih dari sekadar majikan, tetapi sudah dianggap sebagai guru sekaligus ayahnya sendiri.

Tahun 1925 Pastor Roncalli diangkat oleh Vatikan menjadi uskup dan ditugaskan di Sofia, Bulgaria. Bulgaria merupakan suatu wilayah yang dikuasai Gereja Katolik Ortodoks yang saat itu dalam keadaan perang dingin dengan Vatikan.

Uskup Roncalli berusaha sekuat tenaga untuk membangun hubungan yang harmonis dengan Gereja Ortodoks. Bahkan saat gempa melanda Sofia dan menghancurkan Gereja Katolik Ortodoks, Roncalli membantu pembangunan gereja tersebut dengan dana hasil usahanya sendiri. Hasilnya pun kalangan Gereja Ortodoks bersikapo baik terhadap Roncalli. Vatikan tidak suka dan langsung menggantinya dengan Mgr. Mazzoli sebagai Uskup Sofia.

Tahun 1944 ia bertugas di Turki. Saat di Turki inilah Uskup Roncalli membebaskan orang-orang Yahudi yang memenuhi sejumlah gerbong kereta yang ditahan pihak Nazi-Jerman. Ribuan orang Yahudi selamat dari upaya pembunuhan yang ingin dilakukan Nazi dan memberi selamat kepada Roncalli. Salah seorang perempuan Yahudi memberikan sebuah kalung Bintang David seraya berkata kepada Roncalli, “Yesus juga seorang Yahudi.” Roncalli pun memberikan kalung salibnya kepada perempuan itu seraya tersenyum.

Tahun 1958 Paus XXII meninggal. Lewat suksesi yang ketat dan dipenuhi intrik sesama Kardinal Vatikan yang berambisi menjadi paus, akhirnya Roncalli terpilih menjadi Paus pada tanggal 28 Oktober 1958. Setelah menjadi paus, Roncalli menyatakan bahwa dirinya kini dipanggil dengan sebutan ‘Giovanni’ (‘John’ dalam bahasa Inggris).

Film itu tidak menyingung satu pun keterkaitan Roncalli atau Paus John XXIII dengan Freemasonry dan sebagainya. Hanya saja, kejadian di Istambul, Turki, tahun 1944, saat dia menyelamatkan ribuan orang Yahudi dari penangkapan Nazi-Jerman itu tentu didengar oleh para petinggi bangsa Yahudi dan kemudian ‘berterimakasih’ kepada Roncalli dengan sesuatu yang tidak biasa. Kedekatan Roncalli dengan Yahudi juga tergambar dengan jelas tatkala saat menjadi Paus John XXIII, ia mencabut larangan orang Katolik menjadi anggota Freemasonry.

Sebelumnya, orang-orang Katolik yang ingin menjadi anggota Freemason maka ia harus melakukannya dengan diam-diam, namun setelah Paus John XXIII mencabut larangan itu maka kini berbondong-bondonglah orang-orang Katolik menjadi anggota Freemasonry, tidak terkecuali para Yesuit yang begitu patuh pada institusi kepausan, mereka juga banyak yang menjadi anggota Freemasonry. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber

[1] Michael Baigent, Leigh, dan Lincoln; The Holy Blood and The Holy Grail; hal. 186.



Sejarah Rahasia Iluminati: Kaitan Antara Freemasonry Dengan MAFIA

Guisepe Manzini

Eramuslim.com – Apakah dengan demikian, naiknya Roncalli menjadi paus merupakan sebuah kesuksesan program rahasia Konspirasi Yahudi Internasional untuk menghantam dan menghancurkan Gereja dari dalam?

Ajaran Kristen sendiri berabad sebelumnya juga telah dirusak oleh Paulus, seorang Yahudi dari Tarsus, yang menciptakan Injil Perjanjian Baru, di mana ayat-ayat dalam Perjanjian Baru ini banyak sekali yang bertentangan dengan Perjanjian Lama.

Tradisi Kekristenan juga banyak yang sesungguhnya tidak berasal dari ajaran Yesus sendiri, melainkan dari ajaran paganisme Kekaisaran Romawi yang berasal dari Mesir kuno, ajaran Kabbalah.
Apalagi di abad-20, Konspirasi telah mengubah The Holy Bible King James Version yang dipakai di negara-negara Kristen mayoritas dunia dengan memasukan ratusan catatan kaki dari Cyrus Scofield sehingga Injil tersebut tidak ada bedanya dengan Talmud, penuh dengan catatan kaki yang mendukung kepentingan Zionis-Yahudi.

Konspirasi telah begitu berhasil menaklukkan Gereja dari dalam dan menjadikannya kuda tunggangan bagi kepentingannya mencapai The New World Order. Ataukah ia, seperti dugaan banyak peneliti semisal Baigent, diyakini anggota dari Biarawan Sion? Bukankah ketika Vatikan menerima surat pengaduan dari Uskup Carcassonne atas kelakuan Pastor Berenger Sauniere, Kardinal Angelo Roncalli yang datang kepada Sauniere sebagai utusan Vatikan? Ada apa semuanya ini?

MAFIA: MAZZINI, AUTORIZZA, FURTI, INCENDI, AVVELENAMENTI.

Perhatikan dengan seksama judul di atas. Mazzini Autorizza Furti, Incendi, Avvelenamenti. Sebuah kalimat singkat Italia. Ambil tiap-tiap huruf depannya, Anda akan mendapatkan istilah yang sungguh tidak asing lagi: MAFIA.

Kalimat Italia itu dalam bahasa Inggris tertulis: Mazzini Authorizes Thefts, Arson, Poisoning yang memiliki arti lebih kurang sebagai “Mazzini memberikan hak untuk mencuri, membakar, dan meracuni”.

Giuseppe Mazzini, pemimpin revolusioner Italia, teman dekat sekaligus pengganti Adam Weishaupt dalam Illuminati, selain menjabat sebagai Grand Master Freemasonry Italia derajat 33rd sekaligus juga pendiri organisasi rahasia itu. Di samping itu, Mazzini ternyata juga pendiri dari organisasi Mafia Italia dan Gangster Sicilia-nya yang terkenal ke seantero jagat.

Singkatan MAFIA yang berasal dari Mazzini Autorizza Furti, Incendi, Avvelenamenti berasal dari buku Andrew Varna berjudul World Underworld yang diterbitkan Museum Press, London (1957) halaman 58.

Namun ada juga yang mengatakan bahwa istilah ‘Mafia’ sesungguhnya berasal dari sebuah kata dari Tuscany ‘Maffia’ (dengan dua ‘f’) yang memiliki arti sebagai kemiskinan atau kesengsaraan. Ada pula yang mengatakan ‘Mafia’ berasal dari kata ‘Maehfil’ yang konon berasal dari bahasa Arab yang berarti perserikatan. Orang-orang Arab sendiri memang diketahui pernah menaklukan Sisilia pada abad ke-IX.

Lalu adakah kaitan antara Freemasonry dengan Mafia? Ronayne dalam ‘Handbook of Masonry’ menulis sebuah janji seorang Mason yang antara lain tertulis, “Kami akan melindungi dan menutup rapat-rapat segala bentuk kejahatan yang dilakukan Saudara kami sesama Mason …dan jika diperintahkan untuk bersaksi atas kejahatan yang dilakukan Saudara kami sesama Mason, lindungilah. Bahkan jika perlu, untuk membebaskannya, berilah jaminan bagi Saudaramu itu.” Ini seperti sebuah janji antara anggota Mafia.

Menelusuri sejarah Freemason dan mengkaitkannya dengan Mafia, kita bisa merujuk pada episode Ksatria Templar, di mana para Templar juga mempunyai kode-kode dan perjanjian yang akan melindungi sesamanya dari segala hal yang bisa merugikan ordo tersebut. Bahkan jika terbukti seorang Templar menyakiti atau sampai melukai Templar lainnya, maka hukuman yang dijatuhkan oleh pengadilan Mahkamah Templar pun akan sangat berat.

Dalam zaman Templarlah diyakini sistem organisasi Mafia modern menemukan bentuk. Dalam berkorespondensi misalnya, para Templar sudah terbiasa memakai surat yang tidak setiap orang mampu membacanya karena ditulis dengan kode-kode dan bahasa sandi.

Selain itu, banyak hal yang dilakukan Templar seperti melakukan pemerasan terhadap kaum bangsawan, raja, maupun gereja, hal itu juga ‘diteladani’ dengan baik oleh para Mafia. Ikatan kekeluargaan Templar yang begitu erat, penghormatan terhadap yang dituakan (senioritas), dan juga tradisi-tradisi tertentu yang dilakukan dengan penuh penghormatan, semua itu juga diteruskan oleh banyak organisasi Mafia sekarang ini.

Sejumlah penyelidikan atas kasus-kasus yang banyak dilakukan Mafia Itali pernah mengungkapkan bahwa organisasi ini memiliki keterkaitan dengan Freemasonry. Di tahun 1993, Commissione Parlamentare d’inchiesta sul fenomeno della mafia e sulle altre associazioni criminali similari (CPA: Commissione Parlamentare Antimafia) dalam sebuah laporan yang mengkaji hubungan antara Mafia dengan Politik menyatakan, “…Komite menemukan satu kenyataan bahwa antara Cosa Nostra (Mafia) dan institusinya memiliki keterkaitan yang sangat besar dengan Massoneria (Freemasonry)”.







Keterkaitan antara Freemasonry dengan organisasi Mafia Italia, Gangster Sisilia, dan meluas ke sejumlah organisasi teror lainnya seperti Ku Klux Klan (KKK) dan sebagainya, semuanya menunjuk sosok seorang Giuseppe Mazzini. Siapakah Mazzini ini?

Setelah Adam Weishaupt meninggal dunia pada 18 November 1830 dalam usianya yang ke 82 di sebuah kota kecil bernama Gotha, Giuseppe Mazzini menerima tongkat kepemimpinan Illuminati dari Weishaupt di tahun 1834. Giuseppe mendengar kabar bahwa menjelang kematiannya, Weishaupt telah bertobat dari segala tindakannya semasa hidupnya kepada Gereja Katolik di atas tempat tidurnya. Namun kabar ini pun masih simpang siur dan belum bisa dipercaya seratus persen.

Ketika masih kuliah di Universitas Genoa, Mazzini telah menjadi tokoh Freemasonry Italia pada derajat tertinggi yang diketahui publik. Dia bergabung dengan sebuah perkumpulan rahasia yang diistilahkan dengan sebutan “Carbonari” yang memiliki tujuan untuk meneladani Voltaire dan Revolusi Perancisnya, sekaligus menghancurkan Gereja Katolik dan semua kekristenan, dan menyatukan seluruh Italia.

Tahun 1831, Mazzini pergi ke Perancis di mana dia mendirikan “Perkumpulan Pergerakan Pemuda” yang menghimpun Giovane Italy (Pemuda Italia), Young England (Pemuda Inggris), dan sebagainya. Tahun 1837, Mazzini kembali ke Italia dan pada tahun 1848 memimpin revolusi melawan Austria.
Mazzini, yang sering juga disebut sebagai “Setan Jenius dari Italy” mencoba untuk membawa aktivitas Illuminati sampai ke Alta Vendita, sebuah Lodge tertinggi dari Carbonari. Tahun 1860, Mazzini kembali mendirikan sebuah organisasi bernama ‘Oblonica’, yang dalam bahasa latin disebut ‘Obelus’, di mana dengan kelompok ini Mazzini membentuk lingkaran dalam yang penuh kerahasiaan dan aturan yang ketat yang kini disebut sebagai Mafia.

Seribu tahun kemudian, setelah orang-orang Normandia mengusir orang-orang Arab dari Sisilia, mereka menciptakan suatu tatanan masyarakat feodal. Para penguasa lokal menyewa sejumlah kriminal untuk dijadikan penjaga atau pengawal. Peperangan di antara para tuan tanah sering terjadi dan menelan korban, baik mereka yang berperang maupun korban tak bersalah, padahal praktek feodalisme telah dilarang pada tahun 1812. Kelompok-kelompok gangster tumbuh subur dan hal ini antara lain disebabkan oleh kepentingan dari pihak tuan-tuan tanah. Mafia sendiri berasal dari akronim dari Mazzini, Autorizza, Furti, Incendi, dan Avvelenamenti. Sedangkan orangnya disebut Mafiosi atau Mafioso. Akronim itu memiliki arti sebagai ‘Mazzini mengizinkan untuk mencuri, membakar, dan membunuh’.

Organisasi Mafia ini kemudian mulai menjejakkan kakinya di Amerika pada tahun 1890-an seiring dengan dimulainya imigrasi orang-orang Italia ke daratan tersebut.

Pemimpin Mafia Italia yang melegenda, Don Vito Cascio Ferro konon menjejakkan kakinya ke AS untuk mendirikan Black Hand, organisasi rahasia kriminal yang berhubungan dengan Mafia Sisilia Di Amerika Serikat ini, CIA diketahui juga pernah bekerjasama dengan kelompok Mafia Sisilia  untuk menghubungi Saudara Tua mereka di Sisilia, Itali, agar membantu pergerakan tentara Sekutu dalam invasi ke Sisilia dalam Perang Dunia II di tahun 1943. Sebagai imbalannya, militer AS membolehkan Mafioso untuk berkuasa atas sejumlah kota penting Sisilia. (Bersambung/Rizki Ridyasmara) Sumber

Sejarah Rahasia Iluminati: P2, MAFIA, dan MOSSAD







Pada tahun 1859, Albert Pike (1809-1891), seorang pengacara dan pemimpin Scottish Rite Masonry Amerika Serikat (Pike juga sering disebut sebagai ‘Sovereign Pontiff of Universal Freemasonry,’ ‘Prophet of Freemasonry’ dan ‘Greatest Freemason of the nineteenth century’), melahirkan sebuah gagasan untuk membentuk One World Order (Satu Pemerintahan Dunia, New World Order) yang mana gagasan tersebut akan dijalankan oleh Illuminati Amerika.


Pike mengatakan bahwa mereka membutuhkan sebuah partai politik untuk bisa berlaga di dunia, dengan kedok perdamaian. Pike menyatakan, segala cara akan ditempuhnya, “…dengan corong media massa kita dan pena, dengan seluruh organisasi kita baik yang terbuka maupun yang tertutup, dengan pundit-undi uang yang kita kuasai, dan jika perlu, dengan pedang dan peperangan…”

Karena Mazzini mengobarkan revolusi di Eropa, Illuminati pun memilih memimpin ini semua dari bawah tanah. Pike mendirikan Supreme Council (Mahkamah Agung) di Charleston, South Carolina; Roma, Italy (dipimpin Mazzini); London, England (dipimpin Palmerston); dan Berlin, Jerman (dipimpin Otto von Bismarck).

Dia juga membentuk 23 Dewan Bayangan di di tempat-tempat strategis di seluruh dunia, termasuk lima Direktori Pusat (Grand Central Directories) di Washington, DC (Amerika Utara), Montevideo (Amerika Selatan), Naples (Eropa), Kalkutta (Asia), dan Mauritius (Afrika), yang mana mereka antara lain bertugas menyuplaiu data-data dan informasi yang diperlukan. Seluruh cabang dan jaringan Illuminati ini berpusat pada satu Markas Besar rahasia di mana Illuminati berasal.

Antara Mazzini dan Albert Pike, keduanya sering berkorespondensi. Beberapa surat keduanya yang diketemukan pada tahun 1949, yang antara lain berisi konsep tentang ketiga perang dunia dan dua revolusi. Perang Dunia Pertama telah memunculkan rezim komunis-atheis Rusia dan menghancurkan kekaisaran Rusia.

Perang Dunia Kedua yang diawali dengan peperangan antara Inggris dengan Jerman, telah menghancurkan Naziisme, dan kemudian menjadi sebab utama, alasan penting, untuk memunculkan suatu negara Zionis-Yahudi (Israel) di Tanah Palestina. Perang Dunia Pertama dan Kedua telah selesai dan telah mencapai tujuan yang digariskan.

Untuk Perang Dunia Ketiga, yang diawali dengan agresi besar-besaran Zionis-Israel terhadap negara-negara Arab, yang mana akan menghancurkan beberapa di antaranya akan menghantarkan dunia kepada suatu konflik puncak yang memanas yang sangat kompleks sehingga dunia akan mengalami suatu keadaan kacau yang tiada pernah terjadi (chaos) dan akhirnya semua itu akan tertolong dengan hadirnya secara terus terang Illuminati sebagai New World Order, satu-satunya penguasa dunia.

P-2, MAFIA DAN MOSSAD

Keterkaitan Mafia dengan Freemasonry juga menarik minat Harun Yahya. Dalam bukunya “The Knights Templars[1], peneliti Turki ini mengisahkan investigasi yang dilakukan dua jaksa penuntut dari Milan, Italia, pada bulan Maret 1981.

Kasus yang tengah diselidiki adalah kasus penculikan bohong-bohongan di tahun 1979 yang menyebabkan ‘hilangnya’ seorang bankir internasional kelahiran Sisilia, bernama Michele Sindona, penasehat keuangan Tahta Suci Vatikan dan yang juga diketahui memiliki jaringan ke sejumlah organisasi Mafia. Dua jaksa penuntut umum itu menemukan suatu hal yang amat menarik. Ketika Sindona tengah dalam persembunyiannya di kota Palermo, Sisilia, Sindona kemudian diketahui kabur ke Arezzo, sebuah kota yang berjarak 600 mil di utara, dan kemudian bertemu dengan pengusaha tekstil bernama Licio Gelli.

Tentu saja, Gelli kemudian ikut diperiksa atas raibnya Sindona. Tanggal 17 Maret 1979, petugas kepolisian Itali menggerebek kantor Gelli dan menemukan 962 daftar nama. Ini bukan daftar nama biasa, melainkan sebuah daftar keanggotaan dari The Propaganda Due Masonic lodge—yang biasa disingkat P2, yang mana Licio Gelli menjadi Grand Masternya.

Isi nama-nama itu sungguh membuat pihak berwenang Italia terkejut bukan kepalang, karena berisi nama-nama orang penting dan berpengaruh di negeri itu, yang antara lain berisi nama-nama tiga orang menteri, 43 anggota parlemen, beberapa Laksamana, pimpinan dari Dinas Intelijen, ratusan birokrat dan diplomat puncak, sejumlah kepala kepolisian Italia yang memegang kendali atas kota-kota besar negara itu, para pengusaha terkenal dan bankir ternama, pemimpin dari harian Italia Corriere della Sera, dan 24 jurnalis kawakan Italia, baik yang bekerja di media cetak maupun yang ada di televisi.

Di antara nama-nama tersebut, nama Michele Sindona ada di sana. Nama lainnya adalah nama seorang bankir Italia, Roberto Calvi, yang beberapa waktu lalu ditemukan tewas tergantung di sebuah jembatan di London dalam posisi tubuh yang tidak lazim, seperti usai menjalani suatu ritual Masonik. Lokasi itu sendiri berada tak jauh dari sebuah gereja tua abad pertengahan di mana dahulu digunakan sebagai salah satu markas para Templar.

Penyelidikan lebih lanjut menemukan fakta bahwa ke-962 anggota lodge Masonik itu ternyata dibagi menjadi 17 sel yang antara satu dengan yang lainnya, antara sel satu dengan sel lainnya, tidak saling mengenal. Hanya Grand Master Lucio Gelli yang mengetahui semua anggotanya. Lucio Gelli sendiri merupakan seorang militan yang ikut bertempur dalam Perang Sipil Spanyol mendukung kaum fasis yang dipimpin Benito Mussolini. Setelah itu Gelli melakukan perjalanan ke Argentina dan menemui sahabatnya, Presiden Juan Peron. Hasil penyelidikan yang dilakukan aparat penegak hukum Italia terpaksa dilakukan dengan sangat hati-hati dan ekstra rahasia.



Dari penyelidikan inilah ditemukan bukti bahwa P-2 memainkan andil besar di dalam segala kekisruhan, peristiwa kriminal, pencucian uang, dan korupsi yang tidak ada habisnya di Italia. Bahkan Lodge Masonik itu juga diketahui berdiri di belakang para Mafia Italia. P-2 bahkan diketahui juga menjalin koneksi dengan Vatikan dan CIA.

Michele Sindona sendiri, yang juga membunuh seorang pengacara Italia dan kejahatan perbankan lainnya seperti menyebabkan bangkrutnya Franklin National Bank AS, sebenarnya telah ditangkap di Amerika dan dijatuhi vonis hukuman 25 tahun. Namun karena pihak berwajib Italia juga mencarinya dan kemudian sesuai dengan perjanjian ekstradisi yang baru dimiliki AS-Italia, maka pihak berwenang Amerika pun menerbangkan Michele Sindona ke penjara di Italia.

Di dalam penjara, Sindona kemudian ditemukan telah meninggal dunia dengan secangkir kopi yang sudah diminum setengahnya. Diduga kuat, kopi itu sebelumnya sudah dibubuhi racun mematikan.  Lucio Geli sendiri juga ditangkap. Dia dijatuhi vonis hukuman penjara selama 12 tahun.

P-2 sendiri kemudian juga diketahui memiliki jaringan dengan Mossad, dinas intelijen Zionis-Israel. Sejumlah orang terkenal yang diketahui memiliki hubungan dengan P-2 adalah Henry Kissinger, Edmond de Rothschild, dan David Rockefeller. Jurnal Italia, Panorama, menulis bahwa Ellie de Rothschild-lah orang yang mendalangi penggantungan bankir Italia bernama Roberto Calvi di jembatan London.

Keterkaitan P-2 dengan Mossad dan sejumlah nama terkenal dunia juga dipaparkan oleh Victor Otrovsky dalam buku “The Other Side of Deception” (1994), yang menyusul buku Victor lainnya yang juga menggegerkan “By Way of Deception”. Ostrovsky menulis bahwa Licio Gelli merupakan kaki-tangan Mossad di Italia. Hingga kini, Mafia sebagai salah satu organisasi layar Freemasonry di Italia, dan juga di belahan bumi lainnya seperti Amerika Serikat, terus bekerja dan menjalin hubungan dengan orang-orang berpengaruh dunia, apakah itu politikus, pengusaha, penguasa, wartawan senior dunia, artis top, dan sebagainya.

Dihitung dari sudut finansial, bisnis Mafia merupakan bisnis yang mampu mengeruk keuntungan raksasa melebihi yang bisa dikeruk oleh gabungan perusahaan multitransnasional sekali pun seperti General Motors, Exxon, Ford, General Electric, dan U.S Steel bersama-sama. Sebab itu, walau pun di permukaan para penguasa kelihatannya bersama-sama memerangi kegiatan yang satu ini, namun secara diam-diam banyak penguasa yang rela menjadi pelindung dari Mafia. Zionis-Israel sebagai ‘negara’ teroris, pengejawantahan dari ‘negara’ yang berasaskan ideologi Kabbalah dan Talmud, diyakini mengeruk banyak uang haram dari bisnis kotor ini untuk membangun industri militernya. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)
————–
Dapatkan Epp Eramuslim for Android KLIK DISINI.
[1] Harun Yahya; The Knights Templars; Tentang keterkaitan Freemasonry dengan Mafia, dalam buku itu dimuat dalam Bab 3 “Templars, Revolutions, Murders, and the Mafia” di lima subjudul: An Inside Account of Jack The Ripper, Propaganda Due (P-2), The P-2’s Secret Lodge and Strange Rituals, P-2 and Mossad, dan After P-2 – P-3?


Sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template