Selasa, 31 Maret 2015

NWO Untold : Sejarah Rahasia Iluminati: United State of Mason, Salib Templar Colombus sampai Militer Swasta Warisan Templar


Dimuka kita sudah mengupas tentang kiprah Konspirasi Yahudi Internasional—apakah itu masih bernama Biarawan Sion, Ksatria Templar, maupun Freemasonry—di daratan Eropa. Padahal, kiprah Freemasonry di Amerika Serikat sebenarnya tidak kalah penting. Bahkan di Amerika Serikat inilah, Freemasonry berkembang-biak dengan amat bebas, amat cepat, dan aman. Amerika Serikat merupakan satu negara yang disengaja didirikan untuk dijadikan basis bagi kegiatan Konspirasi Yahudi Internasional.

Pernyataan ini tidaklah berlebihan jika kita melihat sejarah negara itu, siapa yang mendirikan, untuk apa, dan bagaimana lambang-lambang negara yang merupakan dasar filosofi negara tersebut. Dan di abad ke-21, hal itu terbukti, Amerika Serikat telah menjadi semacam bumper utama bagi seluruh kegiatan kaum Zionis di seluruh dunia, terlebih khusus Zionis-Israel. Bagaimana semua ini berproses?

SALIB TEMPLAR COLUMBUS

René d’Anjou (René dari Anjou) adalah seorang Nautonnier atau Grand Master Biara Sion periode tahun 1418-1480. Ia meneruskan kepemimpinan ordo tersebut setelah Grand Master sebelumnya, Nicolas Flamel meninggal dunia pada tahun 1418. Sesuai dengan tradisi Biara Sion, maka sebelum meningal Flamel telah menunjuk René sebagai penggantinya.

Di masa kepemimpinan René, lahirlah seorang bayi dari pasangan Katolik berdarah Italia-Spanyol—Dominico Colombo dan Suzanna Fontanarossa—yang diberi nama Cristoforo Colombo di kota pelabuhan Genoa, Italia, pada tahun 1451. Oleh sejarah, nama Italia itu dieja ke dalam bahasa Inggris menjadi: Christopher Columbus.

Tentang sosok René, The Holy Blood and The Holy Grail (1982) mendeskripsikan sebagai, “…lebih suka berada di istana daripada di luar istana dan berpotensi menjadi sosok pahlawan. Ia adalah seorang lelaki yang hidupnya diperuntukan bagi masa mendatang, mengatisipasi pangeran-pangeran Italia di zaman pencerahan (Renaissance). Ia juga seorang yang rajin menulis, bukunya mencerahkan. Ia merangkai puisi dan alegori mistis… René juga mendalami tradisi esoteris, dan di istananya ada seorang ahli astrologi Yahudi, Kabalis, dan ahli fisika bernama Jean de Saint Rémy, kakek dari Nostradamus.”[1]

Pada tahun 1472, saat masih berusia 21 tahun, Columbus telah dipercaya untuk mengomandani satu ekspedisi kapal pribadi ke Tunisia dari Afrika Utara. Dalam periode inilah Columbus berhubungan baik dengan René d’Anjou.  Dalam The Holy Blood and the Holy Grail bahkan dikatakan bahwa René pernah menggaji Clolumbus, yang memiliki arti bahwa Colombus pernah menjadi salah satu ‘orang suruhan’ dari René d’Anjou. Columbus sendiri menikah di tahun 1478 Felipa Perestrello e Moniz, puteri seorang pelarian Ksatria Templar di Portugis bernama Bartolomeo Perestrello.

Antara Columbus dengan mertuanya itu terjalin hubungan yang kuat dan Colombus dipersilahkan mengakses peta dan buku harian mertunya itu. Walau tidak disebutkan secara jelas dalam sejarah, Columbus diyakini juga merupakan anggota dari Ksatria Kristus (Kinghts of Christ), sebuah ordo yang didirikan pelarian Templar di Portugis dan sekitarnya, seperti halnya Vasco da Gama yang senantiasa memakai kalung Salib Templar dalam berbagai gambar dirinya.

Bisa jadi, kedekatannya pada René telah membawa lelaki ini dikenal di kalangan para bangsawan dan pihak kerajaan sejumlah kerajaan Eropa. Pada tahun 1486, Columbus mengirim surat kepada Ratu Isabella I, Ratu dari Castile, Spanyol, memohon bantuan agar sudi kiranya mendanai satu ekspedisi untuk mencari jalur terpendek ke selatan guna mencari rempah-rempah dan emas, lewat jalur Barat yang tidakpernah dilalui pelaut mana pun. Tahun 1492, Ratu Isabella I baru menyetujuinya dan memberi Columbus tiga buah kapal laut yang diberi nama Nina, Pinta, dan Santa Maria, logistik, awak kapal, dan juga prosentasi pembagian kekayaan jika ekpedisi tersebut berhasil.

Pada tangal 3 Agustus 1492, ekspedisi ini berangkat dari Palos de la Frontera, Spanyol. Columbus naik di atas kapal Santa Maria dengan 40 lelaki dewasa sebagai awak kapal. Sedangkan kapal Nina dan Pinta diawaki sekitar 20 hingga 30 lelaki. Ratu Isabela dan Raja Ferdinand V melepas ekspedisi pertama Columbus ini di pelabuhan Palos de la Frontera.

Berlayarlah tiga buah kapal tersebut menuju suatu benua baru. Columbus berlayar di bawah bendera Salib Templar, yang tercetak besar-besar di layar utama di tiga buah kapalnya.

Sehari sebelum dilepas Ratu Isabella I dan King Ferdinand, secara kebetulan pada tanggal 2 Agustus 1492, lebih dari 300 ribu orang Yahudi diusir dari Spanyol. Keesokan harinya, beberapa orang Yahudi ikut dalam ekspedisi Columbus, di antaranya Louis Torres, Alonzo de la Calle, Marco,Gabriel Sanchez, dan Bernal. Di dalam istana King Ferdinand sendiri ada sejumlah ‘Marranos’ atau orang-orang Yahudi yang masuk Katolik (karena paksaan Dewan Inkuisisi) yang berpengaruh.

Mereka antara lain Luis de Santagel, saudagar Venesia yang bertugas sebagai pemungut pajak bagi kerajaan, Gabriel Sanchez yang mejadi bendahara kerajaan, dan Juan Cabrero yang menjadi penasehat kerajaan.

Sesaat setelah surat Columbus sampai di tangan Ratu Isabella, ketiga pejabat istana ini terus mengingatkan Sang Ratu bahwa kekayaan kerajaan akan cepat habis bila harta baru tidak ditemukan, dan Columbus akan menemukan harta banyak yang bisa memperkaya kerajaan. Setelah bujuk-rayu itu berjalan cukup lama, akhirnya Sang Ratu terpengaruh bahkan menggadaikan banyak perhiasannya untuk membiayai ekspedisi Columbus.

Pada tanggal 12 Oktober 1492, Columbus mendarat di Waiting Island, Bahama. Lalu ke pulau Kuba dan Hispaniola. Dan kembali ke Spanyol. Setahun kemudian, Oktober 1943 dengan 17 kapal Columbus kembali berlayar. Misinya kali ini adalah membangun tempat-tempat perdagangan dan koloni. Ikut dengannya beratus-ratus imigran Spanyol yang banyak di antaranya orang-orang ‘Marranos’ yang merasa tidak bebas menjalankan ritual keyakinan Yahudinya di Spanyol sehingga mereka memilih ‘tanah baru’.

Dalam ekspedisi kedua, Columbus ‘menemukan’ kepulauan Puerto Rico, Virgin Island, dan Antilla. Barulah pada pelayaran ketiga tahun 1498 Columbus mendarat di Amerika dan Trinidad. Dua orang sahabatnya Yahudi Columbus, Luis de Santagel dan Gariel Sanchez diberi hak-hak istimewa oleh Columbus di daerah koloninya. Namun Bernal mengkhianati Columbus dan menghasut pemberontakan hingga Columbus kembali ke Spanyol.

Benua baru ini pun tidak dinamakan Columbus, tetapi Amerika, yang diambil dari nama seorang pelaut Italia, Amerigo Vespucci, yang menyatakan bahwa benua baru yang ditemukan Columbus bukan Asia. Columbus meninggal pada tahun 1506 dalam keadaan miskin.

Sesungguhnya, Columbus bukanlah orang Eropah pertama yang menjejakkan kaki di Amerika. Pada tahun 1269, Ksatria Templar yang berpusat di Yerusalem diyakini telah melakukan hubungan komersial dengan bangsa Indian sebagai penduduk asli Amerika dengan mengimpor perak dari Meksiko.[2] Bisa jadi, perkenalannya pada benua Amerika inilah yang menyebabkan para Templar tersebut telah mengenal tumbuhan lidah buaya dan jagung yang tumbuh di Amerika, yang kemudian dipahatkan di Rosslyn Chapel.

Pada tahun 1446 saat kapel itu dibuat, kedua tanaman tersebut belum ada di Eropa. Jadi, sebenarnya para Templarlah, orang Eropa yang pertama kali menjejakkan kakinya di Amerika, bukan Columbus.

Setelah ditemukan, orang-orang Yahudi melakukan imigrasi besar-besaran ke Amerika Selatan, terutama Brazil. Louis Torres menetap di Kuba dan membuka perkebunan tembakau yang kemudian diekspor ke Eropa dan mancanegara sehingga sekarang ia dikenal sebagai ‘Bapak Tembakau’. Tak lama kemudian terjadi perang antara Brazil dengan Belanda. Peperangan ini membuat kaum Yahudi di Brazil tidak merasa aman dan mereka kemudian pindah ke Nieuw Amsterdam, sebuah koloni Belanda yang terletak di Amerika Utara.(Bersambung/Rizki Ridyasmara)

Sejarah Rahasia Iluminati: Yahudi Pelopor Bisnis Baju Bekas 



Gubernur Jenderal Pieter Stuyvessant yang berkuasa di Nieuw Amsterdam mengetahui imigrasi orang-orang Yahudi di wilayahnya. Stuyvessant sendiri tidak menyukai kehadiran orang-orang Yahudi. Namun akibat campur tangan pemodal Yahudi internasional, Stuyvessant akhirnya mengalah dan membolehkan mereka tinggal di koloninya.

Walau demikian terhadap orang-orang Yahudi itu, Stuyvessant memberlakukan sejumlah persyaratan. Di antaranya, orang-orang Yahudi tidak boleh menjadi ambtenaar (pegawai pemerintah) dan juga dilarang berdagang komoditas tertentu. Hal ini menjadikan saudagar-saudagar itu memutar otak untuk bisa menghasilkan uang.

Saat itu, di kota baru ini juga terdapat banyak imigran Eropa yang miskin, pakaiannya lusuh dan bahkan jarang yang diganti. Akhirnya para saudagar Yahudi ini membuka sebuah usaha baru yang sebelumnya belum di kenal oleh dunia: berdagang pakaian bekas. Dan ini ternyata laku keras.

Maulani mencatat, “Adalah masyarakat Yahudi yang pertama kali menjadikan pakaian bekas sebagai komoditas perdagangan di dunia. Bisnis itu di kemudian hari mereka kembangkan ke industri pakaian murahan, yang kini dikenal dengan jenis pakaian ‘jeans’ dan ‘denim’ yang semula terbuat dari bahan kain layar (terpal) yang murah, kuat, serta tahan lama, yang terutama sekali cocok bagi pekerja di daerah pedalaman Amerika Serikat.

Salah satu nama yang kesohor hingga kini adalah Strauss Levi. Orang-orang Yahudi adalah pedagang pertama di dunia yang memperdagangkan apa saja dari barang-barang bekas, mereka adalah kaum pemulung pertama di dunia.”[1]

Nieuw Amsterdam pun menjadi pusat perdagangan pakaian bekas yang dilakukan para saudagar Yahudi. Orang-orang Yahudi menamakan kota tersebut sebagai The New Yerusalem. Tak sampai setengah abad kemudian Inggris merebut koloni itu dan mengganti nama Nieuw Amsterdam dengan New York. Hingga sekarang, New York menjadi kota dan negara bagian dengan konsentrasi orang Yahudi terbesar di seluruh Amerika Serikat. Bahkan New York mencatat sebagai kota dengan jumlah penduduk terpadat di seluruh Amerika Serikat.

Saat berlangsung Revolusi Amerika saja, jumlah mereka ditaksir sekitar empat ribu jiwa. Setengah abad kemudian jumlahnya membengkak menjadi 3,3 juta jiwa. Orang-orang Yahudi sudah terlibat dalam Perang Kemerdekaan Amerika melawan Inggris. Namun seperti yang sudah-sudah, Tentara Konstinental di bawah pimpinan Jenderal George Washington mendapat bantuan dana perang dari para saudagar Yahudi Amerika, sedangkan Rothschild mengucurkan bantuan kepada pihak Inggris. Dan yang menang perang, lagi-lagi Yahudi.

GERBANG BERNAMA DOLLAR

Ketika negara Amerikat Serikat belum terbentuk, dan bahkan Inggris belum menjadikan Amerika sebagai koloninya, orang-orang Yahudi telah ada di sana dan membantai penduduk asli Indian. Sama seperti yang dilakukan Zionis-Yahudi yang memenuhi Tanah Palestina dan membunuhi penduduk aslinya, Muslim Palestina. Christopher Columbus berlayar di bawah Salib Templar atas dana Pemodal Yahudi, Columbus juga beristerikan seorang puteri Templar, dan awaknya banyak yang Yahudi.

Tak heran, tidak lama setelah Columbus menjejakkan kakinya di Amerika, orang-orang Yahudi Spanyol dan kemudian disusul dengan Yahudi-Yahudi lainnya melakukan imigrasi memenuhi tanah Amerika, dan mengusir atau membantai penduduk aslinya, suku Indian.

Jika saja sejarah benar-benar sebuah paparan yang jujur tentang masa lampau, maka saat ini kita akan menyebut ekspedisi Columbus sebagai ekspedisi perampok dan pembunuh. Demikian pula para imigran Eropa yang datang dan mendirikan koloni di Amerika. Sejarah tidak pernah mencatat, seberapa banyak orang-orang Indian yang menemui ajal dibunuh oleh orang-orang Eropa yang mendarat di sana. Namun sejarah ternyata bukan paparan jujur tentang masa lampau, tapi kisah para pemenang, yang tentu saja merasa benar sendiri. Hal ini diabad ke-21 diteruskan oleh kelompok Zionis-Israel dan juga kaum Hawkish di Amerika Serikat yang memiliki semboyan “Mighty is the Right” atau Kekuatan adalah Kebenaran.

Jauh sebelum negara Amerika Serikat terbentuk, para Mason telah berada di daratan ini. Ketika Amerika masih menjadi 13 koloni Inggris, Benjamin Franklin mengunjungi London dan menemui sejumlah pemodal Yahudi berpengaruh di sana. Dalam pertemuan yang dicatat dalam Dokumen Senat Amerika halaman 98 butir 33 yang ditulis oleh Robert L. Owen, matan kepala komisi bank dan keuangan Kongres AS, dilaporkan bahwa wakil-wakil perusahaan Rothschild di London menanyakan kepada Benjamin Franklin hal-hal apa saja yang bisa membuat perekonomian koloni Amerika itu bisa maju.

Franklin yang masih menjadi anggota Freemasonry Inggris menjawab, “Masalah itu tidak sulit. Kita akan mencetak mata uang kita sendiri, sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan oleh industri yang kita miliki.” Rothschild segera saja mencium kesempatan besar untuk mengguk untung di koloni Inggris ini. Namun sebagai langkah awal, hak untuk mencetak uang sendiri bagi koloni di seberang lautan tersebut masih dilarang oleh Inggris. Seperti yang sudah kita singung di muka, bank sentral Inggris dan seluruh sendi perekonomian Inggris saat itu sudah dikuasai sepenuhnya oleh para pemodal Yahudi.

Amshell Mayer Rothschild sendiri saat itu masih sibuk di Jerman mengurus bisnisnya, yang salah satu cabang usahanya adalah mengorganisir tentara bayaran (The Mercenaries) Jerman bagi Inggris untuk menjaga koloni-koloni Inggris yang meluas melampaui Eropa. Usulan mencetak mata uang sendiri bagi Amerika, lepas dari sistem mata uang Inggris, akhirnya tiba di hadapan Rothschild.

Setelah memperhitungkan segala laba yang akan bisa diperoleh, demikian pula dengan penguasaan politisnya, maka Rothschild akhirnya menganggukkan kepalanya. Dengan cepat lahirlah sebuah undang-undang yang memberi hak kepada pemerintah Inggris di koloni Amerika untuk mencetak mata uangnya sendiri bagi kepentingan koloninya tersebut. Seluruh asset koloni Amerika pun dikeluarkan dari Bank Sentral Inggris, sebagai pengembalian deposito seklaigus dengan bunganya yang dibayar dengan mata uang yang baru.

Hal ini menimbulkan harapan baru di koloni Amerika. Tapi benarkah demikian? Dalam jangka waktu setahun ternyata Bank Sentral Inggris—lewat pengaruh pemodal Yahudi—menolak menerima pembayaran lebih dari 50% dari nilai mata uang Amerika, padahal ini dijamin oleh undang-undang yang baru. Dengan sendirinya, nilai tukar mata uang Amerika pun anjlok hingga setengahnya. “…Masa-masa makmur telah berakhir, dan berubah menjadi krisis ekonomi yang parah. Jalan-jalan di seluruh koloni tersebut kini tidak lagi aman,” demikian paparan Benjamin Franklin yang tercatat dalam Dokumen Kongres AS nomor 23.

Belum cukup dengan itu, pemerintah pusat Inggris memberlakukan pajak tambahan kepada koloninya tersebut yakni yang dikenal sebagai Pajak Teh. Keadaan di koloni Amerika bertambah buruk. Kelaparan dan kekacauan terjadi di mana-mana. Ketidakpuasan rakyat berbaur dengan ambisi sejumlah politikus. Situasi makin genting. Dan tangan-tangan yang tak terlihat semakin memanaskan situasi ini untuk mengobarkan apa yang telah terjadi sebelumnya di Inggris dan Perancis: Revolusi.

Sejarah mencatat, bentrokkan bersenjata antara pasukan Inggris melawan pejuang kemerdekaan Amerika Serikat terjadi pada tanggal 19 April 1775. Jenderal George Washington diangkat menjadi pimpinan kaum revolusioner. Selama revolusi berlangsung, Konspirasi Yahudi Internasional seperti biasa bermain di kedua belah pihak. Yang satu mendukung Inggris, memberikan utang dan senjata untuk memadamkan ‘pemberontakan kaum revolusioner’, sedangkan satu pihak lagi mendukung kaum revolusioner dengan uang dan juga senjata. Tangan-tangan Konspirasi menyebabkan Inggris kalah dan pada 4 Juli 1776, sejumlah tokoh Amerika Serikat mendeklarasikan kemerdekaannya. (Bersambung/Rizi Ridyasmara)

Sejarah Rahasia Iluminati: Pembunuhan Abraham Lincoln dan Federal Reserve






Merdeka secara politis ternyata tidak menjamin kemerdekaan penuh secara ekonomis. Kaum pemodal Yahudi dari Inggris masih saja merecoki pemerintahan yang baru saja terbentuk. Rothschild dan seluruh jaringannya tanpa lelah terus menyusupkan agen-agennya ke dalam tubuh Kongres.


Dua orang agen mereka, Alexander Hamilton dan Robert Morris pada tahun 1783 berhasil mendirikan Bank Amerika (bukan bank sentral), sebagai ‘wakil’ dari Bank Sentral Inggris. Melihat gelagat yang kurang baik, Kongres membatalkan wewenang Bank Amerika untuk mencetak uang. Pertarungan secara diam-diam ini berlangsung amat panas. Antara kelompok pemodal Yahudi dengan sejumlah tokoh Amerika, yang herannya banyak pula yang merupakan anggota Freemasonry, untuk menguasai perekonomian negara yang baru ini.

Thomas Jefferson menulis surat kepada John Adams, “Saya yakin sepenuhnya bahwa lembaga-lembaga keuangan ini lebih berbahaya bagi kemerdekaan kita daripada serbuan pasukan musuh. Lembaga keuangan itu juga telah melahirkan sekelompok aristocrat kaya yang kekuasaannya mengancam pemerintah. Menurut hemat saya, kita wajib meninjau hak mencetak mata uang bagi lembaga keuangan ini dan mengembalikan wewenang itu kepada rakyat Amerika sebagai pihak yang paling berhak.”

Para pemodal Yahudi pun marah bukan main mengetahui surat ini. Nathan Rothschild secara pribadi mengancam Presiden Andrew Jackson akan menciptakan kondisi Amerika yang lebih parah dan krisis berkepanjangan.  Tapi Presiden Jackson tidak gentar. “Anda sekalian tidak lain adalah kawanan perampok dan ular. Kami akan menghancurkan kalian, dan bersumpah akan menghancurkan kalian semua!”[1]

Pemodal Yahudi benar-benar marah sehingga mendesak Inggris agar menyerbu Amerika dan terjadilah perang pada tahun 1816.

William Guy Carr telah merinci kejadian demi kejadian ini dengan sangat bagus. Presiden Abraham Lincoln sendiri pada malam tanggal 14 April 1865 dibunuh oleh seorang Yahudi bernama John Dickles Booth. Konspirasi memerintahkan pembunuhan ini karena mengetahui bahwa Presiden Lincoln akan segera mengeluarkan sebuah undang-undang yang akan menyingkirkan hegemoni Konspirasi terhadap Amerika.

Si pembunuh Lincoln, Dickles Booth, berhubungan dengan Yahuda B. Benjamin, seorang agen Rothschild di Amerika. Booth sendiri tertangkap dan dihukum, sedangkan pihak Konspirasi tetap aman.

Bagi yang tertarik  mendalami masa-masa awal berdirinya negara Amerika Serikat, pertarungan antara pihak Kongres-Nasionalis dengan para pemodal Yahudi Internasional dalam menguasai perekonomian AS hingga The Federal Reserve atau Bank Sentral Amerika berdiri, yang lucunya dimiliki oleh swasta bukan pemerintah, bisa membaca buku William Guy Carr yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Pustaka Alkautsar berjudul “Yahudi Menggenggam Dunia”, sebuah buku lagi yang juga saya rekomendasikan adalah The Creature From Jekyll Island: A Second Look at the Federal Reserve (American Opinion Publishing, Inc; 1994) karya Edward Griffin, yang edisi Indonesianya telah diterbitkan oleh esok press dengan judul “Serial The Fed 1: Monster dari Jekyll Island, Sebuah Studi Mendalam Tentang The Federal Reserve” yang didistribusikan oleh LSM PaRaM.

Dalam kedua buku tersebut, kita akan bisa memahami bahwa sesungguhnya bangsa Amerika sekarang ini telah menjadi kuda tunggangan, sedang dijajah, oleh satu kekuatan bayangan yang disebut Konspirasi Yahudi Internasional. Bahkan kita akan mendapat kesimpulan yang kuat dan mengagetkan: Negara Amerika Serikat serta seluruh warganegara dan asset-asetnya sebenarnya milik dari The Federal Reserve.

Dalam salah satu kertas presentasinya, Prof. Richard Claproth menguraikan sebab-sebab kebangkrutan pemerintah Amerika Serikat berjudul “U.S Government Bankruptcy Proceedings”.[2] Walau hanya berisi pokok-pokok peristiwa, namun makalah tersebut sangat penting untuk diketahui. Inilah salinannya:
  • Sebelum tahun 1913, pemerintah Amerika memperoleh dana dari tarif impor. Pada saat itu belum ada pajak dikenakan pada warganegara. Mata uang Amerika dibuat dari logam asli atau yang bisa dihargai/dikembalikan sebagai logam—dikenal sebagai “uang asli”.
  • Pada tahun 1913 para bankers memutuskan bahwa telah terjadi kekurangan mata uang di Amerika dan pemerintah Amerika tidak bisa menerbitkan mata uang lagi karena semua emas cadangannya telah terpakai.
  • Agar ada sirkulasi tambahan uang, kelompok orang mendirikan satu bank yang dinamakan “The Federal Reserve Bank of New York”.
  • Kemudian Federal Reserve Bank di New York menjual stock yang dimiliki dan dibeli oleh mereka sendiri senilai US$ 450.000.000 melalui bank-bank sebagai berikut:
  • Rothschild Bank of London
  • Rothschild Bank of Berlin
  • Warburg Bank of Hamburg
  • Warburg Bank of Amsterdam (Keluarga Warburg mengontrol German Reichsbank bersama Keluarga Rothschild)
  • Israel Moses Seif Bank of Italy
  • Lazard Brothers of Paris
  • Citibank
  • Goldman & Sach of New York
  • Lehman & Brothers of New York
  • Chase Manhattan Bank of New York
  • Kuhn & Loeb Bank of New York.

  • Karena bank-bank tersebut mempunyai cadangan emas yang besar, maka bank tersebut dapat mengeluarkan mata uang yang dengan jaminan emas tersebut dan mata uang tersebut disebut “Federal Reserve Notes”. Bentuknya sama dengan mata uang Amerika dan masing-masing dapat saling tukar.
  • Untuk membayar bunga, pemerintah Amerika menciptakan income-tax. Jadi sebenarnya warganegara Amerika membayar bunga kepada Federal Reserve. Income tax dimulai tahun 1913, pada tahun yang sama Federal Reserve Bank didirikan. Seluruh income tax yang terkumpul dibayarkan ke Federal Reserve sebagai bunga atas pinjaman.
  • Awal tahun 1929, Federal Reserve berhenti menerima uang emas sebagai bayaran. Yang berlaku hanya ‘uang resmi’. Federal Reserve mulai menarik uang kertas yang dijamin emas dari sirkulasi dan menggantinya dengan ‘uang resmi’.
  • Sebelum tahun 1929 berakhir, ekonomi Amerika mengalami malapetaka (dikenal dengan masa ‘Great Depression’).
  • Tahun 1931, Presiden Amerika Hoover mengumumkan kekuarangan budjet sebesar US$ 902.000.000.
  • Tahun 1932 Amerika menjual emas senilai US$ 750.000.000 yang digunakan untuk menjamin mata uang Amerika. Ini sama dengan ‘penjualan likuidasi’ sebuah perusahaan bermasalah. Emas yang dijual ini dibeli dengan potongan (discount rates) oleh bank internsional/bank asing (persis keadaannya seperti di Indonesia sekarang ini), dan pembelinya adalah pemilik Federal Reserve di New York.
  • Presiden Roosevelt mengalahkan Presiden Hoover di tahun 1932. Dalam sambutannya ia mengatakan, “Satu-satunya hal yang harus kita takutkan adalah ketakutan itu sendiri.”[3]
  • Roosevelt melakukan serangkaian keputusan untuk melakukan reorganisasi pemerintahan Amerika sebagai suatu perusahaan. Perusahaan ini kemudian mengalami kebangkrutan. Amerika bangkrut karena tidak bisa membayar bunganya akibat berhutang kepada Federal Reserve.
  • Akibat bangkrutnya Amerika, maka bank-bank yang merupakan pemilik Federal Reserve sekarang memiliki SELURUH Amerika, termasuk warganegaranya dan asset-assetnya.
  • Negara Amerika bentuknya adalah anak perusahaan Federal Reserve. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)



Sejarah Rahasia Iluminati: Rakyat Amerika Dijajah The Fed


Seminggu kemudian, di Parlemen, dilakukan tuntutan impeachment terhadap anggota-anggota dari Dewan Federal Reserve, kebanyakan agen-agen Federal Reserve dan para manajer dari Departemen Keuangan Amerika dengan tuduhan “kejahatan luar biasa dan penyalahgunaan wewenang”, termasuk pencurian lebih dari US$ 80.000.000.000 pertahun selama lima tahun (total US$ 400.000.000.000!)
  • Tahun 1934 Roosevelt memerintahkan seluruh bank di Amerika untuk tutup selama satu minggu dan menarik dari masyarakat emas dan mata uang yang diback-up emas dan menggantinya dengan “seolah-olah uang” yang dicetak Federal Reserve. Tahun itu dikenang sebagai ‘Liburan Bank Nasional’.
  • Rakyat mulai menahan emasnya karena mereka tidak mau menggunakan kertas tak bernilai “seolah-olah uang”. Karena itu Roosevelt pada tahun 1934 mengeluarkan perintah bahwa setiap warganegara dilarang memiliki emas, karena illegal. Para hamba hukum mulai melakukan penyelisikan pada orang-orang yang memiliki emas, dan segera menyitanya jika ditemukan. (Catatan: Pada saat itu rakyat yang ketakutan berbondong-bondong menukar emasnya dengan sertifikat/bond bertuliskan I.O.U yang ditandatangani oleh Morgenthau, Menteri Keuangan Amerika). Hal ini merupakan perampokan emas besar-besaran yang terjadi dalam sejarah umat manusia. Tahun 1976 Presiden Carter mencabut aturan ini.
  • Tahun 1963 Presiden Kennedy memerintahkan Departemen Keuangan Amerika untuk mencetak uang logam perak. Langkah ini mengakhiri kekuasaan Federal Reserve karena dengan memiliki uang sendiri, maka rakyat Amerika tidak perlu membayar bunga atas uangnya sendiri. Lima bulan setelah perintah itu dikeluarkan, Presiden Kennedy mati dibunuh.
  • Langkah pertama Presiden Johnson adalah membatalkan keputusan Presiden Kennedy dan memerintahkan Departemen Keuangan Amerika untuk menghentikan pencetakan mata uang perak sekaligus menarik mata uang perak dari peredaran untuk dimusnahkan.
  • Pada hari yang sama Kennedy dimakamkan, Federal Reserve Bank mengeluarkan uang ‘no promise’ yang pertama. Uang ini tidak menjanjikan bahwa mereka akan membayar dalam mata uang yang sah secara hukum, tetapi mata uang ini merupakan alat pembayaran yang berlaku.
  • Presiden Ronald Reagan merencanakan memperbaiki pemerintahanh Amerika sesuai dengan aturan konstitusi. Ia ditembak beberapa bulan kemudian oleh anak dari teman dekatnya, Wakil Presiden George Bush. Reagan tidak mengeluarkan perintah baru dan pada tahun 1987 untuk melaksanakannya namun perintah tersebut tidak ditanggapi oleh pemerintah Amerika.
  • Tahun 1993, James Traficant dalam pidatonya yang terkenal di Parlemen mengutuk sistem Federal Reserve sebagai suatu penipuan besar-besaran. Tak lama setelah itu ia menjadi korban penyelidikan korupsi sekali pun tidak ada tuntutan kepadanya selama bertahun-tahun.
  • Uang dolar yang dicetak sebelum tahun 2000 tertera kata-kata Federal Reserve Bank cabang mana yang mengeluarkan dan menjamin uang tersebut. Pada cetakan tahun 2000 dalam desain mata uang yang baru hanya tertera Federal Reserve System.
  • Pada tahun 2002, Traficant akhirnya terbukti korupsi. Ia mengatakan bahwa saksi-saksi yang melawan dia semuanya dipaksa untuk berbohong. Ia juga mengeluh karena tidak diperkenankan menghubungi semua orang yang menyelidikinya, sebagai saksi.
  • Henry Ford pernah berkata, “Barangkali ada bagusnya rakyat Amerika pada umumnya tidak mengetahui asal-usul uang, karena jika mereka mengetahuinya, saya yakin esok pagi akan timbul revolusi.”
LAMBANG NEGARA MASONIK

Lambang negara mengandung dasar falsafah suatu negara. Di mana pun di dunia ini, maknanya adalah demikian, Begitu pula dengan lambang negara Amerika Serikat yang mengambil simbol Burung Elang yang mengembangkan sayap dan kedua kakinya mencengkeram anak panah dan daun zaitun. Di atas kepala burung elang tersebut, ada sekumpulan bintang yang membentuk susunan Bintang David.

Bila dicermati, lambang negara Amerika Serikat ini dipenuhi dengan berbagai simbol yang seluruhnya mengarah kepada angka 13, yang menunjukkan 13 suku Israel. Selain itu angka 13 juga merupakan angka yang penuh nuansa okultisme, dan ingat pula, ketika Inggris menjajah Amerika, jumlah koloninya pun dibagi menjadi 13 bagian. Dan tidak seperti lambang negara lainnya, lambang negara AS memiliki dua sisi, seperti koin. Kedua lambang ini dengan baik tercetak di lembaran One Dollar AS. Marilah kita cermati,

Di kedua sisi lambang negara tersebut kita akan bisa menemukan banyak simbol yang seluruhnya berjumlah 13. Inilah faktanya:
  • 13 bintang di atas kepala Elang membentuk Bintang David.
  • 13 garis di perisai atau tameng burung.
  • 13 daun zaitun di kaki kanan burung.
  • 13 butir zaitun yang tersembul di sela-sela daun zaitun.
  • 13 anak panah.
  • 13 bulu di ujung anak panah.
  • 13 huruf yang membentuk kalimat ‘Annuit Coeptis’
  • 13 huruf yang membentuk kalimat ‘E Pluribus Unum’
  • 13 lapisan batu yang membentuk piramida.
  • 13 X 9 titik yang mengitari Bintang David di atas kepala Elang.
Selain itu, di sisi belakang lambang negara AS ini, jelas-jelas berbentuk Piramida Yahudi yang lebih popular diistilahkan dengan The All Seiung Eyes Pyramid. Di dasar piramiuda terdapat angka Romawi yang jika diterjemahkan ke dalam tulisan latin memiliki makna 1776, tahun kemerdekaan negara AS. Lapisan batu yang membentuk piramida ada 13 lapis yang menyimbolkan ke-13 suku Yahudi.  Di atas puncak piramida yang belum jadi, bertahta All Seing Eyes, mata Dewa Horus, salah satu Dewa Utama dalam kepercayaan paganisme dan Kabbalah.

Sesungguhnya, lambang negara Amerika Serikat ini tidaklah demikian saat awal berdirinya. Sejalan dengan perjalanan waktu, lambang dasar negara AS awalnya selalu berubah-ubah dan baru menjadi tetap pada tahun 1935, yang antara lain di cetak dalam lembaran One Dollar AS. Inilah perjalanan lambang negara AS dari awal hingga menjadi seperti yang sekarang:

Tahun kemerdekaan Amerika Serikat memang tahun 1776 atau dalam tulisan Romawi MDCCLXXVI. Namun menurut banyak Simbolog, yakni para pakar tentang ilmu simbol, angka Romawi tersebut sebenarnya mengandung kode tersembunyi yang merujuk pada angka satanisme yakni 666.  Bagaimana membacanya? Menurut mereka, dalam nilai jumlah besar, kadangkala huruf  ‘M’ tidak disertakan dan hanya merupakan ‘penghias’. Sebab itu yang tinggal hanya DCCLXXVI yaitu D = 500, C = 100, L = 50, X = 10, V = 5, dan I = 1. Coba kita simak gambar di bawah ini:

Maka, dari penjumlahan vertikal tersebut kita akan mendapatkan angka 666 (!). Sebuah angka setan.
Sesungguhnya, dalam banyak lambang institusi negara pun, Amerika Serikat banyak memuat simbol-simbol satanisme dan ini juga diikuti oleh banyak perusahaan besar dan terkemuka AS. Semuanya mengacu pada Satanisme dan Kabbalah. Mari kita lihat kembali Simbol dari Departemen Keuangan AS di bawah ini, di mana ada tulisan ‘THE DEPARTMENT OF THE TREASURY”. Tulisan itu sebenarnya terbagi dua yaitu “THE DEPARTMENT’ dan “OF THE TREASURY”. Coba kita hitung masing-masing bagian itu :
  • THE DEPARTMENT = 13 huruf.
  • OF THE TREASURY = 13 huruf. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)

Sejarah Rahasia Iluminati: Amerika Markas Besar Kaum Kabalis 


Selain lambang negara dan Departement Keuangan AS, angka 13 ternyata juga banyak ditemukan dalam berbagai institusi resmi negara Amerika Serikat. Lihat kenyataan ini:
  • CBS        = 3 + 2 + 19 = 13
  • CNN       = 3 + 14 + 14 = 3 + 1 + 4 + 1 + 4 = 13
  • CIA         = 3 + 9 + 1 =  13
  • DHS (Department of Human Services) = 4 8 19 = 4×8 = 32-19 =13
  • FBI          = 6 2 9= 6-2=4 + 9 = 13
  • NSA       = 14 19 1 = 1+4=5 -19 = negative14+1 = negative13 (?)
  • AOL        = 1 15 12 = 1+15=16 -1= 15 – 2 = 13
  • FEMA    = 6 5 13 1 =  6-5 = 1+13 = 14-1 =13
  • EPA (Environmental Protection Agency) : 5 16 1 = 5+1=6+6=12+1=13
  • NAFTA = 14 1 6 20 1, dari belakang adalah: 1×20=20+6=26+1=27-14=13
  • NATO    = 14 1 20 15  = 14-1=13-20= negative 7-1= negative 8-5= negative 13 (?)
  • T  B  N  (Trinity Broadcasting Network), TRINITY = 20 2 14  =20-2=18-1=17=4=13
  • USA       = 21 19 1 = 2×1=2+1=3+9=12+1=13
  • NFL        = 14 6 12 12  =6=18-4=14-1=13
  • NBA       = 14 12 1  =14-2=12+1=13
Contoh di atas hanyalah sedikit dari banyak sekali institusi, lembaga, dan sebagainya di Amerika Serikat yang secara tersamar sesungguhnya bekerja ‘dalam ruh’ satanisme dan Kabbalah. Bahkan di luar Amerika, hal tersebut juga terjadi seperti KGB (Dinas Rahasia Uni Sovyet) yang memiliki angka 10 7 2, dari belakang bisa dihitung sebagai: 2×7=14-01=13

McDONALD’S BERSIMBOL 13

Angka 13 sebagai angka Okultisme, Satanisme, dan Kabbalah, ternyata mendapat tempat khusus dalam kehidupan negara dan bangsa Amerika Serikat. Dengan banyaknya angka 13 yang disimbolkan dalam lambang negara AS maka jelas memiliki makna bahwa negara AS berjiwa Okultisme, Satanisme, dan Kabbalah.

Ternyata, hal ini tidak berhenti pada simbol-simbol negara dan pemerintahan saja, tetapi juga pada simbol perusahaan-perusahaan besar Amerika. Tentunya yang banyak dikuasai pemodal Yahudi.
Dalam industri film, theater, dan hiburan secara keseluruhan misalnya, Maulani menyatakan bahwa seluruh sisi industri hiburan AS ini sepenuhnya telah dikuasai oleh pemodal Yahudi dan orang-orang Yahudi. Mulai dari penulis naskah, editor, sutradara, produser, hingga actor dan aktrisnya semuanya Yahudi. Adalah wajar jika kemudian angka 13 juga mendapatkan tempat istimewa dalam judul-judul film mereka, seperti :
  • 13 Frightened Girls (1963)
  • 13 East Street (1952)
  • 13 Floors (1991)
  • 13 West Street (1962)
  • 13 Fighting Men (1960)
  • 13 Ghosts (1960)
  • 13 Lead Soldiers (1948)
  • 13 Men and a Gun (1938)
  • Apollo 13 (1995)
  • The 13th Warriors
  • 6 Days and Seven Nights with Harrison Ford
Bahkan dalam logo-logo perusahaan ternama AS, seperti restoran ‘junkfood’ McDonald’s, Arbys, Startrek.com, Westell, dan sebagainya, angka 13 juga terlihat disamarkan. Selain angka 13, banyak pula logo-logo perusahaan Amerika yang secara menyolok seperti Logo Perusahaan CBS yang nyata-nyata menggambarkan The Horus Eyes (Mata Horus). Dairy Queen dan Logitech juga bersimbolkan Mata Horus.

Sedangkan AOL (American On-Line) berlogo Mata Horus yang berada di dalam piramida. Produsen mobil mewah Chriysler juga berlogo Dewa Ra, seorang dewa Kabbalah. Logo produsen mobil Dodge, persis dengan simbol Kepala Kambing Mendes. Lalu Proctor & Gamble juga bersimbolkan angka 13, lihat jumlah bintangnya. Dan sebuah logo yang sangat terkenal di dunia, Microsoft Window, yang bersimbolkan angka 1313, sebuah simbol Kerajaan Bisnis Rockefeller.[1]

LODGE BESAR BERNAMA WASHINGTON DC

Washington District of Columbia atau yang lebih akrab disebut Washington DC merupakan Ibukota Negara Amerika Serikat. Dalam pandangan Freemasonry khususnya dan juga Ordo Kabbalah pada umumnya, Washington DC merupakan sebuah Lodge Besar (The Great Lodge) dan penting, seperti halnya Rosslyn Chapel di Skotlandia, yang tata ruang kotanya memang menunjukkan banyak sekali nuansa Masonik (The Masonic Architecture).

Dalam sebuah halaman mengenai arsitektur Gedung Capitol (Gedung Parlemen AS) berjudul “The cornerstone [of the Capitol] was laid by President Washington in the building’s southeast corner on September 18, 1793, with Masonic ceremonies”, menyebutkan bahwa sebuah batu Masonik sengaja ditanam di Washington DC di muka Gedung Capitol dalam sebuah ritual Masonik yang dihadiri oleh Senator Strom Thurmond, seorang Mason  derajat 33, yang diikuti oleh anggota Freemason lainnya.
Penanaman batu ini dimaksudkan sebagai penghargaan atas jerih payah para Mason terdahulu yang telah membangun organisasi rahasia tersebut 200 tahun yang lalu.

Kenyataan ini bukannya tidak diketahui oleh para penduduk Washington DC. Bahkan sejumlah pemuka gereja mengajukan keberatan terhadap arsitektur Masonik yang membangun kotanya tersebut dan mendesak Dewan Kota dan juga pemerintah pusat agar merekonstruksi kembali ibukota negara ini agar sesuai dengan nilai-nilai kekristenan, bukan nilai-nilai Masonik yang sarat dengan unsur penyembahan terhadap Lucifer. Nilai-nilai Masonik yang dimaksud adalah simbol jangka dan siku, penggaris, kompas, pentagram, dan sebagainya.

Jika kita menyusuri jalan besar dari pusat keramaian Washington DC, kita akan menemukan Gedung Capitol. Tataplah Gedung Capitol dari Mall dan bayangkan jika Gedung Capitol itu merupakan sebuah kepala dari jangka,  maka tangan satunya yang sebelah kiri akan menjulur ke Pensylvinia Ave dan tangan yang kanan menuju Maryland Ave. Sedangkan simbol siku yang sangat akrab dikenal sebagai simbol Freemason akan kita temukan letaknya di St. Canal dan Lousiana Ave.

Kaki kiri siku itu mengarah ke White House dan yang kanannya ke Jefferson Memorial. Tanda lingkaran ada di sebuah jalan pendek di belakang bangunan membentuk kepala dan kuping dari simbol setan yang dikenal sebagai Kambing Mendes.

Jika kita lihat di atas sekali dari Gedung Putih ada pentagram. Puncaknya menghadap ke utara. Letaknya ada di antara jalur penghubung Connecticut dan Vermont Avenues utara ke Dupont dan Logan Circles, dengan Rhode Island dan Massachussets, ke Lingkaran Washington menuju Barat dan Mt. Vernon Square di Timur. Pentagram atau Bintang Bersudut Lima merupakan simbol Masonik dan juga aliran sihir serta kebatinan kuno. Dengan titik yang menghadap ke bawah (atau Selatan, ketika diletakkan di permukaan), ini merupakan sebuah tanda khusus bagi Satanisme. Tanda ini juga bisa kita lihat di The Satanic Bible, atau juga menjadi simbol dari Eastern Star Lodge (Lodge Bintang Timur), sebuah organisasi Mason perempuan.  (Bersambung/Rizki Ridyasmara)

Sejarah Rahasia Iluminati: Masonic Bible dan Presiden AS



Bagian tengah pentagram berada di 16th St. Tigabelas blok lurus ke utara dari pusat Gedung Putih, Masonic House of the Temple ada di atas bukit yang seolah terapung. Monumen Washington berdiri dengan sempurna dan garisnya memotong keberadaan Masonik Square, berdekatan dengan Capitol.
Daerah di segitiga siku ini ditempati oleh banyak sekali bangunan penting penentu kebijakan Amerika seperti Departemen Kehakiman, Senat Amerika, dan Kantor Pajak.

Para pemuka Kristen Amerika percaya, di setiap bangunan atau gedung pemerintahan yang sangat penting, seperti White House, Capitol, Pentagon, dan sebagainya, seluruhnya menyimpan simbol-simbol Masonik.

Batu Masonik seperti yang telah ditanam di sudut Gedung Capitol, bukanlah sebuah batu biasa, melainkan sebuah batu yang telah melalui suatu ritual Masonik tertentu sehingga diyakini membawa pesan-pesan magis khusus yang membawa ‘kebaikan’ bagi para Mason. Batu-batu sejenis juga ditanam di sudut-sudut gedung-gedung penting Amerika seperti yang telah disebutkan di atas, sebab itu batu ini dinamakan The Cornerstone Masonic.

MASONIC BIBLE DAN INAUGURASI PRESIDEN AMERIKA

Seluruh pemimpin negara-negara di dunia, juga para pejabat negara, setiap upacara pelantikan dipastikan akan mengucapkan sumpah jabatan yang dilakukan di depan sebuah kitab suci yang sesuai dengan agama yang dianut atau keyakinannya masing-masing.

Jika di negara Muslim seorang pemimpin akan menyatakan sumpah jabatannya di hadapan kitab suci al-Qur’an, dan para pemimpin negara Kristen akan mengucapkan sumpah jabatannya di hadapan Injil atau Alkitab,  maka bagaimana para Presiden Amerika Serikat mengucapkan sumpah jabatannya? Secara resmi Amerika melandasi negaranya di atas Kekristenan, namun apakah ini berarti para presidennya juga demikian?

Di bawah ini saya sertakan tabel berjudul “Bible dan Ayat Injil Yang Dipakai Presiden AS saat Inaugurasi” yang dikutip dari United States Inauguration Homepage, namun telah diperbaharui.

NAMA PRESIDEN TAHUN MENGGUNAKAN
George Washington 1789 Masonic Bible (Genesis 49:13), dibuka secara acak karena terburu-buru. 
George Washington 1793 Tidak diketahui
John Adams 1797 Tidak diketahui
Thomas Jefferson 1801, 1805 Tidak diketahui
James Madison 1809, 1813 Tidak diketahui
James Monroe 1817, 1821 Tidak diketahui
John Quincy Adams 1825 Tidak diketahui
Andrew Jackson 1829, 1833 Tidak diketahui
Martin Van Buren 1837 Masonic Bible (Proverbs 3:17)
William H. Harrison 1841 Tidak diketahui
John Tyler 1841 Tidak diketahui
James K. Polk 1845 Tidak diketahui
Zachary Taylor 1849 Tidak diketahui
Millard Fillmore 1850 Tidak diketahui
Franklin Pierce 1853 Tidak mencium Bible
James Buchanan 1857 Tidak diketahui
Abraham Lincoln 1861 Masonic Bible (Tidak diketahui)
Abraham Lincoln 1865 Masonic Bible(Matthew 7:1 dan Revelations 16: 7)
Andrew Johnson 1865 Masonic Bible (Proverbs 21)
Ulysses S. Grant 1869 Tidak diketahui
Ulysses S. Grant 1873 Masonic Bible (Isaiah 11:1-3)
Rutherford B. Hayes 1877 Bible Pribadi(Psalm 118: 11-13)
James A. Garfield 1881 Proverbs 21:1
Chester A. Arthur 1881 Bible pribadi(Psalm 31: 1-3)
Grover Cleveland 1885 Masonic Bible(Psalm 112:4-10)
Benjamin Harrison 1889 Psalm 121:1-6 
Grover Cleveland 1893 Psalm 91:12-16
William McKinley 1897 II Chron. 1:10Bible diberikan oleh Gereja Methodist
William McKinley 1901 Proverbs 16 
Theodore Roosevelt 1901 Tidak Menggunakan Bible 
Theodore Roosevelt 1905 Masonic BibleJames 1:22-23
William Howard Taft 1909 I Kings 3:9-11
Woodrow Wilson 1913 Psalm 119
Woodrow Wilson 1917 Bible pribadi (Psalm 46)
Warren G. Harding 1921 Micah 6:8(Washington Masonic Bible)
Calvin Coolidge 1923 Tidak diketahui
Calvin Coolidge 1925 John 1
Herbert C. Hoover 1929 Proverbs 29:18
Franklin D. Roosevelt 1933,1937, 1941, 1945 I Corinthians 13
Harry S. Truman 1945 Memegang Bible dengan tangan kiri dan meletakkan tangan kanannya di atas Bible yang tertutup
Harry S. Truman 1949 Matthew 5:3-11 dan Exodus 20:3-17
Dwight D. Eisenhower 1953 Psalm 127:1(Washington Bible) dan II Chronicles 7:14
(West Point Bible)
Dwight D. Eisenhower 1957 Bible Pribadi(Wespoint Bible) Psalm 33:12
John F. Kennedy 1961 Tidak diketahui
Lyndon B. Johnson 1963 Missal
Lyndon B. Johnson 1965 Tidak diketahui
Richard M. Nixon 1969, 1973 Dua Bible Keluarga, membuka Isaiah 2:4
Gerald R. Ford 1974 Proverbs 3:5-6
James E. Carter 1977 Bible Keluarga, membuka Micah 6:8
Ronald W. Reagan 1981, 1985 Masonic Bible, membukaII Chronicles 7:14
George H. W. Bush 1989 Washington’s Masonic Bible, membuka secara acak dari tengah dan bertemu dengan Matthew 5 
William J. Clinton 1993 King James (Scofiled) BibleMemberikan pada Sang Nenek, membuka Galatians 6:8
William J. Clinton 1997 Memberikan pada Sang Nenek,membuka Isaiah 58:12
George W. Bush 2001 Masonic Bible/Scofield Bible milik keluarga.
Keterangan:

Staff upacara pelantikan Presiden George Walker Bush menyatakan bahwa Bible yang ingin dipakai saat pelantikan Bush jr adalah Masonic Bible yang sama ketika Presiden George Washington dilantik pada tahun 1789, dan juga dipakai ayahnya, George Bush sr saat pelantikan dirinya di tahun 1989. Bible bersejarah itu sengaja akan dikirimkan dari tempat penyimpanannya di New York menuju Washington DC di bawah pengawalan ketat. Namun karena saat pelantikan George Walker Bush dihadang oleh sekurangnya 10.000 pendemo warga AS yang kecewa dengan kecurangan Bush atas Al-Gore di daerah pemilihan Florida (bagi yang mengetahuinya silakan lihat film dokumentasi “Fahrenheit 9/11 karya Michael Moore), maka Masonic-Bible tersebut urung dikirimkan dan Bush akhirnya terpaksa menggunakan Bible milik keluarga dalam upacara pelantikan kepresidenannya. Pelantikan Presiden Bush yang dihadang belasan ribu pendemo warga AS sendiri merupakan pertama kalinya terjadi dalam sejarah Amerika.(Bersambung/Rizki Ridyasmara)


Sejarah Rahasia Iluminati: Karpet Merah Templar






William Guy Carr mengatakan bahwa pergerakan Ordo Kabbalah, nama sejati kelompok iblis yang selalu mengganti-ganti nama sesuai dengan zamannya, dan di abad ke-20 lebih popular dengan sebutan kelompok Zionis, senantiasa mengambil markas utama di negara-negara terkuat dunia. Mereka pernah “bersarang” di Inggris, lalu Perancis, kemudian setelah Pramida Masonik bernama United States of America berdiri, mereka pun menempati markas besarnya di sini dan menjadikannya basis pergerakan untuk menciptakan The New World Order.


Berdirinya dan ditaklukkannya Amerika bagi kelompok rahasia ini menjadi semacam ‘The Red Carpet” yang diyakini mampu menghantarkan Ordo Kabbalah menjadi Raja Dunia dan Raja Manusia. Talmud sendiri mengatakan bahwa hanya kaum Yahudi-lah manusia, sedangkan mereka yang non-Yahudi bukan manusia melainkan para budak (Ghoyim atau Gentiles) yang diciptakan Yahweh untuk menjadi pelayan kaum Yahudi.

Di mata kaum Yahudi, kaum Gentiles bisa dan bebas diperlakukan apa saja, bahkan dibunuh tanpa alasan sekali pun.

Dengarlah apa kata Talmud tentang manusia non-Yahudi: “Hanya bangsa Yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang di luar itu bukanlah manusia, melainkan binatang” (Kerithuth 6b, Jebhammoth 61a).  “Orang-orang bukan Yahudi diciptakan sebagai budak untuk bekerja melayani bangsa Yahudi” (Midrasch Talpioth 225).

Ayat-ayat setan seperti ini bertebaran mengisi helai demi helai Talmud yang dipercaya orang-orang Yahudi sebagai perkataan lisan Nabi Musa a.s. kepada mereka.

Untuk mencapai puncak kekuasaan atas seluruh dunia, kaum Zionis harus menghancurkan seluruh halangan yang ada.

Konspirasi pertama mereka adalah dengan membunuh para Nabi Allah SWT seperti yang menimpa Nabi Zakaria a.s., Isa a.s., dan lainnya. Lalu menyusupkan dua agen Yahudi mereka ke dalam dua agama wahyu yang ada, yakni Paulus ditugaskan untuk merusak ajaran Nabi Isa a.s., dan Abdullah bin Saba kebagian merusak Islam.

Mereka kemudian merusak Perjanjian Aelia yang telah disepakati antara kaum Muslimin yang diwakili Khalifah Umar bin Khattab r.a. dengan perwakilan umat Kristen Uskup Sophronius atas Tanah Suci Yerusalem. Mereka menyusupkan Peter The Hermit untuk menghasut Paus Urbanus II untuk mengakhiri perdamaian dengan kaum Muslimin dan mengobarkan Perang Salib merebut Yerusalem.

Di Tanah Suci Palestina, mereka yang memakai kedok Ordo Biara Sion dan Ksatria Templar, berusaha membangun pusat kegiatan di satu tempat yang mereka yakini bekas berdirinya Haikal Sulaiman. Ksatria Templar diam-diam terus melakukan pencarian atas sejumlah benda yang dianggap memiliki nilai mistis yang amat tinggi dengan melakukan penggalian di tanah tersebut. Namun, belum lagi rencana itu tercapai sepenuhnya, pasukan kaum Muslimin yang dipimpin Salahuddin Al-Ayyubi berhasil merebut kembali Yerusalem dan bahkan seluruh Tanah Palestina, sehingga seluruh rencana yang telah disusun masak akhirnya berantakan. Mereka pun angkat kaki dari Palestina dan kembali ke Daratan  Eropa.

Di Eropa, Ksatria Templar yang kaya raya tidak bisa lagi merayu raja-raja Kristen untuk kembali berperang merebut Yerusalem. Para Templar ini kemudian berubah menjadi rentenir yang rakus dan sombong. Sikap mereka yang sangat congkak menyebabkan banyak raja dan kaum bangsawan yang tidak menyukai mereka.

Apalagi menurut kabar yang beredar, para Templar itu sering menyelenggarakan ritual-ritual aneh yang berlawanan dengan sikap Gereja. Adalah Raja Perancis, Phillipe le Bel yang memelopori upaya penumpasan Templar dengan bantuan Paus Clement V. Ketika Grand Master Ksatria Templar Jacques de Molay di baker hidup-hidup, maka tumpaslah Templar di seluruh Eropa. Demikian mudahkah? Ternyata Tidak.

Dari Perancis, para Templar belarikan diri dan bersembunyi di banyak negara Eropa. Skotlandia merupakan salah satu tujuan utama mereka karena Raja Robert the Bruce berada di luar pengaruh Paus. Di Portugis mereka mengganti nama menjadi Knights of Christ, di Jerman mereka memakai nama Ksatria Teutonik, sedang yang bersembunyi di Malta berganti baju menjadi Knights of Malta.

Secara resmi nama ‘Ksatria Templar’, tidak lagi dipakai. Mereka kebanyakan mengganti nama menjadi Freemason, setelah menguasai Mason, serikat tukang batu, yang ada di Skotlandia. Walau telah bernama Freemason, namun mereka tetap mempertahankan tingkatan-tingkatan keanggotaan, pola-pola ritual dalam berbagai hal, dan gelar-gelar yang telah ada sebelumnya.

Di Skotlandia, para pewaris Templar ini kemudian mulai ‘menggerayangi’ pusat kekuasaan hingga menaklukkannya. Revolusi Inggris pun meletus. Setelah pengalaman pertama dengan Revolusi Inggris dan belajar dari berbagai kekuarangan yang ada, mereka kemudian mengarahkan konspirasinya ke Perancis. Salah satu agenda besar mereka adalah membalas dendam terhadap Raja Perancis dan Gereja.

Bukan suatu kebetulan jika kekuasaan monarki sering didukung penuh oleh Gereja. Sebab itu, langkah awal adalah menghancurkan bentuk kekuasaan Monarki, yang dengan sendirinya ikut menghantam Gereja. Siapa yang menjadi tujuan utama mereka? Siapa lagi kalau bukan Raja Perancis. Lewat operasi penyusupan dan klandestin, para Mason ini berhasil mengobarkan Revolusi Perancis. Dendam mereka kepada King Phillipe le Bel akhirnya terbayarkan.

The Holy Blood and The Holy Grail mencatat, “Banyak anggota Freemason Perancis yang ketika berkomplot melawan Raja Louis XVI, kemudian merasa bahwa mereka tengah membantu mewujudkan kutukan Jacques de Molay saat menjelang ajalnya; dan ini terjadi pada keturunan raja-raja Perancis.

Ketika kepala raja itu jatuh di bawah pisau guillotine, seorang lelaki tak dikenal telah loncat di atas perancah. Ia lalu mencelupkan tangannya ke dalam genangan darah raja, mengayunkannya pada kerumunan orang sambil berteriak, ‘Jacques de Molay, kau sudah terbalaskan!’”[1]

Sebelumnya, para Mason ini tertarik dengan informasi yang diperoleh tentang daratan baru yang ditemukan Columbus, maka sebagian dari mereka melakukan imigrasi ke Amerika dan secara perlahan namun pasti mulai menancapkan kuku kekuasaannya di sana. Sejak awal mereka sudah menginginkan agar benua baru tersebut bisa dijadikan markas besar segala aktivitas mereka di dunia. Dan kelak hal ini terbukti.

Emas, Senjata, dan Propaganda, merupakan tiga buah ujung tombak mereka dalam penguasaan dunia. Dengan ketiganya mereka telah berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan dan banyak pemerintahan dunia. Ketiga hal ini sesungguhnya berasal dari ‘warisan’ para Templar. Bagaimana perkembangannya sekarang?

MERCENARIES, BISNIS PARA TEMPLAR

Di muka kita telah membahas peran para pemodal Yahudi Internasional dalam ‘membeli’ pemerintahan atau  bahkan sebuah negara. Dengan ‘emas’, mereka bisa berbuat sekehendak hatinya. Namun pihak Konspirasi tidak berhenti pada emas, mereka juga akan menggunakan alat-alat penekan lain jika senjata yang pertama ini tidak ampuh, seperti yang telah terjadi saat menghadapi Sultan Abdul Hamid II yang memimpin Kekhalifahan Turki Utsmaniyah dengan penuh keberanian dan ketegasan dalam memegang amanah.

Jika emas tidak ampuh, maka senjata yang kedua pun dipakai: Tentara, satu bidang yang inheren dengan fungsi asli Ksatria Templar sebagai Ordo Khusus Militer. Sebab itu, bidang kemiliteran ini pun menjadi bidang garapan utama Konspirasi.

Dan seperti biasa, Militer yang dimaksud di sini dan menjadi bidang garapan mereka ada dua cabang: Militer profesional yang menjadi alat pertahanan dan keamanan suatu negara, yang ini bersifat resmi, dan yang kedua, Militer yang lebih bersifat bisnis dan menghasilkan uang, yang bisa bekerja apa saja dan untuk siapa saja asalkan pihak yang memesan atau menugaskannya bisa membayar mereka sesuai kesepakatan. Tidak ada tariff resmi dalam bisnis ini. Yang kedua ini kita sering mengenalnya sebagai Tentara Bayaran (The Mercenary), termasuk juga bisnis Mafia. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)



Sejarah Rahasia Iluminati: Templar dan Pasukan Tentara Bayaran






Istilah Mercenary  sekarang sudah mengalami penghalusan dan diucapkan dengan bisik-bisik. Mungkin karena istilah tersebut sekarang berkonotasi buruk disebabkan banyak skandal yang melibatkan mereka, maka istilah itu kemudian diperbaharui. Bagi pihak-pihak yang sering berhubungan dengan dunia kemiliteran, mereka mau tidak mau juga harus bersinggungan dengan bisnis ini.


Bahkan di beberapa negara, pembelian senjata dan segala perangkat pendukungnya, banyak yang memakai jasa perusahaan-perusahaan yang sebenarnya bergerak di dalam bisnis Mercenary. Perusahaan-perusahaan pengerah Tentara Bayaran ini sekarang lebih dikenal dengan sebutan PMC (Private Military Company). Bagi mereka, dengan menggunakan jalur PMC, pesanan lebih cepat tiba dan biasanya juga tidak perlu banyak persyaratan administrasi yang harus dipenuhi seperti halnya jika menggunakan jalur resmi.

Terkait dengan Ksatria Templar, banyak peneliti meyakini bahwa selain mewariskan sistem perbankan ribawi (Usury), para Templar juga mewariskan sistem kemiliteran dan juga bisnis kemiliteran yang telah berkembang dengan amat pesat sekarang ini.

Bahkan ada yang menganggap bahwa dari para Templarlah cikal bakal pasukan khusus (komando) dibentuk, yakni satuan-satuan kecil yang bergerak dengan senjata dan logistik yang seadanya dan seminim mungkin, namun berkat keterampilan tempur yang dimiliki mampu menembus jantung pertahanan lawan dan menghancurkannya dengan daya rusak yang amat dahsyat.

Rotshschild sendiri juga pernah mengelola bisnis Tentara Bayaran ini dari Jerman di abad ke-20 dengan kerajaan Inggris sebagai konsumen utamanya. Sebenarnya apa dan bagaimana Tentara Bayaran itu?

SEJARAH MERCERNARY

Ksatria Templar memang bukan pihak pertama yang “menciptakan” Tentara Bayaran. Namun moyangnya Ksatria Templarlah, para pemimpin Ordo Kabbalah, yang diketahui pertama kali menggunakan bisnis penuh darah ini.  Adalah Raja Mesir Kuno bernama Firuan Ramses II, ketika menyerang Kerajaan Hittite yang dipimpin King Muwatalis, menggunakan jasa tentara bayaran. Battle of Kadesh (1294 SM), yang terjadi antara kedua kerajaan itu berlangsung sangat dahsyat, melibatkan tak kurang dari 6.000 kereta perang berkuda (chariot) dan pasukan pejalan kaki (infanteri).

Menurut kelaziman yang ada saat itu, para tentara dari kasta yang lebih tinggilah yang berhak menggunakan kereta perang. Kereta perang yang bentuknya sangat mirip dengan kereta berkuda yang dinaiki Ben Hur itu sudah diperlengkapi dengan berbagai jenis senjata seperti pedang dan panah. Dalam format pertempuran, satu kereta perang selalu dikawal oleh lapisan pasukan infanteri yang dilengkapi dengan unit pemanah, tombak, dan petarung jarak pendek seperti kapak atau pedang.

Pasukan infanteri ini direkrut dari kalangan bawah, para petani yang dilatih militer dan orang-orang kebanyakan. Untuk keperluan pasukan infanterinya, Firaun Ramses II, merekrut tentara bayaran yang terdiri dari orang-orang Palestina (Filistin) sebanyak 10.000 orang yang memang terkenal karena keberanian dan keterampilannya dalam pertempuran satu lawan satu.

Selain Mesir Kuno, kerajaan Assyria yang mempersatukan Mesopotamia pada 1100-600 SM, juga menggunakan tentara bayaran dari suku Akkad (Suriah), yang juga termasyhur karena keberanian dan keterampilan bertempurnya bisa disandingkan dengan orang-orang Filistin.

Menurut catatan dari Ensiklopedia Wikipedia, juga diketahui bahwa sejumlah tentara bayaran dari Yunani telah bekerja untuk Imperium Persia selama beberapa waktu. Raja Persia, King Xerxes I saat menginvasi Yunani di tahun 500-an SM memperkuat balatentaranya dengan sejumlah tentara bayaran asal Yunani seniri yang dipimpin oleh Demaratus. Begitu pula raja-raja dari kerajaan-kerajaan lainnya, banyak yang menggunakan jasa tentara bayaran, umumnya dalam peperangan, termasuk Imperium Romawi.

Walau jasanya banyak dipakai dan menerima bayaran yang cukup tinggi, kesetiaan tentara bayaran tidak bisa seratus persen dipercaya. Tahun 476 M, seorang pemimpin Foederati—salah satu kelompok tentara bayaran yang bekerja untuk Imperium Romawi—bernama Odovacar bersama pasukannya menyerang Kaisar Romawi, Romulus Augustulus, dan menurunkannya dari  tahta kerajaan. Konon, Odovacar-lah orang yang mengakhiri kejayaan Imperium Romawi.

Tentang sifat jelek tentara bayaran ini, Niccollo Machiavelli[1], secara khusus membahasnya dalam satu bab Il Principe. Menurut Machiavelli, “Tentara bayaran dan pasukan bantuan tidak ada gunanya dan berbahaya. Kalau seorang raja mengandalkan pertahanan negaranya pada tentara bayaran, ketenangan dan keamanan tak pernah akan dicapainya. Karena pasukan bayaran sifatnya tidak pernah bisa dipersatukan, haus akan kekuasaan, tidak memiliki disiplin, dan tidak setia. …Usaha yang dilakukan para tentara bayaran itu ialah pertama-tama mencari nama bagi pasukannya sendiri dengan merendahkan angkatan darat. Hal ini mereka lakukan, karena mereka orang-orang yang tidak mempunyai negara dan berjuang semata demi uang.”[2]

Bisnis tentara bayaran yang berasal dari Mesir Kuno dikemudian hari menemukan bentuknya di dalam wujud Ksatria Templar, yang bahkan diresmikan oleh Paus sebagai salah satu ordo gereja yang khusus, yang hanya berada dalam lingkup kemiliteran saja, dan tidak bertanggungjawab kepada siapa pun, baik raja maupun gereja, selain kepada pribadi Paus itu sendiri.

Jatuhnya Yerusalem dan bahkan seluruh Tanah Palestina ke tangan kaum Muslimin membuat Templar kehilangan ‘pekerjaan’nya. Apalagi para raja dan bangsawan Eropa sudah tidak tertarik lagi menyusun kekuatan perang untuk merebut kembali Yerusalem. Jadilah ordo militer yang kuat, kaya raya, dan memiliki jaringan di banyak negara Eropa ini terlunta-lunta, tidak punya pekerjaan.

Mereka pun kemudian melakukan ‘diversifikasi’ yang antara lain mulai secara aktif mengincar kekuasaan lewat penyusupan dan organisasi mantel rahasia bernama Freemasonry, juga dengan jubah Knight of Christ, Knight of Malta, dan kemudian Illuminati.

Di sayap satunya, Templar tetap mempertahankan diri sebagai kumpulan tentara yang selalu siap untuk melakukan pertempuran di mana saja, demi uang maupun demi konsensi kekuasaan, dan bahkan kemudian mengembangkan satu industri perang yang mencakup banyak hal yang berhubungan dengan kemiliteran, seperti tentara bayaran, pelatihan pasukan kerajaan atau suatu negara, penasehat militer, dan juga produksi alat-alat perang.

Ini semua dilakukan Templar agar tetap eksis dan tetap berjuang guna menggapai tujuan akhirnya, sebuah tujuan yang telah ditetapkan beribu tahun lalu oleh Ordo Kabbalah: menjadi pemimpin New World Order.

The Holy Blood and The Holy Grail menulis, “Biara Sion (organisasi induk Ksatria Templar, penulis) tidak mungkin terus kekau dan utuh sepanjang sejarah tanpa menyesuaikan diri dengan zaman. Sebaliknya, mereka terpaksa berubah secara periodis, mengubah diri dan kegiatan, menyesuaikan diri dan tujuan, dengan mempertimbangkan pergerakan kemajuan dunia. Mereka telah mengganti kuda mereka dengan tank dan mobil-mobil bersenjata. Untuk menyesuaikan diri dengan waktu dan menguasai teknologi, Sion mengaku setara dengan Gereja Katolik Roma; atau bisa jadi, dalam bentuk organisasi yang dikenal sebagai Mafia. Kami tentu saja tidak melihat Biara Sion sebagai penjahat konyol. Tetapi, setidaknya Mafia memberikan contoh tentang bagaimana sebuah organisasi menyesuaikan diri dari masa ke masa, sehingga dapat bertahan dan menghimpun kekuatan.”[3]

Berabad kemudian, fungsi Templar berubah hanya menjadi ‘satu divisi’ kekuatan Konspirasi yang terus bergerak secara rahasia. Selain menjadi kekuatan pemukul dari Konspirasi, Templar yang bukan lagi Templar menjadi mesin raksasa penghasil uang dan dana kegiatan lewat pengembangan industri perangnya.

Lahirlah apa yang di abad ke-21 ini kita kenal dengan sebutan Private Military Company (PMC). Sebuah perusahaan raksasa yang walau pun keberadaannya dekat sekali dengan pusat kekuasaan, bahkan dimiliki oleh orang-orang yang berkuasa, namun masih saja menimbulkan kerisihan jika secara terang-terangan ada yang menyebutnya. (Bersambung/rizki Ridyasmara)


Sejarah Rahasia Iluminati: Bisnis Industri Perang






Dewasa ini, tidak ada satu pun kegiatan Konspirasi yang tidak menggunakan jasa ‘Divisi’ Private Military Company. Setelah United State of Mason bernama Amerika Serikat terbentuk dan menjadi satu-satunya adi daya, semua aktivitas Gedung Putih senantiasa menggunakan jasa mereka. Terlebih dengan terbongkarnya mega skandal Iran Contra yang melibatkan sejumlah pejabat top di Gedung Putih di era 1980-an, termasuk Presiden Ronald Reagan.


Kasus Iran Contra merupakan sebuah kasus penjualan senjata yang dilakukan pemerintah AS ke Iran yang sebagian keuntungannya dialirkan ke kantong Gerilyawan Contra di Nicaragua. Hal ini berawal dari peristiwa penyanderaan 52 warga AS yang berlangsung sejak 1 November 1979 di Gedung Kedutaan Besar AS di Teheran, Iran.

Pemimpin Iran yang baru saja naik tahta, Ayatollah Khomeini, berada di belakang penyanderaan tersebut. Saat itu, Presiden AS Jimmy Carter yang tengah berkampanye untuk memenangi pemilu keduanya, memerintahkan agar diadakan sebuah operasi pembebasan bagi penyanderaan tersebut. Namun operasi pembebasan yang bersandi Eagle Claw yang dilancarkan pada bulan April 1980 gagal total sebelum sampai di Teheran. Helikopter tempur yang penuh berisi pasukan elit Delta Force mengalami kecelakaan di wilayah gurun sebelah timur Iran. Delapan serdadu pasukan elit itu tewas. Jelas, popularitas Jimmy Carter jatuh di mata rakyat AS.

Diam-diam, pesaing utamanya dalam pemilu presiden AS, Ronald Reagan, setelah melihat kegagalan Carter berinisiatif untuk membentuk satu tim khusus yang akan membebaskan warga AS tersebut secara rahasia. Operasi rahasia ini bukan operasi tempur, melainkan sebuah lobi tingkat tinggi.

Reagan mengontak Iran dan mengatakan bahwa AS akan melakukan barter, jika ke-52 warganya dibebaskan maka AS akan memberi Iran sejumlah senjata antitank untuk menghadapi Irak dan uang tunai sebesar 40 juta dollar AS.

Tergiur oleh tawaran serius yang diajukan utusan Reagan, Iran pun melepaskan sandera tersebut. Simpati rakyat AS beralih penuh kepada Reagan dan memenangi pemilu presiden mengalahkan Carter. Tepat di hari pelantikan Reagan, 20 Januari 1981, ke-52 warga AS yang disandera Iran tiba di AS dengan selamat. Reagan telah menjadi pahlawan bagi rakyat Amerika.

Namun orang-orang yang tidak menyukai Reagan, termasuk Tim Sukses Jimmy Carter, pada akhirnya mencium aroma tak sedap di balik kesuksesan Reagan membebaskan ke-52 sandera tersebut. Secara intensif mereka menggelar pengusutan rahasia yang akhirnya menggelinding bagai bola liar yang menyeret sejumlah petinggi Gedung Putih ke pengadilan.

Salah satu kabar yang berhembus kencang adalah George H. Bush dan William Casey selaku Manager Tim Sukses Reagan menemui PM Iran Bani Sadr di Paris soal negosiasi senjata gelap. Richard Brenneke, anggota tim sukses Reagan yang juga mantan agen CIA, membantah kabar itu di pengadilan, walau sebenarnya kejadian itu benar-benar terjadi. Setelah melewati banyak sekali tahap pemeriksaan dengan ratusan saksi, pengadilan AS akhirnya berhasil menyingkap skandal itu dan 176 tokoh politik utama di AS dianggap terlibat.

Kasus itu ditutup semasa Presiden Bill Clinton. Dengan alasan nasionalisme, maka ke-176 orang tersebut lalu dibebaskan. Walau demikian, menurut kelaziman hukum yang ada harus tetap ada yang masuk penjara, maka Letkol Oliver North pun dikorbankan dengan dakwaan menjual senjata secara gelap ke Iran dan menyalurkan dana hasil penjualan senjata itu ke Gerilyawan Contra di Nicaragua.

Pemerintah AS belajar banyak dari skandal Iran Contra tersebut. Sejak itu, timbul pemikiran bahwa terlalu beresiko jika pemerintah terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan beresiko tinggi seperti yang telah terjadi dalam Iran Contra. Menggunakan badan intelijen resmi pun resikonya sama. Sebab itu, dibutuhkan pihak ketiga yang bisa menjadi perpanjangan tangan pemerintah tetapi secara institusi terpisah dari pemerintahan.

Maka dari pemikiran itulah kemudian timbul gagasan untuk membentuk Private Military Company (PMC) yang dikelola oleh para mantan pejabat militer dan anggotanya juga mantan tentara.  Dengan adanya PMC, pemerintah atau pihak-pihak yang berkepentingan tinggal mengorder sesuatu, seringkali inipun dilakukan oleh ‘tangan lain’, dan membayarnya, setelah itu tinggal menunggu laporan bahwa misi sudah selesai dari PMC yang ditugaskan.

Amerika sendiri diketahui banyak sekali memakai jasa PMC dalam proyek-proyek pengamanan, utamanya di wilayah luar Amerika seperti Irak, Afghanistan, dan sebagainya.Rezim George Walker Bush dianggap sebagai rezim yang paling banyak memakai PMC dan berperan besar dalam perkembangan bisnis pewaris Templar ini[1].

Wakil Presiden Dick Cheney, salah satu penggagas utama Doktrin Pax Americana (The New World Order dalam nama lain) dan ‘Dewa Perang Gedung Putih’, merupakan mantan CEO Halliburton, sebuah PMC yang paling makmur dan paling besar di AS, bahkan dunia.

Selain itu, berakhirnya perang dingin di era 1980-an yang disebabkan runtuhnya imperium blok timur dengan pecahnya Uni Sovyet menjadi negara-negara kecil dan juga diikuti oleh negara-negara blok komunis di Eropa Timur, dengan sendirinya hal ini menyebabkan ratusan ribu tentara Amerika yang ditempatkan di pos-pos luar negeri di negara-negara anggota NATO menjadi menganggur alias tidak punya pekerjaan.

Keadaannya serupa saat Ksatria Templar kembali ke Eropa setelah terusir kalah dari pasukan umat Islam di bawah pimpinan Salahuddin al-Ayyubi. Akibat berakhirnya perang dingin, jumlah tentara AS yang tadinya sekira 1,5 juta personil akhirnya harus dipangkas setengahnya.

Pemerintah AS menganggap wadah PMC adalah wadah yang tepat untuk menampung 750-an ribu tentara regular yang diberhentikan. Di PMC-PMC yang menampung mereka, para mantan tentara ini mendapatkan gaji dan fasilitas yang kurang lebih sama seperti ketika masih bertugas di dinas ketentaraan resmi, bahkan banyak dari mereka yang menerima lebih baik.

Pemerintahan Presiden Xanana Gusmao di Timor Loro Sae agaknya tidak belajar dari pengalaman Amerika Serikat ini di dalam menangani bekas anggota tentaranya, sehingga terjadi kerusuhan besar saat pemerintah Timor Loro Sae memangkas jumlah tentaranya tanpa memberi mereka lapangan pekerjaan yang layak dan sesuai dengan kegemaran mereka, berperang.

Di bawah ini merupakan beberapa PMC ternama dunia yang banyak di antaranya bermarkas besar di Amerika Serikat,

HALLIBURTON. Berawal sebagai perusahaan jasa pengolahan minyak dan gas bumi di tahun 1919. Lantaran banyak kilang-kilang minyak dan gas bumi yang juga harus dijaga, di kemudian hari perusahaan ini juga bergerak di bidang pengamanannya. Gedung Putih juga menjadikan Halliburton sebagai rujukan pertama bagi para mantan tentara AS yang terkena perampingan organisasi setelah era perang dingin usai. Halliburton bukan lagi perusahaan jas apengolahan minyak dan gas bumi biasa, tetapi sudah melebar menjadi perusahaan penghimpun dan pengerah tentara yang dibayar untuk melakukan tugas-tugas apa pun di seluruh dunia.

Antara tahun 1962 sampai 1972, Halliburton mengarap proyek Pentagon untuk membuat jalan, lapangan terbang, dan pangkalan militer di Vietnam Selatan, dari daerah demiliterisasi hingga ke Delta Mekong, dengan nilai proyek mencapai 10 juta dollar. Halliburton kemudian juga mendapat proyek dari pihak yang sama untuk membangun pangkalan militer AS di sebuah kepulauan kecil di Samudera Hindia yang terletak di selatan India yang kemudian dinamakan Diego Garcia Base. Saat tsunami melanda Aceh di penghujung tahun 2004, pangkalan militer Diego Garcia terkena dampaknya walau tidak sampai parah.

Tahun 1992 Pentagon melakukan order senilai sembilan juta dollar kepada perusahaan ini untuk melakukan studi kelayakan bagi dukungan kepada tentara AS di luar negeri, utamanya di Irak. Tugas ini rupanya mendapatkan hasil yang bagus, terbukti tak lama setelah itu Halliburton kembali mendapatkan kontrak dari Pentagon senilai 2,5 juta dollar untuk proyek pembangunan pangkalan militer di sejumlah lokasi yang dirahasiakan. Sebelumnya, di Balkan, anak perusahaan Halliburton, Kellog Brown and Root, mendapat megaproyek senilai 2,2 miliar dollar. Ini mungkin proyek terbesar yang pernah didapatkan PMC-PMC dunia mengingat data yang pasti tidak tersedia. [](Bersambung/Rizki Ridyasmara)

[1] Murray Horton; The Privatisation of War; Peace Researcher; 29 Juni 2004.



Sejarah Rahasia Iluminati: Militer Swasta Warisan Templar






Keberhasilan Halliburton mendapatkan proyek-proyek besar dari Pentagon tidak terlepas dari sosok CEO-nya yang juga orang-orang berkuasa di Gedung Putih dan Pentagon. Sebut saja Dick Cheney yang pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan AS di era 1989-1993 dan sekarang menjadi wakil dari Presiden George W Bush. Lalu David Gribbin, deputi Cheney di Pentagon, juga pimpinan Halliburton. Sekarang ini, jumlah personil mereka berjumlah 100 ribuan orang dan tersebar di berbagai proyek di 120 negara. Keberadaan mereka bisa diakses di dalam halliburton.com.


BLACKWATER SECURITY CONSULTING. Biasa disingkat Blackwater saja. Blackwater merupakan model PMC yang paling modern. Blackwater memiliki fasilitas paling luas, lengkap, dan modern. Fasilitas seluas 2.400 hektar are itu berada di California Utara, berdekatan dengan lokasi pelatihan tentara AS, Fort Bragg. Blackwater memiliki sendiri sejumlah areal latihan tembak modern, dan bahkan miniatur kota sebagai tempat latihan perang kota. Tak heran jika tentara AS sendiri sering berlatih di fasilitas milik Blackwater ini.

Blackwater didirikan oleh seorang mantan pasukan elit AL-AS di tahun 1996 dan kini telah memiliki tak kurang dari 50.000 personil tempur yang siap diterjunkan kemana saja. Di antara PMC lainnya, Blackwater dikenal sebagai sarangnya para tentra bayaran. Anggota mereka tidak saja terdiri dari orang Amerika, tetapi juga dari para mantan pasukan elit dunia seperti SAS Inggris, dan sebagainya.
Nama Blackwater sempat jadi perbincangan dunia tatkala empat personilnya yang tengah bertugas di Irak diserang oleh gerilyawan Irak pada tanggal 31 Maret 1994, dan mati secara mengenaskan:
dibunuh, dibakar, dipotong-potong, lalu mayatnya digantung di atas besi jembatan Sungai Euphrat. Mereka tengah mengawal konvoi kendaraan. Kematian keempat personil Blackwater ini beberapa hari kemudian dibalas oleh pasukan reaksi cepat Blackwater, tanpa meminta bantuan dari tentara regular AS.

Tewasnya empat personil Blackwater: Wesley Batalona, Michael Teague, Jerry Zovko, dan Scott Hendelson, dengan cara yang sadistis oleh sejumlah analis dianggap sebagai puncak kekesalan warga Irak terhadap keberadaan mereka. Bagaimana tidak, dibanding tentara regular AS yang tingkahnya saja sudah bikin muak, tingkah polah tentara PMC ini lebih dari itu. Dengan memakai kacamata hitam Oakley, mereka sering petantang-petenteng seperti koboi di mana pun mereka berada. Bahkan tak jarang, sembari mengemudikan jeep atau Humvee dengan kecepatan tinggi, mereka mengarahkan moncong senjata apinya ke kerumunan tentara regular AS seraya tertawa-tawa. Banyak tentara AS yang tidak suka keberadaan tentara swasta ini yang dinilainya urakan dan sok jago. Perilaku mereka mungkin mirip dengan perangai Reynald de Cathillon, Ksatria Templar yang dipenggal lehernya oleh Salahuddin al-Ayyubi.

Military Professional Resources Incorporation atau yang lazim disingkat MPRI ini didirikan oleh seorang Jenderal purnawirawan AD-AS, Vernon Lewis, untuk menampung mantan tentara AS yang kena pangkas usai era perang dingin. Tahun 2000, MPRI dibeli oleh perusahaan Lehman and Brothers, L-3 Communication, sebuah perusahaan multinasional yang memiliki jaringan kuat ke Konspirasi Yahudi Internasional. MPRI juga didaftarkan ke pasar bursa New York Stock Exchange dengan sandi Triple L atau LLL.

Seperti PMC lainnya, MPRI juga mengadakan kendaraan tempur, pesawat, helicopter, dan aneka peralatan perang. Tahun 2005, bersama Brown dan Root, Wackenhut, dan AGS, MPRI meneken kontrak senilai 1,6 miliar dollar untuk melatih polisi sipil PBB.

Selain PMC di atas, masih banyak lagi PMC-PMC yang serupa seperti Sandline Internasional (London), Vinnel Corporation (Los Angeles AS), DynCorp (Reston AS), Executive Outcome, dan sebagainya. Mereka merupakan bagian utama dari mesin industri perang, yang mereguk keuntungan bermiliar dollar dari darah, tragedi, perang, dan kehilangan masa depan bagi banyak bangsa di dunia.
Keberadaan mereka memang telah dibatasi oleh berbagai undang-undang dan peraturan baik yang bersifat nasional maupun internasional seperti halnya Konvensi Jenewa. Namun siapa bisa menjamin bahwa mereka tidak melanggarnya atau kalua pun melanggarnya siapa yang berani menindak kesatuan-kesatuan yang kuat ini. Seperti kata Machiavelli, “Tidak ada alasan seseorang yang bersenjata takut pada mereka yang tidak bersenjata.” Inilah kenyataannya.

DEFINISI MERCENARY

Di dalam Protokol Tambahan Konvensi Geneva tertanggal 12 Agustus 1949 yang diterbitkan berkaitan dengan pasal 47 Perlindungan Korban Konflik Bersenjata Internasional (Protokol I), 8 Juni 1977, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan tentara bayaran (Mercenary) adalah orang yang:
  • Direkrut dan dilatih khusus, local maupun asing, untuk dilibatkan dalam konflik bersenjata,
  • Ambil bagian langsung dalam peperangan yang terjadi,
  • Mengikuti dan aktif karena ajakan, perjanjian khusus, atas nama pihak yang terlibat suatu konflik dengan sistem pembayaran sebagai kompensasi atas keikutsertaannya sebagai kombatan atau bagian khusus dari angkatan perangnya,
  • Yang bersangkutan bukanlah warganegara dari negara atau pihak yang membayarnya,
  • Dia juga bukan anggota dari angkatan perang dari pihak yang terlibat konflik,
  • Dan dia juga tidak dikirim oleh negara di mana pihak yang menyewanya terlibat konflik.
CHAPLAIN DAN OIKUMENE TENTARA SALIB DUNIA

Chaplain merupakan salah satu dari empat divisi ordo militer Ksatria Templar. Tugasnya sangat khusus, yakni menjaga ruh pasukan did alam setuap aktivitasnya. Yang dimaksudkan di sini adalah menjadi pendeta dan pembenar secara moral dan ideologis bagi para tentara atau ksatria yang tengah berperang. Kemana pun Templar melakukan serangan, para Chaplain ini ikut serta. Bahkan suatu serangan selalu didahului oleh kebaktian khusus yang mendoakan agar para Templar diberi keselamatan dan tujuan dari peperangan bisa diraih dengan sempurna.

Dalam perkembangannya, Chaplain diadopsi di dalam organisasi ketentaraan modern tanpa pengubahan istilah dan fungsi. Jika mereka dulu menjadi pengawal ideologi Ksatria Templar, maka sekarang mereka menjadi pengawal ideologi tentara-tentara negeri-negeri Kristen di Eropa dan Amerika. Walau demikian, fungsi Chaplain sebenarnya juga ada di hampir semua organisasi ketentaraan dunia dan tentu saja tidak dengan istilah Chaplain.

Di Indonesia, fungsi ini berada di bawah Dinas Pembinaan Mental Markas Besar TNI. Di Amerika dan negara-negara Kristen di Eropa, istilah Chaplain yang semula berasal dari khazanah Kristen kemudian diambil menjadi istilah umum, sebab itu ada pembagian seperti Jewish Chaplain bagi tentara-tentara Yahudi dan Moslem Chaplain bagi tentara-tentara mereka yang beragama Islam.

Chaplain tidak dimasukkan ke dalam kelompok kombatan, walau ke manapun tentara pergi pastilah ada Chaplain yang mengikutinya. Posisinya nyaris sama dengan tim medis dalam pasukan. Hanya saja jika Tim Medis dalam pasukan bertugas mengobati luka-luka fisik yang diderita tentara, maka seorang Chaplain bertugas ‘mengobati atau menyembuhkan’ luka-luka psikis mereka dan juga memberi semangat kepada tentara kombatan bahwa tugas yang mereka terima dan harus dilakukan adalah sesuai dengan perintah Tuhan.

Dengan kata lain, pembunuhan banyak warga sipil seperti yang terjadi di Afghanistan dan Irak misalnya, yang dilakukan tentara Amerika, ini pun menurut Chaplain mereka sesuai dengan perintah Tuhan.

Secara berkala, para Chaplain negara-negara Kristen Eropa dan juga AS menggelar pertemuan bersama (Oikumene) di satu tempat untuk membahas agenda bersama ke depan. Di dalam European Chaplaincy Yearbook 1998  yang memotret sebuah Oikumene Chaplain Eropa yang dihadiri tak kurang dari utusan 15 negara (Austria, Belgia, Cekoslovakia, Denmark, Estonia, Finlandia, Perancis, Jerman, Inggris, Hungaria, Norwegia, Polandia, Republik Slovakia, Swedia, dan Swiss), para Chaplain muda menggelar ‘International Seminary for Young Chaplain Held” di Wina pada tanggal 9-13 Juni 1997 dengan bahasan utama Rekonsiliasi di antara mereka dan dunia. Di Luxemburg, pada tanggal 2-6 Februari 1998 juga diselenggarakan ‘European-North American Chiefs of Chaplain Conference’, sebuah Oikumene (Persekutuan Doa) dari para pimpinan Chaplain di Eropa dan Amerika Utara.

Oikumene pimpinan Chaplain Eropa dan Amerika Utara ini dibuka dengan pidato dari Jenderal Wesley K. Clark, Komandan Chaplain AS dan Eropa. Pertemuan Luxemburg ini membahas tentang “Peran Aktif Chaplain Dalam Menghadapi Perubahan Dunia”.(Bersambung/Rizki Ridyasmara)




 Sumber 

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template