Selasa, 31 Maret 2015

NWO Untold : Sejarah Rahasia Iluminati: WTC 9-11 Conspiracies


Bagi sebagian kalangan, peristiwa ambruknya dua menara kembar World Trade Center (WTC) di New York dalam serangan pesawat komersial lebih tepat diartikan sebagai peristiwa World Trade Conspiracy. Betapa tidak, peristiwa inilah yang oleh kelompok neo-konservatif Gedung Putih dan Pentagon yang mengelilingi Presiden George W Bush, dijadikan momentum bagus untuk memulai menabuh genderang perang terhadap kekuatan umat Islam di seluruh dunia. Kekuatan ini mereka sebut sebagai teroris.

Bush sendiri pernah slip of tongue atau ‘keselip lidah’ menyebut momentum perang terhadap ‘terorisme’ sebagai perang salib baru (The New Crusade). Walau kemudian pernyataan ini diralat, namun pada hakikatnya ucapan yang keluar dari mulut Bush pertama kalinya itu merupakan ucapan yang jujur.

Sikap rakyat Amerika sendiri pada awalnya mempercayai bahwa teroris Islam berada di balik serangan yang menyebabkan dua menara tertinggi dunia ini runtuh. Namun seiring dengan berjalannya waktu, muncul kejanggalan demi kejanggalan yang membuat mereka perlahan namun pasti mulai berpikir kritis. Kejanggalan-kejanggalan yang muncul ke permukaan sungguh-sungguh mengusik nurani jika dibiarkan.

Apalagi Komisi Penyelidik Kasus WTC bentukan pemerintah sendiri mengenyampingkan semua bukti-bukti, bahkan keterangan saksi mata seperti William Rodriguez, dan bersikeras bahwa serangan itu disebabkan oleh kelompok teroris Islam. Padahal fakta-fakta yang banyak sekali muncul mengarah kepada keterlibatan Gedung Putih dan Pentagon, juga Mossad, dalam peristiwa yang merenggut banyak sekali nyawa orang Amerika yang tak berdosa. Bagaimana ini semua terjadi dan apa yang sesungguhnya hendak dicapai dengan adanya peristiwa ini?

ONE POCKET 9.11

Untuk menguak “kebenaran tentang teror 11 September” diperlukan satu paket pengetahuan pra kejadian dan sejarah tentang segala keterlibatan sebelum malapetaka itu terjadi. Dengan terbongkarnya dua catatan FBI pertengahan Mei 2002, maka kaitan-kaitan yang berhubungan satu dengan lainnya mulai muncul perlahan-lahan ke permukaan.

Kilasan di bawah ini dikutip dari “Timeline” yang disusun Mike Ruppert dalam situs fromthewilderness.com, yang pertama kali dipublikasikan pada bulan November 2001 dan secara kontinyu diperbaharui[1]. Setiap penjelasan dapat dilihat pada situs tersebut di atas. Dan untuk buku ini, saya menyertakan penambahan di sana-sini agar kita bisa lebih mendalami latar belakang kejadian tersebut.

1991-1997

Perusahaan minyak kelas kakap AS seperti Exxon Mobil, Texaco, Unocal, BP Amco dan Shell menyediakan dana sebesar tiga miliar dollar untuk menyuap pimpinan negara Kazakhstan, agar bisa memperoleh hak untuk mengebor cadangan minyak yang sangat besar yang diketemukan di kawasan itu. Perusahaan-perusahaan minyak tersebut berkewajiban di masa depan untuk menanam 35 miliar dolar di Kazakhstan. Masalahnya, sambungan pipa minyak yang tersedia merupakan milik Rusia dan Moskow mematok harga yang tinggi buat penggunaan seluruh jaringan pipanya. Sebab itu, perusahaan-perusahaan minyak AS itu mengadu kepada “International Relations Committee” di parlemen dan menyatakan  bahwa mereka tidak mampu untuk menguasai jaringan pipa tersebut dan tidak bisa untuk mengalirkan minyaknya sepanjang tidak adanya kekuasaan yang berada dalam genggaman tangan mereka.

4 Desember 1997

Delegasi Taliban diterima sebagai tamu di markas besar Unocal di Texas, AS, untuk melakukan perundingan tentang rencana pembangunan jaringan pipa melalui wilayah Afghanistan. Seperti yang dapat dipetik dari beberapa berita, perundingan itu mengalami kebuntuan karena Thaliban bersikeras agar pihaknya menerima hasil keuntungan dari bisnis tersebut dalam jumlah yang tidak disetujui AS.

12 Februari 1998

Wakil Presiden Unocal, John J. Maresca—nantinya ditunjuk  menjadi Dubes Khusus di Afghanistan, mengatakan di depan Parlemen AS, bahwa tanpa satu pemerintahan yang bersatu dan yang ramah terhadap AS di Afghanistan, maka tidak mungkinlah dibangun jaringan pipa yang aman.

April 1998

CIA tidak memperdulikan peringatan yang datang dari anggotanya Robert Bear, agen CIA yang ditugaskan untuk memantau daerah Timur Tengah, bahwa Arab Saudi telah memberikan tempat persembunyian dan perlindungan kepada kelompok Al-Qaeda, yang dipimpin oleh dua tokohnya. Bear menyatakan dirinya telah memperlihatkan satu dokumen rahasia berisi daftar nama tokoh-tokoh Al-Qaeda dan hendak menyerahkannya ke Dinas Rahasia Arab Saudi pada bulan Agustus, tetapi Dinas Rahasia Arab Saudi tidak percaya dan menolaknya.

Musim Panas 1998 dan 2000

Sebagai utusan perusahaan swasta Carlyle Group, perusahaan senjata nomor sebelas di AS, mantan Presiden George Bush melakukan kunjungan ke Saudi Arabia. Di sana ia mengadakan pertemuan privat dengan keluarga kerajaan dan keluarga bin Laden. Antara Dinasti Bush dengan Dinasti bin Laden memang telah lama bekerjasama dalam bisnis minyak bumi. Kedua Dinasti ini malah sudah terbiasa saling mengunjungi secara pribadi.

Januari 2001

Pemerintah Bush memerintahkan FBI dan CIA agar tidak meneruskan upaya pelacakan terhadap segala aktivitas keluarga bin Laden. Perintah Bush ini juga berlaku buat dua anggota keluarga Usamah bin Laden (Abdullah dan Omar) yang tinggal di Falls Church, Virginia. Rumah mereka bertetangga dengan Markas Pusat CIA. Perintah baru Bush tersebut bukan yang pertama, namun kali ini lebih tegas dan membuat banyak penyidik merasa frustasi.

12 Februari 2001

Dalam pemberitaan tentang proses pengadilan terhadap beberapa orang yang dituduh menjadi anggota Al-Qaeda, koresponden kantor berita UPI yang menangani des terorisme membongkar fakta bahwa National Security Agency (NSA) telah menyadap sistem komunikasi Usamah bin Laden. Ini membuktikan bahwa NSA sebenarnya mengetahui jika Al-Qaeda akan melancarkan serangan teror ke WTC di New York AS. Ini pun jika benar Al-Qaeda yang melakukan.

Mei 2001

Menteri Luar Negeri Collin Powell mentransfer 43 juta Dolar kepada rejim Taliban. Pembayaran ini dimaksud sebagai uang ganti rugi untuk para petani yang menjadi miskin lantaran panen opium mereka dimusnahkan oleh rejim Taliban.

 Mei 2001

Wakil Menlu Richard Armitage, mantan agen karir dan anggota pasukan khusus Navy, dan Direktur CIA, George Tenet, melakukan kunjungan resmi ke India. Dari sana, delegasi Tenet secara diam-diam mengunjungi Pakistan, dan menemui Presiden Pervez Musaraf, seorang presiden Negara Islam Pakistan, namun Mussaraf sendiri sebenarnya bukan Islam melainkan seorang Ahmadiyah Qadiani yang dekat dengan Yahudi. Sejak lama, Armitage mempunyai hubungan akrab dengan Dinas Rahasia Pakistan ISI dan ia diberi tanda jasa tertinggi negara itu. Orang dapat berkesimpulan, bahwa dalam kunjungan tak resmi di Islamabad itu, Tenet bertemu dengan kolega Dinas Rahasianya, Mahmud Ahmed. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)
—————————
[1] One Pocket 9.11 diatas dikutip dari buku “Konspirasi, Teori-teori Konspirasi & Rahasia 11.9”, Mathias Brockers, (edisi Indonesia diterbitkan oleh PT Ina Publikatama, Jakarta, 2003, hal. 343-352) seperti yang dimuat dalam Sawaramuslim.net.


Juni 2001

Dinas Rahasia Jerman (BND) telah memperingatkan CIA dan Israel pada bulan Juni 2001, bahwa para teroris dari Timur Tengah sedang merancang, “membajak satu pesawat terbang dan menggunakannya sebagai senjata, untuk kemudian menyerang simbol-simbol kultur Amerika dan Israel yang penting.” Demikian berita yang terbetik dalam harian Jerman Frankfurter Allegemeine Zeitung.

Musim Panas 2001

Tiga pimpinan delegasi AS, Tom Simons (mantan Dubes AS di Pakistan), Karl Inderfurth (mantan sekretaris negara kementerian luar negeri untuk urusan Asia Selatan), dan Lee Coldien (mantan kepala bagian dan pakar Asia State Department), melakukan serangkaian pertemuan antara bulan Mei dengan Agustus dengan para delegasi dan intel Pakistan dan Rusia. Di bawah pimpinan PBB, di Berlin, diselenggarakan pertemuan terakhir dari serangkaian pertemuan rahasia.

Pertemuan ini juga dihadiri oleh negara-negara yang bertetangga dengan Afghanistan, yang pada bulan-bulan sebelumnya mengharapkan bisa membuahkan satu solusi tentang masalah jaringan pipa minyak di Afghanistan. Wakil Taliban ikut duduk dalam pertemuan-pertemuan ini, tetapi menolak tawaran AS untuk bermitra dalam pembagian laba perolehan jaringan pipa. Pembagian labanya dinilai terlampau rendah.

Musim panas 2001

Menurut harian Inggris The Guardian, pasukan-pasukan khusus Ranger AS telah melakukan latihan-latihan di Tajikistan. Selain itu, kabarnya, pasukan-pasukan khusus Tajikistan dan Usbekistan memperoleh pendidikan khusus di Alaska dan Montana. Hanya, berita ini tidak diakui oleh Kementrian Pertahanan AS.

Musim panas 2001

Jejak pertama yang serius diturunkan oleh harian India, Times of India menurunkan berita tanggal 26 Oktober. Jejak ini menguak para dalang yang mengendalikan gembong “pilot teroris” Mohammad Atta. Times of India menyebutkan, bahwa pada bulan Juli 2001, berdasarkan perintah Bos Dinas Rahasia Pakistan Mahmud Ahmad, telah ditransfer dana sebanyak 100.000 Dolar kepada Mohamad Atta.

Transfer ini katanya dikerjakan oleh Omar Sheikh, seorang agen terselubung Dinas Rahasia Pakistan ISI dan nantinya dituduh sebagai terlibat dalam penyanderaan jurnalis Wall Street Journal, Pearl. Times of India menurunkan berita ini berdasarkan sumber-sumber rahasia yang diperoleh dari Dinas Rahasia India dan FBI. Setelah Times of India memberitakan penemuannya itu, Jenderal Ahmad mengundurkan diri dari jabatannya sebagai kepala ISI.

26 Juni 2001

Majalah-online “Indiareacts.com” menuliskan, bahwa “India dan Iran mendukung rencana-rencana AS dan Rusia untuk melakukan serangkaian operasi terbatas terhadap Taliban”. Menurut artikel tersebut, operasi militer itu akan dilakukan oleh pasukan-pasukan AS dan Rusia dengan dukungan dari Usbekistan dan Tajikistan.

4-14 Juli 2001

Usamah bin Laden dirawat di American Hospital di Dubai akibat menderita penyakit ginjal. Selama di rumah sakit, ia ditengok oleh keluarganya dan tokoh-tokoh penting dari Saudi Arabia dan Emirat, juga dari Kepada CIA untuk Dubai, Larry Michell, yang pada tanggal 15 Juli langsung ditarik dari kantornya di Dubai, sehari setelah Usamah bin Laden ke luar dari rumah sakit.

10 Juli 2001

Satu laporan dari kantor FBI di Phoenix (Arizona), dan di bulan Agustus menyusul laporan dari FBI di Minneapolis memberitakan adanya dugaan, bahwa anggota-anggota Al Qaeda memanfaatkan sekolah-sekolah penerbangan AS untuk mempersiapkan penyanderaan pesawat udara. Memo tertanggal 10 Juli itu menyarankan agar dilakukan pemeriksaan secara nasional seluruh sekolah-sekolah penerbangan dan mengutip kemungkinan hubungannya dengan Usamah bin Laden.

Agen-agen FBI Minneapolis memberitakan tentang penangkapan terhadap Zakharias Moussaoui, berkebangsaan Perancis kelahiran Maroko, yang hanya ingin belajar mengemudikan Boeing 747, akan tetapi tidak mau belajar mengemudikan pesawat saat start dan landing. Dalam e-mail-nya kepada markas besar FBI, agen-agen FBI Minneapolis menggambarkannya sebagai seseorang, yang dapat merencanakan, mengemudikan satu pesawat Jumbo dan mengarahkanya ke World Trade Center. Kedua report di atas diacuhkan oleh Mabes FBI.

20-21 Juli 2001

Menjelang pertemuan G-8 di Genua, masuk laporan-laporan dari berbagai negara ke Itali. Antara lain dari Presiden Mesir Mubarak, yang memperingatkan akan terjadinya serangan ke gedung-gedung konperensi dengan menggunakan pesawat bajakan sebagai peluru terbang. Sebagai reaksinya, pemerintah Itali memerintahkan penempatan meriam-meriam penangkis serangan udara di sejumlah strategis dalam negeri dan membatasi penerbangan lokal. Bahkan untuk keamanannya, Presiden George W. Bush, bermalam di kapal perang AS yang tengah merapat di pelabuhan.

6 Agustus 2001

Dalam briefing CIA, Presiden Bush menerima laporan tentang adanya kemungkinan ancaman yang datang, di mana disebutkan bahwa para pelaku yang punya hubungan dengan Usamah bin Laden dapat mempergunakan pesawat bajakan sebagai bom terbang. Dalam peringatan ini, diduga, laporan-laporan dari FBI Phoenix dan Minneapolis dijadikan acuan sumber. Akan tetapi, setelah itu tak ada kegiatan-kegiatan yang memerintahkan untuk mengawasi penerbangan pesawat atau melindungi udara secara militer. FBI, NSA, maupun CIA sama sekali tidak melakukan tindakan preventif apa pun menanggapi laporan ini.

12 Agustus 2001

Letnan Navy Delmart “Mike” Vreeland, yang dijebloskan di bui Toronto karena dituduh telah melakukan penipuan, mengatakan, bahwa dirinya adalah perwira Dinas Rahasia Angkatan Laut dan mengetahui aksi teroris yang akan terjadi. Karena ia diacuhkan, maka ia lalu menulis satu catatan di atas kertas, yang kemudian ia serahkan kepada tata usaha penjara.

20 Agustus 2001

Presiden Putin memerintahkan kepada agen-agen rahasianya, untuk menyampaikan peringatan “yang berkalimatkan jelas dan gamblang” kepada Dinas Rahasia AS, bahwa ada ancaman serangan terhadap gedung-gedung pemerintahan dan bandar-bandar udara. Secara rinci, Harian Rusia Istvestia kemudian memberitakan, bahwa dalam peringatan ini disinggung tentang 25 pilot kamikaze, yang merencanakan menyerang gedung-gedung penting di AS. Lagi-lagi peringatan ini diabaikan oleh Gedung Putih.

20 Agustus – 10 September 2001

Dalam tempo 3 pekan menjelang 11 September, bursa Dow Jones di New York mengalami penurunan nilai sebesar 900 points. Bahaya crash bursa mengancam di ambang pintu. Sehubungan dengan itu, wapres Dick Cheney dan pejabat tinggi pemerintah lainnya melakukan rapat tertutup, membicarakan kebangkrutan tak terelakkan perusahaan Enron -sampai saat itu merupakan kisah kebangkrutan terbesar (dan penipuan financial) dalam sejarah ekonomi AS.

1-10 September 2001

Latihan militer yang sejak tahunan direncanakan itu, akhirnya dalam rangka operasi “Swift Sword” memindahkan 23 ribu serdadu Inggris ke Oman. Dalam waktu yang bersamaan, dua armada kapal perang AS tiba di depan pantai Pakistan, kemudian turun 17 ribu pasukan AS memperkuat 23 ribu pasukan NATO yang datang ke Mesir untuk operasi “Bright Star”. Seluruh kekuatan ini sudah berada pada lokasinya dalam keadaan ready to action, sebelum pesawat pertama melabrak menara WTC.(Bersambung/Rizki Ridyasmara)






6-10 September 2001 
 

Peningkatan luar biasa besarnya volume ‘Putoption’ Maskapai Penerbangan United Airlines, American Airlines serta perusahaan-perusahaan yang terkena aksi teror seperti Merrill Lynch, Morgan Stanley, AXA dan Muenchener Ruek, mengisyaratkan satu perdagangan intern yang berbau kriminal di pasaran bursa.

10 September 2001

Ada kesibukkan yang tidak biasa di kantor lembaga manajemen situasi darurat, Federal Emergency Management Agency (FEMA). Dalam wawancaranya dengan reporter CBS Dan Rather, kepala bagian “Urban Search and Rescue Team“-nya FEMA menyatakan satu hal yang aneh: “Dapatlah dipastikan, tim kami merupakan salah satu tim yang pertama yang digerakkan, untuk membantu kota New York dalam bencana ini. Kami akan tiba pada hari Senin malam, dan pada hari Selasa pagi kami sudah beraksi.” Ini terjadi satu hari sebelum pesawat pertama menabrak Gedung WTC. FEMA telah mengetahui hal itu dan sudah menyiapkan langkah-langkah penyelamatan korban.

11 September 2001

Jenderal Ahmad, Bos Dinas Rahasia Pakistan ISI (yang lantaran transfer dana kepada Mohammad Atta harus mengundurkan diri secara “mengejutkan” satu bulan kemudian), tiba di Washington untuk melakukan pembicaraan mengenai Taliban.

11 September 2001

Pegawai perusahaan Odigo Inc. di Israel, salah satu perusahaan terbesar di bidang “Instant Messaging” dan mempunyai kantor di New York, memperoleh peringatan bersifat urgen, dua jam sebelum pesawat pertama menghunjam salah satu menara WTC, tentang akan adanya serangan terhadap WTC. Tetapi, kepolisian dan birokrasi negara yang menangani bidang serupa lainnya menutup mulut tentang pelacakan mereka dalam hal ini. Bagian Penelitian dan Perkembangan perusahaan Odigo Inc. berkedudukan di kota Herzliyya (Israel), satu kota pinggiran Tel Aviv. Di sana juga terletak lokasi “Center for Counterterrorism“, yang secara dini telah memberitakan tentang perdagangan saham insider di seputar tanggal 11 September.

11 September 2001

Dalam kurun waktu 45 menit, empat pesawat dibajak dan terbang ke luar dari rute penerbangannya -pesawat pertama jam 8.15, dan terakhir jam 9.05. Akan tetapi, baru pada pukul 9.30, pesawat tempur pertama mengudara. Artinya, Komando Tertinggi Nasional, menanti 75 menit, sebelum perintah operasi prefentif diturunkan – satu “kelalaian” yang sukar diketemukan dan menyalahi prosedur baku yang sudah ada.

14 September 2001

Kepala Penjara di Toronto membuka surat yang disampaikan oleh Mike Vreeland kepada tata usaha penjara dan berkesimpulan, di dalam surat itu disinggung soal “WTC” dan “Pentagon”. Angkatan Laut AS kemudian menjelaskan, bahwa gara-gara prestasinya yang buruk, Vreeland dipecat dari Navy tahun 1986 dan tidak pernah aktif dalam Dinas Rahasia.

15 September 2001

New York Times memberitakan, bahwa Direktur Alex Brown Bank, Mayo Shattuck III, mengundurkan diri dari jabatannya. Padahal, ia baru saja memperpanjang kontrak kerja tiga tahunnya (dengan penghasilan 30 juta Dolar per tahunnya). Segudang ‘putoption’-nya United Airlines dibeli lewat Alex Brown, satu perusahaan milik Bank Jerman, di Deutsche Bank. Direktur Alex Brown sebelum Shattuck III adalah “Buzzy” Krongard, yang pada tahun 1998 pindah ke CIA, dan di sana, sampai sekarang, ia menduduki pos tertinggi ketiga.

29 September 2001

Harian San Fransisco Chronicle memberitakan, bahwa laba 2,5 milyar dolar perolehan ‘putoption’-nya American Lines dan United Airlines tidak ditarik dari kas bank-bank. Dengan ditutupnya perdagangan saham selama empat hari, para pemilik laba itu agaknya ngeri mendekati “laba panas” itu.

10 Oktober 2001

Harian Pakistan The Frontier memberitakan, bahwa Menteri Perminyakan Pakistan menerima telepon Dubes AS, Wendy Chamberlain. Akta tentang jaringan pipa Unocal lewat Afghanistan yang telah dipeti-eskan, dicairkan kembali menjadi agenda “sehubungan dengan perkembangan geopolitik aktual” (Dalam bulan Februari 2002 diadakan perundingan tentang itu, awal Mei BBC memberitakan bahwa proyek 2 milyar dolar yang sudah final dan selesai ditandatangani merupakan “investasi asing terbesar di Afghanistan”).

Oktober 2001

Bursa saham Dow Jones, sebelum aksi teror terus menerus melorot turun, telah kembali bugar dan mengejar ketinggalan-ketinggalannya. Lewat jurus peningkatan anggaran belanja besar-besaran untuk program persenjataan, bantuan keuangan buat industri penerbangan, dan rencana penurunan pajak bagi perusahaan-perusahaan, maka ambruknya pasar bursa untuk sementara dapat dihindari. Sebagai peraup rejeki yang paling beruntung adalah perusahaan-perusahaan persenjataan dan pemasok kebutuhan militer AS. Roda industri persenjataan, sebagai salah satu primadona penghasil devisa negara, mulai berjalan dengan kencang lagi.

GERBANG MILLENIUM BARU

Seperti yang telah ditulis oleh Scofield dan dipercaya dengan penuh keimanan dan keyakinan (kebodohan) oleh George Bush dan para penjahat perang di Gedung Putih dan Pentagon, sekarang ini dunia telah memasuki akhir zaman. Sebab itu, mereka menamakan periode sekarang sebagai Zaman Millenium atau Zaman Seribu Tahun. Di zaman ini, tidak akan pernah lagi terjadi penemuan-penemuan baru di bidang ilmu murni, yang ada penemuan-penemuan di bidang ilmu terapan yang berasal dari penemuan-penemuan sebelumnya.

Di era Millenium ini akan terjadi pergeseran dan konflik menjelang datangnya Messiah (Maranatha). Akan ada sejumlah peperangan besar, bisa bermotif ekonomi tetapi dilandasi semangat keagamaan, yang akan semakin memuncak menuju satu peperangan terakhir (kaum Zionis-Kristen menyebutnya Armageddon). Akan ada penggenapan nubuatan-nubuatan (janji-janji) Tuhan bagi bangsa Israel.

Inilah semua yang diyakini oleh Bush dan kawan-kawannya di Gedung Putih. Sebab itu, mereka, para penjahat perang itu, dengan semangat religius yang tinggi, tengah mempersiapkan satu dunia guna melapangkan jalan bagi bertahtanya kembali, berkuasanya kembali, satu Kristus, Raja Dunia, yang akan memimpin dunia menjadi satu pemerintahan: The New World Order (Tata Dunia Baru).

Sebelum peristiwa 9.11 (2001), dilihat dari arah manapun, terutama dari Patung Liberty, dua menara kembar pencakar langit yang dikenal sebagai WTC Tower di New York AS, bagaikan dua pilar raksasa yang, obelisk kembar, yang menjulang tinggi mengalahkan gedung-gedung tinggi di sekitarnya. Bahkan bila matahari akan terbenam di petang hari, sinar lembayungnya akan menembus sisi tengah Menara WTC dan pantulannya berkilauan di atas perairan New York di mana Patung Liberty berdiri. Obelisk kembar itu bagaikan sebuah gerbang raksasa bagi New York, kota terpadat di AS di mana orang-orang Yahudi Amerika terkonsentrasi di sini. New York merupakan kota di AS yang paling banyak ditinggali oleh warga Yahudi. Bagi kaum Yahudi, New York merupakan New Jerusalem.

Bila Washington DC merupakan ibukota negara, maka New York merupakan pusat dari segaka aktivitas, pusat roda ekonomi, dan juga politik luar negeri Amerika. Selain Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York Stock Exchange (NYSE)  atau yang lebih akrab disebut Pasar Bursa Wallstreet juga terletak di kota ini. Tidak berlebihan kiranya jika New York disebut sebagai pusat perekonomian dunia.

Di tahun 2001 saja sekitar 3.000 perusahaan besar dunia terdaftar di New York Stock Exchange, dengan nilai uang berputar hingga US 17 triliun dollar! Bila dirupiahkan, jumlah angka nolnya saja yang berderet tak kurang dari limabelas buah![1] Tak heran jika kemudian timbul pemikiran di dalam benak teroris—siapa pun dia—menjadikan New York sebagai target serangan. Karena dari sinilah sebenarnya dunia dikendalikan. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)
——————-
[1] Encarta Encyclopedia Multimedia, Deluxe Edition, 2004.


New York adalah ikon dari banyak hal, salah satunya simbol kedigdayaan ekonomi dan pengaruh Amerika Serikat. Apa salahnya jika menabuh genderang perang abad millennium dari meledakkan satu atau dua gedung ternama di kota ini? Gemanya akan sangat kencang terdengar di seluruh dunia. Demikian yang ada di benak para teroris.

Yang jelas, pada pagi hari, Selasa, 11 September 2001, sebuah drama mengerikan dipentaskan di atas langit New York, disaksikan miliaran mata penduduk dunia karena CNN menayangkannya secara langsung, on location. Banyak yang mengacungkan jempol dan menyatakan tidak percaya CNN mampu men-set sebuah acara on the location yang begitu sempurna hanya dalam hitungan detik, hingga beredar spekulasi bahwa CNN telah menerima bocoran dari pihak tertentu akan ada drama besar abad ini di atas langit New York. Mungkin hanya Ted Turner, Kaisar Teve Dunia berdarah Yahudi, yang bisa memberi jawaban.

Dalam waktu tidak terlalu lama, ‘Obor raksasa’ itu pun ambruk dan rata dengan tanah. Ambruk lurus ke bawah hingga menyelamatkan gedung-gedung yang lebih rendah yang berada di sisi-sisinya. Sebuah kehancuran yang begitu sempurna dan aman. ‘Gerbang raksasa’ kota New York tidak ada lagi. Musnah dalam hitungan jam. Dan bangsa Amerika menangis, mengecam dan mengutuk siapa pun pelakunya.

Dengan cepat, telunjuk Bush langsung menuding Al-Qaeda sebagai pihak yang harus bertanggungjawab. Dari bibirnya, dengan sombong, Bush berkata, “Perang Salib baru telah dimulai.” Sebuah pernyataan yang kemudian diralatnya setelah mendapat teguran dari banyak orang. The New Crusade in Millenium Age.

Peristiwa WTC tentu tidak berdiri sendiri. Pada tahun 1994, pemodal raksasa Yahudi Amerika yang setara dengan Rothschild di Jerman, David Rockefeller, di hadapan Dewan Bisnis PBB menyatakan, “Kita tengah berada di ambang transformasi global. Yang kita perlukan adalah adanya krisis besar sehingga bangsa-bangsa di dunia akan menerima Tata Dunia Baru (The New World Order)

Ucapan Rockefeller mendapat dukungan dari analis politik luarnegeri berdarah Yahudi, Zbigniew Brzezinski yang dalam bukunya The Grand Chessboard, menulis, “…besar kemungkinan akan sulit mencapai sebuah konsensus (di Amerika Serikat) dalam isu-isu berkaitan dengan kebijakan luar negeri, kecuali dalam situasi berupa kejelasan akan adanya ancaman langsung dari luar secara massif.”

Dan setahun sebelum peristiwa yang mengerikan itu terjadi, pada tahun 2000, Project for a New American Century (PNAC) yang menskenariokan secara matang bahwa dalam waktu dekat Amerika harus menjadi satu-satunya kekuatan dunia tanpa penyeimbang, menyatakan, “Beberapa peristiwa menggemparkan dan bencana besar, seperti sebuah Pearl Harbour yang baru” yang akan menggiring opini masyarakat Amerika untuk mendukung agenda perang.

PNAC juga yang menelurkan cetak biru Pax-Americana, sebuah program strategis yang menskenariokan agar Amerika memiliki kontrol atas negara lain, menjadi pemimpin satu-satunya dari Tata Dunia Baru. Skenario ini disusun oleh Wapres Dick Cheney, Menhan Donald Rumsfeld, Deputi Menhan Paul Wolfowitz, Jeb Bush (saudara George W Bush), dan Lewis Libby (Kastaf Cheney), dan dirilis pada bulan September 2000 dengan nama “Membangun Ulang Pertahanan Amerika”. Jadi, peristiwa serangan terhadap Menara kembar WTC memang diperlukan oleh Gedung Putih agar semua skenario di atas bisa berjalan dengan efektif dan sesuai dengan yang direncanakan.

KEDUSTAAN YANG TERANG BENDERANG

Prof. Dr. Steven Earl Jones adalah Guru Besar Departemen Fisika dan Astronomi pada Birgham Young University, AS. Pria kelahiran Amerika, 25 Maret 1949, ini memperoleh gelar Doctor Bidang Fisika dan Matematika dari University of Vanderbilt di usia 29 tahun. Kredibilitas kelimuannya sungguh tidak bisa diremehkan. Peneliti senior pada berbagai lembaga penelitian yang telah menyabet berbagai penghargaan bergengsi tingkat dunia ini meragukan bahwa Menara Kembar WTC ambruk gara-gara ditabrak pesawat terbang. “Mengapa Menara WTC 7 yang memiliki 47 lantai dan tidak terkena serangan pesawat juga ikut-ikutan rubuh?” selidiknya

Dalam sebuah seminar di Birgham Young University, AS, pada 22 September 2005, di hadapan peserta yang berasal dari Departemen Fisika, Mechanical Engineering, Civil Engineering, Electrical Engineering, Psikologi, Geologi, dan Departemen Matematika, Profesor Jones membantah teori versi pemerintah AS soal rubuhnya Menara WTC yang diklaim diakibatkan oleh tumbukan pesawat terbang. “Saya akan mengemukakan bukti baru berupa hipotesa kehancuran akibat ledakan,” tegas Prof. Jones.

Hipotesa ini diambil berdasar keraguannya sebagai seorang pakar yang meyakini bahwa Menara kembar WTC yang dibuat dari rangka baja dan konstruksi tahan gempa bisa dirubuhkan hanya dalam waktu singkat. Keraguannya ini seolah mendapatkan pembenaran tatkala membaca pengakuan-pengakuan saksi mata yang berada di lokasi sekitar menara WTC saat kejadian.

Edward Cahcia, seorang Fire Fighter (Pemadam Kebakaran) yang bertugas dekat sekali dengan lokasi tanpa mengisahkan kembali apa yang dialaminya. “…kami pikir seperti ada ledakan-ledakan, karena bunyinya, buum.. buum.., buuum, dan kemudian menara itu ambruk… ledakan itu ada di lantai bawah, bukannya di antai yang ditubruk pesawat.”

Petugas pemadam kebakaran yang lain juga mengaku melihat kilatan cahaya dan ledakan-ledakan di lantai atas dekat pesawat dan juga di bawah gedung WTC2 sebelum keruntuhannya.

Apalagi saat liputan langsung, reporter FOX News memberitakan sepersekian nyaris bersamaan dengan runtuhnya gedung, “…ada sebuah ledakan di bagian bawah gedung… asap putih keluar dari dasar… sesuatu telah terjadi di lantai bawah! Lalu ada lagi ledakan…!

Prof. Jones menyatakan, menara WTC7 yang terdiri dari 47 lantai tidak dihantam pesawat, hanya terbakar karena rembetan dari Menara Kembar WTC. Setelah 7 jam terbakar, WTC7 ambruk, padahal struktur gedung WTC7 yang diletakkan secara asimetris disangga 24 kolom baja berkualitas tinggi yang tahan api. Hukum Kedua Thermodynamics menjelaskan kecil sekali kemungkinan adanya keruntuhan total secara simetris karena api. Keruntuhan itu baru bisa terjadi jika ‘dihancurkan’ oleh bom atau “controlled demolition”.  Belum pernah ada dalam sejarah, gedung berstruktur baja kualitas wahid bisa runtuh secara simetris hanya karena kobaran api yang tidak terkendali.

Jika WTC7, berdasarkan rekaman para saksi mata, memperlihatkan kilatan cahaya ledakan di bagian bawah gedung, maka untuk Menara kembar WTC, kilatan cahaya terlihat di bagian bawah dan atas gedung. Hasil analisa pakar pemadam kebakaran yang dimuat dalam Fire Engineering Journal juga menolak anggapan pemerintah. Mereka memastikan bahwa kerusakan struktural akibat hantaman pesawat dan ledakan minyak pesawat  tidak cukup mampu untuk merobohkan bangunan menara seperti WTC.

Pandangan Prof. Jones juga didukung oleh Thomas W. Eagar dan Christopher Musso. Eagar adalah seorang Guru Besar Materials Engineering and Engineering Systems, sedangkan rekannya, Musso, adalah peneliti pada Massachussetts of Technology. Kedua pakar ini menyatakan, “…menara WTC yang dibangun pada pertengahan 1960-an, tiap menaranya memiliki luas 64 meter persegi, tinggi 411 meter di atas permukaan jalan dengan kedalaman 21 meter di bawah tanah. Total berat struktur bangunannya 500.000 ton.

Gedung ini dirancang untuk mampu menahan angin berkecepatan 225 km/jam dan sanggup menahan tiupan badai yang bobotnya melebihi 30 kali berat pesawat terbang. Tapi apa lacur, hanya dengan satu tumbukkan pesawat terbang, gedung itu runtuh. Ini sangat ganjil.”

Sejumlah laporan memperkirakan bahwa bahan alumunium dari badan pesawat turut terbakar dan karenanya menghasilkan panas yang sangat tinggi sehingga mampu melelehkan struktur baja gedung itu. “Memang, alumunium bisa saja melebur dalam kondisi panas tertentu, namun seharusnya nyala api berwarna putih dan menyimpan hawa panas. Tetapi nyala api yang terjadi di gedung WTC tidak menunjukkan tanda-tanda seperti ini. Pembersihan puing-puing WTC diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan, tetapi nyatanya upaya pembersihan berlangsung dengan cepat. Malah sisa-sisa baja yang menjadi penyangga struktur bangunan WTC begitu cepat disingkirkan. Bahkan, sebelum sempat dilakukan uji lapangan untuk meneliti kegagalan fungsi baja dalam menyangga gedung itu,” tambah mereka. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)




Donna Marsh O’Connor

Selain itu, dalam kacamata sistem pertahanan udara AS pun peristiwa WTC menimbulkan kecurigaan, sebab pesawat pembajak sempat terbang keluar jalur dengan amannya di wilayah udara Amerika yang paling ketat selama 80 menit.

Padahal menurut peraturan baku yang berlaku di seluruh wilayah hukum AS, jika ada pesawat komersil melenceng dari jalurnya atau hilang dari radar pengawas, maka Federal Aviation Agency (FAA) harus secepatnya mengontak pihak militer, The North American Aerospace Defense (NORAD), yang wilayah tugasnya memang berada di atas New York.

Selanjutnya, NORAD mengontak pangkalan udara terdekat untuk mengirim jet tempur F-16. Mereka akan mencari pesawat yang hilang dan begitu ditemukan segera memberitahukan pilotnya agar mengikuti jet tempur itu. Bila pilot tidak memenuhi arahan tersebut, jet tempur segera mengontak pangkalan untuk meminta izin melakukan tindakan drastis, dari pendaratan paksa dengan memepetnya, atau tembak jatuh.

Pada Selasa hitam, 11 September 2001, semua ini tidak berjalan. Tidak ada satu pun pesawat jet tempur AS terbang di udara New York untuk menahan pesawat komersial Boeing 757 dan 767 yang berbadan besar. Padahal di dekat New York dan Manhattan ada pangkalan udara Andrew dengan jet-jet tempur yang selalu siaga. Hanya butuh lima menit dari pangkalan Andrew ke New York.

Masih ribuan kejanggalan lagi yang ada seputar peristiwa 9.11. Misal, pada hari kejadian, 4.000 karyawan yang berkantor di Menara WTC, semuanya Yahudi, bolos serentak, dan sebagainya. Banyak rakyat Amerika yang kini sangat kritis pada Bush dan menganggap orang nomor satu Amerika ini sebagai pembohong besar.

Kisah tentang Donna Marsh, salah seorang ibu yang anak perempuannya menjadi korban di reruntuhan WTC mungkin bisa menggambarkan betapa kecewanya rakyat AS pada Bush. Anak perempuannya itu tengah mengandung.

Pada Selasa pagi, 11 September itu, anak perempuannya telah sampai di ruang kantornya. Setelah pesawat pertama menabrak menara, anak perempuan itu menelpon ibunya. “Ia mengatakan kalau dirinya diberitahu agar tidak meninggalkan Menara Selatan WTC karena sudah aman. Padahal, dalam kenyatannya, dia diberitahu untuk tidak bergerak atau akan ditembak,” ujar Marsh bercucuran airmata sembari meminta Bush agar tidak lagi menggunakan nama anaknya sebagai dalih untuk menebar mesin perang dan maut ke seluruh dunia.

Apa pun kejadiannya, Menara WTC telah ambruk rata dengan tanah. Siapa yang memetik keuntungan dari peristiwa ini? Jelas, kelompok Neo-Konservatif Gedung Putih dengan Bush sebagai kepalanya dan juga Zionis-Israel. Kasus WTC dijadikan dalih bagi kelompok haus perang ini untuk menggelar mesin perangnya ke Afghanistan.

Setelah Kabul jatuh, praktis Afghanistan telah dikuasai pasukan AS dan sekutu-sekutunya, walau di sana-sini sampai hari ini masih saja ada perlawanan sporadis dari gerilyawan Afghan. Namun rupanya ambisi besar Amerika tidak hanya sampai Afghan, pada 20 Maret 2003, Amerika mengeroyok Irak dan menggulingkan Presiden Saddam Hussein. Nama operasinya (plesetan) : Operation Iraqi Liberation atau disingkat OIL.

Mencermati sebab-musabab dan banyaknya kejanggalan seputar peristiwa WTC, menyebabkan banyak pihak menduga kuat bahwa Gedung Putih dan Israel sendirilah sebagai dalang di balik semuanya. Menara WTC dan Pentagon, simbol kehebatan perekonomian dan pertahanan Amerika, sengaja dikorbankan guna dijadikan dalih agar Gedung Putih leluasa melancarkan “The New Crusade in Millenium era”, seperti yang pernah terlontar dari mulut Bush.

SIMBOLOGI ANGKA 9.11

Segala   hal dalam keyakinan para Kabbalis selalu dikaitkan dengan simbologi. Numerologi atau ilmu tentang angka merupakan salah satu kegemaran mereka. Seperti halnya dengan peristiwa 11 September 2001, yang entah kebetulan atau tidak, ternyata sarat  dengan simbologi angka. Apakah ini bukti bahwasanya Ordo Kabbalah telah sungguh-sungguh menguasai Amerika? Entahlah.

Kegemaran kepada simbol angka-angka berasal dari keyakinan mereka bahwa kosmos ini seluruhnya bergerak secara matematis. Misalnya, satu hari itu 24 jam, satu pekan 7 hari, satu bulan 30 hari, dan satu tahun 365 hari. Semuanya menunjukkan angka.  Dan angka 666 menunjukkan angka setan.

Mengenai angka 11, ajaran Kabbalah menganggap angka tersebut merupakan salah satu simbol setan, selain 666. Adakah suatu kebetulan jika Anton LaVey, pendiri Gereja Setan, memilih angka 11 ketika dirinya menyusun 11 Pasal Setan di Bumi (The Eleven Satanic Rules of the Earth) dan memilih angka 9 untuk menyusun The Nine Satanic Statements. LaVey telah lama memilih angka 11 dan 9 sebagai angka setan.

Dalam ilmu Astrologi, sebagai basis dari Numerologi, angka 11 biasanya menunjukkan Pemimpin. Anka 11 juga merepresentasikan Dosa, Pelanggaran, dan Resiko. Jika angka 10 melukiskan kesempurnaan, maka angka 11 menyimbolkan sesuatu yang lebih. Jika dipisah ( 1 + 1 = 2) maka akan ditemukan sebuah dualitas yang saling berhadapan dan setara: Lucifer dan Tuhan. Angka 11 adalah angka penuh kesucian. Jika angka 11 dikalikan dengan angka sempurna, 3, maka akan didapat angka 33, sebuah angka yang amat penting bagi dunia Okultisme. Tahun 1933 merupakan tahun lahirnya Manifesto Humanis, sebuah gerakan dari para Kabbalis. Simbol-simbol dalam Astrologi (Zodiak) juga berjumlah 11.

Lihatlah Menara Kembar WTC sebelum runtuh, bukankah bangunan yang menjulang tinggi itu membentuk angka 11? WTC bertempat di New York, sebuah kota yang berada di negara bagian ke-11 yang bergabung dengan Amerika Serikat. WTC memiliki 110 lantai, jika angka ‘0’ dibuang maka kita mendapatkan 11. WTC merupakan pusat dari Trade Center dan dijuluki Skycrappers, masing-masing jumlah hurufnya 11. Jika nama menara itu ditulis secara lengkap maka akan menjadi World Trade Center yang berjumlah 22 huruf, yaitu 11 X 2 = 22. Lalu tanggal terjadi peristiwa tersebut adalah tanggal 11 bulan 9: 1 + 1 + 9 = 11. 11 September sendiri mempunyai 2 angka dan 9 huruf, 2 + 9 = 11. Dan uniknya lagi, Menara WTC ambruk pada jam 10.28 am, 1 (0) + 2 + 8 = 11.

Peristiwa WTC kemudian terbukti menguntungkan pemerintah Amerika Serikat dan juga Zionis-Israel. Pemimpin-pemimpinnya adalah George W. Bush dan Ariel Sharon, masing-masing jumlah huruf namanya: 11. Dan yang menjadi korban pertamanya: Afghanistan, 11 huruf. Apakah ini suatu kebetulan?

PARA DEWA ZIONIS-KRISTEN AMERIKA

Bush dan para pejabat pemerintah yang mengelilinginya dikenal dengan sebutan kelompok Neo-Konservatif. Namun ada juga yang menjuluki mereka sebagai kelompok Zionis-Kristen, yang diambil dari istilah Judeo-Christian, sebuah kelompok ultra fundamentalis Kristen yang tanpa syarat mendukung penuh segala tindak-tanduk Zionis-Israel.

Penulisan Injil Darby dan Scofield merupakan awal dari infiltrasi Zionis-Yahudi ke dalam pemerintahan Amerika. Menyusul kemenangan Israel dalam Perang Enam Hari (4-7, 9-10 Juli 1967), ayah mertua Billy Graham, Nelson Bell, yang saat itu menjabat sebagai editor majalah Christianity Today, menyuarakan perasaan-perasaan banyak orang Kristen evangelis Amerika yang begitu antusias menyambut kemenangan Israel.

“Untuk pertama kalinya di dalam kurun waktu lebih dari 2000 tahun, Yerusalem kini sepenuhnya berada kembali dalam kekuasaan orang-orang Yahudi; dan fakta ini memberikan suatu kepercayaan yang diperbaharui dan tergairahkan kepada setiap orang yang mempelajari Alkitab bahwa Alkitab itu benar dan sah,” demikian tulis Bell.

Perang Enam Hari itu dilegitimasi dengan penjelasan teologis oleh Zionis Kristen, ketika mereka menyatakan bahwa: Tuhan ingin memberikan kepada umat-Nya bagian dari tanah yang tidak mereka terima pada tahun 1948. Hasil dari Perang Enam Hari adalah bahwa Yudea dan Samaria, dan Kota Lama  Yerusalem, ibu kota kerajaan Daud, dikembalikan kepada bangsa Yahudi yang mengklaim sebagai pemilik semula.(Bersambung/Rizki Ridyasmara)


Sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template