Selasa, 31 Maret 2015

NWO Untold : Sejarah Rahasia Iluminati: Ideologi Zionis-Kristen Dibalik WTC-911 Conspiracies hingga Ambisi AS Menciptakan The New World Order



Di tahun 1976 terjadi serangkaian peristiwa yang membawa Zionisme-Kristen masuk ke lingkaran pusat politik Amerika. Berkat dukungan kalangan sayap fundamentalis Kristen Evangelis Amerika, Jimmy Carter terpilih sebagai seorang Presiden yang sudah “lahir baru sebagai seorang Kristen-Zionis.” Setahun kemudian, Menachem Begin dan Partai Likud yang juga berhaluan politik fundamentalis  berkuasa di Israel. Dengan sendirinya terbangunlah suatu hubungan erat, hubungan ‘theologis’ antara keduanya.

Tahun 1978, Jimmy Carter menyatakan terus terang bahwa kepercayaan pro-Zionisnya telah banyak mempengaruhi kebijakan politik Timur Tengahnya. Namun lama-kelamaan, Carter menyadari bahwa Partai Likud terlalu jahat terhadap warga Arab Palestina. Untuk itu Carter mengusulkan agar dibentuk satu negara merdeka bagi orang-orang Arab di Palestina. Dengan melunaknya sikap Carter, dukungan lobi Yahudi pun surut terhadapnya dan berbalik mengucilkannya. Mereka kemudian mengalihkan dukungan kepada Ronald Reagan dalam Pemilu 1980.

Ketika Reagan terpilih, dukungan Amerika kepada Zionisme Yahudi-Kristen bertambah besar dan luas. Pemerintahan Reagan merupakan pemerintahan Amerika yang paling pro-Israel, tetapi ia juga memberikan jabatan-jabatan politik sangat penting kepada beberapa orang Zionis-Kristen terkemuka. Reagan sendiri seorang Zionis-Kristen, juga Kepala Departemen Kehakiman Amerika Ed Meese, Sekretaris Departemen Pertahanan Casper Weinberger, dan Menteri Dalam Negeri James Watt.

Di saat kekuasaan Reagan-lah dimulai diselenggarakan seminar-seminar keagamaan di Gedung Putih secara teratur, Para tokoh Zionis-Kristen seperti Jerry Falwell, Mike Evans, dan Hal Lindsey, diundang untuk berbicara dan mengadakan kontak pribadi langsung dengan para pemimpin nasional dan Kongres.

Misal, di tahun 1982, Reagan mengundang Falwell untuk memberikan ceramahnya di depan pejabat Dewan Keamanan Nasional soal kemungkinan pecahnya perang nuklir melawan Russia. Dalam suatu percakapan pribadi dengan Tom Dine, seorang pelobi senior Yahudi yang bekerja untuk American Israel Public Affairs Committee (AIPAC), seperti yang dimuat dalam The Washington Post (April 1984), Reagan menyatakan,

“Anda tahu, saya berpaling kepada nabi-nabi kuno Perjanjian Lama dan kepada tanda-tanda yang meramalkan Perang Armageddon. Saya sendiri jadi bertanya-tanya, apakah kita ini akan melihat semuanya itu terpenuhi. Saya tidak tahu. Apakah Anda belakangan ini juga telah memperhatikan nubuat-nubuat para nabi itu; akan tetapi, percayalah kepada saya bahwa nubuat-nubuat itu menggambarkan masa-masa yang sekarang ini sedang kita jalani.”

Penerus Reagan, George HW Bush, Bill Clinton, dan George W. Bush, meneruskan upaya Reagan. Ada yang berpendapat bahwa penerus Reagan ini semata demikian untuk memelihara dukungan lobi Yahudi Amerika yang memang sangat berpengaruh, ada pula yang meyakini bahwa penerusnya ini juga seorang Zionis-Kristen. Di sekeliling Bush sekarang ini bertebaran pendeta-pendeta Zionis-Kristen fundamentalis seperti Jerry Falwell, Pat Robertson, Hal Lindsey, Zola Levitt, Oral Roberts, Mike Evans, Tim LaHaye, Kenneth Copeland, Paul Crouch, Ed McAteer, Jim Bakker, Chuck Missler dan Jimmy Swaggart. Semuanya adalah para pemuka Kristen–Zionis. Mereka membela kepentingan Israel lewat semua media yang dikuasainya.

Secara teratur, para pemimpin Kristen fundamentalis ini, bersama dengan organisasi-organisasi pro-Israel yang mereka pimpin, menjangkau lebih dari 100 juta orang Kristen Amerika, dan lebih dari 100 ribu pendeta. Jumlah dana operasional mereka konon mencapai US$ 300 juta setahun. Merekalah aktor intelektual bagi dukungan membabi-buta Amerika terhadap Zionis-Israel sampai saat ini.

Hal Lindsey bahkan dengan tegas menyamakan orang Kristen yang anti-Zionisme sebagai pendukung Nazisme yang anti-Semit. Sedang Jerry Falwell adalah pendeta dari Thomas Road Baptist Church. Ia juga mendirikan Baptist Liberty University di Lynchburg, Virginia. Mahasiswanya berjumlah 10.000 orang. Jerry Falwell Ministries mendanai Jaringan Siaran TV Liberty dan program bersama Old Time Gospel Hour yang disiarkan 350 stasiun TV dunia dan memiliki anggaran sebesar US$ 60 juta per tahun.

Tahun 1979, Falwell mendirikan Moral Majority sebagai bagian dari usahanya untuk menjadikan Amerika bangsa bermoral, anti terhadap homoseksualitas, aborsi, pornografi, dan dosa-dosa sosial lainnya. Walau demikian, dalam ceramah-ceramahnya, Falwel kerap melakukan penghinaan terhadap Islam dan sebagian orang-orang Kristen yang masih saja ragu mendukung Zionis-Israel.

Disebabkan pembelaannya yang begitu gigih terhadap Zionisme, pada tahun 1979 Falwell menerima hadiah sebuah pesawat jet dari Israel. Falwell pula, orang non-Yahudi pertama yang dianugerahi medali Vladimir Ze’ev Jabotinsky, sebuah penghargaan untuk mereka yang berjuang bagi keunggulan Zionis, yangdiserahkan langsung oleh PM Menachem Begin di tahun 1980. Jabotinsky adalah pendiri Zionisme Revisionis dan berpandangan bahwa orang-orang Yahudi memiliki mandat ilahi untuk menguasai dan menduduki “kedua tepi (barat dan timur) Sungai Yordan” dan tidak tunduk pada hukum internasional.

Maret 1985, Falwell berjanji di hadapan Majelis Para Rabbi konservatif di Miami akan menyumbangkan 70 juta orang Kristen-Zionis bagi Israel. Sebab itu, Januari 1998, ketika PM Israel Benjamin Netanyahu berkunjung ke Washington, yang pertama dijumpainya bukan Presiden Clinton, tetapi Falwell dan The National Unity Coalition for Israel, yang menghimpun lebih dari 500 tokoh Kristen-Zionis. Kali ini, Falwell berjanji akan menghubungi 200.000 pendeta dan pemimpin gereja untuk mendesak Clinton mengakhiri tekanannya pada Israel yang mau memaksa negeri Zionis ini taat pada kesepakatan Oslo (Declaration of Principles) yang ditandatangani di Washington, 13 September 1993.

Dukungannya kepada Zionis-Israel, secara simetris juga berarti sikap permusuhan yang amat sangat ditunjukkan mereka kepada Islam. Di depan jaringan televisi nasional Amerika, pada tanggal 8 Oktober 2002, Falwell tanpa risih sedikit pun berceramah dan menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW itu adalah seorang teroris.

Mereka inilah yang sesungguhnya berada di balik keyakinan-keyakinan ideologis Bush dan kelompok Neo-Konservatif di gedung Putih, yang selalu mengobarkan perang demi memenuhi ambisi penguasaan dunia. Serangan ke Afganistan dan Irak, oleh mereka, dikatakan sebagai bagian dari nubuatan Tuhan menjelang datangnya The Second Coming atau Maranatha.

“IN THE NAME OF DOLLAR, OIL, AND GOD”

Ahad malam, 7 Oktober 2001. Jarum jam baru menunjukkan angka 8.45 waktu setempat. Raungan mesin pesawat dari puluhan jet tempur Amerika tiba-tiba merobek langit Afghanistan. Dari arah perbatasan Pakistan, sejumlah jet tempur dengan royal menghujani lima kota besar Afghanistan : Kandahar, Kabul, Mazar-e-Sharif, Jalalabad, dan Herat. Kegelapan malam berubah menjadi lautan api.  Cahayanya berpendar menerangi kawasan perbukitan di sekitarnya.

Hanya duapuluh enam hari setelah peristiwa WTC, Amerika Serikat menembakkan salvo tanda dimulainya perang terhadap Afghanistan. Sebuah penyerangan yang pengecut, karena untuk melawan Afghanistan yang notabene negara miskin saja, Amerika merasa perlu mengumpulkan negara-negara sekutunya agar mau bersama-sama mengeroyok Afghanistan. Jadilah pertarungan antara sekawanan elang pemakan bangkai melawan seekor kelinci.

Ironisnya, semua ini dilakukan Gedung Putih hanya berdasar tudingan, tanpa bukti sedikit pun. Akibatnya ribuan anak-anak Afghan menemui syahid secara mengerikan. Tak terhitung banyaknya yang mengungsi atau yang kehilangan sanak-keluarganya.

Pagi hari, Selasa, 13 November 2001, pasukan Koalisi pimpinan AS memasuki Ibukota Afghanistan, Kabul, yang ternyata sudah dikosongkan Mujahidin Thaliban pada malam harinya. Tidak terjadi pertempuran. ‘Jatuhnya’ Kabul dianggap oleh Amerika sebagai kemenangan. Padahal sampai hari ini, walau pemerintahan boneka AS pimpinan Hamid Karzai sudah dibentuk, pejuang-pejuang Thaliban dan Mujahidin lainnya masih melakukan serangan secara bergerilya. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)

Sejarah Rahasia Iluminati: Ketika Biang Setan Menuding Musuh-Musuhnya Sebagai Setan




 Dalih utama Bush untuk menyerang Afghanistan adalah menangkap Usamah bin Laden yang dianggapnya bertanggungjawab atas peristiwa WTC hidup atau mati. “Capture the Evil One alive or dead!” perintah Bush kepada pasukannya. Sejak WTC, Bush memang menyebut ‘Evil One’ kepada Usamah bin Laden, dan ‘Evil’ kepada Saddam Hussein.

Namun, hingga detik ini, setelah melakukan pengejaran yang amat biadab hingga membunuhi ribuan manusia tak bersalah selama hampir lima tahun, Amerika bukannya menangkap Usamah tapi ‘menangkap’ minyak yang dikandung di dalam perut Afghanistan.

Setelah Afghanistan, moncong meriam Amerika mulai mengarah ke Irak, sebuah negara kaya minyak yang hanya dibatasi oleh Iran, dari wilayah Afghanistan. Dalam sebuah pidato di Washington DC tanggal 29 Januari 2002, Bush menyebut tiga negara yaitu Korea Utara, Iran, dan Irak sebagai “Axiz of Evil” Sekutu Setan.

Istilah setan sebenarnya sudah menjadi tradisi di dalam diri presiden-presiden Amerika saat menyebut musuh-musuhnya. Frank Delano Roosevelt menyebut Jerman sebagai setan saat pidato kenegaraan di tahun 1945. Dan Ronald Reagan pun dalam pidato 8 Juni 1982 menyebut Uni Sovyet sebagai ‘Evil Empire” Imperium Setan.

Dari ucapannya, jelas Bush hendak menghancurkan ketiga negara tersebut: Korea Utara, Iran, dan Irak. Namun seperti yang telah diajarkan oleh ahli strategi perang Clausewitz maupun Sun-Tzu, “Jangan mengobarkan perang jika tidak yakin akan memenangkannya,” maka yang diserbu pertama kali adalah Irak, sebuah daging empuk di tengah duri tajam.

Betapa tidak, tanpa diserang pun Negeri 1001 Malam itu sebenarnya sudah kepayahan setelah sembilan tahun lamanya diembargo PBB. Tak kurang dari satu setengah juta rakyat Irak menemui kematian akibat berbagai macam penyakit dan kelaparan. Namun untuk menyerang Irak, Amerika lagi-lagi beraninya main keroyokan. Sejumlah negara dipaksa untuk ikut bergabung, di antaranya Inggris dan Turki. Sedang yang lainnya didesak agar mengizinkan wilayah negaranya dijadikan ‘markas penyerangan’ pasukan Koalisi ke Irak, seperti di Kuwait, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Saudi Arabia.

Menurut situs globalsecurity.org yang memantau dengan cermat detik per detik perkembangan pengiriman pasukan Koalisi ke Irak menyatakan bahwa sesungguhnya pada tanggal 13 Januari 2003, di hari itu sudah bisa dijadikan tonggak hari penyerangan. Karena 120 ribu tentara siap tempur, ditambah ratusan jet tempur, pesawat pengebom, tanker, dan sejumlah kapal induk sudah berada mengepung Irak.

Empat bulan sebelumnya, ratusan personil intelijen Amerika sudah menyusup ke Irak, memantau lokasi penembakan rudal-rudal Scud, menandai instalasi-instalasi yang harus dibom dengan penanda laser, membuat peta kota, memantau kekuatan lawan, dan sebagainya.

Namun walau demikian, agaknya Amerika punya pertimbangan lain sehingga memulai penyerangan pada tanggal 20 Maret 2003 (20.3.2003). Yang mendarat pertama kali menghantam tanah Irak adalah rudal-rudal jelajah Tomahawk yang diluncurkan dari lima kapal induk yang telah lego jangkar di perairan Teluk Persia dan sekitarnya. Serangan secara massif dilakukan selama dua pekan tanpa henti.

Pada tanggal 9 April 2003, Bagdad berhasil dikuasai pasukan Koalisi tanpa perlawanan yang berarti. Saddam sendiri berhasil ditangkap hidup-hidup pada tanggal 13 Desember 2003 dan menjalani persidangan yang penuh sandiwara hingga hari ini.

Secara berkelakar, banyak pengamat menyebut nama operasi penyerbuan pasukan Koalisi pimpinan Amerika ini dengan nama ‘Operation Iraqi Liberation’ yang disingkat OIL. Minyak. Ya, inilah sebenarnya alasan utama Bush untuk menjajah Irak. Dengan polos, Kepala Eksekutif Perminyakan Inggris, Lord Browne, mengingatkan Washington agar tidak mencaplok Irak setelah perang selesai, hanya demi kepentingan minyaknya sendiri. Dengan kata lain, Inggris meminta jatah minyak Irak juga. Ini dimuat di Guardian, 30 Oktober 2002. Jadi beberapa bulan sebelum pasukan Koalisi benar-benar menggempur Irak.

Selain untuk mengamankan suplai energi bagi dirinya, penyerangan ke Irak yang dilakukan Amerika juga didasari motif ‘memelihara’ dominasi dollar atas pasar internasional. Terlebih menghadapi ancaman Euro.

Mengutip situs rferl.org, Kontributor edisi khusus Islamic Digest Insani, Fauziah Zulkarnain, dalam artikelnya berjudul Euro dan Kecemasan Yahudi Amerika dengan tajam mengulas tentang kecemasan pemodal Yahudi Amerika terhadap keberlangsungan dominasi dollar di pasar internasional.

Padahal, salah satu doktrin yang didukung Dokumen Rebuilding America’s Defences yang ditulis pada tahun 2000, yang lebih dikenal dengan sebutan Project for the New American Century (PNAC), hasil kerja kelompok Zionis-Kristen di Gedung Putih seperti Dick Cheney, Paul Wolfowitz, Jeb Bush, dan lainnya adalah, “Mencegah negara-negara industri  yang hendak menentang kepemimpinan Washington atau pun yang mencoba berupaya memainkan peran sebagai kekuatan regional, apalagi berskala global.” Jadi, Washington sama sekali tidak menginginkan adanya satu kekuatan lain, bahkan yang bersifat regional sekali pun, yang bisa dianggap menyaingi hegemoni Amerika.

Namun Saddam Hussein tidak gentar dengan kenyataan ini. Setelah sembilan tahun diembargo, Saddam yakin betul jika perekonomian Irak harus bangkit dengan cepat, dan yang penting, kebangkitannya itu tidak didikte oleh Amerika Serikat, seperti yang selama ini dialami oleh negara-negara dunia ketiga lainnya. Sebab itu, ketika program oil for food digulirkan tahun 2000, Saddam meminta seluruh transaksi atas pembayaran 10 miliar dollar AS menggunakan mata uang Euro, mata uang baru Eropa, bukan DollarAS.

Para pengamat finasial menyatakan bahwa langkah Saddam merupakan pukulan telak terhadap perekonomian Amerika. Langkah Saddam dinilai jenius dan mulai diminati negara-negara penghasil minyak dunia lainnya seperti Iran, yang tengah mempertimbangkan untuk melakukan transaksi dagang dengan Euro, bukan Dollar. Jika Iran sampai mengambil langkah ini, Amerika akan mengalami petaka karena nilai penjualan Iran tercatat sampai dengan 16 miliar dollar.

Apalagi negara-negara penghasil minyak dunia yang tergabung dalam OPEC, kebanyakan juga bukan sekutu setia Amerika. Gedung Putih amat cemas jika seluruh negara OPEC hanya mau menggunakan Euro untuk transaksi minyak-minyaknya. Dengan demikian berarti seluruh negara-negara pembeli minyak dalam skala besar seperti Jepang dan Cina juga akan menggunakan Euro dan membuang Dollarnya.

Semuanya ini akan berujung pada kebangkrutan perekonomian Amerika dalam waktu singkat. Langkah Saddam ini sungguh-sungguh dihadapi dengan penuh kecemasan oleh Gedung Putih, terutama kartel perbankan dan industri Amerika di mana dikuasai sepenuhnya oleh jaringan pemodal Zionis-Yahudi.

Logika dari semua itu adalah, siapa pun yang masih menyimpan mata uang dollar, misalkan kita yang memiliki uang senilai 100 dollar, maka secara ekonomi, kita sebenarnya telah memberi utang kepada The Federal Reserve atau The Fed, logam mulia (emas) senilai 100 dollar. Dengan memiliki uang kertas 100 dollar berarti The Fed telah berjanji akan membayarkan utangnya sebesar 100 dollar kepada kita. Karena kita tinggal di negara dunia ketiga di mana nilai tukar mata uang kita sendiri (Rupiah) sangat rentan terhadap mata uang apa pun, maka secara logika kita akan terus menggenggam erat-erat dollar tadi, ketimbang menukarnya ke dalam mata uang Rupiah. Artinya, Bank Sentral Amerika itu tidak perlu berpikir untuk menebus utangnya kepada kita, karena kita dipercaya tidak akan pernah meminta untuk dilunasi.

Inilah jebakan dollar yang telah dirancang dengan cermat oleh para pemodal Yahudi yang menguasai Amerika (Rockefeller, Rothschild, dan sebagainya). Dengan hanya memberikan ‘surat janji’ berupa selembar kertas hijau bertuliskan 100 dollar, yang sebenarnya secara intrinsik tidak memiliki nilai sama sekali, maka The Fed telah mendapatkan logam mulia yang secara intrinsik sungguh-sungguh bernilai setara dengan 100 dollar. Tapi, mereka tidak perlu membayar utangnya kepada kita karena kita toh tetap bersikeras memegang mata uang dollar tadi. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)

Sejarah Rahasia Iluminati: Penguasaan Ekonomi



 Dengan demikian, Amerika berani berspekulasi dengan melakukan belanja gila-gilaaan terhadap anggaran belanja nasionalnya. Mereka merasa aman, karena orang sedunia—mereka yang memegang dollar—memberi utang kepada Amerika tanpa memerintahkan Amerika untuk melunasinya. Kalau pun defisit, maka bukan Amerika yang menanggung, tapi para pemegang uang kertas dollar-lah yang menerima akibatnya.

Untuk menutup defisit bagi Washington sangat mudah, bahkan menguntungkan, karena tinggal memotong nilai 100 dollar yang kita pegang itu secara intrinsik. Jika Amerika defisit, maka yang menanggungnya adalah orang-orang non-Amerika yang yang memegang dollar.

Sistem kapitalisme Amerika ini yang dipegang kuat oleh Yahudi akan terus berlangsung selama masih saja ada orang dan negara yang menyimpan cadangan devisanya dalam bentuk mata uang dollar. Padahal ,jika orang atau negara menyimpan cadangan devisa dalam bentuk logam mulia (emas) maka hal itu akan memperkuat dirinya sendiri dan otomatis merugikan Amerika.

Negara-negara Eropa selama bertahun-tahun telah mencermati hal ini. Dan setelah Uni Eropa berdiri, maka timbul pemikiran mengapa hanya Amerika yang bisa demikian, sedangkan Uni Eropa pun mampu untuk berbuat hal yang sama, maka lahirlah Euro.

Dengan membanjirnya Euro di pasaran transaksi bisnis dunia, maka itu berarti memindahkan sebagian cadangan logam mulia yang dimiliki Bank Sentral Amerika ke Eropa. Keuntungan The Fed pun terpotong. Jika yang tadinya sebelum ada Euro, cadangan logam mulia yang dimiliki The Fed, katakanlah, setara dengan nilai 1000 dollar, maka setelah ada Euro—orang-orang mengganti Dollarnya dengan Euro—maka nilai cadangan emas yang dimiliki The Fed menjadi berkurang, sesuai dengan jumlah beredarnya mata uang Uni Eropa tadi atau sesuai dengan jumlah Dollar yang dibuang.
Tadinya, kaum pemodal Yahudi Amerika menginginkan mata uang Dollar menjadi satu-satunya mata uang transaksi bisnis dunia, jadi, seluruh kekayaan intrinsik dunia, seluruh cadangan emas dunia, akan mengalir ke kas The Federal Reserve. Tapi dengan hadirnya Euro, rencana itu berantakan.
Apalagi Inggris masih saja ngotot mempertahankan Poundsterling-nya yang lebih perkasa ketimbang Dollar AS.

Sebab itu, langkah Saddam Hussein yang tidak lagi mau menerima mata uang dollar merupakan sebuah langkah yang amat berbahaya karena secara langsung bisa menggoyang stabilitas perekonomian negara adi daya tersebut. Apalagi jika negara-negara OPEC mengikuti langkah Saddam. Ini sama saja dengan peristiwa penarikan secara besar-besaran dana nasabah dari satu bank, rush. Dalam sekejap bank itu akan kolaps dan bangkrut.

Sebab itulah, Amerika menyerang Irak. Beberapa keuntungan lainnya juga akan di dapat Bush, setelah menguasai cadangan minyak di Asia Tengah (Afghanistan) maka cadangan minyak di Irakk pun akan disedot juga, dan keberadaan Amerika di Irak sangatlah menguntungkan karena bisa menjadi memantau dan menakut-nakuti Iran dan Syiria yang kurang bersahabat dengan Amerika sekaligus cepat menolong Israel jika negara ini diserang.

Walau untuk memenuhi ambisi Zionisnya itu, Bush harus mengorbankan lebih dari 2.500 tentaranya, para pemuda Amerika yang direkrut menjadi tentara dan dikirim ke Irak untuk menjemput kematian.
Banyaknya kejanggalan yang menyelimuti peristiwa runtuhnya Menara WTC, 9 September 2001, disertai dengan sikap mencurigakan yang ditunjukkan pemerintah Bush merupakan indikasi kuat bahwa peristiwa itu memang dirancang untuk terjadi dan menimpa warga Amerika Serikat non-Yahudi.

Orang-orang Amerika non-Yahudi itu sengaja dikorbankan oleh pemerintahan Bush guna menjustifikasi rencana serangan ke Afghanistan dan Irak, dan ke seluruh wilayah di dunia yang dianggap bisa menjadi penghalang cita-cita mereka, yakni membentuk Amerika Serikat menjadi satu imperium baru di dunia, di mana tidak ada satu pun negara yang mampu menyainginya dan mampu menentang kehendaknya. Amerika harus menjadi diktatur tunggal bagi dunia. Inilah inti dari dokumen pembentukan Pax-Americana.

Yang mendasari sikap politik, pemikiran, dan tindakan Bush dan orang-orang dekatnya yang dikenal sebagai Neo-Konservatif, Kelompok Hawkish, atau pun Penjahat Perang, seperti Paul Wolfowitz, Dick Cheney, Richard Perle, Donald Rumsfeld, Condoleeza Rice, dan lainnya adalah keyakinannya terhadap pokok-pokok pikiran yang terdapat di dalam Injil Darby dan Scofield yang mengharuskan seorang Kristen mendukung Zionis-Israel tanpa syarat apa pun. Injil ini sengaja dibuat oleh Konspirasi Yahudi agar orang-orang Kristen Amerika bisa menjadi kuda tunggangan bagi cita-cita satanis mereka.

Setelah komunisme dianggap sudah berakhir, maka Islam-lah yang mereka pandang sebagai batu penghalang paling keras bagi pencapaian tujuannya. Sebab itu, kekuatan hijau ini harus dihancurkan dibuat lumpuh untuk selama-lamanya. Peperangan yang digelar di Afghanistan dan kemudian Irak, dan sekarang juga Lebanon, memiliki dua keuntungan bagi Amerika dan Israel, yakni penguasaan wilayah-wilayah kaya minyak, penguasaan geo-strategis di Timur Tengah, dan menggairahkan industri perang Amerika dan Israel agar berjalan lebih cepat untuk menghasilkan laba.

Perang adalah bisnis. Dalam kedua perang di awal millennium ini, invasi terhadap Afghanistan dan Irak, industri persenjataan Amerika Serikat juga terbukti melakukan uji coba sejumlah persenjataan baru dengan kaum Muslimin sebagai tikus percobaannya. Semua ini diselimuti oleh ideologi Kabbalah dan sesuai dengan ajaran Talmud, karena pelaku utama dari seluruh kebijakan yang ditempuh Amerika, dan diikuti oleh sebagian Eropa, pelaku-pelakunya adalah anggota dari Freemasonry dan Illuminati.

Konspirasi Yahudi Internasional bermain di belakang layar. Rothschild dan Rockefeller misalnya, terus menggerakkan mesin-mesin bisnis mereka untuk menciptakan satu dunia baru, suatu dunia yang dipersiapkan bagi kehadiran kedua kalinya Sang Kristus. Yang dipercaya mereka akan memimpin mereka dalam mengalahkan musuh-musuhnya. Dalam nama Dollar, Minyak, dan Tuhan, semuanya bergerak, menuju satu titik: Peperangan dan Hari Akhir. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)

Sejarah Rahasia Iluminati: Menciptakan The Great Israel di Tanah Palestina



Washington Post, edisi April 1984, memuat satu artikel tentang pertemuan Presiden AS Ronald Reagan dengan seorang pelobi senior Yahudi dari American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) bernama Tom Dine. Pertemuan itu berlangsung secara pribadi.

Kepada Tom Dine, mantan Gubernur Negara Bagian California ini dengan serius berkata, “Anda tahu, saya berpaling kepada nabi-nabi kuno Perjanjian Lama dan kepada tanda-tanda yang meramalkan Perang Armageddon. Saya sendiri jadi bertanya-tanya, apakah kita ini akan melihat semuanya itu terpenuhi. Saya tidak tahu. Apakah Anda belakangan ini juga telah memperhatikan nubuat-nubuat para nabi itu… akan tetapi, percayalah kepada saya, bahwa nubuat-nubuat itu menggambarkan masa-masa yang sekarang ini sedang kita jalani.”

Tom Dine tersenyum sembari mengangguk pelan.

Reagan, adalah presiden Amerika pertama yang memulai suatu tradisi baru dalam protokoler Gedung Putih di mana kebaktian, seminar keagamaan, dan pertemuan-pertemuan dengan sejumlah tokoh gereja evangelikal Amerika sering diadakan. Di masa Reagan-lah paham Zionis-Kristen masuk dalam lingkaran elit pemerintahan Amerika. Seluruh kebijakan, terutama kebijakan Amerika di luar negeri khususnya untuk wilayah Timur Tengah, sangat kental bernuansa Zionis.

Penerus Reagan, George H.W. Bush, William J. Clinton, dan George W. Bush, merupakan orang-orang yang sangat yakin tentang nubuat-nubuat (janji-janji atau ramalan-ramalan) Tuhan seperti yang tercantum di dalam Injil Darby atau Scofield, Injil resmi Amerika. Menurut keyakinan mereka, abad millennium merupakan zaman akhir di mana suatu ketika akan terjadi Peperangan Besar Terakhir (Armageddon) yang melibatkan seluruh dunia, antara Tuhan melawan Iblis. Kristus akan mengalahkan Anti-Christ. Dan setelah itu dunia akan menjadi damai dan sejahtera hingga datangnya hari penghabisan.

Sebab itu, dilandasi kepercayaan akan hari akhir seperti yang dinubuatkan dalam Injil Darby, para presiden Amerika bekerja dengan sekuat tenaga untuk melapangkan jalan bagi suatu hari di mana akan datang Kristus yang kedua kalinya. Karena menurut kepercayaan mereka Kristus akan turun di tanah Palestina, maka mereka berupaya untuk menguasai Tanah Palestina sepenuhnya dan memberikannya kepada orang-orang Yahudi.

MENCIPTAKAN ISRAEL RAYA

Kitab Talmud yang begitu diyakini oleh kaum Zionis-Israel sebagai ‘lisan Nabi Musa yang tidak tercatat di dalam Taurat’, padahal Talmud merupakan buku bikinan para petinggi Rabbi Zionis-Yahudi yang menganut ajaran Kabbalah dari Mesir, sejak lama telah menanamkan keyakinan bahwa Tanah Palestina merupakan Tanah Perjanjian (The Promise Land) dari Tuhan.

Sejak Theodore Hertzl mengalami kegagalan membujuk Sultan Abdul Hamid dari Turki Utsmani untuk memberikan Tanah Palestina kepada kaum Yahudi, maka Hertzl segera menghimpun para pemuka Yahudi dunia untuk menyelenggarakan Kongres Zionisme Internasional I di Swiss (1897) yang hasil akhirnya menyerukan kaum Yahudi Diaspora—kaum Yahudi yang masih cerai-berai tinggal di berbagai wilayah di dunia—untuk melakukan imigrasi ke Palestina, sejak itu pula puluhan bahkan ratusan ribu orang Yahudi Diaspora berbondong-bondong melakukan perjalanan untuk pindah dan menetap di Tanah Palestina, dengan segala daya upaya termasuk penipuan, intimidasi, dan teror terhadap penduduk asli bangsa Palestina.

Gelombang imigrasi memenuhi Tanah Palestina ini semakin menjadi-jadi ketika Rothschild menerima surat dari Menteri Luar Negeri Inggris, Sir Arthur Balfour yang menyetujui didirikannya negara Israel di Palestina.

Tidak semua orang Yahudi Diaspora mengamini seruan Hertzl. Banyak yang menentang gerakan Zionisme yang dianggapnya sebagai pengkhianatan terhadap agama Yahudi itu sendiri. Sebab itu, antara tahun 1920 hingga 1929, jumlah imigran Yahudi yang pindah ke Tanah Palestina ‘hanya’ berjumlah 100.000-an.

Tanah Palestina itu sendiri kala itu sudah didiami oleh orang Palestina dengan jumlah populasi sekitar 750.000 jiwa. Jadi, jumlah 100.000 imigran Yahudi bukanlah jumlah yang sedikit.

Hertzl dan para petinggi Zionis sangat geram atas pembangkangan yang dilakukan sejumlah pemuka Yahudi Diaspora yang memilih tetap tinggal di Rusia, Amerika, dan Eropa, ketimbang harus berimigrasi ke Palestina. Maka dengan diam-diam, kaum Zionis ini memprovokasi dan bekerjasama dengan gerakan anti-Semit untuk melakukan teror terhadap kehidupan orang-orang Yahudi di berbagai negara tersebut sehingga mereka merasa terancam dan mengubah pikirannya.

Salah satu peritiwa yang paling terkenal dalam sejarah dunia adalah teror yang dilakukan Nazi-Jerman terhadap kaum Yahudi yang menyebabkan terjadinya arus imigrasi besar-besaran kaum Yahudi meninggalkan Jerman dan sekitarnya dan oleh para petinggi Zionis, mereka diarahkan untuk pindah ke Palestina. Sikap anti-Semit Adolf Hitler dan Nazi Jerman terhadap Yahudi Diaspora dipercaya banyak kalangan diprovokasi oleh kaum Zionis sendiri agar misi mereka di Palestina bisa berhasil.

Upaya memprovokasi Adolf Hitler agar menindas kaum Yahudi-Diaspora dilakukan oleh kelompok Zionis-Yahudi lewat seorang ahli geopolitik Yahudi-Jerman dari Universitas Munich bernama Karl Ernst Haushofer (1896-1946), yang beristerikan seorang perempuan Yahudi. Haushofer sendiri juga berdarah Yahudi.

Pada tahun 1920, Haushofer mengemukakan sebuah teori penguasaan dunia bernama The Heartland Theory. Teori ini secara singkatnya berbunyi, “Siapa pun yang menguasai Heartland maka ia akan menguasai World Island.”

Heartland (Jantung Bumi) merupakan sebutan bagi kawasan Asia Tengah, sedangkan World Island mengacu pada kawasan Timur Tengah. Kedua kawasan ini merupakan kawasan vital minyak bumi dan gas dunia.

Sebenarnya teori ini berasal dari Sir Alfrod Mackinder (1861-1947), seorang geopolitik asal Inggris terkemuka di abad ke-19. Nicholas Spykman, sarjana Amerika, bahkan menambahkan, “Siapa pun yang menguasai World Island, maka ia akan menguasai dunia.”

Kepada Adolf Hitler, Haushofer meyakinkan pemimpin Nazi itu bahwa Jerman bisa menjadi penguasa dunia berdasarkan teori itu. Adolf Hitler sangat tergoda dengan pandangan Haushofer. Sangat mungkin, buku Hitler Mein Kampf (Perjuanganku) yang dirilis tahun 1926 berasal dari teori yang dikemukakan Haushofer. Buku ini menjadi kitab suci Nazi Jerman. Maka akibatnya, Hitler pun menggelar invasi militernya secara besar-besaran dari negeri-negeri tetangganya hingga ke seluruh Eropa, bahkan Asia Tenggara.

Perang Dunia II pun meletus. Bom atom yang dijatuhkan Amerika di Hiroshima dan Nagasaki, mengakhiri Perang Dunia II dengan kemenangan di pihak Sekutu. Dalam penyidikan terhadap para penjahat perang, Haushofer dan isterinya dikabarkan melakukan bunuh diri di tahun 1946.

Ketika Hitler mulai menindas orang Yahudi-Jerman dan juga orang-orang Yahudi di wilayah-wilayah yang didudukinya, maka timbulllah gelombang eksodus besar-besaran kaum Yahudi meninggalkan Eropa. Ada yang ke Amerika, ke Australia, ke Asia tenggara, namun yang terbesar dan ini memang diarahkan oleh kelompok Zionis adalah menuju Palestina.

Sebab itu, jumlah orang Yahudi di Palestina mengalami peningkatan amat pesat. Jika di tahun 1929 saja sudah ada sekitar 100.000 jiwa, maka di tahun 1947, tercatat ada 630.000 orang Yahudi di Palestina yang mendesak kehidupan damai 1,3 juta orang Palestina. Antara 29 November 1947, ketika Palestina diberi dinding pembatas oleh PBB, dengan 15 Mei 1948, organisasi teroris Zionis mencaplok tiga perempat Palestina. Selama masa itu, jumlah orang-orang Palestina yang tinggal di 500 kota besar, kota kecil, dan desa turun drastis dari 950.000 menjadi 138.000.

Penurunan populasi orang Palestina ini diakibatkan oleh pembantaian dan pembunuhan yang dilakukan organisasi teroris Yahudi seperti Haganah, Stern, dan Irgun yang direstui bahkan diberi mandat oleh pemimpin Zionis. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)

Sejarah Rahasia Iluminati: Bangun The Great Israel di Atas Darah Muslimin



 Suratkabar Israel, Davar, edisi 9 Juni 1979, memuat sebuah artikel yang berisi buku harian seorang tentara Israel. Tentara ini ikut serta dalam sebuah operasi untuk mengepung desa Palestina, Ed-Dawayma, pada tahun 1948, dan menggambarkan kejadian kejam yang disaksikannya,
“Mereka membunuh antara delapan puluh hingga seratus lelaki, perempuan, dan anak-anak Arab. Untuk membunuh anak-anak, para tentara itu mematahkan leher mereka dengan tongkat. Tidak ada satu rumah pun tanpa mayat. Para perempuan dan anak-anak di desa tersebut dipaksa tinggal di dalam rumah tanpa makanan dan air, lalu para tentara itu datang dan meledakkan dinamit di dalamnya.

Seorang komandan memerintahkan seorang tentara untuk membawa dua perempuan muda ke sebuah bangunan tempat ia menembaki mereka… Tentara lainnya bangga karena telah memerkosa seorang perempuan Arab sebelum menembak mati dirinya. Seorang perempuan bersama bayinya disuruh membersihkan tempat itu selama beberapa hari, kemudian mereka menembaknya berikut bayinya. Para komandan yang terdidik dan sopan yang dianggap sebagai “orang baik” …. menjadi pembunuh tak berprikemanusiaan, dan ini tidak terjadi dalam sebuah pertempuran, melainkan hanya sebuah cara pengusiran dan pemusnahan. Semakin sedikit orang Arab yang tertinggal, semakin baik.
Kejadian nyata di atas hanyalah contoh kecil yang diperbuat tentara Israel selama ini terhadap Muslim Palestina.

Lebih setengah abad sudah warga Palestina, baik yang Muslim maupun Kristen, hidup bagaikan di dalam neraka. Setiap saat, di pasar, sekolah, di dalam kendaraan, bahkan di dalam rumah dan di tempat tidur, tidak ada satu tempat pun yang aman dari serangan membabi-buta tentara teroris Israel. Bukan hal aneh lagi jika seorang bocah perempuan Palestina, pagi hari berangkat ke sekolah dengan riang, menyalami tangan dan mencium pipi bundanya, sepulang dari sekolah ia telah kehilangan sebelah kaki atau tangannya.

Bukan pula hal yang aneh ketika bayi Palestina baru lahir dan baru diadzankan serta diberi nama oleh ayahnya, keesokan paginya ketika dijemur di luar rumah, sebutir peluru sniper Israel menghunjam dada mungilnya.

Mungkin, dibanding warga dunia lainnya, hanya orang Palestina yang mempunyai satu pilihan untuk cita-citanya: Syahid. Bukan menjadi pilot, dokter, guru, insinyur, dan sebagainya, tapi hanya satu dan sangat sederhana: syahid.

Wartawan penulis Ruth Anderson dari The Palestine Chronicle, menulis dengan penuh kegetiran, “…Setiap orang tahu bahwa bayi-bayi tidak bisa melempar batu. Setiap orang tahu, kecuali orang-orang Israel dan Amerika.”   Sebab itulah, Zionis-Israel dengan dukungan penuh Amerika setiap hari terus saja membunuhi bayi-bayi Palestina dengan dalih memerangi teroris.

Setelah Perang Dunia II, secara terorganisir orang-orang Yahudi Diaspora terus memenuhi Tanah Palestina. Harun Yahya dalam artikel yang berjudul “Zionisme: Sebuah Nasionalisme Sekuler Yang Mengkhianati Yudaisme”, mencatat pada tahun 1954-1955 kaum Yahudi dari Maroko pindah ke Palestina sebanyak 230.000 jiwa, dari Aljazair sebanyak 130.000, dari Tunisia juga sebanyak 130.000, dari Irak 125.000, dari Syiria 30.000, dari Rusia 80.000, dari Turki 80.000, dari Lebanon (1953-1954) sebanyak 40.000, dari Mesir 66.000 (1956), dan dari Yaman 52.000 (1948-1950).

Perpindahan besar-besaran ini mengakibatkan perubahan jumlah populasi di Tanah Palestina secara drastis. Apalagi setelah Inggris angkat kaki dari Palestina, teroris-teroris Israel melakukan pembantaian dan teror terhadap warga Palestina dalam jumlah amat besar secara sistematis.

Pada tahun 1948, Jenderal Moshe Dayan, yang kemudian menjadi menteri pertahanan, memimpin pembantaian di Masjid Dahmash dan membunuh 100 Muslim Palestina. Akibatnya,  60.000 orang mengungsi, dan 350 orang lebih akhirnya juga meninggal dalam perjalanan.

Dalam tahun yang sama, Zionis juga melakukan pembantaian di Salha dengan cara menggiring penduduk masuk ke dalam masjid dan kemudian membakarnya hidup-hidup. Sekitar 105 warga Palestina syahid.

Yang lebih biadab lagi adalah pembantaian di Deir Yassin yang dilakukan oleh organisasi teroris Irgun dan Stem, yang dipimpin Menachem Begin yang kemudian menjadi PM Israel.

Pada malam, 9 April 1948, rumah-rumah penduduk di Deir Yassin dibakar dan semua orang yang mencoba melarikan diri dari api ditembak mati. Selama serangan ini, wanita-wanita hamil dicabik perutnya dengan bayonet dan kemudian perutnya yang terbelah itu dihunjam tembakan, anggota tubuhnya dipotong-potong, dan banyak perempuan muda Palestina diperkosa.

Sekitar 52 orang anak-anak Palestina disayat-sayat tubuhnya di depan mata ibunya, lalu mereka dibunuh secara keji. Lebih dari 280 warga Palestina syahid di tangan Zionis.

Pembantaian juga terjadi di Qibya (1953) mengakibatkan 96 Muslim Palestina, Kafr Qasem (1956, 49 syahid), Khan Yunis (1956, 275 syahid), Gaza (1956, 60 syahid), Fakhani (1981, 150 syahid), Masjid Aqsa (1990, 11 syahid dan 800 terluka), Masjid Ibrahimi (1994, 50 syahid), Qana, Lebanon (1996, 109 syahid), dan lain-lain. Belum lagi pembantaian zionis atas bocah-bocah Palestina dalam intifadhah.

Di antara operasi teroris Zionis itu yang paling terkenal kebiadabannya adalah pembantaian pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila, Lebanon, tahun 1982, yang merenggut nyawa lebih dari 3.000 warga Palestina. Arsitek pembantaian itu adalah Ariel Sharon yang bekerja sama dengan kelompok Phalangis Kristen, Lebanon.

Dengan dalih mencari pejuang Palestina, para pengungsi yang tidak bersenjata, tanpa membedakan usia dan jenis kelamin, diberondong senjata otomatis secara membabi buta. Setelah pembantaian keji itu, Ariel Sharon mendapat julukan dari berbagai media sebagai ‘Tukang Jagal Timur Tengah’.

Setiap hari tentara-tentara Zionis-Israel membunuhi dan menjagal warga Palestina, dari bayi yang baru lahir hingga orangtua renta yang sudah tidak bisa lagi berjalan sendiri, namun orang-orang Arab ini tidak juga habis, tidak juga menunjukkan ketakutannya. Bukannya mengibarkan bendera putih, orang-orang Palestina malah menunjukkan bahwa mereka adalah ‘laki-laki jantan’ yang selalu berdiri dengan gagah walau harus menghadapi kematian.

Alangkah terkejutnya Barat ketika HAMAS keluar sebagai pemenang dalam pengumuman hasil pemilihan umum parlemen Palestina, 25 Jauari 2006. Walau proses pemilihan itu berlangsung dengan damai dan sangat demokratis, namun Amerika dan juga Israel tetap saja tidak mau mengakui hasil tersebut. Bahkan Presiden George W. Bush menggalang kekuatan Eropa untuk bersama-sama menerapkan embargo dan menghentikan bantuan finansial terhadap rakyat Palestina.

Satu-satunya keengganan Bush terhadap HAMAS karena selama ini tidak mengakui keberadaan Zionis-Israel sebagai sebuah negara. Selain itu, HAMAS yang oleh Washington dimasukkan sebagai salah satu organisasi teroris dunia, juga dianggap melindungi banyak gerakan perlawanan terhadap Zionis-Israel dan Amerika di dunia.

HAMAS sendiri memandang keberadaan Zionis-Israel di tanah milik bangsa Palestina adalah illegal dan sama sekali tidak sah. Keberadaan Zionis-Israel di tanah Palestina adalah sebagai penjajah. Sebab itu, HAMAS—lewat pernyataan Kepala Biro Politiknya Khalid Mishal—berketetapan hati bahwa sampai kapan pun pihaknya tidak pernah mengakui Zionis-Israel sebagai suatu negara hingga Israel hengkang dari bumi Palestina. Bahkan ketika Barat dan Sekutunya benar-benar mengembargo Palestina setelah HAMAS menang pemilu, sikap dan keyakinan HAMAS tidak bergeming sedikit pun.

Embargo yang dilancarkan Amerika dan Sekutunya ini mengakibatkan pemerintahan Palestina di bawah HAMAS berjalan tertatih-tatih. Bahkan untuk menggaji pegawai negeri termasuk para guru, pemerintahan Palestina yang dipimpin Perdana Menteri Ismail Haniya dari HAMAS tidak sanggup. Akibatnya banyak keluarga-keluarga Palestina yang tinggal di rumah-rumah sempit yang sudah hancur karena dibom tentara Zionis, makan seadanya dan seketemunya. Banyak orangtua Palestina yang melakukan puasa agar perut anak-anaknya bisa terisi makanan. PM Ismail Haniya sendiri telah menjalani hidup yang sangat berkekurangan. “Kami sudah siap makan nasi hanya dengan garam,” demikian tegasnya. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)


Sejarah Rahasia Iluminati: AS Sebagai Panglima The New World Order






Amerika pun dengan intensif mengontak ‘sekutu’nya di Palestina, Presiden Mahmoud Abbas. Amerika ingin agar Fatah yang lebih moderat—mau berkawan dan mengakui Israel—memerangi HAMAS. Dengan diam-diam Amerika memasok senjata kepada Fatah agar dipakai guna menghadapi HAMAS.


Namun rupanya Mahmoud Abbas juga bermain dan tidak mau dikendalikan sepenuhnya oleh Washington sehingga membuat Amerika kehabisan kesabaran. Zionis-Israel pun meningkatkan tekanan dan penindasannya terhadap warga Palestina. Semua ini terjadi dihadapan mata pemimpin-pemimpin Arab yang tidak mau berbuat apa-apa, karena mereka lebih mencintai dunia dengan segala kemewahan semunya ketimbang al-Jannah di sisi Allah SWT.

Di Palestina, selain menghadapi gempuran tentara Zionis, HAMAS juga harus menghadapi pembangkangan yang dilakukan pasukan Otoritas Palestina yang berada di bawah pimpinan Mahmoud Abbas. Kelompok Fatah ini menganggap jalan perundingan dengan Israel masih bisa dilakukan guna mencapai perdamaian, walau dalam faktanya berkali-kali berunding, Israel berkali-kali pula mengkhianatinya.

Di tengah pertempuran, HAMAS berhasil menewaskan dua tentara Israel dan menawan satu kopral Yahudi asal Perancis bernama Gilad Shalit, 25 Juni 2006. HAMAS menyanderanya untuk ditukar dengan aktivis HAMAS yang dipenjara oleh Israel. Namun agaknya hal ini dijadikan dalih bagi Israel untuk melakukan serangan besar-besaran terhadap Palestina.

Di tengah berkecamuknya peperangan, tiba-tiba dari arah utara Israel, dekat perbatasan Lebanon, milisi Hezbollah berhasil menewaskan delapan tentara Israel dan menawan dua tentaranya. Hezbolah masuk ke dalam pertempuran, bergabung dengan HAMAS, untuk melawan Israel.

Diculiknya dua tentara Israel oleh negeri Zionis itu dipolitisir sedemikian rupa sehingga dijadikan momentum bagi pihaknya untuk melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah selatan Lebanon. Israel berdalih, serangan yang menewaskan ribuan penduduk sipil Lebanon yang kebanyakan anak-anak kecil ini, dilakukan untuk membebaskan dua tentaranya yang ditawan dan juga untuk melumpuhkan kekuatan milisi Hezbollah. Dalam sebuah wawancara yang dilakukan Al-Jazeera dengan Prof. Efraim Inbar, Gur Besar Ilmu Politik Universitas Bar-Ilan dan Direktur Begin-Sadat Centre for Strategic Studies, sebuah lembaga think-thanknya Israel, motif Israel yang sesungguhnya menyerang Lebanon terungkap.

“Tujuannya, Israel ingin menghentikan ancaman serangan misil ke wilayahnya, memaksa Hezbollah keluar dari Libanon selatan dan berusaha untuk menghancurkan sebanyak mungkin peralatan militer Hezbollah. …Yang menjadi isu di sini sebenarnya bukan penculikan dua tentara Israel, tapi Hezbollah yang sejauh ini dianggap mengancam kehidupan seperlima populasi Israel. Konon, Hezbollah punya misil-misil jarak jauh yang bisa menjangkau lebih banyak penduduk Israel. Dalam konteks itu, menjadi kewajiban moral dan tugas utama Israel untuk melindungi warganya. Secara pribadi, saya tidak yakin apakah yang sekarang kita lakukan merupakan tindakan yang benar. Saya pikir fokusnya seharusnya adalah Damaskus, bukan Libanon, “ papar Efraim.

Yang tidak diungkap oleh banyak kalangan, karena berbagai sebab, adalah rencana Amerika Serikat untuk menciptakan Israel Raya di Timur Tengah. Amerika berambisi Israel menjadi satu-satunya negara di Timur Tengah yang kuat secara ekonomi maupun militer, agar kepentingan-kepentingan Amerika bisa aman di Timur Tengah tanpa direcoki oleh berbagai pihak seperti yang terjadi selama ini.

Apalagi jauh hari sebelum menginvasi Irak, Gedung Putih pernah menyatakan bahwa Amerika akan menciptakan The Greater Middle East, yang sesungguhnya sebuah penghalusan dari The Great Israel. Hal ini dikuatkan dengan pernyataan yang dilontarkan Menteri Luar Negeri AS Condoleeza Rice, sebelum meninggalkan Gedung Putih pada tanggal 23 Juli 2006 untuk mengunjungi Israel, bahwa lawatannya ke Israel ini bukanlah untuk mendorong gencatan senjata melainkan untuk melihat terwujudnya Timur Tengah yang baru.

Serangan ke Lebanon diharapkan mampu mempercepat terbentuknya sebuah Timur Tengah yang baru di mana Israel akan menjadi Super Power di Timur Tengah, sebagai anjing penjaga bagi kepentingan AS di wilayah kaya minyak itu. Rencana untuk membentuk Israel Raya dengan batas-batas wilayah yang melampaui jauh dari garis batas Tanah Palestina sesungguhnya bukan hal yang baru.

Dalam Protocolat Zionis, ada sebuah ilustrasi yang menggambarkan Peta Impian Israel Raya di mana batas wilayah kekuasaan Israel disimbolkan dengan badan ular yang melingkar di mana ujung ekornya bermula dari wilayah Ankara di Turki, lalu memanjang ke selatan melewati pesisir pantai barat Syiria, Lebanon, dan Palestina, terus menjulur ke utara Mesir hingga Alexandria, lalu ke selatan melewati Giza dan Luxor, ke arah timur menuju  Saudi Arabia, melewati daerah antara Mekkah dan Madinah, mencaplok seluruh wilayah Kuwait, lalu dari kota kecil Abadan menyusuri perbatasan antara Irak dan Iran, terus hingga Syiria seluruhnya dicaplok dan barulah sampai pada kepala ular di mana lidahnya menjulur ke Yerusalem.

Ini berarti, kota-kota besar seperti Beirut, Yerusalem, Kairo, Madinah, Amman, Kuwait City, Bagdad, dan Damaskus, semuanya akan dicaplok oleh Israel. Sebagian besar wilayah Turki, Mesir, dan Saudi Arabia akan diduduki Israel. Dan negara-negara Syiria, Irak, Kuwait, dan Palestina akan dihapuskan.

Namun dalam perjalanannya, entah untuk pengelabuan atau pun karena disebabkan pertimbangan politis, maka batas-batas tersebut mengalami penyusutan. Namun penyusutan ini saja masih sangat kontroversial karena jelas-jelas melanggar kedaulatan sejumlah negara Arab.  Dalam peta Israel raya yang baru ini, Madinah dan Bagdad tidak lagi berada dalam wilayah Israel, tetapi  Kairo dan sebagian Mesir Timur yang berbatasan dengan Suez, sebagian besar Syiria, termasuk Damaskus, dan seluruh Lebanon, Yordania, serta Palestina masih menjadi target pencaplokan.

Pembentukan Israel Raya ini tidak hnaya didasari oleh motivasi geopolitik dan finansil, tetapi juga oleh keyakinan Kabbalistik di mana AS dan Israel meyakini harus memberikan dan melapangkan jalan bagi kehadiran ‘Ratu Adil’ yang akan memimpin dunia, di mana Amerika menjadi satu-satunya negara terkuat dunia. Inilah esensi dari The New World Order atau Tata Dunia Baru.

Ini jelas tidak dilakukan Amerika dengan main-main. Presiden Bush sendiri telah mengeluarkan ‘Bush Doctrin’ yang menghapus semua doktrin pertahanan Amerika Serikat di masa-masa pendahulu Bush, dan dia menggantikannya dengan Doktrin yang sungguh-sungguh anarkhis, fasis, dan melihat seluruh dunia hanya dari kacamatanya sendiri. Amerika akan menjadi Imperium Dunia yang melebihi segala imperium besar yang pernah ada. Lebih besar dari Imperium Spanyol, Imperium Inggris, Parsi, bahkan Imperium Romawi sekali pun.

DUNIA KITA SEKARANG

Runtuhnya Menara WTC pada Selasa hitam, 11 September 2001, dieksploitasi habis-habisan oleh kelompok Hawkish yang berkuasa di Gedung Putih untuk melancarkan agenda penguasaan dunia yang telah lama dinanti-nantikan.

Tidak lama setelah mengggempur Afghanistan, Gedung Putih mensahkan National Security Strategy 2002 yang disebut sebagai “Doktrin Kebijakan Keamanan Terbaru AS”. Dalam doktrin terbaru ini, Amerika dengan penuh percaya diri, bahkan lebih tepat dikatakan amat congkak, berketetapan hati untuk memerangi terorisme dengan cara dan gayanya sendiri. Amerika sama sekali tidak akan memperdulikan hukum internasional, bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa pun harus tunduk pada keinginan Amerika.

Yang menentukan bahwa pihak-pihak tertentu itu teroris atau pun bukan, yang berhak hanya Amerika.

Bahkan Bush dengan tegas menyatakan bahwa cita-cita Amerika untuk menciptakan The New World Order, Tata Dunia Baru, yang seluruhnya berisi nilai-nilai Amerika dalam waktu dekat, harus sama sekali tidak mendapat tantangan. Bush mengulang kalimat hitam-putihnya, “Bersama kami atau teroris.” Menurut doktrin ini, semua negara yang tidak setuju dengan terorisme harus bersatu di bawah komando Amerika. Siapa pun yang tidak mau mengikuti langkah Amerika, maka mereka dianggap sebagai bagian dari teroris yang harsu diperangi. Tidak ada abstain.(Bersambung/Rizki Ridyasmara)



Sejarah Rahasia Iluminati: Ambisi AS Menciptakan The New World Order




Zbigniew Brzezinski, mantan penasehat keamanan AS, dalam bukunya “The Grand Chessboard” (1997) mengutip Samuel P. Huntington yang mengatakan, “Dunia tanpa dominasi Amerika akan menjadi sebuah dunia yang sarat dengan kekacauan dan kesemrawutan, tidak demokratis, dan tidak memiliki pertumbuhan ekonomi yang memuaskan dibandingkan dengan sebuah dunia di mana Amerika Serikat punya pengaruh yang kuat dari negara mana pun dalam menyelesaikan masalah-masalah dunia.”

Dalam situs whitehouse.org, kita bisa membaca secara utuh 31 halaman dokumen NSS 2002 yang sangat radikal itu. Beberapa butir yang patut mendapat perhatian dari kita di sini mengenai doktrin NSS 2020, seperti yang telah disampaikan Bush di depan Kongres Amerika, adalah:

Pertama, Hanya ada satu model untuk kesuksesan nasional Amerika yang sifatnya berkelanjutan, yakni kebebasan, demokrasi, dan kebebasan dalam mendirikan suatu usaha… Menciptakan suatu era baru bagi Pertumbuhan Ekonomi Global (Global Economic Growth) melalui Pasar Bebas (Free Markets) dan Perdagangan Bebas (Free Trade) sebagai langkah pertama internasionalisasi Amerika.

Kedua, Amerika Serikat memiliki hak untuk melakukan aksi pendahuluan (preemptive actions) untuk mengkanter adanya ancaman bagi keamanan nasional Amerika, langkah ini akan mencegah aksi-aksi yang berisi permusuhan dari lawan-lawan Amerika, maka jika dianggap perlu Amerika akan menempuh jalan menyerang terlebih dahulu.

Ketiga, Amerika akan terus mengembangkan kekuatan militernya, teknologi modern, termasuk melakukan pengembangan terhadap sistem pertahanan rudal secara efektif. Ini semua dilakukan demi kepentingan Amerika tanpa boleh dibatasi oleh siapa pun termasuk hukum internasional, bahkan Piagam PBB sekali pun.

Butir-butir ini menurut pandangan Abdul Halim Mahally, mantan staf ahli Duta Besar RI dan analis sospol kawasan Asia Selatan, menunjukkan bahwa Bush: Pertama, dalam point nomor satu, Amerika dengan tegas menyatakan kesuksesan nasional hanya dengan cara menerapkan kebebasan, demokrasi, dan kebebasan dalam mendirikan suatu usaha. Untuk itu Amerika akan berusaha keras ‘mengekspor’ nilai-nilai yang dianutnya itu ke seluruh pelosok dunia. Pemerintah Bush berkeinginan untuk mengantarkan Amerika sebagai negara yang menjadi ‘Kiblat Ekonomi’ seluruh bangsa.

Mahally dengan penuh ketidakpercayaan menulis, “Ambisi Bush itu tentu sangat gila. Kalau memang demokrasi dan kebebasan dianggap layak untuk dijadikan sebagai ukuran bagi kesuksesan sebuah negara atau bangsa, maka kita barangkali masih bisa menerima. Akan tetapi, bagaimana dengan ‘kebebasan mendirikan usaha’? …Penegasan tambahan Amerika itu sekan menafikan adanya sistem ekonomi Sosialis dan Komunis  (juga Syariah).

Menurut NSS 2002 itu, semua sistem ekonomi yang berseberangan dengan sistem ekonomi Amerika (Kapitalisme) diangap sebagai tentangan. Juga setiap negara yang memberlakukan pembatasan terhadap penetrasi perdagangan dan kapitalisasi internasional, maka ia akan dianggap membahayakan keamanan nasional Amerika.

Menurut Doktrin Bush ini, tiap negara wajib membuka pintu seluas-luasnya bagi penanaman modal internasional, penetrasi pasar kapitalisme, dalam hal ini adalah investasi dan perdagangan pasar dari perusahaan-perusahaan besar Amerika Serikat. Bila ada satu negara yang menutup diri, maka siap-siaplah Amerika akan menganggapnya teroris dan bukan tidak mungkin akan menjadi sasaran serangan militer selanjutnya. Atau kalau tidak, Amerika akan merancang suatu konspirasi agar rezim yang melawannya itu jatuh dan digantikan dengan rezim yang patuh pada Amerika, seperti halnya yang terjadi di Irak dan Afghanistan.

“Kebijakan Bush justru mengimplikasikan pemerintahannya akan menggerakan kekuatan militer guna memaksa setiap negara agar tunduk pada setumpuk agenda AS tentang perdagangan bebas dan kebebasan yang seluas-luasnya bagi perusahaan-perusahaan besar Amerika utuk menanamkan modal mereka di seluruh negara. Jika 85 tahun lalu Presiden AS Woodrow Wilson menyatakan keinginannya “membuat dunia lebih aman bagi demokrasi”, maka di abad ke-21 ini, Presiden Bush justru ingin “membentuk dunia agar aman bagi perusahaan-perusahaan multinasional”.

Perancang NSS 2002 atau Doktrin Bush ini siapa lagi jika bukan komplotan Hawkish yang sekarang ini memang sangat berkuasa di Gedung Putih. Kelompok Hawkish ini adalah perpaduan antara kaum Yahudi-Zionis-Kristen Fundamentalis dan industrialis persenjataan.

NSS 2002 ini dirancang awalnya oleh Dick Cheney saat masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan Amerika Serikat di tahun 1991. Rancangan itu terus diperbaharui dan disempurnakan. Pada tahun 2000, sebelum terjadinya peristiwa WTC, rancangan itu sudah disempurnakan oleh Paul Wolfowitz, mantan Duta Besar AS di Indonesia dan kini Deputi Menhan AS.

Dalam bukunya itu, Mahally mencatat bahwa setiap pemegang kekuasaan di Gedung Putih pernah menggelar senjata sedikitnya dua kali selama menjabat sebagai presiden. Pemerintah AS telah mengebom 21 negara di dunia sejak tahun 1950-2003. Presiden Bush sendiri sekarang ini selain dikelilingi oleh tokoh-tokoh gereja Zionis-Kristen, juga dikelilingi oleh sedikitnya 9 jenderal bintang empat, 38 jenderal bintang tiga, 107 orang berpangkat letnan jenderal, dan 150 jenderal bintang satu.
Kepercayaan diri yang amat menonjol dalam diri rezim Bush, sehingga terkesan amat congkak dan memandang negara-negara lain sebelah mata, bisa jadi disebabkan sekarang ini Amerika telah menjadi satu-satunya negara adi kuasa dunia. Amerika bukan hanya terdiri dari 50 negara bagian dengan gelaran pasukan yang disebar di 130 negara dunia, namun juga sebuah negara yang memiliki angkatan laut, udara, dan darat terbesar dan terkuat di dunia. Semua ini berkat anggaran militer Amerika yang begitu besar setara dengan total anggaran militer 25 negara yang disatukan.

Untuk riset militernya saja, Amerika mengalokasikan total anggaran yang lebih besar ketimbang jumlah anggaran enam negara besar lainnya yang disatukan. Ini dimungkinkan berkat kekuatan perekonomian negeri ini di mana 1/3 investasi asing dunia berada di Amerika. Dari total anggaran dunia untuk bidang pertahanan yang berjumlah US 950 miliar dollar, setengahnya merupakan anggaran pertahanan Amerika Serikat!.

Dewasa ini, ada empat kekuatan dunia yang dicatat Washington bisa menjadi pesaingnya jika dibiarkan tumbuh besar. Mereka adalah Uni Eropa, Rusia, Cina, dan Dunia Muslim. Walau peran Amerika sangat dominan dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan diharapkan akan mampu mengerem ‘kemandirian’ Uni Eropa, namun sikap Uni Eropa yang membuang Dollar dan menggantikannya dengan mata uang bersama, Euro, sangat merugikan posisi perekonomian AS. Hanya Inggris yang masih mempertahankan Poundsterling.

Sedang Rusia dan terlebih lagi Cina, Amerika Serikat amat cemas jika kedua negara besar ini menjalin aliansi dengan Dunia Islam atau Uni Eropa. Sebab itu, Amerika dengan intensif memainkan kartu politik kawasan. Agresi militer Amerika ke Afghanistan dan kemudian menjadikan negeri itu sebagai bonekanya yang mau diperintah apa saja, merupakan bagian dari penguasaan kawasan Asia Tengah untuk merusak stabilitas regional Moskow, Beijing, dan Teheran. Sedang agresi ke Irak, selain tentu saja untuk menjarah ‘emas hitamnya’, juga merupakan upaya Amerika untuk mendukung keberadaan Israel di Palestina dan menciptakan ‘base-camp’ yang bisa bergerak cepat jika diperlukan di kawasan itu. Segalanya, mengarah kepada satu tujuan: penciptaan The New World Order.

Andil Bush sangat besar dalam menggerakkan roda Amerika melayani kepentingan kaum Hawkish yang sesungguhnya merupakan aktor-aktor layar (aktor terbuka) dari kepentingan global Ordo Kabbalah.

Sebuah rencana yang sudah berabad-abad dirancang. George Walker Bush sendiri semasa kuliah di Yale University telah menjadi anggota dari perkumpulan rahasia Skull and Bone, yang merupakan satu jaringan dari kelompok persaudaraan Kabbalis.

Willliam Huntington Russel, saudara dari Samuel P. Huntington, semasa masih di Berlin, Jerman, telah terdaftar sebagai anggota dari kelompok persaudaraan “Skull and Bone” yang merupakan sebuah kelompok persaudaraan rahasia di mana anggotanya banyak yang berasal dari kalangan artistokrat dan orang-orang kaya Jerman. Sekembalinya dari Jerman, Russel mendirikan sebuah cabang dari Germanic Skull and Bone di Yale University. The Yale University Skull and Bone tercatat sebagai cabang ke-322 dari The Broterhood of Death, Persaudaraan Kematian, di mana Hitler juga pernah menjadi anggotanya. Russel mendirikan kelompok ini bersama 13 anak-anak dari keluarga elit Wallstreet Banking. Tentang semua kerahasiaan ini, silakan baca selengkapnya di artikel berjudul “The Skull and Bones-Yale University, The Occult Bush Family Dossier” situs Bilderberg.org. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)


Sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template