Senin, 13 April 2015

Jangan Asal Tuduh, Dong!



Waduh, pas lagi Ujian Nasional, bahasannya anget begini nih. Hehehe.. buat sarapan deh. Sebelum ngerjain UN, baca aja gaulislam edisi 390 ini. Ok? Langsung tancap gas aja ya? Nggak pake lama-lama prolog. Hehehe…

Yup! Jangan asal tuduh. Islam sangat menjaga kehormatan manusia. Ada aturan mainnya lho dalam Islam. Nggak bisa sembarang nuduh orang berbuat maksiat atau kesalahan kalo belum ada bukti lengkap. Nggak boleh juga saling mencela. Apalagi mencap kaum muslimin sebagai kaum radikal dan teroris. Nuduh kudu ada bukti. Ok?

Sobat gaulislam, bayangin deh kalo nggak ada aturan atau ajaran untuk saling menghormati sesama manusia, pasti dunia ini terasa kering, dan bahkan menjadi tempat yang menakutkan bagi kita. Gimana nggak, sumpah serapah dan caci maki antar manusia bisa aja menjadi hal yang wajar, bahkan ngejelek-jelekkin orang sesuka hatinya juga tumbuh subur di tengah masyarakat, mencela dan memfitnah menjadi menu harian masyarakat kita. Duh, nggak kebayang gimana jadinya kehidupan kita.

Budaya saling mengintip atau memata-matai pun mungkin menjadi hal biasa aja. Kamu mungkin pernah ngelihat film Enemy of the State? Oh, belum? Hehehe.. jangan-jangan pas film itu dibuat kamu belum lahir ya? Kalo saya sih kebetulan udah gede waktu itu. Film garapan sutradara Tony Scott yang dirilis tahun 1998 ini dibintangi Will Smith, Gene Hackman, dan Jon Voight. Enemy of the State bercerita tentang rencana NSA (National Security Agency) Amrik yang akan memberlakukan pengintaian terhadap seluruh warga Amrik demi keamanan nasional dari serangan teroris. Tapi rencana ini tak berjalan mulus karena ada pejabat lainnya yang nggak setuju karena dinilai melanggar hak kebebasan sipil. Gimana nggak, rencananya di setiap rumah di Amrik akan dipasangin kamera pengintai. Waduh, ini kan udah melecehkan kerhormatan dong ya? Ehm, tuh film seru banget dengan akting aktor-aktor berkarakter kuat. Lengkapnya sih, kamu bisa tonton aja sendiri. Biar lebih puas. Ini sekadar contoh aja bahwa mengintip atau saling curiga yang berlebihan bisa juga melecehkan kehormatan manusia.

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Islam sebagai ideologi ini pasti nggak bakalan membiarkan umat manusia ini saling cela, saling fitnah, dan bahkan saling menjelekkan satu sama lain. Nggak akan. Itu sebabnya, dalam Islam kita diberikan tuntunan bagaimana seharusnya berhubungan dengan orang dan saling menjaga kehormatan di antara mereka.

Inilah hebatnya Islam. Memang sih, dalam peradaban lain juga ada istilah saling menghormati, tapi Islam lain. Beda banget dasarnya. Kalo peradaban lain yang lebih menonjol adalah sikap demikian karena didasarkan kepada humanisme, prinsip kemanusiaan. Sementara dalam Islam, memang hal itu diajarkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Jadi memang bukan semata sifat moral, tapi memang udah ada aturannya. Soal ini, kamu bisa buka kembali bab pertama buku ini tentang etika (baca: akhlak). Oke?


Nggak boleh saling curiga

Sikap curiga ini bisa menghalangi kita untuk percaya kepada orang lain. Karena bawaannya nggak percaya aja alias ragu. Yup, karena curiga adalah sikap kurang percaya atau merasa sangsi alias ragu terhadap kebenaran atau kejujuran seseorang (takut dikhianati dsb). Ini ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi ketiga, cetakan III, 2003, hlm. 225.

Nah, kalo di hati kita tumbuh rasa curiga, bawaannya emang nggak percaya aja sama orang. Berprasangka buruk aja gitu. Bayangin deh kalo itu semua dilakukan oleh tiap orang yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Pasti terjadi kekacauan, karena satu sama lain udah nggak ada sikap saling percaya. Justru yang tumbuh subur adalah prasangka. Padahal, prasangka ini bisa membuat kita nggak menghormati seseorang, dan seseorang yang kita curigai jika kemudian ia merasa dicurigai akan tumbuh rasa khawatir dan menganggap bahwa dirinya nggak dihromati. Merasa disepelekan.

Dalam Islam, mencurigai orang lain sehingga merasa dirinya kudu memata-matai ini disebut dengan tajassus. Oya, tajassus adalah mengorek yakni [meneliti] berita (memata-matai).  Secara bahasa bila dikatakan, jassa al-akhbâr wa tajassasaha artinya adalah mengorek [meneliti] suatu berita. (Syamsuddin Ramadhan, Tajassus (Spionase), al-Azhar Press 2003, hlm. 3).

Sobat gaulislam, Allah Ta’ala tahu betul karakter manusia dalam soal ini, maka Allah Ta’ala menyampaikan dalam firman-Nya (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS al-Hujuraat [49]: 12)

Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Awaslah kamu daripada sangka-sangka, karena sangka-sangka itu sedusta-dusta berita.” (HR Bukhari, Muslim)

Imam Qurthubiy, mengartikan firman Allah, di atas dengan, “Ambilah hal-hal yang nampak, dan janganlah kalian membuka aurat kaum muslim, yakni, janganlah seorang di antara kalian meneliti aurat saudaranya, sehingga ia mengetahui auratnya, setelah Allah Ta’ala menutupnya.”

Imam ath-Thabari ngasih komentar, maksudnya adalah “Janganlah sebagian kalian menyelidiki aurat sebagian yang lain dan janganlah mencari-cari rahasianya yang ia harap dengannya akan nampak aibnya akan tetapi cukuplah dengan apa yang nampak bagi kalian di antara perkaranya dan dengan itu pujilah atau celalah dan jangan pada apa yang tidak engkau ketahui di antara rahasianya. Beliau mengutip perkataan

Mujahid yang berkata: “Ambillah apa yang nampak bagi kalian dan tinggalkanlah apa yang tersembunyi dari kalian”.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Janganlah kalian saling menyelidik, janganlah kalian saling memata-matai, janganlah kalian saling berlebih-lebihan dalam sesuatu, janganlah kalian saling dengki, janganlah kalian saling benci dan janganlah kalian saling bermusuhan dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara” (HR Muslim dari Abu Hurairah)

Tuh sobat, Islam memang udah ngasih aturan yang jelas dan tegas dalam menjaga dan melindungi kehormatan setiap muslim. Nggak boleh nekat memata-matai karena kita punya prasangka buruk atau karena curiga. Ini menjadi bukti bahwa Islam memberikan rasa aman bagi setiap manusia. Wah, pasti kamu sekarang bangga, bahwa Islam memang punya jawaban dari persoalan ini. Inilah okenya Islam, sobat.

Tetapi, kini dalam kehidupan yang liberal, jauh dari Islam, eh kaum muslimin malah dimata-matai oleh pihak tertentu. Baik pemerintah maupun individu dan kelompok. Hmm.. sebenarnya bukan dimata-matai aja sih, bahkan udah dituduh. You know lah, dituduh radikal, dituduh teoris, dituduh makar dan lain sebagainya. Keji banget dah tuduhannya!


Jangan pula saling merendahkan

Sobat gaulislam, Islam juga mengajarkan kita agar nggak saling merendahkan, saling dengki dan iri. Ini bagian dari penjagaan dan pemeliharaan Islam terhadap kehormatan. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): “Jangan kamu saling dengki dan iri, dan jangan pula mengungkit keburukan orang lain. Jangan saling benci dan jangan saling bermusuhan, serta jangan saling menawar lebih tinggi atas penawaran yang lain. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim yang lainnya, dengan tidak mendzaliminya, tidak mengecewakannya, tidak membohonginya, dan tidak merendahkannya. Letak takwa ada di sini (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk ke dada beliau, sampai diulang tiga kali). Seorang patut dinilai buruk bila merendahkan sudaranya yang muslim. Seorang muslim haram menumpahkan darah, merampas harta, dan menodai kehormatan muslim lainnya” (HR Muslim)

Iya, merendahkan orang lain adalah bagian dari merendahkan derajatnya sebagai manusia. Nggak menghargai kehormatannya. Itu sebabnya, Islam mengatur dengan jelas masalah ini. Memberikan arahan dan tuntunan. Tentu, agar kaum Muslimin tumbuh menjadi orang-orang yang rendah hati dengan tidak merendahkan martabat orang lain. Islam menjadikan kaum Muslimin mampu untuk menghormati muslim lainnya. Ini semua bagian dari pemeliharaan dan penjagaan Islam terhadap kehormatan manusia. Bahkan termasuk kepada kafir dzimmiy atau ahlu dzimmah, yakni orang nonmuslim yang menjadi warga negara, yang hidup bersama mereka (kaum Muslim) di Negara Islam (Daulah Khilafah Islamiyah), membayar jizyah dan taat kepada hukum-hukum Islam, kecuali yang menyangkut praktik hukum yang diakui untuk mereka, seperti hukum-hukum tentang akidah, ibadah, nikah, talak, makanan (minum) dan pakaian. Ini pendapat Imam asy-Syafi’i, al-Umm, juz IV, hlm. 213, yang dikutip dalam buku Jihad dan Perang, jilid I, karya Dr. Muhammad Khair Haekal, hlm. 218. Kebetulan saya punya bukunya tuh.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Barangsiapa yang membunuh seorang (kafir) yang sedang terikat perjanjian (mu’ahadah) yang telah mendapat perlindungan dari Allah dan RasulNya (dzimmiy), maka ia telah melanggar perlindungan Allah—yakni mengkhianati perjanjian—dan dia tidak akan mencium baunya surga, meskipun bau surga itu tercium dari jarak sejauh perjalanan yang lamanya 40 musim gugur.”

Selain itu Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu pernah mengatakan, “Sesungguhnya, hanya dengan membayar jizyah, maka harta mereka berstatus sama seperti harta kita dan darah mereka sama seperti darah kita.”  (Catatan: penjelasan hadits di atas dan pendapat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bisa dibaca di buku karya Muhammad Husain Abdullah, Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam, hlm. 211).

Sobat gaulislam, inilah kepedulian Islam terhadap kehormatan manusia. Islam melarang untuk merendahkan manusia, dan berusaha untuk tetap menjaga kehormatannya. Tentu, selama masih sesuai dengan batasan-batasan yang diatur dalam Islam. So, buat yang nggak suka dengan Islam, jangan asal tuduh ya! [O. Solihin | Twitter @osolihin]

Sumber
Continue Reading

Wajib Selektif Menerima Berita




Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Suatu kabar berita mengandung dua kemungkinan, benar atau dusta. Benar jika dipaparkan sesuai fakta yang sebenarnya. Dan dusta jika tidak didasarkan pada fakta yang terjadi, baik adanya penambahan ataupun pengurangan. Apalagi kalau berita itu disampaikan oleh orang yang tidak memiliki pondasi iman yang mapan, tak dikenal akan keshalihan dan ketakwaannya. Sehingga ia tak takut akan hari akhirat, di mana dibuka semua yang disembunyikan dan ditampakkan semua yang ditutup-tutupi, dan setiap orang akan mempertanggungjawabkannya. Maka melakukan seleksi, ferivikasi, cek dan ricek menjadi sangat penting. Apalagi kalau berita yang ditayangkan secara masal untuk membentuk satu opini atau menggiring isu yang diinginkan, jauh lebih kita berhati-hati meyakini kebenarannya.

Allah Ta'ala memberikan tuntunan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar tidak lantas percaya pada suatu berita,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

"Wahai orang-orang yang Beriman, apabila datang seorang fasiq dengan membawa suatu informasi maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena suatu kebodohan, sehingga kalian menyesali perbuatan yang telah kalian lakukan." (QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini mengajarkan kepada kaum muslimin agar berhati-hati dalam menerima berita dan informasi. Karena benar dan tidaknya informasi akan menentukan penilaiannya kepada sesuatu dan cara menyikapinya. Jika informasi akurat sehingga membuahkan pengatahuan yang memadahi, maka akan memunculkan penalian yang benar dan sikap yang tepat. Sebaliknya, jika informasi itu tidak akurat akan mengakibatkan munculnya penilaian dan keputusan yang salah. Dan giliran selanjutnya, muncul kezaliman di tengah masyarakat.

Perintah memeriksa suatu berita diungkapkan dengan kalimat ( فَتَبَيَّنُوا ) yang berasal dari kata al-tabayyun. Sementara Hamzah dan al-Kisa’i membacanya dengan ( فَتَثَبَّتُوْا ) yang berasal dari kata al-tatsabbut. Keduanya memiliki makna yang mirip.

Asy-Syaukani di dalam Fath al-Qadir menjelaskan, tabayyun maknanya adalah memahami dan memeriksa dengan teliti. Sedangkan tatsabbut artinya tidak terburu-buru mengambil kesimpulan seraya melihat berita dan realitas yang ada sehingga jelas apa yang sesungguhnya terjadi. Atau dalam bahasa lain, berita itu harus dikonfirmasi, sehingga merasa yakin akan kebenaran informasi tersebut untuk dijadikan sebuah fakta.

. . . benar dan tidaknya informasi akan menentukan penilaiannya kepada sesuatu dan cara menyikapinya . . .

Realitas Tabayyun di Tengah-tengah Umat

Tetapi sayang, tradisi ini kurang diperhatikan oleh kaum muslimin saat ini. Pada umumnya orang begitu mudah percaya kepada berita di televisi, koran, majalah, internet, atau media massa lainnya. Padahal media-media tersebut tidak memperhatikan persoalan iman dan takwa. Bahkan seringnya ikut menyebarkan kemaksiatan dan pemikiran yang jauh dari nialai islam. Lebih para lagi, ada sebagian kaum muslimin yang apriori terhadap pemberitaan yang dimunculkan oleh sesamea muslim yang komitmen terhadap dakwah dan perjuangan Islam, namun mudah percaya kepada berita yang bersumber dari orang kafir, padahal kekufuran itu adalah puncak kefasikan. Sehingga dalam pandangan ahlul hadits, orang kafir sama sekali tidak bisa dipercaya periwayatannya.

Sebagai misal, ketika mereka menuduh seseorang atau kelompok sebagai teroris, maka serta merta semua orang seperti koor mengikuti berita itu secara taken of granted. Akibat dari informasi tersebut, sebagian umat Islam menjadi terpojok dan terkucil, dan bisa jadi terzalimi. Sementara orang-orang kafir mendapatkan dukungan sehingga berada di atas angin. Dalam persoalan seperti ini seharusnya orang Islam berhati-hati, jika tidak mengetahui informasi secara persis maka harus bersikap tawaqquf (diam) Jangan mudah memberikan respon, pendapat, analisa atau sikap terhadap orang lain jika informasi yang diperolehnya belum valid. Sebab jika tidak, ia akan terjerumus pada sikap mengikuti isu, dan akhirnya menetapkan sebuah keputusan tanpa fakta. Padahal Allah telah berfirman;

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban." (QS. Al-Isra’: 36)

Maka kami berpesan kepada umat Islam agar selektif dan hati-hati dalam menerima berita. Karena berita diolah oleh manusia, sedangkan manusia tempatnya salah dan khilaf, maka kemungkinan salah masih ada. Apalagi mereka juga punya nafsu dan kepentingan, bisa saja berita diangkat untuk menggiring opini masyarakat guna kepentingan tertentu. Dan pastinya manusia akan bekerja sesuai pemikiran dan ideologinya begitu juga para pewarta. Atau bisa juga berita dibuat karena adanya pesanan atau desakan. Sedangkan kita yang mencerna suatu berita dan menyimpulkannya, lalu diikuti dengan penilaian dan sikap akan tetap diminta pertangungjawabannya di hadapan Allah Ta'ala. Jangan sampai kesimpulan kita malah ikut arus orang-orang kafir dan munafik untuk memadamkan cahaya Islam, dan mendukung mereka yang terus bekerja untuk menyudutkan dan memerangi dakwah Islam dan perjuangan menegakkan syariatnya.

Ya Allah tolonglah Islam dan kaum muslimin, hancurkan musuh-musuh-Mu dan musuh dien ini. Ya Allah jauhkan kami dari bala' dan fitnah. Tunjukkan yang benar adalah benar sehingga kami bisa mengikutinya. Dan tunjukkan yang salah itu adalah salah sehingga kami bisa menjauhinya. Amiin. [PurWD/voa-islam.com]
Continue Reading

Situs-Situs Islam Dicabut Pemblokirannya, Tapi Tetap Diawasi?





JAKARTA (voa-islam.com) - Sebanyak 12 situs Islam yang diblokir akhir bulan lalu dan menyebabkan timbulnya kritikan tajam di media sosial telah dibuka kembali, menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Ismail Cawidu, humas Kominfo mengatakan situs yang dibuka berjumlah 12 dari 19 situs yang diajukan dan dianggap radikal (oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, BNPT).

Pemblokiran 19 situs media Islam ini menimbulkan kritikan keras dari para pengguna media sosial melalui tagar #KembalikanMediaIslam.

"Ada keinginan untuk berkomunikasi (dari pemilik situs) dan dalam pertemuan dengan panel dengan 17 orang untuk bidang SARA, ada 12 situs yang dibuka per Jumat siang (10/04)," kata Ismail kepada wartawan di Jakarta.

Situs Islam yang dibuka termasuk kiblat.net, gemaislam.com, panjimas.com dan voa-islam.com.
Salah seorang pemilik situs yang sempat diblokir oleh ISP (Internet Service Providers) Indonesia itu, Kiblat.net, Agus AN, mengatakan mereka masih tidak mengerti alasan di balik pemblokiran itu.

Bela situs yang mengkritik Islam

"Visi media ini tentang keislaman dan dakwah Islam. Kami tidak terima (dibilang radikal), radikal definisi BNPT tak jelas, radikalnya apa, padanannya apa, ekstrim mana nih. Tidak jelas," kata Agus kepada wartawan  di Jakarta. Hal yang  sama dikemukakan oleh Pemred voa-islam.com, Mashadi, yang mengatakan, pemblokiran situs-situs Islam tidak memilliki dasar yang jelas.

"Konten kami memberitakan apa saja yang terjadi pada umat Islam di nusantara dan Timur Tengah, seperti media-media lain, tidak ada bedanya," tambahnya.

Kendati dibuka, Ismail mengatakan panel yang terdiri dari para akademisi, organisasi masyarakat dan tokoh masyarakat akan ikut melakukan pengawasan.

"Yang melakukan pengawasan adalah masyarakat dan para anggota panel," kata Ismail.

Organisasi pergerakan anak muda Pamflet mengatakan sehubungan dengan pemblokiran situs-situs ini, yang utama adalah semua pihak terbuka untuk kritik.

"Kalau kamu membela hak situs Islam untuk hidup dan berekspresi atas nama kebebasan pers dan kebebasan berekspresi, maka konsekuensinya adalah kamu pun harus membela hak situs yang mengkritik Islam untuk hidup. Adil kan?," kata Raka Ibrahim dari Pamflet.

Memang, kebebasan tetap harus dihormati oleh siapapun yang berkuasa di negeri ini, sipil atau militer. Karena hanya dengan kebebasan pers itu, kekuasaan dapat dikontrol. Tidak menjadi sewenang-wenang. (dtta/dbs/voa-islam.com)
Continue Reading

Kok, Fobia sama Islam?



Sobat gaulislam, gonjang-ganjing kasus pemblokiran sejumlah website media Islam di akhir Maret 2015 lalu masih terasa hingga kini. Setidaknya, saat gaulislam edisi ini ditulis sebelum dikirim ke percetakan (ya iyalah, masa’ dicetak tanpa ada tulisan?). Itu sebabnya, saya mencoba menulis juga soal ini. Harapannya, kamu, meski masih remaja, kudu paham juga. Jangan sampe kamu cuek atau malah planga-plongo kalo ditanya soal ini. Sebaliknya, justru karena masih remaja itulah, kamu kudu punya rasa penasaran yang tinggi untuk mengetahui masalah-masalah umat. Siap ya? Kudu!

Emang sih, tema remaja biasanya tema-tema yang ringan dan bila perlu lucu. Tetapi, gaulislam mencoba memberikan sentuhan lain. Meski temanya berat, tetapi berusaha dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami dan cara penyampaiannya yang ringan dan bila perlu menghibur. Namun jangan khawatir, meski tema berat dengan judul yang mungkin bagi sebagian besar di antara kamu ada yang baru tahu setelah dijelasin, kamu bisa mudah memahaminya. Kalo masih susah juga, nggak apa-apa. Itu tahap dalam proses belajar. Sebab, yang penting setelah mendapatkan penjelasan kamu jadi paham dan mulai serius mikirin masalah umat, bukan cuma masalah pribadi aja.

Bro en Sis rahimakumullah. Kemenkominfo, atas saran dari BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) memblokir 19 website media Islam. Malah terbaru sampai tulisan ini selesai dibuat, nambah lagi jadi total 22 website yang diblokir. Memang sih nggak sampe ditutup, tetapi pemblokiran mengakibatkan website itu nggak bisa diakses oleh pengguna internet (walaupun kalo pake proxy server luar negeri, masih bisa diakses kok. Tapi agak ribet dan masalahnya tak semua orang tahu soal teknologi informasi). Kalo diblokir berarti isi website nggak bisa dibaca. Alasan pemblokiran karena konten atau isi website-website tersebut menjadi pendukung kelompok ISIS yang dituduh menyebarkan kekerasan. Intinya, radikalisme. Hmm… coba kita preteli istilah radikalisme yuk!


Apa sih radikalisme itu?

Kamu tahu apa tentang radikal? Hehehe kalo saya agak-agak ingetnya juga dengan istilah kimia. Maklum, dulu sempat belajar di sekolah kejuruan analis kimia. Sedikit sih ingetnya, tetapi sebagian besar lupa (hehehe). Istilah radikal di kimia organik itu adalah gugus atom yang dapat masuk ke dalam berbagai reaksi sebagai satu satuan, yang bereaksi seakan-akan satu unsur saja, misal CH3- (metil), C2H5- (etil), SO4 (sulfat). Nah, itu radikal (tapi dalam ilmu kimia).

Oke, supaya nggak ngelantur, tentu yang dimaksud radikal dan radikalisme dalam pembicaraan kita kali ini adalah tentang kekerasan. Nah, kalo kamu menengok KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dengan mencari kata radikal dan radikalisme, maka penjelasannya adalah sebagai berikut: ra-di-kal 1 secara mendasar (sampai kpd hal yg prinsip): perubahan yg —; 2 Pol amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan); 3 maju dl berpikir atau bertindak; ra·di·kal·is·me n 1 paham atau aliran yg radikal dl politik; 2 paham atau aliran yg menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dng cara kekerasan atau drastis; 3 sikap ekstrem dl aliran politik.

Setelah membaca penjelasan dari kamus tersebut, apa yang kamu pikirkan sekarang? Apakah kamu akan berpikir bahwa istilah radikal atau radikalisme itu, untuk saat ini, bisa saja berbeda sudut pandang dalam mengartikannya? Menurut orang yang menilai bahwa kondisi masyarakat saat ini adalah akibat perubahan yang radikal, yakni dari masyarakat yang islami kepada masyarakat yang liberal. Negeri dengan mayoritas muslim, tetapi perilaku kaum musliminnya tak sepenuhnya mencerminkan jatidiri seorang muslim. Bisa juga saat ini, ketika masyarakat udah liberal lalu sebagian kelompok dakwah dari kalangan kaum muslimin menginginkan juga perubahan menjadi masyarakat islami. Nah, perubahannya ada yang melalui jalur islahiyah alias perbaikan dan juga jalur inqilabiyah alias revolusi. Sayangnya, ketika perubahan yang dilakukan revolusi itulah yang kemudian dituding melakukan perubahan radikal. Gimana, paham, kan? Semoga ya.

Sobat gaulislam, anehnya, cap radikal atau radikalisme itu sepertinya sengaja dilekatkan kepada Islam dan kaum muslimin yang lurus agamanya. Gimana nggak, mereka yang dituding memiliki pemikiran dan perilaku radikal adalah yang mengamalkan ajaran agamanya. Misalnya aja, muslimah yang mengenakan hijab syar’i dituding radikal, kaum muslimin yang akidahnya lurus, tauhidnya benar, disebut juga radikal karena menganggap pemerintahan yang sekarang adalah thagut. Mereka yang bilang demokrasi haram itu juga dituding memiliki pandangan radikal dan menyebarkan radikalisme.

Apa benar begitu? Jangan-jangan tafsiran radikal dan radikalisme itu sesuai kepentingan pihak tertentu, yang memang nggak suka dengan kebangkitan Islam. Mungkin saja, lho. Sebab, mereka yang berpaham liberal seperti Jaringan Islam Liberal yang justru merusak pemahaman akidah kaum muslimin, dan seharusnya disebut radikal, ternyata nggak dibahas sama BNPT. Website-nya pun nggak diblokir. Belum lagi yang berpaham Syiah atau Ahmadiyah yang sudah jelas merusak akidah kaum muslimin, yang seharusnya dikategorikan radikal, eh malah dibela dengan alasan HAM dan website-nya aman-aman saja. Pasti deh, ini ada udang di balik bakwan. Waspadalah!


Fobia terhadap Islam merajalela

Kalo orang kafir, karena kebodohannya, lalu benci Islam dan kaum muslimin, itu sih wajar. Tetapi yang mengaku muslim namun membenci Islam dan kaum muslimin, itu kebodohan yang luar biasa. Kok bisa? Ya, memang bisa saja ngakunya muslim, tetapi yang bersangkutan malah nggak suka dengan Islam dan kaum muslimin. Haduh, ini sih aneh bin ajaib, sobat! Entah apa yang ada di pikirannya. Mungkin saja dia udah fobia dengan Islam, atau memang bodoh, atau memang ada yang ngasih ransum berupa gelimang dunia agar dia jadi corong musuh-musuh Islam untuk memusuhi kaum muslimin. Ngeri!

Oya, sebenarnya apa sih fobia itu? Oke deh saya jelasin dikit ya. Ini ada kaitannya dengan masalah psikologis. Ya, fobia (gangguan anxietas fobik) adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena. Fobia bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya. Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap fobia sulit dimengerti. Nah, ini definisinya. Aplikasi dari isitilah ini kamu bisa lihat bagaimana ada orang yang fobia terhadap Islam. Aneh banget ya?

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Kira-kira apa ya penyebab orang jadi fobia kepada Islam? Kamu tahu? Bagus. Belum tahu? Oke, saya coba kasih bocoran ya. Ada beberapa kemungkinan mengapa ada orang yang fobia terhadap Islam. Pertama, dia belum kenal dengan Islam. Jadi masih ragu dan cenderung menghindari alias nggak mau bersentuhan dengan sesuatu yang belum dikenalanya. Intinya, nggak mau tahu.

Kedua, dia mendapatkan informasi tentang Islam dari sumber yang salah. Misalnya, dia dapat informasi dari orang-orang atau kelompok yang dasarnya memang membenci Islam, sehingga informasi yang disampaikannya pasti penuh dengan kesalahan. Nah, begitu dia menyerap informasi itu secara mentah-mentah, maka dia kemungkinan besar ikut-ikutan membenci dan fobia terhadap Islam. Parah juga ya? Bayangin deh kalo ada orang yang memfitnah kamu, lalu dia nyebarin informasinya di website, maka besar kemungkinan banyak orang ikut membenci kamu gara-gara mendapatkan informasi tentang fitnah yang ditebarnya itu.

Ketiga, karena dia dasarnya adalah orang yang tidak suka dengan Islam. Mereka yang tidak suka dengan Islam bisa berasal dari orang kafir dan bisa juga dari kalangan kaum muslimin yang pikiran dan hatinya sudah terbeli dengan gelimang harta duniawi atau tertipu ajaran sesat yang ditebar musuh-musuh Islam.

Oke, itulah kondisi-kondisi yang bisa menyebabkan seseorang fobia terhadap Islam. Kamu bisa lihat sekarang, pasti ada dampak akibat pemblokiran website media Islam yang diberitakan terus-menerus di media massa (lengkap dengan stigmatisasi alias pencitra-burukkan tentang Islam). Apa dampaknya? Mungkin saja di rumah nanti ortu kamu bakalan melarang kamu dekat-dekat dengan kegiatan keislaman karena dikira bagian dari kegiatan terorisme. Itu kan udah parah banget ya? Ortumu bukan lagi takut, sudah fobia.

Apalagi dampak yang kemungkinan ada dari pemblokiran website media Islam dan gencarnya berita dan opini tentang hal itu? Bisa jadi masyarakat akan takut dan bahkan juga fobia terhadap Islam, padahal mereka orang Islam. Aneh ya? Sangat boleh jadi memang ini target berikutnya. Selain itu, bisa juga sebagai shock therapy alias lecutan atau cambukan untuk media Islam lainnya. Sebagaimana istilah ini yang awalnya digunakan di dunia medis untuk mengatasi penyakit kejiwaan yang membandel. Shock therapy atau lengkapnya electric shock therapy dilakukan dengan cara ‘menyetrum’ otak pasien dengan aliran listrik. Ngeri!

Sobat gaulislam, fobia terhadap Islam bakalan kian merajalela dengan adanya langkah pemblokiran website-website Islam oleh kemenkominfo atas ‘titah’ BNPT. Namun, jangan khawatir, pemgelola media Islam lainnya tetap terus berjuang. Bagi pengelola media Islam yang website-nya diblokir bisa mencari alternatif alamat website baru (atau cara lainnya), semoga bisa kembali menyampaikan berita dan opini seputar Islam yang selama ini sering diplintir oleh media sekular. Allah Ta’ala berfirman (yang arinya), “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad [47]: 7)

Tetap semangat berjuang sampai akhir hayat demi kemuliaan Islam dan kaum muslimin. [O. Solihin | Twitter @osolihin]

Sumber : gaulislam edisi 389/tahun ke-8 (17 Jumadil Akhir 1436 H/ 6 April 2015) 
Continue Reading

Waspadai ‘Monsterisasi’ dan Kriminalisasi Dakwah Islam




[Al-Islam 751, 20 Jumaduts Tsaniyah 1436 H – 10 April 2015 M]

Sebagaimana ramai diberitakan, Kemenkominfo memblokir 19 media Islam online sejak Minggu (29/3). Pemblokiran itu didasarkan pada laporan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Oleh BNPT, semua situs Islam tersebut dituding menyebarkan paham radikal (Antaranews.com, 1/4).
Reaksi keras dari berbagai pihak bermunculan. Pemblokiran itu dianggap serampangan dan terkesan menyasar dakwah Islam.

Karena reaksi keras masyarakat, Kemenkominfo dan BNPT akhirnya terkesan saling lempar tanggung jawab dan tak mau disalahkan. Kemenkominfo mengaku hanya pelaksana teknis pemblokiran. Pemblokiran dilakukan karena usulan dari BNPT. Sebaliknya, Kepala BNPT Saud Usman menyatakan, BNPT hanya melaporkan bahwa ada berita-berita yang dianggap negatif seperti terkait radikalisme kepada Kemenkominfo (Jawapos.com, 5/4).

Tontonan ini menyiratkan cara Pemerintah mengatur negeri ini amburadul. Tontonan ini melengkapi tontonan serupa dalam banyak masalah yang terjadi di era rezim Jokowi-JK yang baru berlangsung enam bulan ini, termasuk dalam kasus baru-baru ini yaitu tunjangan pembelian mobil untuk pejabat.

Sewenang-wenang dan Zalim

Pemblokiran situs-situs Islam itu menjadi pertanda buruk bagi kembalinya bibit-bibit kebijakan represif (sewenang-wenang) ala Orde Baru. Pemerintah juga terlihat bertindak otoriter (kejam). Pemerintah seharusnya mengedepankan dialog sebelum memblokir situs yang dituding sebagai penyebar ajaran radikal itu. Sayang, atas nama memberantas ISIS, Pemerintah langsung secara sewenang-wenang memblokir situs-situs Islam tanpa peringatan dan dialog terlebih dulu. Padahal kebanyakan situs Islam yang diblokir adalah situs dakwah Islam biasa. Sebagiannya malah menentang paham dan tindakan ISIS.

Mantan Ketua MK Jimly Asshiddiqie berpendapat, saat ini Pemerintah terkesan “main sikat” tanpa melakukan kajian terlebih dulu (Kompas.com, 1/4).

Pemblokiran situs-situs itu juga dinilai tidak tepat. Pengamat masalah cyber, Fami Fahruddin, menilai pernyataan BNPT soal alasan pemblokiran situs yang dianggap radikal masih lemah. Pasalnya, hal itu tidak berdasarkan pada aturan yang sesuai (Liputan6.com, 4/4).

Pemblokiran situs didasarkan pada penilaian sepihak dan tanpa disertai dengan dialog tentang kriteria kriteria situs radikal atau yang berisi radikalisme. Hal itu diakui oleh Kepala BNPT Saud Usman. Menurut dia, seperti dikutip Beritasatu.com (5/4), ternyata definisi radikal ataupun terorisme sesungguhnya belum jelas. Anehnya, berbekal pada pengertian radikal yang dia akui subjektif itu, BNPT mengambil langkah tegas untuk meminta pemblokiran dengan pertimbangan mengerem penyebaran paham radikal. Saud mengungkapkan, suatu situs dipandang bermuatan negatif jika menyebarkan paham anarkis seperti: terorisme; mengandung unsur SARA, mengandung penyebaran paham-paham takfiri (mengkafirkan pihak lain); berkaitan dengan organisasi radikal; serta mengandung unsur-unsur kebencian, kekerasan, ancaman dan anjuran untuk berjihad.

Bisa dikatakan, dengan itu Pemerintah melalui BNPT ingin memaksakan satu bentuk penafsiran versi mereka terhadap masyarakat. Tafsiran itu lalu dijadikan dasar melakukan tindakan hokum oleh Pemerintah. Padahal justru tindakan seperti itu yang selama ini dinilai radikal, yakni memaksakan penafsiran sendiri terhadap pihak lain. Jika begitu, ke depan bisa jadi, asal ada kata tertentu yang dinilai sebagai konten negatif, situs atau lembaga pemberitaan lainnya ditindak begitu saja.

Bahkan jika keterusan, dengan dalih memberantas radikalisme, tidakan pemberangusan media ini bisa dijadikan alat untuk membungkam sikap kritis terhadap Pemerintah dan terhadap berbagai kezaliman yang dilakukan oleh negara-negara penjajah, khususnya di negeri-negeri Islam.

Peluang hal itu terjadi ada. Irfan Idris dari BNPT (Republika, 2/4/15) menyatakan bahwa menunjukkan kebencian kepada Pemerintah juga masuk kategori radikal. Di salah satu televisi swasta pada Rabu (1/4) pagi, Irfan Idris menambahkan, pemberitaan soal kemiskinan dan arogansi negara adidaya juga bisa memicu radikalisme.

Tak salah kiranya jika pemblokiran situs-situs Islam dengan alasan radikalisme itu membawa pertanda buruk bagi kembalinya bibit-bibit tindakan represif (sewenang-wenang) dan otoriter (kejam) yang dilakukan oleh Pemerintah. Juga tak berlebihan jika dikhawatirkan semua itu akan dijadikan alat untuk membungkam suara-suara kritis terhadap kebijakan Pemerintah yang zalim.

Waspadai ‘Monsterisasi’ dan Kriminalisasi Dakwah Islam

Kebijakan Pemerintah yang sewenang-wenang di atas juga dikhawatirkan akan menjadi semacam proses ‘monsterisasi’ dan kriminalisasi ajaran dan dakwah Islam. Monsterisasi terjadi karena pemblokiran situs-situs Islam itu dikhawatirkan akan membangun gambaran negatif tentang Islam dan ajaran Islam. Akibatnya, di masyarakat akan tertanam kesan bahwa Islam dan ajarannya seolah monster yang menakutkan.

Tindakan sewenang-wenang Pemerintah juga akan menambah daftar kriminalisasi terhadap ajaran, simbol dan dakwah Islam. Hanya karena membawa bendera tauhid, misalnya, orang dicap sebagai simpasitan ISIS. Hanya karena memakai cadar, Muslimah dicurigai sebagai anggota kelompok radikal. Hanya karena menyuarakan syariah dan Khilafah, mereka yang menyuarakan itu dianggap sebagai ancaman.

Jihad pun, sebagai bagian dari ajaran Islam, dianggap sebagai kejahatan. Salah satu kriteria radikal ala BNPT adalah memaknai jihad secara terbatas. Dengan kriteria itu, jihad dalam makna perang dan seruan untuk itu dianggap sebagai kriminal. Padahal jihad dalam kitab-kitab fikih para fuqaha secara syar’i dimaknai perang di jalan Allah SWT untuk meninggikan kalimat-Nya baik langsung atau tak langsung.

Memang benar, secara bahasa jihad bermakna mengerahkan segenap daya upaya. Namun, menjadikan makna bahasa itu sebagai makna jihad secara syar’i justru akan membelokkan konsep jihad. Sebab, jihad itu berkaitan dengan banyak hukum termasuk hukum tentang syahidnya orang yang meninggal di dalam jihad. Tidak ada seorang pun ulama yang menilai orang yang meninggal ketika bekerja keras mencari nafkah, atau menuntut ilmu, atau menahan hawa nafsu sebagai orang yang mati syahid, meski sekadar syahid akhirat sekalipun.

Memaknai jihad secara syar’i sebagai perang di jalan Allah tidak serta-merta menjadikan orang melakukan tindak kekerasan. Pasalnya, banyak hukum dan ketentuan syariah yang menjelaskan bagaimana jihad itu dilaksanakan. Menyimpulkan bahwa pemaknaan jihad sebagai perang akan mengantarkan orang melakukan kekerasan merupakan kesimpulan yang sembrono jika tidak dikatakan bodoh.

Lebih dari itu, jihad dalam arti perang itu pada faktanya berperan besar dalam kemerdekaan negeri ini. Semangat jihadlah yang dulu mengobarkan perlawanan umat Islam terhadap penjajah. Resolusi Jihad yang dikumandangkan oleh Hadhratusy-Syaikh KH Hasyim As’ariy pada November 1945 dulu adalah juga jihad dalam makna perang. Resolusi Jihad itu membangkitkan semangat umat Islam sehingga bisa mengalahkan penjajah kala itu. Andai Resolusi Jihad itu tidak dimaknai perang, entah sejarah besar itu terjadi atau tidak, bahkan entah negeri ini merdeka atau tidak.

Pemblokiran situs Islam dan propaganda besar-besaran seputar radikalisme itu juga akan berpotensi menjadi ‘monsterisasi’ dan kriminalisasi yang berdampak pada umat Islam. Hal itu akan bisa membuat umat Islam merasa takut untuk sekadar ikut pengajian, misalnya, karena takut dicap radikal.

Lebih buruk lagi jika akhirnya kriminalisasi itu kebablasan, misalnya dengan menganggap seruan penerapan syariah dan penegakan Khilafah ar-Rasyidah sebagai ancaman.

Padahal Islam ini diturunkan agar menjadi rahmat[an] lil ‘alamin. Allah SWT berfirman:

]وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ[

Tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam (TQS al-Anbiya’ [21]: 107)

Rahmat[an] lil ‘alamin itu menjadi sifat dari Islam secara keseluruhan; akidah, syariah dan hukum-hukumnya termasuk khilafah, jihad, hudud, dll. Karena itu rahmat[an] lil ‘alamin secara sempurna hanya akan terwujud ketika Islam secara keseluruhan diterapkan secara nyata di tengah-tengah kehidupan. Penerapan Islam secara menyeluruh itu tidak lain melalui Khilafah ar-Rasyidah ‘ala minhaj an-Nubuwwah. Dengan demikian justru penerapan syariah secara totalitas dalam institusi Khilafah ar-Rasyidah ‘ala minhaj an-Nubuwwah itulah yang harus diperjuangkan untuk mewujudkan rahmat[an] lil ‘alamin. Ketika itu terjadi, keberkahan akan benar-benar meliputi negeri dari segala sisi.

]وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ… [

Jika saja penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi… (TQS al-A’raf [7]: 96).

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []

Komentar al-Islam:

Menteri Sekretaris Negara Pratikno mengatakan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memerintahkan Perpres Nomor 39/2015 yang mengatur kenaikan tunjangan uang muka kendaraan pejabat dicabut (Republika, 7/4).
  1.  Anehnya, Jokowi mengaku tidak membaca terlebih dulu Perpres tersebut dan langsung ditandatangani saja. Padahal Perpres adalah peraturan yang dikeluarkan Presiden.
  2. Ini menambah daftar keanehan di negeri ini: awalnya berjanji tidak akan bagi-bagi jabatan, nyatanya bagi-bagi; keanehan polemik calon Kapolri yang tak beres; impor sapi awalnya dilarang, tetapi kemudian dibolehkan; impor beras semula dilarang, ternyata diatur resmi agar bisa tetap impor; rapat PNS tidak boleh dihotel, lalu kembali dibolehkan; dsb.
  3. Bagaimana negeri ini terurus dengan baik jika berbagai ketidakberesan itu terus dipertontonkan?
Sumber
Continue Reading
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template