Rabu, 19 Juli 2017

SK Badan Hukum Dicabut, HTI: Pemerintah Langgar Perppu Ormas



Hidayatullah.com– Pencabutan Surat Keputusan (SK) Badan Hukum Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), dinilai oleh Juru Bicara HTI, Ismail Yusanto, sebagai bukti nyata kesewenang-wenangan pemerintah.

Sebab, kata Ismail, dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No 2 Tahun 2017 (Perppu Ormas), pencabutan status hukum adalah sanksi administratif atas pelanggaran yang dilakukan sebuah ormas, setelah sebelumnya disampaikan surat peringatan.

“Sampai ini hari HTI tidak pernah tahu kesalahan apa yang sudah dilakukan karena tidak pernah ada surat peringatan sebagaimana diatur dalam Perppu tersebut. Tiba-tiba dicabut begitu saja. Jadi pemerintah telah melanggar aturan yang dibuat sendiri,” ujarnya kepada hidayatullah.com, beberapa saat setelah pencabutan SK tersebut diumumkan di Jakarta, Rabu (19/07/2017) pagi.

Ismail menyatakan, penerbitan Perppu Ormas saja sudah sebuah bentuk kesewenang-wenangan pemerintah, karena telah menghapus proses pengadilan dalam pembubaran ormas.

“Dengan pencabutan status hukum HTI, maka pemerintah telah nyata-nyata melakukan dobel kesewenang-wenangan atau kedzaliman,” ujarnya.

“HTI tidak akan tinggal diam. HTI akan melakukan perlawanan hukum,” tegasnya.

Sebelumnya, Kemenkumham mencabut SK Badan Hukum HTI, menindaklanjuti Perppu Ormas yang baru-baru diterbitkan pemerintah.

Dengan pencabutan ini, maka, kata Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum Kemenkumham, Freddy Haris, HTI dinyatakan bubar sesuai dengan Perppu No 2 Tahun 2017 pasal 80 A.* Andi

Continue Reading

Kenapa Kita Berbuat Maksiat? Apa Karena Nafsu? Syaithan? Atau Apa?



Terkadang atau bahkan mungkin setiap hari kita ada melakukan dosa. Seperti misalnya berbohong, berbuat kasar ke orang lain, dan sebagainya.

Kenapa bisa seperti itu?

Apakah karena kita mengikuti hawa nafsu kita?

Atau karena kita dibisikin oleh syaithan?

Atau apa?

Sebelum membahas itu, ada baiknya kita berangkat dari fakta manusia terlebih dahulu, sedikit mengulang pembahasan pada artikel “Hakikat Manusia” sebelumnya.

Nah, jadi… Setiap manusia -siapapun dia, hidup di zaman kapan pun, di mana pun- normalnya memiliki 5 hal berikut ini:

  1.     Kebutuhan hajat
  2.     Naluri mempertahankan eksistensi diri
  3.     Naluri iba melestarikan manusia
  4.     Naluri mengkuduskan
  5.     Akal

Maka, adapun setiap aktivitas-aktivitas harian manusia itu merupakan dalam rangka memenuhi kebutuhan hajat dan nalurinya. Mungkin istilah lainnya kebutuhan dan keinginan.

Nah, kebutuhan dan keinginan itu termasuk nafsu.

Menurut Ibn Manzhur dalam Lisân al-‘Arab, makna hawâ an-nafsi adalah keinginan jiwa.

Jadi, sebenarnya nafsu itu bukanlah sesuatu yang buruk. Nafsu itu yah bagian dari potensi hidup manusia itu sendiri.

Hanya saja, kebutuhan dan keinginan tersebut dapat dipenuhi dengan berbagai macam ‘cara’.

Misalnya, seseorang merasa lapar. Nah, bagaimana ‘cara’ dia memenuhi dorongan kebutuhannya tersebut?

  •     Apakah dengan langsung mencuri makanan orang lalu memakannya?
  •     Atau bekerja dulu, lalu dapat uang, kemudian membeli makanan, lalu memakannya?
  •     Makanannya pun apakah daging ayam atau daging babi?
  •     Daging ayamnya pun apakah disembelih dengan basmallah atau tidak?
  •     Makannya dengan tangan kanan atau tangan kiri?

Tentu ada beraneka ragam pilihan ‘cara’ yang bisa dipakai, untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Dan ‘cara-cara’ itu tentu tak lepas dari semacam suatu keyakinan, agama, dan ideologi. Kita sebut saja ‘cara’ itu adalah hukum.

Nah, inilah yang menjadi persoalannya.. tatkala tiba-tiba muncul kebutuhan dan keinginan pada diri kita, hukum seperti apa yang kita gunakan untuk memenuhinya?

Sebagai seorang muslim, tentu hukum itu tidak lain dan tidak bukan adalah syariat Islam. Yakni; kita harus menggunakan ‘cara-cara’ yang diwajibkan, dianjurkan, dan dibolehkan Allah tentunya. Tidak boleh menggunakan ‘cara-cara’ yang justru diharamkan.

  •     Apakah dengan langsung mencuri makanan orang lalu memakannya?
  •     Atau bekerja dulu, lalu dapat uang, kemudian membeli makanan, lalu memakannya?
  •     Makanannya pun apakah daging ayam atau daging babi?
  •     Daging ayamnya pun apakah disembelih dengan basmallah atau tidak?
  •     Makannya dengan tangan kanan atau tangan kiri?

Tentu ada beraneka ragam pilihan ‘cara’ yang bisa dipakai, untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Dan ‘cara-cara’ itu tentu tak lepas dari semacam suatu keyakinan, agama, dan ideologi. Kita sebut saja ‘cara’ itu adalah hukum.

Nah, inilah yang menjadi persoalannya.. tatkala tiba-tiba muncul kebutuhan dan keinginan pada diri kita, hukum seperti apa yang kita gunakan untuk memenuhinya?

Sebagai seorang muslim, tentu hukum itu tidak lain dan tidak bukan adalah syariat Islam. Yakni; kita harus menggunakan ‘cara-cara’ yang diwajibkan, dianjurkan, dan dibolehkan Allah tentunya. Tidak boleh menggunakan ‘cara-cara’ yang justru diharamkan.

Maka dari itu, Allah itu sungguh adil. Kelak di Akhirat, kita akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihan-pilihan yang kita pilih. Kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas khasiat tubuh kita, juga tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas bisikan-bisikan syaithan. Yang dimintai pertanggungjawaban hanyalah perbuatan kita sendiri saja.
Kesimpulannya

Jadi, jelaslah… kenapa kita berbuat maksiat itu adalah murni pilihan kita sendiri. Bila kita tak ingin bermaksiat, maka yah jangan kita pilih.

Nafsu itu hanyalah bagian dari potensi hidup kita, yang tentu tak boleh dibiarkan liar. Melainkan harus diatur oleh wahyu.

Sedangkan syaithan itu bisa berbentuk jin maupun manusia yang suka mengajak kita agar membiarkan nafsu menjadi liar, atau mengajak kita agar memenuhi tuntunan nafsu dengan ‘cara-cara’ selain Islam.

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ
وَمَنْ فِيهِنَّ بَلْ أَتَيْنَاهُمْ بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُونَ

”Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (QS. Al-Mu’minun: 71)

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai akal, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al-A’raf: 179)

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” (HR. al-Hakim, al-Khathib, Ibn Abi ‘Ashim, dan al-Hasan bin Sufyan)

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam mengatakan:

“Jadi yang wajib bagi setiap Mukmin adalah mencintai apa yang dicintai Allah SWT dengan kecintaan yang mengantarkan dirinya melakukan apa yang diwajibkan. Jika kecintaan itu bertambah sehingga ia melakukan apa yang disunnahkan maka itu adalah keutamaan. Setiap Muslim juga hendaknya tidak menyukai apa yang tidak disukai oleh Allah SWT dengan ketidaksukaan yang mengantarkan dirinya menahan diri dari apa yang Allah haramkan atas dirinya. Jika ketidaksukaan itu bertambah sehingga mengantarkan dirinya menahan diri dari apa yang dimakruhkan Allah, maka itu merupakan keutamaan.”

Sumber
Continue Reading

Ulama Empat Mazhab Mewajibkan Khilafah



Pada umumnya, para ulama empat mazhab tidak pernah berselisih pendapat mengenai kewajiban mengangkat seorang imam/khalifah yang bertanggungjawab melakukan tugas ri’âyah suûn al-ummah (mengatur urusan umat).

Imam al-Qurthubi, seorang ulama besar dari mazhab Maliki, ketika menjelaskan tafsir surah al-Baqarah ayat 30, menyatakan, “Ayat ini merupakan dalil paling asas mengenai kewajiban mengangkat seorang imam/khalifah yang wajib didengar dan ditaati iaitu untuk menyatukan pendapat serta melaksanakan hukum-hukum berkaitan khalifah. Tidak ada perselisihan pendapat tentang kewajiban tersebut di kalangan umat Islam mahupun di kalangan ulama, kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-A’sham (Imam al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, 1/264-265).

Al-’Allamah Abu Zakaria an-Nawawi, dari kalangan ulama mazhab Syafii, mengatakan, “Para imam mazhab telah bersepakat, bahawa kaum Muslimin wajib mengangkat seorang khalifah.” (Imam an-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim, XII/205). .

Ulama lain dari mazhab Syafii, Imam al-Mawardi, juga menyatakan, “Menegakkan Imamah (Khilafah) di tengah-tengah umat merupakan kewajiban berdasarkan pada Ijma’ Sahabat. (Imam al-Mawardi, Al-Ahkâm as-Sulthâniyyah, hlm. 5).

Imam ‘Alauddin al-Kasani, ulama besar dari mazhab Hanafi pun menyatakan, “Sesungguhnya mengangkat imam (khalifah) adalah fardhu. Tidak ada perbezaan pendapat di antara ahlul haq mengenai masalah ini. Manakala penafian berhubung kewajiban ini oleh sebahagian kelompok Qadariah tidak membawa apa-apa makna kerana kewajiban ini adalah didasarkan kepada dalil yang lebih kuat, iaitu Ijma’ Sahabat dan untuk membolehkan perlaksanaan hukum Islam, iaitu ketaatan umat Islam kepada pemimpin lalu menghapuskan kezaliman serta membuang perselisihan yang menjadi sumber kerosakan akibat tiadanya seorang imam.(Imam al-Kassani, Badâ’i ash-Shanai’ fî Tartîb asy-Syarâi’, XIV/406).

Imam Umar bin Ali bin Adil al-Hanbali, ulama mazhab Hanbali, juga menyatakan, “Ayat ini (QS al-Baqarah [2]: 30) adalah dalil atas kewajiban mengangkat imam/khalifah yang wajib didengar dan ditaati untuk menyatukan pendapat serta untuk melaksanakan hukum-hukum tentang khalifah. Tidak ada perbezaan tentang kewajiban tersebut di kalangan para imam kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-A’sham dan orang yang mengikutinya.” (Imam Umar bin Ali bin Adil, Tafsîr al-Lubâb fî ‘Ulûm al-Kitâb, 1/204).

Imam Ahmad bin Hanbal dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh Muhammad bin ‘Auf bin Sufyan al-Hamashi, menyatakan, “Fitnah akan muncul jika tidak ada imam (khalifah) yang mengatur urusan manusia.” (Abu Ya’la al-Farra’i, Al-Ahkâm as-Sulthâniyah, hlm.19).

Imam Abu Muhammad Ali bin Hazm al-Andalusi azh-Zhahiri dari mazhab Zhahiri menyatakan, “Para ulama sepakat bahwa Imamah (Khilafah) adalah fardhu dan dengan adanya seorang imam itu merupakan suatu kewajiban, kecuali an-Najdat. Pendapat mereka benar-benar telah tertolak kerana menyalahi Ijma’ Sahabat dan pembahasan mengenai mereka telah dijelaskan sebelumnya. Para ulama bersepakat bahwa tidak boleh ada dua imam (khalifah) bagi kaum Muslimin dalam satu masa di seluruh dunia baik mereka sepakat atau tidak, baik mereka berada di satu tempat atau di dua tempat.” (Imam Ibn Hazm, Marâtib al-Ijmâ’, 1/124).

Imam Ibnu Hazm juga mengatakan, “Majoriti Ahlus-Sunnah, Murjiah, Syiah dan Khawarij bersepakat mengenai kewajiban menegakkan Imamah (Khilafah). Mereka juga bersepakat, bahawa umat Islam wajib mentaati Imam/Khalifah yang adil yang menegakkan hukum-hukum Allah di tengah-tengah mereka dan memimpin mereka dengan hukum syarak yang dibawa Rasulullah saw.” (Ibnu Hazm, Al-Fashl fî al-Milal wa al-Ahwâ’ wa an-Nihal, IV/87).

Taqarrub kepada Allah yang Paling Esa

Usaha menegakkan Khilafah Islamiyah termasuk dalam aktiviti taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah yang Paling Esa. Syeikul Islam Imam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Yang wajib adalah menjadikan kepemimpinan (imârah) sebagai sebahagian dari agama dan landasan untuk bertaqarrub kepada Allah. Taqarrub kepada Allah dalam hal imârah (kepemimpinan) yang dilakukan dengan cara mentaati Allah dan Rasul-Nya adalah sebahagian dari taqarrub yang paling utama.” (Imam Ibnu Taimiyah, As-Siyâsah asy-Syar’iyyah, hlm. 161).

Al-’Allamah Ibnu Hajar al-Haitami juga menyatakan, “Ketahuilah juga bahwa para Sahabat ra. seluruhnya telah berijma’ bahawa mengangkat seorang imam (khalifah) setelah berakhirnya masa kenabian adalah wajib. Bahkan mereka telah menjadikan kewajiban ini sebagai urusan yang paling penting. Buktinya, para Sahabat lebih menyibukkan diri dengan perkara ini dibandingkan dengan menguruskan jenazah Rasulullah SAW. Perselisihan mereka dalam hal penentuan (siapa yang berhak menjadi imam) tidaklah merosak ijma’ yang telah disebutkan tadi.” (Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Ash-Shawâ’iq al-Muhriqah, 1/25).

Malangnya, majoriti umat Islam sekarang lebih menyibukkan diri dengan amalan-amalan sunat, seperti zikir jama’i, aktiviti sedekah, shalat dhuha, puasa sunat dan lain-lain dibandingkan dengan melibatkan dirinya dalam perjuangan menegakkan Khilafah Islamiyah. Lebih menyedihkan lagi, sebahagian mereka  menganggap perjuangan menegakkan Khilafah Islamiyah tidak penting berbanding amalan-amalan sunat tersebut. Malahan mereka juga menganggap para pejuang Khilafah sebagai orang-orang yang tidak memiliki ketinggian ruhiyah dan akhlaq. Walhal menegakkan Khilafah Islamiyah dan terlibat dalam aktiviti ini termasuk dalam golongan  yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah yang paling Esa.

Berdirinya Khilafah: Janji Allah

Ulama empat mazhab juga telah menyatakan bahawa tegaknya Khilafah Islamiyah adalah janji Allah SWT kepada orang-orang Mukmin. Al-Quran telah menyebutkan janji ini (tegaknya kekhilafahan Islam) dengan jelas dan terang. Allah SWT berfirman;

"Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa" .(QS an-Nur [24]: 55).

Imam Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat di atas, menyatakan, “Inilah janji dari Allah SWT kepada Rasulullah SAW, bahawa Allah SWT akan menjadikan umat Nabi Muhammad SAW. sebagai khulafâ’ al-ardh; yakni pemimpin dan pelindung kepada umat manusia. Dengan merekalah (para khalifah) akan memelihara negeri dan seluruh hamba Allah akan tunduk kepada mereka.” (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr Ibn Katsîr, VI/77).

Imam ath-Thabari juga menyatakan, “Sesungguhnya Allah akan mewariskan bumi kaum musyrik dari kalangan Arab dan bukan Arab kepada orang-orang yang beriman dan beramal soleh. Sesungguhnya, Allah akan menjadikan mereka sebagai penguasa dan pengaturnya.” (Imam ath-Thabari, Tafsîr ath-Thabari, XI/208).

Janji besar ini tidak hanya berlaku bagi orang-orang yang beriman dan beramal soleh pada generasi para Sahabat sahaja, malahan berlaku juga sepanjang masa bagi orang-orang Mukmin yang beramal soleh. Imam asy-Syaukani berkata, “Inilah janji dari Allah SWT kepada orang yang beriman kepada-Nya dan melaksanakan amal soleh tentang Kekhilafahan bagi mereka di muka bumi, sebagaimana Allah pernah mengangkat sebagai penguasa kepada orang-orang sebelum mereka. Inilah janji yang berlaku umum bagi seluruh generasi umat. Ada yang menyatakan bahwa janji di dalam ayat tersebut hanya berlaku bagi Sahabat sahaja. Sesungguhnya, pendapat seperti ini tidak memiliki asas sama sekali. Alasannya adalah iman dan amal soleh tidak hanya dikhususkan  pada Sahabat sahaja, namun ia juga boleh diraih oleh setiap generasi umat Islam sesudah mereka.” (Imam asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, V/241).

Berdasarkan huraian para ulama di atas, dapatlah disimpulkan bahawa tegaknya Khilafah Islamiyah adalah janji Allah SWT. Ini bererti bahwa Khilafah Islamiyah pasti akan ditegakkan dengan izin Allah SWT. Seorang Muslim wajib meyakini bahawa Khilafah Islamiyah pasti akan ditegakkan kembali. Seorang Muslim tidak dibenarkan sama sekali menyatakan bahawa perjuangan menegakkan kembali Khilafah Islamiyah adalah satu bentuk perjuangan uthopia, khayalan, mustahil, kenangan sejarah dan sebagainya. Kenyataan-kenyataan seumpama itu merupakan satu bentuk keraguan terhadap janji Allah SWT. Al-Quran telah menyatakan dengan jelas, bahawa janji Allah SWT pasti ditunaikan:

"Langit pun menjadi pecah-belah pada hari itu karena Allah. Janji Allah pasti terlaksana" (QS al-Muzammil [73]: 18).

"Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" (QS ar-Rum [30]: 6).

Oleh itu, bersegeralah  melibatkan diri dalam perjuangan yang penuh kemulian dan keberkatan ini. Benar, perjuangan menegakkan kembali Khilafah Islamiyah merupakan perjuangan penuh kemulian dan keberkatan .Oleh itu, inilah perjuangan yang direstui, yang dinyatakan oleh para ulama mu’tabar, dan dinaungi oleh janji Allah SWT, yang mana ia akan membuahkan kejayaan lalu menjadi sebab tertegaknya hukum-hukum Allah SWT secara syâmil, kâmil dan mutakâmil.

Wallâh al-Muwaffiq ilâ Aqwam ath-Thâriq.

Sumber
Continue Reading

Sunnatullah Dalam Hal Giliran Kepemimpinan



Sunnatullah atau Hukum Allah yang berlaku dalam kehidupan di dunia mengambil bentuk yang beraneka-ragam. Di antaranya adalah seperti benda yang dilempar ke atas mestilah jatuh ke bawah, atau manusia yang haus dan lapar berarti perlu minum dan makan untuk menghilangkannya, atau seseorang yang dibacok tangannya niscaya menjadi terluka dan berdarah, atau Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan: ada siang ada malam, ada panas ada dingin, ada sehat ada sakit, ada senang ada susah, ada lapang ada sempit, ada kaya ada miskin, ada menang ada kalah,  dan masih banyak lagi yang lainnya.

Lalu ada pula sunnatullah yang berlaku dalam kaitan dengan sekumpulan manusia alias suatu kaum atau suatu umat. Seperti misalnya Allah tidak akan membinasakan suatu kaum sebelum dikirm terlebih dahulu seorang Nabi atau Rasul dariNya yang bertugas memberikan teguran dan peringatan kepada kaum tersebut.  Atau contoh lainnya ialah Allah tidak akan membiarkan adanya suatu kaum yang berlaku sewenang-wenang terhadap kaum-kaum lainnya kecuali Allah akan hadirkan sekelompok manusia lainnya yang bertugas menjadi penyeimbang atas kelompok yang berlaku zalim tersebut. Ini dikenal dalam istilah Islam sebagai Sunnatu At-Tadaafu’ (Sunnatullah dalam hal Konflik Antar-Umat).

Kali ini kita akan coba mencermati satu lagi sunatullah yang bernama Sunnatu At-Tadaawul (Sunnatullah dalam hal Pergantian Giliran Kepemimpinan). Hal ini kita temukan dalam sebuah ayat yang berbunyi sebagai berikut:

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

”Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia…” (QS Ali Imran ayat 140)

”And so are the days (good and not so good) We give to men by turns.” (Terjemahan bahasa Inggris QS Ali Imran ayat 140)

Ayat ini jika kita baca dengan lengkap ialah:

إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ

 وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا

وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

”Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS Ali Imran ayat 140)

Agar ummat Islam benar-benar memahami dan menghayati Sunnatu At-Tadaawul, maka melalui ayat ini Allah mengkaitkannya dengan kejadian perang Uhud yang baru saja dialami kaum muslimin. Perang Uhud merupakan perang kedua setelah perang Badar. Di dalam perang Badar para sahabat meraih kemenangan padahal mereka hanya berjumlah 313 personel melawan kaum kafir musyrik Quraisy yang berjumlah 1000 personel. Sedangkan dalam perang berikutnya, yaitu perang Uhud kaum muslimin pada tahap awal perang sesungguhnya meraih kemenangan. Namun begitu pasukan pemanah meninggalkan pos pertahanan di bukit Uhud, maka segera situasinya berbalik. Allah malah akhirnya mengizinkan kemenangan berada di fihak  kaum kafir musyrik Quraisy sedangkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabat harus menderita kekalahan.

Sehingga Allah berfirman: ”Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka (penderitaan kekalahan), maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka (penderitaan kekalahan) yang serupa.”

Mengapa Allah perlu membiarkan kaum muslimin menderita kekalahan? Mengapa sebaliknya Allah mengizinkan kaum kuffar musyrik Quraisy mengalami kemenangan? Allah sendiri menjelaskannya:

Pertama, karena Allah ingin menggilir kemenangan dan kekalahan di antara manusia. Kejayaan dan kehancuran ingin digilir di antara manusia. Itulah tabiat dunia. Di dunia yang fana ini tidak ada perkara yang bersifat langgeng dan abadi. Tidak ada fihak yang terus-menerus menang atau terus-menerus kalah. Semua akan mengalami giliran yang silih berganti. Tanpa kecuali, orang-orang berimanpun mengalami keadaan yang silih berganti di dunia. Bukan karena beriman lalu seseorang atau sekelompok orang harus menang terus. Tanpa pernah mengalami kekalahan bagaimana seseorang atau sekelompok orang akan menghargai dan mensyukuri kemenangan?

Kedua, karena Allah hendak memisahkan dan membedakan orang beriman dengan orang kafir. Dengan adakalanya mengalami kemenangan dan kekalahan, maka akan terlihat siapa orang yang pandai bersyukur saat menang dan siapa yang pandai bersabar kala mengalami kekalahan. Sebaliknya akan terlihat pula siapa orang yang lupa diri kala menang dan siapa yang berputus-asa ketika kalah.

Ketiga, karena melalui pengalaman silih bergantinya kemenangan dan kekalahan Allah hendak memberi peluang orang-orang beriman untuk meraih bentuk kematian yang paling mulia, yaitu mati syahid. Allah berkehendak mencabut nyawa orang-orang beriman sebagai para syuhada yang ketika berpisah ruh dari jasadnya, maka ruh mulia tersebut  akan langsung dijemput burung-burung surga.

Berdasarkan hal di atas, maka perjalanan sejarah ummat Islam bisa dilihat sebagai sebuah perjalanan panjang yang diwarnai oleh silih bergantinya pengalaman kemenangan dan kekalahan ummat ini atas kaum kafir. Silih bergantinya kejayaan dan kehancuran umat.  Kadang ada masanya orang-orang beriman memimpin umat manusia, namun ada masanya orang-orang kafir yang memimpin umat manusia. Sudah barang tentu pada masa dimana orang beriman memimpin masyarakat, maka berbagai program dan aktifitas sepatutnya lebih bernuansa ”rasa syukur” akan nikmat kemenangan yang sedang dialami. Sebaliknya, ketika kaum kafir yang memimpin umat manusia, maka sudah sepantasnya orang-orang beriman mengisi perjalanan hidupnya dengan dominasi ”sikap sabar” atas kekalahan yang sedang dideritanya.

Lalu bagaimanakah keadaan realitas kita dewasa ini? Coba kita kembali perhatikan hadits panjang dari Nabi shollallahu ’alaih wa sallam yang membicarakan persoalan ”Ringkasan Sejarah Ummat Islam di Akhir Zaman.”

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّا فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ

خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ (أحمد)

“Muncul babak Kenabian di tengah kalian selama masa yang Allah kehendaki, kemudian Allah mencabutnya ketika Allah menghendakinya. Kemudian muncul babak Kekhalifahan mengikuti manhaj (cara/metode/sistem) Kenabian selama masa yang Allah kehendaki, kemudian Allah mencabutnya ketika Allah menghendakinya. Kemudian muncul babak Raja-raja yang menggigit selama masa yang Allah kehendaki, kemudian Allah mencabutnya ketika Allah menghendakinya. Kemudian muncul babak Penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak  selama masa yang Allah kehendaki, kemudian Allah mencabutnya ketika Allah menghendakinya. Kemudian muncul babak Kekhalifahan mengikuti manhaj (cara/metode/sistem) Kenabian. Kemudian Nabi shollallahu ’alaih wa sallam diam.” (HR Ahmad)

Jadi, berdasarkan hadits di atas, ”Ringkasan Sejarah Ummat Islam di Akhir Zaman” terdiri dari 5 babak atau periode:

Babak I  => Kenabian  النُّبُوَّةُ

Di babak ini ummat Islam mengalami perjuangan selama 13 tahun sewaktu di Mekkah sebelum hijrah ke Madinah di bawah kepemimpinan orang-orang  kafir dan  10 tahun berjuang di Madinah sesudah hijrah dari Mekkah di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam yang memimpin masyarakat langsung di bawah bimbingan Allah melalui Kitabullah Al-Qur’an.

Jadi di babak pertama perjalanan sejarah ummat Islam terjadi dua kondisi yang sangat berbeda. Pada paruh pertama Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabat mengalami keadaan dimana yang memimpin ialah kaum kafir musyrik. Sehingga generasi awal ummat ini mengalami kekalahan yang menuntut kesabaran luar biasa untuk bisa bertahan menghadapi kejahiliyahan yang berlaku.

Namun pada paruh kedua babak pertama ini, sesudah hijrah ke Madinah, kaum muslimin justru semakin hari semakin kokoh kedudukannya sehingga Allah taqdirkan mereka menikmati kejayaan di tengah masyarakat jazirah Arab. Sehingga kaum musyrik Arab pada masa itu akhirnya  harus tunduk kepada kepemimpinan orang-orang beriman.

Babak II => Kekhalifahan mengikuti manhaj (cara/metode/sistem) Kenabian خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

Di babak ini ummat Islam menikmati 30 tahun kepemimpinan para  Khulafa Ar-Rasyidin terdiri dari para sahabat utama yaitu  Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan dan  Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhum ajma’iin. Sepanjang babak ini bisa dikatakan ummat Islam mengalami masa kejayaan, walaupun sejarah mencatat pada masa kepemimpinan khalifah Ustman dan Ali sudah mulai muncul gejala pergolakan sosial-politik di tengah masyarakat yang mereka pimpin. Namun secara umum bisa dikatakan bahwa orang-orang berimanlah yang memimpin masyarakat. Orang-orang kafir dan musyrikin tidak diberi kesempatan untuk berjaya sedikitpun. Hukum Allah tegak dan hukum jahiliyah buatan manusia tidak berlaku.

Babak III=> Raja-raja yang Menggigit مُلْكًا عَاضًّا

Di babak ini ummat Islam menikmati selama 13 abad kepemimpinan org2 beriman. Para pemimpin pada masa ini dijuluki khalifah. Sistem sosial dan politik yang berlaku disebut Khilafah Islamiyah berdasarkan hukum Al-Qur’an dan As-Sunnah An-Nabawiyyah.  Namun mengapa Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyebutnya sebagai babak para raja-raja? Karena bila seorang khalifah wafat maka yang menggantinya mesti anak keturunannya. Demikian seterusnya. Ini berlaku baik pada masa kepemimpinan Daulat Bani Umayyah, Daulat Bani Abbasiyah maupun  Kesultanan Usmani Turki.

Walaupun demikian, ummat Islam masih bisa dikatakan mengalami masa kejayaan, karena para Khalifah di babak ketiga merupakan Raja-raja yang Menggigit, artinya masih ”menggigit” Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tentunya tidak sama baiknya dengan kepemimpinan para Khulafa Ar-Rasyididn sebelumnya yang masih ”menggenggam” Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ibarat mendaki bukit, tentulah lebih aman dan pasti bila talinya digenggam daripada digigit. Tapi secara umum di babak ketiga ini Hukum Allah tegak dan hukum jahiliyah buatan manusia tidak berlaku.

Babak IV=> Raja-raja yang Memaksakan kehendak (diktator) مُلْكًا جَبْرِيَّا

Sesudah berlalunya babak ketiga di tahun 1924, mulailah ummat Islam menjalani babak dimana yang memimpin adalah Penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak. Inilah babak dimana kita hidup dewasa ini. Kita saksikan bahwa para penguasa di era modern memimpin dengan memaksakan kehendak mereka sambil mengesampingkan dan mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya. Entah disebut republik maupun kerajaan, suatu hal yang pasti ialah semuanya berkuasa tidak dengan mengembalikan urusan kehidupan sosial bermasyarakat dan bernegara kepada hukum Al-Qur’an dan As-Sunnah An-Nabawiyyah. Manusia dipaksa tunduk kepada sesama manusia dengan memberlakukan hukum buatan manusia yang penuh keterbatasan dan vested interest seraya mengabaikan hukum Allah Yang Maha Adil. Hukum jahiliyah buatan manusia diberlakukan dan tegak dimana-mana sedangkan  hukum Allah dikesampingkan sehingga tidak berlaku.

Maka kita bisa simpulkan bahwa babak keempat merupakan babak kemenangan bagi kaum kafir dan kekalahan bagi orang-orang beriman. Inilah babak yang paling mirip dengan babak pertama paruh pertama di mana Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabat berjuang di Mekkah sementara kekuasaan jahiliyah kaum kafir musyrik mendominasi di tengah masyarakat. Ummat Islam sudah menjalani babak keempat ini selama 85 tahun sejak runtuhnya Khilafah Islamiyyah terakhir.  Ini merupakan era paling kelam dalam sejarah Islam di Akhir zaman. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Babak V => Kekhalifahan mengikuti manhaj (cara/metode/sistem) Kenabian خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

Betapapun dewasa ini ummat Islam sedang mengalami kekalahan dan kaum kafir mengalami kejayaan, namun kita wajib optimis dan tidak berputus-asa. Karena dalam hadits ini Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengisyaratkan bahwa sesudah babak kekalahan ummat Islam akan datang babak kejayaan kembali yaitu babak kelima dimana bakal tegak kembali kepemimpinan oramg orang  beriman dalam bentuk Kekhalifahan mengikuti manhaj (cara/metode/sistem) Kenabian.

Saudaraku, pastikan diri kita termasuk ke dalam barisan ummat Islam yang sibuk mengupayakan tegaknya babak kelima tersebut. Jangan hendaknya kita malah terlibat dalam berbagai program dan aktifitas yang justeru melestarikan babak keempat alias babak kepemimpinan kaum kuffar di era modern ini. Yakinlah bahwa ada Sunnatu At-Tadaawul (Sunnatullah dalam hal Pergantian Giliran Kepemimpinan). Bila kepemimpinan kaum kuffar dewasa ini terasa begitu hegemonik dan menyakitkan, ingatlah selalu bahwa di dunia ini tidak ada perkara yang lestari dan abadi. Semua bakal silih berganti. It’s only a matter of time, brother.



رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”. (QS Al-Baqarah ayat 250)

Sumber
Continue Reading

Warna Api Menurut Sabda Nabi



TENTU setiap manusia mengenal api. Salah satu hal yang sangat penting di dunia ini adalah keberadaan api. Ketika tidak ada api, mungkin kita tidak akan pernah mengenal masakan yang telah dimasak dengan matang. Maha Besar Allah dengan segala yang diciptakanNya.

Ketika para ilmuwan mempelajari api dan hubungan antara temperatur dan mereka menemukan bahwa warna api adalah merah, kemudian jika ditinggikan suhunya maka warna api akan menjadi putih. Jika dinaikkan lagi suhunya maka warna api akan berubah menjadi hitam.

Fenomena ini disebut oleh para ulama radiasi benda hitam, dan yang menakjubkan lagi adalah Nabi SAW telah menyebutkan fenomena ini, adanya perubahan warna api. Nabi Muhammad saw bersabda:

أُوقِدَ عَلَى النَّارِ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى احْمَرَّتْ ثُمَّ أُوقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى ابْيَضَّتْ ثُمَّ أُوقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى اسْوَدَّتْ فَهِيَ سَوْدَاءُ مُظْلِمَةٌ

“Api dinaikkan suhunya selama seribu tahun sampai berubah menjadi merah, lalu dinaikkan lagi selama seribu tahun hingga berubah menjadi putih, kemudian dinaikkan lagi selama seribu tahun sampai menghitam, dan itulah yang disebut dengan hitam legam,” (HR. At-Tirmidzi).

Sungguh benar sabda Rasulullah saw. Hadits tersebut dikatakan oleh Nabi 14 abad yang lalu. Sungguh alasan apa lagi yang membuat kita masih ingkar? Islam merupakan agama yang sempurna. Segala hal telah Allah dan rasul-Nya atur dengan sempurna dan secara mendetail. Maha benar Allah dengan segala Firman-Nya. []

Sumber: Kaheel7.com
Continue Reading

Kenapa Setan Takut dengan Umar bin Khattab?



UMAR bin Khatab adalah salah satu dari empat khalifah yang dikenal karakternya yang tegas, bijaksana, kasar dan banyak ditakuti oleh kaum Quraisy pada saat itu.

Umar bin Khattab adalah khalifah kedua, dan mungkin terbesar dari semua khalifah Islam. Dia sejaman namun lebih berusia muda ketimbang Nabi Muhammad. Dan seperti juga nabi Muhammad, dia kelahiran Mekkah. Tahun kelahirannya tidak diketahui, tetapi menurut taksiran tahun ke-586 M.

Asal-muasalnya Umar bin Khattab merupakan musuh yang paling ganas dan beringas, menentang Muhammad dan Agama Islam habis-habisan. Tetapi, mendadak dia memeluk agama baru itu dan berbalik menjadi pendukung gigih. Umar bin Khattab selanjutnya menjadi penasihat terdekat Nabi Muhammad dan begitulah dilakukannya sepanjang umur Muhammad.

Suatu ketika, pada saat itu terdapat sebuah kisah di mana syetan takut akan Umar bin Khattab.
Berkata Hasan Nasrullah: “Kami tidak mau masuk Masjid Nabawi melewati pintu Umar bin Khaththab, kerana kami membencinya!”

Maka Syaikh DR. Muhammad al-‘Arifi (Sunni) berkata:
“Semoga Allah merahmatimu wahai Umar, Syaithon telah lari darimu baik ketika engkau hidup atau setelah engkau meninggal.”

Diriwayatkan dari Muhammad bin Sa’ad bin Abi Waqqash dari ayahnya ia berkata,

“Umar bin al-Khaththab memohon agar diizinkan masuk ke rumah Rasulullah SAW ketika itu ada beberapa orang wanita dari Quraisy sedang berbincang-bincang dengan Rasulullah dan mereka berbicara dengan nada suara yang keras melebihi suara Rasululullah SAW.”

Ketika Umar masuk mereka segera berdiri dan menurunkan hijab. Setelah diberi izin Umar masuk ke rumah Rasulullah SAW sementara Rasulullah tertawa.

Umar bertanya, “Apa yang membuat anda tertawa wahai Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab. “Aku heran terhadap wanita-wanita yang berada di sisiku ini, ketika mereka mendengar suaramu, segera mereka berdiri menarik hijab.”

Umar berkata, “Sebenarnya engkau yang lebih layak mereka segani Wahai Rasulullah. Kemudian Umar berbicara kepada mereka, “Wahai para wanita yang menjadi musuh bagi nafsunya sendiri, bagaimana kalian segan terhadap diriku dan tidak segan terhadap Rasulullah?”

Mereka menjawab, “Ya, sebab engkau lebih keras dan lebih kasar daripada Rasulullah SAW.”

Rasulullah SAW bersabda,

“Wahai Ibnul al-Khaththab, demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman tanganNya, sesungguhnya tidaklah setan menemuimu sedang berjalan di suatu jalan kecuali dia akan mencari jalan lain yang tidak engkau lalui.”

Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a bahwa Rasulullah pernah bersabda,

”Sesungguhnya setan lari ketakutan jika bertemu Umar”

Begitulah, kisah yang diriwayatkan Aisyah, sehingga menjadi kekuasaan Allah SWT. kalau Umar tak hanya ditakuti oleh musuhnya bahkan musuh gaib pun ditakutinya. []

Sumber: Asbabul Wurud 2 Karya: Suwarta Wijaya Penerbit: Kalam Mulia.
Continue Reading

Simbol Angka 13, Kenapa Dianggap Angka Sial?



Eramuslim.com – Di seantero dunia terdapat bermacam-macam kepercayaan, mitos, dan legenda, yang tidak terhitung banyaknya. Bagi kaum rasionalis, kepercayaan-kepercayaan orang-orang tua ini seharusnya ikut mati sejalan dengan modernisasi yang merambah seluruh sisi kehidupan manusia. Namun demikiankah yang terjadi? Ternyata tidak.

Di dalam tatanan masyarakat modern, kepercayaan-kepercayaan tahayul ini ternyata tetap eksis dan bahkan berkembang dan merasuk ke dalam banyak segi kehidupan masyarakatnya. Kepercayaan-kepercayaan ini bahkan ikut mewarnai arsitektural kota dan juga gedung-gedung pencakar langit.

Sebagai contoh kecil, di berbagai gedung tinggi di China, tidak ada yang namanya lantai 4, 13, dan 14. Menurut kepercayaan mereka, kedua angka tersebut tidak membawa hoki. Di Barat, angka 13 juga dianggap angka sial. Demikian pula di berbagai belahan dunia lainnya. Kalau kita perhatikan nomor-nomor di dalam lift gedung-gedung tinggi dunia, Anda tidak akan jumpai lantai 13. Biasanya, setelah angka 12 maka langsung ‘loncat’ ke angka 14. Atau dari angka 12 maka 12a dulu baru 14. Fenomena ini terdapat di banyak negara dunia, termasuk Indonesia.

Mengapa angka 13 dianggap angka yang membawa kekurang-beruntungan? Sebenarnya, kepecayaan tahayul dan aneka mitos yang ada berasal dari pengetahuan kuno bernama Kabbalah. Kabalah merupakan sebuah ajaran mistis kuno, yang telah dirapalkan oleh Dewan Penyihir tertinggi rezim Fir’aun yang kemudian diteruskan oleh para penyihir, pesulap, peramal, paranormal, dan sebagainya—terlebih oleh kaum Zionis-Yahudi yang kemudian mengangkatnya menjadi satu gerakan politis—dan sekarang ini, ajaran Kabbalah telah menjadi tren baru di kalangan selebritis dunia.

Bangsa Yahudi sejak dahulu merupakan kaum yang secara ketat memelihara Kabbalah. Di Marseilles, Perancis Selatan, bangsa Yahudi ini membukukan ajaran Kabbalah yang sebelumnya hanya diturunkan lewat lisan dan secara sembunyi-sembunyi. Mereka juga dikenal sebagai kaum yang gemar mengutak-atik angka-angka (numerologi), sehingga mereka dikenal pula sebagai sebagai kaum Geometrian.

Menurut mereka, angka 13 merupakan salah satu angka suci yang mengandung berbagai daya magis dan sisi religius, bersama-sama dengan angka 11 dan 666. Sebab itu, dalam berbagai simbol terkait Kabbalisme, mereka selalu menyusupkan unsur angka 13 ke dalamnya. Kartu Tarot misalnya, itu jumlahnya 13. Juga Kartu Remi, jumlahnya 13 (As, 2-9, Jack, Queen, King).






Penyisipan simbol angka 13 terbesar sepanjang sejarah manusia dilakukan kaum ini ke dalam lambang negara Amerika Serikat. The Seal of United States of America yang terdiri dari dua sisi (Burung Elang dan Piramida Illuminati) sarat dengan angka 13. Inilah buktinya:
-13 bintang di atas kepala Elang membentuk Bintang David.
-13 garis di perisai atau tameng burung.
-13 daun zaitun di kaki kanan burung.
-13 butir zaitun yang tersembul di sela-sela daun zaitun.
-13 anak panah.
-13 bulu di ujung anak panah.
-13 huruf yang membentuk kalimat ‘Annuit Coeptis’
-13 huruf yang membentuk kalimat ‘E Pluribus Unum’
-13 lapisan batu yang membentuk piramida.
-13 X 9 titik yang mengitari Bintang David di atas kepala Elang.

Selain menyisipkan angka 13 ke dalam lambang negara, logo-logo perusahaan besar Amerika Serikat juga demikian seperti logo McDonalds, Arbyss, Startrek. Com, Westel, dan sebagainya. Angka 13 bisa dilihat jika logo-logo ini diputar secara vertikal. Demikian pula, markas besar Micosoft disebut sebagai The Double Thirteen atau Double-13, sesuai dengan logo Microsoft yang dibuat menyerupai sebuah jendela (Windows), padahal sesungguhnya itu merupakan angka 1313.

Uniknya, walau angka 13 bertebaran dalam berbagai rupa, bangsa Amerika rupa-rupanya juga menganggap angka 13 sebagai angka yang harus dihindari. Bangunan-bangunan tinggi di Amerika jarang yang menggunakan angka 13 sebagai angka lantainya. Bahkan dalam kandang-kandang kuda pacuan demikian pula adanya, dari kandang bernomor 12, lalu 12a, langsung ke nomor 14. Tidak ada angka 13.

Kaum Kabbalis sangat mengagungkan angka 13, selain tentu saja angka-angka lainnya seperti angka 11 dan 666. Angka ini dipakai dalam berbagai ritual setan mereka. Bahkan simbol Baphomet atau Kepala Kambing Mendez (Mendez Goat) pun dihiasi simbol 13. Itulah sebabnya angka 13 dianggap sebagai angka sial karena menjadi bagian utama dari ritual setan.(Rizki Ridyasmara)
Continue Reading

Shalat Dhuha, Ini Tata Cara dan Doa Sesudahnya



“Shalat dhuha itu (shalatul awwabin) shalat orang yang kembali kepada Allah, setelah orang-orang mulai lupa dan sibuk bekerja, yaitu pada waktu anak-anak unta bangun karena mulai panas tempat berbaringnya,” (HR Muslim).

“Setiap pagi setiap persendian salah seorang diantara kalian harus (membayar) sadhaqah; maka setiap tasbih adalah sadhaqah, setiap tahmid adalah sadhaqah, setiap tahlil adalah sadhaqah, setiap takbir adalah sadhaqah, amar ma’ruf adalah sadhaqah, mencegah kemungkaran adalah sadhaqah, tetapi dua raka’at dhuha sudah mencukupi semua hal tersebut,” (HR Muslim).

SHALAT Dhuha adalah shalat sunnat yang dilakukan seorang muslim ketika matahari sedang naik. Kira-kira, ketika matahari mulai naik kurang lebih 7 hasta sejak terbitnya (kira-kira pukul tujuh pagi) hingga waktu dzuhur. Jumlah raka’at shalat dhuha bisa dengan 2,4,8 atau 12 raka’at. Dan dilakukan dalam satuan 2 raka’at sekali salam


  1.     Berniat.
  2.     Takbiratul Ihram.
  3.     Membaca doa Iftitah.
  4.     Membaca surat al Fatihah.
  5.     Membaca satu surat didalam Al-Quran.
  6.     Ruku’ dan membaca tasbih tiga kali.
  7.     I’tidal dan membaca bacaannya.
  8.     Sujud pertama dan membaca tasbih tiga kali
  9.     Duduk diantara dua sujud dan membaca bacaannya
  10.     Sujud kedua dan membaca tasbih tiga kali
  11.     Setelah rakaat pertama selesai, lakukan rakaat kedua sebagaimana cara di atas, kemudian Tasyahhud akhir setelah selesai maka membaca salam dua kali.
Rakaat-rakaat selanjutnya dilakukan sama seperti contoh diatas.

Do’a setelah Shalat Dhuha:

“Allaahumma innad dhuha dhuhaauka, wal-jamaala jamaaluka, wal-qudrota qudratuka, wal-’ishmata ‘ishmatuka. In kaana rizqii fil-ardhi fa akhrijhu, wa in kaana fissamaa’i fa anzilhu, wa in kaana haraaman fa thahhirhu, bi haqqi dhuhaaika wa jamaalika wa qudratika, ya Allah”.

Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya masa pagi ini adalah masa pagiMU, keindahan ini adalah keindahanMU, kuasa ini adalah kekuasaanMU, kenyamanan ini adalah kenyamananMU. Seandainya rizki saya tersembunyi di dalam bumi maka keluarkanlah, jika di langit turunkanlah, jika haram bersihkanlah, berkat kesejatian masa pagiMU, keindahanMU, dan kekuasaanMU, ya Allah.” [Sumber]
Continue Reading

Menag Bilang Agama Harus Sejalan Dengan Pancasila



Eramuslim.com –  Pemerintah tidak anti dengan paham agama. Namun, paham tersebut harus sejalan dengan Pancasila.

“Silakan kita memiliki paham keagamaan karena itu dijunjung tinggi, tetapi ketika keagamaan itu bertentangan bahkan mengancam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, maka pemerintah harus bersikap,” kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin mengatakan, Rabu (19/7).

Hal itu disampaikan Lukman terkait pencabutan status badan hukum ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mulai tanggal 19 Juli 2017 oleh Kementerian Hukum dan HAM. Menurut dia, yang harus dipahami dengan baik dan disikapi oleh pemerintah sama sekali bukan dakwahnya dan bukan paham keagamaannya.

“Jadi dalam konteks ber-Indonesia paham-paham keagamaan itu harus sejalan dengan Pancasila karena semua agama memahami bahwa Pancasila itu hakekatnya adalah nilai-nilai agama itu sendiri,” ujar dia.

Menurut Lukman, pemerintah menjunjung tinggi menghormati keragaman dalam koridor kehidupan berbangsa dan bernegara Pancasila sebagai konsensus dimana Pancasila itu hakekatnya juga nilai-nilai agama itulah yang menjadi komitmen bersama. “Karenanya sebebas apapun kita mengembangkan paham keagamaan hendaknya masih dalam koridor kehidupan kesepakatan kita dalam hidup berbangsa dan bernegara,” ujar dia.

Jika kemudian ada organisasi kemasyarakatan yang mengembangkan paham keagamaan lalu ingin mengganti Pancasila sebagai dasar negara juga bentuk negara dari NKRI menjadi khilafah, maka menurut Lukman, itu tidak bisa dimaknai sebagai paham keagamaan semata, tapi sudah merupakan agenda politik. “Dan Bapak Presiden menggunakan kewenangan konstitusionalnya untuk menyikapi ini secara cepat dan tepat,” katanya.

Tentunya pemerintah, lanjut Lukman, menghormati pandangan yang beragam tentang hal itu dan sebagai negara hukum jika ada hal-hal yang dirasa tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah dipersilahkan menempuh jalur hukum melalui PTUN atau Mahkamah Konstitusi.(ll/rol)

Jadi menurut Pak de Lukman gitu ya…..kasian dong bagi penganut agama , masak sih mereka harus minta toleransi ke Tuhan agar tidak ambil seluruh ajaranNya, dan hanya ambil aja sebagiannya yang kira kira diterima oleh Pancasila , karena kalau ada yang tidak sesuai , nanti bisa dibubarkan.
Continue Reading

COVER STORY Juli: Jejak Islamofobia Zaman Rasul



JAKARTA (voa-islam.com)—Baru-baru ini beredar film pendek berjudul Kau adalah Aku yang Lain yang memicu kontroversi. Banyak pihak menilai film tersebut kental dengan nuansa islamofobia. Maksud hati ingin menampilkan nilai toleransi, tetapi malah film tersebut memojokan Islam dan umat Islam.

Islamofobia bukanlah fenomena baru yang terjadi di Indonesia, bahkan dunia. Islamofobia hadir seiring dengan awal mula kehadiran Islam. Hal ini dikatakan Rahmat Abu Zaki, Direktur Lingkar Opini Rakyat (LOR).

Dalam keterangan tertulis Rahmat yang diterima Voa Islam baru-baru ini disebutkan bahwa islamofobia sudah ada sejak masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Rahmat mengatakan bahwa pemuka kafir Quraisy sangat gencar melakukan gerakan islamofobia.

“Saat itu tokoh-tokoh kafir Quraisy menolak dakwah Rasulullah saw dengan berbagai cara. Mereka mulai dengan cara yang halus yakni lobi dan tawaran harta, tahta dan wanita agar beliau menghentikan dakwah. Saat semua itu gagal, mereka mulai dengan cara yang kasar yakni “black campaign” dengan menyebut Rasulullah sebagai tukang sihir, lalu menganiaya hingga memboikot beliau dan pengikutnya selama sekitar tiga tahun,” ungkap Rahmat.

Menurut Rahmat, kedatangan Islam ini dikhawatirkan dapat menganggu eksistensi keyakinan masyarakat Arab ketika itu.

“Kita tahu, saat Rasulullah saw diutus, masyarakat Arab Jahiliah sudah memiliki keyakinan dan tatanan tersendiri yang sudah berlangsung selama ratusan tahun. Bagi mereka, kedatangan Islam dan Muhammad saw adalah ancaman terhadap eksistensi dan kedudukan mereka selama ini. Mereka memahami betul, Muhammad saw datang membawa kebaikan,” jelas Rahmat.

Sebagaimana pada masa awal-awal Islam di Mekah, Ketika Nabi SAW menyampaikan dakwah ditengah gemerlapnya kehidupan jahiliyah di Mekah, ketika Abu Lahab, Abu Jahal, dan kawan-kawannya sedang memuaskan diri, hidup dalam kesenangan hawa nafsu yang tidak mengenal haq dan batil, halal dan haram, mukmin dan musyrik, tiba-tiba muncul sosok manusia yang menyampaikan pemikiran yang mencela tata kehidupan mereka mengadakan gerakan yang berlawanan dengan pemikiran, pemahaman, dan perilaku mereka, maka Nabi SAW, langsung dicap sebagai orang sinting, orang ayan, orang gila dan tuduhan-tuduhan miring lainnya yang pada prinsipnya menolak Islam tanpa kompromi.



Memojokan Islam

Pada awal dakwah di Mekah, bangsa Quraisy sedikit sekali membicarakan dakwah Rasulullah SAW. Mereka menyangka bahwa Muhammad hanyalah seorang ahli syi’ir sehingga ucapannya tidak pernah melampaui perkataan para rahib dan pejabat mereka, dan masyarakat pun suatu waktu pasti akan kembali pada agama dan keyakinan nenek moyangnya.

Apabila mereka melewati Nabi menyampaikan wahyu, mereka mencibirnya dengan kata-kata: ”inilah cucu Abdul Muthalib sedang menyampaikan berita dari langit.” Beginilah terus mereka melakukan pelecehan.

Sampai akhirnya, kaum Quraisy mulai menyadari bahaya dakwah Rasul terhadap kedudukan mereka. Bersepakatlah mereka untuk menentang, memusuhi dan memeranginya. Mereka menyadari, cara penting untuk menghancurkan dakwah Rasul adalah dengan menjatuhkan pribadinya (pembunuhan karakter) dan mendustakan kenabiannya.

Dimunculkanlah tuduhan-tuduhan dan pertanyaan-pertanyaan memojokkan seperti: ”Bagaimana Muhammad ini,kok tidak dapat mengubah bukit Shofa dan Marwa menjadi emas”, ”Mengapa Jibril yang banyak disebut-sebut oleh Muhammad itu tidak pernah muncul di hadapan masyarakat”, ”Dia juga tidak dapat memindahkan perbukitan hingga Makkah tidak dikelilingi oleh bukit”, Mengapa dia tidak memancarkan air yang lebih segar dan banyak daripada air zamzam padahal dia sangat tahu akan kebutuhan penduduk terhadap air”, dan ungkapan lainnya.

“Intinya, menjatuhkan Rasulullah dengan menuduh ajaran-ajaran dari Allah SWT yang disampaikannya dengan tujuan agar masyarakat menjauhi beliau dan Islam yang dibawanya,” tandas Rahmat.

Adapun definisi islamofobia diungkap Rahmat dengan menyitir pendapat tokoh. Seorang Inggris, Runnymede Trust mendefinisikan Islamofobia sebagai rasa takut dan kebencian terhadap Islam dan umat Muslim.

“Orang yang terjangkit Islamofobia biasanya memiliki persepsi bahwa Islam tidak mempunyai norma yang sesuai dengan budaya lain, lebih rendah dibanding budaya Barat dan lebih berupa ideologi politik yang bengis daripada berupa suatu agama,” ujar Rahmat.

Adapun syariahfobia adalah rasa takut dan kebencian terhadap syariah Islam dan menolak apapun yang berasal dari sumber hukumnya. * [Syaf/voa-islam.com]
Continue Reading

Mengukur Obyektifitas Pembubaran Ormas HTI



Oleh Muhamad Akbar Ali*

DI TENGAH kegentingan utang negara dalam suasana melambung dan di perparah stabilitas ekonomi yang monoton bahkan cenderung merosot, negeri ini dihebohkan oleh Perppu nomor 2 tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Rabu, 19 Juli 2017 pemerintah resmi mencabut status badan hukum ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Artinya organisasi HTI resmi dibubarkan. Dalam konferensi pers 8 Mei 2017, Menkopolhukam Wiranto mengatakan bahwa landasan utama pembubaran HTI ada tiga poin. Pertama, sebagai ormas berbadan hukum, HTI tidak melaksanakan peran positif untuk mengambil bagian dalam proses pembangunan guna mencapai tujuan nasional.

Kedua, kegiatan yang dilaksanakan HTI terindikasi kuat telah bertentangan dengan tujuan, asas, dan ciri yang berdasarkan Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Ormas.

Ketiga, aktifitas yang dilakukan HTI dinilai telah menimbulkan benturan di masyarakat yang dapat mengancam keamanan dan ketertiban masyarakat, serta membahayakan keutuhan NKRI.



Tidak Obyektif

Sangat menarik untuk dicermati alasan pemerintah membubarkan HTI. Penulis akan mencoba menganalisis satu persatu. Pertama, bahwa HTI tidak berperan positif dalam pembangunan Nasional. Perlu diketahui bahwa HTI adalah Partai politik yang menjadikan Islam sebagai Ideologi atau asas gerakanya.

Kedudukanya sama dengan partai-partai lainya yang ada di Indonesia. HTI bukan lembaga sosial, lembaga pendidikan, lembaga kesehatan atau yang sejenisnya. Lebih dari itu, HTI dalam aktivitasnya adalah dakwah pemikiran tanpa kekerasan.

Dan selama ini banyak kita menemukan HTI sangat gencar melancarkan kritik tanpa pandang bulu terutama kepada kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat atau dominan yang bertentangan dengan Islam. Kritik cerdas yakni bukan hanya menunjukan kesalahan atau kekeliruan pemerintah dalam mengambil kebijakan tetapi di ikuti pula dengan solusi yang solutif.

HTI juga secara berkala mengsosialisasikan bahaya laten yang mengancam Indonesia. Dan setiap kegiatan HTI selalu berjalan tertib dan tidak pernah menimbulkan keributan di tengah-tengah masyarakat. HTI pula tidak ketinggalam ikut andil dalam musibah yang menimpa negeri ini seperti bencana alam, gempa bumi, banjir dan lain-lain.

Dengan demikian sangat tidak logis dan tidak relevan ketika ada oknum yang mengatakan bahwa HTI tidak ikut andil positif dalam pembangunan Indonesia. Ini salah besar. Dan sangat disayangkan pernyataan tersebut keluar dari pemerintah sebagai pengayom rakyat. Seharusnya pemerintah mendukung gerakan HTI.

Karena pengaruh keberadaanya sangat positif dan ikut andil dalam mengotrol suasana pemerintah dalam ancaman-ancaman penjajah. Kedua, HTI dinilai bertentangan dengan pancasila UUD 1945. Pernyataan ini patut kita cermati lebih mendalam dan menyeluruh. Mengapa demikian? Karena HTI adalah organisasi yang berasaskan Islam. Dimana kita pahami bersama, sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Bahwa negara ini mengakui akan adanya Tuhan atau berdiri atas dasar rahmat Tuhan Yang Maha Esa.

Dan apa yang dilakukan oleh HTI adalah upaya implementasi sila pertama, yakni menjalankan ajaran agama Islam. Mengajak kaum muslimin Indonesia untuk beragama dengan sempurna, baik dari segi individu, sosial, maupun negara.

Ucapan pemerintah, HTI bertentangan dengan Pancasila sangat tidak berdasar. Pernyataan yang sangat keliru dan tidak obyektif. Pemerintah seharusnya tahu diri, selama ini banyak kebijakan mereka yang bertentangan dengan Pancasila. Sebut saja misalnya saat negara menggadaikan aset-aset negara kepada asing, draft undang-undang pesanan asing, OPM yang tumbuh subur di papua, SDA yang diserahkan kepada asing dan banyak gelagat pemerintah yang bertentangan dengan Pancasila.

Patut dicurigai agenda untuk membubarkan HTI adalah bagian konspirasi invisible hand dengan memperalat pemerintah untuk tujuan jahat mereka. Ketiga, menurut Wiranto sebagai menkopolhukam, HTI telah menimbulkan benturan di tengah-tengah masyarakat, dan mengancam NKRI.

Alasan ini tidak tepat dan jauh dari fakta. Aktivitas HTI tidak pernah ditemui menimbulkan keresahan apalah lagi sampai pada kericuhan. Dan jika membaca kitab-kitab HTI tidak pernah ada ajaran untuk melakukan kekerasan atau tindakan terorisme.

Bahkan seruan HTI mengajak pada kedamaian. Mengajak untuk bersama menyelamatkan negeri Indonesia dari ancaman penjajah, neoliberalisme maupun neoimperialisme. Jadi lagi-lagi pemerintah salah kaprah dalam menilai HTI. Sikap membubarkan HTI tersebut jika ditelisik menyeluruh menunjukan bahwa pemerintah sangat anti Islam.

Hal ini berangkat dari fenomena sebelumnya sampai pada hari ini oleh pemerintah. Sebut saja pada kasus kriminalisasi ulana, perda miras, perda syariah, kasus ahok, khutbah dimesjid, dan masih banyak sikap pemerintah yang kontra terhadap Islam. Perihal ini tidak boleh di biarkan.

Umat Islam adalah bagian dari negeri ini yang berjuang tanpa pamrih saat mengusir penjajah. Maka sudah saatnya Umat Islam bersatu padu memegang konsisten pemikiran Islam. Dan melawan para komprador yang merongrong persatuan umat Islam untuk menegakan agamanya. Lebih dari itu, perihal ini sebagai konsekuensi keimana kepada Allah SWT. Allahu Akbar.

*Penulis adalah Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Halu Oleo, Kendari, Sulawesi Tenggara

Sumber
Continue Reading

Mengapa HTI Dituduh Bertentangan?



Oleh : Tatang Hidayat *)

Indonesia merupakan negeri yang memiliki kekayaan alam sangat melimpah. Negeri ini memiliki tambang emas terbaik di dunia, tambang batu bara terbesar di dunia, cadangan gas alam yang melimpah, hutan hujan tropis terbesar di dunia, kekayaan bawah laut yang melimpah luas, kesuburan tanah terbesar di dunia, dan memiliki beberapa kekayaan fauna atau binatang (ilmugeografi.com, 20/6/2016). Tetapi dengan banyaknya kekayaan alam yang dimiliki negeri ini, tidak membuat masyarakatnya hidup sejahtera.

Bagaimana tidak, hari-hari yang dilalui, bertambah pula tangisan di bumi pertiwi. Negeri ini semakin terjajah. Berbagai  permasalahan lengkap sudah mewarnai bumi pertiwi. Kehidupan di negeri ini sedang mengalami krisis multidimensional, baik di bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, pendidikan dan hukum. Sehingga mengakibatkan kemiskinan, bertambahnya pengangguran, tindak kriminal, kezaliman, kebodohan, kemorosotan moral, instabilitas moneter, penguasaan sumber daya alam negeri ini oleh kekuatan asing dan aseng melalui kaki tangannya para komprador, maraknya korupsi di seluruh sendi di seantero negeri, kerusakan lingkungan dan meningkatnya penyakit sosial hingga frustasi sosial yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan di negeri ini.

Begitu banyak solusi yang ditawarkan oleh berbagai kalangan untuk memperbaiki problematika yang ada di negeri ini, salah satunya solusi yang ditawarkan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang akhir-akhir menjadi pusat perhatian di negeri ini. HTI sebagai kelompok dakwah yang menawarkan Islam sebagai solusi atas semua problematika kehidupan di Indonesia diduga merupakan ormas yang anti Pancasila, meskipun sampai saat ini tuduhan tersebut belum dapat dibuktikan di pengadilan.

Sebenarnya saya masih heran, mengapa HTI dituduh bertentangan dengan Pancasila? Karena, dari berbagai sumber yang saya dapatkan, justru aktivitas HTI paling lantang dalam menolak segala bentuk penjajahan dan kedzaliman yang menyebabkan penderitaan rakyat yang jelas-jelas penjajahan dan tindakan kedzaliman bertentangan dengan Pancasila.

Apakah aktivitas HTI yang bertentangan dengan Pancasila seperti HTI menolak Papua lepas dari Indonesia (antarajatim.com, 16/12/2011), HTI menolak kenaikan harga BBM (tempo.co, 12/11/2014), HTI menolak kenaikan tarif dasar listrik (liputan6.com, 25/06/2010), HTI menolak asing kelola sumber daya alam Indonesia (poskotanews.com, 23/12/2015), HTI menolak LGBT (merdeka.com, 21/02/2016), HTI menolak liberalisasi migas (detik.com, 22/01/2012), solidaritas HTI terhadap muslim di Palestina, Suriah, Rohingya dll (detik.com, 01/03/2013), HTI menolak Komunis (hizbut-tahrir.or,id (18/05/2016), HTI tolak negara penjajah Amerika (detik.com, 04/10/2013), HTI menolak pemerintah lepas tangan soal kesehatan (tribunnews.com, 21/11/2012), HTI serukan umat tentang persatuan (hizbut-tahrir.or.id, 19/08/2014), HTI menolak perdagangan bebas yang merugikan rakyat (hizbut-tahrir.or.id, 12/01/2010) dan masih banyak aktivitas lain yang dilakukan HTI dalam dakwah selama ini.

Jika HTI yang paling lantang menolak segala bentuk penjajahan di negeri ini disebut sebagai ormas yang bertentangan dengan Pancasila, lantas seperti apakah sikap yang bisa disebut mengamalkan Pancasila? Atau siapakah orang yang paling Pancasilais? Apakah aktivitas pemerintah yang paling Pancasilais? Inikah aktivitas pemerintah yang sangat Pancasilais seperti pemerintah menaikan harga tarif dasar listrik (republika.co.id, 15/07/2017), pemerintah terus menerus membiarkan Freeport merampok emas Papua (sindonews.com, 16/10/2015), pemerintah yang menaikan harga BBM (tribunnews, 05/01/2017), melindungi LGBT (bbc.com, 19/10/2016), pemerintah terus berhutang riba sehingga hutang Indonesia diatas 4000 T (poskotanews.com, 21/07/2016), pemerintah menaikan harga pajak (eramuslim.com, 04/03/2016), dan pemerintah melunak kepada komunis (cnnindonesia.com, 12/05/2016).

Pemerintah ingin membubarkan HTI karena pemerintah menganggap khilafah sebagai solusi yang selalu ditawarkan HTI untuk kebaikan negeri ini, sangat berbahaya dan akan mengganggu persatuan Indonesia. Alasan tersebut jelas mengada-ngada dan belum terbukti sampai saat ini, bahkan alasan tersebut jelas merupakan asumsi-asumsi yang jauh dari kenyataan. Karena, yang merusak dan menjajah negeri selama ini adalah bukan orang Islam maupun ajaran Islam. Tetapi asing dan aseng yang telah mengganggu persatuan dan merampok sumber daya alam di negeri ini melalui kaki tangannya para komprador.

Di sisi lain, khilafah bukan ajaran HTI tetapi Khilafah adalah ajaran Islam. HTI akan ke-GRan jika dikatakan Khilafah sebagai ajaran HTI, karena para ulama terdahulu telah membahas dalam berbagai kitabnya bahwa Khilafah adalah bagian dari Politik Islam. Kita bisa merujuk kepada buku Fiqh Islam karya ulama nusantara yakni H. Sulaiman Rasjid yang telah masyhur dikalangan sarjana muslim, di dalam buku tersebut dijelaskan bab Al-Khilafah yakni khilafah adalah sistem pemerintahan yang berdasarkan Islam. Khilafah sebagai ajaran Islam pernah diajarkan dalam kurikulum Madrasarh Aliyah tahun 1994, begitupun sejarah Kekhilafahan Khulafaur Rasyidin diajarkan di pesantren-pesantren tradisional yang tercantum dalam kitab Nurul Yaqin.

Jika pemerintah membubarkan HTI yang dianggap karena ajaran khilafah mengancam persatuan Indonesia, maka sungguh saya merasa sangat kecewa dan tersinggung. Karena, saya selaku mahasiswa yang mengambil konsentrasi ilmu dalam bidang Pendidikan Agama Islam yang di dalamnya ada mata kuliah Fiqh Siyasah (Politik Islam), begitupun mata kuliah Sejarah Peradaban Islam dan Sejarah Pendidikan Islam dan tentunya menjelaskan tentang kekhilafahan mulai zaman Rasulullah SAW, Khulafaur Rasyidin, Bani Umayah, Bani Abbasiyah hingga Bani Utsmaniyyah. Jika pemerintah mengriminalkan khilafah sebagai ajaran Islam, otomatis orang yang menyampaikan tentang khilafah akan dikriminalkan juga. Oleh karena itu, bagi para dosen patut berhati-hati ketika menyampaikan berkaitan dengan khilafah.

Sebenarnya, khilafah bukan ajaran HTI, tetapi khilafah adalah ajaran Islam. Jika pemerintah mengriminalkan ajaran khilafah, maka jelas pemerintah telah mengriminalisasi ajaran Islam, dan itu akan menimbulkan efek yang kurang baik khusunya dalam bidang pendidikan agama yang didalamnya menjelaskan Syariah Islam. Khilafah merupakan bagian dari ajaran Islam yang tercantum dalam kitab-kitab Fiqh. Jika syariah ditolak, apakah pemerintah berani menutup Fakultas-Fakultas Syariah yang ada di Universitas Islam Negeri (UIN) / Institut Agama Islam Negeri (IAIN) ?

Setelah melihat aktivitas HTI yang paling lantang dalam menolak segala bentuk penjajahan asing dan aseng yang berkerja sama dengan para komprador sebagai pengkhianat bangsa yang menjual berbagai macam aset negara, sikap penguasa yang semakin menyengsarakan rakyat, yang merusak, mengancam dan memecah belah NKRI yang jelas-jelas anti-Pancasila. Maka HTI memang pantas untuk dibubarkan karena mengancam kepentingan asing dan aseng berikut para komprador yang telah menjajah negeri ini dengan jajahan gaya baru yakni melalui neo imperialisme dan neo liberalisme.

Di sisi lain, dibalik wacana pembubaran HTI dan ormas Islam lainnya, terindikasi ada pihak lain yang berada di belakang pemerintah, yakni orang-orang yang menganut paham liberal yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam. Jadi ketidaksukaan mereka terhadap Islam karena memang berbeda ideologi, yang anehnya mengapa ide Islam yang akan memberikan solusi di negeri ini dijegal, tetapi kenapa ide-ide sekulerisme, pluralisme dan liberalisme yang telah merusak negeri ini bahkan paham tersebut  sudah difatwakan haram oleh MUI mengapa dibiarkan. Wallahu ‘allam bi ash-shawab.

*) Ketua Badan Eksekutif, Korda Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BKLDK) Kota Bandung

Sumber: republika.co.id (17/7/2017)
Continue Reading

Khilafah dan Nusantara



“Jadi, masyarakat Banten sesungguhnya punya hubungan biologi dan ideologi dengan Palestina.”

Tak ada yang mengingkari peran Walisongo dalam penyebaran Islam di Nusantara, khususnya di Pulau Jawa. Namun, tak banyak orang tahu dari mana mereka, para wali itu, berasal. Tidak mungkin kan mereka tiba-tiba ada. Inilah bagian sejarah penting yang tidak banyak dipahami oleh umat Islam dan mungkin dihilangkan dalam pelajaran sejarah di sekolah.

Dalam buku sejarah seperti Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, yang ditulis oleh Azyumardi Azra; Sejarah Wali Songo: Misi Pengislaman di Tanah Jawa karangan Budiono Hadi Sutrisno; atau Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam di Indonesia yang ditulis oleh Ahmad Mansur Suryanegara, diketahui bahwa Walisongo adalah para ulama yang diutus oleh Sultan Mahmud 1 dari Khilafah Utsmaniyah untuk menyebarkan Islam di Nusantara.

Para wali ini datang dimulai dari Maulana Malik Ibrahim, asli Turki, ahli politik dan irigasi. Dialah peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara. Ia wafat di Gresik sehingga dikenal dengan sebutan Sunan Gresik. Seangkatan dengannya, ada dua wali dari Palestina yang berdakwah di Banten, yaitu Maulana Hasanudin, kakek Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Aliyuddin. “Jadi, masyarakat Banten sesungguhnya punya hubungan biologi dan ideologi dengan Palestina,” kata juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) M Ismail Yusanto.

Juga diutus Syeikh Ja’far Shadiq dan Syarif Hidayatullah. Keduanya juga dari Palestina. Keduanya dikenal di sini sebagai Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati. Sunan Kudus mendirikan kota kecil di Jawa Tengah, dengan nama Kudus, mengambil nama al-Quds (Jerusalem).

Menjadinya mayoritas penduduk Indonesia itu Muslim, kata Ismail, tak lepas dari dakwah yang disampaikan oleh para dai yang diutus oleh khilafah. Dan kemusliman itu amat berpengaruh dalam dinamika kehidupan bangsa dan negara ini, termasuk dalam tahap-tahap awal perjuangan kemerdekaan. “Itu semua tidak bisa lepas dari jasa para khalifah pada masa lalu yang tak henti melancarkan dakwah ke seluruh penjuru dunia, khususnya ke negeri ini,” jelasnya.

Hubungan Dekat

Sri Sultan Hamengku Buwono X saat memberikan sambutan dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VI di Yogyakarta, Senin (9/2/2015) mengungkapkan hubungan Khilafah Utsmaniyah dengan tanah Jawa. “Sultan Turki Utsmani meresmikan Kesultanan Demak pada tahun 1479 sebagai perwakilan resmi Khalifah Utsmani di tanah Jawa,” ujarnya.

Peresmian tersebut, lanjut Sri Sultan, ditandai dengan penyerahan bendera hijau bertuliskan kalimat tauhid. “Bendera hadiah Sultan Utsmani masih tersimpan baik di Keraton Yogya,” ujarnya.



Menurutnya, Sultan Turki pula yang mengukuhkan Raden Fatah sebagai khalifatullah di Jawa. “Perwakilan Khilafah Turki di Tanah Jawa, ditandai dengan penyerahan bendera hitam dari kiswah Ka’bah bertuliskan kalimat tauhid, dan bendera hijau bertuliskan Muhammad Rasulullah,” bebernya.

Sebelum itu, hubungan Nusantara dan Khilafah telah terjalin sangat erat di Aceh. Koran Sumatera Post menulis, di kalangan orang/pejabat Belanda mengakui bahwa banyak sultan-sultan di Indonesia memberikan baiatnya (sumpah kesetiaan dan kepatuhan) kepada khalifah di Istanbul. Dengan itu secara efektif kaum Muslim di wilayah Sultan itu menjadi warga negara Khilafah [Negara Islam].

Kaum Muslim di Aceh adalah yang paling menyadari akan status mereka. Koran Sumatera Post menulis tentang ini pada tahun 1922: “Sesungguhnya kaum Muslim Aceh mengakui Khalifah di Istanbul.” Bukan hanya itu, mereka juga mengakui fakta bahwa tanah mereka adalah bagian dari Negara Islam. Ini adalah salah satu alasan atas perlawanan sengit mereka melawan Belanda.

Ada kontak teratur antara kaum Muslim Aceh dan Khalifah di Istanbul. Sebagai contoh, kaum Muslim Aceh mengirim delegasi kepada Khalifah untuk memberitahu situasi mereka dan meminta bantuan dan dukungan Khalifah. Pada tahun 1915, Sumatera Post kembali menyebutkan satu delegasi tersebut, yang dikirim ke Istanbul pada tahun 1868.

Jauh sebelumnya, Aceh telah menjadi bagian dari Kekhilafahan Turki Utsmani. Sepucuk surat dari Sultan Turki dimuat di akun Lost Islamic History @LostIslamicHist. “A letter from the Ottoman sultan in #Istanbul to the sultan of #Aceh, in #Indonesia (1500s).”

Surat itu sebagai balasan atas surat dari kerajaan Aceh pada 1563 kepada Khalifah Abdul Aziz dari Kekhalifahan Turki Utsmani. Sultan Aceh Alauddin Mahmud Syah meminta bantuan kekhilafahan untuk menghadapi imperialisme Eropa. Ia menyatakan, Turki merupakan penguasa tunggal dan tertinggi bagi bangsa-bangsa yang beragama Islam.

Surat itu langsung dibalas oleh Khalifah Abdul Aziz disertai alat-alat perlengkapan perang, termasuk meriam yang kemudian dinamakan dengan meriam ‘Lada Sicupak’. Selain itu, Sultan Turki juga mengirimkan bantuan berupa dua kapal perang dan 500 orang tenaga berkebangsaan Turki untuk mengelola kapal-kapal tersebut.

Selain tahun 1563 Masehi, hubungan antara Turki dengan Aceh kembali dilakukan dan diperkuat tiga abad setelahnya yaitu tahun 1850. Kerajaan Aceh yang diperintah oleh Sultan Ibrahim Mansyur Syah mengirim Sidi Muhammad sebagai utusannya ke Turki. Melalui sepucuk surat, Sultan meminta agar Turki bersedia melindungi Aceh dari rongrongan Inggris dan Belanda.

Ada Turki di Aceh



Armada Utsmani di Laut Merah di bawah komando Laksamana Kurtoglu Hizir Reis diperintahkan oleh Khalifah Turki Utsmani melakukan ekspedisi ke Sumatera pada 1567. Di dalamnya ikut serta para ulama dan ahli teknik.

Ekspedisi militer ini merupakan bantuan teknis dan budaya yang pertama kali dilakukan dalam sejarah hubungan Turki dan Nusantara. Saat kedatangannya, mereka disambut dengan upacara yang meriah dan gelar gubernur (wali) diberikan kepada Kurtoglu Hizir Reis.



Pasukan Turki dan Aceh ini berhasil mengalahkan dan mengusir Portugis. Kemudian, tujuh belas dari sembilan belas kapal, termasuk Laksamana Hizir Reis, kembali ke wilayah Khilafah Utsmaniyah.

Namun, ada juga orang Turki yang memutuskan untuk menetap karena terkesan dengan kehangatan penduduk Aceh. Mereka menikahi pribumi dan berbaur dengan penduduk setempat. Mereka pun membawa pengaruh signifikan terhadap perkembangan budaya dan kekuatan militer di Aceh serta berkontribusi dalam pengembangan teknologi modern saat itu. Sumbangsih yang paling tersohor adalah Akademi Militer yang kemudian diberi nama “Askar Baitul Makdis”.



Menurut penelitian Prof. A. Hasjmy dari Aceh, pusat pendidikan militer telah melahirkan sejumlah pahlawan dalam sejarah Aceh dan Indonesia. Yang paling terkenal adalah Laksamana Keumala Hayati (Malahayati), satu-satunya laksamana perempuan dalam sejarah dunia masa kini.



Bangsa Turki menetap di kota tepi laut Banda Aceh, di desa yang sekarang disebut Bitai, Emperom dan Perkebunan Banda. []emje



Sumber : Tabloid Media Umat edisi 198
Continue Reading

Ustadz Ismail Yusanto: Dakwah Kok Dituduh Makar?



Sepanjang bulan Rajab lalu, HTI menyelenggarakan sebuah agenda besar yang bertajuk Masirah Panji Rasulullah (Mapara). Acara ini diselenggarakan secara nasional di 36 kota dengan melibatkan ratusan ribu masyarakat dari berbagai daerah; dari Aceh hingga Papua. Apa sebetulnya latar belakang dan tujuan dari penyelenggara Mapara ini? Apa pula kendalanya? Apakah penyelenggaran Mapara ini sukses?

Itulah di antara beberapa pertanyaan Redaksi kepada Ustadz M. Ismail Yusanto, Juru Biacara HTI. Berikut hasil wawancaranya.

Selama bulan Rajab lalu, HTI mengadakan kegiatan dan kampanye Masirah Panji Rasulullah (Mapara). Apa saja bentuk kegiatannya. Sejauh mana keberhasilan rangkaian kegiatan itu?

Alhamdulillah, acara Masirah Panji Rasulullah (Mapara) yang diadakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di 36 kota besar di seluruh Indonesia di sepanjang bulan April 2017, bertepatan dengan bulan Rajab 1438 H lalu,  secara umum  berjalan dengan baik, aman dan tertib. Di beberapa kota, karena kendala teknis-administratif dan keamanan, kegiatan Mapara ada yang terpaksa dialihkan tempatnya, ditunda atau dikurangi ragam kegiatannya. Namun, itu semua tidak mengurangi kesuksesan pelaksanaan Mapara secara keseluruhan, baik dari sisi acaranya, pesan yang hendak disampaikan kepada masyarakat maupun respon masyarakat itu sendiri.

Mapara, selain dilakukan dalam bentuk masirah (longmarch atau pawai) dan tablig akbar, juga dilakukan dalam bentuk dialog melalui sebuah acara yang diberi nama International/Indonesia Khilafah Forum. Forum ini merupakan sarana pertemuan antara keluarga besar HTI dengan tokoh masyarakat dari berbagai kalangan. Tujuannya untuk membangun kesamaan persepsi tentang pentingnya membangkitkan umat. Forum ini juga demi mewujudkan upaya bersama bagi perubahan menuju kehidupan islami dan persatuan umat yang disimbolisasikan oleh tegak berkibarnya kembali Panji Rasulullah, Panji Islam.



Apa sebenarnya yang HTI inginkan dari Mapara ini?

 Mapara diselenggarakan oleh HTI sebagai medium untuk lebih mengenalkan simbol-simbol Islam, dalam hal ini al Liwa dan ar-Raya atau Panji Rasulullah, bersama dengan ide besar syariah dan khilafah, karena antara al Liwa dan ar Raya dengan syariah dan khilafah tidaklah dapat dipisahkan. Al Liwa dan ar Raya di masa lalu menjadi simbol keberadaan atau eksistensi khilafah dan persatuan umat.   Tujuanya, agar simbol-simbol dan ide-ide utama itu semakin dikenal secara luas oleh masyarakat, selanjutnya bisa dipahami, diterima dan diamalkan serta diperjuangkan sebagai jalan kebangkitan umat menuju terwujudnya Islam rahmatan lilalamin.



Tentang panji Rasulullah ar-Rayah dan al-Liwa’, ada yang mempersoalkan bahkan menuduhnya sebagai imajinasi HTI. Bagaimana tanggapan Ustadz?

Memang ada hadis terkait al-Liwa dan ar-Rayah, seperti hadis riwayat Ahmad dan Thabrani, yang dipersoalkan oleh para ulama. Namun, hadis tentang al-Liwa dan ar-Rayah bukan hanya itu. Banyak hadis lain yang derajatnya sahih. Misalnya hadis Imam at-Tirmidzi, Nasa’i dari Jabir; juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Baihaqi, ath-Thabarani, Ibnu Abi Syaibah dan Abu Ya’la. Hadis itu semua sahih. Hadis-hadis tersebut diriwayatkan dalam banyak kitab hadis seperti Kanz al-Ummâl, Majma’ al-Zawâ’id, Fath al-Bari li Ibni Hajar, Tuhfah al-Ahwadzi, Umdah al-Qâri dan Faydh al-Qadîr, yang rata-rata berujung pada rawi sahabat bernama Jabir dan Ibnu Abbas ra.

Selain itu, juga ada lagi hadis bahwa Nabi saw. pernah bersabda pada Perang Khaibar, “Sungguh Rayah ini akan aku berikan kepada seseorang yang di tangannyalah kemenangan; dia mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, tentu saja dengan status sahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Hiban, Baihaqi, Abu Dawud Thayalisi, Abu Ya’la, Nasa’i dan ath-Thabarani.

Jadi bagaimana bisa disebut al-Liwa’ dan ar-Rayah itu imajinasi HTI?

Ada juga yang mengidentikkan ar-Rayah dengan ISIS sehingga ditakutkan kampanye ini akan menyuburkan ISIS di negeri ini. Bagaimana Ustadz?

Justru hal itu yang hendak kita tepis. Al-Liwa’ dan ar-Rayah bukanlah simbol, lambang atau bendera sebuah kelompok; tetapi ini simbol, lambang, bendera atau panji milik kaum Muslim seluruh dunia. Bentuknya pun berbeda dengan yang sering dianggap sebagai bendera ISIS.

Memang, oleh karena berbagai sebab, telah terbentuk satu opini di tengah masyarakat, bahwa bendera seperti itu adalah bendera ISIS yang sudah terlanjur mendapat penilaian buruk dari masyarakat. Akibatnya, benderanya pun ikut mendapatkan penilaian buruk. Ada rasa takut dan ngeri tiap kali melihat bendera hitam ISIS.

Lepas dari ISIS-nya yang memang kontroversial, timbulnya rasa ngeri, takut atau apapun namanya tiap melihat bendera ISIS, dan yang membawanya langsung dicap teroris, itu jelas sebuah kekeliruan besar. Bagaimana mungkin kita umat Islam takut dengan bendera tauhid?

Lalu apa pentingnya kampanye tentang Panji Rasulullah itu untuk dilakukan saat ini?

Salah satu persoalan besar yang dihadapi oleh umat Islam dewasa ini adalah rendahnya pemahaman atau pengetahuan umat akan Islam. Hal ini membuat terdapat jarak sangat lebar antara Islam di satu sisi dan umat di sisi lain. Akibatnya, tidak sedikit umat Islam yang tidak mengenal, tidak paham bahkan merasa asing terhadap ajaran agamanya sendiri. Salah satunya  terhadap simbol-simbol Islam seperti al-Liwa’ dan ar-Rayah.

Rendahnya pemahaman umat akan ajaran Islam tentu berdampak sangat serius. Bagaimana umat akan mengamalkan ajaran agamanya bila ia sendiri tidak paham? Bagaimana kerahmatan Islam akan bisa dirasakan bila ajarannya tidak diamalkan? Bagaimana pula umat bisa diharap untuk berjuang bersama bila mereka tak paham apa yang harus diperjuangkan? Alih-alih mau berjuang bersama, yang terjadi sikap umat justru kebalik-balik. Terhadap hal yang mestinya dijauhi malah didekati. Mestinya ditinggalkan, malah dikerjakan. Mestinya dibela, malah dicerca. Mestinya dicinta, termasuk terhadap Panji Rasulullah, malah dihina, dan seterusnya.  Alhasil, keterikatan pada ajaran Islam justru dianggap sebagai faktor negatif.

Karena itu kampanye tentang panji Rasulullah al-Liwa’ dan ar-Rayah  itu penting dilakukan untuk mengenalkan keduanya dengan segala substansinya kepada publik. Dengan begitu masyarakat tidak mudah terpengaruh dengan propaganda buruk yang mengatakan bahwa itu adalah simbol dari kelompok teroris. Selanjutnya, umat diharap menjadi berani menghadapi setiap makar yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam yang tak henti berusaha melenyapkan atau mencitraburukkan simbol-simbol itu dengan segenap spirit perjuangannya dari hadapan umat.

Apa poin-poin penting capaian dari rangkaian kegiatan Mapara yang sudah diselenggarakan itu?

Pertama: Penting untuk ditegaskan bahwa acara ini, juga acara-acara serupa di masa mendatang, sebagaimana terhadap ratusan bahkan ribuan kegiatan yang telah pernah diselenggarakan oleh HTI sebelumnya, merupakan bagian dari ekspresi dan aspirasi umat Islam dalam dakwahnya yang dijamin oleh peraturan perundangan yang ada.

Kedua: Kegiatan ini sesungguhnya merupakan bentuk kontribusi HTI dalam perbaikan bangsa dan negara ini  melalui penanaman spirit tauhid pada masyarakat dan dorongan ketaatan pada hukum-hukum Allah SWT, Sang Pencipta Kita Semua. HTI memandang, berbagai persoalan yang dihadapi oleh masyarakat, bangsa dan negara ini, seperti korupsi yang makin menjadi-jadi, kerusakan moral, kriminalitas yang merajalela dimana-mana, berkembangnya ketidakadilan hukum dan ekonomi, kezaliman dan sebagainya, sesungguhnya berpangkal pada rapuhnya tauhid dan lemahnya ketaatan pada ketentuan-ketentuan Allah SWT tersebut. Oleh karena itu tidak pada tempatnya acara yang demikian mulia ini dihalangi, diganggu apalagi dilarang; atau dituding dengan berbagai macam tuduhan, seperti tuduhan makar dan tuduhan lain,  yang tidak berdasar sama sekali.

Ketiga: Penting juga ditegaskan bahwa mengamalkan syariah dalam kehidupan pribadi dan menerapkan dan memperjuangkannya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara merupakan kewajiban setiap Muslim sebagai realisasi dari ibadah kita kepada Allah SWT.

Sebagaimana beredar di berbagai berita, ada ormas tertentu menolak bahkan menghadang kegiatan Mapara di beberapa tempat. Bagaimana menyikapi hal itu?

Kita tentu sangat menyesalkan tindakan itu. Apa yang salah dengan kegiatan Mapara ini? Ini adalah kegiatan dakwah. Masak, kegiatan dakwah dihalangi? Al-Liwa’ dan ar-Rayah yang kita bawa sesungguhnya adalah  milik mereka juga. Syariah dan Khilafah yang kita perjuangkan juga adalah bagian dari ajaran Islam, agama mereka juga. Oleh karena itu, kita sangat prihatin melihat kejadian ini. Kita berharap itu semua terjadi lebih karena salah paham atau belum paham. Kita tetap memandang mereka sebagai saudara sesama Muslim. Bukan musuh. Musuh kita adalah orang-orang kafir yang menghalangi tegaknya ajaran Islam.

Ada beberapa tuduhan, di antaranya karena HTI dengan ide khilafahnya mengancam negeri ini atau bentuk makar. Bagaimana menanggapi hal itu?

Ini tuduhan tidak benar.  HTI adalah ormas legal berbadan hukum perkumpulan (BHP). Kegiatannya dakwah. Semua yang disampaikan oleh HTI tak lain adalah ajaran Islam. Bagaimana bisa, kegiatan dakwah disebut makar? Ini jelas retorika basi ala Orde Baru yang dulu acap dipakai untuk menghambat dakwah.

Ada juga yang menuduh, HTI akan mengganti UUD 1945 dan Pancasila, bahkan ada yang menuduh HTI akan mendirikan negara dalam negara?

Sekali lagi penting ditegaskan, HTI adalah kelompok dakwah. Yang disampaikan HTI baik itu syariah, khilafah, al-Liwa’ dan ar-Rayah tidak ada lain kecuali ajaran Islam. Dalam UU Ormas tentang larangan, Islam bukanlah termasuk paham yang bertentangan dengan Pancasila. Jadi, bagaimana bisa dikatakan kegiatan HTI bertentangan dengan Pancasila? Lalu mengenai perubahan UUD 45, di dalam UUD 45 itu sendiri terdapat ketentuan yang memungkinkan terjadinya perubahan. Faktanya, UUD 45 memang sudah berulang berubah. Bahkan sekarang sedang disiapkan perubahan (amandemen) kelima. Jadi siapa sebenarnya yang mengubah UUD 45? Mengapa HTI yang dipersalahkan?

Tudingan lain, HTI dengan khilafahnya akan memecah-belah Indonesia?

Salah satu substansi penting dari khilafah adalah persaudaraan (ukhuwah) yang diwujudkan dengan persatuan. Bagi HTI, persatuan itu penting sekali karena dengan persatuan kita menjadi kuat. Jadi, sangat tidak mungkin HTI dengan ide khilafahnya itu menghendaki perpecahan bangsa. Bila persatuan itu wajib, maka berpecah-belah itu haram. HTI tentu tidak ingin negara ini terpecah-belah. Karena itulah HTI dengan tegas menolak referendum di Timor Timur dulu, karena hal itu ditengarai bakal menjadi jalan separatisme. Ternyata betul. Pasca referendum Timor Timur lepas.

 Substansi lain dari Khilafah adalah syariah. Syariah mengajarkan kepada kita secara detil tentang bagaimana menghadapi keberagaman. Jadi bagaimana bisa HTI dituding anti keragaman. Justru Khilafahlah yang telah membuktikan kemampuannya mengatur masyarakat heterogen berbilang abad lamanya.

Kalau terkait tuduhan bahwa ide khilafah akan menimbulkan konflik seperti Suriah?

Ingat, Suriah menjadi seperti sekarang ini bukan karena Khilafah, juga bukan karena Islam, tetapi karena adanya tangan-tangan kotor pihak asing yang turut campur dalam urusan dalam negeri Suriah. Ketika sebagian besar rakyatnya ingin Bashar Assad yang sangat represif, zalim dan kejam mundur, pihak asing itu justru membela dia. Jadilah konflik berkepanjangan hingga sekarang. Pernyataan bahwa Khilafah akan membawa negeri ini seperti Suriah adalah propaganda jahat yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak ingin Islam berjaya karena khawatir kepentingan politik dan ekonominya terganggu.

Di beberapa tempat HTI, dituding anti Aswaja, anti tahlilan dan takfiri. Benarkah?

Jelas tidak benar itu. Orang yang paham HTI pasti akan mengatakan gerakan ini adalah bagian dari Aswaja. Bagaimana mungkin HTI akan melarang tahlilan sedang inti dari tahlilan adalah mengucap kalimah tauhid dan doa? Tak pernah juga HTI mengafirkan pihak lain karena tujuan HTI justru ingin mengislamkan orang kafir. Boleh buktikan, kapan dan di mana, HTI pernah mengafirkan orang Islam atau melarang tahlilan dan sebagainya. Tidak ada.

Lantas, mengapa muncul tudingan-tudingan itu?

Tidak tahu saya. Kemarin-kemarin tidak pernah ada yang beginian. Dugaan saya, ada yang salah paham atau ada pihak-pihak tertentu yang sengaja mengompori dan mengadu domba antara HTI dan ormas atau kelompok Islam lain. Kemungkinan yang terakhir, kita mendapatkan informasi valid dari pihak-pihak yang kompeten. Ini patut disayangkan bila sesama kita dengan mudah diadu domba. Jangan mau lah. Kan kita bukan domba….

Apa pentingnya seruan penerapan syariah dan penegakan Khilafah bagi negeri ini?

HTI melakukan ini semua karena ini adalah kewajiban, yang oleh para ulama bahkan disebut sebagai tâj al-furûdh (mahkota kewajiban). Dengan tegaknya syariah dan Khilafah akan banyak sekali kewajiban-kewajban lain yang bisa ditunaikan. Lagipula, syariah dan Khilafah sesungguhnya adalah solusi atas berbagai persoalan yang tengah dihadapi oleh negara ini dan negeri-negeri Muslim lain. Inilah pentingnya seruan syariah dan Khilafah bagi negeri ini. Kemana lagi kita berharap setelah sosialisme tumbang dan kapitalisme makin loyo, bila tidak pada Islam? Hanya dengan Islam negeri ini bisa menjadi baldatun thayyiban wa rabbun ghafur.

Apa harapan dan yang harus dilakukan ke depan?

Harapannya, umat makin memahami Islam sehingga terdorong mengamalkan dan memperjuangkannya, hingga ajaran Islam benar-benar bisa tegak dan memberikan rahmat bagi sekalian alam (rahmatan lil ‘alamin). Untuk itu, dakwah harus terus digencarkan, dan semua komponen umat yang terlibat harus bahu membahu, saling mendukung, bukan saling menyerimpung. Sudah sangat berat tantangan lawan di luar sana, jangan pula ditambah dengan kesalahanpahaman di antara kita. Bila kita istiqamah dalam dakwah dan bergerak dengan semangat ukhuwah, insya Allah cita-cita tegaknya kembali ‘izzul Islam wal muslimin akan segera bisa terwujud. [Sumber]
Continue Reading

Dibubarkan, Jubir HTI: Pemerintah Melanggar Aturan Sendiri




Pencabutan Surat Keterangan (SK) badan hukum Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh Kemenkumham, merupakan double kedzhaliman pemerintah. Menurut Jubir HTI Ismail Yusanto,  pemerintah sudah melanggar aturan yang mereka buat sendiri.

“Dengan menerbitkan Perppu saja, pemerintah sudah melakukan kesewenang-wenangan, dan sekarang mereka juga mencabut SK badan hukum HTI tanpa alasan jelas, ini merupakan double kesewenang-wenangan pemerintah,” ujar Ismail saat dihubungi Republika.co.id, Rabu (19/7).

Di dalam aturan yang pemerintah buat sendiri, dipaparkan Ismail, pemerintah bisa membubarkan ormas dengan alasan-alasan yang jelas dan pasti. Tetapi, dengan mengatakan HTI dalam aturan tertulis mencantumkan ideologi Pancasila, ketika di lapangan tidak diterapkan, ini hanya tudingan yang tidak berdasar.

“Tindakan kami yang mana yang tidak menerapkan Pancasila? Selama ini, kami menyuarakan aspirasi juga secara baik-baik kok. Tidak ada yang anarkis atau provokatif. Jadi tuduhan pemerintah ini tidak berdasar, tidak bisa dibuktikan,” kata dia.

Ismail menyatakan, HTI tentu tidak akan tinggal diam melihat kedzhaliman pemerintah ini. Bersama kuasa hukumnya, HTI akan mengajukan gugatan, dan akan memproses semuanya sesuai jalur hukum yang ada, bukan dengan kesewenangan seperti yang dilakukan pemerintah.

Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Dirjen AHU Kemenkumham), Freddy Harris, telah mencabut Surat Keterangan (SK) Badan Hukum Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) pada, Rabu (19/7). Pencabutan ini menindaklanjuti Perppu No.2 tahun 2017 tentang ormas.

Freddy meyakinkan, pencabutan SK Badan Hukum HTI bukanlah keputusan sepihak, melainkan hasil dari sinergi badan pemerintah. “Yang berada di ranah politik, hukum, dan keamanan,” ujar dia.

Pemerintah menilai HTI mengingkari AD/ART mereka sendiri. Dan dengan adanya masukan dari instansi terkait lainnya, maka ha-hal di dalamnya juga menjadi pertimbangan pencabutan SK Badan Hukum HTI. Kemenkumham melalui Dirjen AHU sebagai penerbit SK perkumpulan/ormas di Indonesia, berwenang untuk mencabut SK Badan Hukum HTI.

Sebelumnya, HTI tercatat di Kemenkumham sebagai Badan Hukum Perkumpulan dengan nomor registrasi AHU-00282.60.10.2014 pada 2 Juli 2014. Adapun HTI pada saat mengajukan permohonan Badan Hukum Perkumpulan melakukan secara elektronik (melalui website ahu.go.id-red).

Lebih lanjut, kini dengan adanya pencabutan SK Badan Hukum HTI, maka ormas tersebut dinyatakan bubar sesuai dengan Perppu No.2 tahun 2017 Pasal 80A. “Jika ada yang berkeberatan, silahkan mengambil jalur hukum,” tutur Freddy. (republika.co.id, 19/7/2017)
Continue Reading

Rezim Panik

Oleh : Ust Felix Siauw

Pernah lihat kambing pas lagi disembelih? Meronta tak jelas, menendang tak tentu arah, apapun yang bisa ditendang ya ditendang, tanpa sadar mempercepat kematiannya

Begitulah namanya panik, dan saya yakin kita semua pernah berada dalam kondisi panik. Kita melakukan yang tak perlu, semakin berbuat semakin salah lagi

Begitu yang kita bisa lihat di penguasa saat ini, apapun yang bisa dilakukan untuk memperpanjang kekuasaan, dilakukan. Bahkan dengan cara yang tak masuk akal

Betul ketika Rasulullah mengatakan "Bila sudah tidak punya lagi rasa malu, maka berbuatlah sesukamu!". Apalagi yang tidak ada pada penguasa panik pada saat ini?

Mulai dari mengkriminalisasi ulama, stigmatisasi negatif bagi organisasi Islam bahkan Islam itu sendiri, penerbitan Perppu, sampai rencana memblokir sosial media

Alasannya, karena sosial media dijadikan media radikalisme dan terorisme, dan mereka lupa, bahwa pencitraan di sosial media yang justru membawa mereka jadi penguasa

Betul analogi Ustadz Ismail Yusanto, Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia. "Bagaikan kalah bertanding bola, tak bisa membobol gawang lawan, maka gawangnya diperlebar"

Apapun caranya untuk bisa berkuasa kembali. Sampai-sampai generasi muda pun dihambat untuk memahami Islam. Rohis diawasi sementara LGBT harus dihormati

Teringat kisah Firaun yang juga berbuat apapun agar bisa berkuasa kembali. Membunuhi ribuan nyawa anak lelaki karena takut ada yang menggantikan dirinya

Panik. Mereka kira memperpanjang kekuasaan, padahal tanpa sadar justru penguasa ini sedang menunjukkan wajah asli pada ummat, tentang ketidaksukaannya pada Islam

Persis hewan kurban yang disembelih, meronta yang bahkan mempercepat kematiannya. Bedanya, hewan kurban itu jadi pahala bagi kita, tapi penguasa sekarang, itu ujian

Sumber
Continue Reading
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template