Kamis, 23 Maret 2017

Menegakkan Sistem Khilafah Bukan Sekedar Kewajiban


.
Sesungguhnya menegakkan sistem Khilafah dan berhukum dengan apa yang telah diturunkan Allah, dalam persoalan kecil dan besar adalah kewajiban, bahkan bukan sekedar kewajiban. Masalah kewajiban ini jelas dan terang, sehingga tidak sedikitpun membuat bimbang. Bahkan lebih dari tiga belas abad negeri-negeri kaum Muslim ada dalam naungannya. Dan selama itu, orang-orang beriman menemukan kebahagiaan dan kemuliaannya. Sebaliknya, para musuh Islam terkapar dan terhinakan. Kewajiban ini dengan tegas diperintahkan oleh Allah SWT dengan firman-Nya:
.
وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ
.
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah
kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (TQS. Al-Māidah [5] : 49).
.
Juga secara tegas diperintahkan oleh Rasulullah saw melalui sabdanya:
.
«كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ»
.
“Dahulu Bani Israel, (urusan) mereka dipelihara dan diurusi oleh para nabi, setiap kali seorang nabi meninggal digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada nabi lagi sesudahku. Sementara yang akan ada adalah para khalifah, yang jumlah mereka banyak. Mereka (para sahabat) berkata: ‘Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?’ Rasulullah saw bersabda: “Penuhilah baiat yang pertama lalu yang pertama.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah ra).
.
Begitu juga, bahwa berjuang untuk menegakkannya adalah kewajiban yang akan menyelamatkan orang yang memperjuangkannya dari siksa neraka. Rasulullah saw bersabda:
.
«مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِىَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً»
.
“Siapa saja yang melepaskan tangan dari ketaatan, niscaya ia akan menjumpai Allah pada hari Kiamat kelak tanpa memiliki hujjah. Dan siapa saja yang mati sementara dipundaknya tidak ada baiat, maka ia mati seperti kematian jahiliyah.” (HR. Muslim dari Abdullah ibn Umar ra)
Sementara baiat di sini tidak ada kecuali terhadap Khalifah. Sedang “kematian jahiliyah” adalah sindiran (kināyah) tentang besarnya dosa yang akan ditimpakan kepada siapa saja yang tidak memperjuangkan tegaknya Khilafah.
.

[ hizb-ut-tahrir.info ]
💻 #IslamInspiring 📡
🔹🔶🔶
Continue Reading

Transportasi Massal dibawah Kendali Kapital



Hasil Kajian Isu GEMA Pembebasan Kota Bandung – Bersatu, Bergerak, Tegakkan Ideologi Islam

Kamis, 10 Maret 2017 riuh-riuh ribuan supir angkutan kota Bandung maupun taksi memadati halaman Gedung Sate melakukan aksi unjuk rasa penolakan terhadap keberadaan transportasi berbasis online di Kota Bandung. Mereka dari berbagai trayek seperti cicadas-cibiru,
margahayu – ledeng, elang – cicadas menuntut pencabutan peraturan menteri perhubungan No. 32 tentang operasional armada berbasis aplikasi online dan pemberlakuan kembali undang-undang no 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan. Aksi ini dipicu oleh keresahan subir angkot karena keberadaan taksi online yang sudah cukup lama dan berdampak pada kurannnya pendapatan bagi supir angkutan konvensional seperti angkot dan taksi ini. Dalam perhitungannya setidaknya yang biasa 6 kali per hari, sekarang mencaji 3 rit per hari. Atau bahkan tidak kebagian penumpang. Jika dipersentasekan pendapatan supir angkot setidaknya kurang hingga 40%.

Namun demikian, sisi gelap aksi dipenuhi dengan berbagai tindakan-tindakan yang keluar idealitas seorang warga bandung dari perspektif kesopanan budaya sunda. Ditengah-tengah riuh aksi, supir angkot kedapatan hilang akal atau mabuk-mabukan. Tak kurang mobil warga yang dicurigai massa aksi sebagai taksi online pun dihancurkan. Perusakan tersebut terjadi saat Eddy Muhammad Juniardi, 29 Tahun, mengemudikan mobilnya dan kemudian dihentikan sekumlah orang tak dikenal. Mobil ini disangka transportasi Uber. Wajah aksi angkot tercederai dengan sikap aksi yang arogan dan menindih nilai-nilai Bandung yang dipandang lekat dengan keramahan itu.
Hal ini menunjukan betapa sengitnya pertarungan antara transportasi Online maupun Konvensional dalam memperebutkan penumpang. Sedangkan aturan telah dijadikan alat untuk legitimasi dan upaya melegalkan kemenangan dari perebutan itu agar pihak yang menang menjadi rujukan yang adil atas nama merujuk kepada keadilan aturan itu. Hal ini terbukti dengan tuntutan pencabutan permenhub No. 32 itu sendiri. Padahal satu sisi, Angkutan Online telah mendapatkan payung hukumnya dalam beroperasi.

Tentu kondisi ini mempertanyakan beberapa hal. (1) Pertama kemanakah keberpihakan pemerintah terhadap dua moda transportasi yang pada dasarnya sama berangkat dari penyelenggaraan oleh swasta? (2) Kemana dalih pemkot Bandung dalam pengentasan konflik atas nama keberagaman yang sering digaungkan itu, tatkala wajah perbedaan dua kubu ini justru menimbulkan hubungan yang amat retak? (3) Jika ada keberpihakan pemkot bandung kepada kedua belah pihak, dimanakah tekad pengentasan kemacetan itu jika swasta diberikan jalan lengang untuk pengelolaan transportasi umum? (4) dan dimana pula tanggung jawab pemerintah dalam memberikan pelayanan terhadap warganya?

Membaca keberpihakan pemerintah kota bandung tampak dari sikap yang dilayangkan terhadap aksi angkot itu sendiri. Pemkot Bandung, tentu telah merencanakan dalam mengatasi problem angkutan kota ini untuk diselaraskan dengan pembangunan infrastruktur yang tengah berjalan. Ridwan Kamil menuturkan bahwa angkutan kota kedepan akan dijadikan kendaraan pengumpan atau feeder. Namun demikian, sebelum integrasi itu dilakukan artinya infrastruktur yang menopang moda transportasi lainnya dibangun, angkutan kota akan diberbaiki dari sisi citranya yakni dengan menambah fasilitas dalam angkot itu. Nama yang diberikan atas angkutan itu misalnya Angklung (Angkutan keliling Bandung) yang dilengkapi oleh AC, Wifi dan fasilitas lainnya.

Arah kebijakan ini tentu saja memberikan keberpihakan atas sebuah modernisasi, kemajuan fisik dan pembangunan yang mesti menyandingkan dengan teknologi. Ridwan Kamil tak lekang dari upaya mediasi yang menyuruh sopir angkut hendaknya belajar kepada transportasi online. Dalih pengerusakan itu adalah alasan yang mengikuti keberpihakan Pemkot Bandung sehingga membenarkan berpindahnya warga kepada transportasi Online. Sehingga dapat menarik perhatian warga yang mengutamakan keamanan dan kenyamanan penumpangnya. Kerangka berfikir ini telah mengindikasikan bahwa Ridwan Kamil hendak meniadakan angkutan kota itu sendiri, namun akan di “alih-fungsi” kan mengikuti rangkaian pembangunan infrastruktur dan moda transportasi yang dipandang berkemajuan seperti yang telah berjalan kereta-cepat, LRT dan sebagainya. Maka, adalah wajar upaya routing untuk membanyak trayek dilakukan agar angkutan kota pengumpan kedepan akan mendorong warga kepada kendaraan utama angkutan umum itu.

Namun demikian, aksi tuntutan angkutan kota itu tetaplah berada pada jalur yang salah diahdapan pembangunan infrastruktur yang kian masif ini. Angkut seolah tak ideal lagi dalam mencitrakan bandung dan menjadi representasi Bandung atas nama wajah modern Bandung. untuk itulah Angkut mesti daalih-fungsikan. Alhasil, begitulah problemnya yang mengerucut kepada pelayanan yang diberikan kepada pasar, dalam konteks ini adalah penumpang. Maka dari itu, Penumpang dijadikan alasan utama mana yang mesti dijadikan objek keberpihakan bagi Ridwan Kamil dalam menentukan Sikap. Jelas, Angkut yang tidak memberikan pelayanan maksimal itu, dan kontradiktif dengan pembangunan wajah bandung harus merasakan intimidasi pembangunan infrastruktur itu sendiri. Dalam pengamatan yang sempit dengan semata-mata menjamin kenyamanan penumpang tentu saja hal tersebut sah-sah saja jika saja dimaknai memberikan kemudahan saja, akan tetapi kondisi ini akan menjadi ketidakadilan tatkala dilihat dari sisi bahwa Pemerintah tengah memihak “swasta” yang lain dan meminggirkan “swasta” lainnya. Artinya memihak kepada angkutan online dan disatu sisi mengintimidasi Angkot, walaupun kedepan akan dialihfungsikan.

Dari kacamata itulah semestinya tidak menjadikan penumpang dan rasa nyaman bagi penumpang sebagai satu-satunya alasan untuk dijadikan pembenaran sehingga membela angkutan umum yang lain, padahal masih dalam koridor swasta. Upaya memihak tersebut tentusaja upaya tebang pilih dan bukti pemerintah lepas tangan terhadap persoalan karena persoalan tetap saja diserahkan kepada swasta dalam konteks pelayanan transportasi umum ini. Maka, disinilah pemerintah semestinya “tau diri” dan memahami posisinya yang sedang menjalankan kekuasaan itu walaupun dengan carut-marutnya sistem yang dijalankan. Jika saja pemerintah tau diri tentu transportasi umum hendaknya disediakan oleh pemerintah dan diberikan secara percuma kepada Warga Bandung. bukan membiarkan kepada pihak-pihak yang berpotensi berkonflik dikemudian hari dikarenakan persaingan ketat diantara warga. Apakah persaingan seperti itu mendorong kreatifitas? Jelas tidak segampang itu, diantara warga bandung memiliki banyak kondisi-kondisi yang bisa saja terhambat dalam merealisirnya. Termasuk kondisi-kondisi yang dibuat ulah pemerintah kota sendiri dan berbagai kebijakan-kebijakannya yang menghambat itu semua dari banyak persoalan. Lantas, layakah keberpihakan itu menjadi sikap “resmi” pemerintah? Tentu inilah wujud intoleransi terhadap warga Bandung.

Memang pada praktiknya persoalan transportasi ini telah berjalan sejak lama dengan menempatkan koperasi-koprasi atau swadaya masyarakat sebagai aktor utama dalam pengadaan transportasi umum ini. Namun demikian, pembiaran ini menjadi benih-benih konflik yang hari ini dirasa. Dengan pemberian badan hukum terhadap transportasi swadaya masyarakat ini menyebabkan persoalan lebih rumit. Hukum harus ada keberpihakan kepada aktor utama yang mengadakan transportasi itu dengan diwakili oleh organisasi-organsiasi yang melakukan koordinasi dilapangan. Disatu sisi, kemunculan dari elemen masyarakat dalam mengadakan transportasi menjadi hal yang dipandang Hak mereka, karena Angkutan Kota pun muncul dari rahim yang sama yakni Swadaya Warga sendiri. Alhasil, dari sisi ruang dan waktu telah terjadi penindasan diantara warga bandung ini antara anggota masyarakat yang saling mengintimidasi. Adapun pemerntah sebagai pemegang otoritas dan seperangkat hukum yang dijalankannya seolah menjadi legitimasi belaka!

Jika pada akhirnya adalah swasta terkuat yang diberikan pemenangan dalam masalah transportasi ini, tentu menjadi kontradiktif dalam upaya mengentaskan persoalan lainnya seperti kemacetan. Sebagaimana disinggung diawal, menyoal kemacetan dengan melihat realitas demikian adanya telah memastikan bahwa pemerintah kota bandung tidak serius dalam upayanya mengentaskan kemacetan. Dengan ketidaknyamanan yang dibuat swasta dalam hal ini angkutan kota, disaat yang sama kondisi ini adalah akibat lumrah dari adanya persaingan, maka telah memalingkan warga sebagai penumpang untuk memiliki kendaraan pribadi. Satu sisi, disinilah kendaraan pribadi justru dijadikan sebagai kendaraan umum seperti taksi online atau uber dan sebagianya. Dengan perhatian yang merujuk kepada kenyamanan penumpang, alhasil persaingan dalam hal layanan ini tak terelakan lagi menjadi amunisi dalam memperebutkan penumpang! Setelah warga berlomba-lomba memiliki kendaraan pribadi, justru diantara mereka berlomba-lomba membangun jasa transportasi ini. Alhasil, persoalan transportasi menjadi lingkaran setan yang tak pernah ada ujung penyelesaian. Karena kuncinya tak mau turun tangan yakni Pemerintah!

Belum lagi persaingan swasta dalam ranah transportasi harus berhadapan juga dengan swasta kelas kakap yang telah mengendalikan tata ruang Bandung baik dari segi intervensi terhadap pembangunan infrastruktur, pembangunan properti, alih fungsi lahan yang begitu masif telah serta merta menggiring orientasi pengadaan transportasi masal mengikuti kerangka berfikir keuntungan dan menopang nilai jual Kota. Maka, sikap Ridwan Kamil yang menyatakan bahwa angkutan kota harus diubah sebagai kendaraan feederi yang menunjang angkutan utamanya itu tak lain telah menjadikan angkutan kota mesti berintegrasi dengan pembangunan kota yang kian memiliki nilai jual yang mahal. Alhasil, siapa yang melayani dan melayani untuk kepentingan siapa telah terjawab sudah. Pemerintah Kota bukan semata-mata memerhatikan penumpang sebagai acuan utama pengadaan transportasi, akan tetapi transportasi diadakan adalah pertimbangan dari sekian pembangunan yang tengah dan telah dijalani, dibangun dan dirampungkan. Jauh dari pada itu, pertimbangan yang asasi adalah pertimbangan dana, orientasi untung dan rugi yang telah menjadi darah pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan. Orientasi itu telah menjepit cara pandang pemerintah untuk mengemis pada investasi asing maupun aseng dan menjadikan miskinnya APBD sebagai alasan kemestian bekerjasama dengan swasta demi pelayanan. Padahal yang ada adalah pelayanan bagi siapa yang dikerjasamakan itu, tiadalah pelayanan bagi kepentingan pemilik modal semata. Adapun warga Bandung hanya perahan untuk mendapatkan keuntungan yang berkali-lipat.

Dalam posisi inilah Angkutan Kota telah kehilangan taringnya, dan harus menerima keadaan. Angkot harus rela dengan keadaan yang menjepitnya karena kontradiktif dengan lajur pembangunan pemerintah kota. Akhirnya mau tidak-mau harus menelan pahit atas kondisi Bandung hari ini. Atau, jika mau memberikan fasilitas yang telah diberikan ukuranya oleh keadaan yang dibentuk oleh Pemkot Bandung yakni mengikuti arah pembangunan itu, nilai jual yang sepadan dengan skala pemerintah meski harus menguras kantung kosong. Begitulah persaingan yang lumrah terjadi dalam arena hutan rimba dan berlakunya hukum rimba. Karena penguasa pun tak peduli dengan warga dan nasib warganya. Maka dari itu, satu-satunya jalan keluar dari hutan rimba ini adalah memposisikan kembali penguasa sebagai wakil daripada warganya. Akan tetapi, dengan warga yang terkondisikan oleh pengaturan pemerintah menjadi hal yang akan memutarbalikan kembali pemerintah sebagai pihak yang berpihak kepada kelompok terkuat berbasis modal itu. Disinilah pentingnya orientasi kehidupan yang mematahkan orientasi modal sebagai pertimbangan satu-satunya dalam memunculkan pengaturan atas warga Bandung. Orientasi itu harus keluar dari segala hegemoni manusia, dan disandarkan kepada siapa yang berhak menentukan benar dan salah bukan dikembalikan kepada persoalan profit. Hal itu akan terwujud ketika Syariah mendapatkan posisinya sebagai aturan yang berlaku dan diadopsi baik oleh warganya maupun pemerintahannya. Hal itu dikarenakan Syariah adalah seruan dari sang Pencipta bukan seruan dari manusia yang sarat dengan berbagai kepentingan, pertimbangan manfaat hingga berujung kepada nafsu akan kapital!

Maka, atas dasar itulah orientasi yang bersebrangan ini akan mengarahkan pengadaan transportasi menjadi ideal dan menunjang arah yang tepat. Pengadaan transportasi dengan berbagai kemajuan, teknologi yang canggih tidaklah diadakan semata-mata mempermudah belaka. Akan tatapi diadakan untuk mempermudah dalam menunjang berbagai urusan-urusan Umat yang dalam konteks kehidupan mempermudah dalam menjalani kehidupan dalam orientasi mendapatkan Ridha Allah. Orientasi itu terwujud tatkala dalam hubungan sesama manusia, individu, maupun terhadap Allah SWT dijalani dengan berada diatas koridor Syariah. Hal ini selaras dengan makna kebahagiaan yang hakiki yakni mendapat Ridha Allah dari setiap prilaku yang dijalaninya. Maka dari itu, tentulah Umat ini menjadi Umat yang mesti menjadi acuan dalam penyelenggaraan transportasi dan pengadaan infrastruktur lainnya. Maka atas dasar inilah mesti dibangun prinsip bagaimana penyelenggaraan transportasi menjadi ideal, yakni:

1. Pembangunan Infrastruktur adalah tanggung jawab Negara. Tentunya Negara yang telah menentukan siapa yang diwakilinya dengan tepat, yakni Umat yang menjadi acuan itu. Maka, pengadaan transportasi ini sebagai bagian tak terpisahkan dari infrastruktur publik harus diemban oleh Negara yang memiliki tanggung jawab itu.

2. Perencanaan wilayah yang baik dan mengurangi kebutuhan transportasi. Sehingga sebagian warga tak perlu menempuh perjalanan yang jauh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

3. Negara membangun infrastruktur publik dengan standar teknologi terakhir yang dmiliki. Teknologi yang ada itu tiada lain adalah teknolog navigasi, telkominkasi, fisik jalan hingga alat transportasi lainnya.

Dengan prinsip ini tentu tergambar jelas bagaimana penuntasan atas konflik yang terjadi dialam hutan rimba ini akan ditumpas dan tak akan terjadi tatkala Syariah mengatur urusan itu. Kemacetan dan tumpang-tindihnya pembangunan infrastruktur yang serampangan tidak akan terjadi. Intervensi tata ruang yang dihegemoni oleh komplotan kapitalispun tidak akan terjadi. Karena kedaulatan benar-benar diserahkan pada tempatnya, yakni Allah SWT. Hanya saja, penempatan Syariah sebagai seruan dari sang Pencipta itu dalam posisi semestinya tidak akan pernah terwujud dalam mekanisme pemerintahan demokrasi seperti saat ini. Syariah hanya bisa tertegak dan mewujudkan pengelolaan transportasi yang baik tatkala sistem pemerintahan Khilafah tertegak pula. Disitulah berbagai problem termasuk maslaah transportasi ini akan terselesaikan dengan baik.

Dikeluarkan Oleh:
Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kota Bandung.
Bersatu, Bergerak, Tegakkan Ideologi Islam
Kontak: 0857-2167-4479 (Indra L – Katua GP Kota Bandung)
 
Continue Reading

Jangan Netral








Aqidah itu tidak mungkin netral, dia pasti akan memihak. Begitu pula saat seseorang memihak pasti tidak mungkin tanpa dasar, pasti ada keyakinan pada dirinya

Itulah mengapa Al-Qur'an melarang penguasa kaum Muslim diambil dari orang kafir, sebab aqidahnya pasti akan disebarkan, dan pasti akan jadi membahayakan aqidah

Itulah juga alasan mengapa kaum Muslim tak boleh menjadikan orang kafir sebagai auliya, apapun makna auliya itu. Apakah teman setia atau penguasa, sama saja

Sebab baik jadi teman setia atau penguasa, seorang auliya mutlak dekat, dicintai, tempat berlindung, tempat merujuk, dan pengatur. Karena itulah pemimpin kafir diharamkan

Maka kita lihat, Muslim manapun yang mendukung pemimpin kafir, pastilah punya kecenderungan yang sama dengan yang dipilihnya itu, walau secara identitas agamanya beda

Sebab aqidah menentukan kecenderungan, bila kecenderunganny
a sudah rusak, maka begitu pula aqidahnya. Inilah kondisi ummat pada saat ini, rapuh keyakinannya

Walau bisa jadi sebab pengetahuan yang kurang, tapi sebabnya juga sama, kemalasan itu adalah akibat kedangkalan aqidah, tak terdorong mencari kebenaran

Bersyukurlah bila sampai waktu ini kita jadi bagian orang yang masih merasa bodoh hingga perlu belajar, atau minimal bangga dengan Islam dan jadi bagian Muslim

Jangan bangga jadi yang netral, sebab yang netral itu biasanya yang dipengaruhi, aqidahmu itu mengharuskan dirimu berpihak, dan pihaknya pastilah kebenaran dan kebaikan

Yang benar hanya datang dari Allah, maka kebaikan hanya akan wujud apabila Islam ditegakkan secara total, oleh pemimpin Muslim yang menjalankan Kitabullah dan Sunnah
 
 
Sumber : Ustadz Felix Siauw
Continue Reading

Rabu, 22 Maret 2017

Politik Islam dan Politik Jahiliyyah



Dalam buku Fikih Politik Menurut Imam Hasan Al-Banna, Dr. Muhammad Abdul Qadir Abu Faris menulis: ”Jadi politik itu terbagi menjadi dua macam: politik syar’i (politik Islam) dan politik non syar’i (politik non Islam). Politik syar’i berarti upaya membawa semua manusia kepada pandangan syar’i dan khilafah (sistem pemerintahan Islam) yang berfungsi untuk menjaga agama (Islam) dan urusan dunia. Adapun politik non syar’i atau politik versi manusia adalah politik yang membawa orang kepada pandangan manusia yang diterjemahkan ke undang-undang ciptaan manusia dan hukum lainnya sebagai pengganti bagi syari’at Islam dan bisa saja bertentangan dengan Islam. Politik seperti ini menolak politik syar’i karena merupakan politik yang tidak memiliki agama. Sedangkan politik yang tidak memiliki agama adalah politik jahiliyah.”

Semenjak tahun 1924 ummat Islam tidak lagi hidup di bawah naungan sistem Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegaranya. Bahkan di berbagai penjuru dunia Islam dideklarasikan berdirinya negara-negara dengan konsep nation-state (negara-kebangsaan). Mulailah kaum muslimin mengekor kepada negara-negara kafir yang mengkotak-kotakkan manusia berdasarkan keanekaragaman suku dan bangsa. Sebelumnya ketika Khilafah Islamiyyah masih tegak ummat Islam hanya memahami manusia berdasarkan pembagian yang Allah gambarkan di dalam Al-Qur’an, yaitu manusia beriman (Al-Mu’minun) dan manusia kafir (Al-Kafirun).

Ketika Khilafah masih tegak ummat Islam tidak mengenal adanya pemisahan antara urusan agama dengan berbagai urusan kehidupan sehari-hari, termasuk kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Tidak ada pemisahan antara kehidupan beragama dalam tataran kehidupan individual maupun sosial. Namun semenjak faham negara-aqidah dihapuskan lalu diganti dengan ideologi nasionalisme mulailah kaum muslimin mengalami pergeseran tolok ukur. Aqidah Islam yang sebelumnya dijadikan sebagai perekat utama masyarakat dilokalisir menjadi sebatas keyakinan individual muslim.

Sedangkan masyarakat diarahkan untuk menjadikan etnisitas kebangsaan sebagai perekat kehidupan sosial. Seolah agama hanya berlaku dalam tataran pribadi, sedangkan dalam tataran sosial agama harus dikesampingkan. Kemudian muncullah ajaran primordial kebangsaan yang menggantikan agama sebagai identitas dan perekat sosial.

Dalam buku Petunjuk Jalan bab Tumbuhnya Masyarakat Islam dan Ciri Khasnya, Sayyid Qutb menulis: ”Sesungguhnya dakwah Islam yang dibawa Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam merupakan mata rantai terakhir dari rangkaian dakwah dan seruan ke jalan Islam yang telah berjalan lama di bawah pimpinan para Rasul dan utusan-utusan Allah yang mulia. Dakwah ini di sepanjang sejarah wujud manusia mempunyai sasaran dan tujuan yang satu. Yaitu, membimbing manusia untuk mengenal Ilah mereka yang Maha Esa dan Yang Maha Benar, agar mereka menyembah dan mengabdi hanya kepada Ilah Yang Maha Esa dan mengubur segala penuhanan terhadap sesama makhluk.

Seluruh umat manusia kecuali segelintir orang saja, tidak ingkar dengan dasar ketuhanan dan tidak menafikan wujudnya Tuhan; tetapi mereka salah pilih dalam hal mengenal hakikat Tuhan yang benar. Mereka menyekutukan Tuhan yang benar dengan tuhan-tuhan yang lain. Bisa dalam bentuk ibadat dan akidah, atau pun dalam bentuk ketaatan di bidang pemerintahan dan kekuasaan.

Dua bentuk itu adalah SYIRIK yang bisa menyebabkan manusia keluar dari agama Allah. Padahal para Rasul sudah mengenalkan Allah swt. kepada mereka. Tapi, mereka mengingkariNya setelah berlalu beberapa masa dan generasi. Mereka pun kembali ke alam jahiliyah, kemudian kembali mensyirikkan Allah, baik dalam bentuk akidah dan ibadat, atau dalam bentuk ketaatan di bidang pemerintahan, atau pun di dalam dua bentuk itu sekaligus.

Inilah dia tabiat dakwah ke jalan Allah di sepanjang sejarah umat manusia. Ia mempunyai tujuan dan sasaran yang satu yaitu “ISLAM (MENYERAH)” di dalam pengertian penyerahan diri sepenuhnya, penyerahan diri dan kepatuhan para hamba kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam, menarik umat manusia keluar dari mengabdikan diri kepada sesama hamba Allah, kepada suasana menyembah dan mengabdikan diri kepada Allah SWT, membawa mereka keluar dari sikap patuh dan tunduk kepada sesama hamba Allah di dalam urusan peraturan hidup dan pemerintahan, nilai-nilai dan kebudayaan, untuk bersikap patuh dan tunduk kepada kekuasaan pemerintahan dan peraturan Allah saja di dalam semua urusan hidup.”

Untuk inilah Islam datang melalui Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sebagaimana ia datang melalui para Rasul sebelum beliau. Ia datang untuk membawa umat manusia patuh kepada kekuasaan dan pemerintahan Allah seperti seluruh alam ini berjalan mengikuti landasan peraturan Allah.”

Sebuah masyarakat Islam berbeda samasekali dari masyarakat Jahiliyyah. Masyarakat Islam berdiri di atas fondasi aqidah La Ilaha Illa Allah, keyakinan bahwa hanya Allah sajalah satu-satunya tempat memuja, memuji, memohon pertolongan, menyerahkan kepatuhan dan loyalitas total. Penghambaan kepada Allah bukan tercermin dalam urusan ibadah ritual-formal belaka. Tetapi ia juga tercermin dalam aspek nilai-nilai moral serta hukum-hukum pribadi maupun sosial yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari.




Sedangkan sebuah masyarakat Jahiliyyah berdiri di atas fondasi bahwa sesama manusia pantas untuk dipuji, dipuja, dimintai pertolongannya, diserahkan kepatuhan dan loyalitas kepadanya. Oleh karenanya di dalam masyarakat seperti ini akan selalu hadir para thaghut, yaitu fihak yang sedikit saja memperoleh kekuasaan lalu berlaku melampaui batas sehingga menuntut ketaatan dari para rakyatnya, pengikutnya, muridnya, bawahannya. Dalam sejarah kemanusiaan Allah abadikan di dalam AlQur’an gambaran sosok thaghut paling ideal yaitu Fir’aun. Fir’aun telah sedemikian rupa berlaku sombong sehingga sampai hati memproklamirkan dirinya di hadapan rakyat Mesir yang ia pimpin dengan kalimat: ”Akulah tuhan kalian yang Maha Mulia.”

Tetapi Fir’aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (Seraya) berkata: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”. (QS AnNaziat ayat 21-24)

Itulah sebabnya mengapa segenap para Nabi dan Rasul utusan Allah menyampaikan suatu seruan universal yang berlaku sepanjang zaman. Yaitu seruan kepada umatnya masing-masing agar menyembah Allah semata dan menjauhkan diri dari para thaghut.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (QS An-Nahl ayat 36)



Politik Islam adalah politik syar’i. Ia merupakan politik yang berlandaskan konsepsi mendasar aqidah Islamiyyah, yaitu La Ilaha Illa Allah, keyakinan bahwa hanya Allah sajalah satu-satunya tempat memuja, memuji, memohon pertolongan, menyerahkan kepatuhan dan loyalitas total. Politik Islam pasti akan menghantarkan masyarakat untuk membentuk diri menjadi masyarakat Islam. Sedangkan politik jahiliyyah merupakan politik yang tidak syar’i. Politik jahiliyyah akan menghasilkan tumbuhnya sebuah masyarakat jahiliyyah lengkap dengan suburnya eksistensi para thaghut di dalamnya. Politik seperti ini akan menyebabkan manusia sadar tidak sadar menghamba kepada sesama manusia.

Mengomentari kondisi realita umat Islam dewasa ini semenjak tidak lagi hidup di bawah naungan sistem Khilafah Islamiyyah yang telah runtuh 85 tahun yang lalu, maka Said Hawwa dalam kitabnya Jundullah menulis:Akibatnya, hilanglah Islam dari kehidupan manusia secarahampir sempurna. Hilanglah sistem politiknya, dan hilanglah konsepnya dari umat, untuk digantikan dengan konsep nasionalisme. Konsepnya hilang dari negara, untuk digantikan dengan konsep lain. Juga hilang dari ruang pengadilan, untuk digantikan yang lain. Syariatnya hilang digantikan dengan perundangan lain. Konsepnya hilang dari ruang-ruang permusyawaratan, untuk digantikan konsep demokrasi Timur atau Barat. Konsepnya hilang dari kekuasaan eksekutif untukdigantikan dengan konsep jahiliah secara total. Konsepnya hilang dari partai-partai yang Rabbani untuk digantikan oleh sistem kepartaian jahiliah.”

Saudaraku, marilah dengan penuh kesabaran kita meniti kembali jalan perjuangan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabat ketika mereka masih tertindas di kota Mekkah sebelum hijrah ke Madinah. Marilah kita pelajari kembali bagaimana Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabat berjuang tanpa sedikitpun berfikir untuk berkompromi dengan sistem jahiliyyah dan para thaghutnya ketika mereka masih lemah sekalipun. Sebab mereka hanya punya satu cita-cita, yaitu mengembalikan hati manusia ke dalam pangkuan aqidah kalimat tauhid dimana manusia diajak untuk hanya menghamba kepada Allah dan tunduk kepada syariatNya. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabat tidak pernah sejenakpun bertoleransi dengan aqidah kemusyrikan dan tunduk kepada sistem jahiliyyah yang berlaku, betapapun resikonya mereka terpaksa mengalami berbagai ujian, tekanan, penyiksaan, penindasan bahkan pembunuhan.

Saudaraku, bagaimanapun kita perlu memahami bahwa Politik Islam tidaklah sama dengan Politik Jahiliyyah. Berbeda satu sama lain dalam hal landasan keyakinannya, semangatnya, fikrah-ideologinya, sistem pembentukannya, budayanya, tingkah-laku para pelakunya. Yang jelas, keduanya sangat berbeda secara fundamental dalam hal siapa yang dijadikan pusat kesetiaan, penghambaan dan ketergantungan. Politik Islam sejak hari pertama telah memproklamirkan dirinya sebagai sebuah mega-proyek untuk pembebasan manusia dari penghambaan sesama manusia untuk hanya menghamba kepada Allah semata. Sedangkan Politik Jahiliyyah menjadikan sesama manusia sebagai tempat menyerahkan loyalitas, ketaatan dan ketergantungan sehingga suburlah di dalamnya para thaghut…!!

Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu adalah benar dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah kepada kami bahwa yang batil itu adalah batil dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya. Amin.-

Sumber
Continue Reading

Cahaya Tak Menyatu Kegelapan



Ada keyakinan mendasar sebagai seorang Muslim yang harus dipegang, bahwasanya Islam adalah satu-satunya agama yang Allah ridhai, selain itu tidak

Keyakinan itu bukan berarti merendahkan agama lain, sebab kita diperintahkan menghormati manusia. Keyakinan seperti itu adalah konsekuensi kalimat tauhid

Sejak kita mengucap "Laa ilaaha illa Allah" artinya kita meniadakan segala kekuatan, kebenaran, kebaikan, keadilan, kemampuan, kehebatan, selain hanya kepada Allah

Dan "Muhammadur Rasulullah" artinya kita berkomitmen jadikan Nabi Muhammad sebagai panutan utama dalam ber-Islam, bukan yang lain apalagi selain Muslim

Dan Rasulullah sudah menunjuk dalam hadits shahih, bahwa yang paling memahami agama Islam ini adalah sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin, mereka generasi terbaik

Seluruh generasi terbaik itu, serta generasi salaf, bahkan khalaf yang meneruskan mereka, semua bersepakat, bahwa Islam itu tak ada yang menyamai, apalagi kekufuran

Maka pandangan "semua agama sama" adalah bid'ah pemikiran yang sangat besar, tak pernah dikenal orang dahulu kala, ulama atau generasi cendekiawan manapun

Tapi saat ini, kita melihat lebih dari itu, tidak hanya memandang agama sama, tapi ada yang mengaku 'ulama' malah membela kekufuran dan penista agama sekaligus

Ilmu itu cahaya, tak mungkin menyatu dengan kegelapan. Begitu pula ulama takkan pernah mau membela orang dzalim apalagi kedzaliman yang benar-benar pekat

Ilmu itu mengangkat derajat mereka yang memilikinya di hadapan Allah, bukan justru untuk membungkuk dan merendah didepan penjajah aqidah dan perampas tanah

Maka jadikanlah pelajaran bagi kita, penjajah itu sedikit jumlahnya, tapi kekuatan mereka akan selalu bertambah oleh mereka yang munafik dan para penggadai aqidah

Dan ini pesan bagi kita, untuk semakin kuat mendekat pada Allah, semakin bersemangat meneladani Rasulullah, berikat teguh dalam ukhuwah, sampai Allah datangkan pertolongan

Sumber : Ustadz Felix Siauw
Continue Reading

Perbedaan Antara Privatisasi dan Nasionalisasi Dengan Pemberian Oleh Negara (al-Iqthâ’u)



بسم الله الرحمن الرحيم

Silsilah Jawaban asy-Syaikh al-‘Alim Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah Amir Hizbut Tahrir Atas Pertanyaan di Akun Facebook Beliau “Fiqhiyun”

Jawaban Pertanyaan:

Perbedaan Antara Privatisasi dan Nasionalisasi Dengan Pemberian Oleh Negara (al-Iqthâ’u)

Kepada Hamzeh Shihadeh

Soal:

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu. Apa perbedaan antara privatisasi dalam sistem kapitalisme dan pemberian (al-iqthâ’u) yang dinyatakan di dalam kitab al-Amwâl? Semoga Allah memberikan balasan kepada Anda seribu kebaikan.

Jawab:

Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuhu.

1. Kepemilikan ada tiga jenis: kepemilikan umum dan kepemilikan negara … Selain kepemilikan umum dan kepemilikan negara maka ia ada dalam kepemilikan pribadi.

2. Kepemilikan umum adalah harta-harta yang asy-Syâri’ menjadikan kepemilikannya untuk jamaah kaum Muslim, dan asy-Syâri’ menjadikannya dimiliki bersama diantara mereka serta menghalangi individu untuk memilikinya. Itu seperti generator dan pembangkit listrik, dan pabrik-pabrik gas, batubara … dan mineral yang terus mengalir baik dalam bentuk padat seperti emas dan besi, atau cair seperti minyak, atau gas seperti gas alam … Semua itu dan semisalnya merupakan kepemilikan umum milik jamaah kaum Muslim, dimiliki bersama diantara mereka, dan menjadi bagian dari sumber pemasukan baitul mal kaum Muslim. Khalifah mendistribusikannya terhadap mereka menurut hukum-hukum syara’.

3. Kepemilikan negara adalah setiap harta berupa tanah atau bangunan, yang hak kaum Muslim melekat dengannya serta tidak termasuk dalam kepemilikan umum. Harta itu menjadi kepemilikan negara seperti tanah, bangunan, dan benda-benda bergerak, yang hak kaum Muslim pada umumnya melekat dengannya menurut hukum syara’, maka pengelolaannya dan pelaksanaan atas urusannya serta pengelolaan padanya diwakilkan (diserahkan) kepada khalifah.

4. Meskipun negara adalah pihak yang mengelola kepemilikan umum dan mengelola kepemilikan negara, akan tetapi ada perbedaan di antara kedua kepemilikan itu. Semua yang masuk dalam kepemilikan umum, seperti minyak, gas dan mineral yang terus mengalir, laut, sungai, dan sumber air, lapangan, savana, padang rumput, dan masjid, maka khalifah tidak boleh menyerahkan kepemilikannya kepada individu, baik individu atau kelompok idividu, sebab itu adalah milik kaum Muslim pada umumnya.Adapun apa yang masuk dalam kepemilikan negara berupa tanah dan bangunan, maka Khalifah boleh menyerahkan kepemilikannya kepada individu, baik fisik harta dan manfaatnya atau manfaatnya tanpa fisiknya, atau mengijinkan individu untuk menghidupkan dan memilikinya. Khalifah bertindak dalam hal itu menurut pandangannya yang di dalamnya terdapat kebaikan untuk kaum Muslim.

5. Khalifah boleh memberikan dari kepemilikan negara berupa tanah kepada orang yang tidak memiliki lahan pertanian lalu dia menanaminya dan menjadi miliknya. Hal itu sehingga kekayaan tidak terbatas beredar di tangan orang-orang kaya dan beredar diantara mereka saja. Allah SWT berfirman:

﴿كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ﴾

“Supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu” (TQS al-Hasyr [59]: 7).

Akan tetapi khalifah tidak boleh mengambil dari kepemilikan pribadi milik seseorang denga tidak dibenarkan kemudian diberikan kepada orang yang lain. Melainkan, khalifah memberikan dari kepemilikan negara kepada orang-orang fakir tanpa memberikannya kepada orang kaya. Pemberian itulah yang disebut al-iqthâ’u.

Al-iqthâ’u bisa dilakukan dari tanah negara dan bukan dari kepemilikan pribadi dan tentu saja bukan dari kepemilikan umum.

6. Kepemilikan-kepemilikan ini ditentukan oleh syara’ melalui hukum-hukum syara’. Maka tidak boleh diubah pengklasifikasiannya. Jadi kepemilikan umum tidak boleh ditransformasi menjadi kepemilikan pribadi seperti dengan memberi hak eksplorasi dan ekstraksi minyak kepada perusahaan swasta. Itu yang disebut privatisasi. Dengan privatisasi itu kepemilikan umum diubah menjadi kepemilikan pribadi … Kepemilikan pribadi juga tidak boleh ditransformasi menjadi kepemilikan negara seperti mencabut toko dari pemiliknya dan dijadikan sebagai milik negara, dan itulah yang disebut nasionalisasi.

7. Dari yang dipaparkan sebelumnya, jelaslah perbedaan antara privatisasi dan nasionalisasi dengan al-iqthâ’u. Privatisasi adalah menjual milik umum kepada perusahaan swasta. Seperti memberi konsesi eksplorasi dan ekstraksi minyak atau pertambangan atau listrik kepada perusahaan swasta. Ini adalah haram dan tidak boleh. Sebab kepemilikan umum tetap menjadi kepemilikan umum dan tidak menjadi kepemilikan pribadi… Sedangkan nasionalisasi adalah mengubah kepemilikan individu menjadi kepemilikan negara atau kepemilikan umum. Seperti mengubah toko dari kepemilikan individu menjadi kepemilikan umum atau kepemilikan negara. Ini tidak boleh. Sebab kepemilikan itu tetap milik pemiliknya dan hak kepemilikan padanya tidak boleh diubah kepada selain pemiliknya…

Adapun al-iqthâ’u, itu adalah negara memberi individu dari kepemilikan negara. Maka negara mengangkat tingkat ekonomi mereka sehingga kekayaan tidak hanya terbatas beredar di kalangan orang kaya saja. Banyak orang tidak memiliki apa yang memungkinkan mereka hidup dengan mulia dan terhormat. Maka negara memberikan kepada sebagian orang yang tidak memiliki lahan yang bisa mereka tanami, bahkan negara juga memberi para petani dari harta miik negara yang bisa membantu mereka untuk mengolah dan menanami lahan mereka.

Begitulah, al-iqthâ’u di dalam Islam dengan maknanya secara fikih syar’iy berbeda dari nasionalisasi dan berbeda pula dari privatisasi.

Saudaramu

Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah

3 Rabiuts Tsani 1438 H

1 Januari 2017 M

http://hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/ameer-hizb/ameer-cmo-site/41393.html#sthash.4F8pePwm.dpuf

https://web.facebook.com/AmeerhtAtabinKhalil/photos/a.122855544578192.1073741828.122848424578904/567930653404010/?type=3&theater

https://hizbut-tahrir.or.id/2017/02/07/perbedaan-antara-privatisasi-dan-nasionalisasi-dengan-pemberian-oleh-negara-al-iqthau/

==============================
Dukung terus Opini Syariah dan Khilafah. Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
==============================
Jika Saudari ingin bergabung dalam perjuangan MUSLIMAH HIZBUT TAHRIR INDONESIA silahkan layangkan pesan dengan format:
NAMA JELAS, ALAMAT LENGKAP, NO TELP/HP, ALAMAT EMAIL.
Insya Allah, Muslimah Hizbut Tahrir di daerah terdekat akan segera menghubungi.
==============================
Silahkan ikuti kami di:
www.hizbut-tahrir.or.id
Facebook : www.facebook.com/opinimhti
Twitter : www.twitter.com/women4khilafah
Instagram: www.instagram.com/muslimahhtiid
Youtube : www.youtube.com/user/MUSLIMAHMEDIACENTER
https://www.youtube.com/c/MUSLIMAHMEDIACENTERID
Radio CWS: http://muslimahhizbuttahrir.blogspot.co.id/
Continue Reading

Selasa, 21 Maret 2017

MEGA KORUPSI E-KTP, Kejahatan Penjualan Rahasia Negara



Eramuslim.com – MEGA korupsi E-KTP tergolong salah satu bentuk perampokan APBN yang paling keji dan norak yang pernah terjadi di negeri ini. Bisa dikatakan lebih dari 51 persen anggaran E-KTP jadi bancakan politisi DPR, pejabat birokrat di Kemendagri dan swasta yang dikuasai juga oleh politisi DPR.

Jika anggaran yang dibagi-bagi di Banggar DPR saja mencapai angka 49 persen, maka sisa anggaran 51 persen tersebut pasti dirampok juga oleh perusahaan pemenang tender. Tidak menutup kemungkinan hanya 30 persen anggaran APBN untuk E-KTP yang digunakan untuk  mengubah KTP kertas menjadi KTP plastik.

Jadi 70 persen anggaran E-KTP tersebut dipastikan dirampok. Hasilnya jelas, dari uang korupsi E-KTP, diantaranya dipakai para politisi tersebut untuk membiayai jadi Ketua Umum Partai (Golkar dan Demokrat), Ketua DPR, sebagian yang lain pasti dipakai untuk biaya Pileg dan Pilgub. Beberapa nama yang disebutkan dalam skandal E KTP tersebut telah terpilih menjadi Gubernur.
Untuk itu, nyali atau keberanian sejumlah politisi bandit dalam me-mark up anggaran E-KTP patut diacungi jempol, sangat tega dan berani take risk (ambil resiko) untuk menjalankan sebuah kejahatan. Tak semua orang punya nyali dan keberanian merampok seperti itu. Karena itu, mereka para politisi tersebut pantas menerima “label” dari MURI sebagai politisi paling bernyali dan paling tega dalam merampok APBN.

Warga Negara Dirugikan Berlapis

Sebagai warga negara yang telah menjalankan kewajiban dipaksa bayar pajak, dipalak setiap berbelanja, saya merasa sangat dirugikan karena kejahatan korupsi E-KTP tersebut telah menempatkan data pribadi saya menjadi tidak aman, karena berpotensi jatuh ke tangan pihak yang dapat menyalahgunakan data tersebut.

Data pribadi saya yang telah direkam melalui E-KTP, seperti nama, tempat tanggal lahir, alamat, agama, juga data biometrik seperti golongan darah, sidik jari dan retina mata, yang merupakan rahasia pribadi, yang semestinya menjadi rahasia negara, mungkin saja telah jatuh ke tangan pihak di luar dari negara.

Jadi sebagai warga negara, saya telah dirugikan secara berlapis dalam skandal E-KTP. Pertama, pajak yang saya bayarkan menjadi APBN telah dirampok secara sangat keji dan norak. Kedua, data pribadi saya yang seharusnya dirahasiakan oleh negara besar kemungkinan telah jatuh ke tangan pihak yang tak sepantasnya memiliki. Negara telah lalai dan tak bertanggungjawab melindungi kerahasiaan data pribadi warga negara. Ketiga, menghambat saya dalam membuat identitas pribadi, karena setelah mengantri dan membayar calo, hingga saat ini tak ada kepastian untuk mendapatkan E-KTP.

Dijualnya Rahasia Negara

Sebagaimana akhirnya diakui sendiri oleh Presiden Joko Widodo, “poyek senilai hampir Rp. 6 triliun pada akhirnya hanya mengubah KTP yang dulunya kertas, sekarang jadi plastik. Hanya itu saja. Sistemnya dilupakan”, ujar Joko Widodo. (www.tempo.co, 11 Maret 2017).

Jadi, projek KTP yang berjalan saat ini bukan E-KTP, tapi P-KTP. Bukan (E)lektronik KTP, tapi (P)lastik KTP.

Lantaran itu, kasus ini tak bisa dilihat dari aspek kejahatan korupsi semata. Skandal ini harus juga dilihat sebagai kejahatan serius terhadap pertahanan dan keamanan negara. Kenapa demikian? Karena data kependudukan sebuah negara adalah data prinsip yang seharusnya dilindungi dan menjadi rahasia negara.

Data kependudukan sebuah negara tak bisa dilihat kegunaannya dari segi politik Pemilu semata, yaitu untuk menyusun daftar pemilih pada saat Pileg, Pilpres dan Pilkada. Data kependudukan yang dihasilkan melalui Sensus Penduduk atau direkam melalui E-KTP adalah dokumen dasar yang dalam menentukan strategi pembangunan, baik perencanaan hingga operasional.

Demikian juga data sumber daya alam, data kekayaan negara dan data perpajakan, semestinya menjadi rahasia negara yang diproteksi oleh negara melalui Badan Intelijen Negara. Di negara tetangga, seperti Malaysia, bibit kelapa sawit hasil riset saja masuk dalam kategori rahasia yang diproteksi oleh intelijen negara. Di Thailand, hasil riset untuk menemukan bibit pertanian sangat dirahasiakan dan dilindungi oleh intelijen negara.

Dalam skandal Mega korupsi E-KTP, tak menutup kemungkinan data kependudukan yang direkam melalui projek E-KTP tersebut telah jatuh ke tangan musuh negara,  karena baik mereka yang merencanakan hingga yang menjadi pemenang tender dari projek tersebut adalah para politisi, birokrat hingga kontraktor yang telah terbukti bermental rampok.

Jika data kependudukan  tersebut dijual atau jatuh ke tangan musuh negara, baik negara asing maupun korporasi asing, perbankan, asuransi, telekomunikasi, dll. maka data tersebut dapat digunakan untuk menguasai perekonomian negara kita.

Negara kecil seperti Singapura, yang telah menguasai perekonomian kita, dapat menggunakan data kependudukan tersebut untuk untuk merancang strategi dalam menguasai dan mencengkram makin dalam perekonomian dan keuangan nasional kita.

Jika data tersebut jatuh ke tangan intelijen asing, maka data tersebut sangat berguna dalam menentukan strategi spionase dalam medan peperangan bentuk baru, baik peperangan dalam bentuk war by proxy, asimetris war, komplex war maupun hibrid war, untuk tujuan mengacaukan atau menguasai negara kita.

Di Mana Server E-KTP?

Bocor atau dijualnya data kependudukan dalam E-KTP pernah dikuatirkan oleh Deddy Syafwan, pakar teknologi informasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) (kompas.com, 16/11/2014).
Ternyata anggaran senilai Rp. 6 triliun dalam project E-KTP tersebut tidak menyentuh pembangunan server di dalam negeri, tetapi konon katanya menyewa server punya negara lain. Sejumlah ahli teknologi informasi mengatakan, jika server E-KTP disewa dan diletakan di luar negeri, maka sama saja dengan menjual data sensitif kependudukan yang dimanfaatkan negara lain untuk kegiatan spionase dan penguasaan ekonomi dan politik bangsa kita.

Dengan bocornya data kependudukan baik data-data pribadi dan biometrik (golongan darah, sidik jari dan retina mata) penduduk Indonesia, maka dapat dibayangkan betapa republik ini akan menjadi sasaran empuk bagi predator global, baik korporasi maupun  negara-negara asing.

Karena itu, sangat tepat pendapat Dedy Syafwan yang dilontarkan pada tahun 2014 bahwa skandal E-KTP adalah kejahatan yang sangat serius, yang membahayakan pertahanan dan keamanan negara, karena diduga telah dijual atau bocornya rahasia negara ke tangan negara asing atau korporasi yang berkeinginan menguasai Indonesia.

Dari sudut pandang kejahatan korupsi, sudah sangat jelas kerugian negara dari kejahatan E-KTP tersebut bahkan melebihi skandal Century yang hingga saat ini belum juga kelar.

Karena itu, melalui tulisan ini, saya sebagai warga negara mendesak Pemerintahan Joko Widodo khususnya Kemendagri, Kemenkominfo dan Badan Intelijen Negara (BIN), untuk menyampaikan klarifikasi terkait bocornya kerahasiaan data pribadi dan biometrik (sidik jari dan retina mata) yang telah  direkam melalui projek E-KTP. Kami juga mendesak kepada Pemerintah untuk mengklarifikasi penyewaan server E-KTP di luar negeri yang berpotensi membocorkan rahasia negara. [jk/rmol]

Penulis: HAris Rusly Moty (Koordinator Petisi 28 dan Kepala Pusat Pengkajian Nusantara Pasifik)
Continue Reading

Demokrasi, Biang Perpecahan dalam Memilih Pemimpin Muslim



Berdasarkan data tahun 2014 prosentase penduduk Jakarta yang beragama Islam sebesar 83% dari total populasi 10 juta jiwa. Sedang sisanya terbagi untuk penganut agama Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu dan juga aliran kepercayaan. (databoks.katadata.co.id, 6 September 2016). Dengan populasi yang demikian, andaikan umat Islam pada Pilgub Jakarta, 15 Februari 2017 lalu memilih Gubernur Muslim maka kekalahan ada di tangan Ahok. Tapi fakta tidak demikian.

Ahok sang penista Al Quran dan didemo oleh sekitar 4 juta muslim masih mampu meraih suara 40% lebih sehingga harus ada Pilgub putaran kedua. Bila kasus Pilgub putaran pertama ini tidak ingin terulang maka umat Islam harus mendulang kemenangan dengan memilih pemimpin yang seaqidah/seiman dengan mereka, bukan malah  memilih pemimpin yang menistakan kitab suci mereka.

Demokrasi Menjauhkan Umat dari Figur Pemimpin dalam Islam

Keberhasilan Ahok menjadi kandidat Calon Gubernur DKI adalah buah dari demokrasi. System demokrasi tidak mensyaratkan Islam sebagai agama bagi calon pemimpin. Bahkan dalam system ini pun tidak mensyaratkan harus laki-laki. Inilah demokrasi yang memberikan ruang kebebasan seluas-luasnya bagi setiap individu atas nama hak asasi manusia.

Konsep halal dan haram pun juga tidak dikenal dalam system ini, sehingga wajar jika dalam setiap moment pemilu praktek suap suara pemilih selalu ada. Segala cara akan ditempuh agar bisa meraih kekuasaan. Lagi-lagi uang memegang peranan vital. Sehingga bisa dikata siapa yang memiliki banyak uang maka ia yang akan menang. Dan ketika menjabat maka akan mencari balikan modal, bukan focus pada amanah jabatan tapi sibuk mengembalikan dana yang telah diinvestasikan dalam pemilu. Na’udzubillah.

Demokrasi yang lahir dari ide sekulerisme ini pula yang telah menjauhkan umat Islam dari pemahaman yang benar akan arti seorang pemimpin bagi mereka. Ide pluralisme yang telah dielu-elukan oleh kalangan liberal telah melekat disebagian kalangan umat Islam. Sehingga mereka tidak lagi berpandangan bahwa Islamlah satu-satunya agama yang benar, meski dirinya mengaku beragama Islam.

Adapun faktor lain yang menjadikan sebagian umat Islam tidak percaya dengan figur pemimpin muslim adalah adanya ulah politikus muslim yang tidak menunjukkan moral dan sikap amanah dalam menjalankan tugas kepemimpinannya. Beberapa skandal korupsi yang menimpa para politisi muslim telah menurunkan indeks kepercayaan rakyat terhadap politisi muslim. Sekali lagi inilah demokrasi, yang bisa membuat orang baik menjadi tidak baik dengan praktik materialismenya.

    ...Demokrasi yang lahir dari ide sekulerisme ini pula yang telah menjauhkan umat Islam dari pemahaman yang benar akan arti seorang pemimpin bagi mereka...

Stop Perpecahan Umat: Pilih Pemimpin Muslim dan Terapkan Sistem Khilafah

Wajar jika pecahnya suara umat Islam dalam Pilgub Jakarta putaran pertama ini melahirkan rasa kecewa dan marah diantara umat Islam sendiri. Kekecewaan dan kekesalan itu memunculkan spaduk dibeberapa Masjid di Jakarta bertuliskan “Tidak akan mengurusi jenazah orang yang memilih penista agama”. Hal ini pun langsung mendapat respon dari Menteri Agama Bapak Lukman Hakim S dengan menjelaskan bahwa masjid atau rumah ibadah adalah tempat paling aman bukan tempat pemicu konflik. Kemarahan ini wajar mengingat beberapa kedholiman yang telah Ahok lakukan, sehingga umat Islam yang memilih Ahok dinilai oleh pihak muslim yang kontra Ahok sangat keterlaluan.

Perpecahan ini tidak akan terjadi andaikan seluruh umat Islam mengerti dan memahami agamanya. Alloh swt telah memerintahkan hambanya untuk tidak menjadikan orang kafir sebagai teman kepercayaannya. Alloh Swt berfirman, “Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian menjadikan kaum kafir sebagai wali diluar kaum Mukmin” (TQS. An Nisa’: 144). Selain daripada itu keberadaan pemimpin dalam Islam bukanlah masalah yang sepele. Karena pemimpin dalam Islam memiliki dua tugas utama, yaitu menerapkan syariah Islam dan mengurusi urusan rakyat.

Tugas menerapkan syariat Islam ini tidak mungkin akan dilaksanakan oleh pemimpin yang bukan muslim. Sedangkan tugas mengurusi urusan rakyat juga tidak akan terlaksana dengan baik dalam system kapitalistik-materialistik seperti saat ini. Yang terjadi malah pengurusan kepetingan para pemilik modal dan pelayanan yang syarat bisnis dengan rakyatnya sendiri. Inilah demokrasi sekuler yang meletakkan dunia di tangan kanan sedang Tuhan di tangan kiri yang hanya diperlukan sebagai pemanis hasrat kekuasaan dihadapan rakyatnya.

Oleh karena itu sudah saatnya umat Islam menyatukan suara dan langkah untuk memilih pemimpin sesuai kriteria syara (muslim, laki-laki, baligh, berakal, tidak gila, mampu, adil dan bukan budak) dan  menuntut penegakan system Khilafah bukan demokrasi. Khilafah inilah yang akan menyatukan, menyejahterakan dan membawa rahmat bagi seluruh alam dengan penerapan syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupannya.

Pemimpin terbaik adalah pemimpin yang taat pada Alloh dan RasulNya serta menerapkan syariah Islam dalam bingkai Kekhilafahan Islam. Nabi saw bersabda, “Pemimpin kalian yang terbaik adalah yang kalian cintai dan dia mencintai kalian, juga yang kalian doakan dan dia mendoakan kalian. Pemimpin kalian yang terburuk adalah yang kalian benci dan dia membenci kalian, juga yang kalian laknat dan dia melaknat kalian” (HR Muslim). Wallahua’lam. (riafariana/voa-islam.com)
Continue Reading

Senin, 20 Maret 2017

Awal Mula Agama Kristen



Assaalammualaikum

Saya merupakan muallaf, yang ingin saya tanyakan adalah sejak kapan ajaran nasrani nabi Isa a.s berubah menjadi ajaran kristen seperti sekarang ini. Siapa penggagasnya sehingga menyesatkan banyak orang.

Dan pada saat ini masih adakah injil yang asli? kalau ada dimana?apakah pada saat zaman Rasullulah agama kristen telah ada? jika telah ada apakah pada saat itu Rasullulah pernah memeranginya atau berusaha mengembalikan umat kristen ke jalan yang lurus untuk bersyahadat. Atas jawabannya saya ucapkan terima kasih untuk dijadikan pencerahan bagi saya.

Jawaban

Alaykumsalam wr.wb.

Alhamdulillah jika saudara Ferdinando telah menemukan cahaya Islam dan menyadari atas kekeliruan agama sebelumnya yang pernah dianut. Semoga Allah senantiasa melimpahkan keberkahanNya atas pilihan saudara dalam memeluk Islam. Semoga jua tetap istiqomah di jalan Dienul Haqq ini. Allahuma amin.

Saudaraku, Yesus alias Nabi Isa as. merupakan nabi yang diturunkan Allah kepada Bani Israil. Tugasnya adalah untuk menyelamatkan Bani Israil dari kesesatan yang telah lama dilakukan kaum tersebut. Allah SWT masih menyayangi kaum Musa as. ini dan menurunkan satu nabi lagi khusus untuk mereka. Nabi Isa as. mengaku jika dirinya diutus Allah hanya untuk kaumnya saja, Bani Israil, dan bukan untuk umat manusia seluruh dunia.

Di dalam Injil sendiri ada peristiwa di mana Yesus menolak seorang wanita Kanaan (Palestina) yang meminta anaknya disembuhkan dari kemasukan setan,Yesus menolak dan mengatakan, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” (Matius 15 :24). Yesus sendiri menolong perempuan itu juga, namun tidak menyuruh perempuan itu untuk ‘pindah keyakinan’. Penegasan itu juga nampak dari pesan Yesus kepada para muridnya yang mewantiwanti mereka untuk tidak menyebarkan ajarannya kepada orang selain dari Bani Israil.

Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” (Matius 10:5-6)

Telah jelas bahwa Yesus menegaskan dirinya hanya untuk Bani Israil. Namun para misionaris mengklaim bahwa hal itu hanya berlaku sebelum kebangkitan. Setelah dibangkitkan maka misinya untuk umat manusia seluruh dunia. Perubahan mendasar ini berangkat dari ajaran Paulus, seorang Yahudi dari Tarsus yang mengaku-aku sebagai murid Yesus.

Ajaran Paulus inilah, -ditulis pada 49 M (Galatia-, yang mempengaruhi Injil-injil yang ditulis sesudahnya yakni injil Markus (55 M), Injil Matius (60-an M), Injil Yohanes (80 M), dan Injil Lukas (60 M). Paulus, Yahudi dari Tarsus, di dalam banyak ayat Injil digambarkan sebagai seorang murid yang banyak tidak patuh pada Yesus, bahkan Yesus dalam banyak ayat memarahi dia hingga menendangnya.

Paulus inilah yang kemudian mengubah ajaran Nabi Isa as. yang berhaluan paganisme Yahudi. Namun hal ini terjadi tidak terlepas dari kondisi sosial budaya bangsa Yahudi sebelum masa Nabi Isa. Turun. Minimal ada tiga kondisi yang bisa kita telaah. Pertama, Aqidah orang-orang Yahudi telah terkontaminasi kepercayaan Paganisme Babilonia.

Sekitar 50 tahun (586-535 SM) bangsa Yahudi berada di pengasingan di Babilonia yang masyarakatnya menyembah berhala. Kedua, pada tahun 334 SM, Alexander raja Yunani menguasai bangsa Yahudi dan menyebarkan faham Filsafat yang kemudian mempengaruhi pemikiran orang-orang Yahudi. Ketiga, bangsa-bangsa yang menaklukan orang-orang Yahudi adalah penganut politeisme. Ini pun berpengaruh kepada aqidah bangsa Yahudi.

Ketika Nabi Isa as, menyampaikan ajaran Allah SWT, pengaruh kepercayaan paganisme memang sudah mengakar kuat di tengah-tengah masyarakat, maka terjadilah penyimpangan pemahaman oleh Paulus terhadap ajaran yang dibawa Nabi Isa as. Paulus pun mengklaim bahwa telah bertemu Yesus (Isa) dan diangkat sebagai rasulnya. Ia kemudian mengajarkan ajaran Isa yang telah dicampur adukkan dengan filsafat Yunani dan Paganisme.

Allah SWT sudah mengingatkan hal ini dalam Surah Al Baqarah ayat 87,

“..Dan Sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah Setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; Maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?”

Tiga abad setelah peristiwa penyaliban, pengikut ajaran Nabi Isa as. berkembang dengan beragam corak pemahamannya. Terjadi bentrokan diantara mereka antara kalangan yang pro ajaran Tauhid dari Nabi Isa as. dengan yang kontra. Mereka yang kontra notabene adalah kelompok pro ajaran Paulus yang paganis. Peperangan ini sampai mengancam keutuhan kerajaan Roma.

Karenanya, atas usulan Konstantin diadakanlah Muktamar di Nicea pada tahun 325 M yang dihadiri sekitar 2048 orang dengan pendiriannya masing-masing. Terjadi perdebatan yang sengit dan tak ada titik temu. Akhirnya Konstantin yang cenderung pada paganis memanggil 318 orang yang berfaham Paulus dan menyatakan dukungannya. Setelah itu muktamar dilanjutkan, sementara itu peserta lainnya melakukan walk out.

Di dalam muktamar ini banyak dipilih doktrin-doktrin dan syiar–syiar ibadah secara voting (tanggal paskah, peranan uskup, dan tentu saja tentang ketuhanan Yesus). Setelah itu diadakanlah revisi terhadap Injil. Sementara injil-injil lain yang bertentangan dimusnahkan. Dan orang yang berani membaca injil terlarang itu akan dicap sebagai heretis (berlaku bid’ah).

Perihal apakah injil yang asli masih adakah sampai saat ini? Allahua’lam. Namun hemat saya, permasalahannya bukan pada masih ada yang aseli atau tidak, namun injil hanya berlaku bagi kaum Nabi Isa as. saja, sedangkan sekarang kita sebagai umat muslim telah memiliki kitab Suci Al Qur’an sebagai kitab yang dijaga keasliannya oleh Allah SWT hingga akhir zaman.

 Kristen Pada Masa Rasulullah SAW

Tentu pada zaman Rasulullah SAW ada golongan yang beragama Nashrani. Menurut Imam Ibnul Qayyim Al Jauzi, dalam Hidayatu Al-Hayara fi Ajwibati Al-Yahud wa An-Nashara, umat Nasrani pada masa Rasulullah sudah tersebar di sebagian belahan dunia. Di Syam, (hampir) semua penduduknya adalah Nasrani. Adapun di Maghrib, Mesir, Habasyah, Naubah, Jazirah, Maushil, Najran, dan lain-lain, meski tidak semuanya, namun mayoritas penduduknya adalah Nasrani.

Terhadap mereka, Rasulullah SAW senantiasa melakukan Dakwah, seperti yang pernah beliau lakukan kepada Raja Najasyi, seorang Raja Nashrani yang tinggal di Ethiopia. Rasulullah SAW pun mengirimi surat kepada Najasyi untuk bertauhid kepada Allah SWT. Berikut adalah pesan surat tersebut,

“Dari Muhammad utusan Islam untuk An-Najasyi, penguasa Abyssinia (Ethiopia). Salam bagimu, sesungguhnya aku bersyukur kepada Allah yang tidak ada Tuhan kecuali Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, dan aku bersaksi bahwa Isa putra Maryam adalah ruh dari Allah yang diciptakan dengan kalimat Nya yang disampaikan Nya kepada Maryam yang terpilih, baik dan terpelihara. Maka ia hamil kemudian diciptakan Isa dengan tiupan ruh dari-Nya sebagaimana diciptakan Adam dari tanah dengan tangan Nya. Sesungguhnya aku mengajakmu ke jalan Allah. Dan aku telah sampaikan dan menasihatimu maka terimalah nasihatku. Dan salam bagi yang mengikuti petunjuk.”

Ketika Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam menulis surat kepada Raja Najasyi untuk menjadi seorang muslim, maka Raja Najasyi mengambil surat itu, beliau lalu meletakkan ke wajahnya dan turun dari singgasana. Beliaupun masuk Islam melalui Ja’far bin Abi Tholib radiyallahu ‘anhu.

Namun Rasulullah SAW juga pernah melakukan perperangan terhadap kaum Nashrani. Hal ini bermula ketika salah satu surat beliau telah dibawa oleh Harits bin Umair ra. yang akan diberikan kepada Raja Bushra yang Nashrani. Ketika sampai di Mu’tah, maka Syarahbil Ghassani yang ketika itu menjadi salah seorang hakim kaisar telah membunuh utusan Rasulullah SAW. Membunuh utusan, menurut aturan siapa saja, adalah suatu kesalahan besar. Rasulullah SAW sangat marah atas kejadian itu.

Maka Rasulullah SAW menyiapkan pasukan sebanyak tiga ribu orang. Zaid bin Haritsah ra. telah dipilih menjadi pemimpin pasukan tersebut. Rasulullah SAW bersabda, “Jika ia mati syahid dalam peperangan, maka Ja’far bin Abi Thalib ra. menggantinya sebagai pemimpin pasukan. Jika ia juga mati syahid, maka penlimpin pasukan digantikan oleh Abdullah bin Rawahah ra. Jika ia juga mati syahid, maka terserah kaum muslim untuk memilih siapa pemimpinnya”. Allahua’lam. (Pz)

Sumber
Continue Reading

Lucifer, Dari Bangsa Jin Atau Malaikat?



Assalamu’alaikum Warrohmatullahi Wabarokatuh
Bung Rizki yg terhormat semoga selalu dirahmati dan dilindungi oleh ALLAH SWT.

Saya ingin bertanya tentang Lucifer, sesosok nama malaikat cahaya yg menjadi simbol kepercayaan kaum paganis atau yg lebih sering disebut sebagai The God of Light, The Fallen Angel dan bintang fajar. Apakah Lucifer ini berasal dari bangsa jin ataukah malaikat? Sebab saya pernah dengar dari teman yg berkepercayaan Kristen, Lucifer ini adalah dari bangsa malaikat yg ketika semua malaikat disuruh untuk bersujud pada Nabi Adam AS, ada 1 makhluk yg membangkang dan menurut kepercayaan mereka, Lucifer-lah biang keladinya (Kalau di Islam, kita mengenal Iblis) lalu Lucifer ini dikutuk Tuhan dan diusir ke bumi, maka jadilah ia disebut The Fallen Angel yang telah hilang sifat2 malaikatnya. Lalu apakah dalam Islam kita juga mengenal Lucifer? Apakah ada kesamaan antara Lucifer dengan Iblis?
Terima kasih atas kesediaan bung Rizki untuk menjawabnya.
Wa’alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh,

Bung Hamid Ghufry yang senantiasa dirahmati dan dilindungi Allah SWT, pertama-tama yang harus ditekankan di sini ialah jika kitab suci al-Qur’an maupun Hadits tidak ada yang menuliskan kata “Lucifer”. Jadi, bisa dipastikan jika Islam tidak mengenal istilah “Lucifer”. Walau demikian, ada istilah dalam Islam yang mewakili semua yang ada dalam diri Lucifer, yakni Iblis. Memang, kosakata “Lucifer” sendiri berasal dari perbendaharaan kebudayaan Barat.

Kita tentu sudah mengetahui jika Iblis (berasal dari bahasa Arab “Abasa” yang memiliki arti sebagai “Pembangkang”) diciptakan Allah Swt dari zat sejenis api atau cahaya, sama dengan asal penciptaan Malaikat. Hanya saja, ketika Allah Swt memerintahkan agar semua mahluk bersujud kepada Adam a.s.,   hanya iblis yang menolak perintah Allah Swt. Sebab itu dia dinamakan pembangkang (Abasa, Iblis).

Allah Swt di dalam kitab suci al-Qur’an surat Al-Baqarah (2) ayat 34 berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah” kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”

Dari ayat ini kita mengetahui jika Iblis tadinya berada di antara para malaikat, namun karena membangkang, derajatnya diturunkan sehingga dia termasuk ke dalam golongan orang-orang kafir. Dengan kata lain, orang-orang kafir yang tidak mau atau enggan menerima ketauhidan sama derajatnya dengan iblis. Naudzubillah min dzalik!

Iblis dan Lucifer memang serupa. Hanya saja, karena kekristenan yang ada sekarang banyak sekali mengadopsi ajaran paganisme Roma yang berurat-akar pada paganisme Mesir Kuno (Osirian Rite) sejak zaman Firaun dengan para pendeta Kabbalah-nya, maka sosok Lucifer juga ditempeli dengan berbagai istilah seperti The God of Light, The Fallen of Angel, dan sebagainya. Lucifer memiliki arti secara harfiah sebagai “Cahaya”, sama seperti pengertian “Illuminaty” yang juga merujuk pada Cahaya. Maria Magdalena sering juga disebut oleh kaum Yohanit sebagai The Illuminatrix, Sang Dewi Cahaya.

Sekarang ini, kelompok-kelompok Kabbalis seperti Zionis-Yahudi, Freemasonry, Templar, Rosikrusian, dan ribuan sekte kecil yang menyempal di dalam keyakinan Barat, menyatakan jika Lucifer adalah malaikat yang dianiaya Tuhan, sama seperti legenda Maria Magalena yang disebut sebagai perempuan suci yang dianiaya oleh Gereja. Ini semua berangkat dari keyakinan paganis.
Islam hanya mengenal iblis, bukan Lucifer. Wallahu’alam bishawab, Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Continue Reading

Keajaiban Rasul SAW Dibalik Larangan Pelihara Anjing



Eramuslim.com
– Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


“Barang siapa yang memelihara anjing selain anjing penjaga binatang ternak, atau anjing pemburu maka dikurangi dari pahala kebaikannya dua qirath setiap hari.” (HR Bukhari dan Muslim)
Selalu saja di dalam ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kita temukan faidah, pencegahan dan penjagaan/perlindungan untuk diri kita, karena beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sangat belas kasihan terhadap kita, sebagaimana dalam firman-Nya tentang sifat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

” (dia) Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min.”
(QS At-Taubah: 128)
Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menginginkan untuk kita kebaikan dan menginginkan untuk kita kesehatan. Oleh karena itu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengharamkan memelihara anjing, dan menganggapnya sebagai makhluk yang najis, serta memperingatkan manusia darinya.

Para ilmuwan telah mengungkapkan banyak hal tentang anjing, dan ini adalah hal paling akhir yang dicapai oleh ilmu pengetahuan. Dalam sebuah penelitian terbaru yang pertama, yang dilakukan oleh para ilmuwan dari University of Munich terbukti bahwa memelihara anjing di rumah meningkatkan kemungkinan terkena kanker payudara. Studi ini menemukan bahwa 80 persen wanita yang menderita kanker payudara ini adalah mereka yang memelihara anjing di rumah mereka dan melakukan kontak secara terus-menerus dengan anjing-anjing tersebut.

Sementara mereka menemukan bahwa orang-orang yang memelihara kucing tidak terinfeksi jenis kanker tersebut! Dan itu disebabkan karena sisi kesamaan yang besar antara kanker payudara pada anjing dan manusia. Mereka telah menemukan suatu virus yang menyerang manusia dan anjing secara bersamaan, dan terkadang ia berpindah (menular) dari anjing ke manusia. Virus ini memiliki peran yang utama dalam proses terjangkitnya kanker tersebut.

Mereka menemukan bahwa para wanita di negara-negara Barat lebih besar kemungkinannya untuk terjangkit kanker payudara dibandingkan para wanita di negara-negara Timur. Dan ketika mereka mengkaji tentang perbedaan mendasar antara kedua kelompok wanita ini, mereka menemukan bahwa para wanita di Barat terbiasa memelihara anjing “manja” di rumah mereka. Sementara di negeri Timur jarang ditemukan seorang wanita yang memelihara anjing manja!

Dalam studi lain, para ilmuwan menemukan bahwa anjing menyimpan virus-virus penyebab kanker payudara, yang namanya MMTV (mouse mammary tumour virus). Dan tatkala bersinggungan dan berinteraksi dengan anjing, virus-virus ini akan berpindah ke tubuh manusia dengan mudah.
Ini baru sedikit yang diketahui oleh manusia, sesungguhnya dampak buruk yang disebabkan karena bersinggungan dengan anjing adalah sangat besar. Para ilmuwan telah mengungkapkan “sesuatu” yang banyak di dalam air liur anjing, darah dan bulunya, semuanya adalah sarang bagi bakteri-bakteri dan virus. Dan yang perlu diketahui bahwa di dalam kucing tidak terkandung virus-virus tersebut!

Dari sini, wahai pembaca yang budiman mungkin kita dapat mengetahui mengapa Nabiyurrahmah (Nabi yang penuh kasih sayang) shallallahu ‘alaihi wasallam melarang ummatnya memelihara anjing di rumah, dan membatasi perannya (peran anjing) hanya pada penjaga di luar rumah. Bahkan beliau shallallohu ‘alaihi wa sallam memerintahkan ummatnya agar mencuci wadah air tujuh kali, dan salah satunya dengan tanah jika ada seekor anjing yang minum air dari wadah tersebut. Subhanallahu.

[Abduddaim Kaheel/diterjemahkan oleh Abu Yusuf Sujono/inilah]
Continue Reading

Spirit la ilaha illalLah : Mewujudkan Kemuliaan Islam dan Kaum Muslim



Setiap muslim pasti pernah bahkan sering mengucapkan salah satu kalimah thoyibah ini;la ilaha illalLah. Inilah kandungan atau inti dari syahadat muslim yang pertama. Kalimat ini bermakna bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah SWT. Maknanya pula tidak ada yang berhak untuk diibadahi melainkan Allah SWT saja.

Kalimah tauhid ini tentu tidak hanya untuk menegaskan bahwa Allah itu satu, tidak berbilang. Namun, ada jugakepastian bahwa Tuhan (Allah SWT) itulah yang merupakan satu-satunya tuhan atau sesembahan yang wajib diibadahi dan disucikan. Tidak boleh ada sesuatu yang lain yang disembah dan yang ditunduki oleh seorang muslim.

Bagi muslim, kalimat ini tentu sangat istimewa. Sebab, setiap muslim wajib bersyahadat dengan kalimat tauhid ini. Tidak ada satu pun muslim di belahan dunia mana pun yang tidak melafadzkan kalimat ini. Dengan demikian, kalimat tauhid ini telah menjangkau seluruh kaum muslim sedunia, tanpa memandang suku, ras, kelompok, strata sosial, batas negara dan sebagainya. Ini berarti kalimat tauhid telah menyatukan seluruh muslim sedunia.

Kalimat tauhid ini pula yang membedakan mana musuh dan mana saudara seiman. Kalimat tauhid inilah yang memberi semangat kaum muslim mana pun untuk berjuang membela agama Allah SWT. Rasulullah Saw. pernah bersabda :

"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi; la ilaha illalLah (tidak ada ilah kecuali Allah) dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka lakukan yang demikian maka mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku kecuali dengan haq Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah" (H.R Bukhari Muslim)

Hadits tersebut mengisyaratkan bahwa kalimatla ilaha illalLah menjadi salah satu batas manusia yang harus diperangi dan diajak ke jalan Islam. Bahkan perintah itu sangat tegas -hingga dalam sistemIslam- negara (daulah) berkewajiban untuk melaksanakan dakwah agar kalimat tauhid ini tegak dan Islam berjaya.
Perjuangan dakwah Islam di masa Rasulullah Saw dan khalifah sesudahnya sangat kental dengan spirit kalimat tauhid ini. Sebab, mereka meyakini kalimat inilah yang menjadi pembeda yang hak dan batil, yang muslim dan kafir, yang iman dan kufur.

Tidak hanya di masa Rasulullah Saw. Kini, setelah kaum muslim lama menjadi bulan-bulanan orang-orang kafir, semangat menegakkan la ilaha illalLah itu kembali hadir. Musuh yang sama -yaitu orang-orang yang menghina Islam, Allah dan Rasul-Nya- telah mengingatkan kaum muslim saat ini untuk bersatu di bawah kalimat tauhid ini.

Oleh karenanya, kasuspenghinaan
al Quran oleh Ah*k beberapa waktu lalu, telah menggerakkan hati muslim yang masih ingin berpegang teguh pada la ilaha illalLah untuk menegaskan perlawanannya. Aksi Bela Islam 212 yang fenomenal bagi umat muslim di Indonesia, bahkan dunia telah menunjukkan bahwa mereka berjuang semata-mata karena keIslaman, karena satunya akidah, karena la ilaha illalLah.

Dan, bahkan menjadi pemandangan yang sangat menakjubkan ketika kalimat tauhid yang menjadi spirit perjuangan umat Islam saat itu hadir pula dalam bentukbendera (raksasa) berwarna hitam atau biasa disebut sebagaiarRayah. Rayah itu berwarna hitam dan bertuliskan kalimah la ilaha illalLah Muhammad Rasulullah. Hal ini semakin menegaskan bahwa kalimat tauhid ini telah memberi semangat perjuangan untuk kembali membangkitkan Islam dan kaum muslim.

Spirit la ilaha illalLah layak hadir dalam perjuangan umat Islam, karena kalimat ini memberikan loyalitas hanya kepada Allah semata. Artinya segala sesuatu yang menyerang dan memusuhi Allah maka layak dilawan oleh umat Islam.

Kalimat tauhid ini telah memberikan kekuatan bagi umat untuk bersatu, untuk bangkit, untuk bergerak melawan kedzaliman, melawan kekufuran dan melawan penentangan kepada hukum-hukum Allah SWT.

Sungguh, betapa dahsyatnya kalimat ini. Meski pendek (singkat), namun penuh makna. Ia bukan hanya menjadi pendorong kaum muslim bergerak. Rupanya orang kafir pun amat memusuhi kalimat ini. Sedikit menengok ke belakang di masa Rasulullah Saw. Sungguh, Beliau Saw. adalah sosok pribadi santun berbudi yang sudah terkenal di kalangan Quraisy. Namun, apa yang terjadi pada orang-orang tatkala Rasulullah Saw tiba-tiba menyerukan kalimat la ilaha illalLah. Rupanya orang-orang yang tidak mau beriman lebih rela kehilangan keluarga, harta bahkan jiwanya daripada harus mengimani Allah dan Rasul-Nya melalui kalimat ini. Mereka tiba-tiba memusuhi Nabi Saw. yang berakhlak mulia itu dan menyatakan perang terhadap Nabi dan ajarannya. Sungguh, ini pun sebuah fenomena yang luar biasa.

Ada apa dengan kalimat la ilaha ilalLah? Tentu, karena kalimat ini datangnya dari Allah Rabbul ‘alamiin, yang menciptakan manusia. Ia dikehendaki memiliki makna yang amat dalam. Oleh karenanya, setiap muslim selayaknya menjadikan kalimat tauhid inisebagai spirit atau semangat untuk berjuang menggapai ridho Allah SWT.

Kalimat inilah yang akhirnya mengantarkan umat Islam pada era kegemilangannya hingga belasan abad. Ini karena kalimat tauhid ini telah mengantarkan umat Islam pada ketundukan totalitas kepada Allah SWT. Ketundukan itu terwujud dalam tatanan kehidupan kaum muslim, baik secara pribadi di keluarga, masyarakat bahkan negara sesuai hukum syariah. Kegemilangan negara (kekhilafahan) Islam sejak dipimpin Nabi Muhammad Saw hingga berakhir pada abad 19 atau 20 Masehi menunjukkan bahwa spirit la ilaha illalLah telah mengantarkan pada kemajuan Islam dan kaum muslim.

Kini sudah saatnya, kita kembali kepada ajaran Nabi Saw. dengan memahami makna la ilaha illalLah dengan sebenar-benarnya dan mewujudkannya dalam kancah kehidupan. Mari terus berjuang dengan semangat kalimat tauhid; la ilaha illalLah, hingga panji (Royah) Rasulullah Saw pun kembali berkibar, tanda hadirnya kembali kemuliaanIslam dan kaum muslim. Aamiin. []Noor Hendra (Aktivis MHTI Bogor)

==============================
Dukung terus Opini Syariah dan Khilafah. Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
==============================
Jika Saudari ingin bergabung dalam perjuangan MUSLIMAH HIZBUT TAHRIR INDONESIA silahkan layangkan pesan dengan format:
NAMA JELAS, ALAMAT LENGKAP, NO TELP/HP, ALAMAT EMAIL.
Insya Allah, Muslimah Hizbut Tahrir di daerah terdekat akan segera menghubungi.
==============================
Silahkan ikuti kami di:
www.hizbut-tahrir.or.id
Facebook : www.facebook.com/opinimhti
Twitter : www.twitter.com/women4khilafah
Instagram: www.instagram.com/muslimahhtiid
Youtube : www.youtube.com/user/MUSLIMAHMEDIACENTER
https://www.youtube.com/c/MUSLIMAHMEDIACENTERID
Radio CWS: http://muslimahhizbuttahrir.blogspot.co.id/
Continue Reading
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template