Rabu, 19 Juli 2017

Khilafah dan Nusantara



“Jadi, masyarakat Banten sesungguhnya punya hubungan biologi dan ideologi dengan Palestina.”

Tak ada yang mengingkari peran Walisongo dalam penyebaran Islam di Nusantara, khususnya di Pulau Jawa. Namun, tak banyak orang tahu dari mana mereka, para wali itu, berasal. Tidak mungkin kan mereka tiba-tiba ada. Inilah bagian sejarah penting yang tidak banyak dipahami oleh umat Islam dan mungkin dihilangkan dalam pelajaran sejarah di sekolah.

Dalam buku sejarah seperti Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, yang ditulis oleh Azyumardi Azra; Sejarah Wali Songo: Misi Pengislaman di Tanah Jawa karangan Budiono Hadi Sutrisno; atau Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam di Indonesia yang ditulis oleh Ahmad Mansur Suryanegara, diketahui bahwa Walisongo adalah para ulama yang diutus oleh Sultan Mahmud 1 dari Khilafah Utsmaniyah untuk menyebarkan Islam di Nusantara.

Para wali ini datang dimulai dari Maulana Malik Ibrahim, asli Turki, ahli politik dan irigasi. Dialah peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara. Ia wafat di Gresik sehingga dikenal dengan sebutan Sunan Gresik. Seangkatan dengannya, ada dua wali dari Palestina yang berdakwah di Banten, yaitu Maulana Hasanudin, kakek Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Aliyuddin. “Jadi, masyarakat Banten sesungguhnya punya hubungan biologi dan ideologi dengan Palestina,” kata juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) M Ismail Yusanto.

Juga diutus Syeikh Ja’far Shadiq dan Syarif Hidayatullah. Keduanya juga dari Palestina. Keduanya dikenal di sini sebagai Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati. Sunan Kudus mendirikan kota kecil di Jawa Tengah, dengan nama Kudus, mengambil nama al-Quds (Jerusalem).

Menjadinya mayoritas penduduk Indonesia itu Muslim, kata Ismail, tak lepas dari dakwah yang disampaikan oleh para dai yang diutus oleh khilafah. Dan kemusliman itu amat berpengaruh dalam dinamika kehidupan bangsa dan negara ini, termasuk dalam tahap-tahap awal perjuangan kemerdekaan. “Itu semua tidak bisa lepas dari jasa para khalifah pada masa lalu yang tak henti melancarkan dakwah ke seluruh penjuru dunia, khususnya ke negeri ini,” jelasnya.

Hubungan Dekat

Sri Sultan Hamengku Buwono X saat memberikan sambutan dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VI di Yogyakarta, Senin (9/2/2015) mengungkapkan hubungan Khilafah Utsmaniyah dengan tanah Jawa. “Sultan Turki Utsmani meresmikan Kesultanan Demak pada tahun 1479 sebagai perwakilan resmi Khalifah Utsmani di tanah Jawa,” ujarnya.

Peresmian tersebut, lanjut Sri Sultan, ditandai dengan penyerahan bendera hijau bertuliskan kalimat tauhid. “Bendera hadiah Sultan Utsmani masih tersimpan baik di Keraton Yogya,” ujarnya.



Menurutnya, Sultan Turki pula yang mengukuhkan Raden Fatah sebagai khalifatullah di Jawa. “Perwakilan Khilafah Turki di Tanah Jawa, ditandai dengan penyerahan bendera hitam dari kiswah Ka’bah bertuliskan kalimat tauhid, dan bendera hijau bertuliskan Muhammad Rasulullah,” bebernya.

Sebelum itu, hubungan Nusantara dan Khilafah telah terjalin sangat erat di Aceh. Koran Sumatera Post menulis, di kalangan orang/pejabat Belanda mengakui bahwa banyak sultan-sultan di Indonesia memberikan baiatnya (sumpah kesetiaan dan kepatuhan) kepada khalifah di Istanbul. Dengan itu secara efektif kaum Muslim di wilayah Sultan itu menjadi warga negara Khilafah [Negara Islam].

Kaum Muslim di Aceh adalah yang paling menyadari akan status mereka. Koran Sumatera Post menulis tentang ini pada tahun 1922: “Sesungguhnya kaum Muslim Aceh mengakui Khalifah di Istanbul.” Bukan hanya itu, mereka juga mengakui fakta bahwa tanah mereka adalah bagian dari Negara Islam. Ini adalah salah satu alasan atas perlawanan sengit mereka melawan Belanda.

Ada kontak teratur antara kaum Muslim Aceh dan Khalifah di Istanbul. Sebagai contoh, kaum Muslim Aceh mengirim delegasi kepada Khalifah untuk memberitahu situasi mereka dan meminta bantuan dan dukungan Khalifah. Pada tahun 1915, Sumatera Post kembali menyebutkan satu delegasi tersebut, yang dikirim ke Istanbul pada tahun 1868.

Jauh sebelumnya, Aceh telah menjadi bagian dari Kekhilafahan Turki Utsmani. Sepucuk surat dari Sultan Turki dimuat di akun Lost Islamic History @LostIslamicHist. “A letter from the Ottoman sultan in #Istanbul to the sultan of #Aceh, in #Indonesia (1500s).”

Surat itu sebagai balasan atas surat dari kerajaan Aceh pada 1563 kepada Khalifah Abdul Aziz dari Kekhalifahan Turki Utsmani. Sultan Aceh Alauddin Mahmud Syah meminta bantuan kekhilafahan untuk menghadapi imperialisme Eropa. Ia menyatakan, Turki merupakan penguasa tunggal dan tertinggi bagi bangsa-bangsa yang beragama Islam.

Surat itu langsung dibalas oleh Khalifah Abdul Aziz disertai alat-alat perlengkapan perang, termasuk meriam yang kemudian dinamakan dengan meriam ‘Lada Sicupak’. Selain itu, Sultan Turki juga mengirimkan bantuan berupa dua kapal perang dan 500 orang tenaga berkebangsaan Turki untuk mengelola kapal-kapal tersebut.

Selain tahun 1563 Masehi, hubungan antara Turki dengan Aceh kembali dilakukan dan diperkuat tiga abad setelahnya yaitu tahun 1850. Kerajaan Aceh yang diperintah oleh Sultan Ibrahim Mansyur Syah mengirim Sidi Muhammad sebagai utusannya ke Turki. Melalui sepucuk surat, Sultan meminta agar Turki bersedia melindungi Aceh dari rongrongan Inggris dan Belanda.

Ada Turki di Aceh



Armada Utsmani di Laut Merah di bawah komando Laksamana Kurtoglu Hizir Reis diperintahkan oleh Khalifah Turki Utsmani melakukan ekspedisi ke Sumatera pada 1567. Di dalamnya ikut serta para ulama dan ahli teknik.

Ekspedisi militer ini merupakan bantuan teknis dan budaya yang pertama kali dilakukan dalam sejarah hubungan Turki dan Nusantara. Saat kedatangannya, mereka disambut dengan upacara yang meriah dan gelar gubernur (wali) diberikan kepada Kurtoglu Hizir Reis.



Pasukan Turki dan Aceh ini berhasil mengalahkan dan mengusir Portugis. Kemudian, tujuh belas dari sembilan belas kapal, termasuk Laksamana Hizir Reis, kembali ke wilayah Khilafah Utsmaniyah.

Namun, ada juga orang Turki yang memutuskan untuk menetap karena terkesan dengan kehangatan penduduk Aceh. Mereka menikahi pribumi dan berbaur dengan penduduk setempat. Mereka pun membawa pengaruh signifikan terhadap perkembangan budaya dan kekuatan militer di Aceh serta berkontribusi dalam pengembangan teknologi modern saat itu. Sumbangsih yang paling tersohor adalah Akademi Militer yang kemudian diberi nama “Askar Baitul Makdis”.



Menurut penelitian Prof. A. Hasjmy dari Aceh, pusat pendidikan militer telah melahirkan sejumlah pahlawan dalam sejarah Aceh dan Indonesia. Yang paling terkenal adalah Laksamana Keumala Hayati (Malahayati), satu-satunya laksamana perempuan dalam sejarah dunia masa kini.



Bangsa Turki menetap di kota tepi laut Banda Aceh, di desa yang sekarang disebut Bitai, Emperom dan Perkebunan Banda. []emje



Sumber : Tabloid Media Umat edisi 198

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Like Our Facebook

Translate

Followers

D-Empires Islamic Information Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template